BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pneumoperitoneum merupakan keadaan di mana terdapat udara bebas dalam ruang peritoneum. Lebih dari 90% penyebab pneumoperitoneum adalah perforasi saluran pencernaan, seperti lambung dan duodenum akibat ulkus peptikum. Penyebab lain pneumoperitoneum antara lain pecahnya divertikulum, trauma tumpul abdomen, ulkus jinak, dan tumor (Khan, 2011). Pneumoperitoneum dapat mengakibatkan berbagai manifestasi klinis, seperti gejala peritonitis, kaku perut, nyeri epigastrium, bahkan kondisi syok yang parah. Dalam kebanyakan kasus, pneumoperitoneum memerlukan eksplorasi bedah dan intervensi segera dan mendesak. Oleh karena itu, deteksi segera pneumoperitoneum dan penyebabnya dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian pada pasien (Breen et al., 2008; Daly et al., 1991). Deteksi pneumoperitoneum dapat dilakukan dengan pencitraan radiologi yang meliputi foto polos abdomen, ultrasonography (USG), computed tomography (CT) scan, dan magnetic resonance imaging (MRI). Gambaran radiologi dari pneumoperitoneum penting karena kadang-kadang jumlah udara bebas dalam rongga peritoneal yang sedikit sering terlewatkan dan bisa menyebabkan kematian (Churchill & Begg, 2006).

B. Batasan Masalah Referat ini akan membahas tentang pneumoperitoneum khususnya dari segi gambaran radiologis.

C. Tujuan Penulisan 1) Mengetahui tentang pneumoperitoneum dari definisi, etiologi, manifestasi klinis, penegakan diagnosa, dan pengobatannya. 2) Mengetahui gambaran radiologis pada pneumoperitoneum.

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Pneumoperitoneum Pneumoperitoneum adalah adanya udara bebas dalam ruang peritoneum yang biasanya terkait dengan perforasi dari usus kecil (Breen et al., 2008; Longo et al., 2008).

B. Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Pada permulaan, mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. Enteron di daerah abdomen menjadi usus. Kedua rongga mesoderm, dorsal dan ventral usus saling mendekat, sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritoneum (Churchill & Begg, 2006). Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3, yaitu (Churchill & Begg, 2006): 1. Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis (tunika serosa). 2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis.
3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis.

Gambar 1. Potongan transversal (kiri) dan sagital (kanan) dari abdomen dan pelvis yang menunjukkan refleksi peritoneum
2

Pada beberapa tempat. ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung. 6. seperti perforasi dari tabung nasogastrik atau dari ventilasi mekanis (Daly et al. Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum. 5. Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. Pada bayi yang lebih tua dan anak-anak. Akibat perlekatan ini. Etiologi Pneumoperitoneum Penyebab pneumoperitoneum sangat banyak dan bervariasi tergantung pada usia... 3. pengobatan steroid. 2006): 1. Duodenum terletak retroperitoneal. Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. ulkus stres. kolitis ulseratif dengan megakolon toksik. cecum terletak intraperitoneal. penyebab yang paling mungkin adalah perforasi lambung sekunder enterocolitis necrotizing atau obstruksi usus. infeksi pada peritoneum dengan organisme gas membentuk atau 3 . Silberberg. C. 1991. mungkin ada penyebab iatrogenik. Pada neonatus. Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal. penyebab terbanyak adalah trauma tumpul dengan pecahnya viskus berongga. trauma penetrasi. peritoneum visceral dan mesenterium dorsal mendekati peritoneum dorsal dan terjadi perlekatan. obstruksi usus). 4. penyakit Crohns. perforasi saluran pencernaan (dari ulkus lambung atau duodenum. Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum. dan akhirnya berada disebelah dorsal peritoneum sehingga disebut retroperitoneal. 2006). 2. dengan demikian (Churchill & Begg. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietal. Selain itu.Rongga tersebut disebut cavum peritonei.

Ventilasi tekanan positif .Transplantasi sumsum tulang 3.Pneumomediastinum/pneumotoraks .Paracentesis/peritoneal dialisis / laparoskopi . 1991. Abdomen .Endoskopi . Ruptur viskus berongga (yaitu perforasi ulkus peptikum. Female pelvis . Penyebab pneumoperitoneum Pneumoperitoneum dengan peritonitis Perforated viskus Necrotizing enterocolitis Infark usus Cedera perut Pneumoperitoneum tanpa peritonitis 1. necrotizing enterocolitis. 2008).pecahnya abses.Asma 2. trauma abdomen.Penyakit saluran napas obstruktif kronik . 2006. Penyebab utama terjadinya pneumoperitoneum adalah (Daly et al.Divertikulosis jejunum . Thoracic . atau mungkin karena masalah dada seperti pneumomediastinum (Silberberg. perforasi endoskopi. Pneumatosis intestinalis Tabel 1. paracentesis) 3.Pasca laparotomi . 2008): 1..Pneumatosis cystoides coli/ intestinalis .. megakolon toksik. penyakit usus inflamasi) 2. Longo et al.Instrumentasi (mishysterosalpingography.. Faktor iatrogenik (yaitu pembedahan perut terakhir. Longo et al.Uji Rubin) 4 . Infeksi rongga peritoneum dengan organisme membentuk gas dan atau pecahnya abses yang berdekatan 4. dialisis peritoneal.

2008. tetapi pasien mungkin mengalami 5 .Oro-genital intercourse . 2008). Penekanan pembuluh darah arteri meningkatkan afterload dan biasanya secara nyata mengakibatkan peningkatan SVR. Gejala Klinis Manifestasi klinis tergantung pada penyebab pneumoperitoneum. Patofisiologi Pneumoperitoneum Prinsip terjadinya respon patofisiologis ini adalah peningkatan resistensi vaskular sistemik (SVR). tekanan pengisian miokardium. fungsi dan komplians paru menurun dan dapat menyebabkan hipoksemia (Cunningham & Nolan.Post-partum . E. akhirnya akan menurunkan cardiac output (Adnyana & Priyambodo.Vagina douching . Peningkatan 4 kali lipat pada konsentrasi rennin dan aldosteron berhubungan dengan peningkatan MAP. 2006). Katekolamin. Pneumoperitoneum menyebabkan perubahan hemodinamik yang lebih besar karena meningkatnya SVR sehingga meningkatkan afterload. post-partum) .. Cunningham & Nolan.Senggama D.Pemeriksaan panggul (esp. Pneumoperitoneum dapat menyebabkan stimulasi sistem syaraf simpatis dan menstimulasi pengeluaran katekolamin yang akan menstimulasi fungsi renin dan aldosteron. dengan perubahan yang kecil dari frekuensi denyut jantung (HR). 2006). Pada pneumoperitoneum. Pneumoperitoneum juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen yang berhubungan dengan penekanan pembuluh darah vena yang awalnya menyebabkan peningkatan preload sesaat diikuti secara perlahan dengan penurunan preload. Penyebab yang ringan biasanya gejalanya asimtomatik. sistem renin angiotensin dan khususnya vasopressin semua dikeluarkan selama pneumoperitoneum dan mempunyai andil dalam meningkatkan afterload (Adnyana & Priyambodo.

2011. Paling tidak diambil 2 foto . Foto polos.Tanda dan gejala berbagai penyebab perforasi peritoneum mungkin seperti kaku perut. 2006). sela antara diafragma dan hati. 2011). anamnesis menyeluruh dan pemeriksaan fisik tetap yang paling penting dalam menegakkan diagnosa pneumoperitoneum. Silberberg P. maka pasien ditempatkan di sisi kanan posisi dekubitus dan udara dapat dilihat sela antara hati dan dinding perut.CT dapat memvisualisasikan jumlah ≥5 cm³ udara atau gas (Khan. tidak ada bising usus. Diagnosis Temuan gas bebas intraperitoneal biasanya diasosiasikan dengan perforasi dari viskus berongga dan membutuhkan intervensi bedah dengan segera. Pencitraan 1) Gambaran foto polos radiologis Teknik radiografi yang optimal penting pada kecurigaan preforasi abdomen. jika benar dilakukan. 6 .. 2011). Cara terbaik untuk mendiagnosis udara bebas adalah dengan cara foto polos Thorax erect. meliputi foto abdomen posisi supine dan foto Thorax posisi erect atau left lateral dekubitus. Fuller MJ. dapat mendiagnosa udara bebas di peritoneum. nyeri epigastrium atau jatuh pada kondisi shock yang parah (Silberberg. Udara bebas walaupun dalam jumlah yang sedikit dapat terdeteksi pada foto polos. Pasien tetap berada pada posisi tersebut selama 5-10 menit sebelum foto diambil (Khan AN.CT dianggap sebagai standar kriteria dalam penilaian pneumoperitoneum. Jika foto polos Thorax erect tidak dapat dilakukan. G. 2006. Computed Tomography bahkan lebih sensitif dalam diagnosis pneumoperitoneum. tergantung pada perkembangan selanjutnya bisa berupa peritonitis. Udara akan terlihat tepat di bawah hemidiaphragma. F.nyeri perut samar akibat perforasi viskus perut.

