You are on page 1of 17

Laporan Praktikum Penanganan Limbah Industri Pangan

Hari/Tanggal : Selasa, 8 Oktober 2013 PJ Dosen : Dr.ir. Mohammad Yani Asisten : Nizar Zakaria M. Sarfat STP. Msi

PENGOLAHAN AIR LIMBAH

Kelompok 6 / AP2 Salsa Karina Ardiyansyah Hani Mardiana Dwi Herlambang Husnul Khotimah Chitra Ayu Lestari J3E111136 J3E111131 J3E111139 J3E111141 J3E211152

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

dampak lainnya adalah menciptakan media untuk tumbuhnya kuman penyakit yang dapat merugikan kesehatan manusia. dan lain sebagainya. air limbah akan berubah warnanya menjadi cokelat kehitaman dan berbau busuk. menganalisis perubahan kualitas air selama pengolahan. Bila dibiarkan. Bahan kimia tersebut dapat memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit disentri. kolera dan sebagainya. Limbah cair yang dihasilkan mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut. dan hayati yang akan menimbulkan gangguan terhadap kesehatan karena menghasilkan zat beracun. Air limbah harus dikelola untuk mengurangi pencemaran. 1994).BAB I PENDAHULUAN 1. mengetahui perubahan fisik dan kimia selama pengolahan air limbah. tipus. Pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan membuat saluran air kotor dan bak peresapan. pada prkatikum kali ini akan dilakukan perngolahan air limbah secara sederhana agar dapat diolah lebih lanjut. Air limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan lingkungan. Apabila air limbah ini merembes ke dalam tanah yang dekat dengan sumur maka air sumur itu tidak dapat dimanfaatkan lagi. akan mengalami perubahan fisika.2 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan laporan ini adalah melakukan pengolahan air limbah industri pangan. khususnya yang berkaitan dengan air yang kotor dan sanitasi lingkungan yang tidak baik (Mahida. Apabila limbah ini dialirkan ke sungai maka akan mencemari sungai dan bila masih digunakan akan menimbulkan gangguan kesehatan. gas dan padat dalam air limbah terdapat bahan kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. 1. Bau busuk ini mengakibatkan sakit pernapasan. Selain itu. kimia.1 Latar Belakang Limbah merupakan buangan atau bekas yang berbentuk cair. Namun. . Oleh karena itu diperlukan adanya pengolahan air limbah guna mengurangi dampak-dampak yang membahayakan kesehatan manusia.

2 µm) Tabung serum 100 ml Tabung DO/ BOD 125 ml Buret Statif buret Pereaksi DO Pereaksi BOD Pereaksi COD Indikator (kanji) Labu semprot 500 ml Pereaksi NO3 Pereaksi NO4 Pereaksi SO4 Spektrophotometer .1 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam prakikum pengolahan air limbah adalah sebagai berikut :                    Air limbah domestik dan industri Gelas piala 1000 ml Saringan diameter 15 cm Toples 5 liter dan tutupnya Aerator besar dan selang Sparger Sambungan selang Sparger (aeras) Gunting/ cutter Plastik ukuran I kg Lakban hitam Solatip transparan Botol 500 ml NaOH teknis HCl teknis Tawas Kaporit pH meter Thermometer                    Neraca analitik Cawan porselein 30.BAB II METODOLOGI 2.40 ml Corong gelas Tabung reaksi COD Rak tabung Kertas saring (0.

BOD & COD 2.2 Prosedur Kerja 2.2. BOD &COD Analisis : pH Analisis : pH & OD Analisis : pH Analisis : pH & OD Analisis : pH Flokulasi Sedimentasi 2 Aerasi Sedimentasi 3 Air Olahan / Effluent Analisis : pH Analisis : TSS.2. OD.1 Proses Pengolahan air limbah Air Baku / Iffluent Filtrasi Sedimentasi 1 Analisis : pH. TS.2 OD (Optical Density) Persiapan sampel Persiapan kuvet spektrofotometri Tuangkan sampel ke kuvet Atur λ = 600nm Catat hasilnya . TS.2.

2.4 TSS (Total Suspensed Solid) Timbang kertas saring Diletakkan kedalam corong gelas Disaring 50 ml effluent Di oven kertas saring Didinginkan dengan desikator Ditimbang dan dicatat .3 TS (Total Solid) Disiapkan 2 cawan kosong Di oven 1050 + 20 mL infulent + 20 ml effluent Dipanaskan dipenangas Dioven selama 3 jam Didinginkan dengan Ditimbang dan dicatat 2.2.2.

2.5 BOD (Biological Oksigen Demand) Pengenceran 10x (influent & effluent) DO0 & 5: + air aerasi hingga penuh + 12 mL MnSO4 + 2 mL KI Tabung ditutup 12 mL sampel (Botol Winkler) + 2 mlH2SO4 + indikator kanji 2-3 tetes Dititrasi dengan tiosulfat hingga warna biru hilang Dipipet 10 ml 2.9 mL aquades Dipipet 2 mL sampel setelah diencerkan + 1.2.7 COD (Chemical Oksigen Demand) Pengenceran 100x (influent & effluent) 0.2.1 mL sampel 9.5mL K2Cr2O7 .

ion exchange.756 2667.6 air limbah nata 3. dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme di alam.28 120 1640 34 1. Selanjutnya adalah pengolahan tahap pertama.9 7. flokulasi.1 7.296 1. Tahapan keempat adalah pengolahan tahap ketiga.324 160 3040 160 2.13 1.44 280 1585 -50 2. Tahap yang ketiga adalah pengolahan tahap kedua yang dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa.1 limbah jus 4 sampel pH sesudah 7. dan aerasi saja.9 air cucian beras 5.5 OD sebelum 0. Tahapan yang terkahir adalah pengolahan lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan yang sebelumnya.1 Hasil Pengamatan kelompok 1 2 3 4 5 6 7 sebelum air cucian piring 5. padatan tersuspensi.BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.44 520 6370 340 3. filtration.556 0. dan thickening gravity or flotation.317 4155. carbon adsorption.89 0. mikorba patogen.14 2667. sebagai berikut: .287 2006. sedimentasi.096 0. Prinsip yang diterapkan adalah prinsip ketiga yang hanya melibatkan tahap penyaringan.14 0 7655 102 1. 2008) Pada praktikum kali ini dilakukan pengolahan air limbah skala laboratorium dimana air limbah yang digunakan tidak dalam jumlah banyak. proses-proses yang terlibat pada pengolahan tahap ketiga adalah sedimentation. membrane separation.9 air limbah tahu 3.1 Pembahasan Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik.3 air limbah tapioka 4.8 9.314 280 450 -6 1. pada tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah.329 160 2. Terdapat berbagai macam sampel air limbahn yang digunakan. letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. (Hidayat. Secara umum pengolahan air limbah dapat dibagi menjadi lima tahap. yaitu pengolahan awal.3 air cucian pakaian 7.7 9 8.291 1. pada dasarnya pengolahan tahap petama ini masih bertujuan sama dengan pengolahan awal.761 BOD (mg/L) COD (mg/L) tss(mg/L) ts(mg/L) sesudah sebelum sesudah sebelum sesudah 1.

