You are on page 1of 219

i

ANTOLOGI SASTRA ISLAM EDISI V


Mewarnai Dunia Dengan Sastra Nusantara

Penanggung Jawab Pimpinan Redaksi Sekertaris Redaksi Editor Design Cover Lay outer Penerbit Sekretariat Phone E-mail Cetakan II Marketing

:DPP PPI Yaman 2012 :M. Umar Nawawi :Haris Muhammad :Syaiful Arif, Ahmad Rifai Arif, Avrian Sukma Riyadi, Mohammad Bejo :Izzuddin Munawwar :Hanif Su'udi :Departeman Seni dan Budaya Grafis PPI Yaman 2012 :Badiuz Zaman Room, Sharea and Law Faculty, Al Ahgaff University, Tareem, Hadromaut, Yemen. :+967714360225/+967737026118 :asi.ppiyaman@gmail.com :September 2012 :Departemen Dana dan Usaha PPI Yaman 2012

Hak CiptaDPP PPI Yaman 2011-2012

ii

Entah sejak kapan ada istilah sastra dalam kehidupan manusia dan siapa pula yang melahirkannya. Tapi sangat tak bisa dipungkiri bahwa tumbuhnya sastra begitu memicu tumbuh dan berkembangnya sebuah peradaban manusia bisa mejadi sebuah peradaban yang mencuat. Peradaban manusia bisa berkembang dan berarti jika memiliki sebuah sastra yang memukau. Sastra adalah sebuah hal yang elok yang bisa membuat manusia terpana dengan gaya bahasa yang memiliki tak hanya satu arti. Dalam peradaban islam sendiri terbukti bahwa pertumbuhan sastra ada sejak awal bahkan sejak sebelum hadir agama Ilahi ini. Syair-syair arab yang telah menguasai jagat siapa yang akan memungkiri akan kesusateraannya. Citra sastra tak pernah lepas dari lisan para penyair yang telah lebih dahulu menghidupkan intonasi pertumbuhan sastra dalam kehidupan manusia. Sastra telah dibawa oleh hati-hati yang jernih oleh sastrawan terdahulu. Seperti yang telah kita ketahui selama ini bahwa ilmu balaghah ibarat wadah dari semua sastra yang ada di dunia arab. Yaman tak lain adalah bagian dari sekian banyak dunia arab yang kental akan sastra. Sering dijumpai dimana-mana sebuah sastra terucap keluar seiring basahnya bibir oleh ludah. Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa hampir setiap hari bahkan setiap waktu yang namannya sastra mengiang di telinga kita. Itu adalah sebuah hal yang harus disyukuri oleh orang-orang terutama seperti kita pelajar Indonesia yang ada di negeri saba ini

iii

karena hal itu tak bannyak kita dapatkan di Negara lain bahkan Negara kita sendiri, Indonesia. Sastra seakan hanya menjadi sebuah imajinasi yang mengaung dalam hayalan manusia. Butuh sebuah wadah yang bisa mengekspresikan sebuah tarian kata-kata yang masih bergoresan dalam pikir manusia. Adalah untuk mewujudkan sebuah nikmat akan sastra itu menjadi tujuan utama adanya wadah tersebut. Biar tak hanya diri sendiri yang menikmati, tapi juga orang lain juga akan menikmati eloknya rangkaian kalimatkalimat goyangan sastra. Berangkat dari semua itu, Alhamdulillah dengan penerbitan Antologi Sastra Islam 2012 oleh PPI Yaman, semoga menjadikan wadah yang pas dan konkret yang bisa menampung sastra-sastra karya pelajar Yaman untuk menjadi lebih berkembang. Berada di Yaman adalah sebuah keberadaan yang patut disyukuri, karena akan terdapat berbagai keunikan dan daya tarik yang berbeda dari ungkapan sastra yang lahir dari tarian pena mereka. Beground yang berbeda akan membawa hasil yang berbeda pula. Bagaimana mereka mampu mengawinkan rasa, suasana dan nuansa yang mereka alami dalam sebuah pelaminan yang dinamakan sastra yang nanntinya akan menghasilkan sebuah karya sastra yang memukau. Tim Editor, Agustus 2012

iv

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Sastra merupakan bagian dari seni, yang kata seni sendiri identik dengan keindahan, kehalusan dan hal-hal lain, yang berkonotasi dengan kata bagus dan elok. Agaknya inilah salah satu hal yang melatar belakangi mengapa buku ini merupakan serial dari karya yang diberi judul besar "Antologi Sastra Islami". Diberi embel-embel "Islami" karena para pujangga Indonesia di Yaman ingin mengartikulasikan dan merepresentasikan Islam dalam bingkai yang indah; agar Islam menjadi sebuah nilai yang cair yang senantiasa menjadi denyut nadi kegiatan masyarakat, bukan menjadi aturan-aturan normatif yang identik dengan pemaksaan. Al-Qur'an sebagai mukjizat Nabi yang paling mulia menyimpan sebuah maha karya seni sepanjang masa, disusun dengan untaian-untaian kata yang indah sehingga kesan membosankan sama sekali tidak kita temukan di dalamnya. Mungkin hal ini pula yang membuat tim kami di PPI Yaman terinspirasi dan kemudian menjatuhkan pilihannya untuk mengadakan sebuah lomba, sebuah

kompetisi dalam menyampaikan Islam yang jauh dari unsur membosankan. Jika tidak terlalu besar, saya berharap upaya ini merupakan bagian dari implementasi "berkompetisi dalam kebaikan." Saya sangat gembira dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Yaman, Departemen Seni dan Budaya PPI Yaman, Koordinator beserta kru antologi sastra Islami dan semua pihak yang telah mensukseskan terselenggaranya lomba seni islami serta terbitnya buku ini. Lebih dari itu semua, saya sangat berterima kasih kepada semua seniman Indonesia di Yaman peserta lomba seni islami: Anda adalah panji Islam Indonesia yang akan membuktikan kepada bangsa Anda tentang Islam yang mebawa damai dan Rahmatan lil 'alamin. Harapan saya, semoga buku ini dapat memberi inspirasi kepada kita semua akan hakikat Islam yang indah. Amin!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Mukalla, 02 Ramadlan 1433 H / 21 Juli 2012 M Muhammad Birrul Alim Ketua Umum PPI Yaman email : muhammadbirrulalim@yahoo.co.id voice : 00967714565024 / 00967736673567 / 006285648652587

vi

Prakata Editor Kata Pengantar Daftar Isi Cerpen Abdul Ghani Diary Hitam Cahaya Di Atas Cahaya Euforia Surgaloka Ghanna Terima Kasih Tuhan SAKA Elegi Hati Mimpi Di Fajar Biru In Memoriam La Tayasu

ii iv vi 2 2 15 43 68 85 106 120 133 154 166

vii

Puisi Al Musthofa Mengapa Merpati Surga Syetan Tak Pernah Lelah Menggoda Bukan Malaikat Inginku Aku Genangan Air Sujudlah Di Sepertiga Malam yang Terbuang Ayahku Seorang Petani Berhati Suci Selendang Sang Nabi Kuasa Allah Sadarkah Islam Di Gendong Dunia Dahulu Dan Sekarang

188 188 189 190 192 194 195 196 198 200 202 204 206 207 208 210

2
Abdul Ghani

ABDUL GHANI
Oleh: Syaiful Arif *

alam ini Ghani pasti tak akan bisa tidur. Suara rerintikan hujan yang berjatuhan memukulmukul seng atap rumah kecilnya sangat bising dan mengganggu jadwal tidurnya. Sebenarnya

sangat tak pantas dikatakan jadwal. Dia hanyalah seorang yang sangat sederhana dan tak butuh jadwal segala. Padahal malam ini ia seharusnya tidur karena merasakan penat yang luar biasa. Bayangkan saja. Seharian penuh dia keliling pinggiran kota ini mengumpulkan rongsokan-rongsokan untuk ia jual dan ia sulap menjadi tiga piring nasi. Sepiring untuknya, dua piring lagi untuk adik-adiknya si Sholeh dan Sholehah. Bukan hanya suara bising itu yang mengganggunya. Sengseng atap rumahnya sudah banyak berlubang. Percikan air hujan juga ikut mengganggunya. Tapi untungnya kedua adiknya sudah tidur sebelum hujan turun dan air hujan tak mengenai mereka berdua. Jadi dia sedikit tenang dan baginya keadaan seperti ini bukanlah masalah. Dia sudah sangat terbiasa dengan keadaan semacam ini. Ghani merasa kurang nyaman dengan percikan-percikan air itu. Ia beranjak menuju sudut rumahnya yang hanya berukuran

3
Abdul Ghani
3x4 meter itu. Diambilnya kursi tua peninggalan bapaknya, dia duduk di sana dan dia mulai melamun mengingat ayah dan ibunya yang sudah tiga tahun lalu meninggalkannya. Awalnya Ghani tak terima dengan takdir yang ia hadapi. Ketika orang tuanya meninggal dunia, dia baru berusia sepuluh tahun. Saat itu dia masih terlalu polos untuk menghidupi adikadiknya. Jangankan adik-adiknya. Mencari makan untuk dirinya sendiri sungguh sangat sulit untuk anak berusia sepuluh tahun sepertinya. Tapi mungkin semua ini karena kucingnya yang selalu memberi inspirasi padanya. Dia pernah berpikir bagaimana kucingnya dan anak-anaknya bertahan hidup tanpa kerja di kantor atau setidaknya mengumpulkan barang rongsokan sepertinya? Padalah dia jarang memberi makan kucing-kucingnya. Akhirnya dia tahu bahwa semuanya ada yang mengatur. Ghani mengingat mengapa ayahnya dulu memberinya nama Abdul Ghani. Kata ayahnya, dia memberinya nama itu supaya suatu saat nanti dia kaya raya. Ghani ayah berharap kamu menjadi orang kaya yang dermawan. Makanya ayah beri kamu nama Abdul Ghani, katanya dulu. Tapi Ghani hanya tertawa dengan keadaannya kini. Menjadi orang kaya? Makan saja sulit. Katanya dalam hati. Hujan masih belum reda. Sebenarnya Ghani merasa kesulitan untuk tidur. Tapi suara bising hujan itu tak sanggup melawan rasa letihnya. Iapun terlelap di kursi yang sedari tadi ia duduki. Suara dengkurannya cukup nyaring dan air kental mulai mengalir dari mulutnya. Sungguh hari yang melelahkan baginya.

4
Abdul Ghani
***

Hujan sudah reda. Tak ada lagi suara bising rintik yang menghujam seng-seng rumah mininya dan yang ada hanya suara jangkrik-jangkrik yang bersembunyi di belakang sampah yang bertumpukan di pinggir kali di samping rumahnya. Ghani terbangun dari tidurnya. Bau busuk sampah-sampah itu sangat menusuk. Tapi sebenarnya bukan bau busuk itu yang membuatnya bangun. Yang membangunkannya adalah suara adzan dari mesjid tua di kampung Ghani. Ia sudah terbiasa bangun ketika adzan berkumandang karena dulu ayah dan ibunya selalu membangunkannya dan adikadiknya ketika adzan shubuh. Mereka juga selalu diajak sholat berjamaah di rumah kecil itu. Ghani dan adik -adiknya sampai sekarang masih takut ditusuk kemudian dipanggang di api besar. Begitulah ayahnya menakut-nakuti mereka supaya mereka selalu sholat. Sholeh, Sholehah Ayo bangun. Sudah shubuh. Kata Ghani dengan nada yang cukup nyaring. Kedua adiknya langsung bangun ketika mendengar suara Ghani. Upacara harian ketika fajar pun berlangsung. Mereka melakukan sholat jamaah dengan sang imam di rumah itu, ustadz Abdul Ghani kemudian belajar mengaji bersama ustadz muda itu. Ya. Tak berlebihan jika si Ghani dipanggil ustadz. Dialah yang mengajarkan kedua adiknya membaca Al-Qur'an. Dia sendiri

5
Abdul Ghani
sudah lancar sekali memaca Al-Qur'an meski usianya baru sepuluh tahun. Itu semua berkat ayah dan ibunya. Meski keadaan ekonomi sangat menekan, mereka masih memperhatikan agama ketiga anaknya. Ghanipun tak akan sanggup mengajikan adik-adiknya di mesjid kampungnya. Guru ngajinya meminta bayaran bulanan dari setiap muridnya. Bagaimana dia bisa membayarnya? Ghani langsung saja memakai pakaian dinasnya. Kaos putih compang-camping yang sudah kusut dan celana abu-abu yang juga sudah tua, lebih tua dari pada usianya. Dia ingat sekali bahwa celana itu memang benar-benar tua. Celana itu adalah celana bapaknya ketika kecil, diberikan oleh sang kakek tercinta yang berprofesi sebagai pemulung handal. Celana yang pantas dimasukkan ke museum kota setempat. Hari ini Ghani tak perlu lagi berkeliling mengelilingi kota untuk mencari rongsokan-rongsokan. Jam sepuluh pagi di kantor daerah ada rapat pejabat yang akan dihadiri ratusan orang dari berbagai daerah. Ya bukan dia yang mau mengikuti rapat. Tapi dia senang sekali meski sebenarnya bukan dia yang akan mengikuti pertemuan itu. Hampir bisa dipastikan kalau ada acara rapat besar seperti ini akan banyak sisa makanan yang dibuang di tempat sampah depan kantor.

Makanan enak kok dibuang-buang di tempat sampah. Diberikan ke saya dan adik-adik saya kan lumayan. Gumamnya
dalam hati. Ghani yang masih polos suatu hari pernah berdoa semoga di kantor itu ada rapat tiap hari supaya sisa-sisa makanan

6
Abdul Ghani
juga banyak dan dia tak perlu memulung setiap hari yang hasilnya tak jelas. Ghani Ghani Ghani sudah standby di depan kantor. Dia tak akan bosan di sana karena di sana sudah ada teman sebayanya yang juga berprofesi sebagai pemulung. Dia bisa bercanda dan tertawa bersama temannya itu. Awalnya cuma Ghani yang tahu bahwa banyak sisa makanan seusai rapat. Tapi dia kasihan melihat temannya kelelahan berkeliling seharian mencari barang rongsokan. Apalagi dia dan adik-adiknya tak akan sanggup menghabiskan makanan-makanan itu bertiga karena sisa makanan itu memang sangat banyak. Ghani Japra, teman dari kecil Ghan i menyapanya. Mereka lagi rapat apa ya? Lanjutnya. Ghani mengenal Japra memang begitu. Jiwa ingin tahunya sangat tinggi. Sehari saja bisa puluhan pertanyaan yang ia ajukan. Memangnya penting kita tahu? Ketus Ghani. Ya. Nggak sih. Yang penting itu kan cuma makan kita.Tapi barangkali mereka membicarakan kita yang melarat ini. Kapan ya mereka rapat sama kita? Ujar si Japra sedikit berimajinasi tinggi. Rapat sama kita? Si Ghani benar -benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Japra. Ia hanya tertawa terbahakbahak sembari memegang perutnya yang sakit karena tertawa. Sudahlah, Pra Jangan menghayal. Kita tunggu saja makanannya.

7
Abdul Ghani
Uang mereka kan banyak. Mereka belikan apa ya? Tanya si Japra. Japra Japra tanya saja sendiri kalau mereka sudah keluar! Ghani mulai angkat suara. Bukan karena dia marah, tapi dia memang sering begitu dengan si Japra. Tapi kok kata orang-orang mereka banyak yang korupsi ya? Apa uang mereka kurang banyak?! Pertanyaan si Japra mulai mendalam. Em. Iya ya. Uang puluhan juta kan bisa kita belikan nasi untuk bertahun-tahun. Kok harus korupsi? Ghani mulai terjerumus ke dalam pembicaraan Japra. Perbincangan politik mereka berdua semakin seru saja. Topik pagi ini adalah korupsi. Padahal mereka tak tahu persis apa itu korupsi. Tapi Ghani dulu pernah bertanya kepada ayahnya apa itu korupsi. Sang ayah hanya memberitahunya kalau korupsi itu adalah mengambil uang rakyat. Berarti mengambil uang kita, Yah? Kata Ghani dulu kepada ayahnya. Setelah ayahnya dulu memberitahunya tentang korupsi pejabat, Ghani langsung bercerita kepada teman sejolinya, Japra. Mereka berdua berjanji akan membenci pejabat. Mereka menyangka bahwa semua pejabat sama, memakan uang mereka meskipun mereka merasa tidak pernah uang mereka diambil pejabat karena semua hasil kerja mereka, mereka belikan nasi

8
Abdul Ghani
dan kebutuhan sehari-hari mereka. Pola pikir yang sangat polos dan sederhana. Rapat pejabat sudah berakhir dan bincang-bincang politik antara Ghani dan Japra juga berakhir. Ghani dan Japra berlari ke samping kantor biar tak ada pejabat yang melihat mereka. Mereka sudah terlanjur membenci pejabat. Seakan-akan mereka takut di hadapan pejabat. Kini mereka hanya menunggu Pak Jamal, penjaga kantor membuang sisa-sisa makanan ke tempat sampah di depan kantor. Dan akhirnya Pak Jamal membuang sisa-sisa makanan itu. Wah Banyak sekali makanannya, Ghani, kata Japra senang. Bisa buat makan besok lagi, lanjutnya. Perkiraan Japra tak salah karena makanan itu memang sangat banyak. Pasti mereka sudah makan sebelum rapat, kat a Ghani menebak. Apa mungkin mereka sengaja sisakan untuk kita? Pertanyaan Japra mulai keluar lagi. Kenal kita saja tidak. Bagaimana mau menyisakan

makanan untuk kita? Tak mungkin lah Ghani masih menyimpan rasa benci kepada pejabat. Mereka segera menghampiri tempat sampah kuning di depan kantor itu. Si Japra mengeluarkan sisa-sisa makanannya dan si Ghani mengeluarkan sisa minuman botolnya. Senyum mereka melebar karena makanan dan minuman itu sungguh banyak sekali.

9
Abdul Ghani
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam datang menuju arah kantor. Perasaan Ghani dan Japra mulai tak enak. Mereka yakin mobil itu adalah mobil pejabat yang mereka benci dan mereka takuti. Japra, ayo lari!!! Bisik Ghani. Tak usah lari. Di sini saja. Si Japra menolak tawaran Ghani sambil menariknya supaya tidak lari meninggalkannya sendiri karena dia pun sebenarnya juga takut. Nanti dia ambil makanan ini. Dia kan pejabat, rupanya si Ghani terlalu berburuk sangka kepada pejabat. Mobil mewah itu sudah ada di hadapan mereka berdua. Jendela mobil itu terbuka dan Ghani serta Japra sedikit aneh melihat wajah orang di dalamnya. Kok senyum ya? Tanya si Japra. Gak tahu. Bukannya mereka benci kita? Ghani tambah bingung. Mereka berduapun terpaksa tersenyum meski terlihat rasa takut di wajah mereka. Ghani dan Japra tambah ketakutan ketika sesosok lelaki yang tadinya duduk di mobil keluar menghampiri mereka berdua. Wah Benar kata Ghani. Pejabat ini akan mengambil makanan

sisa ini. Japra mulai mengiyakan prasangka buruk Ghani.


Si Japra benar-benar takut dan dia gemetar. Dia ulurkan plastik besar yang berisi makanan sisa ke tangan pejabat itu. Entah seberapa besar rasa takut Japra sampai dia salah tingkah

10
Abdul Ghani
begitu. Si Ghani tak separah itu. Dia hanya menyembunyikan minuman sisa yang ia pegang di belakang badannya. Adik kenapa? Sapa pejabat itu dengan nada yang sangat halus. Dia pasti bisa membaca raut wajah Japra dan Ghani yang sedang ketakutan. Makanya dia tak angkat volume suaranya. Ghani dan Japra hanya bisa diam. Mereka tak tahu harus berbicara apa. Tapi si Ghani benar-benar merasa bingung dengan pejabat itu. Masa ada pejabat yang baik?! Katanya dalam hati. Si Japra sudah tak kuat mengulurkan tangannya lebih lama lagi. Rasa pegal mulai menyerang otot-otot tangannya dan ia turunkan plastik berisi makanan itu. Pajabat itu mulai mendekati Japra dan Ghani. Kedua tangannya mendarat di kepala mereka berdua dan si Japrapun semakin gemetar. Senyum pejabat itu membuat Ghani sedikit berubah pikiran. Tapi dia tak langsung mengklaim bahwa pejabat itu baik. Yang ia pikirkan adalah bahwa lelaki itu bukan seorang pejabat. Makanya dia mau senyum untuk mereka berdua. Tanpa rasa takut lagi Ghani bertanya kepada lelaki itu, Om bukan pejabat ya? Kelihatannya bagaimana? Pejabat itu balik bertanya. Sejenak Ghani memandangi lelaki itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Pakaian Om seperti pejabat. Tapi Om pasti bukan pejabat, tapipengusaha. Katanya setelah melakukan prediksi.

11
Abdul Ghani
Saya pejabat. Sahut pejabat itu. Dan sekarang Ghani mulai sadar bahwa selama ini dia berburuk sangka kepada pejabat. Kok Om baik? Si Ghani masih menyimpan sedikit rasa tidak percaya kepada pejabat itu. Gambar buruk pejabat yang sudah lama ia simpan masih belum hilang secara total. Pejabat itu hanya tersenyum. Namun senyum kali ini lebih lebar dan akhirnya diapun tertawa mendengar omongan Ghani. Sementara itu dia juga tertawa melihat Japra yang tak henti gemetaran. Memangnya kalau pejabat tidak boleh baik? tanya pejabat itu dengan nada sedikit menyindir. Japra mulai angkat suara. Dia sudah tak lagi gemetaran dan dia mulai berani berbicara di hadapan pejabat itu. Boleh, Om. Makanya jangan berburuk sangka kepada orang lain. Kata pejabat itu dengan senyum yang masih lebar. Tapi kata ayah Ghani banyak pejabat yang korupsi. Korupsi kan artinya mengambil uang rakyat. Japra lebih berani lagi berargumen di depan pejabat itu. Untuk kali ini dia tak lagi gemetar karena dia sudah yakin bahwa pejabat itu memang benar-benar baik. Tapi banyak bukan berarti semuanya kan? Kata pejabat itu mengajarkan Ghani dan Japra. Sudahlah. Hilangkan pikiran buruk kalian itu. Om mau mengambil berkas Om yang ketinggalan di dalam. Oh ya. Nama adik-adik siapa? Lanjut pejabat itu.

12
Abdul Ghani
Saya Japra dan dia teman saya, Ghani. Si Japra ternyata kini lebih berani dari pada Ghani. Padahal tadi dia takut sekali melihat pejabat itu hingga gemetaran seakan-akan melihat malaikat maut saja. Nama Om Abdullah. Balas lelaki itu. Sama dengan nama ayah Ghani dong, kata Japra menyeletuk. Ghani spontan teringat kepada ayahnya. Dia menghayal kalau saja yang mengusap kepalanya tadi adalah ayahnya. Kali ini tak seperti tadi malam. Tadi malam dia memang mengingat almarhum ayahnya tapi tanpa air mata sedangkan sekarang butiran-butiran air mata Ghani mulai menetes. Japra pun merasa bersalah karena telah menyinggung perasaan Ghani. Tentu pak Abdullah merasa aneh dengan hal itu. Langsung saja dia tanyakan kepada Ghani, Kenapa, Ghani? Ghani hanya bisa menangis dan tak menjawab pertanyaan itu. Japra langsung menjawabnya dengan nada penyesalan , Ayah dan ibunya sudah meninggal tiga tahun lalu. Abdullah mendekati Ghani dan menghapus air matanya. Ghani merasa lebih tenang dan semua prasangka buruknya terhadap pejabat kini hilang total. Tapi ia lebih teringat kepada ayahnya. Air matanya semakin deras. Begitu juga si Japra. Penyesalannya semakin besar, padahal dia tidak berniat menyinggung Ghani sama sekali.

13
Abdul Ghani
Setelah Abdullah yakin bahwa Ghani sudah tak menangis lagi, dia langsung masuk ke dalam kantor mengambil berkasnya yang ketinggalan. Di tengah perjalannya ke dalam kantor ia sempat berpikir menjadikan mereka berdua sebagai anak angkat. Sudah lama anak satu-satunya meninggal dunia. Akhirnya dia memutuskan untuk menguji mereka berdua. Bukan ujian pertanyaan, tapi dia berniat menguji mereka kejujuran. Sebelum Abdullah mengendarai mobil mewahnya dia sengaja menjatuhkan dompet tebalnya di dekat Ghani dan Japra. Dia langsung naik ke dalam mobil dan menjauh dari mereka berdua. Tapi dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Dia melihat ke kaca spion mobilnya, dan benar. Mereka melambaikan tangan sambil berteriak kencang menandakan ingin mengembalikan dompet itu. Abdullah pun kembali ke arah mereka dengan senyuman bangga dan senang. Dompet Om Abdullah jatuh, celetuk Ghani sambil mengulurkannya ke tangan Abdullah. Om tadi sengaja menjatuhkan dompet Om untuk menguji kejujuran kalian. Ternyata kalian jauh lebih jujur dari pada anakanak kota, sahut Abdullah dengan senyum yang sangat bersahabat. Kalian mau Om jadikan anak angkat? Lanjutnya menjelaskan kepada mereka niat baiknya.

14
Abdul Ghani
Si Ghani dan Japra saling menatap tak percaya dengan perkataan Abdullah. Tapi saya punya dua adik, Om, kata Ghani. Saya juga punya satu adik, Om. Tambah Japra. Bagus dong. Berarti saya punya lima anak. Kalian ma u, kan? Rupanya Abdullah lebih senang dari pada hanya memiliki dua anak angkat. Ghani dan Japra hanya mengiyakan kata Abdullah. Kalian tinggal di mana? Lanjutnya. Di dekat kali, Om. Sahut Ghani. Kalau begitu biar Om antar kalian ke rumah kalian, kemudian kalian ikut Om ke rumah dan kalian menjadi anak Om, ajak Abdullah. Japra tak bisa percaya dengan nasibnya ini. Apalagi si Ghani. Padahal dulu dia sangat membenci pejabat karena salah sangka. Ternyata sekarang dia bahkan menjadi anak angkat seorang pejabat. Dia juga tak habis pikir dengan namanya sendiri, Abdul Ghani. Dia ingat harapan ayahnya dulu, katanya dia berharap Ghani menjadi orang kaya yang dermawan. Ternyata harapan itu tercapai dan hidupnya kini berputar seratus delapan puluh derajat.

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.
*

15
Diary Hitam

Diary Hitam
(Gelombang Pahit Prahara Cinta)

By: Micdarul Chair El-Sharafy *

Hidupku adalah cabikan luka Serpihan tanpa makna Hari-hari yang meranggas lara Namun,,, Dalam naungan suci cinta Simfoni perjuanganku menggema 14 Oktober 2008

lemas. Sedikitpun, tak kuhiraukan raut kusut wajahku. Biarlah, memang seharusnya aku menangis. Ya, menangis menjerit, seiring dawai kepedihan sanubari sendiri.

ekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Terus tanpa henti, aku mencakar-cakar tembok putih, tempat aku duduk termangu di pojok ruangan. Air mataku mengucur deras, badanku

16
Diary Hitam "Mas Syafi', maafkan istrimu ini, hiks hiks.," suaraku risau mendesau, lesung pipiku lembab, bermandikan linang air mata. Malam kian mengelam. Giris gerimis turun menyapa sunyi. Lolongan serigala gurun malam bersahut-sahutan. Ringkikan jangkrik mengerik-ngerik kepongahanku. Mengusik kepul asap kepedihanku. Tubuhku berguncang, bergetar dan berputar. Semakin lama semakin kencang. Meliuk-liuk sembari menggenggam diary hitam, sebuah buku catatan perjuangannya mempertahankan sketsa cintaku. Mas Syafi' Haidar. Dimanakah engkau kini? Masih hidupkah? Atau sudah tiada? Tanpa kusadari, gigi menggigit bibir mungilku. Asin. Bau darah. Aahh, aku begitu menyesal telah terlalu membencimu, Mas. Namun, apakah sesal yang berjejalan di dadaku dapat mengembalikanmu kemari? "Mas Syafi' Mas Syafi'," panggilku dengan suara parau. Batinku tertancap beliung kepedihan. Aku pandangi foto Mas Syafi', yang ada tepat di lembaran pertama, suamiku tercinta. Teduh, mengayomi. Aku hanya bisa memendam rasa kecewa tiada tara. Bukan pada rembulan yang mengikutiku pada saat ini, atau pada gugus bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Tetapi, karena aku telah

17
Diary Hitam menggoreskan luka pedih dalam hatimu. Pedih, dan sangat menyakitkan. Hatimu yang tersembilu mendengar permintaan talakku. Mas, sungguh aku menyesal!! Kuharap engkau kembali. Dan kini, selendang malam pun kian gelap. *****

--- 14 Oktober 2008 --Tepat di tanggal ini, engkau pergi. Dua tahun kemarin. Aku laksana diterjang badai. Jasadku terhempas kesana-kemari. Engkau pergi, di kala aku tengah terbaring lumpuh di rumah sakit. Saat itu aku mencercamu "Suami tak punya otak! Istri sakit malah pergi tanpa tujuan jelas! Dasar!" Hingga akhirnya masa menyadarkanku, bahwa kepergianmu ibarat taruhan jiwa demi menyelamatkan hayat istri tersayang. Tiap kali aku mengingat memori mesra bersamamu, kornea mataku terlihat seperti kepingan kaca pecah. Rasa bersalah berdebamdebam menohok dadaku. Fuih! Kutarik nafas panjang, tanda penyesalan tiada tara. Andai saja waktu dapat terulang, pekikku dalam hati. Ir. Syafi' Haidar, M.Tech, M.Eng Seorang cendikiawan muda keturunan Melayu yang

sekaligus dosen terbang dari International Islamic University Islamabad (IIUI), Pakistan. Dia diminta oleh rektor Hadhramawt

18
Diary Hitam for Sains and Technology University, kota Mukalla-Yaman, untuk bersedia sumbangsih keilmuan di fakultas Fisika. Seusai melalui proses rumit, tepatnya pada tanggal 22 Mei 1999, dia memulai kiprah perdananya sebagai tenaga pengajar di kampusku. Baru pertama kali aku mendengarkan presentasinya, kalbuku langsung berdegub kencang. Terpikat erat, seakan terhipnotis kalam spektakulernya bersarat jutaan pengetahuan. Aku masih ingat betul, waktu itu dia tengah menjelaskan tentang bantahan Al- Qur'an terhadap teori Ptolemeus. Dengan mencuplik firman Allah surat An-Naml: 88, dia menjelaskan bahwasanya bumi tidak diam. Al-Qur'an yang secara simbolis mengambil term gunung untuk mewakili bumi menyatakan hal tersebut. Dan akhirnya, kemajuan astronomi modern menunjukkan bahwa bumi memang tidak diam, alias bergerak. Momen paling berkesan saat itu adalah ketika aku dipaksa mengembalikan saputangannya oleh Helwa, teman sebangku. Saat itu, langkah kakiku terasa berat, seperti menyeret besi seribu karat. Aku malu, sungkan, tapi ingin berjumpa. Setapak demi selangkah menuju ruang pojok utara lantai tiga gedung fakultas. Dag.. dig.. dug.., jantungku rasanya ingin menjebol kerangka tulang rusukku. Tok.. tok.. tok.. perlahan aku ketok pintu kubus berwarna cokelat kopi.

"Assalmu'alaikum", ucapku.

19
Diary Hitam "Cari siapa?!." Deg!! Ada bunyi suara membelakangiku. Segera aku picingkan pandangan, dan, "Baa.. baap.. pp, ba.. pak Syafi'?!" Saking kaget dan groginya, tanganku sekonyong-konyong menyodorkan saputangan miliknya tanpa aku sadari sebelumnya. Sembari kepala merunduk malu, tak kuasa menatap keharibaan auranya. "Oohh, terima kasih! Sapu tangan ini penuh jutaan kenangan bersama ibunda tercintaku. Beruntung, kamu telah mengembalikannya. Syukur, Alhamdulillah. Oh ya, nama kamu siapa?" bertanya balik kepadaku. "Na.. naj.. wa salsabila, Pak!." Aku memberanikan diri untuk menatap wajah tampan dosen berdarah Melayu. Setelah sebelumnya, korneaku menatap serius lantai putih.

Subhnallah!

Bola

mataku

syahdu

mengagumi

kebinarannya. Menakjubkan!! Aku jadi salah tingkah, tanpa ada sebab pasti, aku berlari meninggalkan Bapak Syafi' yang masih dalam keadaan tercengang keheranan melihat respek perbuatanku. Hatiku bertanya, kenapa aku malah berlaku seperti orang bodoh? Ada apa dengan diriku sesungguhnya? Tak biasanya aku seperti ini? Aneh!! Ataukah benar, aku jatuh cinta padanya?! Agh, rasanya terlalu singkat untuk itu. Entahlah

20
Diary Hitam ***** Isak parauku semakin membuncang. Malam hari Ied Fitri yang seharusnya aku gemakan takbir, justeru penuh luapan air mata. Apalagi saat aku membalik lembaran ketiga diary hitam Mas Syafi'. Di sana tertulis:

--- 09 April 2001 --"Badai musibah membawa berkah."


Memoriku langsung berputar tajam, mengembalikan

kenangan bersamanya. Ceritanya, selepas aku memperoleh nilai

cumlaude ujian semester, aku shopping bersama teman seobrolan


ke Mustahlek Mall, sekitar 500 meter arah kanan pantai Cornies, Mukalla. Maksud hati ingin mencari tambahan reverensi buku materi di Jael Jadid Bookstory. Tapi, temanku justru membelok ke Mustahlek. Katanya sekedar mampir, tapi hampir lima jam belum juga puas menjelajahi seluruh isi Mall terbesar di Provinsi Hadhramawt ini. Tatkala melihat jam menunjukkan 21.00 WY. Tanpa berpikir panjang lagi, aku nyelonong keluar meninggalkan mereka yang masih renyah menikmati gebyar Mall, aku tunggu mereka di halte taksi. Gila! Sudah hampir setengah jam aku menunggu, sialan!, gerutu hatiku. "Woy, Najwa!!."

21
Diary Hitam Daun telingaku menangkap suara dari seberang

memanggil-manggil. Aku palingkan wajahku ke samping. Dan.., "dasar, tega banget kalian!! Aku sudah korban waktu begitu lama, eh, kalian malah enak-enak makan di situ," teriakku emosional. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menyebrang jalan. Tapi..... Gguuubbbrrrraaakkkkk!!!! Mobil sedan Camry silver dengan kencangnya menabrak, diriku terpental jauh, kepalaku membentur keras jalan aspal. Sebelum aku pingsan, aku melihat sosok lelaki mendekat, kemudian menggendong ke tepi jalanan. Seusai itu, pandanganku kabur, dan aku pun tak sadarkan diri. ***** Setelah tiga hari lamanya, akhirnya aku dapat melewati masa kritis. Abah dan umi' nampak sangat gembira ria mengetahui kepulihanku. Namun, kira-kira siapa lelaki yang membopong diriku ke tepi jalan? Sayang, panca pengelihatanku saat itu agak remangremang, tak jelas pastinya. "Najwa, abah dan umi telah sepakat untuk

mengkhitbahkanmu dengan seseorang. Dia telah berjasa besar demi keselamatan nyawamu," tutur abah santun sambil mengelus uraian rambut keriting pirangku.

22
Diary Hitam "Abah, kalau boleh tahu, siapa calon suami Najwa?" ujarku yang belum memahami alur pembicaraan. Belum sempat abahku menjawab. Daun pintu ruangan perlahan terbuka. "Kreek"

"Assalmu'alaikum." "Wa'alaikum salm." Serentak, abah, umi dan aku


menjawabnya. Astaga!! Bapak Syafi'?! Ada apa gerangan beliau datang ke sini?! "Bagaimana keadaanmu, Syafi'?" sapa abahku begitu sopannya. Baru kali ini, aku melihat sikap abah seperti ini. Padahal, siapa pula Bapak Syafi'? Bukankah abah tak pernah mengenalnya sebelumnya. Umi'ku hanya tersenyum manis mengelus kepalaku yang masih terlilit kain perban. "Fi hifdzillah, abah! Kondisi Najwa semakin membaik?" tanya Bapak Syafi' sambil melirik ke arahku. Aku hanya memandang sebentar, kemudian merunduk, takut ketahuan umi'. "Alhamdulillah, sore ini sudah boleh pulang. Kesehatannya telah memulih, meski belum seratus persen."

