I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Mikroorganisme yang hidup di dalam tanah tidak semuanya mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan tanaman. Seperti nematoda yang dapat membuat tanaman menjadi sakit dan dalam pertumbuhannya tanaman tidak bisa hidup tumbuh dengan normal. Tetapi, nematoda tersebut perlu kita ketahui bagaimana morfologi dan bagaimana cara nematoda tersebut hidup di dalam tanah serta aktifitasnya. Bakteri juga termasuk mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Bakteri mempunyai peranan dapat menyebabkan busuk akar pada tanaman, serta sebagian bakteri juga berfungsi untuk pertumbuhan tanaman. Dari segi pendidikan pertanian, keberadaaan nematoda dan

mikroorganisme lain dalam tanah menjadi perhatian untuk selalu diteliti keberadaannya, supaya dapat diketahui peranannya yang berhubungan dengan pertumbuhan tanaman. Namun, bagaimana cara memperhatikan gerak dari nematoda, siklus hidup, cara aktifitasnya dan serangan yang ditimbulkan terhadap tanaman. Oleh karena itu, agar lebih mudah dalam pengamatan terhadap nematoda dan mikroorganisme lain yang ada di dalam tanah perlu membuat preparat nematoda. Pembuatan preparat nematoda dapat mempermudah dalam penelitian yaitu dapat mengetahui organ tubuh, lama istirahat, aktivitas, dan semua yang berhubungan dengan kehidupan nematoda tersebut. Cara pembuatan nematoda bisa dilakukan yaitu dengan cara memancing, membius, mematikan, fiksasi dan lallu dilanjutkan dengan membuat preparat dengan cara mengawetkannya.

Kultur untuk melakukan taksonomi perbandingan guna mengklasifikasi dan memberi nama takson baru. Tujuan utama dari penyimpanan kultur jamur atau bakteri ialah mempertahankannya dalam keadaan dapat hidup tanpa perubahan morfologi.B. fisiologi atau genetik untuk jangka waktu selama yang diperlukan. . meliputi metode penyampaian dan penangannya 3. Memperagakan spesimen yang diawetkan denga penyertaan informasi yang relevan 4. Tujuan 1. Mengenal dan melaksanakan teknik-teknik yang digunakan untuk pengawetan spesimen patogen dan serangga 2. Memilih teknik yang sesuai bagi spesimen patogen dan serangga yang harus ditangani.

nematode yang akan diidentifikasi harus diawetkan dan dibuat preparat untuk diobservasi dan di ukur dibawah mikroskop. (Pusat Karantina Tumbuhan. nematode dan cacing tanah. Oleh sebab itu. dsb) dan juga disebabkan adanya variasi intra spesifik. (Lubis. heterotroph). Agar identifikasi memenuhi tingkat kepercayaan yang memdai maka dibutuhkan sekurang-kurangnya 5-10 ekor nematoda betina dewasa. panjang stilet. golongan fauna meliputi protozoa. binatang berderajat agak tinggi. Hal itu dikarenakan pengenalan fitur biasanya dibuat secara kuantitatif (seperti: panjang badan. Sejumlah protozoa mendiami tanah dikenal sejak masa EHRENDBURG (1939). 2009) . Golongan-golongan utama (besar) yang menyusun populasi mikrobiologis tanah terdiri dari flora dan fauna.II TINJAUAN PUSTAKA Di dalam tanah hidup berbagai jasad renik (mikroorganisme yang melakukan berbagai kegiatan yang menguntungkan bagi kehidupan makhlukmakhluk hidup lainnya atau dengan perkataan lain menjadikan tanah memungkinkan bagi kelanjutan siklus kehidupan makhluk-makhluk alami. Aktinomesiteres fungi dan ganggang (algae). ektinomisetes membentuk suatu golongan unsur penting pada populasi tanah. termasuk nematoda jantan. 2008) Sudah sejak lama metode identifikasi nematoda dilakukan dengan cara membandingkan fitur morfologi nematoda dengan deskripsi yang sudah dipublikasikan. golongan flora yang meliputi bakteri (autotroph. dan sering kali menggunakan bantuan kunci identifikasi.

akar dilakukan pengawetan dengan menggunakan awetan kering. dan kelestarian objek dengan membatasi pengambilan objek. 2006). tergantung dari sifat objeknya. 2007) . Awetan kering untuk burung disebut dengan taksidermi. (Kadaryanto. Untuk membuat koleksi awetan. perlu diperhatikan beberapa hal. Silet berfungsi untukmenyayat benda yang akan diamati. Organ tumbuhan seperti daun. Kaca objek digunakan untuk meletakkan benda yang akan diamati. Cara dan bahan pengawet yang digunakan bervariasi. Koleksi awetan juga berguna untuk menjaga kelestarian suatu hewan dan tumbuhan. Untuk organ tumbuhan berdaging seperti buah. khususnya hwan atau tumbuhan langka. cara pengawetan. Bahan pewarna digunakan untuk memudahkan dalam pengamatan.Dkk. kecil dan tembus pandang (transparan) sangat memerlukan alat bantu seperti silet.. misalnya eosin.(Prasodjo. dan bahan pewarna. Macam-macam serangga dapat diawetkan dengan cara kering yang disebut dengan insektarium. Hewan dapat diawetkan dengan cara kering maupun basah. biasanya dilakukan pengawetan dengan menggunakan awetan basah. Kaca penutup digunakan untuk menutup benda yang diletakkan pada kaca objek. kaca penutup.Untuk mengamati benda-benda mikroskopis.Dkk.. batang. Pengawetan terhadap hewan dan tumbuhan dapat dilakukan dengan cara basah dan kering. cara penyimpanan. biru metilena dan lugol. seperti kelengkapan organ tubuh. Pengawetan juga dapat dilakukan terhadap hewa-hewan invertebrate lainnya dan juga mikroorganisme kecil. Awetan specimen tumbuhan itu dikenal dengan herbarium. kaca objek.

cairan pelemas. 2. oven. Siapkan specimen yang akan diawetkan. Setelah dimasukan pada botol berisi cairan pelemas. Bahan yang digunakan dalam acara ini yaitu : pathogen dan sampel tanaman sehat serta sakit akibat serangan patogan/penyakit.III METODE PRAKTIKUM A. tusuk dengan jarum. bersihkan dari kotoran dengan alcohol atau air dengan diterjen. 3. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : botol museum. minyak mineral. gelas ukur. mikroskop. Setelah menyusun kemudian beri label dan rawat awetan hama yang telah ada lalu beriakan keterangan pada hama tersebut. Gunakan cairan pelemas kemudian masukan hama yang diawetkan pada cairan pelemas selama 1 -2 hari. kertas saring. silica gel. kalsium klorida dan cairan pengawat. botol – botol gelas. 6. B. lemari es. autoclave. Prosedur Kerja 1. gelas beaker. eksikator label. 5. Kapur barus. Susun berdasarkan besar ukuran hama serangga agar rapih dan teratur supaya nantinya mudah ditetiliti kembali. 4. alcohol. Hama atau serangga yang telah dikeringkan ditempelkan pada gabus atau di masukan langsung pada botol jika ukurannya besar. . kaca preparat.

Botol-botol yang digunakan sebaiknya adalah botol-botol yang menggunakan tutup gabus dan diberi label “RACUN” dan semua botol-botol gelas harus diperkuat dengan selotape untuk mencegah penyebaran kaca bila pecah. Semacam botol pembunuh dengan berbagai ukuran dan bentuk dapat dipakai dan berbagai bahan dapat dipakai sebagai agen pembunuh. . CaSO4. etil asetat. serangga harus dibunuh sedemikian rupa sehingga tidak rusak atau patah. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. dan kloroform. Persyaratan Bila serangga akan diawetkan. karbon tetroklorida. sesudah serangga ditangkap. Beberapa material yang dapat digunakan sebagai agen pembunuh yaitu sianida. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Terlampir B. Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru.IV. Pembahasan Hewan yang telah diawetkan disebut spesimen tidak akan mengalami pengkerutan atau rusaknya penyusunnya karena terbebas dari bakteri dan jamur.

