You are on page 1of 9

SAKIT PERUT BERULANG PADA ANAK

Muzal Kadim Divisi Gastrohepatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM

Definisi sakit perut berulang pertama kali dideskripsikan pada tahun 1958 oleh Apley sebagai keadaan serangan nyeri perut tiga kali atau lebih selama periode lebih dari tiga bulan yang dapat mengakibatkan gangguan aktivitas.1-3 Definisi ini terus berkembang dan mengalami perubahan. Definisi sakit perut berulang sulit untuk ditentukan karena kelainannya meliputi kelainan organik dan fungsional.2 Membedakan antara kelainan organik dengan fungsional sebagai penyebab sangat sulit untuk dilakukan pada anak.1-3 Prevalens sakit perut berulang pada anak-anak di negara maju adalah 10-20%. Data epidemiologi di negara-negara Asia juga memperlihatkan nilai serupa. Di Malaysia, prevalens sekitar 10,2%, Bangladesh dan Srilanka 11,5%. Prevalens lebih tinggi pada anak perempuan.2 Di Indonesia, angka kejadian sakit perut berulang pada anak belum ada data yang pasti, tetapi dari pengalaman pakar gastroenterologi anak diperkirakan memiliki prevalens serupa.1-5 Lokasi sumber nyeri dapat ditentukan dari deskripsi klinis. Terdapat dua tipe serabut saraf yang akan menghantarkan rangsang nyeri dari perut. Serabut saraf A menghantarkan nyeri dari kulit dan otot berupa nyeri yang tajam dan terlokalisasi. Serabut saraf C menghantarkan nyeri dari organ-organ viseral, peritoneum, dan otot perut berupa nyeri yang tumpul dan tidak terlokalisasi. Aferen kedua tipe serabut saraf ini memiliki badan inti di ganglia saraf dorsalis, sebagian akson akan menyebrang garis tengah dan naik ke medulla, midbrain, dan thalamus. Sensasi nyeri berasal dari korteks di girus postsentralis yang dapat menerima impuls secara bilateral.6,7 Nyeri viseral dirasakan sesuai dengan dermatom persarafan organ yang bersangkutan. Impuls nyeri yang berasal dari hati, pankreas, traktus biliaris, lambung, dan sebagian duodenum akan dirasakan pada epigastrium. Nyeri dari duodenum distal, jejunum, ileum, sekum, dan proksimal kolon dirasakan pada daerah umbilikus. Sedangkan nyeri dari kolon transversum bagian distal, kolon desenden, sigmoid, rektum, traktus urinarius, dan organ genitalia wanita umumnya dirasakan di suprapubik. Impuls nyeri parietal abdomen berasal dari serabut saraf C

5 Faktor sosial atau penolakan untuk hadir di sekolah perlu ditanyakan pada anak dengan sakit perut berulang. trombosis. Ramchandani P dkk3 melaporkan bahwa anak dengan sakit perut berulang dengan onset dini memiliki risiko persistensi gejala sampai usia remaja. dan pembentangan peritoneum viseralis (pembengkakan hati. Usia 0-3 bulan biasanya digambarkan dengan adanya muntah. Persepsi nyeri dapat berasal dari sentral (otak) maupun perifer.2.2. ginjal).7 Stimulus nyeri pada perut dapat bersifat tekanan atau regangan. peregangan. irritable bowel syndrome. penarikan. Lesi yang bersifat inflamasi walaupun berada di bawah ambang batas nyeri tetapi dapat menyebabkan nyeri dengan mekanisme yang belum jelas. Metabolit jaringan yang dilepaskan di sekitar serabut saraf dapat menyebabkan impuls nyeri yang disebabkan oleh proses iskemik. sakit perut fungsional. hal ini menjelaskan nyeri yang disebabkan faktor psikogenik. Umumnya anak dengan sakit perut berulang memiliki masalah psikologis (kecemasan) baik pada anak maupun ibu.pada daerah dermatom T6-L1. Anak usia di atas 5 tahun sudah dapat menerangkan sifat dan lokalisasi sakit perut. obstruksi/gangguan pasase (organ yang berbentuk pembuluh. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan stress dan penyakit yang sama dalam keluarga. aerofagia. peradangan. tiba-tiba menjerit dan menangis tanpa penyebab.7 Sakit perut dapat disebabkan oleh proses vaskular (emboli. Klasifikasi menurut Roma II dibagi menjadi dispepsia fungsional. Banyak penelitian klinis mengenai sakit perut berulang pada anak namun penyebab yang pasti sering tidak diketahui. oklusi karena torsi atau oklusi). Anak usia 2 – 5 tahun dapat mengatakan sakit perut tapi lokalisasinya belum tepat. Usia 3 bulan – 2 tahun digambarkan dengan muntah.5-7 Hipotesis Apley menyatakan bahwa gangguan psikologis dapat menjadi penyebab sakit fisik.2 Keluhan sakit perut pada bayi dan anak bergantung pada usia penderita. nyeri bersifat kolik). Nyeri tipe ini dirasakan lebih terlokalisasi dengan baik di daerah organ berada.1-3 . migrain abdomen.