rujuk gambar 3. Juga bisa tampak area lusen bentuk oval (perihepatik) di anterior hepar. berbagai gambaran radiologi dapat terlihat yang meliputi Falciform Ligament Sign dan Rigler`S Sign (Khan. Foto abdomen posisi supine. Fuller. 2011). 2011. Pada proyeksi abdomen supine.Gambar 2. Posisi ini dapat digunakan untuk setiap pasien yang sangat kesakitan (Fuller. terdapat gambaran udara (radiolusen) berupa daerah berbentuk bulan sabit (Semilunar Shadow) diantara diafragma kanan dan hepar atau diafragma kiri dan lien. Proyeksi yang paling baik adalah lateral dekubitus kiri. dimana udara bebas dapat terlihat antara batas lateral kanan dari hepar dan permukaan peritoneum. foto dada posisi erect dan left lateral dekubitus (LLD) Pada foto polos abdomen atau foto toraks posisi erect. Pada posisi lateral dekubitus kanan. didapatkan radiolusen antara batas lateral kanan dari hepar dan permukaan peritoneum. 2011). Pada posisi lateral dekubitus kiri. tampak Triangular Signseperti segitiga yang kecil-kecil dan berjumlah banyak karena pada posisi miring udara cenderung bergerak ke atas sehingga udara mengisi ruang-ruang di antara incisura dan dinding abdomen lateral. 7 .

gambaran triangular). Kanan: Gambaran linier (anterior subhepatic space air) Gambar 4. Kiri: Posisi Lateral dekunitus kiri. Terdapat udara bebas diantara dinding abdomen dengan hepar (panah putih). Ada cairan bebas di rongga peritoneum (panah hitam).Gambar 3. Kanan: Foto anterior ke permukaan ventral dari hepar Tanda peritoneum pada foto polos diklasifikasikan menjadi pneumoperitoneum dalam jumlah kecil dan pneumoperitoneum dalam jumlah 8 . Kiri: Foto posterior subhepatic space air (Morrison’s pouch.

9 . Urachus memiliki opasitas yang sama dengan struktur jaringan lunak intraabdomen lainnya. Khan. gambaran urachus (kanan) d) Ligamen umbilical lateral yang mengandung pembuluh darah epigastrik inferior dapat terlihat sebagai huruf ‘V’ terbalik di daerah pelvis sebagai akibat pneumoperitoneum dalam jumlah banyak. Dasar urachus tampak sedikit lebih tebal daripada apeks. c) Urachus merupakan refleksi peritoneal vestigial yang biasanya tidak terlihat pada foto polos abdomen. Churchill & Begg. b) Gas-Relief Sign.yang biasanya menggambarkan pengumpulan udara di dalam kantung dalam jumlah besar sehingga udara tampak membungkus seluruh kavum abdomen. Urachus tampak seperti garis tipis linier di tengah bagian bawah abdomen yang berjalan dari kubah vesika urinaria ke arah kepala. udara tampak melapisi urachus. tapi ketika terjadi pneumoperitoneum. Rigler Sign (tengah). dan Double Wall Sign yang memvisualisasikan dinding terluar lingkaran usus disebabkan udara di luar lingkaran usus dan udara normal intralumen. 2011. 2011): a) Football Sign. Football sign (kiri). Rigler Sign. Gambaran pneumoperitoneum dengan udara dalam jumlah besar antara lain (Fuller. Gambar 5.besar yang dengan >1000 mL udara bebas. mengelilingi ligamen falsiformis sehingga memberi jejak seperti gambaran bola kaki. rujuk gambar 7. 2006.

the sign Cupola (kanan) h) Udara di dalam sakus kecil dapat terlihat. Telltale triangle sign (kiri).e) Telltale Triangle Signmenggambarkan daerah segitiga udara diantara 2 lingkaran usus dengan dinding abdomen. f) Udara skrotal dapat terlihat akibat ekstensi intraskrotal peritoneal (melalui prosesus vaginalis yang paten). Gambar 6. g) Cupola Sign mengacu pada akumulasi udara di bawah tendon sentral diafragma. terutama jika perforasi dinding posterior abdomen. Gambar 7. cupola sign (panah putih) dan lesser sac gas sign (panah hitam) 10 .

