You are on page 1of 10

HIPERSENSITIFITAS

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah“Biokimia”

Disusun oleh :
Astri Sri Dayanti

012012005

DIII Keperawatan

STIKes ‘Aisyiyah Bandung 2013-2014

Page

Kata Pengantar Puji dan syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas ridho dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Pencegahan dan Pengobatan hiversensitifitas” ini dengan baik yakni untuk memenuhi tugas mata kuliah “Biokimia” . Dalam penyusunan makalah ini saya sadari banyak kesalahan.12Agustus 2013 Penyusun Page . Serta mohon maaf saya ucapkan bila banyak kesalahan. Bandung. Pertama saya ucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah “Biokimia” yang telah memberikan tugas sehingga saya belajar dan mengerti. Dan terima kasih saya ucapkan kepada kedua orang tua saya yang telah mendukung dalam bentuk materi maupun inmateri. Tak lupa ucapan terima kasih saya ucapkan kepada rekan-rekan yang telah membantu saya dalam penyusunan makalah ini. maka dari itu saya meminta saran dan masukan.

.1 Definisi Hipersensitipitas………..…………………………………………………………….. 6 PENUTUP Saran dan Kesimpulan…………………………………………………………….……………………………………………… 5 2..……………………………………………… 1.... BAB II PEMBAHASAN 2.1 Latar Belakang………………..2 Tujuan……….……………………………………………….. 12 DAFTAR PUSTAKA 4 4 3 Page ..2 Jenis Hipersensitipitas……….DAFTAR ISI Kata Pengantar…………………………………………………………………… 2 Daftar Isi…………………………………………………………………. …… BAB I PENDAHULUAN 1..

IgA. Imunitas spesifik ialah sistem imunitas humoral yang secara aktif diperankan oleh sel limfosit B. IgD dan IgE) dan sistem imunitas seluler yang dihantarkan oleh sel limfosit T. maka tubuh akan mengadakan respon.1 Latar Belakang Pada dasarnya tubuh kita memiliki imunitas alamiah yang bersifat non-spesifik dan imunitas spesifik. maka terjadilah reaksi hipersensitivitas atau alergi. yang mengatur sel-sel lain untuk menghancurkan antigen tersebut. sehingga yang terjadi ialah keadaan imun. Page . yang memproduksi 5 macam imunoglobulin (IgG. Bilamana alergen tersebut hancur. jaringan tubuh menjadi rusak. IgM.2 TUJUAN KHUSUS Tujuan khusus membuat makalah ini adalah supaya penulis lebih mengetahui dan memahami tentang definisi reaksi HIPERSENSITIVITAS pada tubuh manusia serta dapat menerapkan Ilmu Keperawatan untuk penanganan pasien yang menderita reaksi HIPERSENSITIVITAS. Tetapi. bilamana merugikan.BAB I PENDAHULUAN 1. maka ini merupakan hal yang menguntungkan. yang bila mana beretemu dengan antigen lalu mengadakan differensiasi dan menghasilkan zat limfokin. Bilamana suatu alergen masuk ke tubuh. 1.

kacang. dan tipe IV hipersensitif cell-mediated (hipersensitif tipe lambat).1 DEFINISI HIPERSENSITIVITAS Hipersensitivitas (atau reaksi hipersensitivitas) adalah reaksi berlebihan. reaksi hipersensitivitas dapat dibagi menjadi 4 tipe.BAB II PEMBAHASAN 2.  Uji kulit : sebagai pemerikasaan penyaring (misalnya dengan alergen hidup seperti tungau.2 Jenis Jenis Hipersensitifitas  HIPERSENSITIVITAS TIPE I Tes alergi (hipersensitivitas tipe I) pada kulit. Reaksi ini dapat mengakibatkan gejala yang beragam. nasofaring. ikan). dan eosinofil. tidak diinginkan karena terlalu senisitifnya respon imun (merusak. Uji diagnostik yang dapat digunakan untuk mendeteksi hipersensitivitas tipe I adalah tes kulit (tusukan dan intradermal) dan ELISA untuk mengukur IgE total dan antibodi IgE spesifik untuk Page . dan saluran gastrointestinal. Reaksi ini diperkuat dan dipengaruhi oleh keping darah. Hipersensitifitas tipe I disebut juga sebagai hipersensitivitas langsung atau anafilaktik. debu rumah. tepung sari rumput. namun terkadang juga dapat mengalami keterlambatan awal hingga 10-12 jam. Dengan kata lain. jaringan bronkopulmonari. telur. yaitu tipe I hipersensitif anafilaktik. Menurut Gell dan Coombs. menghasilkan ketidaknyamanan. 2. atau alergen makanan seperti susu. dan terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem kekebalan normal. tipe III hipersensitif yang diperani kompleks imun. bulu kucing. neutrofil. Reaksi ini berhubungan dengan kulit. mulai dari ketidaknyamanan kecil hingga kematian. Hipersensitivitas tipe I diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE). tipe II hipersensitif sitotoksik yang bergantung antibodi. Komponen seluler utama pada reaksi ini adalah mastosit atau basofil. mata. tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing atau berbahaya. Waktu reaksi berkisar antara 15-30 menit setelah terpapar antigen. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut allergen. kapuk.

antibodi yang langsung berinteraksi dengan antigen permukaan sel akan bersifat patogenik dan menimbulkan kerusakan pada target sel. Pada umumnya. peningkatan IgE juga dapat dikarenakan beberapa penyakit non-atopik seperti infeksi cacing. dan Sindrom Goodpasture (IgG bereaksi dengan membran permukaan glomerulus sehingga menyebabkan kerusakan ginjal). dll. Hal ini ditandai dengan timbulnya inflamasi atau peradangan.melawan alergen (antigen tertentu penyebab alergi) yang dicurigai. mieloma. Beberapa tipe dari hipersensitivitas tipe II adalah:    Pemfigus (IgG bereaksi dengan senyawa intraseluler di antara sel epidermal). contoh hipersensitivitas tipe II pada anjing. Kerusakan akan terbatas atau spesifik pada sel atau jaringan yang langsung berhubungan dengan antigen tersebut.[3]  Hipersensitivitas Tipe III Hipersensitivitas tipe III merupakan hipersensitivitas kompleks imun. Pada kondisi normal. penggunaan Imunoglobulin G (IgG). Page .  Hipersensitivitas Tipe II Pemfigus. Hipersensitivitas dapat melibatkan reaksi komplemen (atau reaksi silang) yang berikatan dengan antibodi sel sehingga dapat pula menimbulkan kerusakan jaringan. Namun. hyposensitization (imunoterapi atau desensitization) untuk beberapa alergi tertentu. Pengobatan yang dapat ditempuh untuk mengatasi hipersensitivitas tipe I adalah menggunakan anti-histamin untuk memblokir reseptor histamin. Anemia hemolitik autoimun (dipicu obat-obatan seperti penisilin yang dapat menempel pada permukaan sel darah merah dan berperan seperti hapten untuk produksi antibodi kemudian berikatan dengan permukaan sel darah merah dan menyebabkan lisis sel darah merah). Peningkatan kadar IgE merupakan salah satu penanda terjadinya alergi akibat hipersensitivitas pada bagian yang tidak terpapar langsung oleh alergen). Hal ini disebabkan adanya pengendapan kompleks antigen-antibodi yang kecil dan terlarut di dalam jaringan. Hipersensitivitas tipe II diakibatkan oleh antibodi berupa imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin E (IgE) untuk melawan antigen pada permukaan sel dan matriks ekstraseluler.

ginjal.[4] Patogenesis kompleks imun terdiri dari dua pola dasar yaitu :  kompleks imun karena kelebihan antigen dan kompleks imun karena kelebihan antibodi. Namun. Pengobatan reaksi hipersensitivitas tipe III antara lain : 2. atau dalam bagian koroid pleksus otak. virus.Obat antihistamin/ obat anti inflamasi 1. paru-paru. diakibatkan oleh paparan antigen dalam dosis rendah yang terjadi dalam waktu lama sehingga menginduksi timbulnya kompleks dan kelebihan antibodi.kompleks antigen-antibodi yang diproduksi dalam jumlah besar dan seimbang akan dibersihkan dengan adanya fagosit.Menghindari sejumlah besar antigen dan berhati-hati terhadap immunisasi dan antitoksin. Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan jaringan oleh sel T dan makrofag.  Kompleks imun karena kelebihan antibodi disebut juga sebagai reaksi Arthus. lingkungan. atau antigen (spora fungi. bahan sayuran. Hipersensitivitas tipe IV dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai sel atau tipe lambat (delayed-type). Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah Page . sekresi sitokin dan kemokin. Pengendapan kompleks antigen-antibodi tersebut akan menyebar pada membran sekresi aktif dan di dalam saluran kecil sehingga dapat memengaruhi beberapa organ. Kelebihan antigen kronis akan menimbulkan sakit serum (serum sickness) yang dapat memicu terjadinya artritis atau glomerulonefritis. kadang-kadang. kehadiran bakteri. Hal ini juga terjadi pada penderita penyakit autoimun. Waktu cukup lama dibutuhkan dalam reaksi ini untuk aktivasi dan diferensiasi sel T. seperti kulit.  Hipersensitivitas Tipe IV Perbesaran biopsi paru-paru dari penderita hipersensitivitas pneumonitis menggunakan mikrograf. serta akumulasi makrofag dan leukosit lain pada daerah yang terkena paparan. atau hewan) yang persisten akan membuat tubuh secara otomatis memproduksi antibodi terhadap senyawa asing tersebut sehingga terjadi pengendapan kompleks antigen-antibodi secara terus-menerus. sendi.

dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat kronis (delayed type hipersensitivity. hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis).hipersensitivitas pneumonitis. DTH). Page .

Reaksi hipersensitivitas tipe I adalah dasar dari reaksi alergi dengan perantara IgE. KESIMPULAN 1. Cara terbaik menangani alergi adalah dengan menghindari alergen. kortikosteroid. 3. Sifat alergi mempunyai kemungkinan diturunkan. dan imunosupresan. Page . 2.PENUTUP A. Apabila perlu dapat digunakan antihistamin.

) Page . kusta.org/wiki/Hipersensitivitasnyawa asing dalam tubuh (tuberkulosis.DAFTAR PUSTAKA http://id. etc.wikipedia.