BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

1. Definisi Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan aesthētos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Anastesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat irreversible. Anestesi umum yang sempurna menghasilkan ketidak sadaran, analgesia, relaxasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien.

2. Sejarah Anestesi Awal mula penemuan dan perkembangan Anestesiologi terjadi pada tahun 1846. Ketika itu seorang dokter gigi yang bernama William Thomas Green Morton memperagakan penggunaan dietil eter untuk menghilangkan kesdaran dan rasa nyeri pada pasien yang sedang ditanganinya. WTG Morton bekerja sama dengan Dokter Ahli Bedah kenamaan pada waktu itu yang bernama Dr John Collins Warren di Massachusetts General Hospital berhasil melakukan pembedahan tumor rahang pada seorang pasien tanpa memperlihatkan gejala kesakitan. Telah diakui bahwa jarang sekali ada penemuan dalam ilmu kedokteran diterima begitu cepat dan secara universal. Namun kehadiran eter dalam waktu singkat (tiga minggu) setelah peragaan tersebut sudah bias diterima oleh masyarakat kedokteran dan digunakan di beberapa Rumah Sakit di London. Hasil temuan Morton tersebut sangat wajar kalau disebut sebagai “The most humane discovery in mankind” karena kemudian pembedahan dapat dilakukan tanpa siksaan dan bebas nyeri. Selanjutnya, sejarah perkembangan anestesi sejak tahun 1846 sampai dengan tahun 1900 tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Eter yang ditemukan tersebut ternyata merupakan
1

obat yang cukup aman, memenuhi kebutuhan, mudah digunakan dan tidak memerlukan obatobat lain, cara membuatnya juga mudah dan harganya pun murah. Oleh karena itu eter terus dipakai, tanpa ada usaha untuk mencari obat lain yang lebih baik, apalagi untuk mempelajari aspek ilmunya dan mengembangkannya sebagai “science and clinical art”. Setelah mengalami stagnansi dalam perkembangannya lebih kurang selama 100 tahun setelah penemuan Morton, barulah kemudian banyak dokter mulai tertarik untuk mempelajari bidang anestesiologi dan menjadikannya sebagai pilihan karier dan profesi, seperti bidang ilmu kedokteran yang lain. Di Indonesia, khususnya di ibukota Jakarta, Anestesiologi lahir pada tahun 1954. Pada saat itu baru ada satu orang Dokter Spesialis Anestesiologi yaitu (Alm) Dokter Mohammad Kelan, yang pada mulanya seorang asisten dalam Ilmu Bedah, telah menyelessaikan pendidikan Anestesiologi di Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, kalau di Indonesia pada tahun 1954 baru ada satu Dokter Spesialis Anestesiologi, di Amerika Serikat ketika itu sudah ada lebih dari 1000 orang Dokter Spesialis Anestesiologi.

Anestesi umum adalah suatu tindakan yang membuat pasien tidak sadar selama prosedur medis, sehingga pasien tidak merasakan atau mengingat apa pun yang terjadi. Anestesi umum biasanya dihasilkan oleh kombinasi obat intravena dan gas yang dihirup (anestesi). "Tidur" pasien yang mengalami anestesi umum berbeda dari tidur seperti biasa. Otak yang dibius tidak merespon sinyal rasa sakit atau manipulasi bedah. Praktek anestesi umum juga termasuk mengendalikan pernapasan pasien dan memantau fungsi vital tubuh pasien selama prosedur anestesi berlangsung. Anestesi umum diberikan oleh dokter yang terlatih khusus, yang disebut ahli anestesi, ataupun bisa juga dilakukan oleh perawat anestesi yang berkompeten.

2

Obat anestesi yang sering digunakan adalah:  Pentothal Dipergunakan dalam larutan 2. yang berpotensi menyebabkan perubahan fisiologis tubuh yang ekstrim. dan sedasi. 2. 3. kelumpuhan otot.5% atau 5% dengan dosis permulaan 4-6 mg/kg BB danselanjutnya dapat ditambah sampai 1 gram. Komponen anestesi yang ideal terdiri dari: 1. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentolerir tindakan pembedahan yang dapat menimbulkan rasa sakit tak tertahankan. terdapat 3 cara pemberian obat pada anestesi umum: 1. Parenteral Anestesi umum yang diberikan secara parentral baik intravena maupun intramuskuler biasanya digunakan untuk tindakan operasi yang singkat atau untuk induksi anestesi. tergantung pada presentasi klinis pasien. Hipnotik. anestesi lokal atau regional mungkin lebih tepat. Penggunaan: 3 . Analgetik. Metode pemberian anestesi umum dapat dulihat dari cara pemberian obat. dan menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan. analgesia. Pada pasien yang dilakukan anestesi dapat dianggap berada dalam keadaan ketidaksadaran yang terkontrol dan reversibel. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa anestesi umum mungkin tidak selalu menjadi pilihan terbaik.BAB II PEMBAHASAN ANESTESI UMUM  Definisi Anestesi umum adalah suatu keadaan meniadakan nyeri secara sentral yang dihasilkan ketika pasien diberikan obat-obatan untuk amnesia. Relaksasi otot Anestesi umum menggunakan cara melalui intravena dan secara inhalasi untuk memungkinkan akses bedah yang memadai ke tempat dimana akan dilakukan operasi.

- Untuk induksi. Apabila penderita dicubit tidak bereaksi. Penggunaan: 1. Cara Pemberian: Larutan 2. uremia dan penderita-penderita yang lemah 3. Selanjutnya suntikan dapat ditambah secukupnya apabila perlu sampai 1 gram.5% dimasukkan IV pelan-pelan 4-8 CC sampai penderita tidur. selanjutnya diteruskan dengan inhalasi. infeksi mulut dan saluran nafas 4. Operasi-operasi yang singkat seperti: curettage. 4 .Penderita yang terlalu gemuk sehingga sukar untuk menemukan vena yang baik.Penyakit hati 6.Penyakit jantung 5. sesak nafas.Gangguan pernafasan: asthma. Operasi-operasi yang singkat 2. reposisi. Untuk indikasi penderita tekanan darah rendah Kontra Indikasi: Penyakit jantung. pernapasan lambat dan dalam. anemia. Kontra Indikasi: 1. insisi abses.  Ketalar (Ketamine) Diberikan IV atau IM berbentuk larutan 10 mg/cc dan 50 mg/cc.Anak-anak di bawah 4 tahun 2.Dosis: IV 1-3 mg/kgBB. operasi dapat dimulai.Shock .IM 8-13 mg/kgBB1-3 menit setelah penyuntikan operasi dapat dimulai. kelainan pembuluh darah otak dan hypertensi.

Dipergunakan untuk tindakan diagnostic (katerisasi jantung. Perinhalasi Obat anesthesia dihirup bersama udara pernafasan ke dalam paru-paru. Perektal Obat anestesi diserap lewat mukosa rectum kedalam darah dan selanjutnya sampai ke otak.Tribromentothal (avertin) 80 mg/kgBB 3. 2. Aliran > 4 ltr/mnt. oesophagoscopi. telinga.Pentothal 10% dosis 40 mg/kgBB .Oleh karena komplikasi utama dari anestesi secara parenteral adalah menekan pusat pernafasan. Lama narkose 20-30 menit.Kalau pasien batuk konsentrasi halotan diturunkan. untuk kemudian kalau sudah tenang dinaikan lagi sampai konsentrasi yang diperlukan.Tak ada infeksi di dalam rectum. Juga dipakai sebagai induksi narkose dengan inhalasi pada bayi dan anakanak. pemeriksaanmata. 2.Rectum betul-betul kosong 2. Obat-obat yang digunakan: . Induksi halotan Induksi halotan memerlukan gas pendorong O2 atau campuran N2O dan O2. Syaratnya adalah: 1. Induksidimulai dengan aliran O2 > 4 ltr/mnt atau campuran N2O:O2 = 3:1. Induksi sevofluran 5 . maka kita harus siap dengan peralatan dan tindakan pernafasan buatan terutama bila ada sianosis. penyinaran dsb) terutama pada bayi-bayi dan anak kecil. roentgen foto. Obat-obat yang dipakai: 1. masuk ke darah dan sampai di jaringan otak mengakibatkan narkose.

Faktor sirkulasi . Faktor yang mempengaruhi anestesi antara lain: . Bila tekanan di dalam alveoli lebih tinggi maka difusi terjadi dari alveoli ke dalam sirkulasi dan sebaliknya difusi terjadi dari sirkulasi ke dalam alveoli bila tekanan parsiel di dalam alveoli lebih rendah (keadaan ini terjadi bila pemberian obat anestesi dihentikan.Faktor respirasi (untuk obat inhalasi). makin tinggi konsentrasi zat yang dihirup tekanan parsielnya makin tinggi. .Induksi dengan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk walaupun langsung diberikan dengan konsentrasi tinggi sampai 8 vol %. Ekskresi bisa melalui ginjal. Perbedaan tekanan parsiel zat anestesi dalam alveoli dan di dalam darah menyebabkan terjadinya difusi. Faktor respirasi Sesudah obat anestesi inhalasi sampai di alveoli. N2O diekskresi dalam bentuk asli lewat paru. . aeran ) atau desfluran jarang dilakukan karena pasien sering batuk dan waktu induksi menjadi lama. Dengan sendirinya jaringan yang kaya pembuluh darah seperti otak atau organ vital akan menerima obat lebih banyak dibandingkan jaringan yang pembuluh darahnya sedikit seperti tulang atau jaringan lemak.Faktor obat anestesi. hepar. ada yang terjadi di hepar. Setelah masuk ke dalam sirkulasi darah obat tersebut akan menyebar kedalam jaringan. di dalam alveoli paru akan berdifusi masuk ke dalam sirkulasi darah. di dalam jaringan sebagian akan mengalami metabolisme. kulit atau paru–paru. Induksi dengan enfluran (ethran). 6 .Faktor jaringan. isofluran ( foran. maka akan mencapai tekanan parsiel tertentu. Tergantung obatnya. dihirup bersama-sama udara inspirasi masuk ke dalam saluran pernafasan. ginjal atau jaringan lain. obat tersebut akan diabsorbsi masuk ke dalam sirkulasi darah. Seperti dengan halotankonsentrasi dipertahankan sesuai kebutuhan. Ekskresi bisa dalam bentuk asli atau hasil metabolismenya. Demikian pula yang disuntikkan secara intramuskuler. 3. Apabila obat anestesi inhalasi.

Proses difusi akan terganggu bila terdapat penghalang antara alveoli dan sirkulasi darah misalnya pada udem paru dan fibrosis paru. Pada gangguan pembuluh darah paru makin sedikit obat yang dapat diangkut demikian juga pada keadaan cardiac output yang menurun.Aliran darah dalam jaringan. . akibatnya penderita mudah tertidur waktu induksi dan mudah bangun waktu anestesi diakhiri.Kecepatan metabolisme obat. Faktor sirkulasi Aliran darah paru menentukan pengangkutan gas anestesi dari paru ke jaringan dan sebaliknya. Faktor jaringan Yang menentukan antara lain: . MAC adalah konsentrasi obat anestesi inhalasi minimal pada tekanan udara 1 atm yang dapat mencegah gerakan otot skelet sebagai respon rangsang sakit supramaksimal pada 50% pasien. Makin rendah MAC makin tinggi potensi obat anestesi tersebut. Pada keadaan ventilasi alveoler meningkat atau keadaan ventilasi yang menurun misalnya pada depresi respirasi atau obstruksi respirasi. 7 . Bila kelarutan zat anestesi dalam darah tinggi/BG koefisien tinggi maka obat yang berdifusi cepat larut di dalam darah.Faktor zat anestesi Tiap-tiap zat anestesi mempunyai potensi yang berbeda. .Tissue/blood partition coefisien . maka cepat terjadi keseimbangan antara alveoli dan sirkulasi darah. Menurut Merkel dan Eger (1963). Blood gas partition coefisien adalah rasio konsentrasi zat anestesi dalam darah dan dalam gas bila keduanya dalam keadaan keseimbangan.Perbedaan tekanan parsiel obat anestesi di dalam sirkulasi darah dan di dalam jaringan. Untuk mengukur potensi obat anestesi inhalasi dikenal adanya MAC (minimal alveolar concentration). .Makin tinggi perbedaan tekanan parsiel makin cepat terjadinya difusi. sebaliknya obat dengan BG koefisien rendah.

Dimulai dari nafas teratur sampai paralise otot nafas. Dimulai dari hilangnya kesadaran sampai nafas teratur. gerakan bola mata. refleks cahaya positif gerakan bola mata tidak teratur. 1. Stadium III Disebut juga stadium operasi. Guedel membagi kedalaman anestesi menjadi 4 stadium dengan melihat pernafasan. Keadaan ini bisa dikurangi dengan memberikan premedikasi yang adekuat. tetapi cukup adekuat untuk melakukan operasi. Stadium I Disebut juga stadium analgesi atau stadium disorientasi. lakrimasi meningkat. 2. Gerakan bola mata berhenti. karena itu harus segera diakhiri. Kedalaman anestesi dinilai berdasarkan tanda klinik yang didapat. Stadium ini diakhiri dengan hilangnya refleks menelan dan kelopak mata dan selanjutnya nafas menjadi teratur. Pada stadium ini operasi kecil bisa dilakukan. tonus otot meninggi. dapat terjadi batuk atau muntah. agar tidak terlalu dalam sehingga membahayakan jiwa penderita. Dimulai sejak diberikan anestesi sampai hilangnya kesadaran. pernafasan irregular. Ditandai dengan nafas teratur. persiapan psikologi penderita dan induksi yang halus dan tepat. tonus otot dan refleks pada penderita yang mendapat anestesi ether. refleks cahaya (+). Dalam stadium ini penderita bisa meronta ronta. Dibagi menjadi 4 plane: Plane I: Dari nafas teratur sampai berhentinya gerakan bola mata. pupil melebar. lakrimasi (+). Stadium II Disebut juga stadium delirium atau stadium exitasi. kadang-kadang kencing atau defekasi. tanda pada pupil. reflex fisiologi masih ada. Keadaan emergency delirium juga dapat terjadi pada fase pemulihan dari anestesi. Stadium anestesi Kedalaman anestesi harus dimonitor terus menerus oleh pemberi anestesi. Stadium ini membahayakan penderita. reflex faring dan muntah menghilang. tonus otot menurun. nafas torakal sama dengan abdominal. 8 . 3. pupil mengecil.

mulai terjadi depresi nafas torakal. pupil mulai melebar dan refleks cahaya menurun. tonus otot makin menurun. Ditandai dengan pernafasan teratur. Ditandai dengan paralise otot interkostal. Setelah pasien tidur akibat induksi anestesia langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesia sampai tindakan pembedahan selesai. T : Tube. volume tidak menurun dan frekuensi nafas meningkat. sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. bola mata berhenti. inhalasi.- Plane II: Dari berhentinya gerakan bola mata sampai permulaan paralisa otot interkostal.pilih sesuai usia. Juga disebut stadium over dosis atau stadium paralysis. iregular dan tidak adekuat. 4. intramuscular atau rectal. reflex laring dan peritoneal menghilang. pupil makin melebar dan reflex cahaya menjadi hilang. Laringo-Scope. Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Pipa trakea. - Plane III: Dari permulaan paralise otot interkostal sampai paralise seluruh otot Interkostal. pernafasan lambat. Ditandai dengan pernafasan abdominal lebih dorninan dari torakal karena terjadi paralisis otot interkostal. pupil dilatasi. Tonus otot makin menurun sehingga terjadi flaccid. terjadi respiratory failure dan dikuti dengan circulatory failure. Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan „STATICS‟: S : Scope. Ditandai dengan hilangnya semua refleks. refleks cahaya negatif refleks spincter ani negative. Lampu harus cukup terang. Stadium IV Dari paralisis diafragma sampai apneu dan kematian. refleks kornea menghilang dan tonus otot makin menurun. pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. Induksi Anestesi Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar. terjadi jerky karena terjadi paralise diafragma. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan > 5 tahun dengan balon (cuffed). pupil melebar. lakrimasi negafif. - Plane IV: Dari paralise semua otot interkostal sampai paralise diafragma. 9 . Induksi dapat dikerjakan secara intravena.

perangkat hisap yang efektif. Pipa mulut faring (Guedel. Dalam sebagian besar keadaan. monitor yang sesuai dengan standar ASA (American Society of Anesthesiologist) . obat-obatan dan peralatan yang tepat. penilaian status fungsional jantung dan paru. serta keadaan pasien yang optimal. jika obat harus diberikan sepenuhnya intravena. suhu. I : Introducer. kapnografi. Hal ini juga 10 . denyut nadi oksimetri. termasuk denyut jantung. perhatian terhadap kondisi medis pasien yang terbaru atau yang sedang berlangsung. Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.  Persiapan Anestesia Umum: Praktek anesesi yang aman dan efisien memerlukan personil bersertifikat. Selain ini. dan rencana anestesi yang efektif dan aman. EKG. sebuah sumber oksigen bertekanan (paling sering di pipa). Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan. orotracheal airway) atau pipa hidung-faring (nasotracheal airway). diskusi dari setiap reaksi sebelumnya yang merugikan pribadi atau keluarga untuk anestesi umum. Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas. Evaluasi praoperasi memungkinkan pemantauan laboratorium yang tepat. Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia S : Suction.  Persyaratan minimum untuk anestesi umum Kebutuhan infrastruktur minimum untuk anestesi umum termasuk ruang yang cukup terang dengan ukuran yang memadai. Metode yang paling efisien adalah pasien ditinjau oleh orang yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi dengan baik sebelum tanggal operasi. dan konsentrasi oksigen terinspirasi dan dihembuskan dan zat anestesi yang diaplikasikan. T : Tape. penyedot lender. ludah danlain-lainnya. ini berarti membutuhkan tersedianya sebuah mesin yang memungkinkan untuk mengetahui pemasukkan gas dan memelihara anestesi tetap berjalan  Menyiapkan pasien Kondisi pasien harus cukup dipersiapkan. Alat yang sederhana seperti jarum dan jarum suntik. C : Connector. tekanan darah. beberapa peralatan dibutuhkan untuk memasukkan zat anestesi.A : Airway.

Pada banyak pasien yang diintubasi karena indikasi emergensi. rencana yang sesuai untuk intubasi dapat diuraikan dan langkah tambahan. leher. Dengan menggabungkan semua faktor. dapat diambil untuk mempersiapkan bronkoskopi serat optik. meliputi kondisi dibawah ini: Rahang yang kecil atau mundur Gigi rahang atas yang menonjol Leher yang pendek Ekstensi leher terbatas Pertumbuhan gigi yang buruk Tumor di wajah. Pemeriksaan fisik yang terkait dengan evaluasi praoperasi memungkinkan pelaksana anestesi untuk fokus secara khusus pada kondisi saluran napas yang diharapkan. anatomi leher. yang mengidentifikasi pasien dengan faring yang kurang jelas divisualisasikan melalui mulut terbuka.  Manajemen jalan napas Kesulitan yang mungkin dihadaapi dalam manajemen jalan napas. atau tenggorokan Trauma pada wajah Fiksasi antar-gigi Penggunaan cervical collar yang keras Berbagai sistem penilaian telah dibuat menggunakan pengukuran orofacial untuk memprediksi intubasi sulit. keterbatasan dalam rentang gerak leher.berfungsi untuk meredakan kecemasan dari pembedahan yang tidak diketahui oleh pasien dan keluarga mereka. proses ini memungkinkan untuk optimasi pasien pada waktu perioperatif. termasuk membuka mulut. mulut. laringoskopi video. Sebuah penilaian sederhana dapat dilakukan pada pasien dalam posisi terlentang untuk mendapatkan gambaran dari ukuran 11 . dan presentasi Mallampati (lihat di bawah). Yang paling banyak digunakan adalah skor Mallampati. gigi longgar atau bermasalah. jika perlu. jenis penilaian seperti ini tidak mungkin. Secara keseluruhan. atau berbagai intervensi sulit terhadap saluran napas lainnya. Penilaian Mallampati idealnya dilakukan saat pasien duduk dengan mulut terbuka dan lidah yang menonjol tanpa phonating.

praktisi mengandalkan beberapa kriteria dan pengalaman mereka untuk menilai jalan napas.bukaan mulut dan perkiraan lidah dan orofaring sebagai faktor dalam keberhasilan intubasi (lihat gambar di bawah) Skor Mallampati yang tinggi telah terbukti menjadi prediksi intubasi sulit. pernapasan. Pelaksana anestesi bertanggung jawab untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis pasien dan memilih teknik anestesi yang optimal sesuai kondisi pasien. Akibatnya. dan sirkulasi Dapat digunakan dalam kasus-kasus yang sensitif terhadap zat anestesi local Dapat diberikan tanpa memindahkan pasien dari posisi terlentang Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur operasi dengan durasi waktu yang tak dapat diprediksi atau pada keadaan penambahan waktu operasi Dapat diberikan dengan cepat dan reversibel 12 . Beberapa pertimbangan dalam melakukan anestesi umum meliputi:  Keuntungan Menurunkan kesadaran dan ingatan pasien selama operasi Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas. tidak ada sistem penilaian yang sensitive 100% atau spesifik 100% . Namun.

asidosis metabolik. bila relaksasinya kurang maka ahli bedah akan mengeluh karena tidak bisa bekerja dengan baik. Tergantung lama operasinya. Kekurangan Membutuhkan peningkatan kompleksitas perawatan dan biaya yang terkait Membutuhkan persiapan pasien praoperasi Dapat menyebabkan fluktuasi perubahan fisiologis yang memerlukan intervensi aktif Terkait dengan komplikasi kurang serius seperti mual atau muntah. hiperkarbia. menggigil. sakit tenggorokan. untuk operasi yang membuka abdomen maka usus akan bergerak dan menyembul keluar. sehingga menimbulkan gangguan pada organ vital. Pada umumnya keadaan relaksasi dapat tercapai setelah dosis obat anestesi yang diberikan sedemikian tinggi. Dengan 13 .  Cara memberikan anestesi Pemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat sehingga penderita tidur. yaitu dengan cara menambah dosis obat. Keadaan relaksasi bisa terjadi pada anestesi yang dalam. Pada operasioperasi yang memerlukan relaksasi otot. untuk operasi yang waktunya pendek mungkin cukup dengan induksi saja. sehingga bila kurang relaksasi salah satu usaha untuk membuat lebih relaksasi adalah dengan mendalamkan anestesi. sakit kepala. Kedaaan ini dapat diatasi dengan cara mendalamkan anestesi. terkait dengan kondisi otot yang terkena paparan beberapa (tidak semua) zat anestesi umum yang dapat menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi mematikan. sebuah kondisi yang jarang. kedalaman anestesi perlu dipertahankan dengan memberikan obat terus menerus dengan dosis tertentu. Tetapi untuk operasi yang lama. dan dibutuhkan waktu dalam pengembalian fungsi mental yang normal Terkait dengan kondisi hipertermia yang gawat. hal ini disebut maintenance atau pemeliharaan. dan hyperkalemia. operasi yang memerlukan penarikan otot juga sukar dilakukan.

Dosis obatnya minimal. . tanpa dilakukan nafas buatan. maka otot mengalami relaksasi. jadi tidak bisa berkontraksi atau mengalami kelumpuhan. anestesi umum dibedakan dalam 3 macam yaitu: 14 . karena itu balance anestesi juga disebut dengan tehnik respirasi kendali atau control respiration. sehingga gangguan pada organ vital dapat dikurangi. karena hipoksia. termasuk otot respirasi. Karena itu harus dilakukan nafas buatan (dipompa). relaksasinya menggunakan pelemas otot (muscle relaxant) tehnik ini disebut balance anestesi.Karena pernafasan bisa dilumpuhkan secara total maka mempermudah tindakan operasi pada rongga dada (thoracotomy) tanpa terganggu oleh gerakan pernafasan. yaitu penderita dibuat tidur dengan obat hipnotik. Dengan demikian berdasar respirasinya. Untuk mempermudah respirasi kendali penderita harus dalam keadaan terintubasi. untuk menurunkan kadar CO2 dalam darah sampai pada titik tertentu misalnya pada operasi otak. Dengan hiperventilasi kita juga dapat menurunkan tekanan darah untuk operasi yang memerlukan tehnik hipotensi kendali. Kita juga dapat mengembangkan dan mengempiskan paru dengan sekehendak kita tergantung keperluan.demikian keadaan ini akan mengancam jiwa penderita. jadi penderita tidak dapat bernafas. Selesai operasi penderita cepat bangun sehingga mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh penderita yang tidak sadar.Dengan dapat diaturnya pernafasan maka dengan mudah kita bisa melakukan hiperventilasi. Jadi nafas penderita sepenuhnya tergantung dari pengendalian pelaksana anestesi. Dengan menggunakan balance anestesi maka ada beberapa keuntungan antara lain: . Untuk mengatasi hal ini maka ada tehnik tertentu agar tercapai trias anestesi pada kedalaman yang ringan. analgesinya menggunakan analgetik kuat. . Polusi kamar operasi yang ditimbulkan obat anestesi inhalasi dapat dikurangi. penderita akan mengalami kematian. Pada balance anestesi karena menggunakan muscle relaxant. lebih-lebih pada penderita yang sensitif atau memang sudah ada gangguan pada organ vital sebelumnya.

Karena udara ekspirasi diinspirasi lagi. 3. . maka pemakaian obat anestesi dan oksigen dapat dihemat dan kurang menimbulkan polusi kamar operasi.Assisted Respirasi: penderita bernafas spontan tetapi masih kita berikan sedikit bantuan. bila memakai obat yang mudah terbakar maka akan meningkatkan resiko terjadinya kebakaran di kamar operasi. disini CO2 akan diikat oleh sodalime. semi open. Di sini tidak ada hubungan fisik secara langsung antara jalan napas penderita dengan alat anestesi. klep ini disebut non rebreating valve. hilangnya kelembaban respirasi. Kelebihan aliran gas dikeluarkan melalui klep over flow. Kekurangan sistem ini adalah boros obat anestesi. Dalam sistem semi closed. tetapi mengandung CO2 yang lebih tinggi. yang mengarahkan udara ekspirasi keluar. menimbulkan polusi obat anestesi di kamar operasi. anestesi dibedakan menjadi 4 sistem.Respirasi kendali/respirasi terkontrol /balance sepenuhnya tergantung bantuan kita. Di sini udara ekspirasi babas keluar menuju udara bebas. Berdasar sistim aliran udara pernapasan dalam rangkaian alat anestesi. yaitu : Open. Selanjutnya udara ini digabungkan dengan campuran gas anestesi dan oksigen dari sumber gas ( FGF /Fresh Gas Flow) untuk diinspirasi kembali.. Sistem open adalah sistem yang paling sederhana. 15 anestesi: pernafasanpenderita . dialirkan menuju tabung yang berisi sodalime. udara ekspirasi yang mengandung gas anestesi dan oksigen lebih sedikit dibanding udara inspirasi. 1.Respirasi spontan yaitu penderita bernafas sendiri secara spontan. ada pula yang masih ditambah dengan klep 1 arah. . kedalaman anestesi tidak stabil dan tidak dapat dilakukan respirasi kendali. Dalam sistem ini tingkat keborosan dan polusi kamar operasi lebih rendah dibanding system open. Karena itu tidak menimbulkan peningkatan tahanan respirasi. closed. Dalam system semi open alat anestesi dilengkapi dengan reservoir bag selain reservoir bag. dan semi closed. 2.

tetapi disini tidak ada udara yang keluar dari sistem anestesi menuju udara bebas. maka disebut anestesi intravena total (total intravenous anesthesia/TIVA). karena pemberian yang berlebihan bisa berakibat tekanan makin meninggi sehingga. Dalam system closed prinsip sama dengan semi closed. Pada system closed dan semiclosed juga disebut system rebreathing. Penambahan oksigen dan gas anestesi harus diperhitungkan. tetapi juga tidak berlebihan. menimbulkan pecahnya alveoli paru. system ini tidak perlu sodalime. Sistem ini adalah sistem yang paling hemat obat anestesi dan tidak menimbulkan polusi. agar tidak kurang sehingga menimbulkan hipoksia dan anestesi kurang adekuat.4. aliran campuran gas anestesi dan oksigen harus cepat. Bila induksi dan maintenance anestesi menggunakan obat inhalasi maka disebut VIMA (Volatile Inhalation and Maintenance Anesthesia) Pemulihan anestesi 16 . sistem ini juga perlu sodalime untuk membersihkan CO2. biasanya diberikan antara 2 – 3 kali menit volume respirasi penderita. System Rebreathing Reservoir bag Sodalime Tingkat polusi Tingkat kamar operasi keborosan obat Open Semi open Semi closed Closed + + + + + + + + ++++ +++ ++ + +++ ++ + - Bila obat anestesi seluruhnya menggunakan obat intravena. Untuk menjaga agar pada system semi open tidak terjadi rebreathing. Pada system open dan semi open juga disebut system nonrebreathing karena tidak ada udara ekspirasi yang diinspirasi kembali. karena udara ekspirasi diinspirasi kembali.

Dengan demikian tekanan parsiel obat anestesi di alveoli juga berangsur-angsur turun. Turunnya kadar obat anestesi inhalasi tertentu di dalam darah. Ekstubasi pada keadaan setengah sadar membahayakan penderita. Tetapi ada operasi tertentu ekstubasi dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam. sehingga kadar oksigen di dalam darah meningkat. maka anestesi diakhiri dengan menghentikan pemberian obat anestesi. sedangkan bagi penderita yang menggunakan pipa endotrakheal maka perlu dilakukan ekstubasi(melepas pipa ET). Selanjutnya pada penderita yang dianestesi dengan respirasi spontan tanpa menggunakan pipa endotrakheal maka tinggal menunggu sadarnya penderita. naiknya tekanan intra okuli dan naiknya tekanan intra cranial. Semakin tinggi perbedaan tekanan parsiel tersebut kecepatan difusi makin meningkat. selain akibat difusi di alveoli juga akibat sebagian mengalami metabolisme dan ekskresi lewat hati.Pada akhir operasi atau setelah operasi selesai. maka kesadarannya. Bagi penderita yang mendapat anestesi intravena. Pada anestesi inhalasi bersamaan dengan penghentian obat anestesi aliran oksigen dinaikkan. berangsur-angsur pulih dengan turunnya kadar obat anestesi akibat metabolisme atau ekskresi setelah pemberinya dihentikan. gangguan kardiovaskuler. sehingga lebih rendah dibandingkan dengan tekanan parsiel obat anestesi inhalasi didalamdarah. Maka terjadilah difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli. menggantikan posisi obat anestesi yang berdifusi menuju ke alveoli. Ekstubasi pada waktu penderita masih teranestesi dalam mempunyai resiko tidak terjaganya jalan nafas. dan keringat. Dengan oksigenisasi maka oksigen akan mengisi tempat yang sebelumnya ditempati oleh obat anestesi inhalasi diaveoli yang berangsur-angsur keluar mengikuti udara ekspirasi. Kesadaran penderita juga berangsur-angsur pulih sesuai dengan turunnya kadar obatanestesi di dalam darah. hal ini disebut oksigenisasi. karena dapat terjadi spasme jalan napas. batuk. ginjal. dalam kurun waktu antara tidak sadar sampai sadar. Pada penderita yang mendapat balance anestesi maka ekstubasi dilakukan setelah napas penderita adekuat. Sementara itu oksigen dari alveoli akan berdifusi ke dalam darah. Semakin tinggi tekanan parsiel oksigen di alveoli (akibat oksigenisasi) difusi kedalam darah semakin cepat. muntah. Akibat terjadinya difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli. Untuk 17 . Ekstubasi bisa dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam dan dapat juga dilakukan setelah penderita sadar. maka kadarnya di dalam darah makin menurun.

menggelengkan kepala dan menggerakkan ekstremitas. Sebagian ahli anestesi melakukan ekstubasi setelah penderita sadar. batuk.50 Perbedaan lebih dari 50 4. 5-8 observasi secara ketat. Sirkulasi: perbedaan dengan tekanan preanestesi Perbedaan +. nilai 8-10 bisa dipindahkan ke ruang perawatan. nafas dangkal atau ada hambatan Apnoe 3.20 Perbedaan +. bisa diperintah menarik napas dalam. Penilaian yang lebih obyektif tentang seberapa besar pengaruh muscle relaxant adalah dengan menggunakan alat nerve stimulator. Sebagian ahli anestesi tetap memberikan reverse walaupun napas sudah adekuat bagi penderita yang sebelumnya mendapat muscle relaxant.mempercepat pulihnya penderita dari pengaruh muscle relaxant maka dilakukan reverse. yaitu memberikan obat antikolinesterase. pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan terus diobservasi dengan cara menilai Aldrette’s score nya. Adapun setelah prosedur diatas selesai. Respirasi: Dapat melakukan nafas dalam. kurang dari 5 pindahkan ke ICU. bebas. dan dapat batuk Sesak nafas. Aktivitas: dapat menggerakkan ekstremitas atas perintah: 4 ekstremitas 2 ekstremitas Tidak dapat Nilai 2 1 0 2 1 0 2 1 0 2 1 18 . Kesadaran: Sadar penuh Bangun bila dipanggil Tidak ada respon 2. penilaian meliputi: Hal yang dinilai 1.

Warna kulit Normal Pucat. gelap.0 5. kuning atau berbintik-bintik Cyanotic 2 1 0 19 .

setiap obat anestesi mempunyai variasi tersendiri bergantung pada jenis obat. Kesimpulan Anestesi umum Stadium anestesi umum meliputi “analgesia. Komponen anestesi yang ideal terdiri dari: 1. dosis yang diberikan. 3. 20 . Tetapi untuk operasi yang lama. terhambatnya sensorik dan reflex otonom. amnesia. Jenis obat anestesi umum Umumnya obat anestesi umum diberikan secara inhalasi atau suntikan intravena. kedalaman anestesi perlu dipertahankan dengan memberikan obat terus menerus dengan dosis tertentu. hilangnya kesadaran”. Analgetik. hal ini disebut maintenance atau pemeliharaan. dan keadaan secara klinis. dan relaksasi otot rangka.BAB III PENUTUP A. Hipnotik. Relaksasi otot. untuk operasi yang waktunya pendek mungkin cukup dengan induksi saja. Pemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat sehingga penderita tidur. Anestetik yang ideal akan bekerja secara tepat dan baik serta mengembalikan kesadaran dengan cepat segera sesudah pemberian dihentikan. Tergantung lama operasinya. Stadium dan tanda ini mungkin tidak mudah terlihat pada pemakaian anestetik modern dan anestetik intravena yang bekerja cepat. 2. yang mempunyai mula kerja sentral yang lambat karena kelarutannya yang tinggi didalam darah. Untuk menimbulkan efek ini. Tanda dan stadium anestesi Gambaran tradisional tanda dan stadium anestesi (tanda guedel) berasal terutama dari penilitian efek diatil eter.

Available at http://www. Muhiman M. 2010 3. Anestesiologi. Jakarta: Indeks. Wiryana IM. 4. Accessed on June 18 2012.mayoclinic. Latief SA. General Anesthesia. General Anesthesia. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan terapi Intensif FKUI.com/article/1271543-overview#showall. Dachlan MR. Latief SA. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Sujana IBG. Jakarta: FKUI.com/health/anesthesia/MY00100 5. 21 . Budiarta IG.2011 2. Accessed on June 18 2012. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Suryadi KA. Desai AM. Basuki G.DAFTAR PUSTAKA 1. Edisi kedua.medscape. Available at http://emedicine. Sinardja K.