You are on page 1of 5

Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta

PENGARUH TEMPERATUR TUANG DAN TEMPERATUR CETAKAN PADA HIGH PRESSURE DIE CASTING (HPDC) BERBENTUK PISTON PADUAN ALUMINIUMSILIKON
Budi Harjanto dan Suyitno Casting and Solidification TechnologyGroup Laboratorium Teknik Bahan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada Email: ahmad_boody@yahoo.com

ABSTRAK Pengecoran logam dengan metode High Pressure Die Casting (HPDC) adalah metode pengecoran dengan cara menginjeksikan cairan logam kedalam cetakan dengan kecepatan dan tekanan tertentu menggunakan mesin HPDC. Cetakan yang digunakan berbahan dasar baja karbon. Metode pengecoran tersebut dilakukan pada pembuatan piston dengan bahan dasar Al-Si12(wt%) Penelitian ini menggunakan tekanan sebesar 40 bar. Variasi suhu tuang adalah 700ºC, 750ºC dan 800ºC sedangkan untuk suhu cetakan adalah 150ºC, 175ºC dan 200ºC. Variasi suhu tuang dan suhu cetakan akan mempengaruhi karakteristik dari benda hasil coran. Kekerasan secara umum menurun dengan meningkatnya suhu tuang dan suhu dies. Didapatkan hasil suhu tuang maksimal adalah 700ºC dan suhu cetakan 150 ºC dengan kekerasan 97.86 VHN. Kata kunci: HPDC, kekerasan, temperatur tuang, temperatur cetakan PENDAHULUAN Perkembangan industri transportasi sekarang ini sangatlah pesat. Komponen otomotif kendaraan yang memiliki karakteristik baik diperlukan untuk mendukung sebuah kendaraan. Komponen otomotif membutuhkan material yang kuat, tetapi juga harus ringan, tahan korosi dan mampu menahan beban yang besar. Salah satu dari sekian banyak komponen otomotif itu adalah piston. Saat ini masih terus dilakukan penelitian untuk mengembangkan proses manufaktur pembuatan piston pada mesin otomotif menggunakan bahan dasar Aluminium paduan. Di dalam perkembangannya, piston untuk mesin otomotif diproduksi dengan metode: gravity die casting, hot forging, squeze casting, powder forging dan thixoforging proses. Diantara sekian teknik pembuatan piston, gravity die casting yang paling dominan, hampir 90% proses pembuatan piston dilakukan dengan teknik ini (Choi dkk, 2005). Penelitian untuk memperbaiki karakteristik dari piston yang beredar dipasaran saat ini sudah banyak dilakukan. Salah satunya yang akan dilakukan oleh peneliti, yaitu membuat model piston dengan teknik High Pressure Die Casting (HPDC). Pembuatan piston menggunakan teknik ini, diharapkan bisa memperbaiki karakteristik dari piston yang ada dipasaran. Pengecoran dengan HPDC adalah salah satu metode pengecoran dengan cara menginjeksi cairan logam ke dalam cetakan dengan kecepatan dan tekanan tertentu. HPDC dibagi menjadi dua kategori yaitu HPDC Cold Chamber dan HPDC Hot Chamber. HPDC Hot chamber biasanya digunakan untuk logam dengan temperatur cair yang rendah dan logam yang tidak bereaksi membentuk paduan dengan logam die (baja) seperti timah hitam, timah putih dan zinc. HPDC Cold Chamber digunakan untuk logam dengan temperatur cair tinggi seperti aluminium dan tembaga (dan paduannya). Metode ini adalah suatu metode yang efisien dan hemat untuk memproduksi komponen yang memiliki kekasaran permukaan rendah dan memiliki ketelitian dimensional yang tinggi, mampu untuk menghasilkan kompleksitas geometri produk dan kapasitas produksi yang tinggi serta efisiensi beaya produksi yang tinggi. Namun proses ini membutuhkan investasi awal yang cukup besar yaitu pengadaan mesin injeksi, pengadaan tungku dan pembuatan cetakan. Teknik yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik HPDC Cold Chamber. Bahan baku yang digunakan adalah paduan standar yang umum digunakan pada pembuatan komponen otomotif seperti blok silinder, piston, tuas rem, dan velg. Walaupun sudah luas penggunaannya namun paduan ini masih jarang diteliti, paduan tersebut adalah paduan Al-Si12(%wt) Penelitian ini akan mengkarakterisasi nilai kekerasan Al-Si12(%wt) terhadap temperatur tuang dan temperatur cetakan pada HPDC dalam proses pembuatan piston.