Untuk agen pembunuh yang lain. Botol sebaiknya tidak dibiarkan tanpa sumbat lebih lama dari waktu yang diperlukan untuk meletakkan serangga-serangga atau mengeluarkannya.Strategi Sebuah botol pembunuh sianida terdiri dari kapas dan karton yang harus dipadatkan rapat kebawah. Sebuah botol sianida yang terbuat dari bubuk putih lembab CaSO4 lebih lama membuatnya tetapi lebih tahan lama. Sianida harus dalam bentuk bubuk atau granul yang sangat halus. Efisiensi sebuah botol pembunuh tergantung dari seberapa jauh dan bagaimana dipakainya. botol-botol yang memakai material-material ini terbuat dengan cara meletakkan beberapa macam material yang menyerap di dalam botol dan memasukkannya dengan agen tersebut. diberi label racun dan sehari kemudian botol siap dipakai. kemudian CaSO4 yang basah dituangkan ke dalam botol dan dibiarkan tidak bersumbat dan sebaiknya diletakkan diluar ruangan. dasarnya di tape. dan karton harus memiliki beberapa lubang jarum didalamnya kemudian ditutup dengan gabus yang kompatibel dengan mulut botol. Botol disumbat dengan gabus. sampai seluruh zat mengendap dan mengering. Kapas adalah suatu material penyerap yang bagus tetapi harus ditutupi dengan selembar karton atau penyaring. . kalau tidak serangga-serangga dapat terjebak dalam kapas dan sulit mengeluarkannya tanpa kerusakan.

Pengawetan Basah Serangga-serangga yang biasa diawetkan dengan cara basah adalah serangga-serangga sebagai berikut : 1. terlebih dahulu harus dilakukan kegiatan perentangan serangga dengan menggunakan alat bantu. Teknik-teknik ini menghasilkan spesimen-spesimen yang tidak begitu rapuh. Larva dan nimfa serangga 4. dan sedikit sekali kehilangan warna dan akibatnya tidak menunjukkan indikasi penyerapan kembali air atau pembusukan sehingga dapat disimpan dalam waktu lama.Pengawetan Kering Untuk serangga yang akan diawetkan dengan cara pengawetan kering. . Spesimen-spesimen yang akan diawetkan kering dimasukkan ke dalam sebuah ruangan dengan satu atau lebih bola lampu. Artropoda-artropoda selain daripada serangga 5. ini digunakan untuk pengeringan yang cepat. Serangga-serangga bertubuh lunak 2. pengeringan beku. Cairan yang biasa digunakan untuk pengawetan serangga adalah Etil Alkohol (70-80 %). Banyak artropoda-artropoda bertubuh lunak dapat dikeringkan oleh pengeringan titik kritis. Serangga-serangga yang sangat kecil 3. tidak menunjukkan distorsi. atau pengeringan hampa.

Data-data yang diperlukan. Material yang dibuat preparat biasanya dipindahkan ke sebuah gelas objek diberi perlakuan khusus untuk menghasilkan preparat permanen atau preparat sementara.Spesimen dimasukkan ke dalam botol-botol kecil yang memiliki penutup yang erat. dan lain-lain) seringkali isolatnya dibuat dalam bentuk slide. Slide Banyak artropoda kecil (kutu. pinjal. bagian-bagian tubuh demikian seperti tungkai-tungkai atau alat-alat kelamin paling bagus dipelajari bila dibuat preparat. tungau. berisi larutan pengawet dimana larutan harus diperiksa paling tidak sekali atau dua kali setahun sehingga cairan yang menguap dapat diganti. digunakan kertas yang agak tebal dan kalau mungkin bebas asam (acid free paper). adalah :  Lokasi dimana serangga ditemukan  Tanggal penangkapan serangga  Kolektor  Data ekologi serangga  Informasi yang diperoleh dari identifikasi Dalam pembuatan label. Labeling Nilai ilmiah dari seekor spesimen serangga sebagian besar tergantung pada informasi mengenai tanggal dan tempat penangkapannya dan juga mengenai keterangan tambahan seperti nama kolektor dan habitat. .

Apabila terdapat dua atau lebih label pada pin harus disusun sejajar dan dibaca dari sisi yang sama. Label yang digunakan pada setiap spesimen yang disimpan kering (pinned or mounted specimen): 1. Lokasi spesifik Tanggal koleksi Nama kolektor 2. habitat serangga. dengan ukuran 0. Pengwetan Kering Pembuatan label harus di atas kertas putih yang kaku. Label data ekologi.Penulisan label menggunakan pen dengan tinta permanen yang tahan alkohol. Beberapa cara pemberian label berdasarkan cara pengawetannya. yaitu : a. atau metode koleksi 3. Kabupaten. Label data ekologi Inang. tanggal. Label identifikasi . Selain itu tulisan dalam label sebaiknya menggunakan bahasa Inggris. Label identifikasi Famili serangga Nama yang mengidentifikasi Tahun identifikasi Label lokasi. Label lokasi (paling atas) Propinsi.1 mm. dan kolektor. atau menggunakan printer dengan tinta permanen. Label memuat keterangan tentang lokasi. memiliki ukuran yang sama besar.

Pengawetan Basah Label untuk spesimen-spesimen yang diawetkan didalam cairan harus ditulis di atas kertas kasar berkualitas bagus dengan tinta tahan air dan ditempatkan di dalam wadah dengan spesimen-spesimen tersebut. cahaya dan kelembaban. botol-botol yang berisi spesimen harus diisi penuh dengan cairan dan diusahakan agar tidak terdapat gelembung udara didalamnya kemudian ditutup dengan tutup karet yang sesuai dengan ukuran mulut botol. Penyimpanan Spesimen-spesimen dalam suatu koleksi secara sistematik harus disusun dan dilindungi dari hama-hama. Label untuk spesimen dalam EtOH c.b. Serangga serangga yang dipin harus disimpan dalam kotak-kotak yang anti debu memiliki bagian bawah yang lunak yang memudahkan untuk menyusun pin didalamnya. Label untuk preparat mikroskop. disimpan pada kotak-kotak yang memiliki dasar yang lunak dan disusun satu dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga tidak berbenturan didalam kotak. Material serangga yang diawetkan dengan metode slide. Slide Label untuk spesimen yang dibuat preparat mikroskopis di atas kaca objek ditempelkan di permukaan bagian atas gelas objek. . Untuk serangga yang diawetkan didalam cairan. pada satu atau kedua sisisisi kaca penutup.

Simpulan Hewan yang telah diawetkan disebut spesimen tidak akan mengalami pengkerutan atau rusaknya penyusunnya karena terbebas dari bakteri dan jamur. B. Saran . SIMPULAN DAN SARAN A. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru.V.

uny.2012.blogspot.2012.wordpress.html [24-07-2012] 13. Bogor : Prodi Biologi FKIP Universitas Pakuan Bogor.com/2009/10/mengawetkanhewan-dan-tumbuhan_27.ac. Surti.2012.http://mediapendidikanok.56 Kurniasih. 2008.id/sites/default/files/tmp/Pelatihan%20Media %20Bioplastik%20Untuk%20Guru.http://suhadinet.pdf[24-07-2012] 11.56 Anonimous.com/2009/08/07/cara-membuat taksidermi-awetan-kering-hewan/ [22-07-2012] 11.57 Anonimous. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. .DAFTAR PUSTAKA Anonimous.http://staff.