2.

1 Lanjut Usia (Lansia) Menurut World Health Organization (WHO), lansia merupakan individu yang berusia 60 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual (Martono, 2010). WHO telah menetapkan bahwa batasan umur lanjut usia yaitu: usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) antara 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) antara 75 sampai 90 tahun dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun (Nugroho, 2000). Menurut Undang-Undang No.13 tahun 1998 pada Bab I pasal 1 ayat 2 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia disebutkan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas (Maryam dkk., 2008). 2.1.2 Proses menua Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang maksimal. Setelah itu tubuh mulai mengalami penurunan karena berkurangnya jumlah sel-sel yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami penurunan fungsi secara perlahan-lahan. Itulah yang dikatakan proses penuaan (Maryam dkk., 2008). Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Dengan demikian tubuh secara progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi serta terjadi gangguan metabolisme dan struktural yang disebut penyakit degeneratif (Martono, 2010). Menurut Setiati dkk. (2010) seiring bertambahnya usia akan berakibat pada semakin kecil kapasitas lansia untuk membawa dirinya ke keadaan homeostasis setelah terjadinya suatu challenge (keadaan yang mengganggu homeostasis).

1

bahkan antara satu sel terhadap sel lain pada individu yang sama (Setiati dkk. keterbatasan fungsional (functional limitations). sistem endokrin. Biasanya proses ini ditandai oleh kemunduran fisik. perubahan yang terlihat dari proses menua sangat bervariasi dan variabilitas ini semakin meningkat seiring peningkatan usia.Proses menua (aging process) yang terjadi pada lansia secara linear dapat digambarkan melalui empat tahap. 2000). Meskipun merupakan suatu proses fisiologis. Proses ini dimulai sejak usia 30 tahun dan semakin meningkat pada usia 45 tahun ke atas.. sistem muskuloskeletal dan sistem genitourinaria. antara satu sistem organ dengan sistem organ lain. diantaranya sistem saraf. anatomi dan fungsional yang akan mempengaruhi kemampuan tubuh secara keseluruhan (Hardinsyah. Variasi terjadi antara satu individu dengan individu lain pada umur yang sama. sistem kardiovaskuler. 2008).1 (Fauci dkk. sistem pernapasan. Penuaan dapat mengakibatkan perubahan pada sistem organ yang spesifik. 2010). 2 . yaitu kelemahan (impairment). Perubahan ini terlihat pada tabel 2.. Pada proses penuaan terjadi degenerasi jaringan serta sel-sel tubuh yang berlangsung secara terus-menerus dan berkesinambungan. ketidakmampuan (disability) dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran.

bakteriuria Volume urin sisa Osteopenia Keadaan mudah lupa Depresi Cara jalan yang lebih kaku Umum Mata/Telinga Presbiopia Kekeruhan lensa Penurunan ketajaman pendengaran terhadap suara berfrekuensi tinggi Endokrin Metabolisme glukosa terganggu Penurunan absorpsi dan aktivasi vitamin D Penurunan elastisitas paru dan kekakuan dinding dada Penurunan kelenturan arteri dan peningkatan TD sistolik Penurunan daya responsif terhadap βadrenergik Respirasi Kardiovaskular Renal Penurunan GFR Penurunan pemekatan/ pengenceran urin Genitourinaria Atrofi mukosa vagina/ uretra Pembesaran prostat Muskuloskeletal Penurunan densitas tulang sistem saraf Atrofi serebri Penurunan sintesis katekolamin otak Penurunan sistesis dopaminergik otak Sumber: Fauci dkk. hilangnya kontraksi atrium Penurunan curah jantung dan respon denyut jantung terhadap stress Gangguan ekskresi beberapa obat Respon terlambat terhadap restriksi/ pembebanan kelebihan garam atau cairan.Tabel 2. deplesi volume. hidup seorang diri. nokturia Dispareuni. 2008 Berbagai penyakit yang terjadi pada lansia sangat erat kaitannya dengan masalah gizi.1 Beberapa perubahan fisiologi yang berhubungan dengan usia dan konsekuensinya Organ/ Sistem Perubahan fisiologi yang berhubungan dengan usia Peningkatan lemak tubuh Penurunan air tubuh total Konsekuensinya Peningkatan volume distribusi untuk obat yang larut lemak Penurunan volume distribusi untuk obat yang larut air Penurunan akomodasi Peningkatan kerentanan cahaya terang Kesulitan membedakan kata bila lingkungan sekitar berisik Peningkatan kadar glukosa sebagai respon terhadap penyakit akut Osteopenia Ketidaksepadanan ventilasi/perfusi Respon hipotensi terhadap peningkatan denyut jantung. gangguan 3 . baik gizi kurang maupun gizi berlebih. isolasi sosial. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan.. gangguan sosial.

air dan serat. 2. jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Masalah ini sangat berkaitan dengan pola makan. Makanan merupakan sumber tenaga untuk hidup. 2010). yaitu karbohidrat. Departemen Kesehatan (2004) mengemukakan bahwa kecukupan gizi lansia pada umumnya dihitung berdasarkan kebutuhan kalori atau energi. Status gizi dikatakan baik jika pola makan yang dikonsumsi seimbang. terjadi perubahan pola makan yang diakibatkan oleh perubahan fisiologis dan psikososial (Almatsier.2. Kebutuhan energi pada lansia menurun 4 . Masalah gizi timbul akibat ketidakseimbangan energi yang masuk dengan energi yang dikeluarkan.2 Status Gizi Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan refleksi dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Artinya.mental. 2004). Namun. vitamin. bertambahnya usia umumnya disertai dengan menurunnya fungsi organ. 2010). malabsorbsi. Perubahan itu menyebabkan jumlah kebutuhan gizi pada lansia berubah. gangguan mengunyah. 2004). Konsumsi makanan yang cukup dan seimbang akan bermanfaat bagi lansia untuk mencegah dan mengurangi masalah gizi (Martono. Makanan juga merupakan sumber pembangun dan pertumbuhan serta mengganti bagian-bagian tubuh yang rusak. kemiskinan. protein. Selain itu. peningkatan kebutuhan gizi dan lain-lain (Martono. Pada lansia. makanan diperlukan untuk mengatur proses yang terjadi di dalam tubuh.1 Kebutuhan gizi lansia Pada prinsipnya jenis zat gizi yang dibutuhkan lansia sama seperti usia muda. lemak. sebagai berikut: a. Status gizi dapat diukur dari berat badan dan tinggi badan dengan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) (WHO. 2. obat-obatan. gangguan nafsu makan. 2004). Almatsier (2006) mendefinisikan status gizi sebagai keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Energi AKG yang dianjurkan untuk lansia (>60 tahun) pada laki-laki adalah 2050 kalori dan pada wanita adalah 1600 kalori. Angka Kecukupan Gizi (AKG) merupakan suatu taraf asupan atau intake yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan gizi seseorang (Almatsier.

e. d. natrium dan magnesium juga dibutuhkan untuk proses metabolisme dalam tubuh (Depkes. B1 dan B12 serta asam folat juga dianjurkan untuk mencegah penyakit anemia pada lansia (Martono. Jumlah karbohidrat yang dikonsumsi lansia sebaiknya 55-60% dari total energi (Stanley dan Patricia. selenium dan kalsium untuk mencegah anemia. pengeroposan tulang serta untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 2010). Air merupakan komponen utama yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia. Sekitar 60% dari total berat badan orang dewasa terdiri dari air. Lansia dianjurkan untuk mengkonsumsi lemak tidak lebih dari 15% total energi (Depkes. Air sangat penting dalam proses metabolisme dan mengeluarkan sisa pembakaran tubuh. air dan serat Lansia dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi makanan vitamin A. 2010). D dan E sebagai antioksidan untuk mencegah penyakit degeneratif. konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C. Zn. Lemak Lemak berlebih disimpan dalam tubuh sebagai cadangan tenaga dan bila berlebihan akan ditimbun sebagai lemak tubuh. Selain itu. Disamping itu. kalium. Karbohidrat Karbohidrat merupakan sumber energi utama di dalam menu makanan Indonesia. Lansia dianjurkan mengkonsumsi karbohidrat komplek karena mengandung vitamin. Selain vitamin. c. 2004).8 gram/kgBB atau 15-25% dari kebutuhan energi (Soejono. Protein Kecukupan protein pada lansia adalah sekitar 0. lansia juga dianjurkan mengkonsumsi makanan kaya Fe. zat gizi mikro lain seperti pospor. mineral. 2004). 2006). b. Air dan serat juga dianjurkan untuk lansia agar buang air besar menjadi 5 . Jumlah protein yang dibutuhkan menurut Depkes (2004) untuk lansia laki-laki adalah 60 gram/hari dan wanita 50 gram/hari.sehubungan dengan penurunan metabolisme basal dan aktivitas fisik yang cenderung menurun (Martono. Vitamin. 2010). mineral dan juga serat daripada mengkonsumsi karbohidrat murni seperti gula.

Serat juga dapat mencegah penyerapan kolesterol dalam tubuh sehingga dapat menurunkan kolesterol dalam tubuh (Almatsier. Santoso (2004) mengemukakan bahwa pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. 2002). 2004). mengolah dan menyajikan makanan. Daerah pegunungan dan pertanian. menu sehari-hari adalah (Arisman.2 Pola makan dan menu lansia Pola makan atau pola konsumsi pangan merupakan susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu (Baliwati. Perubahan fisiologis pada lansia akan mempengaruhi pola makan pada lansia. 2004). tetapi cukup mengandung zat gizi sesuai dengan persyaratan kebutuhan lansia Bervariasi jenis makanan dan cara olahnya Membatasi konsumsi lemak 6 . Pola makan masyarakat di Indonesia pada umumnya diwarnai oleh jenisjenis bahan makanan yang umum dan diproduksi di wilayah tersebut. Makanan pokok di Indonesia yaitu nasi. Hal tersebut akan terpola dan menjadi kebiasaan suatu kelompok masyarakat. Setiap budaya mempunyai keyakinan dan cara sendiri dalam memperoleh. dikonsumsi hampir semua orang di Indonesia (95%). Ahli gizi menganjurkan untuk menu lansia yang sehat. 2009):    Tidak berlebihan. 2. ikan merupakan makanan sehari-hari yang dipilih karena dapat dihasilkan sendiri (Gunawan. Masyarakat nelayan di daerah pantai seperti halnya di Aceh.2. Pola makan lansia mencerminkan sikap dan kebiasaan selama hidupnya yang dipengaruhi oleh lingkungan. masyarakatnya banyak mengkonsumsi sayuran karena sayuran mudah didapat di wilayah tersebut. 2002).lancar. Nasi dikonsumsi berdampingan dengan sumber zat gizi lain seperti protein dan lemak (Darmojo. 2002). termasuk lansia. Lansia pada umumnya lebih menyukai makanan yang berkaitan dengan pengalaman yang menyenangkan atau berhubungan dengan rumah atau daerah asal (Gunawan.

merokok dan minuman beralkohol Cukup banyak mengkonsumsi makanan berserat (buah-buahan. Menu makanan lansia dalam sehari dapat disusun berdasarkan konsep gizi seimbang. anak-anak dan remaja). b.1% sedangkan laki-laki sebesar 15.2. Pola makan disesuaikan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan dan menu makanannya disesuaikan dengan ketersediaan dan kebiasaan makan tiap daerah.6% (Riskesdas. kebutuhan protein vitamin dan mineral cukup tinggi sebagai antioksidan untuk melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas yang dapat merusak sel (Martono. tahu (1 potong= 25 gram) Kelompok sayuran: bayam (1 mangkok= 100 gr) Kelompok buah-buahan: pepaya (1 potong= 100 gr) Susu (1 gelas= 100 gr) 2. kebutuhan kalori (lemak dan karbohidrat) akan menurun. Umur Pada masa pertumbuhan (bayi. sebagai contoh:      Kelompok makanan pokok (utama): nasi (1 porsi= 200 gram) Kelompok lauk pauk: daging (1 potong= 50 gram). Aktivitas fisik dan mental 7 . Jenis kelamin Umumnya laki-laki memerlukan zat gizi yang lebih banyak karena perbedaan postur. c. Makin tua seseorang. semua kebutuhan zat gizi tinggi. sayuran dan sereal) untuk menghindari sembelit atau konstipasi Minuman yang cukup Susunan makanan sehari-hari untuk lansia hendaknya tidak terlalu banyak menyimpang dari kebiasaan makanan serta disesuaikan dengan keadaan psikologisnya. otot dan luas permukaan tubuh dibandingkan dengan wanita.    Membatasi konsumsi gula Menghindari konsumsi garam yang terlalu banyak. Di Indonesia.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi lansia a. Namun. 2010). 2010). prevalensi gizi lebih orang dewasa terbesar terjadi pada perempuan yaitu sebesar 26.

Proporsi konsumsi sumber energi dari karbohidrat dapat berkurang akan tetapi proporsi sumber energi dari lemak dan protein akan meningkat sehingga apabila tidak terkontrol akan menimbulkan masalah gizi (Adianto. Pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan menentukan kualitas serta kuantitas makanan. Kekurangan gizi (Undernutrition) 8 . d. Bakri dan Fajar. Pendidikan yang baik serta pengetahuan yang memadai merupakan modal seseorang termasuk lansia dalam mempertimbangkan pemilihan makanan bukan saja berdasarkan selera tetapi juga pemenuhan kebutuhan gizi (Adianto.Orang yang melakukan aktivitas fisik memerlukan zat gizi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang hanya duduk atau tidur. 2006). Disisi lain. 2. sirosis hati dan kanker (Supariasa.4 Masalah gizi pada lansia Masalah gizi yang umum terjadi pada lansia selain kekurangan gizi juga kelebihan gizi yang memacu timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner. 2003). Pendidikan dan pengetahuan gizi Tingkat pendidikan yang tinggi akan mempermudah seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi khususnya tentang makanan yang baik untuk kesehatan.2. diabetes mellitus. Status ekonomi Pendapatan seseorang menentukan pola makan. a. Semakin berat kerja seseorang. hipertensi. Dengan meningkatkan status gizi pada lansia diharapkan keadaan kesehatan dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Walaupun aktivitas fisik lebih banyak membutuhkan zat gizi daripada aktivitas mental namun stress berkepanjangan dapat mengganggu proses metabolisme tubuh. semakin besar zat gizi yang dibutuhkan. kemajuan di bidang ekonomi dapat mempengaruhi pola konsumsi. ginjal. reumatik. Aktivitas akan meningkatkan nafsu makan sehingga intake makanan bertambah. e. Kecukupan gizi seseorang akan sangat tergantung dari pekerjaan sehari-hari. Selain itu aktivitas juga memperlancar peredaran darah sehingga menigkatkan absorpsi zatzat makanan (Rusilanti. 2003). 2012).

Kelebihan berat badan dan obesitas pada seseorang merupakan masalah gizi yang serius karena dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus.. paha dan organorgan lainnya. Disamping itu. kebutuhan energi menurun sehubungan dengan terjadinya penurunan metabolisme basal dan aktivitas fisik. 2009). Untuk memenuhi kebutuhan energi maka tubuh akan memecah cadangan lemak menjadi energi.. Terjadinya penimbunan lemak ini disebut sebagai kelebihan berat badan (overweight) ataupun obesitas (Gibney dkk. Pemecahan lemak akan diikuti dengan penurunan berat badan dan apabila kekurangan konsumsi energi berlangsung lama maka akan mengakibatkan terjadinya kurang energi kronis (Gibney dkk. WHO (2005) juga menyebutkan bahwa terjadi peningkatan angka 9 . lengan. 2009). Cadangan energi dalam bentuk lemak yang berlebihan akan ditimbun di dalam tubuh terutama di dalam rongga perut. Bakri dan Fajar. pada lansia juga terjadi penurunan produksi enzim ptyalin dari kelenjar saliva yang akan berpengaruh pada proses perubahan karbohidrat kompleks menjadi disakarida serta berkurangnya fungsi ludah sebagai pelicin makanan sehingga proses menelan lebih sukar.Kekurangan gizi pada lansia dapat terjadi karena konsumsi energi dari makanan lebih rendah dari pada kebutuhan tubuh. ginjal. Faktor lain yang berperan terhadap terjadinya kekurangan gizi pada lansia adalah terjadinya proses menua pada sistem pencernaan seperti gigi geligi yang mulai banyak tanggal dan kerusakan gusi menyebabkan lansia merasa sukar untuk makan makanan yang berkonsistensi keras. 2012). 2008). Sekresi asam lambung juga semakin berkurang dan ukurannya menjadi lebih kecil sehingga rangsang rasa lapar serta daya tampung makanan semakin berkurang (Fauci dkk. Proses metabolisme yang menurun pada lansia tanpa diimbangi dengan peningkatan aktivitas fisik atau penurunan jumlah makanan menyebabkan terjadinya kelebihan energi. Kelebihan gizi (Overnutrition) Pada lansia. b. sirosis hati dan kanker (Supariasa.. hipertensi. Kelebihan energi ini akan diubah menjadi lemak dan disimpan di dalam jaringan adipose sebagai cadangan energi dan sebagian lagi disimpan sebagai glikogen di dalam hati dan jaringan otot.

5 Penilaian status gizi Status gizi dapat diukur secara tidak langsung dan secara langsung. 2002). Secara umum masalah kelebihan dan kekurangan gizi pada orang dewasa khususnya lansia merupakan masalah penting karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Nilai indeks diperoleh dengan perhitungan berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter dikuadratkan (Depkes RI. 2012). 2. biokimia. Indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan IMT (Supariasa.mortalitas pada seseorang yang mengalami overweight yang diukur dengan skala IMT. Berat badan kurang dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit infeksi sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan risiko terhadap penyakit degeneratif. 2004). 10 . Bakri dan Fajar. khusus yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan berat badan. mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang untuk dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang (Supariasa. biofisik dan antropometri (Supariasa. Bakri dan Fajar.. statistik vital dan faktor ekologi. 2012). Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi manjadi empat penilaian yaitu klinis. Pengukuran antropometri merupakan pengukuran dimensi fisis dan komposisi tubuh yang bertujuan untuk screening atau tapis gizi.  Indeks massa tubuh (IMT) Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu alat untuk memantau status gizi orang dewasa. Oleh karena itu pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan oleh setiap orang secara berkesinambungan (Martono.2. Pengukuran antropometri digunakan secara luas dalam penilaian status gizi. 2010). terutama jika terjadi ketidakseimbangan antara pemasukan energi dengan protein. Bakri dan Fajar. Antropometri lebih banyak digunakan karena lebih praktis dan mudah untuk dilakukan (Perissinotto dkk. Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi menjadi tiga yaitu survei konsumsi makanan. survei gizi dan pemantauan status gizi. 2012). Oleh karena itu.

Almatsier.. M.99 25. Asia Pacific J Clin Nutr (11): S351-S354. Trends in Dietary of the Elderly : The Indonesian Case. 2003. Jakarta: EGC. Harrison’s Principle of Internal Medicine 17th ed. Tesis. Jakarta: Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat.00 . Makanan Dalam Perspektif Budaya. Tabel 2.50 18.F.24. Nursing Journal of Padjadjaran University. Pengantar Pangan dan Gizi.99 ≥ 30. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Baliwati Y. Semarang: Universitas Diponegoro.50 . Gunawan. Jakarta: Penebar Swadaya. Tabel Angka Kecukupan Gizi bagi Orang Indonesia. Darmojo. 55-60.S.00 DAFTAR PUSTAKA Adianto.2 Klasifikasi status gizi pada orang dewasa berdasarkan IMT menurut kriteria WHO tahun 2004 Klasifikasi Underweight Normoweight Pre-obese Obese IMT (kg/m2) < 18.IMT = Keterangan : BB : Berat badan (Kg) TB : Tinggi badan (m) IMT merupakan pengukuran yang paling mudah dan paling banyak digunakan untuk mengidentifikasi seorang lansia yang memiliki risiko kekurangan atau kelebihan gizi (Perissonotto dkk. dkk. 2009. Departemen Kesehatan RI. B. 2004. 2002. A. Dwiriani..29. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. S.W. J. A. R. 2008. Khomsan dan C.R. Gizi Kesehatan Masyarakat. 2002). Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Asupan Gizi dan Status Gizi Lansia di Panti Wredha Pucang Gading Semarang. USA: The McGraw-Hill. 2004. 2006. Fauci. 11 . Gibney. 4(7).

dan Ranti.G. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. G. Bogor: Pergizi Pangan Indonesia. Pengkajian Paripurna pada Pasien Geriatri. dan Ibnu F. 87. Jakarta: EGC. A. Mia F. F. M. 2010. Perissinotto. Proses Menua dan Implikasi Kliniknya. 2008. Pisent. 2010. Ahmad J. C. Dalam: Sudoyo. Nugroho. Anthropometric Measurement in the Elderly : Age and Gender Differences. G. 2004. dan Roosheroe. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Soejono.B. dan Patricia. 2010. 2006. Kesehatan dan Gizi. Pengaruh Gizi terhadap Lanjut Usia. Grigoletto. Jakarta: Salemba Medika. G. British Journal of Nutrition (2002). Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Ed. A. 2010. 1(1) : 29-35. S. Jakarta: EGC. I. 4. Maryam. H. Keperawatan Gerontik.K. Setiati. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.D. dan Clara M. dkk. 2006. Model Hubungan dan Aspek Psikososial dan Aktifitas Fisik dengan Status Gizi Lansia. Santoso. Jurnal Gizi dan Pangan. S. Bachyar B. Sergi. 2012. W.W. dkk.W. A. dan Kris P. L. 2000. Supariasa. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.A. Penilaian Status Gizi Edisi Revisi.N.Hardiansyah. 2000. 177–186. dan Enzi. Dalam: Sudoyo. H. E. Riset Kesehatan Dasar. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Rusilanti. Jakarta: Balai Penerbit Universitas Indonesia. dan Irwan B. 12 . Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Harimurti. E. Stanley. Rosidawati.H. 2002. Siti. K. C. Martono.