LAPORAN PRAKTIKUM EKSTRAKSI DAN ANALISA LEMAK / MINYAK

Pembimbing : Ibu Riniati Kelompok 3 Elmus Rahma (101431009) Elvia Heryanti (101431010) Endah Nurhasanah (101431011) Fajar Siddiq S (101431012)

Tanggal Percobaan : 20 Mei 2011 Tanggal Penyerahan : 25 Mei 2011

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Jurusan Teknik Kimia Program Studi Kimia Analis Tahun Ajaran 2010 / 2011

. 1989). Satu molekul gliserol dapat bersenyawa dengan 1-3 molekul asam lemak memebentuk: Monogliserida dengan 1 asam lemak. Secara umum. Mengisolasi lemak/minyak dari bahan alam dengan metode ekstrsaksi minyak menggunakan peralatan soklet. digliserida dengan 2 asam lemak.A. Satu sifat yang khas mencirikan golongan lipid (termasuk minyak dan lemak) adalah daya larutnya dalam pelarut organik (misalnya eter. Lemak merupakan suatu senyawa ester yang terbentuk dari gliserol asam lemak (asam karboksilat). Menghitung randemen minyak yang duperoleh (% b/b) 3. 2. tetapi larut dalam pelarut organik non-polar seperti suatu hidrokarbon atau dietileter. trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam-asam lemak yang membentuk satu molekul trigliserida dan tiga molekul air (Sudarmadji. Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipid. Lemak dan minyak atau secara kimiawi adalah trigliserida merupakan bagian terbesar dari kelompok lipid. TUJUAN 1. Secara lebih pasti tidak ada batasan yang jelas untuk membedakan minyak dan lemak ini (Sudarmadji. Sedangkan minyak adalah trigliserida yang dalam suhu ruang berbentuk cair. secara umum lemak (Fat) dan minyak (oil) merupakan golongan lipida yaitu senyawa organik yang terdapat dalam alam serta tak larut dalam air. Dalam proses pembentukannya. Oleh karena itu lebih banyak mempunyai nilai tenaga (Sudarmadji. trigliserida dengan 3 asam lemak. lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu ruang berada dalam keadaan padat. benzen. Menguji sifat lemak secara kimia dengan menentukan bilangan asam dan bilangan penyabunan. 1989). Lemak mengandung lebih banyak karbon dan lebih sedikit oksigen daripada karbohidrat. 1980). 1989). kloroform) atau sebaliknya ketidaklarutannya dalam pelarut air (Harper. B. minyak atau unsur yang menyerupai lemak yang didapat dalam pangan dan digunakan dalam tubuh. DASAR TEORI Dalam banyak literatur ilmiah dipakai istilah lipid yang berarti lemak.

Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut. Untuk mendapatkan minyak nabati dari bahagian tumbuhannya. Asam lemak merupakan struktur kerangka dasar untuk kebanyakan bahan lipid (Agoes. Lipid merupakan senyawa yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari gugus nonpolar. Minyak nabati umumnya larut dalam pelarut organik. tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup . Ekstraksi yang dilakukan menggunakan metoda sokletasi. seperti heksan dan benzen. 1988). Minyak nabati merupakan suatu senyawa trigliserida dengan rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan. dapat dilakukan dengan metoda sokletasi menggunakan pelarut yang sesuai.Bilangan asam menunjukkan banyaknya asam lemak bebas dalam minyak dan dinyatakan dengan mg basa per 1 gram minyak. Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. mereka mudah larut dalam pelarut nonpolar dan relatif tidak larut dalam air (Colby. Bilangan asam juga merupakan parameter penting dalam penentuan kualitas minyak. Bila penyaringan ini telah selesai. Sebagai akibat sifat-sifatnya. maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Bilangan ini menunjukkan banyaknya asam lemak bebas yang ada dalam minyak akibat terjadi reaksi hidrolisis pada minyak terutama pada saat pengolahan. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ). 2008). yakni sejenis ekstraksi dengan pelarut organik yang dilakukan secara berulang ulang dan menjaga jumlah pelarut relatif konstan dengan menggunakan alat soklet. Adapun prinsip sokletasi ini adalah penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit.

Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam secara berulang kali. karena: 1. petroleum eter. eter. Dengan cara pemanasan. kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan etil asetat untuk memisahkan senyawa – senyawa yang lebih polar. Pelarut tidak mengalami perubahan yang spesifik. 4. Walaupun demikian. Dibanding dengan cara terdahulu ( destilasi ). sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan membasahi sampel. cara ini seringkali tidak menghasilkan pemisahan yang sempurna dari senyawa – senyawa yang diekstraksi. C. Kertas saring . Dimulai dengan pelarut heksana.kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini. Alumunium foil 2. maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan. Corong tangkai pendek 6. Waktu yang digunakan lebih efisien. Dongkrak 7. ALAT DAN BAHAN  ALAT : 1. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat padat. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut – pelarut organik dengan kepolaran yang semakin menigkat. secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Batang pengaduk 3. 3. Benang kasur 4. 2. Pelarut lebih sedikit dibandingkan dengan metoda maserasi atau perkolasi. Gelas kimia 8. maka metoda sokletasi ini lebih efisien. Buret 50 mL 5. atau kloroform untuk memisahkan senyawa – senyawa trepenoid dan lipid – lipid.

Seperangkat peralatan ekstraksi soxhlet 17. CARA KERJA 1. Kondensor leibig ( Pendingin Leibig) 10. Kalium hidroksida 0. Rotavapor 20. Natrium hidroksida 0. Tabung reaksi 18. Pipet tetes 16. . Minyak goreng 9.1 N 4.5 N 8. Asam klorida 0. Labu erlenmeyer tutup gelas asah 12. Eksikator  BAHAN : 1.  Timbang labu dasar bulat yang akan digunakan dengan neraca analitik (A gram)  Masukkan pelarut yang tersedia ke dalam labu tersebut dengan volume 3-4 kali volume tabung soxhlet. Oven 14. Aquadest 3. Lumpang dan alu 13. Alkohol 95 % 2.9. Timbangan analitik 19. Etil asetat 5. Penangas air 15. EKSTRAKSI  Bahan baku (dalam keadaan kering) digerus terlebih dahulu lalu ditimbang sebanyak 5 gram dan dimasukkan ke dalam slongsong atau dibungkus dengan kertas saring dan diikat dengan benang. Kacang 7. Indikator Phenolptalein 6.1 N D. Labu dasar bulat 11.

5239 gram = 166. tambahkan 3 tetes indikator phenolptalein dan larutan dititrasi dengan larutan HCl 0.5 gram contoh lemak atau minyak dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 100 mL.  Penentuan bilangan penyabunan Sebanyak 2.77 gram = 172. tambahkan ke dalamnya 15 ml etanol 95 %san 3 tetes indikator phenolptalein 1 %. Rangkai labu dengan tabung soxhlet dan kondensor seperti pada gambar. E.5 N sampai terjadi perubahan warna. kemudian cek aliran airnya.  Pamanasan dilakukan terus menerus sampai terjadi sirkulasi campuran minyak dan pelarut di dalam soxhlet extractor (sampai larutan yang keluar dari tabung soxhlet bening. Ulangi penentuan ini sebanyak 2 kali. Setelah itu erlenmeyer diangkat. 2. Kerjakan juga penetapan blanko.0 gram contoh lemak atau minyak dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml. ANALISA LEMAK  Penentuan bilangan asam Sebanyak 2.  Panaskan penangas pada suhu yang sesuai dengan titik didih pelarut. DATA PENGAMATAN 1. Percobaan dilakukan dua kali.1 N sampai timbul warna merah muda yang tetap. atau sirkulasi telah berjalan selama 12-15 kali / min 2 jam)  Ekstrak kemudian didestilasi untuk memisahkan pelarut dari minyak atau dapat dipisahkan menggunakan rotavapor.  Minyak yang ada di dalam labu dasar bulat yang masih mengandung sedikit air/pelarut dikeringkan di dalam oven pada suhu 120o C selama 2 jam lalu dikeringkan di dalam eksikator dan ditimbang kembali (B gram). Lalu titrasi dengan larutan Natrium hidroksida 0.5 N dalam alkohol.91 gram . Selanjutnya erlenmeyer tersebut dihubungkan dengan pendingin tegak dan direfluks selama 1 jam. EKSTRAKSI    Berat sampel Berat labu kosong + batu didih Berat labu + minyak = 19. tambahkan 25 ml larutan KOH 0.

2397  Penentuan bilangan penyabunan Bilangan penyabunan = (blanko-titrant) x N HCl x 56. Uji bilangan asam b. Berat minyak = (berat labu+ minyak) – berat labu kosong = 172.166.5030 = 0.15 2.4-7.1 x 0.9) x 0.1 2.14 gram  Randemen yang diperoleh = = = 31. REAKSI KIMIA a.77 = 6.1 x 56. Uji penyabunan .4010 F.91 .0022 = 1.1 Gram contoh = (8.45 % 2. ANALISA LEMAK  Penentuan bilangan asam Bilangan asam = 40 x Normalitas NaOH x ml NaOH Gram contoh = 40 x 0.

dilakukan distilasi atau pemisahan pelarut dengan minyak hasil ekstraksi. Pelarut etil asetat dan minyak dapat dipisahkan karena prinsip utama alat ini terletak pada penurunan tekanan. . Lalu biarkan hingga pelarutnya yaitu etil asetat menguap dan mengembun dengan membawa ekstraksi minyak dari bahan yang diekstrak yaitu kacang ke dalam labu dasar bulat . Dengan bantuan pompa vakum. hal ini dilakukan agar memastikan bahwa kandungan minyak yang berada di dalam sampel kacang telah terekstrak seluruhnya. sehingga etil asetat dapat menguap dibawah titik didihnya dan hal ini membuat zat yang terkandung di dalam pelarut tidak rusak oleh suhu yang tinggi. sebelum melakukan proses ekstraksi yang pertama dilakukan adalah menggerus secara halussampel kacang.PEMBAHASAN Penetapan minyak atau lemak dapat dilakukan dengan mengekstraksi bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak. Penguapan yang terjadi saat proses destilasi dapat terjadi karena adanya pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat dibantu dengan penurunan tekanan. uap larutan akan naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung. Rotavapor atau rotary evaporator adalah suatu alat yang menggunakan prinsip vakum destilasi. Proses ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat yang mempunyai titik didih kurang dari titik didih air. maka penangas yang digunakan adalah penangas air karena suhu yang dibutuhkan dalam proses ekstraksi di bawah titik didih air. yaitu etil asetat. Proses penguapan dilakukan hingga diperoleh ekstrak kental yang ditandai dengan terbentuknya gelembung-gelembung udara yang pecah-pecah pada permukaan ekstrak atau jika sudah tidak ada lagi pelarut yang menetes pada labu alas bulat penampung. seharusnya proses ekstraksi dilakukan hingga 15 siklus. Seteleah sirkulasi proses ekstraksi selesai. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kadar minyak dalam sampel rendah karena minyak dalam sampel belum terekstrak dengan sempurna. Hal ini juga berhubungan dengan ukuran partikel yang semakin kecil sehingga memperluas bidang sentuh supaya lebih mudah terekstrak. Proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut etil asetat. Namun karena keterbatasan waktu praktikum maka proses ekstraksi hanya dilakukan hingga siklus ke tujuh. Hal ini dilakukan untuk mempermudah minyak yang ada di dalam kacang tersebut terekstrak oleh pelarut yang digunakan. Setelah contoh uji bebas air dan dihancurkan dengan cara digiling. Proses destilasi dilakukan dengan menggunakan alat rotavapor.

kami mengalami kesulitan. Prakikum Angka Penyabunan Prinsip kerja angka penyabunan adalah sejumlah tertentu sampel minyak/ lemak direaksikan dengan basa alkali berlebih yang telah diketahui konsentrasinya menghasilkan griserol dan sabun. asam lemak dan asam lemak bebas dari minyak (sampel) dengan menggunkan NaOH dalam Alkohol dapat membentuk sabun. Pada saat melakukan percobaan untuk menguji angka penyabunan sampel minyak direaksikandengan NaOH dalam alkohol berlebih. Pada saat melakukan percobaan untuk menentukan angka penyabunan. Reaksinya: Reaksi dengan Asam lemak O CH2 – O – C– R1 O CH2 – O – C– R2 O CH2 – O – C– R3 Minyak CH2 – OH O + NaOH berlebih CH2 – OH + 3R-C-ONa Sabun CH2 – OH Gliserol . Suhu yang digunakan harus sesuai dengan pelarut yang digunakan. Dan hal penting yang harus diperhatikan adalah suhu yang digunakan dalam waterbath. namun karena keterbatasan alat sehingga digantikan fungsinya dengan menggunakan NaOH. seharusnya ditambahkan KOH. Jika labu alas bulat sulit untuk dilepaskan maka kemungkinannmasih tersisa tekanan pada kondensor dan sebaiknya kran pengatur dibuka dengan cepat. Sisa dari NaOH dititrasi dengan menggunakan HCl yang telah diketahui konsentrasinya juga sehingga dapat diketahui berapa banyak NaOH yang bereaksi yang setara dengan asam lemak dan asam lemak bebas dalam sampel.Ketika proses destilasi sudah selesai dan saat ingin melepaskan labu alas bulat.

Sehingga dalam perhitungan tidak terjadi kesalahan yang disebabkan oleh preaksi. maka preaksi yang digunakan digantikan fungsinya dengan NaOH. sehingga alkohol (etanol) yang digunakan konsentrasinya berada di kisaran 95-96%. Pada saat percobaan angaka penyabunan juga digunakan titrasi blanko ( titrasi tanpa menggunakan sampel) yang berfungsi untuk mengetahui jumlah titer yang bereaksi dengan preaksi. Angka Asam Prinsip pada saat melakukan percobaan angka asam adalah sejumlah tertentu sampel yang mengandung lemak atau minyak dilarutkan dalam alkohol kemudian direfulks selama 1 jam. Reaksi yang terjadi pada saat percobaan O R4 – C – OH + NaOH O R4-C-ONa + H2O Asam lemak bebas yang terdapat dalam lemak atau minyak dapat dinetralkan dengan menggunakan basa. sehingga pada saat titrasi diharapkan alkohol (etanol) larut seutuhnya. Fungsi penambahan alkohol adalah untuk melarutkan lemak atau minyak dalam sampel agara dapat bereaksi dengan basa alkali. Fungsi pemanasan (refluks) saat percobaan adalah agar reaksi antara alkohol dan minyak tersebut bereaksi dengan cepat.Reaksi dengan asam lemak bebas O R4 – C – OH + NaOH NaOH Sisa + HCl O R4-C-ONa + H2O NaCl + H2O Angka penyabunan tersebut adalah banyaknya mg NaOH yang diperlukan untuk menyabunkan secara sempurnya 1g Lemak atau minyak. . Sama seperti percobaan angka penyabunan seharusnya basa alkali yang digunakan adalah KOH. sampel yang telah larut tersebut dititrasi dengan menggunakan basa alkali yang konsentrasinya telah diketahui untuk dihitung angka asamnya. namun karena keterbatasan zat. Sehingga angka asam adalah mg basa alkali yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 g lemak atau minyak. Karena alkohol yang digunakan adalah untuk melarutkan minyak. karena etanol 95 % merupakan pelarut lemak yang baik.

2397 DAFTAR PUSTAKA Jobsheet Petunjuk Praktikum Kimia Organik : Ekstraksi dan Identifikasi Lemak/ Minyak http://www. Angka Asam adalah banyaknya mg NaOH yang dipelukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 g lemak atau minyak.45 % 2.ac. Angka penyabunan dari sampel adalah:1.usu.pdf (diakses tanggal 25 Mei 2011 pada 22.id/bitstream/123456789/17775/4/Chapter%20II.4010 3.10 WIB) .chem-is-try/kimia organik/ekstraksi minyak/file://E:/kimor/Ekstraki Minyak.14 gram 31.KESIMPULAN 1. Angka asam yang didapat dari sampel adalah: 0.htm ( diunduh 19 Mei 2011) http://repository. Pada ekstraksi minyak dalam kacang tanah didapatkan :   Berat minyak yang diperoleh Rendemen yang diperoleh 6. Angka penyabunan adalah banyaknya mg NaOH yang digunakan untuk menyabunkan secara sempurna 1 gram lemak atau minyak secara sempurna.