You are on page 1of 20

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Perawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional, keperawatan dengan menjalankan mengunakan dan ilmu

melaksanakan

kegiatan

praktek

keperawatan

pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung. Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada individu, keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan. Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai standar profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang perawat melakukan malpraktek, kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek keperawatan lainnya.

1|Page

A. Rumusan Masalah 1. Apa saja prinsip-prinsip Etika Keperawatan ? 2. Bagaimana Perlindungan Hukum Dalam Praktik Keperawatan ? 3. Bagaimana pengambilan keputusan legal etis dan fungsi advokasi pada kasus ca rekti?

B. Tujuan 1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip etika keperawatan. 2. Untuk mengetahui perlindungan hukum dalam praktik

keperawatan. 3. Untuk mengetahui pengambilan keputusan legal etis dan fungsi advokasi pada kasus gangguan system ca rekti?

2|Page

Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut. yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Konsep Medis Definisi Karsinoma Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus menyerang bagian Recti yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali. B. The National Cancer Institute. Makanan yang harus dihindari : Daging merah Lemak hewan Makanan berlemak Daging dan ikan goreng atau panggang 3|Page . Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh America Cancer Society. menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada usus besar (Aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Makanan-makanan yang pasti di jurigai mengandung zat – zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat – zat kimia yang menyebabkan kanker. Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah – buahan. Etiologi Penyebab dari pada kanker Colon dan rekti tidak diketahui. dan organisasi kanker lainnya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 A. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah.

4|Page . faktor utama yang membahayakan terhadap kanker Colon menyebabkan adenoma. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum. villous adenoma mempunyai potensial tinggi untuk menjadi manigna. Resiko dari kanker Colon akan menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut.brussels sprouts ) Butir padi yang utuh Cairan yang cukup terutama air Karena sebagian besar tumor Colon menghasilkan adenoma.- Karbohidrat yang disaring(example:sari yang disaring) Makanan yang harus dikonsumsi: Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis ( seperti brokoli. Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis mendekati 100 % dari orang yang berusia 20 – 30 tahun. hanya 5% dari semua adenoma Colon menjadi manigna. Meskipun hampir besar kanker Colon berasal dari adenoma. Orang-orang yang telah mempunyai ucerative colitis atau penyakit Crohn’s juga mempunyai resiko terhadap kanker Colon. Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak diketahui poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom dominan. Penambahan resiko pada permulaan usia muda dan tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Ada tiga type adenoma Colon : tubular.villous dan tubulo villous.

Keluhan dan gejala sangat tergantung dari besarnya tumor. Polyposis familial Ulcerasi colitis Deversi colitis D. Gambaran Klinis Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi. Karena keluhan dan gejala tersebut berlangsung perlahan-lahan dan tidak sering. Polip dan ulserasi colitis kronis dapat berubah menjadi ganas tetapi dianggap bukan sebagai penyebab langsung. kemudian menembus dinding kolon dan jaringan sekitarnya. hematogenik atau anak sebar. 3. penderita umumnya merasa terbiasa dan menganggap enteng saja sehingga penderita biasanya datang berobat dalam stadium lanjut. Kemudian fase ketiga dengan timbulnya keluhan dan gejala yang nyata. Fase pertama ialah fase karsinogen yang bersifat rangsangan. proses ini berjalan lama sampai puluhan tahun. Deyle perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3 fase. 5|Page . Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi sebagai berikut: 1. Patofisiologi Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui secara pasti. obstruksi bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjarkelenjar regional. Hipotesa penyebab yang lain adalah meningkatnya penggunaan lemak yang bisa menyebabkan kanker kolorektal. Hati. Kebiasaan diet rendah serat. Fase kedua adalah fase pertumbuhan tumor tetapi belum menimbulkan keluhan (asimtomatis) yang berlangsung bertahun-tahun juga. E. 2. 4.C. Tumor-tumor pada Recti dan kolon asendens merupakan lesi yang pada umumnya berkembang dari polip yang meluas ke lumen. perdarahan. Insiden dan Faktor Risiko Kanker yang ditemukan pada kolon dan rektum 16 % di antaranya menyerang Recti terutama terjadi di negara-negara maju dan lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita. Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam peritoneum. peritonium dan organ lain mungkin dapat terkena.Penyebaran tumor terjadi secara limfogenik. Asam empedu dapat berperan sebagai karsinogen yang mungkin berada di kolon. Menurut P.

1. 2.Tumor pada Recti dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar. Bila karsinoma Recti menembus ke daerah ileum akan terjadi obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau vomitus. F. Harus dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat menimbulkan obstruksi sehingga terjadi obstipasi. Pemeriksaan Diagnostik Untuk menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan: 1. 3. Anamnesis yang teliti. Komplikasi Kolitis ulserosa Penyakit Chron Kolitis karena amuba atau shigella Kolitis iskemik pada lansia Divertikel kolon G. meliputi:     o o o o o o Perubahan pola atau kebiasaan defekasi baik berupa diare maupun konstipasi (change of bowel habit) Perdarahan per anum Penurunan berat badan Faktor predisposisi: Riwayat kanker dalam keluarga Riwayat polip usus Riwayat kolitis ulserosa Riwayat kanker pada organ lain (payudara/ovarium) Uretero-sigmoidostomi Kebiasaan makan (tinggi lemak rendah serat) 6|Page . Perdarahan biasanya sedikit atau tersamar. 4. 5.

   Pilihan utama adalah pembedahan Radiasi pasca bedah diberikan jika: sel karsinoma telah menembus tunika muskularis propria ada metastasis ke kelenjar limfe regional masih ada sisa-sisa sel karsinoma yang tertinggal tetapi belum ada metastasis jauh. (Radiasi pra bedah hanya diberikan pada karsinoma rektum). Pemeriksaan fisik dengan perhatian pada: Status gizi Anemia Benjolan/massa di abdomen Nyeri tekan Pembesaran kelenjar limfe Pembesaran hati/limpa Colok rektum(rectal toucher) Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan radiologis Endoskopi dan biopsi Ultrasonografi Uraian tentang prosedur diagostik dijelaskan lebih lanjut dalam fokus pengkajian keperawatan. Obat sitostatika diberikan bila:  Inoperabel Pada penderita inoperabel pemberian sitostatika sama dengan kasus operabel hanya lamanya pemberian tidak terbatas selama obat masih efektif. Penalaksanaan Pengobatan pada stadium dini memberikan hasil yang baik. 3. 2. 3. 5. H. 6.2. Selama 7|Page . 4. 1.

Etik Dalam Keperawatan Untuk menjadi seorang profisional dewasa yang mampu secara aktif berpartisipasi dalam dimensi etik praktik mereka. telah menembus tunika muskularis propria atau telah dioperasi kemudian residif kembali. Kode Etik Keperawatan Definisi Etik Etik adalah terminology dengan berbagai makna. meskipun terdapat sedikit perbedaan makna. B. harus diawasi kadar Hb.5 mg/kg BB/hari intravena selama 5 hari berturut-turut. Etik berhubungan dengan bagaimana sesorang harus bertindak dan bagaimana mereka melakukan hubungn dengan orang lain. Pada stadium lanjut obat sitostatika tidak meberikan hasil yang memuaskan. Obat yang dianjurkan pada penderita yang operabel pasca bedah adalah: Fluoro-Uracil 13. Futraful 3-4 kali 200 mg/hari per os selama 6 bulan Terapi kombinasi (Vincristin + FU + Mthyl CCNU) 2. Dasar Untuk Pertimbangan Etis.2 A. Etik tidak hanya menggambarkan sesuatu. karakter. mencari dukungan dari sumber professional. 8|Page . jika didefinisikan secara umum. Etik dititikberatkan pada pertanyaan atas apa yang baik dan yang buruk. terminology moral dan etik adalah sama.pemberian. leukosit dan trombosit darah. Etik perawatan dihubungkan dengan hubungan antar masyarakat dan dengan karakter perawat terhadap orang lain. motif atau tindakan yang benar dan yang salah. 1. seorang perawat harus terus mengembangkan suatu perasaan yang kuat tentang identitas moral mereka. Pemberian berikutnya pada hari ke-36 (siklus sekali 5 minggu) dengan total 6 siklus. tetapi lebih kepada perhatian dengan penetapan norma atau standar kehidupan seseorang dan yang seharusnya dilakukan. dan mengembangkan pengetahuan serta kemampuan mereka dalam bidang etik.  operabel tetapi ada metastasis ke kelenjar limfe regional. Posisi atau identitas moral perawat yamg disebut “etik perawatan”.

“melakukan etik” meliputi berpartisipasi dalam proses pemikiran kritis mengenai apa yang benar dan salah. Prinsip Etis. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. 6. perawat seringkali mengandalkan pertimbangan mereka dengan menggunakan kedua konsekwensi dan prinsip dan kewajiban moral yang unifersal. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri. 1. 9|Page . 5. memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. 2. Ketika mengambil keputusan etis. Hal yang paling fundamental dari prinsip ini adalah penghargaan atas sesama. baik dan buruk atau seringkali berfikir mengenai situasi dimana seseorang memiliki lebih dari satu tindakan yang “benar”. Tindakan itu merupakan sebuah proses yang terjadi dalam berbagai interaksi klien-perawat. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang. atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. 3. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya. berlaku 4. b.  Memberikan informasi Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan Melakukan catatan perawatan dengan baik Kode Etik Keperawatan Otonomi(Autonomy) Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. 2. Prinsip – prinsip Legal dalam Praktik Keperawatan Menghormati hak pasien Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang a.

Dalam menentukan hal baik dalam situasi perawatan kesehatan kita harus memperhitungkan resiko dan maslahat dalam setiap kasus.  Justice ( Keadilan ) Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral. dalam situasi pelayanan kesehatan. penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. 1986). hanya melakukan sesuatu yang baik. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum. Kebaikan. Terkadang. Beneficience ( Berbuat Baik ) Beneficience berarti. memberi informasi berarti menyediakan informasi atau penjelasan sesuai yang dibutuhkan klien  Nilai dan norma masyarakat 10 | P a g e . sering sulit untuk menggambarkan garis antara bahaya yang tidak berarti dan melakukan yang baik.  Non Maleficiance ( Tidak Merugikan ) Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. peran perawat sebagai pendamping klien adalah memberi informasi dan memberi bantuan kepada klien atas keputusan apa pun yang di buat kilen. memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan. legal dan kemanusiaan. Dalam situasi klinis. Pada dasarnya. Non maleficienci memberikan standar minimum dimana praktsi selalu memegangnya.  Moral right Posisi perawat yang mempunyai jam kerja 8 sampai 10 atau 12 jam memungkinkannya mempunyai banyak waktu untuk mengadakan hubungan baik dan mengetahui keunikan klien sebagai manusia holistik sehingga berposisi sebagai pendamping klien (curtin. standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.

Prinsip kerahasiaan membantu perawat memahami implikasi serius dari pemberian informasi rahasia dan keinginan klien yang kompeten. Hal.  Avoid Killing 11 | P a g e .  Kerahasiaan ( Veracity ) Kerahasiaan adalah prinsip etika dasar yang menjamin kemandirian klien.  Kesetiaan Prinsip kesetiaan menyatakan bahwa perawat harus memegang janji yang dibuatnya.hal yang diidentifikasi oleh perawat harus diajukan dalam diskusi oleh klien dan tim perawatan kesehatan. pengajaran dan perlindungan klien dalam situasi ini harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan kelompok.selain itu terbatasnya juga jamkesmas yang belum masuk ke seluruh pelosok desa. Kejujuran tidak hanya berimplikasi bahwa perawat harus berkata jujur. rasa percaya yang snagat penting dalam hubungan perawat-klien akan terbentuk. namun juga membutuhkan adanya sikap positif dalam memberikan imformasi yang berhubungan dengan situasi klien. Prinsip kejujuran mengarahkan perawat dalam mendorong klien untuk berbagi informasi mengenai penyakit mereka. Prinsip mengatakan yang sebenarnya ( kejujuran ) mengarahkan praktisi untuk menghindari melakukan kebohongan pada klien atau menipu mereka. mereka berada pada resiko. Perawat menghindari pembicaraan mengenai kondisi klien dengan siapapun yang tidak secara langsung terlibat dalam perawatan klien. Ketika klien dan keluarga tidak dapat bergantung pada perawat untuk menjalankan perjanjian tersebut.  Kejujuran ( Fidelity ) Kewajiban untuk mengungkapkan kebenaran.karena mereka tidak mampu dibidang ekonomi. Dalam prinsip kejujuran.Pandangan masyarakat terhadap institusi kesehatan sangat memprihatinkan. Kadang hal ini dapat menimbulkan masalah bagi perawat dan menekankan pentingnya penghargaan atau pendekatan kelompok bagi perawat kesehatan. Konflik kewajiban mungkin akan muncul ketika seoarnag klien memilih untuk merahasiakan informasi tertentu yang dapat membahayakan klien atau orang lain.

Prinsip avoiding killing menekankan perawat untuk menghargai kehidupan manusia (pasien). Thomhson ( 2000 : 113) menjelasakan tentang masalah avoiding killing sama dengan Euthanasia yang kata lainya tindak menentukan hidup atau mati yaitu istilah yang digunakan pada dua kondisi yaitu hidup dengan baik atau meninggal Ketika menghadapi pasien dengan kondisi gawat maka seorang perawat harus mempertahankan kehidupan pasien dengan berbagai cara. Mati disini bukan berarti membunuh pasien tetapi menghentikan perawatan dan pengobatan dengan melihat kondisi pasien dengan pertimbangan beberapa prinsip moral diatas. 12 | P a g e .1 A. prescribed or fomally recognized as binding or enforced by a controlling authority “ (Webster’s. sedangkan etika adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah non hukum. yaitu kaidah-kaidah tingkah laku (etika) (Supriadi. Sehingga perawat dalam mengambil keputusan masalah etik ini harus melihat prinsip moral yang lain yaitu beneficience. Hukum adalah ” A binding custom or practice of acommunity: a rule of conduct or action. 2003). Hukum Keperawatan Aspek dalam keperawatan Hukum adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah hukum. Pasien dan keluarga mempunyai hak-hak menentukan hidup atau mati. 2001). nonmaleficience dan otonomy yaitu melakukan yang terbaik. tidak membunuh atau mengakhiri kehidupan. tidak membahayakan dan menghargai pilihan pasien serta keluarga untuk hidup atau mati. Mengenai hak hidup islam menjelaskan “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya melainkan dengan suatu alasan yang benar” 1. Tetapi menurut Chiun dan Jacobs (1997 : 40) perawat harus menerapkan etika atau prinsip moral terhadap pasien pada kondisi tertentu misalnya pada pasien koma yang lama yaitu prinsip avoiding killing.

Banyak sekali definisi-definisi yang berkaitan dengan hukum.105/Yan.159b/Men. f.660/MenKes/SK/IX/1987 yang dilengkapi surat Undang – undang No. adalah sebagai berikut: a. Membedakan tanggung jawab perawat dari profesi kesehatan lain c. e. c. Sakit d.  Fungsi hukum dalam keperawatan. bagi pelaku dan penerima Beberapa perundang-undangan yang melindungi praktek keperawatan yang ada di Indonesia. sebagai berikut: a. b.Umdik/Raw/I/88 tentang penerapan standard praktek keperawatan bagi perawat kesehatan di Rumah Sakit. Undang – undang No. Pasal 23 Undang-undang Nomor 23 Tahun1992 tentang Kesehatan telah menetapkan bahwa: “Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. 13 | P a g e .647/SK/IV/2000 tentang registrasi dan praktik perawat dan direvisi dengan SK Kepmenkes No.Med/RS. bagian kesembilan pasal 32 (penyembuhan penyakit dan pemulihan) b. Kepmenkes No. tetapi yang penting adalah hukum itu sifatnya rasionalogic.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen Peraturan menteri kesehatan No. Memberi kerangka kerja untuk menetapkan kegiatan praktek perawatan apa yang legal dalam merawat pasien.1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi dan praktik perawat. sedangkan tentang hukum dalam keperawatan adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah hukum keperawatan yang rasionalogic dan dapat dipertanggung jawabkan.Kes/II/1998 tentang Rumah ederan Direktur Jendral Pelayanan Medik No.23 tahun 1992 tentang kesehatan. Membantu menetapkan batasan yang independen tentang kegiatan keperawatan d. Membantu mempertahankan standar praktek keperawatan dengan membuat perawat akuntabilitas dibawah hukum yang berlaku  Dasar hukum perundang-undangan praktek keperawatan. Peraturan Menkes No.

Apabila tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian pada pasien. informasi yang benar. i.g. berhak atas keamanan. atau Kitab Undang- undang Hukum Perdata.” Perlindungan hukum akan senantiasa diberikan kepada pelaku profesi apa pun sepanjang pelaku profesi tersebut bekerja dengan mengikuti prosedur baku sebagaimana tuntutan bidang ilmunya. Satu diantara ketentuannya adalah bahwa: Pasien sebagaikonsumen pelayanan jasa kesehatan. dan keselamatan. h.” j. Pemerintah mengundangkan Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999. 14 | P a g e . Dalam Pasal 24 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1996. Tanggung jawab dari segi hukum administratif. kenyamanan. Melalaikan kewajiban. perlindungan terhadap keadaan membahayakan yang dapat mengancam keselamatan fisik atau jiwa. maka tenaga kesehatan tersebut dapat digugat oleh pasien atau keluarganya yang merasa dirugikan itu berdasarkan ketentuan Pasal 1365 BW. yang dimaksud dengan perlindungan hukum adalah bentuk-bentuk perlindungan yang antara lain berupa: rasa aman dalam melaksanakan tugas profesinya. yang bunyinya sebagai berikut: “Tiap perbuatan melanggar hukum. baik karena alam maupun perbuatan manusia. tenaga kesehatan dapat dikenai sanksi berupa pencabutan surat izin praktik apabila melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hati. Tindakan administratif juga dapat dikenakan apabila seorang tenaga kesehatan: 1. sesuai dengan etika serta moral yang hidup dan berlaku dalam masyarakat. yang membawa kerugian kepada orang lain. jelas. dan jujur serta menuntut ganti rugi apabila dokter atau tenaga kesehatan lainnya selama melakukan pelayanan kesehatan ternyata melakukan kesalahan atau kelalaian yang merugikan pasien. ketentuan Pasal 1365 BW (Burgerlijk Wetboek).

3.2. 15 | P a g e . 4. 1995). Perlindungan hukum baik bagi pelaku dan penerima praktek keperawatan memiliki akuntabilitas terhadap keputusan dan tindakannya. yakni tanggung jawab dan tanggung gugat. kode etik dan undang-undang dapat dibenarkan atau absah (Priharjo. Hal ini berarti tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktik keperawatan. Oleh karena itu dalam menjalankan prakteknya secara hukum perawat harus memperhatikan baik aspek moral atau etik keperawatan dan juga aspek hukum yang berlaku di Indonesia. Fry (1990) menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua komponen utama. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan undang-undang. Melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang tenaga kesehatan. Mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan. Dalam menjalankan tugas sehari-hari tidak menutup kemungkinan perawat berbuat kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja. baikmengingat sumpah jabatannya maupun mengingat sumpah sebagai tenaga kesehatan.

ia meminta kepada dokter dan perawat apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi yang minimal saja (tanpa antibiotika. Penilaian baik buruk dan benar salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. selain mempertimbangkan keempat kebutuhan dasar manusia. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat menderita. berpendidikan cukup tinggi.BAB III PEMBAHASAN KASUS 3. dan lain-lain).2 A. Oleh karena itu. Pasien masih cukup sadar. keputusan hendaknya juga mempertimbangkan hak-hak asasi pasien. Pelanggaran atas hak pasien akan mengakibatkan juga pelanggaran atas kebutuhan dasar manusia. dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Ke-4 kaidah dasar moral tersebut adalah : 16 | P a g e . Identifikasi Kasus Analisa Kasus Didalam menentukan tindakan dibidang kesehatan atau kedokteran. dan alat-alat tersebut tampaknya hanya memperpanjang penderitaannya saja. terutama kebutuhan kreatif dan spiritual pasien. Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatukeputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa rulesdibawahnya.tanpa peralatan ICU. ia tetap setuju apabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.Namun. Bagaimana menyelesaikan dilema etis yang dialami oleh perawat tersebut sesuai tahap pengambilan keputusan etik dan hukum 3. Ia memahami benar posisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini.1 Kasus Seorang pasien berumur 62 tahun datang ke rumah sakit dengan karsinoma rekti yang telah terminal.

Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent 2. terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination).  Identifikasi Munculnya Konflik Pasien mengetahui keadaan sebenarnya yang terjadi pada dirinya. yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yangmemperburuk keadaan pasien. 4. dan lain-lain).  Menentukan Tindakan Alternatif yang Direncanakan Adapun tindakan alternatif yang dilakukan oleh perawat adalah memberikan konseling kepada pasien bahwa dengan memberitahukan informasi 17 | P a g e . Dan hal terebut dapat menghambat perkemabangan kesehatan pasien tersebut.Princip beneficence. Pasien mengatakan apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi yang minimal saja (tanpa antibiotika. melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisiburuknya (mudharat) 3. jujur dan terbuka). Dikarenakan pasien masih cukup sadar. dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar.1. confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping). (berbicara benar. yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukanke kebaikan pasien. perawat harus memberikan konseling/pengertian terlebih dahulu kepada pasien bahwa hal tersebut harus dilakukan demi kebaikan pasien sendiri. privacy (menghormati hak privasi pasien).  Identifikasi dan Pengembangan data dasar Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar yang terkait dengan kasus dilema etis yang dialami perawat. Tindakan yang akan dilakukan adalah bahwa perawat harus tetap melakukan asuhan keperawatan yang menjadi kewajiban seorang perawat.tanpa peralatan ICU. Dengan kata lain sebelum memberitahukan kepada pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikansaja.Prinsip otonomi. Sedangkan rules derivatnya adalah veracity.Prinsip non-maleficence.Prinsip justice . Ia memahami benar posisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini. yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice). berpendidikan cukup tinggi. yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien. Prinsip ini dikenal sebagai "primum non nocere" atau "above all do no harm".

 Menentukan Siapa Penganbil Keputusan Pada kasus ini yang akan dilakukan pihak yang berwenang dalam pengambilan sebuah keputusan adalah pasien untuk tetap menjalankan prosedur tindakan medis dengan bantuan perawat yang memberitahukan bahwa hal tersebut demi kebaikan pasien yang mengalami karsinoma rektum.tentang kesehatan dan tindakan yang diberikan kepadanya dapat membantu dalam penyembuhan dan itu juga demi kebaikan pasien. Karena jika pasien tetap semangat menjalani prosedur tindaakan medis itu sangat membantunya dalam hal keyakinan pasien untuk tetap hidup.  Menjelaskan Kewajiban Perawat Kewajiban perawat yang harus dilakukan adalah meyakinkan pada klien atas tindakan yang akan dilakukan adalah tindakan yang sudah dipikirkan secara matang oleh klien. 18 | P a g e . demi kesembuhan klien.  Mengambil Keputusan yang Tepat Pengambilan keputusan pada kasus ini memiliki keuntungan kepada klien. karena hal tersebut demi perkembangan kesehatannya sen diri. Namun sebelum keputusan tersebut diambil perlu diupayakan alternatif tindakan yaitu merawat klien sesuai kewenangan dan kewajiban perawat dan tim medis lain. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan pendekatan yang paling tepat dan menguntungkan untuk klien.

Etik perawatan dihubungkan dengan hubungan antar masyarakat dan dengan karakter perawat terhadap orang lain.1 Kesimpulan Perawat merupakan seorang profesional dewasa yang mampu secara aktif berpartisipasi dalam dimensi etik praktik mereka. mencari dukungan dari sumber professional. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan penyusunan ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melakukan pembuatan makalah selanjutnya 19 | P a g e . 4. Posisi atau identitas moral perawat yamg disebut “etik perawatan”.BAB IV PENUTUP 4. dan mengembangkan pengetahuan serta kemampuan mereka dalam bidang etik. Bagi Pembaca Diharapkan penyusunan ini memberi masukan dan dapat diaplikasikan di kehidupan dan membaca serta dapat memahami. seorang perawat harus terus mengembangkan suatu perasaan yang kuat tentang identitas moral mereka. 2.2 Saran Setelah memperoleh kesimpulan tentang Prinsip Legal Etik dalam Praktik Kardiovaskuler maka penyusun dapat mengemukakan saran sebagai berikut : 1. Perawat juga diharuskan dapat mengambil keputusan etik yang baik pada saat mengalami dilema dalam berbagai kasus yang ditemui.

Jakarta. Arief Mansjoer. Suhaemin. 2007. Carpenito.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta : EGC 5. 2010. 2000.4. Ed. Enie SKp.Ilmu Penyakit Dala. 3 . Etika Keperawatan. Soeparman & Waspadji . Jakarta. Jakarta. JId.6.ii.. 20 | P a g e . Admin. P e n e r b i t M e d i a Aesculapius FKUI. 1995. Kathleen koenig Blass. Etika dalam Praktik Keperawatan. BP FKUI. 7. Jakarta : EGC 4. Kapita Selekta K e d o k t e r a n .1990. Praktik Keperawatan Profesional: Konsep dan Perspektif Edisi 4. Price & Wilson. 6. 8. Ed. 2011. Novieastari.dkk. 2. Patofisiologi-Konsep Klinis Proses Penyakit.2009. Diagnosa Keperawatan-Aplikasi Pada Klinis. Ethic in Nursing. Mimin. E d . Jakarta: EGC.Jakarta : EGC 3. 2008.