CEREBRAL PALSY DEFINISI Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun

waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. EPIDEMIOLOGI Asosiasi CP dunia memperkirakan > 500.000 pendertia CP di Amerika. Disamping peningkatan dalam prevensi dan terapi penyakit penyebab CP, jumlah anak – anak dan dewasa yang terkena CP tampaknya masih tidak banyak berubah atau mungkin lebih meningkat sedikit selam 30 tahun terakhir. Angka harapan hidup penderita CP tergantung dari tipe CP dan beratnya kecacatan motorik KLASIFIKASI KLINIS CP dapat diklasifikasikan berdasarkan gejala dan tanda klinis neurologis. Spastic diplegia untuk pertama kali dideskripsikan oleh dr.Little (1860), merupakan salah satu bentuk penyakit yang dikenal selanjutnya sebagai CP. Hingga saat ini, CP diklasifikasikan berdasarkan kerusakan gerakan yang terjadi dan dibagi dalam 4 kategori, yaitu : 1. CP Spastik Merupakan bentukan CP yang terbanyak (70-80%), otot mengalami kekakuan dan secara permanen akan menjadi kontraktur. Jika kedua tungkai mengalami spastisitas, pada saat seseorang berjalan, kedua tungkai tampak bergerak kaku dan lurus. Gambaran klinis ini membentuk karakterisitik berupa ritme berjalan yang dikenal dengan gait gunting (scissor gait) (Bryers, 1941). Anak dengan spastic hemiplegia dapat disetai tremor hemiparesis, dimana seseorang tidak dapat mengendalikan gerakan pada tungkai pada satu sisi tubuh. Jika tremor memberat, akan terjadi gangguan gerakan berat. a. Monoplegi : bila hanya mengenai 1 ekstremitas saja, biasanya lengan b. Diplegia : keempat ekstremitas terkena, tetapi kedua kaki lebih berat daripada kedua lengan c. Triplegia : bila mengenai 3 ekstremitas, yang paling banyak adalah mengenai kedua lengan dan kaki d. Quadriplegia : keempat ekstremitas terkena dengan derajat yang sama e. Hemiplegia : Mengenai salah satu sisi dari tubuh dan lengan terkena lebih berat

CP Ataksid Jarang dijumpai. 3. berjalan tidak stabil dengan gaya berjalan kaki terbuka lebar. menyebabkan anak tampak selalu menyeringai dan selalu mengeluarkan air liur. Gerakan sering meningkat selama periode peningkatan stress dan hilang pada saat tidur. CP terbagi : 1. misalnya menulis atau mengancingkan baju. Penderita juga mengalami masalah koordinasi gerakan otot bicara (disartria). otot muka dan lidah. Tipe spastis atau piramidal Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah: . meletakkan kedua kaki dengan posisi yang saling berjauhan. Bentuk ataksid ini mengenai 5-10% penderita CP. CP Atetoid / diskinetik Bentuk CP ini mempunyai karakteristik gerakan menulis yang tidak terkontrol dan perlahan. Bentuk campuran yang sering dijumpai adalah spastic dan gerakan atetoid tetapi kombinasi lain juga mungkin dijumpai. Dari defisit neurologis.Gambar anggota gerak yang mengalami kelainan 2. CP atetoid terjadi pada 10-20% penderita CP. kaki. kesulitan dalam melakukan gerkan cepat dan tepat. dimulai dengan gerakan volunter misalnya mengambil buku. Gerakan abnormal ini mengenai tangan. Mereka juga sering mengalami tremor. mengenai keseimbangan dan persepsi dalam. lengan atau tungkai dan pada sebagian besar kasus. menyebabkan gerakan seperti menggigil pada bagian tubuh yang baru akan digunakan dan tampak memburuk sama dengan saat pendertia akan menuju obyek yang dikehendaki. Penderita yang terkena sering menunjukkan koordinasi yang buruk. 4. CP Campuran Sering ditemukan pada seorang penderita mempunyai lebih dari satu bentuk CP yang akan dijabarkan di atas.

misalnya hiperrefleksi dan hipertoni disertai gerakan khorea. Disamping itu juga dijumpai gejala hipertoni.• Hipertoni (fenomena pisau lipat) • Hiperfleksi yang disertai klonus • Kecenderungan timbul kontraktur • Refleks patologis 2. Tipe campuran Gejala-gejala merupakan campuran kedua gejala di atas. Klasifikasi CP berdasarkan Derajat Penyakit . CP juga dapat diklasifikan berdasarkan estimasi derajat beratnya penyakit dan kemampuan penderita untuk melakukan aktivitas normal (Tabel 1. Tipe ekstrapiramidal Akan berpengaruh pada bentuk tubuh.) Tabel 1. gerakan involunter. seperti atetosis. Tipe ini sering disertai gangguan emosional dan retradasi mental. Pada tipe ini kontraktur jarang ditemukan apabila mengenai saraf otak bisa terlihat wajah yang asimetris dan disartri 3. ataksia. jarang sampai timbul klonus. distonia. hiperfleksi ringan.

Adanya malformasi hambatan pada vaskuler. b) Perdarahan intra kranial. iskemi prenatal. Studi oleh Nelson dkk (1986) (dikutip dari 13) menyebutkan bayi dengan berat lahir rendah. 1982). c) Trauma lahir. toksin atau infeksi). anoksi maternal. tromboplebitis. c) Radiasi. infeksi intrauterin merupakan faktor penyebab cerebral palsy. faktor genetik. Beberapa penelitian menyebutkan faktor prenatal dan perinatal lebih berperan daripada faktor pascanatal. b) Infeksi misalnya : meningitis bakterial. perinatal. Sedang faktor pasca natal mulai dari bulan pertama kehidupan sampai 2 tahun (Hagberg dkk 1975). Hod. tetapi dapat mempunyai penyabab yang berbeda. hilangnya neuron dan degenerasi laminar akan menimbulkan narrowergyiri. rubela. toksoplamosis. Suatu presentasi CP dapat diakibatkan oleh suatu dasar kelainan (struktural otak : awal sebelum dilahirkan. 3) Postnatal : a) Trauma kapitis. c) Kern icterus. Faktor prenatal dimulai saat masa gestasi sampai saat lahir. sedangkan faktor perinatal yaitu segala faktor yang menyebabkan cerebral palsy mulai dari lahir sampai satu bulan kehidupan. sifihis. d) Tok gravidarum. riwayat kesehatan ibu dan anak. malformasi kongenital. d) Prematuritas. atau sampai 5 tahun kehidupan (Blair dan Stanley. plasenta previa. dan onset penyakit. CP merupakan grup penyakit dengan masalah mengatur gerakan. atau infeksi virus lainnya). atau tali pusat yang abnormal). Untuk menentukan penyebab CP. suluran sulci dan berat otak rendah. sitomegalovirus. atrofi. abses serebri. asfiksia saat lahir. atau lukaluka / kerugian setelah kelahiran dalam kaitan dengan ketidakcukupan vaskuler.ETIOLOGI Penyebab cerebral palsy dapat dibagi dalam tiga periode yaitu: 1) Pranatal : a) Malformasi kongenital. ensefalomielitis. PATOFISIOLOGI CP bukan merupakan satu penyakit dengan satu penyebab. harus digali mengenai hal : bentuk CP. atau sampai 16 tahun (Perlstein. toksin. 1964). 2) Natal : a) Anoksialhipoksia. . e) Asfiksia dalam kandungan (misalnya: solusio plasenta. b) Infeksi dalam kandungan yang dapat menyebabkan kelainan janin (misalnya. CP digambarkan sebagai kekacauan pergerakan dan postur tubuh yang disebabkan oleh cacat nonprogressive atau luka otak pada saat anak-anak.

Kerusakan biasanya terletak di traktus kortikospinalis. kaki dalam flesi plantar dan telapak kaki berputar ke dalam. 3) Koreo-atetosis Kelainan yang khas yaitu sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi dengan sendirinya (involuntary movement). Tungkai dalam sikap aduksi. duduk. dan orang tua sering mencurigai ketika kemampuan perkembangan motorik tidak normal. pada usia bulan pertama tampak flaksid (lemas) dan berbaring seperti kodok terlentang sehingga tampak seperti kelainan pada lower motor neuron. misalnya tengkurap. tetraplegia/ tetraparesis adalah kelimpuhan keempat anggota gerak. karena itu tampak sifat yang khas dengan kecenderungan terjadi kontraktur. Bayi dalam golongan ini biasanya flaksid dan . Pada 6 bulan pertama tampak flaksid. Refleks otot yang normal dan refleks babinski negatif. tetapa sesudah itu barulah muncul kelainan tersebut. fleksi pada sendi siku dan pergelangan tangan dalam pronasi serta jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari melintang di telapak tangan. Bentuk kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan yaitu monoplegia/ monoparesis. Kerusakan biasanya terletak di batang otak dan disebabkan oleh afiksia perinatal atau ikterus. hemiplegia/ hemiparesis adalah kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama. merangkak. Tonic neck reflex dan refleks neonatal menghilang pada waktunya. Dapat timbul juga gejala spastisitas dan ataksia. Menjelang umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot dari rendah hingga tinggi. fleksi pada sendi paha dan lutut.PENEGAKAN DIAGNOSIS a. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun penderita dalam keadaan tidur. tersenyum atau berjalan. Kelumpuhan keempat anggota gerak. Bila dibiarkan berbaring tampak fleksid dan sikapnya seperti kodok terlentang. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu gabungan otot. 4) Ataksia Ataksia adalah gangguan koordinasi. diplegia/diparesis adalah kelumpuhan keempat anggota gerak tetapi tungkai lebih hebat daripada lengan. kerusakan terletak diganglia basal disebabkan oleh asfiksia berat atau ikterus kern pada masa neonatus. Refleks neonatal menetap dan tampak adanya perubahan tonus otot. 2) Tonus otot yang berubah Bayi pada golongan ini. 1) Spastisitas Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan reflek Babinski yang positif.lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai. Gejala Awal Tanda awal CP biasanya tampak pada usia <3 tahun. tetapi yang khas ialah refelek neonatal dan tonic neck reflex menetap. Bayi dengan CP sering mengalami kelambatan perkembangan. tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya. misalnya lengan dalam aduksi. tetapi bila dirangsang atau mulai diperiksa otot tonusnya berubah menjadi spastis.

PEMERIKSAAN NEURORADIOLOGIK Pemeriksaan khusus neuroradiologik untuk mencari kemungkinan penyebab CP perlu dikerjakan. kelainan metabolik. Jika anak secara progresif kehilangan kemampuan motorik. Mulai berjalan sangat lambat dan semua pergerakan canggung dan kaku. Tetapi bayi dengan spastik hemiplegia.pada keadaan asfiksia yang berat dapat terjadi katarak. Kerusakan terletak diserebelum. harus ditentukan bahwa kondisi anak tidak bertambah memburuk. tumor SSP. CP sesuai dengan definisinya tidak dapat menjadi progresif. pada sebagian kasus. Jika dokter memegang obyek didepan dan pada sisi dari bayi. dan. salah satu pemeriksaan adalah CT scan kepala. CT scan dapat menjabarkan area otak yang . Langkah selanjutnya dalam diagnosis CP adalah menyingkirkan penyakit lain yang menyebabkan masalah pergerakan. walaupun obyek didekatkan pada tangan yang sebelahnya. pengulangan pemeriksaan akan sangat berguna untuk konfirmasi diagnostik dimana penyakit lain dapat disingkirkan. sehingga sulit menangkap kata-kata. ada kemungkinan terdapat masalah yang berasal dari penyakit lain. penyakit muskuler. Walaupun gejala dapat berubah bersama waktu. Kehilangan keseimbangan tamapak bila mulai belajar duduk. 7) Gangguan mata Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan kelainan refraksi. Perlu juga dilakukan pemeriksaan refleks dan mengukur perkembangan lingkar kepala anak. Gangguan berupa kelainan neurogen terutama persepsi nadi tinggi. sejak tangan pada sisi yang tidak terkena menjadi lebih kuat dan banyak digunakan.menunjukan perkembangan motorik yang lambat. Gerakan yang terjadi dengan sendirinya dibibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut sehingga anak sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur. Penelitian metabolik dan genetik tidak rutin dilakukan dalam evaluasi anak dengan CP. Pemeriksaan fisik Dalam menegakkan diagnosis CP perlu melakukan pemeriksaan kemampuan motorik bayi dan melihat kembali riwayat medis mulai dari riwayat kehamilan. misalnya penyakit genetik. b. akan menunjukkan perkembangan pemilihan tangan lebih dini. Riwayat medis anak. Yang terpenting. Perlu juga memeriksa penggunaan tangan. 6) Gangguan bicara Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retradasi mental. kecenderungan untuk menggunakan tangan kanan atau kiri. bayi masih belum menunjukkan kecenderungan menggunakan tangan yang dipilih. persalinan dan kesehatan bayi. Sampai usia 12 bulan. 5) Gangguan pendengaran Terdapat 5-10% anak dengan serebral palsi. bayi akan mengambil benda tersebut dengan tangan yang cenderung dipakai. Terdapat pada golongan koreoatetosis. pemeriksaan diagnostik khusus. yang merupakan pemeriksaan imaging untuk mengetahui struktur jaringan otak.

TATALAKSANA CEREBRAL PALSY MASALAH UTAMA PENDERITA CEREBRAL PALSY Masalah utama yang dijumpai dan dihadapi pada anak yang menderita CP antara lain : 1. termasuk kejang. Banyak kondisi diatas dapat diperbaiki dengan terapi spesifik. lebih murah dan tidak membutuhkan periode lama pemeriksaannya. Jika diduga ada masalah visus. Air liur dapat menyebabkan iritasi berat kulit dan menyebabkan seseorang sulit diterima dalam kehidupan sosial dan pada akhirnya menyebabkan anak akan terisolir dalam kehidupan kelompoknya. Dikatakan bahwa neuroimaging direkomendasikan dalam evaluasi anak CP jika etiologi tidak dapat ditemukan. mulut dan lidah akan menyebabkan anak tampak selalu berliur. akan membawa komplikasi. menghasilkan gambar yang lebih baik dalam hal struktur atau area abnormal dengan lokasi dekat dengan tulang dibanding dengan CT scan kepala. Kadangkala intelegensi anak sulit ditentukan dengan sebenarnya karena keterbatasan pergerakan. sensasi atau bicara. Pemeriksaan intelegensi harus dikerjakan untuk menentukan derajat gangguan mental. EEG harus dilakukan (Level A. USG dapat digunakan pada bayi sebelum tulang kepala mengeras dan UUB tertutup. atau kelainan lainnya. dapat dirujuk ke dokter THT.kurang berkembang. MRI kepala. EEG akan membantu dokter untuk melihat aktivitas elektrik otak dimana akan menunjukkan penyakit kejang. dikatakan tidak ada satupun yang selalu berhasil. dokter harus merujuk ke optalmologis untuk dilakukan pemeriksaan. kista abnormal. jika terdapat gangguan pendengaran. PEMERIKSAAN LAIN Pada akhirnya. tehnik tersebut dapat mendeteksi kista dan struktur otak. Walaupun hasilnya kurang akurat dibanding CT dan MRI. Walaupun sejumlah terapi untuk mengatasi drooling telah dicoba selama bertahun-tahun. Class I-II evidence. Beberapa penderita berhasil dengan teknik biofeedback yang dapat memberitahu penderita saat drooling atau mengalami kesulitan untuk mengendalikan otot yang akan membuat mulut tertutup. gangguan mental. dan visus atau masalah pendengaran untuk menentukan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan. Obat yang dikenal dengan antikholinergik dapat menurunkan aliran saliva tetapi dapat menimbulkan efek samping yang bermakna. sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup penderita CP. sehingga anak CP mengalami kesulitan melakukan tes dengan baik. walaupun kadang-kadang efektif. Identifikasi kelainan penyerta sangat penting sehingga diagnosis dini akan lebih mudah ditegakkan. Dengan informasi dari CT Scan. dan dapat mengerti bahwa drooling akan menyebabkan . termasuk memburuknya masalah menelan. Kelemahan dalam mengendalikan otot tenggorokan. Pemeriksaan ketiga yang dapat menggambarkan masalah dalam jaringan otak adalah USG kepala. misalnya mulut kering dan digesti yang buruk. Terapi tersebut tampaknya akan berhasil jika penderita mempunyai usia mental 2-3 tahun. Jika dokter menduga adanya penyakit kejang. klinisi mungkin akan mempertimbangkan kondisi lain yang berhubungan dengan CP. dokter dapat menentukan prognosis penderita CP. dimana dapat dimotivasi ntuk mengendalikan drooling. merupakan tehnik imaging yang canggih. Pembedahan.

bicara dan terapi perilaku. Beberapa pendekatan tatalaksana yang direncanakan meliputi obat-obatan untuk mengontrol kejang dan spasme otot. 2. atau gastrostomy. atau merembesnya urine dari kandung kemih.seseorang secara sosial sulit diterima. dapat menyebab gangguan nutrisi yang berat. Pada kasus gangguan menelan berat dan malnutrisi.obatan. disarankan untuk membuat makanan semisolid. Pencegahan terhadap cedera kepala dengan cara menggunakan alat pengaman pada saat duduk di kendaraan dan helm pelindung kepala saat bersepeda. pembedahan. atau jika tidak mencukupi dapat dilakukan transfusi tukar. CP tidak dapat disembuhkan. Kesulitan makan dan menelan. Penanganan ikterus neonatorum yang cepat dan tepat pada bayi baru lahir dengan fototerapi. misalnya duduk saat makan atau minum dan menegakkan leher akan menurunkan resiko tersedak. Nutrisi yang buruk. yang digunakan untuk memasukkan makanan dan nutrien ke saluran makanan. Adapun penyebab CP yang dapat dicegah atau diterapi antara lain: 1. yang dipicu oleh masalah motorik pada mulut. untuk mengidentifikasi kebutuhan khusus masing-masing anak dan kelainan-kelainan yang ada dan kemudian menentukan terapi individual yang cocok untuk setiap penderita (Goldberg. Disini tidak ada terapi standar yang berlaku untuksemua penderita CP. terapi yang dilakukan ditujukan untuk memperbaiki kapabilitas anak. Inkontinentia Urin. Inkontinentia urin dapat berupa enuresis. sehingga kejadian CP pun bisa dicegah. pada akhirnya dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi dan menyebabkan gagal tumbuh. Inkontinentia urin adalah komplikasi yang sering terjadi. Sebagai tambahan. Klinisi diharapkan dapat bekerja sama dalam tim. Champbell. obat. biofeedback. klinisi dapat merekomendasikan penggunaan selang makanan. misalnya sayur dan buah yang dihancurkan. 1991. PENCEGAHAN CEREBRAL PALSY Beberapa penyebab CP dapat dicegah atau diterapi. pengamatan optimal selama mandi dan bermain. peralatan mekanis untuk membantu kelainan yang timbul. hingga saat ini tujuan terapi pada CP adalah mengusahakan penderita dapat hidup mendekati kehidupan normal dengan mengelola problem neurologis yang ada seoptimal mungkin. dan eliminasi kekerasan fisik pada anak.1996). dan fisik. Inkompatibilitas tersebut tidak selalu menimbulkan masalah pada kehamilan pertama. Inkontinentia urin ini disebabkan karena penderita CP kesulitan mengendalikan otot yang selalu menjaga supaya kandung kemih selalu tertutup. konseling emosional dankebutuhan psikologis. . Inkompatibilitas faktor rhesus mudah diidentifikasi dengan pemeriksaan darah rutin ibu dan bapak. okupasi. Terapi medikasi yang dapat diberikan untuk inkonensia meliputi olah raga khusus. pembedahan atau alat yang dilekatkan dengan pembedahan untuk mengganti atau membantu otot. Posisi ideal. 2. dimana dokter bedah akan meletakkan selang langsung pada lambung. 3. Dalam perkembangannya. dimana seseorang tidak dapat mengendalikan urinasi selama aktivitas fisik (stress inkonentia). penyangga khusus untuk kompensasi keseimbangan otot. Untuk membuat menelan lebih mudah.

serum khusus yang diberikan setelah kelahiran dapat mencegah produksi antibodi tersebut. misalnya jika pada ibu hamil antibodi tersebut berkembang selama kehamilan pertama atau produksi antibodi tidak dicegah. Pada kasus yang jarang. Rubella. . atau campak jerman. Pada sebagian besar kasus-kasus. 3.karena secara umum tubuh ibu hamil tersebut belum memproduksi antibodi yang tidak diinginkan hingga saat persalinan. maka perlu pengamatan secara cermat perkembangan bayi dan jika perlu dilakukan transfusi ke bayi selama dalam kandungan atau melakukan transfusi tukar setelah lahir. dapat dicegah dengan memberikan imunisasi sebelum hamil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful