PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2010

Saya sadar bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu untuk penyemprnaannya. Terima kasih saya ucapkan kepada kaka Lilik Nofianti.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Oktober 2010 penyusun . kritik dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan isi makalah ini saya sambut dengan senang hati. atassegala rahmat dan karunia-Nya lah. Banjarbaru. Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. atas pengarahan dan dukungan yang telah diberikan. dan semua pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan makalah ini. makalah yang berjudul ”Pemanfaatan Hutan Gambut Yang Berwawasan Lingkungan” ini telah dapat disusun dan diselesaikan tepat pada waktunya.

........................................ 2 BAB II.... 3 2........................2 Batasan Masalah..........................................12 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ............................................................2 Sifat Kimia.................................................................................5 Dampak Pembukaan Gambut...........................................................................................................1 Kesimpulan... PENUTUP 3.......3 Tujuan Penulisan Makalah..6........... 3 2..................................6.......... 8 2........... i DAFTAR ISI..................... ii BAB I........................ ISI 2.2 Penyebaran Lahan Gambut.............................................................6..............4 Proses Pembentukan Gambut..4 Pendekatan Teknis Budidaya..............3 Pendekatan Agro-Manajemen Terpadu............ 6 2.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................................1 Latar belakang.............................................. 5 2................................................................. 1 1................... 7 2........6...................................................................................3 Sifat-sifat Tanah Gambut................................................. PENDAHULUAN 1............... 9 2...........10 2.....11 3.........................1 Sifat fisika........................3.6 Strategi Pemanfaatan Hutan Gambut........1 Kawasan Non Budidaya................................................................4 Metode Penulisan......... 5 2................................................................... 4 2...............................................................................................2 Konsep Tampung Hujan.......................................1 Pengertian Gambut........................3.............................10 BAB III....................... 2 1................................................................. 2 1...................................2 Saran........................................... 9 2.....................

sehingga lahan gambut menjadi masam dan tidak subur. Disadari bahwa pengembangan lahan gambut menghadapi banyak kendala. Pembukaan vegetasi penutup lahan gambut akan mengakibatkan dipercepatnya proses dekomposisi. Dengan demikian pembukaan hutan gambut tidak boleh sewenang-wenang. sumberdaya manusia. gambut yang mempunyai ketebalan kurang dari 1 meter seluas 16 juta hektar. akan mengakibatkan banjir. terjadinya subsidensi (amblesan) dan akan mengubah ciri dari ekosistem hutan gambut. karena ekosistem hutan gambut merupakan ekosistem yang telah stabil sebagai hasil dari interaksi ribuan tahun antara komponen biotik dan lingkungannya.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi gambut nomer 4 terbesar di dunia setelah Rusia.8 juta hektar.BAB I PENDAHULUAN 1. Dalam membuka hutan gambut harus hati-hati karena sifat hutan gambut yang sangat fragil (rapuh) dimana sekali dibuka akan merubah ekosistem dan untuk mengembalikan ke ekosistem semula memakan waktu yang sangat lama. Kestabilan ini menghasilkan tata air yang seimbang dan mempertahankan keberadaan flora dan faunanya. Ketidak mampuan lahan gambut yang telah berubah untuk menyerap air. sehingga umumnya sering dijumpai lahan tidur yang disebabkan oleh keadaan teknologi. oksidasi berlebihan akan merubah unsur sulfur menjadi sulfat dan sulfit yang merupakan racun tanaman. Kanada dan Amerika Serikat dengan luasan sekitar 26 juta hektar dan di Indonesia terbanyak ditemukan di Pulau Sumatra (yaitu Sumatra bagian timur). antara lain berkaitan dengan sifat tanah gambut yaitu sering . Dari seluruh potensi tersebut. dan yang mempunyai ketebalan 2 meter atau lebih sebesar 8. Dengan demikian apabila hutan gambut yang telah dibuka dan langsung dimanfaatkan untuk budidaya tanaman akan memberikan hasil yang rendah. maupun sosial ekonomi yang rendah.

1996).mengalami penurunan permukaan (surut) dan kekeringan sehingga pada musim kering mudah terbakar.4 Metode Penulisan Metode penulisan makalah berdasarkan pengumpulan bahan referensi dari media internet yang berbentuk jurnal. hara tanah juga mudah tercuci dan nisbi C/N yang tinggi (Karama. Berdasarkan sifat kimianya. . 1. Bila ada banjir atau aliran air horisontal tinggi menyebabkan retensi air sangat rendah dan mudah hanyut.3 Tujuan Penulisan Makalah Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang pemanfaatan hutan gambut yang berwawasan lingkunagn agar tidak terjadi kerusakan lahan gambut dan upaya untuk memperbaiki lahan tersebut. 1. lahan gambut mempunyai pH dan kejenuhan basa sangat rendah. 1.2 Batasan Masalah Batasan masalah pada makalah ini terbatas pada informasi mengenai strategi pemanfaatan hutan gambut dan metode penelitiannya.

reaksi gambut netral .1 Pengertian Gambut Gambut terdiri dari tumpukan bahan organik yang belum terdekomposisi (tidak terdekomposisi dengan baik). depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Dari luasan tersebut tanah gambut terdapat sekitar 13.8 %) luas daratan Indonesia.5 juta hektar. yakni kurang lebih seperlima (19. 2. Tanaman-tanaman yang tumbuh di atas gambut membentuk ekosistem hutan rawa gambut yang mampu menyerap karbondioksida dari atmosfer untuk berfotosintesis dan menambah simpanan karbon dalam ekosistem tersebut. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. Tanah gambut terdapat di cekungan. yang memerangkap dan menyerap karbon di dalamnya dan membentuk lahan dengan profil yang disusun oleh bahan organik dengan ketebalan mencapai lebih dari 20 meter. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati depresi luas yang menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara.5-18.4 -39. Luas lahan rawa yang terdiri tanah gambut dan tanah mineral (nongambut) di Indonesia diperkirakan seluas 39. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan.1 juta hektar.2 Penyebaran Lahan Gambut Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa.4 juta hektar atau rata-rata 16.BAB II ISI 2. Berdasarkan tingkat kesuburan alami.

atau alkalin). 2001). (Widjaja-Adhi. Bahan organik yang telah mengalami dekomposisi mengandung gugus. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. Jenis gambut ini diendapkan dari sisa tumbuhan yang semasa hidupnya tumbuh dari pengaruh elemen yang terbawa oleh air permukaan tersebut. Menurut Jones (1984). karena gambut topogenous mengandung relatif lebih banyak unsur hara (Rismunandar. dimana kandungan airnya hanya berasal dari air permukaan. secara umum kompleks koloid gambut dipengaruhi oleh hidrogen yang menyebabkan pH tanah gambut lebih rendah daripada tanah mineral. 2.3 Sifat-sifat Tanah Gambut Sifat tanah gambut berbeda dengan tanah mineral. agak dalam (100-200 cm). Berdasarkan lingkungan tumbuh dan pengendapannya gambut di Indonesia dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu (1) gambut ombrogenous. (1996) membagi gambut dalam 4 kelas. Menurut Buckman dan Brady (1982). Daerah gambut topogenous lebih bermanfaat untuk lahan pertanian dibandingkan dengan gambut ombrogenous. et al. sehingga kadar abunya adalah asli (inherent) dari tumbuhnya itu sendiri (2) gambut topogenous. oligotrofik (kandungan mineral.gugus reaktif yang mendominasi kompleks tukaran dan dapat bertindak sebagai asam lemah sehingga dapat terdisosiasi dan menghasilkan ion H+ dalam jumlah banyak.1992) dan Subagyo. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm). kandungan basa sedang). Diperkirakan 85 sampai 95 % . et al. dimana kandungan airnya hanya berasal dari air hujan. yaitu dangkal (50-100 cm). Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. Gambut jenis ini dibentuk dalam lingkungan pengendapan dimana tumbuhan pembentuk yang semasa hidupnya hanya tumbuh dari air hujan. tergantung pada jumlah gugus fungsional dan derajat disosiasi. nilai pH rendah itu disebabkan oleh asam-asam organik dan ion hidrogen dapat ditukar (H-dd) yang tinggi terkandung dalam tanah gambut.

9).4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling.2 Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. Tanah gambut tropis mempunyai kandungan mineral yang rendah dengan kandungan bahan organik lebih dari 90%. Sebagai contoh di Malaysia. 2000).3.1). Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4-5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar.muatan pada bahan organik disebabkan oleh gugus karboksil dan fenol (Rachim. 2. gambut dalam (3.3. Kandungan unsur mikro khususnya Cu. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. 2.0-5. . tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. 1996). 1996). 1986). 1995). Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. Gambut dangkal pH lebih tinggi (4.05-0.1-3. rendahnya bulk density (0. Secara kimiawi gambut bereaksi masam (pH di bawah 4) Andriesse (1988). sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. Kandungan N total tinggi tetapi tidak tersedia bagi tanaman karena rasio C/N yang tinggi. B dan Zn sangat rendah ( Subagyo et al. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al.1 Sifat Fisik Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. Sifat lain yang merugikan adalah apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak.

pendekatan agro-manajemen terpadu dan pendekatan teknik budidaya. meranti. pendekatan tampung hujan. Pada daerah cekungan dengan genangan air terdapat longgokan bahan organik. sehingga proses hancurnya jaringan tanaman berlangsung lebih lambat daripada proses tertimbunnya. flora dan fauna. Daerah Kalimantan dan Sumatera memiliki kawasan hutan gambut sekitar 34 -58 jenis pohon sebagai penghasil kayu.4 Proses pembentukan Gambut Gambut terbentuk karena pengaruh iklim terutama curah hujan yang merata sepanjang tahun dan topografi yang tidak merata sehingga terbentuk daerah-daerah cekungan. kawasan non budidaya. Lahan gambut lebih diperuntukkan bagi pengembangan pertanian di kawasan Asia termasuk Indonesia (Noor. Jenis kayu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi antara lain ramin. tetapi dapat juga terdapat di dataran tinggi dengan ketinggian lebih daripada 2000 meter di atas permukaan air laut dengan bentuk wilayah datar sampai bergelombang dengan suhu rendah. Hal ini disebabkan suasana yang langka oksigen menghambat oksidasi bahan organik oleh jasad renik.2. Fungsi gambut. Makin sempitnya lahan-lahan subur dan makin meningkatnya jumlah penduduk. Dengan demikian terbentuklah gambut. Vegetasi hutan berdaun lebar dapat tumbuh dengan baik. maka pengembangan pertanian dan perkebunan bergeser ke lahan-lahan piasan seperti gambut. pulai. Agar lahan gambut dapat dimanfaatkan secara lestari dan berwawasan lingkungan maka perlu dilakukan strategi dalam pengelolaan gambut yaitu dengan melalui beberapa model pendekatan dan konsep antara lain pendekaan konservasi. Gambut merupakan aset potensial untuk dapat digunakan baik langsung maupun tidak langsung bagi kemaslahatan dan kesejahteraan manusia. 2001). Ketinggian daerah tersebut biasanya kurang daripada 50 meter di atas permukaan air laut (berupa dataran rendah). terantang. . sehingga menghalangi masuknya sinar matahari yang akhirnya menyebabkan kelembaban tanah sangat tinggi. selain sebagai penyangga lingkungan adalah penghasil berbagai produk seperti kayu.

air tanah naik lebih tinggi lagi dan kelembaban nisbi turun menjadi 70%. siklus hara.2. Sedangkan di daerah dimana gambut dibakar untuk dijadikan lahan pertaniansering menimbulkan danau-danau kecil yang kemudian tumbuh rumput-rumputan dan gulma. Daerah gambut bekas pakai. penambangan minyak.5-5. dapat menjadi lebih tandus lagi dan hanya dapat ditumbuhi belukar yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan kantong semar (Nepenthus). pH meningkat menjadi 4. Pengaruh langsung terhadap penurunan jenis kehidupan di daerah gambut adalah biosida yang digunakan dalam pertanian dan industri perkayuan. Untuk itu kegiatan yang demikian harus dikendalikan dan diberhentikan melalui peraturan-peraturan daerah dan pemberian sanksi. sarana dan prasarana. Di daerah dimana dilakukan tebang habis pada hutan gambut. penempatan bangunan industri dan sebagainya. siklus udara dan siklus hidrologis. suhu rata-rata naik 4oC. Biosida tersebut menyebar luas dalam lahan gambut yang . kadar garam dan penguraian bahan organik yang cenderung meningkat. meningkatkan resiko kebakaran.5 Dampak Pembukaan Gambut Konversi lahan gambut menjadi lahan pertanian pada dasarnya merupakan konversi total. Pemakaian lahan gambut untuk pembangunan pemukiman. Di lapangan memperlihatkan bahwa pembukaan hutan gambut yang paling menonjol adalah bukannya dilakukan untuk membuat lahan pertanian tetapi dilakukan untuk mengambil kayunya saja tanpa memperdulikan keberadaan dan ketebalan gambut apalagi manfaat gambut. Perubahan sifat ekologi yang paling tampak adalah perubahan pH. Kehilangan plasma nutfah adalah yang paling besar yang disebabkan oleh hancurnya siklus ekologi seperti siklus materi dan energi. mulai dari pergantian jenis kehidupan menjadi ekosistem lain yang tidak lagi memiliki sifat-sifat gambut yang asli (indigen). sedangkan daerah yang kering yang ditinggalkan petani menjadi lahan tidur yang ditumbuhi oleh jenis Melaleuca atau Macaranga.5.

6 Strategi Pemanfaatan Hutan Gambut Telah diketahui bahwa ekosistem hutan gambut merupakan ekosistem yang telah stabil sebagai hasil dari interaksi ribuan tahun antara komponen biotik dan lingkungannya. (g) secara global. Sehingga pada waktu musim hujan karena hilangnya hutan gambut dalam jumlah besar (yang dapat berfungsi sebagai konservasi air) akan mengakibatkan banjir. Untuk itu diperlukan beberapa strategi dalam pemanfaatan lahan gambut agar tidak merubah lingkungan secara drastis.mengandung banyak air dan masuk ke dalam rantai makanan dengan cepat sehingga berakibat fatal terhadap keberadaan jasad hidup. 2003). (d) kenaikan keasaman tanah secara mencolok sebagai akibat teroksidasinya pirit. melainkan harus ada strategi dalam pemanfaatan hutan gambut. Kestabilan ini menghasilkan tata air yang seimbang dan mempertahankan keberadaan flora dan faunanya. (f) keterbatasan sumber air bersih khususnya untuk kebutuhan air minum. rusaknya habitat dan tempat mencari makan beberapa jenis fauna. . Jadi. (b). 2. dalam suatu DAS yang memiliki areal hutan gambut yang sangat luas. harus berhati-hati dalam mentransformasi hutan gambut dalam bentuk lainnya dan diperlukana peraturan yang menetapkan boleh tidaknya hutan gambur dibuka dan harus transparan. berkurangnya kandungan oksigen di udara sebagai akibat semakin berkurangnya areal hutan dan (h) terjadinya penurunan muka tanah sebagai akibat proses dekomposisi dan pemanfaatan tanah (Budianta. (c) kemungkinan timbulnya intrusi air asin dari laut lewat saluran-saluran yang dibangun. maka pembukaan hutan gambut jangan dilakukan secara besar-besaran dan harus dilakukan skala prioritas. (e) timbulnya banjir di daerah hilir. karena dampak negatif yang ditimbulkan dengan pembukaan hutan rawa yaitu (a) hilangnya berbagai jenis flora dan fauna spesifik gambut. hutan gambut mempunyai sifat fisik dapat menyerap air yang berlipat ganda (fungsi alami dari bahan organik). Selain itu. Mengingat hutan gambut termasuk ekosistem yang fragil. dengan hilangnya hutan gambut akan menghilangkan fungsi penyerapan air ini. Dengan demikian tidak seluruh hutan gambut boleh diubah fungsinya.

2. jumlah dan luasan kawasan pewakil perlu ditentukan alokasinya secara seimbang sehingga tujuan preservasi alam tercapai. . Daerah yang dicadangkan untuk tujuan preservasi dijadikan kawasan non budidaya (buffer zone).6. walaupun gambut tersebut boleh dibuka karena ketebalannya memungkinkan sebagai lahan budidaya. Hanya di beberapa tempat agak kurang lancar karena adanya pendangkalan.2 Kosep Tampung Hujan Sistem saluran yang sekarang digunakan di daerah gambut dapat dikatakan sudah efektif sebagai saluran drianase.Gambut tebal tidak direkomendasikan untuk dibuka sebagai lahan budidaya tetapi sebagai gambut konservasi untuk air dan flora. Distribusi.1 Kawasan Non Budidaya Kawasan pewakil untuk tujuan preservasi alam perlu ditentukan sebelum membuka hutan gambut.6. dan kawasan non budidaya luasnya kira-kira sepertiga dari wilayah yang dibuka. 1987). Konservasi dalam hal ini diartikan sebagai pengelolaan penggunaan biosfer oleh manusia sedemikian sehingga memberikan manfaat lestari tertinggi bagi generasi sekarang sementara mempertahankan potensinya untuk memenuhi keutuhan dan aspirasi generasi mendatang (Hanson dan Manuel. fauna serta menyimpan cadangan karbon. Gambut konservasi dipertahankan sebagai wilayah cadangan dan dipertahankan untuk mengantisipasi perubahan iklim dunia dan mempertahankan plasma nutfah rawa. Misalnya banyak lahan gambut yang telah dibuka menjadi sawah kering. untuk mengawetkan fauna dan flora serta memberikan yang cukup luas untuk pemanfaatan dan penelitian di masa mendatang. Sehingga gambut konservasi didiamkan dalam bentuk hutan. tidak ada genangan air. Kawasan non budidaya juga bermanfaat untuk melindungi kerusakan lahan terhadap erosi maupun abrasi oleh air sungai/pasang 2. Kawasan non budidaya terdiri atas jalur hijau sepanjang pantai dan sungai. walau musim hujan (contoh di Air Sugihan).

kimia maupun biologi yang disebut ameliorasi. Tindakan untuk memperbaiki tubuh tanah diharapkan mengarah kepada perbaikan sifat-sifat tanah baik sifat fisik. dan bioteknologi.6. karena pada tahun 1997 terjadi kebakaran hutan secara besarbesaran. 2. Ameliorasi ini dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain teknik hidrologi. Untuk mensukseskan kegiatan agribisnis di lahan gambut.2. Indonesia mempunyai potensi gambut yang sangat besar (26 juta ha).6. maka harus seimbang antara kegiatan on farm dan off farm dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. juga wilayah untuk mencapai lahan gambut mempunyai akses ekonomi yang sangat jelek juga. teknik kimiawi. sehingga diduga luasan gambut akan menurun. Kegiatan on farm telah dilakukan semenjak membuka gambut tetapi sampai sekarang belum menampakan keberhasilan yang menonjol untuk budidaya di lahan gambut. . Dalam prakteknya ketiga teknik tersebut harus berjalan bersama-sama. mencegah terjadinya oksidasi pirit dan akhirnya dapat mencegah penurunan pH secara drastis. tetapi luasan gambut di Indonesia ini perlu dilakukan inventarisasi ulang untuk mengetahui luas yang sebenarnya dan untuk menyusun strategi pengelolaan.4 Pendekatan Teknis Budidaya Teknik budidaya ini dapat dilakukan untuk meningkatkan kondisi lahan marjinal menjadi lahan subur. Karena budidaya di lahan gambut memerlukan modal yang sangat tinggi untuk mengoptimalisasikan lahan.3 Pendekatan Agro-Manajemen Terpadu Lahan gambut selain mempunyai kesuburan yang sangat rendah untuk budidaya tanaman. Akan tetapi dalam prakteknya harus dipilih teknologi yang tepat.

Gambut konservasi dipertahankan sebagai wilayah cadangan dan dipertahankan untuk mengantisipasi perubahan iklim dunia dan mempertahankan plasma nutfah rawa. 3. .2 Saran Sebagaimana yang telah diuraikan. Konservasi dalam hal ini diartikan sebagai pengelolaan penggunaan biosfer oleh manusia sedemikian sehingga memberikan manfaat lestari tertinggi bagi generasi sekarang sementara mempertahankan potensinya untuk memenuhi keutuhan dan aspirasi generasi mendatang. penerapan teknologi yang sesuai dan pengelolaan yang tepat. makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Sehingga sangat perlu dilakukan perbaikan-perbaikan didalamnya. pendekatan agro-manajemen terpadu dan pendekatan teknik budadiya. kawasan non budidaya. Untuk itu strategi yang dapat diusulkan adalah pendekatan konservasi.BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Hutan gambut merupakan ekosistem yang fragil maka setiap pemgembangan dan pemanfaatan memerlukan perencanaan yang teliti. fauna serta menyimpan cadangan karbon. Perlu dilakukan analisis lebih lanjut dengan metode analisis yang lain nya. pendekatan tampung hujan. Sehingga gambut konservasi didiamkan dalam bentuk hutan. untuk mengawetkan fauna dan flora serta memberikan yang cukup luas untuk pemanfaatan dan penelitian di masa mendatang. pembukaan hutan gambut jangan dilakukan secara besar-besaran dan harus dilakukan skala prioritas. Gambut tebal tidak direkomendasikan untuk dibuka sebagai lahan budidaya tetapi sebagai gambut konservasi untuk air dan flora.

ac. Fakultas Pertanian.id/index. Bidang Kajian Utama Pengelolaan lahan.peat-portal. Pengaruh Bioaktivator terhadap Pertumbuhan Sukun (Artocarpus communis Forst) dan Perubahan Sifat Kimia Tanah Gambut. http://www.cfm?fileid=306 Anonim. Universitas Sumatera Utara. http://www. 2003.Journal.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Strategi pemanfaatan hutan gambut yang berwawasan lingkungan 1. 2009. Universitas Sriwijaya.net/view-file.php/jurnalagronomi/article/view/1674/720 .ipb.