BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah

Perlindungan hukum dalam perjanjian kredit sangat dibutuhkan guna memberikan kepastian kepada para pihak. Perlindungan hukum, pada umumnya diberikan kepada kreditur yakni perlindungan yang bersifat umum dan khusus. Sedangkan perlindungan terhadap debitur terutama pada pemenuhan hak untuk memperoleh pinjaman uang tepat waktu dengan prosedur yang tidak berbelit-belit, tanpa diskriminasi dan tekanan dari pihak kreditur. Seyogyanya dalam perjanjian kredit diikuti dengan pengikatan jaminan, baik jaminan yang bersifat kebendaan maupun perorangan. Namun realitas menunjukkan bahwa ada perjanjian kredit yang dilakukan tanpa jaminan. Salah satu perjanjian kredit yang terjadi dalam praktek adalah perjanjian kredit pegawai, di mana jaminan dalam perjanjian tersebut adalah gaji pegawai, yang dibuktikan dengan menyerahkan SK pertama dan SK terakhir ke dalam kekuasaan kreditur. Namun SK tersebut belum dapat menjamin pelunasan utang apabila debitur wanprestasi, dan jenis jaminan yang sesuai. Berdasarkan hal-hal tersebut, penulis menganalisis tentang persyaratan perjanjian kredit bagi pegawai, dan kewajiban para pihak apabila kredit macet. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1

1. Bagaimana persyaratan dalam pemberian kredit? 2. Sejauh mana tanggung jawab para pihak dalam kredit macet? 3. Jenis Jaminan Kredit manakah yang sesuai?

C. Tujuan dan Kegunaan

a.Tujuan Penulisan adalah: 1. Mengetahui dan mendeskripsikan persyaratan dalam pemberian kredit pegawai. 2. 3. Mengetahui tanggung jawab para pihak dalam kredit macet. Mengetahui jenis jaminan kredit yang sesuai.

b. Keluaran penulisan ini diharapkan berguna sebagai berikut: 1. Segi keilmuan, sebagai khazanah memperkaya kajian hukum jaminan. 2. Segi terapan, temuan penelitian ini berguna sebagai bahan pertimbangan perbankan dalam pelaksanaan perjanajian kredit.

D. Metode Penulisan Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yakni mempelajari literatur guna memperoleh data . Lazim disebut data sekunder. Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. Analisis yang sifatnya kualitatif ini kemudian disajikan secara deskriptif. Dengan demikian kajian tulisan ini disebut kajian deskritif analisis.

2

Kredit. 2. Selanjutnya dikatakan bahwa kehidupan ekonomi modern adalah prestasi uang. ditinjau dari segi tujuan penggunaannya.Oleh karena itu transaksi kredit menyangkut uang sebagai alat kredit. Menurut Untung (2000:4) Kredit berfungsi sebagai berikut: 1. kredit dalam arti luas disasarkan atas komponen kepercayaan. di mana keduanya menarik keuntungan dan saling menanggung risiko. risiko dan pertukaran ekonomi di masa-masa mendatang. dikelompokan menjadi : 3 . Singkatnya. Meningkatkan hubungan internasional. 6. Sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi. Meningkatkan pemerataan pendapatan. Undang–undang Nomor 10 Tahun 1998 pasal 1 angka 11 dinyatakan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. 3. yang berarti kepercayaan. Perjanjian Kredit Kredit berasal dari kata bahasa Yunani yaitu credere . 7. 4. Meningkatkan daya guna dan peredaran barang. Meningkatkan kegairahan berusaha. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Meningkatkan peredaran dan lalu-lintas uang. 5.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. barang) dengan balas prestasi (kontra prestasi) yang akan terjadi pada waktu yang akan datang. Kredit berfungsi kooperatif antara kreditur dan debitur. Meningkatkan daya guna uang. Simorangkir (1986:91) mengemukakan bahwa kredit adalah pemberian prestasi (misalnya uang.

dalam praktek perkreditan belum memberikan rasa aman dan terjamin. 1979:117). dan perlindungan yang diberikan secara khusus. Perlindungan yang bersifat umum. dari segi jaminan dapat dibedakan atas: 1.1. Kredit. Konsepsi Perlindungan Hukum Perlindungan hukum terhadap kreditur ada dua macam perlindungan yaitu perlindungan yang bersifat umum. Kredit tanpa jaminan. Kredit produktif. maka para kreditur harus berbagi bersama. Kredit dengan jaminan. yaitu kredit yang diberikan oleh bank kepada perseorangan untuk membiayai keperluan konsumsi sehari-hari. Perlindungan yang bersifat umum diberikan kepada setiap kreditur tanpa membedakan satu dengan yang lain. baik kredit investasi maupun kredit eksploitasi. Perlindungan yang bersifat umum ini diatur dalam pasal 1131 KUHPerdata yang menyatakan bahwa seluruh harta kekayaan debitur merupakan jamainan bagi pemenuhan kewajiban-kewajibannya (Harsono. Kredit konsumtif. maka kreditur berhak untuk mengambil pelunasan piutang dari hasil penjualan seluruh atau sebagian dari harta kekayaannya itu. 3. dan masing-masing hanya mendapat sebagian dari hasil penjualan harta kekayaan debitur (Harsono. Apabila jumlah utang debitur melampaui nilai atau hasil penjualan harta kekayaan. B. atau kredit blangko. Hal ini bermakna. maka kreditur membutuhkan perlindungan yang bersifat khusus 4 seimbang dengan piutang masing-masing . 1996:2). Kombinasi antara kredit konsumtif dan produktif. apabila debitur tidak memenuhi kewajibannya. 2. 2.

Jaminan khusus ini diadakan karena adanya perjanjian antara debitur dan kreditur dapat berupa jaminan yang bersifat kebendaan atau jaminan yang bersifat perorangan. Kepentingan debitur. Menurut Sudaryanto (1996:9). Jaminan khusus yang bersifat kebendaan ialah hipotik. 1980:46).berwujud benda-benda tertentu yang ditunjuk secara khusus sebagai jaminan piutangnya. khusus pemberian kredit. perutangan tanggung-menanggung dan sebagainya (Sofwan. dalam hal hubungan utang piutang. bukan hanya kepentingan kreditur yang memerlukan kepastian hukum dan perlindungan. hak tanggungan. Debitur diperlakukan secara wajar dan dihindari diskriminasi dan tekanan-tekanan yang merugikan debitur. dan mempergunakan sesuai peruntukannya. Perlindungan bagi debitur adalah pemenuhan hak-hak debitur untuk menerima uang. garansi. 5 . gadai. Sedangkan yang bersifat perorangan berwujud borgtocht. juga memerlukan jaminan kepastian hukum dan perlindungan secara seimbang. bahkan kepentingan pihak lain yang mungkin bisa dirugikan oleh akibat yang timbul dari penyelesaian hubungan utang-piutang jika terjadi cidera janji pada debitur. fiducia.

(2) besarnya bunga. Surat Kuasa Memotong Gaji 5. 1989:71) yang meliputi : 1. 4. (6) Barang Jaminan. pemohon kredit menandatangai surat pengakuan utang. apakah usahanya dapat berjalan dengan baik.BAB III PEMBAHASAN A. 3. (3) waktu pelunasan. serta kelengkapan berikut ini: 1. 2. Persyaratan yang harus dipenuhi Isi perjanjian/pengikatan kredit pada pokoknya memuat minimal 6 (enam) syarat yaitu: (1) jumlah hutang. SK pertama (SK CPNS ke PN) Petikan asli 3. Capital. Collateral (jaminan yang disediakan calon debitur). SK terakhir asli 4. (5) klausula opeisbaarheid . Dalam mengajukan permohonan kredit bagi pegawai. Surat Pernyataan bendahara 6 . 5. Condition of economy (kondisi perekonomian). Apakah calon debitur memiliki modal awal yang cukup untuk memulai suatu usaha. Character (sifat-sifat calon debitur). (4) cara-cara pembayaran. Capacity. Surat permohonan 2. Perlu dianalisis kemampuan calon debitur untuk melunasi hutangnya. Pemberian kredit sesuai dengan keyakinan kreditur terhadap kesanggupan debitur sejalan dengan prinsip the five C’s of credit (Badrulzaman.

Asuransi Jiwa Peminjam 8. Dalam surat pengakuan hutang memuat: 1.6. yang apabila diperhitungkan angsuran. Surat Rekomendasi Atasan 7. Ketentuan-ketentuan lain seperti: Kuasa-kuasa yang diberikan sebagaimana pasal 1813 KUHPerdata Berlaku pula syarat-syarat umum perjanjian pinjaman dan kredit kendatipun tidak dilampirkan dalam pengakuan hutang ini. Kewajiban lain dari yang berhutang 9. Surat Kuasa Pemindahbukuan Rekening 8. Penggunaan pinjaman 2. Daftar gaji terakhir 9. Pengawasan dan pemeriksaan. biaya percetakan. Foto kopi kartu keluarga. Domisili 6. biaya notaris. Jaminan 4. Kadangkala kesulitan terjadi justru pada rekomendasi pimpinan instansi. Hal ini disebabkan pegawai yang bersangkutan mengambil kredit pada beberapa bank. Pembayaran kembali pinjaman 3. Persyaratan kredit bagi pegawai tersebut dalam praktek sangatlah mudah dan waktu pengurusannya sangat singkat. biaya pejabat PPAT dan lain-lain) 5. Foto kopi kartu identitas suami dan isteri 10. 7. Biaya-biaya lainnya (Bea meterai. dengan 7 .

memberitahukan kepada kreditur tentang pegawai 8 . Tanpa kesediaan bendaharawan dan rekomendasi pimpinan. B. gaji sebagai jaminan selain kreditur. yakni mendahulukan pemotongan gaji pegawai (debitur) untuk kepentingan pembayaran angsuran golongan berpenghasilan tetap. debitur. dan (3) Pihak Ketiga (dalam borgtocth. mustahil kredit bagi pegawai dapat terealisisasi. Tanggung jawab kreditur adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan. Tanggung jawab debitur terutama pada tahap awal pemrosesan kredit yakni menyiapkan berbagai persyaratan yang diminta oleh bank. apabila bendahara diganti. garansi). dan tanggung jawab apabila kredit macet akibat tindakan debitur. Tanggung jawab Para Pihak dalam Kredit Macet Para pihak dalam perjanjian kredit umumnya adalah (1) Kreditur (Bank/ Lembaga Keuangan yang memberikan kredit). (2) Debitur (pemohon kredit).sisa gajinya tidak mencukupi kebutuhan hidup pegawai yang bersangkutan dan keluarganya. dalam arti bank berhak baik dilakukan sendiri atau dilakukan oleh pihak lain yang ditunjuk bank dan yang berutang wajib mematuhinya untuk setiap waktu meminta keterangan dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan bank kepada yang bersangkutan dan atau perusahaannya. dilanjutkan oleh penggantinya. Keberadaan bendaharawan dan pimpinan instansi dalam perjanjian kredit bagai pegawai diperlukan guna memberikan kepastian kepada kreditur bahwa calon debitur terrsebut adalah golongan berpenghasilan tetap. juga ada bendaharawan dan pimpinan instansi yang bukan sebagai pihak dalam perjanjian kredit tetapi pemberi rekomendasi. Tanggung jawab bendaharawan adalah sebagaimana terakomodasi dalam Surat Pernyataan Bendahara. Dalam perjanjian kredit.

Dalam rekomendasi dinyatakan bahwa pimpinan instansi tidak keberatan dan menyetujui permohonan kredit dengan pertimbangan sebagai berikut: Yang bersangkutan adalah benar-benar pegawai pada instansinya dan masih aktif. Jadi yang bertanggung jawab. dan hal tersebut biasanya tertulis jelas dalam bukti penerimaan dan pemotongan gaji. Dalam perjanjian kredit bagi pegawai. mutasi ke luar daerah atau berhenti. Sedangkan beban tanggung jawab debitur apabila terjadi kredit macet karena kelalaian atau kesengajaan debitur.5 % dari jumlah angsuran pokok dan bunga yang tidak dibayarkan pada bulan yang bersangkutan. artinya tunggakan angsuran lebih dari satu bulan. maka debitur sebetulnya tidak menguasai secara langsung gaji. Yang bersangkutan tidak menikmati kredit dari bank pemerintah maupun bank swasta.yang belum melunasi kredit pindah. Apabila terjadi tunggakan kredit. Apabila dianalisis karakteristik perjanjiana kredit bagi pegawai. terkena penalty 1. Yang bersangkutan benarbenar mempunyai gaji seperti pada daftar perincian gaji. siapakah yang bertanggung jawab? Apakah debitur dapat dikatakan wanprestasi? Dalam perjanjian kredit bagi pegawai (golongan berpenghasilan tetap) mungkin saja terjadi kredit macet. Namun tidak dapat dipungkiri beban tanggung jawab bendahara manakala bendahara beritikad buruk yakni tidak menyetorkan angsuran kredit pegawai. mungkinkah terjadi kredit macet? Apabila terjadi. karena gaji pegawai dikuasai dan dipotong angsuran kredit oleh bendaharawan. Tanggung jawab Pimpinan Instansi sebagaimana tertuang dalam rekomendasi. manakala terjadi wanprestasi adalah debitur. 9 . pimpinan instansi bersedia membantu pihak kreditur dalam penyelesaian tunggakan tersebut.

Sebaliknya apabila bendaharawan membayar angsuran tepat waktu. baik utang yang ditimbulkan karena pengakuan ini atau karena alasan-alasan lain. maka bendaharawan maupun debitur akan mendapatkan insentip yang dananya diambil dari cadangan insentip pembayaran tepat waktu (CIPTW). ataupun yang mungkin timbul pada suatu ketika termasuk bunga. maka dengan ini yang berutang menggadaikan dan mengalihkan kepada bank. Untuk itu setiap kali menerima gaji dari bendaharawan. Seandainya terjadi kredit macet. pimpinan instansi dapat mengecek dan sekaligus mengingatkan bendahara tentang angsuranangsuran kredit yang diprioritaskan untuk dibayar. Pasal 3 (f) Surat Pengakuan Utang dinyatakan bahwa: Guna menjamin supaya utang pengambil kredit kepada bank dibayar dengan semestinya. penggadaian dan pengalihan mana telah diterima oleh bank segala hak dari yang berhutang sebagai diterangkan dalam Surat Keputusan Pengangkatan Pegawai yang pertama dan yang 10 . baik secara di bawah tangan maupun di muka umum. maka pasal 7 ayat (4) surat pengakuan hutang dinyatakan bahwa: Bilamana pinjaman tidak dibayar lunas pada waktu yang telah ditetapkan. untuk dan atas nama permintaan bank dan atas kerelaan sendiri tanpa paksaan yang berutang sebagaimana tersebut dalam pasal 3 bagian (f) Surat Pengakuan Hutang ini. Dalam surat pernyataan bendahara. maka bank berhak untuk menjual seluruh jaminan sehubungan dengan pinjaman ini. denda ongkos-ongkos dan biaya lainnya.Sebagai tindakan preventif. tak dapat dikesampingkan begitu saja pengawasan pimpinan instansi. sebagaimana telah dikemukakan bahwa bendaharawan bersedia dikenakan penalti sebesar 1.5 % dari jumlah angsuran pokok dan bunga yang tidak dibayarkan pada bulan yang bersangkutan.

Dalam klausula di atas dinyatakan …. Klausula ini dapat dinyatakan benar. Debitur dan bendahara. Manakala terjadi kredit macet. maka benda jaminan dapat dijual 11 tidak rasa keadilan dan tidak memberikan perlindungan terhadap . 1. bank berhak untuk menerima uang gaji yang berhutang dari kas negara/juru bayar/bendaharawan yang bersangkutan untuk diperhitungkan dengan utang dan mencegah pihak lain termasuk yang berutang sendiri untuk menerima pembayaran uang tadi. Selanjutnya dinyatakan bahwa gadai ini menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari persetujuan ini dan persetujuan ini tidak akan dibuat dengan tiada bagian itu. Oleh karena itu klausula yang menyatakan mencegah si berutang untuk menerima uang gaji mempertimbangkan debitur. karena yang menguasai dan membayarkan angsuran bukan debitur malainkan bendaharawan. Ada persoalan yang menarik untuk dicermati dari klausula tersebut di atas yakni kedudukan debitur. Adanya gaji debitur ditunjukan dengan SK pertama dan SK terakhir yang berada di bawah kekuasaan kreditur. Bank berhak menerima uang gaji … mencegah si berutang untuk menerima uang tadi. juga bank menerima Surat Kuasa Memotong Gaji. Sehingga yang bertanggung jawab atas tidak terbayarnya angsuran kredit adalah bendaharawan karena tidak menyetor angasuran. Benda jaminan yang dimaksud dalam kredit bagi pegawai adalah gaji. bendahara dan benda jaminan. Karena penggadaian ini. apabila kredit macet terjadi karena kesalahan debitur. Benda jaminan. Namun dapat saja debitur tidak dapat dipersalahkan.terakhir. Untuk keperluan tersebut di samping penyerahan SK pertama dan SK terakhir. 2.

Hal ini menurut penulis sangatlah mustahil karena SK pertama dan SK Terakhir tidak dapat digunakan atau dijual guna pelunasan utang. Sedangkan di Sekretariat Daerah ada lebih sepuluh debitur. Di samping sanksi pidana dan perdata dikenakan pula sanksi yang bersifat administrasi. Sedangkan dari aspek perdata. Kemudian persoalana tersebut disampaikan ke pimpinan instansi. Kredit macet tersebut terjadi bukan karena kesalahan debitur. Ditinjau dari sudut benda jaminan. Di Manokwari terdapat dua kasus kredit macet yakni di Dinas Kesehatan dan Sekretariat Daerah. Setelah diteliti ternyata kesalahan terjadi pada bendaharawan dan bukan pada para debitur. bendahara atas tindakannya tidak menyetor angsuran kredit para debitur. karena tidak termasuk surat berharga. melainkan kesalahan bendaharawan yang tidak menyetor angsuran kredit. Sebagaimana dalam rekomendasi dinyatakan bahwa apabila terjadi tunggakan kredit. Dari aspek pidana. pimpinan instansi bersedia membantu dalam penyelesaiannya. angsuran tidak dibayar empat bulan. Di Dinas Kesehatan terdapat sepuluh debitur. dan ia bertanggung jawab mengganti kerugian yang ditimbulkannya. Bank pemberi kredit tidak melakukan tindakan sebagaimana termuat dalam surat pengakuan utang yakni menjual barang jaminan. Kreditur melakukan tuntutan atas terjadinya kredit macet tersebut. angsuran tidak dibayar tiga bulan. untuk itu ia dapat dituntut dan diproses dalam peradilan pidana. 12 . Karena SK tidak dapat dijual untuk melunasi utang. maka pihak kreditur dalam perjanjian kredit bagi pegawai kurang mendapatkan perlindungan hukum. mengakibatkan kredit macet.untuk pelunasan utang (pasal 7). bendaharawan telah melakukan tindak pidana penggelapan.

Sanksi Administrasi adalah yang bersangkutan diberhentikan dari jabatan bendahrawan. Solusi yang ditawarkan pimpinan instansi adalah win win solution yakni instansi membayar pokok angsuran dan bunga saja sedangkan tuntutan kerugian lainnya tidak dibayar (misalnya 1. 13 . yang bersangkutan (bendaharawan) dikenakan sanksi administrasi dan sanksi perdata. sebagaimana dalam Surat Pernyataan Bendahara). Jenis Jaminan Kredit yang sesuai Menurut hukum perdata terdapat dua jenis jaminan kredit yaitu : 1. seluruh gajinya diperuntukan untuk membayar secara angsuran dana instansi yang digunakan untuk membayar kerugian yang ditimbulkannya kepada kreditur.Dalam kasus tersebut di atas bendaharawan tidak dituntut secara pidana. Jaminan perorangan (personal guaranty) yaitu jaminan seorang pihak ketiga yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban debitur. Timbul pertanyaan bagaimana nasib bendaharawan? Jawabannya adalah. Apabila bendaharawan membayar sekaligus kerugian yang dituntut. karena kebijakan pimpinan instansi (Sekretaris Daerah). C. Sedangkan sanksi perdata adalah yang bersangkutan diwajibkan membayar kerugian yang ditimbulkannya. tidaklah mungkin karena jumlah gajinya tidak mencukupi.5 % dari jumlah angsuran dan bunga. selain diberhentikan dari jabatan bendahara (jadi staf biasa). Pertimbangan ini dibuat karena kreditur dianggap tidak melakukan pengawasan yakni tidak melapor ke pimpinan instansi takala tunggakan terjadi pada bulan pertama.

14 . dalam hal dijaminnya pengembalian kredit yang diberikan. ataupun antara kreditur dengan seorang pihak ketiga yang menjamin dipenuhinyaa kewajiban-kewajiban debitur. Dalam UU No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. 4 / 248/ UPPK /PK tanggal 16 Maret 1972. tidak menjelaskan pengertian gaji. lazim disebut kredit pegawai. 14 Tahun 1967 dinyatakan secara tegas bahwa ada keharusan tersedianya jaminan atas kredit yang dimohonkan oleh debitur (lihat pasal 24 (1)). Dalam praktek ada suatu jenis kredit yang umumnya diberikan kepada pegawai negeri. Namun dalam tulisan ini dapat dikemukakan bahwa: gaji adalah upah pokok ditambah tunjangan yang diterima oleh seorang pegawai sesuai dengan golongan. bank umum wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan. Keyakinan dan kesanggupan debitur ini sejalan dengan prinsip the five C’s of credit yang antara lain adalah Collateral ( jaminan yang disediakan calon debitur ). 43 Tahun 1999 tentang Perubahan UU No. dinyatakan bahwa untuk benda-benda bergerak memakai lembaga jaminan fiducia dan gadai. Dalam UU No. maka terhadap jaminan atau agunan yang diserahkan oleh debiturnya haruslah dilakukan pengikatan jaminan. Pengikatan jaminan diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia ( SE-BI ) No. pangkat dan lama kerja. yaitu jaminan yang dilakukan oleh kreditur dengan debiturnya.2. dan untuk benda-benda tidak bergerak memakai lembaga jaminan hipotik dan creditverband ( Hak Tanggungan untuk tanah ). Untuk kepentingan bank. 7 Tahun 1992 pasal 8 dinyatakan bahwa: Dalam memberikan kredit. Sedangkan dalam UU No. Kredit ini diberikan oleh bank dengan jaminan berupa gaji. Hak Jaminan kebendaan (persoonlijke en zakelijke zekerheid).

10 Tahun 1998. Selanjutnya dinyatakan bahwa gadai ini menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari persetujuan ini dan persetujuan ini tidak akan dibuat dengan tiada bagian itu. baik utang yang ditimbulkan karena pengakuan ini atau karena alasan-alasan lain. bank berhak untuk menerima uang gaji yang berutang dari kas negara/juru bayar/bendaharawan yang bersangkutan untuk diperhitungkan dengan utang dan mencegah pihak lain termasuk yang berutang sendiri untuk menerima pembayaran uang tadi. agunan dapat hanya berupa barang. Namun ada baiknya pasal tersebut dikutip secara lengkap sebagai berikut : Guna menjamin supaya utang pengambil kredit kepada bank dibayar dengan semestinya. atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan.Dalam UU No. penggadaian dan pengalihan mana telah diterima oleh bank segala hak dari yang berutang sebagai diterangkan dalam Surat Keputusan Pengangkatan Pegawai yang pertama dan yang terakhir. Penulis sependapat dengan penamaan pengikatan jaminan kredit pegawai sebagaimana diatur dalam pasal 3 (f) dengan penamaan Gadai. maka dengan ini yang berutang menggadaikan dan mengalihkan kepada bank. penjelasan pasal 8 dinyatakan bahwa … agunan sebagai salah satu unsur pemberian kredit. denda ongkos-ongkos dan biaya lainnya. maka apabila berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan Nasabah Debitur mengembalikan utangnya. Untuk keperluan tersebut di samping penyerahan SK pertama dan SK terakhir. Karena penggadaian ini. Alasan penulis menyetujui penamaan gadai sebagai berikut: 15 pengikatan jaminan pada kredit pegawai dengan . sebagaimana telah dikemukakan. juga bank menerima Surat Kuasa Memotong Gaji. ataupun yang mungkin timbul pada suatu ketika termasuk bunga. proyek.

16 . disamping gaji diperjanjikan pula jaminan tambahan. 3. karena gaji dapat dipersamakan dengan benda bergerak tak berwujud. 2. Hal ini penting guna memberikan perlindungan bagi kreditur manakala terjadi kredit macet. Gaji dapat dimasukan sebagai objek gadai. objek gadai adalah benda bergerak. Juga dalam pasal 1152. Kreditur pemegang gadai berhak untuk mengambil pelunasan dari barang gadai lebih dahulu dari pada kreditur-kreditur lainnya. Namun sebaiknya dalam perjanjian kredit bagi pegawai atau golongan berpenghasilan tetap.1. 1152 bis dan pasal 1153 KUH Perdata dinyatakan bahwa benda-benda yang dapat diterima sebagai benda gadai adalah benda bergerak tak bertubuh yakni piutang atas bawa. 4/248/UPPK/PK-16 Maret 1972. piutang atas tunjuk dan piutang atas nama dan hak tagih. Namun dalam praktek SK pertama dan SK terakhir dari debitur tidak dapat digunakan untuk mengambil pelunasan utang. Gadai lahir karena penyerahan kekuasaan atas barang gadai kepada kreditur pemegang gadai ( Hak tagih atas gaji berada pada kekuasaan kreditur). Menurut penulis perjanjian kredit bagi pegawai yang diikuti dengan pengikatan jaminan dapat dimasukan dalam jaminan kebendaan (gadai). Berdasarkan pasal 1150 KUH Perdata dan SE-BI No. yakni hak tagih.

yang sesuai adalah gadai. 2. Surat permohonan.BAB IV PENUTUP A. Tanggung jawab para pihak dalam kredit macet adalah: pertama. Surat Kuasa Pemindahbukuan Rekening. Surat Rekomendasi Atasan. Surat Kuasa Memotong Gaji. Pimpinan instansi membantu dalam hal kebijakan mengenai solusi dengan memperhatikan kepentingan semua pihak. . SK pertama (SK CPNS ke PN) Petikan asli. apabila tidak terbayarnya angsuran kredit karena kelalaian maupun kesengajaannya. . Daftar gaji terakhir. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh debitur adalah menandatangai surat Pengakuan Utang. Surat Pernyataan bendahara. atau dengan kata lain membantu dalam penyelesaian kredit macet. debitur bertanggung jawab penuh atas kredit macet.Kurangnya perlindungan pihak kreditur perjanjian kredit bagi pegawai. Bentuk pengikatan jaminan dalam perjanjian kredit bagi pegawai. dan Keterangan tentang Permintan Pinjaman serta kelengkapan yakni. Kedua kreditur bertanggung jawab atas kelalaiannya dalam melakukan pengawasan. 17 . Foto kopi kartu keluarga.Para pihak dalam perjanjian kredit bagi pegawai adalah Kreditur dan Debitur. Foto kopi kartu identitas suami dan isteri. Simpulan 1. 3. -Bendaharawan yang bertanggung jawab atas kelalaiannya tidak menyetor angsuran kredit. SK terakhir asli.

3. 2. Saran 1. Jenis jaminan Gadai sudah sesuai untuk perjanjian kredit bagi pegawai (golongan berpenghasilan tetap).B. Guna menghindari terjadinya kredit macet. baik oleh kreditur maupun pimpinan instansi sebagai perwujudan tanggung jawab moral. namun perlu dikonstruksi ulang mekanisme eksekusi agar lebih mengarah pada efisiensi dan efktivitas. Guna perlindungan hukum bagi kreditur dalam perjanjian kredit bagi pegawai. 18 . maka perlu diformulasikan kembali mekanisme pengawasan. dalam klasula diperjanjikan agunan tambahan selain gaji pegawai. misalnya dalam pemberian kredit diutamakan pegawai yang pembayaran gajinya dilaksanakan oleh bank pemberi kredit.