pemeriksaan fisis. pemeriksaan fisis (penunjang atas indikasi) Dispepsia fungsional Gejala seperti ulkus peptikum tanpa kelainan pada pemeriksaan endoskopi Migrain abdominal Muntah. pemeriksaan fisis (penunjang atas indikasi) Irritable bowel syndrome Kram perut intermiten. kolik. jus buah. diare Kembung. diare. Penyebab sakit perut berulang2 Kelainan Non-organik Sakit perut fungsional Sakit tidak spesifik. adanya tanda-tanda konstipasi Intoleransi laktosa Gejala berkaitan dengan asupan laktosa (kembung. atau permen yang menganung sorbitol secara berlebihan Ulkus peptikum Nyeri yang mengganggu atau seperti terbakar. flatus >>. reduksi positij dan ph tinja< 5. umumnya sekitar umbilikus Anamnesis. foto polos abdomen Uji diet bebas laktosa.Tabel 1. riwayat keluarga Anamnesis. flatus >>. dapat disertai dengan darah dalam feses Hernia inguinalis Nyeri terlokalisasi Riwayat intususepsi. pemeriksaan fisis (penunjang atas indikasi) Apendisitis kronis Nyeri kuadran kanan bawah tidak selalu Barium follow trough. kram perut. esofagogastroduodenoskopi Anamnesis adanya riwayat migraine dalam keluarga Karateristik Evaluasi Traktus gastrointestinal Konstipasi kronis Riwayat menahan feses. kembung. CT didapatkan . Breath Hydrogen Test (BHT) Infeksi parasit (terutama Giardia) Asupan fruktosa atau sorbitol berlebihan Sakit perut tidak spesifik. flatus) Anamnesis. serologi Giardia Asupan apel. diperberat saat bangun tidur dan sebelum makan Esofagitis Nyeri epigastrium dengan rasa seperti terbakar di substernal Divertikulum Meckel's Nyeri periumbilikus atau perut bawah. Meckel scan Esofagogastroduodenoskopi Esofagogastroduodenoskopi hematakesia Intususepsi rekuren Nyeri perut kram paroksismal berat. dan konstipasi Anamnesis. colok dubur. diare. rontgen abdomen dengan kontras Anamnesis. diare Pemeriksaan tinja untuk telur dan parasit. kram perut.

urinalisis Sakit perut berulang karena kelainan organik memiliki banyak diagnosis banding. kram. USG dan CT pankreas USG kandung empedu Traktus genitourinarius Infeksi saluran kemih Nyeri suprapubik. diare kronis. lokalisasi nyeri jauh dari umbilikus. muntah yang bermakna terutama muntah hijau. dari pinggang ke region inguinal ke testis USG ginjal Urinalisis. nyeri pinggang Urinalisis. USG. pencitraan ginjal Hidronefrosis Urolitiasis Nyeri perut unilateral atau nyeri pinggang Nyeri progresif dan berat.Kandung empedu dan pancreas Kolelitiasis Nyeri kuadran kanan atas. Gejala bahaya antara lain penurunan berat badan. kultur urin. dapat menjalar ke punggung. Evaluasi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik sangat penting untuk menentukan prosedur diagnostik penunjang yang tepat dan menegakkan diagnosis. IVP. perdarahan saluran cerna. kelainan kulit. riwayat keluarga dengan inflammatory bowel disease. Sulit untuk membuat kategori karena tidak adanya pemeriksaan diagnostik yang definitif. muntah USG atau CT kuadran kanan atas Amylase dan lipase darah. diperberat dengan makanan Kista duktus koledokus Nyeri kuadran kanan atas. anak kurang dari 5 . Jika terdapat tanda dan gejala bahaya maka kemungkinan besar penyebabnya adalah kelainan organik dan pasien terindikasi untuk menjalani pemeriksaan penunjang. Faktor fisik dan emosi dapat terjadi dalam waktu bersamaan. pemeriksaan fisis. termasuk EEG saat tidur) Krisis sickle cell Purpura Henoch-Schönlein Anemia Sakit perut berat. CT Kelainan lainnya Epilepsi abdomen Gejala prodormal kejang EEG (mungkin diperlukan lebih dari 1 kali. darah samar pada feses. nyeri kuadran atas dan bawah kanan yang persisten. Kadang kala bahkan terdapat kesulitan untuk membedakan sakit perut berulang organik dengan fungsional karena keduanya tumpang tindih. dapat disertai dengan massa dan peningkatan bilirubin Pankreatitis kronik Nyeri tumpul yang persisten. arthritis Evaluasi hematologi Anamnesis. darah rutin. penurunan pertumbuhan linear.

