Jurnal Sarjana Institut Teknologi Bandung bidang Teknik Elektro dan Informatika Vol. 1, No.

 3 Oktober 2012

Implementasi MPLS-TE Pada Perangkat Huawei dan Penggunaannya Sebagai Solusi Kongesti
Andry Anthony, Dr.-Ing. Eueung Mulyana, S.T., M.Sc.
Institut Teknologi Bandung andry.anthony18108005@gmail.com, eueung@stei.itb.ac.id

Abstrak—MPLS-TE (Multi Protocol Label Switching Traffic Engineering) merupakan salah satu teknik rekayasa trafik, yang digunakan oleh penyedia jasa internet, untuk membuat utilisasi jaringan lebih optimal. Ada beberapa fitur utama MPLS-TE seperti explicit path, tunnel priority, IGP shortcut, autobandwith, reoptimization, LSP (Label Switch Path) backup, dan fast reroute. MPLS-TE juga sudah mulai dikembangkan dan diimplementasikan pada SDN (Software-Defined-Network). Pada purwarupa MPLS-TE berbasis SDN tersebut, letak control plane terpisah dengan data plane. Tugas akhir ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji fungsi MPLS-TE pada perangkat Huawei. Kemudian dilakukan simulasi penanganan kongesti menggunakan MPLS-TE. Trafik pada simulasi tersebut dibangkitkan oleh aplikasi Iperf dan dipantau menggunakan aplikasi PRTG. Pada percobaan selanjutnya dilakukan simulasi MPLS-TE berbasis SDN untuk mengamati proses kerjanya secara umum. Simulasi tersebut menggunakan NOX sebagai controller, Mininet sebagai media virtualisasi data plane, dan Open vSwitch sebagai data plane. Pada kasus utilisasi link 140%, setelah menggunakan MPLS-TE didapat penurunan trafik sebesar 80% pada link D-E. Fitur explisit path digunakan untuk mengatur jalur yang dilalui LSP, fitur autobandwith digunakan untuk mengatur besar bandwith yang dipesan oleh tunnel sesuai dengan besarnya trafik yang melewati tunnel tersebut, reoptimization digunakan untuk mengoptimasi jalur tunnel, fast reroute digunakan untuk memberikan perlindungan pada link atau node. Waktu switching trafik menggunakan Fast reroute adalah sebesar 55 ms, atau lebih cepat 175 ms dibanding waktu switching tanpa Fast reroute. Pada MPLS-TE berbasis SDN, aplikasi MPLS-TE yang dijalankan oleh controller menggunakan protokol OpenFlow untuk mengatur kerja switch sehingga bisa menyediakan layanan yang disediakan MPLS-TE konvensional.

parameter jaringan lainnya seperti utilisasi dan permintaan trafik. Meskipun kongesti terjadi, protokol routing shortestpath tersebut tidak memindahkan trafik melalui jalur yang tersedia lainnya. Rekayasa trafik dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut dengan mempertimbangkan elemen lain seperti bandwith sebagai paramater dalam menentukan jalur trafik . Salah satu teknik rekayasa trafik yang digunakan oleh penyedia jasa internet adalah MPLS Traffic-Engineering (MPLS-TE). MPLS-TE menggabungkan secara bersama kelebihan dari MPLS dan Traffic Engineering. MPLS TE memungkinkan penyedia jasa internet untuk mengoptimasi dan mengatur penggunaan sumber daya jaringan secara efisien. MPLS-TE menggunakan Label-Switch-Path (LSP) untuk merutekan trafik pada jaringan. Jalur LSP tersebut bisa diatur sehingga bisa merutekan trafik pada link yang mengalami kongesti ke rute dengan utilisasi yang lebih rendah. MPLS-TE juga memiliki beberapa fitur yang mendukung fungsi tersebut seperti priority, autobandwith, IGP Shortcut, reoptimization dan fitur-fitur lainnya. Selain itu MPLS-TE juga dapat menyediakan proteksi pada jaringan menggunakan fitur LSP backup atau Fast reroute. Layanan MPLS-TE tersebut biasanya hanya terdapat pada perangkat berteknologi tinggi dan berharga relatif mahal. Selain itu juga implementasi MPLS-TE tersebut berbeda-beda pada setiap vendor dan bersifat tertutup sehingga tidak bisa dikembangkan secara bebas oleh kalangan umum. Oleh karena itu, MPLS-TE berbasis Software-Defined-Network mulai dikembangkan dan diimplementasikan. MPLS-TE berbasis SDN memberikan kelebihan dibanding MPLS-TE konvensional dalam hal fleksibilitas dan ekstensibilitas. II. DASAR TEORI A. MPLS

Kata kunci—MPLS-TE, OpenFlow, Nox, Open v Switch

I. PENDAHULUAN Seiring dengan bertambahnya kebutuhan akan teknologi informasi, maka berkembang pula kebutuhan akan jaringan backbone untuk dapat mendukung kebutuhan bandwith tersebut. Hampir semua jaringan backbone yang ada memiliki beberapa link yang kongesti, sementara link yang lainnya masih memiliki utilisasi yang rendah. Hal tersebut disebabkan karena protokol routing shortest-path mengirimkan trafik melalui jalur yang terpendek tanpa mempertimbangkan

Multi Protocol Label Switching adalah teknik meneruskan paket data dengan menggunakan label. Label yang digunakan berukuran 20 bit dengan format seperti gambar berikut,

Gambar 1 Format paket MPLS header [1]

2 include strict).Label Popping: adalah proses pelucutan label pada paket ketika paket sampai pada akhir dari jaringan MPLS. ada tiga proses utama dalam meneruskan paket yaitu. Kemudian jalur tunnel tersebut diamati dengan perintah tracert.Label Pushing: adalah proses menambahkan label pada data paket sesuai FEC-nya. OpenFlow Openflow adalah sebuah standar terbuka yang memungkinkan peneliti untuk menjalankan eksperimen protokol dalam jaringan yang biasa kita pakai sehari-hari. Mininet. METODE DAN SKENARIO PENELITIAN III.1 Metode Penelitian Tahap pengerjaan tugas akhir ini adalah sebagai berikut. Pada MPLS TE. swith tersebut akan memforward informasi tentang paket tersebut ke controller. label pushing. counters untuk menyimpan flow statistik dan sebuah aksi yang akan diberikan ketika terjadi kecocokan paket dengan field tersebut.Arsitektur MPLS terdiri dari dua bagian utama. • • • • • Melakukan konfigurasi MPLS-TE pada router Huawei Melakukan pengujian fitur-fitur MPLS-TE Melakukan simulasi penanganan kongesti Melakukan instalasi sistem operasi. Biasanya FEC dikelompokan berdasarkan alamat network layer tujuan. kemudian controller akan memutuskan bagaimana untuk memproses paket tersebut. Paket dapat didrop atau controller dapat menginstall flow entri pada switch. RSVP-TE bekerja sebagai protokol signalling pada pembuatan LSP Tunnel. MPLS adalah sebuah protokol dimana pertukaran informasi kontrol terjadi sebelum paket data pertama bisa diteruskan.[1] . Pada router klasik. sehingga switch bisa menangani paket-paket yang sama selanjutnya.1. Selain itu juga bisa berdasarkan IP ToS bits. Open vSwitch. B.2 Skenario Penelitian A. . gui. Tetapi pada Openflow switch kedua fungsi ini dipisahkan. RSVP-TE Resource Reservation protocol (RSVP) adalah protokol kontrol internet seperti ICMP yang beroperasi pada transport layer tetapi tidak berpartisipasi dalam transmisi data. III. seperti label binding. Tunnel 1 menggunakan explicit path include strict (next hop 10. IP protokol ID. . yaitu control plane dan data plane. sedangkan tunnel 2 menggunakan explicit path include loose (next hop 30.1. Kedua tunnel tersebut akan melewati rute yang sama yaitu A-B-D-E. RSVP-TE adalah ekstensi dari RSVP yang mendukung pendistribusian label dan memungkinkan informasi reservasi sumber daya dikirimkan dengan label binding.1. label swapping dan label popping.Label Swapping: adalah proses mengganti label paket data yang masuk dan menggantinya dengan label paket keluar untuk diteruskan ke interface yang sesuai. data path dan kontrol path terletak dalam perangkat yang sama. Openflow switch dan controller tersebut berkomunikasi menggunakan protokol OpenFlow. Ketika switch menerima paket yang tidak didefinisikan dalam flow entri. port number dan lainnya.1.2 include loose). Gambar 2 Arsitektur OpenFlow[3] data path dari openflow switch memperlihatkan“clean flow table abstraction“ dimana setiap flow entri terdiri dari satu set packet field untuk dicocokan. Pengelompokan paket IP yang diberi perlakuan sama disebut sebagai Forwarding Equivalence Class (FEC). C. sementara control path dipindahkan ke controller yang terpisah[3]. adalah tempat dimana terjadinya penerusan paket data. dan Nox controller Melakukan pengamatan proses pembuatan tunnel pada MPLS-TE berbasis OpenFlow III. . yang berisi message-message yang sudah terdefinisi sebelumnya. . Pada MPLS-based forwarding. bagian data path tetap berada dalam switch. Explicit Path Gambar 3 Topologi percobaan Explicit Path Dengan menggunakan topologi di atas akan dibuat 2 tunnel (tunnel 1 dan 2) menggunakan fitur explicit path pada MPLS TE. dipertukarkan antara label switch router (LSR).Data Plane. Proses klasifikasi ini hanya dilakukan pada ingress. .Control plane adalah tempat informasi routing dan informasi kontrol lainnya.

Simulasi Penanganan Kongesti Menggunakan MPLS-TE Pada percobaan kali ini akan dilakukan simulasi penggunaan MPLS-TE untuk mengatasi kongesti pada link yang mengalami utilisasi 140%(semu). C. Berdasarkan teori maka trafik tersebut akan melalui shortest path dan akan menyebabkan trafik sebesar 140 mbps (utilisasi140%) pada link D-E. Untuk mengamati hal tersebut akan dilakukan pengukuran lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan trafik ketika suatu link putus. Pertama-tama dibuat sebuah tunnel pada router A. lalu diamati banyaknya paket yang hilang dalam proses tersebut. Setelah itu dilakukan pengamatan pada routing table router A tersebut. Jumlah paket yang hilang menunjukan lamanya waktu pemindahan trafik tersebut. Pertama-tama akan dibuat sebuah tunnel dengan mereservasi bandwith sebesar 10 mbps. dan akan dilakukan pengamatan pengaruh autobandwith pada jumlah bandwith yang direservasi oleh tunnel yang dilewati trafik tersebut. Pada topologi tersebut akan dilakukan pemutusan link antara router A dan D. F. Setiap link diasumsikan berkapasitas 100 mbps dengan max-reservable bandwith diset sebesar 80 mbps. Gambar 5 Topologi percobaan fast reroute D.G dan sebaliknya masing-masing sebesar 10 mbps. . Fast reroute Pada percobaan kali ini akan diamati peran fitur fast reroute dalam memberikan perlindungan terhadap link.C. Pada percobaan tersebut dilakukan pemutusan link A-C ketika tes ping dijalankan. Kemudian akan dilakukan pembuatan tunnel MPLSTE untuk mengatasi kongesti tersebut. Autobandwith Pada skenario ini akan dilakukan skenario pengujian tentang fungsi fitur autobandwith pada tunnel. Gambar 4 Topologi percobaan reoptimization E. Pengukuran tersebut menggunakan aplikasi ping untuk membandingkan waktu pemindahan trafik pada link biasa dengan link yang dilindungi fast reroute ketika terjadi link failure.F.D ke arah host E.B IGP Shortcut Pada percobaan ini akan diamati fungsi fitur IGP Shortcut. Reoptimization Pada skenario ini akan dilakukan pengujian tentang fungsi fitur reoptimization pada MPLS-TE. Setelah itu dilakukan pembangkitan trafik sebesar 40 mbps. Kemudian akan dilakukan pembangkitan trafik pada host B. kemudian fitur IGP Shortcut dijalankan pada tunnel itu. lalu dibuat tunnel dari router A menuju router D. Kemudian pada tunnel tersebut dijalankan fitur Reoptimization dan diamati pengaruhnya terhadap jalur yang dilewati tunnel tersebut. Setelah itu dilakukan penyambungan link antara router A dan D sehingga terdapat jalur yang lebih pendek dari router A menuju D.

Dengan menggunakan fitur tersebut maka MPLS-TE dapat membuat jalur eksplisit yang berbeda dengan jalur shortest path. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa bandwith yang direservasi tunnel tersebut berubah menjadi sekitar 40 mbps. Hasil Pengamatan Fitur Autobandwith Gambar 8 Hasil tracert tunnel 1 Gambar 11 Hasil pengamatan autobandwith Gambar 9 Hasil tracert tunnel 2 Berdasarkan hasil tracert kedua tunnel diatas dapat dilihat bahwa. B. Hasil Pengamatan Explicit Path Gambar 10 Tabel routing router A Dengan menggunakan IGP shortcut. Pembuatan Tunnel MPLS-TE berbasis OpenFlow Pada simulasi ini akan diamati proses pembuatan tunnel MPLS-TE berbasis OpenFlow[4] dan penggunaan tunnel tersebut untuk meneruskan flow pada jaringan virtual yang dibangun menggunakan Mininet. maka tunnel interface akan ikut diperhitungkan dalam perhitungan SPF.fitur include loose berguna untuk membuat jalur eksplisit dengan jalur yang melewati hop yang dicantumkan dalam perintah include loose tersebut. pada tabel routing A. . Hal ini membuat MPLS-TE bisa mengarahkan trafik ke jaringan dengan utilisasi yang masih rendah. Topologi jaringan yang dibangun menggunakan topologi berikut. Hal ini menunjukan bahwa fitur autobandwith telah berfungsi dengan baik dengan mengubah besar reservasi bandwith sesuai dengan besarnya trafik yang mengalir pada tunnel . Kedua hop tersebut harus terhubung secara lansung.5. Dari pengamatan tersebut kemudian akan dianalisis proses pembuatan tunnel tersebut IV. fitur include strict berguna untuk membuat jalur eksplisit dengan jalur dimana hop berikutnya tepat merupakan hop yang dicantumkan dalam perintah include strict tersebut.5. untuk menuju router E(5. C. Kedua hop tidak perlu terhubung secara lansung. Selama simulasi dijalankan akan dilakukan pengamatan terhadap log entry pada NOX controller dan juga terhadap table flow pada Open vSwitch. Selain itu tunnel 1 tersebut juga dipilih untuk mencapai router D karena memiliki cost yang sama atau lebih rendah. HASIL DAN ANALISIS A. Dengan begitu. Interface tunnel tersebut dilihat sebagai interface yang secara langsung menghubungkan tunnel headend dan tunnel tail dengan default cost sebesar 10 (pada IS-IS).9) akan dipilih next hop Tunnel 1 karena memiliki satu hop dan cost terendah sebesar 10.Gambar 6 Topologi simulasi penanganan kongesti G. Dengan IGP shortcut maka trafik yang menuju tunnel tail akan secara otomatis diteruskan kedalam tunnel tersebut. Hasil Pengamatan Fitur IGP Shortcut - Gambar 7 Topologi Tunnel MPLS-TE berbasis OpenFlow Dengan topologi diatas akan dibangun sebuah tunnel melalui rute San Fransisco-Denver-Kansas-New York.

kongesti pada link D-E dapat duraikan dan dialihkan trafiknya melewati link-link dengan utilisasi yang masih rendah sehingga pemakaian sumber daya jaringan bisa lebih optimal. modul konfigurasi menggunakan modul routing untuk mencari jalur yang memenuhi ketentuan dari headend tunnel menuju tailend berdasarkan algoritma CSPF[5] . Pada router D dibuat tunnel dengan rute D->E Pada router B dibuat tunnel dengan rute B->A->C Pada router F dibuat tunnel dengan rute F->H->G Setelah itu trafik pada tiap-tiap link kembali diamati Berikut ini merupakan data utilisasi link sebelum dan sesudah penggunaan tunnel MPLS-TE. Hasil Pengamatan Reoptimization Untuk mengatasi kongesti pada link D-E pada kasus ini. Kemudian trafik dari lsp yang lama akan dipindahkan ke lsp tersebut dengan besar reservasi bandwith yang baru dan lsp yang lama akan dihapus. D. lebih sedikit (11 paket) dibandingkan dengan mekanisme rerouting ip routing biasa (46 paket hilang). maka waktu yang dibutuhkan oleh tunnel dengan fast reroute untuk memindahkan trafik ke bypass tunnel kira-kira adalah sebesar 55 ms (5ms * 11). Proses lebih lengkapnya sebagai berikut. dan setelah interval adjustment frequency maka perangkat akan menggunakan nilai terbesar sampling bandwith tersebut sebagai nilai bandwith untuk membuat lsp tunnel yang baru. Karena paket ping tersebut memiliki waktu timeout 5 ms. Setiap interval pencuplikan frekuensi maka perangkat akan mencuplik besarnya trafik yang melaui tunnel tersebut. Gambar 14 Hasil ping setelah penggunaan fast reroute Dalam percobaan ini dapat dilihat bahwa dengan fitur fast reroute. Gambar 13 Hasil ping sebelum penggunaan fast reroute G. Kemudian berdasarkan data tunnel dari file tersebut. jumlah paket yang hilang akibat link yang putus sebelum dirutekan ke rute lain. Pembuatan Tunnel MPLS-TE Berbasis OpenFlow ketika penekanan spasi pada saat simulasi dilakukan. atau lebih cepat 175 ms dibandingkan rerouting ip routing biasa (46 * 5 ms = 230 ms).hh. Link Gambar 12 hasil tracert tunnel 1 Dengan diaktifkannya fitur reoptimization maka tunnel secara otomatis akan mencari rute yang lebih baik dari rute yang digunakan tunnel sebelumnya pada interval waktu tertentu dan membentuk lsp baru melalui rute tersebut. E. Simulasi Penanganan Kongesti Menggunakan MPLS-TE Gambar 15 Log entry pembuatan jalur tunnel . terjadi proses pembentukan tunnel dan pengalihan trafik menuju tunnel tersebut.tersebut. Hal ini dapat dilihat dari hasil tracert lsp tunnel 1 setelah diaktifkannya fitur reoptimization. dimana tunnel tersebut sekarang telah memilih rute D-A dengan cost yang lebih baik dari rute D-C-A sebelummya. Hasil Pengamatan Fitur fast reroute D-E D-B D-F E-C E-G A-B A-C H-F H-G Utilisasi link Awal 140% 40% 40% 40% 40% 20% 20% 20% 20% Sesudah MPLSTE 60% 40% 40% 40% 40% 60% 60% 60% 60% Perubahan utilisasi -80% 0 0 0 0 40% 40% 40% 40% Tabel 1 Hasil pengamatan trafik tiap link Dari table diatas dapat dilihat bahwa dengan MPLS-TE. Modul konfigurasi TE-LSP mengambil data konfigurasi tunnel dari file mpls_config. yaitu 40 mbps sebagai hasil dari pembangkitan trafik. Pada router E dibuat tunnel dengan rute E->D Pada router C dibuat tunnel dengan rute C->A->B Pada router G dibuat tunnel dengan rute G->H->F Kemudian dibuat tunnel arah sebaliknya. dibuat tunnel berikut. F.

Hal [3] “Intro https://www.openflow.USA: Cisco Press. autobandwith digunakan untuk mengatur besar bandwith yang dipesan oleh tunnel sesuai dengan besarnya trafik yang melewati tunnel tersebut.org/wk/index. (2012): PAC. (Penultimate Hop Popping) dimana label 132 yang masuk [1] Osborne Indianapolis. Pada hop denver terlihat proses label switching dimana label 465 yang masuk pada port 1 akan diganti dengan label 132 dan diteruskan pada DAFTAR PUSTAKA port 2. Kemudian pada hop Kansas terlihat proses PHP Eric and Ajay Simha.php/PACC_Thesis (Juli 2012) .  Fitur Explicit path digunakan untuk mengatur jalur yang dilalui LSP. Gambar 16 Tunnel database Dari database diatas dapat dilihat bahwa tunnel dengan tunnel id 7e00 mempunyai headend di San Fransisco (sw=2) dan tail end di New York (sw=4) dengan mereservasi bandwith sebesar 300 mbps. V.opennetworking. Setelah rute tersebut terbentuk. (Januari 2012) [5] Saurav Das.h3c. tetapi cukup hanya melakukan flow lookup saja. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan penelitian adalah sebagai berikut  MPLS-TE bisa digunakan untuk mengatasi kongesti dengan mengalihkan trafik melewati jaringan yang memiliki utilisasi rendah.0 ini tidak didukung oleh multiple tabel flow sehingga tidak bisa melakukan 2 kali [4] “MPLS TE Demo” proses lookup. mendukung pembagian beban trafik pada jalur yang memiliki cost berbeda dan memberi perlindungan pada link menggunakan fitur fast reroute. Setelah itu tunnel database menyimpan informasi tentang karakteristik dan rute tunnel tersebut. Kemudian juga dapat dilihat label-label yang dialokasikan untuk label switching sepanjang rute tersebut.Dari log entry tersebut dapat terlihat bahwa tunnel antara San Fransisco (sw=2) dan New York (sw=4) telah terbentuk. 2002 pada port 1 akan diganti dengan label 3 (Implicit Null). dimana label 465 ditambahkan pada mpls label field yang sebelumnya tidak diset (label 16777215). Traffic Engineering with MPLS.com/portal/Products___Solutions/Technology/MPLS/ PHP ini bertujuan agar router pada tunnel tail tidak perlu Technology_White_Paper/200806/608770_57_0. modul konfigurasi kemudian menggunakan network-API untuk membangun LSP pada dataplane dengan memasukan flow entri yang mengandung informasi tentang label pada router-router sepanjang LSP tersebut.org/wk/index. melakukan reservasi bandwith dengan pembangunan LSP. IGP Shortcut digunakan untuk merutekan secara otomatis trafik yang menuju tunnel tail melewati tunnel.  Pada MPLS-TE berbasis OpenFlow.php/MPLS-TE_Demo#NOX label Implicit Null tersebut dilakukan proses flow lookup biasa. fast reroute digunakan untuk memberikan perlindungan pada link atau node dengan menyediakan bypass tunnel untuk mengalihkan trafik ketika link atau node yang dilindungi fitur tersebut down.C: A Unified Control Architecture for Packet and Circuit Network Convergence http://www. Tunnel tersebut (tunnel id 0x7e00) melalui rute San Francisco (sw=2) –> Denver (sw=a) -> Kansas(sw=3) ->New York(sw=4). Kemudian pada hop New York yang menerima http://www. Kemudian modul routing merutekan kembali trafik dari ip link yang melalui headend dan tailend tunnel melalui tunnel tersebut (auto-route).  MPLS-TE memiliki kelebihan dibanding protokol shortest-path IGP dalam hal kemampuan melakukan routing melalui jalur yang bukan shortest-path. Pada hop San Francisco terlihat proses pushing.org/standards/intro-to-openflow(Juli 2012) ini dikarenakan pada versi OpenFlow 1. reoptimization digunakan untuk mengoptimasi jalur tunnel. Proses [2] “MPLS TE Technology White Paper” http://www. aplikasi MPLSTE yang dijalankan oleh controller menggunakan protokol OpenFlow untuk mengatur kerja switch sehingga bisa menyediakan layanan yang disediakan MPLS-TE konvensional.htm (Maret 2012) melakukan 2 kali proses lookup (label lookup dan flow to OpenFlow” lookup).openflow.