Tumor traktus urogenetalia merupakan keganasan yang sering dijumpai di tempat praktek sehari-hari yang mungkin terlewatkan

karena kekurangwaspadaan dokter dalam mengenali penyakit ini. Tumor urogenetalia dapat tumbuh di seluruh organ urogenetalia mulai dari ginjal beserta salurannya, ureter, buli-buli, prostat, uretra, testis dan penis (Rainy Umbas, 2000). Semua gambaran atau manifestasi klinis tumor urogenital tergantung dari letak tumor, stadium, dan penyulit yang disebabkan oleh tumor. Metastasis pada paru, otak, tulang dan liver dapat menyebabkan gangguan organ tersebut dan memberikan manifestasi klinis sesuai dengan gejala organ yang terkena. Diantara keganasan urogenetalis, karsinoma kelenjar prostat merupakan keganasan yang angka kejadiannya paling banyak, kemudian disusul oleh keganasan buli-buli. Tumor testis relatif jarang ditemukan, walaupun insidennya menunjukkan peningkatan pada tahun-tahun terakhir ini. Di Inggris ditemukan kurang dari 1 % dari seluruh kematian akibat kanker (Coupt, 2000). Tumor testis cukup penting, banyak mengenai pria dewasa muda dan merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada kelompok ini (Satumed.com, 2004). Banyak diantaranya mempunyai tingkat keganasan yang tinggi walaupun, kemajuan kemoterapi akhir-akhir ini telah mampu memperbaiki prognosis penderita. Menurut Purnomo (2003), tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria yang berusia diantara 15 – 35 tahun dan merupakan 1 – 2% semua neplasma pada pria, dipaparkan juga bahwa akhir-akhir ini terdapat perbaikan usia harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi jika dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu, karena sarana diagnosis yang lebih baik, diketemukannya penanda tumor, diketemukannya regimen kemoterapi dan radiasi, serta teknik pembedahan yang lebih baik. Angka mortalitas menurun dari 50% (1970) menjadi 5% (1997). Menurut Robbins dan Kumar (1995), tumor testis merupakan penyebab utama yang penting terjadinya pembesaran testis yang padat tanpa rasa nyeri. Sekitar 95% tumor testis berasal dari sel-sel benih dan hampir semuanya ganas. Sisanya 5% berasal dari sel-sel interstitial Leydig atau sel Sertoli, dan ini biasanya jinak, meskipun tumor ini dapat mengeluarkan steroid yang dapat menyebabkan kelainan endokrinopati. Di Amerika Serikat rata-rata angka kejadian tumor sel benih testis sekitar 2 per 100.000 pria. Puncaknya pada usia 15 – 34 tahun. Dari golongan usia ini, frekuensi naik terus dalam beberapa tahun terakhir. Penyebab karsinoma testis tidak diketahui, namun bagaimanapun juga faktor predisposisi itu ada. Dalam rujukan telah dimuat bahwa angka kejadian tumor ini meningkat 10 sampai 40 kali pada penderita testis yang tidak turun. Penelitian epidemiologi memperkirakan bahwa pengaruh genetika juga berperan disini. II.1. Definisi Menurut Sjamsuhidajat dan Wim de Jong (1997) : Dalam artian umum, tumor adalah benjolan atau pembengkakan abnormal dalam tubuh. Dalam artian khusus, tumor adalah benjolan yang disebabkan oleh adanya neoplasma.

