AKTIVITAS PENGHAMBATAN BAKTERI ASAL SALURAN PENCERNAAN AYAM BROILER TERHADAP Escherichia coli dan Salmonella spp.

PADA BERBAGAI MEDIA, AERASI, pH dan SUHU

GUSMINARNI

SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang berjudul Aktivitas Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Terhadap Escherichia coli dan Salmonella spp. Pada Bebagai Media, Aerasi, pH dan Suhu. adalah hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Agustus 2009

Gusminarni G 351070071

ABSTRACT
GUSMINARNI Inhibitory Activity of Bacteria Isolated from Digestive Track of Chicken Broiler Against Escherichia coli and Salmonella spp. at Several Growth Media, Aeration, pH, and Temperature. Under Direction of YULIN LESTARI and MIN RAHMINIWATI This research aim to study the Inhibition activity of bacteria isolated from digestive track chicken broiler against Echerichia coli and Salmonella sp. at several growth media, aeration, pH and temperature. Isolation of digestive track broiler bacteria was conducted by using Nutrient Agar (NA) media at pH 7.0 and pH 4.5. The isolates were assayed against Echerichia coli and Salmonella sp. The isolates which showed inhibition capability were selected, microscopically identified, Gram stained and used for further assay The inhibitory activity of selected isolates was examined using De Man Ragosa (MRS ) and Tripton Glucosa Yeast Extract (TGY) media, with and without agitation. The selected media was then modified with molasses and soybean meal as source of carbon and nitrogen, respectively. The stability of inhibitory activity was examined at five levels of temperature (250C, 300C, 370C, 400C, 500C), and seven pH levels (3.0, 4.0, 5.0, 6.0, 7.0, 8.0, and 9.0). The selected isolates were also enzimatically assayed for amylase, protease, lipase, and cellulose activity. The results showed that 7n isolate produced the highest inhibition activity against E. coli and Salmonella enteric. For E coli strong inhibition showed by 7n isolate at MRS modified media, pH 6.0-8.0, and temperature at 370C, and similar condition applied also for EPEC K1-1, except the highest inhibition occured at 500C. For Salmonella enteric growth inhibition by 7n isolate was obtained using MRS modified media, pH 5, and temperature at 300C. For other Salmonella subsp.2 small inhibition by 34n occurred at both MRS and TGY modified at pH 4.0-5.0 and temperature at 370C. Both 7n and 34 isolates showed amylase, protease, lipase and cellulose activity. The results indicate that both isolates have their potency to be developed as probiotics, served as feed additive. The isolates are expected can function as growth promoter through their antibacterial and degrading enzymes activities. Keywords: chicken broiler bacteria, antibacterial activity, E. coli, Salmonella sp., MRS modified media, pH, temperature, degrading enzyme.

Bakteri yang didapat di uji antagonis terhadap EPEC K1-1. Salmonella enteric dengan metode double layer (Lisboa et al. Isolasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler (tanpa antibiotik) dengan menggunakan media NA pH 7. Dibimbing oleh YULIN LESTARI dan MIN RAHMINIWATI. pH. Salah satu bahan pangan hewani yang bermutu tinggi adalah produk asal ayam. karsinogenik. Zat pemacu tumbuh yang umum dipakai berasal dari kelompok antibiotik. E. Kajian juga dilakukan terhadap aktivitas proteolitik. resistensi bakteri patogen serta. Aktivitas penghambatan ditunjukkan olah adanya zona bening di sekitar koloni. pH dan Suhu. mutagenik. Akan tetapi pemenuhan akan bahan pangan ini sering mendapat kendala. enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi. Akan tetapi antibiotik mempunyai efek samping yaitu ikut hadirnya residu antibiotik dalam produk yang dihasilkan sehingga mengakibatkan efek teratogenik. mendorong meningkatnya permintaan akan bahan pangan hewani sebagai sumber protein. Untuk efisiensi pakan biasanya dengan pemberian feed additive sebagai zat pemacu tumbuh (growth promotant). Indonesia merupakan negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Penggunaan antibiotik mempunyai sifat positif seperti meghambat infeksi bakteri patogen dan memacu pertumbuhan. 2006). terutama sebagai sumber protein dan energi yang masih diimpor dan sebagai konsekuensinya harga pakan meningkat. diagitasi dan tanpa agitasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji aktivitas antibakteri. Masalah utama dalam peningkatan produksi ternak termasuk ayam adalah penyediaan pakan. Probiotik adalah makanan tambahan (feed additive) berupa mikroba hidup. Enzim adalah senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa komplek menjadi sederhana yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam susunan yang teratur dan tetap. dan enzim. dan suhu. lipolitik.RINGKASAN GUSMINARNI. Isolat bakteri terpilih diidentifikasi dan dioptimasi aktivitas penghambatannya pada media MRS dan TGY.0 dan pH 4. coli. antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel. amilolitik. selulolitik dari metabolit yang dihasilkan bakteri asal saluran pencernaan ayam pada beberapa media. Media yang paling tinggi aktivitasnya digunakan untuk membuat media modifikasi dengan mengganti sumber karbon dengan molase dan sumber nitrogen dengan tepung kedelai. Aktivitas Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Terhadap Escherichia coli dan Salmonella spp. Peningkatan jumlah penduduk serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi yang baik untuk keluarga. aerasi. membunuh bakteri pencernaan yang menguntungkan. Salmonela subsp. Aerasi. dari metabolit bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap Escherichia coli dan Salmonella sp. Sebagai protein.2.5. Optimasi dilakukan pada lima . baik bakteri maupun kapang atau yeast yang dapat menguntungkan bagi inagnya dengan jalan meningkatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan ternak. Pada Berbagai Media. Untuk memicu produksi dan reproduksi ternak yang lebih aman maka dicari zat pengganti antibiotik seperti probiotik.

6. 25n. aktivitas antibakteri. Keempat isolat menunjukkan aktifitas penghambatan pada kisaran suhu 300C hingga 500C dan kisaran pH 5. 500C) dan tujuh tingkatan pH (3. Keempat isolat diharap dapat digunakan sebagai probiotik dan makanan tambahan (feed additive) pengganti antibiotik. coli. Hasil uji enzim menunjukkan bahwa isolat 7n. media TGY modifikasi. Penghambatan tertinggi terhadap E. Dari hasil optimasi terhadap media MRS modifikasi dan TGY modifikasi diperoleh isolat 7n.0. Dimana isolat 7n mempunyai nilai indeks paling tinggi dengan indeks amilase 0. 25n. Keempat isolat merupakan kelompok Bacillus yang mempunyai aktifitas penghambatan terhadap EPEC K1-1. Kata kunci: bakteri.0.0.0. 8.coli asal ayam oleh isolat 25n sebesar 29 mm pada media MRS modifikasi suhu 400C dan pH 8. pH dan suhu.0 hingga pH 9. Hasil isolasi diperoleh 72 isolat terdiri dari 38 isolat pada media NA dengan pH 7.0 dan 34 isolat pada media NA dengan pH 4.0. Isolat 27n menghasilkan enzim amilase. 370C. Penghambatan terhadap Salmonella enteric didapatkan 21 isolat terdiri dari 7 isolat dari pH 7. Aktivitas penghambatan yang lebih kecil pada media modifikasi dibanding media umum diduga disebabkan oleh kandungan molase dan tepung kedelai masih kompleks. indeks lipase 1.0. media MRS modifikasi.tingkatan suhu (250C. Waktu inkubasi yang paling baik adalah 48 jam. dan 34n.0). 4. 25n. Dengan demikian isolat 7n.5.5.2. Salmonella enteric.5. indeks protease 1. ileum dan intestinum crasum. Setelah diseleksi dan diidentifikasi diperoleh empat isolat terpilih yaitu isolat 7n. E. Hasil uji antagonis menunjukkan 19 isolat mampu menghambat EPEC K1-1 yang terdiri dari 13 isolat dari pH 7.5. dan 34n efektif menghambat pertumbuhan EPEC K1-1. lipase dan selulase ekstraseluler. dan indeks selulase 2. 7. . Pada duodenum diperoleh 11 isolat.0. 25n. 5. 9. Salmonella enteric dan Salmonella subsp. 27.67. suhu. Bagian saluran yang digunakan untuk isolasi bakteri antara lain duodenum. 400C. pH.0 dan 12 isolat dari pH 4.2 asal ayam sehingga berpotensi sebagai biokontrol pada ternak ayam pedaging (broiler). dan 27n aktivitas penghambatannya terbaik ditumbuhkan pada media MRS modifikasi tanpa agitasi dan untuk isolat 34n media terbaiknya adalah media TGY modifikasi tanpa agitasi..0. 27n. oleh isolat 34n sebesar 19mm pada media MRS modifikasi suhu 370C dan pH 9. 27n.5. Salmonella sp. coli. Penghambatan terhadap E. Isolat terpilih dioptimasi aktivitas penghambatannya terhadap media. Salmonella subsp. coli diperoleh 30 isolat. 34n mempunyai kemampuan menghasilkan enzim amilase. Aktifitas penghambatan terhadap Salmonella enteric oleh isolat 7n pada media MRS modifikasi dengan suhu 300C dan pH 5. protease dan selulase tapi tidak menghasilkan enzim lipase.0. E. E.2.0. bakteri asal ayam broiler. 300C.coli. terdiri dari 18 isolat dari pH 7. protease.0 dan 6 isolat dari pH 4. Penghambatan terhadap Salmonella subsp. ileum 14 isolat dan intestinum crasum 47 isolat. aktivitas enzim degradatif.0.0 dan 14 isolat dari pH 4. Hasil optimasi terhadap suhu dan pH diperoleh aktifitas penghambatan tertinggi terhadap EPEC K1-1 oleh isolat 7n sebesar 19mm pada media MRS modifikasi suhu 500C dan pH 7.

penelitian. penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB . Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan.©Hak cipta milik IPB tahun 2009 Hak cipta dilindungi Undag Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. penyusunan laporan. dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. penulisan karya ilmiah.

AKTIVITAS PENGHAMBATAN BAKTERI ASAL SALURAN PENCERNAAN AYAM BROILER TERHADAP Escherichia coli dan Salmonella spp. PADA BERBAGAI MEDIA. pH dan SUHU GUSMINARNI Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Mayor Mikrobiologi SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 . AERASI.

Iman Rusmana . Ir.Penguji Luar Komisi Ujian Tesis: Dr.

Pada Berbagai Media.PhD Anggota Diketahui Ketua Mayor Mikrobiologi Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. pH dan Suhu : Gusminarni : G351070071 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Notodipuro. Ir. M. Ir. Aerasi. Dr. Yulin Lestari Ketua drh.S Tanggal Ujian: 10 Agustus 2009 Tanggal lulus: .Judul Tesis Nama NRP : Aktivitas Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Terhadap Escherichia coli dan Salmonella spp. Gayuh Rahayu Prof. Khairil A. Min Rahminiwati. M. Ir.S.

Yulin Lestari dan drh. M. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. yaitu Dr. Bogor. Aerasi. Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan pula kepada Departemen Agama Republik Indonesia yang telah memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Sekolah Pascasarjana IPB melalui Program Peningkatan Mutu Guru Madarasah. adik. penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kebersamaannya. Ir. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar besarnya terutama kepada pembimbing.PRAKATA Alhamdulillah. Tidak lupa kepada rekan-rekan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. kakak ipar. oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan. Anasril yang telah memberi izin penulis untuk tugas belajar di IPB. PhD yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran selama penelitian dan penulisan tesis ini. Min Rahminiwati. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna. pH dan Suhu. adik ipar yang membantu dalam merawat anak anak penulis selama penulis studi. Bapak Drs. Penulis berharap semoga karya ilmiah inii bermanfaat bagi pembaca. Pada Bebagai Media. serta teman-teman guru MAN 2 Batusangkar atas dukungannya. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2008 sampai April 2009 adalah Aktivitas Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Terhadap Escherichia coli dan Salmonella spp. Agustus 2009 Gusminarni . motivasi dan keihkhlasan mereka untuk ditinggalkan selama penulis menempuh pendidikan di IPB serta Bapak dan Ibu mertua. puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah (tesis) ini berhasil diselesaikan. Iman Rusmana selaku Penguji Luar Komisi yang telah banyak memberikan koreksi dan arahan untuk perbaikan tesis Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak dan Ibu pengelola Laboratorium Mikrobiologi FMIPA IPB atas segala bantuan dan fasilitas yang diberikan selama penelitian dilakukan. Ir. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Kepala MAN 2 Batusangkar. kakak.S. Akhirnya ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada suami dan anak-anak tercinta atas doa.

Tahun 2007 penulis mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia melalui program Peningkatan Mutu Guru Madarasah untuk melanjutkan studi pada mayor Mikrobiologi. Dari tahun 1993 hingga 1996 penulis mengajar di Madrasah Sumatra Tawalib Parabek Bukittinggi.Nouval Dzakwan Wahyudi (5 tahun) dan Ghina Nasywa Fauzana (2 tahun). Alamat sekolah MAN 2 Batusangkar jl Sudirman Lima Kaum (0752) 71640. Spd pada tahun 1996 dan dikaruniai 4 orang anak. . Kabupaten Tanah Datar. Penulis bekerja sebagai guru honorer di SMA YPP Lubuk Alung Sumatera Barat dari tahun 1991 hingga 1992. Fadhel Ghalib Wahyudi (10 tahun). Syafiq Wahyu Hidayat (12 tahun). Alamat Rumah sekarang di Perumahan Arai Pinang II Blok A No 2 Batusangkar telp (0752) 574185 Tanah Datar-Sumbar. Sekolah Pascasarjana IPB. Sumatera Barat.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bukitinggi pada tanggal 26 Agustus 1968 dari bapak Mislam (Alm) dan ibu Nurma (Almh). A. Penulis menikah dengan Sumintarto Nurwahyudi.com. dan lulus pada tahun 1991. Tahun 1987 penulis lulus SMA Negeri 2 Bukittinggi dan pada tahun yang sama penulis lulus masuk perguruan tinggi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang melalui jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK) pada jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA. Pendidikan Dasar sampai Menengah Atas diselesaikan di Bukittinggi. Penulis merupakan putri kelima dari enam bersaudara. Email minarnipb@yahoo. Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 1994 penulis diangkat menjadi guru Biologi pada MAN 2 Batusangkar.

.......... Mikroflora Usus .................................... BAHAN DAN METODE ........................................................................................ Salmonella subsp.............. 27 ................................... Escherichia coli .................................................................................................................................. Peremajaan Bakteri Target .................................................... Identifikasi / Karakterisasi Isolat Bakteri..................................................................................................................................................................................................................................................................... viii PENDAHULUAN ....................................... Tujuan ........................................ EPEC K1-1.............................................................................. Lipase............... Lipase .............................................................................................. Bacillus sp................................................................. Selulase .................................................. Pemurnian Bakteri Hasil Isolasi .......................................................................................................................................................................2............ coli Asal Ayam serta Salmonella subsp......... Antibiotik .............. Bahan dan Alat ...................................... vi DAFTAR GAMBAR ................... Metode ................................................. Molase .............. Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif ........................................... TINJAUAN PUSTAKA .................................................. Manfaat ................................................................................................................................................................................................................... Salmonella enteric dengan Metode Kirby-Bauer................................................................................................................... Salmonella enteric dan E.............. Waktu dan Tempat ..................... Probiotik ...................................................................................................................................................... coli....................................................................... Isolasi Bakteri Saluran Pencernaan Ayam . vii DFTAR LAMPIRAN .............................................. Latar Belakang ...... Salmonella sp ...... Selulase ............................................................................. Amilase ................... Prebiotik .................................................. Protease........................................................ Uji Kualitatif Aktivitas Amilase...................................................................................................................................... Tepung kedelai ....................................... Enzim ................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................................... 1 1 2 2 4 4 6 8 8 10 12 14 15 16 17 19 19 20 21 22 22 22 23 23 23 24 24 24 25 25 26 HASIL DAN PEMBAHASAN ............... Esei Antagonis Isolat Terpilih Terhadap Pertumbuhan E......................2 Asal Ayam ................................................................................................................................................... Protease ........................ Uji Antagonis Langsung Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam terhadap EPEC K1-1................................................ 27 Isolasi dan Pemurnian Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler ..........................................................................................................................................................................................................

............................... Optimasi Suhu ........ Coli Asal Ayam Serta Salmonella subsp..................Peremajaan Bakteri target .....................................................2 Asal Ayam ...................................................................................................................................... Aktivitas Amilase......... 59 LAMPIRAN .................................. coli............................ Kemampuan Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Terhadap EPEC K1-1.......................... Optimasi Media ...................................................................................................... Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif ......................... 67 .......2.................. Lipase............... Salmonella enteric dan E...................................... Salmonella subsp................................ 58 DAFTAR PUSTAKA .................. 30 31 32 37 40 40 45 46 47 49 51 SIMPULAN DAN SARAN ............ Optimasi Waktu Produksi ....................................... EPEC K1-1......................... Identifikasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler ....... Selulase . Protease......................... Optimasi pH .................. Esei Antagonis Isolat Terpilih Terhadap Pertumbuhan E....................................................... Pertumbuhan Isolat ............ Salmonella enteric Dengan Metode Kirby-Bauer ..............................................................................................................................................................................................................

. selulolitik isolat 7n............... E...................... 34n terhadap EPEC K1-1.... 25n............. 5 Tabel 5 Hasil uji penghambatan ekstrak kasar isolat 7n.....DAFTAR TABEL Halaman 1 Mikroorganisme dalam saluran pencernaan ternak.... EPEC K1-1......... 34n...... Salmonella enteric........... proteolitik......................... 51 .................... 3 Tabel 3 Aktivitas penghambatan bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler erhadap E...... 34n ..... 25n..................... coli.............. 27n.................dan Salmonella subsp....... 5 28 31 35 37 6 Tabel 6 Indeks amilolitik. lipolitik................ 25n.......... 27n... 27n.... Salmonella enteric........2 .....coli.......................................... 4 Tabel 4 Hasil uji katalase isolat 7n................... 2 Tabel 2 Hasil Isolasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler.....

............ 34n pada media NB ......................................................... 34 .......coli Ф cakram kertas 8mm . 27n................................................... 38 9 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap bakteri target (a) Salmonella enteric (b) Salmonella sp....... 41 12 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp.......................................... (isolat 25n) dari intestinum crasum ayam broiler berbentuk batang (perbesaran 40 x 100) .......................DAFTAR GAMBAR Halaman Struktur amilosa dengan ikatan α-1.. (b) E......... 45 14 Kurva tumbuh Isolat 7n................ 33 6 Hasil pewarnaan spora (isolat 7n)............. 34n terhadap E..... coli . coli asal ayam ... 17 Struktur amilopektin dengan ikatan α-1.....................................D glikosidik ............ 7 Hasil pewarnaan spora (a) isolat 27n. 46 15 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E............................................. 25n........ 33 5 Hasil pewarnaan Gram a (isolat 27n) b (isolat 34n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler berbentuk batang Gram positif (perbesaran 40 x 100) .......................... (b) isolat 34n diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler (perbesaran 40 x 100) ..............................coli (a) filtrat kultur (b) sel .............................................4 D-glukosidik ..... b (isolat 25n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler (perbesaran 40 x 100) .....4) ............... asal ayam........................................................ 39 11 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E............. 38 10 Perbandingan aktivitas penghambatan antara sel dan filtrat kultur dari isolat 7n..............4 dan α-1...... 42 13 Hubungan lama inkubasi dengan aktivitas penghambatan terhadap E...6........ 25n................. 20 1 2 3 4 Hasil pewarnaan Gram a (isolat 7n) diisolasi dari jejenum.......coli .........2 asal ayam ....... Ф cakram kertas 8mm ...............(1....................................................................................... 27n................. 34 8 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap bakteri target (a)EPEC K1-1....... 18 Strutur selulosa dengan ikatan β................................... 47 16 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) Salmonella enteric........

................. 50 19 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n....................... 25n... 48 17 Aktifitas penghambatan isolat terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E.............(b) Salmonella subsp................................... 34n pada uji enzim (a) amilase (b) protease .....................2 asal ayam ...... 49 18 Aktifitas penghambatan isolat terhadap (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp...... 34n pada uji enzim (a) lipase (b) selulase .................2 asal ayam ............................... 54 DAFTAR LAMPIRAN ........................... 52 20 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n.............. coli ............. 27n. 27n........................................ 25n...........................................

.......... 73 7 8 9 Kurva Standar Isolat 7n .............. 27n................................................................ 78 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n.............................................................. 34n yang diantagonis dengan EPEC K1-1 diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu .............................. 34n yang diantagonis dengan Salmonella subsp.................... asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap EPEC K1-1................................. Komposisi kimia tepung kedelai ............. 78 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n... 72 6 Hasil isolasi dan identifikasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler pada media NA pH 7.................. 78 ....... 74 Kurva Standar Isolat 25n .....................................0 ..................................................... 68 68 E... 69 4 5 Komposisi Pereaksi Pewarnaan ................................. 71 Hasil isolasi dan identifikasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler pada media NA pH 7.............. 27n... 27n..................... 34n yang diantagonis dengan E... Komposisi media peremajaan. 34n yang diantagonis dengan Salmonella enteric diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu .... 25n.............. 25n.. 75 Kurva Standar Isolat 27n .................................. 25n..... serta uji daya hambat isolat ...... 78 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n................... produksi......2 asal ayam .............................................................. coli diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu ....... 25n.............0 ....2 diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu .... 76 10 Kurva Standar Isolat 34n ............... 27n.. coli asal ayam...........Halaman 1 2 3 Komposisi kimia molase . 77 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n............ Salmonella subsp........................................ Salmonella enteric...............

Pakar nutrisi (nutritionist) telah mengalihkan penggunaan zat pemacu tumbuh yang berasal dari antibiotik ke bahan bioaktif alami dan probiotik. baik bakteri maupun kapang/yeast yang dapat menguntungkan bagi inangnya dengan . Resiko lainnya yaitu terjadinya resistensi mikroorganisme patogen seperti Salmonella sp. lemak. sehingga pertambahan berat badan perhari Average Daily Gain (ADGnya) akan tinggi. Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Peningkatan jumlah penduduk serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi yang baik untuk keluarga. monensin.Pada saat ini pakan terutama sebagai sumber protein dan energi dipenuhi dari impor dan sebagai konsekuensinya harga pakan menjadi mahal. resisten streptomisin.PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk cukup tinggi. Selain untuk pemacu tumbuh antibiotik juga digunakan untuk megendalikan penyakit yang disebabkan oleh mikroba. Masalah utama dalam peningkatan produksi ternak termasuk ayam pedaging (broiler) adalah penyediaan pakan. yaitu karbohidrat. Salah satu bahan pangan hewani yang bermutu tinggi adalah produk asal ayam. dan membunuh bakteri yang menguntungkan. karsinogenik dan mutagenik. Zat pemacu tumbuh yang umum dipakai berasal dari kelompok antibiotik seperti zinkbasitrasin. vitamin dan mineral. Pakan yang diberikan harus memberikan nutrisi yang dibutuhkan ayam.. E. Akan tetapi pemenuhan akan bahan pangan ini sering mendapat kendala. Probiotik adalah makanan tambahan berupa mikroba hidup. Akan tetapi penggunaan antibiotik yang berlebihan mengandung resiko yaitu ikut hadirnya residu antibiotik dalam produk yang dihasilkan (telur dan daging) yang bersifat teratogenik. coli resisten Enrofloxasin. Bahan bioaktif alami adalah bahan bahan pemacu pertumbuhan yang bersumber dari organisme. menyebabkan meningkatnya permintaan akan bahan pangan hewani sebagai sumber protein. tetrasiklin dan penicilin. Untuk meningkatkan efisiensi pakan biasanya dilakukan dengan cara memberi bahan tambahan (feed additive) sebagai zat pemacu tumbuh (growth promotant). protein.

oksigen. Jin et al.2 jalan meningkatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan ternak (Fuller 1992). lipolitik. Haddadin et al. 1976. Mikroba yang sudah dinyatakan aman sebagai bahan pakan untuk ayam yaitu golongan bakteri seperti Lactobacillus sp. Optimasi aktivitas senyawa bioaktif dari bakteri terpilih dilakukan terhadap media produksi yang menggunakan molase dan tepung kedelai. pH. Fardiaz 1989). dan suhu. Tujuan Penelitian ini bertujuan mengkaji aktivitas antibakteri dan aktivitas enzimatik dari metabolit bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler. vitamin (Stainer et al. agitasi dan tanpa perlakuan agitasi.. sedangkan aktivitas enzimatik meliputi proteolitik. Untuk produksi mikroba sebagai probiotik dari segi industri harus memperhatikan efisiensi sehingga diperlukan optimasi produksi metabolit dari mikroba.. 1996. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan bakteri unggul asal saluran pencernaan ayam broiler yang berpotensi sebagai probiotik pada kondisi dihasilkan bakteri dilakukan pada berbagai media. selulolitik. Optimasi produksi metabolit yang aerasi. nitrogen. dan suhu. amilolitik. 1996). Bacillus subtilis. Aktivitas antibakteri dilakukan terhadap Escherichia coli dan Salmonella sp. dan sumber nitrogen yang mudah larut seperti kasein. . oleh karena itu untuk produksi sel mikroba dengan biaya yang lebih murah dan mudah didapat pada umumnya digunakan sumber karbon lain seperti molase dan sumber nitrogen dari tepung kedelai. Pertumbuhan mikroba sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu. pH. serta dari golongan kapang seperti Saccharomyces sp. Probiotik menggantikan penggunaan antibiotik sebagai pemacu tumbuh telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas ternak. (Martin 1995. Namun penggunaan glukosa dan kasein memerlukan biaya yang tinggi. tekanan osmosis dan faktor nutrisi terdiri dari sumber karbon. mineral (unsur makro dan mikro). Kebutuhan akan karbon untuk pertumbuhan mikroba yang paling baik diperoleh dari sumber karbohidrat yang dapat larut seperti glukosa. pH.

.3 pertumbuhan optimum untuk menghasilkan senyawa anti bakteri. Penggunaan bakteri asal saluran pencernaan ini diharapkan dapat menjadi alternatif penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan. sehubungan kemampuannya dalam menghasilkan enzim ekstraseluler yang membantu konversi pakan secara optimal sehingga penggunaan pakan lebih efisien dan pertumbuhan menjadi optimum.

Hasil akhirnya adalah metabolit yang bersifat toksik (beracun). maupun metabolit yang berasal dari bahan makanan (Hasono 2002). Mikroorganisme yang menempel pada saluran usus tersebut dinamakan mikroflora usus (Nakazawa 1992). Mikroflora usus merupakan ekosistem yang kompleks terdiri dari sejumlah besar bakteri. maupun lewat makanan dan kontak dengan lingkungan. steroid. (6) dapat melekatkan diri dengan permukaan epitel usus. Mikroorganisme tersebut tinggal pada saluran pencernaan sampai makhluk hidup itu mati. obat obatan.TINJAUAN PUSTAKA Mikroflora Usus Mahluk hidup sebelum lahir atau menetas berada dalam keadaan steril. (5) dapat menjaga populasi pada dewasa normal. sehingga zat toksik yang akan dibentuk tidak jadi karena. Bagian dari saluran pencernaan yang paling banyak dihuni oleh bakteri adalah saluran usus. (3) dapat mengkolonisasi pada bagian specifik saluran pencernaan. Menurut Savage yang dikutip oleh Nakazawa (1992) mikroflora normal usus mempunyai sifat (1) dapat tumbuh dalam kondisi anaerobik. Metabolit ini sering menyebabkan kerusakan mukosa usus bahkan membentuk tumor atau beberapa penyakit lain. Mikroflora detrimental umumnya sangat aktif merombak zat yang terdapat dalam usus besar baik berasal dari bahan makanan beracun. Zat yang terdapat dalam ekosistem usus dapat berasal dari bahan luar yang berupa pakan dan dapat berasal dari dalam tubuh (endogeneus) seperti produk metabolisme yang harus dibuang. Kemampuan bakteri untuk melekat pada jaringan epitel usus (lapisan lendirnya). bahan pembentuknya sudah dibuang terlebih dahulu. karsinogenik (menyebabkan kanker) atau metagenik (membentuk gas metan). dapat dibuktikan dengan kemampuannya megkolonisasi saluran usus dan menjaga . Ketika sudah berhubungan dengan dunia luar berbagai tipe mikroba masuk ke dalam tubuh baik dalam proses kelahiran atau menetas. (2) terdapat pada saluran pencernaan dewasa normal. Dalam kaitan ini proporsi bakteri “baik” akan mendesak atau mengencerkan mikroflora aktif diatas. (4) dapat membangun habitat sendiri selama proses perantian dari manusia dan hewan muda.

kemoterapi. pola makan.coli Lactobacillus Streptococcus Bacteroides Enterococcus Clostridia Ileum (CFU) 109 104 105 106 104 107 106 10 6 bakteri ini dapat diselidiki keberadaannya dengan Seikum (CFU) 109 104 106 109 107 107 108 109 108 10 8 Feses (CFU) 106 106 10 9 Lambung (CFU) 106 109 107 107 105 109 106 105 107 108 107 107 109 107 108 109 109 108 10 8 . dan yang merugikan seperti Salmonella sp.5 populasi tetapnya. Clostridia. Lactobacillus. stres dan iklim (Gsianturi 2002). Menurut Utomo (2002 ) mikroorganisme pada saluran pencernaan ternak terdiri dari mikroorganisme seperti tercantum pada (Tabel 1). Coli. Pada saluran pencernaan ayam terdapat sekitar 100-400 mikroba yang menguntungkan dan merugikan. Kestabilan flora usus bisa terganggu antara lain oleh antibiotik.coli Lactobacillus Streptococcus Bacteroides Enterococcus Clostridia Kucing E. Enterococcus. radiasi. Bacteroides. infeksi bakteri dan virus. Tabel 1 Mikroorganisme dalam saluran pencernaan ternak Hewan Ayam Bakteri E. Streptococcus.coli Lactobacillus Streptococcus Bacteroides Enterococcus Clostridia Babi E. Bakteri bakteri itu hidup dalam keseimbangan. Bakteri menguji feses dari hostnya. Mikroba menguntungkan seperti E.

bakteri ini kelompok bakteri baik. seperti yang dikemukakan oleh Fuller (1992) bahan probiotik itu adalah makanan tambahan (feed suplement) berupa jasad hidup yang mempunyai pengaruh menguntungkan bagi ternak induk semangnya.6 Dari tabel terlihat pada saluran pencernaaan ayam Lactobacillus ditemui hampir diseluruh saluran pencernaan. maka akan berdampak patogen bagi tubuh. Jika saluran usus terkolonisasi dengan mikroba yang merugikan. Probiotik Probiotik berasal dari bahasa Yunani yang artinya for life (untuk hidup) memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Untuk mengantisipasi serangan patogen. Streptococcus hanya ditemui pada saluran pencernaan bagian ileum Mikroflora usus ayam pada umumnya bersumber dari permukaan telur yang tidak steril sebagai hasil kontak induk dengan sangkarnya. mampu bertahan pada suasana asam dan cairan empedu. Istilah probiotik pertama kali digunakan oleh Lilley dan Stiwell pada tahun (1965) menyatakan bahwa substansi yang dihasilkan mikroba untuk menstimulir pertumbuhan mikroba lainnya dalam saluran pencernaan. bakteri menguntungkan (probiotik) akan membangun pertahanan tanpa memberi ruang bagi bakteri patogen untuk menyerang tubuh (Gsianturi 2002). Enterococcus ditemui pada lambung dan pada seikum jumlahnya menurun kemudian pada feses jumlahnya meningkat kembali. kolonisasi pada saluran usus ada hubungannya dengan kebersihan di hatchery dan kontak dengan lingkungan bebas. Definisi probiotik berkembang setelah adanya data hasil penelitian ilmiah.coli dan Bacteroides banyak ditemui pada pada lambung dan pada ileum dan seikum tidak ditemui dan pada feses kembali ditemui dengan jumlah yang sama dengan di lambung. Dan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai probiotik antara lain tidak toksik. Sementara E. Lebih lanjut Fuller (1989) mendefinisikan probiotik sebagai bahan pangan yang mengandung mikroorganisme dalam keadaan hidup yang mempunyai pengaruh menguntungkan bagi inangnya dengan meningkatkan keseimbangan mikroflora usus. Sedangkan pada peternakan komersial. dapat berkoloni dan melakukan kegiatan metabolisme di dalam usus dan dapat tumbuh lama dan menghambat mikroba patogen dan dapat hidup pada berbagai kondisi dalam tubuh ternak. Pernyataan ini .

animalis. B. Mencegah diare yang diakibatkan oleh antibiotik (Gsianturi 2002) 4. Probiotik dapat digolongakan menjadi dua yakni golongan bakteri dan golongan cendawan. B. bifidum. B.7 kemudian diperbaharui oleh Salminen et al. infantis. Pediococcus acidolacticii. B. Memperbaiki keluhan malabsorbsi laktosa (Legowo 2003) 2. Menurunkan resiko terjadinya penyakit tumor dan kanker kolon (Prangdimurti 2001) 5. Bacteroides amylophilus. B. B. faecium. brevis. brevis. Propionibacterium shemani dan Saccharomyces cerevisiae. B. Penggunaan probiotik pada ternak unggas bertujuan untuk memperbaiki saluran pencernaan dengan cara: (1) menekan reaksi pembentukan racun dan metabolit yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker). A. mampu bertahan dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan melakukan kegiatan metabolisme dalam usus. (1999) probiotik yaitu sediaan sel mikroba atau komponen dari sel mikroba yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada kesehatan dan kehidupan inangnya. B. Mengurangi kadar kolesterol darah (Tannock 1999) 6. circulans. Streptococcus oremoris. diisolasi dari host. oryzae. lentis. Memperbaiki pencernaan (Fuller 1997) 7. B. S. B. alvei. Menurut Mujiasih (2001) mikroorganisme yang sering digunakan sebagai probiotik dari kedua kelompok ini adalah Aspergilus niger. thermopilus.pumilus. tetap hidup selama dalam penyimpanan sampai waktu digunakan. mengandung sejumlah besar sel hidup. Beberapa penelitian mengungkapkan pengaruh positif dari probiotik terhadap kesehatan adalah: 1. Leiconostoc mesenteroides. S. thermophilus. (2) merangsang reaksi . Menurut Fuller (1991) bakteri probiotik harus memiliki persyaratan yaitu memberikan efek yang menguntungkan pada host. B. Bifidobacterium adolescentis. S. tidak patogenik dan tidak toksik. ruminicola. Mc Farlane dan Cummings 1999). Bacillus coagulans. Meningkatkan ketahana alami terhadap infeksi di usus (Siswono 2002) 3. Lactobacillus acidophilus. longum. mempunyai sifat sensori yang baik. L. Stimulasi imunitas gastrointestinal (Mc Cracken dan Gaskin 1999. lactis.

Bacillus clausii. Bacillus adalah salah satu genus bakteri yang berbentuk batang dan merupakan anggota dari divisi Firmicutes. dan selulase yang bisa membantu pencernaan dalam tubuh hewan (Wongsa dan Werukhamkul 2007). merupakan bakteri Gram positif. Grizard dan Barthomeuf 1999. Bacillus sp. Makanan tersebut sangat berguna bagi perkembangbiakan bakteri baik menjadi lebih banyak sehingga dapat mendominasi populasi bakteri dalam usus. dan termasuk spesies yang hidup bebas atau bersifat patogen. Bacillus sp. Prebiotik Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak tercerna dan tidak tidak diserap biasanya dalam bentuk oligosakarida (oligofruktosa) dan inulin (dietary fiber) (Reddy 1998. (4) memproduksi vitamin dan zat zat yang tidak terpenuhi oleh tubuh (Seifert dan Gessler 1997). dapat tumbuh pada kondisi aerob dan anaerob. (4) mampu menghasilkan spora dan (5) mempunyai daya proteolitik yang tinggi dibandingkan mikroba lainnya. Jenis Bacillus (Bacillus cereus. Sporanya tahan terhadap panas (suhu tinggi). Menurut Turnbull (1996) Bacillus merupakan bakteri aerob obligat atau fakultatif. dan positif terhadap uji enzim katalase. Reddy 1999). Bacillus pumilus) termasuk dalam lima produk . untuk menghasilkan makanan bagi bakteri yang menguntungkan (Karyadi 2003). Bacillus secara alami terdapat di mana-mana. (1994) penggunaan probiotik dapat memperbaiki performance ayam broiler meliputi rataan bobot hidup. Bacillus spp mempunyai sifat : (1) mampu tumbuh pada suhu lebih dari 500C dan suhu kurang dari 50C. (2) mampu bertahan terhadap pasteurisasi. Menurut Sartika et al. Zat ini akan mengalami proses peragian di dalam usus besar. (3) mampu tumbuh pada konsentrasi garam tinggi (>10%).8 enzim yang dapat menetralisir senyawa beracun yang tertelan atau dihasilkan oleh saluran pencernaan. Prebiotik dikenal juga sebagai nutrisi yang sesuai bagi bakteri baik akan tetapi tidak cocok bagi bakteri jahat. konversi pakan dan menurunkan mortalitas. amilase. lipase. mampu mendegradasi Xylan dan karbohidrat (Cowan dan Stell’s 1973). (3) merangsang produksi enzim (enzim protease dan alfaamilase) yang digunakan untuk mencerna pakan. berbentuk batang. Beberapa spesies Bacillus menghasilkan enzim ekstraseluler seperti protease.

9 probiotik komersil terdiri dari spora bakteri yang telah dikarakterisasi dan berpotensi untuk kolonisasi, immunostimulasi, dan aktivitas anti mikrobanya (Duc et al. 2004). Beberapa penelitian telah berhasil mengisolasi dan memurnikan bakteriosin Bacillus sp. Gram positif diantaranya yaitu subtilin yang dihasilkan oleh Bacillus subtilis (Klein et al. 1993), megacin yang dihasilkan oleh B. megaterium (Tagg et al. 1976), coagulin dihasilkan oleh B. coagulans I4 (Hyronimus 1998), cerein dihasilkan oleh B. cereus (Oscariz dan Pisabarro 2000), dan tochicin yang dihasilkan oleh B. thuringiensis (Paik et al. 1997). Senyawa antimikrob lain yang dihasilkan oleh Bacillus sp adalah basitrasin, pumulin, laterosporin, gramisidin, dan tirocidin yang efektif melawan bakteri Gram positif serta kolistin dan polimiksin bersifat efektif melawan bakteri Gram negatif. Sedangkan difficidin memiliki spektrum lebar, mikobacilin dan zwittermicin bersifat anti jamur (Todar 2005). Bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri Gram positif biasanya merupakan polipeptida bermuatan positif yang dapat menembus membran sel dan tersusun kurang dari 60 residu asam amino. Berdasarkan struktur asam aminonya bakteriosin dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu: 1. Lantibiotik, yaitu kelompok bakteriosin yang dikarakterisasi oleh adanya jembatan sulfur intra rantai dan mengandung asam amino yang tidak lazim yaitu dehidrolanin, lantionin, dan β-metil lantionin, misalnya pada nissin yang dihasilkan oleh bakteri Lactococcus lactis (Hurst 1981) dan variacin (Pridmore et al. 1996). 2. Non-lantibiotik, yaitu kelompok bakteriosin yang dapat dibagi dua berdasarkan bobot molekulnya, yaitu: a. Bakteriosin dengan berat molekul relatif kecil yaitu sekitar 2 – 6 kDa (Lozano et al. 1992), misalnya pediocin Ach yang dihasilkan oleh Pediococcus acidilactici . b. Bakteriosin dengan berat molekul relatif besar biasanya di atas 30 kDa (Benoit et al. 1994), contohnya helveticin J yang dihasilkan oleh Lactobacillus helviticus.

10 Bakteriosin merupakan zat antimikroba berupa polipeptida, protein, atau senyawa yang mirip protein. Bakteriosin disintesis di ribosom oleh bakteri selama masa pertumbuhannya dan umumnya hanya menghambat pertumbuhan galurgalur bakteri yang berkerabat dekat dengan bakteri penghasil bakteriosin (Kone & Fung 1992; Jack et al. 1995). Menurut Tagg et al. (1976), kriteria yang merupakan ciri-ciri bakteriosin adalah sebagai berikut: (1) memiliki spektra aktivitas yang lebih sempit, (2) senyawa aktif merupakan polipeptida atau protein, (3) bersifat bakterisida, (4) mempunyai reseptor spesifik pada sel sasaran, (5) gen determinan terdapat pada plasmid. Escherichia coli E. coli tergolong bakteri Gram negatif, an aerob fakultatif, berbentuk batang, tidak membentuk spora, tidak tahan asam dan ukuran 2−3 x 0.6 μm (Gordon dan Jordan 1982). Bakteri ini hidup dalam saluran pencernaan hewan. Uji fisiologis menunjukkan bereaksi positif terhadap indol dan merah metil, negatif terhadap Vogues-Proskauer, serta tidak menggunakan sitrat sebagai sumber karbon satusatunya (Krieg dan Holt 1984). Penyakit yang ditimbulkan oleh E. coli dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Pertama E. coli yang bersifat oportunistik, artinya dapat menyebabkan penyakit dalam keadaan tertentu, misalnya kekurangan makanan atau mengikuti penyakit lain. Kedua bersifat enteropatogenic/enterotoksigenic, E. coli yang mempunyai antigen perlekatan dan memproduksi enterotoksin sehingga dapat menimbulkan penyakit. (Lay dan Hastowo 1992). Faktor virulensi E. coli dipengaruhi oleh ketahanannya terhadap pagositosis, kemampuan perlekatan terhadap epitel sel pernafasan dan ketahanannya terhadap daya bunuh oleh serum. E.coli yang patogen mempunyai struktur dinding sel yang disebut “pili”, yang tidak ditemukan pada serotipe yang tidak patogen (Tabbu 2000), dan “pili” inilah yang berperan dalam kolonisasi (Lay dan Hastowo 1992). Ada tiga macam struktur antigen yang penting dalam klasifikasi E. coli yaitu, antigen O (Somatik), antigen K (Kapsel) dan antigen H (Flagella) (Gupte 1990; Lay dan Hastowo 1992). Determinan antigen (tempat aktif suatu antigen) O terletak pada bagian liposakarida bersifat tahan panas dan dalam

11 pengelompokannya diberi nomor 1,2,3 dan seterusnya. Antigen K merupakan polisakarida atau protein, bersifat tidak tahan panas dan berinterferensi dengan aglutinasi O, Antigen H mengandung protein, terdapat pada flagella yang bersifat termolabil. Pada saat ini telah diketahui ada 173 grup serotipe antigen O74 jenis antigen K dan 53 jenis antigen H (Barnes dan Gross 1997). Serotipe yang banyak menyebabkan penyakit pada unggas adalah O1, O2, O35 dan O78 (Tabbu 2000), dan dikenal patogenitasnya cukup tinggi (Charlton et al. 2000). Kolibasilosis adalah penyakit pada unggas yang disebabkan oleh bakteri E. coli yang patogen, sebagai agen primer ataupun sekunder. Infeksi E. coli atau koliseptikemia ini dapat terjadi pada ayam pedaging dan petelur dari semua kelompok umur, serta unggas lain seperti kalkun dan itik (Charlton et al. 2000). Tanda klinis kolibasilosis tidak spesifik dan dipengaruhi oleh umur ayam, lama infeksi, organ yang terserang dan adanya penyakit lain bersamanya. Pada ayam pedaging umur 4−8 minggu dan ayam petelur umur ±20 minggu dapat terjadi septikemia akut dan menimbulkan kematian, yang didahului dengan hilangnya nafsu makan, malas bergerak/inaktif dan mengantuk (Lee dan Lawrence 1998). Penularan kolibasilosis biasanya terjadi secara oral melalui pakan, air minum atau debu/kotoran yang tercemar oleh E. coli. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105–106 E. coli/gram dan bakteri ini dapat tahan lama, terutama dalam keadaan kering. Apabila debu tersebut terhirup oleh ayam, maka dapat menginfeksi saluran pernafasannya (Tabbu 2000). Penyakit kolibasilosis dapat dimanifestasikan dalam bentuk kelainan organ, seperti: septikemia, enteritis, granuloma, omfalitis, sinusitis, airsacculitis, rithritis/synovitis, peritonitis, pericarditis, selulitis dan Swollen Head

Syndrome/SHS (Zanella et al. 2000), oovoritis ,salpingitis, panopthalmitis dan bursitis sternalis (Barnes dan Gross 1997; Tabbu 2000). Kolibasilosis mempunyai arti penting bagi industri perunggasan, karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, penurunan kualitas karkas dan telur, serta, kualitas anak ayam (DOC). Di samping itu, adanya infeksi E. coli dapat merupakan faktor pendukung timbulnya penyakit komplek pada saluran pernafasan, pencernaan atau reproduksi yang sulit ditanggulangi (Tabbu 2000).

coli yang ditemukan di dalam usus ayam yang sehat tergolong serotipe patogen. Galur E. coli yang menyebabkan diare dibedakan dalam enam kategori. coli (EAEC). ileum dan sekum. Meksiko. Salah satu isolat yaitu EPEC K1-1 diketahui memiliki resistensi terhadap ampisilin dengan menghasilkan enzim β-laktamase secara ekstraseluler (Wahyuni 2006). sitrat. dan celldetaching Escherichia. dulcitol. dan Afrika Selatan memperlihatkan bahwa 30-40% diare pada anak-anak disebabkan oleh EPEC. Salmonella sp. Bagian usus yang paling banyak mengandung kuman tersebut adalah jejunum. Infectious Coryza (Snot). diantaranya melalui pemberian cairan (rehidrasi) secara oral dan konsumsi beberapa antibiotik (Nataro & Kaper 1998). coli (EIEC). Salmonella sp. reduksi nitrat. Studi yang dilakukan di Brazil. Swollen Head Syndrome (SHS). Budiarti et al. Sebagai agen penyakit sekunder. E. bersifat anaerob fakultatif tidak membentuk spora dan dapat bergerak. Salmonella sp. Terapi yang dilakukan terhadap diare bertujuan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. enterohaemorrhagic Escherichia coli (EHEC). enteroinvasive Escherichia. glukonat. EPEC merupakan penyebab utama diare pada anak-anak di negara berkembang. merah metil. Jenis E. coli yang terdapat di dalam usus tidak selalu sama dengan jenis yang ditemukan pada jaringan lain. Reaksi biokimia lain seperti oksidasi. . menunjukkan H2S.12 Sekitar 10−15% dari seluruh E. laktosa. enteroaggregative Escherichia.(1998) mengisolasi EPEC dari feses anak-anak penderita diare. yaitu enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC). misalnya pada berbagai penyakit pernafasan dan pencernaan yang menyerang ayam. Infectious Laryngo Tracheitis (ILT) dan koksidiosis (Tabbu 2000). coli (CDEC) (Nataro & Kaper 1998). timbulnya kasus kolibasilosis. dekarboksilasi dan ornitin dekarboksilasi bersifat positif. Vogues-Proskauer (VP). Kenyataan di lapangan. enteropathogenic Escherichia coli (EPEC). indol. terutama akibat pengaruh imunosupresif dari Gumboro (ayam pedaging lebih dominan dibanding petelur) dan sebagai penyakit ikutan pada Chronic Respiratory Disease (CRD). coli sering mengikuti penyakit lain. lisin. urease. dan fenilalanin deaminasi bersifat negatif (Krieg dan Holt 1984). Uji fisiologis Salmonella sp. adalah bakteri berbentuk batang Gram negatif.

Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella sp. yaitu salmonelosis dengan gejala gastroenteritis yaitu Salmonella yang menyerang saluran gastrointestin (lambung.0 dengan pH optimum 6. Klasifikasi ini menggunakan dua macam antigen yaitu antigen somatik yang disebut antigen O dan antigen flagella yang disebut antigen H. Karena hidup dalam saluran pencernaan. Salmonelosis pada ayam muda (umur 2 minggu ) gejalanya seperti berak putih dan pada ayam dewasa gejalanya tidak terlihat. maka adanya Salmonella sp.470C dengan suhu optimum 350. Menurut Jay (1986) Salmonella sp. Manusia dan hewan dapat dikatakan pembawa (carier).1-9. adalah saluran pencernaan burung. dapat ditemukan dalam berbagai makanan asal ternak. Fase spesifik hanya dimiliki oleh beberapa spesies atau varietas.370C. dan seterusnya sesuai dengan persamaan dalam kandungan satu atau lebih antigen O. pada manusia dan hewan dapat terjadi tanpa disertai tanda tanda infeksi. Antigen H dipisahkan menjadi fase spesifik atau fase satu dan fase kelompok atau fase dua. Salmonellosis dapat juga menyerang manusia dengan gejala demam. sedang fase kelompok dimiliki oleh hampir semua spesies. Salmonella sp. Pada unggas dapat ditemukan pembawa sebesar tiga-lima persen (Anonim 2008). karena menunjukkan antigen O4 dan 12. Pembawa sering menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat karena dapat menularkan penyakit tetapi sulit untuk mendeteksinya. diare dan nyeri pada daerah abdomen.C. Pada pH dibawah 4.9 dan 12. Hasilnya adalah Salmonella schottmuellerri winlow dan Salmonella typhimurium loeffler ditempatkan pada kelompok B. Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu 50. diklasifikasikan berdasarkan pada analisis antigen. Salmonella enteridis dan Salmonella gallinarum ditempatkan pada kelompok D dengan antigen O. dan ini pertama kali dilakukan oleh Kauffmann dan White.13 termasuk ke dalam famili Enterobactericeae tribus escherichea (Fardiaz 1985). sehingga klasifikasi ini disebut skema Kauffmann-White. reptil dan mamalia. Gastroenteritis akut terjadi . Dengan klasifikasi ini maka spesies dan varietas ditempatkan pada kelompok A.5.B. Tempat hidup primer dari Salmonella sp.0 dan diatas 8.0 sel Salmonella sp akan mati secara perlahan. Salmonella typhi. dan kisaran pH 4.5-7. usus halus dan usus besar) dan demam typus.

Bakterisidal adalah antibiotik menghambat pertumbuhan bakteri patogen sekaligus membunuh bakteri tersebut. Dalam dunia peternakan kegunaan antibiotik ada dua yaitu antibiotik untuk pemacu pertumbuhan dab antibiotik untuk terapi.. streptomisin. kloramfenikol dan eritromisin. notatum ini diberi nama penicillin (Crueger dan Crueger 1984). yang termasuk kedalam kelompok ini adalah sulfadinamid. basitrasin. (1991) dibagi dua yaitu bakteriostatik dimana sifat kerja antibiotik meghambat pertumbuhan bakteri lain. Antibiotik Antibiotik berasal dari kata antibiosis yang berarti substansi yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme atau zat yang sama. tetrasiklin. yang termasuk kedalam kelompok ini adalah penisilin dan derifatnya. bakteri Salmonella dapat menginvasi aliran darah dan menyebabkan infeksi yang akan mengancam jiwa (Anonim 2008). Penggunaan antibiotik untuk pemacu tumbuh terbukti dapat meningkatkan produksi ternak (Wiryosuharto 1990). Penemuan antibiotik diawali oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 yang mengamati adanya penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada cawan petri oleh kontaminan yang akhirnya dikenal dengan Penicillium notatum. Antibiotik untuk terapi digunakan untuk mengembalikan kondisi ternak secepat mungkin. dan sefalosporin. Zat aktif yang kemudian diisolasi dari P. vankomisin. Pada orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh yang sangat rendah. kolostin. flavomisin. Antibiotik untuk pemacu tumbuh dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen yang berakibat meningkatnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan. agar ternak tersebut dapat berproduksi kembali secara penuh dan menghilangkan penderitaan ternak serta mencegah penyebaran patogen ke . Sifat kerja antibiotik secara umum menurut Brander et al.14 dengan gejala muntah dan diare. sebagian atau seluruhnya dibuat secara sintetis kimia. sehingga banyak dipakai untuk terapi. sebagian kecil penderita mengalami pendarahan (septikemia). yang dalam jumlah kecil dapat menghambat pertumbuhan atau mematikan mikroorganisme lain dengan cara menghentikan suatu proses biokimia sehingga terputusnya satu mata rantai metabolisme di dalam tubuh mikroorganisme.

coli. spiramisin. oxytetracycline dan kanamycin.15 lingkungan. flavomisin (bambermisin). dan Salmonela. Enzim Merupakan senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa komplek menjadi sederhana yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam susunan yang teratur dan tetap Sebagai protein. Antibiotika yang sering dicampur kedalam pakan adalah : Bacitracin. higromisin. enramisin. Seperti yang dilaporkan oleh Rusiana (2008) dengan meneliti 80 ekor ayam broiler di Jabotabek menemukan 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam tercemar residu antibiotik tylosin. tiamulin. meliputi bakteri E. Penggunaan antibiotik yang terus menerus pada peternakan berakibat buruk bagi ternak. antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel (Grisham et al 1999). munculnya mikroba target yang resisten antibiotik tetapi juga mikroba lain yang memiliki habitat yang sama dengan mikroba target. antibiotik berspektrum luas yang mampu mengatasi kedua jenis bakteri tersebut (Brander et al. penicilin. virginiamisin. enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi. telur) untuk manusia (FAO/WHO 1992). kiamisin. kuramisin. diantaranya antibiotik berspektrum sempit yang bertujuan untuk membunuh bakteri negatif atau gram positif saja. avilamisin. Antibiotik untuk terapi ada beberapa macam. 1991). tetrasiklin (Dirjen Peternakan 1990). . tilosin. Hal ini dimungkinkan karena adanya transfer materi genetik (plasmid resisten) di antara genus bakteri yang berbeda yang masih memiliki hubungan dekat. kolistin. Resistensi kolonisasi (colonization resistance) adalah istilah yang menggambarkan imunitas alami yang diperoleh manusia /hewan melalui keberadaan flora normal dalam saluran pencernaan sehingga manusia/hewan akan terlindungi dari kolonisasi/infeksi mikroorganisme dari luar tubuh (Naim 2007). Antibiotika yang ditambahkan ke dalam pakan atau air minum mempunyai potensi tinggi menimbulkan residu antibiotika dalam produk hewan (daging. Klebsiella.

tetapi tidak semua bakteri memiliki enzim protease ekstraseluler. (2). rendahnya efesiensi kecernaan bahan pakan. yaitu eksopeptidase dan endopeptidase. Dalam tubuh makhluk hidup enzim dapat diproduksi sendiri sesuai dengan kebutuhan. . Hal ini disebabkan beberapa hal seperti antinutrisi faktor pada bahan pakan (lekctins dan trypsin inhibitor). tidak membentuk spora. yaitu enzim yang memecah protein yang diproduksi di dalam sel kemudian di lepaskan keluar dari sel. pectinase. Karena itu. yaitu reaksi yang melibatkan unsur air pada ikatan spesifik substrat.16 Enzim saat ini banyak dikembangkan sebagai bahan aditif mendampingi probiotik seperti proteinase. membentuk spora. selulase. misalnya Pseudomonas dan Proteus. Bakteri proteolitik adalah bakteri yang mempoduksi enzim protease ekstraseluler. lipase dan lain sebagainya yang diberikan kepada ternak. Bakteri proteolitik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok: (1). Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif. Menurut Ward (1983) protease ialah enzim yang sangat kompleks. enzim ini termasuk dalam kelas utama enzim golongan hidrolase (Winarno 1983). Eksopeptidase memotong ikatan peptida pada terminal amino atau karboksil dari substrat. xylanase. Protease dapat dihasilkan secara ekstraseluler dan intraseluler dan mempunyai peranan penting dalam metabolisme sel dan keteraturan proses dalam sel. Semua bakteri memiliki enzim protease di dalam sel. Berdasarkan letak pemecahan peptida protease dapat dibedakan atas dua bagian. amilase. dan ketidak tersediaan enzim tertentu dalam tubuh ternak seperti xylanase dan ß-glucanase yang merupakan enzim untuk meningkatkan daya cerna pada ternak monogastrik ( Sjofjan 2009) Protease Enzim protease merupakan biokatalisator untuk reaksi pemecahan protein menjadi molekul yang sederhana seperti asam asam amino. mempunyai sifat fisiko kimia dan sifat katalitik yang sangat bervariasi. akan tetapi penambahan enzim pada pakan kadang masih dibutuhkan. Enzim ini akan mengkatalisis reaksi hidrolisis. sedangkan endopeptidase memotong bagian tengah dari ikatan peptida (Ward 1983).Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif.

6 pada titik percabangan.4 D-glukosidik (http://id.4 bagian ujung (eksoamilase).17 misalnya Bacillus.4 pada rantai amilosa. Enzim α–amylase menghidrolisis ikatan  -1.3) atau sering disebut amiloglukoksidase atau α-1. Amilosa larut dalam air dan mudah terhidrolisa dibandingkan dengan amilopektin. Bakteri anaerobik pembentuk spora. Amilase Ezim yang menghidrolisis amilum menjadi molekul yang larut dalam air serta mempunyai berat molekul yang rendah seperti glukosa.wikipedia. misalnya sebagian spesies Clostridium ( Wikepedia 2006).4 D-glukosidik seperti pada gambar 1 .2. Anderson (1958) dan Winarno (1983) mengelompokkan amilase ke dalam tiga golongan besar. Gambar 1 Struktur amilosa dengan ikatan -1. walaupun dengan laju yang lebih rendah.3. Molekul-molekul ini berhubungan satu dengan yang lainnya melalui ikatan -1. amilopektin. ß-amilase dan glukoamilase (amiloglukosidase). tersusun dalam bentuk rantai panjang yang lurus (Anderson 1958). DeMan 1997).4-glukano glukohidrolase merupakan enzim ekstraseluler yang mampu menghidrolisis ikatan α-1. Amilum terbagi menjadi dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin yang keduanya memiliki sifat yang berbeda secara fisik.4 secara acak di bagian dalam (endoamilase) dan enzim ß-amilase bekerja menghidrolisis ikatan  -1. Hal ini berarti bahwa pati dapat diuraikan secara sempurna menjadi glukosa (Soebiyanto 1986. yaitu α-amilase. dan pullulan.org/wiki/Amilosa) . Enzim glukoamilase (EC. Enzim glukoamilase juga dapat menyerang ikatan -1. (3).1. glikogen. Amilosa merupakan hasil kondensasi molekul-molekul glukosa yang terdiri dari 300 atau lebih molekul -D glukosa.

dekstrin yang dihasilkan berupa ß-limit dekstrin yang memiliki berat molekul yang tinggi.6. Molekul molekul dari glukosa dihubungkan satu dengan yang lainnya dengan ikatan -1.4.6.wikipedia.org/wiki/Amilopektin) Enzim -amilase termasuk kedalam enzim endoamilase yang kerjanya menghidrolisis pati dari tengah-tengah rantai yang mengandung ikatan  -1. Sama halnya dengan enzim -amilase. enzim ß-amilase juga tidak dapat memutus rantai ikatan -1. sehingga degradasi amilopektin oleh enzim ini tidak sempurna. Oleh karena itu hasil pemecahan polimer pati oleh enzim ini hanya berupa . yakni dari ujung rantai yang tidak bersifat mereduksi (Rose 1980.18 Amilopektin (Gambar 2) merupakan polimer dari glukosa.6 disamping .4 (Fogarty 1983). Enzim glukoamilase memecah polimer pati dari bagian luar (exoamilase).D glikosidik (Meyer 1978.3 dan -1.1. Dextrin adalah suatu homopolimer dari glukosa yang merupakan produk antara pada hidrolisa pati menjadi maltosa.1.D glikosidik (http://id. Winarno 1980). Enzim ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan enzim -amilase dan enzim ß-amilase karena enzim ini mampu memutuskan rantai polimer yang mengandung ikatan glukosidik .4 dan -1. pada molekul amilopektin.6.4 dan -1. Bergman 1981) Gambar 2 Struktur amilopektin dengan ikatan -1. yang mengandung banyak rantai cabang yang terdiri dari 2000-3000 molekul glukosa pada rantai lurusnya dan 24-30 unit glukosa pada rantai cabang utama (Anderson 1958). dengan menghasilkan dua molekul dextrin. Enzim ß-amilase bekerja dari ujung rantai polimer (eksoamilase) menghasilkan maltosa dan ß-limit dekstrin.

1988.19 molekul-molekul glukosa. 2003). hewan dan mikroorganisme. yang merupakan prekursor berbagai industri kimia.4D-glycosidic. seperti biomedikal. Selulosa merupakan polimer rantai lurus glukosa yang tersusun atas 10. seperti tanaman. detergen. Itulah sebabnya oleh Alagaratnam (1977) tahap pemecahan ini disebut juga tahap sakarifikasi. hal ini dikarenakan mikroorganisme periode pertumbuhanya pendek. Lipase Enzim lipase merupakan kelompok enzim yang secara umum berfungsi dalam hidrolisis lemak. Kosugi et al. untuk industri kulit dan industri oleokimia (memproduksi asam lemak dan turunannya) (Macrae 1983). di-. mono-. industri makanan. pestisida. Amilase yang berasal dari mikroorganisme banyak digunakan dalam industri. Karena ikatan ini menyebabkan selulosa sukar didegradasi . Selulase Selulase adalah enzim penghidrolisa selulosa dengan memecah ikatan β-1. Amilase pertama kali yang diproduksi adalah amilase yang berasal dari fungi pada tahun 1894 (Oliveira 2004). Produksi asam lemak secara industri menggunakan katalis kimia menghasilkan efek samping bagi lingkungan. Asam lemak amat dibutuhkan dalam metabolisme mikroorganisme yang bersangkutan. pengolahan limbah. Amilase merupakan enzim yang paling penting dan keberadaanya paling besar. Amilase didapatkan dari berbagai macam sumber. Enzim lipase bersifat konstitutif artinya terus-menerus diekspresi tanpa membutuhkah induser.000 atau lebih unit-unit D-glucosa yang dihubungkan oleh ikatan 1. 1990). biosensor.4-Dglycosidic (Gambar 3). Selain itu enzim lipase telah banyak dikenal memiliki cakupan aplikasi yang amat luas dalam bidang bioteknologi. dan trigliserida untuk menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol (Suzuki et al. Ekspresi enzim lipase meningkat saat mikroorganisme memasuki fase kematian karena jumlah produk lemak dari sel-sel yang mati meningkat (Madigan et al. enzim ini diperjual belikan sebanyak 25% dari total enzim yang lainya. pada bidang bioteknologi. Lipase memiliki potensi untuk memproduksi asam lemak.

(3) β-glucosidase. bir. Ikatan ini hanya dapat dipecah oleh enzim selulase yang hanya dapat disekresikan oleh mikroba selulolitik (Mc Donald et al. 1999.4) Mikroba selulolitik pada umumnya akan mensekresikan tiga jenis enzim selulase. Proses degradasi selulosa pada prinsipnya melibatkan ketiga jenis enzim diatas yang bekerja secara sinergis. (2) Eksoglukanase. pada dasarnya semua mikroganisme memerlukan karbon sebagai sumber . Unsur C merupakan unsur utama yang berperan dalam penyusunan sel-sel bakteri. dan Chen et al. eksoglukanase. Beauchemin et al. 2001. (1) Endoglukanase. 2002). dan β-glukosidase (Cai et al. menghidrolisis selobiosa menjadi glukosa (Robson dan Chambliss. 2004). CMC-ase. sodium glutamat.4-β-glucanase serta βglucosidase.4-β-D glucan cellobiohydrolase.20 (Saxena dan Brown 2005). 2003). Gambar 3 Struktur selulosa dengan ikatan β.4-β-D-glucan glucanohydrolase. 1989). cellobiase.4-D-glycosidic dari glukosa. 1. Avicelase. asam amino. menghidrolisis rantai ujung selulosa yang tidak tereduksi dengan selobiosa sebagai struktur primer. Hasil dari reaksi ini adalah memendeknya polimer glukosa secara cepat yang diikuti dengan meningkatnya gula reduksi secara perlahan-lahan. yaitu endoglukanase atau carboxymethylcellulase (CMC-ase).1. Ding et al. Meningkatnya produksi gula tebu Indonesia sekitar sepuluh tahun terakhir ini akan meningkatkan produksi molase. 1. Enzim CMC-ase merupakan enzim pertama dalam sistem enzim selulase sehingga tingkat aktivitasnya sangat menentukan dalam proses degradasi selulosa (Hobson 1988.(1. yaitu endo. Industri yang banyak memanfaatkan molase seperti industri alkohol. secara acak menghidrolisis bagian dalam 1. Molase Lebih dikenal dengan tetes tebu merupakan hasil samping dari proses pembuatan gula tebu yang masih mengandung kadar gula sekitar 48-58 % (Novita 2001).dan exo.

85% (Lampiran 4). IPB Bogor. trypticase soy broth (TSB) dengan komposisi 30 g/l. Institut Pertanian Bogor (IPB) dari bulan Agustus 2008 – April 2009. refrigerator. Bahan Kimia Bahan kimia yang digunakan adalah bahan untuk menumbuhkan mikroorganisme meliputi nutrient broth (NB) dengan komposisi 8 g/l. alkohol asseton.BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). vortex. tip bunsen. Bakteri patogen yang digunakan untuk uji antagonis adalah Escheria coli asal ayam. . kuvet. sentrifus. Media padat yaitu nutrient agar (NA) dan trypticase soy agar (TSA) dengan menambahkan 15g/l bacto agar. spektrofotometer. inkubator. Media MRS dan TGY modifikasi yang mengandung molase. dan EPHEC K1-1 koleksi Dr. autoklaf. ose. Salmonela enteric koleksi dari Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi. dr. inkubator. reagen pewarnaan spora terdiri dari malakit hijau. laminar air flow (LAF). garam yodium. homogeniser. timbangan analitis. dan tepung kedelai (Lampiran 3). shaker. Bahan dan Alat Kultur Isolat bakteri yang diisolasi dari saluran pencernaan (duodenum. pipet mikro. mikroskop. Sri Budiarti .2 asal ayam yang diperoleh dari Laboratorium Bakteriologi FKH. Salmonela subsp. aquades steril dan NaCl 0. ileum dan intestinum crasum) ayam broiler strain hybro tanpa diberi antibiotik. penangas air bergoyang. pH meter. dan safranin gram. hot plate. Alat Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat gelas. De Man Ragosa sharpe (MRS) dan tripton glucosa yeast ekstract (TGY). dan untuk media NA dan TSA semi solid ditambahkan 10 g/l bacto agar. pengaduk magnetik dan timbangan. hemasitometer. Reagen untuk pewarnaan Gram yang meliputi kristal violet. safranin spora.

2001 dalam (Simarmata 2007). proteolitik. aerasi. Saluran pencernaan ayam dicuci bersih. lipolitik dan selulolitik. Teknik ini sangat penting dan secara rutin digunakan untuk membuat atau menyiapkan kultur stok yang diperlukan dalam uji mikrobiologi. pengujian aktivitas antagonis. Pertumbuhan koloni diamati secara periodik. Diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam..3% selama 5 menit.85%. dengan menambahkan asam klorida 10%.0 dan media NA dengan pH 4. Kemudian mikrob yang didapat dipindahkan atau ditransfer secara aseptis ke media nutrient broth (NB) disebut subculturing atau peremajaan.1% agar agar sebanyak 9ml. dilakukan secara duplo. kemudian saluran pencernaan dibilas dengan air steril beberap kali.5. serta uji kualitatif amilolitik. Metode ini akan memisahkan sel dari koloni hingga jarak tertentu kemudian koloni yang benar banar murni dapat diambil dan diletakkan pada agar miring. kemudian dilakukan sterilisasi permukaan dengan cara merendam dalam etanol 70% selama 1 menit. Isolasi Bakteri Saluran Pencernaan Ayam Isolasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler strain hybro tanpa diberi antibiotik dilakukan menurut metode F.23 Metode Penelitian ini meliputi isolasi kultur bakteri asal saluran pencernaan ayam. pH dan suhu tertentu.10-6 dengan aquades 9 ml yang mengandung NaCl 0. identifikasi terhadap bakteri yang terpilih serta optimasi aktivitas senyawa bioaktif dari bakteri terpilih terhadap pertumbuhan bakteri patogen pada kondisi media. Pemurnian Bakteri Hasil Isolasi Koloni koloni yang tumbuh terpisah diambil dengan ose secara aseptis dan dilakukan pemurnian dengan menggunakan metode kwadran. dan intestinum crassum seberat 1 gr dan dilarutkan dalam larutan pepton 1 % yang mengandung 0. Larutan di vortex supaya homogen. Pada pengenceran 10-3 hingga10-6 diambil 100µ1 larutan dan disebar kecawan petri yang berisi media NA dengan pH 7. natrium hipoklorit 5. . Kemudian dilakukan pengenceran berseri dari 10-1.Tomota (Lumyong et al. ileum. kembali dengan etanol 70% selama 30 detik. Isolasi dilakukan dengan mengambil saluran pencernaan pada bagian duodenum.

biakan maupun sel bakteri yang berbeda dapat tampak serupa. isolat terpilih diinokulasikan dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C. Sel ditumbuhkan pada suhu 370C dengan agitasi 100 rpm selama 24 jam. Media tersebut dituangkan pada NA/TSA 100% padat (cawan overlay).2 asal ayam pada media TSA diinokulasikan ke dalam media TSB. Karena itu diperlukan uji uji fisiologis seperti uji katalase. Isolat diuji aktivitas penghambatannya terhadap EPEC K1-1.2 asal ayam.2 asal ayam diremajakan pada media TSA selama 24 jam pada suhu 370C. Satu koloni tunggal Salmonella enteric dan Salmonella subsp.24 Peremajaan Bakteri Target EPEC K1-1 diremajakan pada media NA + 100 μg/ml ampisilin diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C. Identifikasi / Karakterisasi Isolat Bakteri Penentuan karakteristik morfologi bakteri asal saluran pencernaan ayam secara mikroskopis dilakukan dengan pengamatan sel dan pewarnaan Gram (Hadioetomo 1993). coli diremajakan pada media NA dan ditumbuhkan selama 24 jam pada suhu 370C.2. 2006). E. Biakan ditumbuhkan pada suhu 370C dengan agitasi 100 rpm selama kurang lebih 2 jam. Uji antagonis langsung bakteri asal saluran pencernaan ayam terhadap EPEC K1-1. Bakteri target yang sudah diremajakan diinokulasikan sebanyak 100 μl ke dalam 10ml media NA/TSA 50% dengan konsentrasi minimal 106 sel/ ml. Bakteri bakteri target ini untuk uji antagonis. Isolat isolat yang mampu membentuk zona bening akan diidentifikasi. coli diinokulasikan ke dalam media NB. E. Secara morfologis. coli asal ayam serta Salmonella subsp. diinkubasi pada suhu 370C dengan agitasi 100 rpm selama 24 jam. Pengamatan dilakukan terhadap koloni bakteri yang mampu membentuk zona bening. Satu koloni tunggal EPEC K1-1 dari media NA+ampisilin diinokulasikan ke dalam media NB+100 μg/ml ampisilin. . Setelah media memadat. coli. Salmonella enteric dan Salmonella subsp. Salmonella enteric dan E. Salmonela subsp. Bakteri yang merupakan Gram positif kemudian dilakukan kemampuan pembentukan spora dengan pewarnaan malachite green dan safranin (Hadioetomo1993). Satu koloni tunggal E. Salmonella enteric dengan menggunakan metode agar double layer (Lisboa et al.

Optimasi kedua yaitu optimasi terhadap suhu. Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif Optimasi pertama dilakukan terhadap media. Optimasi dilakukan terhadap dua media yaitu De Man Ragosa (MRS) dan Tripton Glucosa Yeast ekstratc (TGY) dengan agitasi (100 rpm) dan tanpa agitasi. Salmonella enteric. coli. diukur zona hambat yang dihasilkan. Besarnya diameter zona bening yang dihasilkan berdasarkan diameter seluruh zona yang terbentuk dikurangi dengan diameter cakram kertas. Media NA semi padat berisi 100μl biakan bakteri patogen (E. coli. aerasi dan waktu produksi Isolat terpilih diremajakan pada media pertumbuhan. E. EPEC K1-1. dan 96 jam. Filtrat kultur dari isolat yang diisolasikan pada media produksi modifikasi diinkubasi pada lima tingkatan suhu (270. Media yang didapat dioptimasi waktu produksi yang terbaik dengan waktu produksi 24 jam. Esei Antagonis Isolat Terpilih Terhadap Pertumbuhan E. coli. Salmonella subsp. Salmonela subsp. Kultur isolat terpilih diinokulasikan dalam media produksi. yang bertujuan untuk mengetahui suhu optimum terhadap aktivitas antibakteri dalam menghasilkan penghambatan pertumbuhan bakteri target.2. kertas cakram berdiameter delapan mili meter diletakkan diatas media dengan sedikit ditekan dan pada masing masing kertas cakram ditetesi sebanyak 15 μl filtrat kultur dari isolat bakteri terpilih. Salmonella subsp. 72 jam. Salmonella enteric. coli. EPEC K1-1. Salmonela sp. Setelah seluruh media memadat. 48 jam.2. 500 C).25 Dan untuk identifikasinya mengacu pada Bergeys Manual of Determinative Bacteriology (Krig dan Holt. 1984). 300 . Parameter yang diamati adalah kemampuannya membentuk zona bening. 400. Salmonella enteric dengan Metode Kirby-Bauer Uji antagonis isolat terpilih dilakukan terhadap bakteri EPEC K1-1.. EPEC K1-1. Inkubasi dilakukan selama 24 jam pada suhu 370C.2. Salmonella enteric dengan menggunakan filtrat kultur. 370. diujikan aktivitasnya terhadap E. . Pengujian dilakukan untuk mengetahui aktivitas filtrat kultur isolat terpilih terhadap bakteri target. Media terbaik yang didapat dimodifikasi dengan mengganti sumber karbon dan nitrogen dengan molase dan soybean meal (MRS modifikasi dan TGY modifikasi).) dengan konsentrasi minimal 106 sel/ml dituangkan ke dalam media NA padat (cawan overlay).

Lipase.0. 7.0. Zona bening akan terlihat dengan ditambahkannya Congo red dan NaOH 10% ke media. diukur zona bening yang dihasilkan. Untuk uji selulase media NA ditambah carboximetil celulase (CMC) 1% dan disterilkan. adanya zona menandakan isolat menghasilkan protease. Adanya zona menunjukkan adanya aktivitas amilase. 34n. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media. aktivitas lipase ditandai oleh adanya zona bening disekitar koloni bakteri. diinkubasi selama dua hari. Uji Kualitatif Aktivitas Amilase. Uji lipase dengan menggunakan media NA ditambah tween 80 1% dan disterilkan.0. Isolat terpilih diinokulasikan. Filtrat kultur (supernatan) dari isolat yang ditumbuhkan pada pH yang berbeda. suhu dan pH optimum terhadap aktifitas antimbakteri dalam menghasilkan penghambatan pertumbuhan empat bakteri patogen. 25n. 6. diinkubasi pada suhu terbaik (optimum). 25n.0.26 Optimasi ketiga terhadap pH. 27n.0. diantagoniskan dengan empat bakteri target. setelah itu isolat terpilih (7n. Diinkubasi selama dua hari. Nilai indeks amilase. diinkubasi selama dua hari. 5. Pada tahap ini isolat terpilih ditumbuhkan pada media terbaik pada tujuh tingkatan pH yang berbeda yaitu 3. Uji protease menggunakan media NA ditambah susu skim 1% disterilkan pada suhu 110 0 dan selama 15 menit. . 27n. proteolitik. Protease. 34n) diinokulasikan.4. Zona bening akan terlihat setelah ditetesi kalium iodida (KI) 3%. Zona yang terdapat disekitar koloni diukur diameternya begitu juga diameter koloni untuk menghitung indeks amilase yang dihasilkan. lipolitik dan selulolitik isolat terpilih diuji secara kualitatif. protease.0. Zona bening yang dihasilkan diukur untuk untuk menentukan indeks proteasenya. lipase cellulase dihitung dengan persamaan: I A B B A=Ø zona bening dan B= Ø isolat. 8. Isolat terpilih diinokulasikan dan diinkubasi selama dua hari.0 . 9. kemudian diinokulasikan isolat 7n. Selulase Kemampuan amilolitik. Untuk uji amilase media nutrient agar ditambah 1% soluble starch.

Unsur C. niasin. asam amino dan enzim-enzim. fosfor. gula pereduksi 3%. kalium. P merupakan tiga nutrisi utama (makro nutrien) yang dibutuhkan oleh bakteri dalam melakukan metabolisme sel untuk menghasilkan senyawa senyawa yang penting dalam pertumbuhan bakteri nitrogen dan fosfor merupakan bahan penyusun senyawa-senyawa penting dalam sel yang menentukan aktivitas pertumbuhan mikrooganisme. vitamin B6. N. tepung kedelai (Soybean meal) mengandung 34. vitamin B12. Komposisi kimia molase menurut Paturau (1982) terdiri dari sukrosa 35%. lisin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasio C:N:P optimum untuk pertumbuhan mikroba adalah 100:10:1 (Shewfelt et al. 2005). karbohidrat lain 4% serta abu 12 %.8% karbohidrat.21 energi untuk aktivitasnya. treonin. fenilalanin (Anonim 2008). zat besi. Molase telah banyak digunakan sebagai bahan pembuatan media produksi mikroba dalam skala besar. 42% protein dan 19-20% lemak (lampiran 2). magnesium. glisin. vitamin K. triptofan. Rasio C:N yang tinggi (kandungan unsur N yang relatif rendah) akan menyebabkan proses pertumbuhan berlangsung lebih lambat karena nitrogen akan menjadi faktor penghambat (growth-rate limiting factor) (Alexander 1994). Menurut Sukmadi (1996) diacu dalam Suryanti (1998). Kalsium. Protein pada kedelai tersusun oleh sejumlah asam amino: arginin. Kandungan nutrisi lain adalah vitamin A. dan seng. vitamin C. leusin. Tepung Kedelai Tepung kedelai dapat digunakan sebagai sumber nitrogen bagi pertumbuhan bakteri. glukosa 7%. . Unsur N memiliki peranan yang sangat penting dalam penyusunan asam nukleat. Sedangkan unsur P berperan dalam pembentukan asam nukleat dan fosfolipid.

Berdasarkan kenyataan tersebut isolasi bakteri asal saluran pencernaan ayam perlu guna mendapatkan beragam bakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai makanan imbuhan pakan (feed additive) untuk memacu pertumbuhan ayam. karena bakteri dari golongan ini masih jarang diteliti. Penggunaan media dengan pH 4.0 (Lampiran 5) dan 34 isolat yang tumbuh pada media NA dengan pH 4. Hasil isolasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler tersebut diperoleh 72 isolat bakteri terdiri dari 38 isolat yang tumbuh pada media NA dengan pH 7. Ayam broiler yang digunakan dalam penelitian ini tidak diberikan antibiotik dalam makanannya supaya didapatkannya banyak ragam mikroorganisme yang terdapat dalam saluran pencernaan. Keseimbangan antara kedua jenis mikroba dalam saluran pencernaan .5. Diperolehnya bakteri yang mampu tumbuh pada pH 4. Keberhasilan mendapatkan isolat bakteri yang cukup banyak dari saluran pencernaan ayam broiler ini kemungkinan disebabkan ayam yang digunakan sebagai sampel adalah ayam broiler strain Hybro yang tidak diberi antibiotik. dan mikroba dalam saluran pencernaan tersebut berperan bagi kesehatan. Saluran pencernaan ayam yang baru menetas sebetulnya dalam keadaan steril.HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan Pemurnian Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Isolasi yang dilakukan lebih ditujukan pada bakteri kelompok non asam laktat. Dalam saluran pencernaan mahkluk hidup tedapat terdapat bakteri jahat dan bakteri baik. sehingga populasi bakterinya masih cukup tinggi. Bagian dari saluran pencernaan yang paling banyak dihuni oleh milyaran mikroba adalah saluran usus. Mikroorganisme itu akan tinggal pada saluran pencernaan sampai makhluk hidup itu mati.5 menunjukkan bahwa bakteri itu tahan terhadap kondisi lingkungan asam pada saluran pencernaan.5 (Lampiran 6).5 untuk isolasi dimaksudkan untuk memberikan kondisi asam yang menyerupai kondisi dalam saluran pencernaan ayam yang rata rata berkisar pada pH 4. Media yang digunakan untuk isolasi adalah media nutrient agar (NA) yang bersifat umum sehingga memungkinkan diperolehnya beragam kelompok bakteri yang terisolasi. ketika berhubungan dengan dunia luar berbagai tipe mikroba masuk ke dalam tubuh baik lewat makanan atau kontak dengan lingkungan.

28 penting bagi kehidupan yang sehat. Dimana keseimbangan itu terjadi apabila komposisinya 85% bakteri baik dan 15% bakteri jahat (Sjofjan 2009). Tingginya mikroflora yang baik dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial seperti asam lemak bebas dan zat zat asam sehingga tercipta lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri patogen. Beberapa bakteri saluran pencernaan yang baik seperti Eubacterium, Lactobacillus, dan bakteri jahat seperti Clostridium, Shigella, Veilonella terdapat di dalam saluran pencernaan ayam. Bagian saluran pencernaan yang digunakan untuk isolasi bakteri antara lain daerah duodenum, ileum dan intestinum crasum. Bakteri hasil isolasi berdasarkan bagian saluran pencernaan terlihat seperti tabel 2.[ Tabel 2 Hasil Isolasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler
Bagian Saluran Pencernaan Duodenum Ileum Intestinum crasum Jumlah pH Media Isolasi 4.5 7.0 3 8 7 8 22 24 34 38 Total 11 15 46 72

Pada tabel terlihat bakteri yang ditemukan pada duodenun sebelas isolat terdiri dari tiga isolat dari pH 4.5 dan delapan isolat dari pH 7.0. Pada bagian duodenum isolat bakteri yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan saluran pencernaan yang lain. Keadaan ini diduga berkaitan dengan letak saluran pencernaan yang dekat dengan proventriculus yang mempunyai pH<3.0 dan

disekresikannya garam empedu kedalam duodenum dari pangkreas. Duodenum berfungsi menyelenggarakan pencernaan protein dan lemak, sehingga lingkungan yang sedikit asam ditambah adanya garam empedu berfungsi untuk mengaktifkan enzim pepsinogen (Anonim 2007). Adanya bakteri yang terisolasi asal duodenum diduga bakteri itu mampu bertahan pada lingkungan asam dan garam empedu. Pada lingkungan pH yang sangat rendah (pH dibawah 3.0) umumnya bakteri akan mati tetapi sebagian bakteri ada yang mampu bertahan dengan membentuk spora sehingga pada pH 4.5 bakteri itu mulai tumbuh kembali dan berkolonisasi, ini terlihat pada pH 4.5 diperoleh tiga isolat sementara pada pH 7.0 diperoleh delapan isolat.

29 Ileum merupakan bagian usus kecil yang berfungsi sebagai tempat penyerapan zat makanan (Anonim 2007). Diduga dengan pH yang hampir sama dengan doudenum dan tidak disekresikannya garam empedu pada saluran ini menyebabkan bakteri yang mengalami kolonisasi lebih banyak dibandingkan pada duodenum. Dinding ileum berbentuk jonjot jonjot sesuai dengan fungsinya sebagai tempat penyerapan zat makanan. Kondisi pH pada ileum dipengaruhi oleh zat zat dari luar tubuh, dan zat sekretori yang dihasilkan dinding saluran pencernaan, serta letaknya yang jauh dari proventriculus membuat pH pada saluran ini tidak terlalu asam. Isolat bakteri yang diperoleh pada bagian saluran pencernaan ini ada 15 isolat yang terdiri dari tujuh isolat yang tumbuh pada pH 4.5 dan delapan isolat yang tumbuh pada pH 7.0. Intestinum crasum atau usus besar merupakan bagian saluran pencernaan paling ujung, dekat dengan kloaka. Banyaknya isolat bakteri ditemukan pada bagian saluran pencernaan ini adalah 46 isolat, terdiri dari 22 isolat pada pH 4.5 dan 24 isolat pada pH 7.0. Intestinum crasum fungsinya tempat mencerna sisa pencernaan oleh miroorganisme menjadi feses dan tempat penyimpanan sisa pencernaan (Anonim 2007). Berdasarkan fungsi yang demikian menyebabkan banyak mikroorganisme mampu berkolonisasi di tempat ini, didukung pula dengan kondisi pH yang yang sudah mendekati normal (pH 7.0) serta banyaknya sisa pencernaan yang dapat digunakan sebagai sumber energi bagi mikroba. Bakteri bakteri itu akan berkolonisasi dan membentuk mikroekosistem yang bermanfaat untuk kesehatan (Drassar dan Barrow 1985). Mikroekosistem dalam saluran pencernaan hewan monogastrik seperti ayam komponennya terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Biotik terdiri dari bermacam macam jenis mikroba baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Abiotik terdiri dari zat zat yang berasal dari bahan luar yang berupa pakan dan dari dalam tubuh (endogeneus) yaitu produk metabolisme yang harus dibuang. Mikroflora detrimental umumnya akan sangat aktif merombak zat yang terdapat dalam usus besar dan hasil akhirnya adalah metabolit yang bersifat toksik (beracun), karsinogenik (menyebabkan kanker) atau metagenik (membentuk gas metan) (Hasono 2002). Metabolit ini sering menyebabkan kerusakan mukosa usus bahkan membentuk tumor atau beberapa penyakit lain. Dalam kaitan ini bakteri

30 baik akan mendesak atau mengencerkan senyawa aktif diatas dan merubah zat toksik menjadi zat yang tidak toksik, dengan cara membuang zat zat yang akan menyusun toksik terlebih dahulu sehingga tidak dapat membentuk zat toksik. Dalam hal ini proporsi bakteri baik ditingkatkan dan bakteri jahat ditekan jumlahnya. Dengan mengkonsumsi bakteri baik (probiotik) dan menyediakan nutrisi (prebiotik) yang sesuai untuk bakteri probiotik agar dalam usus terjadi perkembangan bakteri baik lebih pesat (Karyadi 2003) sehingga pertumbuhan ayam dapat ditingkatkan. Penggunaan probiotik pada ternak unggas bertujuan memperbaiki saluran pencernaan dengan cara: (1) menekan reaksi pembentukan racun dan metabolit yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker), (2) merangsang reaksi enzim yang dapat menetralisir senyawa beracun yang tertelan atau dihasilkan oleh saluran pencernaan, (3) merangsang produksi enzim (enzim protease dan alfa-amilase) yang digunakan untuk mencerna pakan, (4) memproduksi vitamin dan zat zat yang tidak terpenuhi dalam tubuh (Seifert dan Gessler 1997). Menurut Sartika et al. (1994) penggunaan probiotik dapat memperbaiki performance ayam broiler meliputi rataan bobot hidup, konversi pakan dan menurunkan mortalitas. Pemurnian isolat bakteri asal saluran pencernaan ayam dilakukan dengan metode kwadran dengan menggunakan media yang sama dengan media isolasi yaitu nutrient agar (NA). Isolat murni yang diperoleh selanjutnya diuji ke bakteri target guna menseleksi bakteri bakteri yang mempunyai kemampuan

penghambatan terhadap patogen. Sebagai kultur induk, isolat juga disimpan dalam media penyimpanan yang disimpan pada suhu 4°C. Peremajaan Bakteri Target. EPEC K1-1, E. coli asal ayam, Salmonella enteric, dan Salmonella subsp.2 asal ayam adalah bakteri penyebab penyakit (patogen) pada manusia dan juga pada ayam, sehingga bakteri-bakteri asal saluran pencernaan ayam perlu diuji aktivitasnya terhadap keempat patogen untuk mengetahui kemampuan

penghambatannya terhadap patogen tersebut. Isolat EPEC K1-1 memiliki pertumbuhan yang sangat cepat dibandingkan E. coli umumnya, pada jam ke-3 isolat ini sudah mencapai jumlah sekitar 108 sel/ml (OD 0,32; λ= 620nm). Peremajaan EPEC K1-1 pada media NA+ampisilin 100μg/ml dimaksudkan untuk

2 asal ayam dan Salmonella enteric penyebab salmonellosis pada ayam dan manusia). 24n. Salmonella subsp. Aktivitas penghambatan terhadap EPEC K1-1 diperoleh 19 isolat. 29a. dan Salmonella subsp.[ [ Tabel 3 Aktivitas penghambatan bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap E. Coli Asal Ayam serta Salmonella subsp. EPEC K1-1.0 dan 4.2 diremajakan pada media TSA selama 24 jam (OD 1. Hasil uji antagonis langsung dari 72 isolat hasil isolasi terhadap empat bakteri target (EPEC K1-1 penyebab diare pada anak anak.5 7 1 1 1 1 5 12 17 6 13 19 pH 4. 17n. 22n. 21n. λ= 620nm).924 . coli.coli pH total 7 1 2 4 7 13 21 18 30 EPEC K1-1 pH pH total 4. 26n. 26a.31 menjaga resistensinya. Berdasarkan daerah isolasi ditemukan bakteri yang paling banyak menghambat E.5 yaitu isolat 5a. 12n. 19n. 7a. Isolat bakteri yang tumbuh pada media pH 7. Diduga karena pH saluran pencernaan ini mendekati normal sehingga banyak bakteri yang dapat berkolonisasi.0 yaitu isolat: 7n. 23n. 30a. Isolat Salmonella enteric diremajakan pada media TSA selama 24 jam (OD 1.coli pada bagian inestinum crasum.Salmonella enteric Bagian Saluran Pencernaan Duodenum Ileum Intestinum crasum pH 4. 34n. 13n. 21a.328. Terdiri dari 13 isolat yang berasal dari media pH 7. 25a.5 hampir sama banyak yang mampu menghambat E. 18n. Kemampuan Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Terhadap EPEC K1-1. 27n. E. 6a.enteric pH total 7 1 2 4 6 15 7 21 Jumlah Untuk aktivitas penghambatan terhadap E. 20n. λ=620nm).0 (17n. 27a. 9n. ditambah banyaknya nutrisi yang terdapat dalam saluran ini. 19n 20n. 24n. 21n. 20a.coli. coli diremajakan pada media NA selama 24 jam untuk mencapai jumlah sel 108 sel/ml (OD 0. coli asal ayam yang menyebabkan kolibasilosis pada ayam.2 Asal Ayam. Kemampuan penghambatan isolat hasil isolasi terhadap keempat target terlihat dalam tabel 3. 22a. λ=620nm). 28a. Terdiri dari 18 isolat yang berasal dari media pH 7.coli. Isolat E.5 1 3 8 12 E.507. . diperoleh 30 isolat yang menghasilkan zona bening disekitar koloninya. 25n.5 1 4 9 14 S. Salmonella enteric dan E. 10n. dan 12 isolat yang berasal dari media pH 4. 15n. 8n. 38n.

0. 33a. 18a. 17a. Salmonella subsp. Isolat bakteri yang mempunyai aktivitas penghambatan terhadap bakteri target diatas merupakan isolat yang potensial untuk dikembangkan menjadi probiotik dalam mengendalikan penyakit seperti salmonelosis dan kolibasilosis.0. 30a. 27a.5 lebih banyak yang mampu menghambat Salmonella enteric dibandingkan isolat yang tumbuh pada pH 7. 25n. Berdasarkan asal isolat maka bakteri yang mampu menghambat EPEC K1-1 banyak berasal dari intestunum crassum. 25n. dengan permukaan yang rata dan yang seperti kawah. 21n. Morfologi sel secara mikroskopis menunjukkan bentuk kokus 11 isolat yaitu isolat 17n. bagian intestinum crasum diperoleh isolat bakteri lebih banyak karena bagian saluran ini mempunyai suhu. 28a. 5a. 27n. dan nutrisi yang sesuai bagi mikroorganisme. 7a. 33a. 30a.5 yaitu isolat 2a. 4a. 17n. Berdasarkan asal daerah isolasi.5 (25a. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric diperoleh 21 isolat yang terdiri dari tujuh isolat berasal dari media pH 7. 31a. Identifikasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Untuk memilih bakteri sebagai isolat terpilih dilakukan uji lanjut. .6-9. Untuk itu dipilih bakteri dengan aktivitas penghambatan yang bagus sebagai calon isolat terpilih. 32a. Dimana isolat isolat yang mempunyai aktivitas bagus terlebih dahulu diidentifikasi. pH. 35n) dan 6 isolat yang tumbuh pada media pH 4.5 aktivitas penghambatan juga lebih banyak. 29a.2 asal ayam dan Salmonella enteric. 28n. 5a. 37n dan 14 isolat berasal dari media pH 4. 29a. Pada bagian duodenum dan ileum masih ditemui bakteri dalam jumlah yang sangat sedikit. Morfologi koloni dan bentuk sel diobservasi secara mikroskopis terhadap 19 isolat yang mempunyai aktivitas penghambatan yang bagus terhadap EPEC K1-1. coli asal ayam. 4a. 27n. 22a. sehingga pada pH 4. Ini diduga karena Salmonella dapat tumbuh pada pH 3. Pinggiran koloni ditemukan ada yang bergerigi dan ada yang licin. 26n. 34a). 11a. Ini mengindikasikan bahwa bakteri bakteri yang tumbuh pada lingkungan netral banyak yang dapat menghambat pertumbuhan EPEC K1-1. 16n. 34n.0 yaitu isolat 15n. 2a. 28n. 8n.5. E. 17a. 30a dan bentuk basil (batang) 8 isolat yaitu isolat 7n. 16a. 11a.32 25n. sedangkan bakteri yang tumbuh pada lingkungan asam tidak sebanyak pada pH 7. 18a. 27n. 17n. 22a. 7a. 16a. Isolat bakteri yang tumbuh pada pH 4.

Priadi 2005). (a) (b) Gambar 4 Hasil pewarnaan Gram a (isolat 7n) diisolasi dari jejenum. pori pori mengecil. Gram positif dan non patogen dapat dipilih sebagai probiotik (Panigraphy. Pada perlakuan dengan etanol . Gram positif dapat dilihat dari warna sel yang ungu. permeabilitas berkurang dan zat warna kristal ungu tidak dapat terekstraksi dan terperangkap di dalam dinding sel. Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh 5 isolat yang tergolong bentuk batang dan Gram positif yaitu isolat 7n. Kandungan lipid pada dinding selnya rendah. Terbentuknya warna ungu karena komponen utama penyusun dinding sel bakteri Gram positif adalah peptidoglikan. (a) (b) Gambar 5 Hasil pewarnaan Gram a (isolat 27n) b (isolat 34n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler berbentuk batang gram positif (perbesaran 40 x 100). Bakteri Gram negatif memiliki peptidoglikan yang tipis dan mengandung lipid. 8n.33 Bakteri yang berbentuk batang. sehingga pada waktu diberikan etanol dinding sel Gram positif terdehidrasi. 27n. (isolat 25n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler berbentuk batang (perbesaran 40 x 100). Natalia. dan 34n (Gambar 4 dan 5). sehingga mampu mengikat warna kristal ungu. lemak dalam persentase yang lebih tinggi. Ling 1990. 25n.

34 (alkohol) menyebabkan terekstraksinya lipid sehingga pori pori pada peptidoglikan cukup besar memperbesar daya rembes atau permiabilitas dinding sel. dan 34n memiliki endospora sementara isolat 8n tidak berspora. Sel vegetatif endospora endospora Sel vegetatif (a) (b) Gambar 6 Hasil pewarnaan spora (isolat 7n). 27n. merupakan warna dari safranin (Pelzar dan Chan 1986) Bakteri berbentuk batang dan Gram positif selanjutnya diteliti kemampuannya dalam membentuk spora dan letak sporanya dengan pewarnaan spora (Gambar 6 dan 7). Bakteri ini akan kehilangan warna ungu kristal. Sehingga kompleks ungu kristal-yodium yang telah memasuki dinding sel selama langkah awal pewarnaan dapat diekstraksi. (b) isolat 34n diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler (perbesaran 40 x 100) Hasil pewarnaan spora pada bakteri Gram positif menunjukkan bahwa isolat 7n. Spora merupakan bentuk . Bakteri yang berspora ini diambil sebagai isolat bakteri terpilih. b (isolat 25n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler (perbesaran 40 x 100) Sel vegetatif endospora endospora Sel vegetatif (a) (b) Gambar 7 Hasil pewarnaan spora (a) isolat 27n. 25n. Warna bakteri Gram negatif akan terlihat merah muda. Ketika diberi warna safranin maka warna ini akan diserap.

Lima-sepuluh persen berat kering endospora adalah asam dipikolinat. Hasil uji katalase terhadap 4 (empat) isolat terpilih yang ditumbuhkan pada media nutrient agar yang diinkubasi selama 24 jam menunjukkan adanya gelembung gelembung putih (gas oksigen) setelah koloni bakteri ditetesi larutan H2O2 3%. hanya saja Bacillus bersifat aerob/anaerob fakultatif. 25n. Bakteri yang memiliki endospora biasanya dari kelompok Bacillus dan Clostridium. suhu tinggi atau rendah. 34n Isolat 7n 25n 27n 34n Uji Katalase (+/-) + + + + Katalase adalah suatu enzim yang dapat ditemukan dalam sebagian besar bakteri. 27n. 34n terletak didalam (endospora). Keempat isolat bakteri terpilih tersebut digolongkan pada bakteri katalase positif (Tabel 4). Spora sangat resisten terhadap beragam kondisi fisik yang kurang menguntungkan seperti suhu tinggi dan kekeringan serta terhadap bahan kimia. 25n. 27n. Untuk menentukan golongan apa isolat bakteri terpilih dilakukan uji katalase. Spora bakteri dapat bertahan misalnya pada lingkungan pH rendah (asam). Pada kondisi yang sesuai akan berkecambah dan menghasilkan sel yang sama seperti asalnya.35 adaptasi sel terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Clostridium bersifat anaerob. 27n dan 34n di bagian dekat ujung (sub terminal) dan isolat 25n bagian tengah (sentral). Spora yang terdapat pada isolat 7n. Letak endoporanya isolat 7n. Endospora bakteri mengandung sejumlah asam dipikolinat yaitu suatu substansi yang tidak terdeteksi pada sel sel vegetatif. Bakteri katalase positif akan menghasilkan gas oksigen sebagai hasil reaksi penguraian hidrogen peroksida oleh enzim katalase dan membebaskan gas oksigen dan molekul air sesuai reaksi berikut: 2H2O2 + katalase  2H2O2 + O2 . Tabel 4 Hasil uji katalase isolat 7n. sehingga diduga lapisan korteks endospora terdiri dari kompleks Ca2+-asam dipikolinat-peptidoglikan. Sejumlah kalsium juga terdapat dalam endospora.

maka enzim katalase akan sangat penting peranannya dalam menguraikan zat yang bersifat racun bagi sel menjadi molekul air dan oksigen yang tidak bersifat racun bagi sel. Gram positif. Ciri ciri Bacillus menurut Gordon (1989) sel vegetatif berbentuk batang. menghasilkan endospora berbentuk oval serta bersifat katalase positif. Keempat isolat terpilih (7n. Pada kondisi cekaman lingkungan. sel-selnya menghasilkan endospora berbentuk oval yang dapat bertahan dalam periode yang lama. 25n. dan termasuk spesies yang hidup bebas atau bersifat patogen. 27n. dan 34n berbentuk batang.36 Hidrogen peroksida (H2O2) diproduksi oleh enzim pernafasan yang bersifat racun bagi organisme yang memproduksinya. 27n. Bacillus adalah salah satu genus bakteri yang berbentuk batang dengan tingkatan takson sebagai berikut: Kingdom: Bacteria Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Firmicutes : Bacilli : Bacillales : Bacillaceae : Bacillus Didapatkannya bakteri dari kelompok Bacillus ini merupakan hal yang positif karena bakteri ini secara alami terdapat di mana-mana. Didalam saluran pencernaan ternak secara umum jumlah bakteri anaerobik lebih besar di banding bakteri anaerobik fakultatif dengan perbandingan 1000:1 (Utomo 2002). Bacillus lebih adaptif terhadap perubahan . sehingga mudah pula mengadakan kolonisasi untuk membentuk mikroekosistem yang bermanfaat untuk kesehatan. membentuk endospora. 34n) diduga bersifat anaerob fakultatif karena bersifat katalase positif dan terdapat dalam saluran pencernaan ayam yang tidak ada oksigen. dan bersifat katalase positif. Didapatkannya bakteri anaerob fakultatif merupakan hal yang sangat menguntungkan karena dapat diproduksi dengan mudah untuk digunakan sebagai probiotik. 25n. isolat tersebut dapat digolongkan kedalam genus Bacillus. Berdasarkan ciri ciri yang dimiliki dan mengacu pada Bergeys Manual of Determinative Bacteriology (Krieg dan Holt 1984) bahwa isolat 7n.

(Madigan et al. Jin et al. Salmonella enteric. air 8. Tabel 5 Hasil uji penghambatan ekstrak kasar isolat 7n. Kontrol tidak ada zona yang dihasilkan.2. sementara isolat 7n (14mm) dan isolat 34n zona (9mm) yang dihasilkan lebih kecil. jika lingkungan menguntungkan spora berkembang kembali menjadi sel vegetatif.002%. EPEC K1-1. coli isolat 25n dan 27n (23mm) menghasilkan zona yang lebih terang dan hampir sama besar. 25n dan 34n. Menurut Haddadin et al.enteric Salmonella subsp 2 14 23 9 23 14 19 23 14 14 9 9 2 Dari tabel terlihat bahwa keempat isolat terpilih mampu menghambat empat bakteri target. dan Salmonella subsp. 25n.3%. coli. Sementara untuk kontrol ditetesi media NB steril ternyata tidak ada zona yang dihasilkan setelah diantagonis dengan EPEC K1-1. Salmonella enteric. E. . (1996) hasil analisa proksimat Bacillus spp. Salmonella subsp. Pada gambar (8a) terlihat zona bening yang dihasilkan oleh keempat isolat dalam menghambat EPEC K1-1.78% serta serat kasar 0. Enteric diikuti isolat 27n.37 lingkungan. 34n terhadap EPEC K1-1.2 terlihat pada tabel 5. dan Salmonella subsp. E. 27n. Pada gambar (8b) uji antagonis dengan E. Salmonella enteric dengan Metode Kirby-Bauer Hasil esei antagonis filtrat kultur (ekstrak kasar) isolat terpilih (7n.23 %. abu 0. Bakteri kelompok asam laktat tidak ditemukan dalam isolasi ini. Isolat 7n merupakan isolat terbaik dalam menghambat EPEC K1-1 dan S. karena dalam isolasi tidak menggunakan medium spesifik untuk bakteri asam laktat. coli. 2003).10%. Esei Antagonis Isolat Terpilih terhadap Pertumbuhan E. 34n) terhadap EPEC K1-1. coli. kering mengandung protein 11.coli S.2 [ Isolat 7n 25n 27n 34n EPEC K1-1 24 14 19 6 Diameter Penghambatan (mm) E. (1996). Isolat 7n (24mm) dan 27n (19mm) diikuti isolat 25n (14mm) dan 34n (6mm). lemak 0. 27n. 25n. Aktivitas penghambatan ditandai dengan adanya zona bening disekitar cakram kertas Ф 8mm (Gambar 8 dan 9).

coli. (b) E.coli dengan kualitas yang berbeda. Ini diduga ada hubungannya dengan efek bakteriostatik dan bakterisida. 7n 25n 34n 27n k 25n 34n k 7n 27n (a) (b) Gambar 9 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap bakteri target (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp.38 [[ [[ 7n 27n 27n 34n 34n k k 25n 25n (a) 7n (b) Gambar 8 Aktivitas penghambatan isolat terpilih terhadap bakteri target (a) EPEC K1-1. Daya antibakteri isolat 7n dan 27n terhadap EPEC K1-1 besar tetapi kurang terang dan zona yang dihasilkan terhadap E. coli lebih kecil tetapi terang. Ф cakram kertas 8mm .coli Ф cakram kertas 8mm Adanya zona disekitar cakram kertas mengindikasikan bahwa filtrat kultur dari keempat isolat mengandung senyawa anti bakteri yang mampu menghambat EPEC K1-1 dan E.2. Dari gambar (9a) menunjukkan isolat 7n mempunyai aktivitas penghambatan yang paling bagus terhadap Salmonella enteric. Daya anti bakteri dari keempat isolat tidak sama dalam menghambat kedua bakteri target. Metabolit yang dihasilkan isolat 7n dan 27n mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan EPEC K1-1 dan E.

Senyawa aktif yang dihasilkan isolat 7n. Untuk isolat 34n aktifitas penghambatan se lebih rendah dibandingkan filtrat kultur. Hal ini kemungkinan dikarenakan kecepatan dan jenis metabolit yang dihasilkan antar isolat berbeda. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella subsp. 27n.2.coli sel filtrat Hasil uji antagonis sel isolat 7n. Semakin besar dan terang zona bening yang dihasilkan mengindikasikan kekuatannya semakin kuat. Gambar 10 menunjukkan perbandingan aktivitas penghambatan antara sel langsung dan filtrat kultur. dengan E. 25n. 27n. 35 30 Zona bening (mm) 25 20 15 10 5 0 7n 25n Isolat 27n 34n Gambar 10 Perbandingan aktivitas penghambatan antara sel dan filtrat kultur dari isolat 7n. Rendahnya aktivitas filtrat kultur kemungkinan terjadi karena konsentrasi senyawa aktif dalam filtrat kultur (15µl) tidak cukup kuat menghambat bakteri target dibandingkan senyawa antibakteri yang dihasilkan sel secara langsung. asal ayam seperti pada gambar (9b) menunjukkan bahwa aktivitas tertinggi dimiliki isolat 25n (19mm) diikuti isolat 27n (14mm) . 25n. Menurut Sudirman (1997) satu spesies mikroba dapat . 34n terhadap E. isolat 7n (9mm) dan 34n (2mm).memiliki kekuatan penghambatan beragam tergantung bakteri patogennya.coli memperlihatkan aktivitas penghambatan sel lebih besar dibanding filtrat kulturnya.2.39 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n (23mm) diikuti oleh isolat 27n (14mm) dan 25n (14mm). Isolat 34n memiliki aktivitas penghambatan filtrat kultur lebih tinggi dari sel. sementara isolat 34n (9mm). 25n. Kekuatan penghambatan dapat dilihat dari zona yang dihasilkan. dan 27n untuk menghambat pertumbuhan Salmonella enteric dan Salmonella subsp.

Ini merupakan konsep penting bagi kesehatan hewan/manusia karena pencegahan kolonisasi mikroba patogen seperti Salmonella dan E. Menurut Barrow (1992) Bacillus tidak umum ditemukan pada saluran pencernaan tetapi mempunyai kemampuan untuk mengendalikan bakteri patogen (competitive exclusion). 27n. 34n akan lebih bagus apabila digunakan secara bersama sama karena kemampuannya dalam menghambat keempat patogen tidak sama. 25n. suhu inkubasi. 25n. terbukti dengan adanya kemampuan filtrat kultur yang mampu menghambat pertumbuhan empat bakteri target. Aktivitas penghambatan ke empat isolat terpilih pada media de Mann Rogosa Sharpe (MRS) dan media Tripton Glucosa Yeast ekstract (TGY) berbeda dan dipengaruhi oleh perlakuan agitasi (100 rpm) dan tanpa agitasi (Gambar 11 dan 12). 34n perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum yang harus diperhatikan dalam proses produksi. Optimasi dilakukan terhadap media. Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif Optimasi dalam menghasilkan senyawa bioaktif dari isolat 7n. dan pH inkubasi.40 menghasilkan banyak antimikrob dan banyak mikrob yang berbeda dapat menghasilkan jenis antimikrob yang sama. Dipilihnya media MRS dan TGY yang memiliki kandungan nutrisi yang berbeda (Lampiran 1) karena kedua media tersebut dapat ditumbuhi keempat isolat bakteri terpilih. Bacillus subtilis di dalam saluran pencernaan dapat berfungsi untuk pengontrolan bakteri patogen. dan Salmonella subsp. E. coli asal ayam. 27n. yang dihasilkan secara ekstraseluler. Keempat isolat uji dapat menghasilkan senyawa antibakteri. diharapkan dapat dipergunakan untuk membantu penanggulangan salmonelosis dan kolibasililosis pada ayam secara in vivo. 25n. Kandungan media MRS memiliki lebih banyak mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri dibandingkan media TGY. Optimasi Media. Kemampuan keempat isolat (7n. . 27n. aerasi.2. Salmonella enteric. 34n) dalam menghambat pertumbuhan EPEC K1-1. Aktivitas isolat 7n. asal ayam. coli adalah kunci dalam lingkungan saluran pencernaan ayam akan dapat memperbaiki pertumbuhan. waktu produksi.

ini diduga karena isolat 7n. 25n pada MRS yang diagitasi terhadap pertumbuhan pertumbuhan E. coli. Keempat isolat dalam untuk menghasilkan kemampuan menunjukkan penghambatan beragam tergantung pada jenis media dan perlakukan agitasi (Gambar 11 dan gambar 12). Dalam produksi senyawa aktif keempat isolat terpilih menunjukkan ada isolat yang memerlukan agitasi dan ada yang kurang senyawa antibakteri. temperatur dan sebagainya. Sistem agitasi memungkinkan distribusi tersebut dengan meniadakan gradien konsentrasi seperti unsur media. coli asal ayam 7n 25n 27n 34n Pada gambar (11b) aktivitas penghambatan tertinggi dimiliki isolat 7n pada media TGY yang diagitasi dan isolat 27n. Pada gambar (11a) terlihat aktivitas tertinggi antagonis dengan EPEC K1-1 oleh isolat 7n diikuti isolat 27n dan 25n pada media MRS tanpa agitasi. 25n dan 27n berasal dari saluran pencernaan yang mikrolingkungannya kurang oksigen sehingga isolat tersebut dapat tumbuh dengan baik pada kondisi pertumbuhan tanpa diagitasi (terdapat keterbatasan oksigen).41 Perlakuan agitasi dan tidak diagitasi untuk melihat homogenitas media maupun mikroorganisme. Selain itu agitasi juga berfungsi memecah gelembung udara besar menjadi gelembung yang lebih kecil untuk menambah area permukaan gas dan membantu mentransfer oksigen ke dalam biakan serta menyebarkan oksigen pada pertumbuhan aerob. Hal ini mengindikasikan bahwa produksi senyawa antibakteri dari keempat isolat tersebut dapat diproduksi dengan . pH. 35 30 Zona bening (mm) Zona bening (mm) 35 30 25 20 15 10 5 0 25 20 15 10 5 0 TA T an MA M an Perlakuan TA T an MA M an Perlakuan (a) (b) Gambar 11 Aktivitas penghambatan isolat terpilih terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E.

27n. Pada gambar (12b) aktivitas penghambatan terhadap Salmonella subsp. Hasil optimasi media menunjukkan bahwa isolat 7n. ini diduga karena keterbatasan aerasi (oksigen) pada kondisi pertumbuhan tersebut . coli dipengaruhi oleh jenis media dan aerasi. Isolat 34n mempunyai aktivitas yang sangat kecil pada media MRS yang tidak diagitasi. 35 30 Zona bening (mm) 35 30 Zona bening (mm) 25 20 15 10 5 0 25 20 15 10 5 0 TA T an MA M an TA T an MA M an Perlakuan Perlakuan (a) (b) Gambar 12 Aktivitas penghambatan isolat terpilih terhadap (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp. 34n yang ditumbuhkan pada media MRS dan TGY dapat menghasilkan aktivitas penghambatan dengan .42 baik pada kondisi pertumbuhan yang diaerasi dan nutrisi yang cukup.2. Kemampuan penghambatan isolat terpilih terhadap EPEC K1-1 dan E. ini dapat sama karena isolat yang menghambat Salmonella enteric dan Salmonella subsp. Isolat 34n menghasilkan aktivitas sangat kecil pada media MRS yang tidak diagitasi. Media produksi terbaik dari hasil optimasi akan digunakan sebagai dasar untuk membuat media modifikasi dengan mengganti beberapa bahan dengan yang lebih murah dan mudah didapat seperti molase dan tepung kedelai.2 atau sebaliknya. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa senyawa antibakteri yang dihasilkan kemungkinan berbeda. Berbeda karena ada beberapa isolat yang dapat menghambat Salmonella enteric tetapi tidak dapat menghambat Salmonella subsp. Hal ini diduga bahwa senyawa penghambat Salmonella enteric dan Salmonella sub sp 2. paling baik oleh isolat 25n diikuti isolat 27n dan 34n kemudian 7n pada media TGY tanpa diagitasi.2 yang tertinggi pada isolat yang sama. 25n.2 asal ayam 7n 25n 27n 34n [ Dari gambar (12a) aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric tertinggi berturut-turut dimiliki isolat 25n dan 27n yang ditumbuhkan pada media TGY yang tidak di agitasi.

hasilnya menunjukkan bahwa keempat isolat yang ditumbuhkan pada media modifikasi masih mempunyai aktivitasnya tetapi tidak sebesar kalau ditumbuhkan pada media MRS/TGY. Fardiaz 1989). Pada dasarnya semua . Mikroorganisme heterotrof untuk menghasilkan energi memanfaatkan senyawa karbon organik sebagai sumber energi utama. Molase merupakan hasil samping dari proses pembuatan gula tebu yang masih mengandung kadar gula sekitar 48-58 % (Novita 2001).1% nitrogen (Sukmadi 1996) diacu dalam (Suryanti 1998). dan Salmonella sub sp 2. coli asal ayam. E. 25n. mineral (unsur makro dan mikro).9% protein. 19-20% lemak dan 6. dan oksigen. sukrosa. 27n.43 kondisi pertumbuhan yang memerlukan agitasi dan ada yang tidak. isolat 7n. 25n. Tepung kedelai dapat digunakan sebagai sumber nitrogen bagi pertumbuhan bakteri karena mengandung 42. Isolat 7n. Salmonella enteric. nitrogen. asal ayam. 27n. dan faktor nutrisi yaitu karbon. dan vitamin (Stainer et al. dan 34n dapat dengan mudah diproduksi pada media yang mengandung molase dan tepung kedelai hanya saja aktivitas agak rendah. Media MRS dan TGY modifikasi molase-kedelai adalah media yang menggunakan komposisi MRS dan TGY dengan mengganti sumber karbon dengan molase. Hal ini diduga karena media MRS dan TGY menggunakan dekstrosa dan kasein sebagai sumber karbon dan nitrogen untuk penghasil ATP yang mudah diserap sel. sumber nitrogen dengan tepung kedelai dan urea. Penggunaan molase sebagai sumber karbon dapat digunakan karena mengandung beberapa gula sederhana seperti glukosa. fruktosa dan gula pereduksi yang lain dengan kandungan yang paling tinggi adalah sukrosa. karena mudah larut dalam air serta molekulnya sederhana. pH. Hanya saja penggunaan molase sebagai sumber ATP perlu waktu untuk adaptasi. Senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh setiap isolat terpilih kemungkinan dapat lebih dari satu mengingat kondisi yang dibutuhkan juga bebeda beda. sumber pospor dengan TSP. Pada kondisi media tersebut maka butuh waktu untuk menguraikan protein supaya bisa dimanfaatkan oleh keempat bakteri tersebut. 1976. Pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu. Setelah diuji aktivitas penghambatannya terhadap EPEC K1-1.

44 mikrooganisme memerlukan karbon sebagai sumber energi untuk aktivitasnya dan pembentukan material sel-sel bakteri untuk prertumbuhan. Penggunaan mikroba sebagai probiotik akan bersifat ekonomis kalau dapat ditumbuhkan dengan baik pada sumber karbon dan nitrogen yang mudah didapat dan berharga murah seperti molase dan tepung kedelai. pada umumnya digunakan sumber karbon lain seperti molase. 2005). 2000). Kemampuan molase sebagai sumber karbon menguntungkan karena molase merupakan hasil ampas tebu sehingga tidak terlalu mahal dan mengandung zat pengaya seperti vitamin. Penggunaan sumber karbon yang cepat digunakan dapat mengurangi produksi metabolit sekunder. Kelompok bakteri yang tidak mengandung klorofil memerlukan senyawa organik sebagai sumber karbon dan senyawa yang diperlukan tergantung jenis bakteri. Rasio C:N yang rendah (kandungan unsur N yang tinggi) akan meningkatkan emisi dari nitrogen sebagai amonium yang dapat menghalangi perkembangbiakan bakteri. Unsur P berperan dalam pembentukan asam nukleat dan fosfolipid. Sedangkan rasio C:N yang tinggi (kandungan unsur N yang relatif rendah) mengakibatkan nitrogen akan menjadi faktor penghambat (growth-rate limiting factor) (Alexander 1994). Walaupun karbohidrat dapat dipergunakan sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan. protein dan urea. Kelompok selulolitik dapat memanfaatkan selulosa. Namun. Kebutuhan sumber karbon untuk pertumbuhan bakteri tergantung pada jenis bakteri. . Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasio C:N:P optimum adalah 100:10:1 (Shewfelt et al. N. sedangkan amilolitik memanfaatkan pati (Fardiaz 1989). oleh karena itu untuk produksi sel. Ketiga unsur ini harus ada dalam rasio yang tepat agar tercapai pertumbuhan bakteri yang optimal karena unsur C. produksi sel yang paling baik diperoleh dari sumber karbon sederhana seperti glukosa. Sumber nitrogen dapat dalam bentuk anorganik dalam bentuk garam garam amonium dan organik dalam bentuk asam amino. dan P merupakan tiga nutrisi utama (makronutrien) yang dibutuhkan oleh bakteri dalam melakukan metabolism sel untuk menghasilkan senyawa-senyawa. asam amino dan enzim enzim. penggunaan glukosa memerlukan biaya tinggi. Begitu juga kedelai merupakan hasil pertanian yang banyak di Indonesia. reproduksi dan pembentukan produk (Prescott et al. Nitrogen berperan dalam penyusunan asam nukleat.

34n (16mm). 25n (26mm). selanjutnya pertambahan zona bening yang dihasilkan pada waktu inkubasi 72 jam dan 96 jam tidak seimbang dengan efisiensi waktu dan efisiensi substrat yang digunakan. 35 30 Z o n a b e n in g (m m ) Z o na bening (m m ) 35 30 25 20 15 10 5 0 25 20 15 10 5 0 24 48 72 96 24 48 72 96 Waktu inkubasi (jam) Waktu inkubasi (jam) (a) (b) Gambar 13 Hubungan lama inkubasi dengan aktivitas penghambatan terhadap E. 34n (23mm).coli (a) filtrat kultur (b) sel 7n 25n 27n 34n Untuk aktivitas penghambatan yang dihasilkan oleh filtrat kultur waktu inkubasi optimum adalah 48 jam. waktu inkubasi jam ke-48 aktivitas penghambatan oleh isolat 7n sudah mencapai 27mm. Pada gambar 13 (a) terlihat aktivitas penghambatan ekstrak kasar keempat isolat terlihat waktu inkubasi jam ke-24 belum ada aktivitas. dan 27n (18mm). 25n (26mm). Pada waktu inkubasi jam ke-96 isolat 25n aktivitas bertambah mencapai 27mm sementara isolat lainnya mengalami pertambahan aktivitas sedikit. dimana aktivitas hampir sama sehingga waktu inkubasi untuk sel yang terbaik . 36 jam. Pada waktu inkubasi jam ke-72 aktivitas penghambatan oleh isolat 7n bertambah mencapai 30mm dan untuk tiga isolat lainnya aktivitas menurun. Waktu produksi terbaik terbaik adalah jam ke-48 (Gambar 13). 24 jam. Aktivitas penghambatan yang dilakukan sel pada waktu inkubasi jam ke-72 dan jam ke 96 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. dan 27n (18mm). Pada gambar 13 (b) aktivitas penghambatan sel keempat isolat pada waktu inkubasi jam ke-24 belum ada aktivitas. 48 jam dan 72 jam) untuk mendapatkan aktivitas tertinggi berdasarkan parameter zona bening. Waktu inkubasi jam ke-48 jam aktivitas penghambatan oleh isolat 7n sudah mencapai 30mm.45 Optimasi Waktu Produksi Hasil optimasi terhadap waktu produksi (12 jam.

2 0. Fase terakhir adalah fase kematian. Pertumbuhan Isolat Berdasarkan kurva tumbuhnya. keempat isolat menunjukkan fase lag terjadi sampai jam ke-24 dan fase log hingga jam ke. 25n. Fase ini merupakan fase dimana bakteri telah dapat beradaptasi dengan lingkungannya sehingga laju pertumbuhan bakteri menjadi sangat cepat. sesuai dengan waktu panen yaitu jam ke-48.6 OD 0.1 0 0 12 24 36 48 60 jam Gambar 14 Kurva tumbuh Isolat 7n.7 0. bakteri melakukan adaptasi pada lingkungannya. pada fase ini laju pertumbuhan negatif (lebih banyak bakteri yang mati) disebabkan semakin berkurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk metabolisme bakteri Dari grafik terlihat isolat 7n pertumbuhan sel yang paling rendah diikuti isolat 27n.46 adalah 48 jam. Terlihat bahwa produksi senyawa aktif terjadi pada akhir fase log dan awal fase stasioner.48 jam bersamaan dengan awal fase stasioner.5 0. Fase pertama (lag) pada kurva pertumbuhan adalah fase lambat. Pada fase ini. memiliki laju pertumbuhan tercepat. Akan tetapi isolat 7n mempunyai aktivitas yang penghambatan paling tinggi terhadap EPEC K1-1 dan E. Fase kematian dimulai jam ke 60 (Gambar 14). Fase yang kedua (log) adalah fase eksponensial. 27n. Diduga senyawa aktif yang dihasilkan sebagai zat antibakteri ini dihasilkan pada akhir fase eksponensial atau awal fase stationer. Laju pertumbuhan keempat bakteri pada 48 jam pertama.8 0.3 0. 1 0. coli . 25n dan yang tertinggi isolat 34n.9 0. 34n pada media NB isolat 7n isolat 25n isolat 27n isolat 34n Keempat isolat mempunyai pola pertumbuhan yang sama.4 0. Fase berikutnya adalah fase stasioner dimana laju bakteri yang mati sama dengan laju pertumbuhan bakteri yang dihasilkan oleh pembelahan sel.

dan 34n (Gambar 15 dan 16). Suhu optimum untuk menghasilkan senyawa antibakteri dalam menghambat Salmonella enteric dan Salmonella subsp. berbeda dan isolat yang . Aktivitas penghambatan tertinggi antagonis dengan E. Isolat 34n mempunyai aktivitas penghambatan tertinggi terhadap Salmonella enteric.2. 35 35 30 Zona bening (mm) Zona bening (mm) 30 25 20 15 10 5 0 25 30 37 40 o 25 20 15 10 5 0 50 25o 30o 37o Suhu ( C) o 40o 50o Suh u ( C) (a) (b) Gambar 15 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E. Waktu optimum untuk produksi senyawa antibakteri dalam menghambat pertumbuhan E. coli berbeda beda tiap isolat. Aktivitas penghambatan tertinggi terhadap Salmonella enteric terjadi pada isolat 7n diikuti 34n pada suhu 300C dan 25n. 7n 25n 27n 34n Dari hasil optimasi aktivitas penghambatan tertinggi terhadap EPEC K1-1 adalah isolat 7n. 25n. asal ayam oleh isolat 34n pada suhu 370C. Optimasi Suhu Optimasi suhu bertujuan mendapatkan suhu optimum dalam menghasilkan senyawa bioaktif oleh isolat 7n. coli mempunyai rentang suhu yang sama yaitu antara 370C hingga 500C. coli ditunjukkan oleh isolat 7n pada suhu 370C. Aktivitas penghambatan isolat terpilih terhadap EPEC K1-1 dan E. diikuti isolat 27n suhu 300C dan 500C (Gambar 16b). Dimana suhu optimum produksi senyawa antibakteri dalam menghambat EPEC K1-1 adalah suhu 500C oleh keempat isolat. 400C .47 dibanding isolat yang lain diiringi isolat 25n dan 27n. isolat 25n optimum pada suhu 400C dan isolat 34n optimum pada suhu 500C. coli. 300C. 27n pada suhu 500C (Gambar 16a). diikuti isolat 34 suhu 500C . 25n. 25 suhu 400C dan 27 suhu 370C (Gambar 15b). 27n. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella sp. Isolat 7n dan 27n optimum pada suhu 370C. diikuti 34n. 27n pada suhu 500C (Gambar 15a).

Dari hasil optimasi terhadap suhu menunjukkan bahwa kemampuan produksi senyawa antibakteri pada suhu 300C merupakan hal yang positif dimana dalam produksi dalam skala besar tidak menaikkan biaya produksi (cost) dan kemampuan produksi pada suhu 500C juga berdampak positif karena tidak akan merusak selnya ketika menggunakan alat alat yang mempunyai suhu lebih tinggi. asal ayam 370C. mampu tumbuh pada suhu lebih dari 500C dan kurang dari suhu 50C.2 asal ayam 7n 25n 27n 34n Keempat isolat mampu menghambat empat bakteri target pada rentang suhu antara 300C dan 500C dan suhu yang paling optimum untuk antagonis dengan EPEC K1-1 pada suhu 50OC. Hasil yang diperoleh menunjukkan peningkatan yang terus menerus terhadap konversi pakan dan pertambahan berat badan. . (b) Salmonella subsp. dan mampu menghasilkan spora. coli suhu 370C. Diduga senyawa yang dihasilkan juga oleh isolat ini juga berbeda. Percobaan yang dilakukan di Brazil dan USA membuktikan bahwa performance broiler dapat ditingkatkan dengan menggunakan bakteri tunggal strain Bacillus subtilis sepanjang periode produksinya.2 E. Bacillus subtilis toleran terhadap panas telah dicobakan pada pakan ayam broiler di beberapa negara. Salmonella enteric 300C. 35 30 Zo na bening (mm) 35 30 25 20 15 10 5 0 Z ona bening(mm) 25 20 15 10 5 0 25 30 37 Suhu ( C) o 40 50 25 30 37 Suhu ( C) o 40 50 (a) (b) Gambar 16 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) Salmonella enteric. Komplang (2000) menyatakan bahwa Bacillus spp. Salmonella subsp.48 menghambatnya juga berbeda.

coli. 25n.0 dan pH 5.0 .0 diikuti isolat isolat 34n pada pH 6. dan dapat memberikan penghambatan pada pH 6.0. Dalam aplikasinya dilapang menunjukkan bahwa senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh isolat 7n.0. 27n.0. Barrow (1963) menyatakan bahwa perubahan pH dapat menyebabkan perubahan aktivitas antimikroba hingga menjadi tidak aktif. 9.0 merupakan pH optimum untuk menghasilkan aktivitas penghambatan untuk isolat 7n. Dalam produksi senyawa antibakteri ini.0.0 untuk semua isolat. isolat 7n pada pH 7.49 Optimasi pH Hasil optimasi pH menunjukkan bahwa isolat 7n.0. 25n dan 27n akan aktif bekerja pada saluran ternak yang mempuntai pH alkali seperti usus besar. untuk isolat 34n menghasilkan aktivitas penghambatan pada pH 9.0 sehingga bakteri bakteri terpilih ini dapat menghasilkan senyawa aktif untuk menghambat EPEC K1-1 dan E. Dari gambar 17a terlihat bahwa aktivitas penghambatan tertinggi terhadap EPEC K1-1 oleh isolat 27n pada pH 8. pH inkubasi dapat diatur hingga 8. pada pH 4. 34n mampu menghambat EPEC K1-1 pada pH yang bersifat alkali (Gambar 17).0 diikuti isolat 27n pada pH 4.0 dikuti isolat dan isolat 25n pada pH 7. Aktivitas tertinggi diperlihatkan oleh isolat 25n. 25n.0 tetapi tidak terlalu besar 35 Z o n a b en in g (m m ) 30 Z o n a b en in g (m m ) 35 30 25 20 15 10 5 0 3 4 5 6 pH 7 8 9 25 20 15 10 5 0 3 4 5 6 pH 7 8 9 (a) (b) Gambar 17 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E. coli 7n 25n 27n 34n Dari kedua bakteri patogen diatas ternyata aktivitas penghambatan akan lebih baik apabila isolat terpilih ditumbuhkan pada pH 8. 27n. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric terjadi pada pH 4. Antagonis dengan E. coli (Gambar 17b) menunjukkan bahwa pH 8. 7.0 dan pH 8.0 dan isolat 7n dan 34n pada pH 5.

0 dan diikuti oleh isolat 34n (21. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella subsp. 35 Z o n a b e n in g (m m ) 35 Z o n a b e n i n g (m m ) 30 25 20 15 10 5 0 3 4 5 6 pH 7 8 9 30 25 20 15 10 5 0 3 4 5 6 pH 7 8 9 Gambar 18 (a) (b) Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp. media TGY modifikasi.0 diikuti isolat 34n dan isolat 7n pada pH 9.0. suhu 370 dan pH 8. coli asal ayam yang terbesar diperlihatkan isolat 7n (13. 7n. Keempat isolat diatas mempunyai aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric pada pH 4 dan 5.0.2. 27n. tanpa agitasi. dan 7n. pH 7. pH 6. 25n.0 diikuti oleh isolat 34n (12mm). suhu 500C.0 diikuti oleh isolat 27n pada pH 7.2 memerlukan kondisi alkali. Ini memberikan informasi bahwa senyawa aktif yang dihasilkan oleh keempat isolat untuk menghambat Salmonella enteric memerlukan kondisi yang asam. Pada pH 9. Dari hasil optimasi media.875mm). asal ayam . diikuti 34n. suhu dan pH terlihat bahwa aktifitas hambatan terhadap EPEC K1-1 yang terbesar diperlihatkan oleh isolat 7n (23mm). tanpa agitasi. media TGY modifikasi tanpa agitasi. Pada Salmonella enteric aktivitas hambatan yang terbesar diperlihatkan oleh isolat 7n pada media MRS modifikasi (18.2.5mm) media MRS modifikasi. media MRS modifikasi.0 (Gambar 18b). Untuk penghambatan terhadap Salmonella subsp.0. Berdasarkan data ini diperkirakan senyawa yang dihasilkan keempat isolat dalam menghambat pertumbuhan kedua patogen adalah senyawa yang berbeda. pH 8.50 (Gambar 18a).0. 7n 25n 27n 34n Isolat terbaik dalam menghambat Salmonella enteric adalah isolat 25n. tanpa agitasi. . isolat yang paling baik pertumbuhannya adalah 34n pada pH 9. suhu 500C.2 oleh isolat 27n pada pH 7. Aktivitas hambatan terhadap E.5mm). Dan untuk menghambat Salmonella subsp. tanpa agitasi. suhu 500C. suhu 370C.

Sebaliknya. 25n. suhu 370C. suhu 300C.4-glikogen dan poliglukosa lainnya.50 Indeks proteolitik 1. 27n. 2001). 25n.25mm). tanpa agitasi. dan proteinase (Torkar & Matijasic 2003).67 0.0.00 1. Protease.suhu 30 C pH 5. Pada awal perlakuan terjadi penurunan berat molekul pati secara cepat akibat dari pewarnaan iodine. Degradasi yang terjadi pada pati diketahui dengan hilangnya material yang terwarnai oleh iodine. Bakteri dari genus Bacillus dapat memproduksi zat antimikrob berupa bakteriosin (Irina et al.2 asal ayam aktifitas hambatan terbesar pada isolat 34n pada media TGY modifikasi. protease.50 1.25 Indeks lipolitik 1. β-amilase mampu mengkatalisis secara exolitik dan [ mendegradasi pati dengan cara memecah maltosa dari ujung rantai pati. suhu 500C.0 diikuti oleh isolat 27n pada media MRS modifikasi. Tabel 6 Indeks amilolitik. 34n mempunyai aktivitas amilolitik berdasarkan adanya zona bening pada media yang berwarna biru (Gambar 19a).51 pH 5.25mm) dan pada media MRS modifikasi.75 0 Isolat 7n.08 1. tanpa agitasi.0 diikuti oleh isolat 25n (14.50 0. tanpa agitasi.0. 27n. pH 7.00 0.00 1. lipase.25 0. pH4. antibiotik.25 0.50 1. untuk mendeteksi adanya enzim α amilase yang berfungsi menghidrolisis α-1. Aktivitas Amilase. Produk akhir yang utama dari degradasi ini adalah oligosakarida dengan berat molekul yang rendah seperti glukosa.0 dan 34n (14. proteolitik. Selulase Untuk melihat kemampuan isolat terpilih dalam menghasilkan enzim degradatif maka dilakukan uji kualitatif amilase. Antagonis terhadap Salmonella subsp. pH 9. Keempat isolat merupakan bakteri potensial sebagai probiotik yang diharapkan dapat digunakan dalam pakan ayam guna mengendalikan penyakit seperti salmonelosis dan kolibasilosis. Lipase. selulase. tanpa agitasi. 34n Isolat 7n 25n 27n 34n Indeks amilolitik 0.50 1. selulolitik isolat 7n. lipolitik. Nilai indeks uji enzim dapat dilihat dalam tabel 6.66 Indeks selulolitik 2. [ .

67) diikuti isolat 27n. 2008).4 glikogen.52 7n 25n 7n 25n 27n 34n 27n 34n (a) (b) Gambar 19 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n. dan detergen juga akan mempengaruhi produksi amilase dan pertumbuhan mikroorganisme (Srivastava 2008). Pati merupakan substansi yang terlebih dahulu harus diubah menjadi molekul lebih sederhana agar dapat diserap oleh sel. sehingga pakan dapat tercerna lebih sempurna. 34n pada uji enzim (a) amilase (b) protease Keempat isolat diduga menghasilkan enzim α amilase yang mempunyai kemampuan dalam menghidrolisis ikatan α-1. 34n dalam menghasilkan enzim amilase tidak sama.licheniformis (Biogen. minuman dan industri tekstil. diantaranya adalah Bacillus coagulans. 27n.25 (tabel 6). karbon sodium dan garam potassium. Mikroorganisme memproduksi enzim untuk memecah substansi di dalam sel. Kemampuan dalam menghasilkan enzim amilase sangat ditentukan oleh gen penghasil enzim dan lingkungan seperti sumber nitrogen.5) sementara isolat 25n nilai indeksnya 0. B. salah satunya adalah amilase (Black 2005) Enzim α-amilase merupakan enzim yang banyak digunakan pada berbagai macam makanan. ion metal. 34n. Sehingga Alfa amilase yang dihasilkan oleh isolat terpilih ini diharapkan dapat diproduksi dalam skala besar guna kepentingan diatas. Kemampuan isolat 7n. (0. 25n. 25n. Alfa amilase ekstra seluler telah dihasilkan dari beberapa bakteri. stearothermophilus dan B. . 27n dan 34n ini tergolong eksoenzim sehingga dapat digunakan untuk membantu mencerna pakan oleh inangnya. 27n. 25n. Enzim amilase yang dihasilkan oleh isolat 7n. Isolat 7n mempunyai kemampuan yang paling tinggi dengan indeks amilasenya (0.

34n) mempunyai aktivitas lipolitik yang ditandai adanya zona bening disekitar koloni sementara isolat 27n tidak ada aktivitas. protease dibedakan menjadi proteinase dan peptidase. juga dapat menghasilkan enzim yang berguna dalam pencernaan seperti amilase dan protease. mempunyai kemampuan proteolitik yang tinggi dibanding mikroba yang lain. sedangkan peptidase menghidrolisis fragmen polipeptida menjadi asam amino. 27n nilai indeks protease 1.53 Aktivitas proteolitik dapat dilihat pada gambar (19b) mengindikasikan kemampuan protease menghidrolisis ikatan peptida pada protein menjadi asam amino. Protease ekstraseluler yang dihasilkan keempat isolat akan sangat menguntungkan kalau dikembangkan karena dapat membantu memecahkan protein dalam saluran pencernaan ternak menjadi molekul peptida yang sederhana. 25n. . Kelompok bakteri ini selain mempunyai kemampuan membentuk spora. Dari hasil uji aktivitas lipolitik oleh isolat 7n. serta produksi dan reproduksi. Berdasarkan cara hidrolisisnya. Protease termasuk kedalam kelompok enzim hidrolase karena dalam reaksinya melibatkan air pada ikatan substrat spesifik. Aktivitas lipolitik dan selulolitik isolat 7n. Hal ini akan meningkatkan absorpsi nutrisi dan konsumsi pakan untuk pertumbuhan. 34n terlihat bahwa tiga isolat (7n. 34n mempunyai aktivitas enzim proteolitik yang tinggi dimana terlihat nilai indeks protease sangat tinggi dan hampir sama pada keempat isolat. 27n. 25n. 25n. karena protease yang dihasilkan keempat isolat ini tergolong ekstraseluler. 25n. 27n. 27n. dan akan memberikan keuntungan bagi peternak karena terjadinya efisiensi pakan. Isolat 7n. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup. Didapatkannya isolat yang tidak dapat memecah lemak akan sangat baik sekali dalam penerapannya bagi peternak yaitu untuk membuat ternak yang rendah kandungan lemak dan tinggi kandungan protein dagingnya. Isolat 7n. Bacillus spp.25 (tabel 6). Keempat isolat berpotensi digunakan sebagai feed additive untuk memacu pertumbuhan menggantikan antibiotik. 34n terlihat pada gambar 20a. Proteinase menghidrolisis molekul protein menjadi polipeptida.5 sedangkan indeks protease 34n 1. 25n.

34n pada uji enzim (a) lipase (b) selulase Lipid (seperti lemak dan minyak) merupakan senyawa dengan molekul kompleks yang berukuran besar. Enzim ini juga digunakan dalam hidrolisis triasilgliserol (TAG) menghasilkan diasilgliserol (DAG) dan asam lemak bebas (Winarno 1986). Isolat bakteri yang dapat menghasilkan lipase ini dapat digunakan untuk mencerna lemak lebih efisien dan juga dapat digunakan dalam industri sebagai biokatalis.3. Selain itu isolat yang mampu menghasilkan lipase ekstraseluler dapat juga digunakan sebagai starter untuk . Bakteri merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menghasilkan enzim lipase. Lipase akan memecah ikatan trigliserida menjadi molekul yang lebih sederhana seperti reaksi dibawah ini: Enzim lipase ini spesifik akan memutus rantai fatty acid trigliserol pada posisi sn-1 dan sn-3. kosmetika. asidolisis dan aminolisis. sering disebut dengan lipase spesifik regio 1.66 ( tabel 6). DAG digunakan sebagai bahan pengemulsi dan penstabil produk-produk makanan. Lipase terbukti dapat digunakan sebagai biokatalis untuk meningkatkan kualitas crude palm oil (CPO) yang lebih baik yaitu minyak sehat (healthy oil). alkoholisis. Isolat 7n dan 25n mempunyai nilai indeks lipolitiknya 1 dan isolat 34n nilai indeks lipolitiknya 0. 27n. Asam lemak dan gliserol akan diserap oleh tubuh untuk digunakan dalam metabolisme tubuh. esterifikasi. karena bakteri memiliki kemampuan hidup di berbagai lingkungan yang terdapat kandungan makanan atau nutrisi yang kompleks. 25n. Lipase sebagai biokatalis untuk reaksi reaksi hidrolisis.54 27n 25n 25n 34n 27n 27n 34n 7n (a) (b) Gambar 20 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n. dan farmaketika. DAG adalah ester gliserol dengan dua molekul asam lemak.

tiga isolat memiliki kemampuan selulolitik yang tinggi yaitu isolat 7n dengan nilai indeksnya 2. Pada pengujian selulolitik ternyata dari empat isolat. dalam kondisi aerob glukosa dikonversi menjadi CO2 . 2001). yaitu endonuklease yang memutuskan ikatan non kovalen pada struktur kristal selulosa. Selulase digunakan oleh bakteri untuk pertahanan diri dari lingkungan serta untuk kelangsungan hidupnya. Enzim selulase merupakan kelompok enzim glikosil hidrolase yang menghidrolisis oligosakarida dan polisakarida (Henrissat 1991). isolat 25n nilai indeksnya 1. Hasil uji selulolitik dari keempat isolat terpilih menunjukkan adanya enzim selulase yang dihasilkan oleh keempat isolat. Pada hasil uji enzim secara kualitatif ditemukan bakteri kelompok Bacillus yang dapat memproduksi amilase dan protease. eksoselulose yang menghidrolisis individu selulosa menjadi gula lebih sederhana. enzim ini mampu memecah senyawa selulosa menjadi molekul sederhana seperti glukosa gambar (20b). 2002).55 biodegradasi limbah minyak. penerapannya sangat ramah lingkungan (Suryadipura. Untuk isolat 34n nilai indeksnya rendah sebesar 0. sedangkan pada kondisi anaerob glukosa dikonversi menjadi asam organik dan alkohol yang selanjutnya menjadi CH4 dan CO2 (Rao 1982). Genus Bacillus merupakan salah satu kelompok bakteri yang mampu mendegradasi selulosa (Lynd et al. biodegradasi oleh mikroorganisme merupakan salah satu cara yang tepat.083 dan isolat 27n dengan nilai indeksnya 1. Glukosa yang dihasilkan dari proses hidrolisis selulosa selanjutnya dimetabolisme oleh mikroorganisme lain. β-glukosidase yang menghidrolisis disakarida dan tetrasakarida menjadi glukosa (Criquet 2002).25. Menurut Feliatra (1996) dalam Dharmawibawa (2004). lipase dan sellulase sehingga terdapat kemungkinan berperan dalam mencerna pakan lebih efisien. Beberapa spesies Bacillus menghasilkan enzim ekstraseluler seperti protease. efektif dan hampir tidak ada efek sampinganya pada lingkungan karena tidak menghasilkan racun atau blooming karena mikroba ini akan mati seiring dengan habisnya minyak. Secara umum terdapat tiga enzim selulose. . lipase.75 (tabel 6). Carboxy methyl cellulose (CMC) adalah substrat yang digunakan dalam deteksi awal untuk screening enzim selulase khususnya endoglukanase.

Bacillus spp. konsumsi dan konversi pakan menjadi efisien (Yuguchi et al. Bacillus licheniformis.25.5. 2003). (Feed Convertion Ratio) (Komplang 2000). meningkatnya kesehatan usus dan memberikan kesehatan menyeluruh dan pada akhirnya akan .56 amilase. Hasil identifikasi empat bakteri asal saluran pencernaa ayam ini termasuk kelompok Bacillus yang dapat memproduksi amilase dan protease lipase dan selulase. 34n) dalam menghasilkan enzim enzim ekastraseluler dapat dimanfaatkan oleh inangnya untuk membantu mengkonversi pakan lebih efisien sehingga dapat masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai sumber karbon dan elektron donor (Madigan et al.66. Dari beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa pemberian Bacillus spp.5. IS 1.5. Isolat 7n kemampuan degradasinya paling tinggi dengan nilai IA 0. 2002. Kemampuan bakteri asal saluran pencernaan (isolat 7n. yang dicampurkan dalam pakan dapat meningkatkan produksi telur dan FCR. IP 1. 27n. sebagai probiotik yang berasal dari kultur campuran Bacillus subtilis. 25n. Isolat 27n IA 0. lipase dan amilase dalam usus ayam petelur (Sjofyan 2003). peningkatan bobot hidup. IS 2 diikuti isolat 25n IA 0. lipid dan selulosa.083. IP1.5. IS 1. dapat meningkatkan aktivitas berbagai enzim hidrolitik protease. dan selulase yang bisa membantu pencernaan dalam tubuh hewan (Wongsa dan Werukhamkul 2007). Keuntungan yang dihasilkan dari bakteri Bacillus ini ada kaitannya dengan keseimbangan mikroflora di dalam saluran gastrointestinal. B. 1992). IP 1. IL 0. Bacillus spp. 1996). IP 1. IL 1.25 dan kemampuan degradasi lemak tidak ada.67. Berdasarkan hasil indeks yang dihasilkan.25. Isolat 34n IA 0. Keempat bakteri asal saluran pencernaan memiliki potensi sebagai probiotik. protein. subtilis dicobakan pada ayam pedaging dan memberikan hasil yang positif (Jin et al. Bacillus cereus yang dapat berfungsi sebagai growth promotor dalam pertumbuhan hewan dapat menggantikan penggunaan antibiotik (Komplang et al. keempat bakteri ini memiliki kemampuan sebagai pemacu pertumbuhan ( Growth promotant) terutama dalam mendegradasi senyawa kompleks seperti amilum. Komplang 2000).5. Penggunaan Bacillus spp sebesar 0.2% dalam pakan ayam broiler secara nyata dapat meningkatkan daya cerna serat kasar. IL 1.

57 memperbaiki performance. . Probiotik terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tanpa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen. Penggunaanya kedepan mampu menggantikan antibiotik yang banyak digunakan peternak untuk menghambat bakteri patogen dan mampu mengkonversi pakan lebih efisien dengan enzim enzim yang dihasilkannya. sehingga protein dapat diserapnya dalam bentuk asam amino semetara lemak tidak dapat diserap karena tidak mampunya menguraikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol. tanpa menimbulkan efek samping bagi ternak dan konsumen. keempat isolat terpilih berpotensi sebagai probiotik yang dapat menghambat pertumbuhan empat bakteri patogen penyebab penyakit pada hewan dan manusia dan juga dapat digunakan sebagai makanan imbuhan dengan kemampuannya menghasilkan beberapa enzim ekstraseluler. Selain itu dapat menciptakan ternak yang rendah kolesterol dan tinggi proteinnya dengan meberikan isolat isolat yang mampu mendegradasi protein dan isolat yang tak mampu mendegradai lemak. Dari hasil penelitian.

2 asal ayam oleh isolat 34n sebesar 19mm pada media MRS modifikasi suhu 370C dengan pH 9.0 dan 34 isolat yang tumbuh pada pH 4. coli asal ayam. 25n. Empat isolat terpilih (7n. Salmonella subsp.0. . indeks lipase 1. E .0.5. protease. Isolat 7n mempunyai nilai indeks paling tinggi dengan indeks amilase 0.5. Aktivitas penghambatan tertinggi terhadap EPEC K1-1 oleh isolat 7n (9mm) pada media MRS modifikasi dengan suhu dan pH inkubasi 500C dan pH 7.0. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui aktivitas enzim ekstraseluler secara kuantitatif dari keempat isolat dan karakterisasi senyawa antibakteri yang dihasilkannya. Hasil identifikasi keempat isolat termasuk kelompok Bacillus. Isolat 7n.67.coli.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Diperoleh 72 isolat hasil solasi bakteri asal saluran pencernaa ayam broiler yang tidak diberi antibiotik. lipase. selulase ekstraseluler. indeks protease 1. Isolat 27n meghasilkan ketiga enzim kecuali lipase. Salmonella subsp. dan 34n menghasilkan enzim amilase.dengan suhu dan pH inkubasi 400C pada pH 8. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric oleh isolat 7n pada media MRS modifikasi pada suhu dan pH ingkubasi 300C dan pH 5. 34n) memiliki aktivitas penghambatan cukup bagus terhadap EPEC K1-1. 27n.2 asal ayam.2 asal ayam. Penghambatan terhadap Salmonella subsp. E. 27n. coli oleh isolat 25n (29 mm) pada media MRS modifikasi. 34n pada bagian intestinum crassum. Salmonella enteric. Salmonella enteric. Penghambatn tertinggi terhadap E. 25n. Dimana Isolat 7n diperoleh pada bagian duodenum.dan indeks selulase 2.0. terdiri dari 38 isolat yang tumbuh pada pH 7. Penelitian lanjutan secara in vivo kemampuan isolat menghambat mikrob patogen dan konversi pakan yang paling tepat untuk memperoleh efektivitas penghambatan terhadap EPEC K1-1. isolat 25n.

United States of America : Academic Press.pp. 1977. Ames. 05 Mei 2008. New York. In: Probiotics the Scientific Basis. 2): E37-E47. Bergman. Jhon Wiley dan Sons. Yang WZ. 2008. Veterinary Apllied Pharmacology and Terurapeutics. United States America. Microbiol 28: 53-61. Black JG.com . Gross WB. 1991. Production of high fruktose syrup from starch.go. Biogen. 2005.ca/nlui/wildlife_ salmonellosis. Di dalam Tan K (ed. Rachmania N. Kualalumpur. Virginia. Anonim. http://www.DAFTAR PUSTAKA Alagaratnam R. IA.wikepedia. Microbiology Principles And Explorations. Pencernaan dan Penyerapan Protein http://www. 25 mei 2009. 1. Barrow W J. Bakteri Poteolitik. Amilase. Hot vs. Suppl.K. Barnes HJ. (Eds. Esentials of Phisiologi Chemistry. 1958. E. desease_bc/ Barnes HJ. chickaholic. Morgavi DP. htm. Obtained by the use enzyme. Triwahyudi A. 2003. 131−141.). . 2008. 1994. 25 juli 2008 Anonim. Anderson A. 5th Ed. http://biogen. Sci. pp.cc. J. Inc. Characterization of Breviscin 27. Salmonellosis. Research Laboratory Publications. coli Enteropatogenik Dalam penanggulangan Diare di Indonesia (laporan akhir hibah bersaing III). IPB. R Fuller (Ed). Starch Hydrolysate:Improved Sweetness. Budiarti S. Richmond. Anonim. Pugh DM Baywater RJ. Barrow PA 1992. Inc. Brander GM. Beauchemin KA. Novo Industry A/s.unbc. Curr. Bacteriocin Syinthetized by Lactobacillus brevis SB 27. Mathias R. John Wiley and Sons. 1981. Bogor: FMIPA. Denmark. 81 (E. Telaah Faktor Adhesitas E.Barrow W J. London. Chapman & Hall. MC Dougald LR. Papers of first International Sagi Symp. Bailieve Tindal London. Probiotics for Chickens. 25 juli 2008 Anonim.wikepedia. cold extraction methods for making a pH . Alexander M. 10th ed Calnek BW. 1994 Biodegradation and Bioremediation.deptan. Colombatto D. co.com . 1963. Anim. diakses pada tanggal 11 Maret 2008. Saif YM. 2006.id/terbitan/agrobio /abstrak/agrobio_vol. Collibacillosis. Use of exogenous fibrolytic enzymes to improve feed utilization by ruminants. 225-259. Beard CW.org.: Iowa State University Press. Soybean. 2007. Lefebure G.litbang. http://www. no. 2008. In:Diseases of Poultry. 1998.). 1997. http://www. Benoit V.org.

Biotechnology A Textbook of Industrial Microbiology. Report of a joint FAO/WHO Experts Consultation. 1985. Appl. Sander JE. Microbiol. Wakkernell PS. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.2000. Poultry Pathology Laboratory University of Pennsylvania. Steel’s. 2004. Fardiaz S. Crueger A. 45: 111-118. Environ. Buswell JA. Biodegradasi petroleum oleh bakteri di perairan Dumai selat Malaka. Bali. the edible straw mushroom. Chapman. 65: 553-559. Mikrobiologi Pangan. Microbiol. Eur. Endoglucanase I from the edible straw mushroom.60 Cai YJ. Cowan. 2002. 50: 165-173. Pembangunan Benua Maritim Indonesia dalam rangka mengaktualisasikan Wawasan Nusantara BPPT dan Dewan Hankamnas Makasar. Purification and characterization of carboxymethyl cellulase. American Association of Avian Pathologist. 1984. De Man JM. Keamanan Pangan I Pertanian . Meth. Fifth Edition. J. Henriques AO. cellobiohydrolase. Bot. Chen PJ. Residues of Veterinary Drug in Foods. Feliatra. Production and distribution of endoglucanase. Drassar BS.ITB. Dharmawibawa ID. Terjemahan Kosasih Padmawinata. FAO/WHO. USA. 1973. Dirjen Peternakan. Bogor. Bandung. Measurement and characterization of cellulase activity in sclerophyllus forest litter. New Bolton Center.1992. Intestinal Microbiology. Direktorat Jendral Peternakan Jakarta. Halvorson DA. Inc. Buswell JA. Ge W. Criquet S. 2004. Charlton BR. 1990 Ketentuan dan Tata Cara Usaha Peternakan Direktorat Bina Usaha Petani dan Pengelolaan Hasil Peternakan. 1999. Kimia Makanan. Kumpulam Makalah Seminar Maritim Indonesia 1996. Wei TC. 1997. Cutting SM. Manual for the Identification of Medical Bacteri. Newton LJ. Sin. Barrow PA. J. Universitas Udayana. Avian Diseases Manual. 1989. Characterization of Bacillus Probiotics Available for Human Use. . Fakultas Tekhnologi Fardiaz S. 268: 5687-5695. Bermudez AJ. and -glucosidase components of the cellulolytic system of Bajpai Volvariella volvacea. Biochem. USA : Science Tech. 2004. Jeffrey JS. Bull. Rome. Chang ST. 1985. Isolasi Identifikasi dan Uji Kemampuan Bakteri Pengurai Minyak Solar dari Perairan Pelabuhan Benoa Bali. Lin LP. Institut Pertanian Bogor. Barbosa TM. Hong HA. Mikrobiologi. Acad. Cambridge University Press. Chang YT. Volvariella volvacea. 2001. Ding SJ. J Appl Environ Microbiol 70(4): 2161–2171. Konvensi Nasional. Am Soc for Microbiol. Crueger W. 1996. Duc LH.

Ed. J Antimicrob Agent Chemother 45:3156-3161. Gupte S. http//www. J. Di dalam WM Fogarty (ed). 1983. E A R Hashlamoun. Grizard D.) 4th ed. Chapman and Hall. 280 : 309-316. 1st. J. S M Abdulrahim. Fuller R. A classification of glycosyl hydrolases based on amino acid aequence aimilarities. Chapman and Hall. Irina VP. Henrissat B.1999. Subtilis 3 is Due to Secretion of Antibiotic. Alih bahasa oleh Suryawidjaya. Bernard F. London. Poult. Probiotics 2. 1989. J Appl Microbial 85: 42-50. Non–digestible oligosaccharides used as prebiotic agents : mode of production and beneficial effects on animal and human health. Nisin.1999. Giannella RA. a Bacteriocin-like Inhibitory Substance Produced by Bacillus coagulans I4. London.Elsevier Applied Science. Boston. Applied Science Publishers. History and development of probiotics. Fuller R. Mencari anti kanker dan anti kolesterol dari bakteri probiotik. Appl. J. [ Hurst A. 1981. Coagulin. Ed. Biochemistry. Mikrobiologi Dasar. Probiotik dan Prebiotik untuk kesehatan.. 2002. Practical Handbook of Microbiology. Philadelphia: Saunders College Pub. P:1-8 Fuller R. Hadioetomo RS. Fuller (ed). and Urdaci MC. Philippe B.html-26k Gordon RE. 27: 85–122. 1989. Sci. . Jakarta Haddadin MSY. Binarupa Aksara. Microbiol. Biochem. 1992. Reprod Nutr Dev 39 (5-6) 563-88.. The Rumen Microbial Ecosystem. 1996.P:1-8. 2002. Charles M. In Vitro Anti Helicobacter pylori Activity of The Probiotic Strain B. 1991. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Hasono A. Microbial Enzyme and Biotechnology.Appl Bacteriol 66:365-378.E. 1993. The genus Bacillus. 426–7. 1996. eds. Reginald H. and R K Robinson. 75: 491-494. Adv. Garrett . 1988. 2001. London. 1998. In LearyWO. In: Baron's Medical Microbiology (Barron S et al. 1990. Hyronimus B. Fuller R. Aplication and Practical Aspects.61 Fogarty WM. Salmonella. In:Probiotic The Scientific Basis R. http//www. p. London. Univ of Texas Medical Branch Grisham. CRC Press. Gramedia Jakarta. Hobson P N. 109-126.gizi net/arsip/arc0-2002. Barthomeuf C. Microbial amylase. London . Marrec CL. The effect of Lactobacillus acidophilus on the production and chemical composition on hen’s eggs. Probiotic in man and animal. 1991. 1997.cybermed cbn.Id/(15 oktober 2003). Gsianturi.Net. Bernard V. Probiotic The Scientific Basis. Chapman and Hall.

On in vitro adherence of Salmonella to the intestinal epithelial cells chikens. Characterization of a bacteriosin-like substance produced by Bacillus amyloliquefaciens isolated from the Brazillian Atlantic forest. Bergey's manual of systematic bacteriology. J. Hastowo S. Jalaludi S. 1996. Sletten K. 1992. Yoghurt untuk Kesehatan. 1998. 1992. Fung YC. Ali MA.id [15 januari 2008] Lisboa MP. 1990. Tanaka H. Probiotics growth promoting factor produced by Microorganism animal. Lawrence HA.15 oktober 2003. Jin LJ. & Bioengin. melalui pakan atau air minum terhadap kinerja ayam petelur. http//www. Relaz C. Klein C. 1993. Biosynthesis of The Lantibiotic subtilin is Regulated by a Histidin Kinase/Response Regulator System. Lilley D M . 1986. 147:747-748. 5: 205-209. 2000. Colibacillosis. Komplang I P. Karyadi E. Supriyati.. Continuous hydrolysis of oil by immobilized lipase in a countercurrent reactor. 2003. Effect of adderent Lactobacillus spp. Modern Food Microbiology second Edition Van Norstand. J Gen Mikrobiol 138: 1986-1990. J Appl Bacteriol 81:201-206. Nes IF. JITV.com/kesehatan/news/0308/26/084340. J Appl Environ Microbiol 59: 296-303. 2002. AbdullahN. 2006. Lozano JCN. Prebiotik Memiliki Manfaat yang Sangat Besar . I. Kone K. Understanding Bacteriocins and Their Uses in Food. Rajawali Pers. info@anandadarmaga. 1965. 7:139143. Pengaruh suplementasi kultur Bacillus spp.htm . Komplang. Kosugi Y. Jakarta. Fourth Ed. Intern Microbiol 9: 111-118. In A Laboratory Manual For the isolation an identification of avian pathogen. 36 (6). Mikrobiologi. Entian KD. Kompas. Pennsylvania: pp: 14−16. Pengaruh suplementasi kultur Bacillus spp. J Food and Environ Sanit 12: 282-285. Williams & Wilkins. Dairy Sci. 2000. 1984. Lay BW. melalui pakan atau air minum terhadap kinerja ayam petelur. & Tomizuka N. Lee MD. [ Krieg NR. 1992. Meyer JN. Baltimore and London. New York. Edisi Pertama. Bonatto D. Ho YW. Pengaruh suplementasi Bacillus appiarius atau Toluraspora delbrueckii terhadap penampilan ayam pedaging. Zainuddin D. Brandelli A. Purification and Amino Acid Sequence of a Bacteriocin Produced by Pediococcus acidilatic. Biotechnol. JITV. 617-622. Holt JG.or. Legowo AM 2003. Kaletta C. . American Association of Avian Pathologist. Henriques JAP.62 Jay JM. P. Bizani D. Komplang I P. Stilwell R H. Reinhold Company.

Mc farlane GT. Mc Donald P. 1995.225-250. TP. Dan berbagai level Saccharomyces cerevisiae dalam ransumnya (Skripsi). 1998.. Co. dan Tomita F. Weimer P J. 15. Van Zyl WH van Zyl.J. Extracelullar microbial lipases. p. Pretorius IS. Probiotics and Prebiotics : can regulating the activities of intestinal bacteria benefit health? Br. Using yeast culture and lactic acid bacteria in broiler breeder diets. Optimasi proses koagulasi flokulasi pada limbah cair yang mengandung melanoidin. Performan ayam broiler yang diberi antibiotik zinc bacitracin. 66(3) : 506-577. Novita E. Inc. Naim R. Morgan CA. Edwardr RA r. 2007. Hasono A (eds. Lumyong P. Fakultas peternakan – Institut Pertanian Bogor. Infovet Edisi 155. 2003. 1999. Elsevier Science Publisher Ltd. J.html 16 Nov 1999. New Jersey. Optimitation and Characterization of Xylanase from Endophytic fungi. Rhizobia Amylase Production Using Various Starchy Substances as Carbon Substrates. Gosport. 6th ed. Pilih Sidal atau Statik Pahami Cara Kerja Antibiotik. Lynd LR. Westport. tanggal akses 05 Mei 2008. Isolation. Animal Nutrition.br/pdf/bjm/v31n4/a11v31n4. Microbial Cellulose Utilization : Fundamentals and Biotechnology.com/hsp/pro.M. Clinical Microbiol Rev. (10th ed). ed. Alltech’s Eleventh Annual Symp.scielo. Mujiasih. The AVI Publ. Martin RG.. JITV 10(1): 71 – 78. 2001. 318: 999-1003. Madigan MT. Proc.. 1999.63 Lumyong S.pdf. 371-378. 2002. pp. W. http://horizonpress. Connecticut. Ponputhachart D. Norkaew N. Penggunaan probiotik untuk pengendalian clostridial necrotic enteritis pada ayam pedaging. probiotic Bacillus sp. Horizon Scientific press. Prenticel-Hall. Diarheagenic Escherichia coli. Parker J. Martiko JM. Nakazawa Y. Ashford Colour Press. Fogarty. Macrae AR. 1978 Food Chemistry. [ Meyer LH. In “Microbial Enzymes and Biotecknology’. Kaper JB. Nataro JP. 2005. . Probiotics and the immune system. Ilmu Dasar 2(1):61-67. Natalia L. Function of fermented milk: Challenges for the health sciences. Lyons & KA Jacques (Eds). Mc Cracken VJ.). 2001. Cummings JH. Brock Biology of Microorganism. 11(1):142-201. http://www. England. Greenhalgh JFD. Applied Science Publiser Ltd. 2004. Priadi A. University Press. Med. 2002. 2001. Oliveira. The Tropic.. Biotechnology for Sustainable Utilization of Biological Resources. Cambridge. 1992. 1983. Gaskin HR. In: Biotechnology in The feed industry. Microbiol and Mol Biol Rev.

J Indust Microbiol Biotechnol 19: 294-298. 1982. Jakarta. Microbial enzymes and bioconversion. Rahayu C. 1990. Iswanti DN. Prangdimurti E. Pelzar M. 2000. J Appl Environ Microbiol 62(5): 799-802. 1999. a New Lanthyonine-Containing Bacteriocin Produced by Micrococcus varians: Comparison to Lactin 481 of Lactococcus lactis. [ Salminen S. 1982. Penggunaan probiotik dalam ransum dengan tingkat protein yang berbeda terhadap performan ayam broiler [Laporan Penelitian]. 1989. 1996. Rekhif N. Prescott LM. www. Br J Nutr 80 (4): S219-23. 1986. Identification and Partial Characterization of Tochicin a Bacterion Produced by Bacillus thuringiensis subsp. Reddy BS. Biofertilizer in Agriculture. Ed ke-5. Academic Press.com 12:35 25 juli 2009. Characterization and Mechanism of Action of Cerein 7. Panigraphy B. Paturau JM. Mollet B. 34: 941– 943. 1999. Klein DA. Elements of Microbiolosgy. Rose A. London. Rao S. Enzymes Microb. San Fransisco. Dwiyanto K. Reddy BS. 2000. [ Robson. Universitas Indonesia . Avian Dis. Possible mechanism by which pro-and prebiotics influence colon carcinogenesis and tumor growth. Sartika TT. Prevention of colon cancer by pro-and prebiotics “: evidence from laboratory studies. LM. .H. 2008 . Pitet AC. 11 : 626-644. Mengerikan sebanyak 85% daging ayam broiler mengandung antibiotik. Chambliss G H. Amsterdam: Elsevier Scientivic Publishing Company. tochingiensis. Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Bogor. Trends food Sci techol 10:107-110. 1980. McGraw-Hill Company. Pridmore D. Harley JP. Variacin. Rusiana.poultryindinesia. Probiotic: how should they be defined. lee YK. 1994. New Delhi. Technol. Br J Nutr 129 (7 Suppl):1478s-82S.64 Oscariz JC. 1998. Suri B. Probiotik dan efek perlindungannya terhadap kanker kolon.J and Chan ECS. Microbiology. Oxford & IBH Published. Paik HD. Park SH. Ling Y. New York. Differentiation of pathogenic and nonpathogenic Escherichia coli isolated from poultry. Sekolah Pascasarjana. 1997. Instititut Pertanian Bogor. J Appl Microbiol 89: 361-369. Bae SS. Ouwehand A. USA: McgrawHill Companies. Pada Seminar SEAMO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) dan Tromed RCCN (Tripical Medicine Regional Center of Cummunity Nutrition). a Bacteriocin Produced by Bacillus cereus Bc 7. 2001. By-Pruducts of the cane Sugar Industry. Balitnak Ciawi Bogor. Pisabarro AG. Benno Y.

Universitas Pajajaran Bandung. Bogor. J.id/. [[ Shewfelt. Sjofyan O. Lekatompessy S. Zytner G. Denpasar. Pemamfaatan sumber karbon dan nitrogen lokal sebagai substrat untuk produksibahan aktif bioinsektisida Bacillus thuringiensis subsp. Kirsten. Lingkungan Hidup Permasalahan dan Pengelolaannya. 2001. Continous oral application of probiotic B. Sukmadi B. Lembaga Ilmu Pengetahuan. 1997. Seifert HSH. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Siswono. Englewood Cliffs.cereus an alternative to prevention of enteroxamia? Anim Res and Dev. 4th ed. 1986. New Jersey. bakteri pencegah http://www.) sebagai imbuhan ransum dan implikasi effeknya terhadap mikroflora usus serta penampilan produksi ayam petelur. 1998. Aizawai (skripsi). Culture Conditions for Production of Thermostable Amylase by Bacillus stearothermophilus. [ Stanier RY. Srivastava 2008. 8-10 Desember 1997. Sukiman H.aizawai. Universitas Udayana. 46:30-38. Kursus Singkat Biologi Cendawan.mediando.org/sharing_day /fungalamylase. tanggal akses 05 Mei 2008. Gramedia. Environ. ragam penyakit. Adelberg EA. (Disertasi). Kumpulan Abstrak Konas 7 Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia. 2009. 4: 29–42. Sci. LIPI.Bogor. Aspek Keamanan Pakan untuk Menghasilakan Kualitas Produk Peternakan yang Aman. Simarmata R. Tesis Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Malang Soebiyanto T. . 1976. FMIPA. http://www. 1997. Probiotik. Pengaruh tepung jagung dalam medium molase tepung-tepung kedelai terhadap kinerja Bacillus thuriensis susb sp. 2007. Suryadipura P. Richard. Bogor. Sudirman LMI. 1994. Brown RM. Eng. Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam. 2005. Sjofjan O. Optimization of nitrogen for bioventing of gasoline contaminated soil.IPB. 2003. Sudirman LMI.65 Saxena IM. 2005. Ann of Bot 96: 9-21. The Microbial World. Prentice-Hall Inc. Antibiotik.pdf.co. Cellulose Biosynthesis: Current Views and Evolving Concepts. Denpasar Suryanti H. Kajian probiotik AB (Aspergillus niger dan Bacillus spp. 1996. Cibinong Bogor. Ingraham J. Pusat Penelitian Bioteknologi. Isolasi mikroba endofitik dari tanaman obat sambung nyawa (Gynura procambens) dan analisis potensinya sebagai antimikroba. Institut Pertanian Bogor. 2002. Potensi keragaman hayati mikroorganisme dalam menghasilkan senyawa antimikroba.bio-link. (10 oktober 2008). Lee H. Gessler F. HFS dan Industri Ubi Kayu. Jurusan Nutrisi Dan Manakan Ternak. NRC Canada.

1990. IPB. 1986. Bogor: FMIPA. EPEC K1-1) [Skripsi]. Tannock GW. Werukhamkul P. ISBN 0-9631172-1-1. PT. Bardotti P. Kanisius. IVNF1-1 (Penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. and Wannamaker L W.Sci. Proteinases. Torkar KG. Candotti F. Fermented milk. [ Utomo D. Tinjauan Pcnggunaan Antibiotika di Indonesia Saat ini dan yang Akan Datang. Partial Characterization of Bacteriocin Produced by Bacillus cereus Isolated from Milk and Milk Products.66 Suzuki T. Zanella G. 2006. 27. Appl. Product Development and Technical Service.Vol. 417-422. 1999. In: Function of Fermented Milk: Challenges for the Health Science. Gramedia. 1996. Ed ke 94:38-39. Elsevier Appl. 2000. Yughuchi H. Bull of Anim Sci. The Genus Bacillus. coli O111 septichemia and polyserositis in hens at the start of lay. 2002 Apakah probiotik itu?. Okonogi S. 2000. In microbial Enzymes and Biotechnology. Mushiga Y. University of Wisconsin-Medison. Y. Univ of Texas Medical Branch. [ Wahyuni WT. 2003. Tabbu CR. Avian Pathol. Isolasi. Dajani A S. 1992. Martino PA. dan Shimizu S. pemurnian dan identifikasi senyawa anti β-laktamase dari Streptomyces sp. and A. PT. Microbiol. Wongsa P. Todar K. Turnbull PCB. Publishers Ltd. Winarno FG. 253 p. Ward OP. Mass production of lipase by fedbatch culture of Pseudomonas fluorescens. Horizon Scientific Press.) pp. Food Technol 41 (2): 121-129. 1976. Pp 251-317.1983. Bacteriocin of Gram Positif Pacteria. In: Probiotics: A Critical Review (Tannock. GW ed. London. 2005. New York. Guadagnini.Severe E. Applied Science Publication. Yamane T. lactic drinks and intestinal microfloral. 2007. Goto T. Enzim Pangan .Ed WM Forgaty. Infovet. Bacteriol Rev 40: 722-756. Stonfer M. Hosono (eds). Matijasic BB. Norfolk. Introduction. 1988. [ Winarno FG. I.Technol..Jakarta. Wiryosuharto SD.Jakarta. . Tagg JR. Kimia Pangan dan Gizi. 1983. Bacillus: Barron's Medical Microbiology. BioSolution International. 29: 311−317. Todar’s Online Textbook of Bacteriology. Yogyakarta. England. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Gramedia. Thailand: Bangkadi Industrial Park 134/4. Alboralli AG. 1–4.

LAMPIRAN .

45 .05 0.59 6.4 – 12 1 – 5 2 – 5 7 – 15 2 – 6 2 – 6 0.81 4.68 Lampiran 1 Komposisi kimia molase No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Komponen Air Sukrosa Glukosa Fruktosa Gula pereduksi Karbohidrat lain Abu Komponen nitrogen Asam bukan nitrogen Lilin.74 0.1 – 1 Lampiran 2 Komposisi kimia tepung kedelai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Komponen Protein Nitrogen Air Lemak Magnesium Mangan Besi Seng Fosfor Kalsium Kadar komponen(%) 42.5 5 0. steroid dan fosfolipid Kisaran %) 17 – 25 30 – 40 4 – 9 5 Rata-ata 20 35 7 9 3 4 12 4.15 0.16 0.15 1.48 0.64 19.

5 5 2. serta uji daya hambat isolat asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap EPEC K1-1. asal ayam No 1 Nama media Nutrient agar (NA) Komposisi Beef extract Bacto peptone Bacto agar Jumlah (g/l) 3 5 15 3 5 9 2 Nutrient agar (NA) 50% semipadat Beef extract Bacto peptone Bacto agar 3 Nutrent Broth (NB) Beef extract Bacto peptone 3 5 4 Trypticase Soy Agar (TSA) Pangkreatic digest of casein Enzymatic digest os soybean meal Dextrosa Sodium chlorida Dipotasium phosphate Bacto agar 17 3 2. Salmonella enteric. E.5 .5 10 5 Trypticase Soy Broth (TSB) Pangkreatic digest of casein Enzymatic digest of soybean meal Dextrosa Sodium chlorida Dipotasium phosphate 17 3 2. Salmonella sp.5 5 2. coli asal ayam.5 6 Tripton Glucosa Yeas ekstract (TGY) Pangkreatic digest of casein 5 2. produksi.69 Lampiran 3 Komposisi media peremajaan.

2 0.2 0.70 Yeast ekstract Dekstrose 7 1 20 10 8 5 4 2 0.05 .05 1 De Mann Rogosa Sharpe (MRS) Glukose Pepton casein Beef ekstract Natrium acetate 3H2O Yeast ekstract K2 HPO4 Triamonium sitrat MgSO47H2O MnSO44H2O Sorbitan monooleat / Tween 80 8 TGY modifikasi Soybean meal Yeast ekstract Molase 5 2.5 1 9 MRS modifikasi Molase Soy bean meal Beef ekstract Natrium acetate 3H2O Yeast ekstract TSP Urea MgSO47H2O MnSO44H2O 20 10 8 5 4 2 0.2 0.2 0.

Malakit Hijau Malakit hijau Aquades 50.0 g 100. Iodium Gram Iodium Kalium iodida ( KI) Aquades 1.0 ml 5. Ungu kristal (Hucker’s)) Larutan A Ungu kristal (90%) Etil alkohol (95%) 2.0 g 20.25ml 10.0 ml D.71 Lampiran 4 Komposisi Pereaksi Pewarnaan No.0 g 300.0 ml .0 ml 2 Pewarnaan spora A.0 g 2.0 ml B.0 ml 100.25ml 10. Etil alkohol 95% Etil alkohol 100% Aquades 95. Safranin Safranin O Etil alkohol 95% Aquades 0.0 ml C.0 ml Komposisi Jumlah (g/l) Larutan B Amonium oksalat Aquades 0. 1 Nama media Pewarnaan Gram A.0 ml 100. Safranin Safranin O Etil alkohol 95% Aquades 0.0 ml B.8 g 80.

b t. I=duodenum. lc. lc.1 (5) PN. coli S.2.3. b st. lc. lc. k = keriput. AA=pengenceran tanpa penambahan pepton.3.II.II. tb b.III.3.2. b t.III (19) AN.2.72 Lampiran 5 Hasil isolasi dan identifikasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler pada media NA pH 7 Kode Isolat pH 7 PN. c b. II=ileum. lc.3 (14) PN. d.III. bt t.3.3 (32) AN.I. III=intestinum crasum b = bulat. b c.I. t = timbul.III. c tb.1. lc. lc. c b. c t. tb c. lc. bo = berombak. bl = bentuk L. lc b. lk.6 (1) PN.2. pH 7. c b.III. lc. lc.III. c b. lc. b sk.3 (13) PN. c b. d tb. lc.1(35) PN. b c. tu=tidak diuji/tidak diamati 0=tidak ada aktivitas penghambatan. lc.3.5 (21) PN. lc = licin. lc.2. enteric Ephec K1-1 *PN=pengenceran menambahkan pepton pH 7. c = cembung.2. d b.3. lc. ld.I. bo.3 (30) AN. bo.II.III (28) AN.2 (10) PN.3 (4) PN. ld.3.III (24) PN.3. d = datar. lc.III (27) PN.1 (7) PN.3.2 (34) AN. bk = berbukit.III.III (17) PN. lk = berlekuk.2 (8) PN.3 (9) PN.1 (12) PN. ld.1 (6) PN. c b.III. lc. lc.II.3.3.3 (29) AN.1(33)a AN.5 (11) PN.2 (25) PN. ld. d b. lc.III. ld.II. bt t. d d.1 (31) AN. lc.2 (2) PN.III. st = seperti tombol.4 (16) PN. lc.3. c b.3.I. c b.3.4 (15) PN. d b. b t. lc.2 (20) PN. bo. tb d.2. b st.4 (3) PN.III (36) PN.III (23) PN.III. tb = tidak beraturan.III (26) PN. sk = seperti kawah. b c.III. c sk.I.III (22) PN. lc. ld = berlendir.III.3.III.I.3. b t.I. b d.2.3. b c. b tu tu tu tu tu tu positif positif tu tu tu tu tu tu negatif tu negatif tu tu tu tu tu tu tu positif tu positif negatif tu tu tu tu tu positif tu tu tu tu tu tu tu tu tu tu steptobasil basil tu tu tu tu tu tu bacilus tu cocus tu tu tu tu tu tu tu bacilus tu basil kecil cocus tu tu tu tu tu bacilus tu tu tu tu 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 Warna koloni Karakteristik koloni Pewarnaan Gram Bentuk sel dan penataan Bakteri target Endo spora E. tb.III (38) putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih bening krem Krem putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih krem tua putih putih krem b. lc. lc.III (37) PN. lc. b c. bt = bundar dengan tepian timbul.3. c b.II.I. lc. d b. 1=ada aktivitas penghambatan .1 (18) PN.

III.2. lc.5 Kode Isolat Media pH4. bt t.3. lc.1(33a) AA.4 (13a) PA. lc.3 (30a) AA.III.6 (20a) PA. sk = seperti kawah.III. lc.2 (25a) PA.2.1. lc.II. k = keriput. b t. bk b. lc. lc. lc.3 (29a) AA.5 (19a) PA. AA=pengenceran tanpa penambahan pepton. t = timbul.4 (4a)) PA.III(26a) PA. bo. lc.1.III. 1=ada aktivitas penghambatan .3 (14a) PA. c tu negatif tu negatif negatif tu negatif tu tu tu positif tu tu tu tu negatif negatif positif tu tu tu negatif tu tu tu tu tu tu tu negatif tu negatif tu tu tu diplococus tu cocus cocus tu cocus tu tu tu cocus tu tu tu tu cocus cocus streptobasil tu tu tu cocus tu tu tu tu tu tu tu cocus tu bacilus tu tu 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 Warna koloni Karakteristik Koloni Pewarnaan Gram Bentuk sel dan penataan Endo spora Bakteri target E.1. lk. b b.1. bl = bentuk L. b t.III.III. lk. bt = bundar dengan tepian timbul. lc. c b.3.1. II=ileum. bo. lc b.III. bk b.1 (5a) PA.II. bk = berbukit.5. b t. lc.1. bl d.2.III (28a) AA.1.III.4(17a) PA.III. lk. b c.IIII. b b.3 (16a) PA.III. I=duodenum. bk b.III. b c. bk b. d.2.3.3.II (23a) PA. ld = berlendir.2 (7a) PA. lc.3.II.1 (1a) PA.2.I.III (27a) PA. d b.3.II. lc. c b.3 (11a) PA.1 (31a) AA. bk b.III.3. lc. III=intestinum crasum b = bulat.3. coli S. lc.5 (9a) PA.II. bo = berombak. bo.2.II (24a) PA. b st.I.5(10a) PA. lc = licin. lc.2 . lk = berlekuk. c c.1. enteric Ephec K1-1 *PA=pengenceran menambahkan pepton pH 4.1 (2a)) PA.3(3a)2 PA.3.1. bl c.I. lc.III.7 (18a) PA. lc.73 Lampiran 6 Hasil isolasi dan karakterisasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler yang ditumbuhkan pada pH 4. b t. lc.III (12a) PA.1(15a) PA. tb = tidak beraturan. pH 4.I.3 (32a) AA.8 (22a) PA. d = datar. lc.5.1. c = cembung. bt t.III. b c.II. c b. bo.2(6a) PA. lc.1.III.2 (34a) putih putih putih putih krem krem putih putih krem putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih b.3 (21a) PA. b t.III. lc. bo. bl d. ld. tu=tidak diuji/tidak diamati 0=tidak ada aktivitas penghambatan. b t. bk t.II. c b. b st. st = seperti tombol. lc. lc.4(8a) PA.3.5 PA. b t. b d.

2675 x 10 6 0.1 0.25 0.15 0.282 0.1534x .016718 x 10 6 Kurva standar Isolat 7n pada m edia NB Kerapatan sel ( OD) 0.22 0.5 log jumlah sel .076 0.5 5 5.126294 4.18 0.035 0.029384 5.0.728354 5.129 0.223204 0.01 Cfu/ml 1.034375 x 10 6 0.103375 x 10 6 Log 6.6537 R2 = 0.2 0.9905 4.825264 4.05 0 4 y = 0.535 x 10 6 0.74 Lampiran 7 Kurva Standar Isolat 7n Pengenceran 1:1 1:2 1:4 1:8 1:16 1:32 1:64 OD 0.536243 4.066875 x 10 6 0.3 0.07 x 10 6 0.5 6 6.427324 5.

348548 7.2 0.11 0.05578125 x 10 8 Log 8.1115625 x 10 8 0.3 Kerapatan sel (OD) 0.05 0 6.1.5165 R2 = 0.9902 0.8925 x 10 8 0.1 0.44625 x 10 8 0.950608 7.785 x 10 8 0.5 7 7.552668 8.15 0.003 Cfu/ml 3.047518 6.31 0.394 0.746488 Kurva standar isolat 25n pada media NB y = 0.25 0.2219x .75 Lampiran 8 Kurva standar isolat 25n Pengenceran 1:1 1:2 1:4 1:8 1:16 1:32 1:64 OD 0.57 x 10 8 1.032 0.251 0.5 8 8.5 Log jum lah sel .164 0.251638 7.223125x 10 8 0.649578 7.

1 0.154 0.15 0.0625 x 10 8 0.034 0.11 0.125 x 10 8 0.1.002 Cfu/ml 0.76 Lampiran 9 Kurva standar isolat 27n Pengenceran 1:1 1:2 1:4 1:8 1:16 1:32 OD 0.39794 7.69897 7.217 0.25 0.209 R2 = 0.49485 6.015625 x 10 8 Log 7.5 x 10 8 0.5 8 .79588 6.5 7 Log jum lah sel 7.2 OD y = 0.3 0.99 0.05 0 6 6.1934x .19382 Kurva standar isolat 27n pada m edia NB 0.291 0.03125 x 10 8 0.25 x 10 8 0.09691 6.

03421875 x 10 8 Kurva standar Isolat 34n pada m edia NB 0.419129 7.2 OD y = 0.525 x 10 8 0.322219 8.036 0.318 0.77 Lampiran 10 Kurva standar isolat 34n Pengenceran 1:1 1:2 1:4 1:8 1:16 1:32 1:64 OD 0.5 8 8.9866 0.264 0.1686 R2 = 0.133125 x 10 8 Log 8.05 x 10 8 0.720159 7.2625 x 10 8 0.131 0.5 7 7.1773x .097 0.0684375 x 10 8 0.1 x 10 8 1.1.15 0.007 Cfu/ml 2.1 0.185 0.534264 0.3 0.5 Log jum lah sel .835294 6.12426 6.25 0.021189 7.05 0 6 6.

25 0 0 14.5 37 o C 0 0 0 13. 34n yang diantagonis dengan Salmonella sp.5 0 10 0 40 o C 0 11.5 0 0 14.875 14. 25n. 34n yang diantagonis dengan E.78 Lampiran 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n. coli diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu Isolat 7n 25n 27n 34n 25 o C 0 0 0 0 30 o C 0 0 0 0 37 o C 13. 25n.25 14 21. 27n.5 40 o C 0 0 0 8 50 o C 0 0 2 0 . 25n. 27n.5 Lampiran12 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n.5 14 Lampiran 14 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n. 34n yang diantagonis dengan Salmonella enteric diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu o Isolat 7n 25n 27n 34n 25 C 0 0 0 0 30 o C 37 o C 0 0 0 4 40 o C 0 0 0 0 50 o C 18.25 9. 27n.75 0 0 50 o C 0 0 0 12 Lampiran 13 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n. 34n yang diantagonis dengan EPEC K1-1diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu Isolat 7n 25n 27n 34n 25 o C 0 0 0 0 30 o C 0 0 0 0 37 o C 40 o C 14 14. 25n.25 0 14 50 o C 23 14. 27n.25 18. diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu o Isolat 7n 25n 27n 34n 25 C 0 0 0 0 30 o C 0 0 4 8.5 14.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful