Leukimia Mieloblastik Akut (LMA) Insidensi LMA kira-kira 2 sampai 3 per 100.000 penduduk.

LMA lebih sering ditemukan pada umur dewas (85%) dari pada anak (15%). Ditemukan lebih sering pada lakilaki daripada wanita. Gejalah penderita LMA adalah : rasa lelah, pucat, nafsu makan hilang, anemia, petekie, pendarahan, nyeri tulang, infeksi, pembesaran kelenjar getah bing, limpa, hati dan kelenjar mediastinum. Kadang-kadang juga ditemukan hipertrofi gusi, khususnya pada leukimia akut monobalistik dan mielomonostik. Klasifikasi LMA menjadi enam jenis : M1 M2 M3 M4 M5 M6 : Leukimia mieloblastik tanpa pematangan : Leukimia mieloblastik dengan berbagai derajat pematangan : Leukimia promielositik hipergranular : Leukimia mielomonositik : Leukimia monoblastik : Eritroleukemia Prognosis paling buruk adalah pada golongan M5 dan M6, semua penderita meninggal sebelum 2 tahun; sedangkan M3 mempunyai harapan hidup paling lama. Hasil pengobatan LMA belum memuaskan. Dengan pengobatan modern, angka remisi 50-75%, tetapi rata-rata hidup masih 2 tahun dan yang dapat hidup lebih dari 5 tahun hanya 10%.

Leukimia Limfositik Kronik (LLK) LLK merupakan 25% dari seluruh leukimia di negara barat, tetapi amat jarang ditemukan di Jepang, Cina dan Indonesia. Penderita laki-laki 2 kali lebih sering ditemukan daripada wanita. Jarang sekali ditemukan pada umur kurang dari 40 tahun. Pada usia diatas 60 tahun insiden meningkat tinggi, 20 diantara 100.000 penduduk di negara barat, dan merupakan leukimia yang paling sering ditemukan disana. Gejala LLK merupakan limfadenopati splenomegali, hepatomegali, infiltrasi alat tubuh lain (paru, pleura, tulang, kulit), anemia hemolitik, trombositopenia,

hipogamaglobulinemia dan gamopati monolonal sehingga penderita mudah terserang infeksi. Pemeriksaan darah tepi menunjukkan limfositosis lebih dari 50.000/mm 3, pada sumsum tulang didapat infiltrasi merata oleh limfosi kecil, yaitu lebih dari 40% dari total sel yang berinti. Sel leukimia penderita LLK secara morfologis tidak dapat dibedakan dari

sel blas LLA dapat dibedakan dari LMA dengan pewarnaan sitokimia seperti pas. . LLA lebih sering ditemukan pada anak-anak (82%) daripada umur dewasa (18%). nyeri tulang dan sandi macam-macam infeksi. Pengobatan Pengobatan dibagi menjadi pengobatan suportif dan spesifik. lgE : epsilon. lgD : delta. nyeri tekan tulang dada. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya ada leukositosis (60%). Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan sel blas yang dominan. Jumlah leukosit biasanya berbanding langsung dengan jumlah blas. Jenis imunoglobulin dinamakan sesuai dengan rantai beratnya. panas tanpa infeksi. kadang-kadang leukopenia (25%). sudan black. Kurang lebih 95% penderita LLK disebabkan peningkatan limfosit B. lgA : alfa. peroxidase dan esterase. Rantai berat imunoglobulin ini biasanya mU atau delta.limfosit normal. Limfosit tersebut juga mempunyai sifat membentuk roset dengan eritrosit tikus. lgG rantai beratnya : gamma. Gejala penderita LLA sebagai berikut : rasa lelah. akhir-akhir ini antibodi monoklonal juga dapat membedakan kedua jenis leukimia tersebut. Seperti diketahui. Pada pemeriksaan fisis didapatkan splenomegali (86%). Leukimia Limfoblastik Akut (LLA) Insidensi LLA 2 sampai 3 per 100. Lebih sering ditemukan pada laki-laki dar pada wanita. Permukaan sel limfosit LLK mengandung imunoglobin (surface membrane immunoglobulin) (Smlg positif). Penderita LLK sering mengalami kelainan di kulit berupa semacam psoriasis atau mikosis fungoides. (BLLK). hipetomegali limfadenopati. imunoglobulin terdiri dari rantai berat dan rantai ringan. lgM : mu. Jumlah leukosit neutrofil seringkali lebih rendah. ekimoses dan pendarahan retina. perpura. sedangkan rantai ringannya lmbda atau kappa. demikian pula kadar hemoglobin dan trombosit. Terapi Suportif Umum Terapi suportif umum untuk kegagalan sumsum tulang meliputi. penurunan berat badan dan sering ditemukan suatu masa abnormal.00 penduduk.

tetapi berbagai protokol yang digunakan bervariasi dari unit ke unit. Pencegahan muntah. Fasilitas isolasi dapat digunakan pada pasien yang dirawat dalam ruang-ruang terpisah dengan isolasi penghalang . Netropenia terjadi akibat penyakit itu sendiri dan akibat pengobatan. produk darah. Pemasangan kateter vena sentral (misal. makanan intervana. atau tropisetron). steroid (misal deksametason). antibiotik. 3. lesi superfisial lokal dapat dengan cepat menyebabkan septikemia berat. benzidiazepin (misal lorazepam). 4. Profilaksis Infeksi Dapat dilakuakan tindakan-tindakan berikut ini untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi. fenotiazin (misalnya klorpromazin atau proklorperazin). kadang-kadang dengan alkalinisasi urin. Infeksi terutama disebabkan oleh bakteri dan biasanya muncul dari flora bakteri komensal pasien itu sendiri. Organisme yang biasanya tidak dianggap bersifat patogen (misalnya Staphylococcus epidermidis) dapat menyebabkan terjadinya infeksi yang mengancam jiwa. FFP) mungkin perlu diberikan untuk mengatasi koagulopati. dan pada banyak pasien. Dukungan produkd arah dengan eritrosi dan trombosit. Infeksi virus (misalnya herpes simpleks dan zoster). Pemasangan kateter vena sentral. antagonis reseptor 5-hidroksriptamin tpe 3 (5-HT3) selektif (misalnya ondansetron. 5. terdapat limfopenia dan telah digunakan beberapa antibiotik untuk mengobati kemungkinan infeksi bakteri. tanpa adanya netrofil. Proteus Kelbsiella. jamur (misalnnya Candida. Escherichia coli. Lagipula. yang paling sering dijumpai adalah organisme kulit Gram positif (misalnya staphylococcus dan Stretococcus) atau bakteri usus Gram negatif (misalnya Pseudomonas aeuruginosa. dll. atau kanabinoid (misal nabilon).1. Aspergillus) dan protozoa (misalnya Toxoplasma gondii) juga meningkat frekuensinya. Plasma beku segar (fresh frozen plasma. Profilaksis dan pengobatan infeksi. dan untuk pengambilan darah bagi pemeriksaan laboratorium. khususnya jika netropenia terjadi berkepanjangan. Hickman) biasa dilakukan melalui saluran kulit dari dada ke vena kava superior untuk memudahkan akses untuk memberikan kemoterapi. Alopurinol dan cairan intravena. granisetron. 2. untuk mencegah terjadinya sindrom lisis tumor. Obat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati emesis yang diinduksi obat adalah metoklopramid. dan kuman anaerob). Terjadinya infeksi sangat berbahaya dalam pengobatan leukimia akut. netrofil sama sekli hilang dari darah selama 2 minggu atau lebih.

Teikoplaning seringkali ditambahkan setelah 24-48 jam jika demam tidak mereda dan obat tidak terdapat dalam regimen awal. Pada sedikitnya 50% episode demam. Biarkan harus diambil dari setiap fokus infeksi yang mungkin dan selain itu harus dilakukan biarkan darah dari kateter vena sentral dan darah tepi. Segera setelah agen infeksi dan sensitivitas antibiotiknya diketahui. urine. Biakan pemantauan regular diambil untuk mengetahui jumlah flora bakteri pasien dan sensitivitasnya. Antiseptik topikal seringkali digunakan untuk mandi dan kumur. serta daerah perineal dan perineal adalah fokus-fokus yang sangat mungkin. . Apabila tidak terdapat respons. dan swab mulut. jika gagal ginjal) atau asiklovir. dapat dilakukan perubahan yang sesuai dalam regimen terapi. flukonazol. Antibiotika oral seperti siporofloksasin dapat mengurangi terjadinya infeksi Gram negatif dan kotrimoksazol digunakan sebagai profilaksis infeksi Pneumocystis. Antibiotik yang lazim diberikan adalah golongan penisilin yang aktif terhadap Pseudomonas (tazocin). atau intrakonazol dapat diberikan sebagai profilaksis. Pengobatan Infeksi Demam merupakan petunjuk utama terdapatnya infeksi tetapi karena adanya netropenia. Pemeriksaan langsung pada bahan yang mungkin terinfeksi dapat membantu mengidentifikasi organisme yang mungkin. tempat kateter intervena. sefalosporin spektrum luas seperti saftazidim dengan teikoplanin untuk mengatasi Staphylococcus Epidermis yang merupakan sumber demam yang umum pada pasien dengan infus intravena. Pemeriksaan rontgen toraks merupakan pemeriksaan yang diindikasikan. Mulut dan tenggorok.terbalik (reserve-berrier) dengan filtrai udara untuk mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh spra melalui udara. monobaktam agen tunggal seperti meropenem. Terapi antibiotik harus segera diberikan setelah diambil darah dan dibiarkan lain. mungkin tidak terbentuk pus dan infeksi seringkali tidak terokalisir. Pengobatan menggunakan banyak regimen antibiotik yang berebeda. tidak ada organisme yang diisolasi. misalnya dengan amfoterisin (liposomal. misalnya spesies Aspergillus. Obat anti jamur seperti seperti amfoterisini. maka harus dipikirkan kemungkinan infeksi jamur atau virus dan diberikan terapi yang sesuai. Obat antimikroba oral seperti neomisin dan kolistin dapat dapat diberikan untuk emgnurangi flora usus dan flora komensal lain.

Protokol-protokol tersebut berbeda pada bayi. Terapi ini digunakan dalam berbagai fase pada perjalanan pengobatan yang biasanya mempunyai empat komponen. vinkristin.Terapi Spesifik Terapi spesifik ALL adalah dengan kemoterapi dan kadang-kadang radioterapi. prednisolon (Atau deksametason) Intensifikasi lanjut (seperti konsilidasi) Terapi rumatan Seperti diatas (2-3tahun) . vinkristin. asparaginase. siklofosfamid dalam satu sampai empat tahap Kemungkinan transplantasi sel induk Profilaksis kranial Misalnya radiasi kranial (1800-2400 rad) + metotreksat Intrafertikal atau metotraksat sistemik dosis tinggi + metotraksat (atau sitosin arabinosida) intratekal multipel atau metotreksat intratekal multipel Terapi rumatan Misalnya merkaptopurin. dewasa. ALL-B yang jarang diobati dengan protokol yang berbeda dengan jenis yang lebih umum. sitosin arabinosida. metotreksat. anak. Leukimia limfoblastik akut: Bagan alur yang menggambarkan regimen pengobatan yang lazim digunakan Induksi Misalnya vinkristin. prednisolon (atau deksametason) ± daunerobicin Konsolidasi Misalnya daunoribicin. dan pada kasus-kasus yang dianggap mempunyai prognosis yang berbeda pada kelompok-kelompok umur yang berbeda tersebut. etoposid. thioguanin atau merkaptopurin.

atau etoposid. mitoksantrom. sitosin arabinosida Kemungkinan transpaltasi sel induk. Terapi ini biasanya diberikan dalam empat atau lima blok masing-masing sekitar 1 muggu dan obat-obat yang paling umum digunakan antara lain sitosin arabinosida. . Penyakit ini dapat bermanifestasi sebagai perdarahan yang sangat berat atau keadaan ini dapat timbul dalam beberapa hari pertama pengobatan. sitosin arabinosida. alogenik atau autolog Konsolidasi lebih lanjut misalnya mitoksantron. 6-thioguanin. Terapi spesifik AML biasanya dengan penggunaan kemoterapi yang intensif. sitosin arabinosida dosis tinggi Penatalaksanaan bersifat suportif dan spesifik. 1. daunorubicin. sitosin arabinosida. Pengobatan suportif berdasarkan prinsip yang sama dengan AAL. Selain itu. thioguanin atau etoposid Konsolidasi Misalnya daunorubin. idarubicin. thioguanin atau etoposid Konsolidasi Misalnya m-AMSA.Leukimia mieloid akut : Bagan alur memperlihatkan regimen pengobatan yang tipikal Induksi Misalnya daunorubicin. terapi all-transretonic acid (ATRA diberikan bersama dengan kemotrapi 2. idarubicin. Masalah yang unik pada AML mencakup sindrom perdarahan yang dikaitkan dengan variasi AML M 3. Keadaan ini diobati seperti pada pengobatan DIC dengan pneggantian faktor pembekuan menjadi FFP dan tranfusi trombosit berulang. etopisd.

Related Interests