. Tidak jarang pasien dengan akut abdomen dan dicurigai mengalami perforasi tidak menunjukkan udara bebas pada foto polos abdomen.i) Tanda obstruksi usus besar parsial dengan perforasi divertikulum sigmoid dapat terjadi yang berkaitan dengan tanda pneumoperitoneum. paska operasi. dengan CT scan sulit untuk melokalisasi perforasi. Jika ada perforasi. CT scan tidak terlalu dipengaruhi oleh posisi pasien pada pemeriksaan dan teknik yang digunakan (Khan. 2011). 2008). sekitar 50mL kontras terlarut air diberikan secara oral atau lewat NGT pada pasien dengan posisi berbaring miring ke kanan (Breen et al. pankreatitis. antara lain dapat disebabkan oleh perforasi usus. 2) CT (Computed Tomography) Scan CT scan merupakan pemeriksaan standar untuk mendeteksi pneumoperitoneum dikarenakan lebih sensitif dibanding foto polos abdomen. lagipula adanya udara bebas pada peritoneum merupakan temuan yang nonspesifik. dan perforasi ulkus. dengan CT Scan udara yang terletak di anterior dapat dibedakan dengan udara di dalam usus. terutama ketika temuan foto polos abdomen tidak spesifik. tetapi CT scan tidak selalu dibutuhkan jika dicurigai pneumoperitoneum karena lebih mahal dan memiliki efek radiasi yang besar. Diagnosis banding biasanya meliputi kolesistitis akut. 11 . cairan inflamasi yang bocor juga dapat diamati di dalam peritoneum. 2011). Penyebab perforasi kadang dapat didiagnosis dengan CT scan (Khan. termasuk pada perforasi viskus abdomen (Khan. atau dialisis peritoneal ((Breen et al. Foto polos abdomen menjadi pencitraan utama pada akut abdomen. Udara bebas intraperitoneal tidak terlihat pada sekitar 20-30% yang lebih disebabkan karena standardisasi yang rendah dan teknik yang tidak adekuat. 2008). 2011). Pada posisi supine. Sebagai tambahan pemeriksaan untuk mengopasitaskan saluran cerna. Kelemahan lain.. CT scan berguna untuk mengidentifikasi udara intraluminal meskipun terdapat dalam jumlah yang minimal.

2011). Pneumoperitoneum dapat secara tidak sengaja ditemukan dengan MRI. Pemeriksaan kontras dapat mendeteksi adanya ekstravasasi kontras melalui dinding usus yang mengalami perforasi. karena MRI bukan modalitas pencitraan pertama. Tetapi dengan kondisi adanya ulkus duodenum perforasi dengan cepat ditutupi oleh omentum sehingga bisa tidak terjadi ekstravasasi kontras (Lee.Pada CT scan. Gambar 9. Gambaran udara bebas pada CT scan abdomen 3) Magnetic Resonance Imaging (MRI) Pneumoperitoneum dapat terlihat sebagai area dengan gambaran hipointens pada semua potongan. Gambaran udara bebas pada peritoneum (panah kuning) 12 . kontras oral digunakan untuk mengopasitaskan lumen saluran pencernaan dan memperlihatkan adanya perforasi. Adanya gerakan peristaltis usus dapat mengaburkan gambaran abdomen (Khan. Gambar 8. 2010).

Gambaran USG pada pneumoperitoneum antara lain bayangan sebuah costa. udara di dalam abses. seperti cairan bebas intraabdomen dan massa inflamasi (Khan. ultrasonografi memiliki keuntungan dalam mendeteksi kelainan lain. seperti penebalan dinding usus. Pengumpulan udara terlokalisir akibat perforasi usus dapat dideteksi. Adenomiosis. USG tidak dipertimbangkan sebagai pemeriksaan definitif untuk menyingkirkan pneumoperitoneum (Lee. udara bilier. artifak Ring Down dari paru yang terisi udara dan udara kolon anterior yang berhimpitan dengan hepar. kalsifikasi Mural. Vesika Fellea porselen. terutama jika berdekatan dengan abnormalitas lainnya. Namun. 2011). dimana lingkaran usus biasanya tidak ditemukan. Namun. 2010). tumor. udara bebas dalam jumlah kecil dapat dideteksi dengan pemeriksaan dari anterior atau anterolateral diantara dinding abdomen dan dekat hepar. USG tersedia hampir di semua tempat pelayanan kesehatan. 2011). lebih murah dibanding CT scan . dan penggunaannya aman terutama pada pasien yang bermasalah terhadap radiasi seperti pada anak-anak. Dibandingkan dengan foto polos abdomen. dan usia reproduktif. pneumoperitoneum tampak sebagai daerah linier peningkatan ekogenisitas dengan artifak reverberasi atau Distal Ring Down. wanita hamil. 13 . atau udara di dalam vena porta.4) USG Pada pencitraan USG. Sulit untuk membedakan udara ekstralumen dengan udara intramural atau intraluminal (Khan. Udara intraperitoneal sering sulit dideteksi. dan terbatas penggunaannya pada orang obesitas dan udara intra abdomen dalam jumlah besar. kalsifikasi Vesika Fellea. USG sangat tergantung pada kepandaian operator. Udara di kuadran kanan atas dapat keliru dengan Kolesistitis Emfisematosa.

14 . ditandai dengan terlihatnya haustra. padahal itu adalah udara yang ada dalam usus besar.Gambar 10. hepar dan limpa. 3. 2. Perbedaan gambaran udara pada abses subphrenik dan pneumoperitoneum adalah pada foto lateral dekubitus. Linear atelektasis pada dasar paru Atelektasis adalah runtuhnya sebagian atau penutupan alveoli sehingga pertukaran gas berkurang atau tidak ada. 2006): 1. akan terlihat udara terkumpul dalam suatu kantong abses dan ada air fluid level. terdapat akumulasi cairan yang terinfeksi antara diafragma. 2011. Diagnosis Banding Diagnosis banding pneumoperitoneum (Khan. Subphrenic Abscess Abses Subphrenik adalah dilokalisirnya pengumpulan nanah. Churchill & Begg. biasanya di bawah kanan atau kiri hemi-diaphragm. Sindrom Chilaiditi Interposisi dari usus (berhimpitnya usus dan hepar) antara hepar dan hemidiaphragm (kanan) hingga menyebabkan terlihat adanya udara yang berada di subphrenik. Pneumoperitoneum pada USG H.

Gambar 11. 2011). menurunnya venous return. stasis pada vena di ekstremitas bawah. Ketika seorang pasien diduga mengalami pneumoperitoneum. omentum. Dalam beberapa kasus. J. untuk pendekatan pengobatan yang tepat. langkah pertama dalam pengobatan adalah mencari tahu penyebabnya. Penatalaksanaan dan Prognosis Prinsip tatalaksana dan prognosis tergantung dari penyebab utamanya. penekanan pada vena cava. herniasi usus. meningkatnya tekanan 15 . Jika pneumoperitoneum adalah komplikasi dari infeksi. regurgitasi gaster. dengan dokter menunggu dan melihat lebih teliti untuk melihat apakah tubuh pasien mampu menghilangkan gas sendiri. pengobatan konservatif adalah yang terbaik. Perforasi dan infeksi dengan cepat dapat menyebabkan kematian dengan segera (Pitiakoudis. Chilaiditi’s syndrome (kiri). linear atelektasis (kanan) I. maka operasi untuk memperbaiki masalah ini diperlukan secepat mungkin. Ini membutuhkan pemeriksaan diagnostik tambahan selain anamnesa pasien. hipotensi. Komplikasi Peningkatan tekanan intraabdominal dapat mengakibatkan iskemia usus.

bradiaritmia. nyeri bahu dari retensi CO2 (Girish & Joshi. 16 . pneumotoraks.intratoraks. atelektasis. 2002). mual dan muntah. barotrauma. emboli gas CO2. emfisema mediastinum dan emfisema subkutan.

pneumoperitoneum terlihat sebagai area dengan hipointens pada semua potongan. termasuk pada perforasi viskus abdomen. pneumoperitoneum paling baik terlihat dengan posisi lateral dekubitus kiri yang menunjukkan gambaran radiolusen antara batas lateral kanan dari hepar dan permukaan peritoneum. Pada foto polos abdomen. walaupun pencitraan standar adalah dengan CT scan.BAB III PENUTUP Pneumoperitoneum adalah adanya udara bebas dalam ruang peritoneum yang biasanya terkait dengan perforasi dari usus kecil. Dengan USG. MRI. Dengan MRI. dan ultrasonografi. CT scan merupakan kriteria standar untuk mendeteksi pneumoperitoneum. Foto polos abdomen menjadi pencitraan utama pada akut abdomen. CT scan. 17 . namun tidak selalu dibutuhkan jika dicurigai pneumoperitoneum dan lebih mahal serta memiliki efek radiasi yang besar. Pneumoperitoneum dideteksi dengan pemeriksaan radiologis foto polos abdomen. pneumoperitoneum tampak sebagai daerah linier peningkatan ekogenisitas dengan artifak reverberasi atau distal ring down.

Imaging pneumoperitoneum: A journal. Majalah Anestesi dan Critical Care. Am J Emerg Med. Begg JD. Barry DJ. 2008. Anestesia pada prosedur laparoskopi. United Kingdom Fuller MJ.DAFTAR PUSTAKA Adnyana IGN. Neville F. Chan SB. Diunduh pada 7 Mei 2013 Girish P. Hauser SL. eds. Fauci AS. Jameson JL. Loscalzo J. 2011.meddean. Harrison’s principle of internal medicine 17th edition. 49: 1-5 Khan AN. 2011. Elsevier Cunningham AJ. Diunduh pada 7 Mei 2013 CH. Pneumoperitoneum without peritonitis: A case report. Spontaneus idiophatic pneumoperitoneum presenting as an acute abdomen: A case reports. 26:841e1-2 Churchill . 2008. 5th Edition. 2010. 2006. http://www.htm. 2008. Kentucky. USA: National Library of Medicine Silberberg P. 38:2204-28 Daly. 2006. Nolan C. 1991. http://emedicine. Cause of pneumoperitoneum: A case report. Abdominal X-rays Made Easy 2nd Edition. Guthrie A. Pneumoperitoneum Imaging.edu/lumen/MedEd/Radio/curriculum/Surgery/pneumo peritoneum.wikiradiography.com/article/372053-overview . Kasper DL. Pryambodo. Dorfman M. Pneumoperitoneum. 2006. Clinical Anesthesia. http://www.com/page/Pneumoperitoneum. Pneumoperitoneum. 2011. Anesthesia for minimally invasif procedures. 2002. Joshi MB. USA : The McGraw-Hill Companies Pitiakoudis. Anesthesia for laparoscopic surgery. USA 18 . Can J Anaesth.medscape. 26(2): 225 – 39 Breen ME .luc. Diunduh pada 7 Mei 2013 Lee Longo DL.

MOEWARDI SURAKARTA 2013 19 . 19 Mei 2013 KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. Hanif Mustikasari Sofi Wardati Muvida G99122101 G99122066 G99122056 G99122105 G99122080 Periode 6 Mei s.REFRAT PNEUMOPERITONEUM Disusun oleh: Rizka Solehah Lucia Pancani A.d.

................................... Gejala Klinis......................................................................................................................... Batasan Masalah................................................ii BAB I PENDAHULUAN A...........................................12 N.... Prognosis......................12 BAB III PENUTUP DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................12 K....... ..................................................................................6 I...................................... Tujuan Penulisan ..........12 J............................2 C.................................................... ....................................................................2 D.23 20 .......................................................................................................5 H........................... 6 D.................................................... Penatalaksanaan..........................................................................................................................................................................................................................................12 E................................................................................................................................................................................ ...DAFTAR ISI Halaman Judul................i Daftar Isi........................................................... Komplikasi...........................................................................1 B....... Anatomi Peritoneum ..... ..................... Latar Belakang ...................... Etiologi Pneumoperitoneum......................... Pencegahan.................6 L..12 F.....3 G........................................................................................................ Diagnosis ...................2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.........................3 B...............................................................................................................12 M... Pemeriksaan Penunjang......... Pemeriksaan Fisik .................................. Diagnosis Banding....................... Definisi Pneumoperitoneum .......... ......... Metode Penulisan ........ 5 C...................................................................................... Edukasi Pasien........ Patofisiologi Pneumoperitoneum.................................................................………….......................... ......