1995). Pada pertumbuhan tumor terjadi keadaan yang disebabkan oleh karena adanya “disregulasi” pertumbuhan. penggunaan istilah untuk lesi non-neoplastik sudah hampir tidak digunakan. Tumor ganas (maligna) Ciri-ciri : .Neoplasma adalah pertumbuhan sel-sel baru yang tidak terbatas. tetapi ini bukan neoplasma karena proses disini sesuai dengan pertumbuhan normal. Neoplasma adalah penyakit pertumbuhan sel-sel baru yang tidak terbatas pada koordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berfungsi fisiologis (Tjidarbumi. yaitu : 1. tidak terpengaruh oleh mekanisme yang mengatur pertumbuhan sel tubuh kita. Sel mempunyai dua fungsi utama yaitu bekerja dan reproduksi. tidak menimbulkan kematian 2. Bekerja tergantung dari sitoplasma sedangkan reproduksi tergantung pada inti sel (Robbins dan Kumar. Menurut Underwood (2000). Sel tumor adalah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan secara normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya.2. Tumor testis adalah tumor yang berasal dari sel germinal atau jaringan stroma testis. berkapsul c. tidak ada koordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berfungsi fisiologis. Tumor jinak (benigna) Ciri-ciri : a. pertumbuhan lambat d. Organisme yang dewasa tidak lagi mengadakan pertumbuhan oleh karena disini pertumbuhan sel-sel baru sudah ada dalam kondisi seimbang dengan matinya sel-sel lama. batas tegas b. Namun istilah “tumor” sekarang ini diterapkan hanya semata-mata untuk neoplastik yang dapat menyebabkan benjolan pada permukaan tubuh. Dalam arti luas tumor hanyalah merupakan suatu benjolan atau pembengkakan yang diantaranya dapat disebabkan oleh edema atau perdarahan jaringan. Regenerasi epitel dan pembentukan jaringan granulasi juga suatu pertumbuhan sel baru. Pertumbuhan tumor sedikit banyak bersifat otonom. berdasarkan biologisnya tumor dibedakan menjadi 2. 2000). Dasar-dasar Neoplasma Neoplasma dalam dunia kedokteran secara umum sering diartikan sebagai “tumor”. Pertumbuhan merupakan sifat pokok dari organ yang hidup dan untuk itu ada regulasinya. II.

Di lain pihak infiltrasi dapat dipersulit oleh strukturstruktur seperti fasia. Selain dari pada itu sel kanker pun sering memanfaatkan struktur-struktur yang sudah ada untuk mempermudah infiltrasi. 2000). Derajat morfologi menyerupai sel normal atau asal isebut “differensiasi” dari parenkhim. yang berasal dari bahasa latin yang berarti kepiting. Sel-sel neoplasma yang berproliferasi akan mengalami perubahan sehingga mungkin tidak menyerupai sel asalnya lagi. simpai suatu organ. pertumbuhan cepat d. Purnomo (2003). maka tumor ganas primer dapat menyebarkan selsel kankernya ke seluruh tubuh. Disregulasi pertumbuhan tumor dapat ditemukan baik pada tumor jinak (meskipun dalam gradasi yang lebih rendah) maupun pada tumor-tumor ganas. Sesuai dengan sifat yang melekat pada setiap bagian dan mencengkram dengan erat seperti seekor kepiting. batas tidak tegas b. Dengan kemampuan bermetastasis sel kanker untuk menembus jaringan normal. menyatakan bahwa penentuan derajat diferensiasi sel-sel tumor ditentukan berdasarkan atas pemeriksaan histopatologi : . Suatu neoplasma dikatakan “ganas” bila dapat menembus dan menghancurkan struktur yang berdekatan dan menyebar ke tempat yang jauh atau metastasis dan menyebabkan kematian (Robbins dan Kumar.G2 : diferensiasi sel sedang . kemantapan diagnosis sitomorfologik kadang masih banyak kendalanya karena faktor subyektivitas yang tinggi dan kesulitan dalam menilai invasi sel ke stroma (Tjidarbumi. tidak berkapsul c.G3 : diferensiasi sel jelek Dewasa ini diagnosis kanker lebih banyak ditegakkan melalui evaluasi struktural atau morfologik baik histologik maupun sitologik. 1995).a. Faktor penambahan volume tumor akan mengakibatkan kenaikan tekanan dalam tumor dan ini akan mempermudah menembusnya sel tumor ke dalam jaringan normal. Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan antara pembentukan dan hancurnya sel. Hal ini biasanya baru diketahui bila proses tersebut berlangsung agak lanjut. metastase e. misalnya rongga perineural. atau peristoneum.G1 : diferensiasi sel baik . Salah satu sifat karakteristik dari sel kanker adalah kemampuannya untuk menembus jaringan normal dan penetrasi ke dalam pembuluh darah dan saluran limfe. menimbulkan kematian Tumor ganas secara keseluruhan dinyatakan sebagai “kanker”. . artinya lebih banyak sel yang terjadi daripada yang hilang. Pertumbuhan tumor pada umumnya bersifat balans positif.

Gambar Sistem Reproduksi Pria . Masuknya sel-sel kanker ke dalam pembuluh darah. N diberi tanda dari N0 sampai N3. .Untuk mengukur derajat penyebaran tumor ditentukan dalam stadium tumor. Anatomi dan Fisiologi Testis Struktur reproduksi pria terdiri dari penis. Menurut UICC (Union Internationale Contre le Cancere) yaitu perhimpunan kanker dunia. testis dalam kantong skrotum. misal : jika alat telah digunakan untuk operasi dan dipakai untuk operasi lagi tanpa disterilkan terlebih dahulu. vas deferens. sistem duktus yang terdiri dari epididimis. Menurut Tjindarbumi (2000). 4. dan urethra. 3. Hematogen Yaitu lewat pembuluh darah.T adalah tingkat pertumbuhan tumor di dalam organ atau tingkat penyebaran tumor ke organ sekitarnya. terjadi secara perlahan-lahan. 2. 1998). II. misalnya tumor gaster menjalar ke ovarium. M0 jika tidak dijumpai metastasis dan M1 jika sudah terdapat metastasis secara homogen. tingkat invasi tumor dinyatakan dalam sistem TNM atau Tumor Nodul Metastasis. T diberi tanda dari T0 sampai T4. Implantasi Biasanya terjadi di meja operasi. Infiltratif Adalah penyebaran ke jaringan sekitarnya.3. metastasis tumor ganas dapat melalui bermacam-macam. duktus ejakulatorius. sel-sel kanker menyebuk ke dalam jaringan sehat sekitarnya atau di dalam ruang antara sel. dan glandula asesoria yang terdiri dari vesikula seminalis kelenjar prostat dan kelenjar bulbouretralis (Pichl. Limfogen Yaitu sel-sel kanker masuk ke dalam pembuluh limfe dan merupakan embolus masuk ke dalam kelenjar getah bening regional dan melekat pada simpainya. . Perkontinuitatum Yaitu kontak langsung. yaitu : .N berarti penyebaran tumor secara limfogen. yaitu : 1. 5.M berarti penyebaran secara hematogen ke organ-organ lain di sekitarnya yang letaknya berjauhan dari tumor primer.

Ukuran testis pada orang dewasa adalah 4 x 3 x 2. Produksi sperma atau spermatogenesis terjadi pada tubulus seminiferus. Di luar tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan parietalis. Di dalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel spermatogonia dan sel-sel sertoli.5 cm. sel-sel sertoli dan sel-sel leydig. dengan volume 15 – 25 ml. Otot kremaster yang berada di sekitar testis memungkinkan testis dapat digerakkan mendekati rongga abdomen untuk mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil. Gambar Anatomi Testes (Potongan Sagital) . Tiap lobulus terdiri dari tubulus seminiferus. berbentuk uvoid. Gambar Anatomi Testis (Pandangan Sagital) Kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat pada testis. Sel-sel ertoli berfungsi memberi makan pada bakal sperma. Sel-sel spermatogonium pada prosis spermatogenesis menjadi sel spermatozoa. sedangkan sel-sel Leydig atau disebut sel-sel interstitial testis berfungsi dalam menghasilkan hormon testosteron.Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di skrotum. sedang diantara tubuli seminiferi terdapat sel-sel Leydig. Testis bagian dalam terbagi atas lobulus yang berjumlah + 250 lobuli. serta tunika dartos.

yaitu trauma testis tidak mempengaruhi terjadinya tumor ini. vas deferens. dan (3) arteri kremastika yang merupakan cabang dari arteri epigastrika.4. faktor penyebab karsinoma testis tidak jelas. Penderita kriptorkismus atau bekas kriptorkismus . Etiologi Menurut Sjamsuhidajat dan Wim de Jong (1997). Sel-sel itu setelah bercampur dengan cairan-cairan epididimis. Duktus ejakulatorius selanjutnya bergabung dengan uretra yang merupakan saluran keluar bersama baik untuk sperma maupun kemih. virus atau penyebab infeksi lain. Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus pampiniformis. kemudian bergabung membentuk duktus ejakulatorius. yaitu (1) arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta. Setelah matur (dewasa) sel-sel spermatozoa bersama-sama dengan getah dari epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ampula vas deferens. Faktor genetik. Selsel spermatozoa yang diproduksi di tubuli seminiferi testis disimpan dan mengalami pematangan atau maturasi di epididimis.Pada bagian posterior tiap-tiap testis. vesikula seminalis. Vas deferens adalah duktus ekskretorius testis yang membentang hingga ke duktus vesikula seminalis. terdapat duktus melingkar yang disebut epididimis. Pleksus ini pada beberapa orang mengalami dilatasi dan dikenal sebagai varikokel. serta cairan prostat membentuk cairan semen atau mani. Testis mendapatkan pasokan darah dari beberapa cabang arteri. Gambar Anatomi Testis dan Hubungan Vaskuler II. (2) arteri deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior.

(3) atrofi atau infeksi testis. yang berarti karsinoma testis untuk janin pria. Demikian juga dengan Purnomo (2003). Dikatakan bahwa 7 – 10% pasien karsinoma testis. resiko timbulnya degenerasi maligna tetap ada. Seminoma : · Yang khas · Spermatositik · Anaplastik 2. Klasifikasi Sebagian besar (+ 95%) tumor testis primer. atau telah mempunyai kriptorkidisme. sel sertoli dan gonadoblastoma. Seminoma berbeda sifat-sifatnya dengan non seminoma. Hal senada juga dinyatakan oleh Underwood (2000).5. Walaupun pembedahan kriptorkismus pada usia muda mengurangi insidensi tumor testis sedikit. menderita kriptorkismus. Dalam Sjamsuhidajat dan Wim de Jong (1997). klasifikasi organisasi kesehatan dunia (World Health Organisation / WHO) tentang tumor testis ganas : 1. (2) trauma testis. Rupanya kriptokusmus merupakan suatu ekspresi disgenesia gonad yang berhubungan dengan transformasi ganas. dalam tulisannya. Meskipun sudah dilakukan orkidopeksi. antara lain sifat keganasannya. dan (4) pengaruh hormon. bahwa kesalahan penurunan testis merupakan satusatunya yang telah diketahui untuk timbulnya tumor. Pria dengan testis undesenden mempunyai risiko 10 kali untuk mendapat tumor dibandingkan dengan mereka yang mempunyai testis intraskrotal. Tumor yang bukan berasal dari sel-sel germinal atau non germinal diantaranya adalah tumor sel Leydig. tetapi terdapat beberapa faktor yang erat kaitannya dengan peningkatan kejadian tumor testis. Sekitar 10% dari seluruh tumor testis timbul dalam testis. Proses tumorigenesis pasien maldensus 48 kali lebih banyak daripada testis normal. Tumor germinal testis terdiri atas seminoma dan non seminoma. berasal dari sel germinal sedangkan sisanya berasal dari non germinal. daerah sakrokoksigeus. 2003). respon terhadap radioterapi. antara lain : (1) maldesus testis. II. menyatakan bahwa penyebab tumor testis belum diketahui dengan pasti. Penggunaan hormon dietilstilbestrol yang terkenal sebagai DES oleh ibu pada kehamilan dini meningkatkan risiko tumor maligna pada alat kelamin bayi pada usia dewasa muda. Kriptorkismus merupakan faktor resiko timbulnya karsinoma testis. risiko terjadinya tumor tetap tinggi. tumor sel germinal juga bisa berasa di luar testis sebagai Extragonadal Germ Cell Tumor antara lain di mediastinum. Selain berada di dalam testis. dan glandula pineal (Purnomo.mempunyai risiko lebih tinggi untuk tumor testis ganas. dan prognosis tumor. Non Seminoma · Karsinoma embrional · Teratokarsinoma . retroperitoneum.

Koriokarsinoma Klasifikasi neoplasma testis yang digunakan secara luas di Inggris berdasarkan klasifikasi dari The British Testicular Tumour Panel and Registry sebagai berikut : · Seminoma · Teratoma · Mixed Germ Cell tumor (seminoma dan teratoma) · Limfoma maligna · Tumor yolk sac · Tumor sel interstitial (sel Leydig) · Tumor sel Sertoli · Tumor metastatik · Tumor adenomatoid · Sarkoma paratestikuler Gambar Klasifikasi Tumor Testis 1) Tumor Sel Benih a.· Teratom matur dan imatur 3. Seminoma .

Tumor ini mengganti seluruh bagian tubuh testis. dan bukan berasal dari sel totipoten yang terlepas dari keikutsertaan pengorganisasian dalam embrio. Insidensi puncak teratoma antara umur 20 sampai 30 tahun dan dibandingkan dengan seminoma. yaitu : § berdiferensiasi § ganas intermedia § ganas tanpa berdiferensiasi § ganas trofoblastik c. Sekelompok kecil sisa testis terdesak pada salah satu tepi tumor. Pendapat pada saat ini. ektoderm dan mesoderm. teratoma lebih agresif. Testis membesar berupa tumor solid berwarna putih. Lima jenis seminoma berdasarkan gambaran histologis ialah : § Klasikal § Spermatositik § Anaplastik § Disertai sel raksasa sinsitiotrofoblas § Campuran dengan jenis lain tumor sel benih b. homogen dan keras.Ø Jenis tumor testis yang paling sering ditemukan Ø Asal sel benih Ø Insiden puncak umur 30 – 50 tahun Seminoma berasal dari sel benih yang tumbuh dari epitel tubulus seminiferus. Tumor Sel Benih Campuran . Klasifikasi yang digunakan di Inggris dan negara manapun. teratoma sel benih. terdapat empat kelompok histologis dari teratoma. Teratoma Ø Asal dari sel benih Ø Insiden puncak 20 – 30 tahun Ø Lebih agresif dibandingkan dengan seminoma Ø bHCG dan alfa-fetoprotein berguna sebagai pertanda tumor Teratoma terdiri atas berbagai jenis jaringan dari endoderm.

d. manifestasi pertama yang ditemukan dapat berupa penyebaran pada kelenjar limfe. Bentuk khasnya adalah infiltrasi sel ganas di antara tubulus seminiferus tanpa merusak struktur tubulusnya. Gambaran histologisnya menunjukkan suatu bentuk adenopapiler dengan sel kolumner atau gepeng yang sitoplasmanya mengandung butir-butir eosinofilik. Jenis tumor ini memproduksi androgen dan menyebabkan terbentuknya prekoksius pada anak laki-laki. Tumor ini lebih sering terjadi pada anjing yang akan menyebabkan terjadinya feminisasi. Ditemukan pula adanya infiltrasi sel tumor ke dalam dinding pembuluh vena di dalam tumor. hati dan limpa. Tumor ini dapat juga mengenai orang dewasa. Tumor Sel Sertoli Tumor sel sertoli merupakan jenis tumor testis yang jinak dan jarang ditemukan pada pria. e.Bentuk campuran terjadi sekitar 14% dari seluruh tumor testis. c. Tumor Sel Leydig Tumor yang tumbuh berasal dari sel interstisial atau sel leydig testis jarang ditemukan. Tumor Yolk Sac Tumor yolk sac biasanya ditemukan pada umur di bawah tiga tahun dan merupakan jenis tumor testis yang paling sering ditemukan pada anak-anak. 2) Tumor Bukan Sel Benih a. yang biasanya suatu limfoma sel-B berdiferensiasi buruk dengan bentuk yang difus. Limfoma Maligna Limfoma maligna ditemukan sebanyak 7% dari tumor testis dengan insiden puncaknya antara umur 60 sampai 80 tahun. b. biasanya merupakan salah satu komponen dari tumor sel benih campuran dan jarang ditemukan sebagai bentuk asli sendiri. Tumor Metastatik . Ini adalah limfona non Hodgkin. Tumor ini sering mengenai kedua testis (bilateral) dan pada beberapa kasus. Pada tumor campuran ini imunositokimiawi bermanfaat untuk mengidentifikasi bagian kecil dari komponen jaringan yang lebih agresif seperti trofoblas. Ditemukan pula bangunan khas yang disebut badan Schiller – Duval yang dibentuk oleh lapisan perivaskuler sel tumor. Insiden puncak tumor antara 30 sampai 45 tahun. Prognosis tumor ini ditentukan oleh subtipe teratoma yang ditemukan. nama lainnya ialah Orchioblastoma. hanya sebanyak 2% dari seluruh tumor testis. AFP merupakan pertanda yang penting untuk tumor jenis ini yang dapat dideteksi dalam serum penderita. Manifestasi klinisnya berupa ginekomastia. Testis akan membesar dan digant oleh jaringan tumor homogen berwarna putih lunak. Daerah seminoma dan teratoma dapat saling tercampur di dalam tumor yang sama atau sebagian bagian noduler yang terpisah.

Karsinoma bronkus atau prostat dan melanoma maligna merupakan tumor primer yang lebih sering mengadakan metastasis ke testis. Stadium Tumor Testis Dalam Purnomo (2003) disebutkan bahwa. penentuan T dilakukan setelah orkidektomi berdasarkan atas pemeriksaan histopatologik.Berbagai macam tumor kadang-kadang mengadakan metastasis ke testis. berdasarkan sistem klasifikasi TNM. yaitu : § Stadium A atau I : Untuk tumor testis yang masih terbatas pada testis.Stadium IIA (untuk pembesaran limfonodi para aorta yang belum teraba) . tetapi hasil metastasis tersebut biasanya ditemukan hanya secara kebetulan pada waktu melakukan autopsi dan sangat jarang memberikan kelainan klinis sebagai pembesaran testis.6. Stadium B atau II dibagi menjadi 2 : . § Stadium B atau II : Untuk tomur yang telah mengadakan penyebaran ke kelenjar regional (para aorta). Beberapa cara penentuan stadium klinis yang lebih sederhana dikemukakan oleh Boden dan Gibb. Tabel Stadium dan Tingkat Penyebaran Tumor Testis .Stadium IIB (untuk pembesaran limfonodi yang telah teraba > 10 cm) § Stadium C atau III : Untuk tumor yang telah menyebar keluar dari kelenjar retroperitoneum atau telah mengadakan metastasis supradiafragma. II.

Tunika albuginea merupakan barier yang sangat kuat bagi penjalaran tumor testis ke organ di sekitarnya. otak. Pertumbuhan dan Penyebaran Tumor Testis Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikuler yang akhirnya mengenai seluruh parenkim testis. Kecuali koriokarsinoma. Kelenjar limfe terletak paraaortal kiri setinggi L2 tepat di bawah hilus ginjal dan di sebelah kanan antara aorta dan vena Kava setinggi L3 dan prakava setinggi L2. kemudian menuju kelenjar limfe mediastinal dan supraklavikula. tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe menuju ke kelenjar limfe retroperitoneal (para aorta) sebagai stasiun pertama. hati. atau tulang II. sedangkan korio karsinoma menyebar secara hematogen ke paru. kelenjar negatif kelenjar limf retroperitoneal positif < 2 cm 2-5 cm > 5 cm kelenjar limf proksimal diafragma positif atau metastatis jauh seperti di paru.7. Sel-sel tumor kemudian menyebar ke rete testis. Klasifikasi TNM Penyebaran Karsinoma Testis T. Tis T1 T2 T3 T4 tumor primer pra-invasif (intratubular) testis dan retetestis di luar tunika albuginea atau epidimis funikulis spermatika skrotum N. epididimis. N0 N1 kelenjar limf tidak ditemukan keganasan tunggal < 2 cm . funikulus spermatikus. sehingga kerusakan tunika albuginea oleh invasi tumor membuka peluang sel-sel tumor untuk menyebar ke testis.Stadium I II IIA IIB IIC III TNM T1 N0 N+ N1 N2 N3 M+ Lokasi di dalam testis dan rete testis. Metastasis di kelenjar inguinal hanya terjadi setelah penyusupan tumor ke dalam kulit skrotum atau setelah dilakukan pembedahan pada funikulus spermatikus seperti pada hernia inguinalis lateralis yang menyebabkan gangguan aliran limfe di dalamnya. Penyebaran hematogen luas pada tahap dini merupakan tanda korio karsinoma. hepar dan otak. atau bahkan ke kulit skrotum.

menyebabkan perut menjadi kembung dan besar sekali. multiple < 5 cm tunggal atau multipel > 5 cm M. . Stasiun Pertama adalah Kelenjar Limfe pada Aorta II. Gambaran Klinis Gambaran khas tumor testis ialah benjolan di dalam skrotum yang tidak nyeri dan tidak diafan.8. Gejala dan tanda lain seperti nyeri pinggang. M0 M1 metastatis jauh tidak dapat ditemukan terdapat metastatis jauh Gambar Penjalaran Karsinoma Testis. dispnoe atau batuk. kadang tanpa nyeri pinggang.N2 N3 tunggal 2-5 cm. Metastatis di paru kadang tertabur luas dan cepat menjadi besar. Biasanya tumor terbatas di dalam testis sehingga mudah dibedakan dari epidimis pada palpasi yang dilakukan dengan telunjuk ibu jari. sehingga sesak nafas. Kadang keadaan umum merosot cepat dengan penurunan berat badan. Gonadotropin yang mungkin disekresi oleh sel tumor dapat menyebabkan ginekomasti. dan ginekomasti menunjukkan pada metastatis yang luas. kembung perut. Metastatis paraaorta sering luas dan besar sekali.

Pada pemeriksaan fisis testis terdsapat benjolan padat keras. dan 5% pasien mengeluh adanya ginekomastia. HCG (Human Chorionic Gonadotropin) adalah suatu glikoprotein yang pada keadaan normal diproduksi oleh jaringan trofoblas. Ginekomastia adalah manifestasi dari beredarnya kadar bHCG di dalam sirkulasi sistematik yang banyak terdapat pada koriokarsinoma. sehingga tidak dapat dipakai untuk menentukan penderajatan tumor testis. benjolan kelenjar supraklavikuler. Diperhatikan adanya infiltrasi tumor pada funikulus atau epididimis. Secara ringkas nilai penanda tumor pada berbagai macam jenis tumor dapat dilihat pada tabel. tetapi tidak diproduksi oleh koriokarsinoma murni dan seminoma murni. teratokarsinoma. benjolan pada kelenjar leher. Perlu dicari kemungkinan adanya massa di abdomen. Tabel Nilai Penanda Tumor pada Beberapa Jenis Tumor Testis Seminoma Non Chorio Ca FB HCG II. dan sebagai indikator prognosis tumor testis. Tidak jarang pasien mengeluh karena merasa ada masa di perut sebelah atas (10%) karena pembesaran kelenjar para aorta. sedang 10% mengeluh nyeri akut pada skrotum. penentuan stadium tumor. atau tumor yolk sac.9. 2. monitoring respons pengobatan. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Penanda Tumor Penanda tumor pada karsinoma testis germinal bermanfaat untuk membantu diagnosis. Namun 30% mengeluh nyeri dan terasa berat pada kantung skrotum. pada 40% . Berbeda halnya dengan ultrasonografi. dan 5% .10. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan ultrasonografi yang berpengalaman dapat membedakan dengan jelas lesi intra atau ekstratestikuler pada massa padat atau kistik. Penanda tumor yang palign sering diperiksa pada tumor testis adalah : 1. aFP (Alfa Feto Protein) adalah suatu glikoprotein yang diproduksi oleh karsinoma embrional. ataupun ginekomasti. tidak nyeri pada palpasi dan tidak menunjukkan tanda transimulasi. Namun ultrasonografi tidak dapat memperlihatkan tunika albuginea.Pasien biasanya mengeluh adanya pembedaran testis yang seringkali tidak nyeri. Penanda tumor ini meningkat pada semua pasien koriokarsinoma. Penanda tumor ini mempunyai masa paruh 5-7 hari. HCG mempunyai waktu paruh 24-36 jam. II. MRI dapat mengenali Non Seminoma Chorio Ca 40-70 % 25-60 % 100% .10% pasien seminoma murni.60% pasien karsinoma embrional.

Dari hasil pemeriksaan patologi dapat dikategorikan antara seminoma dan nonseminoma. Bila ternyata ganas. Untuk menentukan luas penyebaran limfogen biasanya dilakukan diseksi kelenjar limfe retroperitoneal secara trans abdome. alfafetoprotein (AFP). Pemakaian CT Scan berguna untuk menentukan ada tidaknya metastasis pada retroperitoneum. dan pemeriksaan endapan kemih sangat berguna untuk membedakan tumor dari kelainan lain.11. Sekali-kali tidak boleh diadakan biopsi langsung melalui kulit skrotum karena bahaya pencemaran luka bedah dengan sel tumor dengan implantasi lokal atau penyebaran ke regio inguinal.12. Jenis seminoma memberikan respon yang cukup baik terhadap radiasi sedangkan jenis non seminoma tidak sensitif. Pada non seminoma yang belum melewat stadium III dilakukan pembersihan kelenjar retroperitoneal atau retroperitoneal lymphnode disection (RPLND). II. Sayangnya pemeriksaan CT tidak mampu mendeteksi mikrometastasis pada kelenjar limfe retroperitoneal. yaitu operasi yang menuntut pengalaman khusus. epididimitis. dilakukan orkiektomi yang disusuli pemeriksaan luas untuk menentukan jenis tumor. Orkidektomi dilakukan melalui pendekatan inguinal setelah mengangkat testis dan funikulus spermatikus sampai anulus inguinalis internus. Pemeriksaan Histologi Setiap benjolan testis yang tidak menyurut dan hilang setelah pengobatan adekuat pada waktu dua minggu harus dicurigai dan dibiopsi. yaitu betahuman chorionic gonadotropin (beta-HCG). Diagnosis ditentukan dengan pemeriksaan histologik sediaan biopsi. Diagnosis dan Diagnosis Banding Diagnosis banding meliputi setiap benjolan di dalam skrotum yang berhubungan dengan testis seperti hidrokel. Tindakan diseksi kelenjar pada pembesaran aorta yang sangat besar didahului dengan pemberian sitostatika terlebih dahulu dengan harapan akan terjadi downstaging dan ukuran . atau cedera. Foto paru dibuat untuk diagnosis metastasis paru. Pemeriksaan pertanda tumor sangat berguna. Kadang tumor testis disertai hiderokel. bahan jaringan harus diambil dari orkidektomi. Diagnosis ditentukan dengan pemeriksaan histologik sediaan biopsi.tunika albuginea secara terperinci sehingga dapat dipakai untuk menentukan luas ekstensi tumor testis. derajat keganasan dan luasnya penyebaran. karena itu ultrasonografi sangat berguna. Penatalaksanaan Pada dugaan tumor testis tidak diperbolehkan melakukan biopsi testis. Oleh karena itu radiasi eksterna dipakai sebagai ajuvan terapi pada seminoma testis. karena itu untuk penegakkan diagnosis patologi anatomi. II. Biopsi atau pendekatan trans-skrotal tidak diperbolehkan. infark testis. Biopsi harus dilakukan dari testis yang didekati melalui sayatan inguinal.13. Transiluminasi. II. Testis diinspeksi dasn dibuat biopsi insisi setelah funikulus ditutup dengan jepitan klem untuk mencegah penyebaran limfogen atau hematogen. orkitis. karena ditakutkan akan membuka peluang sel-sel tumor mengadakan penyebaran. ultrasonografi. dan laktat dehidrogenase (LDH).

Vinblastin. pengelolaan biasanya berupa orkidektomi yang kemudian diikuti radioterapi profilakstik pada kelenjar limfe para-aorta. . Pengelolaan paling akhir yang sekarang telah diterima untuk seminoma dan teratoma ialah orkidemtomi diikuti pengawasan dengan menggunakan teknik imaging dan pertanda tumor dalam serum. Apabila penderita tetap hidup dalam jangka waktu dua tahun setelah pemberian lengkap kemoterapi tanpa adanya proses kekambuhan. dan peningkatan obat kemoterapi yang digunakan. Seminoma merupakan tumor yang radiosensitif yang mempunyai prognosis sangat baik. penderita dinyatakan telah sembuh. Di beberapa klinik diberikan kombinasi regimen PVB (Sisplatinum. Sampai saat ini. terdapat pada penderita tumor sel benih yang nonseminoma yang disebaban oleh tiga faktor.14. dan Bleomisin). Kekambuhan yang terjadi kemudian diobati dengan pemberian kemoterapi. Peningkatan utama. Diagram Penatalaksanaan Tumor Testis II. Akibatnya. Cara ini menghasilkan angka kesembuhan sebesar 90-95% pada seminoma. Sitostatika yang diberikan di berbagai klinik tidak sama. peningkatan teknik pemeriksaan pertanda tumor. sekarang ditemukan angka kesembuhan yang sama dengan angka kesembuhan pada seminoma. Prognosis Pada beberapa tahun terakhir ini terlihat adanya peningkatan yang nyata dari prognosis penderita tumor testis. yaitu perkembangan teknik imaging yang lebih cepat yang memperbaiki ketepatan penilaian stadium.tumor akan mengecil.

Piehl.. 1999. www. (Patologi umum dan sistemik. 2003. dkk). EJ. Ed: Price.J. Neoplasi (Patologi Umum dan Sistemik. Sagung Seto.com Coup. Ed. 2 Jakarta. Tumor Genitalia Pria. R. Ed. Ed. Underwood. Wilson. EGC. EGC. 2. (Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Ed: Reksoprodjo. 2. S. Robbins S. (Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Ed: Reksoprodjo. Ed.. S. Umbas. EGC Ed. Ed. Tumor Ganas dalam Bidang Urologi. Dasar-dasar Urologi. Sjamsuhidajat. Ed. Buku Ajar Patologi I. 1997..satumed. 2000. 2 Jakarta. Tumor/Onkologi. EGC. Ed : Sarjadi). B.M). S.DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2000. L.. 2 Jakarta. EGC. 2003. Tjidarbumi.. Bagian Bedah Staf Pengajar Universitas Indonesia. dkk). Jakarta. Jakarta. Ed. 2.. Kumar V. 2000. Bagian Bedah Staf Pengajar Universitas Indonesia. 2004. 2 Jakarta. . A. Gangguan Sistem Reproduksi Pria (Patofisiologi. R.. W. Buku Ajar Ilmu Bedah.. Ed. Sarjadi). 2000.B. Traktus Genitalia Pria. De Jong.A. 2 Jakarta. Purnomo.