BAB I PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita mengganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya. Perubahan fisik dan emisional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial cultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat. Masa nifas adalah suatu masa dimana tubuh menyesuaikan baik fisik maupun psikologis terhadap proses melahirkan yang lamanya kurang lebih 6 minggu. Selain itu pengertian masa nifas adalah masa mulainya persalinan sampai pulihnya alat-alat dan anggota badan yang berhubungan dengan kehamilan/persalinan (Ahmad Ramli. 1989). Dari dua pengertian di atas kelompok meyimpulkan bahwa masa nifas adalah masa sejak selesainya persalinan hingga pulihnya alat-alat kandungan dan anggota badan serta psikososial yang berhubungan dengan kehamilan/persalinan selama 6 minggu. Dalam proses adaptasi pada masa postpartum terdapat tiga metode yang meliputi ”immediate puerperineum” yaitu 24 jam pertama setelah melahirkan, ”early puerperineum” yaitu setelah 24 jam hingga 1 minggu, dan ”late puerperineum” yaitu setelah satu minggu sampai 6 minggu postpartum. Perubahan psikologi pascapartum pada seorang ibu yang baru melahirkan terbagi dalam tiga fase: 1. Taking in dimana pada fase ini ibu ingin merawat dirinya sendiri, banyak bertanya dan bercerita tentang pengalamannya selama persalinan yang berlangsung 1 sampai 2 hari. 2. Taking hold dimana pada fase ini ibu mulai fokus dengan bayinya yang berlangsung 4 sampai 5 minggu.

1

3. Letting-go dimana ibu mempunyai persepsi bahwa bayinya adalah perluasan dari dirinya, mulai fokus kembali pada pasangannya dan kembali bekerja mengurus hal-hal lain.

Perubahan tersebut merupakan perubahan psikologi yang normal terjadi pada seorang ibu yang baru melahirkan. Namun, kadang-kadang terjadi perubahan psikologi yang abnormal. Gangguan psikologi pascapartum dibagi menjadi tiga kategori yaitu postpartum blues atau kesedihan pascapartum, depresi pascapartum nonpsikosis, dan psikosis pascapartum. Pada makalah ini kami akan membahas secara khusus mengenai post partum blues. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindroma yang oleh para peneliti dan klinisi disebut post-partum blues. Dalam dekade terakhir ini, banyak peneliti dan klinisi yang memberi perhatian khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin, dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejala-gejala tersebut. Berbagai studi mengenai post-partum blues di luar negeri melaporkan angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85%, yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan kriteria diagnosis yang digunakan.

I. 2 RUMUSAN MASALAH 1. Apa definisi dari demam postpartum blues 2. Apa saja penyebab dari postpartum blues 3. Apa tanda dan gejala dari postpartum blues 4. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan postpartum blues

I. 3 TUJUAN 1. Untuk mengetahui definisi dari postpartum blues 2. Untuk mengetahui apa saja penyebab dari postpartum blues 3. Untuk mengetahui apa tanda dan gejala dari postpartum blues 4. Untuk mengetahui Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan
2

terutama bagi para ibu. Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah informasi tentang masalah postpartum blues pada ibu. Bagi Penulis Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai masalah postpartum blues 2. Bagi Pembaca Diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang postpartum blues lebih dalam. 3 . Bagi Petugas Kesehatan Diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan pada ibu dengan postpartum blues sehingga dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik. sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari masalah tersebut. 3.I.4 MANFAAT 1. 4.

Keadaan ini sering disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan. terjadi perubahan hormon yang melibatkan endorphin. Baby blues adalah keadaan di mana seorang ibu mengalami perasaan tidak nyaman (kesedihan atau kemurungan)/gangguan suasana hati setelah persalinan. progesteron. dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis pasca-salin. yang mempunyai dampak lebih buruk. karena stres dan sikap ibu yang tidak tulus terus-menerus bisa membuat bayi tumbuh menjadi anak yang mudah menangis. atau pun dengan dirinya sendiri. dan estrogen dalam tubuh Ibu. terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anak. post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan atau pada saat fase taking in. Individu yang Berisiko 4 . tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan-perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya. cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima dan berlangsung dalam rentang waktu 14 hari atau dua minggu pasca persalinan. Post-partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksanai sebagaimana seharusnya. cenderung rewel. pencemas. mental dan emosional Ibu. Dewasa ini. yang berkaitan dengan hubungannya dengan si bayi.BAB II TINJAUAN TEORI II. pemurung dan mudah sakit. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca-salin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan. Ketika plasenta dikeluarkan pada saat persalinan.1 PENGERTIAN Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. yang dapat mempengaruhi kondisi fisik.

keluarga dan teman). Tidak adanya perencanaan kehamilan atau kehamilan yang tidak diharapkan Ketergantungan pada alkohol atau narkoba Kurangnya dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan 4. 5. seperti. Kondisi bayi yang cacat. sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial dari lingkungannya (suami. 8. Adanya keinginan untuk bunuh diri pada masa sebelum kehamilan. Namun. seperti kehilangan suaminya. Latar belakang psikososial ibu. di Belanda diperkirakan sekitar 2-10% ibu melahirkan mengidap gangguan ini. Ibu yang pernah mengalami gangguan kecemasaan termasuk depresi sebelum hamil Kejadian-kejadian sebagai stressor yang terjadi pada ibu hamil. atau memerlukan perawatan khusus pasca melahirkan yang tidak pernah dibayangkan oleh sang ibu sebelumnya. suami. banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya postpartum blues.2 Etiologi Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini belum diketahui. Apakah 5 . Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen. Melahirkan di bawah usia 20 tahun. 7. 3. dan kasih sayang dari suami. dan teman Kurangnya komunikasi. perhatian. 3. dan perawatan bayi. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi. Beberapa kondisi yang dapat memunculkan depresi post partum blues. 2. Mempunyai permasalahan keuangan menyangkut biaya. 1. 2. riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya. prolaktin dan estradiol. tingkat pendidikan. kehamilan yang tidak diinginkan. progesteron.Secara global diperkirakan terdapat 20% wanita melahirkan menderita post partum blues. status perkawinan. antara lain: 1. 6. II. atau pacar. 9. 10. Faktor demografi yaitu umur dan paritas. Kurangnya kasih sayang dimasa kanak-kanak 11. 4. atau orang yang bersangkutan dengan sang ibu.

sakit kepala sering berganti mood. tusuk punggung. insomnia yang berlebihan. Ada juga yang berpendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini disebabkan oleh beberapa factor dari dalam dan luar individu. tidak mau bicara.suami menginginkan juga kehamilan ini. atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah) selama ibu menjalani masa kehamilannya atau timbul permasalahan. 6. tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami. tidak mampu berkonsentrasi dan sangat sulit membuat keputusan. Antara 8% sampai 12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. dan teman memberi dukungan moril (misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga. penakut. Perubahan hormon dan perubahan hidup ibu pasca melahirkan juga dapat dianggap pemicu. keluarga. Dengan kata lain para wanita lebih mungkin mengembangkan depresi post partum jika mereka terisolasi secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang menakan.3 Manifestasi Klinis Gejala-gejala postpartum blues ini bisa terlihat dari perubahan sikap seorang ibu. merasa terlalu sensitif dan cemas berlebihan. problem dengan orang tua dan mertua. 7. tidak bergairah. II. Beberapa perubahan sikap tersebut diantaranya Ibu sering tiba-tiba menangis karena merasa tidak bahagia. mudah tersinggung (iritabilitas). De Jonge Andriaansen juga meneliti beberapa teknologi medis (penggunaan alat-alat obstetrical) dalam pertolongan melahirkan dapat memicu depresi postpartum blues ini. problem dengan si sulung. apakah suami. Gejala tersebut biasanya muncul pada hari ke-3 atau ke-6 hari setelah melahirkan. Misalnya saja pada pembedahan caesar. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya. merasa tidak mempunyai ikatan batin dengan si kecil yang baru saja di lahirkan . tidak mau makan. Penelitian dari Dirksen dan De Jonge Andriaansen (1985) menunjukkan bahwa depresi tersebut membawa kondisi yang berbahaya bagi perkembangan anak di kemudian hari. Namun ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa Post partum blues tidak berhubungan dengan perubahan hormonal. 5. khususnya terhadap hal yang semula sangat diminati. misalnya suami yang tidak membantu. penggunaan tang. Gejala-gejala itu mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya 6 . episiotomi dan sebagainya. biokimia atau kekurangan gizi.

Khawatir pada bayinya dengan kekhawatiran yang berlebihan II. dokter menyimpulkan beberapa simtom yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan depresi post partum blues bila memenuhi kriteria gejala yang ada. tek jarang terkadang seorang ibu menangis tanpa sebab yang pasti. Skrining untuk mendeteksi gangguan mood/depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. kecemasan. Riwayat seperti kehamilan yang tidak di inginkan. Keabnormalitasan pada post partum blues ini mengakibatkan rasa tidak nyaman. Endinburgh Posnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. kurangnya biaya untuk persalinan. sensitive dan lebih membutuhkan perhatian. Namun jika masih berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan itu dapat disebut postpartum depression.4 Patofisiologi Sejarah kehamilan adalah factor utama yang bisa menimbulkan terjadinya baby blues ini atau biasa dikenal dengan post partum blues. kasih sayang dari orang di sekitarnya yang di anggap penting baginya. Kekurangan hormon tyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa (fatigue) ditemukan juga pada ibu yang mengalami post partum blues mempunyai jumlah kadar tyroid yang sangat rendah.akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Secara medis. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan sebagai alat bantu. II. 7 . Karena proses ini pula seorang ibu setelah melahirkan mengalami perubahan pada tingkat emosional. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi nonadrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi. kurangnya perhatin yang diberikan pada si ibu dan factor ari etiologi serta factor psikolog lainnya merupakan penyebab utama. kecemasan yang mendalam pada diri ibu. Pertanyaan-pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan.5 Pemeriksaan Penunjang Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung post partum blues. Biasanya ibu akan mengalami kenaikan dalam resons psikologisnya. adanya problem dengan orang tua atau mertua.

Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit. II. Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. dan Indonesia. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya Untuk minta pertolongan. 8 . disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. tidak gelisah. minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai. di mana setiap pertanyaan memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda. Cox et. Italia. Dengan bantuan dari teman dan keluarga. misalnya dari seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut. dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. dapat diberikan pertolongan dari para ahli. Swedia.6 Penatalaksanaan Post-partum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan. Al. atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan. Banyak ibu yang ‘berjuang’ sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan.perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post-partum blues . Para ibu yang mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari. Bila memang diperlukan. Para ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya.. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 (dua) minggu kemudian. seringkali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak. Australia. mendapati bahwa nilai skoring lebih besar dari 12 (dua belas) memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% untuk mendiagnosis kejadian post-partum blues . Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat. Penanganan gangguan mental pasca-salin pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momen-momen lainya. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan.

keluarga dan juga teman dekatnya. bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru. bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu. Pengobatan medis. misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan. yaitu: dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan. 9 . tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi. berolahraga ringan. Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi. intelektual. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku. yaitu: suami. membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya. termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masamasa tersebut serta penanganannya. emosional. bersikap fleksibel. dengan melibatkan lingkungannya.Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut. bahkan merujuk para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu. sosial dan psikologis secara bersama-sama. konseling emosional. tidur ketika bayi tidur. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri. Dalam penanganan para ibu yang mengalami post-partum blues dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik.

Data diri klien meliputi : nama. melukai diri c. medical record dan lain-lain b. 1987). Identitas klien. Suami atau pasangan wanita tersebut juga dapat mengalami gangguan emosional akibat perilaku wanita tersebut. insomnia. Pengkajian pada pasien post partum blues menurut Bobak ( 2004 ) dapat dilakukan pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang tua baru. pendidikan. kelelahan. ibu dan pasangannya mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka. Keluhan Utama Mudah marah.BAB III LANDASAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN “POSTPARTUM BLUES” III. merasa terganggu dengan perubahan fisik. anorexia. Riwayat Kesehatan Sekarang Pada Ibu dengan depresi postpartum biasanya terjadi kurang nafsu makan. Pengkajiannya meliputi . alamat.1 PENGKAJIAN Pengenalan gejala mood merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh perawat perinatal. Riwayat Persalinan Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam upaya retrospeksi diri (Konrad. Riwayat Kesehatan Dahulu Berhubungan dengan kejadian pada persalinan masa lalu serta kesehatan pasien 3. sedih – murung. melukai diri 2. Riwayat Kesehatan 1. mudah marah. Riwayat kesehatan keluarga Berhubungan dengan dukungan keluarga terhadap keadaan pasien d. hal-hal yang mencakup kelahiran 10 . Selama hamil. pekerjaan. sulit konsentrasi. umur. cemas. Rencan individu didasarkan pada karakteristik wanita dan keadaannya yang spesifik. Rencana keperawatan harus merefleksikan respons perilaku yang diharapkan dari gangguan tertentu. a.

induksi. ibu dan pasangannya mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka. Banyak orang tua baru mengalami kesulitan untuk menjadi orang tua sampai akhirnya keterampilan 11 . Selama hamil. dan seksualitas ibu. Citra diri ibu Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri. citra tubuh. g. Ibu yang baru melahirkan bisa merasa enggan untuk memulai hubungan seksual karena takut merasa nyeri atau takut bahwa hubungan seksual akan mengganggu penyembuhan jaringan perineum. Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan tubuhnya selama masa nifas dapat mempengaruhi perilaku dan adaptasinya dalam menjadi orang tua. f. 1987). Baik ibu maupun ayah menunjukkan kedua jenis perilaku maupun saat ini kebanyakan riset hanya berfokus pada ibu. Konsep diri dan citra tubuh ibu juga dapat mempengaruhi seksualitasnya.pervagina dan beberapa intervensi medis. Interaksi Orang tua – Bayi Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi evaluasi interaksi orang tua dengan bayi baru. Apa yang dirasakan orang tua tentang pengalaman melahirkan sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua. Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang diharapkan (misalnya . Respon orang tua terhadap kelahiran anak meliputi perilaku adaptif dan perilaku maladatif. induksi. Apa yang dirasakan orang tua tentang pengalaman melahirkan sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua. orang tua bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan sebelumnya. Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan penyesuaian perilaku seksual setelah melahirkan seringkali menimbulkan kekhawatiran pada orang tua baru. Dampak pengalaman melahirkan Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam upaya retrospeksi diri (Konrad. kelahiran sesar). e. anestesi epidural. hal-hal yang mencakup kelahiran pervagina dan beberapa intervensi medis. kelahiran sesar). anestesi epidural. orang tua bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan sebelumnya. Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang diharapkan (misalnya .

mereka membaik. Bayi – bayi ini cenderung akan dapat diperlakukan kasar. Struktur dan fungsi keluarga Komponen penting lain dalam pengkajian pada pasien post partum blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga. Sedangkan Pengkajian Dasar data klien menurut Marilynn E. respon social yang tidak matur. Doenges ( 2001 ) Adalah : 12 . Mereka tidak dapat merasakan kesenangan dari kontak fisik dengan anak mereka. dan ketidakberdayaannya. dan ketika mereka dapat membaca gerakan bayi dan dapat merasa tingkat kelelahan bayi. Tugas merawat anak seperti memandikan atau mengganti pakaian. terlihat segera setelah ibu melahirkan. Perilaku maladaptif terlihat ketika respon orang tua tidak sesuai dengan kebutuhan bayinya. saat mereka memahami yang dikatakan bayinya melalui ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi dan yang kemudian menenangkan bayinya. Perawat dapat membantu meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan mengkaji kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga dan membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah tersebut sebelum keluar dari rumah sakit. ibunya dengan keluarga lain. lelah keinginan untuk berbicara dan kebutuhan untuk dipeluk dan melakukan kontak mata. seperti rasa lapar. i. Orang tua menunjukkan perilaku yang adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena kehadiran bayinya dan karena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan bersama anaknya. Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi realistis orang tua terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir dan keterbatasan kemampuan mereka. h. dan anak-anak lain. Kualitas keibuan atau kebapaan pada perilaku orang tua membantu perawatan dan perlindungan anak. dipandang sebagai sesuatu yang menyebalkan. Penyesuaian seorang wanita terhadap perannya sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangannya. Tanda-tanda yang menunjukkan ada atau tidaknya kualitas ini. saat orang tua bereaksi terhadap bayi baru lahir dan melanjutkan proses untuk menegakkan hubungan mereka. Tampaknya sukar bagi mereka untuk menerima anaknya sebagai anak yang sehat dan gembira. Orang tua tidak mampu membedakan cara berespon terhadap tanda yang disampaikan oleh bayi. Orang tua tidak merasa tertarik untuk melihat anaknya.