kelainan pemeriksaan perianal (fisura. dan sindrom sakit perut siklik.5 Jika pasien terindikasi untuk dilakukan pemeriksaan penunjang maka diawali dengan pemeriksaan darah perifer lengkap. Pasien terindikasi untuk dilakukan investigasi lanjut dengan serologi H. hidronefrosis. nyeri ketok sudut kostovetebra. perabaan adanya massa. sakit perut sebagai gejala tunggal. batu empedu. skin tag). pylori. laju endap darah atau C-reactive protein. mungkin penyebab nyeri berasal dari hati. pylori sudah pernah dilakukan sehingga pada kasus ini dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. dan massa retroperitoneal. organomegali.6. dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas.4. lokalisasi nyeri jauh dari umbilikus. obstruksi parsial usus halus. dan enzim pankreas. fungsi hati dan ginjal. pylori dan ultrasonografi abdomen. fungsi hati. Pemeriksaan untuk H. ulserasi. Jika gejala muntah dominan. pengalaman para pakar mengklasifikasikan gejala nyeri untuk mempermudah penegakkan diagnosis. urinalisis dan kultur urin.7 Sakit perut pada pasien dirasakan di epigastrium (dispepsia) dan terdapat nyeri tekan kuadran atas kanan. perubahan pola defekasi. Walaupun belum terdapat data berbasis bukti. . Pemeriksaan lanjutan berupa yang sudah dijelaskan di atas ditambah dengan serologi H. penyakit Crohn. gejala sistemik. Sakit perut berulang dibagi menjadi sakit perut yang berkaitan dengan gejala distress abdomen bagian atas. Terdapat tanda dan gejala bahaya yaitu muntah. ultrasonografi abdomen dan barium meal dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik seperti malrotasi. hangat). pankreas.6-7 Pada sakit perut dengan gejala distress abdomen bagian atas atau sering disebut dispepsia. kemerahan. Berdasarkan deskripsi lokasi nyeri. radang sendi (bengkak. pseudokista pankreas.tahun. investigasi lanjut dilakukan jika terdapat muntah yang bermakna. dan lambung. traktus biliaris. Tanda bahaya dari pemeriksaan abdomen adalah nyeri tekan di kuadran atas atau bawah kanan.

Pada 50. berbanding terbalik dengan status sosioekonomi. pylori. Jika terjadi perbaikan gejala.6. esofagitis. atau omeprazol selama dua minggu. gastroduodenitis.5 Infeksi H. pylori) positif pada 35 kasus. Algoritme evaluasi dan manajemen sakit perut berulang7 Pada dispepsia. 1-5 Insiden infeksi H.pylori positif pada anak sebelum usia 10 tahun dan . Di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM menunjukkan bahwa 30% kasus sakit perut berulang positif infeksi H. pylori. Helicobacter pylori (H. maka kemungkinan penyebabnya adalah dispepsia fungsional. famotidin.10 Pemeriksaan endoskopi dilakukan jika tidak terdapat respon terhadap terapi atau jika dicurigai adanya infeksi H. dan meningkat pada anak dengan riwayat keluarga ulkus peptikum atau infeksi H. pylori pada anak meningkat seiiring bertambahnya usia. dapat diberikan ranitidin.Gambar 1. Di Amerika Serikat. serokonversi H.7 Assiri 8 melakukan pemeriksaan endoskopi terhadap 192 anak Saudi Arabia dengan gejala dispepsia berulang. pylori telah ada sejak usia bayi dan anak baik pada negara maju maupun berkembang. pylori.5% subjek didapatkan kelainan organik berupa gastritis.

10 Pemeriksaan serologis untuk H.10. Penelitian uji tersamar ganda yang dilakukan Ashom dkk14 terhadap 20 anak dengan infeksi H. Pemeriksaan antigen dari tinja tidak dapat digunakan sebagai sarana diagnostik karena tidak dapat dibuktikan manfaatnya dari penelitian yang ada. Di daerah Surakarta.9 Prevalens serologi infeksi H.12 Pasien yang terinfeksi memiliki risiko 2 – 6 kali lebih tinggi untuk menderita kanker gaster dan limfoma mucosalassociated-lymphoid-type (MALT) dibandingkan dengan tanpa infeksi. pylori dengan gejala dispepsia dan sakit perut.9 Pada pasien. penelitian Harijono membandingkan antara pemeriksaan biakan dengan pemeriksaan serologi kit PHA dan kit Orion. pylori dengan kejadian sakit perut berulang masih kontroversial. pylori ditegakkan berdasarkan pemeriksaan biopsi mukosa lambung. dari 223 anak di bawah 5 tahun terdapat IgG anti-HP positif sebesar 42.5%. ulkus gaster dan duodenum pada anak maupun dewasa. Sensitivitas yang dilaporkan di Eropa rendah.11.2%.seroprevalens 25% pada usia 18 tahun.7 Diagnosis dapat dilakukan dengan tehnik invasif maupun non invasif. dan klaritromisin dan kelompok kedua mendapat omeprazol dan plasebo. . amoksisilin.5% dan spesifisitas 95. Pedoman dari Kanada untuk manajemen infeksi H. yaitu untuk melihat ada tidaknya kelainan mukosa gaster dan duodenum serta untuk mengetahui ada tidaknya H.9. Pedoman Kanada menggunakan UBT sebagai sarana diagnostik non invasif yang paling baik. pylori.9 Sakit perut hanya terjadi jika infeksi H. pylori pada anak mengemukakan bahwa sakit perut berulang bukan merupakan indikasi untuk pemeriksaan infeksi H.5% sedangkan kit Orion menunjukkan sensitivitas 85.10 Kelemahan dari pemeriksaan serologi adalah IgG Anti-Hp baru hilang beberapa bulan setelah eradikasi sehingga tidak dapat digunakan untuk evaluasi hasil eradikasi.5% dan spesifisitas 91%.7. Tidak terdapat perbedaan gejala selama pemantauan. Kelompok yang pertama mendapat omeprazol.8 Pemeriksaan non invasif lain adalah pemeriksaan Urea Breath Test (UBT) yang sangat mahal namun dapat dipakai untuk evaluasi hasil eradikasi.9 Sedangkan di Indonesia.13 Hubungan antara infeksi H. Permeriksaan invasif dengan endoskopi memiliki dua tujuan. Kit PHA Bio M pylori menunjukkan sensitivitas 85.12 Kadang-kadang terdapat infeksi tanpa gejala klinis yang khas sehingga terdapat kesulitan mengenal infeksi pada anak. pylori. pylori di Bali pada anak usia 6-12 tahun mencapai 35. pylori sudah menyebabkan ulkus peptikum.10 Helicobacter pylori tidak menunjukkan gejala-gejala yang berkaitan dengan infeksi tetapi menujukkan gejala gastritis akut dan kronik. pylori dapat mendeteksi antibodi Ig-G dengan murah dan mudah. diagnosis infeksi H.

Pada ISK atas dapat ditemukan demam tinggi dan nyeri daerah pinggang. polakisuria. Terapi lini kedua dan ketiga diberikan jika dicurigai adanya resistensi.Penelitian menujukkan bahwa triple therapy (omeprazole. amoksisilin dan klaritromisin) selama satu minggu dibandingkan dengan dual therapy (amoksisilin dan klaritromisin) memberikan eradikasi kuman 74.17 Kepustakaan: . Penghambat pompa proton diberikan untuk menurunkan keasaman lambung sehingga antibiotika dapat bekerja lebih optimal.11. Jika ditemukan jumlah kuman >104 dengan gejala maka tetap dapat dianggap sebagai ISK.4% pada dual therapy. Diagnosis pasti adalah dengan pemeriksaan kultur urin. terapi eradikasi diberikan secara triple therapy namun tidak terdapat perbaikan klinis.7.16 Pemeriksaan penunjang yang penting adalah urinalisis (jumlah leukosit dan uji nitrit) dan kultur urin. Keluhan dapat berupa disuria.2% dibandingkan dengan 9. dan urgency. tetapi karena anak masih kecil dikeluhkan sebagai sakit perut. Pemeriksaan fisik pada genitalia lakilaki perlu diperhatikan adanya hipospadia dan fimosis. pylori. jika dengan urin pancar tengah didapatkan >10 5 koloni kuman. dapat dilakukan pemeriksaan non invasif (UBT) untuk mengetahui keberhasilan terapi dan perlu dipikirkan diagnosis banding sakit perut berulang yang lainnya. Setelah anak usia 5-6 tahun anak dapat bicara dan mengontrol miksinya. Kultur kuman dan pola resistensi harus dilakukan untuk mencegah kegagalan terapi. Leukosituria ringan adalah jumlah leukosit 5-40 per LPB dan leukosituria berat adalah jumlah leukosit di atas 40 per LPB. Jika tidak terdapat perbaikan klinis dengan terapi yang adekuat.9 Pada pasien.10 Resistensi pernah dilaporkan pada pemberian antibiotika metronidazol dan makrolid. Leukosituria adalah jumlah leukosit 5 atau lebih dalam lapangan pandang besar (LPB) dari pemeriksaan sedimen urin.15 Prinsip terapi dengan menggunakan dua macam antibiotika adalah agar terjadi efek sinergis. Kelainan traktus urinarius berupa infeksi atau obstruksi dapat menjadi salah satu diagnosis banding sakit perut berulang. Gejala infeksi saluran kemih pada anak tidak khas terutama pada neonatus. Hal ini dapat disebabkan oleh karena resistensi antibiotik atau nyeri perut bukan disebabkan oleh infeksi H. Evaluasi dengan pemeriksaan urinalisis dan kultur urin merupakan pemeriksaan saringan untuk mengetahui adanya infeksi saluran kemih (ISK).

12. and gastric cancer. Spyckerelle C. Pediatrics. 4. Surabaya.159:415-21. Chronic abdominal pain. Omeprazole combined with amoxycillin and clarithromycin in the eradication of Helicobacter pylori in children with gastritis: A prospective randomized double-blind trial. Jakarta. 2003. Ramchandani P. gastritis. Diagnosis dan tata laksana infeksi saluran kemih pada anak. Jenson HB. Stanton BF (penyunting). 2005. Dalam: Kliegman RM.1. Gottrand F. Lister G. What is new related to Helicobacter pylori infection in children and teenagers?. Dalam: Walker WA. Subcommitee on chronic abdominal pain. Jakarta. Pathobiology of Helicobacter pylori infection in children. Diunduh dari: www. Sherman PM. J physiol pharmacol. 5. Ontario: BC Decker. 2005. IJKD. 14. 11. Boyle JT. Alatas H. 2004. Discovery by jaworski of Helicobacter pylori and its pathogenetic role in peptic ulcer. Stein A. Goulet O. Abdominal pain. Rago T. The role of endoscopy in childhood chronic abdominal pain. 2003:h. 10. Jones NL. Pediatric gastrointestinal disease.139:664-8. 2001. Symptomatic response to Helicobacter pylori eradication in children with recurrent abdominal pain: Double-blind randomized placebo-controlled trial. Shandu B. Pediatc child health. Sanderson IR (penyunting). Naseri M. 8. Disajikan dalam: Hot topic in pediatrics II. Ruuska T. J Clin Gastroenterol. Ball TA. A review of current guidelines for the management of Helicobacter pylori in children and adolescents. Disajikan dalam: Kongres Nasional III Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia. Dalam: Rudolph AM. Karikoski R. Kalach N. Kato S. McGraw -Hill. erythrocyte sedimentation rate. Arch pediatr adolesc med. 6-8 Desember 2007. J Pediatr . 2004:h. 18-19 Februari 2002. . 3. 16. Clinical manifestation of gastrointestinal disease.1357-63. 2005. Hotopf M.225-43.13:599-603. 2. and C-reactive protein in febrile urinary tract infection. Rudolph’s pediatrics. Pada tanggal: 23 Desember 2009. Nelson textbook of pediatrics. Firmansyah A. Hostetter MK. Approach to the child with recurrent abdominal pain.111:1-11. The epidemiology of recurrent abdominal pain from 2 to 6 years of age: result of a a large population-based study. 6. Wylie R. Ashorn M. Behrman RE. Rudolph CD. Pediatrics. Diagnosis dan tata laksana infeksi Helicobacter pylori pada anak. 15.1525-27. Ridell RH.38:646-50. Disajikan dalam: Pain management in children. Sherman PM. 20-21 November 2006. Kleinman KE. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2004. Alterations of peripheral leukocyte count. Boyle JT.115:812-15. 17. Shneider BL. 2008:h. 2008.9:709-13. Rautelin H. Konturek JW. 13. Siegel NJ (penyunting).54:23-41. Subagyo B.saudiannals. 2003.116:46-50. Assiri MEMA. Weydert JA. 9. Davis MF. Kokkonen J.2:137-42. Pediatrics. Systematic review of treatments for recurrent abdominal pain. 7. et al. Can J Gastroenterol 1999. Sakit perut berulang pada anak.net.