1

PERAN AUDIT FORENSIK DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI
DI LINGKUNGAN INSTANSI PEMERINTAH
‘Suatu Tinjauan Teoritis’
Oleh: Purjono
Widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai
I. PENDAHULUAN
Korupsi di Indonesia sudah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Bila kita sering
membaca surat kabar atau melihat televisi, maka kita akan disuguhi banyak berita tentang kasus-
kasus korupsi yang telah melibatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, baik dijajaran
lembaga legeslatif, eksekutif bahkan yudikatif. Berbagai usaha telah dilakukan Pemerintah
Indonesia baik dengan memberdayakan secara maksimal lembaga-lembaga penegak hukum,
seperti Kejaksaan, Pengadilan, dan Kepolisian. Bahkan dalam dasawarsa terakhir Pemerintah
juga telah membentuk dan memberdayakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk
melakukan pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun sayangnya hasil yang di dapat masih
belum sesuai dengan harapan, di mana Indonesia masih menduduki 10 negara terkorup di dunia.
Mengapa hal ini terjadi?
Peran audit forensik dalam pemberantasan korupsi di Indonesia dari waktu ke waktu
semakin terus meningkat. Audit forensik banyak diterapkan ketika Komisi Pemeberantasan
Korupsi (KPK) mengumpulkan bukti-bukti hukum yang diperlukan untuk menagani kasus-kasus
korupsi yang dilaporkan kepada instansi tersebut. Audit forensik juga digunakan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK), Kepolisian, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP), serta Inspektorat Jenderal Kementerian untuk menggali informasi selama proses
pelaksanaan audit kecurangan (fraud audit) atau audit investigasi. Namun apakah audit forensik
yang telah diterapkan sudah cukup memadai? Artikel ini, melalui tinjauan secara teoritisnya, akan
mencoba untuk menjelaskan bagaimana peran audit forensik dalam pemberantasan korupsi di
instsnsi-instansi pemerintah.
II. PENGERTIAN AUDIT FORENSIK
Menurut Charterji (2009) Audit forensik (forensic auditing) dapat didefinisikan sebagai
aplikasi keahlian mengaudit atas suatu keadaan yang memiliki konsekuensi hukum. Audit forensik
umumnya digunakan untuk melakukan pekerjaan investigasi secara luas. Pekerjaan tersebut
meliputi suatu investigasi atas urusan keuangan suatu entitas dan sering dihubungkan dengan
investigasi terhadap tindak kecurangan (fraud), oleh karena itu audit forensik sering juga diartikan
sebagai audit investigasi. Audit investigasi itu sendiri merupakan salah satu metode di dalam audit
2
kecurangan (fraud audit), yaitu merupakan fraud audit yang pelaksanaannya setelah diketahui
(teridentifikasi) adanya kecurangan, misalnya korupsi.
Metode audit kecurangan yang lain adalah audit kecurangan yang bersifar proaktif (proactive
fraud audit). Proactive fraud audit dilakukan justru untuk menemukan adanya potensi kecurangan
yang dilakukan baik oleh pegawai sebagai oknum yang tidak bertanggung jawab maupun oleh
manajemen instansi itu sendiri. Jadi metode fraud audit ini tidak menunggu adanya informasi atau
pengaduan tentang adanya kasus kecurangan, tetapi secara aktif mencari fraud. Setelah suatu
kasus ditemukan, selanjutnya dilakukan audit investigasi atau audit forensik.
Bologna dan Linquist sebagai mana disitir oleh Tuanakotta (2010), menyatakan bahwa
dalam audit forensik biasanya tindakan fraud yang akan diinvestigasi sudah teridentifikasi
(diketahui), hanya bukti yang memadai secara hukum belum didapatkan. Oleh karena itu, di sini
para auditor hanya perlu mencari bukti-bukti pendukung yang kuat secara hukum.
Audit forensik meliputi prosedur-prosedur atau tahapan-tahapan tertentu yang dilakukan
dengan maksud untuk menghasilkan bukti. Di sini, teknik-teknik audit digunakan untuk
mengidentifikasi dan menggabungkan bukti-bukti guna membuktikan misalnya: Berapa lama fraud
telah dilakukan; Bagaimana cara melakukannya; Berapa besar jumlahnya; dan Di mana
dilakukannya dan oleh siapa.
Selain itu, bukti-bukti dalam audit forensik bisa juga dikumpulkan untuk mendukung isu-isu
lain yang relevan dengan kasus peradilan, seperti motif terdakwa dan peluang-peluang yang yang
menyebabkan dilakukannya tindakan fraud termasuk kolusi antara beberapa tertuduh.
III. JENIS-JENIS KECURANGAN (FRAUD)
Black Law Dictionary mendifinisikan fraud sebagai suatu kecurangan, baik dalam bentuk
penggelapan atau penipuan yang dibuat untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau untuk orang
lain. Lebih jauh Miqdad (2008) mengkategorikan tindakan ‘fraud’ ke dalam tiga kelompok, yaitu
korupsi, penggunaan aset yang tidak selayaknya (asset misappropriation), dan fraud atas
laporan keuangan (seperti menutupi atau menyimpangkan informasi penting yang dapat
menyesatkan dan merugikan pengguna laporan tersebut). Berikut penjelasan ketiga jenis ‘fraud’
tersebut.
Korupsi
Terdapat tiga jenis fraud ‘korupsi’: conflicts of interest (konflik kepentingan), bribery
(penyogokan), dan extortion (pemerasan). Riset menunjukkan bahwa korupsi meliputi sekitar
sepertiga dari seluruh ‘fraud’ (Miqdad, 2008). Pada fraud ‘conflict of interest’, pelaku fraud
menggunakan pengaruhnya untuk memperoleh keuntungan pribadi yang dapat merugikan
perusahaan atau pemerintah. Pelaku-pelaku fraud mungkin tidak menikmati secara finansial, akan
tetapi lebih kepada memperoleh keuntungan pribadi yang tidak tampak secara kasat mata sebagai
hasil dari situasi tersebut. Sebagai contoh, seorang manajer misalnya menyetujui gaji pegawai,
3
yang juga merupakan teman baiknya, secara tidak benar guna menjaga persahabatan, walaupun
biaya-biaya tersebut sebenarnya tidak dibenarkan.
Penyogokan adalah suatu usaha pihak ketiga (luar) menawarkan atau memberi uang atau
sesuatu yang bernilai kepada pejabat dengan maksud agar pejabat tersebut melakukan tindakan
sesuai keinginan orang yang menyogok. Di sini inisiatif timbul dari pihak ketiga, namun demikian
pejabat yang menerima uang atau barang berharga tersebut tetap secara hukum dinyatakan
bersalah. Bentuk fraud seperti ini biasanya cukup sulit diungkapkan, kecuali adanya pengaduan
atau tertangkap tangan.
Pemerasan adalah kebalikan dari penyogokan. Pemerasan terjadi ketika seorang pejabat
secara paksa meminta uang atau barang kepada pihak ketiga dengan menghambat atau tidak
memberi pelayanan sebagai mana semestinya, sampai pihak ketiga tersebut memberikan apa
yang diinginkan oleh pejabat tersebut. Di sini fraud timbul atas inisiatif dari pihak oknum pejabat
yang memberi pelayanan. Bentuk fraud seperti ini biasanya mudah terbongkar, karena pihak yang
merasa dirugikan tersebut akan mengadukan kepada pihak yang berwenang.
Asset misappropriation
Selama ini, fraud yang paling umum adalah jenis penggunaan aset yang tidak sebagaimana
mestinya, dan cukup banyak jenis fraud yang termasuk ke dalam kategori ini, sebagai contoh:
- Pencurian kas, seperti: mengambil fisik uang (uang kas kecil dari brankas); Pembayaran kas
kepada kreditur fiktif, kemudian uangnya diambil; Hasil penagihan dari debitur yang tidak
disetor ke kas; dan Pembayaran pegawai fiktif.
- Kecurangan dalam inventory, seperti: pencurian persediaan (inventory) perusahaan.
- Penggunaan aset yang tidak semestinya, seperti: menggunakan aset perusahaan untuk
kepentingan pribadi.
Kecurangan Laporan Keuangan
Kecurangan pelaporan keuangan adalah suatu jenis kecurangan yang menyebabkan
terjadinya kesalahan material pada laporan keuangan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara
menghilangkan transaksi, membuat transaksi palsu, pernyataan saldo akhir yang salah,
pengungkapan atas laporan keuangan yang tidak lengkap, atau penerapan standar yang salah
secara sengaja. Dengan tindakan-tindakan tersebut laporan keuangan menjadi bias yang bila
digunakan sebagai informasi untuk pengambilan keputusan akan dapat merugikan para pengambil
keputusan tersebut.
IV. PELAKSANAAN AUDIT FORENSIK
Proses pelaksanaan audit forensik, dalam banyak hal, sama dengan proses pelaksanaan
audit, tetapi dengan tambahan beberapa pertimbangan. Berikut adalah langkah-langkah audit
forensik secara umum dan singkat.
4
Langkah I: Menerima tugas
Auditor forensik pertama kali harus mempertimbangkan apakah dirinya memiliki keahlian dan
pengalaman yang dibutuhkan untuk menerima pekerjaan tersebut. Investigasi forensik bersifat
khusus, dan pekerjaan tersebut memerlukan pengetahuan tentang investigasi fraud dan
pengetahuan tentang hukum secara luas dan mendalam. Para auditor juga harus memperoleh
pelatihan di dalam melakukan teknik-teknik interviu dan interogasi, dan bagaimana menyimpan
bukti-bukti yang diperoleh secara aman. Auditor sebaiknya tidak memberikan jasa audit umum dan
investigasi forensik atas klien yang sama.
Langkah II: Perencanaan
Tim auditor harus berhati-hati dalam merencanakan pekerjaan audit forensik. Perencanaan
pekerjaan audit ini paling tidak harus mencakup hal-hal berikut:
- Mengidentifikasi jenis fraud yang terjadi, seberapa lama fraud telah berlangsung, dan
bagaimana fraud telah dilakukan, siapa pelakunya dan juga termasuk mengkuantifikasi
kerugian finansial yang diderita oleh klien dan mengumpulkan bukti yang akan digunakan di
pengadilan.
- Memberi saran untuk pencegahan terulangnya fraud.
- Mempertimbangkan cara terbaik mendapatkan bukti.
- Menggunakan teknik audit berbantuan computer, bila diperlukan.
Langkah III: Mengumpulkan Bukti
Dalam rangka mengumpulkan bukti yang lengkap, auditor (investigator) harus memahami
jenis fraud dan bagaimana kecurangan tersebut telah dilakukan. Bukti-bukti yang dikumpulkan
harus memadai untuk membuktikan identitas pelakunya, mekanisme pelaksanaan fraud, dan
jumlah kerugian finansial yang diderita. Hal penting yang harus dipikirkan adalah bahwa tim auditor
memiliki keahlian di dalam mengumpulkan bukti yang akan digunakan dalam kasus persidangan,
dan menjaga rantai pengamanan bukti-bukti hingga dikemukakan dalam persidangan.
Jika ada bukti yang belum dapat disimpulkan atau ada kejanggalan dalam rantai prosesnya,
maka bukti tersebut mungkin akan dimentahkan dalam persidangan, atau bahkan bisa menjadi
bukti yang melemahkan. Auditor juga harus diperingatkan bahwa kemungkinan bukti-bukti akan
diselewengkan (falsified), dirusak atau dihancurkan oleh tersangka.
Bukti dapat dikumpulkan dengan menggunakan berbagai teknik, seperti:
- Menguji pengendalian guna mendapatkan bukti adanya kelemahan (kemungkinan adanya
kecurangan);
- Menggunakan prosedur analistis (analytical procedures) untuk membandingkan tren dari
waktu ke waktu atau untuk memberikan gambaran tentang perbandingan antara satu
segmen bisnis dengan segmen bisnis lainnya dengan menggunakan teknik-teknik audit
berbantuan komputer.
5
- Teknik-teknik substantif seperti rekonsiliasi, kas opname, pemeriksaan fisik dan penelaahan
dokumen.
Tujuan akhir dari tim audit forensik adalah mendapatkan pengakuan dari pelaku fraud
(fraudster), bahwa suatu fraud benar-benar telah terjadi. Untuk alasan ini, para investigator
sebaiknya menghindari konfrontasi dengan tersangka hingga mereka telah mengumpulkan bukti
yang memadai untuk mendukung suatu pengakuan.
Langkah IV: Pelaporan
Klien akan mengharap bahwa laporan berisi temuan-temuan dari investigasi, termasuk
ringkasan bukti-bukti dan kesimpulan tentang jumlah kerugian sebagai akibat adanya fraud.
Laporan tersebut juga sebaiknya membahas bagaimana pelaku fraud merencanakan skema
pelaksanaan kecurangan, dan bagaimana pengendalian yang ada telah didobrak oleh pelaku
fraud. Selain itu, tim audit harus merekomendasikan perbaikan atas sistem pengendalian
organisasi untuk mencegah terjadinya kejadian fraud serupa di masa yang akan datang.
Langkah V: Tuntutan Hukum (Court Proceedings)
Investigasi di atas mungkin akhirnya akan sampai pada tuntutan hukum terhadap terdakwa,
dan anggota tim investigasi mungkin akan terlibat dalam proses pengadilan. Bukti yang
dikumpulkan selama investigasi akan dikemukakan di dalam pengadilan, dan anggota tim mungkin
akan dipanggil ke sidang pengadilan untuk menjelaskan bukti yang telah mereka kumpulkan dan
menjelaskan bagaimana terdakwa diidentifikasi. Sangat penting bahwa anggota tim investigasi
yang dipanggil ke depan pengadilan harus dapat menjelaskan bukti-buktinya secara jelas dan
profesional, dan menjelaskan secara sederhana masalah-masalah akuntansi yang begitu
kompleks agar para non-akuntan yang ada dipersidangan dapat memahami permasalahan dan
implikasinya.
V. IMPLEMENTASI AUDIT FORENSIK DI LINGKUNGAN INSTANSI PEMERINTAH
Sebagai mana telah dijelaskan di muka, di lingkungan instansi Pemerintah, fraud dapat
dilakukan baik oleh oknum pegawai (baik atas inisiatif sendiri atau bekerja sama dengan pihak
ketiga) maupun manajemen instansi. Oleh karena itu, bagian ini akan mengkaji secara konseptual
(teoritis) tentang kemungkinan dapat diimplementasikannya audit forensik baik terhadap oknum
pegawai atau manajemen instansi.
a. Fraud yang dilakukan oleh oknum pegawai
Secara umum, di setiap instansi pemerintah dapat terjadi adanya tindakan-tindakan fraud
yang dilakukan oleh oknum pegawai instansi yang bersangkutan, baik dalam bentuk Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme (KKN). Dalam hal terkait dengan belanja, fraud bisa terjadi pada saat
pengadaan barang. Di sisi lain di bidang pelayanan, bentuk ‘fraud’ yang dilakukan oleh oknum
6
pegawai dapat berupa tindakan pemerasan maupun pencurian aset organisasi. Pemerasan dapat
dilakukan dengan meminta sejumlah uang atau barang tertentu secara paksa kepada mereka
yang dilayani. Bila tidak diberikan, maka oknum tersebut menghambat proses pelayanan.
Selama ini penangananan masalah fraud yang dilakukan oleh oknum pegawai, hanya
bersifat reaktif. Baik unit pengawasan internal instansi, misalnya inspektorat jenderal kementerian,
maupun unit-unit pengawasan eksternal seperti BPKP atau BPK. Unit-unit pengawasan tersebut
umumnya akan bertindak (melakukan audit forensik) setelah adanya pengaduan dari masyarakat
atau pihak-pihak yang dirugikan. Sehingga sangat sedikit sekali kasus-kasus korupsi yang dapat
terjaring hukum.
Penangananan fraud seperti di atas akan memberikan kesan adanya ‘tebang pilih’
penangananan kasus, bahkan akan dapat menimbulkan adanya pergesekan-pergesekan
kepentingan di antara pegawai, sehingga menciptakan lingkungan yang kurang kondusif untuk
pencapaian kinerja instansi. Oleh karena itu penting bagi setiap instansi untuk mengefektifkan unit
pengawasan internalnya guna melakukan audit kecurangan secara proaktif, dan menindaklanjuti
dengan audit investigasi atau audit forensik atas fraud yang telah teridentifikasi. Selain itu, agar
lebih efektif, maka unit pengawasan internal instansi juga harus memiliki personel-personel yang
mampu melakukan audit kecurangan atau audit forensik.
b. Fraud yang dilakukan melalui kerjasama antara oknum pegawai dengan pihak ketiga.
Jenis fraud ini paling sulit diidentifikasi dan diinvestigasi. Biasanya kerjasama yang dilakukan
antara oknum pegawai dengan pihak ketiga tidak akan atau sedikit meninggalkan jejak, sehingga
memerlukan ketelitian yang sangat tinggi dari para auditor forensik. Di samping itu,
penangananan kasus seperti ini juga sangat membutuhkan adanya kerja sama antar unit
pengawasan internal dengan unit-unit lain yang terkait guna menjaring adanya kolusi antara
oknum pegawai dan pihak ketiga. Dengan diperolehnya informasi dari unit lain tersebut
selanjutnya unit pengawasan internal dapat melakukan audit investigasi atau audit forensik.
c. Fraud yang dilakukan Manajemen
Fraud yang dilakukan oleh manajemen (pimpinan) dapat berupa tindakan korupsi, kolusi
maupun nepotisme. Selain itu manajemen juga dapat melakukan fraud berupa asset
misappropriation atau menyajikan laporan keuangan/laporan kinerja yang menyesatkan.
Berkaitan dengan fraud yang dilakukan oleh manajemen, unit pengawasan internal instansi
biasanya akan mengalami banyak kesulitan (hambatan) dalam mengungkap adanya Fraud yang
dilakukan oleh manajemen instansi tersebut. Sebagai bawahan dari pimpinan instansi, tentunya
independensi dari unit pengawasan internal tersebut diragukan. Dengan kata lain sangat sulit bagi
auditor-auditor unit pengawasan internal untuk bekerja secara obyektif di dalam mengungkap fraud
yang dilakukan pimpinan. Sering kali, bahkan mereka mendapat ancaman dari pimpinan,
seandainya berani mengungkapkan fraud yang dilakukan oleh pimpinannya.
7
Untuk mengatasi hal di atas, Pemerintah dapat memberdayakan unit-unit pengawasan
ekternal instansi, seperti BPKP dan BPK, untuk melakukan audit kecurangan secara proaktif yang
dilanjutkan dengan audit investigasi atau audit forensik bila menemukan adanya indikasi fraud
yang dilakukan manajemen. Agar memberikan efek jera, maka penangananan law enforcement
atas kasus fraud yang diperoleh harus dilakukan secara serius oleh melalui sistem peradilan yang
adil dan transparan.
VI. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa audit forensik atau audit investigasi adalah merupakan suatu jenis
penugasan khusus, yang membutuhkan anggota tim auditor dengan keahlian yang tinggi yang
telah memiliki pengalaman tidak hanya pada bidang akuntansi dan teknik-teknik audit, akan tetapi
juga pengetahuan di bidang hukum yang relevan.
Banyak sekali jenis-jenis ‘fraud’ dimana auditor forensik dapat diminta untuk
menginvestigasinya. Di lingkungan instansi-instansi pemerintah, tindakan-tindakan kecurangan
bisa dilakukan oleh baik oleh oknum pegawai maupun manajemen instansi.
Implementasi audit foreksik dilingkungan instansi pemerintah, masih dilakukan secara
terbatas pada fraud yang dilakukan pegawai, sedang untuk fraud yang dilakukan manajemen tidak
dapat dilakukan oleh unit pengawasan internal instansi. Unit pengawasan eksternal instansi
(seperti BPKP dan BPK) juga masih sangat jarang melakukan audit forensik secara proaktif
terhadap manajemen instansi. Di banyak kasus audit forensik yang dilakukan masih didasarkan
kepada adanya pengaduan dari masyarakat atau pihak ketiga yang merasa dirugikan.
Implementasi audit forensik/audit investigative memerlukan SDM dan infrastruktur yang
memadai. Untuk itu penting bagi unit-unit pengawasan instansi pemerintah memberikan workshop
atau pelatihan-pelatihan bagi auditor atau pemeriksa yang ada di unit pengawasan masing-
masing.
Investigasi kemungkinan akan menghasilkan tuntutan hukum kepada satu atau beberapa
tersangka, dan anggota-anggota tim auditor investigasi harus dapat dengan baik menjelaskannya
di muka pengadilan guna menjelaskan bagaimana investigasi dilakukan, dan bagaimana bukti-
bukti telah dikumpulkan.
8
DAFTAR PUSTAKA
Black Law Dictionary, Second Edition, 1910, diunduh dari ‘Black World Freemen Society.org,
tanggal 30 September 2011.
Charterji AN, 2009, Forensic auditing, diunduh dari, tanggal 1 Oktober 2011.
Tuanakotta, Theodorus M, 2010, Akuntansi Forensik dan Audit Investigasi, Edisi II, Salemba
Empat, Jakarta.
Purjono dan Wisnu Nuryanto, 2011, Modul Fraud Auditing Workshop Ketua Auditor, Pusdiklat Bea
dan Cukai, Jakarta.
Purjono dan Adang Karyana, 2011, Peran DJBC Sebagai Community Protector dalam Rangka
Importasi Precursor, Kajian Akademis di Lingkungan BPPK Tahun Anggaran 2011.
Miqdad, Muhammad, 2008, Mengungkap Praktik Kecurangan (Fraud) pada Korporasi dan
Organisasi Publik melalui Audit Forensik, Jurnal Ekonomi, Volume 3, Nomor 2, Mei 2008.
Wilkipedia, diunduh dari en.wikipedia.org, tanggal 30 September 2011.