You are on page 1of 0

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
1. Definisi dan Tujuan
Manajemen Terpadu Balita Sakit adalah suatu manajemen untuk balita sakit yang
datang di pelayanan kesehatan, dilaksanakan secara terpadu, baik mengenai beberapa
klasifikasi penyakit, satus gizi, status imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebut
dan konseling yang diberikan.
MTBS merupakan manajemen anak sakit untuk 2 kelompok usia yaitu kelompok
usia 7 hari sampai 2 bulan dan kelompok usia 2 bulan sampai 5 tahun. Protokol MTBS
dikemas dalam satu buku bagan. Bagan tersebut dimaksudkan untuk mempermudah
petugas kesehatan mengikuti setiap langkah untuk memeriksa balita sakit . Petugas
kesehatan akanmudah mengikuti langkah-langkah yang ada dalam bagan tersebut. Setiap
langkah dengan maksud tertentu tertulis dalam bagan tersebut dengan bentuk tanda
khusus dalam kotak, baris dengan warna dasar tertentu dan tulisan dengan huruf cetak
biasa dan cetak teb.
2. Materi MTBS
Materi MTBS terdiri dari langkah penilaian, klasifikasi penyakit, identifikasi
tindakan, pengobatan, konseling perawatan di rumah,Kapan kembali. Bagan penilaian
anak sakit terdiri dari petunjuk langkah untuk mencari riwayat penyakit dan pemeriksaan
fisik. Klasifikasi dalam MTBS merupakan suatu keputusan penilaian untuk penggolongan
derajat keparahan penyakit. Klasifikasi bukan merupakan diagnosis penyakit yang
spesifik. Setiap klasifikasi penyakit mempunyai nilai suatu tindakan sesuai untuk
klasifikasi tersebut .
Tiap klasifikasi mempunyai warna dasar, yaitu merah atau kuning atau hijau
sesuai dengan urutan keparahan penyakit. Tiap klasifikasi menentukan karakteristik
pengelolaan balita sakit. Bagan pengobatan terdiri dari petunjuk cara komunikasi yang
baik dan efektif dengan ibu untuk memberikan obat dan dosis pemberian obat, baik yang
harus diberikan di klinik maupun obat yang harus diteruskan dirumah. Alur konseling
merupakan nasihat perawatan termasuk pemberian makan dan cairan di rumah dan
nasihat kapan harus kembali segera maupun kembali untuk tindak lanjut .
WHO telah mengeluarkan suatu pegangan bagan MTBS generik. MTBS generik
ini dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh sebagian besar negara berkembang
dengan kematian bayi lebih dari 40 menganjurkan kepada setiap negara yang akan
menerapkan MTBS untuk melakukan adaptasi sesuai dengan kondisi negara setempat.
Untuk itu, WHO telah mengeluarkan pedoman guna palaksanaan proses adaptasi
tersebut. Adaptasi MTBS tersebut diharapkan meliputi beberapa tujuan, yaitu:
a. Kasus yang dimasukkan pada bagan MTBS sebaiknya merupakan penyebab kematian
dan kesakitan yang tinggi; tetapi bukan berarti semua kondisi pediatrik yang menjadi
penyebab dibawanya anak tersebut ke klinik. Hal ini tidak mungkin untuk dicakup
semuanya, mengingat semakin banyaknya materi MTBS maka waktu kursus juga
akan semakin panjang dan beban petugas kesehatan juga akan banyak. Beban yang
banyak akan menyebabkan pemahaman kurang dan semakin sulitnya nanti dalam
penerapan.
b. Adaptasi MTBS untuk penanganan kasus di rawat jalan dibuat supaya aman dan
efektif dan pembelajarannya efektif. Adaptasi MTBS harus mempertimbangkan
supaya jumlah anak yang dirujuk ke rumah sakit berkurang, mengingat tidak semua
daerah mudah melakukan rujukan terutama pada rujukan yang dilakukan di daerah-
daerah yang terpencil dan fasilitas rawat inap yang terbatas.
c. Adaptasi sebaiknya menyediakan pedoman dengan menggunakan sedikit mungkin
tanda dan gejala klinis untuk membuat klasifikasi dan penanganan yang tepat;
sebaiknya dihindari menggunakan kombinasi dari beberapa kondisi yang dapat
membingungkan petugas kesehatan . Tiga prinsip adaptasi tersebut harus selalu
dipertimbangkan pada setiap proses adaptasi yang akan dilakukan oleh setiap negara.
Petugas kesehatan seharusnya dapat menguasai seluruh materi MTBS tersebut.
Sesuai dengan anjuran WHO, materi MTBS harus disampaikan dalam 11 hari efektif . di
Indonesia mengingat terstrukturnya jaringan kesehatan yang mampu menjaring tingkat
keluarga termasuk keluarga rawan kesehatan, yaitu melalui pemanfaatan tenaga bidan di
desa dan perawat kesehatan masyarakat dalam pendekatan tersebut. MTBS juga dapat
memantapkan aspek reformasi yang lain yaitu memperbaiki kualitas pelayanan dan
meningkatkan hasil guna pendanaan.
Bila dilaksanakan dengan baik, pendekatan MTBS tergolong lengkap untuk
mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian bayi dan balita di
Indonesia. Dikatakan lengkap karena meliputi upaya preventif (pencegahan
penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif (berupa konseling) dan upaya kuratif
(pengobatan). Badan Kesehatan Dunia WHO telah mengakui bahwa pendekatan MTBS
sangat cocok diterapkan negara-negara berkembang dalam upaya menurunkan angka
kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan balita.
Kegiatan MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
a. Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit
(selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani
pasien asalkan sudah dilatih).
b. Memperbaiki sistem kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak program
kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS).
c. Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya
pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan masyarakat
dalam pelayanan kesehatan)
3. Penerapan MTBS
Disamping ketrampilan yang harus dijaga benar oleh petugas dan pola perawatan
di rumah yang benar oleh ibu balita bagi bayi dan balitanya, program MTBS ini juga
perlu persiapan untuk penerapannya di Puskesmas. Adapun penerapan kegiatan MTBS di
Puskesmas meliputi :
a. Diseminasi informasi mengenai MTBS kepada seluruh petugas puskesmas.
b. Persiapan penilaian dan penyiapan logistik, obat-obat dan alat yang diperlukan
dalam pemberian pelayanan.
c. Persiapan / pengadaan formulir.
d. Persiapan dan penilaian serta pengamatan terhadap alur pelayanan sejak penderita
datang, mendapatkan pelayanan hingga konseling serta melaksanakan pengaturan
dan penyesuaian dalam pemberian pelayanan.
e. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan dan penerapan pencatatan
dan pelaporan untuk pelayanan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Pondok
Bersalin Desa/ PKD.
f. Penerapan MTBS di puskesmas dilaksanakan secara bertahap disesuaikan dengan
keadaan rawat jalan di tiap puskesmas.
Pada beberapa Puskesmas diadakan pemisahan khusus untuk poli MTBS atau poli
anak. Khusus penerapan pada bayi muda, penatalaksanaan bayi muda lebih di titik
beratkan pada saat petugas kesehatan (pada umumnya bidan di desa) melakukan
kunjungan neonatal yaitu 2 kali selama periode neonatal. Kunjungan pertama
dilaksanakan pada 7 hari pertama dan kunjungan kedua pada hari 8 - 28 hari. Penerapan
MTBS pada semua unit pelayanan terdepan yang kontak dengan anak usia 0 - 5 tahun
dengan menggunakan MTBS dalam mengelola kesehatan anak , dapat secara preventif
mendeteksi adanya kesakitan yang diderita, yang mungkin diperlukan rujukan untuk
menyelamatkan jiwa. Juga upaya promotif untuk meningkatkan kesehatan melalui
pemberian konseling gizi pada ibunya. Hal ini secara ekonomi akan menghemat biaya
dibandingkan bila anak jatuh pada kondisi sakit yang berat.