23
Diary Hitam Benar-benar aneh!! Mu'amalah abah sangat berbeda dari biasanya. Umi' juga. Aku curiga. Pasti ada hal yang disembunyikan tentang diriku. "Najwa, anakku sayang!" Abah memanggilku mesra. "Labbaik, Abah!" responku lembut. "Entah, bagaimana abah dan umi'mu membalas perjuangan keras Syafi'. Dialah yang telah menolong jiwamu untuk tetap dapat bernafas di dunia ini. Dia pula rela mendonorkan darah segarnya demi kemaslahatan nyawamu. Setelah bermusyawarah dengan umi', abah memutuskan untuk meminangkanmu sebagai calon pendamping hidupnya." HAHH!! Aku dan Bapak Syafi' terperanjat kaget mendengar apa yang barusan abah katakan. Setengah tidak percaya. Aku, antara kebahagiaan dan kekhawatiran. Benar! Kebahagiaan, karena jiwaku telah lama mendambakan esensinya. Tapi, masih terbesit kekhawatiran akan penolakannya. Situasi begitu tegang. Saking mencengkramnya, tanganku sampai menggigil gemetar. "Sekarang, bagaimana tanggapanmu, Syafi'?" ujar abah memecah kepongahan. Sedari tadi Syafi' hanya menundukkan kepala. Entah apa yang dia pikirkan, semoga hasilnya menyeka kegelisahan sukmaku. Dan kini, saatnya dia menjawab

24
Diary Hitam

"Bismillah",
mendengarnya.

ucapnya

lirih,

namun

aku

mampu

"Abah, umi' dan Najwa yang saya hormati. Ibarat kata bagai memakan buah simalakama. Saya takut menyakiti diri kalian, wahai bangsa Arab. Sesungguhnya Saya tak pantas untuk menerima hal ini. Bukan karena Saya tak mencintainya, namun antara Saya dan Najwa ada kesenjangan strata."

Deg!!

Hatiku

berdesir

mendengarnya.

Abah,

umi'

tercengang, sebelum kemudian bertanya. "Kesenjangan strata dalam perihal apa, Syafi'?" "Sesungguhnya kalian adalah insan istimewa, pilihan Allah SWT. Cukuplah, Nabi Muhammad, Al-Qur'an dan bahasa ahli surga menjadi unsur kelebihan kalian dari pada kami, kaum Ajam (selain Arab, red). Arab ialah barang tambang yang mempunyai keutamaan dibandingkan kaum Ajam, sebagaimana yang dikatakan imam Zainal 'Abidin Ali, cucu Ali bin Abi Thalib. Maka, pantaslah imam Suyuthi berkata dalam karya monumentalnya yang berjudul

al-khosois bahwasanya: tak ada satupun kaum Ajam yang se-kufu


untuk menikah dengan keluarga Rasulullah SAW secara khusus, dan bangsa Arab secara umumnya." "Lantas, bagaimana pendapat Bapak dengan pidato

Rasulullah yang menyatakan bahwa orang Arab tak lebih utama dari orang Ajam, dan begitu pula sebaliknya?" cerutusku memotong.

25
Diary Hitam "Najwa, imam At-Turmudzi berkata: hadits tersebut

gharib, tak dikenal. Yahya bin Mu'in melemahkan hadits ini. Abu
Hatim berpendapat hadits tersebut mungkar. Ditambah An-Nasai mengatakan bahwa hadits tadi matruk," paparnya yakin. "Sebelumnya, maaf Syafi', bukankah imam Nawawi

berkata bahwasanya jikalau seorang wali itu menikahkan wanita dengan seseorang yang tidak kufu' melalui ridhonya, maka pernikahan itu sah. Apalagi walinya itu sangat dekat, seperti bapaknya?" umi' yang sedari tadi diam, kini angkat bicara. "Memang seperti itu adanya. Namun, perbedaan strata sangatlah mempengaruhi terhadap keharmonisan bahtera rumah tangga kami kelak," jawabnya tenang. "Lalu apa manfaat cinta dalam kronologi manusia?", aku mendebatnya. "Cinta ibarat oase kesejukan di tengah kegersangan fatamorgana dunia. Cinta tak akan sirna seiring berlajunya waktu, namun dia akan memberikan warna lain. Warna kecacatan dan keburukan yang dahulu kalanya tak terlihat ketika mereka bermadu kasih. Maka dari itu, cinta membutuhkan pengalaman yang mampu membumikan benihnya ke dalam lubuk hati." "Berarti anda meragukan ketulusan hati Najwa, Pak? Tak cukupkah pengorbanan Najwa demi sebuah cinta dan kasih sayang? Bapak Syafi' tega menyembilu sukma Najwa. Hati Najwa sakit, Pak! Ternyata, Bapak Syafi' tak lebih dari para pecundang

26
Diary Hitam cinta yang hanya bisa memonopoli perasaan wanita. Sungguh kejam Anda, Pak!" Aku menangis parau, tak kuasa menahan gejolak jiwa yang membuncang. Sedangkan Bapak Syafi', dia hanya merunduk, merenungi apa yang aku ucapkan. Raut wajahnya berubah pucat pasi, muram, penuh kebimbangan. 10 menit, suasana ruangan sunyi senyap. Terlarut dalam pencarian secerca cahaya, titik penyelesaian. Hingga akhirnya, Bapak Syafi' angkat bicara "Sejujurnya, aku menaruh simpati kepadamu, Najwa! Ketika Engkau mengantarkan sapu tanganku yang tertinggal, tatkala engkau memandangku kala mengajar, dan ujungnya saat Engkau mengutarakan polemik hatimu akan rasa cintamu terhadap diriku," ucapnya, sayup-sayup dia menatapku sebentar, kemudian menunduk kembali. Hatiku bergetir dahsyat, sebelum saatnya dia melanjutkan perkataannya. "Namun, berkaitan Aku merasa istri. minder. Meski orang telah orang

menyebutku sebagai insinyur besar, Aku sangatlah sensitif jika dengan calon Keluargamu termasuk terpandang di kota Mukalla, Engkau juga tergolong primadona kampus yang didambakan oleh sejuta mahasiswa dari berbagai elemen, dan." "Dan ternyata Najwa Salsabila lebih mencintaimu, lantas apa respon Anda, Pak?" potongku mempersingkat waktu.

27
Diary Hitam "A aku," ucapnya terbata-bata. "Aku, akan meminangmu dalam ayunan Allah, Najwa."

Alhamdulillah Umi' merangkulku riang gembira. Hatiku


seperti bertaburan kembang melati, semerbak harum mewangi. Abah tak henti-hentinya bertahmid, seraya memeluk tubuh Bapak Syafi'. *****

--- Mukalla, 22 Mei 2001 --"Aku rajut mahligai cintaku bersama Najwa Salsabila, bidadariku."
Wahai para penikmat ceriteraku! Coba anda rasakan, betapa indahnya prosesi bulan madu di awal kronologi bahtera rumah tangga kita. Darah pujangga mengalir deras di seantero urat tubuhnya. Romantis! Simfoni cinta Romeo-nya menawarkan cawan anggur memabukkan siapa saja yang meneguknya. Kala itu, Syafi' sering kali memohon:

"Tuhan, biarkanlah fajar subuh tertidur panjang, kami masih ingin berselimut selendang kelabu malam, menatapi kemerlip gugusan bintang, sunggingan senyum manis purnama, bermadu kasih bersama kekasih cintaku, Najwa Salsabila. Selaksa pesona, laksana eksotika putri Shinta di alam khayangan."
Semenjak awal pernikahan kami, dia memintaku untuk memanggilnya dengan "MAS." Seperti panggilan akrab ibunda

28
Diary Hitam tercintanya kepada sang suami, yang setelah itu aku ketahui dia berasal dari Jawa, Indonesia. Tapi, ya Allah! Sekarang, aku lemah tak berdaya tanpa eksistensi Mas Syafi'. Rajutan mahligai cinta kita kian berceraiberai. Aku mempolitisasi busuk perasaan tulusnya, menyumpahserapahi di khalayak masyarakat, menginjak martabat "Ir"-nya di meja kampus. Dia sabar menerima buruknya syakwasangka, cercamakiku. Walaupun akhirnya, dia memutuskan untuk pergi jauh demi menjaga perasaan istri tercintanya. Jujur! Dialah mihrab cinta sejatiku, ya Allah ***** Episode gelombang pahit prahara cinta baru saja dimulai. Perkawinanku yang telah memasuki tahun ke-empat, belum juga membuahkan sang buah hati. Kecemasan, kegelisahan dan kegundahan mewarnai bahtera rumah tanggaku. Gosip tak sedap kanan-kiri semakin menggatalkan daun telingaku dan Mas Syafi', suamiku. "Kok belum punya anak juga, kira-kira siapa yang bermasalah, yah?!" Mulanya berbisik-bisik, tapi akhirnya menjadi berisik pula. Setiap aku mendengar gunjingan tetangga, aku pulang dengan menangis parau. Mas Syafi', tampil beserta kebijaksaannya, memelukku penuh curahan kasih sayang.

29
Diary Hitam Atas tuntutan naluriku, tanpa sepengetahuan siapapun, aku mengajak Mas Syafi' di berkonsultasi kota Mukalla. ke Di salah sana satu aku laboratorium termasyhur

memeriksakan gangguan kehamilan. "Tuan Syafi', silahkan Anda masuk ke ruang dokter!" panggil seorang suster bercadar hitam dengan memakai jas dinas putih. "Mas, aku ikut, yah!" pintaku memelas. "Tenang, sayang! Semuanya pasti baik-baik saja, kok! Percaya pada Mas, yah!" ucapnya sembari mengecup kening beningku. Lima menit berselang Mas Syafi' mulai nampak keluar dari ruangan dokter. Aura wajahnya masih tetap berseri seperti sedia kala. "Yuk, ikutan masuk, sayang!" ajaknya kepadaku. Hatiku gontai menapaki lantai menuju ruangan dokter. Kayak apa persisnya aku di saat itu, aku tak bisa menerjemahkannya dalam cerita ini. Ya Tuhan! Teguhkanlah hatiku menerima qadha dan qadarMu. Dokter perempuan tua renta di depanku terlihat canggung memberitahukan hasil laborat. Dia menatap suamiku cukup lama,

30
Diary Hitam sebelum akhirnya Mas Syafi' tersenyum teduh sambil

mengangukkan kepalanya. "Okey! Hasil laboratorium menyatakan bahwa istri anda, Nyonya Najwa Salsabila tidak mengalami kendala apapun, alias normal. Sedangkan Anda, Bapak Syafi' Haidar" Sekali lagi dokter berkaca mata putih tebal ini meragu. Tarikan nafasnya terdengar sangat berat, dia pun berkata: "Bapak Syafi', Andalah yang terinfertilitasi atau mandul, harapan Anda untuk mempunyai seorang anak hampir bisa dikatakan telah sirna."

"Inn lillah!!!" responku sangat terkejut. Hampir saja


badanku tersungkur jatuh, kalau saja Mas Syafi' tak segera merangkulku. "Sabar, sayang! Tabah!" aura wajahnya mengisyaratkan kesedihan mendalam. "Bapak Syafi' Haidar terjangkit penyakit varikokel. Mungkin, Bapak terlalu lama duduk, sehingga menyebabkan pembuluh vena membesar dan imbasnya terjadi gangguan di scrotum (buah dzakar). Hal ini berpengaruh besar terhadap kekuatan semburan sperma yang diperlukan untuk proses pembuahan."

31
Diary Hitam Sebuah penjelasan yang seakan menamatkan episode hayatku. Impianku menjadi seorang bunda kandas ditengah jalan.

Shock berat!
*****

Hidupku adalah cabikan luka, serpihan tanpa makna, hari-hari yang meranggas lara. Namun, dalam naungan suci cinta, simfoni perjuanganku menggema (Mukalla, 141008)
Setelah sekian lama, aku baru menyadari kamuflase skenariomu. Engkau sungguh tak ingin menodai perasaan hatiku. Sampai dirimu rela disumpah-serapahi para tetangga, dihina karena kemandulan yang Engkau rekayasa. Benar! Simfoni cintamu telah merubah hari-harimu yang meranggas lara menjadi euforia seribu pesona. Engkau berani memanipulasi undang-undang kedokteran, hanya karena rasa kasih sayangmu terhadap diriku, Najwa Salsabila, istri tercintamu. Ketika itu, Engkau berani membujuk dokter untuk merekayasa hasil laborat yang ternyata memvonis bahwa aku terjangkit penyakit endrometriosis. Terjadi pertumbuhan abnormal jaringan impian di luar uterus. Dengan usaha jungkir balik, engkau berusaha membujuk dokter. Kontan saja, dokter menolak semerta-merta. Namun, akibat terus didesak, akhirnya dokter setuju merekayasa hasil vonis laborat untuk mengalihkan asal permasalahnnya ke pihak suami.

32
Diary Hitam Dan dimulailah pagelaran dramatis yang mencompangcampingkan jubah kebijaksaanmu, menginjak hina mahkota kepemimpinanmu. ***** Lima tahun berlalu Aku keharmonisan dan Mas Syafi' keluarga mampu kami mempertahankan polemik

mahligai

menghadapi

kemandulan ini. Hingga tibalah rasa egoisme darah Arabku muncul, aku mulai sering mencaci maki dirinya, karena ketidaksuburannya. Sampai suatu saat, aku melontarkan permintaan cerai selamanya. "Mas Syafi', Saya telah bersabar menerima caci-maki selama tujuh tahun. Berdoa, bermunajat maupun pelbagai usaha telah kita usahakan. Kesabaranku juga mempunyai batas kewajaran. Rasanya, sangat pantas jikalau Saya mendambakan buah hati, Mas. Dan sepertinya, Mas Syafi' tak mampu mewujudkan impianku tersebut. Saya kecewa, Mas!" Emosiku mencapai titik puncaknya, alur pikiranku telah lepas kendali. Sehingga Aku tega mengucapkan dengan nada suara melecit lengking: "Mas, talak Aku tiga kali!" Spontan, Mas Syafi' kaget bagai tersambar halilintar. Raut mukanya memurung, rasa putus asa petir kian

33
Diary Hitam menyelimuti urat nadinya. Terlihat, butiran embun air mata menetes dari muara kelopak matanya. Hati kecilku menyatakan penyesalan, tapi apa jadinya?! Nasi telah berubah menjadi bubur. "Istriku, berikan waktu tiga hari untuk Mas Syafi' memikirkan hal tersebut. Mas Syafi' tak ingin istana keluarga kita roboh di persimpangan jalan sebelum mencapai tujuan," pintanya memohon. Bagaikan patung yang membisu, aku mulai tak menggubris segala ucapannya. Sejak saat itu, hilanglah rasa hormat patuhku sebagai seorang istri tersayangnya. *****

"Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang Najwa alami, melainkan sesuatu yang Najwa kenang."
Keesokan harinya Badanku lemas, tiada gairah mensuplay makanan, mual dan muntah. Wajahku pucat layu, mata membengkak. Pinggang terasa nyeri ngilu, disertai sesak nafas. Bahkan lebih parahnya, kencingku serasa perih tapi keluarnya cuma sedikit. Berwarna merah darah seperti mengancam jiwa. Aku malu untuk menelpon Mas Syafi' yang saat itu sedang mengisi seminar "Fisika Lingkungan" di Andalus University, kota

34
Diary Hitam Ma'rib-Yaman. Memang, apa pedulinya dia dengan kondisiku?, serapah batinku. Lantas, aku memutuskan berangkat sendiri ke rumah sakit tanpa ditemani seorangpun. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, baik darah maupun urine, pengambilan gambar struktur anggota dalam dengan metode Ultrasound, seorang nephrologist atau ahli ginjal menghampiriku seraya berkata: "Maaf, ibu Najwa! Anda mengalami kegagalan fungsi ginjal secara serius. Saya menyarankan agar Anda menginap guna mendapatkan pengontrolan secara periodik."

Astaghfirullah!!! Aku kaget setengah mati.


"Bagaimana kebingungan. "Hasil penelitian kami menyatakan ada sebuah sumbatan pada saluran kemih anda, sepertinya terjadi penyempitan atau striktur." itu terjadi, dokter?" tanyaku penuh

Allah, Tuhanku
Alangkah banyaknya kekhilafan hamba terhadap-Mu. Baru saja kemarin Engkau mengujiku dengan musibah kemandulan Mas Syafi', Sekarang, Engkau malah ingin merengut nyawaku dengan penyakit gagal ginjal ini. Asa hayatku kian meredup. Kehancuran dan kehampaan menghantui otak sehatku. Aku menjadi setengah gila akibat

35
Diary Hitam permainan keji dunia. Tubuhku cukup berbaring membatu di ruang inap VIP. Entah mengapa, kebencianku kepada Mas Syafi' semakin membuncang. Apalagi selepas aku divonis positif mengidap penyakit gagal ginjal. Dokter menyatakan nyawaku tak akan dapat terselamat kecuali ada orang yang rela mendonorkan ginjalnya. Pikirku bernalar, sebentar lagi Najwa Salsabila, putri kesayangan walikota Mukalla, akan segera hangus dari permukaan bumi. Tinggal menunggu masa penantian ***** Aku tak tahu dari arah mana turunnya mukjizat Tuhan. Ada seseorang yang Dokter rela segera mencangkok mengoperasi ginjalnya total demi keselamatanku. ginjalku.

Alhamdulillah Proses transplantasi ginjal berjalan lancar, dan


aku semakin mendekati kesembuhan. Tapi, Mas Syafi' kemana? Istrinya mengalami masa kritis, dia justru pergi tanpa pamit. Suami macam apa dia?!, gerutuku saat memberesi perlengkapan untuk persiapan pulang ke rumah. Sebelum beranjak meninggalkan rumah sakit, seorang suster memanggilku sambil memberiku sepucuk surat berwarna biru laut dan buku diary hitam. "Ini titipan dari si penyumbang ginjal, terimalah!" ucapnya menyungging senyum.

36
Diary Hitam Perlahan aku buka secarik lembaran biru laut tersebut. Aroma wangi melati menyeruak masuk lubang hidungku. Dan, ternyata surat dari

Untuk kekasih hatiku, Najwa Salsabila Gubahan pesona putri Balqies tahun millennia Mukalla, 14 Oktober 2008 Aku, Adalah kubangan lumpur hitam yang mendebu, menempel di sandal dan sepatu, hingga di atas aspal, terguyur hujan, terpelanting, masuk comberan. Siapa sudi memandang atau sekedar mengulurkan tangan?! Tanpa uluran tangan kasihmu, sayang! Aku, tetaplah lumpur hitam yang malang. Namun, terlalu banyak aku menodai gaun sucimu, sayang. Sehingga, aku menjauhi dirimu sedini hari. Najwa Salsabila, sayangku! Jikalau eksistensiku maka dalam kehidupanmu Namun, yang tatkala Najwa adalah diriku alami,

kebahagiaan, "Kebahagiaan

ingatlah.

hanyalah kehancuran, maka lupakanlah. Dan sesungguhnya, bukanlah sesuatu melainkan sesuatu yang Najwa kenang." Sang Pujangga Hatimu,

37
Diary Hitam

Syafi' Haidar Astagfirullah!!! Betapa dzalimnya hamba kepada Mas


Syafi'. Dia tega berkorban mendonorkan ginjalnya demi kemaslahatanku. Tapi, mengapa hamba tega mengkhianatinya?! Secepat kilat, aku menelpon nomer handphone suamiku.

"Maaf, nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif."


Nomer ponselnya sudah tak aktif lagi. Mas Syafi', dimanakah Engkau? Najwa ingin berlutut memohon restu ridhomu, suamiku. Sejak saat itu, aku menyadari kesalahan besarku

terhadap Mas Syafi'. Romansa asmaranya sungguh tulus, murni atas nama cinta. Tak bergeming sedikitpun, walau badai topan menghantam. ***** Hari ini, 23 Juni 2011 Merupakan lebaran Ied fitri kedua tanpa kehadirannya. Putri pertamaku, Farah Stivana Zahra, sering menanyakan dimana keberadaan ayahandanya. "Bunda, papa dimana? Kok gak pernah jenguk Farah? Apa papa sudah gak sayang sama Farah, yah?" dengan logat balitanya dia bertanya. Mimik polos Farah acapkali membuatku menangis tersedu. Andai kata dulu aku mau bersabar, mungkin tak akan seperti ini alur ceritanya.

38
Diary Hitam "Papa bentar lagi datang, Farah. Papa lagi sibuk di luar kota. Papa sayang banget sama Farah. Farah tenang saja, yah sayang!" ucapku sembari mengecup lembut kening mungilnya. "Tapi, kenapa lama sekali, bunda? Farah kangen banget sama papa." Aku tak kuat lagi membendung air mata. Dari balik ruang tamu, abah dan umi' hanya sedih melihat malangnya nasibku. Aku memeluk erat putri pertamaku. Menangisi betapa fatalnya perbuatanku ini. Harus beralasan apalagi aku di depan Farah. Sebentar lagi, dia akan mengetahui kebloonan ibunda tercintanya. Farah Stivana Zahra, putri tunggalku ini lahir setahun setelah terjadinya polemik dahsyat dalam bahtera rumah tanggaku. Penyakit Endometriosis yang aku derita semakin menunjukkan titik kesembuhan. Singkatnya, pada tanggal 12 Agustus 2009, Farah Stivana Zahra menatap dunia untuk pertama kalinya. "Na Najwa.. cepat ke depaaann!!" Suara abah memanggilku keras. Ada apa, jarang sekali abah menyeruku setengah membentak. Aku menggendong Farah menuju ruang tamu. Dan Deegg!! Tubuhku bagai tersengat ribuan watt setruman listrik. Hatiku seperti meledak semburat. Mataku melotot serasa

39
Diary Hitam ingin keluar dari sarangnya. Mustahil!! Seorang lelaki separuh baya, tinggi semampai, berbadan tegap gagah yang sekarang berada di ruang tamu itu adalah "Mas Syafi' Haidar!!" Semerta-merta, aku turunkan Farah pelan, sebelum akhirnya aku berlutut merangkul betis kaki Mas Syafi'. "Mas, maafin Najwa!! Najwa khilaf atas semuanya. Najwa gak ingin lagi ditinggal Mas Syafi'. Najwa insyaf, Mas!!" kataku diringi isak air mata menyeruak seru. Sambil perlahan mengangkatku, dia merangkulku hangat. Aku pun membalasnya dengan dekapan erat. Kerinduanku telah menjulang tinggi tanpa batas. "Najwa, ini merupakan level permainan hidup yang harus kita hadapi. Kita masih dalam tahap proses. Maka wajar jikalau salah satu dari kita berbeda pendapat, atau bahkan bertengkar sengit." ujarnya penuh pendewasaan. Aura wajahnya sungguh teduh mengayomi. "Mas Syafi' masih marah dengan Najwa?," tanyaku mengiba. "Najwa, entah seberapa dalam rasa cintaku padamu, sehingga membutakan mata hatiku untuk menilik kealpaanmu. Engkau adalah belahan kalbuku, sekarang dan selamanya."

40
Diary Hitam Ya Allah!! Beruntung sekali aku bersuamikan Mas Syafi'. Seratus persen dia tidak mencintaiku karena aspek kekayaan, kecantikan bahkan kedudukan. Dia mencintai, menyayangiku setulus nuraninya. Aku raih tangan si kecil Farah, kemudian menggendongnya menghadap papa yang selama ini ia kangeni. "Farah, ini papa Syafi' yang selalu Farah tanyain?," bisikku manja di dekat pipi halusnya. "Ini papa Syafi'?!" tanya Farah polos sambil mengacungacungkan jari mungil telunjuknya. "Iya, sayang!!" jawabku sembari mencium pipinya. "Papa jahat, kenapa ninggalin Farah lama banget?!" cerocos Farah sekenanya. Mas Syafi' langsung memintaku agar dia menggendong Farah. Setelah berada di dekapannya, Mas Syafi' berkata: "Farah, anakku! Maafin papa yah, sayang! Papa gak akan tinggalin kamu sendirian lagi. Janji, deh!!" ujar Mas Syafi' menghibur. "Bener, yah pa!" pinta Farah memanja. "Papa janji nanti kalau pergi kemanapun, Farah dan bunda pasti papa ajak. Okey!," balas Mas Syafi' sambil gemas menciumi tangan imut Farah.

41
Diary Hitam "Oh ya, papa ada sedikit kejutan buat Farah," lanjut Mas Syafi' sembari menggeledah tas ransel hitamnya. Tranaaa "Ouwh, bagus banget boneka pandanya, Pa!! Makasih papa!!." Farah tampak riang gembira. Dia merangkul hangat papa tercintanya. Mas Syafi' mengedipkan mata kanannya kala menatapku. Masya Allah! ***** Dalam larutnya kelambu malam, ketika Mas Syafi' tengah mendongengi Farah dengan cerita anak sholeh, sambil duduk di tepi gorden hijau jendela, menatap sihir panorama kota, isengiseng aku menulis di lembaran terakhir diary Mas Syafi'.

"Aku dan engkau bukanlah sebuah kisah. Kenangan dan pengalaman, itulah kita. Sehingga, aku merasa bahwa aku tak sanggup jika harus menjauh. Malah semakin dekat, lebih dekat dan sangat dekat. Sebab engkau adalah"
Belum sempat goresan tanganku melanjutkan, Mas Syafi' merangkul mesra dari belakang seraya berbisik manis madu dekat daun telingaku: "Sebab engkau adalah kekasih hati dan kenangan

terindahku, Najwa Salsabila." Subhnallah. Desiran angin malam pantai Cornies, Mukalla,
serasa merasuki penjuru relung jiwaku. Kemerlip lampu apartemen memanjakan pemandangan merdunya. Apalagi, jika sang kekasih berlipur sayang dalam sorotan remang rembulan.

42
Diary Hitam

Mas Syafi Haidar, persembahan agung Tuhan untuk diriku! Rabban hablan min azwajin wa dzurriyyatin qurrata a'yun, waj'aln lil muttaqina imm

* Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 5 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

43
Cahaya Di Atas Cahaya

By: Adly Al Fadly

sosoknya terlihat lebih jelas, tergugu dikeremangan malam. Pelanpelan aku mulai menghampirinya Iyas . . . kenapa menangis? Tanyaku sambil menepuk pundak kecil Iyas. Iyas berbalik dan kaget mendapati diriku yang muncul tiba-tiba. Dengan cepat tangan kecilnya menghapus sisa airmata yang masih mengalir Ia mambasahi malah diam pipinya. dan Ia tak menghiraukan membelakangiku Iyas . . Kak Maula kan cuma bertanya? Kenapa Iyas menangis? Kalau Iyas punya masalah, Iyas bisa cerita sama Kak Maula. InsyaAllah jika Kak Maula mampu, Kak Maula pasti membantu Iyas. Aku mencoba berbicara pelan. Iyas masih tetap pada pendiriannya. Terdiam. Sesekali suara ingusnya terdengar membuat pundaknya bergetar. Iyas . . . aku memanggilnya lagi. hadirku. berbalik

ata kecil itu masih meneteskan airmata. Dari jauh kulihat ia menelungkup sendirian di pojok asrama. Siluet cahaya rembulan membuat

44
Cahaya Di Atas Cahaya
Iyas sedih, Kak. Iyas tidak bisa masuk surga. Suara kanak-kanaknya terdengar serak. Aku kaget dengan perkataan Iyas. Maksud Iyas? Semua orang bisa masuk surga termasuk Iyas. Tapi surga ada di telapak kaki ibu, Kak ! Aku semakin bingung dengan jawaban Iyas. Aku mencoba mencerna kata-kata Iyas. Belum sempat aku memahami, Iyas kembali menyahut, Sedangkan Iyas, Iyas tidak memiliki ibu, Kak. Dari kecil Iyas tak pernah tahu siapa ibu Iyas. Surga hanya ada buat mereka yang memiliki ibu, Kak. Iyas tak akan bisa ma suk surge. Iyas kembali menangis. Tangisnya semakin deras. Ia masih membelakangiku. Pelan-pelan aku membalikkan badannya. Siapa bilang Iyas tidak memiliki ibu? Bunda Rahma kan ibunya Iyas, juga ibunya Kak Maula, jawabku sambil menggenggam kedua lengan Iyas. Tapi Bunda Rahma bukan ibu kandung Iyas, Kak. Kak Maula tahu itu, kan? Surga hanya ada di telapak kaki ibu yang melahirkan anaknya. Dari Iyas kecil hingga Iyas berusia sebelas tahun, Iyas tak pernah tahu siapa ibu kandung Iyas. Iyas rindu, Kak! Iyas berteriak dan berontak dari genggamanku. Dadanya naik turun seiring dengan deru tangisnya. Aku memeluk tubuh kecil Iyas. Kusandarkan kepalanya di dadaku. Iyas! Aku mengelus kepala Iyas. Pundaknya masih bergetar menahan isak tangis yang sesekali masih ia tahan.

45
Cahaya Di Atas Cahaya
Iyas tahu tidak? Tuhan itu maharahman dan maharahim. Tuhan menciptakan surga tidak hanya dengan satu jalan. Banyak jalan untuk bisa mendapatkan surga. Kalau Iyas rajin sholat, rajin puasa dan rajin berbuat kebaikan, Iyas pasti bisa masuk surga. Aku menarik bahu Iyas dan menatap matanya dalam-dalam. Kuhapus sisa airmata yang masih mengalir di pipinya. Aku memangku Iyas dan merangkulnya erat. Surga memang ada di telapak kaki ibu, tapi bukan berarti itu jalan satu-satunya. Kak Maula dari kecil juga tidak pernah tahu siapa ibu kandung Kak Maula. Masa Kak Maula tidak bisa masuk surga gara-gara tidak memiliki ibu? Kalau begitu Tuhan tidak adil dong? Banyak juga kan yang memiliki ibu tapi durhaka? Masa orang durhaka bisa masuk surga? Pelan -pelan aku menenangkan hati Iyas. Jilbab putihku berkibar diterpa angin malam. Kupererat pelukanku ke tubuh mungil Iyas. Berharap ia merasa tentram berada di sisiku. Andai Ibu dan Ayah Iyas ada di sini pasti mereka sayang dan bangga memiliki anak seperti Iyas yang selalu ingin berbakti pada orang tuanya. Jika Ibu dan Ayah Iyas sayang pada Iyas, kenapa mereka tega meninggalkan Iyas sendirian di panti ini? Iyas mendongak ke arahku, memotong perkataanku. Aku terdiam bingung. Tak tahu harus menjawab apa. Kenapa Kak Maula diam? Kenapa, Kak? Kenapa Ibu dan Ayah Iyas meninggalkan Iyas? Padahal Iyas ingin bersama mereka?

46
Cahaya Di Atas Cahaya
Mmm, mungkin . .mmm Maula...Iyas... ayo masuk ke dalam, Nak! Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Bunda Rahma pemilik panti berteriak dari depan kamar. Iya bunda, sebentar! Jawabku sambil berteriak. Iyas, ayo masuk ke dalam! Kataku sambil berdiri tapi tanganku segera ditarik oleh Iyas. Tapi Kak, Kak Maula belum menjawab pertanyaan Iyas. Sebentar saja, Kak! Iyas menatap mukaku. InsyaAllah besok Kak Maula jawab. Sekarang masuk dulu yuk, nanti dimarahi sama Bunda! Aku menarik tangan Iyas dan menggandengnya menuju kamar. Kulirik gurat-gurat kekecewaan tergambar di wajah Iyas. Ia tentu kecewa dengan sikapku. Tapi aku sendiri bingung harus menjawab apa. Padahal tanpa disadari seorangpun, hatiku juga merasakan perih yang sama seperti yang dirasakan Iyas. Aku juga merindukan kasih sayang seorang ibu yang selama ini selalu aku damba. Akupun tak tahu siapa Ayah dan Ibu kandungku. Tapi aku harus bisa melawan rasa itu. Aku harus bisa ikhlas menerima takdir Tuhan yang telah tergariskan atasku. Aku juga harus bisa menentramkan hati adikadik kecilku di panti ini, yang juga merasakan pedih yang sama sepertiku. Kehilangan ayah dan ibu. ####

47
Cahaya Di Atas Cahaya
Kulihat Iyas telah lelap di sampingku. Aku beranjak dari tidurku berganti duduk bersandar pada dinding kamar. Aku masih terngiang dengan dengan pertanyaan Iyas barusan. Rasa keingintahuan seorang anak kecil memang sangat besar, karena pada dasarnya masa kanak-kanak adalah masa ingin tahu tentang sesuatu. Jika ia tidak mendapat jawaban, ia pasti akan terus mencarinya hingga ia menemukan jawaban itu. Hhhh! Aku mendesah pelan. Kupandangi langit -langit kamar yang tak berplafon. Entah sejak kapan Bunda Rahma membangun panti ini. Hampir 18 tahun aku di sini. Dari kecil Bunda Rahma yang merawatku kala aku tak mempunyai orang tua yang seharusnya mengasuhku. Bunda Rahma orang yang sungguh mulia. Tak pernah beliau pilih-pilih kasih terhadap anak-anak panti yang berjumlah hampir lima puluhan, padahal Bunda Rahma sendiri mempunyai anak. Oleh Bunda, kami semua disekolahkan di sekolahan desa. Bunda Rahma selalu menanamkan rasa kasih sayang pada diri kami. Bunda berharap jika kami sudah besar nanti, kami mampu manyayangi dan menolong sesama. #### Bunda Rahma sedang menata kitab seusai pengajian malam panti, ketika Iyas memeluknya dari belakang. Bunda...! Iyas menggelayut manja. Ada apa, Iyas? Bunda Rahma menoleh sambil

menggenggam kedua tangan Iyas yang melingkar di leher bunda.

48
Cahaya Di Atas Cahaya
Iyas sayang Bunda karena Allah, Iyas membisiki telinga Bunda Rahma. Bunda Rahma terperanjat. Ia segera menoleh pada Iyas. Mata Bunda berkaca-kaca. Dengan penuh sayang Bunda Rahma mencium pipi Iyas dan menarik tubuh Iyas ke pangkuannya. Bunda juga sayang Iyas karena Allah, bisik Bunda sambil mencium ubun-ubun Iyas. Bunda...! Iyas kembali bersuara. Iya, Sayang? Bunda mau tidak menjadi cahaya bagi Iyas seperti cahaya rembulan itu? Kata Iyas sambil menunjuk ke arah rembulan yang bersinar terang. Maksud Iyas? Bunda... Bunda tahu kan kalau di atas sinar rembulan ada sinar matahari yang menyinarinya? Hmmm, Bunda mengerti. Cahaya rembulan kan berasal dari pantulan cahaya matahari, Bunda Rahma manggut-manggut. Iyas ingin bunda menjadi cahaya bagi Iyas yang bisa mengantarkan Iyas menuju cahaya di atas cahaya Bunda. Seperti cahaya matahari di atas cahaya rembulan. Bunda tidak mengerti maksud Iyas? Kening Bunda Rahma mengernyit.

49
Cahaya Di Atas Cahaya
Bunda..., Iyas pengen Bunda menjadi cahaya bagi Iyas yang mampu mengantarkan Iyas menuju cahaya di atas cahaya bunda, yaitu cahayanya Allah. Bukankah ridlonya Allah tergantung ridlonya orang tua. Itu berarti Allah adalah cahaya di atas cahaya. Dan Iyas tidak akan pernah bisa meraih cahaya Allah jika Iyas tidak memiliki cahaya orang tua. Iyas kan tidak punya orang tua, makanya bunda mau kan menjadi orang tua Iyas? Biar Iyas bisa meraih cahaya di atas cahaya itu. Airmata Bunda Rahma meleleh. Hatinya begitu tersentuh dengan penuturan Iyas. Ia tak pernah menyangka anak sekecil Iyas mampu berfikir sejauh itu. Bunda Rahma semakin mempererat pelukannya. Tentu saja Iyas, bunda pasti mau menjadi orang tua bagi Iyas. Menjadi cahaya sebagai pengantar Iyas menuju cahaya di atas cahaya yang diinginkan Iyas, suara Bunda Rahma serak. Bunda Rahma terisak. Ia tidak tega melihat anak-anak seperti Iyas yang sangat mendambakan kehadiran orang tua mereka. Ia tahu kalau sebenarnya Iyas sangat merindukan Bunda dan Ayah kandungnya. Bunda kenapa menangis? Iyas mendongak ke arah Bunda Rahma. Nggak kok, Iyas. Bunda hanya terharu dengan ucapan Iyas. Bunda janji akan menjadi cahaya terindah bagi Iyas. Iyas tersenyum. Matanya berbinar terang seterang cahaya rembulan yang menerangi malam kala itu.

50
Cahaya Di Atas Cahaya
#### Yazid, Amar, lihat Iyas tidak? Tanyaku pada Ya zid dan Amar yang lagi asyik bermain kelereng. Nggak tahu kak, coba Kak Maula cari di depan asrama dekat kolam. Biasanya Iyas di sana, jawab Yazid. Aku segera menyusuri koridor asrama menuju tempat yang dimaksud Yazid. Dan benar. Di sana Iyas sedang asyik memberi makan ikan-ikan di kolam. Iyas..! Eh, Kak Maula ngagetin Iyas aja! Ada apa, Kak? Iyas menoleh ke arahku. Iyas.. kok masih suka menyendiri sih? Padahal baru tadi malam Bunda Rahma mengadakan acara syukuran buat ulang tahun Iyas yang ke-18 dan juga Dek Fadhil. Bunda Rahma kan berpesan pada Iyas untuk bersikap dewasa dan tak boleh suka menyendiri lagi. Kalau Iyas punya masalah. Kapanpun Kak Maula selalu siap untuk membantu Iyas semampu Kak Maula. Iyas terseyum melihat kekhawatiranku. Iyas tidak apa-apa kok, Kak. Iyas Cuma kadang sering merasa aneh sendiri pada diri Iyas. Kenapa Iyas masih cengeng ya, Kak? Padahal Iyas laki-laki dan telah menginjak usia dewasa. Iyas mengajakku duduk di tepi kolam. Iyas, semua manusia pasti merasakan kesedihan. Dan menangis itu wajar. Itu fitrah seorang manusia. Tapi, manusia

51
Cahaya Di Atas Cahaya
tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Allah tidak suka pada hamba-Nya yang berlarut-larut dalam kesedihan. Aku mencoba memberi pengertian pada Iyas. Memangnya Iyas mikirin apa? Kok kelihatannya sedih? Tanyaku. Iyas masih sering teringat Bunda dan Ayah kandung Iyas. Kenapa Iyas masih merasa kalau mereka itu ada, Kak? Iyas sering iri melihat teman-teman Iyas bermanja-manja pada orang tua mereka. Kenapa Iyas tak bisa merasakannya? Iyas rindu dengan Ayah dan Bunda kandung Iyas. Mata Iyas menitikkan airmata tapi dengan cepat dihapus oleh punggung tangannya. Aku kembali tersentak untuk kesekian kalinya. Aku selalu bingung jika dihadapkan pada posisi seperti ini. Akankah aku mengatakan yang sebenarnya? Sebenarnya aku tahu kalau Iyas masih memiliki ibu kandung. Ingatanku kembali pada 17 tahun silam. Kala usiaku menginjak 7 tahun. Seorang ibu seusia Bunda Rahma menitipkan bayinya yang tak lain adalah Iyas kepada Bunda Rahma. Kuingat Bunda Rahma sempat menolak Iyas karena Iyas masih membutuhkan perhatian ibu kandungnya. Tapi entahlah aku tak begitu mengerti waktu itu. Semuanya tiba-tiba telah terjadi seperti sekarang. Kak..! Aku tersentak dari bayang -bayang masa laluku dan masa lalu Iyas. I..iya, Iyas?

52
Cahaya Di Atas Cahaya
Kak Iyas butuh bantuan, Kak Maula. Kak Maula bisa membantu Iyas, kan? A..apa yang bisa kakak bantu, Yas? Aku semakin kaku dengan keadaan seperti ini. Kulihat Iyas begitu ingin aku bisa melakukan apa yang ia minta. Pandangan matanya bercampur antara kerinduan, kesedihan dan harapan agar aku bisa membantunya. Kak, Iyas mohon kakak berkenan mencarikan data diri Iyas. Kak Maula kan lebih dekat dengan Bunda. Iyas tak kuat, Kak, jika terus dibayang-bayangi bunda dan ayah kandung Iyas. Iyas tidak kuat jika harus bertahan dalam keadaan seperti ini. Bukan Iyas tidak ikhlas dengan takdir Tuhan atas diri Iyas, Kak, Iyas hanya ingin memastikan prasangka Iyas agar Iyas tak lagi dihantui rasa rindu ini, Kak. Kak Maula tentu tahu betapa sakitnya terpisah dengan orang tua kandung. Kak Maula sendiri juga merasakannya, kan? Iya, kan? Itulah yang sekarang dirasakan Iyas, Kak. Sakit rasanya. Iyas tak kuat menahan airmatanya. Tangisnya pecah. Ia merasa terombang ambing dengan kenyataan ini. Kupeluk erat tubuh Iyas. Aku tergugu dalam pelukan Iyas. Tangisku tak dapat kutahan. Aku mengerti apa yang dirasakan Iyas. Rasa yang setiap malam selalu menghampiri mimpi-mimpiku. Sebuah kerinduan yang besar akan hadirnya seseorang yang telah mengalirkan darahnya pada diriku. InsyaAllah, Yas. Kakak akan membantu Iyas. Mataku dan mata Iyas beradu. Sama mengucurkan airmata kerinduan. Kita sama-sama merasakan gelegak kerinduan itu.

53
Cahaya Di Atas Cahaya
Oh Ibu, apakah engkau tak merasakan getar kerinduan anakmu? Bisikku perih di dalam hati. #### Iyas telah sampai di depan rumah persis seperti alamat yang aku berikan. Tentunya tanpa sepengetahuan Bunda Rahma. Iyas terus menunggu di depan pagar menanti sang empu rumah keluar. Tak berapa lama dari balik pintu muncul seorang perempuan paruh baya seusia Bunda Rahma. Hati Iyas bergetar. Apakah sosok di depannya memang ibu kandungnya yang selama ini begitu ia rindu kehadirannya. Cari siapa, Mas? Perempuan itu bertanya pada Iyas. Bunnda..? Iyas mendesis lirih dan terbata. Perempuan itu terperanjat. Tubuhnya sedikit limbung seakan slide-slide memory menghampiri alam sadarnya. Matanya berkaca-kaca. Bunda..ini Iyas bunda. Bunda mengenali Iyas, kan? Iyas mendekati perempuan itu. Tubuh perempuan itu semakin bergetar. Entah, apa yang ia rasakan. Apakah benar ia ibu kandung Iyas? Iyas semakin mendekat ke arah perempuan itu. Tidaakkkamu bukan anakku. Aku tak mengenalmu. Kamu salah. Pergi! Pergi!! Perempuan itu terisak dan berlari ke dalam rumah. Bunda Iyas yakin kamu bunda kandung Iyas. Iyas sangat merindukan bunda. Bundaaa!!! Iyas menggedor pintu rumah. Airmatanya berderai.

54
Cahaya Di Atas Cahaya
Bundaa, Iyas sangat ingin bersama bunda. Apa salah Iyas hingga bunda meninggalkan Iyas? Bundaa, buka pintunya bunda! Iyas terisak di depan pintu. Bundaaaa!! #### Maafkan Maula, Bunda, Maula tidak tega melihat Iyas selalu menangis. Iyas rindu pada ibu kandungnya. Aku memeluk Bunda. Sudahlah Maula, nasi telah menjadi bubur. Bunda hanya takut Iyas semakin depresi dengan kejadian ini. Ibunya memang tak mengharapkan hadirnya. Mata Bunda Rahma berkaca-kaca. Aku menunduk. Aku semakin merasa bersalah. Kau hiburlah Iyas! Jangan sampai ia melakukan hal -hal yang bisa membahayakan jiwanya. Syetan selalu membisiki hatihati yang kosong. Bunda Rahma berbalik dari hadapanku menghadap jendela. Tangis Bunda Rahma semakin deras. #### Semakin hari, Iyas semakin menjauh dari keramaian. Sering kulihat ia menangis sendirian seakan tak terima dengan kenyataan ini. Beberapa kali aku mencoba menghiburnya tapi tak menunjukkan respon positif hingga suatu hari kulihat Bunda Rahma berlari tergopoh-gopoh kebingungan dan menghampiriku.

55
Cahaya Di Atas Cahaya
Maula, cepat panggil Iyas! Kita ke rumah sakit sekarang! Aku kaget dengan ucapan Bunda. Pikiranku mulai menerka-nerka. Ada apa, Bunda? Tanyaku dengan kebingung an. Ibunya Iyas masuk rumah sakit. Cepat panggil Iyas! teriak Bunda Rahma cemas. #### Setelah kami diagnosa, Ibu Afifa mengalami depresi berat hingga membuat penyakit gagal ginjalnya kambuh. Keadaan beliau sekarang sangat kritis. Penyakit gagal ginjalnya telah memasuki stadium akhir. Dan itu sangat berbahaya. Kami tak bisa melakukan apa-apa kecuali menunggu donor ginjal yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Ibu Afifa. Kami juga tidak bisa menentukan sampai kapan Ibu Afifa bisa bertahan. Bunda Rah ma menjerit mendengar penjelasan dokter. Telapak tangannya menutupi mulutnya. Aku tertunduk. Kedua sudut mataku berair. Aku tahu ini semua salahku. Akulah yang mengakibatkan ini semua terjadi. Sejenak kami semua terdiam. Hening. Bingung dengan keadaan. Saya bersedia, Dok. Saya bersedia mendonorkan ginjal saya untuk bunda Afifa, tiba-tiba Iyas menyahut membuat kami semua terperanjat. Iyas Bunda Rahma menoleh kepada Iyas. Raut mukanya kaget dan cemas.

56
Cahaya Di Atas Cahaya
Izinkan Iyas, Bunda! Iyas ingin menyelamatkan jiwa ibu kandung Iyas. Iyas ingin mengabdikan diri Iyas untuk bunda kandung Iyas. Tolong jangan halangi niat Iyas bunda! Bunda Rahma terisak. Aku segera memeluk bunda. Hati bunda tentu galau. Bunda pasti takut terjadi apa-apa dengan Iyas, salah satu dari anak-anak yang dibesarkannya. Baiklah, mari saudara ikut saya untuk cek darah. Semoga golongan darah saudara sama dengan Ibu Afifa. Mari! Ucap dokter sambil berjalan menuju laboratorium. Iyas menatap Bunda. Tangisnya pecah. Iyas merangkul Bunda Rahma. Aku tak sanggup membayangkan Iyas akan mengorbankan ginjalnya demi ibu kandungnya. Sosok ibu yang selama ini ia damba. Aku dan Bunda Rahma mengiringi kepergian Iyas dengan pandangan sendu hingga tubuh Iyas hilang di balik dinding ruangan. #### Operasi bedah ginjal yang dijalani Iyas dan ibunya berjalan cukup lama. Hampir 8 jam aku dan Bunda Rahma menunggu. Kulihat Bunda Rahma tak henti-hentinya mendesis memanjatkan doa. Sesekali masih terdengar isak tangisnya. Aku masih dirundung rasa bersalah yang amat sangat. Kenapa semuanya ini harus terjadi. Bunda, maafkan Maula bunda. Andai Maula tidak memberitahu Iyas, pasti semua ini tak akan pernah terjadi. Maula merasa sangat bersalah bunda. Maula takut jika terjadi apa-apa dengan Iyas dan ibunya. Tangisku ambrol. Ak u memeluk Bunda Rahma.

57
Cahaya Di Atas Cahaya
Sudahlah Maula, tidak baik terus menerus menyesal. Sekarang kita hanya bisa berdoa. Menyandarkan semuanya di sisi Allah. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Iyas dan ibunya. Bunda Rahma menghiburku dengan suara serak. Tubuhk u semakin dipeluknya erat. Setetes airmata menetes membasahi ubun-ubunku. Aku semakin tergugu dipelukan Bunda. Tiba-tiba dokter yang menangani Iyas keluar dari ruang bedah. Serentak aku dan Bunda berdiri. Bagaimana, Dok? Tanya Bunda Rahma cemas. Hatiku ketar-ketir. Sejauh ini pendonoran ginjal ke tubuh Ibu Afifa berjalan lancar. Kita hanya bisa menunggu sampai Ibu Afifa tersadar. Semoga tidak ada penolakan dari tubuhnya dengan ginjal yang didonorkan saudara Iyas. Lalu, kondisi Iyas bagaimana, Dok? Dia baik-baik saja, kan? Bunda Rahma semakin cemas. Itu yang kami sesalkan, Bu, jawaban Dokter membuat Bunda Rahma dan aku shock. Kurasakan tubuh Bunda Rahma bergetar hebat. Airmataku kembali mengucur. M..maksud Dokter? Bunda Rahma terbata-bata. Kami tak menyangka kemungkinan terburuk itu terjadi. Secara tes medis saudara Iyas memenuhi kriteria pendonor ginjal. Tapi di tengah-tengah operasi pembedahan, kondisi tubuh saudara Iyas drop. Daya tahannya tiba-tiba menurun hingga memicu pendarahan yang keluar semakin banyak. Kami telah

58
Cahaya Di Atas Cahaya
menangani sekuat kami. Untuk saat ini kami tak bisa memastikan kondisi Iyas. Sekarang ia tak sadarkan diri. Ibu dan Adik teruslah berdoa, semoga ada mukjizat yng membuat kesehatan Iyas kembali pulih. Keterangan Dokter terdengar seakan halilintar yang menyambar aku dan Bunda Rahma. Bunda Rahma menjerit. Bibirnya bergetar menyebut nama Iyas. Aku semakin tergugu dalam tangisku bercampur rasa bersalahku. Iyaaaasss I..yaaasss!! Tubuh Bunda Rahma limbung. Tiba-tiba Bunda Rahma pingsan. #### Aku dan Bunda Rahma masih tetap menunggui Iyas. Iyas masih tak sadarkan diri. Kondisinya masih kritis, sedangkan ibunya telah melewti masa-masa kritisnya. Sampai saat ini Ibu Afifa tidak pernah tahu siapa yang mendonorkan ginjal untuknya. Pun Ibu Afifa tidak tahu kalau Iyas dirawat di rumah sakit tempat ia juga dirawat. Bun...daaa....Bunda...!! Aku dan Bunda Rahma kaget dan serentak menoleh. Iyas... disusul aku. Bund..daa.....Bundaaa.. Iyas mengigau di bawah alam sadarnya, Bunda Rahma segera berlari menuju Iyas

59
Cahaya Di Atas Cahaya
Iya sayang, ini Bunda. Bunda ada di samping Iyas. Bunda Rahma terisak. Ia membelai kepala Iyas. Aku menggenggam erat telapak tangan Iyas. Bunndaaa... Iyas rindu dengan Bundaaa... Tangis Bunda Rahma semakin deras. Bunda Rahma tahu siapa yang dimaksud Iyas di bawah alam sadarnya. Hatiku tersentak. Getir. Airmataku tak berhenti menetes. Iyas sangat merindukan ibunya. Aku berlari keluar dengan tersedu-sedu. Hatiku tak kuat melihat betapa tersiksanya Iyas dengan perasaan rindu yang bertahuntahun dipendamnya. Iyas tentu sangat tersiksa dengan perasaan yang setiap hari selalu muncul membuat tangisnya terpancing keluar. Diam-diam tanpa sepengetahuan Bunda Rahma aku berlari menuju kamar tempat Bunda Afifa, ibu kandung Iyas dirawat. Aku tidak tega melihat Iyas tersiksa seperti ini. Kenapa ibunya begitu tega meyiksa Iyas dengan perasaan yang maha dahsyat seperti ini? Aku membuka pintu kamar. Siapa kamu? Bunda Afifa bertanya padaku. Suaranya masih lemah. Ibu mataku masih sembab. Sesekali aku menghapus airmataku yang kadang masih menetes. Bunda Afifa heran melihat tingkahku. Bu, kenapa Ibu tega menyiksa Iyas. Iyas sangat merindukan kehadiran Ibu. Bertahun-tahun Iyas menangisi Ibu. Airmataku tak mampu kutahan. Bayang-bayang Iyas yang tergeletak lemah di ranjang muncul dalam fikiranku. Kulihat bunda Afifa memalingkan mukanya.

60
Cahaya Di Atas Cahaya
Bu, tolong! Aku mohon kasihanilah Iyas! Ibu boleh membenci Iyas, tapi lihatlah Iyas sekarang! Iyas membutuhkan kehadiran Ibu. Aku tak pernah membencinya, airmata mulai

membasahi pipi bunda Afifa. Lantas, kenapa Ibu tega menyiksa perasaan Iyas seperti itu? Dia sangat merindukan Ibu. Ia sering menyendiri hanya untuk menghayalkan ibu kandungnya. Lihat dia sekarang, Bu! Aku menarik tangan bunda Afifa. Aku tak ingin teringat dengan almarhum suamiku, ayah Iyas. Aku terlalu mencintainya. A..ku aku tak mau mengingat sosoknya. Hatiku selalu sedih jika mengingat suamiku. Ia meninggal saat aku mengandung Iyas. Kamu tak tahu perasaanku Bunda Afifa menatapku. Airmatanya terus mengalir. Tegakah Ibu mengorbankan Iyas, darah daging Ibu, hanya karena perasaan itu? Apakah Ibu tidak merasa bersalah? Apakah Ibu pernah membayangkan terpisah dengan orang tua kandung Ibu? Aku pernah merasakannya, Bu, bahkan sampai sekarang. Sakit rasanya. Itulah yang selalu mendera hati Iyas. Aku yang selalu bersamanya. Aku yang mengerti betapa ia tersiksa dengan perasaannya. Ia sangat rindu dengan Ibu. Aku benci dengan alasan yang dilontarkan Bunda Afifa. Kenapa harus ada Ibu yang begitu egois dengan perasaannya? Jangan menjawab sengit. kau robek masa laluku. Kamu tak tahu

perasaanku. Aku bisa gila jika teringat suamiku, Bunda Afifa

61
Cahaya Di Atas Cahaya
Tak tahu perasaan Ibu? Memangnya Ibu tahu perasaan Iyas? Seharusnya Ibu yang bisa memahami perasaan Iyas. Iyas yang bisa gila jika memikirkan Ibu terus menerus. Ia darah daging Ibu. Darah Ibu mengalir ditubuhnya. Tak pernah sedikit pun aku menyangka ada Ibu semacam anda. Dimana naluri kasih sayang Ibu? Tangisku semakin deras. Sudahcukup!! Jangan kau campuri urusanku! Kamu tak tahu apa-apa, Bunda Afifa berteriak. Ia menuding mukaku kasar. Aku menggeleng-geleng shock. Tak kusangka hati bunda Afifa sekeras batu. Kalau saja Ibu tahu, Ibu sangat beruntung memiliki malaikat sebaik Iyas. Andai saja tak ada Iyas, nasib Ibu belum tentu selamat. Sayang jika Iyas harus kehilangan hidupnya hanya demi perempuan yang begitu dirindukannya tapi tak pernah merasa, Aku memojokkan bunda Afifa. Aku menatapnya sinis. Bunda Afifa tersentak. Apa maksud kamu? Bunda Afifa kebingungan. Ibu tahu siapa yang mendonorkan ginjalnya demi keselamatan ibu? Aku bergetar. Tangis dan emosiku semakin memuncak. Tahukah, Bu? Siapa yang telah berkorban untuk Ibu? Siapa, Bu? Ibu tidak tahu, kan? Emosiku semakin tidak terkontrol. Mulut Bunda Afifa menganga tertutupi oleh oleh tangan kanannya. Nafasnya serasa berhenti. Bunda Afifa tak mampu berkata apa-apa.

62
Cahaya Di Atas Cahaya
Iyaslah orangnya. Iyas rela mengorbankan ginjalnya demi Ibu. Iyas rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan Ibu hingga kini tergeletak tak berdaya karena pendarahan yang tak kunjung berhenti. Hanya karena siapa, Bu? Hanya karena siapa? Iyaslah yang berkorban itu semua. Iyas yang selalu merindukan Ibu. Iyas yang selalu berdoa untuk ibu. Iyas yang selalu mengharapkan kehadiran Ibu. Iyaslah orangnya, Bu !! Aku semakin tergugu. Nafasku tak beraturan menuntaskan semua emosiku yang memuncak. Aku menyudutkan Bunda Afifa yang tak berhati itu. Aa..pa? IyIyaas? Tangis bunda Afifa pecah. Hatinya bergetar. Sedikit pun ia tak menyangka, anak yang dulu dibuangnya kini justru menyelamatkan jiwanya. Bunda Afifa menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Tangis penyesalannya terdengar pilu. Iyas anakku Bunda Afifa menjerit pedih. #### Bunda...Bunda! Iyas rindu BundaBunda!! kesadaran Iyas masih belum kembali. Matanya masih terpejam. Iyaass, buka matamu, Nak. Ini bunda. Bunda yang selama ini Iyas rindukan, Bunda Afifa menggigit bibirnya menahan tangis. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala Iyas. Aku dan Bunda Rahma terisak di samping kiri Iyas. Kulihat dilayar monitor detak jantungnya berdetak lemah. Bibir Iyas pucat bagaikan mayat. Aku tak tega melihat Iyas.

63
Cahaya Di Atas Cahaya
Iyasbuka matamu, Nak! Bunda rindu dengan Iyas. Maafkan Bunda Iyas. Bunda janji akan selalu berada di sisi Iyas. Buka matamu, Nak! tangis bunda Afifa semakin menderas. Tetes airmatanya jatuh mengalir di kening Iyas. Tangan kanannya mengenggam erat tangan Iyas. Tiba-tiba jemari Iyas bergerak. Matanya mengerjap-ngerjap. Alhamdulillah serempak menjerit. I Iyas me.. rasakan rinnddu itu begitu de..kaatt..!! Iyas bersuara lemah dan terbata. Ini bunda, Nakini Bunda kandung Iyas. Bunda yang selalu dirindukan Iyas. Lihat, Iyas! Bunda Afifa semakin erat menggenggam tangan Iyas. Matanya terus mengucurkan airmata. Bunn..daaI..iiyyaass rindu Bundaaa Iyas memandang bunda Afifa. Tangan kirinya menggapai wajah bunda Afifa seakan memastikan bahwa ini semua nyata. Iya, Iyas.. Bunda juga rindu dengan Iyas. Maafkan Bunda selama ini yang tak pernah mau mengasuh Iyas. Iyas janji cepat sembuh ya? Bunda ingin bisa hidup di sisi Iyas. Iyas juga menginginkan hal itu kan? Iyas mengangguk lemah. Kedua sudut matanya mulai berair. Tangan kirinya menghapus airmata yang mengalir di pipi bunda Afifa. Aku tak kuat melihat Iyas dan bunda Afifa. Bunda Rahma masih terisak. Bunndaa, maukaah..Bun..da memel..luuk Iyas? I..yas ingin merasa..kan pelukan hangat Bunnda..aa yang tak pernah Iyas ya Allah!! Aku dan Bunda Rahma

64
Cahaya Di Atas Cahaya
rasakan. Selagi Iyas sekarang memi..liki kesem..patan itu. Air muka Iyas pucat. Aku mulai berprasangka yang tidak-tidak. Bunda Afifa langsung mendekap putranya dengan erat. Iyas merasakan ketenangan yang amat sangat. Kerinduan yang bertahun-tahun ia pendam kini telah terobati. Kedua sudut matanya mengucurkan airmata. Iyas, Iyas harus bisa sembuh ya! Iyas akan bisa hidup bersama Bunda, Iyas. Bunda yang selama ini selalu Iyas rindukan, ucap Bunda Rahma sambil mencium kening Iyas. Iyas memanndang Bunda Rahma sambil tersenyum. Bunda Rahhmaa, terimaa ka..sih atas semua kebai..kan Bunnd..aa sela..maa ini. Iyas berjanji tak akaan per..nah meelupakan Bunndaa. Bunda Rahhma te..ttap mennnjadi caha..yaa Iyas. Cahaya dii..atas cahaya itu a..kan Iyyas raih dengan dua cahaya yaaang ki..ni dimili..ki Iyas. Cahayaa Bundaa Raahhma daan Bundda A..aafifa. Nafas Iyas terlihat lemah. Ia tak berbicara lancar. Iyas berganti menoleh ke arahku. Kaak Maaulaa Kakaklah yaa.nng se..lama ini bisa

men..dampingiii Iyas. Yang sel..llalu memotiva..si Iyyas. Hhh, Iyyas takkaan bissa me..hhnemukan ca..haya Iyyas tanpaa kak Mauulaaa. Terima kasih, Kaak. Aku tersenyum dalam tangisku yang masih berderai. Aku menggenggam jemari Iyas sambil kuanggukkan kepalaku. Iyas berbalik menoleh pada bunda Afifa. Bunnd..daaahhhh.hhhhhhhhhh belum sempat Iyas menyelesaikan perkataannya tiba-tiba tubuh Iyas mengejang. Nafasnya makin tak karuan. Bulatan hitam di matanya hampir

65
Cahaya Di Atas Cahaya
tertutup tergantikan warna putih pucat. Iyas terlihat sangat kesakitan. Bunda Afifa dan Bunda Rahma menjerit panik. Bunda Afifa menggoyang-goyang tubuh Iyas. Kulihat dilayar monitor gambar detak jantung Iyas telah lurus menandakan tak ada detaknya. DokterDokterIyas anfal, Dok.! Aku berlari keluar memanggil dokter. Bunda Afifa menggenggam erat tangan kanan Iyas. Bunda Rahma membisik ke telinga Iyas sambil menggenggam tangan kirinya. Keduanya tak dapat menahan isak tangisnya melihat keadaan Iyas. Buunn.dhhhaaa..hhhhhh.., tiba-tiba Iyas tersentak. Seolah telah terlepas dari berton-ton beban yang menindihnya. Ia seperti mendapatkan kekuatan untuk kembali sadar. Kekuatan seorang bunda mampu menjadi spirit batin bagi darah dagingnya. Nafasnya semakin lemah. Dadanya berdetak tak karuan. Sentakan dadanya membuat ia tak bisa menghirup nafas banyak. Bibirnya semakin pucat. Ia masih berusaha untuk berkata. Buunndaaa. Iiiyyyaas menncciuum w..angi ssurgaa. Ssurgaa yyang a..dda dii..telaapaak ka..ki bbunndaa. Bbboleehkah Iyyaass meenciium teelapak kkaaki Bunnddaa. IIyaas inngiiin mmennjadiii pppeengg..huuni ssurgaa ddeng..aan menggenggaam riidloo Bunddaa. Bunda Afifa semakin tergugu. Tangisnya semakin deras membasahi pipinya. Dadanya bergetar dengan ucapan Iyas. Ia mengangguk mengiyakan permintaan Iyas. Dengan dibantu Bunda Rahma Iyas menunduk mencium telapak kaki bunda Afifa. Tangis bunda Afifa dan Bunda Rahma semakin berderai.

66
Cahaya Di Atas Cahaya
Bunda Afifa memeluk kepala Iyas dan membenamkan dalam dadanya. Airmatanya berjatuhan diwajah Iyas. Bunndaaa Iyas menoleh lemah ke arah bunda Afifa dan Bunda Rahma bergantian. Keerriindu..an Iyyass tel..aah teroobati. Iyyaass aakkan mmmenjemputt caahaaya di aataas cahhaya ittuu. Iyyaass jaanjji aakaan mennjadi caahhayya bbunnda kelaak. Rridlloi Iyyass bunndaa. Maafkaan seeggalaa keesaalaahn Iyyass suara Iyas semakin melemah. Matanya separuh tertutup. Nadinya hampir tak terasa denyutnya. Bunda Afifa menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. bercampur Tangisnya aduk di malaikat semakin dalam yang memuncak. Ia dikirim Tuhan Berbagai menyesal padanya rasa telah yang hatinya.

menelantarkan

seharusnya ia jaga. Iyas.. Iyas harus bertahan, Nak! Bunda j anji akan terus berada di sisi IyasIyas harus bisa sembuh maafkan kesalahan Bunda selama ini! Bunda Afifa meraung -raung di sisi Iyas. Iyas tersenyum. Nafasnya semakin melemah. Iyas semakin kesulitan mencari oksigen. Dadanya naik turun tak karuan. IyasIyasss. Bunda Rahma dan Bunda Afifa menjerit. Mulut Iyas megap-megap Assyyyhaduualllaaailaaahaillaaallaaahhh Iyas menguatkan untuk mencari udara. Kepalanya ia dongakkan berharap ada udara yang masuk dalam paru-parunya yang semakin lemah. Nafasnya semakin putus-putus.

67
Cahaya Di Atas Cahaya
Waaasy.hadu.annaaaahhhhhh..muhammmadaa an..raa.suuuluuullaa.aaaahhhhhhhhh suaranya makin lirih. Genggaman Iyas di tangan bunda Afifa mengendur bersamaan dengan menutupnya kedua mata Iyas. Bunda Afifa menjerit histeris. Aku telah sampai di sisi ranjang Iyas bersama dokter ketika kulihat Bunda Rahma jatuh pingsan. Iiiiyaaaaaasssss!!! Jerit Bunda Afifa. Derai tangisnya begitu pilu. Bunda Afifa memeluk erat jasad Iyas. Tuhan, kini aku mengerti, kasih ibu memang sangat tulus. Kasih sayang seorang anak juga sangat besar. Keduanya memang tak dapat dipisahkan karena telah terikat oleh darah yang menyatukan batin keduanya. Sampai kapanpun seorang anak tak akan mampu untuk terpisah dengan orang tuanya. Bersyukurlah mereka yang memiliki ayah ibu. Sedangkan aku? Tak berayah dan tak beribu, lirihku. Aku menatap nanar jasad Iyas. Tetes airmataku kembali jatuh entah untuk keberapa kalinya. Seperti rinduku yang berkali-kali jatuh mengalir tak ada bekasnya.

The End I MISS U BUNDA Semoga Tuhan berkenan mempertemukan kita kembali, berkumpul dalam kasih sayang yang selalu bunda curahkan untuk ananda. Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 2 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

68
Euforia Surgaloka Ghanna

Euforia Surgaloka Ghanna'


-- Lentera Insan Paranoia

By: Micdarul Chair El-Sharafy*

"Wahai para tamu undangan dari pelbagai belahan dunia, dalam hari yang mempesona, pada musim semi kota Tarim, kota sejarah, pusat ilmu dan budaya, dengan menyebut asma Allah, seiring pula dengan berkat-Nya, kami mengucapkan, selamat datang dalam pesta euforia surgaloka Tarim Al-Ghanna, The Worlds Paradise 2010," tutup Wapres Yaman berambut botak, Abdurobbuh Manshor. Plok.. plok.. plok.. Epilog pidato seremonialnya bersambut ratusan aplous, menyeruak kepongahan gedung budaya Bin Yahya, kota Seiyon. Tepat pada hari ini, Ahad, 07 Maret 2010, Tarim menggelar hajat besar. Untuk kali pertama, kota yang terkenal dengan sebutan "Negeri Seribu Wali" itu menyabet penghargaan bergengsi sebagai Pusat Kota Budaya Islam Dunia 2010 dari Organisasi Islam untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (ISESCO). Namun menurutku, yah, hanya aku sendiri, Omair Barak, seorang delegasi resmi ISESCO, apresiasi tersebut terlampau sangat berlebihan. Apa yang dapat dipersembahkan oleh kota

69
Euforia Surgaloka Ghanna terpencil dari ujung Barat Yaman?! Tak ada dedaunan menghijau, gumpalan bukit tandus memilu, udara panas sahara menyembilu bahkan dedikasi pribumi terbelakang, ketinggalan jauh arus moderenitas. Sekarang, apa yang hendak mereka banggakan?! Coba renungkan?! Hanya bermodal kronologi emas datuk pendahulunya, itukah?! Tarian muara dzikir para darwishnya, itukah?! Atau, selentingan doa Sahabat Abu Bakar beribu tahun silam, itukah?! Sepertinya, OKI (Organisasi Konferensi Islam) terlalu menghiperbolakan kamuflase realita bumi Tarim. Sejauh mata memandang, hanya menyiratkan ungkapan sinis akan anugerah kebanggaan dunia Islam, Capital of Islamic Culture, kepada kota Tarim, Hadhramawt. Semrawut. Itulah gejolak hatiku semenjak seremonial berlangsung. Acap kali aku merubah posisi tempat dudukku, tidak karena kenyamanan kursi, bukan pula sebab menahan hasrat perut, namun dilatarbelakangi oleh logikaku yang kurang menerima takdir Tarim sebagai pusat budaya Islam. Satu jam berlalu penuh rasa penat kebosanan. Huft! Mengapa harus kota kecil Tarim?! Tidakkah disana masih ada kota Kairouan, Tunisia, ataupun kota Konya, Turki?! Kenapa?! Meskipun hanya kalbu yang mendesah, nampaknya raut wajahku tak dapat berbohong mengeksplorasikan gejolak jiwa. Sehingga, tak lama kemudian, Mohammad Al-Maflahi, Menteri Kebudayaan Yaman, putra asli Hadhramaut, menghampiri diriku

70
Euforia Surgaloka Ghanna yang tengah memojok di sebelah jendela berjeruji besi, menikmati derai angin setengah sepoi. "Santai saja! Sebentar lagi Anda akan dapat bersahabat dengan Tarim beserta penduduknya. Sungguh! Mereka laksana malaikat suci," katanya sembari merangkul pundakku. Dengan sekilas memandangnya, aku tersenyum kecut. Cukup diam seribu bahasa, tapi hati berkilah: "Biarlah masa yang membuktikan!" ******

Esok harinya, kala embun fajar telah memudar dari peraduannya, mentari kian menerangi mayapada kota legendaris Shiddiqiya, Mohammad Al-Maflahi mengajakku untuk menyaksikan festival tarian rakyat Syabwan. Akan tetapi, sebelumnya dia mengantarkanku menuju sebuah ornamen ibadah yang cukup unik. Rumah Allah bermenara pencakar langit. Masjid Muhdhar, begitulah ahli Tarim menyebutnya. "Jadi, eksotika menarik dari Masjid Muhdhar ialah julangan tinggi menara yang mencapai 175 kaki dalam bentuk persegi empat. Ajaibnya, kontruksi menara ini cuma terbuat dari labin, atau batu bata merah yang terbuat dari tanah liat dan jerami, seperti ini bentuknya," terangnya sambil menunjukkan potongan sebuah labin.

71
Euforia Surgaloka Ghanna "Konon, menara ini mulai dibangun pada tahun 1333 H. Rancangannya merupakan buah karya seniman Tarim, Abu Bakar bin Syihab." Alur pemaparannya terputus akibat mendengar suara keras serupa nasyid Arab dari luar masjid.

Bildun thba maskanuh Mubrakatun lah Rabbun Rahmun Fa lau nadzarat falsifatun ilaih Laqal jannatud duny Tarmu
"Wah! Nampaknya festival Syabwan akan dimulai, mari kita menuju lokasi Folktale Al-Ahbwani, yuk!" Tanpa basa-basi, dia menarik tanganku selayaknya

sahabat karib yang telah lama berteman, padahal belum lengkap seminggu bertemu. Salut! Al-Maflahi menjelaskan bahwa tarian Syabwan merupakan simbol kemenangan perjuangan pahlawan Yaman Selatan mengusir imperium kolonial Britania. Tongkat melambangkan sebilah pedang, dan lilitan serban merah tua di kepala mereka ibarat kata bendera pasukan. Akan tetapi tetap saja, presentasinya kurang mampu memuaskan kesukaranku. Gaya tarian membosankan, kostum lumayan kampungan, apalagi pemimpinnya tua, berkeriput, kurus lagi. Aku jenuh. Bosan. Aaagh! Pertunjukan macam apa ini?!

72
Euforia Surgaloka Ghanna Tiba-tiba, halusinasi gerutuku pecah ketika merasa ada yang menarik-narik kemeja putihku dari arah belakang. Segera aku berputar balik, dan "Astaghfirullah! Ini manusia apa?!" Saking kagetnya, aku berucap kasar. Al-Maflahi tercengang kaget. Anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun, berkulit khas negro dengan rambut keriting. Tangan kirinya menggenggam sebuah layang-layang kertas. Ingus melendir keluar dari lubang hidungnya. Maklum, masih bau kencur, pikirku. Tapi entah mengapa, untuk saat ini, aku merasa jijik memandangnya. Tak lama kemudian, dia menyodorkan sebuah benda, ternyata "Dompetku?!" mataku terbelalak kaget. Spontanitas, aku merampas dan langsung memeriksa seksama. Gugup, pastinya. Bagaimana tidak, di dalamnya tersimpan jutaan poundsterling dan rekening bank dunia milik ISESCO. Bisa mati sekarat, jika aku kehilangan dompet ini. Sementara anak hitam hanya memandangku polos, aku jadi heran seribu kepalang. Mengapa dia tak menggelapkannya saja, padahal aku telah lalai?! Bagaimana mungkin ini terjadi?! Dia hanyalah anak bau kencur. Mustahil! Mengetahui kerisauanku, dia menukas seraya berbicara: "Maaf, saya menemukannya di pelataran masjid Muhdhar. Setelah aku melihat beberapa foto kartu identitas, aku berniat

73
Euforia Surgaloka Ghanna mencarimu. Dan alhamdulillah, dapat bertemu di sini," obrolnya santai memudarkan kebingungan otakku. "Mengapa tidak Engkau sembunyikan saja, padahal ini merupakan kesempatan emas bagimu?!" tanyaku mengurai bekas kegusaran. "Ini adalah amanat. Aku takut bermaksiat kepada Allah." Deg! Seperti mendengar sambaran halilintar, hatiku serasa berhenti berdetak. Malaikatkah dia?! Belum sempat aku mengetahui siapa namanya, dia telah pergi bermain layang-layang bersama kawan sejawatannya, meninggalkanku tercengang keheranan. "Subhanallah!" ucap bibirku pelan. Melihat kekacauan ekspresiku, sayup-sayup Al-Maflahi berbisik lirih "Tidakkah aku katakan kepadamu kemarin, bahwasanya mereka selaksa malaikat?!" Untuk kesekian kalinya, pikiranku terkejut. Aku teringat perbincangan sore lalu. Demi menjaga kehormatan diriku sebagai delegasi ISESCO, aku kembali diam membatu dengan bersirat keangkuhan. ******

74
Euforia Surgaloka Ghanna

Uhuuk.. uhuuk.. Batuk berdahak, influenza dan demam menjangkit

tubuhku. Kondisiku kian melemah, mungkin suhu udara Tarim yang kini mencapai 400 Celcius, didukung pula faktor keasrian hawa oksigen yang tercemari oleh kepulan debu jalanan sepanjang hari. Pantaslah kesehatanku seketika anjlok menurun drastis. Al-Maflahi membawaku kepada seorang tabib tradisional bernama Habib Idrus bin Smith. Dan, wow! Antrean pasiennya begitu panjang. Kelihatannya, sistem pengobatannya telah mujarab dan terpercaya. Giliranku tiba Loh, tidak ada almari obat sekalipun, kilah batinku kala memasuki ruangannya. Perawakan Habib Idrus bin Smith sama sekali tak menyiratkan bukti kedokterannya. Sandiwara apalagi ini?! Sebentar saja dia menanyakan gejala tubuhku, sebelum akhirnya meniup secawan air putih seraya berdoa: "Allhumma

idzhibil ba'sa, Rabban nss, isyfi antas syfi, la syif' illa syifauk, syif' la yughdir saqam1."

Allhumma idzhibil ba'sa, Rabban nss, isyfi antas syfi, la syif' illa syifauk, syif' la yughdir saqam: Ya Allah, hilangkahlah kegelisahan, Tuhan para manusia, sembuhkanlah Engkau Maha Penyembuh, Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tak akan lagi menyimpan kesakitan.

75
Euforia Surgaloka Ghanna Selama perjalanan menuju villa Maula Dawile, diriku hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala. Betapa anehnya penduduk kota Tarim. Bayangkan saja, orang sakit malah diberi air jernih. Aku bisa membelinya sendiri, umpat hatiku. Guncangan penasaran memaksa diriku untuk segera

bertanya kepada Al-Maflahi. Namun, belum sempat aku membuka pertanyaan, dia justeru menyergapku dengan sebuah pertanyaan. "Merasa aneh akan proses pengobatan tradisional tadi?" "Darimana dirimu mengetahui perihal tersebut," balasku keheranan. "Itu," katanya sambil menunjuk mukaku, "raut wajahmu yang mengungkapkannya." "Oh!" responku singkat, "Aku memang heran atas ritual Habib Idrus bin Smith. Baru kali ini Aku mengetahui cara penyembuhan penyakit hanya dengan air putih. Tak masuk akal!" tutupku mengeleng-geleng kepala. "Inilah kelemahanmu, Omair! Seharusnya, Anda menelaah terlebih dahulu, dugaanmu patut untuk dibenarkan ataukah sebaliknya. Jangan mengultimatum kebenaran mutlak berpihak padamu semata," sergapnya membantahku. "Begini sahabatku, pernah suatu saat segerombolan sahabat bepergian, badui, lantas tibalah mereka pada sebuah namun perkampungan mereka memohon perjamuan,

masyarakat badui tersebut menolak, sampai akhirnya salah satu

76
Euforia Surgaloka Ghanna petingginya berkata: 'Adakah diantara kalian yang dapat meruqyah? Maka seseungguhnya kepala suku terkena musibah.' Kemudian, majulah seorang dari kafilah guna membacakan surat al-fatihah kepada kepala suku tersebut. Dan, 'ala masyiatillah1, dia sembuh seketika. Saking bergembiranya, dia menghadiahi seekor kambing, akan tetapi sahabat tadi menolak, 'Sampai aku haturkan kejadian ini kepada Rasulullah,' tuturnya. Singkat cerita, tatkala Rasulullah mengetahui perihal ruqyah tersebut, Beliau bersabda: 'Dan tahukah Engkau apakah ruqyah itu?!' sesaat kemudian Beliau melanjutkan, 'Ambilah dari (upahmu) mereka, dan sertakan aku dalam bagianmu,' pungkas Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Lalu, apakah perbuatan Habib Idrus bin Smith tersebut masih Anda anggap salah?!" tutup Al-Maflahi dengan bertanya. "Tetapi, Habib Idrus tidak hanya membaca Al-Fatihah, dia menambah dengan doa-doa yang tidak diucapkan oleh sahabat tadi?" Logikaku sulit menerima, tak semudah membalik telepak tangan. Kuajak Al-Maflahi lebih menaikkan level jawabannya, tidak terpaku pada konteks nash Hadits. Kucermati, dia mengatur tempat duduknya, Lantas berkata "Aku bukanlah pemuka agama, tapi setidaknya sumbangsih sedikit pengetahuanku, semoga berkat perbincangan singkat dapat membawa barokah," ucapnya lugas nan santai. Raut mukanya sarat keteduhan.

77
Euforia Surgaloka Ghanna "Sebelum panjang lebar Aku paparkan, lebih baiknya Anda mengetahui bahwasanya

at-tarku (tidak mengerjakan) baik

Rasulullah maupun sahabatnya, bukan menunjukkan hukum haram, apalagi makruh. Akan tetapi, kembali pada kodrat asal, yakni jaiz atau mubah. Sebab, yang termaktub dalam Al-Qur'an ((wa ma

takum fa khudz wa ma nahkum fantah))2; dan apapun yang dia sampaikan kepada kalian; ambillah dan apapun yang dia larang; maka hindarilah. Ayat suci tidak menjelaskan apa saja yang tidak
dia kerjakan, maka tinggalkanlah. Bukan begitu sahabatku, Omair?!" Saking larutnya diriku dalam penyampaiannya, aku sampai terlihat bengong. Tak banyak menggubris, dia pun melanjutkan. "Jikalau dirimu menghendaki sebuah dalil, setidaknya keumuman firman Allah ((ud'ni astajib lakum))3; berdoalah

kepada-Ku; maka akan aku ijabahi bagi kalian. Kaedah ushul


berkata, bilamana sebuah lafadz umum; maka, kita wajib meratakan esensi hukumnya, sampai terjadi sebuah pentakhsisan oleh dalil lain. Sekarang, yang diucapkan oleh Habib Idrus termasuk dari doa kepada Allah, atau?!" Aku memangut-mangutkan kepala, isyarat sebuah

persetujuan akan presentasinya. "Apabila dirimu masih membutuhkan dalil spesifiknya, coba Anda me-review kitab Shahih Muslim, bab (Kesunnahan Ruqyah Orang Sakit), diriwayatkan oleh sayyidah 'Aisya, ketika
2 3

QS: Al-Hashr: 7 QS: Ghfir: 60

78
Euforia Surgaloka Ghanna Rasulullah ditamui oleh sebagian umatnya, berbicara mengenai kegundahan hidup, Beliau mengusapkan tangannya seraya berdoa:

Idzhibil ba'sa, Rabban nss, isyfi antas syfi, la syif' illa syifauk, syif' la yughdir saqam; hilangkahlah kegelisahan, Tuhan para manusia, sembuhkanlah Engkau Maha Penyembuh, Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tak akan lagi menyimpan kesakitan4. Kalau diingat kembali sepertinya
sama dengan doanya Habib Idrus, bukan begitu saudaraku?" Sekarang, kebekuan molekul logikaku mencair. Malu aku menatap Al-Maflahi, sungkan, bagai terjerumus dosa besar, mungkin saja. Ehm, bisa juga tidak. Betul! Tidak sewajarnya aku merasa berdosa. Memang apa salahku?! Sekedar mengungkapkan kejanggalan, apakah salah?! Sepertinya tidak. ******

Kamis, 11 Maret 2010 Kemerlip selendang kelabu pernak-pernik sang malam, bintang biasan Tsuraya mercusuar menghiasi purnama

menyelaras elok, menemani kesyahduan simfoni shalawat Dhiya' Lamie', mempermai birukan seantero pelataran pesantren Darul Musthafa, Tarim. Selepas pembacaan nasyid Haddadiyya, berdirilah pemuda bule berambut pirang, berpetuah di hadapan khalayak hadirin. Aku pun turut menyimaknya khidmat. Kalamnya mengalir indah.
4

HR: Muslim, no. 2191, bab. Kesunnahan Ruqyah Orang Sakit

79
Euforia Surgaloka Ghanna Seorang muallaf berdarah Amerika Serikat yang baru saja menunaikan ibadah haji Baitul Haram. Hal menarik yang membawaku semakin condong ke Islam adalah kebenaran ilmiah (scientific truth) yang ada dalam AlQuran. Kandungan ilmiah Al-Quran luar biasa. Misal: Al-Quran menceritakan bagaimana kejadian manusia yang berawal dari sperma manusia. Asal mula kehidupan manusia sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran itu jauh sebelum ilmu pengetahuan ditemukan, tukasnya mantap. Tak lama berselang, ruangan kubus putih berornamen khas lembah Ibnu Rasyid itu seketika gelap gulita, listrik tiba-tiba padam tanpa sebab. Tatkala gulinda hitam menyelimuti, tanpa secerca cahaya menyinari, muallaf tadi tetap berpidato dengan lantangnya, bahkan semakin bersemangat. "Wahai para pencari cahaya Tuhan, ketika aliran listrik padam seperti saat ini, pandangilah hamparan langit, maka akan kalian jumpai gemerlap kejora yang tanpa pamrih menyumbang sinar cemerlangnya kala gelap malam menghantui," lecitan suaranya memadati kesunyian ihwal. "Terang diantara kegelapan, merekalah ulama' Allah yang senantiasa ikhlas menerangi kalbu kita, menuntun nafsu kita menuju cahaya keesaan Rabb. Janganlah kalian malah tertipu dengan binar lilin modernisasi Barat, nampak sementara bersinar tapi sebentar lagi leleh tak berharga. Lantas, kemanakah kalian akan berlabuh?! Kepada gebyar palsu dunia, sedangkan sukma kalian kering kerontang?! Atau justru oase kesejukan jiwa

80
Euforia Surgaloka Ghanna merupakan prioritas utama?! Kasih kesempatan nurani kalian untuk menjawabnya!

Assalmu'alaikum

wa

Rahmatullahi

wa

Baraktuh."
Seiring pandangan mata. perjalanannya menuju tempat asal, berkat

bantuan tenaga diesel, sorotan lampu kembali menyilaukan

Subhanallah!
Tak dapat aku pungkiri akan rasa takjub nan kagumku kepadanya. Dari peringainya melambangkan glamor kekayaan, namun siapa sangka sukmanya berhias jubah kesederhanaan. ******

Setelah perhelatan maulid rutinan malam kamis tersebut, Habib Umar Muhammad Hafiedz mengundangku untuk sekedar ramah tamah di halaman pasebannya. Sesampainya di lokasi, ternyata banyak tamu undangannya yang sedari tadi menunggu, telah hadir pula Habib Ali Masyhur Muhammad Hafiedz, Habib Musa Kadzim Seggaf, Syekh Umar Khatieb dan beberapa kawula cendikiawan agama lainnya. Berada disampingku, Habib Ali Masyhur, ketua mufti diyar Tarim, Hadhramawt. Dia mengajakku bercengkrama ringan mengenai sepak terjang para sufisme Tarim dan implementasi dakwah mereka hingga ujung Tenggara benua Asia. Hingga aku menukasnya dengan sebuah pertanyaan.

81
Euforia Surgaloka Ghanna "Maaf, Habib! Sejauh yang Aku ketahui, bukankah cadar wajah seperti yang dikenakan oleh wanita Tarim, merupakan bentuk diskriminatif terhadap hak asasi perempuan?" Entah mengapa, dia tak langsung menjawab, tapi justeru mengambil sebuah pisang. Dia kupas kulitnya secara pelan, kemudian memberikannya kepadaku bersih tanpa kulit kuningnya. Sontak! Aku merasa terhina bukan kepalang. Memangnya diriku tak bisa mengupas sendiri?! Mengejek sekali. "Bagaimana pendapatmu tentang pisang ini?" tanyanya membuyarkan celotehan akal. "Apa maksud Anda?!" repsonku sengit, sembari

mengernyitkan kedua alis. "Sesungguhnya, pisang ini akan nampak memukau apabila dia masih terbungkus rapi bersama kulitnya. Selayaknya seorang muslimah, jikalau dia membungkus dirinya dari pandangan liar lelaki, betapa mempesona kharismanya. Tidak seperti barang obralan yang dapat dinikmati gratis oleh siapapun."

Masya Allah! Fantastik!


Baru kali ini aku mendapati filsafat unik yang menyibak tabir semu diskriminatif gender. Tak kusangka, kapabilitas keilmuaan terselubung dalam gamis agungnya. Ajib! Para sufisme bani Alawy, aku akui, mereka memang jauh dari gemerlap kedewasaan dunia. Hanya saja, mereka mampu

82
Euforia Surgaloka Ghanna mendewasakan dunia. Ilmu, amal, zuhud, khauf dan ikhlas. Itulah kunci keberhasilan Mullah bumi Hadhramawt. ******

Tarim, pukul 03.30 WY

"Inna fi khalqis samwti wal ardhi wakhtilfil laili wan nahri laytil li ulil albb"5
Ayat suci Al-Qur'an melantun damai dari menara masjid Aidied, esensi kandungannya memaksaku untuk rela mengorbankan sedikit munajatku demi mentadabburi adikarya Allah, Tuhan seantero alam semesta. Dalam salak anjing sahara, gesekan bunyi ilalang menciptakan ritme kekhusyukan tahajjudku. Diatas hamparan sajadah bumi, linangan air mataku membanjiri tebalnya kulit pipi. Sejenak, aku merebahkan diri, menatap semburat pesona lazuardi. Ya Allah! Tak pernah diriku merasa setenang, sekhidmat dan sedamai ini. Sepanjang nafas menghirup udara, tak kujumpai insan berperingai sederhana, sejuk dipandang nan menentramkan sukma, kecuali setelah kaki menginjak tanah mulya Hadhramawt. Benarkah ucapan Al-Maghriby bahwasanya mereka. Belum sempat kalimat berlanjut, pandanganku seperti terhipnotis mengikuti sebuah gerakan cahaya benderang dari ufuk Timur. Bintang jatuh, itulah.
5

QS: Ali Imron: 190

83
Euforia Surgaloka Ghanna "Subhanallah! Tidak cukup hanya manusia, bahkan

mayapada pun ikut serta bersyahadat Innahum bil malikati

asybah!," ucap tulus batinku.


Buah penyesalan mulai mengguncang jiwa. Aku terlampau menilik segi dzahirnya saja, melupakan eksistensi keluhuran hakikatnya. Ahlinya, bak lentera insan paranoia. Tarim, euforia surgaloka dunia. Ya lal 'ajab!6 ******

(The Herolc Tarim is The World Paradise)


Sebuah kutipan Chanel Al-Jazeera pada acara festival malam bermadu rembulan. Syahdu nan merdu. Menara Muhdhar bercahaya hijau gadung, menyihir kota Tarim serupa kastil Bostra, Syiria. Kepulan asap serani menyerbak wangi, para pejabat tinggi pemerintah, cendikiawan beserta masyarakat sipil berkumpul ria menikmati pagelaran. Semarak kembang api memeriahkan opening acara,

kehangatan secawan jahe panas turut mengharu birukan suasana. Dan, inilah dia, The Herolc Tarim is The World Paradise, Opera

Tarim, Surgaloka Dunia.

Ya lal 'ajab: Sungguh, betapa menakjubkan!

84
Euforia Surgaloka Ghanna Irama dufuf atau gendang bersimfoni cantik, mengalunkan musik kedamaian dalam relung sukma. Para penari bersarung hijau maya-maya sambil membawa lentera bercahaya biru, menciptakan kemerduan pesona malam. Subhanallah, betapa sentosanya negeri seribu wali! Serba-serbi mengenai sejarah bersama geografi Tarim, simposium anak muslim Arab, simposium seni pahat dunia Islam, sarasehan sastrawan Damon, festival Bakatheer, puitisasi syair rakyat, ikut serta meramaikan euforia malam tersebut. Diluar pelataran At-Taghyir, diramaikan pula pameran buku, kaligrafi, kerajinan, fotografi, fashion, dan budaya daerah, kumpulan manuskrip, arsitektur tanah liat dan landmark Islam di lembah Hadhramawt. Kalbuku berdesah tulus: Terima kasih, Tarim! Engkau telah menginspirasikan jiwaku, agar senantiasa memandang dengan mata hati, bukan kasat semu indra. Tarim, bersiaplah! Engkau akan menjadi pusat perhatian negara-negara Islam sedunia. Semoga, Engkau mampu menyatukan peran masyarakat sipil dan pemerintah untuk bekerja sama mengemban amanah sebagai Pusat Kota Budaya Islam Dunia 2010. ---- DARKA YA AHLAL MADINAH, YA TARIM WA AHLAHA ----

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 5 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.
*

85
Terima Kasih Tuhan

Mu'tazim Faurok Muhyiddin

itu begitu riang seolah instrumental yang sanggup membius angin agar diam menyimaknya. Sedang embun di kuncup daun kenanga masih saja enggan menguap, meski mentari sudah sejak tadi terbit dari ufuk timur. Hari ini langit tampak begitu cerah. Nun jauh ke utara sana, kulihat sawah hijau berpetak-petak, di lereng bukit, laksana tangga menuju puncak kahyangan, tempat bidadaribidadari surga bertamasya. Pagi di desa Waru sungguh begitu indah, sejuk dan menentramkan. Sementara hatiku sejak seminggu kemarin, meski

agi ini, sama seperti hari-hari kemarin, aku duduk di depan jendela kamar. Aku tertegun mendengar gemerincik air sungai di belakang rumah. Suara air

ditemani pagi yang indah itu, tetap tak bisa lepas dari kegalauan. Aku masih heran atas apa yang menimpaku. Sepertinya sang takdir hendak membuktikan betapa berkuasanya ia mengatur hidup manusia. Sehingga dalam sekejap saja, hidupku bagai dihantam badai. Aku linglung, tak tahu harus bagaimana. Sungguh takdir dan hidup adalah misteri, keduanya tampak begitu berantakan, penuh kejutan dan sulit diterka.

86
Terima Kasih Tuhan
Aku terkejut. Tiba-tiba saja, pintu kamarku pelan-pelan berderik terbuka. Dan seseorang yang tak lama kukenal masuk membawa nampan. "Minum teh dulu, Mas. Mumpung masih hangat," aku sengaja tak menoleh. Lantas ia letakkan teh manis dengan nampannya itu di atas meja, di samping kursi tempatku duduk. Kemudian sambil mendekapku dari belakang, sedang aku pun masih tak acuh, ia melanjutkan. "Entar jam 8 ada undangan ke rumah ibu Rahma. Mas tidak lupa kan?! Aku mau mandi duluan, Mas siap-siap ya." kilahnya nyerocos. Aku mengiyakan dengan nada datar, pertanda aku tak peduli dengannya. Aku pun kembali melempar pandang keluar jendela seolah-olah aku sedang tidak duduk disitu. Kali ini, ciptratan air terdengar dari dalam kamar mandi. Suara itu beradu dengan gemerincik air sungai yang semakin menambah gelisah hatiku saja. Bagaimana tidak, Orang yang sedang mandi itulah penyebab semua ini. Maka perlahan-lahan kuputar kembali rol-rol film dalam ingatanku. Dan semua itu berawal dari seminggu yang lalu. ### Hari itu adalah hari kamis. Dan tepat pada jam 11.30 siang, saat panas kian menjadi-jadi sebab matahari sedang bertengger di atas ubun-ubun, aku malah terjebak dalam panasnya suasana aula madrasah pondok pesantren Lirboyo. Memang beberapa hari ini, pondok yang berposisi di kota Kediri

87
Terima Kasih Tuhan
itu sedang menghelat acara besar, yaitu acara Bahtsul Masail antar pondok pesantren se Jawa. Acara bahtsul masail yang diadakan setiap tahun itu begitu prestisius, karena selain program tersebut merupakan manifestasi lahirnya sebuah hukum baru dalam Islam, bahtsul

masail adalah ajang untuk mempertaruhkan gengsi dan reputasi


sebuah pesantren. Di dalam majelis yang terhormat ini, tak seseorang pun berani berspekulasi, sebab semua yang menjadi peserta merupakan andalan dari setiap lembaga yang mengutusnya. Mereka adalah yang terbaik dari segala yang terbaik. Makanya menjadi delegasi pada acara tersebut selalu menimbulkan rasa gugup, sebab bahtsul masail merupakan arena terbuka untuk mempertontonkan kecerdasan dan keberhasilan sebuah lembaga dalam mencetak cendikiawan handal. Dan sebaliknya, jika bernasib sial, maka akan mempertontonkan ketololan yang tak terkira. Kali ini sebagai delegasi tuan rumah, aku bersama kedua mitraku harus mati-matian mempertahankan argumentasi kami mengenai masalah

Fiqh

Aulawiyyat.

Pasalnya,

menaggapi

pertanyaan tentang manakah yang lebih diperioritaskan, pada era globalisasi yang diprakarsai oleh orang-orang barat itu, apakah seorang muslim lebih baik menikah muda guna menghindari efek negatif era tersebut atau malah menundanya agar lebih fokus menuntut ilmu agama? Meski masalah ini tidak begitu urgen, akan tetapi menurutku, pada era globalisasi ini, laki-laki tak sepatutnya

88
Terima Kasih Tuhan
menikah waktu muda. Sebab pernikahan dini bisa mengakibatkan resiko besar, atau dengan kata lain membujang sewaktu muda, dengan tujuan memperdalam ilmu agama tentu lebih bermaslahat. Aku sontak kaget. Kurang lebih 10 meter dari pojok kanan, utusan dari pondok Sarang Rembang mengacungkan tangan dan serta-merta memutus argumenku. Tak tanggung-tanggung, ia lantas ngomel tak karuan, begini pendapatnya. "Sebagaimana kita tahu, di samping semakin canggihnya teknologi dan sains, disisi lain juga membawa ciri negatif yang tidak mungkin dipungkiri" lagaknya menjengkelkan. Kedua tangannya di acung-acungkan keatas seolah-olah gedung ini miliknya saja. "Sebut saja dengan adanya benturan budaya yang tak terkontrol itu, maka budaya barat, yang notabene dipenuhi maksiat, akan semakin mudah masuk dan bahkan bisa merobohkan benteng keislaman budaya timur. Dan jelaslah kiranya, pernikahan dini adalah solusi jitu untuk membendung hal tersebut," Perdebatan ini kian memanas. Aku jadi emosi. Menghadapi persoalan ini, aku seperti dihadapkan pada buah si malakama. Di satu sisi, sudah menjadi prinsipku untuk tidak menikah muda. Namun di sisi lain, dengan memilih pendapat itu, aku harus rela digempur oleh delegasi pondok lain. Maka tak heran, jika kesempatan ini benar-benar

dimanfaatkan oleh utusan pondok Sarang, Ploso dan yang lain untuk habis-habisan menyerang kami. Karena kuyakin mereka kesal, sebab delegasi Lirboyo, sejak awal begitu mendominasi. Dan

89
Terima Kasih Tuhan
puncaknya, sewaktu wakil dari pondok al-Khozini meluncurkan komentar pedas yang memancing amarah, "Saya tak habis pikir, bagaimana anda berpendapat

ngawur seperti itu. Apa landasan anda mengatakan bahwa


membujang malah lebih bermaslahat? Apakah anda lebih senang melihat muda-mudi kita tak tahu malu berpacaran seperti orangorang barat?!"

Ngawur?! Aku gregetan, ingin sekali aku membalas katakata kasarnya itu. Namun belum sempat aku angkat bicara, moderator menutup jalsah ula untuk ISHOMA (Istrahat, sholat dan makam). Jarum jam pun kini menunjuk kearah angka 12 pas.

Jalsah harus dilanjutkan nanti sore.


Sebenarnya aku tak sabar jika harus menunggu sore. Ingin sekali kukatakan pada mereka bahwa Negara-negara Islam saat ini sedang terpuruk. Mental umatnya sedang hancur. Sebab itulah kiranya, umat Islam begitu mudah menjiplak budaya barat. Maka satu-satunya solusi, paling tidak menurutku,

generasi muda Islam harus memperkuat etos kegamaannya dengan memperdalam pengetahuan mereka pada kitab-kitab turots. Mereka harus menuntut ilmu setinggi-tingginya. Bukan malah disuruh kawin!! Apa mereka pikir dengan menikah urusan bisa beres? Enak sekali!! Belum hilang rasa kesalku, tiba-tiba saja, Syahid datang menghampiriku. Teman sekamarku itu memberitahu bahwa petugas penjaga telpon berkali-kali memanggil namaku lewat

90
Terima Kasih Tuhan
pengeras suara. Aku heran. Ada apa gerangan? Perasaanku menjadi aneh. Aku tergopoh-gopoh menuju kantor penerimaan telpon. Ada rasa kaget campur senang mendengar hal ini. Karena sejak ibuku meninggal dua tahun yang lalu, keluargaku nyaris tak pernah menghubungiku. Aku jadi rindu pada ibundaku itu. Jika seandainya beliau masih ada beliau pasti akan selalu menanyai kabarku. Berbeda dengan abah, beliau tak begitu dekat denganku. Pribadinya yang kaku dan pendiam serta wataknya yang keras membuatku agak risih untuk berbicara dengannya. Aku mendongak, kira 20 meter di depanku ada gedung serupa kantor sekolah umum. Gedung itulah yang aku tuju. Gedung Bakti. Sesampainya disana, aku langsung duduk di atas kursi panjang yang mirip dengan kursi di halte bus. Kulihat beberapa santri yang duduk disampingku tampak sama sepertiku, mereka tampak cemas menunggu telepon berdering. Sembari menunggu, kuedarkan pandanganku pada sisi-sisi ruangan yang bergaya art deco itu. Tak ada yang istimewa. Hanya saja, kulihat pada dindingnya tertulis kaligrafi yang agak provokatif, bunyinya: Al-Ilmu Madzbuhun Baina Fakhidzain Nisa'. Ah, barang kali lewat tulisan ini, pengurus hendak mengingatkan betapa berbahayanya berhubungan dengan kaum hawa. Aku setuju sekali dengan ungkapan itu, apa lagi bagi thullabul ilm, wanita tak ubahnya jurang yang bisa mengubur tujuan mulya mereka. Makanya aku selalu berdo'a pada Tuhan agar Ia menjauhkanku

91
Terima Kasih Tuhan
dari cobaan yang satu ini. Sungguh aku tak ingin terjerat oleh tipu rayu wanita, sebab wanita adalah racun dunia. Aku tersentak. Seseorang memanggilku. Oh, ternyata si penjaga kantor. "Kang Mahrus, telpon untuk sampean." Aku berterima kasih. Aku menghampiri. Kuraih gagang telpon yang diserahkan petugas itu. Dan sejurus kemudian aku telah terhubung dengan seseorang yang ada di sebrang sana. "Mahrus, bagaimana kabarnya?" dan ternyata orang di telpon itu adalah om Rofiq, adik dari abahku. Meski perawakan pamanku itu agak gemuk, pendek dan menyeramkan, apa lagi melihat jenggot panjangnya yang awut-awutan sehingga ia tampak seperti penganut madzhab salafi, kepribadian Om Rofiq berlawanan dengan penampilan anehnya itu. Ia begitu baik dan perhatian padaku. "Baik, Om. Tumben nelpon, ada apa?" Om Rofiq langsung menjelasakan kalau nanti malam akan diadakan acara haul meninggalnya ibuku. Dan abah menyuruhku pulang. "Berangkat sekarang juga! Biar tidak telat datangnya ke rumah. Masalah perizinan, kamu tidak usah repot, abahmu yang ngurus. Kamu tinggal menghadap ke bapak Kiai saja!!" aku hanya diam mendengar kata-katanya. Aku agak terkejut. Aku tidak

92
Terima Kasih Tuhan
mengira kalau hanya acara haul, abah menyuruhku pulang. Padahal dulu, saat ibu meniggal beliau baru mengabariku setelah lewat satu minggu. Pada haul tahun pertama juga begitu. Meski aku memaksa ingin pulang, abah tetap tak mengizinkan. Sungguh menjengkelkan. Tapi kenapa sekarang beliau malah menyuruhku pulang? Apakah abah telah berubah? Ah, mungkin keras kepala beliau sudah mencair. Dan kuyakin beliau menyesal karena dulu tak mengizinkan aku pulang. Tak jadi masalah. Tanpa ambil tempo, aku pun langsung menghadap bapak Kiai. Kemudian setelah mendapat restu, aku langsung cabut ke Madura. Adapun urusan

bahtsul

masail

nanti

sore,

akan

kupasrahkan saja pada Taufiq, mitraku itu. Aku tak mau ambil pusing. Bagiku, acara haul ini merupakan vakansi kecil-kecilan, untuk sekedar istirahat dari penatnya kegiatan pesantren. Tak boleh dilewatkan. Perjalanan dari Kediri ke Madura, memakan waktu kirakira lima jam. Rencananya, aku akan berangkat menggunakan bus umum. Setelah sampai ke terminal Bungur Asih, Surabaya. Aku harus istrahat sebentar, lalu sholat qoshor sekaligus menjama' dhuhur dengan ashar. Lantas aku akan tancap lagi menuju pulau garam, Madura. Jam 5 sore. Matahari mulai beranjak pelan ke ufuk barat. Sinarnya memulas awan berkilauan sehingga terpantul jelas di kaca bus yang kutumpangi. Bus tetap melaju kencang.

93
Terima Kasih Tuhan
Beberapa menit kemudian, bus Surabaya-Madura itu, berhenti untuk keempat kalinya di terminal kota Pamekasan. Aku pun turun. Dan rupanya adikku, Fauroq, sudah menuggu bersama om Rofiq disana. Hanya satu tahun tak bertemu, aku tak menyangka ternyata adikku itu bertambah gemuk, pasti makannya banyak. Dan melihat pipinya yang gembil seperti kue kukus, aku semakin ingin meremasnya. Sungguh menggemaskan. Dan setelah mencium tangan om Rofik dan kami silih berganti menanyakan kabar, kami pun langsung berangkat, dan seperempat jam kemudian aku tiba di rumah. Oh, betapa senangnya aku bisa berada di rumah lagi. Aku datang. Rumah tampak ramai. Semua orang sibuk kesana-kemari mempersiapkan acara, tak ada yang memperdulikan kedatanganku. Kulihat di halaman, kursi-kursi telah tertata rapi untuk para undangan. Dan di sepanjang deretan kursi-kursi itu didirikan terob yang amat mewah dengan lampu yang terang benderang. Sedang di depan kursi-kursi itu, terdapat panggung untuk para kiyai, dan sama seperti terob tadi, panggung itu pun tampak begitu megah nan mewah. Melihat banyaknya kursi, kukira, jumlah tamu kali ini akan mencapai 300 orang. Abah mengadakan acara ini besar-besaran, bahkan terlalu besar kalau hanya untuk acara haul saja. Lantas aku pun masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, rupanya abah telah menungguku bersama anggota keluarga yang lain. Tapi aku agak terkejut, sebab tante Nurul juga ada disini. Ia tersenyum padaku. Tante Nurul tidak sendiri. Kakak dari almarhumah ibuku itu datang kesini bersama suami dan kedua

94
Terima Kasih Tuhan
anaknya dari Jember. Paman Faruq beserta keluarga, juga datang dari Banyumas. Dan bahkan saudara-saudara yang dari Jakarta pun ikut mudik. Acara ini benar-benar meriah. Sebab semua sanak famili berkumpul di sini. Lantas kusalami mereka satu persatu. Tante Ani, yang sekarang tinggal di Sidoarjo menanyai kabarku. Ia heran melihatku sudah besar. Maklum, ia tak pernah bertemu dengan sejak aku berusia tujuh tahun. Kemudian aku pamit pada mereka untuk bersiap-siap pergi ke masjid. Namun abah memanggilku. Aku berbalik. "Nak, kamu istirahat di kamar adikmu saja. Kamarmu sedang dipakai.." dahiku mengerut. Tapi aku mengerti sebab semua anggota keluarga hadir saat ini. Pasti kamarku dipakai oleh salah satu dari mereka. Tak apalah. Kemudian dengan kata-kata serak dan berwibawa beliau meneruskan, "Oh iya, Abah membelikan baju untukmu, jangan lupa dipakai nanti malam.. " Jam 8.00 malam, haul ibundaku sebentar lagi dimulai. Kulihat para undangan sudah hadir menempati kursi yang disediakan. Pada acara ini, rupanya abah telah menyiapkan stelan baju istmewa untukku: Bawahannya adalah sarung hijau bermerek Donggala, sedang atasannya jas safari berwarna putih dangan kopiah berwarna putih pula. Stelan baju itu terlihat pas sekali dengan tubuhku yang agak kurus. Sehingga jika kulihat diriku di cermin, aku tampak seperti khotib yang hendak berkhotbah di masjid agung.

95
Terima Kasih Tuhan
Lantas aku duduk dideretan kursi nomer tiga bersama teman-teman SD-ku. Aku tak menyangka mereka bisa hadir semua. Meski saat ini kebanyakan dari mereka sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, tak satu pun dari mereka yang alfa. Acara haul dimulai. Di panggung depan, kuperhatikan banyak Kiai-Kiai yang cukup berpengaruh di Madura, duduk disitu. Di pojok kiri panggung, bapak Dimas Ruhin, bupati kota Pamekasan juga ikut datang. Maklum saja, abah selaku pengasuh podok pesantren Bata-Bata dan menjabat sebagai ketua BASKIMA (Badan Silaturrahmi Kiai se Madura), tentu akrab dengan Kiai-Kiai Madura dan pejabat-pejabat yang duduk di instansi pemerintahan. Maka pertama-tama, seperti umumnya acara haul, semua hadirin membaca surah Yasiin, dipimpin oleh KH. Kholil Fauzi, pengasuh pondok pesantren Banyu Anyar. Kemudian acara dilanjutkan dengan membaca tahlil yang kali ini diambil alih oleh KH. Muslim dari Bangkalan. Aku tak serius membaca tahlil karena teman-teman bercanda di sampingku. Setelah tahlil usai dan do'a telah dikumandangkan oleh KH. Minanur Rohman, kukira para hadirin akan langsung dipersilahkan makan. Ternyata tidak. Abah malah berdiri di atas panggung dan lantas memberi sambutan. Aku tak begitu bersemangat menyimaknya, sebab aku sudah merasa lapar sekali. Abah berterima kasih kepada para tamu yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk hadir. Kemudian, beliau bercerita panjang lebar. Adapun aku mendengarkan tanpa selera dan setengah hati. Sampai akhirnya abah mengatakan bahwa pada

96
Terima Kasih Tuhan
malam hari ini ada dua acara penting. Dua acara penting! Mendengar kalimat itu, perhatianku pun menjadi tersita oleh kata per kata yang akan beliau ucapkan. "Acara pertama adalah acara peringatan meninggalnya alMarhumah nyai Siti Khodijah dua tahun lalu. Sedang acara yang kedua adalah acara utama, yaitu acara akad nikah putra pertamaku" Aku terkejut sekali sampai jantungku seakan berhenti berdetak. Akad nikah!! Apa maksud beliau? Lantas siapa yang dimaksud putra pertama? Apakah aku?! Ah, tidak mungkin aku. Tapi kalau bukan aku, memangnya abah punya anak sulung lain? Aku tak habis pikir. "Malam hari ini putraku, M. Mahrus Ali akan

melangsungkan akad nikah dengan putri KH. Thoyib Ahmad yang bernama, Silvia Mega Wulandari.." Mendengar beliau menyebut namaku, rasa terkejutku kini menjelma menjadi palu godam seberat 1 ton, dan tanpa ampun palu raksasa tersebut jatuh menghantam kepalaku. Aku pening, pening sekali. Siapa Silivia Mega itu? Mengapa pula dia mau menikah denganku? Kaki dan tanganku tiba-tiba menjadi dingin dan gemetar hebat. Seluruh tubuhku mendadak lumpuh seaka-akan seluruh terob di atasku rutuh menimpaku. Maka pada detik ini aku jadi mafhum, mengapa abah sekonyong-konyong menyuruhku pulang dari pondok. Ternyata watak abah masih seperti dulu. Aku jadi paham mengapa semua orang, saat aku datang, tampak mengacuhkanku. Tak biasanya

97
Terima Kasih Tuhan
mereka begitu. Bahkan adikku tak berbicara apa-apa padaku. Dan mungkin ini juga alasan mengapa teman-temanku tiba-tiba berkumpul disini. Mereka semua bersekongkol menyembunyikan hal ini. Oh tidak, ternyata aku terjebak. "Nak Mahrus, mari maju.." Aku tertunduk. Aku tak berani mengangkat kepala karena saat ini, pasti semua mata tertuju padaku. Aku malu sekali, hatiku kelu. Apa lagi teman-temanku tambah menggodaku, dan bahkan ada yang mencolekku dari belakang. Hanya sesekali saja aku membalas mereka dengan senyum getir, senyum yang pahit sekali. Ini semua pasti rencana abah. Aku ingat tahun lalu beliau sempat memintaku untuk menikah, tapi aku menolak karena umurku masih 19 tahun. Sejak ibuku meninggal aku berkomitmen, aku tak tidak akan menikah muda. Aku ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya. Dan itu adalah prinsipiku. Namun sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa. Abah pintar sekali menempatkanku pada posisi seperti ini. Aku terpojok. Makanya beliau mengucapkan hal tersebut di depan khalayak ramai. Beliau pasti tahu aku tidak akan menolak, karena aku tak mungkin berani meraupkan abu ke mukanya. Dan walaupun aku pura-pura menerima, aku juga tidak mungkin berkilah bahwa pernikahan tidak sah, sebab meski aku dipaksa, hal itu tidak memenuhi syarat-syarat ikroh yang termaktub pada kitab-kitab fiqh. Tak ada jalan lain kecuali aku harus memilih pilihan pahit ini. Sungguh abah membuatku tak berkutik.

98
Terima Kasih Tuhan
Aku masih tak bergerak di atas kursi sehingga dua Kiai dari panggung datang menjemputku. Aku berjalan tak berdaya dituntun mereka seperti ektrimis yang tertangkap basah oleh kompeni sebab melakukan tindak separatis. Meski terbata-bata dan harus dua kali mengulang kalimat:

Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bimahril madzkur , akhirnya akad


pun selesai kulaksanakan. Selanjutnya mereka menggiringku keruang tamu. Kulihat para undangan larut dalam nikmatnya hidangan yang disajikan. Sedang aku tak merasa lapar lagi, nafsu makanku lenyap. Banyak orang yang mengucapkan selamat padaku, dan aku hanya mengangguk-angguk tak berdaya. Sepupu-sepupuku, terutama si Aini, putri semata wayang paman I'jaz yang menjanya minta ampun itu, bukannya memberi selamat seperti yang lain, tapi malah menggodaku, membuatku semakin kikuk saja. Aku kesal. Tapi aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku mendesah panjang. Setalah sekitar dua jam, sampaisampai pantatku terasa tepos sebab duduk terlalu lama, maka sambil berpura-pura bahagia di depan kelurga dan mertua, dalam hati kecilku aku memprotes Tuhan: "Ya Allah, bukankah setiap malam kukatakan padaMu bahwa hambaMu ini siap menerima cobaan apa saja, asalkan jangan wanita! Dan kumohon jangan Engkau membuatku menikah muda..!!" Tuhan menjawab doaku persis seperti apa yang tak aku minta. Kuberi tahu kawan, begitulah cara Tuhan bekerja. Jika kita menganggap doa dan pengabulan merupakan muqoddimah dan

99
Terima Kasih Tuhan
natijah pada sebuah qodhiah dalam ilmu mantiq, maka Tuhan
independen. Ia tak tunduk pada kekuatan dan teori apapun. Oleh karena itu Tuhan sama sekali tak dapat diperintah dan diaturatur. Maka inilah aku, pada umur 20 tahun, aku akan terjebak dalam penatnya suasana rumah tangga dan selama sisa hidup akan terperangkap dalam rutinitas mencari nafkah yang menjemukan. Selanjutnya aku mencium gelagat aneh. Sebab si Aini bersama kawan-kawannya menghampiri kami. Lantas ia memberi kode kepada abah: Jari telunjuknya dipertemukan dengan jempol, sedang tiga jari sisanya dibiarkan berdiri tegak, dan sambil terkekeh-kekeh ia mengatakan: Siap, siap!! Apa lagi yang mereka rencanakan. Aku mulai curiga. Dan benar dugaanku, ternyata paman, sepupu, dan teman-teman SD-ku menyeretku menuju lantai dua. Aku pasrah saja. Ah, ternyata mereka membawaku ke arah kamar yang tak lain adalah kamarku sendiri. Bukankan kamar itu sedang dipakai?! Aku heran. Akan tetapi setelah dipaksa masuk, aku kaget bukan main. Ternyata kamarku telah ditata ulang sampai-sampai aku tak kenal lagi pada kamar itu. Kukira tak ada yang tinggal disitu, sebab tak kutemukan barang apapun. Dinding kamar itu di cat merah muda, dan disana terdapat sebuah tulisan yang lazim aku temui jika aku hadir ke acara-acara pernikahan: SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU. Maka tak salah lagi, kamar ini adalah kamar yang biasa disebut dengan kamar pengantin! Sedangkan di pojok kanan kamar pengantin itu, yang dulunya terdapat meja belajar dengan kitab-kitab yang dijejalkan

100
Terima Kasih Tuhan
sembarangan, sekarang meja itu raib diganti meja rias dengan cermin yang amat besar persis seperti meja yang pernah kulihat di mall-mall. Ranjangnya pun juga baru. Dan aduh, warna sepreinya warna pink, di atasnya ditaburi bunga melati pula. Aku menjadi bingung harus duduk dimana. Malam kian larut, membuat hatiku semakin kelu. Lantas suara gaduh terdengar dari balik pintu. Sejurus kemudian, dari arah pintu kamar, masuklah seorang wanita. Mungkinkah ia istriku?! Tak salah lagi sebab bersamaan dengan masuknya si gadis berkebaya putih itu, seseorang dari luar kamar masih sempat berteriak menggodaku: "Gus Mahrus, jangan lupa kunci pintu, ya!" ada-ada saja mereka. Kulirik sekilas, tinggi wanita itu sekitar 165 cm, tubuhnya langsing dan kutaksir umurnya kira-kira 17 tahun. Aku duduk di pojok ranjang, dan lantas ia mengampiriku. "Mas, namaku Mega, tepatnya Silvia Mega Wulandari," dengan kelimat halus selembut terigu, ia memperkenalkan diri. "Aku sepondok dengan Siti Nur Aini di Al-Amien

Prenduan. Dari dik Aini lah, aku tahu banyak tentang Mas. Makanya aku langsung setuju sewaktu abah memintaku menikah dangan Mas" apa? Pasti ulah si Aini. Aku geram sekali pada anak centil itu. "Mulai saat ini, aku akan mengabdi pada Mas, karena Mas adalah imamku. Mas, jika nanti Mas, menemukan banyak salah dari caraku berkata, bertatakrama dan bertingkah laku, maafin aku ya... bimbing aku," nada bicaranya yang begitu ramah membuat

101
Terima Kasih Tuhan
nyaliku runtuh. Namun aku tak sanggup berkata apa-apa, sebab aku tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya aku mengangguk pelan. Waktu berjalan lamban seolah detik-detik enggan

digantikan menit. Sejam di kamar ini, apa lagi bersama wanita itu, seakan memuai lebih panjang dari biasanya. "Eh, Mas capek sekali," akhirnya hanya ini yang dapat kuucapkan, dan setiap kata-kata itu seolah berubah menjadi batu berat puluhan kilo yang harus aku seret satu per satu. Kemudian aku melanjutkan, "Kita langsung tidur saja, ya." Mendengar kata-kataku tadi, ia mendadak terkejut. Pandangannya tertunduk ke bawah dan mukanya merah padam bak buah rukam di penghujung musim kemarau. "Bukan itu maksud Mas, jangan salah sangka! Mas hanya ingin ngajak istirahat aja ko'! ga' lebih," "Oh begitu, Kirain Kalau gitu aku juga ingin istirahat," Aku rebahkan turbuhku di atas kasur yang beroma melati itu. Kiranya ia juga merebahkan diri disampingku. Tapi aku memunggungi. Aku berusaha sekuat tenaga memejamkan mata, namun semakin keras aku mencoba semakin aku tidak bisa tidur. Sungguh tak masuk akal! Padahal tadi pagi aku masih berdebat dan berargumen bahwa orang muslim tak sepetutnya menikah muda, akan tetapi malam ini aku malah tidur dengan orang yang tak lain adalah istriku sendiri.

102
Terima Kasih Tuhan
Lantas kudengar ia memanggilku, aku kira ia juga tak bisa tidur sama sepertiku. "Mas!" suaranya begitu kalem dan kalimatnya diayunayunkan, manja sekali. "Eemh," aku menjawab dengan dehem panjang, biar ia mengira bahwa aku hampir tertidur. "Aku kepanasan. Aku minta izin buka baju, boleh ya! Aku make' kaos ko'," "Iya terserah," sebenarnya aku juga merasa panas. Ingin sekali aku melepas baju safariku yang tebal ini, tapi aku takut dia salah sangka lagi. Selang beberapa menit, dan aku masih tak lelap. Ia kembali memanggilku. "Mas," kali ini suara manjanya itu terdengar mendesah, membuat jantungku berdebar-debar. "Kenapa lagi?" Jawabku pelan. "Aku ga' bisa tidur," "Kenapa ga' bisa tidur?" "Soalnya, sejak kecil aku punya kebiasaan aneh. Kalau aku mau tidur punggung tanganku harus dielus-elus. Kalau ga' gitu aku ga' bisa tidur," akunya kebiaasan ini sudah berlangsung sejak kecil. Kalau dia sedang di rumah, Uminya selalu menemaninya

103
Terima Kasih Tuhan
sampai tertidur. Sedang di pondok, sepupunya yang menggantikan tugas Uminya itu. "Jadi Mas mau, ya, mengelus tanganku" hatiku berdesir. Aku ragu-ragu, namun mau tak mau, aku harus menuruti permintaannya. Aku membalikkan tubuh. Ia pun menjulurkan tangannya kearahku. Dan di bawah terangnya lampu yang tak berani kupadamkan, kulihat kulit tangan yang berwarna kuning langsat itu begitu bening. Ia pasti merawatnya dengan sungguhsungguh. Saking beningnya, sampai-sampai aliran urat kebirubiruan dibawah permukaan kulit itu tampak sangat jelas. Tanganku agak gemetar namun ketika kesentuhkan,

ternyata kulit indah itu begitu halus nan lembut bak kain sutra kepunyaan ratu-ratu dinasti Han. Amat berbeda dengan kulit si Khoirul, teman sepondokku yang berasal dari Sampang, karena selain warnanya gelap dan urat-uratnya bertimbulan, kulitnya juga kasar persis seperti karpet. ### Pintu kamar mandi berderik terbuka membuyarkan

lamunanku. Aku masih saja duduk dekat jendela. Aku menoleh. Seseorang keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk. Orang itu tak lain adalah istriku. Sumber kegelisahanku. Namun semenjak aku tahu bahwa abah memaksaku menikah sebab beliau terkena penyakit kanker, dan bahkan dokter memvonis hidupnya tak akan lebih dari satu tahun lagi, aku jadi maklum. Aku faham kegelisahan beliau tentang siapa yang

104
Terima Kasih Tuhan
akan menggantikannya mengasuh pondok. Makanya beliau ingin mengikatku dengan pernikahan ini. Beberapa kali aku sholat istkhoroh, aku memohon pada Tuhan agar Ia memantapkan pendirianku. Maka mulai hari ini aku harus menentukan pilihan. Dan pilihanku sudah final, aku tidak akan menyia-nyiakan istriku. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan sungguh-sungguh membina rumah tangga ini. Sebab aku yakin Tuhan pasti memberiku jalan yang terbaik. Bukankah Allah SWT. Maha Maha Pengasih kepada hambaNya? Aku pun bangkit. Lantas aku menghambur menghampiri gadis yang memakai handuk itu. Ia terkejut. Aku gugup, tapi aku berusaha menguatkan diri. Ia tampak bingung, hal itu terlihat jelas dari pipinya yang merona merah dan mata bulatnya yang bening melotot padaku. Kiranya ia heran pada tingkahku, karena sejak pertama kali bertemu, aku tidak pernah menyentuhnya. Kutatap ia dalam-dalam. Maka ditengah-tengah rasa gugupku dan rasa herannya, aku bertanya kepada yang Mahatinggi: Oh Tuhan, berapa banyakkah Engkau menurukan perempuan berdaya kejut listrik macam ini di muka bumi? Ternyata aku baru sadar bahwa istriku begitu cantik sekali. Aku gengam kedua tangannya. Ia tak bereaksi, hanya bibir mungilnya itu terlihat agak gemetar. "Emm,, maafkan Mas. Mas berjanji mulai saat ini, Mas akan berusaha akan menjadi suami yang baik. Mas tak akan mengacuhkan adik lagi," kemudian kukecup keningnya. Ia memejamkan mata. lantas kupeluk tubuhnya erat, erat sekali

105
Terima Kasih Tuhan
seperti pelukan seorang tentara yang hendak meninggalkan istrinya ke medan perang. bidadari untukku. Maka didalam pelukannya, aku berterima kasih pada Tuhan karena Ia telah mengirimkannku

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

106
SAKA

S.A.K.A
(Semilir Angin Kemerdekaan Abadi) By: Micdarul Chair El-Sharafy

Terima kasihku untuk para pahlawan negara Yang telah mengorbankan segalanya demi bumi Nusantara

Malam 16 Agustus 2011 "Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka, Nusa dan Bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia. Merdeka.!," suaranya terdengar nyaring dari sudut ruangan bercahayakan lampu dop 5 watt. Malam kian mengelam. Giris gerimis turun menyapa sunyi. Lolongan serigala gurun malam bersahut-sahutan. Ringkikan jangkrik mengerik-ngerik kepongahan. Alunan permai ibukota negara Yaman, San'a. Dia, pemuda bermantel putih tebal, berkopyah merah dengan kuncir hitam di tengahnya. Menggeleng-geleng seumpama penari sufi The Whirling Dervishes dari kota Konya, Turki.

107
SAKA
Sebuah ekspresi dari rasa cinta, kasih dan sayang yang maha tinggi dari seorang hamba kepada Sang Rabbi. Memang, suhu Agustus di kota San'a pada tahun ini serentak meledak super dingin. Badan Meteorologi dan Metafisika memperingatkan agar para penduduk mewaspadai cuaca dingin yang akan terjadi hampir di penjuru belantara negeri Saba'. Musim dingin yang biasanya hanya mencapai 7 0 celcius, sekarang melonjak tajam diperkirakan hingga minus derajat celcius. Gila?! Nampaknya, dia tak menggubris perihal tadi. Dia begitu asyik terbuai oleh tenunan benang sutra merah dan putih. Sesungging senyum di pelipis lesung pipinya membuang rasa penat dan letih. Dia pintal satu persatu tumpukan gulungan benang di sampingnya. Sungguh telaten! Padahal, kornea matanya sedari tadi berdarah. Merah legat. Sangatlah merah. Merah mendarah. Yah, merah yang melambangkan keteguhan jiwanya memintal Sang Saka. "Wah! Kang Eko memang top. Demi bendera saja, sampai rela begadang larut malam. Istirahat dulu, Kang! Sebentar lagi sahur, lho," ucap Rozi yang nyelonong masuk kamar tanpa izin. "Moment kemerdekaan ini kan event tahunan. Makanya, aku pengen banget merasakan napak tilas Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno. Meski bukan katun Jepang atau kain Wool, setidaknya aku telah berusaha meniupkan ruh perjuangan para pahlawan di seantero relung pori-pori rajutan bendera pusaka ini. Kibaran di puncak tiang yang mengandung jutaan makna. Membara,

108
SAKA
bergelora, segagah bambu runcing enam puluh enam tahun silam. Roda sejarah terukir menggunakan tinta emas. Indonesia, oh Indonesia!". Tatapan matanya luas, menerobos daun jendela,

meneropong belahan hitam berkerlip ribuan bintang saat hujan mereda. Lantas tersenyum bangga dengan linangan air mata di balik kemerahannya. Rozi terpukau memandangnya. Setinggi itukah jiwa nasionalismenya? Tanpa sepatah kata, Rozi meninggalkan ruangan,

membiarkan Eko mengarungi samudra ilustrasinya. ***** Seusai menyantap makanan sahur, dia melepas

pandangannya ke arah balik jeruji, Semburat jingga cahaya mentari meretas awan putih yang bergumpal-gumpal begitu indah, menyisakan butir embun hujan kemarin malam. Udara dingin pun mengusap lembut.

Subhanallah!!!
Laksana kasur yang terbuat dari tenunan kapas. Seolaholah mengajaknya berbaring dan terbuai di atasnya. Pikirannya menerawang, membelah angkasa. Kembali

bersua dengan memori merah. Merah yang membara, menyala. Perjuangan kemerdekaan negeri tercintanya, Indonesia. Wuuuiiih

109
SAKA
Indonesia 66 tahun yang lalu Medan pertempuran anyir berbau darah, banjir akan tumpukan mayat. Bambu runcing menjerit, menderu berseteru melawan bom rakit. Dasar! Tapi demi merdeka, jiwa-raga rela dikorbankan. 17 Agustus 1945 Teks proklamasi menggemparkan seantero jagad

Nusantara. Sang Saka berkibar gagah, bergelora di puncak tiang. Indonesia merdeka. Rakyat bebas. Terima kasih Tuhan! Namun, setelah 66 tahun berlanjut Hutan gundul, demi gedung megah pencakar langit. Sungai kotor berlimbah sebab pabrik dibangun asal-asalan. Laut terkontaminasi polusi. Musim hujan semraut tak karuan. Penyakit aneh mewabah, demam berdarah, AIDS, flu babi, juga narkotika, kemelaratan, pengangguran, aksi korupsi, pelacuran, perseteruan antar agama dan disintegrasi masih menjadi-jadi. Rakyat mati kelaparan, sementara para konglomerat sibuk diri menumpuk kekayaan. Tak ada belas kasih dan rasa empati, saling sikut-sikutan, berebut serakah kue kekuasaan. Shitt!

110
SAKA
Kemerdekaan macam apa ini?! Dia memejamkan mata, merenungi keluh kesah negerinya. Sepoi-sepoi berhembuslah angin sejuk dari ufuk selatan. Damai dan sentosa. Benar! Dialah angin sejuk ufuk selatan. Dia yang menyibak tabir makna kemerdekaan hakiki dalam kehidupan. Dia, siapakah?! Dia adalah dirinya. Nelson Mandela, presiden pertama Afrika Selatan yang mampu bertahan selama 27 tahun disandera dalam siksaan pedih jeruji penjara, padahal usianya telah uzur. "Jikalau Engkau ingin menjadi orang yang merdeka, maka buanglah semua kebencian, sehingga engkau akan benar-benar merasa sebagai orang bebas dan merdeka," demikian teriak Nelson sebelum masuk penjara. Bangsa Indonesia, apa yang menjadi isi hati mereka? Benci, dengki, amarah, berangasan, itukah? Sampai kapan?! Sudah saatnya Indonesia berkaca pada Nelson Mandela. Bukan kultus individu, Indonesia sudah inflasi kata mutiara. Tapi, Indonesia memerlukan sebuah revolusi sikap.

111
SAKA
"Tapi, entahlah! Semoga saja masyarakat Indonesia dapat memahami kealpaannya," ucap Eko lirih, mengakhiri unek-unek di hatinya. ***** 17 Agustus 2011 Sinar mentari Dhuha kian menyeka embun bening

dedaunan di seberang jalan. Sambutan hangat awal aktivitasnya. Jam tangannya telah menunjukkan pukul 06.15 WY. Selepas shalat isyraq, dia bergegas merapikan Sang Saka merah putih, membungkusnya dalam tas cangklong hitam, menaburinya bunga melati, menebar aroma harum nan semerbak mewangi. Dia berjalan cepat menuju terminal taksi yang berada tak jauh dari apartemen. Sekitar 500 meter. Sebelum akhirnya penumpang penuh, dan taksi pun melaju. ***** Bintik titik kecil merah berderet, membentuk garis-garis tipis di kanvas putih kornea Eko. Perih dirasanya. Maklum!! Semalaman suntuk, begadang demi kibaran Sang merah putih kala upacara proklamasi. Husssss. Sembari menikmati hembusan udara pagi dari jendela taksi, dia memejamkan matanya. Berlayar menuju pulau mimpi. Pulau seribu impian. Berharap dapat berjumpa Nur Laela.

112
SAKA
Kembang desa yang membuat hatinya berdegub kejang kencang. Gadis berpostur tubuh tinggi semampai itu, wajahnya sungguh cantik jelita. Aduhai bodinya. Berbalut jilbab anggun, layaknya putri ratu piningit langit. Amboi, betapa sempurna pesonanya! Nostalgia indah, tak tahu berapa menit dia terbuai. Sampai saatnya bunyi keras mengejutkan, membuyarkan sketsa bualannya.. Pppyyyyyyaaaaaarrrrrrrr.. Tiba-tiba, menghujani muka. Aaaaahhhhggggg!! Belum puas mengeluh, puluhan tangan berebut menarik dirinya. Bukan seperti uluran tangan simpatik memperebutkan tangan lembut vokalis band di panggung konser. Namun, jari tadi mengepal. Seperti menyimpan amarah dan dendam. kaca jendela pecah. Serpihan tajamnya

"Hadza jasus min hizbi 'Ali, uqtulhu!!, 7" teriak salah


seorang dari mereka, setelah berhasil mengeluarkannya dengan kasar. Buaaaakkkk.!!

Hadza jasus min hizbi 'Ali, uqtulhu!!: Ini mata-mata sekte presiden Ali, bunuh dia!!

113
SAKA
Satu hantaman keras mendarat di wajahnya. Darah mengalir di pelipis matanya. Aaahhhgggg!!! Dia jatuh tersungkur. Tali tas cangklot berisi bendera pusaka terputus. Tergeletak tak jauh darinya. Dan tak lama kemudian, beberapa kaki hendak mendaratkan telapaknya di atas tas cangklot tersebut. "Jaaaanggggggaaaaaannnn." Dia melompat sekuat tenaga. Mendekap tas cangklot di belahan dadanya. Bukan karena sebuah tas, namun karena di dalamnya ada jiwa negaranya, relung hati perjuangan para pahlawan. Yah! Simbol kehormatan bangsa Indonesia. Sang Saka merah putih. Tak peduli bertubi-tubi sepakan-sepakan kaki busuk menerpa dirinya. Sakit. Namun tak sesakit darah pejuang yang membanjiri jalanan kota. Biarlah aku yang terlukai, asal kehormatan negeriku tak diinjak-injak kaki berbau comberan, koarnya dalam hati. Kemudian, pandangannya kian buram, hitam dan gelap. ***** Lima menit berselang, mobil ambulan pun datang. Eko lekas mendapat perawatan medis di RSU Al-Syifa'. Untung Eko

114
SAKA
hanya mengalami pendarahan ringan akibat luka serta robekan di kepala belakangnya. Dia pun kembali siuman. Para staf KBRI Yaman meminta alibi kepada pihak kepolisian atas penyerangan demonstran terhadap dirinya. Kepala staf kepolisian hanya menjawab ringan bahwa mereka terpancing karena ada stiker rasis presiden Ali Abdullah Saleh yang tertempel di kaca belakang taksi. Di sana tertulis "Ali, presiden sepanjang masa." "Lalu apa hubungannya dengan Eko? Dia cuma warga asing yang tak ada sangkut pautnya dengan perkara kalian," tanyanya Pak Bagus, Sekertaris III Proktons KBRI sembari mengerutkan kedua alis hitamnya. "Begitulah mereka. Tak ada beda antara hitam dan putih. Semua yang ada bau rezim pasti digilas remuk."

Astagfirullah..!
Pak Bagus menghela nafas panjang. "Pak, kalau Eko harus dirawat, siapa badal pengibar benderanya?" Tanya pak Tomi, staf konsuler KBRI Yaman. "Gunawan yang biasa menjadi pengganti, juga sedang berlibur ke Mukalla," lanjutnya. "Oke, biarlah Eko istirahat dulu. Dia agak trauma dengan kejadian tadi. Kita cari solusinya bersama," respon Pak Bagus

115
SAKA
mencoba meredam kepanikan para staf. Tak sampai hati, jika dia harus memaksa Eko. "Tapi, kita sudah terlambat lima menit, Pak!," sahut Pak Agus mengembalikan kebingungan. "Pak Dubes agak naik pitam atas keterlambatan ini. Upacara terburuk sepanjang beliau menjabat. Tidak dapat ditoleran, katanya," tambah pak Tomi menambah runyam suasana. Mereka terdiam, ruangan hening. Terbenam alur

pemikiran yang melingkar, berbelok-belok tak kunjung menemui tepi. Agaknya, suara mereka terdengar sampai ke dalam ruangan. Dan. Kreeekkk Daun pintu kayu kamar UGD berwarna coklat tua perlahan terbuka. "Biarlah saya yang mengibarkan benderanya," kata Eko serak. Akhirnya, kegundahan bertuan ketenangan. Raut muka Pak Bagus sumringah, tapi dia cepat berkata "Bukannya tubuhmu harus rehat dulu, Eko?" "Saya masih ingat ketika masih belajar di pesantren. Pak kyai Mahfudz pernah dawuh: 'Le.., mending kowe rekoso

116
SAKA
tinimbang wong liyo kang rekoso8.'
Pahlawan saja rela

mengorbankan darah segarnya. Saya yang hanya terluka begini saja sangat manja. Saya merasa malu kepada Bung Karno dan Pak Hatta. Buat apa pula saya terlalu larut dalam kebencian. Itu semua justru akan mengekangku sebagai manusia yang merdeka. Bukan begitu, Pak Bagus?" Sebuah ungkapan mengharukan hati. Para staf konsuler lainnya tersenyum lega mendengar ungkapan Eko. Dalam ruang mata hitam Pak Bagus terekam beberapa petuah penting, akan tetapi lidah tiada sanggup mengungkapkan maknanya. Entahlah! *****

Indonesia raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya


Alunan ritme lagu Indonesia Raya mengakhiri proses pengibaran bendera pada upacara siang hari di Wisma Duta. Bendera Sang Saka berkibar di puncak tiang. Gagah dan bergelora beriak-riak tertiup angin.

Le, mending kowe rekoso tinimbang wong liyo kang rekoso : Wahai pemuda, lebih baik engkau yang susah, daripada orang lain susah karena engkau.

117
SAKA
Sebelum kembali ke tempat semula, dia sempat melirik ke arah staf KBRI berada. Terlihat di sana Bapak Dubes RI, Drs. Nurul Aulia. Memakai jas hitam, peci hitam, dengan baju lengan panjang putih. Mirip aku saat menjadi peserta pidato kemerdekaan nasional mewakili sekolahku SMA Riyadh di pendopo kabupaten, Bedanya dulu aku pakai sarung, sebab utusan pesantren, kalau beliau pakai celana, ha ha ha, batinnya tertawa cekikikan.

Alhamdulillah..
Tanpa dia rasa, jalannya kini nampak sempoyongan bagai gubuk reot yang tertiup angin puyung. Mendayu-dayu ke kanan, ke kiri. Bola matanya penuh kerlap kerlip kuning sang kunang. Badannya serasa berat. Sangat berat. Seperti membawa puluhan ton besi. Kepalanya bak dipukul, dihantam oleh palu raksasa. Karam rasanya bumi ini dia pijakkan, gelap tujuan yang akan dia tempuh. Bayang-bayang tanah serasa bergoyang ketika dia berpijak. Uuhhggg, dia tak kuat. Bbrrruuuukkk.!! Tubuh kurusnya ambruk, pengujung dilema setelah

sebelumnya ratusan pandangan memandangnya aneh. Seketika itu pula, dia menjadi sasaran belasan petugas PMI. Menandunya menuju ruang UGD. *****

118
SAKA
Sore itu kabut menyelimuti pegunungan tandus Ibukota. Kabut semakin pekat, membelai apa saja yang sebenarnya enggan untuk dibelai. Burung-burung Kutilang tak lagi hinggap di ranting pepohonan, mereka telah pulang keperaduannya. Sinar matahari kian memudar kemerah-merahan. Langit gerimis, menemani tidurnya mentari. Eko hanya terdiam duduk di atas keranjang tidur. Menghayati kanvas lukisan Sang Kuasa. Dari bilik kaca ruangan, matanya menerawang ke arah tarian bendera yang bergelora di remang senja yang berkabut. Dia merasa bahwa bendera itu nampak perkasa dengan sayap merah putihnya. Sekian lama dia tak beranjak dari tempat itu. Pikirannya menjalar, memandang qal'ah9 yang tersenyum indah di pelataran kelabu langit. Jari tangannya mengepal, seiring aliran titik air mata panas, dia bergumam lirih... Wahai orang yang membaca celoteh otakku. Kuberitahu kepadamu semua bahwasanya: "Negeriku Indonesia bukan hanya kepunyaan orang

berkantong tebal. Indonesia tidaklah pula hak para pemuja kursi berduit. Tapi, Indonesia adalah kepunyaan bersyarikat. Milik orang melarat yang tinggal di dangau buruk, tukang sabit rumput yang masuk ke padang luas dan ke tebing curam, juga mereka penghuni gedung-gedung pencakar langit dan istana-istana indah."

Qal'ah: gugusan bintang

119
SAKA
"Bahkan aku hanya lahir di negeri ini, aku hanya besar di negeri ini, aku hanya berpijak di negeri ini, dan aku hanya akan musnah di negeri ini" "Sejelek-jeleknya negeri ini, seburuk-buruknya negeri ini, sehancur-hancurnya negeri ini"

Ku tetap cinta INDONESIA BangsakuNegerikuTanah Airku

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 5 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

120
Elegi Hati

By: Syaiful Arif*

uara AC di ruangan ini cukup nyaring. Suara dari depan ruangan kadang tak terdengar begitu jelas di bagian belakang lantaran suara AC yang membuyarkan itu. Suara bising yang hampir mirip

dengan suara blinder dari jarak jauh. Hawa dingin yang dihembuskan menambah redup suasana ruangan ini. Tak jarang mata terlelap terbawa oleh angin yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan. 08.25. Iya. Angka itu yang aku lihat di jam tangan digitalku. Aku merasa sedikit terkejut dengan hal ini. Seharusnya sudah mulai sejak tadi Dr. Awadl bin Sumait berdiri di depan bangku dosen, angkat suara sambil mengajar dengan cara beliau yang sangat khas. Entah apa yang terjadi dengan beliau, hingga saat ini beliau belum juga muncul. Tak biasanya beliau absen mengajar. Jangankan absen, terlambat saja adalah hal yang sulit terbaca dari sosok beliau. Seketika suara bising itu tak dapat menembus

pendengaranku lagi. Tatapanku kosong, hanya ketenangan yang dapat aku rasakan meski sebenarnya ruangan ini gaduh dengan canda tawa kawan-kawanku. Pikiranku hanyut terbawa imajinasi yang terus mengalir ke seluruh sudut-sudut ruangan masa laluku.

121
Elegi Hati
Ingatanku terus mengorek tumpukan masa lalu yang berdebu itu. Seketika itu, kutinggalkan semua yang ada di ruangan bising ini. Aku berusaha melebur dengan imajinasiku yang terus mengalir.

Ragaku diam dan tenang. Tapi jiwa ini terus mengembara menelusuri kisah-kisah masa lalu yang sudah mulai kumuh. Hatiku kadang tersenyum ketika imajinasiku terperangkap di penggalan kisah yang memaksaku tersenyum. Aaaaakh Batinku berontak ketika imajinasiku membawanya ke dalam kisah yang membuatku menyesal. Ingin sekali kuteriakkan penyesalanku di ruangan yang bising ini. Tapi biarlah hanya batinku yang meledak booooom!!!. Aku tak ingin ada yang terganggu karena teriakanku. Teriakan itu makin membuncah. Seakan-akan benteng batin ini sudah tak mampu membendungnya. Haruskah aku teriakkan semua ini? Ah Percuma!. Mereka tak akan mengerti apa yang kurasakan. Mungkin mereka akan mengatakan aku sangat aneh. Aku juga tak mau ruangan ini semakin bising dengan teriakanku. Ya Tuhan Hati ini sangat tersayat ketika aku mengingat hari kepergianku ke negeri ini. Hari itu kulihat ayah dan ibuku tak seperti yang kulihat sebelumnya. Mungkin mereka memang berusaha menyembunyikan kesedihan mereka akan kepergianku. Tapi mereka masih tak dapat menyembunyikannya dariku. Aku bisa melihat dengan jelas kesedihan mereka. Rasa berat mereka untuk melepasku masih sangat bisa kutangkap.

122
Elegi Hati
Tapi bukan itu yang aku sesali. Yang aku sesali adalah keadaanku saat ini. Sudah lebih dua tahun aku berada di negeri ini. Sudah selama itu juga aku meninggalkan kedua orang tua dan keluargaku dengan alasan mencari ilmu di negeri Yaman. Mereka tahu akan semua ini. Mereka sangat menyadari bahwa aku berada di sini untuk melanjutkan pendidikan. Aku sangat ingat pesan ayahku ketika itu. Nak, belajar yang rajin!. Ia mengucapkan pesan itu sembari mengecup keningku. Air matanya membasahi pipinya dan menetes ke bajuku membuat batinku saat itu bergetar kencang. Setiap kali aku mengingat pesan itu aku merasa sangat bersalah kepada orangtuaku. Selama ini aku masih belum melaksanakan pesan itu. Hingga saat ini aku merasa kebanyakan waktuku hanya untuk main-main dan bersenang-senang. Nonton film, main Play Station, bercanda dan berjalan-jalan. Ya. Hanya itu yang aku kerjakan di luar jam kuliah. Ketika jam kuliahpun aku jarang memperhatikan keterangan dosen. Melamun atau tidur. Dua pilihan yang menjadi menu utama di ruang belajar. Konsentrasi bukanlah sifat yang aku miliki saat ini. Padahal dulu aku masih bisa berkonsentrasi di dalam kelas. Aku merasa bahwa belajarku seakan-akan hanya untuk sekedar ujian saja. Sungguh jiwa ini semakin memberontak. Ingin meluapkan sebongkah kemarahan yang semakin menjadi-jadi. Roni Panggilan itu sungguh mengejutkanku. Membawa aku sejenak pergi dari lamunan yang sudah mulai mendalam. Kutolehkan pandanganku ke arah suara itu. Sesosok orang yang

123
Elegi Hati
sudah aku kenal mulai dulu, Ahmad. Ia tersenyum dan mengulurkan tangan padaku. Spontan aku menoleh ke arah tangannya. Ini pesanan ente! ucapnya. Ternyata ia tahu aku akan bertanya apa yang ia ulurkan padaku. Pesanan apa?! tanyaku dengan rasa kaget yang dapat dibaca olehnya. Lho Tadi malam ente kan pesan film aksi. Nah. Pesanan ente itu ada di flash disk ini jawabnya sembari meletakkan flash disk kuning yang dari tadi ia pegang di sakuku. Masak udah lupa? Kan baru tadi malam ente pesan lanjutnya. Ya ya ya Film Aksi. Berapa film isinya? Tenang aja. Ente gak bakal selesai film itu sebelum ente muntah-muntah. Hahahahaha. Jawaban Ahmad tak seperti apa yang aku harapkan. Aku mengenalnya memang begitu. Prinsip hidupnya kurang jelas, atau bilang saja berputar-putar. Kulihat tawa Ahmad yang aneh itu. Aku masih belum menemukan tawa yang begitu. Hanya Ahmad yang bisa melakukannya. Ahmad

Ahmad seruku dalam hati.


Sudah sembilan belas tahun Ahmad menemaniku. Aku tahu pribadinya dan diapun juga paham sekali kehidupanku. Dari sejak aku masih bayi hingga saat ini aku selalu bersama dia. Dulu ibunya wafat ketika ia dilahirkan, sedangkan ayahnya sudah tiada ketika ibunya hamil gara-gara penyakit kangker yang dideritanya. Ayahku sebagai saudara kandung ayah Ahmad tak bisa berdiam

124
Elegi Hati
diri begitu saja. Dari sejak itu sampai sekarang Ahmad beliau anggap sebagai anak beliau sendiri. Aku bisa merasakan kasih sayang yang ayah berikan kepada Ahmad. Hampir tak ada bedanya dengan yang ia berikan kepadaku. Dulu ketika aku kecil aku kadang merasa iri karena aku menganggap ayah lebih sayang kepada Ahmad. Tapi sekarang aku sudah tahu semuanya. Ketika aku berusia dua belas tahun aku masih belum mengerti masalah ini. Aku menganggap Ahmad itu memang saudara kandungku. Ahmad juga begitu. Ia tak tahu apa-apa masalah ini sebelumnya. Ada temanku yang pernah berkata kepadaku Jangan-jangan dia bukan saudaramu. Masa saudara tapi kaya langit dan sumur?! Aku juga tak tahu menahu hal itu. Menurutku, saudara kandung itu tak harus sama. Baru ketika aku sudah hampir berusia tiga belas tahun dan Ahmad berumur empat belas tahun ayah dan ibuku memberitahukan semuanya kepada kami. Aku masih ingat sekali saat-saat itu. Aku bisa merasakan betapa batin Ahmad sangat terpukul dengan apa yang ia dengarkan saat itu. Beberapa minggu dari hari itu aku dapatkan banyak perubahan pada Ahmad. Mungkin ia masih belum terbiasa dengan kenyataan yang menurutku pahit itu. Dia tak setransparan ketika orang tuaku belum memberitahunya masalah ini. Apa-apa ia sembunyiakan dariku. Tapi itu hanya sementara. Setelah beberapa minggu ia kembali normal. Tadi malam aku memang meminta Ahmad mengcopy beberapa film aksi di komputer Joni. Joni menawarkanku banyak

125
Elegi Hati
film baru yang ia dapatkan dari Suratmo sang distributor film di universitas ini. Bahkan lebih dari itu, Suratmo sudah dikenal banyak pelajar di lembaga-lembaga lain sebagai distributor film terbesar di kota ini. Entahlah. Aku lihat dia bangga dengan gelar ini. Aku tak tahu apa yang membuatnya menyukai profesi ini. Padahal semua orang bahkan dekan sendiri tahu bahwa dia sering

nyangkut ketika ujian. Hampir setiap semester dia kena ujian her.
Flash disk kuning itu menambah pukulan berat yang terus menghujam batinku. Film. Kapan kata itu akan hilang dari kamus hidupku? Atau paling tidak, dari kehidupanku selama aku berada di negeri ini. Rasanya ingin kubanting saja flash disk itu ke lantai. Terus aku injak-injak dengan sandalku hingga hancur. Kalau saja sandalku tak bisa menghancurkannya, ingin aku ambil batu bata di depan kampus dan ingin kutumbuk flash disk kuning itu seperti kopi. Tapi aku tahu bukan begitu caranya. Tak perlu aku merusak barang berharga. Apalagi flash disk itu bukan milikku. Kingston berkapasitas 8 gigabyte harganya bisa mencapai lima ribu hingga enam ribu reyal. Dan hal itu bisa membuatku kehilangan uang jajanku selama setengah bulan. Biar aku saja yang tahu kemarahanku ini. Aku tak mau Ahmad kecewa gara-gara aku menolak film yang ia carikan untukku. Di flash disk itu juga sudah ada update Winning Eleven terbaru, Ron! kata Ahmad. Ia duduk di kursi sebelahku. Maksudnya? tanyaku dengan nada cukup aneh.

126
Elegi Hati
Ya pemain-pemainnya sudah baru dan sama dengan pemain-pemain aslinya sesuai dengan bursa transfer terakhir. Alah, paling tidak jauh beda Tapi kan kita sudah bosan dengan pemain-pemain lama. Up to date dong!!! Main play station yang penting mainnya bukan

pemainnya ujarku sedikit menghardiknya. Aku yakin dia akan sedikit terhardik karena sampai detik ini dia masih jarang sekali mengalahkanku. Ya, tapi kan norak banget main play station dengan pemain jadul Rupanya Ahmad masih belum terima dengan komentarku. Dia memang begitu. Kadang dia tak mau mengalah meski dia tahu kalau dia memang benar-benar salah dan kalah. Ya Allah Ya Rabbi kapan juga kata play station ini lenyap dari pikiranku? Aku merasa batin ini semakin hancur saja. Sudah dua tahun setengah aku berada di negeri ini. Aku yakin keluarga dan bahkan tetanggaku beranggapan bahwa aku belajar dengan giat. Ayah dan ibuku dulu sempat senang ketika aku meminta mereka untuk membelikanku laptop. Aku bilang akan menggunakannya sebagai media belajar. Daripada beli kitab yang mahal-mahal, lebih baik belajar pakai laptop. Lebih murah kataku saat itu. Tapi dasar pembohong!!! Belajar? Belajar apa? Main dan nonton. *******

127
Elegi Hati
09.32. Hah?! Ternyata memang benar Dr. Awadl bin Sumait tak hadir pelajaran kali ini. Sudah lebih sejam setengah kami menunggu beliau di sini tapi beliau tak datang juga. Sebenarnya aku senang karena beliau tak hadir. Materi yang akan diujikan berarti lebih sedikit daripada beliau hadir. Masalah besar lain bagi batin dan hati ini. Aku beranjak dari kursi yang aku duduki sedari tadi. Seakan-akan langkah kaki ini memiliki mesin otomatis menuju kantin Bakri di samping kampus. Melangkah untuk berdesakdesakan dengan mahasiswa lain yang juga bertujuan sama. Sebenarnya aku malu ke sana lagi. Sudah berapa ribu reyal hutangku ke kantin itu. Yang berhutang ke kantin itu memang bukan hanya aku. Tapi aku dan Bakripun tahu bahwa aku termasuk pemegang saham hutang terbesar di kampus ini. Beginilah hidupku di sini. Menghabiskan uang sebanyak mungkin dengan hasil yang tak jelas. Padahal aku tahu bahwa orang tuaku bukanlah pejabat yang mudah menghasilkan uang. Ayah dan ibuku hanyalah petani yang hasil sawahnya juga sering tak jelas. Aku merasa sangat durhaka kepada mereka berdua. Aku ingin mereka tahu keadaanku yang hancur saat ini tapi aku tak mau mereka kecewa denganku. Zeyd kudengar suara Bakri memanggilku. Dia

mengenal dan memanggilku begitu. Aku memang dipanggil Roni oleh teman-temanku. Tapi orang-orang Arab memanggilku Zeyd. Kulihat dia sedikit sinis kepadaku. Aku mengerti bahwa dia menagih hutangku yang sudah lumayan banyak. Ia berikan aku secarik kertas. Tertulis di kertas itu: Hutangmu 5530 Reyal

128
Elegi Hati
Yamani. Aku biasa-biasa saja dan tak merasa aneh dengan hal ini. Hampir tiap bulan hutangku seperti itu. Sebagian jatahku bulan ini memang untuk melunasi hutangku bulan lalu. Jatah bulah depan aku sisihkan untuk melunasi hutang bulan ini. Huft Sistem ekonomiku sangat berantakan. ****** Suara dengarkanlah aku.. Aku kaget dan terbangun dari tidurku ketika aku mendengar lagu itu. Sengaja tadi kuletakkan handphoneku di samping telinga biar alarm yang kupasang terdengar. Jatah absenku sudah habis. Aku harus terus mengikuti mata pelajaran di kampus. Tapi. Sekarang masih jam 02.14 siang dan mata pelajaran kuliah masih akan dimulai jam 04.30. Lagu yang kudengar juga bukan lagu yang kupasang buat alarm. Oh ya Lagu ini adalah nada deringku. Kulihat layar handphone biruku itu. Bunda

(+6287850776661)memanggil. Ibu?! Aku turun dari ranjangku


dan langsung saja aku keluar dari kamar. Assalamualaikum sapanya. Sebenarnya aku ingin memulai menyapanya terlebih dahulu. Tapi ternyata beliau lebih cepat memulai. Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh Kok Ibu nelfon? Rencananya dua jam lagi saya mau nelefon Ibu. Uang saya sudah habis ujarku. Aku menunggu jawaban dari ibuku. Tapi aku tak mendengar jawaban dari beliau. Perasaanku mulai tak enak. Pasti

129
Elegi Hati
ada yang beliau sembunyikan dariku. Ibu kucoba menyapanya kembali. Tiba-tiba saja kudengar beliau menangis tersedu.

Selama ini aku belum pernah mendengar beliau menangis seperti ini. Ibu untuk ketiga kalinya aku menyapanya. Roni kamu harus sabar dan kuat. Aku tahu suara itu bukanlah suara ibuku. Suara itu adalah suara kakekku. Apa sampai ibuku tak bisa mengabariku secara langsung? Ada apa? Hatiku mulai bertanya-tanya. Barusan ayahmu mengalami tabrakan parah ketika mengantarkan hasil panennya ke gudang. Rumah sakit sudah tak bisa menyelamatkan nyawanya Jawaban itu seakan-akan menyayat-nyayat batin ini. Sakit sekali rasanya. Bukan hanya kepergian ayahku yang menusuk-nusuk hatiku. Tapi juga alasan mengapa ia mengalami kecelakaan. Mengantarkan hasil panen ke gudang. Aku tahu mengapa ayahku melakukan itu. Bulan lalu ia mengatakan padaku ia akan menjual hasil panennya untuk ia kirimkan kepadaku. Untuk ia kirimkan padaku meski di sini aku tak tahu diri?! Aaaaaaaaaakh. Jiwaku berteriak sekencang mungkin lebih kencang daripada teriakannya di kelas tadi pagi. Aku tak bisa mengeluarkan teriakanku itu. Hanya air mata yang tiba-tiba mengalir dan Aku tak tahu mengapa tubuh ini seakan -akan tak bisa berdiri lagi dan seketika alam ini terasa gelap. *******

130
Elegi Hati
Ada yang aneh dengan diriku. Mengapa teman-temanku ada di sampingku? Padahal tadi aku hanya sendiri ketika aku dihubungi keluargaku. Kulihat ruangan ini. Ternyata ruangan ini adalah ruangan kesehatan kampus. Aku baru mengerti bahwa tadi aku pingsan dan tak sadarkan diri. Kulihat Ahmad duduk di sampingku yang tengah

berbaring. Kulihat matanya merah dan sembab. Aku mengerti apa yang ia tangisi. Ia sudah menganggap ayahku seperti ayahnya sendiri. Aku juga tak kuasa mengingat perkataan kakekku tadi. Spontan saja air mata ini menderas di pipiku. Namun masih tak dapat mewakili kesedihanku yang sangat dalam. Ya Allah. Aku tak sempat mengucapkan kata maaf pada ayahku. Jasad ayahku memang tak lagi bersamaku di dunia ini. Tapi ruhnya masih dan akan selalu di hatiku. Aku sangat mengerti sekali betapa ia menyayangiku. Ketika aku kecil dulu, aku pernah diberi hadiah olehnya karena aku mendapatkan peringkat pertama di kelas. Akhirnya aku bisa mempertahankan peringkat itu hingga aku lulus sekolah dasar. Saat itu aku juga berjanji padanya akan terus mempertahankan peringkat itu. Tapi sayang. Aku mengkhianatinya dan aku tak sempat meminta maaf padanya. Memori-memoriku bersama ayah terus terngiang di benakku. Ingatanku seakan-akan memutar sendiri kisah-kisahku bersamanya. Saat aku masih kecil, saat ia mengajariku mengendarai sepeda, saat ia mengajariku segalanya. Saat ia melepas kepergianku ke negeri ini, saat ia menghubungiku hingga bulan lalu. Saat ia menasehatiku. Dan semuanya tentangnya.

131
Elegi Hati
Ingin sekali saat ini aku berada di pelukannya dan mengatakan padanya bahwa aku menyayanginya lebih dari sekedar arti kata cinta. Ingin aku menangis di pelukannya karena aku telah menghianatinya. Ingin sekali aku ceritakan kisahku di negeri ini kepadanya. Ingin kuceritakan bahwa di negeri ini aku dan Ahmad baik-baik saja. Ingin kukatakan bahwa aku akan menjalankan amanahnya. Ingin kukabarkan bahwa aku akan mengajak Ahmad memperbaiki diri. Tapi semuanya telah berlalu. Hanya jiwa dan amanah ayahku yang tersisa di hati. Aku tak ingin mengecewakan ayah dan keluargaku. Untukmu, ayah, kulantunkan syair-syair jiwa ini:

Tatkala telaga peluh darahmu menggenang di hatiku, kulantunkan sajak-sajak malam yang kelam

barangkali engkau tak memahaminya. Sementara namamu terpasung di sudut-sudut kota tua ini, kunikmati anyir nanahmu. Lantas aku tertawa terbahak Air matamu kini bermuara di pelataran cintaku

membentuk danau dan aku mandi di sana, ayahku! Kutemukan aroma malaikat di danau itu.

Engkaukah yang mendatangkan mereka untuk menghiburku di sini? Engkaukah yang menaburkan bunga melati di sekitar danau itu? Ayah sekarang aku bisa mengeja huruf-huruf ini.

132
Elegi Hati
Huruf-huruf ini indah sekali. Maukah kau tahu, ayahku? Huruf-huruf itu;AKU MENCINTAIMU, AYAHKU!

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman,
*

133
Mimpi di Fajar Biru

MIMPI di FAJAR BIRU


By: Adly Al Fadly
*

"For view minutes later, we will land to Mukalla international airport. I do hope to all of passengers of Yemenia Airways to prepare your self and .."

ku terbangun dari tidurku. Sayup-sayup masih terdengar suara pramugari mengingatkan para penumpang pesawat untuk bersiap-siap karena pesawat akan segera mendarat. Aku menggeliat

pelan, ku ingat terakhir kali landas 4 jam yang lalu waktu transit di bandara internasional Dubai Uni Emirat Arab. Waktu itulah aku tertidur. Kulirik jam tangan pemberian kakakku. Pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Kulihat dari kaca pesawat, hari masih gelap. Aku mengernyit heran. Tapi, sejurus kemudian aku tersadar, aku tak lagi di indonesia. Kulirik jam yang terpampang di monitor pesawat. Baru jam setengah empat pagi. Hampir 12 jam aku berada di atas awan. Kakiku terasa kaku akibat dinginnya suhu pesawat yang terpancar dari berpuluh-puluh AC yang terpasang. Kaca di sampingku terlihat mengembun. Aku tak bisa membayangkan betapa dingin suhu di luar sana. Kurapatkan selimut biru yang telah tersedia di kursi penumpang. Tak sengaja waktu kulihat warna itu, aku teringat surban biru hadiah ulang tahun ke 17-ku dari kak Yalin. Entah

134
Mimpi di Fajar Biru kenapa hatiku berdesir, sebuah rasa rindu tiba-tiba menyeruak, menelusup ke dalam kalbuku. Ku buka tasku dan ku ambil surban biru itu lalu kukalungkan ke leherku, terasa nyaman. Kulihat para pramugari mulai berkeliling mengecek para penumpang pesawat yang belum memakai sabuk pengaman dan membetulkan letak sandaran kursi ke posisi semula. Perlahan lampu kabin pesawat mulai meredup menandakan pesawat akan segera mendarat. "Bismillah" Aku kaget waktu mendengar seorang pramugari mendesis lirih melafalkan nama tuhan. Pramugari itu duduk tepat di depanku yang memang tempat yang khusus untuk para awak pesawat. Kulihat ia memejamkan matanya, memanjatkan sebuah do'a. Entah do'a apa, akupun tak tahu.

"Excuse me Mrs."Kuberanikan diri berbicara dengannya. "Yes can me help you" pramugari itu membuka matanya
dan menatapku. Aku mulai mengajaknya bicara.Sedikit basa-basi. Ia juga balik bertanya padaku tentang tujuan kedatanganku ke negara Yaman ini. Ku jelaskan padanyabahwa aku dan temanteman indonesia mendapat beasiswa dari al-ahgaff international university. Dan akan belajar di negara ini. Ia terlihat kagum. Berkali-kali ia menyebut nama Allah. Kelihatannya ia begitu kuat dalam agama. Tercermin dari sikapnya dan kentalnya ajaran yang melekat dalam pribadinya. Tiba-tiba aku teringat belum bertanya tentang namanya.

"What is your name ?"

135
Mimpi di Fajar Biru

"Me ?" tanyanya sambil meletakkan telunjuknya di


dadanya. Aku mengangguk.

"My name is Rama" jawabnya


"OoRahma .." ulangku

"Lalala Ra.ma.." ulangnya. Aku kaget, ternyata ia


juga fasih berbahasa arab.

"Tasti'iina billughotil arobiyah?" tanyaku. Ia tergelak


mendengar pertanyaanku.

"Aiwah, ana min Suriah" matanya melirik ke kaca pesawat. "Ba'da qolil sanasilu ila Mukallla, wa ana uwasilu ila San'aa tsumma astarih,, kuntu bita'ban jiddan." Jawabnya sambil tersenyum. Aku
juga membalasnya dengan senyum. Bersamaan dengan itu deru pesawat terdengar mulai landas memasuki area bandara internasional Mukalla. "Alhamdulillah," hamdalah. kudengar Rama melafalkan lafadz

"Barakallahu fiiik ya fataa, wa insyallah bi idznillah nulqi fii waqtin akhor" pramugari itu berdiri dan tersenyum kepadaku.
Ia harus kembali bertugas.

"Wa iyyaki..syukron yaa Mrs. Rama . ." balasku tersenyum.


Aku kembali menyandarkan punggungku ke sandaran kursi. Sambil menunggu intruksi dari awak pesawat, aku terpekur. Fikiranku melayang. Aku telah melangkah. Yah, aku telah melangkah. Sebersit rasa rindu menghampiri lagi dalam hatiku. Teringat

136
Mimpi di Fajar Biru kembali harap besar ayah dan bunda pada diriku jauh sebelum malaikat maut merenggut nyawa mereka dalam kecelakaan 2 tahun yang lalu. Pelukan berat kak Yalin, derai tangis dek Mada sebelum aku berangkat. Dari sudut mataku menetes butir-butir bening yang mulai membasahi pipiku. Langkah ini memisahkan aku dengan mereka. Tapi, pantang bagiku untuk berbalik. Aku telah berani menancapkan asaku di tanah suci ini. Maka aku juga harus berani menghadapi segala konsekuwensi yang ada. 5 tahun harus aku jalani di sini. Menuntut ilmu dengan sejuta selaksa do'a ayah bunda dari alam sana. 5 tahun tanpa berjumpa dengan orang-orang yang aku sayangi terlebih kak Yalin, kakak lelakiku yang bertahuntahun bersamaku. Yang memotivasi aku dikala aku rapuh. Mendukung semua ide-ide yang ada dalam fikiranku. Kulepas surban biru itu dari leherku. Kupeluk erat, berharap sedikit pengobat rindu meresap dalam hatiku. Tangis itu makin deras menetes di pipiku. " Ya Allah, jagalah hubungan bathiniyyah kami ! ridloi aku dalam menapak langkahku di jalan yang telah Kau gariskan, Tuhan !" lirihku.

####

Aku menuruni tangga pesawat dengan menenteng tas coklat yang kubeli di Jakarta kemarin, sebelum berangkat.

137
Mimpi di Fajar Biru Kutatap fajar yang mulai merekah di langit. Warna biru gelap terhampar di atasku dengan titik-titik putih berkilau yang bertebaran di atasnya.Hatiku begitu adem melihatnya, seadem angin malam yang masih berhembus di fajar kala itu.Sejak kecil aku begitu suka warna biru.Aku merasa sangat akrab dengan warna itu. Orang sekelilingkupun tahu kalau aku suka warna biru.Mungkin itulah sebabnya, di ulang tahun ke-17-ku kak Yalin menghadiahi aku surban berwarna biru yang sekarang aku kenakan. Dan di ulang tahun ke-18 kemarin dek Mada menghadiahiku kaos yang juga berwarna biru. Mereka sudah faham dengan warna kesukaanku. Aku terus berjalan mengikuti teman-teman yang lain menuju tempat pemeriksaan barang di bandara. Di tengah antrian aku menyalakan Hpku. Tak ada sinyal. Sebuah memo pengingat tiba-tiba muncul di layar HPku. Aku teringat hari ini ulang tahun kak Yalin. Aku kalut. Aku sedih tidak bisa mengucapkan selamat tepat di hari ulang tahunnya. Ku goyang-goyang Hpku berharap ada sedikit sinyal di Hpku. Nihil, tetap tak ada sinyal. Aku mendesah pelan. Untung sebelum berangkat kemarin aku sudah menitipkan kado untuk ulang tahun kak Yalin pada dek Mada.Semoga saja dek Mada tidak lupa memberikannya. Tepat pukul 5 aku sampai di asrama baruku. Begitu asing yang kurasa., tinggal di negeri orang yang tentunya berbeda adat dan bahasanya bahkan dari segala sisi. Meskipun berkumpul dengan mahasiswa indonesia yang datang dari berbagai pulau, tapi aku belum mengenalnya. Aku serasa hidup di tengah kumpulan orang-orang yang bersifat individualis, hidup sendiri karena belum terjalinnya keakraban dari masing-masing hati. Aku teringat

138
Mimpi di Fajar Biru belum sholat shubuh. Segera aku berlari menuju masjid yang terletak persis di pinggir asrama. Baru menginjak lantai masjid, entah mengapa hatiku merasa sangat tentram. Aku segera bersimpuh dihadapan-Nya. Kutumpahkan semua yang menyesak di dalam dada. Memasrahkan semua yang mengganjal di hatiku ke sisi sang maha kuasa. Aku juga bersujud syukur, mensyukuri atas karunia yang telah diberikan Allah kepadaku. Memberi aku kesempatan mengais ilmu di negeri seribu auliya' yang belum tentu semua orang bisa merasakannya. Aku merasa ini adalah anugerah yang khusus dilimpahkan kepadaku sebagai penebus dari bisikan terakhir ayah dan bunda. "Fatih Fatih harus bisa meraih apa yang Fatih cita citakan. Fatih harus terus berjuang. Perjalanan Fatih masih panjang. Dan gerbang kesuksesan itu sedang menanti Fatih di ujung sana. Kejar dan genggam kesuksesan itu." Aku tak pernah menduga, itu adalah pesan terakhir ayah dan bunda sebelum tuhan memisahkan mereka dengan 3 buah hatinya. Kak Yalin, aku, dan dek Mada yang masih terlalu kecil untuk dilepas ke dunia dengan berjuta tantangan hidupnya ini. Mataku kembali berkaca-kaca mengingat memori-memori itu. Perjalanan hidup yang begitu menyakitkan, membekas dalam hatiku. Tapi kak Yalin menguatkan aku. Menumbuhkan kembali semangatku yang hampir pupus karena aku hampir putus asa dengan keadaan ini. Kak Yalin menyadarkanku bahwa ini adalah garis takdir tuhan yang harus kami hadapi. Kak Yalin berkata kepadaku mungkin tuhan ingin menguji seberapa kuat kita menghadapi cobaan ini. Aku tahu sebenarnya kak Yalin juga merasakan apa yang aku rasakan, bahkan mungkin lebih. Tapi dia

139
Mimpi di Fajar Biru adalah saudara tertua. Dia mencoba bersikap bijak tanpa mau saudara-saudara kecilnya merasakn kesedihan yang mendalam. Kak Yalin sangat pintar menyembunyikan perasaan itu dari diriku dan dek Mada. "Sedang apa kak Yalin dan dek Mada sekarang ?" fikirku. Aku belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun pada kak Yalin. Aku yakin, mereka pasti merindukan aku di balik tembok pesantren di pelosok Indo sana. Hampir 6 tahun aku, kak Yalin, dan dek Mada dipondokkan oleh ayah. Ayah berharap besar anakanaknya kelak mampu menjadi orang yang faham agama. Aku mengakhiri do'a-do'aku dengan sujud panjangku. Dalam sujudku aku meminta kepada tuhan untuk kebaikanku, kebaikan orang tuaku dan kebaikan saudara-saudaraku. Setetes air mata menetes di ujung do'aku.

####

Aku sedang duduk dengan sahabat-sahabatku di musholla ketika seorang anak kecil menghampiriku. "Kak Fatih, dipanggil bapak kepala madrasah di kantor!" aku mengernyit heran. Ada apa gerangan ?tak biasanya bapak kepala madrasah memanggilku. Aku menoleh ke arah sahabatsahabatku. Tapi, mereka kompak menggeleng. Aku mengambil sandalku yang ku letakkan di balik tiang dan segera menuju

140
Mimpi di Fajar Biru kantor madrasah. Sesampainya disana, aku mendapatkan jawaban yang sangat mengagetkanku. Oleh bapak kepala madrasah aku diminta ikut seleksi beasiswa ke universitas Al-Ahgaff, Yaman. Hatiku linglung. Fikiranku berkecamuk. Akankah aku terima tawaran ini ? Tapi, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kak Yalin dan dek Mada ? Aku tidak bisa, aku tetap ingin bersama mereka. Bersama orang-orang yang aku sayang. Di sisi lain, ucapan terakhir fikiranku. ayah dan bunda inilah terngiang-ngiang jalannya. Tapi, dalam separuh aku Seharusnya haruskah

menempuh pinta ayah dan bunda dengan meninggalkan mereka ? Aku begitu bingung. Tak tahu apa yang harus aku putuskan. Kutinggalkan ruang bapak kepala madrasah dengan jawaban yang masih menggantung. Aku belum tahu jalan mana yang harus aku tempuh. Aku kembali menghampiri sahabat-sahabatku. Dan seperti yang telah aku duga, mereka semua kaget dengan kabar yang kubawa. "Jika sahabat-sahabatku aja bisa kaget, bagaimana dengan kak Yalin dan dek Mada ? Apa respon mereka jika tahu tentang kabar ini ?" Fikirku. Sahabat-sahabatku memberi masukan kepadaku. Mereka tahu dilema yang menimpaku. Mereka bisa merasakan gelisah yang aku rasakan. "Fatih, kalau ini memang jalan yang terbaik bagimu, mengapa tidak ?" Afif berkata padaku. "Tapi Fif, aku tidak bisa meninggalkan kak Yalin dan dek Mada sendirian ?" Aku masih dalam kebingungan.

141
Mimpi di Fajar Biru "Aku tahu Fat, apa yang ada dalam fikiran kamu. Tapi, mungkin dengan jalan ini kamu bisa membahagiakan mereka. Dengan kesuksesanmu. 5 tahun itu nggak lama Fat, udahlah pasrahkan semuanya pada Allah." "Tapi, aku belum bilang kepada kak Yalin dan dek Mada, Fif ?" "Aku tahu siapa kak Yalin. Insya Allah dia bisa mengerti bahkan mendukungmu." Afif merangkulku. Mencoba menenangkan aku. Esok harinya sehabis jamaah isya' seperti biasanya aku duduk-duduk di shofku bersama kak Yalin. Dek Mada sudah kembali ke kamar lebih dulu. Kulihat sekelilingku sudah hampir sepi. Lampu di shofkupun telah padam. Kak Yalin rebahan di lantai. Aku ikut rebahan disampingnya. "Dek sebentar lagi adek udah lulus. Adek ada rencana mau nerusin ke mana?" arahku. "DEGG" hatiku bergetar. Mengapa kak Yalin bertanya masalah ini ? Disaat aku merasakan dilema tentang masalah yang sama. Apa kak Yalin sudah mengetahui tentang kabar itu. Aku belum siap memberitahunya. Apa yang harus aku bilang. Dalam hati kecilku aku menolak untuk ikut seleksi ini. "Kok diam ?adek pengennya kemana lho ?" Kak Yalin bertanya kembali. Kak Yalin bertanya sambil menoleh ke

142
Mimpi di Fajar Biru "Ngngg nggak tahu kak.." Jawabku sekenanya. "Lho, kok nggak tahu, dalam hati adek pasti ada keinginan, kakak bakal dukung adek kok " kak Yalin kembali duduk. "Sebenarnya.sebenarnya adek di minta bapak kepala madrasah ikutan seleksi ke Yaman kak !" Akhirnya keluar juga kata-kata itu. "Apa dek ?" Kak Yalin menoleh kaget. Ia menghempaskan tubuhnya ke lantai. "Maaf kak, adek baru memberitahu kakak tentang masalah ini sekarang. Adek juga bingung kak, tapi itu belum pasti

kok kak. Adek nggak mau pisah sama kakak." Aku menatap kak
Yalin. Mencoba meyakinkan kak Yalin meskipun aku sendiri juga bingung. Kak Yalin terdiam. "Kaaakkk . . ." aku memanggil kak Yalin "Hhh, adek sendiri gimana lho ? Disana berapa tahun ?" Kak Yalin menghela nafas berat. Matanya menatap lurus langitlangit musholla. Aku tahu apa yang ada di fikiran kak Yalin sekarang. Tapi kak Yalin selalu menyembunyikan perasaannya itu. "Adek juga bingung kak, adek nggak tahu harus gimana ? Katanya bapak kepala madrasah disana 5 tahun." "5 tahun dek" suara kak Yalin memberat. Ia seperti terhempas dari bangunan bertingkat. Terhempas dengan kasar ke bawah. Kak Yalin menoleh memandangku. Ia memandangku lama.

143
Mimpi di Fajar Biru "Kakak aslinya nggak mau pisah sama adek. Kakak nggak mau kehilangan adek. Kakak sayaaang banget sama adek." Mata kak Yalin berkaca-kaca. Raut wajahnya pucat. "Tapi, kalau adek sudah mantap, adek ikut aja . Nggak apaapa dek. Ini kesempatan buat adek." Kak Yalin menambahi. "Tapi kak, adek nggak mau pisah sama kakak. Adek sayaaaang banget sama kakak. Adek juga nggak mau pisah sama dek Mada." Kataku sesungukan. Kulihat kak Yalin menghapus air matanya. Aku tahu kak Yalin berat menerima ini semua. Tapi kak Yalin juga berfikir jalan inilah yang terbaik buatku .Kak Yalin masih terdiam sedang aku bingung dengan keadaan. "Fatih." Seseorang menepuk pundakku. Aku kaget dan tersadar dari lamunanku. Dengan cepat kuhapus airmata yang menetes membasahi pipiku.Aku menoleh dan mendapati akh Rosyid dibelakangku. "Ada apa ? Ada masalah ta ? Kok nangis ?" Tanyanya "Nggak ada apa-apa kok, biasa cuma kangen ." Aku menggelengkan kepala. "Yaudah, kita futhur dulu yuk, belum sarapan kan ?" Akh Rosyid mengajakku sarapan. Aku mengiyakan ajakannya. Aku mulai berdiri dan menghapus sisa-sisa air mataku. Sangat berat berpisah dengan orang yang di sayangi.

####

144
Mimpi di Fajar Biru

Hari-hari awal hidup di negeri orang sungguh sangat berat. Lingkungan dan cuaca yang tidak bersahabat dengan orang berkulit tropis sepertiku. Benar-benar panas mengalahkan panasnya hari jumat di Indonesia yang dianggap paling menyengat. Kulitku serasa di panggang. Ditambah lagi semua yang serba jauh. Jauh dari kampus tempat kuliah, jauh dari tempat komunikasi, dan yang lebih parah jauh dari matbakh yang menjadi central kebutuhan sehari-hari. Jarak 1 kilo harus aku tempuh 3 kali sehari demi mendapatkan sepotong roti dan sesuap nasi.Aku mencoba menguatkan diri. Inilah hidup yang harus aku jalani. Mengandalkan kiriman dari kak Yalin tentu tidak mungkin. Bisa jadi kak Yalin dan dek Mada juga kesulitan dalam masalah ekonomi. Aku harus bisa mengatur diriku sendiri. Aku harus bisa mandiri.

####

Aku keluar dari kelas dengan tubuh yang lemas. Seperti yang sudah-sudah. Tak ada kefahaman sedikitpun yang aku dapatakan. Aku hampir frustasi. Gramatikal bahasa arab yang diomongkan dosen belum mampu aku ikuti sampai detik ini. Aku merasa menjadi orang yang paling sial di dunia ini jika keluar dari kelas tanpa membawa setitikpun kefahaman yang aku harapkan. Aku mencoba menghibur diri dengan menguatkan bahwa ini baru awal, baru permulaan. Wajar kalau kita belum tahu medan. Butuh

145
Mimpi di Fajar Biru perjuangan ekstra untuk menaklukkannya. Aku telah berani mengukir sejarah hidupku di lembah ratu balqis ini, maka aku juga harus berani menaklukkannya. Aku telah berpisah dengan orang yang aku sayangi. Akankah lara perpisahanku ini tak membuahkan hasil apa-apa ? Akankah aku gagal ? Tidak. Tidak mungkin. Aku harus bisa sukses. Aku harus bisa menaklukkan rintangan yang telah aku pilih sendiri. HP disakuku bergetar. Satu pesan masuk. Kulihat dari kak Yalin. Raut mukaku berubah cerah. Gelombang rindu menyeruak ke dalam dadaku. Dengan cepat aku buka pesan dari kak Yalin. "Assalamu'alaikum adek, gimana kabarnya. Makasih ya kadonya." Aku tersenyum. Dek Mada tidak lupa untuk memberikan kado itu. Aku mulai mengetik balasan. "Wa'alaikum salam kak, alhamdulillah adek baik-baik saja. Kak Yalin dan dek Mada gimana kabarnya ? Kakak suka tidak dengan hadiah dari adek ?" Kukirim pesan itu. Tak terlalu lama kak Yalin membalas lagi. "Kabar kak Yalin dan dek Mada baik-baik saja. Suka

banget dek, makasih banyak ya, ne sweater hadiah dari adek,


kakak pakai sekarang." Aku membayangkan kak Yalin mengenakan sweater hijau semu abu-abu yang aku hadiahkan sebagai kado ulang tahunnya. "Aaahhhh, sayang aku nggak bisa tahu, andai aku ada disana bersama kak Yalin sekarang?" gerutuku dalam hati.

146
Mimpi di Fajar Biru "Kak, kapan-kapan adek dikirimi foto kakak yang pake sweter dari adek ya, adek pengen tahu kakak makai sweater itu." Aku menulis balasan pada kak Yalin. Aku begitu sayang dengan kak Yalin.

####

Kamis malam, begitu suntuk. Setelah melewati hari-hari melelahkan. Satu minggu full bertemu dengan pelajaran-pelajaran yang belum tentu masuk kedalam fikiran. Dan malam ini seakan menjadi hari kemerdekaan bagi para mahasiswa. Oleh temanteman aku diajak ke Syarij. Pasar kota Mukallla dengan pemandangan kota yang terletak dibawah lereng gunung. Ditambah dengan adanya khour Mukalla, bendungan air laut yang bersambung dengan laut lepas membelah kota Mukalla. Mirip aliran sungai ditengah-tengah kota dengan pemandangan yang sungguh menawan. Memang sangat cocok untuk mengistirahatkan fikiran yang full dengan hal-hal yang menjemukan. Menghilangkan rasa bosan sekaligus untuk menghibur hati dikala rasa rindu begitu berat mendera pada keluarga di tanah air. Sedikit demi sedikit aku mulai menikmatinya. Dari awal sebenarnya aku tidak mau diajak kesini. Buat apa? Fikirku. Bagiku malah menghambur-hamburkan uang. Aku harus berhemat. Aku bukan dari keluarga kalangan atas yang dengan mudah uang bisa didapat. Apalagi dengan lengkapnya orang tua yang pastinya mencarikan biaya buat mereka. Aku tak seperti mereka. Aku tidak

147
Mimpi di Fajar Biru mungkin meminta kiriman dari kak Yalin. Aku tidak ingin merepotkan atau bahkan membuat kak Yalin dan dek Mada khawatir atas kondisiku disini. Tapi, demi menghargai temanteman aku terpaksa ikut. Lumayan murah, ongkos pulang pergi hanya 40 real. Yah, hanya duduk di tepi khour Mukalla melihat kapal warna-warni yang disewakan serta memandang pemandangan gunung yang yang menjulang, dibalik tumpukan-tumpukan bangunan kota, bagiku sudah bisa merefresh fikiranku. Niatku dalam hati hanya ingin menghibur diri dari rasa rindu yang mendera pada kak Yalin dan dek Mada. Sepulang dari Syarij, ketika aku dan teman-teman menuju tempat parkir mobil angkutan yang akan membawa kami kembali ke asrama, di ujung jalan tiba-tiba aku berhenti. Aku tersentak kaget. Aku menghampiri plang nama jalan itu. Hatiku berdesir. Ku eja kembali nama jalan itu. 26th September Street. Tanggal itu, bulan itu, sama persis dengan tanggal dan bulan kelahiran kak Yalin. Begitu aneh, nama jalan diambil dari tanggal. Mungkin tanggal itu memiliki sejarah yang kuat di daerah ini. Aku meraba hatiku. Kenapa semuanya mengingatkanku akan sosok kak Yalin. Niatku jalan-jalan kesini untuk merefresh fikiranku dari itu semua. Tapi, mengapa malah semakin kuat rasa rindu itu menjalar dalam dadaku? Aku rindu dengan kak Yalin. Aku rindu dengan sosoknya. Sosok yang selalu mengerti akan segala keinginanku. Selalu bisa meyakinkanku. Selalu bersikap sabar dengan kemanjaanku yang seringkali keterlaluan. Sosok yang menggantikan ayah dan bunda dalam hidupku.

148
Mimpi di Fajar Biru "Tuhan, aku rindu dengan kak Yalin dan dek Mada!" batinku menjerit.Aku mendongak ke langit.Hitam semu biru pekat.Sepotong bulan menggantung di atasnya. "Kutitipkan salam rinduku pada-Mu, Tuhan! Aku begitu menyayanginya. Abadikan hubungan persaudaraan kami ya Allah!" Bisikku.

####

Tengah malam, aku terbangun. Kitab tadrib ar-rowi masih tergeletak di sampingku. Di leherku masih tergantung surban biru pemberian kak Yalin, yang selalu menemani tidur malamku. Dadaku sesak. Aku bermimpi. Ayah dan bunda menghampiriku dalam mimpi. Setelah itu berganti sosok kak Yalin dan dek Mada yang tergambar jelas dalam mimpiku. Mimpi itu terasa begitu nyata. Aku bertemu mereka. Aku bisa merasakan bersama mereka. Aku menangis waktu mendapati diriku yang sendiri saat terbangun. Hawa malam semakin melecut rindu ini. Merangsak, memaksa masuk dalam hatiku. Membuat rasa ini semakin berdentamdentam ke relung jiwa. Tangisku makin deras. Tak kuat menahan deraan kerinduan ini. Aku berjalan lemas. Ku buka pintu kamarku yang menghubungkan dengan teras kamarku yang berada di lantai dua. Hawa dingin dengan cepat menampar mukaku yang kasar. Menyisakan getar yang menjalar ke pori-pori kulitku. Yaman

149
Mimpi di Fajar Biru sedang memasuki musim dingin. Kupandangi alam luas yang gelap. Langit yang terbentang pucat. Di depanku, deretan gunung menghitam akibat kabut malam. Aku memandanginya dengan tatapan kosong. Hatiku begitu sakit. Tak kuat dengan rasa rindu yang begitu kuat mencengkeram dadaku. Masih 5 tahun lagi aku bisa bertemu mereka. Aku mendesah berat. Kusandarkan punggungku ke dinding teras.Aku masih menangis. Kulirik jam dinding dari balik pintu kamar. Jam tiga lebih seperempat. Kuhapus air mataku dan segera mengambil air wudlu. Kugelar sajadah kuningku tempat ayah biasa sholat, dulu kala ketika beliau masih hidup. Ku hampiri Tuhan dan kutuntaskan keluh kesahku pada-Nya. Di atas sajadah, tangisku makin tak terkontrol. Kukeluarkan semua yang menyesak di dalam dada. Membisiki tuhan atas segala gelisah yang terkumpul dalam hatiku. BersamaNya aku bisa tenang. Aku yakin, tuhan bisa menentramkan hatiku yang sedang kacau. Aku juga yakin tuhan pasti memiliki sesuatu yang hebat yang tengah disiapkan untukku. Berbait-bait do'a aku panjatkan. Sebuah ketenangan perlahan mulai merambat dalam jiwaku.

####

Mimpi-mimpi itu selalu menghampiri malam-malamku. Aku gelisah. Hari demi hari rasa itu terkumpul dalam dada dan selalu terpecah dengan derai air mata penuh harap. Waktu kuceritakan pada kak Yalin, kak Yalin menjawab itu wajar, karena antara aku

150
Mimpi di Fajar Biru dan dirinya terdapat hubungan bathiniyyah. Dan hubungan bathiniyyah itu kuat mengikat antara satu dengan lainnya. Aku mencoba menjadikan mimpi-mimpi itu hal biasa. Aku menganggap hadirnya dalam mimpiku adalah pengobat atas rindurinduku yang selalu mendera. Meski tidak nyata tapi setidaknya aku bisa merasakan senang karena bisa bertemu dengan orangorang yang aku sayangi. Walau hanya sebentar saja aku merasakannya. Aku mulai menyibukkan diri. Kembali tenggelam dalam aktifitasku, memahami kitab, belajar gramatikal arab, mengejar materi kuliah. Perjuanganku masih belum selesai. Gerbang kesuksesan itu masih menantiku di ujung sana. Kata-kata terakhir ayah dan bunda kembali terngiang dalam benakku. "Fatih Fatih harus bisa meraih apa yang Fatih cita citakan. Fatih harus terus berjuang. Perjalanan Fatih masih panjang. Dan gerbang kesuksesan itu sedang menanti Fatih di ujung sana. Kejar dan genggam kesuksesan itu."

####

Malam semakin merambat .Aku telah bersiap-siap untuk istirahat. Surban biru itu masih setia tergantung di leherku. Menemani setiap tidur malamku. Aku akan menjemput fajar biruku dengan selimut mimpi. Tak lagi menyambutnya dengan

151
Mimpi di Fajar Biru gelisah, tapi dengan suka cita yang menyala. Terbayang wajah kak Yalin dan dek Mada nanti hadir dalam mimpiku, melepaskan kerinduanku yang memuncak. Kubuka kembali SMS terakhir kak Yalin yang masih tersimpan di memori Hpku sebelum keberangkatanku ke yaman.

"Aku coba tersenyum saat kau pergi Meski lara hati tuk melepasmu Ingin rasanya aku memelukmu untuk terakhir kalinya sebelum kau pergi Namun aku tak sanggup menahan air mata yang berlinang di pipiku Selamat jalan adek, jaga dirimu baik-baik"
Aku tersenyum. Kuletakkan kembali Hpku. Aku mulai merebahkan tubuhku. Menutup kedua mataku dengan surban biru pemberian kak Yalin. Sebelum alam sadarku tercabut sempurna, aku masih sempat mendesis lirih "Perjalananku masih panjang kak, 5 tahun lagi kita bisa bertemu di alam nyata dengan membawa kesuksesan masingmasing. Tapi, malam ini aku akan menjemput kakak di alam mimpiku. Bertemu dalam bayang maya meski raga kita terpisah jauh oleh belahan dunia. Dalam lelapku aku akan menjemput fajar biruku dengan kerinduan yang terobati. Hhhh." Bibirku menyungginggkan senyum.Tak lama kemudian

senyum itu memudar. Terdiam. Terbuai di alam mimpi yang diimpikannya. The end

152
Mimpi di Fajar Biru DI KERIUHAN MALAM PERGANTIAN TAHUN BARU HIJRIYAH, KUTITIPKAN SALAM RINDUKU. I MISS U. Catatan kaki : "For view minutes later, we will land to Mukalla international airport. I do hope to all of passengers of Yemenia Airways to prepare your self and .." : Dalam beberapa menit kedepan, kita akan mendarat di bandara internasional Mukalla. Kami harap kepada seluruh penumpang pesawat Yemenia airways untuk bersiap-siap dan.... "Excuse me Mrs.": Maaf nona "Me ?": Saya ? "My name is Rama": Nama saya Rama "Lalala Ra.ma..": Tidak...tidak...tidak Ra...ma (arab.red) "Tasti'iina billughotil arobiyah?": Kamu bisa bahasa arab ? "Aiwah, ana min Suriah": Ya, saya dari Suriah "Ba'da qolil sanasilu ila Mukallla, wa ana uwasilu ila San'aa tsumma astarih,, kuntu bita'ban jiddan." : Sebentar lagi kita akan sampai di kota Mukalla, dan aku akan meneruskan ke Sanaa. Aku ingin istirahat. Aku capek banget "Barakallahu fiiik ya fataa, wa insyallah bi idznillah nulqi fii waqtin akhor": Semoga Allah memberkahimu wahai pemuda, insyaallah dengan izin-Nya kita bertemu lagi di lain kesempatan "Wa iyyaki..syukron yaa Mrs. Rama . .": Kamu juga, terima kasih nona Rama Futhur: Sarapan Matbakh: Dapur lembah ratu balqis: Julukan untuk negara Yaman. Karena negeri Saba berada di negara ini dan terkenal dengan nama Mabad Syams Syarj : Pasar kota di Mukalla khour Mukalla: Bendungan air laut yang bersambung langsung dengan laut lepas. Mengalir seperti sungai yang membelah kota Mukalla. Bertempat di Mukalla kota.

153
Mimpi di Fajar Biru 40 real: Mata uang negara Yaman. 40 real Setara dengan uang 2000 rupiah. karena 1 real di Yaman setara dengan uang 50 rupiah di Indonesia. Berbeda dengan real Arab 1 real setara 2500 rupiah 26th September Street: Salah satu nama jalan di kawasan Sirrij tadrib ar-rowi: Salah satu kitab fan ulumul hadits. Syarah kitab taqribun nawawi karangan imam al-hafidz Jalaluddin As-Suyuthi.

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 2 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.
*

154
In Memoriam

By: Awy Muhammad *

Kehidupan yang begitu mulus Begitu indah untuk dijalani Tapi, bukan berarti akan bebas dari batu sandungan Saat itu pasti ada dan akan datang Hanya tinggal kita Mampukah keluar dengan kemenangan?

Hari pertama disambut dengan kecerahan padang sahara yang memukau. Salman kini benar-benar telah jauh dari negeri nenek moyangnya. Keberadaan yang jauh memaksa ia membulatkan tekat untuk belajar hidup, belajar hidup di negeri yang Masih asing, negeri dimana ia akan berjuang mengais butir-butir mutiara pencerah umat kelak. Tak ada kicauan burung atau gemericik suara air di pagi hari sebagaimana yang telah ia rasakan bertahun-tahun sebelumnya. Kini hanya dataran luas gurun pasir dengan bekas pijakan-pijakan kaki manusia yang terpampang jelas di hadapan matanya. Tak ada rumput, apalagi rindangnya pepohonan. Hanya udara yang sedikit mencerahkan pagi. Tak terbesit dalam pikiranya bagaimana nanti, besok atau lusa, cukup baginya bahwa pagi pertamanya tak menyesakkan.

155
In Memoriam
Di saat ia menikmati pagi yang mulai aneh karena matahari telah menebarkan senyumnya, HP N70-nya berbunyi. New

message tertulis menunjukkan ada pesan baru untuknya. Sebuah


pesan dari temanya yang telah dahulu di tempat panas itu mengingatkan bahwa salju keringat akan segera menghiasi hari awalnya. Ia menoleh dan tersenyum melihat Rizal yang berjalan menujunya. Hari pertama ia gunakan untuk menyimak cerita Rizal mengenai seluk beluk negeri Saba, terutama di tempatnya yang akan ia tempati. Dari makanan sampai kamar mandi telah terpapar secara detail oleh Rizal. Sedikit kaget mendengar, tapi justru hatinya merasa tertantang oleh suasana yang baru itu. Sedikit canda dan tawa menghiasi cerita Rizal. Tidurnya Masih sama-sama merem, kan? Canda Salman meledakkan tawa diantara mereka berdua. Matahari mulai tinggi. Hawa panas mulai mengeliminasi kesejukan pagi. Debu-debu lembut berterbangan menyambut datangnya hari. Rumah kontrakan pas-pasan itu mulai terasa pengap. AC dan kipas angin mulai mengembalikan kesejukan yang sejenak hilang. Salman sudah siap dengan atribut lengkap serba putih untuk memulai debut perdananya di universitas yang notaben penuh dengan ilmu agama itu. Memang terlalu pagi, karena belum tahunya jadwal kuliah akan masuk jam berapa. Rizal masih sibuk dengan dapur, mempersiapkan sarapan pertama untuk teman lamanya yang baru datang tadi malam. Salman datang terlambat di

156
In Memoriam
universitasnya, ia telat beberapa hari sehinga harus tertinggal beberapa pelajaran. Salman, sarapan dulu yuk! Ajak Rizal. Lho? Ndak telat toh nanti? Jawab Salman dengan kehawatiran terbesit di mukanya. Ia tak ingin hari pertamanya ternodai dengan keterlambatan. Ente sudah siap toh? Iya, sudah. Ya ampun, masih dua jam lagi masuknya, semangat amat sih? Rizal hanya tertawa melihat temany a yang telah rapi itu. Yang benar kamu? Tanya Salman. Ya iya lah, makanya tanya dong. Memang kayak di Indonesia masuk jam enam? Ha ha, jawab Rizal sambil tertawa. Rizal langsung menarik tangan Salman ke dapur untuk sarapan. Mereka bersama-sama melahap makanan karya Rizal sendiri. Sengaja ia memasak ala-indo. Belum ia kenalkan bagaimana Masakan Yaman dengan ketidaklengkapannya kalau dibanding di Indonesia, ia hanya ingin temannya yang baru datang itu kerasan terlebih dahulu tinggal di tempat barunya. Lagi asyik dengan sarapanya, N70-nya berbunyi. Tak diindahkanya. Ia Masih menikmati nasi goreng dengan telor ceplok mata sapi Masakan sobatnya itu. Berbunyi untuk yang kedua kalinya, masih saja tak dihiraukanya. Makanan tinggal sedikit baru ia meraih HP dengan tangan kirinya. New message dari nomor tak ia kenal karena

157
In Memoriam
nomornya masih baru. Pesan itu hanya menanyakan kabar dan memberi semangat kepada Salman. Ia penasaran dan dibukanya pesan yang satu lagi, ia dapati pesan yang sama. Salman membalas pesan itu dengan pertanyaan dalam hatinya, 'Dari siapa pesan tadi?' Tak menunggu lama, hanya beberapa menit berbunyi lagi dan hilang rasa penasaran di hatinya ketika ia baca pesan ketiganya. Aku Ira, Mas. Masak lupa? Tak asing lagi nama itu di benak Salman. Tak lain adalah orang yang kini jauh tapi telah banyak memberi motivasi buat Salman sehingga ia berangkat dan meninggalkannya untuk sementara waktu. Hanya yang membuat aneh baginya, dari mana ia tahu nomor yang baru kemarin sore ia beli. Siapa, Man? Tanya Rizal mengagetkan Salman yang lagi senyum-senyum sendiri. Ini, teman dari rumah, jawabnya dengan Masih sibuk oleh

keypad.
Teman apa teman? Kok kelihatanya seneng banget? Ledek Rizal. Beneran teman ini. Ya meski agak spesial gitu, he he, jawabnya tanpa berpaling sedikitpun dari layar HP-nya. Rizal hanya tesenyum melihat ulah temannya yang tenggelam dengan terima-balas pesannya. Rizal tahu dengan siapa yang dimaksud Salman teman agak spesial karena sebelum ia datang pun ia sering cerita kepadanya siapa Ira, lewat via chat. Ia juga yang memberikan nomor baru itu kepada Ira. Rizal melanjutkan kegiatan rutinnya di pagi hari dan bersiap untuk berangkat kuliah.

158
In Memoriam
*********

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa pertengahan semester pertamanya sudah siap menghadang di depan mata. Jadwal ujian sudah tertera terpampang di tempat biasanya ditempelkan pengumuman. Berbagai keluhan, gugup dan bahkan takut muncul dari kebanyakan teman-temannya yang datang dari berbagai negara, berbagai suku dan ras yang berbeda. Salman mengorek pengalaman Rizal tentang bagaimana ujian, bentuk serta cara-caranya. Berbagai pengalaman Rizal bagikan kepada temannya itu. Ia memaklumi karena itu merupakan ujian pertamanya di universitas terkemuka itu. Harinya penuh dengan kegiatan mempersiapkan diri menghadapi ujian perdananya. Berusaha untuk mengeluarkan kemampuan terbaik demi hasil yang memuaskan, baginya dan bagi orang-orang yang mendukungnya. Ia juga tak segan-segan bertanya kepada Rizal yang telah lebih dari 3 tahun bergelut dengan keadaan kuliahnya. Beruntung bagi Salman yang mendapat sambutan baik dari Rizal yang tidak merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan Salman. Ujian telah berjalan dua hari. Tak ada kesulitan yang dirasa oleh Salman, biasa-biasa saja. Sampai hari akhir ujian masih biasa saja, tak ada yang ditakutkan olehnya dari apa yang terjadi nanti dan hasil yang akan diperoleh. Ia sudah merasa yakin dengan apa yang ia kerjakan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang tersaji ketika ujian. Kini hanya berdoa yang harus ia lakukan. Disamping kelebihanya dalam menghafal dan memahami pelajaran

159
In Memoriam
dengan cepat, juga bahasa arabnya yang lancar begitu sangat membantunya. Seminggu lepas dari hari akhir ujian, pengumuman nilai telah hadir. Sebagian lesu setelah melihat hasil yang tak memuaskan mereka. Sebagian girang dengan hasil yang diperoleh. Tak luput adalah Salman dari golongan mahasiswa yang girang bergembira dengan hasil yang lebih dari memuaskan yang ia peroleh. Mumtaz, begitulah predikat yang harus ia sandang di tahun pertama di universitasnya itu. Suasana yang diharapkan banyak mahasiswa, dimana

namanya menjadi tranding topic. Tak hanya dikalangan antar mahasiswa, tapi hasil itu juga mengejutkan para dosen dan petinggi universitas. Dalam sejarah memang masih satu kali itu ada anak yang tahun pertama telah mendapatkan nilai di atas batas rata-rata. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Salman untuk mendekat dan mengetahui seluk beluk kuliah serta mengetahui bagaimana gaya para dosen dalam membina kader-kader agama. Beberapa informasi telah dikantonginya, apa yang belum banyak diketahui orang lain ia telah dapatkan lebih dulu. Meski demikian, tak pernah ia menyebarkan kabar yang memang tak harus disebarkan. Ia dapat sendiri dan hanya untuk sendiri, kecuali kalau diperintah untuk menyebarkan atau sekedar diberi izin untuk itu. *********

Eh, bagaimana kabar Ira, Man? Tanya Rizal kepada Salman yang khusyu membaca kitab kecil di sore yang segar yang

160
In Memoriam
baru saja diguyur oleh mutiara-mutiara langit yang membuat tanah kering itu basah dan tak berdebu. Ira? Tumben kamu tanya tentang dia. Ada apa ini? Jawabnya tanpa menoleh ke arah Rizal dan malah balik tanya. Ya, cuma ingin tahu saja, jadi bagaimana? Sudah lupa ya? Tanyanya memaksa sambil meledek Salman. Hmm, Bagaimana ya?? Salman seperti m engingat-ingat sesuatu. Kamu bagai mana sih? Kok malah nanya? Protes Rizal tak puas dengan jawaban Salman yang memang tak jelas itu. Hmm, Salman diam sejenak, Rizal hanya

mlongo

menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Salman. Dia baik-baik saja, kok, jawabnya tiba-tiba sambil

ngeloyor pergi meninggalkan Rizal yang senyum-senyum sendiri


melihat kelakuan temannya yang sepertinya menyembunyikan sesuatu yang tak mau menceritakannya kepada dirinya. *********

Sudah dua tahun mereka bersama menghuni rumah tanah tanpa warna itu. Sudah saatnya pula mereka harus berpisah. Rizal harus mengakhiri perburuanya di Negara panas Yaman. Nilai ujian akhirnya juga sudah keluar. Meski tak secerdas Salman, tapi nilainya juga lumayan. Sedang Salman harus segera belajar hidup

161
In Memoriam
sendiri untuk menghabiskan kontraknya di tempat itu. Masih dua tahun lagi, tapi itu tidaklah lama. Pagi sekali hari itu Salman bangun. Tak seperti biasanya. Rizal bingung dengan temanya. Aneh, tapi dibiarkanya begitu saja. Ia masih asyik dengan kardus dan tali rafia untuk membungkus barang-barangnya yang akan menemaninya pulang nanti. Dua hari lagi Rizal harus pergi dan meninggalkan Salman sendirian di rumah kenangannya. Sehabis shalat subuh di Masjid yang tak jauh letaknya dari rumahnya, ia berencana akan menemui Salman, tapi ia dapati Salman masih membaca Al-Quran di ruang kamarnya. Ia urungkan niatnya. Rizal duduk di kursi ruang tengah menunggu Salman menyelesaikan bacaannya sambil membaca wirid yang biasa ia baca setiap pagi. Man, ada apa sih? Rizal tak tahan menunggu temannya merampungkan bacaanya yang lama dan sepertinya memang disengaja untuk menghindar darinya seperti ada sesuatu yang sedang Salman sembunyikan. Tak ada jawaban dari Salman, Rizal pun tak memaksa. Ia hanya menunggu Salman selesai membaca. Aku akan pulang bareng kamu, Zal. Tiba -tiba suara Salman mengagetkan Rizal yang hampir tertidur. Apa..??? kamu nglindur ya, Man? Jawab Rizal dengan rasa kaget dan tidak percaya akan perkataan Salman yang baru saja. Aku harus pulang, Zal Salman meyakinkan sobatnya bahwa itu memang keluar dari mulutnya. Hening. Rizal Masih mlongo dengan kebingungan yang berkecamuk di otaknya oleh petir yang

162
In Memoriam
baru saja menyambar gendang telinganya. Masih tak percaya dan berharap Salman hanya gurau mengucapkan hal tadi, tapi kenyataanya berbeda dengan harapannya. Setelah Salman keluar dan menunjukkan secarik kertas yang sepertinya itu sebuah surat entah dari siapa.

Kpd. Salman Ahmad Majduddin Di tempat.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada nabi rahmah Muhammad SAW. Apa kabar, Mas Salman? Masih ingat dengan Ira kan, Mas? Yang sering ganggu Mas itu lho waktu di pondok, he he Mas, sebelunya Ira minta maaf kepada Mas, Ira memang menyimpan berjuta harapan pada Mas Salman, tapi Ira sadar, Ira bukan siapa-siapa. Dan jalan satusatunya yang bisa Ira jalani adalah memendam perasaan itu sedalam-dalamnya. Tapi Ira tak bisa berbuat apa-

163
In Memoriam
apa setelah Abah berwasiat kepada Ira sebelum beliau berpindah ke hadapan Yang Maha Agung. Abah mengatakan kepada Ira untuk menyampaikan ini kepada Mas. Beliau berharap Mas Salman sudi meneruskan perjuangan beliau menjalankan amanah yang tak mudah ini, yaitu menyetir pondok ini, Mas. Dan maaf Mas, bukan hanya itu, tapi sebelumnya aku harap Mas tidak berprasangka yang tidak-tidak, meski Ira percaya Mas tak akan melakukan itu. Abah juga menyertakan Ira dalam wasiat beliau, Mas. Waktu itu Ira juga tak percaya ketika beliau meminta Ira menjadi pendamping Mas Salman. Sekali lagi Ira minta maaf, Mas. Sekarang pondok bagai anak ayam kehilangan induknya, kacau. Asatidz Masih kesulitan mengatur jadwal yang lalu berjalan. Membuat jadwal baru juga belum mampu, bahkan ada beberapa yang sudah mengundurkan diri. Ira tidak mampu mengurusnya sendiri, Mas. Sekarang juga belum ada pengasuh yang resmi, Abah meminta kita semua menunggu Mas Salman pulang, kapan pun itu. Sekian kabar dari pondok, Mas. Ira harap Mas Salman tak terganggu dengan datangnya surat ini. tetaplah semangat dalam belajar, Mas. Kita semua menunggumu. Gapai impianmu Mas.

12, September, 2008 Humairah Qibtiyah

164
In Memoriam

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, hanya itu yang bisa terucap dari bibir Rizal. Ia tak habis fikir kalau ucapan Salman memang benar dan sungguh-sungguh. Meski sudah sedikit percaya dengan rencana Salman, Rizal masih belum bisa percaya 100% dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Dilihatnya di pojok bawah surat, dan Masih dua hari yang lalu. Man, ini benar baru dua hari yang lalu? Tanya Rizal heran, karena tidak ada pengiriman surat secepat itu. Ya gitu lah, jawabnya sekenanya. Tapi kirim lewat apa kok cepat banget? Diantar. Hah?? Siapa yang kesini? Iqbal, khodimnya Abah Yai. Dia diutus Asatidz, katanya pondok tidak boleh lama-lama dalam keadaan vacum Terus belajar kamu bagaimana? Ya sudah, berhenti di sini. Mungkin sudah takdir kali, ya? Lha urusan jamiah? Paspor juga bagaimana? Sudah, sudah aku urus dengan Dr. Ridwan kemarin. Aku juga minta sekiranya bisa bareng ente. Kemudian keduanya

165
In Memoriam
langsung merapikan barang-barang yang akan dibawa dan segala sesuatu yang belum clear mereka bereskan. *********

Hari kamis adalah hari terakhir bagi Rizal dan Salman di tempat itu. Rizal yang telah habis kontraknya harus pulang, sedang Salman juga harus pulang hanya karena sebab yang berbeda. Kepulangan mereka begitu berbeda dari yang lainya. Hari itu begitu banyak orang mengantarkan perpisahannya. Tak hanya teman-teman seperjuangannya, para dosen dan petinggi universitas juga tak mau ketinggalan untuk melepas aset berharga mereka. Seakan tak rela dengan kepergian mereka, terutama Salman. Sebab, meski masih baru, kerap Salman menyelamatkan muka universitas diajang mujadalah dengan berbagai universitas lainnya. Tiga bus telah meninggalkan halaman Kuliah Syariah yang berdebu, penuh sesak di dalamnya. Ada canda tawa, ada pula tetesan air mata yang sengaja atau tidak berlinang. Sejarah Salman benar-benar berakhir di Negara penuh dengan tokoh ulama itu ketika pesawat telah landas meninggalkan negeri Ratu Saba'. Tinggal lah nama dan kenangan-kenangan harum yang tersisa menjadi pengobat kekecewaan orang-orang yang telah mengenalnya dan membimbingnya.

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Tingkat 5 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.
*

166
La Tayasu

L Tayas
-Kisah Kasih InspiratifMoh. Taufiq el-Hamidy*

P
masing-masing. Yaman.

agi yang cerah, mentari kembali terbit dengan sejuta senyuman. Sinarnya kembali terpancar. Gelombang cahayanya menembus seantero galaksi. Jembatan Suramadu terbentang di atas birunya selat Madura, jembatan yang

menjadi gerbang inspirasi perjuanganku, jembatan yang akan menjadi saksi kesuksesanku kelak, tampak kokoh dihantam gelombang laut yang menggulung. Sebelum masuk pintu utama Bandara Juanda, terlihat taksi berjejeran rapi, semuanya sibuk dengan aktifitasnya Abi, Umi, adik-adikku sebentar lagi akan melepasku untuk berjuang mengembara ilmu di negeri Saba',

Kebetulan Kiai Miftahul Arifin ada rapat di kantor PWNU, sedangkan Neng Nesya mau balik ke PPQ Nurul Huda Singosari Malang. Sehingga Kiai Miftah, Nyai dan Neng Nesya ikut mengantarku.

167
La Tayasu "Ilham, Ijtahid ft ta'allum!10" Amanat Kiai Miftah kepadaku di ruang tunggu bandara Juanda. "Arj

da'watakum y Syaikh!11" Jawabku sembari

mencium tangannya. "Nak, Jhek kloppaeh du'anah! 12" Pesan Umi dengan senyuman manisnya, di balik linangan tetesan airmata. Kujawab dengan tundukan kepala, sembari mencium tangannya. "Ilham, l tayas!13" Terdengar suara begitu lembut memikat saraf sensorik telingaku. Kucoba mengangkatkan kepalaku, entah siapa, dan ternyata Neng Nesya. Aku hanya mengangguk tanpa sepatah katapun.

"Lek! Belajar yang rajin ya..!!" saranku kepada adikadikku sembari mengusap kening mereka. Semua mata tertuju padaku. Aku mulai mendorong koperku yang berwarna hitam kombinasi merah, karena penerbangan menuju Jakarta 10 menit lagi. Tetesan airmata

10

Ijtahid ft ta'allum: Beljarlah yang gigih! Arj da'watakum y syaikh: Mohon do'anya kiai! Nak, Jhek kloppaeh du'anah : Anakku, jangan lupa doanya! dalam bahasa Madura. L tayas: Janganlah putus asa!

11

12

13

168
La Tayasu kembali tidak terbendung dari kelopak mataku. Aku balikkan badan terlihat umi kembali meneteskan airmata. Kuucapkan

"wassalamu
penerbangan.

'alaikum"

kemudian

berangkat

menuju

loket

Aku harus sampai di Pesantren As-Sidiqiyah jam 9 pagi, karena ada pelepasan dari Departemen Agama Republik Indonesia. Setelah itu aku harus terbang ke negeri Saba' Yaman jam 12 siang. Selamat tinggal Indonesiaku! *** "L tayas..!" Kalimat itu selalu mengalir di saraf otakku. Kalimat itu, kalimat terakhir yang diucapkannya ketika berpisah denganku, di bandara Juanda. Hatiku bimbang, imajinasiku tidak mampu mengartikan kalimat simpel nan indah itu. Mungkin itu bentuk spirit dan

support-nya kepadaku, agar jangan putus asa dalam mengembara


ilmu di gurun Saba'. Meskipun ketulusan hatinya telah menyatakan cintanya padaku, tapi mengapa aku selalu memikirkan kalimat indah itu. Entah apa maksudnya? Apa arti semua ini? "Woiii.. Ilham.. ayo main!" Teriak Musthafa memecahkan saraf sensorik telingaku. Aku hanya terkesima, karena sedang asyik melamun, duduk di pasir putih pantai Mukalla.

169
La Tayasu Lalu Qabil datang menghampiriku. " Y Ilham.. Isy fk?

Nal'ab qurrah kaman!14" Ajak Qabil, teman satu tingkatku dari


Yordania- dengan menarik kedua tanganku. "Aiwah, Mukalla. Sore itu, aku, Musthafa, Qabil dan rekan-rekan

ma 'alays, istanna suwayyah y Qabil!15"

Responku, sembari menuju tengah lapangan pasir putih pantai

mahasiswa lainnya, tampak begitu asyik dengan sepak bola pantai, menghilangkan penat setelah satu minggu disibukkan kuliah yang padat. Pantai Mukalla terletak di selatan semenanjung Arab. Pasirnya yang putih mengingatkanku pada pantai Jumiang, di kampung halaman. Namun pasir putih eksotika titisan ratu Balqis Hijaunya mengalahkan ilalang ikut

semuanya. Spektrum birunya laut Arab yang mengampar di atas menyejukkan pandangan. mmenghiasi putihnya pasir dan selaksa kilauan mentari yang sebentar lagi terbenam menyilaukan pesona titisan ratu Balqis.

Subhnallh! betapa indah ciptaan-Mu y Khliq alKaun .


***
14 16

Isy fk? nal'ab qurrah kaman!: Ada apa? Ayo main bola lagi! Aiwah, ma 'alays! istanna suwayyah!: Ya, gak apa-apa! Qabil, tunggu bentar! Y Khliq al-Kaun: Wahai, Pencipta semesta alam.

15

16

170
La Tayasu Waktu terus berputar, pengumuman ujian akhir

semester sudah selesai. Alhamdulillah semester satu ini aku bisa meraih predikat imtiyz17. Liburan sudah di depan mata. Untuk mengisi liburan, aku memutuskan untuk mengikuti rauhah18 di Ribath Imam Syafi'i. Ribath ini terletak di ibu kota provinsi Hadramaut, pengasuhnya adalah Syekh Muhammad Ba'athiyah, muallif19 kitab

Ghyatul Mun syarh Safnatun Najah, Zdal Labb syarh Takrb


dan beberapa karya monumental lainnya. "Ilham, ayo berangkat!" Ajak Ridho, teman satu flatku.

Astagfirullah! Aku lupa kalau sekarang ada rauhah.


Kutatap jam digital di

screen

notebook

acer

black-ku,

menunjukkan jam 17.05 KSA. Saking asyiknya membaca artikel

"qdu Nrni al-Irhb20" karya ulama besar kontemporer asal


Syiria, Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Bhuty. Setelah itu aku me-turn-off saja notebookku, dan bersiap-siap. "Aku tunggu di bawah ya!" Gerutunya.
17

Imtiyz: Nilai istemewa Rauhah: Sistem pembelajaran kitab klasik dengan membentuk halaqoh (kelompok) yang dipimpin langsung oleh syekh. Muallif: Pengarang. qdu Nrni al-Irhb: Memadamkan kobaran api terorisme; artikel yang ditulis untuk memberantas terorisme dan mengembalikan konsep jihad yang ideal.

18

19

20

171
La Tayasu "OK!!" Sahutku sembari bersiap-siap, kemudian turun dari lantai tiga. *** Kami berangkat dengan bus kota dengan kecepatan ratarata 60 km/jam. Kini, kilauan lampu menghiasi kota Mukalla. Aroma khas Timur Tengah semakin terasa ketika melihat pohon kurma berjejer rapi di ruas kanan, kiri, dan tengah jalan, yang kian menambah kesejukan mata. Bias surya merah merona di ufuk barat yang kian menambah keelokan senja. Tidak terasa kami sudah sampai di Ibn Shena Street, lima menit kemudian menara masjid Imam Syafi'i tampak tegar di depan mataku. "Nzil...!!!21" Teriakku keras mengagetkan penumpang bus itu, sambil turun dan membayar ongkos. Kami berjalan menuju pintu masuk utama Ribath Imam Syafi'i. Azan kembali terdengar dari ribuan masjid penjuru kota Mukalla. Kami langsung menuju masjid Imam Syafi'i untuk salat magrib berjema'ah. Kemudian mengikuti rauhah yang dipimpin langsung Syekh Muhammad Ba'athiyah. Setelah 1,5 jam mengikuti rauhah, kami melaksanakan shalat Isya', setelah itu kami langsung berpamitan.

21

Nzil: Turun atau kiri; istilah untuk memberhentikan kendaran yang sedang melaju.

172
La Tayasu "Fatahallh 'alaikum wa barakkallh fkum 22" sambut Syehk Muhammad Ba'athiyah, sembari mendo'akan kami. Kami mengamini, sembari mencium asta syekh, dengan mengharap barokah beliau. *** Baru 5 meter kami melangkah dari pintu utama Ribath Imam Syafi'i, Nokia E-5 black-ku bergetar. Sengaja kugetarkan dan profil silent biar tidak mengganggu berjalannya rauhah tadi. Rupanya ada ikon amplop di pojok kanan bawah screen HP-ku. Perlahan aku membuka kunci tombol. Rupanya ada pesan dari Neng Nesya. Kok tumben Neng Nesya kirim pesan, bukannya bidadariku di pesantren? Oh mungkin saja sudah liburan Maulid Nabi, dengan perlahan kubuka.

"Assalamu'laikum, Gimana kabarnya?"


Tanpa menunggu waktu, aku langsung membalasnya.

"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah tamm, ukhti sendiri gimana kabarnya? Sudah liburan pondok ya?"
Kami menuju halte bus, menunggu bus yang datang, kemudian HP-ku kembali berdering.

22

Fatahallh 'alaikum wa barakkallh fkum: Semoga Allah membukakan pintu hidayah untukmu, semoga Allah memberkahimu!

173
La Tayasu

"Alhamdulillh f khoirin wa 'fiyah, ya akh.. Nesya sudah liburan. Ketika hati ini resah, sinar kembali terpancar di balik pegunungan Saba', biasnya menerangi kelamnya hati ini, akankah sinar itu selalu menerangiku? Ataukah sinar itu telah redup ditelan aura Ratu Balqis?"
Hatiku berbisik, apa maksudnya? Aku hanya tertegun, tunduk pada esensi kata-katanya yang mengandung ribuan makna "Kenapa Ham?" Tanya Ridho, mengejutkan tegunanku. "Gak apa-apa," jawabku menundukkan kepala. "Ayo, ada apa? SMS dari siapa, akh?" Candanya dan kembali bertanyanya. "Ini.. SMS dari Neng Nesya," lirihku. "Siapa Neng Nesya?" "Nesya Kamalia begitulah nama lengkapnya. Ia putri pengasuh PP. Al-Miftah Pademawu Pamekasan, tempat saya menimba ilmu. Ia gadis yang anggun etikanya, sejuk parasnya, luas keilmuannya dan hafizah lagi," jelasku. "Terus kenapa dia SMS sama kamu? Atau jangan-jangan ada hubungan diantara dua hati nich!" Ledeknya dengan senyuman mengembang. "Sebenarnya, saya juga bingung dengan semua ini. Selama tiga tahun menimba ilmu di sana, saya tidak mengenalnya karena rasa ta'dzm saya pada keluarga dhalem. Namun semuanya

174
La Tayasu berubah ketika saya hendak mau berangkat ke sini. Kami menjadi dekat, setelah ia diberi amanat oleh abahnya untuk menyuruhku mengisi seminar di Gedung Islamic Center. Kharismanya tunduk di bawah auraku, bahkan isi hatinya sempat terlontar menghinggapi relung-relung jiwa.." "Indnsy

Yall...!

al-Fuwwa...

Mukalla...!"

Teriak

kondektur bus kota itu mengagetkan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bus itu menuju asrama mahasiswa AlAhgaff University di distrik al-Fuwwa. Sampai di distrik al-Fuwwa, kami mampir di al-Kastiri Book Store, mencari kitab-kitab kontemporer. Ternyata di lantai dua, rak ketiga ada kitab "Intabih! Dnuk f Khathar23" karya Dr. Abu Abdella 'Alawy al-Yamani. Jadi penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk membelinya. Setelah itu, kami 'asy'24 di

math'am25 al-Shiddiq dengan menu kesukaan kami hubz ma'a shkshka26.


***

23

Intabih! Dnuk f Khathar: Hati-hati! Agamamu dalam keadaan bahaya. 'Asy': Makan Malam Math'am: Restoran. Hubz ma'a shkshka: Makanan khas Yaman, kolaborasi roti, telur, susu bagari, lada, tomat, cabe, dan bawang.

24

25

26

175
La Tayasu Akhirnya, kami tiba juga di flat. Aku langsung menuju ke kamar, merebahkan badan sejenak dan merelaksasi otot dari penatnya aktifitas hari ini. Sambil mendengarkan nasyid Bakhrmi yang kuputar lewat HP-ku. Ups SMS-nya Neng Nesya belum kubalas. Aku membacanya langsung kembali membuka dengan SMS Neng Nesya dan

serksama,

kemudian

memulai

merangkai kata-kata hatiku untuk membalasnya.

"Meskipun aku tak seperti matahari, tapi aku akan selalu berusaha menerangi titahmu di siang hari. Meskipun aku tak seperti bulan dan bintang, tapi aku akan selalu berusaha menghiasi malammu dengan sejuta pancaran kasihku..!" Kemudian
menekan irsl untuk mengirimnya. Setelah relaksasi, aku membuka kitab yang kubeli tadi di al-Katsiri Book Store. Kemudian mengkajinya, ternyata isinya tentang sektarianisme, penulis berusaha menjawab kritikan terhadap amaliyah Ahlus Sunnah yang selama ini mengganjal para pengikutnya. HP-ku kembali berdering, mengagetkan asyiknya

mengkaji kitab "Intabih! Dnuk f Khathar ". Lagi-lagi... pesan dari Neng Nesya, senyumku mengembang sembari membukanya.

"Jika kehadiranku laksana debu yang akan memburamkan jendela hatimu, izinkan aku menjauh darimu. Jika kehadiranku laksana seberkas aura yang menerangi hatimu, izinkan aku menjadikanmu sebagai Imam yang selalu menuntunku."

176
La Tayasu Kata-katanya membuatku bersimpuh malu, aku hanya bisa berbaring di kasurku yang cokelat keemasan. Entah aku harus membalas apa? Bulan purnama menjulang tinggi terlihat di balik jendela kamarku, bintang menghiasi indahnya malam dan mega merah merona menambah kilauan galaksi. Subhnallh! betapa indah ciptaan-Mu y Khliq al-Kaun. Jam digital di HP-ku menunjukkan jam 12.05 AM. Aku harus tidur, menuju sakelar untuk mematikan lampu TL dan menggantinya dengan lampu tidur warna hijau. Biar bisa bangun sebelum fajar menyingsing dan subuhnya bisa berjema'ah di masjid Bahr al-Noer. Namun kelopak mataku tidak bisa memejamkan mata, teringat kata-kata manis SMS tadi. Wajah anggunnya yang terbalut kerudung hijau selalu membayangiku, ucapan indahnya seakan meluluhkan jiwaku dan senyuman manisnya tergambar jelas saat terakhir kami berpisah di Bandara. Untuk menghilangkan lamunanku, kulangkahkan kakiku, untuk berwudlu, lalu menjamah tasbih, kemudian berzikir sambil merebahkan badanku kembali. Karena teringat fiman Allah; " al bi

dzikrillhi tathmainnul qulb27." Dengan berzikir hati menjadi


tenang, jiwa menjadi lebih fresh dan pikiran menjadi lebih cemerlang. Terlena dalam zikir keagungan-Nya, akhirnya aku bisa tertidur pulas. ***
27

QS. Al-Ra'd: 28.

177
La Tayasu Desir angin pagi menusuk relung-relung jiwa. Dinginnya suhu di luar menusuk-nusuk tulang. Memang februari adalah puncak musim dingin. Berat rasanya melangkahkan kakiku keluar dari asrama menuju masjid Bahr al-Noer. Namun aku berusaha menghilangkan rasa sengkah28 itu. Hanya dengan semangat bisa menghangatkan semuanya, ber-iktikaf dan salat berjamaah subuh memohon petunjuk dan hidayah-Nya.

"Ilham, Ayo ke zalafah29 al-Fuwwa!" Ajak Ridho,


mendekatiku setelah muroja'ah hafalannya.

"Tunggu bentar! Wiridanku sebentar lagi selesai!"


Ucapku sambil meneruskan wiridanku. "Aku tunggu di luar ya!" Cetusnya sambil keluar dari masjid. Setelah selesai membaca wirid dan salat duha, aku menuju Ridho. "Woi, nanti ke Hadramaut University, yuk!" Ajaknya sambil menuju math'am al-Shiddiq dekat zalafah al-Fuwwa.

"Ada acara apa?"


"Seminar Disertasi Doktoral" "OK!!!" Jawabku dengan spontan,
28

Sengkah: Malas Zalafah: Taman al-Fuwwa!

29

178
La Tayasu Tidak terasa restoran al-Shiddiq sudah di depan mata. "Syai hlib wa khubz ma'a al-baith istnain30" teriaknya kepada pelayan yang sibuk dengan rotinya. Sambil menunggu kami menuju zalafah al-Fuwwa yang tampak hijau diwarnai pohon kurma, mencari tempat duduk yang pas terkena pancaran matahari pagi, sekalian mendapat pancaran manfaat vitamin D.

Subhanallh! nikmatnya, menikmati syai hlib dan khubz ma'a al-baith yang masih menghembuskan asap di dinginnya suhu
pagi. HP-ku kembali berdering. Pasti dari Neng Nesya, tebakku dalam hati. Setelah membukanya ternyata dugaanku benar.

"Akhi al-Mahbub, sebelum fajar merekah, linangan airmataku membasahi pipiku, memohon agar kisah kasih kita mendapatkan taufk dan inyah-Nya, ku sangat berharap agar kau menjadi imamku!" "Sebenarnya, ingin sekali menjadi imam dari bidadari AlMiftah, namun sanubariku berkata apakah pantas? Aku hanya bisa memohon dan mengharap rida Ilahi Rabb, semoga kita diberi jalan cahaya terbaik untuk masa depan dalam cita-cita dan cinta!"
jawabku sambil menikmati hangatnya syai hlib dan khubz ma'a

al-baith di depanku.

30

Syai hlib wa khubz ma'a al-baith istnain!: Teh susu dan roti telur dua!

179
La Tayasu Beberapa menit kemudian, HP-ku kembali berdering.

"Akhi al-Mahbub... sebenarnya rasa rindu ini tidak bisa terbendung lagi. Ingin rasanya kita bisa berkomunikasi seperti ini tiap hari. Namun, aku harus balik ke Singosari. Semoga rida Ilahi menyertai kita semua. Jaga diri baik-baik ya Akh! See you to ramadhan.." "Amin y Mujbas siln. Apa yang Ukhti rasakan seperti apa yang saya rasakan. Jangan lupa muroja'ah hafalannya ya!"
Balasku. ***

Ahlan wa sahlan y Ramadhan. Masyarakat Mukalla dan


sekitarnya menyambutnya dengan gegap gempita. Gemerlap lampu lebih silau dari hari-hari biasanya. Ribuan menara masjid semarak dengan lantunan mengagungkan asmanNya. Malam jadi siang, siangpun jadi malam. Semuanya larut dalam indahnya beribadah kepada Allah, Tuhan semesta alam. Setelah menunaikan sholat tarawih di masjid Bahr alNoer, aku menuju kamar, duduk sejenak, dan kupandangi HP-ku yang kuletakkan di samping kitab, ternyata notification lights berkelip, pertanda ada pesan atau panggilan tidak terjawab. Wow!!! Tujuh missed call dari Neng Nesya. "Ilham.. ayo ke mall Mustahlek!" Ajak Ihyak teman satu flatku. "Mau ngapain?" Tanyaku.

180
La Tayasu "Ya beli bahan-bahan untuk masak sahur nanti" "Owh ayo!" Responku. *** Kalau di Mesir ada sungai Niel, di Mukalla ada sungai Khour. Meskipun luas dan panjangnya jauh dengan Niel, tapi eksotika Khour mengalahkannya. Gemerlap lampu menghiasi ruas sungai. Bangunan pencakar langit desain khas Timur Tengah menambah keelokan malam. Tidak terasa kami sudah sampai di Shiriej Street. Berjalan di tepi sungai Khour sungguh menakjubkan. Menikmati indahnya awal malam Ramadhan. Kupandangi air sungai Khour, terlihat pantulan kilauan resonansi sinar-sinar lampu yang mempesona. HP-ku berdering dengan dari

ring-tone
Neng

"'As'adallh setelah

Messak..."

Lagi-lagi!

panggilan

Nesya,

sebelumnya sudah tujuh kali missed call. Kok tumben, Neng Nesya menelpon, ada apa? Kutekan tombol hijau untuk menerima panggilannya. "Assalamu'alaikum" sambutku dengan senyuman.

"Wa'alaikum salam" jawab Neng Nesya di balik speaker


yang penuh kelembutan dan aura.

181
La Tayasu

"Padheh sae-an ghi neng?31" Tanyaku.


"Alhamdulillah, kalau akhi sae juga kan?" "Alhamdulillah, kullu syai' tamm!" "Akkk hhhh iii akhi..." suaranya terputus dengan isak tangisnya. "Ada apa, Neng?" Tanyaku dengan penuh tanda tanya, kelembutan dan perhatian. "Kemarin, ketika abah menjemputku dari Singosari Malang, waktu itu perjalanan pulang ke Pamekasan. Abah membicarakan sesuatu yang tidak kita inginkan..." terangnya dengan sedikit menahan isak tangisannya. "Kalau boleh tau membicarakan tentang apa neng?!" Tanyaku dengan mengerutkan kedua alis hitamku. "Saya sangat kecewa sekali sama Abah!!!" kembali terdengar isak tangisnya. "Kenapa neng?" Tanyaku penuh kelembutan. "Aku mau ditunangkan dengan putra kiai Al-Mishbah" terangnya kembali dengan isakan airmata. Hatiku bimbang. Hatiku teriris. Hatiku terpukul setelah mendengarkan hal itu. Aku berusaha menenangkan diriku. Sekitar
31

Bagaimana kabarnya neng?

182
La Tayasu 10 detik aku terpaku diam seribu bahasa. Hanya terdengar isak tangis kesedihannya. "Neng.. kauleh32 mencintai ajunan33 karena Allah, dan Abah ajunan juga sangat menyayangimu karena Allah. Saya yakin pilihan kiai itu yang terbaik untuk masa depan ajunan, pesantren dan bangsa," ucapku tegar, meskipun lidah ini berat mengucapkannya. Kembali kami diam seribu bahasa, hanya suara isakan airmatanya yang terdengar. "Tidak, Akh.. . Aku tidak bisa menerima ini semua!!! Bukankah ikrar cinta kita sudah termaktub dalam sanubari kita!! Kenapa semua ini terjadi pada kita, Akh..," ungkapnya penuh kekecewaan. "Ukhti.. bukankah Allah berfirman "Wa 'as an takrah

syaian, wa huwa khoirun lakum, wa 'as an tuhibb syaian wa huwa syarrun lakum...34"
pulsanya habis. "Ilham, kenapa matamu berkaca-kaca? Siapa yang nelpon?" Tanya Ihyak penuh perhatian. "Gak apa-apa?"
32 33 34

tiba-tiba panggilannya terputus, mungkin

Kauleh: Saya Ajunan: Kamu QS. Al-Baqarah: 216

183
La Tayasu "Ada masalah tah? Mungkin saja saya bisa bantu!" Pintanya penuh perhatian. "Ayo kita belanja bahan untuk sahur dulu, ke Mustahlek. Setelah itu kuceritakan semuanya!" Ajakku dengan tegar, sembari mengusap kedua mataku dengan lengan gamisku. "Sippp yall!!!" Responnya, sambil menuju pintu utama Mustahlek yang sudah ada di depan mata. *** Setelah membeli bahan-bahan untuk sahur nanti, kami membeli 2 buah mushakkal35. Dan duduk santai di muara Khour; tempat bertemuanya sungai Khour dan laut semenanjung Arab. Tampak samudera luas membentang di depan kami. Hanya terlihat lampu kapal Kargo menghiasi luasnya laut Arab. Dari pojok batu karang muara Khour, kami duduk memandang titik cahaya lampu kapal Kargo itu, dan menikmati mushakkal yang kami beli di Mustahlek. "Ilham.. Ladzd36 ya ice creamnya" ucap Ihyak, berusaha menghiburku. "Ya" ketusku.

35

Mushakkal: Minuman ala Timur Tengah, komposisinya cream, susu, gula, ekstrak buah, minyak nabati dan madu.
36

Ladzd: Lezat

184
La Tayasu "Oh ya kamu sebenarnya ada masalah apa ham?" Tanyanya penuh perhatian. "Gak apa-apa" "Kamu tadi sudah janji mau cerita" pintanya.

"Indnsy.. Indnsy.. Indnsy.." terdengar teriakan


dua orang Arab bertubuh tegak, kekar dan gelap bersenter menghampiri kami. "Wah, Polisi, Ham!" Ihyak kaget. "Y Indnsy isy ta'mal?37" Bentak kedua polisi itu.

"Ma syi ya blis38" jawabku kaget menoleh ke belakang,


yang semula pandangan bebas ke laut Arab.

"Yall.. Il sijn, inta mujrim! 39" Kembali dengan bentakan


kerasnya.

"La.. m 'amiln syai'!40" Jawabku kaget. "Yall ila sijn!" bentakannya.

37 38 39

Y Indnsy isy ta'mal?: Hai, orang Indonesia, apa yang kamu lakukan? Ma syi ya blis: Pak polisi, kami gak ngapain. Yall.. Il sijn, inta mujrim!: Ayo ikut kami ke penjara, kalian telah melakukan kriminalitas! La m 'amiln syai'!: Tidak!.. Kami tidak berbuat apa-apa!

40

185
La Tayasu Kami tidak bisa melawan dan dua polisi menyeret kami ke kantor polisi. *** Pengap, gelap dan hampa, begitulah suasa penjara di Yaman, sangat jauh sekali dengan penjara di Indonesia. "Ilham! Yang sabar ya!" Ihyak menghampiriku dengan menepuk pundakku yang duduk berlutut dengan isakan tangis. "Kenapa ini terjadi kepada kita? Hatiku hancur setelah tadi menerima telepon dari Neng Nesya, sekarang kita ditangkap di penjara kumuh ini!" Jelasku dengan tetesan airmata jatuh ke lantai penjara yang berdebu. "Kenapa dengan Neng Nesya?" Tanyanya penuh syahdu. "Ia ditunangkan," kembali airmataku menetes ke lantai penjara yang penuh debu. "Yang sabar ya... Allah menciptakan ujian ini, untuk mengangkat derajat makhluk-Nya. Jika sabar dan bijak dalam mengatasi masalahnya." Terangnya, aku hanya menganggukkan kepalaku. "Ayo kita tayammum setelah itu salat, meminta petunjuk kepada-Nya. Semoga masalah kita terselesaikan dengan baik," ajaknya dengan menarik kedua tanganku dengan lembut. Keesokan harinya, akhirnya kami dibebaskan dengan bantuan Presiden PPI Yaman, AMI al-Ahgaff dan Musyrif. Setelah klarifikasi kami ditangkap gara-gara masuk area terlarang, muara sungai Khour termasuk area terlarang untuk

186
La Tayasu warga Yaman dan warga asing, karena sangat berbahaya; batu karang yang licin sehingga kemungkinan terjadi kecelakaan dan jatuh ke muara sungai Khour sangat besar, ditambah arusnya tidak beraturan. *** Bulan yang penuh rahmat, ampunan dan hikmah. Masalah tidak bisa dihindari oleh setiap insan, namun bagaimana kita menyikapi masalah itu dengan baik? Kembali kubuka notebook-ku dan kutemukan kalam mutiara Imam Al-Haddad;

Al-Ifrth f mahabbati al-dunya taghayyara al-'aqla wa al-dn, lianna thab'ah al-iskru; beliau menjelaskan kepada kita
bahwa barang siapa yang berlebih-lebihan dalam mencintai dunia, maka dapat mengubah cara berfikir dan keyakinan agamanya, karena dunia memabukkan. Berlebih-lebihan di sini adalah merasa senang ketika memilikinya, dan sedih ketika lenyap dari tangannya. Kubaca dalam hati, kitab Majlisu al-Haddd dalam format pdf. Kudekati jendela flatku. Kutatap bintang yang menghiasi indahnya malam Ramadhan. Hilal tampak di ufuk barat membias diantara aura Venus. "L tayas!" kembali terlintas di saraf otakku, kenapa aku masih memikirkan kata-kata Neng Nesya itu? Ia kan udah punya tunangan! Ku coba hilangkan stigma tentangnya. Kurenungi kalimat indah itu, mengubah degan opini positif.

187
La Tayasu Meskipun aku pernah kecewa terhadapnya, tapi aku tidak akan pernah mengecewakannya.

"L

tayas!"

jadikanlah

masalah

sebagai

inovator

kesuksesan kita! "L tayas!" jadikanlah cobaan sebagai inspirator perjalanan kita. Bismillah, dengan "Wa l tayas min rauhillh!41" kita raih bintang kesuksesasan di dunia dan akhirat!

41

QS. Yusuf:87 Artinya: Jangan putus asa dari rahmat Allah!

* Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman

188 Kumpulan Puisi Islami

AL MUSTHOFA
Burhan khoiruddin
*

Muhammad Engkau pemimpin jagad raya Suara bagai emas intan permata Pembuka mendung kegelapan fana Saat manusia haus hujan kebenaran nyata Muhammad Pancaran sinarmu menerangi dunia Laksana bulan purnama di kegelapan durjana Langit bumi rindu akan kehadirannya Berebut memohon kehadirat Alloh Ta'ala Muhammad Nama indah dipuja-puja Gemuruh angin menyair akan namanya Langit terbuka saat mereka harumnya Bumi bergoyang gembira menyambutnya Ya Ilahana, cucurkan rahmatmu pada hamba Lilitan dosa yang tak terhingga kadarnya Alirkan jiwaku tuk menggapai cinta Muhammad di hati sepanjang masa

Penulis Adalah Pelajar Darul Idrus, Tareem, Hadromaut, Yaman.

189 Kumpulan Puisi Islami

MENGAPA
By: Abdullah Ahid
*

Mengapa? Kau cela pengamen yang meminta-minta Padahal kau nikmati lagu dengan suaranya Kau hina dia yang tak bekerja Sedang satu lapangan kerja pun tak diperolehnya Kau hajar dia kala mencuri Entah pengganjal perut telah ia dapati Mengapa? Kau remehkan tukang bengkel dengan profesinya Sementara tanpa dia kendaraanmu tak kunjung sempurna Kau sepelekan seorang yang berusaha Bilamana motormu normal siapa yang laba
*

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 5 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman

190 Kumpulan Puisi Islami

By: Faqih Ahmed

Bak burung berkecapi merdu Dalam bilik-bilik menggema ayat syahdu Halaman memori mengingat lewat kalbu Akan mengangkat mereka hingga ke hulu Memberkahi sepuluh arwah merindu

Alif Laam Ra Menjagamu seperti kau menjaganya Tiada upah dalam jiwa dahaga Karena janji kasih kan tumpah di alam baka

Merpati-merpati surga
*

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman

191 Kumpulan Puisi Islami


Kaulah pilar-pilar dunia Melebur ketika kau tiada Jauhlah fana dirundung marabahaya Cahaya Tuhan terhimpun bersahaja Di jiwamu yang harum semerbak cinta Kasih Rahman semilir air bahtera Hingga kau terbang oleh takdir Yang Esa Mengubah rahmah menjadi murka

Berlalulah memberi benderang Untuk kami siramkan hati nan tenang Agar bumi basah penuh kembang Iring mengingat lafal yang agung Menyertai payung milik utusan Maha Pelindung Pada dataran yang menjulang kian melambung.

192 Kumpulan Puisi Islami

Syetan Tak Pernah Lelah Menggoda


By: Syaiful Bahri
*

Ketika matahatiku mampu menjaga Ternyata jasa dini tak berdaya Ketika jasad gagah menolaknya Hatiku lemah dan begitu hina

Tatkala jasad dan hati telah terjaga Rasa bangga menghampiri Dengan rupanya yang memuji Padahal liciknya ia ingin menjerumuskan diriku

Selalu dalam ancaman, tipu daya Kegelisahan hati dan jasad Kebohongan pikir dan harap Semua takkan pernah berakhir kecuali izin-Nya
*

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 3 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

193 Kumpulan Puisi Islami

Tangis mata dan getar hati Beku tak dapat menghasilkan kehidupan nyata Kemanakah dirimu, sampai kapankah tertipu...??? Padahal matahari sudah tak lama lagi akan berubah arah terbitnya.

194 Kumpulan Puisi Islami

Aziz Ibrahim*

Andaikan aku malaikat, Mungkin aku anti dengan maksiat. Andaikan aku malaikat, Kalimat tasbih terus selalu ku ucap. Andaikan aku malaikat, Mungkin aku tak banyak meminta segala macam nikmat. Tapi aku bukan malaikat, Aku manusia yang butuh rahmat. Aku manusia yang menginginkan syafaat. Salahkah jika aku meminta taubat..?

195 Kumpulan Puisi Islami

Aziz Ibrahim

**

Inginku, Mengecup lembut kasih tanganmu, Menggenggam mesra hangat perhatianmu. Inginku, Bersujud di tiap jejak sejarah kakimu, Menunduk patuh nasehat sucimu. Inginku, Mendekap erat semangat tubuhmu, Memeluk hormat keringat juangmu. Dan inginku lagi, Mengucap maaf di kerajaan pangkuanmu. Untukmu, Ayah dan Ibu. Maafkan kelemahan anakmu.
*,** Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Al-Qur'an Hudaedah, Yaman.

196 Kumpulan Puisi Islami

By: Faqih Ahmed

Bagai sebongkah genangan air Ke arah mana aku kan mengalir Sekelilingku menjulang liar Berkampanye aliran indah namun samar Bak Nabi-Nabi yang kembali terhampar Hati, bagaimana aku kan mengalir? Khayalku merayap di perbukitan mereka Menyelam dalam lambaian aroma surga Hingga api berceloteh seakan semua nyata nan baka Tidak, airku tidak pernah diperintah tuk melata Mendaki kehidupan yang semakin binasa Bukit itu berfatwa kedamaian Julangan itu berseru persamaan Gundukan melukis jalanan Fatamorgana kulitku beterbangan Selalu saja hatiku dibuat resah pikiran dilumuti gelisah Lama sudah aku bertikarkan tanah Di atas pori-pori, mengapa aku lupa dengan sajian ini
*

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

197 Kumpulan Puisi Islami Sebagai jalan suci seperti yang Dia kehendaki Biarlah titian menghirup jasadku Walau terik mentari membakar usiaku Meski ludah dahaga melumuri wajahku Tentu Tuhan melihat aku malaikat Yang karena aku, alasku menjadi subur Karena uapku, ranting-ranting menjari rindang Lalu jemari sungai merambat hingga pangkal Mengantarkanku beralamkan rona langit biru Bercengkrama dengan ikan dan permata dalam lautan surga Menuai janji Tuhan karna aku adalah sabda Yang berjuang dengan hampa akan murka-Nya

Diilhami dari para pemuda yang kehilangan lentera kehidupan mereka.

198 Kumpulan Puisi Islami

SUJUDLAH
By: Syaiful Arif**

Sementara pagi tak ucapkan salam Bercumbulah dengan kokok ayam malam ini Mungkin Tuhan menjabat tanganmu Jiwa suci akan bersujud ke arah kiblat Sebut namamu dalam rintih tangis kehambaannya Sampaikan salammu pada Tuhan Gontai langkahmu tak akan tertatih-tatih Sedangkan sayap-sayap itu menembus Langit ketujuh berkata Tuhan Tuhan Tuhan

-Sujudlah!!! Malam ini sang nabi berada di pintu hatimu


*

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

199 Kumpulan Puisi Islami Melantunkan nyanyian-nyanyian firdaus

-Sujudlah!!! Malam ini kerikil-kerikil itu sudah menjamah Tiang-tiang Arsy. Barangkali mentari tak akan terbit esok hari.

200 Kumpulan Puisi Islami

Di Sepertiga Malam yang Terbuang


By: Khalid *

Masihkah kau, berdendang dan menari dalam lagu dan irama musik dzikir yang sepi. Engkau seperti tidak lagi mendengar . Tegur-sapa pun tak pernah kau jawab. Dzikir, Dzikir yang dulu lekat di bibirmu itu. Kulumlah lumat dan telanlah. Telanlah dzikir sampai kedalaman perut dan cernalah. Hingga baur ia terusung oleh segenap aliran darah. Menyelami kedalaman hati. Menapaki pikiran. Mengurai kata-kata. Sujud... Angkat, Tinggikan ia menembus ubun-ubun. Terbangi langit-langit karomah. Peluklah rembulan. Petiklah bintang. Hiaskan matahari pada pagi dan siang nanti.
*

Penulis Adalah Mahasisa Darul Ulum, Hudaedah, Yaman.

201 Kumpulan Puisi Islami Sepi malam ini apakah telah menegurmu. Sampai sapaanmu menghampiriku. Wahai, engkau yang terlalu dalam tenggelamkan diri di jerit malam. Hentilah menyayat ruh, jiwa dan raga diri.

202 Kumpulan Puisi Islami

AYAHKU SEORANG PETANI BERHATI SUCI


Muhammad Bachtiar Aly Basya
*

Kutatap matanya tajam pandangannya menusuk sukma.. Ku pegang tanganya kuat dan keras seperti baja.. Hitam kulitnya tapi sangat suci dan tulus hatinya Tak lagi muda tapi keriput tak pernah mematahkan semangatnya.. Sudah memutih semua rambut di tubuhnya.. Tapi sekalipun tak pernah ku dengar keluh kesahnya Demi anak-anaknya ia korbankan segalanya.. Jiwa, raga, bahkan kehormatan terkadang ia tanggalkan.. agar kelak meraka tak lagi senasib seperti dirinya.. Dipermainkan waktu dan ditelantarkan kemiskinan Dibodohi zaman dan dikebiri pemerintahan Tapi keimanan dan ketaqwaan tetap ia jaga Karena hanya itu satu-satunya cara agar dia bahagia
*

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

203 Kumpulan Puisi Islami

Memang ayahku hanya seorang petani biasa.. Yang hanya bisa membaca dan berhitung sederhana.. Tak mengerti trigonometri apalagi rumus integral dan turunan.. Tak mengikuti sejarah renainsance apalagi teori pascal.. Ya dia hanya seorang petani biasa Yang hanya berusaha, Agar padi di sawahnya tak dimakan hama.. Yang hanya meminta, hujan tahun ini tak lagi membanjiri dan membusukkan padi-padi Yang selalu berdoa, semoga pupuk urea tak lagi langka saat musim tanam tiba Yang selalu berharap, Semoga harga padi tak terjun bebas saat panen nanti

204 Kumpulan Puisi Islami

Syaiful Arif *

Di balik helai-helai selendang itu, hajar aswad dan multazam bercumbu dengan sang malaikat. Mendengarkan dialog sang Nabi dengan bebatuan. Di sanalah Jibril bermunajat kepada Tuhan - ya Tuhan, samina wa athona.

Lihatlah selendang itu kemudian ciumlah! Kamu akan mencium aroma darah Abbas dan bidadari-bidadari surga. Debu-debu yang dihempaskan itu bukanlah debu, melainkan permata surga yang seraya bertasbih memuja Tuhan di pertengahan malam.

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 4 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Tareem, Hadromaut, Yaman.

205 Kumpulan Puisi Islami

Jejak kaki sang Nabi itu melukiskan peta firdaus. Maka di sanalah kamu akan menemukan jalan lurus yang dicari oleh bapakmu.

Kecuplah kening sang Nabi itu! Pepohonan juga akan mengecup kaki dan tanganmu. Menangislah di hadapannya dan usaplah air matamu dengan selendangnya!

Sang Nabi itu akan mengusap air matamu dengan tangannya yang selembut sutera. Selendang itu terlampau besar untuk kau kenakan. Usaplah dadamu dengan selendang itu. Matahari akan bersemayam di hatimu.

206 Kumpulan Puisi Islami

KUASA ALLOH
Burhan Khoiruddin*

Gunung tegak tanpa goyang lala Tiupan angin tanpa atsar manusia Langit terbang tanpa tiang baja Bumi menebar tanpa alas berkaca Malam berganti siang, siang pun tenggelam Matahari berputar dengan indahnya alam Bulan bercahaya menerangi dunia fana Bintang berkilauan menghiasi awan di angkasa Air sumber bergejolak tanpa diduga Lautan berdawai karang melambai Burung berkicau menebar pesona Pepohonan tumbuh merangkai makna Ingat kuasa-Nya di atas segala-galanya Pencipta makhluk alam semesta Sifat bangga adalah takhtanya Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Ta'ala

Penulis Adalah Pelajar Darul Idrus, Tareem, Hadromaut, Yaman.

207 Kumpulan Puisi Islami

Sadarkah
Ufi El_Moehtadie* Kau itu buta...... Kau itu tuli...... Kau itu bisu.....

Walaupun kau bisa melihat Walupun kau bisa mendengar Walaupun kau bisa berbicara

Karena kau menyia-yiakan waktu Karena kau lalai akan kewajibanmu Karena kau lupa akan dzat yang telah menciptakanmu.
*

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 1 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Mukalla, Hadromaut, Yaman.

208 Kumpulan Puisi Islami

Islam Digendong Dunia


Muhammad Abdul Muhith Al-Qudsy*

Aku geli. Hambar lalu muntah darah bernanah Tak lagi renyah dan lincah geraknya Sebatas fatamorgana yang berlalu Ajaran suci itu diperkosa Melahirkan anak durhaka tak berdosa Mereka antusias mencocol islam dan meramunya Lantas aku dicekok dengan sajiannya. Di ujung eropa langit terlihat hitam berarak bergeliat santun Pertanda alam kedholiman telah tiba Lantas. Menetes dan terus merintih bergetar tertarik Al-quran mereka setarakan syiir sepintas sastra katanya Gamis itu kolot tak lagi fashionable katanya Kerudung mereka tanggalkan, gerah panas katanya Wiskey lalu khomer sebuah jamu katanya
*

Penulis Adalah Mahasiswa S1, Tingkat 1 univ. Al Ahgaff, fak. Syariah, Mukalla, Hadromaut, Yaman.

209 Kumpulan Puisi Islami

Tak malu Zina yang bengis berubah menjadi tradisi Pamer kemolekan berubah menjadi revalitas ketat Lantas harta dikeruk bak Raja Namrud Ha..ha ha ha.. di temaram malam gelegar si bengis Lalu berbisik: hunian neraka bersama biduan cantik Lalu jual es celetuknya Lalu jual kopi di surga tambahnya Biadab otaknya! Islam itu digendong dan dibopong ramairamai ke dunia Jangan katakan tak rela Sadar lalu ke mana kita

210 Kumpulan Puisi Islami

DAHULU dan SEKARANG


By: Aziz Ibrahim *

Dahulu bocah ingusan itu penakut. Dahulu bocah ingusan itu cengeng. Dahulu bocah ingusan itu banyak tingkah. Dahulu bocah ingusan itu lugu. Dan sekarang, Aku belajar berani dari kerasnya hidupmu. Aku belajar kuat dari pengorbananmu. Terimakasih Ayah Akulah bocah ingusan itu, Yang masih terus belajar mengenali hidup.

Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Al-Quran Hudaedah, Yaman.