You are on page 1of 13

Ditulis oleh Louise Arbour untuk KOMPAS.com KOMPAS.

com - Saat Barack Obama berkunjung ke Myanmar kemarin, Presiden Amerika ini tak hanya menyaksikan suatu negara yang sedang melakukan transisi politik yang cukup dramatis tapi juga negeri yang kini menghadapi konflik sosial yang memprihatinkan. Ledakan kekerasan massa antara kelompok mayoritas Buddha dengan minoritas Muslim dari suku Rohingya, di Negara Bagian Rakhine adalah suatu efek samping dari transformasi politik yang kini berlangsung di negara Asia Tenggara ini. Konflik horizontal ini juga merupakan tantangan terberat bagi pemerintah dan kelompok oposisi yang ada. Sejak Maret 2011, Myanmar tengah mengarungi suatu transisi politik yang menakjubkan. Para pemimpin negeri ini telah memperlihatkan niat dan visi politik untuk mendorong Myanmar benar-benar keluar dari bayang-bayang kelam masa lalunya. Presiden Thein Sein telah mendeklarasikan perubahan-perubahan dan berupaya membangun kemitraan yang langgeng dengan oposisi, terutama Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi. Proses ini memang masih belum sempurna, namun banyak hal telah dicapai termasuk pembebasan tapol/napol, penerapan undang-undang kebebasan berkumpul dan berserikat, penghapusan sensor terhadap media serta mulusnya pemilihan umum tahun lalu yang memberikan jalan kepada Suu Kyi dan partainya masuk parlemen. Pemerintah Thein Sein sendiri sudah berusaha menyelesaikan berbagai konflik etnik di Myanmar yang telah berlangsung lama. Upaya penyelesaian awal sebenarnya sudah cukup positif. Hal ini bisa dilihat dengan ditandatanganinya sepuluh perjanjian gencatan senjata. Yang masih menggantung tinggal kesepakatan dengan kelompok separatis bersenjata Kachin saja. Jelas, penghentian kekerasan yang telah tercapai adalah langkah awal yang penting. Namun sekonyong-konyong, pada Juni lalu terjadilah kerusuhan etnis di Negara Bagian Rakhine yang merusak jalan cerita yang membesarkan hati ini. Tuduhan adanya pemerkosaan yang dilakukan oleh beberapa lelaki Muslim terhadap seorang wanita beragama Buddha menjadi pemicu yang membuat ketegangan laten antara kelompok Buddha Rakhine dan minoritas Rohingya yang memeluk agama Islam meledak hebat. Puluhan orang telah terbunuh, ratusan rumah telah terbakar serta sedikitnya 75 ribu penduduk, sebagian besar dari etnis Rohingya, mengungsi akibat kekerasan antar-kelompok yang melanda negara bagian itu. Kekerasan yang meluas terjadi lagi pada 21 Oktober lalu di beberapa tempat lain di Rakhine. Konflik ini membuat jumlah korban tewas akibat konflik ini membengkak hingga 140 jiwa dan jumlah pengungsi meningkat melebihi 110 ribu orang. Babak baru dari rentetan kekerasan ini tak hanya menghantam orang Rohingya tetapi juga kelompok Muslim lainnya. Ada indikasi aksi-aksi ini diorganisir secara matang oleh elemen-elemen ekstrim. Sampai kini, pemerintah Myanmar belum mampu mengatasi konflik itu. Malahan dalam beberapa kasus pihak berwenang dan aparat keamanan di Rakhine menunjukan keberpihakan kepada kelompok mayoritas. Selain itu pemerintah maupun kelompok oposisi terkesan membiarkan munculnya berbagai retorika ekstrim anti-Muslim yang memantik kekerasan. Perlu dicatat bahwa kelompok Rohingya sudah begitu lama dianggap paria di wilayah Asia ini. Mereka

menghadapi diskriminasi berat di Myanmar dan negara tetangga Bangladesh serta hanya punya sedikit dukungan dari tempat lain walau kekerasan belakangan ini telah mendorong solidaritas dan protes dari beberapa negara Asia yang berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia. Seringkali konflik semacam ini dianggap lumrah terjadi di negara yang tengah beranjak keluar dari kekuasaan otoriter. Gesekan sosial sering muncul seiring dengan kebebasan yang membuka ruang untuk terkuaknya masalah-masalah yang tadinya terpendam. Contohnya, protes masyarakat terhadap perampasan tanah dan penyalahgunaan kekuasan oleh pemerintah daerah atau keprihatinan lingkungan dan sosial terhadap proyek-proyek infrastruktur dan tambang yang dibiayai pihak asing. Meskipun begitu, tetap saja masalah di Rakhine yang terus memanas ini amat memprihatinkan. Situasinya amat berbahaya bagi suatu negara dengan beragam etnis dan agama seperti Myanmar. Semakin retaknya hubungan sosial antar kelompok ini tentu akan mengancam stabilitas nasional negeri ini. Pengalaman membuktikan ketegangan komunal dapat dieksploitasi dan dikipas-kipas oleh tujuan-tujuan politik. Secara khusus, ada suatu ancaman nyata kekerasan di Rakhine ini akan benar-benar menjadi pertentangan antara orang Buddha dengan orang Islam yang lebih eksplisit dengan kemungkinan melahirkan bentrokan-bentrokan serupa di wilayah Myanmar lainnya dimana kelompok minoritas Muslim bermukim. Munculnya lobi solidaritas Buddha karena isu Rakhine ini dengan adanya demonstrasi para bhiksu dan kelompok elit suku Birma mendukung sesama pemeluk agama ini bukanlah hal yang baik. Presiden Thein Sein telah membentuk komisi investigasi dengan mandat yang luas untuk mendalami sebab-sebab kekerasan ini dan tanggapan yang telah dilakukan serta memberi arahan bagaimana situasi ini dapat diselesaikan demi rekonsiliasi dan pembangunan sosial-ekonomi di daerah ini. Kerja komisi akan sangat penting untuk memberikan jalan bagi masa depan Negara Bagian Rakhine dan memicu refleksi nasional terhadap masalah identitas dan keberagaman di negeri banyak agama ini. Tetapi, apabila laporan akhir dari komisi ini yang diharapkan keluar dalam beberapa bulan lagi hanya dokumen mengambang yang menghindari masalah-masalah kontroversial atau jika hasilnya hanya mengekor pandangan kaum mayoritas yang partisan dan tidak kondusif bagi rekonsiliasi, semua upaya ini tidak akan memberi sumbangan banyak bagi perdamaian. Kekerasan di Negara Bagian Rakhine menjadi ujian besar bagi pemerintah Myanmar yang kini berniat mengedepankan hukum dan ketertiban tanpa kembali ke cara-cara otoriter masa lalu. Hal ini juga menjadi tantangan bagi Aung San Suu Kyi dan Liga Nasional untuk Demokrasi yang perlu memperlihatkan komitmen yang lebih besar, baik secara umum dan di belakang layar, pada hak-hak dasar semua orang yang tinggal di Myanmar.

Lebih dari itu, baik pemerintah maupun oposisi perlu menunjukkan kepemimpinan moral untuk menekan ketegangan dan bekerja demi tercapainya penyelesaian yang langgeng terhadap suatu masalah yang dapat mengancam proses reformasi dan stabilitas Myanmar. Louise Arbour adalah Presiden dari International Crisis Group, sebuah lembaga

ASEAN Diminta Hentikan Genosida Muslim Rohingya
Banyak pihak mengatakan, pembantaian itu tak ubahnya pembersihan etnis (genosida). Banyak bukti memperlihatkan tentara Myanmar ikut terlihat membantai, menyiksa, dan bahkan memerkosa para Muslimah Rohingya yang menjadi minoritas di Myanmar. Ada indikasi pemerintah Myanmar tengah membersihkan negaranya dari etnis lain, pemeluk agama selain Budha. Hal ini diperkuat dengan sikap Aung San Suu Kyi yang terkesan membiarkan dan menutup mata atas terjadinya genosida Muslim Rohingya di negaranya. Karena itulah banyak pihak yang menyayangkan sikap Suu Kyi. Sebagai peraih Nobel Perdamaian, seharusnya ia mampu menangani pelanggaran HAM yang terjadi di negaranya sendiri. Direktur Eksekutif Kampanye Myanmar di Inggris, Anna Roberts, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap apatis Suu Kyi. “Ini mengecewakan. Dia berada dalam posisi sulit, tapi orang telah kecewa dengan sikapnya,” ujarnya seperti diberitakan Republika.co.id. Sedangkan masyarakat Indonesia mengecam keras pembantaian yang dilakukan oleh etnis mayoritas Myanmar itu. Berbagai aksi demonstrasi digelar di Jakarta dengan sasaran Kedutaan Besar Myanmar dan Gedung Sekretariat ASEAN. Akhir Juni lalu, misalnya, puluhan massa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Islam Jakarta Selatan berunjuk rasa di depan Gedung Sekretariat ASEAN. Mereka mempertanyakan peran ASEAN sebagai organisasi yang terkesan pasif terhadap permasalahan di Myanmar yang merupakan salah satu anggota ASEAN. Para demonstran yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) itu mendesak Myanmar menyelesaikan masalah pelanggaran HAM. Mereka juga menuntut ASEAN dan PBB untuk bersikap tegas terhadap Myanmar, serta mendesak Indonesia untuk segera mengecam perilaku biadab terhadap Muslim Rohingya. “Dan yang terakhir bila tidak ada realisasi dari tiga tuntutan itu, maka desakan selanjutnya adalah Kedubes Myanmar harus hengkang dari Indonesia,” tegas koordinator aksi Agus Harta. Sementara itu Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasaan (Kontras) meminta Indonesia agar mendorong ASEAN mendesak Myanmar menghentikan pembantaian Muslim Rohingya, terlebih karena ASEAN sudah memiliki Komisi HAM sejak tiga tahun lalu. Kontras menilai, diamnya Indonesia karena segelintir orang Indonesia memiliki kepentingan terhadap Myanmar. “Beberapa pengusaha Indonesia mempunyai investasi hotel di Myanmar dan tentara kita menjadi konsultan pemerintah transisi Myanmar,” jelas Koordinator Kontras Haris Azhar. Relawan Indonesia (Indonesian Volunteers for Disaster Relief) juga mengutarakan kritikan yang sama terhadap sikap Indonesia dan ASEAN. Boy Muslim, koordinator Relawan Indonesia untuk Rohingya mengatakan bahwa negara anggota ASEAN harus secara aktif membantu menyelesaikan masalah kemanusiaan Rohingya di Myanmar. Sedangkan Dewan Penasihat Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia, Daniel Johan, mendesak pemerintah Indonesia dan seluruh anggota ASEAN untuk tidak membiarkan masalah Rohingya berlarut. Sebab jika hal tersebut dibiarkan berlarut maka akan menimbulkan tindak kekerasan lain di kemudian hari dan membuat kondisi tidak terkendali.

Ia juga mendesak pemerintah Indonesia mengambil inisiatif melalui ASEAN untuk segera merumuskan solusi terhadap kasus ini. “Kami mendorong seluruh anggota ASEAN meratifikasi konvensi 1954 tentang status orang tidak berkewarganegaraan dan konvensi 1961 tentang pengurangan keadaan tak berkewarganegaraan, sehingga persoalan-persoalan yang timbul akibat kondisi tak berkewarganegaraan atau statelessness dapat dihindari,” jelasnya seperti dilansir Okezone.com. DEVI LUSIANAWATI

HAM untuk Rohingya: Kebijakan Baru Myanmar Bentuk Pembersihan Etnis
MALAYSIA (voa-islam.com) – Organisasi Hak Asasi Manusia untuk Etnis Rohingya (MERHROM) yang berkantor di Malaysia pada hari Senin (27/05/13) mengeluarkan pernyataan pers sangat mengutuk kebijakan baru yang membatasi tiap keluarga hanya dua anak. Myanmar merupakan satu-satunya Negara yang melakukan perbuatan ini sebagai bentuk hukuman kepada agama tertentu. Pernyataan tersebut menegaskan, kebijakan itu pelanggaran mencolok terhadap hak asasi manusia. Kebijakan ini tidak diterapkan kecuali kepada etnis minoritas Rohingya. Kebijakan yang baru ini diambil untuk membatasi konflik antara budha dan muslim, sedankan kita tidak dapat memastikan dengan berkurangnya etnis Rohingya dapat mereda konflik, jelas MERHROM. Jumlah Etnis Rohingya tidak melebihi 4% dari total penduduk yang mencapai 60 juta jiwa. Pernyataan MERHROM tersebut menegaskan, langkah yang diambil oleh Pemerintah Myanmar ini bukan lah untuk mengurangi konfli etnis melainkan ini adalah pembersihan etnis yang ditujukan kepada Muslim Rohingya yang minoritas.[usamah/rohingya] Dewan Konsultatif Malaysia LSM Islam (MAPIM) dan Sekretariat Majelis Ulama Asia (syura) sangat mengutuk kebijakan pemerintah Myanmar yang mengumumkan baru-baru ini bahwa 800.000 Rohingya akan digiring ke kamp dan akan dialihkan ke negara ketiga. Ini adalah tindak pidana internasional yang jelas adalah memperluas kebijakan yang sudah ada menganiaya masyarakat Rohingya sejak 2 dekade lalu. Fakta-fakta sejarah Rohingya yang menjadi hak orang-orang yang sah dari Arakan, sebuah kesultanan Islam sekali berdaulat, tidak bisa dipungkiri. Sejarawan tidak diperebutkan fakta ini dan Rohingya memiliki hak hukum untuk mengklaim orisinalitas mereka sebagai putra dan putri Arakan. Rohingya tidak hanya disangkal hak-hak dasar manusia mereka, mereka juga sedang tertindas untuk memperpanjang penyangkalan hak mereka untuk hidup sebagai warga sah dari negara. Pemerintah Myanmar tidak memiliki hak hukum untuk menghalau Rohingya karena status dugaan mereka sebagai imigran harus dibuktikan. Para Rohingya telah sedang hidup dalam

negara Arakan selama beberapa generasi. Bahkan itu adalah Rakhines yang menjadi penjajah yang menduduki Arakan sebelum masa kolonial Britisih. Bristish mengumumkan Arakan sebagai bagian dari Burma setelah memberikan kemerdekaan. pengumuman mengusir orang Rohingya dari Myanmar ini adalah jelas melanggar hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas etnis. Kemarahan kamiadalah oleh kebijakan barbar yang diumumkan oleh pemerintah sipil Myanmar yang seharusnya demokratis. Apakah masyarakat internasional memungkinkan pembuatan dalam Palestina lain? Sebuah bangsa berdaulat sekali orang dengan kewarganegaraan yang sah, tapi dengan goresan pena, semua yang stateless menjadi tiba-tiba dan pihak berwenang melanjutkan penganiayaan mereka di Rohingya dengan impunitas. Rohingya yang menyuarakan dengan lantang bahwa mereka adalah orang-orang yang sah dari Arakan. Aturan militer menindas menargetkan Rohingya di 19 mereka operasi militer sejak tahun 1962. Operasi Nasaka saat ini yang masih berlangsung telah mengakibatkan perlakuan tidak manusiawi terhadap penduduk Rohingya dengan kecepatan penuh dari mesin pemerintah untuk pembantaian dan menyiksa mereka. Dengan 5 dekade penindasan PBB telah mengakui etnis Rohingya sebagai salah satu orang yang paling tertindas di dunia. Para pemerintah Myanmar di bawah kekuasaan militer telah membantai ratusan ribu Muslim Rohingya. Sayangnya genosida telah dikaburkan dari perhatian dunia meninggalkan Rohingya rentan terhadap perlakuan tidak manusiawi tanpa pemberitaan oleh dunia luar. Kepada Pemerintah Myanmar telah sengaja dibingkai undang-undang tentang kewarganegaraan dengan mudah menghapus 9 minoritas keluar dari daftar 144 asli. Rohingya telah menjadi target dan sejak itu diberi label sebagai imigran. Kami menyerukan masyarakat internasional untuk menekan pemerintah Myanmar untuk menghentikan ketidakadilan oleh otoritas diderita Rohingya tersebut. Pemusnahan terakhir ribuan Rohingya dan kekejaman penguburan dilakukan ke mereka tidak dapat dibungkam oleh perubahan rezim militer ke pemerintahan sipil. Semua negara OKI harus menghubungi kedutaan besar Myanmar untuk menuntut penghentian pembantaian dan genosida. Kami mendesak agar PBB dan ASEAN untuk menekan pemerintah Myanmar untuk mengizinkan semua Rohingya kini mengungsi di 14 negara untuk memungkinkan mereka untuk kembali dan mengembalikan hak-hak mereka yang sah sebagai warga Maynmar. Kami mendesak rekonsiliasi nasional dan dialog segera dinegosiasikan untuk melindungi hakhak Rohingya minoritas Muslim dan minoritas lain yang ditindas oleh mantan junta militer. Mohd Azmi Abdul Hamid

Sekretaris Jenderal MAPIM Abdul Ghani Samsuddin Ketua Syura dan Ulama Muslimin Association Dunia, Malaysia Dari: Azmi Hamid <azmi58@yahoo.com> Tanggal: 18 Juli 2012 10:46:21 AM GMT +08:00 Untuk: harakah inggris <harakahenglish@yahoo.com> Subject: Siaran Pers – Penghukuman terhadap Myanmar yang mengusir Rohingya Siaran Pers 18 Juli 2012 *** Jakarta, 17 Rajab 1434/27 Mei 2013 (MINA) – Organisasi Hak Asasi Manusia Malaysia Untuk Etnis Rohingya Myanmar (MERHROM) mengecam keras kebijakan terbaru pemerintah Myanmar yang melarang minoritas Muslim Rohingya untuk memiliki lebih dari dua anak. MERHROM menyatakan, langkah itu dilakukan sebagai upaya Genosida terhadap satu-satunya etnis yang paling tertindas di Myanmar itu. Organisasi tersebut tidak bisa menerima kebijakan baru itu dengan alasan sebagai upaya untuk mengurangi konflik etnis antara Buddha dan Muslim. “Kita tidak bisa menerima pengurangan jumlah minoritas Muslim Rohingya sebagai solusi untuk mengurangi konflik, jumlah minoritas Rohingya sudah sangat rendah, empat persen dari total 60 juta populasi Myanmar,” papar Presiden MEHROM, Zafar Ahmad Bin Abdul Ghani, melalui rilis yang diterima MINA, Senin (27/5). Menurutnya, hal itu merupakan pelanggaran berat yang bertentangan dengan hak asasi manusia sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Kebijakan baru tersebut hanya berlaku untuk minoritas Muslim Rohingya di negara tersebut. Hingga sekarang Myanmar adalah satu-satunya negara di dunia yang memberlakukan praktek sanksi terhadap agama tertentu. Rohingya merupakan etnis minoritas muslim yang mendiami wilayah Arakan sebelah utara Myanmar berbatasan dengan Bangladesh, dahulu wilayah ini dikenal dengan sebutan Rohang dan saat ini lebih dikenal dengan Rakhine.

Zafar menilai, muslim Rohingya bukan orang yang menciptakan kekerasan karena Muslim Rohingya tidak memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Muslim Rohingya sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah Myanmar. Kemudian lanjut Zafar, Minoritas Rohingya adalah korban Genosida di negaranya sendiri, sehiingga bagaimana mungkin menjadi ancaman bagi penduduk Budha yang mayoritas. Tujuan dari kebijakan baru tersebut tidak akan mengurangi konflik etnis, melainkan pembersihan etnis minoritas yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar. “Kami kecewa hal ini terjadi setelah Presiden Myanmar, Thein Sein bertemu dengan Presiden AS, Barrack Obama baru-baru ini. Dalam pertemuan tersebut Obama mendesak Thein Sein untuk menghentikan kekerasan dan pembunuhan terhadap minoritas Rohingya. Meskipun Thein Sein berjanji untuk menyelesaikan konflik tersebut, tapi bukan melalui kebijakan barunya,” jelas Zafar. Pembersihan Etnis Pemerintah Myanmar telah begitu banyak mengeluarkan kebijakan pembersihan etnis terhadap minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Salah satu kebijakan tersebut adalah pembatasan perkawinan, dimana Rohingya harus mendaftar untuk menikah dan menunggu persetujuan pemerintah selama bertahun-tahun. Persetujuan pernikahan disetujui dalam waktu satu hingga empat tahun atau lebih. Pemerintah Myanmar juga menuntut biaya yang tinggi untuk aplikasi pernikahan dan hal itu adalah salah satu alasan Muslim Rohingya harus menunda pernikahan hingga mereka memiliki uang yang cukup. Dia juga mengungkapkan, banyak insiden Muslim Rohingya dimana perempuan Rohingya diperkosa oleh aparat pemerintah saat mendaftar untuk menikah. Karena kejadian tersebut perempuan Rohingya menolak untuk menikah dan beberapa kasus telah mengakibatkan bunuh diri. Saat ini, di negara bagian Arakan, Pasukan Keamanan dan Departemen Imigrasi Myanmar memaksa Rohingya untuk menandatangani sebuah dokumen yang menyatakan bahwa etnis Rohingya adalah etnis Benggali. Jika Muslim Rohingya menolak, mereka akan ditangkap, dipukuli, diancam dibunuh, dan aset mereka akan disita. Banyak dari Muslim Rohingya hilang setelah ditangkap oleh pasukan keamanan. Pemerintah Myanmar membentuk UU Imigrasi Darurat pada tahun 1974 yang menghapus kewarganegaraan Rohingya dan selanjutnya pada tahun 1982 melalui Peraturan Kewarganeraan Myanmar (Burma Citizenship Law 1982).

Myanmar menghapus Rohingya dari daftar delapan etnis utama (yaitu Burmans, Kachin, Karen, Karenni, Chin, Mon, Arakan, Shan) dan dari 135 kelompok etnis kecil lainnya. Pasukan keamanan pemerintah Myanmar (Na-Sa-Ka) dan Rakhine Budha yang dapat menyita rumah dan propertinya karena mengklaim Muslim Rohingya bukan warga negara Myanmar. "Kami mendapat informasi, Rohingya tidak bisa mengajukan keluhan atau laporan seperti mereka bukan warga negara Myanmar dan properti mereka adalah milik warga Myanmar. Pasukan keamanan dan Rakhine Budha dapat menyita properti dan bisnis setiap saat," ungkapnya. Dalam rilis tersebut, MERHROM kecewa atas PBB dan Pemimpin Dunia terhadap penderitaan Muslim Rohingya, meskipun mereka tahu baik apa yang Muslim Rohingya alami di dalam dan di luar Myanmar. “Mengapa sampai sekarang PBB gagal untuk mengirim Misi Perdamaian ke Arakan? Apakah karena Rohingya adalah Muslim? Dan sampai sekarang Kekerasan terhadap minoritas Rohingya di Negara bagian Arakan masih berlangsung diam-diam,” tegas seorang Rohingya yang tinggal di Malaysia itu. MERHROM menyesalkan, PBB, pemimpin dunia, serta komunitas internasional telah menyaksikan bagaimana perlakuan diskriminasi pemerintah Myanmar terhadap minoritas Rohingya. Namun, hingga kini, tidak ada tindakan nyata yang diambil terhadap Presiden Pemerintah Myanmar yang merupakan pelaku nyata dalam kejahatan manusia. "Mereka harus dituntut sebagai pelaku Genosida dan pelaku Kejahatan Kemanusiaan. Mereka harus dibawa ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) karena membunuh, memperkosa, menahan, dan menyiksa kaum minoritas Muslim Rohingya serta etnis lainnya," tambahnya. (L/P015/P02) Mi’raj News Agency (MINA) VIVAnews - Tengah malam pada tahun 2009, Ahmad Zakhir dan beberapa pemuda dari desa Buti Dong di wilayah negara Mnyanmar memutuskan pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Mereka mencari rasa aman dan nyaman. Ini karena pecah perang antar etnis yang terjadi di wilayah Rakhien, Myanmar. Dimana warga yang berasal dari suku Rohingya yang merupakan suku minoritas dan juga beragama Islam yang dikenal sebagai agama minoritas di Myanmar. Selain itu perlakuan diskriminatif yang diterima para Rohingya dari pemerintah Myanmar dinilai sangat menggangu kehidupan para Rohingya sebagai warga dunia. Sebelumnya, pada tahun 2008 Rohingya telah berlarian menyebar ke beberapa wilayah di Asia. Pelarian Rohingya ke negara seperti Bangladesh, Srilanka, dan juga Malaysia. Di sana mereka merasakan kebebasan yang sangat terbilang jarang dirasakan mereka di negaranya, Myanmar,

dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Kebanyakan para Rohingya memilih lari ke Bangladesh. Lantaran Rohingya juga sebenarnya adalah suku asli Bangladesh yang telah lama bermukim dan tumbuh di wilayah Myanmar. Namun, dengan adanya kebijakan pemerintah Bangladesh untuk tidak menampung pengungsi Rohingya dari Myanmar yang dikatakan menjadi salah satu penyebab padatnya penduduk negara itu. Akhirnya para Rohingya memilih beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia yang diketahui mayoritas penduduknya beragama muslim. Mereka pun banyak melarikan diri ke negara itu. Sebanyak ratusan orang Roghingya telah menetap dan ditampung di negara Malaysia dengan status pengungsi. Menurut mereka, selama ini mereka tidak mendapatkan hal hidup yang sewajarnya dirasakan mereka sebagai warga negara. Kurang lebih selama 30 tahun kehidupan para Rohingya dibatasi oleh kebijakan pemerintah Myanmar. "Kami tidak punya sekolah dan kalau pun bisa itu kami lakukan sembunyi-sembunyi. Dan yang paling mengesalkan adalah kami tidak boleh melanjutkan keperguruan tinggi," kata salah satu pengungsi, Muhammad Noor saat ditermui VIVAnews beberapa waktu lalu di rumah pengungsian di Medan, Indonesia. "Kami minoritas, tapi sangat jarang salat. Karena di Myanmar dilarang, dan kampung kami juga dijaga oleh polisi dan militer agar kami tidak bisa bepergian keluar desa. Itulah sedikit tekanan yang kami rasakan disana, hingga kami sudah tak tahan lagi," tambah pria yang melarikan diri dari Myanmar pada tahun 2008. Arungi Lautan Demi Kebebasan Malam itu, Ahmad Zakir dan kawan-kawannya yang berasal dari desa Buthie Dong, Mnyanmar, memutuskan meninggalkan negara tempatnya dilahirkan. Mereka mencari suaka ke Malaysia dan negara Asia lainnya termasuk Australia yang merupakan negara yang mau menampung pengungsian dari wilayah konflik. Namun, perjalanan yang harus ditempuh Ahmad cs bukan perjalanan mudah. Dari desanya, pemuda-pemuda itu berjuang melewati hutan lebat dan pegunungan yang membentang hingga mencapai lautan. Para Rohingya meyakini jalan satu-satunya meninggalkan Myanmar melewati jalur laut. Belasan pemuda itu pun melakukan perjalanan kaki selama 2 hari 2 malam untuk melewati hutan dan pegunungan. Saat di perjalanan, Ahmad dan kawan-kawan juga harus tetap waspada agar tak tertangkap oleh patroli kepolisian Myanmar yang memang sengaja disiapkan untuk mengantisipasi pelarian suku Rohingya. Selain itu, ganasnya alam juga menjadi tantangan bagi mereka.

Sesampainya di tepi pantai, Ahmad Zakir mencoba menghubungi beberapa pemuda di Buthie Dong dan beberapa desa tetangga untuk ikut dalam pelarian ini. Dengan telepon genggam yang mendapatkan sinyal dari negara Bangladesh akhirnya Ahmad bisa berkomunikasi dengan rekanrekannya. Di kampung yang dihuni Rohingya memang sangat sulit mendapatkan sinyal telekomunikasi dari Myanmar. Sinyal dari Bangladesh ternyata lebih kuat berpendar di kampung mereka. Ini, menurut mereka, adalah salah satu bentuk diskriminasi yang dilakukan pemerintahnya. Ahmad membujuk teman-temannya untuk pergi mengarah ke pantai. Dia pun menyarankan untuk berjalan kaki sampai ke tepi pantai dan berusaha untuk menghindari patroli polisi. Sebab jika tertangkap karena ketahuan ingin melarikan diri, polisi Mnyanmar akan memenjarakannya atau memeras dengan meminta uang tebusan agar tidak mendekam di penjara. Perjalanan yang dilakukan rombongan kedua ini tidak secepat rombongan Ahmad Zakir sebelumnya. Mereka berhasil sampai ke laut setelah 5 hari perjalanan. Hal itu bisa dimaklumi, selain karena kurang penguasaan medan, rombongan kedua banyak terdapat wanita, orangtua, dan anak kecil. Itulah sebabnya perjalanan menjadi lebih lama. Ditambah lagi saat melakukan perjalanan beberapa orang terpaksa harus istirahat karena letih. Sembari menunggu kedatangan rombongan kedua, Ahmad Zakir dan teman lainnya mencari apa saja yang bisa digunakan untuk meninggalkan Myanmar. Usaha mereka tak sia-sia. Setelah berjalan menyusuri tepi laut, mereka menemukan sebuah kapal motor nelayan penangkap ikan yang memiliki panjang kurang lebih 10 meter dan lebar tak mencapai 2 meter. Kapal ini kosong tanpa pemilik. "Menunggu yang lain sampai, kami mencari ke sekeliling laut kapal-kapal ikan yang bisa kami tumpangi. Kami berhasil menemukannya, ketika kami cek tidak ada pemiliknya. Mungkin karena ini daerah yang sepi, mungkin pemiliknya tidak terlalu takut meninggalkan kapal ikannya," kata Ahmad. Setelah rombongan kedua tiba, jumlahnya ternyata di luar prediksi mereka. Seratusan Rohingya berbondong-bondong datang ke tepi pantai. Di saat itulah, Ahmad Zakir dkk memutuskan mengambil kapal ikan itu. Dan tak disangka-sangka, kapal yang tak terlalu besar itu berhasil memuat 129 orang. Itu pun dengan berdesak-desakan agar bisa muat keseluruhan rombongan. Perjalanan dimulai, mereka menyisir lautan demi kebebasan. Selama dalam perjalanan, Rohingya hidup dengan bekal makanan yang sudah disiapkan lebih dahulu. Dan ketika kehabisan minuman, mereka menampung air hujan untuk memuaskan dahaga. Saat itu juga banyak Rohingya yang menderita sakit akibat kelelahan. Selama 12 hari berada di tengah laut tanpa arah yang pasti untuk menuju negara tujuannya yaitu Malaysia. Tibalah waktunya Rohingya berhasil menemukan beberapa nelayan, yang artinya lautan itu sudah dekat dengan daratan. "Kami berjalan tanpa arah dengan bekal makanan seadanya dan minum air hujan di tengah laut.

Setelah 12 hari perjalanan kami melihat ada banyak nelayan. Kami pun yakin perairan ini pasti dekat dengan daratan. Kami pun mencoba daratan terdekat untuk mencari tempat aman untuk kami huni," tutur Ahmad. Belum sampai menepi ke daratan, para Rohingya dikejutkan dengan menculnya sebuah kapan mesin dari kejauhan. Semakin dekat semakin jelas pula terlihat bahwa kapal yang sedang menuju ke arah mereka adalah kapal polisi laut yamg tengah berpatroli. Setelah patroli itu mendekat, Rohingya merasakan ketakutan yang luar biasa. Sebabnya, kapal tersebut adalah kapal kepolisian laut Thailand. Polisi tersebut pun memeriksa satu persatu para Rohingya termasuk dokumen dan untuk memastikan bahwa mereka tidak membawa bendabenda dan barang terlarang. Usai memastikan para Rohingya, polisi Thaiand menyarankan mereka untuk meninggalkan wilayah perairan negeri Gajah putih tersebut. Lantaran mereka tidak memiliki dokumen lengkap. Namun sayang, dikatakan Ahmad, kepolisian Thailand tersebut menyita mesin perahunya dan bahan bakarnya. Kemudian menarik kapal Rohingya untuk keluar dari wilayahnya. Hampir selama 24 jam polisi itu menarik perahu mereka sampai keluar wilayah perairan Thailand. "Kami tidak memiliki dokumen saat polisi Thailand memeriksa kami, mereka membebaskan kami dan mengantarkan kami keluar dari laut Thailand. Tapi sayangnya, mereka menyita mesin perahu kami dan bahan bakarnya," kisah Ahmad. Setelah kapal kepolisian Thailand meninggalkan mereka, Ahmad mengaku membuat layar dari terpal yang memang sudah ada sebelumnya di perahu. Begitulah seterusnya, para Rohingya mengaku telah kehilangan semangat karena telah kehilangan mesin perahu yang mengakibatkan perjalanan mereka menjadi lebih lambat. Sedangkan perahu bergerak tak tentu arahnya semau angin mendorong layar mereka. "Tidak punya mesin, kami mendirikan layar dengan terpal yang ada di kapal. Tapi, perjalanan sudah terasa kurang bersemangat, karena perahu kami bergerak tak tentu arah pasti," kata Ahmad. Diselamatkan Nelayan Indonesia Setelah pasrah terbawa hembusan angin selama 3 hari, akhirnya salah satu dari Rohingya berhasil melihat ada sebuah kapal dari kejauhan. Meskipun tak mengetahui secara jelas yang dilihatnya, mereka merasa senang melihatnya. Karena bagi mereka itu sangat berguna untuk meminta bantuan seperti makanan yang sangat dibutuhkan mereka. Seperti dikisahkan Ahmad, kapal yang mereka lihat mendekati mereka. "Kurang lebih satu jam mereka berhasil mendekati." Ternyata kapal tersebut adalah kapal ikan berbendera Merah Putih, milik nelayan asal Aceh. Namun, para Rohingya dan para nelayan sama-sama mengalami kesulitan komunikasi. Akhirnya melalui bahasa tubuh dan raut wajah para Rohingya yang terlihat kelelahan, nelayan pun paham

bahwa Rohingya membutuhkan pertolongan. Para nelayan pun mempersilakan sebagian Rohingya pindah ke kapalnya agar lebih merasakan bernafas lega setelah berhari-hari sempit-sempitan di perahu layarnya. Kapal melayan itu pun menarik kapal Rohingya menuju daratan. Dua hari lamanya perjalanan mereka hingga sampai ke daratan yang merupakan kota Banda Aceh. "Kapal itu menarik kami sampai ke daratan, sampai disana kami mengetahui bahwa kami telah sampai di Kota Banca Aceh Indonesia," kata Ahmad. "Kami juga baru pertama kali ini mendengar nama negara Indonesia. Maklum kami banyak tidak bersekolah dan tidak banyak bisa melihat televisi dalam 30 tahum terakhir karena memang itu kami dapatkan di sana," tambah Mahmud yang mendampingi Ahmad. Sesampainya di Aceh, para pengungsi Rohingya langsung bertemu dengan pihak imigrasi Indonesia. Mereka langsung menceritakan alasan meninggalkan tanah airnya. Hal itu rupanya membuat organisasi dunia seperti UHMCR peduli dan bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk mengeluaran dokumen izin tinggal mereka di Indonesia. Kemudian disusul oleh IOM yang menyediakan rumah penampungan d Medan, Sumatera utara dan memfasilitasi kebutuhan sehari-hari para Rohingya. "Ada 3 yang menolong kami, mereka adah Pemerintah Indonesia, UHNCR yang membantu memberikan kami dokumen untuk tinggal di Indonesia dan IOM yang membiayai sehari-hari kami selama tahun ini," beber Ahmad. Hingga kini, semakin banyak pengungsi Myanmar yang berencana meninggalkan negaranya dan mencari wilayah Indonesia dan Malaysia untuk mencari suaka. Kebanyakan Rohingya tersebar di wilayah Sumatera, di antaranya Aceh, Tanjung Pinang, Sumatera Utara, Jakarta, dan beberapa wilayah kepulauan di Sumatera. Tak Bisa Bahasa Inggris Sesampai mereka di empat rumah penampungan di Medan, Sumut. Para Rohingya diberi pendidikan yang dilakukan oleh IOM yang menyediakan guru untuk membina para Rohingya selama di penampungan. Salah satu guru bahasa Inggris yang dipekerjakan oleh IOM, Lili Tobing, mengaku telah 1,5 tahun memberikan ilmu pendidikan bagi para Rohingya. Mahasiswa S-2 Universitas Negeri Medan itu mengatakan saat pertama kali mengaku kesulitan karena perbedaan bahasa. Namun seiring berjalanyna waktu, akhirnya mereka mulai beradaptasi dan mulai mengerti dan bisa berbahasa Indonesia. Tak hanya itu, sebagian besar dari mereka yang sama sekali tidak bisa baca tulis kini sudah bisa. "Pertama kali memang kesulitan berkomunikasi dengan mereka. Beruntung mereka cepat beradaptasi dengan sekitarnya untuk belajar bahasa Indonesia," tutur Lili.

"Ternyata banyak diantara mereka yang tidak bisa baca tulis, bahkan banyak juga yang tidak kenal huruf," kenang wanita berusia 25 tahun itu. Setelah menguasai bahasa Indonesia dan lancar membaca dan menulis, Rohingya akhirnya diberikan ilmu tambahan. Yaitu ilmu berbicara bahasa Inggris yang diyakini sangat bermanfaat untuk bekal hidup para Rohingya selanjutnya. Dikatakan Lili, pihaknya lebih dulu memberikan kamus bahasa Indonesia-Inggris dan MyanmarInggris untuk memudahkan metode pengajaran. Pelajaran juga dilakukan dalam 2 tahap. Dimana tahap pertama Rohingya difokuskan untuk menambah perbendaharan kata. Setelah selesai pada tahap itu baru boleh memasuki tahap selanjutnya yaitu berbicara dalam bahasa Inggris. "Selama ini mereka digenjot menguasai bahasa Inggris. Karena mereka juga sadar membutuhkan ini untuk kedepannya nanti mereka pergi ke negara Austalia (negara ketiga yang rencananya akan menjadi tempat pilihan mereka untuk mencari sua). Disana. Menurut mereka pemerintah Australia mengizinkan beberapa pengungsi dari negara-negara konflik, seperti Afganistan, Irak, Srilanka dan lain-lain banyak pergi kesana," kata wanita asal Siantar, Sumut. "Beruntung sebagian dari mereka sudah sangat lancar berbicara dalam bahasa Inggris, salah satunya Ahmad yang terkadang membantu saya memberikan pelajaran kepada murid lain yang belum bisa menguasai bahasa Inggris," katanya.