Bahan Ajar – Statika – Mulyati, ST.

, MT 

   

Pertemuan XI, XII, XIII

VI. Konstruksi Rangka Batang

VI.1 Pendahuluan Salah satu sistem konstruksi ringan yang mempunyai kemampuan besar, yaitu berupa suatu Rangka Batang. Rangka batang merupakan suatu konstruksi yang terdiri dari sejumlah batang-batang yang disambung satu dengan yang lain pada kedua ujungnya, sehingga membentuk satu kesatuan struktur yang kokoh. Bentuk rangka batang dapat bermacam-macam sesuai dengan fungsi dan konstruksi, seperti konstruksi untuk jembatan, rangka untuk atap, serta menara, dan sesuai pula dengan bahan yang digunakan, seperti baja atau kayu. Pada konstruksi berat, batang konstruksi dibuat dari bahan baja, yakni batang baja yang disebut baja profil, seperti baja siku, baja kanal, baja C, baja I, dan baja profil lainnya. Rangka konstruksi berat yang dimaksud di atas adalah jembatan, rangka bangunan pabrik, menara yang tinggi dan sebagainya. Banyak pula dijumpai konstruksi rangka batang yang dibuat dari bahan kayu, baik berupa balok maupun papan. terlindung. Batang-batang pada konstruksi rangka baja biasanya disambung satu dengan yang lain dengan menggunakan las, paku keling atau baut. Sedangkan pada konstruksi rangka kayu lazimnya sambungan itu dilakukan dengan baut atau paku. Sambungan-sambungan ini disebut simpul. Berdasarkan anggapan tersebut, maka batang-batang pada rangka batang bersifat seperti tumpuan pendel, sehingga padanya hanya timbul gaya aksial saja. Hal itu akan terjadi apabila gaya-gaya itu menangkap pada simpul. Dengan demikian suatu konstruksi rangka batang jika dibebani gaya pada simpul akan hanya mengalami Gaya Normal, yang selanjutnya disebut Gaya Batang. Gaya batang ini bersifat tarik atau desak.
VI‐1   

Konstruksi rangka kayu ini banyak

dimanfaatkan untuk kuda-kuda rangka atap, atau konstruksi yang

Bahan Ajar – Statika – Mulyati, ST., MT 

   

Bentuk rangka batang sederhana yang paling stabil adalah segi tiga. Satu atau dua batang tidak dapat membentuk rangka. Sebaliknya bentuk segi empat atau lebih tidak dapat membentuk rangka batang yang stabil dan kaku. Rangka batang yang labil itu akan menjadi kaku bila ditambahkan diagonal, seperti diperlihatkan pada Gambar 6.1.

( a)

(b) Gambar 6.1 Rangka Batang Stabil

(c)

Rangka batang pada Gambar 6.1a stabil, dan pada Gambar 6.1b tidak stabil, akan stabil bila diberi satu batang diagonal, sedangkan pada Gambar 6.1c tidak stabil, akan stabil bila diberi dua batang diagonal. Adapun rangka batang yang akan dibahas berupa rangka yang tersusun dari rangka segi tiga. Berbagai bentuk rangka batang dapat dilihat pada Gambar 6.2.

Gambar 6.2a Rangka Sederhana

Gambar 6.2b Rangka Pelengkung

VI‐2   

2e Rangka Untuk Atap VI‐3    . ST. MT      Gambar 6..Bahan Ajar – Statika – Mulyati.2c Rangka Portal Partt Howe Warren Rangka K Baltimore Gambar 6.2d Rangka Batang Untuk Jembatan Fink Warren Gambar 6.

dan gayagaya dalamnya sesuai dengan pengertian portal tiga sendi. yaitu rangka batang yang memenuhi syarat berikut : 1.3 Portal Tiga Sendi. Rangka batang merupakan rangka batang statis tertentu. apabila dibebani muatan titik pada sendi S. baik ditinjau dari keseimbangan gaya luar maupun dari keseimbangan gaya dalam. maka pada struktur itu hanya terdapat gaya aksial pada batang AS dan BS. ST. yaitu berupa reaksi vertikal saja.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. S S A B A B Gambar 6. Sumbu batang berimpit dengan garis dengan garis penghubung antara kedua ujung sendi.. 4. Titik sambungan disebut titik simpul atau simpul. maka reaksinya dapat dicari seperti reaksi pada perletakan. Muatan yang bekerja pada rangka batang harus menangkap pada simpul.2 Pengertian Rangka Batang Suatu struktur portal tiga sendi. 2. sebagaimana terlihat pada Gambar 6. MT      VI. Garis yang menghubungkan semua simpul pada konstruksi rangka disebut garis sistem. Struktur semacam ini disebut Rangka Batang. sedangkan pada batang AB terdapat gaya aksial tarik.3. 3. VI‐4    . Garis sistem dan gaya luar harus terletak dalam satu bidang datar.m yang gaya dalamnya hanya berupa Gaya Aksial saja. Bila Perletakan Diganti Rangka batang yang akan dibahas adalah rangka batang sederhana.

9. Bila 2s – m – r < 0. 16. K. yaitu batang-batang 14. rangka batang merupakan rangka tidak kaku. H. 20. 12. yaitu A. (b) Batang tepi bawah. Untuk menghitung (m + r) besaran ini diperlukan (m + r) persamaan. B.. 5. 19. 2. rangka batang merupakan rangka statis tak tentu. 10. Dengan demikian suatu konstruksi rangka batang statis tertentu harus memenuhi syarat 2s = (m + r) atau 2s – m – r = 0. ST. (d) Batang pengisi tegak yang disebut batang tegak.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. C. E. D. 4. VI‐5    . dan L. I. 11. yang dirinci sebagai berikut : (a) Batang tepi atas. Memeriksa kekakuan rangka atau kestabilan konstruksi 2.4 Rangka Batang Sederhana Batang-batang pada rangka batang di atas . yaitu batang-batang 13. Salah satu bentuk rangka batang sederhana diperlihatkan pada Gambar 6. G. akan mendapatkan sejumlah (m + r) besaran yang tidak diketahui. yaitu batang-batang 7. Menghitung keseimbangan gaya luar. D 1 A 12 13 E 2 14 11 G 15 16 F 10 3 H 17 I 4 18 9 K 19 J 5 C 6  20 21 8 L 7 B Gambar 6.4. Untuk s simpul menghasilkan 2s persamaan. 8. 18. merupakan syarat kekakuan suatu rangka batang statis tertentu (kestabilan konstruksi). atau reaksi perletakan 3. 17. Rangka batang terdiri dari m batang dan sejumlah r reaksi perletakan. MT      Dari persyaratan tersebut di atas. 15. atau gaya-gaya batang. (c) Batang pengisi diagonal yang disebut batang diagonal. J. 3. Sedangkan simpul pada rangka. yaitu : 1. jadi rangka batang sederhana adalah suatu rangka batang yang tersusun dari segitiga-segitiga batang. 6. F.3 Analisa Struktur Analisa rangka batang sederhana terdiri dari tiga tahap. Bila 2s – m – r > 0. 21. yaitu batang-batang 1. VI. dapat dibagi menjadi batang tepi dan batang pengisi. Menghitung keseimbangan gaya dalam.

VI. Keseimbangan titik. keseluruhan konstruksi serta titik simpul harus dalam keadaan seimbang. dan bila batang tekan arahnya menuju simpul. yakni : 1. Hal ini hanya mungkin bila gaya dalam berupa gaya aksial yang bekerja sepanjang sumbu batang yang disebut gaya batang.3. dan ∑M = 0.. Jika tiap-tiap simpul dalam keadaan seimbang dan gaya-gaya juga menangkap pada simpul. maka seluruh atau sebagian konstruksi harus dalam keadaan seimbang yang memenuhi syarat keseimbangan ∑V = 0. ST. Gaya-gaya batang yang sudah diketahui. maka pada tiap-tiap simpul yang akan dicari gaya batangnya harus hanya 2 (dua) atau 1 (satu) batang yang belum diketahui dan dianggap sebagai batang tarik (meninggalkan simpul). ∑H = 0. maka seluruh simpul harus dalam keadaan seimbang.1 Metode Keseimbangan Titik Simpul Cara Analitis (metode of joint) Pada suatu konstruksi rangka. memperlihatkan bahwa bila konstruksi dalam keadaan seimbang. maka seluruh simpul harus dalam keadaan seimbang yang harus memenuhi syarat keseimbangan ∑V = 0 dan ∑H = 0. Gaya luar dan gaya batang berpotongan di titik simpul. 2.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. Untuk menghitung gaya batang suatu rangka dapat ditinjau dari dua pendekatan. MT      Apabila konstruksi dalam keadaan seimbang. maka gaya luar dan gaya dalam pada simpul merupakan gaya-gaya yang seimbang. gaya batang dapat dihitung dengan cara analitis dan grafis. Selanjutnya kedua pendekatan tersebut. Dari dua persamaan di atas. dan gaya dalam (gaya batang) yang timbul di titik itu. bila batang tarik arahnya meninggalkan simpul. dan tiap simpul harus dipisahkan satu sama lain. maka untuk menghitung gaya-gaya yang belum diketahui digunakan persamaan ∑V = 0 dan ∑H = 0. Tiap-tiap titik simpul dalam keadaan seimbang akibat gaya luar yang bekerja pada simpul itu. Keseimbangan bagian. Jadi VI‐6    . memperlihatkan bahwa bila konstruksi dalam keadaan seimbang.

