BAB I PENDAHULUAN Obat-obat ototoksis adalah obat-obat atau bahan kimia yang merusak telinga dalam

atau nervus vestibulo-koklea yang mengirimkan informasi keseimbangan dan pendengaran dari telinga dalam ke otak. Ototoksisitas dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan atau keseimbangan baik bersifat sementara ataupun permanen. Obat-obat yang dapat menyebabkan ketulian contohnya ialah golongan aminoglikosida, beberapa obat antimalaria atau anti -rematik, tuberkulostatik, anti kanker dan sebagainya. Obat-obat tersebut di atas hendaknya diberikan hati-hati pada penderita dewasa, anak-anak, pada bayi, bahkan juga pada ibu hamil yang dapat mengakibatkan efek teratogenik. Gejala mula-mula ialah timbulnya tinitus atau kadang-kadang disertai dengan gangguan keseimbangan, sehingga bila obat diteruskan pemberiannya akan mengakibatkan ketulian. Sifat ketulian tersebut dapat reversibel atau irreversibel bila pemberian obat dihentikan Pada abad ke ! "ina, Salisilat dan Oleum chenopodium telah diketahui dapat menimbulkan tinnitus, kurang pendengaran dan gangguan vestibuler # Schwabach 1889, North1880$. Pada tahun !!% Werner melakukan tinjauan pustaka yang terdahulu dan menerangkan efek ototoksik dari berbagai macam &at termasuk arsen , etil dan metil alcohol, nikotin, toksin bakteri dan senyawa-senyawa logam berat. 'engan ditemukannya antibiotika sterptomisin, kemoterapi pertama yang efektif terhadap kuman tuberkulosis, menjadi kenyataan juga terjadinya penyebab gangguan pendengaran dan vestibuler #Hinshaw dan Feldman 1945). (ntibiotika golongan (minoglikosida lain yang kemudian digunakan di klinik memperkuat efek ototoksik seperti yang diakibatkan Streptomisin #Lemer dkk 1981). "erentanan yang tidak biasa dari telinga dalam terhadap cedera oleh golongan-golongan obet tertentu kemudian setelah pemberian loo! di"retics dapat diperlihatkan, yang ternyata pengaruhnya terhadap ototoksisitas dengan mekanisme yang berbeda dibandingkan dengan antibiotika aminoglikosida.

tuberculosis. potensi antimikrobanya melebihi Streptomisin. "anamisin. +ekanisme kerja (ktivitas tergantung pada kadarnya. coli. adaptasi en&im. . *obramisin. )etilmisin mempunyai efek seperti gentamisin tetapi sifat ototoksisitasnya jauh lebih kecil. ducreyi.uga aktivitas potensinya lebih kuat pada suasana alkali daripada suasana asam. Pada keadaan anaerobik akan menurunkan potensi aktivitas. begitu juga dengan Sisomisin. . dan kadar tinggi bersifat bakterisid terhadap mikroba yang sensitif.)(. pada kadar rendah bersifat bakteriostatik.efek terhadap ribosom tersebut juga menimbulkan berbagai efek sekunder terhadap fungsi sel mikroba. inhalasi atau melalui difusi dari telinga tengah ke telinga dalam. keuntungan membran dan keutuhan . sesuai dengan kehilangan sel-sel rambut pada putaran basal koklea. )eomisin. antara lain terhadap /rucella. Golongan ini mengikatkan diri pada subunit -%S ribosom yang sensitif dari mikroba tersebut. 'apat juga terjadi tuli unilateral dan dapat disertai gangguan vestibular. (ctinobacilles. (mikasin dan Gentamisin. Proteus. Pada "anamisin.+. 'i samping . juga terhadap 1. pestis dan Shigella. Gentamisin. (mikasin dan yang baru adalah netilmisin dan Sisomisin yang dapat masuk melalui pembuluh darah. S!ektr"m Pada umumnya menunjukkan banyak persamaan dengan Streptomisin.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. 0.. Perbedaan antar sesama aminoglikosida bersifat kuantitatif. yaitu terhadap respirasi. )ocardia.1 MACAM-MACAM OBAT-OBAT OTOTOKSIK AMINOGLIKOSID Obat-obat yang termasuk ke dalam golongan aminoglikosid antara lain Streptomisin. *uli yang diakibatkan obat-obat ini bersifat bilateral dan bernada tinggi. P.

Efek samping 'apat dibagi . keadaan ini menunjukkan adanya sekuestrasi ke dalam jaringan terutama pada Gentamisin. Gejala lain ialah . 2ntuk mendapatkan kadar sistemik yang efektif. Schentag . ruam morbiliform dan makulopapular. "arena ekskresi hampir seluruhnya berlangsung melalui ginjal. . kecuali ke dalam cairan otak. Pada yang berat ialah dermatitis eksfoliativa. Peningkatan oleh protein plasma darah jelas terlihat pada Streptomisin yang berjumlah 5 3. masa paruh akan cepat meningkat. 'istribusi cukup meluas ke dalam seluruh cairan tubuh. *erhadap komponen darah ialah eosinofilia. trombopenia. (minoglikosida yang diberikan dalam dosis tunggal.eaksi alergi .eaksi alergi yang timbul dengan intensitas beragam mulaidari pruritis. !66. urtikaria. (danya hambatan fungsi ginjal akan menghambat ekskresi aminoglikosida yang berakibat terjadinya kumulasi dan cepat meningkatnya kadar dalam darah sampai lebih cepat mencapai kadar toksik. umpamanya pada infeksi saluran cerna. . Pada pemberian peroral tujuannya hanya untuk mendapatkan khasiat lokal dalam saluran cerna saja. menunjukkan jumlah ekskresi renal yang kurang dari dosis yang diberikan. eritema. #kskresi *erutama melalui ginjal dengan filtrasi glomeruler.kelompok 9 $ alergi 4$ reaksi iritasi dan toksik -$ perubahan biologik. dengan adanya gangguan ekskresi.dari seluruh aminoglikosida dalam darah. media ginjal.Farmakokinetika Sangat sukar diabsorpsi melalui saluran cerna.uga pada bayi yang baru lahir3prematur dan penderita usia lanjut. menunjukkan adanya kumulasi tertinggi dalam jaringan hati. otot skelet dan kelenjar 5 78. aminoglikosida perlu diberikarl secara perenatal dan biasanya dalam bentuk garam sulfat. "adar puncak dalam darah dicapai dalam waktu 34 sampai 4 jam.usko.

Pada mulanya kepekaan terhadap golongan frekuensi tinggi akan berkurang dan ini tidak disadari oleh penderita. 'engan dosis 4 gram per hari selama ?% sampai 4% hari. Gangguan vestibular gejala dininya ialah sakit kepala yang kemudian diikuti fase akut dengan gejala pusing. Pemulihan sempuma 4 sampai > bulan. gejala terlihat pada 678 penderita. )eomisin paling mudah menimbulkan tuli saraf.eaksi iritasi dan toksik *imbulnya reaksi iritasi dan rasa nyeri terjadi ditempat suntik. gejala terlihat pada 478 penderita. . gangguan faal ginjal. Pada gangguan akustik. Sel organ @orti juga mengalami kerusakan. dan Gentamisin.stomatitis dan demam. Penggunaan topikal atau irigasi luka dengan larutan )eomisin 78 pada penderita dengan ginjal normal. 1fek ototoksik: terutama terhadap saraf ) . dan ??8 di antaranya berupa gangguan vestibuler. kerusakan terdapat pada nuklei koklearis ventrikuler di batang otak yang meluas ke ujung serabut saraf di koklea. Gentamisin mempunyai angka ototoksisitas 48. sedangkan pada )eomisin. Gentamisin -B8 dari 48 ototoksisitas. Gejala dini berupa tinitus bernada tinggi. mual. Arekuensi gangguan akustik akibat Streptomisin B sampai 78. usia lanjut. Pada fase kronik. tidak selalu terjadi pada kedua telinga sekaligus. antara lain besarnya dosis. Streptomisin dan Gentamisin lebih mempengaruhi komponen vestibuler. . juga dapat menimbulkan tuli saraf.eaksi hipersensitivitas jarang terjadi pada *obramisin. sedangkan untuk "anamisin sekitar 68. muntah dan gangguan keseimbangan. gejala nyata waktu berjalan. 'an dengan dosis gram per hari. "anamisin -%8. bila terapi lebih dari minggu. Pada *obramisin . Gejala =gejala ini bersifat reversibel dan kadang-kadang juga pada beberapa penderita timbul sekuele. "anamisin. gejala bersifat laten dan hanya menjadi nyata bila menutup mata. Patologi kerusakan akustik terutama berupa degenerasi berat sel-sel rambut luar pada telinga dalam. Secara patologis. Pada fase kompensasi.<<< mengenai vestibuler dan akustik. Ototoksisitas arninoglikosida dapat ditingkatkan oleh pelbagai faktor. "anamisin dan (mikasin lebih mempengaruhi komponen akustik. Pada penderita yang pernah mendapat suatu obat ototoksik dan juga bila diberikan asam etakrinat #diuretika kuat$.

golongan aminoglikosida dengan suatu diuretika kuat akan menaikkan ototosik dan nefrotoksik ERITROMISIN Gejala pemberian eritromisin intravena terhadap telinga adalah kurang pendengaran subjektif tinitus yang meniup dan kadang-kadang disertai vertigo. Selain efek ototoksik. Perubahan biologik (danya pola mikroflora tubuh dan gangguan absorpsi di usus. +inosiklin dapat mengakibatkan ototoksisitas bila diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. dan dapat sembuh bila obat dihentikan tetapi pada kasus-kasus tertentu dapat menyebabkan tuli permanen.terjadinya gangguan vestibuler dan akustik masing -masing sebanyak %. *etapi bila pengobatan dihentikan pendengaran akan pulih dan tinitus akan hilang. (danya interaksi obat yang perlu diperhatikan ialah. /iasanya gangguan pendengaran dapat pulih setelah pengobatan dihentikan. . terutama bila diberikan pada pasien dengan insufisiensi ginjal secara intravena. juga timbul efek nefrotoksik dan neurotoksik. LOOP DIURETICS 1thycrynic acid #edecrin$.iomisin. (ntibiotika lain seperti vankomisin. Dalaupun diuretik tersebut hanya memberikan sedikit efek samping tetapi menunjukkan derajat potensi ototoksisitas. furosemid #lasiC$. (mikasin bila diberikan lebih dari B hari juga akan menimbulkan gangguan pendengaran. torsemide #demadeC$ dan bumetamid #bumeC$ adalah loop diuretik yang dapat menghambat reabsorbsi elektrolitelektrolit dan air pada cabang naik dari lengkungan henle. OBAT-OBAT ANTIINFLAMASI Salisilat termasuk aspirin dapat mengakibatkan tuli sensorineural berfrekuensi tinggi dan tinitus. Golongan Salisilat . Pernah dilaporkan bahwa terjadi tuli sensorineural nada tinggi bilateral dan tinnitus setelah pemberian intravena dosis tinggi atau oral.B8. /iasanya gangguan pendengaran yang terjadi ringan seperti tinitus. @apreomisin.

mual dan muntah. berupaya nyeri kepala. mengantuk.uga adanya efek urikosurik tergantung dari dosis. erupsi kulit. . "ina dan klorokuin ini dapat melalui plasenta. Gangguan tersebut bersifat reversibel bila obat dihentikan. *etapi bila pengobatan dihentikan biasanya pendengaran akan pulih dan tinitusnya hilang. badan terasa lemah. gangguan keseimbangan dan pendengaran berupa ketulian. 7% . 'istribusi ke seluruhan jaringan tubuh dan cairan antar sel dan mudah menembus sawar otak dan sawar uri. 1fek pada sistem kardiovaskuler dapat menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah perifer. 1fek terhadap metabolisme karbohidrat sangat kompleks. Farmakodinamika $ +empunyai efek analgesik. karena gejala =gejala yang terdapat pada pernapasan dapat mencerminkan betapa seriusnya gangguan keseimbangan asam basa dalam darah. Pernah ada laporan kasus tentang tuli kongenital dan hipoplasia koklea karena pengobtan malaria pada ibu hamil. Pada intoksikasi yang lebih berat ialah gangguan susunan saraf pusat. dengan dosis besar meyebabkan hiperglikemia dan glikosuri. mual. dan asam salisilat sendiri bersifat iritatif sehingga digunakan sebagai obat luar.!%8 terikat oleh protein plasma terutama albumin. rasa bingung. pusing. OBAT ANTI MALARIA 1fek ototoksisitas dari kina dan klorokuin berupa gangguan pendengaran dan tinitus. efek pada saluran cerna pada pemberian per oral dapat mengakibatkan gangguan epigastrium. dan gejala pada salisilat dinamakanEsalisilismusE.uga dapat mengaktifkan pusat saraf simpatik dan dapat menyebabkan pelepasan epinefrin dari medula adrenal sehingga terjadi hiperglikemia. keringat banyak. .Pemakaiannya secara sistemik. pandangan kabur. 1fek pada pernapasan sangat penting. . muntah dan diare. "onsentrasi tertinggi dicapai kira-kira 4 jam setelah pemberian. antipiretik dan anti-inflamasi. tinitus. Farmakokinetika $ Pada pemberian oral diserap cepat. 1fek terhadap darah dapat mengakibatkan hemolisis ringan. #%ek sam!in&$ Sering timbul.

bila ringan yang terkena dahulu ialah sistem pendengaran berupa tinitus dan sistem penglihatan. "urang lebih 6%8 kina dalam plasma terikat dengan protein dan hal ini yang menyebabkan rendahnya kadar kina dalam plasma. . sama dengan pemberian intravena. kabur dan telinga berdenging. gangguan pada lambung.Fuinine 9 +erupakan alkaloid penting dari sinkona. 'osis fatal kina untuk dewasa kurang lebih > gram. Semua alkaloid sinkona dan derivatnya memiliki sifat farmakologik yang kualitatif sama. 1fek sentral pada susunan saraf pusat. Gejala keracunanEsinkonismE. #kskresi *erutama dalam win dan sebagian kecil dengan tinja. terhadap darah dapat mengakibat kan hemolisis: *erhadap saluran cerna mengakibatkan iritasi lambung. #(ek sam!in& "eracunan kina disebabkan kelebihan dosis atau reaksi kepekaan. gatal-gatal dan bercak merah. sebagai abortivum terhadap kontaksi uterus dan dosis tinggi membahayakan fetus. 1fek. muntah. . mengganggu fagositosis dan menghambat pertumbuhan fibroblas dalam pembiakan. +ula-mula penderita merasa mual. ginjal dan limpa. effek analgetik dan antipiretika. Pada yang berat dapat terjadi perangsangan susunan saraf ialah bingung. ketulian dan gangguan penglihatan. demam. +empunyai beberapa efek lokal ialah racun protoplasma dan menghambat proses en&imatik. sesak napas. Farmakodinamika' "hasiat khusus Sinkona tergantung pada kadar kina yang terdapat di dalamnya. 1fek kardiovaskuler dengan dosis tunggal 7 gram langsung menyebabkan depresi miokard. getah lambung. empedu dan liur. tetapi kurang dalam paru-paru. gelisah dan delirium. *erhadap otot polos.eaksi idiosinkrasi pada penggunaan kina berupa kemerahan pada kulit. Farmakokinetika (bsorpsi per oral baik. 1kskresi lengkap dalam waktu 4B jam. 'istribusi luas dalam hati. konsentrasi dalam plasma dicapai dalam sampai B jam setelah pemberian oral. Gejala-gejala ini akan hilang bila obat dihentikan. Sebagai antimalaria terhadap Plasmodium vivaC dan Plasmodium malariae berkhasiat gametosid.

"lorokuin9 Selain sebagai obat anti malaria. "etulian terjadi karena kerusakan organ @orti baik pada penggunaan Fuinine dan @hloroGuine. "urang pendengaran biasanya mengakibatkan menurunnya hasil s!eech discrimination score. dan juga terjadi ketulian. 'iterangkan bahwa bagian sel tersebut dihambat oleh elektroda Platinum dan dikatakan bahwa yang bentuk @is lebih efektif. "hasiatnya terutama terhadap jenis tumor sarkoma dan leukemia. Gejala yang ditimbulkan @<S platinum. ketulian. dan juga pada tumor testis yang biasanya dikombinasi dengan . anti radang dan juga sebagai amebesid. tetapi pada efek toksik yang kronik dapat mengakibatkan diare. +engenai hal ini mekanismenya belum jelas. pusing. penglihatan kabur. (bsorpsi melalui oral baik. Pemberian obat tersebut pada wanita hamil akan mengakibatkan efek teratogenik berupa malformasi janin.uga pemberian obat ini pada ibu hamil. sebagai ototoksisitas adalah tuli subjektif. hal ini belum ada penelitian lebih lanjut. badan merasa lemah. adanya lesi pada kornea dan adanya kerusakan pada retina. *uli biasanya bilateral dimulai dengan frekuensi antara ? "0& dan > "0&. 1fek samping yang mula-mula timbul seperti juga pada penggunaan Fuinine. merupakan derivat B-aminoGuinoline. tetapi bila tulinya berat biasanya bersifat menetap. OBAT ANTI TUMOR Obat yang dapat menyebabkan ketulian ialah 9 @is-diamine dichloro platinum #''P$. +ekanisme kerja obat ini diduga berhubungan dengan sintesa asam nukleat dan nukleoprotein. tinitus dan otalgia. nausea. . dapat mengakibatkan efek teratogenik pada fetus. porfiria. . kemudian terkena frekuensi yang lebih rendah. dan kurang lebih >8 dikeluarkan melalui tinja. "erusakan yang terjadi pada retina biasanya irreversibel. merupakan suatu derivat yang terdiri dari Platinum dengan aktivitas anti-tumor. tetapi dapat juga disertai dengan gangguan keseimbangan. /ila tuli ringan pada penghentian pengobatan pendengaran akan pulih.inblastin dan /leomisin. *initus biasanya samar-samar. (kan terjadi remisi pada 5 6B8 dari penderita.

(pabila ketulian sudah terjadi dapat dicoba melakukan rehabilitasi antara lain dengan alat bantu dengar. Pada tuli total bilateral mungkin dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. 'alam melakukan pencegahan ini termasuk . dan Cylen banyak dihubungkan dengan gangguan pendengaran dan keseimbangan. styren. psikoterapi. belajar komunikasi total dengan belajar membaca bahasa isyarat. II. /ila pada waktu pemberian obat-obat ototoksik terjadi gangguan pada telinga dalam #dapat diketahui secara audiometrik$.OBAT TETES TELINGA LOKAL /eberapa obat tetes telinga mengandung antibiotika golongan aminoglikosida seperti9 )eomisin dan Polimiksin /. karbon monoksida. maka pencegahan menjadi sangat penting. Dalaupun membran tersebut pada manusia lebih tebal -H dibandingkan pada baboon #semacam monyet besar$ #I ?7 mikron$. II. /erhubung tidak ada pengobatan untuk tuli akibat obat ototoksik. merkuri. /ahan kimia lain termasuk butil nitrit. Sebetulnya obat tetes telingan yang mengandung antibiotika aminoglikosida diperuntukkan untuk infeksi telinga luar. lead. tetapi dari hasil penelitian masih dapat ditembus obat-obatan tersebut. maka pengobatan dengan obat-obatantersebut harus segera dihentikan. "erentanan pasien termasuk yang menderita insufisiensi ginjal dan sifat obat itu sendiri. tricloroethylen. diagnosa biasanya ditegakkan dari anamnesis pasien yang menceritakan riwayat penggunaan obat-obat ototoksis . jumlah dan lamanya pengobatan. karbon disulfida. tin.3 PENATALAKSANAAN *uli yang diakibatkan oleh obat-obat ototoksiktidak dapat diobati. a"ditor) trainin& termasuk cara menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar. /erat ringannya ketulian yang terjadi tergantung kepada jenis obat. *erjadinya ketulian oleh karena obat tersebut dapat menembus membran tingkap bundar #ro"nd window membran). gejala dan hasil pemeriksaan. mangan. toluen. heCan.2 DIAGNOSIS 'iagnosa ototoksis ditegakkan berdasarkan anamnesa terhadap pasien. *idak ada pemeriksaan spesifik.

kerentanan pasien. . kurang poendengaran dan vertigo. Pada umumnya prognosis tidak begitu baik bahkan mungkin buruk. memonitor efek samping secara dini. menilai kerentanan pasien.mempertimbangkan penggunaan obat-obat ototoksik .4 PROGNOSIS Prognosis sangat tergantung kepada jenis obat jumlah dan lamaya pengobatan. Pada pasien yang menunjukkan mulai ada gejala-gejala tersebut harus dilakukan evaluasi audilogik dan menghentikan pengobatan. II. yaitu dengan memperhatikan gejala-gejala keracunan telinga dalam yang timbul seperti tinitus.

Obat-obat baru seperti tobramisin. menurun pula derajat ekskresinya dan dapat mengakibatkan akumulasi dari suatu aminoglikosida di dalam darah dan jaringan yang cukup untuk menyebabkan keracunan pada telinga dan ginjal. tentang ototoklsisitas gentamisin dan tobramisin terlihat derajat toksisitas antara % 8 sampai 78. #6$ 0anya -8 dosis oral dari suatu amino glikosida yang diabsorbsi di saluran cerna. # 4$ Pada penelitian randomi&ed blind studies. "ehilangan pendengaran sebagai akibat penggunaan aminoglikosida mempengaruhi frekuensifrekuensi tinggi. 'ari tiap-tiap macam antobiotika dapat disimpulkan # $ Gentamisisn masih merupakan aminoglikosida utama yang digunakan pada pusat-pusat kesehatan. # $ 1fek utama yang dapat dilihat adalah hilangnya sel-sel rambut yang timbulnya dari putaran basal koklea. Ototoksisitas dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan atau keseimbangan baik bersifat sementara ataupun permanen.BAB III KESIMPULAN Obat-obat ototoksis adalah obat-obat atau bahan kimia yang merusak telinga dalam atau nervus vestibulo-koklea yang mengirimkan informasi keseimbangan dan pendengaran dari telinga dalam ke otak. #?$ /anyak penyelidikan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam derajat toksisitas terhadap telinga atau ginjal antara pasien anak yang diobati dengan aminoglikosida dan kontrol yang tidak mendapatkan pengobatan.#4$ Pseudomonas aeruginosa dalah kuman patogen yang bisa menginfeksi otitis eksterna maligna. #B$ 'ata yang ada menunjukkan bahwa gentamisin. #>$ Ginjal yang menurun fuingsinya. # -$ Pengobatan bersama-sama antara aminoglikosida dengan loop inhibiting . #-$ )etilmisin secara aktif bersifat sinergis dengan antibiotika beta-laktam setara atau lebih kuat dari aminoglikosida yang lain. #!$ 1fek toksis aminoglikosida lebih mungkin terjadi pada pasien yang fungsi ginjalnya diragukan. netilmisin dan tobramisin mempunyai tempat yang sama dalam hal toksisitasnya terhadap ginjal. /ila terjadi kerusakan frekuensi-frekuensi rendah juga akan terkena. amikasin dan netilmisin telah beredar sebagai usaha untuk mengatasi resisten pseudomonas. # %$ "erusakan akut pada sistem pendengaran biasanya didahului oleh tinitus. #7$ Pada manusia tidak dapat terlihat perbedaan ototoksisitas bila gentamisin dibandingkan dengan amikasin atau netilmisin.

# B$ 1thacrynic acid menyebabkan kerusakan seluler pada stria vaskularis .diuretics seperti ethacrynic acid dan furosemide mengakibatkan otottoksisitas aminoglikosida. # 7$ /ukti secara anekdot menunjukkan bahwa penggunaan obat-obat ototoksis topikal dapat merupakan faktor penyebab ototoksisitas dan dapat mengakibatkan tuli sensorineural yang berat dan atua menetap. . limbus spiralis dan sel-sel rambut koklea dan vestibuler pada binatang percobaan.