COD dan DO. Dalam pengolahan limbah yang melibatkan proses biologi. pH yang tidak sesuai dengan persyaratan pengolahan dapat memacu tumbuhnya mikroorganisme yang tidak diinginkan. semakin rendah nilai pH maka larutan akan memiliki sifat asam karena konsentrasi ion hidrogen semakin tinggi. peranan pH sangat penting. Selain itu. rentang pH yang dapat ditolerir oleh mikroorganisme adalah pada kisaran 6. 2013) Pada instalasi yang mengolah limbahnya dengan pengolahan kimia pemantauan pH sangat diperlukan karena reaksi-reaksi kimia sangat . Semakin tinggi nilai pH artinya konsentrasi ion hidrogen semakin sedikit dan larutan akan bersifat basa. Secara umum. Hasilnya. pH menunjukkan konsentrasi ion hidrogen di dalam larutan. Sedangkan pengujian kimia anorganik terdiri dari pengujian pH. Sebaliknya. Mikroorganisme memerlukan lingkungan dengan pH tertentu. Penanganan air limbah tersebut dilakukan dengan melakukan beberapa pengujian secara fisik dan kimia anorganik.Tabel 1Sampel air yang digunakan setiap kelompok Kel 1 2 3 4 Sampel Air Limbah Cucian Piring Air Limbah Cucian Pakaian Air Limbah Cucian Beras Air Limbah Industri Tahu Kel Sampel 5 Air Limbah Industri Tapioka 6 Air Limbah Industri Nata de Coco 7 Air Limbah Industri Jus Penanganan air limbah yang dilakukan menggunakan proses sederhana yang dapat dilakukan dalam laboratorium. (Muti. 3.5.1 Hasil Pengukuran pH Air Limbah Pengukuran pH merupakan hal yang mutlak dilakukan di dalam pengolahan air limbah.2. BOD. Pengujian fisik terdiri dari pengujian Total Suspensed Solid (TSS) dan Total Solid (TS). proses penyisihan organik dari dalam air limbah (diwakili oleh BOD) tidak dapat berjalan dengan semestinya dan efisiensi pengolahan dapat menurun.5 – 8. pH yang tidak sesuai atau terlalu fluktuatif dapat menurunkan kinerja proses biologi karena mikroorganisme tidak dapat melakukan metabolism secara optimal.

8-7. Kekeruhan ini untuk menunjukkan jumlah bakteri pada suatu sampel cair. yaitu dimulai dari influent.4. jangan lupa bahwa pH merupakan salah satu parameter baku mutu air limbah. 3. Pengaturan pH juga dilakukan pada tahap sedimentasi II. Pengukuran dilakukan pada beberapa tahap pengolahan. 2013) Selain penting di dalam proses pengolahan. sedimentasi II dan aerasi. sedimentasi I. Reaksi pengendapan logam berlangsung pada kisaran pH yang tinggi dan flokulan hanya dapat bekerja pada pH tertentu. Demi mencapai hasil yang otimum maka dilakukan pengaturan pH sebesar 6. Air limbah yang sudah diolah harus memenuhi rentang pH tertentu (kisaran pH normal) sebelum dialirkan ke perairan agar kehidupan biota perairan tidak terganggu. Perubahan pH dapat menjadi sinyal kepada operator instalasi pengolahan untuk mengubah dosis bahan kimia yang diperlukan. Optical density merupakan pengukuran terhadap tingkat kekeruhan yang dimiliki oleh sampel limbah yang digunakan. Pada praktikum telah dilakukan pengukuran pH pada setiap tahap pengolahan dengan pengaturan pH pada tahap-tahap tertentu.2. Tahap dimana perlu pengaturan pH adalah pada tahap setelah sedimentasi I dan sedimentasi II. diaman semakin keruh suatu sampel menunjukkan semakin tinggi jumlah bakteri yang terkandung di dalamnya. hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen dalam air limbah setelah dilakukan tahap proses pengolahan.dipengaruhi oleh pH.2 Pengukuran OD (Optical Density) Analisis selama pengolahan yang kedua dilakukan adalah pengukuran terhadap optical density (OD) masih menggunakan sampel limbah yang sama. (Muti. Alasan dari dilakukannya pengaturan pH adalah pada tahap setelah sedimentasi II dilakukan pengujian yang melibatkan organisme (uji BOD) dimana mikroorganisme dapat hidup optimum pada pH 6-8. Alasan dari pengaturan pH pada tahapan ini adalah karena setelah tahap sedimentasi I dilakukan tahap flokulasi dimana pada tahap ini dilakukan penambahan koagulan berupa tawas yang efektif pada pH 5. Pengukuran yang . Setelah dilakukan pengaturan pH tidak menutup kemungkinan bahwa nilai pH setelah tahapan proses akan kembali berubah.

pengukuran dilakukan dengan menggunakan spektorfotometer. Mekanisme dari pengukuran spektorfotomerti ini adalah ketika zat yang terlarut terkena cahaya tampak dari spektrofotometer akan mengukur seberapa banyak cahaya yang dapat tembus dan yang terpantul kembali oleh zat yang terlarut. Penggunaan panjang gelombang 600 nm menunjukkanan korelasi antara optical density zat yang terlarut dengan kekeruhan (Novitasari. dan terurainya zat tertentu. yang terjadi karena adanya bahan yang terapung. Berdasarkan hasil pengukuran didapatkan pada hampir semua sampel air mengalami peningkatan jumlah nilai optical density (OD) dari influent hingga effluent. tanah liat dan benda lain yang melayang atau terapung dan sangat halus sekali. Pengukuran nilai OD dilakukan dengan cara Spektorfotometri menggunakan alat Spektrofotometer pada lamda 600 nm. lumpur. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan metode Spektrofotometri. dan effluent ini untuk melihat ada tidaknya pertumbuhan sebelum dan setelah pengolahan. Semakin banyak zat yang terlarut dalam sampel. seperti bahan organik. Kekeruhan membatasi masuknya cahaya ke dalam air. didapatkan hasil pengukuran yang beragam dari setiap tahap oleh masingmasing sampel air limbah.dilakukan dengan beberapa tahap tersebut guna menunjukkan adanya tidaknya peningkatan atau penurunan jumlah bakteri yang terkandung pada sampel air limbah. semakin banyak . Keragaman nilai yang ditunjukkan pada sampel air limbah tersebut menunjukkan pertumbuhan bakteri yang fluktuatif pada tahapan proses yang dilalui. jasad renik. 2011). yaitu alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Pada spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisis yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detector fototube. Pengukuran optical density yang hanya dilakukan pada tahap influent. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombang dan dialirkan oleh suatu perekam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda.

air limbah cucian jus dan air limbah nata de coco. dalam hal ini untuk menurunkan kadar TS dari limbah buangannya. 1999). Berdasarkan praktikum penanganan limbah dari ketujuh sampel. Pigmen warna tersebut menjadi padatan apabila bersentuhan dengan air karena mengalami proses pelunturan. kemudian air limbah cucian beras.cahaya yang dihamburkan dan akan semakin tinggi pula nilai optical density yang terukur dan sampel terlihat semakin keruh (Novitasari. garam. Seharusnya kandungan TS terbesar terdapat pada air limbah industri tapioka. air limbah industri tapioka. Zat padat terlarut adalah jumlah nilai mineral. air limbah yang memiliki padatan influent terbanyak adalah pada air limbah cucian jus. 2011). air cucian beras. sehingga menghambat penetrasi sinar matahari ke dalam air dan mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis. Total padatan yang terkandung pada cucian beras berasal dari pigmen bulir beras yang bewarna putih keruh. Zat padat tersuspensi bila berlebih akan meningkatkan kekeruhan air. Selanjutnya untuk pengujian TS effuent pada sampel tidak dilakukan. Sedangkan total padatan yang terkandung pada air limbah jus berasal dari bulir-bulir serat sisa proses penghancuran buah. Perbedaan hasil TS yang didapatkan tersebut dikarenakan adanya perbedaan jumlah air limbah yang digunakan karena keterbatasan sampel. 3. namun disimpan pada suhu ruang. Sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan pengenceran yang menghasilkan terjadinya perbedaan tingkat kekeruhan yang sebanding dengan nilai TS. hal ini dikarenakan sampel yang telah disiapkan mengalami kerusakan akibat penyimpanan yang seharusnya dalam refrigerator. air limbah industri tahu.3 Pengukuran TS (Total Solid) Total Solid (TS) atau padatan total merupakan total dari zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi. logam. perlu dilakukan pengolahan limbah. air cucian pakaian. kation dan anion yang terlarut dalam air yang dinyatakan dalam mg/L. Oleh karena itu. air cucian piring dan air limbah nata de coco. Serat tersebut tidak larut didalam air karena berat jenisnya yang lebih besar dari air sehingga serat . baik yang bersifat organik maupun anorganik (Rachman.3.

kecuali kelima air limbah tersebut akan diolah kembali. sampel yang dapat digunakan sebagai air baku adalah air limbah cucian piring dan air limbah cucian pakaian. Akan tetapi. Sama halnya dengan serat. Semakin banyak mikroba yang ikut hilang pada proses pencucian lembaran nata de coco maka kandungan total padatan semakin tinggi akibat mikroba tersebut membentuk suatu lapisan yang cukup tebal (Mursyidah dkk. kadar maksimum TS yang diperbolehkan adalah 250 mg/l. 3. Sehingga pada air limbah industri tersebut yang biasanya berasal dari proses pencucian dan pembilasan dari proses penghancuran masih mengandung kadar pati yang cukup tinggi.tersebut nantinya akan ikut tersaring pada saat proses penyaringan dalam mengukur kadar total padatan pada air limbah cucian jus. pengendapan. Zat-zat organik yang menyebabkan kekeruhan berkurang dengan adanya perlakuan penyaringan. pati juga tidak mudah larut dalam air karena bersifat koloid. 1996]. dari ke tujuh sampel. TSS memberikan kekeruhan pada air akibat padatan tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap. 2009). Hasil yang didapatkan pada limbah cair setelah diberi perlakuan penanganan air limbah mengalami penurunan total padatan yang cukup banyak. sehingga pati tersebut mempengaruhi kandungan total padatan suatu air limbah industri tapioka. karena berdasarkan KEP MEN No. Pada sampel air limbah industri nata de coco total padatan terlarut dapat berasal dari kandungan mikroba yang berasal dari proses fermentasi. 42/MENLH/10/96 mengenai Baku Mutu Air Limbah [Kementerian Lingkungan Hidup.4 Pengujian TSS (Total Suspended Solid) Total suspended solid atau padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2μm atau lebih besar dari ukuran partikel koloid.3. Pada air limbah industri tapioka juga menghasilkan total padatan yang tinggi karena kadar pati yang terkandung pada singkong sangat tinggi. Sehingga kelima sampel lainnya tidak dapat digunakan sebagai air baku. . TSS umumnya dihilangkan dengan flokulasi dan penyaringan. flokulasi dan aerasi yang dilakukan selama dua minggu.

Hal ini dikarenakan sama seperti pada pengujian TS. Dari pengertian . air limbah tapioka. bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter). Pada effluent hanya sampel dari kelompok 2. Berdasarkan hasil dari 4 kelompok tersebut nilai BOD . air cucian piring. 2003). Hal ini dikarenakan sampel DO5 dari 3 kelompok lainnya yang disimpan pada botol serum pecah.5 Pengukuran BOD (Biological Oxygen Demand) BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Akan tetapi.pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen.3. tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi. sampel yang digunakan rusak karena kesalahan suhu penyimpanan.6 dan 7 yang dapat diuji DO5 nya. BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai. Tahu merupakan makanan berbahan dasar kedelai yang memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga saat menjadi limbah cair. yaitu: air cucian beras. semakin tinggi pula nilai kekeruhan. mungkin masih terdapat ampas kedelai yang telah menjadi tahu yang memungkinkan ampasnya tersaring di kertas saring sehingga nilai TSS nya menjadi besar. limbah air jus yaitu 6370. tingginya padatan terlarut tidak diikuti dengan tingginya kekeruhan karena jika nilai kekeruhannya tinggi maka akan dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air (Tarigan. air cucian pakaian. limbah tapioka 3040 dan limbah cucian piring 450 dan untuk limbah cucian beras tidak dilakukan karena sampelnya tidak ada. 3. dan air limbah jus. pengujian BOD terhadap sampel tidak dilakukan.Padatan tersuspensi berkolerasi positif dengan kekeruhan. Pada influent limbah.4. Berdasarkan hasil padatan tersuspensi total ketujuh sampel air limbah didapatkan bahwa air limbah tahu memiliki nilai tertinggi dari semua sampel yaitu sebesar 7655 mg/l dibandingkan dengan limbah air cucian pakaian yaitu 1640. Pada pratikum kali ini akan menguji BOD (Biological Oxygen Demand) pada enam uji sampel air. air limbah Nata de Coco. air limbah tahu. limbah nata yaitu 1585.

piring yang dicuci bekas makanan apa. Senyawa organik yang sulit terurai ( non biodegradable organics ) terdiri dari berbagai jenis senyawa organik yang sangat sulit diuraikan oleh mikroba. Pada prinsipnya pengukuran COD adalah sampel dilakukan 100x pengenceran dengan cara 0.6 Pengukuran COD (Chemical Oksigen Demand) Penetapan COD gunanya untuk mengukur banyaknya oksigen setara dengan bahan organik dalam sampel air. sellulosa. Sehingga Hasil uji pratikum ini tidak mutlak. Parameter COD sebenarnya menunjukan jumlah oksigen (mg/LO2 ) yang ada dalam senyawa oksidan yang dibutuhkan untuk menguraikan seluruh senyawa organik yang terkandung dalam 1 liter limbah cair. jumlah makanan yang tersisa pada piring. dihitung sebagai mg/l O2.tertinggi terdapat pada sampel kelompok 4 (air limbah tahu).1 ml sampel ditambahkan dengan 9. Pada pratikum ini faktor yang lain adalah keterampilan dan ketelitian pratikan dalam hal titrasi.9 ml aquades.limbah cair juga megandung senyawa organik yang tidak terurai (non biodegradable organics).2. minyak dan oli. misalnya oleh limbah domestic atau pun limbah industry pada umumnya mempunyai nilai COD yang tinggi. dll. Air yang tercemar. Buah apa yang dipakai untuk jus. yang mudah dioksidasi oleh senyawa kimia oksidator kuat. Namun hasil ini dipengaruhi dari karakteristik sampel. Setelah dilakukan pengenceran. sampel diambil sebanyak 2ml dan dimasukkan . keracunan. suhu imkubasi. Selain senyawa organik terurai . 3. dan waktu inkubasi. pH. deterjen. Penentuan kadar COD bermanfaat untuk menentukan system pengolahan limbah. pakaian yang dicuci dari kotoran apa. Beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah BOD yaitu: jumlah dan jenis bakteri yang digunakan. sebaliknya air yang tidak tercemar mempunyai COD yang rendah. hal ini menjadi penting karena jika salah saja membaca buret maka hasil itungan jumlah BOD pun akan berbeda begitu pula dengan menitrasi jika saja tidak teliti melihat warna dan memberhentikan aliran titran maka hasil jumlah BOD pun akan menjadi tidak akurat. Analisis COD ini dilakukan berdasarkan pemeriksaan air limbah sebelum pengolahan (Infulent) dan sesudah pengolahan (effluent). seperti herbisida. COD adalah banyaknya oksidator kuat yang diperlukan untuk mengoksidasi zat organic dalam air.

jika nilai COD lebih rendah maka tingkat pencemaran air semakin rendah pula. Konsentrasi dalam air limbah menurun. hydrogen dan oksigen dengan elemen aditif nitrogen. Sedangkan pada air cucian beras didapat nilai COD sebesar 160 mg/L. Hal ini dikarenakan sama seperti pada pengujian TS yaitu sampel yang rusak karena kekeliruan praktikan dalam menyimpan sampel. fosfat. 1984). ditandai dengan peningkatan COD. sampel COD yang sudah didiamkan selama satu minggu dimasukkan ke dalam erlenmeyer untuk dilakukan titrasi. . Berdasarkan hasil analisis COD terhadap ketujuh sampel pada sampel influent tidak dilakukan. Sebaliknya. diikuti air limbah nata dengan 280 mg/L dan air limbah jus dengan 520 mg/L. Selanjutnya pada air cucian pakaian didapatkan nilai COD sebesar 120 mg/L. Senyawa organik yang terdiri dari karbon. Sampel didalam tabung reaksi diinkubasi di refri selama satu minggu. Tahap selanjutnya. Berdasarkan hasil tersebut didapatkan nilai COD effluent tertinggi adalah pada sampel air limbah jus. Sedangkan pada sampel effluent didapatkan COD pada air cucian piring sebesar 280 mg/L.Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu disaat warna kuning atau hijau berubah menjadi coklat bata.kedalam tabung reaksi dan ditambahkan pereaksi COD. sulfur. Semakin tinggi konsentrasi COD menunjukkan bahwa kandungan senyawa organik tinggi tidak dapat terdegredasi secara biologis. dll cenderung untuk menyerap oksigenoksigen yang tersedia dalam limbah air dikonsumsi oleh mikroorganisme untuk mendegredasi senyawa organic akhirnya oksigen. BOD. Pada limbah air tahu didapat nilai COD 0 mg/L. TS dan air limbah juga menjadi berlumpur dan bau busuk. Hasil analisis sesudah pengolahan (effluent) menunjukkan bahwa air cucian beras dan cucian pakaian mengandung bahan organik yang lebih tinggi. Sampel COD ditambahkan indikator feroin kemudian dititrasi dengan FAS (Fero amonium sulfat) hingga merah bata. Semakin tinggi nilai COD artinya semakin tinggi pula pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara ilmiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air (Alaerts.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran .

2008. Teknik Pengolahan Air limbah. Pengukuran pH di Dalam Pengolahan air Limbah (Part I).Usaha Nasional: Surabaya. Mursyidah dan Nur Izatil H. Universitas Trisakti. Jakarta.com/2008/01/teknologi-pengolahan-air-limbah/. Rahman.airlimbah. [25 November 2013] Novitasari. Fakultas Teknik. Metoda Penelitian Air. Hidayat.. Studi Kandungan Tss Dalam Air Yang Tercemar Limbah Minyak Pelumas Dengan Menggunakan Metode Aerasi Dan Adsorbsi Karbon Aktif Dan Zeolit. Azhari. Tarigan. Jurnal Makara. Sulawesi Tenggara. (1999).com/2013/11/02/pengukuran-ph-di-dalampengolahan-air-limbah-part-1/. Banjarbaru Muti. M. G. Wahyu. Seri Sains volume 7 No. Optimasi Kinerja Microbial Fuel Cell (MFC) Untuk Produksi Energi Listrik Menggunakan Bakteri Lactobacillus bulgaricus. http://majarimagazine. [26 November 2013] Mahida. dan Santika. 2003. Depok.S. (1984). Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri.MT. Universitas Indonesia. http://www. 1994. Jakarta : Rajawali Pers.S. 2011.. Deni. Kandungan Total Zat Padat Tersuspensi (Total Suspended Solid) di perairan Raha.3 . Kamus Istilah dan Singkatan Asing “Teknik Penyehatan dan Lingkungan”. 2013.DAFTAR PUSTAKA Alaerts. Laporan Penelitian Program Studi S Teknik Kimia Universitas Lambung Mangkurat. Ir. S. 2009.