1b) Untuk menentukan gaya-gaya batang. m = 5.. yaitu gaya batang 1 dan 4 yang dimisalkan b1 dan b4.. ...4 – 5 – 3 = 0... akan dicari gaya-gaya batangnya..L + 2 P....... Begitu juga reaksi perletakan. s = 4.. Sebagai contoh konstruksi rangka batang kuda-kuda seperti pada Gambar 6.. . maka diperoleh : 2. 6.L / 2 = 0 → V B = P ……….. 2 d ) b4 = − b1 = − b 4 cos α = − ( − 2 P ) cos 30 o = 1.. .... MT      tiap-tiap titik simpul dapat dicari keseimbangannya satu demi satu. ST. maka kedua batangnya dianggap tarik dengan arah meninggalkan simpul A.. b4 A VA α b1 ΣV = 0 V A + b 4 sin α = 0 .L + 2 P...5 Rangka Batang Kuda-Kuda Terlebih dahulu tentukan kestabilan konstruksi. 6..... dimana diketahui. ΣM B = 0 → V A ....L / 2 = 0 → V A = P ΣM A = 0 → −V B ... ada gaya reaksi VA sudah diketahui yang arahnya menuju simpul. .1a) ………... 2 c ) VA P = − = −2 P sin α sin 30 o   ΣH = 0 b1 + b 4 cos α = 0 ... diawali dengan meninjau simpul A. r = 3 (sendi 2 bilangan reaksi + rol 1 bilangan reaksi). 4 A VA 30o 1 L/2 D 5 C 3 30o 2 L/2 B VB 2P Gambar 6.. dengan menggunakan persamaan : 2s – m – r = 0... dan ada dua batang yang gaya batangnya belum diketahui..5. tentukan secara analitis dengan menggunakan keseimbangan momen pada salah satu titik tumpuan.. sehingga seluruh konstruksi dapat diketahui gaya-gaya batangnya. 7 P VI‐7    ..... 6 ... 6 ..Bahan Ajar – Statika – Mulyati. jadi konstruksi stabil..

. keduanya mempunyai arah meninggalkan simpul.6..7 P   b1 2P Tanda b5 dan b2 adalah positif... b5 C                                                         ΣV = 0 b2 − 2 P + b5 = 0..... .....6.2 g ) − b5 + b4 sin α sin α − (2 P) + (2 P) sin 30 o b3 = = −2 P sin 30 o ΣH = 0 b3 = b4 cosα + b3 cosα = 0... ST.2h) (2 P) cos 30 o + (−2 P) cos 300 = 0   VI‐8    . maka batangnya dianggap tarik dengan arah meninggalkan simpul D.. berarti batang tekan (menuju simpul)... dengan arah b5 meninggalkan simpul dan b4 menuju simpul.6. ..... berarti batang tarik (meninggalkan simpul). D b3 b4 b5 ΣV = 0 − b5 + b4 sin α − b3 sin α = 0... MT      Tanda b4 adalah negatif. maka kedua batangnya dianggap tarik dengan arah meninggalkan simpul C. .... dan ada satu batang yang gaya batangnya belum diketahui.2e) b5 = 2 P ΣH = 0 − b1 + b2 = 0.... .6... Selanjutnya tinjau simpul D.. dan tanda b1 adalah positif.......2 f ) b2 = b1 = 1.... ada gaya 2P dan gaya batang b1 sudah diketahui.... yaitu gaya batang 3 yang dimisalkan b3. dan ada dua batang yang gaya batangnya belum diketahui. berarti batang tarik (meninggalkan simpul)........Bahan Ajar – Statika – Mulyati.... yaitu gaya batang 5 dan 2 yang dimisalkan b5 dan b2. ada gaya batang b5 dan b4 sudah diketahui. Setelah itu tinjau simpul C......

.... dan gaya batang b3 arahnya menuju simpul.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. ST.. Cremona adalah orang yang pertama kali menguraikan diagram tersebut..... MT      Tanda b3 adalah negatif...2i) P − (2 P) sin 30 o = 0 ΣH = 0 − b2 + b3 cosα = 0.. tiap-tiap gaya dilukiskan 2 (dua) kali VI‐9    .7P 2P 2P 2P - VI. gaya batang b2 arahnya meninggalkan simpul..6.. berarti batang tekan (menuju simpul)..7P 1.1..7 P) + (2 P) cos 30 o = 0     VB Dari persamaan keseimbangan gaya vertikal dan horisontal.1 Daftar Gaya-Gaya Batang Contoh Rangka Batang Kuda-Kuda No Batang b1 b2 b3 b4 b5 Gaya-Gaya Batang (satuan gaya) Tarik (+) Tekan (-) 1. Setelah semua titik keseimbangan ditinjau dapat diringkaskan besarnya gaya batang seluruh rangka seperti terlihat dalam Tabel 6. Tabel 6... ada gaya reaksi VB yang arahnya menuju simpul.3. Semua batang gaya batangnya sudah diketahui... pada metode keseimbangan titik simpul.6. maka terjadilah diagram Cremona.... namun untuk membuktikan keseimbangan pada semua titik simpul. Pada diagram Cremona.. b3 b2 α B ΣV = 0 VB − b3 sin α = 0.. perlu ditinjau simpul B. terbukti bahwa gaya-gaya batang pada simpul B sudah seimbang.... secara grafis disusun menjadi satu.2 Metode Keseimbangan Titik Simpul Cara Grafis (metode Cremona) Bila gambar-gambar segi banyak pada tiap-tiap titik simpul...2 j ) − (1.....

dimana diketahui. maka untuk mencari gaya-gaya batang seluruh batang dengan menggunakan metode keseimbangan titik simpul cara grafis juga menempuh pendekatan yang sama dengan analitis. s = 5. Apabila rangka batang yang ditinjau misalkan berupa rangka batang jembatan seperti pada Gambar 6. seperti pada Gambar 6. m = 7.6 Rangka Batang Jembatan Sederhana Terlebih dahulu tentukan kestabilan konstruksi. maka akan diperoleh gaya batang tarik bertanda positif bila anak panah meninggalkan simpul.7. Selanjutnya dengan melakukan operasi cara grafis pada tiap-tiap titik simpul yang dimulai dari simpul yang hanya mempunyai dua batang yang belum diketahui gaya batangnya. Peninjauan keseimbangan gaya batang pada tiap-tiap simpul dengan penggambaran segi banyak gaya. jadi konstruksi stabil. r = 3 (sendi 2 bilangan reaksi + rol 1 bilangan reaksi).6. maka digambarkan dulu reaksi perletakannya dengan bantuan lukisan kutub.. D 1 o A 45 2 C 3 45o B VB 6 5 L/2 P E 7 4 L/2 VA Gambar 6. maka diperoleh : 2. ST. MT      yang berlawanan arahnya. dan sebaliknya gaya batang tekan betanda negatif bila anak panah menuju simpul. maka dapat dicari besarnya gaya batang seluruh konstruksi. dengan menggunakan persamaan : 2s – m – r = 0.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. Untuk melukiskan diagram Cremona. Arah putaran dari diagram Cremona dapat sesuai VI‐10    . yakni dimulai dari suatu titik simpul yang hanya mempunyai dua batang yang belum diketahui gaya batangnya.5 – 7 – 3 = 0.

Bahan Ajar – Statika – Mulyati.. Keseimbangan titik simpul A. ada gaya reaksi VA sudah diketahui. ST. secara grafis untuk arah putaran diagram Cremona berlawanan arah jarum jam. digambarkan sebagai berikut : +b5 VA -b1 a) Keseimbangan Titik Simpul A VI‐11    .7 Lukisan kutub Reaksi Perletakan Contoh Rangka Jembatan Tinjau simpul A. D 1 o A 45 2 C 3 45o B VA VB VB r2 6 5 L/2 P E 7 4 L/2 r1 VA Gambar 6. Untuk menentukan besarnya nilai gaya-gaya batang perlu penetapan skala gaya. MT      dengan arah jarum jam atau sebaliknya. dan ada dua batang yang gaya batangnya belum diketahui. yaitu gaya batang 1 dan 5 yang dimisalkan b1 dan b5.

digambarkan sebagai berikut : -b1 +b6 -b2 b) Keseimbangan Titik Simpul D Gaya batang b6 meninggalkan simpul. bertanda positif. berarti batang tekan. berarti batang tarik. berarti batang tarik. ST. ada gaya P. secara grafis untuk arah putaran diagram Cremona berlawanan arah jarum jam.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. gaya batang b1 sudah diketahui bertanda negatif. batang b5 dan b6 sudah diketahui bertanda positif. bertanda negatif. Keseimbangan titik simpul E. yaitu gaya batang 4 dan 7 yang dimisalkan b4 dan b7. dan ada dua batang yang gaya batangnya belum diketahui. berarti batang tekan.. dan gaya batang b2 menuju simpul. dan gaya batang b1 menuju simpul. Selanjutnya tinjau simpul E. digambarkan sebagai berikut : +b5 +b6 2P +b7 +b4 c) Keseimbangan Titik Simpul E VI‐12    . Keseimbangan titik simpul D. Setelah itu tinjau simpul D. dan ada dua batang yang gaya batangnya belum diketahui. MT      Gaya batang b5 meninggalkan simpul. bertanda positif. yaitu gaya batang 6 dan 2 yang dimisalkan b6 dan b2. secara grafis untuk arah putaran diagram Cremona berlawanan arah jarum jam. bertanda negatif.

 ST. seperti Gambar 6. MT      Gaya batang b4 dan b7 meninggalkan simpul. gaya batang b3 bertanda negatif dan gaya batang b4 bertanda positif sudah diketahui. Keseimbangan titik simpul C. ada gaya reaksi VB. keduanya sudah diketahui. dapat dilihat adanya komponen-komponen yang dikerjakan dua kali. yaitu gaya batang 3 yang dimisalkan b3. Keseimbangan Titik Simpul C Gaya batang b3 menuju simpul. berarti batang tekan. Untuk menyederhanakan diagram-diagram tersebut dapat dirangkumkan dalam satu diagram. perlu ditinjau simpul B. Untuk membuktikan keseimbangan pada semua titik simpul. Tinjau simpul C.Bahan Ajar – Statika – Mulyati.8. VB -b3 +b4 d). VI‐13    . bertanda negatif. ada gaya batang b2 bertanda negatif dan b7 bertanda positif. ada satu batang yang gaya batangnya belum diketahui. Keseimbangan Titik Simpul B Dari diagram Cremona tiap-tiap titik simpul. bertanda positif. digambarkan sebagai berikut : -b3 +b7 -b2 c). secara grafis untuk arah putaran diagram Cremona berlawanan arah jarum jam.. berarti keduanya batang tarik.

maka gaya-gaya pada potongan tersebut mengadakan keseimbangan dengan gaya-gaya luar yang bekerja pada kiri potongan maupun kanan potongan. Kita harus memotong dua batang atau tiga batang.3. MT      +b5 +b6 VA \ VB -b1 -b2 -b3 +b7 +b4 Gambar 6.6P 0. Selanjutnya dapat dihitung gaya-gaya batang yang terpotong tersebut. Sebagai contoh rangka batang jembatan pada Gambar 6.8 Diagram Cremona Setelah semua titik keseimbangan ditinjau dapat diringkaskan besarnya gaya batang seluruh rangka seperti terlihat dalam Tabel 6.2 Daftar Gaya-Gaya Batang Contoh Rangka Batang Jembatan No Batang b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 Gaya-Gaya Batang (satuan gaya) Tarik (+) Tekan (-) 0.4P 0.6P 0.9.6P 0.6P - VI.Bahan Ajar – Statika – Mulyati.4P 0.3 Metode Keseimbangan Bagian Cara Analitis (metode Ritter) Seringkali dalam menghitung gaya batang diperlukan waktu yang lebih singkat terutama bagi konstruksi yang seirama.. yang disebut juga dengan metode pemotongan secara analitis. VI‐14    .2. Tabel 6. untuk itu dapat digunakan metode Ritter.6P 0. ST.

jadi untuk 2s – m – r = 0 adalah 2. dengan menggunakan keseimbangan momen pada salah satu titik tumpuan.Bahan Ajar – Statika – Mulyati.8 – 13 – 3 = 0. dan r = 3. m = 13. dimana diketahui s = 8. berarti konstruksi stabil. Kemudian tentukan reaksi perletakan dengan cara analitis.9 Rangka batang jembatan dengan pemotongan Dalam menentukan gaya-gaya batang konstruksi rangka jembatan di atas dengan menggunakan metode Ritter. maka terlebih dahulu periksa kestabilan konstruksi. ST. b2 VI‐15    .. MT      P E 8 A VA α 1 ¼L F 2P I 7 D P 6 11 P C 5 α B VB t 9 10 12 13 I 2 ¼L G 3 ¼L H 4 ¼L a) Rangka Batang Jembatan P E b7 b10 t A VA α F 2P b) Potongan I-I Gambar 6.

........6. b7....3a ) VA = 3PL = 3P L ΣM A = 0 → −V B ... Hal ini hanya mungkin bila syarat persamaan statik tertentu terpenuhi.......3e) b7 = −b2 − b10 cos α VI‐16    ..L − P.3c) b2 = V A ......6. ST..3b) 2 PL = 2P L VB = Bila konstruksi dalam keadaan stabil atau seimbang..... b7.. yaitu : ΣH = 0 → b2 + b7 + b10 cos α = 0........1 / 4 L + 2 P................... konstruksi tersebut dipotong oleh sebuah garis khayal melalui batang 2...............................Bahan Ajar – Statika – Mulyati. maka untuk menjaga keseimbangan bagian kiri haruslah ada gaya batang b2........3 / 4 L − 2 P.. MT      ΣM B = 0 → V A .....6.. Dengan tiga persamaan itu gaya batang b2................... dan ∑M = 0...1 / 4 L = 0... yaitu : ΣM E = 0 → V A . yaitu pertemuan batang b7 dan b10 pada potongan I – I ... dan b10 yang mengimbangi gaya luar P dan VA......... Hitungan di atas dapat terpenuhi dengan menggunakan persamaan momen dan persamaan gaya vertikal serta gaya horisontal terhadap titik E. yaitu : ΣV = 0 → V A − P − 2 P − b10 sin α = 0.................. Pada konstruksi rangka batang di atas......1 / 2 L + P3 / 4 L = 0..............3d ) b10 = V A − P − 2P sin α Untuk mendapatkan b7.... ∑H = 0... Untuk mendapatkan b2. 7.1 / 4 L + P..1 / 2 L − P..1 / 4 L − b2 t = 0.....6.. maka sebagian konstruksi juga harus dalam keadaan seimbang..L + P... dan 10... dan b10 dapat dicari. Oleh karena itu gaya-gaya tersebut hanya akan seimbang bila memenuhi syarat : keseimbangan ∑V = 0..1 / 4 L t Untuk mendapatkan b10.6.3 / 4 L − P..

3.4 Metode Keseimbangan Bagian Cara Grafis (metode Culmann) Metode Culmann disebut juga metode pemotongan secara grafis. MT      VI. Untuk mencari gaya batang pada suatu rangka batang.. Cara ini baik sekali untuk menentukan beberapa batang saja dari suatu konstruksi rangka.10 Gaya Batang Dengan Cara Culmann VI‐17    . tidak mungkin semuanya mudah.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. mengingat tidak ada sebuah titik sendi yang mempunyai dua gaya batang yang belum diketahui. ST. sehingga tidak dapat diselesaikan secara grafis dengan Cremona. tentu dapat diselesaikan dengan cara Culmann. Semua titik sendi mengikat sekurang-kurangnya tiga batang. D 1 b8 b2 R b5 VA A 6 L/3 E P I 2 8 C 3 9 7 5 P L/3 F 4 L/3 B VB Ra G r1  r2  VA P1 R VB r1 r2 r2 Lukisan kutub P  r3  P2 `Gambar 6.

m = 9. ST. dengan menggunakan persamaan : 2s – m – r = 0. Tentukan gaya-gaya batang dari rangka batang di bawah ini dengan metode keseimbangan titik simpul cara analitis (metode of joint). Selanjutnya digambarkan reaksi perletakannya dengan bantuan lukisan kutub. jadi konstruksi stabil. dimana diketahui.10 dipotong oleh garis khayal I – I menjadi rangka bagian kiri dan rangka bagian kanan. Andaikan rangka batang pada Gambar 6. D 1 A VA 45o 6 3m E P = 3 kN 5 7 2 8 9 C 3 45o 4 F P = 6 kN 3m 3m B VB Gambar 6.. r = 3 (sendi 2 bilangan reaksi + rol 1 bilangan reaksi).5 dan 8 yang bekerja pada konstruksi bagian kiri akan mengimbangi gaya luar VA dan P1. MT      Untuk menentukan gaya-gaya batang pada rangka batang Gambar 6. Dengan demikian ketiga batang tersebut dapat dicari gaya batangnya dengan keseimbangan bagian cara grafis. Resultan gaya luar Ra dapat dicari dengan memanfaatkan lukisan segi banyak batang. maka gaya batang 2. Selanjutnya R harus mengimbangi atau diuraikan menjadi gaya b2.6 – 9 – 3 = 0. Besarnya R adalah selisih VA dan P1 yang dapat dibaca pada lukisan segi banyak gaya.11 Rangka Batang Dengan Metode of Joint VI‐18    .4 Contoh-Contoh Soal dan Pembahasan Soal 1. Oleh karena itu gaya-gaya tersebut akan saling mengimbangi bila resultan gaya dalam menutup resultan gaya luar pada lukisan segi banyak gayanya maupun pada segi banyak batangnya. yaitu menarik urai r2 dengan gaya penutup P yang bertemu di titik G. s = 6. terlebih dahulu tentukan kestabilan konstruksi.10. IV. Untuk menentukan besarnya nilai gaya-gaya batang perlu penetapan skala gaya. b5 dan b8. maka diperoleh : 2.Bahan Ajar – Statika – Mulyati.

 MT      Penyelesaian : • Kestabilan konstruksi : 2...( tekan ) sin 45 VA = 4 kN Σ H = 0 → b 6 + b 1 cos α = 0 b 6 = 5 ..( tekan ) sin 45 Σ H = 0 → − b 6 + b 8 cos α + b 5 = 0 b 5 = 4 + (1 .3 = 0 → V A = • Gaya-gaya batang : Keseimbangan titik A b1 A 45o Σ V = 0 → V A + b 1 sin α = 0 b1 = − b6 4 = − 5 .. kN ...( tarik ) Keseimbangan titik D D b2 Σ V = 0 → b 1 sin α − b 7 = 0 b 7 = 5 . 66 ..6 = 0 → V B = = 5.. kN . 66 cos 45 = − 4 . kN .kN (↑ ) 9 9 + 36 ΣM A = 0 → −V B .66 kN b 7 Keseimbangan titik E b7 = 4 kN b8 b6 = 4 kN E 45o b5 Σ V = 0 → − P + b 7 + b 8 sin α = 0 b8 = 3− 4 = − 1 . • Reaksi perletakan : 18 + 18 = 4. kN .6 – 9 – 3 = 0 konstruksi stabil..kN (↑ ) 9 Σ M B = 0 → V A .3 + 6. kN .9 + 3..6 − 6 .. 66 sin 45 = 4 .. kN .( tekan ) b1 = 5.. 66 cos 45 = 4 . 414 ..9 − 3 .( tarik ) Σ H = 0 → b 1 cos α + b 2 = 0 b 2 = − 5 .Bahan Ajar – Statika – Mulyati. ST.( tarik ) P = 3 kN VI‐19    . 414 cos 45 ) = 5 .

kN .( tarik ) P = 6 kN Keseimbangan titik C b2 = 4 kN 45 o C Σ V = 0 → − b 9 + b 8 sin α − b 3 sin α = 0 b8 = 1. 07 .( tarik ) b5 = 5 kN F b4 Σ H = 0 → − b5 + b4 = 0 b 4 = 5 . ST.. 414 sin 45 = − 7 ...( tekan ) sin 45 ΣH = 0 → b 8 cos α + b 2 + b 3 cos α = 0 → 1 . kN ..Bahan Ajar – Statika – Mulyati. kN .... MT      Keseimbangan titik F b9 Σ V = 0 → − P + b9 = 0 b 9 = 6 .414 kN b9 = 6 kN b3 b3 = − 6 + 1 .... 414 cos 45 + 4 + ( − 5 ) cos 45 = 0 Keseimbangan titik B b3 = 7 kN Σ V = 0 → V B − b 3 sin α = 0 → 5 − 7 sin 45 = 0 . oke VB = 5 kN 45 b4 = 5 kN o VI‐20    . oke B Σ H = 0 → − b 4 + b 3 cos α = 0 → − 5 + 7 cos 45 = 0 ..

. D 1 o A 45 2 8 C 3 45o B VB VB r3 7 9 VA 5 4 E F P = 3 kN P = 6 kN 3m 3m 3m 6 VA r2 r1 Gambar 6. MT      Tabel 6. Tentukan gaya-gaya batang dari rangka batang di bawah ini dengan metode keseimbangan titik simpul cara grafis (metode Cremona).414 4 Soal 2. ST.Bahan Ajar – Statika – Mulyati.66 4 7. sama dengan penyelesaian soal 1. VI‐21    .12 Reaksi Perletakan Dengan Lukisan Kutub Penyelesaian : • Kestabilan konstruksi.07 5 5 4 4 1.3 Daftar Gaya-Gaya Batang Metode Keseimbangan Titik Simpul Cara Analitis No Batang b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b8 b9 Gaya-Gaya Batang (kN) Tarik (+) Tekan (-) 5.