Penerapan MTBS yang baik dapat membantu melaksanakan paling tidak 18 SPM
(Standar Pelayanan Minimal) Kabupaten Tahun 2010 yaitu :
a. KN2 90 % melalui penerapan MTBM
b. BBLR yang dilayani 100 % melalui penerapan MTBM
c. UCI 100 %
d. N/D 85 % dengan konseling gizi
e. BGM <15 % dengan mengatasi masalah pemberian makan
f. Bayi mendapat vitamin A
g. Balita mendapat vitamin A
h. PMT bagi BGM
i. Gizi buruk dilayani
j. Neonatal Risti ditangani
k. Pneumonia yang ditangani
l. Penderita DBD ditangani 100 %
m. CFR DBD < 1 %
n. Penderita diare ditangani 100 % 15. CFR diare < 1/10.000
o. ASI Eksklusif 80 %
p. Keluarga sadar gizi 80 %
q. Malaria ditangani 100 %
Hal ini karena MTBS / IMCI ini bukan merupakan program yang terpisah namun
merupakan program terintegrasi yang secara efektif berkolaborasi dengan program lain
seperti safe-motherhood, program P2 Diare, ISPA, pneumonia, Malaria, Program Gizi,
ASI eksklusif, Program Imunisasi, Promosi Kesehatan, Perencanaan obat, Survailans dan
manajemen serta sistim informasi kesehatan sebagaimana digambarkan pada gambar 2.8,
mengenai area overlapping dari MTBS dengan aktivitas program lain.
4. Identifikasi Tindakan MTBS
Identifikasi tindakan adalah Pengambilan suatu keputusan oleh perawat dalam
menangani diare.Identifikasi tindakan dalam MTBS terdapat tiga rencana terapi antara
lain.
Terapi A yaitu, terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi, anak
yang tanpa tanda gejala dehidrasi membutuhkan ekstra cairan dangaram untuk
menggantikan cairan air dan elektrolit yang hilang selama diare. Cairan yang biasa
diberikan dalam pengobatan ini adalah: Cairan rehidrasi oralgula-garam, sayuran dan sup
ayam yang mengandung garam. Cairan tersebutdiberikan kepada anak sebanyak dia mau
sampai diare berhenti. Anak <2 tahun: 50-100 ml, anak 2-10 tahun 100-200 ml, >10
tahun diberikan cairan sebanyak diamau minum.
Terapi B yaitu, terapi rehidrasi oral untuk anak dengan dehidrasi sedang adalah
dengan pemberian CRO. Jika CRO dikehendaki lebih maka dapat diberikan lebih dari
yang sudah ditentukan kecuali untuk ASI, makanan tidak diberikan selama 4 jam
pemberian rehidrasi awal, tetapi anak yang melanjutkan pengobatan B lebih lama dari 4
jam harus diberikan makanan setiap 3-4 jam seperti pada pengobatan A. Setelah 4 jam
kemudian ditetapkan pengobatan yang akan diberikan selanjutnya sesuai dengan tingkat
dehidrasi. Anak yang masih mengalami dehidrasi setelah 4 jam, harus diberikan RL
secara intrvena (75ml/kg selama 4 jam).
Terapi C yaitu, pengobatan untuk pasien dengan dehidrasi berat dengan
pemberian cairan rehidrasi intravena secara cepat. Diberikan RL 100ml/kg atau larutan
garam yang pertama diberikan 30ml/kg dalam 30 menit kemudian diberikan 70ml/kg
diberikan dalam 2,5 jam. Pasien dimonitor setiap 1-2 jam, jika dehidrasinya tidak
berkurang maka pemberian cairan intravena kecepatan tetesan dipercepat. Jika terapi
intravena tidak tersedia pasien diberikan CRO 20ml/kg/jam selama 6 jam (total
120mg/kg). Jika pasien mengalami bengkak atau muntah, maka CRO diberikan secara
perlahan (Buku Panduan MTBS Rumah Sakit Jati Padang)
5. Konseling Dalam MTBS
Konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor
kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar
ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang
dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya
(Yusuf&Juntika,2005:9).
Pengertian konseling tidak dapat dipisahkan dengan bimbingan karena keduanya
merupakan sebuah keterkaitan. Muhamad Surya (1988:25) mengungkapkan bahwa
konseling merupakan bagian inti dari kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih
berkenaan dengan masalah individu secara Pribadi.Konseling dalam Alur MTBS.
Pemberian konseling menjadi unggulan dan sekaligus pembeda dari alur pelayanan
sebelum MTBS. Materi meliputi kepatuhan minum obat, cara minum obat, menasehati
cara pemberian makanan sesuai umur, memberi nasehat kapan melakukan kunjungan
ulang atau kapan harus kembali segera.Dengan pemberian konseling diharapkan
pengantar atau ibu pasien mengerti penyakit yang diderita, cara penanganan anak di
rumah, Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan memperhatikan
perkembangan penyakit anaknya sehingga mampu mengenali kapan harus segera
membawa anaknya ke petugas kesehatan serta diharapkan memperhatikan tumbuh
kembang anak dengan cara memberikan makanan sesuai umurnya. Semua pesan tersebut
tercermin dalam Kartu Nasihat Ibu (KNI) yang biasanya diberikan setelah ibu atau
pengantar balita sakit mendapatkan konseling. Ini untuk menjadi pengingat pesan-pesan
yang disampaikan serta menjadi pengingat cara perawatan di rumah
6. Proses Manajemen Kasus
Tujuan pelayanan kesehatan anak adalah untuk memfasilitasi kesehatan yang
optimal dan kesejahteraan bagi anak dan keluarganya. Hal ini berhubungan dengan
aktifitas yang saling berkaitan antara masalah survailans dan manajemen, masalah
pencegahan/preventif , promosi kesehatan dan koordinasi pelayanan pada anak dengan
kebutuhan khusus. Perhatian tradisional yang berfokus pada diagnosis dan manajemen
saat ini telah berkembang dengan skreening penyakit dan mendeteksi tanda tanda dini
yang asimtomatik di populasi. Para petugas kesehatan telah mengakui manfaat dari
program upaya preventif/ pencegahan. Contohnya adalah program imunisasi massal
yang dilanjutkan dengan program imunisasi pada kegiatan rutin , juga program deteksi
dini dan pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan dasar. Penekanan yang
terbaru adalah berkaitan dengan konsep promosi kesehatan yang mengutamakan
kesehatan yang optimal dan kesejahteraan anak daripada hanya penanganan saat ada
masalah. Ilmu kedokteran modern yang semakin pesat telah meningkatkan pada populasi
munculnya penyakit -penyakit kronis,disabilitas, dan anak anak dengan kebutuhan
khusus. Para petugas di pelayanan primer berada pada posisi yang unik yang dihadapkan
pada kompleksnya perawatan anak dan perlunya fasilitasi komunikasi secara individual
yang melibatkan kasus mereka.Melayani anak bagi para petugas adalah merupakan
anugerah sekaligus tantangan yang unik karena dihadapkan keterkaitan antara pengaruh
lingkungan dan faktor intrinsik pada diri anak untuk ditelaah faktanya dari aspek
kesehatan dan tumbuh-kembangannya. Salah satu metode yang dikembangkan untuk
perawatan anak yaitu Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) atau di
Indonesia dikenal dengan MTBS, adalah program intervensi dalam penanganan anak
terutama balita yang menggunakan suatu algoritme, sehingga dapat mengklasifikasikan
penyakit yang dialami oleh balita, melakukan rujukan secara cepat apabila diperlukan,
melakukan penilaian status gizi dan memberikan imunisasi kepada balita yang
membutuhkan . Selain itu ibu balita juga diberi konseling tatacara memberi obat di
rumah, pemberian nasihat mengenai makanan yang seharusnya diberikan dan
memberitahu kapan harus kembali (kunjungan ulang) atau segera kembali untuk
mendapatkan pelayanan tindak lanjut. Strategi intervensi MTBS ini didalamnya termasuk
konseling bagi ibu untuk memberitahu : kapan ibu harus kembali untuk kunjungan ulang
sesuai dengan klasifikasi. Balita di bawa kembali untuk kunjungan ulang merupakan
bentuk perawatan balita yang baik di rumah oleh keluarga dan menunjukkan keberhasilan
konseling yang dilakukan kepada ibu tentang bagaimana seharusnya perawatan balita di
lakukan. Hal ini karena anak sakit perlu datang lagi ke petugas kesehatan untuk
pelayanan tindak lanjut Pada waktu kunjungan ulang, Petugas kesehatan dapat menilai
apakah anak membaik setelah diberi obat atau diperlukan diberi tindakan lainnya.
Sebagai contoh, beberapa anak mungkin tidak bereaksi atas pemberian antibiotika
tertentu atau obat malaria, sehingga diperlukan obat pilihan kedua. Anak dengan diare
persisten membutuhkan tindak lanjut untuk memastikan bahwa diare telah berhenti sama
sekali. Anak dengan demam atau infeksi mata perlu dilihat jika keadaannya tidak
membaik. Anak dengan masalah pemberian ASI dan makanan memerlukan tindak lanjut
untuk memastikan bahwa mereka telah mendapat cukup ASI/ makanan sehingga berat
badannya bertambah. Kedatangan anak untuk kunjungan kembali / ulang menunjukkan
bahwa konseling yang diberikan dipahami ibu dan ini akan menentukan keberhasilan
perawatan anak balita dirumah oleh keluarga dalam pelaksanaan perawatan anak yang
baik di rumah. Untuk menjaga kualitas pelayanan dan meningkatkan ketrampilan,
petugas kesehatan dilatih standarisasi MTBS dengan mempelajari materi dasar dan materi
inti yang memberikan pengetahuan dan ketrampilan klinis dalam Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS) yang terdiri dari : penilaian dan klasifikasi anak sakit umur 2 bulan
sampai 5 tahun, menentukan tindakan, pengobatan, konseling bagi Ibu, tindaklanjut serta
tatalaksana bayi muda umur 1 hari sampai 2 bulan (Manajemen Terpadu Bayi Muda/
MTBM).Selanjutnya untuk menjaga tetap terpeliharanya ketrampilan petugas akan
manajemen pengelolaan paripurna pada balita, pelaksanaan di lapangan di terapkan pada
formulir MTBS/MTBM yang berupa ceklist pengamatan untuk membimbing petugas
dalam melakukan pelayanan kepada bayi dan balita.Pelatihan standarisasi MTBS tersebut
diatas dilaksanakan selama 6 hari efektif dengan sesi malam (minimal 60 jam pelajaran) ,
sebagaimana ketentuan dalam Keputusan Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Nomor :
KU.03.02/ BI.3/486/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana APBN Yang
dilaksanakan di Propinsi, Kabupaten / Kota Tahun 2007 Program Upaya Kesehatan
Masyarakat dan Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Kompetensi yang diharapkan dari
pelatihan MTBS adalah petugas kesehatan bisa melaksanakan proses manajemen kasus
penanganan balita sakit dan bayi muda di fasilitas pelayanan kesehatan dasar seperti
puskesmas, puskesmas pembantu, pondok bersalin , klinik, balai pengobatan maupun
melalui kunjungan rumah. Dengan berpedoman pada buku bagan, petugas menangani
balita sakit dan bayi muda diantaranya dengan melakukan :
a. Menilai tanda tanda dan gejala penyakit, status imunisasi, status gizi dan pemberian
vitamin A
b. Membuat klasifikasi
c. Menentukan tindakan sesuai dengan klasifikasi anak dan memutuskan apakah
seorang anak perlu dirujuk
d. Memberi pengobatan pra rujukan yang penting, seperti dosis pertama antibiotik,
vitamin A, suntikan kinin dan perawatan anak untuk mencegah turunnya gula darah
serta merujuk anak.
e. Melakukan tindakan di fasilitas kesehatan (kuratif dan preventif) seperti pemberian
oralit, vitamin A dan imunisasi. f. Mengajari ibu cara memberi obat di rumah
(seperti antibiotik oral atau obat anti malaria) dan asuhan dasar bayi muda
f. Memberi konseling kepada ibu mengenai pemberian makan pada anak termasuk
pemberian ASI dan kapan harus kembali ke fasilitas kesehatan.
g. Melakukan penilaian ulang dan memberi perawatan yang tepat pada saat anak datang
kembali untuk pelayanan tindak lanjut
Dalam melakukan proses manajemen kasus ini,terdapat dua kelompok umur yaitu
apabila anak umur 2 bulan sampai 5 tahun menggunakan bagan penilaian dan klasifikasi
anak sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun Sampai 5 tahun berarti anak belum mencapai
ulang tahunnya yang kelima. Kelompok ini termasuk balita umur 4 tahun 11 bulan, akan
tetapi tidak termasuk anak yang sudah berumur 5 tahun. Seorang anak yang berumur 3
bulan akan masuk dalam kelompok umur 2 bulan sampai 5 tahun, dan bukan dalam
kelompok 1 hari sampai 2 bulan (Proses manajemen kasus dengan formulir MTBS).
Apabila anak belum genap berumur 2 bulan, maka ia tergolong bayi muda. Bagan yang
digunakan adalah Penilaian , klasifikasi dan pengobatan bayi muda umur 1 hari sampai
2 bulan Khusus mengenai bayi muda , bagan berlaku untuk bayi muda sakit maupun
sehat (Proses manajemen kasus menggunakan formulir MTBM). Dengan menggunakan
buku bagan penilaian & klasifikasi anak umur 2 bulan sampai 5 tahun , petugas
mempraktikkan ketrampilan sebagai berikut :
a. Menanyakan kepada ibu mengenai masalah yang dihadapi
b. Memeriksa tanda bahaya umum
c. Menanyakan kepada ibu mengenai empat keluhan utama :
1) Batuk atau sukar bernafas
2) Diare
3) Demam
4) Masalah telinga
Apabila ada keluhan utama tersebut diatas maka dilanjutkan dengan :
1) Melakukan penilaian lebih lanjut gejala lain yang berhubungan dengan gejala
utama
2) Membuat klasifikasi penyakit anak berdasarkan gejala yang ditemukan.
3) Memeriksa dan mengklasifikasikan status gizi anak dan anemia.
4) Memeriksa status imunisasi dan pemberian vitamin A pada anak dan
menentukan apakah anak membutuhkan imunisasi dan / atau vitamin A pada saat
kunjungan tersebut.
5) Menilai masalah / keluhan lain yang dihadapi anak
6) Ketrampilan selanjutnya adalah menentukan tindakan dan memberi pengobatan
yang dibutuhkan. Pengobatan pada anak sakit dapat dimulai di klinik dan
diteruskan dengan pengobatan lanjutan di rumah. Pada beberapa keadaan , anak
yang sakit berat perlu di rujuk ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut. Dalam
hal ini perlu dilakukan tindakan pra rujukan sebelum anak di rujuk.
Pada bagian ini petugas mempunyai ketrampilan untuk :
a. Menentukan perlunya dilakukan rujukan segera
b. Menentukan tindakan dan pengobatan pra rujukan
c. Merujuk anak, menjelaskan perlunya rujukan, menulis surat rujukan
d. Menentukan tindakan dan pengobatan untuk anak yang tidak
e. memerlukan rujukan segera
f. Memilih obat yang sesuai dan menentukan dosis dan jadwal pemberian
g. Memberi cairan tambahan untuk diare dan melanjutkan pemberian makan.
h. Memberi imunisasi setiap anak sakit sesuai kebutuhan.
i. Memberi suplemen vitamin A
j. Menentukan waktu untuk kunjungan ulang.
Petugas kesehatan dilatih menyediakan waktu untuk menasehati ibu dengan
cermat dan menyeluruh. Pada bagian ini adalah penting bagi petugas untuk memahami
bahwa praktik menasehati/ konseling bagi ibu adalah diharapkan ibu mampu menerapkan
perawatan dirumah dengan baik. Pola perawatan di rumah yang benar merupakan
indikator keberhasilan petugas dalam memberikan pemahaman / konseling mengenai
masalah kesehatan anak ibu. Sebagai alat komunikasi penggunaan kartu nasehat ibu
(KNI) / Buku KIA, akan membantu petugas untuk mempraktikkan konseling pada ibu.
Petugas akan mempraktikkan tugas konseling ini antara lain :
a. Menggunakan keterampilan komunikasi yang baik
1) Mengajari ibu cara memberikan obat oral dirumah
2) Mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah
3) Mengajari ibu cara pemberian cairan di rumah
4) Melakukan penilaian pemberian ASI dan makanan anak
5) Menentukan masalah pemberian ASI dan makanan anak
6) Konseling bagi ibu tentang masalah pemberian ASI dan makanan
b. Menasehati ibu tentang :
1) Kapan kembali untuk kunjungan ulang
2) Kapan kembali segera untuk perawatan lebih lanjut
3) Kapan kembali untuk imunisasi dan pemberian vitamin A
4) Kesehatannya sendiri
Menentukan prioritas nasehat. Pada tiap akhir kunjungan, petugas akan
menjelaskan kapan harus kunjungan ulang. Kadang seorang anak membutuhkan tindak
lanjut untuk lebih dari satu masalah. Pada kasus seperti ini, ibu diberitahu kapan waktu
terpendek dan pasti ibu harus kembali. Dan dijelaskan juga kemungkinan anak harus
kembali lebih awal jika masalah seperti demam menetap. Tabel 2.1 menunjukkan jadwal
kunjungan ulang untuk anak 2 bulan sampai 5 tahun. Keterangan waktu yang pasti dan
terpendek adalah nasehat yang diberitahukan kepada ibu balita setelah menyelesaikan
klasifikasi.
Tabel 2. 1.
Jadwal kunjungan ulang balita 2 bulan sampai 5 tahun
Anak dengan Kunjungan ulang
neumonia
Disentri
Malaria, jika tetap demam
Campak dengan komplikasi pada mata
atau mulut
Mungkin DBD, jika tetap demam
Demam: mungkin bukan DBD, jika
tetap demam
2 hari
Diare Persisten
Infeksi telinga akut
Infeksi telinga menahun
Masalah pemberian makan
Penyakit lain, jika tidak ada perbaikan
5 hari
Anemia 4 4 minggu (1 bulan)
Berat badan menurut umur sangat
rendah (BGM) 4
4 minggu (1 bulan)
Ada beberapa kunjungan ulang yang berbeda untuk masalah gizi yaitu :
a. Anak yang mempunyai masalah pemberian makan, dan ibu balita telah dianjurkan
untuk melakukan perubahan dalam hal pemberian makan, kunjungan ulang dalam
waktu 5 hari adalah untuk melihat apakah ibu telah melakukan perubahan itu.
b. Anak yang tampak pucat (anemia),kunjungan ulang dalam 4 minggu untuk memberi
tambahan zat besi (yang penting anak dengan anemia akan mendapat zat besi dengan
total pemberian untuk 1 bulan dan mendapat tindak lanjut setelah 1 bulan tersebut )
c. Anak yang menderita BGM, kunjungan ulang dalam waktu 4 minggu / 1 bulan untuk
menimbang anak, menilai ulang pemberian makan dan memberi nasehat lebih lanjut
sesuai kartu Nasehat Ibu/ KIA.
Jadwal kunjungan ulang ini terdapat dalam kartu nasehat ibu , bersama nasehat
kapan harus kembali segera (tabel 2.2). Bagian terpenting dari kapan harus kembali ini,
petugas dilatih untuk selalu mengecek pemahaman ibu sebelum ibu meninggalkan klinik.
Dalam memberikan nasehat itu petugas dapat menggunakan istilah istilah lokal yang
mudah dimengerti ibu . Kartu nasehat ibu menampilkan tanda tanda tersebut dalam
bentuk kalimat maupun dalam gambar. Petugas akan melingkari tanda-tanda yang harus
diingat ibu. Petugas harus selalu menyadari bahwa kata kata dan nasehat tersebut
dimengerti oleh ibu. Jika ibu tidak mengerti, mungkin ibu tidak akan kembali. Jika ibu
tidak kembali pada saat anak menderita pneumonia anak mungkin dapat meninggal.
Tabel 2.2.
Kapan harus segera kembali pada balita 2 bulan sampai 5 tahun
Kunjungan ulang Tanda-tanda
Setiap anak sakit 1. Tidak bisa minum atau menyusu
2. Bertambah parah
3. Timbul demam
Anak dengan batuk : bukan
Pneumonia, juga kembali jika :
1. Nafas cepat
2. Sukar bernafas
Jika anak Diare, juga kembali jika: 1. Berak bercampur darah
2. Malas minum
Jika anak, mungkin DBD atau
Demam :
Mungkin bukan DBD, juga
kembali jika :
1. Ada tanda tanda perdarahan
2. Ujung ekstremitas dingin
3. Nyeri ulu hati atau gelisah
4. Sering muntah
Dengan demikian, Konseling yang baik diharapkan akan memberikan
pemahaman kepada ibu balita akan perawatan balita yang benar dirumah, yang pada
akhirnya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu akan perawatan yang benar
bagi balitanya.
Tabel. 2.3.
Jadwal kunjungan ulang bayi 1 hari sampai dengan 2 bulan
Bayi dengan klasifikasi
Waktu kunjungan
ulang
nfeksi bakteri
Gangguan pemberian ASI
Luka atau bercak putih dimulut (thrust)
Hipotermia sedang
Diare dehidrasi ringan/ sedang
2 Hari
Ikterus fisiologis
Berat badan rendah
7 Hari
Petugas harus memastikan bahwa setiap ibu yang bayinya sakit perlu diberitahu
kapan harus membawa bayinya untuk kunjungan ulang (tabel 2.3) dan kapan harus segera
dibawa ke petugas kesehatan (tabel 2.4):
a. Segera membawa bayinya kepetugas kesehatan jika timbul tanda
b. Penyakitnya bertambah parah
c. Membawa bayinya untuk kunjungan ulang pada kurun waktu tertentu
d. Untuk mngecek kemajuan pengobatan dengan antibiotik atau untuk
e. Pemberian imunisasi berikutnya (kunjungan bayi sehat).
Tabel. 2.4.