86

2. Duskiardi dkk (2002) melebur bahan pada suhu 700 ºC. Pengontrolan suhu cetakan dilakukan diantara proses injeksi untuk memastikan kondisi temperatur cetakan tepat untuk melakukan injeksi selanjutnya. Proses penuangan dimulai dari temperatur yaitu 800°C.38 wt% Fe. hasil coran akan menempel di ejector pin.2%wt unsur lainnya. 750°C. Hardness tester 5. Mesin High Pressure Die Casting Prosedur Al-Si12(%wt) dilebur pada dapur lebur. 0. 0.Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta Tinjauan Pustaka Penelitian tentang pembuatan piston dengan metode die casting telah dilakukan oleh penelitipeneliti terdahulu. Plunger kembali ketempat semula.1 wt% Mn. Jika menggunakan inti.35 wt% Mg. Cetakan tertutup. Penelitian Duskiardi dkk (2002) menghasilkan piston dengan kekerasan sebesar 115 BHN. dituang pada cetakan yang dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 400 ºC dan dilakukan squeeze casting. 0. Choi dkk (2005) Penelitian Park dkk (2001) menghasilkan piston dengan kekerasan sebesar 77. 0. Mesin ini sampai sekarang masih dipakai dalam pembuatan piston.5%wt Cu. Mesin PDC 2. powder forging oleh Park dkk (2001). 0. selanjutnya pemanasan cetakan hingga 200°C terjadi karena panas logam cair yang diinjeksi secara kontinyu.83 wt% Cu. Ejector pins mendorong benda coran dan akan terlepas dari cetakan. Doehler (1951) telah mematenkan alat untuk memproduksi piston secara masal dengan menggunakan production die casting machine. Pressure gage Gambar 1. thixoforging oleh Choi dkk (2005). Choi dkk (2005) memanaskan cetakan pada suhu 275 ºC. 0. 2%wt Si. 0.2 wt% Cu. bahkan 90% proses pembuatan piston menggunakan teknik ini. Park dkk (2001) membuat piston dengan cara serbuk yang sudah ditekan disinter pada suhu 580 ºC selama 25 menit. 4.89 wt% Mg.2 wt% Fe. Dies (cetakan) 3. 0. (d). 87 .58 wt% Ni.2 wt% Ti. Choi dkk (2005) menggunakan bahan 7. dengan memanfaatkan dorongan dari plunger. Plunger didorong dengan tekanan tertentu. inti diambil dari benda coran. 2. logam cair dituang ke dalam cold chamber (b).8%wt Al. Penelitian Choi dkk (2005) menghasilkan piston dengan harga kekerasan sebesar 52 HRB. Duskiardi dkk (2002) menggunakan bahan 12. dan 700°C. 0.0 wt% Si. 1. Peralatan yang digunakan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Termokopel 6. squeeze casting oleh Duskiardi dkk (2002).5%wt Mn.5%wt Mg dan 1. diantaranya adalah: gravity die casting oleh Doehler (1951).5 HRB dan kekuatan tarik sebesar 630 MPa. ditekan dengan beban sebesar 200 ton dan ditahan selama 60 detik. temperatur logam cair dikontrol dengan thermokopel hingga sesuai untuk penuangan. sehingga logam cair akan mengisi ruang cetakan dan akan memadat (solidification) (c) Cetakan dibuka.15 wt% Mn dan sisanya Al. Tahapan pengecoran sebagai berikut (gambar 2): (a).1 wt% Zn dan sisanya Al. Dapur peleburan 4. 1. Park dkk (2001) menggunakan bahan 89. 0. Cetakan dipanasi dengan nyala api hanya pada proses injeksi pertama hingga temperatur 200°C.0%wt Ni.62 wt% Si.

62 Gambar 3 Data hasil penelitian 120 100 80 700 VHN 60 40 20 0 150 175 tem peratur cetakan 200 750 800 Gambar 4 Grafik kekerasan vs temperatur cetakan Hasil pengujian (gambar 3) menunjukkan bahwa kekerasan benda uji pada tekanan konstan menurun dengan semakin tingginya temperatur cetakan. Begitu pula untuk temperatur cetakan terlihat kekerasan cenderung semakin menurun dengan meningkatnya temperatur cetakan.35 77.Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta (a) (b) (c) (d) Gambar 2 Proses pressure die casting (Mc Clain.74 81. Kekerasan terendah terjadi pada temperatur tuang 800°C dan kekerasan tertinggi terjadi pada temperatur penuangan 700°C.86 9316 87.86 VHN 88 .78 82. Kekerasan maksimum sebesar 97.18 95.20 86.65 88. 1997) HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh temperatur tuang dan temperatur cetakan terhadap kekerasan Kekerasan terlihat menurut seiring meningkatnya temperatur penuangan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 3 berikut ini: T Tuang 700 750 800 T Dies 150 175 200 150 175 200 150 175 200 VHN 97.

Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta terjadi pada temperatur cetakan 150ºC dengan tekanan 40 Bar. Struktur mikro Berdasarkan jumlah kandungan Si sebesar 12% menunjukkan bahwa paduan masih berada pada kondisi aluminium silikon eutektik. Hal ini mungkin disebabkan pada temperatur cetakan 150ºC pembekuan terjadi dengan laju pendinginan yang lebih besar. Matrik Al-Si Silikon primer Gambar 5 Benda uji hasil HPDC dengan tekanan 40 Bar Perubahan temperatur cetakan sangat signifikan pengaruhnya terhadap perubahan ukuran dari fasa silikon primer (gambar 6). Pada temperatur die 150ºC terlihat fasa silikon lebih kecil dibandingkan dengan fasa silikon hasil proses dengan temperatur die 175ºC dan 200ºC. meningkatnya laju pendinginan akibat meningkatnya laju perpindahan panas antar muka material dengan cetakan. (a) (b) (c) Gambar 6 Pengaruh temperatur cetakan 89 . Hasil pengamatan dengan menggunakan mikroskop optik (gambar 5) memperlihatkan bahwa struktur hypoeutektik terdiri dari dendrit aluminium primer yang dikelilingi oleh campuran eutektik aluminium silikon. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perubahan temperatur die sangat signifikan pengaruhnya terhadap kekerasan produk hasil HPDC. Ukuran dari fasa silikon primer membesar dengan naiknya temperatur cetakan dimana ukuran fasa paling besar didapatkan pada temperatur die 200ºC.

.H. Duskiardi. pp.. pp. T. 1997. Vol. J. 1 April 2002. Chapter: Fluid Dynamic Doehler. Pengaruh Tekanan dan Temperatur Die Proses Squeeze Casting terhadap Kekerasan dan Struktur Mikro pada Material Piston Komersial Lokal.. (c)200ºC.K.. S. pp. 164. Thesis. J. Int J Adv Manuf Technol. hasil struktur mikro optimal didapatkan pada penerapan temperatur tuang 700ºC dengan temperatur cetakan 150ºC. Florida.I.. “Fundamental of Materials Science and Engineering”. Park.. Universitas Kristen Petra Surabaya. Jakarta. Surdia.T. McClein. New York.. DAFTAR PUSTAKA American Foundry’s Society. Kekerasan benda uji pada tekanan konstan terlihat menurun dengan semakin tingginya temperatur cetakan. Park. “A Study on the Powder Forging of Aluminium Alloy Pistons”. Kim. P. S. “Casting”. May 1997. Kekerasan benda uji pada tekanan konstan terlihat menurut seiring meningkatnya temperatur penuangan. 2002. 2001. McGraw Hill Book Company. “Die Casting”. International Journal of the Korean of Precision Engineering. ASM International. S. KESIMPULAN 1. J.. Kim. 1992.. Tjitro. Chapter: Foundry Products. Ohio. pp. (b) 175ºC. Laju pendinginan sangat signifikan pengaruhnya terhadap perbaikan struktur mikro. “A Study on Manufacturing of Aluminium Automotive Piston by Thixoforging”.135.. 4. 3. “Pengetahuan Bahan Teknik”. pp. 32-40.O.T.H. 2000. 2. (a) 150ºC. Saito. 1992. “Proceedings of 3rd International Conference of Molten Aluminum”. Pradnya Paramitha. 1993. 90 . Springer-Verlag London Ltd.J.. Secara visual.. 4 No. Jurnal Teknik Mesin Vol. 2005.. Choi. Kim. “ASM Specialty Handbook: Alumunium and Alumunium Alloys”. Park. Campbell.W. C. 2 No. John Wiley & Son Inc. W. 69-74. 1957. Y. Callister.. J. Orlando. 1-5.. H.Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta terhadap ukuran fasa silikon primer secara visual dengan mikriskop optik. S. “A Study of Porosity Quantification Techniques in Aluminium Alloy Casting”. 2001. H.