4 4 Soal 3. dan skala panjang: 1 m = 1 cm.13 Diagram Cremona Untuk skala gaya : 1 kN = 1 cm.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. maka diperoleh gaya-gaya batang seperti pada Tabel 6.4.3 Daftar Gaya-Gaya Batang Metode Keseimbangan Titik Simpul Cara Grafis No Batang b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b8 b9 Gaya-Gaya Batang (kN) Tarik (+) Tekan (-) 5..6 4 7 5 5 4 4 1. Tabel 6. ST. Tentukan gaya-gaya batang dari rangka batang di bawah ini dengan metode keseimbangan bagian cara analitis (metode Ritter). MT      • Gaya-gaya batang dengan metode Cremona : +b6 VA P1 VB -b2 -b1 +b7 +b5 -b8 -b3 +b9 P2 +b4 Gambar 6. VI‐22    .

6 − 4 . ST.3 − b 7 . kN VI‐23    . kN .3 = 0 4 .6 − b 6 .3 = 0 4 .( tekan ) 3 = 0 → V A ..3 = − 4 .( tarik ) 3 atau Σ V = 0 → V A − b7 = 0 b 7 = 4 .. kN . dan 7 dengan menggunakan persamaan : ΣM E = 0 → V A . kN .. 6.( tarik ) 3 b2 = − ΣM b6 = ΣM b7 = D C = 0 → V A .3 + b 2 .Bahan Ajar – Statika – Mulyati.3 = 4 ..14 Rangka Batang Dengan Metode Ritter Penyelesaian : • Kestabilan konstruksi dan reaksi perletakan. sama dengan penyelesaian soal 1.. MT      D 1 7 A VA 45o I 6 3m E II P = 3 kN 8 I 2 C II 3 3m B VB 9 5 3m F P = 6 kN d 4 45o 3m Gambar 6. • Gaya-gaya batang dengan metode Ritter : Pada potongan I – I dapat dicari gaya batang 2.3 = 0 4 .3 = 4 .3 − b 6 ...

( tarik ) 3 b3 = − ΣM b5 = ΣM b9 = - C B = 0 → V A . kN . MT      - Pada potongan II – II dapat dicari gaya batang 3. 414 . yaitu potongan yang diduga merupakan batang yang menderita gaya aksial yang paling besar..d = 0 (1 .Bahan Ajar – Statika – Mulyati. kN .( tekan ) 2 . D 1 A 45o 6 3m 7 2 8 9 C 3 45o 5 4 E F P = 3 kN P = 6 kN 3m 3m B VB Gambar 6. ST.. kN ..12 = 0 → V A . 5 2 + 1 .15 Rangka Batang Dengan Cara Culmann VI‐24    . 075 .. 3 = 0 4 . 3 − b 5 .9 − 3 . 6 − P1 .3 = − 7 . dan 9 dengan menggunakan persamaan : ΣM d = F = 0 → V B . Soal 2. sin α = 0 b8 = − 4 + 3 = − 1 .. 3 + b 3 .6 − 3 .( tekan ) sin 45 Cara Ritter cocok untuk menghitung gaya batang pada potongan tertentu saja. 6 − b 9 . 9 − P1 . 5 2 = 2 .. Tentukan gaya-gaya batang dari rangka batang di bawah ini dengan metode keseimbangan bagian cara grafis (metode Culmann)...( tarik ) 3 Gaya batang 8. 3 = 0 4 .3 = 5 .6 = 6 . 5.12 m 5 . kN .. dicari dengan menggunakan persamaan : Σ V = 0 → V A − P1 + b 8 .

• Gaya-gaya batang D 1 b8 b2 R b5 VA A 6 3m E 2 8 7 9 5 3m 4 B VB C 3 3t I F 6 t 3m Ra G P  r1  r2  VA P1 R VB r1 r2 r2 r3  P2 Gambar 6. untuk skala gaya : 1 kN = 1 cm.16 Metode Keseimbangan Bagian Cara Grafis Cara Culmann ini hanya digunakan untuk mencari gaya batang pada potongan tertentu saja. dan 8.. ST.4 kN (tekan). dari cara grafis di atas. sama dengan penyelesaian soal 2.Bahan Ajar – Statika – Mulyati. sama dengan penyelesaian soal 1. MT      Penyelesaian : • Kestabilan konstruksi dan reaksi perletakan. dan skala panjang: 1 m = 1 cm adalah b1 = -4 kN (tekan). dan b8 = -1. • Reaksi perletakan dengan bantuan lukisa kutub. Besarnya gaya batang 2. b5 = 5 kN (tarik). 5. VI‐25    .