You are on page 1of 5

1.

Berfikir filsafat Berfikir merupakan hal yang lazim dilakukan oleh semua orang, tidak hanya dari kalangan tertentu saja, tapi semua kalangan masyarakat. Tapi tidak semua dari mereka yang berfikir filsafat dalam kehidupan sehari-harinya. Berfikir filsafat sangatlah penting untuk semua orang dalam rangka menjalani aktivitas sehari-hari, atau untuk mencari solusi bagi sebuah permasalahan. Jika ditelaah secara mendalam, begitu banyak manfaat, serta pertanyaanpertanyaan yang mungkin orang lain tidak pernah memikirkan jawabannya. Karena filsafat merupakan induk dari semua ilmu. Beberapa manfaat mahasiswa berfikir filsafat, yaitu mengajarkan cara berpikir kritis, sebagai dasar dalam mengambil keputusan, menggunakan akal secara proporsional, membuka wawasan berpikir menuju kearah penghayatan, dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya mengapa setiap mahasiswa diharapkan untuk selalu berfikir filsafat kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun ia berada. Apalagi seorang Hakim yang harus selalu berfikir filsafat radikal, universal, konseptual, koheren/konsisten, dan sistematis dalam memutuskan suatu perkara. Berfilsafat itu berarti berpikir, tapi berpikir itu tidak berarti berfilsafat. Hal ini disebabkan oleh berfilsafat berarti berpikir artinya dengan bermakna dalam arti berpikir itu ada manfaat, makna, dan tujuannya, sehingga mudah untuk direalisasikan dari berpikir itu karena sudah ada acuan dan tujuan yang pasti/sudah ada planning dan contohnya, dan yang paling utama hasil dari berpikir itu bermanfaat bagi orang banyak, tapi berpikir tidak berarti berfilsafat, karena isi dari berpikir itu belum tentu bermakna atau mempunyai tujuan yang jelas atau mungkin hanya khayalan saja. Filsafat membawa kita berpikir secara mendalam, maksudnya untuk mencari kebenaran substansial atau kebenaran yang sebenarnya dan mempertimbangkan semua aspek, serta menuntun kita untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap. 2. Objek Filsafat objek filsafat ada dua yaitu Objek Materia dan Objek Forma, tentang objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Sains memiliki objek materia yang empiris; filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak. Sedang objek forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang sedalamdalamnya tentang objek materi filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada). Dari uraian tertera di atas jelaslah, bahwa:

Cosmologia ini ialah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam adalah tidak mutlak. Hakekat Alam dan Hakekat Manusia. 2. Ini disebut orang “Tuhan” dalam Bahasa Yunani disebut “Theodicea” dan dalam Bahasa Arab disebut “Ilah” atau “Allah”. Comologia. Dalam realitanya terdapat bermacam-macam yang kesemuanya mungkin adanya. Ada Umum yakni menyelidiki apa yang ditinjau secara umum. Antropologia (Filsafat Manusia). tidak tergantung kepada apa dan siapapun juga. 4. apakah . Dalam buku Filsafat Agama. 3. yaitu filsafat yang mencari hakekat alam dipelajari apakah sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan Ada Mutlak. Titik Temu Akal dengan Wahyu karangan Dr. Dalam bahasa Eropa. karena manusia termasuk “ada yang tidak mutlak” maka juga menjadi objek pembahasan. dalam Bahasa Arab sering menggunakan Untulujia dan Ilmu Kainat. ADA UMUM ini disebut “Ontologia” yang berasal dari perkataan Yunani “Onontos” yang berarti “ada”. Ada Mutlak. Hakekat Tuhan. Apakah manusia itu sebenarnya. Objek materia filsafat ialah Sarwa-yang-ada. c. “Ada tidak mutlak”. Adanya tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan ia harus terus menerus ada. alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan Allah.1. b. H. Hamzah Ya’qub dikatakan bahwa objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya. sesuatu yang ada secara mutlak yakni zat yang wajib adanya. 2. karena adanya dengan pasti. yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok: a. Di sinilah diketahui bahwa sesuatu yang ada atau yang berwujud inilah yang menjadi penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objeknya ialah: 1. mungkin “ada” dan mungkin “lenyep sewaktu-waktu” pada suatu masa. Objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam- dalamnya sampai ke akarnya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada). Ia merupakan asal adanya segala sesuatu.

bukan menggunakan intuisinya. sebab akal yang menyelidiki akal. Ciri kepilsafatan Orang yang berpikir filsafat paling tidak harus mengindahkan ciri-ciri berpikir sebagai berikut: 1. 6. Sebab. Berpikir filsafat Radikal.kemampuan-kemampuannya dan apakah pendorong tindakannya? Semua ini diselidiki dan dibahas dalam Antropologia. esensi yang dipikirkan. Hanya orang tertentu saja. apakah kebenaran itu dan sampai dimanakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Filsafat akal budi ini disebut Epistimologi dan adapula yang menyebut Critica. maka semua penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. melainkan apa sebenarnya sesuatu itu. Yaitu berpikir sampai keakar-akarnya. Betapakah tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku manusia mana yang membedakannya dengan lain-lain makhluk. Berpikir filsafat Universal. apa maknanya. 3. Etika: filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia. Maka penyelidikan tentang akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau Logika. Oleh karena itu dipersoalkan adakah manusia mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran? Dengan segera timbul pula soal. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berpikir disebut logica minor. Sifat filsafat adalah radikal atau mendasar. adapun yang menyelidiki isi berpikir disebut logica mayor. bukan sekedar mengetahui mengapa sesuatu menjadi demikian. Misalnya melakukan penalaran dengan menggunakan rasio atau empirisnya. Akal budi adalah akal yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Tanpa kepastian tentang logika. Yaitu berpikir kefilsafatan sebagaimana pengalaman umumnya. . 5. Logika: filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. Tegasnya tanpa akal budi takkan ada penyelidikan. 2. sampai pada hakekat atau sustansi. orang yang dapat memperoleh kebenaran dengan menggunakan intuisinya tidaklah umum di dunia ini.

3. 6. atau intervensi oleh pengalaman sejarah ataupun pemikiran-pemikiran yang sebelumnya. 2. Yaitu dalam berpikir kefilsafatan harus bertanggungjawab terutama terhadap hati nurani dan kehidupan sosial. Yaitu dalam berpikir filsafat. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika (penalaran merupakan suatu proses berpikir logis). bagian. Berpikir filsafat Sistematis. . Berpikir filsafat Konseptual. Ciri-ciri Penalaran 1. atau detaildetail yang dibicarakan harus mencakup secara menyeluruh sehingga tidak ada lagi bagianbagian yang tersisa ataupun yang berada diluarnya. Berpikir filsafat Bebas. Yaitu dapat berpikir melampaui batas pengalaman seharihari manusia. Berpikir filsafat Komprehensif. Yaitu berpikir kefilsafatan harus sesuai dengan kaedah berpikir (logis) pada umumnya dan adanya saling kait-mait antara satu konsep dengan konsep lainnya. hal. sehingga menghasilkan pemikiran baru yang terkonsep. Penalaran 1. 8. adat istiadat. 4. Berpikir filsafat Koheren dan Konsisten. nilai-nilai kehidupan social budaya. maupun religious. dipengaruhi. 7. 2. Penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sifat analitik dari proses berpikir. 5. Hakikat Penalaran Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Berpikir filsafat Bertanggungjawab. Yaitu dalam berpikir kefilsafatan antara satu konsep dengan konsep yang lain memiliki keterkaitan berdasarkan azas keteraturan untuk mengarah suatu tujuan tertentu. Yaitu dalam berpikir kefilsafatan tidak ditentukan.

Induktif yang berujung pada empirisme . Deduktif yang berujung pada rasionalisme 2. yaitu : 1. Sedangkan jika ditinjau dari hakekat usahanya. yaitu : Analitik dan Non analitik.Cara berpikir masyarakat dapat dibagi menjadi 2. Penalaran Ilmiah sendiri dapat dibagi menjadi 2. dapat dibedakan menjadi : Usaha aktif manusia dan apa yang diberikan.