dan lokasi Serangan mendadak  Melaporkan atau perlahan dari intensitas ringan  Melaporkan karakteristik nyeri yang membaik kondisi  kaji tingkatan skala nyeri untuk menentukan dosis sampai berat yang di antisipasi diprediksi psikologis yang membaik atau  Mengekspresikan durasi kegembiraan terhadap analgesik  anjurkan istirahat ditempat 13 . menyusui). SirkulasiEpisode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari. biasanya pada hari ke-3. mungkin lebih dini. e. berlanjut menjadi lokhia serosa dengan aliran tergantung pada posisi (misalnya .3. b. Nyeri/ketidaknyamanan Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3 sampai ke-5 pascapartum. III. Lokhia rubra berlanjut sampai hari ke-2. Seksualitas Uterus 1 cm diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran. menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. takut/menangis (" Post partum blues " sering terlihat kira-kira 3 hari setelah kelahiran).a. berlanjut pada susu matur. tergantung kapan menyusui dimulai. Aktivitas / istirahat Insomnia mungkin teramati. Payudara : Produksi kolostrum 48 jam pertama. Integritas Ego Peka rangsang. rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas (misalnya .2 DIAGNOSA NANDA NOC NIC NO 1 NANDA Nyeri akut Definisi : NOC Tingkat kenyamanan Indikator: kondisi fisik  kaji NIC Manajemen nyeri tipe intensitas. d. c. Makanan/cairan Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan mungkin hari – hari ke-3. f. g. Eliminasi Diuresis diantara hari ke-2 dan ke-5.

 ajarkan  anjurkan menggunakan Kontrol Nyeri Indikator: klien teknik relaksasai dan nafas dalam klien mekanisme (TIO)  Mengenal factor penyebab ditandai  Mengenal serangan nyeri mual  Mengenal gejala nyeri  Melaporkan control nyeri koping yang baik disaat nyeri terjadi  Hindari karena mual.  Adanya laporan nyeri secara Tingkat Nyeri Indicator:  Melaporkan nyeri makan  Frekuensi nyeri  Ekspresi wajah karena nyeri Perubahan tanda-tanda vital verbal dan non verbal  Nafsu menurun  Mual.  Perhatikan resep obat. Kontrol ansietas Indikator:  Monitor intensitas ansietas  Mengeliminasi precursor ansietas  Menurunkan stimulasi Penurunan Ansietas Aktivitas:  Gunakan pendekatan yang hangat  Jelaskan semua prosedur/kondisi yang 14 . dosis dan rute benar pemberian secara sebelum pemberian obat.d ketidaksiapan menjadi ibu. 1. ini muntah akan dan muntah.nyeri kurang dari 6 bulan Batasan karakteristik  peningkatan tekanan okuler yang dengan intra lingkungan sekitar  Mengekspresikan kepuasan dengan control nyeri tidur dalam ruangan yang tenang  atur sikap fowler 300 atau dalam posisi nyaman. 2 Kecemasan b. nama pasien. muntah meningkatkan TIO  Alihkan perhatian pada halhal yang menyenangkan  Hilangkan sumber nyeri Pemberian analgesik  Berikan analgesik sesuai atau kurangi order dokter.