S. 19 . O.S. Simorangkir. 1996. Sofwan. Makalah pada seminar nasional. Aksara Persada Indonesia. 1986. Kredit Perbankan di Indonesia. 1996. Seluk Beluk Bank Komersial. Alumni.DAFTAR PUSTAKA Badrulzaman. Beberapa Analisa Tentang Hukum Agraria. Andi.H. Beberapa Masalah Hukum dalam Perjanjian Kredit Bank dengan Jaminan Hypoyheek serta Hambatan-hambatannya dalam praktek di Medan. Makalah pada seminar nasional. Bandung. BPHN Dephan.M. Harsono. B. Segi-Segi Yuridis Undang-Undang Hak Tanggungan. 1979.. B. Untung. 1980. Pokok-Pokok Kebijaksanaan Undang-Undang Hak Tanggungan. Jakarta. 1989. M. 2000.D. diselenggarakan oleh FH Universitas Tri Sakti bekerja sama dengan Kantor Menteri Negara Agraria/BPN dan BPP Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. diselenggarakan oleh FH Universitas Tri Sakti bekerja sama dengan Kantor Menteri Negara Agraria/BPN dan BPP Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.P. Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan. Sudaryanto. Esa Study Club. Jakarta. Yogyakarta. Jakarta.

III PEMBAHASAN A. Latar Belakang Masalah B. Saran DAFTAR PUSTAKA i ii 1 1 1 2 2 3 3 4 6 6 8 13 17 17 18 19 20 . II TINJAUAN PUSTAKA A. Persyaratan yang harus dipenuhi B. I PENDAHULUAN A. Konsepsi Perlindungan Hukum BAB. Rumusan Masalah C. Jenis Jaminan Kredit yang sesuai BAB. Perjanjian Kredit Bank B. Simpulan B. Tujuan dan Kegunaan D. Metode Penulisan BAB. IV PENUTUP A.DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB. Tanggung jawab Para Pihak dalam Kredit Macet C.

12. Klausul mengenai bunga pinjaman. b). 15. 14. penyerahan barang jaminan. Klausul asuransi. Klausul mengenai tindakan yang dilarang oleh bank ( Negative Clause ). premi asuransi kredit. Tigger Clause atau Opeisbaar Clause. Dispute Seettlement. Klausul ketaatan pada ketentuan bank. gatot ( Untung. 11. 9. Representation and Clause. Klausul mengenai barang agunan kredit. Klausul mengenai jangka waktu kredit. 13. 10. Pasal penutup. dan dokumen serta pelaksanaan pengikatan barang jaminan tersebut. Expence Clause. Pelaksanaan penutupan asuransi barang jaminan. menurut Wardoyo. Miscellaneous atau Boiler Plate Provision.Perlindungan Hukum Terhadap Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bagi Pegawai Persyaratan yang selalu dicantumkan dalam perjanjian kredit. 2000 : 44 ) adalah : 1. 7. c). 21 . 16. 2. 4. 8. Syarat-syarat penarikan kredit pertama kali. 6. Debet Authorization Clause. 3. Klausul mengenai denda ( Penalty Clause ). Klausul ini menyangkut : a). 5. asuransi kredit dengan tujuan untuk memperkecil risiko yang terjadi di luar kesalahan debitur maupun kreditur. asuransi barang jaminan serta biaya pengikatan secara tunai. atau predisbursement clause . Pembayaran provisi. Klausul mengenai maksimum kredit.

24 Tahun 1997 C. Saran DAFTAR PUSTAKA 22 . Sistematika Bahasan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perjanjian Jual Beli B. Faktor-faktor Penghambat PP No. Jual Beli Tanah Menurut Hukum Adat BAB III PELAKSANAAN JUAL BELI TANAH A. 5 Tahun 1960 B. Kesimpulan B. Batasan dan Rumusan Masalah C. Metode Penelitian E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian D. Jual Beli Tanah Menurut UU No. Konflik Tanah dan Penyelesaiannya di Manokwari BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Latar Belakang Masalah B.JUAL BELI TANAH MENURUT UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA DALAM PRAKTEK DI MANOKWARI BAB I PENDAHULUAN A. Hak dan Kewajiban dalam Jual Beli C.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful