You are on page 1of 31

BAB I PENDAHULUAN

Spondilitis (spondylitis) mengacu pada rasa sakit punggung kronis dan kekakuan yang disebabkan oleh infeksi parah atau peradangan pada sendi tulang belakang. Peradangan pada tulang belakang dapat disebabkan oleh infeksi atau peradangan kronik pada jaringan di sekitar tulang belakang seperti pada ankylosis spondilitis. Ankylosis spondilitis menyerang
bagian dari insersi tendon, ligamen, fascia dan jaringan fibrosa kapsul sendi. Ankylosis spondilitis

dianggap sebagai penyakit rematik yang relatif jarang terjadi. Sedangkan infeksi pada tulang belakang yang sering di temukan adalah infeksi bakterial TB. Tuberkulosis merupakan masalah besar bagi negara negara berkembang karena insidensnya cukup tinggi dengan morbiditas yang serius. !ycobacterium tuberculosis merupakan bakteri yang menyebabkan spondilisis tuberkulosa. "nsidensi spondilitis tuberkulosa ber#ariasi di seluruh dunia dan biasanya berhubungan dengan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersedia serta kondisi sosial di negara tersebut. Spondilitis tuberkulosa merupakan $%& dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi. Pada negara yang sedang berkembang, sekitar '%& kasus terjadi pada usia diba(ah usia )% tahun sedangkan pada negara maju, lebih sering mengenai pada usia yang lebih tua.

1

BAB II PEMBAHASAN SPONDILITIS TUBERKULOSA 2.1 DEFINISI Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis spinal yang dikenal pula dengan nama Pott’s disease of the spine atau tuberculous vertebral osteomyelitis merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia. Terhitung kurang lebih * juta kematian terjadi setiap tahunnya dikarenakan penyakit ini. Spondilitis tuberkulosa merupakan salah satu kasus penyakit tertua dalam sejarah dengan ditemukan dokumentasi kasusnya pada mummi di !esir dan Peru. Sir Perci#al Pott (+,--) mendeskrispsikan penyakit ini dalam monografnya yang klasik. Tuberkulosis merupakan masalah besar bagi negara negara berkembang karena insidensnya cukup tinggi dengan morbiditas yang serius. .okus primer infeksi cenderung berbeda pada kelompok umur yang berbeda. Banerjee melaporkan pada /-- pasien dengan spondilitis tuberkulosa, radiologis memperlihatkan *+& fokus primer adalah paru paru dan dan kelompok tersebut ,0& adalah anak anak, sedangkan '-& sisanya memperlihatkan foto rontgen paru yang normal dan sebagian besar adalah de(asa. 2.2 EPIDEMIOLOGI Spondilitis tuberkulosa merupakan $%& dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi. Pada negara yang sedang berkembang, sekitar '%& kasus terjadi pada usia diba(ah usia )% tahun. Sedangkan pada negara maju, lebih sering mengenai pada usia yang lebih tua. !eskipun perbandingan antara pria dan (anita hampir sama, namun biasanya pria lebih sering terkena dibanding (anita yaitu +,$1),+. 2mumnya penyakit ini menyerang orang orang yang berada dalam keadaan sosial ekonomi rendah. 3ari seluruh kasus tersebut, tulang belakang merupakan tempat yang paling sering terkena tuberkulosa tulang (kurang lebih $%& kasus), diikuti kemudian oleh tulang panggul, lutut dan tulang tulang lain di kaki, sedangkan tulang di lengan dan tangan jarang terkena. Area torako lumbal terutama torakal bagian ba(ah (umumnya T +%) dan lumbal bagian atas merupakan tempat yang paling sering terlibat karena pada area ini pergerakan dan tekanan dari weight bearing mencapai maksimum, lalu dikuti dengan area ser#ikal dan sakral.

2

2.3

ETIOLOGI Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat

lain di tubuh, -% -$& disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tipik ()4* dari tipe human dan +4* dari tipe bo#in) dan $ +%& oleh Mycobacterium tuberculosa atipik. Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang yang bersifat acid fastnon-motile atau disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). 3ipergunakan teknik 5iehl 6ielson untuk mem#isualisasikannya. Bakteri tumbuh secara lambat dalam media eggenriched dengan periode '0 minggu. Produksi niasin merupakan karakteristik Mycobacterium tuberculosis dan dapat membantu untuk membedakannnya dengan spesies lain. 7uman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. 3alam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman, tertidur lama selama beberapa tahun. 2.4 PATOLOGI Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran hematogen atau penyebaran langsung nodus limfatikus para aorta atau melalui jalur limfatik ke tulang dari fokus tuberkulosa yang sudah ada sebelumnya di luar tulang belakang. Pada penampakannya, fokus infeksi primer tuberkulosa dapat bersifat tenang. Sumber infeksi yang paling sering adalah berasal dari sistem pulmoner dan genitourinarius. Penyebaran basil dapat terjadi melalui arteri intercostal atau lumbar yang memberikan suplai darah ke dua #ertebrae yang berdekatan, yaitu setengah bagian ba(ah #ertebra diatasnya dan bagian atas #ertebra di ba(ahnya atau melalui pleksus Batson’s yang mengelilingi columna #ertebralis yang menyebabkan banyak #ertebra yang terkena. 8al inilah yang menyebabkan pada kurang lebih ,%& kasus, penyakit ini dia(ali dengan terkenanya dua #ertebra yang berdekatan, sementara pada )%& kasus melibatkan tiga atau lebih #ertebra.

3

/. Abscess juga dapat menerobos ke pleura sehingga menimbulkan empyme. ). sehingga merupakan senkung<s abscess yang terlihat di bagian dada penderita. . nanah ini dapat menjalar menuju ke beberapa tempat diantaranya dapat berupa 1 +. Abscess dapat pula menembus ke belakang dan berada di ba(ah fasia dan kulit di sebelah belakang dan di luar columna #ertebralis merupakan suatu abscess akan tetapi tidak panas. sehingga akhirnya corpus #ertebrae tidak lagi kuat untuk menahan berat badan dan seakan akan hancur sehingga dengan demikian columna #ertebralis membengkok. Abscess dingin artinya abscess tuberculose. 4 . 2mumnya abscess ini dinamakan abscess dingin. 3apat pula abscess menjalar mengelilingi tulang rusuk. *. focus yang pertama dapat terletak pada centrum corpus #ertebrae atau pada metaphyse.ertebra lumbalis juga dapat terserang dan akhirnya #ertebra cer#icalis pun tidak terlepas dari serangan ini. Sementara itu proses dapat menimbulkan gejala gejala lain. Penyakit ini juga dapat menjalar. 7alau hal ini terjadi pada bagian thora:. Suatu abscess para#ertebrae. maka akan terdapat pembengkokan hyperkyphose yang kita kenal sebagai gibbus. diantaranya dapat terkumpulnya nanah yang semakin lama semakin banyak. bisa juga pertama kali bersifat subperiosteal.9alaupun semua #ertebrae dari columna #ertebralis dapat diserang namun yang terbanyak menyerang bagian thora:. abscess terlihat dengan bentuk spoel di kiri kanan columna #ertebralis.

akan tetapi cukup untuk memberikan tekanan yang hebat pada !edulla Spinalis. Adapun pathogenesis dari proses ini dapat dijelaskan sebagai berikut 1 tekanan dapat berasal dari proses yang terletak di dalam canalis spinalis. ./) Sorrel 3ejerine mengklasifikasikan Pott’s paraplegia menjadi 1 (1) arly onset paresis Terjadi kurang dari dua tahun sejak onset penyakit (!) "ate onset paresis Terjadi setelah lebih dari dua tahun sejak onset penyakit Sementara itu Seddon dan Butler memodifikasi klasifikasi Sorrel menjadi tiga tipe yaitu 1 (+) Type " (paraplegia of active disease) 4 berjalan akut >nset dini. ialah paraplegia. =ika di dalam canalis spinalis ada proses tuberculose yang terletak pada corpus bagian belakang yang merupakan dasar dari canalis spinalis. dan dihubungkan dengan penyakit yang aktif. '. Pada leher dapat juga terjadi abscess yang terletak dalam pharyn: sehingga merupakan retropharyngeal abscess. maka proses tadi menimbulkan pengumpulan nanah4jaringan granulasi langsung menekan medulla spinalis. ()) Type "" 5 . terjadi dalam dua tahun pertama sejak onset penyakit. 7ecuali abses abses tersebut di atas. Semua abses tersebut di atas dapat menembus kulit dan menyebabkan timbulnya fistel yang bertahun tahun. 7omplikasi ini disebabkan karena adanya tekanan pada !edulla Spinalis. Pada lumbar spine abscess dapat turun melalui musculus iliopsoas yang kemudian menurun sampai terjadi abscess besar yang terletak di bagian dalam dari paha. tuberculose pada #ertebrae dapat pula memberikan komplikasi. 3apat membaik (tidak permanen). ().$.. 3apat pula abscess terlihat sebagai supracla#icular abscess. umumnya disebut Pott’s Paraplegia. 3alam hal ini meskipun nanah hanya sedikit.

Tekanan tadi menyebabkan paraplegia. Secara klinis paraplegia dapat dibagi menjadi early onset. 3islokasi #ertebra ()) Pada penyakit yang sedang dalam proses penyembuhan a. #ransverse ridge dari tulang anterior ke corda spinalis b. Type kedua adalah paraplegia late onset.>nsetnya juga dini. . fibrosis meningen dan adanya jaringan granulasi serta adanya tekanan pada corda spinalis. Sekuester tulang dan diskus d. ialah jika paraplegia segera timbul sebagai kelanjutan dari proses spondylitis tuberculose. Tidak dapat ditentukan apakah dapat membaik. 6 . (*) Type """ 4 yang berjalan kronis >nset paraplegi terjadi pada fase lanjut. reakti#asi penyakit atau insufisiensi #askuler (trombosis pembuluh darah yang mensuplai corda spinalis). Subluksasi patologis e. 7emungkinan lain ialah terdapat se?uestra dan pus di sekeliling canalis spinalis tadi yang juga menekan pada medulla spinalis. 7lasifikasi untuk penyebab Pott’s paraplegia ini sendiri dijabarkan oleh 8odgson menjadi1 ". =aringan granulasi c. """. Penyebab ekstrinsik 1 (+) Pada penyakit yang aktif a.ibrosis duramater "". Penyebab intrinsik 1 !enyebarnya peradangan tuberkulosa melalui duramater melibatkan meningen dan corda spinalis. Penyebab yang jarang 1 (+) Trombosis corda spinalis yang infektif (!) $pinal tumor syndrome 3apat pula proses tuberculosa menghancurkan corpus sehingga canalis spinalis membengkok dan menekan pada tulang dindingnya. Abses (cairan atau perkijuan) b. 3engan demikian banyak sebab sebab yang dapat menekan medulla spinalis dengan keras sehingga menimbulkan gejala paraplegia. dihubungkan dengan penyakit yang aktif. peningkatan deformitas kifotik ke anterior. Bisa terjadi karena tekanan corda spinalis oleh granuloma epidural. bersifat permanen bahkan (alaupun infeksi tuberkulosa menjadi tenang.

iskemia dan nekrosis diskus. Pola ini diduga disebabkan karena adanya pulsasi aortik yang ditransmisikan melalui abses pre#ertebral diba(ah ligamentum longitudinal anterior atau karena adanya perubahan lokal dari suplai darah #ertebral. Termasuk didalamnya adalah tuberkulosa spinal dengan keterlibatan lengkung syaraf saja dan granuloma yang terjadi di canalis spinalis tanpa keterlibatan tulang (tuberkuloma). Aesi Spondilitis tuberkulosa bera(al suatu tuberkel kecil yang berkembang lambat. lamina. lesi di pedikel. (/) Bentuk atipikal 3ikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas dan fokus primernya tidak dapat diidentifikasikan. serta lesi artikuler yang berada di sendi inter#ertebral posterior. Proses perkijuan yang terjadi 7 . ()) Sentral "nfeksi terjadi pada bagian sentral korpus #ertebra. Terbanyak di temukan di regio torakal. prosesus trans#ersus dan spinosus. Banyak ditemukan pada orang de(asa. terisolasi sehingga disalahartikan sebagai tumor. (*) Anterior "nfeksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari #ertebra di atas dan diba(ahnya. 7eadaan ini sering menimbulkan kolaps #ertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe lain sehingga menghasilkan deformitas spinal yang lebih hebat. @ambaran radiologisnya mencakup adanya scalloped karena erosi di bagian anterior dari sejumlah #ertebra (berbentuk baji). Terbanyak ditemukan diregio lumbal. Sering terjadi pada anak anak. a(alnya pada tulang subkhondral di bagian superior atau inferior anterior dari corpus #ertebra.paraplegia ini terjadi setelah penyakit spondilitis sifatnya tenang untuk beberapa (aktu lamanya kemudian timbul gejala gejala paraplegia secara perlahan lahan. Proses infeksi Myocobacterium tuber%ulosis akan mengaktifkan chaperonin +% yang merupakan stimulator poten dari proses resorpsi tulang sehingga akan terjadi destruksi korpus #ertebra dianterior. bersifat osteolisis lokal. "nsidensi tuberkulosa yang melibatkan elemen posterior tidak diketahui tetapi diperkirakan berkisar antara )& +%&. 3apat terjadi kompresi yang bersifat spontan atau akibat trauma. Berdasarkan lokasi infeksi a(al pada korpus #ertebra dikenal tiga bentuk spondilitis 1 (+) Peridiskal 4 paradiskal "nfeksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus (di area metafise di ba(ah ligamentum longitudinal anterior 4 area subkondral). 3apat menimbulkan kompresi.

Pada anakBanak karena discus inter#ertebralis masih bersifat a#askular. tulang tulang iga akan menumpuk menimbulkan bentuk deformitas rongga dada berupa barrel chest. Pasien dengan keterlibatan #ertebra segmen cer#ical dan thorakal cenderung menderita defisit neurologis yang lebih akut sedangkan keterlibatan lumbal biasanya bermanifestasi sebagai nyeri radikular. 8 . nafsu makan berkurang. lesi dapat turun mengikuti alur fascia muskulus psoas yang dapat mencapai trigonum femoralis. Suhu subfebril terutama pada malam hari serta sakit pada punggung.akan menghalangi proses pembentukan tulang reaktif dan mengakibatkan segmen tulang yang terinfeksi relatif a#askular sehingga terbentuklah se?uester tuberkulosis. Tulang belakang terasa nyeri dan kaku pada pergerakan. @ambaran Spondilitis Tuberkulosa antara lain 1 1 • • Badan lemah4lesu. infeksi discus dapat terjadi primer. Pada anak anak sering disertai dengan menangis pada malam hari. Biasanya onset Pott&s disease berjalan secara mendadak dan bere#olusi lambat. 3estruksi progresif di anterior akan mengakibatkan kolapsnya corpus #ertebra yang terinfeksi dan terbentuklah kifosis ( angulasi posterior ) tulang belakang. Apabila telah terbentuk abses para#ertebral. 3iseminasi lokal terjadi melalui penyebaran hematogen dan penyebaran langsung diba(ah ligamentum longitudinal anterior. discus inter#ertebralis a#askular sehingga lebih resisten terhadap infeksi dan kalaupun terjadi adalah sekunder dari corpus #ertebra. @ejala utama adalah nyeri tulang belakang.). Proses terjadinya kifosis dapat terus berlangsung (alaupun telah terjadi resolusi dari proses infeksi. malaise. keringat malam. "nfeksi akhirnya menembus korteks #ertebra dan membentuk abses para#ertebral. 7ifosis yang progresif dapat mengakibatkan problem respirasi dan paraplegi. 2. peningkatan suhu tubuh pada sore hari dan penurunan berat badan. 3urasi gejala gejala sebelum dapat ditegakkannya suatu diagnosa pasti ber#ariasi dari bulan hingga tahunC sebagian besar kasus didiagnosa sekurangnya dua tahun setelah infeksi tuberkulosa. 3engan adanya peningkatan sudut kifosis di regio torakal. Selain nyeri terdapat gejala sistemik berupa demam. nyeri biasanya bersifat kronis dapat lokal maupun radikular. Pada usia de(asa . berat badan menurun.5 GAMBARAN KLINIS @ambaran klinis spondilitis tuberkulosa ber#ariasi dan tergantung pada banyak faktor (.

terbatasnya pergerakan spinal. bentuk ini sering ditemukan pada anak.6 DIAGNOSIS Anamnesis dan inspeksi +. *. Sering tidak tampak jelas pada pasien yang cukup giDi sementara pada pasien dengan 9 . 3engan lokus a(al di corpus #ertebra bagian anterior. ataupun nyeri radi: saraf. @ambaran paraplegia inferior kedua tungkai bersifat 2!6 dan adanya batas deficit sensorik setinggi tempat gibus4lokalisasi nyeri interkostal Pemeriksaan fisik • • • • Adanya gibus dan nyeri setempat Spastisitas 8iperreflesia tendon lutut4Achilles dan refle: patologik pada kedua belah sisi Batas defisit sensorik akibat mielitis trans#ersa dan gangguan miksi jarang dijumpai Spondilitis corpus #ertebra dibagi menjadi tiga bentuk 1 +. 7elainan neurologis terjadi pada sekitar $%& kasus karena proses destruksi lanjut berupa 1 Paraplegia. Terletak di bagian corpus #ertebra yang bersebelahan dengan discus inter#ertebral. paraparesis. dapat juga terlihat berkurangnya keinginan bermain di luar rumah. 3etruksi a(al terletak di sentral corpus #ertebra. merupakan penjalaran per kontinuitatum dari #ertebra di atasnya. Pada pasien anak anak.Bentuk paradikus. keringat malam. Pada bentuk sentral. bentuk ini sering ditemukan pada orang de(asa. ).• Pada a(al dapat dijumpai nyeri intercostal yaitu nyeri yang menjalar dari tulang belakang ke garis tengah keatas dada melalui ruang intercosta. akibat penekanan medulla spinalis yang menyebabkan kekakuan pada gerakan berjalan dan nyeri. Bentuk anterior. Bentuk paradikus. 2. @ambaran adanya penyakit sistemik 1 kehilangan berat badan. hal ini karena tertekannya radiks dorsalis ditingkat thoracal • • • 6yeri spinal yang menetap. demam yang berlangsung secara intermitten terutama sore dan malam hari serta cache'ia.

3i regio lumbar 1 abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang terjadi di atas atau di ba(ah lipat paha. Bila berbalik ia menggerakkan kakinya. sementara kompresi medulla spinalis pada orang de(asa akan menyebabkan tetraparesis (8su dan Aeong +-0/). "nfeksi yang mengenai tulang ser#ikal akan tampak sebagai nyeri di daerah telingan atau nyeri yang menjalar ke tangan. terutama pada anak. '. sementara tangan lainnya di oksipital. 8al ini perlu diperhatikan karena gambaran klinisnya serupa dengan tuberkulosa di regio ser#ikal. $. maka abses dapat berjalan di bagian kiri atau kanan mengelilingi rongga dada dan tampak sebagai pembengkakan lunak dinding dada. Bila infeksi melibatkan area ser#ikal maka pasien tidak dapat menolehkan kepalanya. =ika terdapat abses. hilangnya berat badan dan berkurangnya nafsu makan akan terlihat dengan jelas. Saat mengambil sesuatu dari lantai ia menekuk lututnya sementara tetap mempertahankan punggungnya tetap kaku (coin test) =ika terdapat abses. karena mencoba menghindari nyeri di punggung. akan mendorong trakhea ke sternal notch sehingga akan menyebabkan kesulitan menelan dan adanya stridor respiratoar. 6yeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri yang menjalar. Pola jalan merefleksikan rigiditas protektif dari tulang belakang. Pada lesi di bagian torakal ba(ah maka nyeri dapat berupa nyeri menjalar ke bagian perut. Easa nyeri ini hanya menghilang dengan beristirahat. Pasien tampak berjalan dengan lutut dan hip dalam posisi fleksi dan menyokong tulang belakangnya dengan meletakkan 10 . mempertahankan kepala dalam posisi ekstensi dan duduk dalam posisi dagu disangga oleh satu tangannya. =ika menekan abses ini berjalan ke bagian belakang maka dapat menekan korda spinalis dan menyebabkan paralisis.kondisi kurang giDi. 2ntuk mengurangi nyeri pasien akan menahan punggungnya menjadi kaku. "nfeksi di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku. maka tampak pembengkakan di kedua sisi leher. Aangkah kaki pendek. *. 3islokasi atlantoaksial karena tuberkulosa jarang terjadi dan merupakan salah satu penyebab kompresi cervicomedullary di negara yang sedang berkembang. bukan mengayunkan dari sendi panggulnya. ). =arang sekali pus dapat keluar melalui fistel dalam pel#is dan mencapai permukaan di belakang sendi panggul. Aesi di torakal atas akan menampakkan nyeri yang terasa di dada dan intercostal. Abses yang besar. Eigiditas pada leher dapat bersifat asimetris sehingga menyebabkan timbulnya gejala klinis torticollis. maka demam (terkadang demam tinggi). /. Pasien juga mungkin mengeluhkan rasa nyeri di leher atau bahunya.

3apat juga teraba di sekitar dinding dada. =ika timbul paraplegia akan tampak spastisitas dari alat gerak ba(ah dengan refleks tendon dalam yang hiperaktif.tangannya diatas paha. 8asil yang positif dapat timbul pada kondisi pemaparan dahulu maupun yang baru terjadi oleh mycobacterium.& kasus. 3apat pula terjadi gangguan fungsi kandung kemih dan anorektal. Pembengkakan di sendi yang berjalan lambat tanpa disertai panas dan nyeri akut seperti pada infeksi septik. kemerahan dengan diameter F +%mm di sekitar tempat suntikan /0 . Bila terdapat abses maka akan teraba massa yang berfluktuasi dan kulit diatasnya terasa sedikit hangat (disebut cold abcess. )) #uberculin s%in test 4 Mantou' test 4 #uberculine Purified Protein (erivative (PP3) positif. Spasme otot protektif disertai keterbatasan pergerakan di segmen yang terkena. Perlu diingat bah(a tidak ada hubungan antara ukuran lesi destruktif dan kuantitas pus dalam cold abscess.) jam setelah suntikan. #uberculin s%in test ini dikatakan positif jika tampak area berindurasi. retropharyn:. Palpasi +. . -. "nsidensi paraplegia pada spondilitis lebih banyak di temukan pada infeksi di area torakal dan ser#ikal. sering tampak tenderness. fossa iliaka. Tampak adanya deformitas.. atau di sisi leher (di belakang otot sternokleidomastoideus). ). 11 . 3apat dipalpasi di daerah lipat paha. tergantung dari le#el lesi. dari )% sampai lebih dari +%%mm4jam. >nset yang lambat dari pembengkakan tulang ataupun sendi mendukung bah(a hal tersebut disebabkan karena tuberkulosa. yang membedakan dengan abses piogenik yang teraba panas). pola jalan yang spastik dengan kelemahan motorik yang ber#ariasi. Adanya kontraktur otot psoas akan menimbulkan deformitas fleksi sendi panggul. Adanya gejala dan tanda dari kompresi medula spinalis (defisit neurologis). dapat berupa 1 kifosis (gibbus4angulasi tulang belakang) 0. Terjadi pada kurang lebih +% /. Perkusi Pada perkusi secara halus atau pemberian tekanan diatas prosesus spinosus #ertebrae yang terkena. Pemeriksaan Penunjang Aaboratorium +) Aaju endap darah meningkat (tidak spesifik).

Gairan serebrospinal akan tampak1 Eadiologis @ambarannya ber#ariasi tergantung tipe patologi dan kronisitas infeksi.oto rontgen dada dilakukan pada seluruh pasien untuk mencari bukti adanya tuberkulosa di paru ()4* kasus mempunyai foto rontgen yang abnormal). lamina. prosesus trans#ersus atau prosesus spinosus. . sputum dan bilas lambung (hasil positif bila terdapat keterlibatan paruparu yang aktif) /) Apus darah tepi menunjukkan leukositosis dengan limfositosis yang bersifat relatif.*) 7ultur urin pagi (membantu bila terlihat adanya keterlibatan ginjal). • • . 7ondisi ini banyak terlihat pada kasus tuberkulosa dengan pusat pertumbuhan korpus #ertebra yang belum menutup saat terkena penyakit tuberkulosa yang melibatkan #ertebra torakal. Tanda radiologis baru dapat terlihat setelah * 0 minggu onset penyakit. $) Gairan serebrospinal dapat abnormal (pada kasus dengan meningitis tuberkulosa).oto polos seluruh tulang belakang juga diperlukan untuk mencari bukti adanya tuberkulosa di tulang belakang. osteoporosis regional yang kemudian berlanjut sehingga tampak penyempitan diskus inter#ertebralis yang berdekatan. serta erosi corpus #ertebrae anterior • • • yang berbentuk scalloping karena penyebaran infeksi dari area subligamentous "nfeksi tuberkulosa jarang melibatkan pedikel. 6ormalnya cairan serebrospinal tidak mengeksklusikan kemungkinan infeksi Pemeriksaan cairan serebrospinal secara serial akan memberikan hasil yang lebih baik. 12 . terjadi karena adanya stress biomekanik yang lama di bagian kaudal gibbus sehingga #ertebra menjadi lebih tinggi. 7eterlibatan bagian lateral corpus #ertebra akan menyebabkan timbulnya deformita scoliosis (jarang) Pada pasien dengan deformitas gibbus karena infeksi sekunder tuberkulosa yang sudah lama akan tampak tulang #ertebra yang mempunyai rasio tinggi lebih besar dari lebarnya (#ertebra yang normal mempunyai rasio lebar lebih besar terhadap tingginya). Tahap a(al tampak lesi osteolitik di bagian anterior superior atau sudut inferior corpus #ertebrae. • • =ika mungkin lakukan rontgen dari arah antero posterior dan lateral. Bentuk ini dikenal dengan nama long vertebra atau tall vertebra.

Aateral radiograph demonstrates obliteration of the disk space (straight arro() (ith destruction of the adjacent end plates (cur#ed arro() and anterior (edging Figure. Figure. oleh karena merupakan salah satu indikasi tindakan operasi (tergantung ukuran abses). 7eterlibatan lengkung syaraf posterior seperti pedikel tampak lebih baik dengan GT Scan. Aateral spread radiograph of spinal demonstrates erosion of the anterior margin of the #ertebral body (arro() caused by an adjacent soft tissue abscess. 3eteksi (e#aluasi) adanya abses epidural sangatlah penting. A:ial GT scan demonstrates lytic destruction of the #ertebral body (black arro() (ith an adjoining soft tissue abscess ((hite arro().• 3apat terlihat keterlibatan jaringan lunak. Tuberculous spondylitis. seperti abses para#ertebral dan psoas. Tampak bentuk fusiform atau pembengkakan berbentuk globular dengan kalsifikasi. 13 . Figure Tuberculous spondylitis. Gomputed Tomography B Scan (GT) Terutama bermanfaat untuk mem#isualisasi regio torakal dan keterlibatan iga yang sulit dilihat pada foto polos. Subligamentous tuberculosis. Abses psoas akan tampak sebagai bayangan jaringan lunak yang mengalami peningkatan densitas dengan atau tanpa kalsifikasi pada saat penyembuhan.

lalu kemudian dapat diinokulasi di dalam guinea babi. A:ial GT scan demonstrates bilateral tuberculous psoas abscesses (ith peripheral calcification (arro(s). Bermanfaat untuk 1 • • !embantu memutuskan pilihan manajemen apakah akan bersifat konser#atif atau operatif. 7erugiannya adalah dapat terle(atinya fragmen tulang kecil dan kalsifikasi di abses. !embantu menilai respon terapi. Tuberculous spondylitis. .Figure. !agnetic Eesonance "maging (!E") !empunyai manfaat besar untuk membedakan komplikasi yang bersifat kompresif dengan yang bersifat non kompresif pada tuberkulosa tulang belakang. Accompanying disk narro(ing ((hite arro() and e:tension of the disease into the spinal canal (black arro() are also seen. Sagittal T) (eighted !E image demonstrates areas of increased signal intensity due to edema in #ertebral bodies. Penyakit ini berkembang lambat. )eddle biopsi 4 operasi eksplorasi (costotransversectomi) dari lesi spinal !ungkin diperlukan pada kasus yang sulit tetapi membutuhkan pengalaman dan pembacaan histologi yang baik (untuk menegakkan diagnosa yang absolut)(berhasil pada $%& kasus). Galcified psoas abscess. tanda dan gejalanya dapat berupa 1 o 6yeri punggung yang terlokalisir o Bengkak pada daerah para#ertebral o Tanda dan gejala sistemik dari TB 14 . Figure. 3iagnosis dari penyakit ini dapat kita ambil melalui bebertapa tanda khas diba(ah ini. 3iagnosis juga dapat dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi pus Para#ertebral yang diperiksa secara mikroskopis untuk mencari basil tuberkulosa dan granuloma.

Prinsip pengobatan paraplegia Pott sebagai berikut 1 +. 15 . !emperbaiki keadaan umum penderita d. Terapi konser#atif berupa1 a. Tirah baring (bed rest) b. terutama paraplegia 2. Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan progresi#itas penyakit serta mencegah paraplegia. Terapi operatif Bedah 7ostotrans#ersektomi yang dilakukan berupa debrideman dan penggantian korpus #ertebra yang rusak dengan tulang spongiosa4kortiko B spongiosa. Pemberian obat antituberkulosis ). 3ekompresi medulla spinalis *.! PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan spondilitis tuberkulosis ditujukan untuk eradikasi infeksi. tetapi ditunda hingga terjadi kelemahan motorik. Pengobatan antituberkulosa ). !emberi korset yang mencegah gerakan #ertebra 4membatasi gerak #ertebra c. 7riteria kesembuhan sebagian besar ditekankan pada tercapainya favourable status yang didefenisikan sebagai pasien dapat beraktifitas penuh tanpa membutuhkan kemoterapi atau tindakan bedah lanjutan. "ndikasi absolut  Paraplegia dengan onset selama terapi konser#atifC operasi tidak dilakukan bila timbul tanda dari keterlibatan traktur piramidalis. Pott<s paraplegia sendiri selalu merupakan indikasi perlunya suatu tindakan operasi (8odgson) akan tetapi @riffiths dan Seddon mengklasifikasikan indikasi operasi menjadi1 a. !enghilangkan4 menyingkirkan produk infeksi /. Stabilisasi #ertebra dengan graft tulang (bone graft) Pengobatan terdiri atas 1 +. memberikan stabilitas pada tulang belakang dan menghentikan atau memperbaiki kifosis. focus infeksi yang tenang secara klinis maupun secara radiologis. tidak adanya keterlibatan system saraf pusat .o Tanda defisit neurologis.

"ndikasi relatif  Paraplegia yang rekuren bah(a dengan paralisis ringan sebelumnya  Paraplegia pada usia lanjut. Paraplegia yang menjadi memburuk atau tetapi statis (alaupun diberikan terapi konser#atif  8ilangnya kekuatan motorik secara lengkap selama + bulan (alaupun telah diberi terapi konser#atif  Paraplegia disertai dengan spastisitas yang tidak terkontrol sehingga tirah baring dan immobilisasi menjadi sesuatu yang tidak memungkinkan atau terdapat resiko adanya nekrosis karena tekanan pada kulit. paraplegia dalam posisi fleksi. nyeri dapat disebabkan karena spasme atau kompresi syaraf  7omplikasi seperti infeksi traktur urinarius atau batu c. hilangnya sensibilitas secara lengkap.  Paraplegia berat dengan onset yang cepat. indikasi untuk operasi diperkuat karena kemungkinan pengaruh buruk dari immobilisasi  Paraplegia yang disertai nyeri. Ada tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosa. yaitu1 16 . Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. atau hilangnya kekuatan motorik selama lebih dari ' bulan (indikasi operasi segera tanpa percobaan pemberikan terapi konser#atif) b. mengindikasikan tekanan yang besar yang tidak biasa terjadi dari abses atau kecelakaan mekanisC dapat juga disebabkan karena trombosis #askuler yang tidak dapat terdiagnosa  Paraplegia beratC paraplegia flasid. "ndikasi yang jarang  Posterior spinal disease  $pinal tumor syndrome  Paralisis berat sekunder terhadap penyakit ser#ikal  Paralisis berat karena sindrom kauda ekuina Abses 3ingin (Gold Abses) Gold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik.

Aaminektomi c. !etastasis tulang belakang 1 tidak mengenai diskus. Poliomielitis 1 paresis4paralisis tungkai. 3ebrideman fokal b. sekuestra tulang. 17 . adanya karsinoma prostat '." DIAGNOSIS BANDING +. 3ebrideman Paraplegia Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia. fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.# KOMPLIKASI  Gedera corda spinalis (spinal cord in*ury). 7ifosis senilis 1 kifosis tidak local. yaitu1 a. sekuester dari diskus inter#ertebralis (contoh 1 Pott<s paraplegia B prognosa baik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan korda spinalis oleh jaringan granulasi tuberkulosa (contoh 1 menigomyelitis B prognosa buruk). 3apat terjadi karena adanya tekanan ekstradural sekunder karena pus tuberkulosa. 7ifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak anak. 7osto trans#eresektomi d. !E" dan mielografi dapat membantu membedakan paraplegi karena tekanan atau karena in#asi dura dan corda spinalis. Pengobatan dengan kemoterapi semata mata b. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal. Penyakit paru dengan bekas empiema 1 tulang belakang bebas penyakit $. 7osto trans#eresektomi c.a. >steitis Piogen 1 khasnya demam lebih cepat timbul ). =ika cepat diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi paralisis pada tumor). Skoliosis idiopatik 1 tanpa gimus dan tanda paralisis /. osteoporosis seluruh kerangka 2. skoliosis dan bukan kifosis *. 2. >perasi radikal e. >steotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang >perasi kifosis >perasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat.

Bila paraplegia disebabkan oleh mielitis tuberkulosa proggnosisnya ad functionam juga buruk. 6ama lain SA adalah Marie $trumpell disease atau Bechterew&s disease 3. serta terjadi osifikasi tendon dan ligamen yang akan mengakibatkan fibrosis dan ankilosis tulang.* Secara imunologi terdapat interaksi antara class + . sedangkan spondilitis dengan paraplegia akhir. sino#ia. dan terutama menyerang sendi tulang belakang (#ertebra) dengan penyebab yang tidak diketahui.. unutk paraplegia a(al. I) teridentifikasi sebagai pengatur sitokin.. dengan SA. Tumor necrosis factor (T6.". tetapi SA merupakan penyakit yang diperantari oleh sistem imun. Penyakit ini dapat melibatkan sendi sendi perifer. dan ra(an sendi. bersifat sistemik. 2. ditandai dengan kekakuan progresif. Ankilosis #ertebra biasanya terjadi pada stadium lanjut dan jarang terjadi pada penderita yang gejalanya ringan. prognosis untuk kesembuhan sarafnya lebih baik. Terserangnya sendi sakroiliaka merupakan tanda khas penyakit ini.molecule B!.1 DEFINISI Spondilitis ankilosis (SA) merupakan penyakit inflamasi kronik. dan mayoritas (hampir -%&) penderita SA lahir dengan suatu gen yang disebut dengan 8AA B). dibuktikan dengan adnya peningkatan "gA dan berhubungan erat dengan 8AA B). SPONDILITIS ANKILOSIS 3. Hmpyema tuberkulosa karena rupturnya abses para#ertebral di torakal ke dalam pleura. dan Aimfosit T. ini 18 . prognosisnya biasanya kurang baik. Adanya gen 8AA B). gene mar%er yang dapat menjelaskan adanya hubungan 8AA B). Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan adanya 8AA B).1$ PROGNOSIS Prognosa dari penyakit ini bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan ada tidaknya komplikasi neurologic. 7ecenderungan terjadinya SA dipercayai sebagai penyakit yang diturunkan secara genetik.2 ETIOLOGI Patogenesis pada SA tidak begitu dipahami.

pre#alensi spondilitis ankilosis di =erman mencapai +& hingga $& sedangkan di Prancis %. pre#alensi spondilitis ankilosis sebesar +%% )%% per +%%.3 EPIDEMIOLOGI 3i Amerika Serikat. Akhir akhir ini. Pada umumnya pria lebih banyak menderita Pada umumnya pria lebih banyak menderita dari pada (anita dengan perbandingan laki laki 1 (anita kurang lebih $1+. 3. yaitu AETS+ dan "l)*E yang mempunyai peran dalam mempengaruhi fungsi imunitas. yang merupakan penyakit spondiloartitis terbanyak. Pre#alensi spondilitis ankilosis antara pria dan (anita berbanding )1+ hingga *1+.%%% penduduk.5 PATOFISIOLOGI Proses patofisiologi yang terjadi pada spondilitis ankilosa ditandai dengan adanya inflamasi dan terjadinya fusi./-&. .hanya menunjukan adanya kecenderungan yang meningkat terhadap terjadinya SA ini meskipun ada faktor lain yang mempengaruhi seperti lingkungan. bahkan ada yang menyebutkan ) +%1+. tapi dapat pula dimulai sebelum usia +% tahun. Pada $& pasien. 6amun. 3. 8al tersebut dapat diilustrasikan dalam gambar diba(ah ini1 19 . 2sia yang rinci sulit ditentukan karena diagnosis seringkali tidak dikenali selama bertahun tahun. Spondilitis ankilosis biasanya mulai sejak dekade kedua hingga ketiga kehidupan dengan median usia )* tahun. gejala timbul pada usia lebih dari /% tahun.4 FAKTOR RESIKO Penyakit ini sering dimulai pada usia antara )% /% tahun. 3. Spondilitis ankilosis pada (anita seringkali timbul lebih ringan gejalanya. dua gen lain telah teridentifikasi berhubungan dengan SA.aktor faktor risiko ini meliputi ri(ayat keluarga dengan spondilitis ankilosa dan jenis kelamin laki laki.

Tulang Belakang 6ormal dan Tulang Belakang dengan Spondilitis Ankilosa0 20 .@ambar +.

!anifestasi skeletal berupa artritis aksis. penurunan berat badan. dan fraktur #ertebra. Manifestasi pada Tulang 21 . 7eluhan konstitusional biasanya sangat ringan seperti anoreksia.Sedangkan manifestasi terjadinya spondilitis ankilosa ditunjukkan dalam skema sebagai berikut1 @ambar ). !ekanisme Spondilitis ankilosis 3. entensopati. @ejala utama SA adalah sakroilitis. artritis perifer. Perlangsungannya secara gradual dengan nyeri hilang timbul pada pinggang ba(ah dan menyebar ke ba(ah pada daerah paha. osteoporosis. !anifestasi ekstraskeletal berupa iritis akut. dan panas ringan yang biasanya terjadi pada a(al penyakit. amiloidosis. fibrosis paru.6 MANIFESTASI KLINIS @ejala klinik Spondilosis Ankilosa (SA) dapat dibagi dalam manifestasi skeletal dan ekstraskeletal. artritis sendi panggul dan bahu. kelemahan. dan.

7eluhan yang umum dan karakteristik a(al penyakit ialah nyeri pinggang dan sering menjalar ke paha. Apabila #ertebra cer#ical terserang. Pada paru dapat terjadi fibrosis. sikap tubuh yang normal akan hilang. dan ditemukan )$ *%& pada pasien SA dengan gejala nyeri.! PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik spondilitis ankilosis dapat ditemukan1 Sikap/postur tubuh Selama perjalanan penyakitnya. beberapa bulan kemudiandaerah pinggang ba(ah menjadi kaku dan nyeri. trokanter mayor. paru. dan penglihatan kabur. bersin. 7eluhan nyeri dan kaku pinggang merupakan keluhan dari . sering disaladiagnosiskan sebagai angina. misalnya entesis yang dapat menyebabkan nyeri di sambungan kostosternal. 3. Aordosis lumbal yang menghilang umumnya merupakan tanda a(al. dan sindroma kauda ekuina. biasanya unilateral. dilatasi pangkal aorta. gangguan konduksi. biasanya bilateral. dan tampak bercak bercak linier pada pemeriksaan radiologis. diserati kaku pinggang pada pagi hari. 6yeri bilateral biasanya menetap. prosesus spinosus. 7eluhan lain dapat berasal dari sendi kosto#ertebra dan manubrium sternal yang menyebabkan keluhan nyeri dada. !anifestasi pada jantung dapat berupa insufisiensi aorta. krista iliaka. 6yeri pinggang biasanya tumpul dan sukar ditentukan lokasinya. dengan lokasi pada bagian atas.$& kasus di klinik. lakrimasi. maka pergerakan leher akan terbatas serta menimbulkan rasa nyeri. jantung membesar. atau pinggang mendadak terpuntir. "nakti#itas lama akan menambah nyeri dan kaku. Manifestasi di Luar Tulang !anisfestasi di luar tulang terjadi pada mata. 6yeri tulang juksa artikular dapat menjadi keluhan utama. 6yeri biasanya menetap lebih dari * bulan. dapat unilateral atau bilateral. umumnya setelah )% tahun menderita SA. menyerupai tuberkulosis. dan membaik dengan akti#itas fisik atau bila dikompres air panas. 6eri ini lebih terasa di daerah bokong dan bertambah hebat bila batuk. !anifestasi di luar tulang yang paling sering adalah u#eitis anterior akut. jantung. Aeher penderita mengalami pergeseran ke depan dan hal ini dapat dibuktikan dengan cara 1 22 . fotofobia.. atau tumit. tuberositas tibia.

diberi tanda (titik). harus dicurigai mengarah ke adanya ankylosing spondylitis. 3i samping itu fleksi lateral juga akan menurun dan gerak putar pada tulang belakang akan menimbulkan rasa sakit. costochondral dan manu briosternal junctions serta pada iliac fasciitis plantaris juga merupakan manifestasi dari enthesitis. Biasanya ditemukan adanya keterbatasan gerak pada tulang #ertebra lumbal. Tes Schober atau modifikasinya.penderita diminta berdiri tegak. Pada orang normal jarak kedua titik tersebut akan bertambah jauhC bila jarak kedua titik tersebut tidak mencapai +$ cm. apabila terjadi pergeseran maka occiput tidak dapat menempel pada dinding. pada prosesus spinosus lumbal . Pada pengukuran ini perlu dilihat bah(a nilai normalnya sangat ber#ariasi dan tergantung pada umur dan jenis kelamin. ke samping dan ekstensi. Ekspansi dada Penurunan ekspansi dada dari yang ringan sampai sedang. hal ini menandakan bah(a mobilitas tulang #ertebra lumbal telah menurun (pergerakan #ertebra lumbal mulai terbatas). Enthesitis Adanya enthesitis dapat dilihat dengan cara menekan pada tempat tempat tertentu antara lain 1 ischial tuberositas. processus spinosus. berguna untuk mendeteksi keterbatasan gerak fleksi badan ke depan. Garanya 1 penderita diminta untuk berdiri tegak. Sacroilitis 23 . Pengukuran ekspansi dada ini diukur dari inspirasi maksimal sesudah melakukan ekspirasi maksimal. Sebagai pedoman yang dipakai adalah 1 ekspansi dada kurang dari $ cm pada penderita muda disertai dengan nyeri pinggang yang dimulai secara perlahan lahan. Mobilitas tulang belakang Pertama kali yang diperiksa adalah apakah ada keterbatasan gerak. sering dijumpai pada kasus ankylosing spondylitis stadium dini dan jangan dianggap sebagai stadium lanjut. 7emudian penderita diminta melakukan gerakan membungkuk (lutut tidak boleh dibengkokkan). troc hanter mayor. yang dapat dilihat dengan cara melakukan gerakan fleksi badan ke depan. kemudian +% cm lurus di atasnya diberi tanda ke dua.

tetapi hubungannya dengan keaktifan penyakit kurang kuat. ditemukan peninggian "gA. dimulai dengan kaburnya gambaran tulang subkonral." PEMERIKSAAN PENUN%ANG Pemeriksaan penunjang pada spondilitis ankilosis meliputi1 +. jembatan sebagian tulang atau pseudo widening. Anemia normositik normositer ringan ditemukan pada +$& kasus. tingkat * 24 . akan tetapi hal ini tidak spesifik karena pada a(al penyakit atau pada stadium lanjut sering kali tanda tanda ini tidak ditemukan. Peninggian laju endap darah ditemukan pada . diikuti erosi yang memberi gambaran mirip pinggir perangko pos. dapat digunakan sebagai pembantu diagnosis.Pada sacroiliitis penekanan sendi ini akan memberikan rasa sakit. Pada stadium lanjut tidak ditemukan nyeri tekan pada sendi sacroiliaca oleh karena telah terjadi fibrosis atau. Gairan sendi memberikan gambaran sama pada inflamasi. disko#ertebral. Pemeriksaan Aaboraturium Tidak ada uji diagnostik yang patognomonik. Setelah beberapa tahun. apofisial. Serum / reactive protein (GEP) lebih baik digunakan sebagai petanda keaktifan penyakit. bony Ankylosis 3. yaitu tingkat % (normal). tingkat ) (tingkat + ditambah adanya sclerosis periartikuler. Pemeriksaan Eadiologi 7elainan radiologis yang khas pada SA dapat dilihat pada sendi aksial. tingkat + (tepi sendi menjadi kabur). Pemeriksaan 8AA B). .aktor rematoid dan A6A selalu negatif.$& kasus. Beratnya proses sakroilitis terdiri dari $ tingkatan berdasarkan radiologis. kosto#ertebral. terjadi ankilosis yang komplit. 7emudian. 7adang kadang. dan kostotrans#ersal. terutama pada sendi sakroiliaka. Perubahan pada sendi S) bersifat bilateral dan simetrik. ). terjadi penyempitan celah sendi akibat adanya jembatan interoseus dan osilikasi.

3. ketidakteraturan subkhondral. Tindakan ini sangat berguna untuk mengurangi keluhan akibat deformitas tersebut.# PENATALAKSANAAN MEDIKAMENTOSA Pengobatan dengan Anti "nflamasi 6on Steroid (A"6S) untuk mengurangi nyeri. Pengobatan lain dapat digunakan Biologic 1esponse Modifiers (EemicadeJ K "nfli:imabC HnbrelJ K HtanerceptC 7ineretJ K AnakinraC 8umiraJ K AdalimumabC !abteraJ K 25 . mengurangi inflamasi. Pasien yang tidak responsif dengan indometasin atau A"6S yang baru lainnya dapat dicoba dengan fenilbutaDon +%% *%% mg per hari. "ndometasin . akan membentuk bamboo spine. Tingginya insiden agranulositosis atau anemia aplastik akibat efek samping obat ini dibandingkan dengan A"6S yang lain perlu disampaikan pada pasien dengan jumlah eritrosit dan leukosit harus selalu dimonitor.$ +$% mg perhari memegang rekor terbaik. baik nyeri maupun kelainan spinal. baik pada asetabulum maupun femoral. terjadi ankilosis tulang dan pada sendi bahu memperlihatkan penyempitan celah sendi dengan erosi. Apabila pasien tidak mampu mentolerir efek samping seperti gangguan lambung atau gangguan SSP berupa sakit kepala dan pusing. 7eterlibatan sendi panggul memperlihatkan adanya penyempitan celah sendi yang konsentris.(tingkat ) ditambah adanya erosi dan jembatan tulang). Preparat emas dan penisilamin telah digunakan pada pasien dengan poliartritis perifer. Apabila jembatan ini sampai pada #ertebra ser#ikal. serta formasi osteofit pada tepi luar permukaan sendi. maka A"6S yang lain dapat dicoba. serta tingkat / (ankilosa yang lengkap). Publikasi studi klinik terakhir dari SulfasalaDin ) * gram perhari. Bila keluhan sangat mengganggu dalam kegiatan sehari hari dapat dipertimbangkan untuk dilakukan artroplasti atau koreksi deformitas spinal. dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Akhirnya. Akan terlihat gambaran s0uaring (segi empat sama sisi) pada kolumna #ertebra dan osifikasi bertahap lapisan superfisial anulus fibrosus yang akan mengakibatkan timbulnya jembatan di antara badan #ertebra yang disebut sindesmofit.

pasien tidak lagi imuno naif terhadap Siklofosfamid O !etilprednison O !etrotreksat mingguan. "ni dapat kembali menimbulkan remisi pada AS yang refrakter terhadap Siklofofamid O !etilprednisolon O !etrotreksat mingguan (komunikasi pribadi). +$ mg metrotreksat.Eitu:imab).luro 2rasil harian O !etrotreksat mingguan tanpa mingguan O tanpa kortikosteroid oral (metilprednisolon. $ flurourasil atau dosis $ mg metrotreksat. inflamasi autoimun harus ditekan seluruhnya sesegera mungkin.luro 2rasil Siklofofamid O $ . atau prednisolon).lurourasil )$ B +%% mg per sesi) O 3osis minimum perlu digunakan pada pasien yang sensitif atau pada mereka dengan berat badan yang sangat rendah (P *$ 7g). Dosis intravena +. /-1eactive Protein (GEP) dan Skor BAS3A" nya tidak membaik atau memburuk secara bermakna meskipun telah diterapi dengan paling sedikit ) A"6S yang berbeda dalam kurun (aktu sedikitnya ) bulan. $ . Pada AS refrakter siklofosfamid. dan BAS3A" skor tinggi (N /). GEP.$. atau O !etrotreksat !etilprednisolon dan kortikosteroid oral. prednison. dan +)$ mg metilprednison. tapi tidak pada dosis . !etode terapi standar protokol L$tep-down BridgeM menggunakan kombinasi ' imunosupresan intra#ena dan oral harian intra#ena $ kali per minggu yang terdiri dari1++ • • Siklofofamid O !etilprednisolon O $ . "fosfamid adalah suatu analog yang menggantikan siklofosfamid. 9alau demikian. $% atau )$ mg siklofosfamid. Pada AS dengan AH3. AS yang refrakter terhadap A"6S adalah AS yang laju endap darah (AH3). AS yang tidak responsif dengan A"6S dapat digunakan protokol L$tep-down BridgeM menggunakan kombinasi ' imunosupresan intra#ena dan oral (SBP ' "!6s). Pada kasus kasus resisten. ++ 26 . Pasien yang sensitif mungkin menderita efek samping dengan dosis +%% mg siklofosfamid dan $ flurourasil. Siklofosfamid )$ B +%% mg per sesi O ). !etrotreksat $ B +$ mg per sesi sekali seminggu O *. pasien pasien ini masih imuno naif terhadap kombinasi baru "fosfamide O $ flourourasil intra#ena. !etilprednison % B +)$ mg per sesi O ). =umlah maksimum sesi intra#ena harian adalah $ kali per minggu untuk mencegah dosis kumulatif mingguan yang tinggi dan efek samping.

Tidur tengkurap selama beberapa menit dilakukan beberapa kali dalam sehari merupakan tindakan yang bermanfaat dalam menjaga pergerakan ekstensi spinal. Setelah GEP P * mg&. latihan fisik untuk perbaikan kekuatan otot. 8al ini sebaiknya dilakukan di rumah secara teratur. Akan tetapi kombinasi GyG O $. ) dan + kali per minggu. mandi air hangat.Sebenarnya metilprednisolon tidak mutlak dibutuhkan untuk mencapai 3iG dan E(oral3s pada 6r AS. Penderita dianjurkan tidur terlentang menggunakan kasur yang agak keras dengan sebuah bantal tipis. dosis final pada minggu ke +) mungkin dibutuhkan.2 O !PS O !TQ mingguan (SBP ' "!6s) memberikan1 efikasi yang lebih cepat. 7emudian sesi ". sesi ". P )%. Pengobatan dan fisioterapi adalah bersifat koplementer satusama lain. 27 . P *% dan P )$ mm4+ jam (pria P *%.isioterapi mempunyai peranan terhadap manajemen SA namun tidak dapat menggantikan pengobatan medikamentosa. 3. mengurangi inflamasi. !enggunakan bantal yang tebal atau beberapa bantal sebaiknya dihindari. dan memelihara postur tubuh. Pada beberapa pasien dengan AS yang telah lama diderita. mengurangi jumlah total frekuensi sesi intra#enaC mengurangi ketergantungan pada kortikosteroid yang masih diminum pasien saat datang. diturunkan masing masing menjadi *. tetapi secara relatif dibutuhkan untuk tapering-off dan mencapai 3iG pada pasien yang masih menggunakan kortikosteroid oral saat datang.# PENATALAKSANAAN NON&MEDIKAMENTOSA Fi'i()er*+i Tujuan utama fisioterapi pada SA adalah untuk memperbaiki mobiltas dan kekuatan serta mencegah atau menurunkan terjadinya abnormalitas kur#a tulang belakang. Pada pagi hari. diikuti latihan fisik untuk penguatan otot otot belakang (sesuai dengan petunjuk dokter atau dokter fisioterapi). + kali tiap / minggu. dan P +$ mm4+ jam). diturunkan menjadi + kali tiap dua minggu. Prinsip pengobatan utama pada SA adalah dengan menghilangkan nyeri. . + kali tiap 0 minggu dan dihentikan. dan AH3 P )$ ((anita) atau P +$ mm (pria) 6r AS dikatakan telah mencapai 3iG. BAS3A" P +. Penurunan kadar terapi IV secara bertahap (Tapering ff! =ika AH3 turun menjadi P /%.

Beberapa sur#ei epidemiologis menunjukkan bah(a apabila penyakitnya ringan. dan kelainan pinggul. postur harus dipertahankan dan menghindari terjadinya kontraktur dalam posisi fleksi dari bahu dan lutut.+% PROGNOSIS Prognosis dari SA sangat ber#ariasi dan susah diprediksi. 7etika komplikasi ini terjadi. otot otot ekstensor spinal harus diperkuat. 7eterlibatan ekstraspinal yang progresif merupakan determinan penting dalam menentukan prognosis.-e. atlantoa'ial dan atlanto-occipital sublu'iation . stenosis tilang belakang. Berenang merupakan latihan fisik yang terbaik selama otot otot masih boleh menahan dalam keadaan ekstensi. penderita lebih cenderung dengan pergerakan yang normal daripada timbulnya restriksi berat. tetapi diutamakan lebih banyak berjalan dari pada duduk. dan berlangsung dalam +% tahun pertama maka perkembangan penyakitnya tidak akan memberat. Tindakan pembedahan mungkin dapat dibutuhkan. pundak. Posisi postur tubuh harus diperhatikan setiap saat. Secara umum.usi spinal merupakan komplikasi dari spondilitis. dan belakang kepala selalu bersandar pada dinding. bokong. !ekanisme yang menyebabkan terjadinya osifikasi ligamen dan sendi sehingga terjadi fusi pada columna #ertebrae belum dijelaskan secara rinci. berkurangnya pergerakan spinal yang ringan. seolah olah tumit. !anu#er lain yang perlu dilakukan adalah bernapas dalam dan gerakan fleksi lumbal yang isometrik. Sebagai dampak dari fusi columna #ertebrae ini terjadi keterbatasan dalam gerakan dan elatisitas. . 7ursi dengan sandaran yang keras dianjurkan. bahu. Sebagian besar penderita dengan SA memperlihatkan keluhan serta perlangsungan yang ringan dan dapat dikontrol sehingga dapat menjalankan tugas dan kehidupan sosial dengan baik. deformitas tulang belakang. 7eterlibatan sendi sendi perifer yang berat menunjukkan prognosis buruk. Penderita dianjurkan setiap saat tegak.*/*0 Pembedahan mungkin dibutuhkan dalam beberapa kasus SA. *. !unurunnya fleksibilitas dapat berakibat akan terjadinya berbagai kelainan pada tulang belakang seperti fraktur dan dislokasi. >leh karena itu. 28 .Aatihan fisik penting dilakukan karena penyakit ini cenderung terjadi kelainan berupa fleksi spinal yang progresif. Pe. 7arena itu.

baik yang tidak disadari maupun trauma berat. termasuk 29 . mortalitas. dan prognosis. yaitu badan lemah4lesu. Skintigrafi dan tomografi tulang memperlihatkan kelainan. berat badan menurun. terjadi lesi destruksi pada salah satu disko#ertebra. Sebaliknya. 7omplikasi kedua yang menyusul trauma berat maupun yang ringan berupa fraktur yang dapat menyebabkan koropresi komplit atau inkomplit. Pada stadium a(al ini belum ditemukan deformitas tulang#ertebra. baik elemen anterior maupun posterior.+) +$. bamboo spine lebih sering terlihat pada pria) $. 3alam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman. 6yeri spinal yang menetap. Terdapat dua gambaran yang secara langsung berpengaruh terhadap morbiditas. 7elainan neurologis terjadi pada sekitar $%& kasus. -% -$& disebabkan oleh mycobacterium tuberkulosis tipik ()4* dari tipe human dan +4* dari tipe bo#in) dan $ +%& oleh mycobacterium tuberkulosa atipik. suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. dan komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. dan ditandai dengan nyeri akut atau berkurangnya tinggi badan yang mendadak. Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh. (anita lebih ringan dan jarang progresif serta lebih banyak memperlihatkan keterlibatan sendi sendi perifer. nafsu makan berkurang. Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada umumnya. terbatasnya pergerakan spinal. "mobilisasi yang tepat dan diperpanjang dapat memberikan penyembuhan pada sebagian besar kasus. mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pe(arnaan.Secara umum. >leh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). demikian pula belum terdapat nyeri ketok pada #ertebra yang bersangkutan. tertidur lama selama beberapa tahun. 7eduanya dianggap sebagai akibat dari trauma. BAB I1 KESIMPULAN Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosisdi sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang #ertebra. tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. A(alnya. biasa terjadi pada segmen spinal yang bisa dilokalisir. 7uman ini berbentuk batang. 7uman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung.

paraparesis. "n 1 6eurology and 6eurosurgery "llustrated.. +--.blogspot. accessed on on + + july. Pott 3isease (Tuberculous Spondylitis). "n 1 Gritchley H.4%-4spondylitis tuberkulosa. 79.. **/ *'. Spinal Gord and Eoot Gompresion. )%%+ 1 +$%. Tanda yang biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus). !lonakis H. 6e( Sork 1Thieme.Hisen A. ataupun nyeri radi: saraf.erlag.com4med4infec!H3"GAART>P"GS.. Pengantar "lmu Bedah >rtopedi. 30 . Aindsay.com4anatomi fungsional #ertebrae Tuberkulosa. +--+ 1 *00 -.com4)%%. A#ailable from http144(((.. )nded. A#ailable A#ailable from from http144fisiosby. DAFTAR PUSTAKA +.undamentals of Anantomy and Physiology. 3iagnosis and !anagement.. Easjad G.. +))' +)). accessed on + july. Eajamani 7. )%%+1 +*). 9elch 7. !edlinu:. Spinal Gord 3isease 1 Basic Science. fungsional Spondilitis #ertebra. Sa#ant G. 1 *. accessed http144medlinu:.. 9im de =ong.. Gunha BA. Spondilitis TBG. $th ed.emedicine.0 0. . =hon =.akibat penekanan medulla spinalis yang menyebabkan paraplegia. Hdinburgh 1 Ghurchill Ai#ingstone. Tropical 3iseases of the Spinal Gord. Bohndorf 7.htm '. dan tanda tanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas.+$+pg ). 6e( =ersey 1 2pper Saddle Ei#er. bengkak pada daerah para#ertebra. Gallander E. Anatomi 3. Aondon 1Springer . editor. =akarta1 hal +// +/$. "n 1!usculoskeletal "maging1 A Goncise !ultimodality Approach. !artini . "mhof 8.8. 8erchline T. 3alam Buku Ajar "lmu Bedah.html /. Bone ". Bone and Soft Tissue "nflammation. july. =akartaC hal. Tala#era . 8idalgo =A. 0.

9ardhani 9". Philadelphia 1 9.3ian Eakyat. Sidharta P. Suarthana H. 3e(i A7. "n 1 8ochschuler S8. Ee#ie( of >rthopaedics. Hismont . +--* 1 *0. Aouis 1 !osby Sear Book.% -+ +*. 6eurologi 7linik dalam Praktek 2mum.. Sauders. editor.B. "n 1 The spine. "nc. 7oDak =. Spondilitis Tuberkulosa.B. )nd ed. Sudibjo A". 7apita Selekta 7edokteran !edia Aesculapius =akarta )%%% 1 $0 +). in !ansjoer A. Spondilitis Tuberculosa. Gurrier B. Saunders. editor. @raham =!. Suprohaita. Gotler 8B. Hdi A. 8ok TS. Philadelphia 1 9. Eegan !. "n 1 !iller. Setio(ulan 9.. eds.A. in AaDuardi S. @uyer E3. Spinal Tuberculosis. +--) 1 +*$* '/ +/. +--' 1 ). St. "nfections of The Spine. Aauerman 9G. Spine.=.+%. -%.Eothman Simeone editor. 31 . Eehabilitation >f The Spine 1 Science and Practice. *rd ed. at all eds. =akarta +---1*/+ ++.