d partus yang lama dan perasaan bahagian akan segera melahirkan Tidur Jam tidur cukup Tidur berkualitas Pola tidur baik Efisiensi tidur Merasa lebih baik ketika bangun tidur . tindakan. persepsi. Koping Indikator:  Mengidentifikasi pola koping yang efektif  Melaporkan penurunan stress  Menyatakan penerimaan terhadap situasi  Memanfaatkan dukungan sosial yang ada Melaporkan penurunan perasaan negative 3 terjadi pada pasien  Pahami perspektif pasien terhadap situasi yang penuh stress  Berikan informasi factual tentang diagnosa. dan kekhawatiran  Identifikasi ketika terjadi perubahan tingkat ansietas  Kontrol simulasi sesuai dengan kebutuhan pasien  Tentukan kemampuan pasien untuk mengambil keputusan Berikan medikasi untuk mengurangi ansietas Sleep Enhancement Tentukan pola tidur/aktivitas pasien Tentukan efek pola tidur terhadap pengobatan pasien Minta pasien untuk menghilangkan stress 15 Gangguan Pola Tidur b.lingkungan ketika ansietas  Mencari informasi untuk menurunkan ansietas  Menggunakan strategi koping yang efektif  Melaporkan penurunan durasi ansietas  Mempertahankan hubungan sosial  Melaporkan tidur yang adekuat  Mengontrol respon ansietas 2. dan prognosis  Berikan penguatan kepada pasien  Ciptakan atmosfir untuk memfasilitasi kepercayaan pasien  Dukung pasien untuk menyatakan perasaan.

stimulasi. berhitung. missal nya music. dan reduksi nyeri) Tentukan ketertarikan individu pada music Pastikan tape/CD pada alat dapat bekerja dengan baik 4 Kurang pengetahuan (keluarga) tentang Pengetahuan: perawatan bayi Indikator: Pengajaran: Perawatan Bayi Aktivitas: 16 . menonton. dan membayangkan gambar Instruksikan pasien untuk menstimulasi beragam rangsangan (missal nya music. humor. konentrasi.Istirahat Pola Istirahat baik Keadaan fiik beristirahat Keadaan mental beristirahat Keadaan emosional beristirahat Perawatan kesehatan fisik Fisik yang fit Pola tidur dan istirahat baik Fungsi fisik yang baik - sebelum tidur Pantau pola tidur pasien dan jumlah waktu tidur Gangguan Pastikan pasien memastikan teknik distraksi yang diinginkan. dan membaca) Minta partisipasi dari keluarga untuk mengajarkan teknik nya jika diperlukan Terapi Musik Definisikan perubahan spesifik dalam perilaku dan psikologi yang mengganggu (Misal nya relaksasi.

menyentuh dan masase bayi  Dorong keluarga untuk memberikan stimulasi auditori.dan visual untuk meningkatkan pertumbuhan 17 .perawatan bayi dan pemulihan diri berhungan dengan kurang terpaparnya keluarga terhadap informasi yang adekuat  Mendeskripsikan karakteristik bayi normal  Mendeskripsikan perkembangan bayi normal  Mendeskripsikan posisi bayi yang tepat  Mendeskripsikan isapan ASI bayi yang nutritive dan yang tidak  Mendeskripsikan teknik menyusui bayi  Mendeskripsikan cara memandikan bayi  Mendeskripsikan perawatan tali pusat  Mendeskripsikan pola tidur-bangun bayi  Mendeskripsikan komunikasi dengan bayi Mendeskripsikan kebutuhan adanya perawatan khusus  Demonstarikan dan jelaskan tentang perawatan bayi kepada orang tua dan keluarga  Berikan panduan tentang perkembangan selama 1 tahun kehidupan  Berikan informasi tentang penambahan makanan cairan selama 1 tahun pertama  Berikan informasi tentang perkembangan gigi dan higien oral selama 1 tahun pertama  Dorong orang tua untuk berbicara dan bercerita kepada bayi  Berikan panduan tentang perubahan pola tidur selama 1 tahun pertama  Berikan panduan tentang perubahan pola eliminasi selama 1 tahun pertama  Dorong orang tua untuk memegang .

 Dorong orang tua bermain dengan bayi  Demonstarsikan cara orang tua menstimulasi perkembangan bayi Informasikan kepada orang tua pentingnya perawatan kesehatan bayi dan imunsasi bayi secara teratur 18 .

19 . atau pun dengan dirinya sendiri. memasak. terjadi perubahan hormon yang melibatkan endorphin. Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik Tujuan dari komunikasi terapeutik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara : a. 5) Rencanakan acara keluar bersama bayi berdua dengan suami 6) Rekreasi Cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas dengan postpartum blues ada dua cara yaitu : 1. c. Ketika plasenta dikeluarkan pada saat persalinan. progesteron. 2) SARAN Post partum blues dapat dicegah dengan cara : 1) Anjurkan ibu untuk merawat dirinya. yakinkan pada suami atau keluarga untuk selalu memperhatikan si ibu 2) Menu makanan yang seimbang 3) Olah raga secara teratur 4) Mintalah bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya. yang berkaitan dengan hubungannya dengan si bayi. menyiapkan susu dll. Dengan cara peningkatan support mental Beberapa cara peningkatan support mental yang dapat dilakukan keluarga diantaranya : a) Sekali-kali ibu meminta suami untuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti : membantu mengurus bayinya. mental dan emosional Ibu. Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi Dapat memahami dirinya Dapat mendukung tindakan konstruktif.BAB IV PENUTUP 1) KESIMPULAN Post partum blues adalah keadaan di mana seorang ibu mengalami perasaan tidak nyaman (kesedihan atau kemurungan)/gangguan suasana hati setelah persalinan. dan estrogen dalam tubuh Ibu. b. yang dapat mempengaruhi kondisi fisik. d.

dengan bersosialisasi j) Suami sering menemani isteri dalam mengurus bayinya 2. e. g. b. f. diantaranya dengan cara : a. i. h.b) Memanggil orangtua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam menghadapi kesibukan merawat bayi c) Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan lebih perhatian terhadap istrinya d) Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir e) Memperbanyak dukungan dari suami f) Suami menggantikan peran isteri ketika isteri kelelahan g) Ibu dianjurkan sering sharing dengan teman-temannya yang baru saja melahirkan h) Bayi menggunakan pampers untuk meringankan kerja ibu i) mengganti suasana. d. penanganan pada klien postpartum blues pun dapat dilakukan pada diri klien sendiri. Selain hal diatas. c. Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi Tidurlah ketika bayi tidur Berolahraga ringan Ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu Tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan Bersikap fleksibel Kesempatan merawat bayi hanya datang 1 x Bergabung dengan kelompok ibu 20 .

Hormonal Estrogen Progesterone Prolaktin (+)/(-) Prolaktin Stimulant Kel. Pengalaman dlm proses kehamilan dan persalinan Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi F.Susu Payudara >> & aereola melebar dan lbh gelap Tdk nyaman ( minder ) Rasa senang & mengurangi rasa nyeri Rasa Bahagia F. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dgn bayinya 21 .Susu Produksi Asi Cemas Resiko ggn proses menyusui Oxitoksin (+)/(-) Kontraksi rahim + / Nyeri Partus lama Ggn pola tidur Endorphin Estrogen Enzym Monoamin In aktifasi noradrenalin & serotonin Perubahan mood & depresi Anstabil koping individual Resiko Perubahan Emosional Stimulan Kel. Demografi ( usia ) Resiko Perubahan peran menjadi ortu F.WOC POSTPARTUM BLUES Post Partum Blues F. Latar belakang psikososial Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga F.

Lowdermilk. Mary Frances Moorhouse.http//post-partum-blues.DAFTAR PUSTAKA Herdman. \www.Penerbit Buku Kedokteran EGC.html 22 . Buku Ajar : Keperawatan maternitas edisi . America : Mosby Mc Closkey Dochterman. Alice C.http//askep-post-partum-blues. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran Morhead. Joanne. America : Mosby Marylin E.Geissler ( 2000 ). Diagnosis Keperawatan.4. ( 2004 ). Nursing Interventions Classification (NIC). Jakarta. www. Heather. Jakarta: v EGC. www. Jensen. Sue. 2008. Bobak.http//askep-pada-post-partum-dengan_8492. Doengoes. Nursing Outcomes Classification (NOC).html. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. 2004.html.2010.

Related Interests