Menasehati Ibu Kapan Harus Segera Dibawa Ke Petugas Kesehatan
Segera dibawa ke petugas kesehatan jika bayi menunjukkan
salah satu gejala berikut :
a) Gerakan bayi berkurang
b) Nafas cepat
c) Sesak nafas
d) Perubahan warna kulit ( kebiruan, kuning )
e) Malas / tidak bisa menetek atau minum
f) Badan teraba dingin atau panas
g) Beraknya campur darah ( ada darah dalam tinja )
h) Jika kulit kuning bertambah
i) Bertambah parah
Seperti halnya pada balita umur 2 bulan sampai 5 tahun, petugas kesehatan dilatih
untuk mempraktekkan ketrampilannya pada bayi 1 hari sampai 2 bulan sebagai berikut :
a. Menanyakan kepada ibu mengenai masalah yang dihadapi bayi muda
b. Memeriksa dan mengklasifikasi bayi muda untuk masalah :
1) Kejang
2) Gangguan nafas
3) Kemungkinan infeksi bakteri
4) Ikterus
5) Gangguan saluran cerna
6) Diare
7) Kemungkinan berat badan rendah
8) Masalah pemberian ASI
9) Menentukan status imunisasi pada bayi muda
10) Menilai masalah/ keluhan lain pada bayi muda maupun ibu
11) Menentukan tindakan (termasuk rujukan) dan memberi pengobatan pada bayi
muda
12) Memberikan konseling bagi ibu
13) Memberikan pelayanan tindak lanjut pada bayi muda.
Pada waktu kunjungan ulang , petugas kesehatan dapat menilai apakah anak
membaik setelah diberi obat atau diperlukan diberi tindakan lainnya. Sebagai contoh,
beberapa anak mungkin tidak bereaksi atas pemberian antibiotika tertentu atau obat
malaria, sehingga diperlukan obat pilihan kedua. Anak dengan diare persisten
membutuhkan tindak lanjut untuk memastikan bahwa diare telah berhenti sama sekali.
Anak dengan demam atau infeksi mata perlu dilihat jika keadaanya tidak membaik. Anak
dengan masalah pemberian ASI dan makanan memerlukan tindak lanjut untuk
memastikan bahwa mereka telah mendapat cukup ASI/ makanan sehingga berat
badannya bertambah. Tindak lanjut merupakan hal yang penting. Petugas dianjurkan
membuat alur pelayanan khusus untuk kunjungan ulang. Karena petugas telah dilatih
untuk menangani apabila bayi atau balita berkunjung ulang ,maka apabila bayi atau balita
berkunjung ulang akan dilakukan sebagai berikut, Petugas akan :
a. Menentukan apakah kunjungan anak adalah kunjungan ulang
b. Jika merupakan kunjungan ulang, menilai tanda tanda yang sesuai dengan petunjuk
dalam kotak tindak lanjut (dalam buku bagan) untuk klasifikasi anak sebelumnya.
c. Memilih tindakan dan pengobatan berdasarkan tanda-tanda yang ada pada anak saat
kunjungan ulang.
d. Jika anak mempunyai masalah baru, menilai dan mengklasifikasikan anak seperti
anak pada kunjungan pertama
e. Pada penanganan balita umur 2 bulan sampai 5 tahun , tindakan yang dilakukan
sesuai kotak tindak lanjut pada buku bagan dan ini hampir sama dengan pada bayi
muda. Beberapa klasifikasi untuk dilakukan tindak lanjut pada tabel 2.5 adalah
sebagai berikut :
Tabel 2.5.
Klasifikasi untuk dilakukan tindak lanjut
Anak umur 2 bulan sampai 5 tahun A Anak umur 1hari sampai 2 bulan
Kunjungan ulang pneumonia
Kunjungan ulang diare persisten
Kunjungan ulang desentri
Kunjungan ulang malaria
Kunjungan ulang demam mungkin bukan
malaria
Kunjungan ulang campak dengan
komplikasi mata atau mulut
Kunjungan ulang untuk mungkin demam
berdarah dengue dan demem: mungkin
Kunjungan ulang hipotermia
sedang
Kunjungan ulang infeksi bakteri
lokal
Kunjungan ulang ikterus fisiologik
Kunjungan ulang Diare dehidrasi
ringan/ sedang
Kunjungan ulang berat badan
rendah
bukan demam berdarah dengue
Kunjungan ulang infeksi telinga
Kunjungan ulang masalah pemberian
Makan
Kunjungan ulang anemia
Kunjungan ulang BGM (bawah garis
merah)
Kunjungan ulang maslah
pemberian ASI
Kunjungan ulang luka atau bercak
putih(trusth) di mulut
B. Konsep Diare
1. Pengertian Diare
Diare adalah infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh berbagai
enteropatogen, termasuk bakteria, virus, dan parasit (Larry K, 1999, hlm 889).
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekwensi defekasi yang abnormal (lebih
dari 3 kali / hari), serta perubahan dalam isi (lebih dari 200g/hari) dan konsistensi (feses
cair).(Brunner & Suddarth, 2001, hlm 1093).
Diare merupakan keadaan di mana seseorang menderita air berkali-kali, tinjanya
encer dan kadang-kadang muntah. Diare disebut juga muntaber (muntah berak), muntah
mencret atau muntah bocor. Kadang-kadang tinjanya juga mengandung darah atau lendir.
(http://dranak. blogspot.com).
Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan
konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak
lebih dari biasanya 3 kali atau lebih dalam 1 hari. (http://www.infeksi.com).
2. Etiologi
a. Enteropatogen bakteri
Enteropatogen bakteri dapat menyebabkan diare radang dan non radang., dan
enteropatogen spesifik dapat disertai dengan salah satu manifestasi klinis. Umumnya
diare radang akibat Aeromonas spp, Campylobacter jejuni, Clostridium difficile, E.
Coli enteroinvasif, E. Coli enterohemoragik, Plesiomonas shigelloides, Salmonella
spp, Shigella spp, Vibrio parahaemolyticus, dan Yersinia enterocolitica. Diare non
radang dapat disebabakan oleh E. coli enteropatogen, E coli enterotoksik, dan Vibrio
Cholerae. Infeksi Yarsinea dan Salmonella paling sering dijumpai pada anak berusia
1 bulan hingga 3 tahun. Sementara infeksi Shigella dan Campylobacter paling sering
dijumpai pada anak usia 1-5 tahun.
b. Enteropatogen parasit
Giardia lamblia adalah penyebab penyakit diare yang paling sering di
Amerika Serikat. Pathogen lain adalah Cryptosporidium, Entamoeba histolytica,
Strongyloides stercoralis, Isospora belli, dan Enterocytozoon bieneusi.
c. Enteropatogen virus
Empat penyebab gastroenteritis virus adalah rotavirus, adenovirus enteric,
astovirus dan kalsivirus. Rotavirus terutama dijumpai pada anak usia 4 bulan hingga 3
tahun.
d. Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotika. Bila diare terjadi saat anak sedang
dalam pengobatan antibiotika.
e. Alergi susu diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu
tersebut, biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu
sapi.
f. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia.
g. Immunodefisiensi.
h. Kekurangan gizi seperti kelaparan, kekurangan zat putih telur.
i. Sensitivitas terhadap protein susu dan kedelai
Sensitivitas terhadap protein susu dan kedelai merupakan alergi gastrointestinal
terhadap makanan yang menyebabkan cedera mukosa. Mekanisme sensitivitas ini masih
belum dimengerti. Banyak orang tua dan dokter salah menginterpretasikan derajat
iritabilitas normal dan gas sebagai intoleransi terhadap susu formula. Sebelum bayi
dinyatakan alergi dengan protein susu, sebaiknya terlebih dahulu diperoleh data yang
objektif. Gambaran klinis dapat bervariasi dari anak yang sehat dengan darah samar di
tinja hingga bayi yang tampak toksik dan disertai muntah, penurunan berat badan dan
darah yang terlihat di tinja. Data objektif yang memberi kesan diagnosis ini adalah samar
tinja yang positif., temuan eusinofil dan neutrofil (atau keduanya) pada pewarnaan
Wright tinja, dan eosinofilia perifer. Hasil kultur tinja seharusnya negatif. 20-30 % pasien
yang alergi terhadap protein susu sapi juga akan sensitif terhadap susu kedelai. Oleh
karena itu diindikasikan untuk mengganti dengan susu formula protein hidrolisat,
bergantung pada beratnya gejala. Pemberian kembali pada susu formula pada bayi yang
menyebabkan alergi 4-6 minggu kemudian akan memastikan diagnosis ini. Bayi yang
diberi ASI yang mengalami gejala ini dapat berespon terhadap penghentian semua
produk susu dari diet ibu. Sebagian besar pasien yang mengalami sensitivitas terhadap
protein susu atau kedelai akan dapat mentoleransi susu pada usia 2 tahun.
3. Patofisiologi
Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang
terkontaminasi tinja / muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat terjadi
bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan. Diare dapat ditularkan
melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare. Tinja tersebut dikeluarkan oleh
orang sakit atau pembawa kuman yang berak di sembarang tempat. Tinja tadi mencemari
lingkungan misalnya tanah, sungai, air sumur. Orang sehat yang menggunakan air sumur
atau air sungai yang sudah tercemari dan kemudian menderita diare. Penularan dapat
terjadi melalui : makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah
dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor, bermain dengan mainan
yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun
kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa
hari. Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan
benar. Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih. Tidak mencuci tangan
dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang
terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.
4. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang ditimbulkan dari penyakit diare disesuaikan dengan
penyebabnya. Berikut merupakan tanda dan gejala terjadi :
Tabel 2.1
Penyebab Diare
Penyebab Karakteristik
Agen viral
Rotavirus (periode inkubasi 1-3
hari)
Organisme Norwalklike (periode
inkubasi 1-3 hari)
Awitan tiba-tiba, demam 38
o
C atau
lebih,mual / muntah, nyeri abomen,
berhubungan dengan infeksi saluran
nafas atas, diare dapat menetap selama
lebih dari 1 minggu.
Demam, kehilangan nafsu,
mual/muntah, nyeri abdomen, diare,
malaise.
Agen bacterial
Eschericia coli patogenik (periode
inkubasi sangat bervariasi,
bergantung pada strain)
Kelompok Salmonella (nontifoid)
garam negatif tanpa kapsul, tanpa
spora (periode inkubasi 6-72 jam
Awal bertahap atau tiba-tiba,
manifestasi klinis bervariasi,
kebanyakan - diare hijau, cair dengan
darah dan mukus, menjadi eksplosif,
muntah dapat terjadi pada awitan,
distensi abdomen, diare, demam,
tampak toksik.
Awitan cepat, gejala bervariasi (ringan
sampai berat), mual, muntah dan nyeri
abdomen kolik diikuti diare, kadang-
untuk gastroenteritis biasanya
kurang dari 24; 3-60 hari untuk
demam enteric biasanya 7-14)
S. typhi
Kelompol Shigella gram negative,
basil anaerob non motil. (periode
inkubasi 1-7 hari, biasanya 2-4
hari)
kadang disertai darah dan mucus,
demam, peristaltic hiperaktif dan nyeri
tekan yang ringan pada abdomen,
gejala biasanya berkurang dalam 5 hari,
dapat mengalami sakit kepala dan
manifestasi serebral (mis : mengantuk,
konfusi, meningismus, atau kejang),
bayi mungkin afebris dan non toksik,
dapat mengakibatkan septikimia dan
meningitis yang mengancam
kehidupan.
Bervariasi pada bayi, pada anak yang
lebih besar demam tidak teratur, sakit
kepala, malaise, letargi, diare terjadi
pada 50 % tahap awal, umumnya
terjadi batuk, dalam beberapa hari
demam meningkat dan menetap, terjadi
keletihan batuk, nyeri abdomen,
anoreksia, dan penurunan berat badan.
Awitan bervariasi tetapi biasanya tiba-
tiba, demam dan nyeri kram abdomen
terjadi di awal, demam dapat mencapai
40,5
0
C, konvulsi pada kira-kira 10 %
Yarsinia enterocolitica (periode
inkubasi tergantung dosis 1-3
minggu)
Campylobacter jejuni (periode
inkubasi 1-7 hari atau lebih lama)
Kelompok Vibrio cholera (periode
inkubasi biasanya 2-3 hari rentang
dari beberapa jam sampai 5 jam)
biasanya dikaitkan dengan demam,
pasien tampak sakit, sakit kepala, kaku
kuduk, delirium, diare cair dengan
mucus dan pus mulai kira-kira 12-48
jam setelah awitan, defikasi didahului
kram abdomen, tenesmus dan aliran
mengejan, gejala biasanya berkurang
dalam 5-10 hari.
Diare mungkin berdarah, demam lebih
dari 38

C, nyeri abdomen pada kuadran


kanan bawah, muntah.
Demam, nyeri abdomen sering hebat,
kram, pereumbilikasi, diare cair,
banyak, bau menyengat disertai darah,
muntah.
Awitan tiba-tiba dari diare encer yang
banyak, tanpa disertai kram, tenesmus
atau iritasi anal, meskipun anak
mengeluh kram ; pada awalnya terjadi
defikasi intermiten, kemudian hampir
kontinu; defikasi berdarah dengan
mucus; diare dengan darah dalam feses
Keracunan makanan
Staphilococcus (periode inkubasi 4-
6 jam)
Clostridium perfungens (periode
inkubasi 8-24 jam, biasanya 8-12
jam)
Clostridium botulinum (periode
inkubasi 12-26 jam, rentang 6-
sampai 8 hari)
Mual, muntah; kram abdomen hebat;
diare hebat; syok dapat terjadi pada
kasus-kasus berat; mungkin demam
ringan.
Kram sedang sampai berat, nyeri
midepigastrik.
Mual, muntah; diare; gejala system
saraf pusat dengan efek seperti curare;
mulut kering, disfagia.
5. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan yang dilakukan yaitu terutama pada jenis tinja. Awitan diare
mendadak dengan buang air besar lebih dari 4 kali / hari dan tidak ada muntah sebelum
diare meningkatkan kemungkinan adanya enteris bacterial. Diare berdarah dan demam
paling sering dijumpai pada enteritis bacterial, walaupun infeksi Cryptosporidium juga
sebaiknya dipertimbangkan pada anak- anak yang berada ditempat penitipan anak. Tinja
pada infeksi rotavirus biasanya berwarna hijau , berair, dan tidak berdarah. Tinja pada
infeksi Salmonella biasanya berwarna hijau, berlendir dan berbau telur busuk. Tinja pada
infeksi Shigella khas berair, berdarah, dan tidak berbau.
6. Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu : teruskan pemberian Air Susu Ibu (ASI),
perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk pemberian makanan pendamping
ASI setelah bayi berusia 4 bulan, karena penularan kontak langsung dari tinja melalui
tangan / serangga , maka menjaga kebersihan dengan menjadikan kebiasaan mencuci
tangan untuk seluruh anggota keluarga, cucilah tangan sebelum makan atau menyediakan
makanan untuk sikecil, ingat untuk menjaga kebersihan dari makanan atau minuman
yang kita makan, juga kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.
7. Pengobatan
Yang perlu diingat pengobatan bukan memberi obat untuk menghentikan diare,
karena diare sendiri adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan
kontaminasi makanan dari usus. Mencoba menghentikan diare dengan obat seperti
menyumbat saluran pipa yang akan keluar dan menyebabkan aliran balik dan akan
memperburuk saluran tersebut.
Oleh karena proses diare ini adalah mekanisme pertahanan dari tubuh, akan
sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari (1 -14 hari) dimana diare makin berisi
dari air (watery) mulai berampas, berkurang frekwensinya dan sembuh. Yang terpenting
pada diare adalah mencegah dan mengatasi gejala dehidrasi. Kebanyakan pasien dengan
rehidrasi ringan sampai sedang dapat direhidrasi dengan larutan rehidrasi oral yang
mengandung elektrolit dan glukosa. Larutan-larutan ini mengandung natrium sebanyak
75-90mEq/l., sedangkan larutan rumatan mengandug natrium 40-60mEq/l. Rehidrasi
dengan larutan rehidrasi oral sebaiknya dilakukan lebih dari 4-6 jam. Cairan rumatan
peroral dapat diberikan setelah rehidrasi, tetapi makanan sebaiknya diberikan kembali
dalam waktu 24 jam. Makanan awal sebaiknya berupa ASI, susu formula atau susu
murni, nasi, pisang, kentang, biskuit, roti panggang, dan serial kering. Karena sel-sel usus
yang dirusak oleh virus memerlukan nutrisi untuk pembentukan kembali. Pemberian
makanan seperti biasanya akan memperpendek masa waktu gejala dari diare.
Manfaat penggunaan susu formula yang bebas laktosa masih belum jelas. Obat
anti diare tidak efektif dan dapat berbahaya. Obat ini dapat meningkatkan proliferasi
bakteri dan absorpsi toksin dengan menurunnya motilitas usus dan juga menyamarkan
kehilangan cairan luminal. Minumlah garam oralit untuk mencegah terjadinya
kekurangan cairan tubuh sebagai akibat diare. Minumkanlah cairan oralit sebanyak
mungkin penderita mau. 1 bungkus kecil oralit dilarutkan ke dalam 1 gelas air masak
(200 cc) Kalau oralit tidak ada buatlah : larutan garam gula. Ambillah air teh (masak) 1
gelas. Masukkan dua sendok teh gula pasir, dan seujung sendok teh garam dapur. Diaduk
rata dan diberikan kepada penderita sebanyak mungkin ia mau minum. Bila diare tak
terhenti dalam sehari atau penderita lemas sekali bawalah segera ke Puskesmas.
C. Konsep Balita
1. Pengertian
Bawah lima tahun atau sering disingkat sebagai balita adalah merujuk kepada
bayi yang berumur di bawah 5 tahun termasuk 5 tahun.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Balita).
2. Tumbuh Kembang Anak Usia Todler (1-3 tahun)
Pada usia todler anak mulai berjalan, mulai mengeksplorasi secara giat tentang
lingkunganya seperti berusaha mengetahui bagaimana sesuatu bekerja, apa kata-kata, dan
bagaimana mengontrolnya dengan tuntutan, negativisme, dan berkeras kepala. Masa ini
merupakan masa yang penting terhadap perkembangan kepandaian dan pertumbuhan
intelektual.
a. Teori Tumbuh Kembang menurut Freud
Kesenangan berubah dari suatu yang erogenous tubuh ke tempat lain, tingkat
maturasi anak menentukan saat perubahan ini terjadi. Jika pemuasan kesukaan
berlebihan atau dihambat, anak mungkin menjadi tersangkut secara emosional
(terikat) pada tahapan yang khusus. Sesuai dengan tahapan teori psikoseksual Freud,
anak todler berada pada fase anal-muskular (1-3 tahun). Pada fase ini, pemuasan
kenikmatan sensual berasal dari retensi dan pengeluaran feses, dengan tubuh memberi
kepuasan berkisar sekitar anus. Mengotori adalah aktivitas yang umum.
Pada tahap ini anak sangat cocok diajarkan toilet training. Konflik eksternal
mungkin ditemui pada saat latihan ke toilet dan terlibat dalam perilaku seperti
kontipasi, kelembaban, dan kesakitan. Sikap positif yang dapat diperoleh dalam tahap
ini adalah jika BAB atau BAK senang melakukannya sendiri, sedangkan negatifnya
anak akan menahan dan mempermainkannya.
b. Teori Tumbuh Kembang menurut Piaget (1952)
Melihat perkembangan pikiran sebagai kejadian melalui adaptasi terhadap
lingkungan. Anak menyesuaikan (mengisi) informasi yang baru ke dalam struktur
pemikiran yang sudah ada (skema) dan mengakomodasi (mengubah) skema tersebut
untuk menerima informasi yang baru. Usaha untuk keseimbangan (ekuilibrasi) terjadi
melalui dua proses ini. Piaget yang menyatukan prinsip epigenetic kedalam teorinya.
Prinsip ini menyebutkan bahwa perkembangan bergantung pada program genetic
seseorang dan bahwa setiap aspek atau bagian memiliki waktunya sendiri untuk
berpengaruh. Pengaruh genetic yang konstan, maturasi, pengalaman dan interaksi
memberi hasil dalam perkembangan kognitif. Teori ini menempatkan manusia dalam
peran belajar yang aktif dan adalah hal yang penting bagaimana anak belajar.
Pada tahap sensorimotor (lahir-2 tahun), anak belajar mengenal dunia melalui
aktivitas sensori dan motorik. Anak secara lambat mengembangkan konsep bahwa
orang dan benda merupakan hal yang permanen, walaupun mereka tidak terlihat lagi.
Pada tahap ini anak todler berada pada fase peralihan antara trial and error dan
representasi. Pada fase trial and error (12-18 bulan), anak secara aktif
mengeksplorasi dunia dan berbagai kegiatan untuk melihat sesuatu yang baru dari
sebuah obyek, kejadian atau situasi. Trial and error digunakan untuk memecahkan
masalah. Anak mungkin mencoba mendapatkan mainan keluar dari kotak kecil yang
terbuka pertama dengan tangan dan kemudian membalik kotak tersebut dan
menumpahkan isinya keluar. Anak memahami bagian benda yang tidak pada
tempatnya jika terlihat.
Pada fase representasi (18-24 bulan), toddler mulai menciptakan gambaran
mental dan dengan demikian dapat menciptakan cara yang baru untuk berurusan
dengan lingkungan. Anak mulai memikirkan tentang kejadiankejadian tanpa
melakukan tindakan. Anak mendapatkan benda sungguhan yang permanen dan
mencari benda yang tidak terlihat (tersembunyi). Misalnya: todler akan mencari
tempat untuk menyimpan botol, pemahaman ini didemonstrasikan dengan mencari
botol di dalam kulkas.
c. Teori Tumbuh Kembang menurut Kohlberg (1968)
Mengemukakan bahwa perkembangan kognitif mendasari kemajuan moral
seseorang dari tingkat ke tingkat. Tahapan ini terjadi dalam urutan yang sama
berdasarkan kultur. Individu berada dalam seberapa tepat dan seberapa jauh mereka
maju melalui tahapan ini. Pada teori perkembangan moral Kohlberg, anak todler
berada pada tingkat premoral (lahir-9 tahun), pada fase orientasi hukuman dan
kepatuhan (lahir-6 tahun). Pada tingkat premoral terdapat sedikit kewaspadaan
mengenai apa yang dimaksud dengan perilaku moral yang bisa diterima secara sosial.
Kontrol didapatkan dari luar. Anak menyerah pada kekuatan dan kepemilikan. Pada
fase orientasi dan hukuman, peraturan dari orang lain diikuti untuk menghindari
hukuman. Anak menggabungkan label dari baik buruk dalam perilaku dalam bentuk
konsekuensi dari tindakan.
d. Teori Tumbuh Kembang menurut Erickson (1963)
Setiap tahap memiliki krisis personal yang melibatkan konflik utama yang
krisis pada saat itu. Perkembangan ego sangat dipengaruhi oleh pengaruh sosial dan
kultural dan kesuksesan dari setiap krisis yang melibatkan perkembangan dari
kebaikan yang khusus. Kesuksesan penguasaan pada setiap konflik dibangun pada
keberhasilan, penyelesaian pusat konflik sebelumnya. Teori ini menunjukkan
pentingnya hereditas dan lingkungan yang memiliki dasar epigenetic. Perkembangan
ditentukan oleh prinsip genetik dan berlangsung terus-menerus sepenjang tahapan
usia.
Sesuai dengan tahapan teori psikososial Erickson, anak todler berada pada
tahap autonomi vs ragu-ragu dan malu (1-3 tahun). Pada usia ini anak mendapatkan
perasaan terhadap koreksi diri sendiri seraya mengatasi perasaan terhadap keraguan
dan perasaan malu. Mereka mereaksi kehendaknya dan memberikan kontrol yang
mandiri, ketergantungan dan mengatur dirinya sendiri. Mereka mengkonfrontasikan
dengan konflik terhadap usaha mengurusi dirinya sendiri (otonominya), dan
melepaskan banyak kesenangan secara mandiri.
Anak mulai mengembangkan kemandirian pada saat peningkatan kontrol
fungsi-fungsi tubuh terhadap kegiatan membuka dan memakai baju, berjalan,
mengambil makan sendiri, dan ke toilet. Mulai terbentuk kontrol diri. Jika
perkembangan kemandirian todler tidak didukung oleh orang tua, anak mungkin
memiliki kepribadian yang ragu-ragu. Jika anak dibuat merasa buruk pada saat
melakukan kegagalan, anak akan menjadi pemalu.
Beberapa tugas yang spesifik pada usia todler, yaitu:
1) Membedakan diri dari yang lain, terutama ibunya
2) Membiarkan terhadap pemisahan dengan orang tua
3) Mengontrol fungsi tubuh secara keseluruhan
4) Mendapatkan tingkah laku sosial yang dapat diterima
5) Pengertian verbal dalam komunikasi
6) Kemampuan berhubungan dengan semuanya dalam mengurangi cara egosentris.
Untuk memenuhi tugas perkembangan tersebut perlu adanya dukungan dari
orang tua sepenuhnya dan lingkungan yang positif untuk terbentuknya rasa percaya
diri dan harga diri, serta memberikan keyakinan yang jelas. Tugas perkembangan
yang dilalui oleh usia todler adalah sebagai berikut:
1) Keterampilan motorik, dimana anak mulai belajar dan mematuhi suatu periode
mengeksploitasi benda-benda dalam lingkungan.
2) Mengembangkan kemampuan bicara dan meningkatkan perbendaharaan kata
kearah yang lebih dimengerti.
3) Mengembangkan konseptual dan tingkah laku inisiatif.
4) Meningkatkan aktivitas imaginative dan belajar berespon terhadap orang lain.
5) Belajar mengendalikan tubuh dan mengikuti pola-pola sosial untuk dapat diterima
dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Penyimpangan yang dapat terjadi pada usia todler adalah sebagai berikut:
1) Negativisme
Suatu perilaku yang dimunculkan oleh anak dimana tidak semua menerima
kehendak atau perintah, dan akan mengerjakan hal-hal yang bertentangan, tidak
berespon terhadap sapaan. Usaha pencegahannya:
a) Melatih kontrol anak dengan membuat pilihan dihadapkan dengan dua pilihan
yang positif, sehingga mereka lebih suka memilih salah satunya, daripada
menjawab tidak.
b) Mengurangi kesempatan untuk menjawab tidak
c) Membuat suatu permainan dimana todler merasa tertantang untuk menang.
d) Menggunakan humor yang akan membuat tugas dapat dipertahankan dan
dapat mengurangi marah dan frustasi.
2) Tempertantrum
Ketidakmampuan fisik untuk menyelesaikan tugas atau banyaknya aturan-aturan
yang mengganggu aktivitasnya. Hal tersebut dapat menimbukan frustasi pada
anak. Rasa frustasi yang bertumpuk-tumpuk tersebut dilepaskannya dengan
aktivitas untuk membebaskan ketegangannya seperti: berguling-guling diatas
lantai, menendang-nendangkan kakinya, membentur kepala, memutar kepala dan
menahan napasnya.
Usaha mencegahnya:
a) Mengabaikan anak jika berperilaku mancari perhatian.
b) Hindari tanggapan secara verbal pada saat mencari perhatian.
c) Orang tua mendekat setelah tantrum selesai atau berkurang.
d) Tawarkan anak pada aktivitas yang disukai.
e) Memberi hadiah setelah post tantrum.
3) Sibling rivalry (persaingan antar saudara)
Kecemburuan dan kemarahan yang alamiah dari anak terhadap seseorang (anak
baru) dalam keluarga. Terjadi pada kedatangan bayi baru atau terhadap seseorang
yang baru bergabung pada keluarga. Perilaku yang sering diperlihatkan anak
adalah: marah pada perubahan yang dibawa sibling, khususnya perpisahan dari
ibu selama persalinan, orang tua memberi cinta dan perhatian pada orang lain,
kebiasaan rutin terganggu, memukul adiknya, mendorong adiknya jauh dari orang
tuanya, menarik botol atau payudara dari mulut bayi.
Cara mencegahnya:
a) Membicarakan adik barunya ketika todler menyadari tentang kehamilan dan
perubahan serta mengantisipasi keluarga yang baru.
b) Menjelaskan dengan ide-ide yang realistis tentang seperti apa kehamilan dan
kelahiran.
c) Melindungi bayi dan supervisi dan interaksi dari sibling.
d) Adanya perlindungan bayi di rumah.
4) Toilet training
Perilaku yang sering diperlihatkan anak usia toddler adalah ketidakmampuan anak
untuk menahan BAB dan BAK, ketidakmampuan anak mengkomunikasikan pada
orang tuanya saat ingin BAB atau BAK.
Cara mencegahnya:
a) Membantu anak memilih pot duduk atau menggunakan toilet.
b) Membantu anak dalam melakukan BAB atau BAK
c) Melatih anak untuk mengenal tanda-tanda BAB atau BAK.
d) Ajarkan anak untuk mengkomunikasikan pada orang tua jika ada tanda-tanda
BAB atau BAK.
e) Ajarkan anak untuk langsung ke toilet pada saat ingin BAB atau BAK
D. Keramgka Teori
Faktor Predisposisi
-Pelaksanaan MTBS diare
akut
-Klasifikasi penyakit
-Identifikasi tindakan
-Pengobatan
-Konseling
-Sikap/ persepsi
-Kapan kembali ke
puskesmas
-Pendidikan Ibu
-Usia balita
-Jenis kelamin balita
Faktor Pendukung
-Penyakit infeksi
-Lingkungan
-Status gizi balita
-Status immunisasi
-Perilaku Masyarakat
-Keadaan Sosial Ekonomi
Faktor Pendorong
-Kebijakan pemerintah
-Jangkauan terhadap
Yankes
Kesembuhan Diare
Pada Balita