You are on page 1of 18

REFERAT PENGARUH PARASETAMOL TERHADAP TIMBULNYA ASMA PADA ANAK

Pembimbing: dr. Irene Rusli, Sp.A

Penyaji: Nikolaus Lizu Tallo Gabriela Christy David Susanto (2011-061-141) (2012-061-028) (2012-061-035)

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Anak Periode 8 Juli 22 September 2013 Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Indonesia RS Atma Jaya, Jakarta 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan referat ini tepat pada waktunya. Adapaun judul referat ini adalah Pengaruh Parasetamol Terhadap Timbulnya Asma pada Anak yang dibuat pada bulan Juli 2013. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Irene Rusli, Sp.A selaku pembimbing referat atas waktu, dukungan dan bimbingan yang telah diberikan dalam proses penyusunan referat ini hingga selesai. Kami berharap referat ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca, dan kami menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan saran yang diberikan dapat menjadi masukan yang membangun demi kemajuan bersama.

Jakarta, Juli 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISIii DAFTAR GAMBAR..iii BAB I PENDAHULUAN1 1.1. Latar Belakang..1 1.2. Rumusan Masalah.2 1.3. Tujuan Penulisan...2 1.4. Manfaat Penulisan.2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA..3 2.1. Parasetamol dan penggunaannya pada anak..3 2.2. Patofisiologi Asma4 2.3. Pengaruh Parasetamol terhadap Kejadian Asma...5 2.3.1. Parasetamol dan Glutation..6 2.3.2. Parasetamol & Kegagalan Inhibisi Enzim Siklooksigenase...8 2.3.3. Studi Lain yang Berhubungan..10 BAB III PENUTUP12 3.1. Kesimpulan..12 3.2. Saran12 DAFTAR PUSTAKA ....13

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Patofisiologi asma.5 Gambar 2. Penjabaran pengaruh parasetamol dan glutation terhadap timbulnya asma..7
Gambar 3. Diagram jalur metabolisme asam arakidonat dan pengaruh NSAID10

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Parasetamol (acetaminophen) sudah sangat umum digunakan sebagai agen antipiretik maupun analgesia. Pada anak-anak, penggunaan parasetamol sudah menjadi salah satu rekomendasi dalam penatalaksanaan demam. Data dari sebuah studi diketahui bahwa 30% dari 200.000 anak usia 6 7 tahun dan dari 320.00 anak usia 13 14 tahun di Amerika mengonsumsi paracetamol sedikitnya sekali sebulan.1 Sementara itu, asma merupakan salah satu penyakit repiratorik kronik yang sering ditemukan pada anak-anak. Studi edpidemiologi mendemonstrasikan tingginya prevalensi asma dan kondisi yang berkaitan dengan alergi pada negara berkembang erat hubungannya dengan faktor lingkungan.2 Namun, sebuah studi yang bersumber pada data penelitian multisenter European Community Respiratory Health Survey and the Internasional Study of Asthma (ISAAC) menemukan ada hubungan tingginya konsumsi nasional parasetamol dan tingginya prevalensi asma, rinitis alergi dan ekzema. Adapun studi lain yang dilakukan dalam rangka uji profil keamanan ibuprofen pada tahun 1991 hingga 1993, yaitu dengan membandingkannya pada kelompok yang menggunakan parasetamol. Salah satu sub-analisa pada studi ini dilakukan terhadap partisipan yang pernah menerima pengobatan -agonis, teophilin atau steroid inhalan sebagai bentuk dari terapi asma. Hasil yang didapat dari studi ini menunjukkan angka rawat jalan untuk asma yang lebih tinggi pada kelompok penerima parasetamol. Hal ini ditunjukkan dengan lebih banyaknya jumlah penerima obat-obat tersebut pada kelompok perlakuan parasetamol dibandingkan kelompok perlakuan ibuprofen baik dosis rendah maupun dosis tinggi (5.0% vs 2.0%).3 Menyadari ketersediaan parasetamol yang sangat mudah diperoleh masyarakat, dan pada beberapa penelitian didapatkan korelasi yang signifikan akan terjadinya asma pada anak, melalui studi pustaka ini penulis ingin menggali lebih dalam keadaan yang melatarbelakangi korelasi tersebut.

1.2 Rumusan masalah Bagaimana pengaruh parasetamol terhadap timbulnya asma pada anak?

1.3 Tujuan penulisan Untuk mengetahui bagaiamana pengaruh pemakaian parasetamol terhadap timbulnya asma pada anak-anak.

1.4 Manfaat penulisan Melalui karya tulis ini, diharapkan bermanfaat dalam menambah pengetahuan mengenai mekanisme-mekanisme yang memungkinkan

parasetamol menyebabkan asma pada anak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Parasetamol dan penggunaannya pada anak Parasetamol, atau dikenal juga sebagai asetaminofen, adalah obat analgetik dan antipiretik yang efektif, sudah dipergunakan selama bertahun-tahun, dan merupakan salah satu obat analgetik antipiretik yang paling sering digunakan di dunia.4,5 Parasetamol adalah metabolit aktif fenasetin dan merupakan inhibitor lemah enzim COX-1 dan COX-2 pada jaringan dan tidak memiliki efek antiinflamasi yang signifikan.6 Absorpsi parasetamol oral bergantung dari pengosongan lambung. Kadar konsentrasi dalam darah mencapai puncaknya dalam waktu 30-60 menit.6 Parasetamol relatif terdistribusi dalam cairan tubuh secara merata.7 Waktu paruh parasetamol sekitar 2-3 jam dan tidak dipengaruhi fungsi ginjal tetapi dipengaruhi fungsi hati. Pada pasien dengan gangguan fungsi hati, waktu paruh dapat meningkat dua kali lipat atau lebih.6 Ikatan dengan protein plasma hanya sedikit, lebih sedikit dibanding obat NSAID lain.6,7 Sebagian besar parasetamol dalam tubuh akan dikonjugasi di hati dengan asam glukoronat (sekitar 60%), asam sulfat (sekitar 35%) dan sistein (3%), dan sebagian kecil akan mengalami hidroksilasi yang diperantarai CYP. Proses ini akan menghasilkan N-acetyl-pbenzoquinoneimine (NAPQ1). Metabolit tersebut bereaksi dengan gugus sulfhidril pada glutation dan menjadi tidak berbahaya bagi tubuh. Parasetamol diekskresi melalui urin.7 Parasetamol merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi gejala demam, nyeri kepala, dan rasa nyeri pada anak.5 Karena parasetamol tidak memiliki efek anti-inflamasi yang signifikan, parasetamol merupakan terapi yang tidak adekuat untuk kondisi inflamasi. Akan tetapi, parasetamol dapat digunakan sebagai analgetik tambahan pada terapi anti-inflamasi.6 Dosis yang dianjurkan untuk anak adalah 10-15 mg/kgBB/dosis tiap 4-6 jam dengan dosis maksimal 90 mg/kgBB/24 jam.8

2.2 Patofisiologi Asma Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi kronik saluran nafas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk sesak nafas, dan rasa berat di dada terutama pada malam dan atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan. Serangan asma dapat muncul apabila terdapat suatu faktor pemicu, baik dengan gejala ringan sampai berat bahkan dapat menimbulkan kematian. 9, 10 Faktor pemicu serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain alergen, virus, dan iritan yang dapat menginduksi reaksi inflamasi akut yang terdiri atas reaksi asma dini (early asthma reaction = EAR) dan reaksi asma lambat (late asthma reaction = LAR). Setelah reaksi asma awal dan reaksi asma lambat, proses dapat terus berlanjut menjadi reaksi inflamasi sub-akut atau kronik. Pada keadaan ini terjadi inflamasi di bronkus dan sekitarnya, berupa infiltrasi sel-sel inflamasi terutama eosinofil dan monosit dalam jumlah besar ke dinding dan lumen bronkus.11 Penyempitan saluran napas yang terjadi pada asma merupakan suatu hal yang kompleks, hal ini terjadi karena terlepasnya mediator dari sel mast yang banyak ditemukan di permukaan mukosa bronkus dan lumen jalan napas. Berbagai faktor pencetus dapat mengaktivasi sal mast. Selain sel mast, sel lain yang juga dapat melepaskan mediator adalah sel makrofag alveolar, eosinofil, sel epitel jalan napas, netrofil, platelet, limfosit dan monosit. Inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen, makrofag alveolar, nervus vagus dan mungkin juga epitel saluran napas. Peregangan vagal menyebabkan refleks bronkus, sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke dalam submukosa, sehingga dapat memperburuk reaksi inflamasi. Mediator inflamasi secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan serangan asma, melalui sel efektor sekunder seperti eosinofil, netrofil, platelet dan limfosit. Sel-sel inflamasi ini juga mengeluarkan mediator yang kuat seperti lekotriens.11

Gambar 1. Patofisiologi Asma12

2.3 Pengaruh parasetamol terhadap kejadian asma Studi potong lintang epidemiologik mendokumentasi hubungan antara paparan parasetamol dan asma, sekalipun belum dapat dibuktikan dengan gamblang bagaimana hubungan sebab-akibat diantaranya. Namun keberadaan bias akibat faktor perancu seakan-akan membuat parasetamol dan kejadian asma nampak saling berkaitan. Salah satu bentuk pengecoh misalnya pada anak-anak dengan keadaan asma yang lebih berat memiliki kecenderungan mendapat parasetamol untuk mengurangi kesakitan akibat infeksi virus atau penyakit respirasi lain yang menyertai. Hal tersebut membuat hubungan ini nampak sebagai hubungan sebab-akibat. Bentuk lain bias akibat faktor perancu misal pada keadaan parasetamol digunakan untuk meredakan manifestasi awal penyakit. Sebagai contoh bila parasetamol digunakan dalam menurunkan suhu tubuh anak yang demam, yang mendahului munculnya gejala asma, membuat pemakaian parasetamol disini nampak meningkatkan resiko untuk menjadi asma. Atau kemungkinan keadaan rancu lainnya bilamana pemakaian parasetamol oleh anak-anak yang memiliki risiko besar menjadi asma karena kekawatiran bila menggunakan obat lain (seperti aspirin atau anti-inflamasi lainnya) dapat meningkatkan timbulnya gejala asma.1,13 Sebuah meta-analisis dan studi terkait mencoba menerangkan mekanisme yang mungkin terjadi pada penggunaan parasetamol terhadap timbulnya asma.

Hal yang dibahas dalam meta-analisis tersebut antara lain: perubahan kadar glutation yang berhubungan dengan konsumsi parasetamol, kegagalan inhibisi enzim siklooksigenase oleh parasetamol yang dalam hal ini berpengaruh pada kaskade inflamasi pada pasien asma, dan beberapa studi epidemiologi.4 2.3.1 Parasetamol dan Glutation Pengaruh parasetamol terhadap tingginya insiden asma pada anakanak salah satunya dijelaskan melalui keterkaitan parasetamol dan terganggunya antioksidan pelindung pada jalan napas. Antioksidan disini merujuk pada Glutation (L-gamma-glutamyl-L-cysteinyl glycine) yang pada umumnya lebih dari 95% ditemukan dalam bentuk tereduksi disepanjang cairan yang melapisi traktus respiratorius.13 Dijelaskan bahwa penggunaan parasetamol mengurangi kadar glutation. Keberadaan glutation berfungsi sebagai pelindung radikal bebas oksigen yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan, kontraksi otot polos, reaksi bronkus yang berlebih, peningkatan permeabilitas vaskular, pelepasan mediator pro-inflamasi dan kerusakan fungsi reseptor yang serangkaian kejadian-kejadian ini relevan dengan patogenesis asma.15 Diketahui bahwa kadar glutation pada cairan alveoli meningkat pada penderita asma, dan hal ini merupakan tanda bronkus dengan reaksi yang berlebih. Hal ini menunjukkan penderita asma memiliki perlindungan antioksidan yang lebih banyak dalam menyeimbangkan pembentukan radikal bebas yang semakin meningkat.15 Rendahnya kadar glutation juga mempengaruhi pola reaksi sitokin T helper (Th) 1 Th2. Studi pada hewan menunjukkan penurunan kadar glutation pada sel penampil antigen (antigen-presenting cell)

menyebabkan peralihan pembentukan sitokin Th 1 menjadi Th 2, yang merupakan predisposisi penyakit atopi. Hal ini mengadaptasi teori hygiene. Hipotesa dalam teori ini menerangkan mengenai dominasi adaptasi reaksi imun sel T seseorang yang mengalami pergeseran. Adapun reaksi sel T dibagi menjadi dua bentuk yang saling berkebalikan yakni Th1 dan Th2. Th2 berkaitan dengan sensitisasi agen atopik. Pada bayi dengan gejala atopi yang jelas ditemukan reaksi Th2 yang teraugmentasi. Berkebalikan dengan Th1. Reaksi Th1 pada umumnya terjadi akibat paparan terhadap agen patogen intraselular. Dengan demikian mereka

yang jarang terpapar dengan agen-agen infeksi ini akan berlanjut pada keadaan Th2 dengan reaksi yang belebihan suatu keadaan reaksi berlebih yang berkaitan dengan kondisi atopi yang melatarbelakangi terjadinya asma.14
Parasetamol

kadar glutation pada saluran napas

kadar glutation pada antigen-presenting cells

reactive oxugen species

Shifting respon Th1 Th2

kadar glutation pada saluran napas Kontrasi otot polos bronkus permeabilitas vaskular Pelepasan mediator pro-inflamasi

Relevan terhadap patogenesis asma

Gambar 2. Penjabaran pengaruh parasetamol dan glutation terdahap timbulnya asma. 3

Terdapat temuan lain yang menyatakan bahwa penggunaan rutin dari parasetamol dapat memicu terjadinya asma. Sebuah studi menyatakan bahwa penggunaan dosis tunggal dari parasetamol dapat menginduksi reaksi inflamasi dan menurunkan fungsi jalan napas dari anak dengan asma. Tiga anak dengan asma menunjukan penurunan presentasi dari FEV sebesar 7%, 8%,dan 9% pada 1 jam setelah mengonsumsi parasetamol.

Nuttall et al menunjukan bahwa terdapat penurunan yang signifikan dari serum antioksidan pada orang yang mengkonsumsi 1gr parasetamol setiap hari selama 2 minggu. Reaksi inflamasi pada jalan napas disebabkan karena adanya penurunan kadar glutation, yang merupakan suatu antioksidan yang dapat ditemukan pada paru-paru, liver, dan ginjal. Terdapat teori yang menyatakan bahwa penurunan kadar glutation disebabkan karena adanya jalur hepatik p450 cytochrom yang merupakan sistem yang memetabolisme parasetamol, produk akhir dari hasil metabolisme ini berupa N-acetyl-p-benzoquinonemine.Ketika terjadi penurunan level dari glutation, N-acetyl-p-benzoquinonemine terakumulasi didalam sel dan diketahui menyebabkan kematian pada sel tersebut.13 Dengan menurunnya kadar glutation, parasetamol menurunkan kemampuan dari sel pejamu untuk mengeliminasi reactive oxygen species (ROS) seperti superokside anion (o2-), hydroxyl (OH), dan peroxyl (ROO-). ROS terbentuk karena kehilangan atau karena penambahan 1 elektron yang berasal dari produk non radikal dari sel inflamasi. ROS memicu terjadinya proses peroksidasi lipid, yang berperan dalam pelepasan mediator inflamasi prostaglandin dan leukotrien dari membran fosfolipid, proses ini menyebabkan kerusakan pada membran dan inti sel, sehingga terjadi kematian dari sel, serta memicu terjadinya deskuamasi dari epitel, edema, pelepasan leukotrien, bronkokonstriksi, dan

penambahan stimulasi dari sel inflamasi. Dikatakan juga bahwa penurunan level dari glutation menyebabkan perubahan dari ekspresi sel T-helper menjadi T2 alergic dominant pathway.13,15 2.3.2 Parasetamol dan kegagalan inhibisi enzim Siklooksigenase Asam arakidonat merupakan asam lemak tidak jenuh (20-carbon polyunsaturated fatty acid) yang utamanya berasal dari asupan asam linoleat dan berada dalam tubuh dalam bentuk esterifikasi sebagai komponen fosfolipid membrane sel. Asam arakidonat dilepaskan dari fosfolipid melalui fosfolipase seluler yang diaktifkan oleh stimulasi mekanik, kimia, atau fisik, atau oleh mediator inflamasi lainnya seperti c5a. Metabolisme asam arakidonat berlangsung melalui salah satu dari 2 jalur utama, sesuai dengan enzim yang mencetuskannya, yaitu jalur

siklooksigenase dan lipooksigenase. Metabolit asam arakidonat dapat memperantarai setiap langkah inflamasi.16 Jalur Siklooksigenase (COX), merupakan enzim yang berfungsi untuk membentuk mediator inflamasi berupa prostanoid yang terdiri atas prostaglandin E2 (PGE2), prostaglandin D2 (PGD2), Prostasiklin (PGI2) dan tromboxan A2 (TXA2). Setiap produk tersebut berasal dari Prostaglandin H2 (PGH2) oleh pengaruh kerja enzim yang spesifik. PGH2 sangat tidak stabil, yang merupakan prekusor hasil akhir biologi aktif jalur siklooksigenase. Beberapa enzim mempunyai distribusi jaringan tertentu, misalnya trombosit mengandung enzim tromboxan sintetase sehingga produk utamanya adalah TXA2, yang merupakan agen agregasi trombosit yang kuat dan vasokonstriktor. Sedangkan pada endothelium memiliki prostasiklin sintase yang membentuk PGI2, yang merupakan vasodilator dan penghambat kuat agregrasi trombosit. PGD2 merupakan metabolit utama dari jalur sikooksigenase pada sel mast, yang menyebabkan vasodilatasi dan pembentukan edema.16 Jalur 5-lipoxygenase (5-LO), merupakan jalur yang diaktivasi didalam leukosit dan sel imunokompeten lainnya, termasuk sel mast, eosinofil, neutrofil, monosit dan basofil. Ketika sel-sel tersebut diaktifkan, asam arakidonat dibebaskan dari sel membran fosfolipid oleh fosfolipase A2. Enzim 5-LO membutuhkan 5-lipoxygenase-activating protein (FLAP) untuk mengubah asam arakhidonat menjadi leukotrien A4 (LTA4). Didalam sel yang dilengkap dengan LTA4 hidrolase seperti pada neutrofil dan monosit, LTA4 diubah menjadi Leukotrien B4 (LTB4). Sedangkan pada sel yang dilengkapi dengan Leukotrien C4 (LTC4) sintase seperti pada sel mast dan sel eosinofil, LTA4 akan dibantu oleh gluthatione tripeptida untuk membentuk LTC4. Diluar sel, LTC4 dapat dikonversi menjadi Leukotrien D4 (LTD4) dan Leukotrien E4 (LTE4). Sistein leukotrien (LTB4,LTC4,LTD4,LTE4) berfungsi sebagai reseptor pada permukaan sel target, yang menyebabkan vasokonstriksi, bronkospasme, dan meningkatkan permeabilitas vaskular.16

Gambar 3. Diagram jalur metabolisme asam arakidonat dan pengaruh NSAID17

Pada obat parasetamol, yang bekerja menghambat jalur dari siklooxygenase (Gambar 3), mengakibatkan peningkatan produk dari jalur 5-lipooxygenase yang berupa sistein leukotrien, yang menyebabkan bertambahnya reaksi inflamasi berupa bronkospasme, vasokonstriksi, dan peningkatan permeabilitas dari vaskular.17 2.3.4 Studi lain yang berhubungan Diluar kemungkinan keterkaitan faktor-faktor perancu sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, telah banyak studi epidemiologis dan eksperimen-eksperimen yang mendukung keterkaitan positif antara penggunaan parasetamol dalam terapi dan bronkokonstriksi. Data dari European Community Respiratory Health Survey and the Internasional Study of Asthma mengobservasi adanya korelasi positif diantara kedua variabel. Disimpulkan dalam studi ini, adanya peningkatan penjualan perkapita untuk setiap gram parasetamol pada tahun 1994/1995, prevalensi wheeze meningkat 0,52% pada populasi 13-14 tahun.3 Studi lain pada populasi yang lebih besar dilakukan ditingkat individual terhadap 1.574 dewasa muda terhadap frekuensi pemakaian (harian atau mingguan) dan kaitannya dengan kejadian asma. Pada studi ini, populasi terpapar parasetamol diartikan pada subjek dengan konsumsi parasetamol rutin dan dibandingkan kelompok lain yang tidak pernah terpapar, pengguna jarang, pengguna bulanan, mingguan dan harian. Didapatkan asosiasi positif parasetamol dan asma (odds ratio [OR] 1.79 pada ambang kepercayaan 95%, 1.21-2.65) .3

Adapun hipotesis lain yang mengemukakan pengaruh parasetamol terhadap asma pada anak. Salah satu hipotesis yang paling jarang diteliti adalah parasetamol merupakan antigen yang merangsang mekanisme yang dimediasi IgE.19 Hipotesis ini menyatakan bahwa paparan parasetamol akan meningkatkan kadar IgE dan histamin.4 Akan tetapi, pengertian dari asma yang dipicu obat analgetik lain tidak mendukung mekanisme ini. Misalnya, trias ASA (hipersensitivitas aspirin, asma dan polip nasal) diduga tidak berasal dari jalur yang diperantarai IgE tetapi lebih karena hipersensitivitas dari inhibisi jalur siklooksigenase.13 Penyakit sistem respirasi yang disebabkan oleh virus berhubungan dengan resiko menderita asma di kemudian hari. Penyakit wheezing yang disebabkan oleh rhinovirus pada tiga tahun pertama kehidupan berhubungan dengan resiko menderita asma pada usia 6 tahun. Resiko asma pada usia 5 tahun dikatakan lebih tinggi pada anak yang menderita penyakit wheezing yang disebabkan rhinovirus atau RSV (respiratory syncytial virus).20 Anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena wheezing yang disebabkan infeksi rhinovirus pada dua tahun pertama kehidupan memiliki resiko empat kali lebih besar untuk menderita asma dibandingkan anak-anak yang dirawat karena wheezing yang disebabkan virus lain.21 Parasetamol dapat mengurangi reaksi imun dengan menekan reaksi antibodi yang menetralisir infeksi dan membuat durasi infeksi virus menjadi lebih panjang jika diminum pada saat infeksi rhinovirus.22,23

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan Asma merupakan penyakit kronis dengan karakteristik meningkatnya reaksi hipereaktivitas bronkus oleh berbagai macam pencetus disertai dengan timbulnya penyempitan luas saluran nafas bagian bawah yang dapat berkurang secara spontan atau dengan pengobatan. Banyak faktor yang turut menentukan derajat reaktivitas atau iritabilitas tersebut. Faktor genetik, biokimiawi, saraf otonom, imunologis, infeksi, endokrin, psikologis, dan lingkungan lainnya, dapat turut serta dalam proses terjadinya manifestasi asma. Karena itu asma disebut penyakit yang multifaktorial. Menurut penelitian dikatakan bahwa parasetamol merupakan salah satu faktor pemicu dari timbulnya reaktivasi dari asma pada anak, melalui berbagai mekanisme berupa penurunan kadar glutation yang menyebabkan peningkatan kadar ROS dan pergeseran dari respon Th1 menjadi Th2 yang berkaitan dengan sensitisasi agen atopik, menghambat jalur dari siklooksigenase yang menyebabkan peningkatkan produk dari jalur 5-Lipooxygenase berupa sistein leukotrien, dan peranan parasetamol dalam menekan respon antibody yang menetralisir infeksi dan membuat durasi infeksi virus menjadi lebih panjang pada saat infeksi rhinovirus, dari seluruh mekanisme yang sudah dijelaskan tersebut dapat disimpulkan bahwa parasetamol dapat menginduksi terjadinya asma, yang ditandai dengan reaksi inflamasi berupa bronkokonstriksi otot bronkus, inflamasi mukosa, dan bertambahnya sekret pada jalan nafas. 3.2. Saran Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini agar dapat mengetahui secara pasti hubungan parasetamol dengan asma pada anak serta mengetahui mekanisme pasti bagaimana parasetamol dapat menginduksi terjadinya asma pada anak.

DAFTAR PUSTAKA

1. McBride JT. The Association of Acetaminophen and Asthma Prevalence and Severity. PEDIATRICS Vol.12 2011;128:1181-1184 2. Amberbir A et al. The Role of Acetaminophen and Geohelminth Infection on the Incidence of Wheeze and Eczema: A long birth cohort study. American journal of respiratory and critical care medicine Vol. 183 2011: 165-170 3. Martinez-Gimeno A, Garcia-Marcos L. The association between

acetaminophen and asthma: should its pediatric use be banned? Expert Rev. Respir. Med. 7(2); 2013: 113-122 4. Etminan M et al. Acetaminophen Use and the Risk of Asthma in Children and Adults A Systematic Review and Metaanalysis. Chest. 2009; 138(5): 1316-1323. 5. Feld LG. Fever in Infants and Child from Birth to 3 Years. In: Burg FD, Polin RA, Gershon GA, Ingelfinger J, editors. Current Pediatric Therapy. 18th ed. Philadelphia: Elsevier; 2006. 6. Furst DE, Ulrich RW, Prakash S. Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs, Disease-Modifying Antirheumatic Drugs, Nonopioid Analgesics, & Drugs Used in Gout. In: Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ, editors. Basic & Clinical Pharmacology. 12th ed. New York: McGraw-Hill Companies; 2012. p. 635-657. 7. Burke A, Smyth E, Fitzgerald GA. Analgesic-Antipyretic Agents; Pharmacotherapy of Gout. In: Brunton LL, Lazo JS, Parker KL, editors. Goodman & Gilmans Pharmacological Basis of Therapeutics. 11th ed. New York: McGraw-Hill Companies; 2006. p. 671-715. 8. Lee CKK, Tschudy MM, Arcara KM. Drug Doses. In: Tschudy MM, Arcara KM , editors. The Harriet Lane Handbook. 19th ed. Philadelphia: Elsevier; 2012. p. 661-988. 9. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Depkes RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. 2009

10. Rudolf, Mary, Levene Malcolm. Paediatrics and Child Health. 2006: Blackwell Publishing Ltd; Oxford 11. Rahajoe N, dkk. Pedoman Nasional Asma Anak, UKK Pulmonologi, PP IDAI, 2004 12. Kliegman RM et al. Nelson Textbook of Pediatric 19th Edition. 2011: Saunders Elsevier; Philadephia 13. Eneli I, Sadri K, Camargo C, Barr RG.Acetaminophen and the Risk of Asthma: The Epidemiologic and Pathophysiologic Evidence. CHEST 2005;127 (2):604-612 14. Rautava S et al. Invited Review: The Hygiene Hypothesis of Atopic DiseaseAn Extended Version. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition 2004 38:378388 15. Soferman R et al. The Effect of a Single Dose of Acetaminophen on Airways Response in Children With Asthma. Clinical Pediatrics 2013; 52(1) : 44-6. 16. Mitchell RN, Cotran RS. Acute and chronic inflamation. Dalam: Robbins SL, Kumar V. Robbins Basic Pathology 7th ed. 2003. Philadelphia: ElsevierSaunders 17. Obase Y et al. Pathogenesis and management of aspirin-intolerant asthma. Treat Respire Med 2005; 4(5) : 327-8. 18. Levy S, Volan G. The use of Analgesics in Patients with Asthma. Drug safety 2001; 24(11) : 834-5. 19. Vlaski E, Stavric K, Isjanovska R, Seckova L, Kimovska M. Acetaminophen Intake and Risk of Asthma, Hay Fever and Eczema in Early Adolescence. Iran J Allergy Asthma Immunol. 2007; 6(3): 143-149 20. Kim WK, Gern JE. Updates in the Relationship Between Human Rhinovirus and Asthma. Allergy Asthma Immunol Res. 2011; 4(3): 116-121. 21. Jackson DJ. The Role of Rhinovirus Infection in the Development of Early Childhood Asthma. Curr Open Allergy Clin Immunol. 2010; 10(2): 133-138. 22. Holgate ST. The Acetaminophen Enigma in Asthma. Am J Respir Crit Care Med. 2011; 183: 147-151. 23. Beasley RW et al. Acetaminophen Use and Risk of Asthma,

Rhinoconjuntivitis, and Eczema in Adolescents. Am J Respir Crit Care Med. 2011; 183: 171-178.