You are on page 1of 19

BAB III

“BUKU RUSDI” DAN PENDIDIKAN KOLONIAL

Dalam bab ini dikemukakan amatan yang lebih terperinci atas buku, penulis
dan terutama ilustrator RdM, serta konteks historisnya. Uraian di sini dimaksudkan
selain untuk memerinci segi-segi penting dari buku tersebut juga untuk
menggambarkan peran dan fungsi buku tersebut —serta, dengan sendirinya, ilustrasi-
ilustrasi yang terdapat di dalamnya— dalam pendidikan dasar penduduk bumiputra di
Hindia Belanda sebelum PD II. Terlebih dahulu ditinjau secara selayang pandang
beberapa sumber data atau keterangan menyangkut sosok dan karya W.K. de Bruin,
sekadar untuk menekankan bahwa data atau keterangan menyangkut sosok dan karya
ilustrator tersebut masih harus digali.

III.1 Penelitian Terdahulu
Sejauh ini, belum ada penelitian mengenai ilustrasi karya W.K. de Bruin
dalam buku RdM. Pengetahuan umum mengenai sosok dan karya W.K. de Bruin di
bidang ilustrasi, yang di antaranya berkaitan dengan penggambaran manusia, alam
dan budaya Hindia Belanda, masih sedikit. Dalam Lexicon of Foreign Artists who
Visualized Indonesia (1600-1950) susunan Leo Haks dan Guus Maris, misalnya,
hanya disebutkan bahwa W.K. de Bruin “membuat ilustrasi mengenai Indonesia
untuk sejumlah buku anak-anak seperti Indische Sprookjes (Rijswijk, 1923) karangan
T.J.A. Hilgers dan Mijn Eerste Leesboek (Rijswijk, ca. 1915) karangan F. Viersen.”
(Haks dan Maris, 1995: 50). Tidak disebutkan bahwa W.K. de Bruin pun membuat
gambar untuk buku-buku yang ditulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Melayu.
Dalam telaah atas sejarah ilustrasi di Indonesia pun sosok dan karya W.K. de
Bruin baru disinggung-singgung sambil lalu. Dalam buku karya Haryadi Suadi,
Onong Nugraha: Sebuah Riak dalam Gelombang Sejarah Seni Ilustrasi di Indonesia
(2000), nama W.K. de Bruin turut disebut-sebut. Buku itu sendiri memusatkan
perhatian pada sosok dan karya mendiang Onong Muhammad Nugraha Sastraatmadja
(1933-2001), ilustrator terkemuka yang antara lain dikenal lewat rangkaian

36
ilustrasinya dalam sejumlah majalah, khususnya majalah berbahasa Sunda. Dalam
buku itu Haryadi menyebutkan bahwa ilustrasi karya Onong Nugraha “terpengaruh
W.K. de Bruin”. Meskipun buku ini telah ikut menegaskan peran yang dimainkan
oleh ilustrasi karya W.K. de Bruin dalam sejarah ilustrasi di Indonesia, tetapi belum
menggambarkan sosok dan karya W.K. de Bruin.
Demikian pula di Belanda dan sekitarnya penelitian mengenai sosok dan
karya W.K. de Bruin tampaknya belum banyak. Di antara sedikit sumber informasi
yang tersedia sejauh ini, ada buku Brood op de Leesplank: Zes Illustratoren in Dienst
Van Het Onderwijs: C. Jetses, J.H. Isings, Tj. Bottema, W.K. de Bruin, B. Beuninck,
J. Gabrielse (Roti pada Papan Pengajaran: Enam ilustrator yang Bekerja di Bidang
Pendidikan: C. Jetses, J.H. Isings, Tj. Bottema, W.K. de Bruin, B. Beuninck, J.
Gabrielse) karya Jacqueline Burgers (1977). Buku ini turut menyediakan informasi
perihal sosok dan karya W.K. de Bruin. Namun, titik tolaknya terpaut pada sejarah
ilustrasi di Belanda, khususnya yang berkaitan dengan sejarah pendidikan dasar di
negeri itu.
Ada pula hasil penelitian yang berjudul, Als de Muren Konden Spreken:
Schoolwandplaten en de geschiedenis van het Belgisch lager onderwijs (Seandainya
Dinding Bisa Bicara: Papan Pengajaran dan Sejarah Pendidikan Dasar di Belgia),
disertasi karya Karl Catteeuw yang dipertahankan di Faculteit Psychologische
Wetenschappen, Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, pada 2005. Dalam salah
satu pokok bahasannya, Catteeuw menyoroti Nederlandse ontwerpers (para
perancang grafis Belanda), yang salah satu di antaranya adalah W. K. de Bruin,
berdasarkan buku karangan Burgers tersebut. Namun, sebagaimana buku karya
Jacqueline Burgers, disertasi karya Karl Catteeuw menitikberatkan perhatiannya pada
ilustrasi dalam hubungannya dengan sejarah pendidikan di Eropa.
Seraya berupaya melengkapi pengetahuan umum mengenai sosok dan karya
W.K. de Bruin, di sini dipaparkan beberapa hal menyangkut buku RdM, khususnya
mengenai fungsi buku tersebut dan orang-orang yang menyusunnya. Untuk
mendapatkan gambaran mengenai latar historisnya, terlebih dahulu dipaparkan secara

37
singkat beberapa hal mengenai sistem pendidikan dasar di Hindia Belanda sebelum
PD II.

III.2 Sistem Pendidikan Dasar di Hindia Belanda sebelum PD II
Pada permulaan abad ke-19 pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan
untuk membuka sekolah bagi anak-anak penduduk bumiputra. Sebagaimana yang
dicatat oleh Moriyama Mikihiro dalam bukunya, Sundanese Print Culture and
Modernity in 19th-century West Java (2005), pada 1808 Gubernur Jenderal Herman
Willem Daendels mengeluarkan keputusan yang menghendaki agar para bupati
(regent) membuka sekolah untuk mendidik anak-anak penduduk bumiputra dan
mempersiapkan tenaga pengajarnya. Kurang lebih sepuluh tahun kemudian, yakni
pada 1818, pemerintah mengeluarkan keputusan resmi (Regerings Regelement) yang
menyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab dalam penyediaan fasilitas
pendidikan bagi anak-anak penduduk bumiputra yang sepadan dengan fasilitas
pendidikan yang diberikan kepada anak-anak Eropa. Pada 1848 Kerajaan Belanda
mengeluarkan keputusan yang memberikan wewenang kepada Gubernur Jenderal
Hindia Belanda untuk mengalokasikan anggaran sebesar Df. 25.000 pertahun untuk
membuka sekolah-sekolah bagi penduduk Pulau Jawa, yang “terutama dimaksudkan
untuk melatih pegawai pribumi” (voornamelijk bestemd tot opleiding van Inlandsche
ambtenaren) (Mikihiro, 2005: 56-57).
Di Tatar Sunda, sekolah dasar pertama dibuka di Cianjur pada 1820-an dalam
masa kekuasaan Gubernur Jenderal van der Capellen. Sekolah ini antara lain
mendapat sokongan dana dari Bupati Cianjur. Namun sekolah dasar pertama di Tatar
Sunda dalam arti sepenuhnya —yang mula-mula disebut regentschaps-scholen
(sekolah kabupaten) tapi kemudian disebut lagere-scholen (sekolah dasar)— baru
dibuka pada 1851, juga di Cianjur (Mikihiro, 2005: 57). Pada awalnya sekolah-
sekolah seperti ini hanya dimasuki oleh anak-anak dari kalangan elite pribumi seperti
bupati (regent), papatih, kepala penghulu (hoofdtpanghulu), administratur
perkebunan kopi (koffij-gecommitteerde) atau camat (districtshoofd). Dalam

38
perkembangannya kemudian, seiring dengan kian banyaknya sekolah, kian banyak
pula anak-anak dari berbagai kalangan yang belajar di sekolah.

Gb. III.1 Murid dan guru di sebuah sekolah Hindia Belanda pada 1927
(Dok. Nationaal Archief Belanda)

Sehubungan dengan bahasa pengantar yang digunakannya, sebagaimana yang
dipaparkan dalam buku Het Volksonderwijs in Nederlandsch-Indië “Pendidikan
Rakyat di Hindia Belanda” (1932) karya P. Post dan sejumlah sumber lain, sistem
pendidikan di Hindia Belanda sebelum PD II, tak terkecuali dalam hal pendidikan
dasar, bersifat dualistik. Di satu pihak, terdapat pendidikan dasar penduduk
bumiputra (Inlandsche lager onderwijs) yang memakai bahasa setempat sebagai
bahasa pengantarnya. Di pihak lain, terdapat pendidikan dasar Barat (Westersche
lager onderwijs) yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya.
Dalam golongan pertama terdapat Volksschool yang disebut juga “Sakola Desa”
selama 3 tahun, yang lulusannya dapat melanjutkan pendidikan ke Gemengde
Vervolgschool (Sekolah Lanjutan Umum) atau Meisjes Vervolgschool (Sekolah
Lanjutan Puteri), dan Tweede Klasse School atau Standaardschool (Sekolah Kelas
Dua) selama 6 tahun. Sedangkan dalam golongan kedua terdapat Schakelschool
selama 5 tahun, serta Europeesche Lagere School, Hollandsche Inlandsche School

39
dan Hollandsche Chineesche School yang masing-masing selama 7 tahun. Gambaran
lebih terperinci diperlihatkan oleh Post dalam skema di bawah ini:

A. Menggunakan bahasa setempat sebagai B. Menggunakan bahasa Belanda sebagai
bahasa pengantar bahasa pengantar

Sch. E.L.S. H.I.S. H.C.S.

5 7 7 7
M.V.
4 6 6 6
G.V.
3 6 3 5 5 5
2 2 5 2 4 4 4
1 1 4 1 3 3 3
3 2 2 2
3 2 1 1 1
2 G.V. = Sekolah
1 V V V
Lanjutan Umum
M.V. = Sekolah
1 Lanjutan Puteri

Sekolah Kelas 2
(Standaardschool) V = Voorklasse
Volksschool
(Sakola Desa)

Gb. III.2. Skema Sistem Pendidikan Dasar di Hindia Belanda dari P. Post

Penggunaan bahasa pengantar di sekolah juga dikukuhkan dengan keputusan
pemerintah. Pada 28 September 1892 Raja Belanda mengeluarkan keputusan
tersendiri yang ditindaklanjuti dengan keputusan pemerintah Hindia Belanda yang
diumumkan dalam Lembaran Negara No. 125 Tahun 1893. Dalam hal penggunaan
bahasa Sunda, keputusan tersebut antara lain menekankan bahwa bahasa Sunda yang
dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah di Tatar Sunda adalah bahasa
Sunda dialek Bandung. Dialek itulah yang hingga kini dijadikan basa lulugu (bahasa
baku) (Wibisana dkk., 2000: xi).

40
Pertimbangan yang mendasari penetapan atas dialek Bandung sebagai bahasa
baku, meski menarik dan penting ditilik, berada di luar jangkauan penelitian ini. Yang
pasti, dalam hal ini, dapat diperhatikan pandangan Moriyama sebagai berikut:

It is ironical that the Sundanese that was being taught was
standardized by Dutch officials. Yet another irony is that the
Sundanese (and Malay) that was being taught was primarily a written
form of language; frozen in textbooks, it exerted a growing influence
on spoken language, limiting the dynamics of Sundanese as a whole
and establishing categories such as “good” and “bad”, “standard”
and “substandard” Sundanese. In retrospect, the local teachers
unknowingly became the agents of colonial forms of knowledge—and
of modernity.

Betapa ironisnya bahwa bahasa Sunda yang diajarkan itu dibakukan
oleh pejabat-pejabat Belanda. Namun ironi lainnya adalah bahwa
bahasa Sunda (dan Melayu) yang diajarkan itu terutama berbentuk
bahasa tertulis; dibekukan dalam buku-buku teks, bahasa itu menahan
tumbuhnya pengaruh atas bahasa lisan, membatasi dinamika bahasa
Sunda secara meyeluruh dan memapankan kategori-kategori seperti
bahasa Sunda yang “baik” dan “buruk”, “baku” dan “tidak baku”. Jika
ditinjau kini, guru-guru setempat secara tidak sadar telah menjadi agen
bentuk-bentuk pengetahuan kolonial—dan modernitas. (Moriyama,
2005: 68)

Dengan demikian, sekolah-sekolah bagi penduduk bumiputra dibuka terutama
untuk mengintegrasikan rakyat jajahan dengan tatanan kolonial, dalam arti untuk
merekrut calon-calon pegawai. Pembakuan bahasa menjadi salah satu aspeknya yang
terpenting, sebagai jalan tersendiri bagi kelancaran proses kolonialisasi. “Buku
Rusdi” yang dialamatkan kepada “sakola Soenda” —yakni sekolah yang
menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantarnya— merupakan salah satu
bagian dari tatanan besar yang mengandung sejumlah ironi itu.

III.3 “Buku Rusdi” sebagai Bacaan Murid Sekolah Dasar
Ada dua kategori buku yang diperkenalkan kepada murid-murid sekolah dasar
di Hindia Belanda pada zaman kolonial, terutama dalam mata pelajaran bahasa
sebagaimana yang dikenal hingga kini, yakni buku pelajaran (leerboek) dan buku

41
bacaan (leesboek). Jika buku pelajaran cenderung bersifat didaktis, dalam arti
menekankan pengetahuan dan keterampilan anak didik, buku bacaan cenderung
bersifat impresif, dalam arti menggugah minat anak-anak untuk gemar membaca dan
menghayati isi bacaan.
RdM, sebagaimana yang tersurat dalam subjudulnya, tergolong ke dalam
kategori buku bacaan. Dalam bagian “Boeboeka” (Pendahuluan) RdM Jilid I,
pengarang buku tersebut antara lain mengutarakan:

Ieu boekoe tjarios “Roesdi djeung Misnem”, diadjam pikeun
ngalajěngkeun batjaan di sakola handap sarěng di sakola² desa,
maksadna pikeun diajar “maos”.
Lagoena sarěng pok-pokanana dina waktos nganggo ieu
boekoe, pěrjogi dianggap noměr hidji.
Koe margi eta aja sababraha pasal anoe koe goeroe kenging
didaměl pagoeněman. Sarěng aja anoe djadi pepeling panoengtoen
kana kalakoean sae; djabi ti eta aja noe kenging noekil tina elmoe
kadjadian, elmoe pěpělakan, elmoe sasatoan sarěng elmoe boemi.

Buku cerita “Roesdi djeung Misnem” ini, dipersiapkan untuk
melanjutkan bacaan di sekolah rendah dan sekolah-sekolah desa,
maksudnya untuk belajar “membaca”.
Irama dan tutur kata sewaktu menggunakan buku ini, perlu
diutamakan.
Karena itu, ada beberapa pasal yang oleh guru dapat dibuat
percakapan. Serta ada yang menjadi petuah penuntun ke arah perilaku
yang baik; selain itu ada yang dipetik dari ilmu kejadian, ilmu
tetumbuhan, ilmu hewan serta ilmu bumi. (Deenik dan Djajadiredja,
191-: -, cetak tebal dari penulis)

Dalam keempat jilid buku tersebut diceritakan serba-serbi kehidupan sehari-
hari kakak beradik Rusdi dan Misnem, yang diselingi dengan berbagai cerita singkat,
dongeng, gambaran kehidupan di tempat-tempat yang jauh, dsb., tak ubahnya dengan
rangkaian cerita bersambung yang dituturkan dari sudut pandang orang ketiga. Secara
keseluruhan, alur penceritaan buku ini sejalan dengan perkembangan diri Rusdi
sebagai protagonisnya, mulai dari masa prasekolah di kampung hingga memasuki
masa sekolah di kota.

42
Dalam golongannya, RdM memang bukan yang pertama. Sebelum buku ini
terbit terdapat buku sejenis seperti Boekoe Edjahan djeung Batjaän pikeun Moerid-
moerid dina Pangkat Panghandapna di Sakola-Soenda karangan C. J. van Haastert
(Buku Ejaan dan Bacaan untuk Murid-murid Tingkat Terendah di Sekolah Sunda,
1894), Mangle, nja eta Roepa-roepa Tjarita reudjeung Tjonto, pikeun Pangkat
Kadoewa di Sakola Soenda (Bungarampai: yaitu Beragam Cerita dan Contoh, untuk
Sekolah Sunda, 1890) karangan W. van Gelder dan Buku Batjaan Salawe Toeladan:
pikeun Moerid-moerid kĕlas Opat di Sakola Soenda (Buku Bacaan Dua Puluh Lima
Teladan: untuk Murid-murid Kelas Empat di Sekolah Sunda, 1907) juga karangan W.
van Gelder. Buku Mangle terbitan De Swart & Zoon, Den Haag, Belanda (Cet. ke-8,
1913), misalnya, juga dilengkapi dengan gambar-gambar, di antaranya berupa
gambar-gambar realistis yang diolah dari foto hitam putih tapi kemudian diwarnai
dengan cat air dan dicetak dalam bentuk full-colour.
RdM juga bukan satu-satunya buku bacaan bagi murid-murid sekolah dasar di
Jawa Barat sebelum Perang Dunia II. Apalagi pada zaman kolonial ada pemisahan
sekolah berdasarkan perbedaan golongan sosial tempat murid-murid berasal. Anak-
anak dari golongan menak atau bangsawan tidak berada dalam satu sekolah dengan
anak-anak dari golongan cacah atau rakyat jelata. Mata pelajaran yang mereka
dapatkan pun berlainan. “Buku Rusdi” tampaknya dialamatkan kepada murid-murid
sekolah dasar yang berasal dari golongan rakyat jelata. Di samping “Buku Rusdi”,
terdapat buku-buku sejenis —bahkan dengan bahasa dan pola serta khalayak
pembaca yang sebanding— yang dapat dikatakan sezaman dengan buku tersebut.
Namun, yang menarik, RdM tampaknya lebih populer daripada buku-buku
yang mendahului dan mengikutinya. Tidak mengherankan jika disebutkan bahwa
salah seorang sastrawan Sunda terkemuka di Bandung, yang lahir pada 1935 dan
ketika ia duduk di sekolah dasar tidak membaca buku tersebut, memiliki satu bundel
fotokopian RdM, sama dengan yang beredar di lingkungan para penggemar buku
berbahasa Sunda dewasa ini. Tampaknya pula, buku inilah yang menjadi “model”
bagi buku-buku bacaan berbahasa Sunda untuk anak-anak yang bermunculan
kemudian semisal Panglipoer Galih: Boekoe Batjaan pikeun Sakola Soenda karangan

43
G. C. Janssen dan A. Van Dijck (1930?), Gandasari: Boekoe Batjaan di Sakola
Soenda karangan Sastraatmadja, M. Soemawidjaja dan M Soeriadiradja (1933) dan
Panggelar Boedi: Boekoe Batjaan pikeun Moerid-moerid di Sakola Soenda karangan
W. Keizer dan Moehamad Rais (1930-an) yang ilustrasinya juga dibuat oleh W.K. de
Bruin. (Daftar buku bacaan untuk sekolah dasar Sunda sebelum PD II yang lebih
terperinci dapat dilihat dalam Lampiran 4).
Sementara itu, dalam pola dasarnya, karakterisasi Rusdi dan Misnem
―sebagaimana Ot dan Sien di Belanda― pun dapat dibandingkan dengan tokoh-
tokoh buku bacaan sejenisnya. Dapat disebutkan misalnya pasangan tokoh Siti karo
Slamet; Koentjoeng karo Bawoek4; Yoyo, Didi, Wiwi; Pim en Mien, Umi jeung Udi,
dan seterusnya. Rusdi dan Misnem sendiri dikonstruksi sebagai anak nakal dan liar.
Tipologinya berlawanan dengan citra anak panutan. Dengan kata lain, watak Rusdi
dan Misnem tidak sebaik watak tokoh-tokoh cerita bacaan anak-anak yang
bermunculan kemudian.

Gb. III.2 Keempat jilid buku RdM koleksi Bibliotheek KITLV, Leiden
(Foto: Wawan Setiawan)

4
Suparto Brata, sastrawan Jawa yang lahir di Surabaya pada 1932, dalam naskah memoarnya yang
belum diterbitkan menyebut-nyebut buku Siti karo Slamet dan Koentjoeng karo Bawoek yang ia baca
sewaktu duduk di sekolah dasar di Sragen. Ia antara lain menulis, “Buku bacaan di kelas II, sudah
merupakan buku bacaan cerita seri. Bukunya cerita Siti Karo Slamet...” Ia juga menulis, “Di kelas III
saja, kami sudah diharuskan membaca buku Kembang Setaman I, Panggelar Boedi, Maca Titi, Basa
lan Carita, Koentjoeng Karo Bawoek.” (Dikutip dari www.supartobrata.com, diakses 12 Juni 2008)

44
Berkaitan dengan produksinya dapat disebutkan bahwa perusahaan penerbitan
yang mengeluarkan buku tersebut sebenarnya tidak hanya satu. Pada mulanya RdM
diterbitkan oleh Blankwaardt en Schoonhoven di Rijswijk, Den Haag, Belanda. Pada
perkembangan berikutnya, antara lain pada cetakan keempat, buku tersebut
diterbitkan oleh J.B. Wolters, perusahaan penerbitan di Groningen, Belanda, yang
salah satu cabangnya terdapat di Batavia (Jakarta kini).
Dewasa ini buku RdM tersimpan antara lain di Perpustakaan Nasional,
Jakarta; Mattheson Library, Monash University, Melbourne, Australia; dan
Bibliotheek KITLV, Leiden, Belanda. Koleksi tersebut terawat secara baik. Di
Bibliotheek KITLV, misalnya, jilid dan halaman buku-buku itu tetap utuh, dan
kondisi kertasnya tampak masih putih, bersih dan agak licin. Sementara di Mattheson
Library, buku RdM secara khusus disimpan dalam “Rare Books Section” (Kelompok
Buku Langka). Akan tetapi belum diketahui secara pasti, kapan “Buku Rusdi” terbit
untuk pertama kali. Dalam setiap edisinya tidak tercantum keterangan mengenai
tahun publikasinya. Berdasarkan “Inventarisasi dan Dokumentasi Literatur dan
Sumber tentang Kebudayaan Sunda” susunan Edi S. Ekadjati dkk. dari Tim Peneliti
Lembaga Kebudayaan Universitas Padjadjaran (1983/1984), diketahui bahwa A.C.
Deenik dan R. Djajadiredja menulis Boekoe batjaan pikeun moerid-moerid di Sakola
Soenda, yang dilengkapi dengan ilustrasi dan terdiri atas 4 jilid. Buku tersebut
tercatat terbit di Den Haag pada 1911. Berdasarkan sumber yang sama juga diketahui
bahwa A.C. Deenik dan R. Djajadiredja menulis Roesdi djeung Misnem: Boekoe
batjaan pikeun moerid-moerid di Sakola Soenda, yang juga disertai dengan ilustrasi
dan terdiri atas 4 jilid. Buku tersebut tercatat terbit di Den Haag pada 1930 (jilid I cet
ke-5, jilid II cet. ke-4, jilid III cet ke-3, jilid IV cet. ke-3). Untuk sementara, dapat
diduga bahwa buku RdM pertama kali terbit pada 1911, tapi pada mulanya tidak
memakai judul “Roesdi djeung Misnem” melainkan “Boekoe batjaan pikeun moerid-
moerid di Sakola Soenda” sebagaimana yang menjadi subjudulnya kemudian.

45
III.4 A.C. Deenik dan R. Djajadiredja sebagai Penulis “Buku Rusdi”
A.C. Deenik pernah tinggal di Tatar Sunda. Orang Belanda ini adalah
Direktur Middelbare Opleidings School voor Inlandsche Ambtenaren “Sekolah
Pendidikan Menengah untuk Pangreh Praja Pribumi” (M.O.S.V.I.A.) Bandung pada
dasawarsa 1920-an. Dalam sebuah buku peringatan 50 tahun M.O.S.V.I.A. Bandung
(1879-1929), Deenik menulis karangan yang memaparkan riwayat sekolah itu
selayang pandang.

Gb. III.3 A.C. Deenik (foto: repro buku M.O.S.V.I.A. Gedenkboek: 1879-1929)

Sekolah tersebut dibuka pada 29 Desember 1879, berdasarkan
Gouvernements-Besluit tertanggal 30 Maret 1878. Semula sekolah tersebut bernama
Hoofdenschool atau “Sakola Ménak”. Pada 1901 namanya diubah menjadi
Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (O.S.V.I.A.). Ketika sekolah itu genap
berumur setengah abad, Deenik menjabat sebagai direkturnya sejak 1927.
Sebagai pendidik, Deenik menulis sejumlah buku pengajaran atau buku
bacaan murid-murid sekolah. Di samping RdM, yang ditulisnya bersama R.
Djajadiredja, antara lain terdapat Kembang Setaman: Lajang Watjan kanggo
Pamoelangan Djawa ing Pangkat Teloe Sapandoewoer (Kembang Setaman: Buku
Bacaan dalam Pengajaran Bahasa Jawa di Kelas Tiga dan yang Sederajat) yang ia
tulis bersama A. Van Dijck, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh

46
Rd. Sasrasoeganda dan M. Ng. Dwidjasewaja. Kembang Setaman juga diberi ilustrasi
oleh oleh W.K. de Bruin serta beberapa ilustrator lain seperti J.J. Lary dan C. Jetses.

Gb. III.4 Deenik (duduk, ketiga dari kiri) bersama kolega-koleganya di M.O.S.V.I.A.
Bandung pada 1929 (foto: repro M.O.S.V.I.A. Gedenkboek: 1879-1929)

Sebagaimana halnya Deenik, Raden Kanduruan Djajadiredja (1882-1942)
adalah guru yang tinggal dan bekerja di Bandung. Hj. Titi Arifin Djajadiredja (lahir
tahun 1928), salah seorang anak mendiang R. Djajadiredja, menuturkan bahwa
ayahnya lahir dan besar di Ciamis, Jawa Barat, dan setelah wafat pada usia 60 tahun
dikebumikan di kampung halamannya. Ia menikah dengan R. Gartinah Bratadisastra
yang berasal dari Panjalu, Ciamis. Pernikahan mereka dikarunia sebelas anak, tiga di
antaranya meninggal sewaktu masih kecil. Di antara anak-anaknya yang tumbuh dan
berkembang di bidangnya masing-masing adalah Inu Djajadiredja (anak tertua), Dr.
Sjarif Djajadiredja, Hj. Titi Djajadiredja (anak kelima), Itje Djajadiredja (anak
keenam). Djajadiredja sekeluarga tinggal di Jl Pungkur 29, Bandung (wawancara di
Bandung, 17 November 2006).
Pada dasawarsa 1920-an Djajadiredja mengajar di “Sakola Ménak”
(M.O.S.V.I.A.) di Tegallega dan “Sakola Raja” (HIK/Holandse Indische
Kweekschool) di Jl Jawa, Bandung. Mata pelajaran yang disampaikan olehnya adalah

47
bahasa Sunda dan menggambar. Di luar sekolah, ia juga memberikan les bahasa dan
tatakrama Sunda untuk orang-orang Belanda. Ada kalanya ia mengisi waktu luang
dengan melukis, dan ia pernah mendesain panggung untuk sebuah kegiatan Bank
Himpunan Saudara. Oleh cucu-cucunya, sering ia dijuluki sebagai “Eyang Gambar”
(kakek yang pandai menggambar). Menjelang zaman pendudukan Jepang,
Djajadiredja memasuki masa pensiun, kemudian dia mengajar di MULO (Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs) Pasundan, di Bandung.

Gb. III.5 R. Djajadiredja bersama R. Gartinah (foto: dok. Keluarga Djajadiredja)

Selain dikenal sebagai guru, Djajadiredja juga merupakan penulis yang
produktif. Jenis dan tema bukunya bermacam-macam, mulai dari buku pelajaran
bahasa hingga buku petunjuk memelihara kuda serta buku perihal hujan dan petir.
Sudah barang tentu, RdM, yang ia tulis bersama A.C. Deenik, adalah karyanya yang
sangat terkenal. Bahkan oleh sebagian rekannya, ia sering dijuluki sebagai “Si Rusdi”
atau “Bapa Gembru” (tentu saja, mengacu kepada tokoh Ujang Rusdi yang dijuluki
sebagai Ujang Gembru karena berperut gemuk, dan kebetulan sosok Djajadiredja
sendiri terbilang gempal). Ia menulis sejumlah buku baik dalam bahasa Sunda
maupun dalam bahasa Melayu, baik sendirian maupun bekerja sama dengan
pengarang lain. Ada kalanya ia pun menulis untuk majalah. Makalahnya yang
disampaikan dalam Kongres Bahasa Sunda pada 1927 kemudian dimuat dalam

48
majalah Poesaka Soenda (No. 8-9, Augustus-September 1927, Tahun ke-5, hal. 141-
149) dengan judul “Praeadvies R. Djajadiredja”. Selain RdM, buku-buku
karangannya antara lain Batjaan Mimiti (4 jilid, bersama T.A. Gaikhorst dan N.
Titus), Toedoeh Djalan, dan Mitra Poetra (menggunakan aksara Sunda). (Daftar
buku karangan R. Djajadiredja selengkapnya dapat dilihat dalam Lampiran 3).

Gb. III.6 R. Djajadiredja (berdiri paling kanan) bersama keluarga dan bekas murid-muridnya
(Foto: Dok. Keluarga R. Djajadiredja)

Ada anggapan, sebagaimana yang dikemukakan dalam Ensiklopedi Sunda,
bahwa dalam penyusunan buku RdM, R. Djajadiredja sebagai co-writer dari pihak
Hindia Belanda mungkin menulis keseluruhan teksnya, sementara A.C. Deenik
sebagai pengarang dari pihak Belanda sebatas membuat rancangannya. Anggapan
seperti ini tampaknya didasarkan atas kenyataan bahwa bahasa Sunda yang
digunakan dalam buku tersebut serta deskripsi kehidupan sosial di dalamnya
sedemikian baiknya, dalam arti sangat komunikatif dan realistis sejalan dengan
suasana kehidupan di pedesaan pada masanya. Dengan kata lain, sebagian orang
beranggapan bahwa kualitas naratif dalam deskripsi kehidupan masyarakat Sunda
seperti itu hanya mungkin lahir dari tangan orang Sunda sendiri. Bahkan dalam hal
ilustrasinya pun, ada pula anggapan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hj. Titi

49
Arifin Djajadiredja, bahwa R. Djajadiredja sendiri ikut membuat gambar untuk
melengkapi buku ini, dan tidak sepenuhnya bergantung pada peran W.K. de Bruin.
Kebetulan, pada masa hidupnya R. Djajadiredja dikenal bukan hanya sebagai guru
bahasa Sunda melainkan juga dikenal sebagai guru gambar sehingga di kalangan
keluarganya ada yang menyebutnya “eyang gambar”. Namun, sebegitu jauh, kedua
anggapan itu masih sulit dibuktikan.

III.5 W.K. de Bruin sebagai Ilustrator “Buku Rusdi”

Tentang W.K. de Bruin, sayang sekali, tidak banyak keterangan yang
diketahui. Dalam bukunya, Brood op de Leesplank, Jacqueline Burgers hanya
menerangkan sosok ilustrator tersebut sebagai berikut:

Data yang kita miliki mengenai Wilhelmus Karel de Bruin hanya
menyebutkan bahwa dia lahir pada 1871 di Den Haag sebagai anak
pengelola percetakan dan bahwa dia mula-mula bekerja sebagai guru
sekolah dasar Evangelis Lutheran, kemudian menjadi juru gambar. Dia
wafat pada 1945. (Burgers, 1977: 97)

Alih-alih membicarakan sosok De Bruin, Burgers lebih banyak membahas
karya ilustrator dan guru gambar dari Den Haag itu. Secara sambil lalu Burgers
menduga bahwa De Bruin masuk ke lingkungan pendidikan di Den Haag barangkali
atas ajakan Gerard Jan Ligthart (1859 - 1916). Ligthart sendiri adalah guru dan ahli
pendidikan yang terpandang di Belanda pada masanya. Pada 1885, ketika ia diangkat
sebagai Kepala Sekolah Rendah Terbuka di Den Haag, Ligthart memanfaatkan alat
bantu pengajaran berupa pelat gambar (schoolplaat) yang mengandung cerita dan
diberi gambar. Sebagian pelat gambar itu digambari oleh De Bruin, dan sebagian lagi
oleh rekannya, Cornelis Jetses (1873-1955) (www.wikipedia.com, diakses 6
September 2006)
Cukup banyak buku bacaan anak-anak dalam bahasa Belanda yang digambari
oleh De Bruin. Dapat disebutkan antara lain De Wereld in karya Jan Ligthart dan
Hendricus Scheepstra, Het Volle Leven (1905-1909) karya Jan Ligthart, Hendricus
Scheepstra dan W. Walstra, Op Rozenhof karya Wagenvoort, Op de fiets door

50
Nederland, dan Uit Vroeger Eeuwen. Di antara buku-buku berbahasa Belanda yang
digambari oleh W.K. de Bruin, ada pula yang digunakan di Hindia Belanda seperti
yang disebut-sebut dalam Lexicon of Foreign Artists who Visualized Indonesia (1600-
1950), yakni Indische Sprookjes (Rijswijk, 1923) karangan T.J.A. Hilgers dan Mijn
Eerste Leesboek (Rijswijk, ca. 1915) karangan F. Viersen. Gambar-gambar karya De
Bruin yang memperlihatkan kehidupan di Hindia Belanda terdapat pula dalam buku
Nederlandsch-Indië. Selain itu, De Bruin juga membuat ilustrasi untuk buku-buku
bacaan anak-anak yang menggunakan bahasa pribumi Hindia Belanda, bukan hanya
yang berbahasa Sunda tapi juga yang berbahasa Jawa dan Madura. Burgers hanya
menyebut-nyebut Kembang Setaman karya A.C. Deenik sebagai buku anak-anak
berbahasa pribumi Hindia Belanda yang digambari oleh De Bruin. Padahal untuk
buku-buku berbahasa Sunda saja, ilustrasi karya De Bruin bukan hanya terdapat
dalam RdM, tapi juga dalam Panggelar Boedi ―selanjutnya akan disebut PB―
karangan W. Keizer dan Kd. Moehamad Rais. Dalam PB, De Bruin juga
menggambar keragaman etnis di Hindia Belanda yang antara lain meliputi orang
Madura, Bali, Dayak, dan Papua. Daftar buku yang memuat gambar-gambar karya De
Bruin selengkapnya dikemukakan dalam Lampiran 2.

Gb. III.7 W.K. de Bruin (repro Brood op de Leesplank)

51
Gambar-gambar karya De Bruin, baik yang menggunakan cat air maupun
yang berupa drawing yang dibuat dengan pulpen, sangat bagus: mampu menangkap
karakter, gerak, latar dan suasana sedemikian hidupnya. Seraya mengakui kemahiran
De Bruin, Burgers berpendapat sebagai berikut:

W.K. de Bruin jelas dipengaruhi oleh Hoynck van
Papendrecht. Karya-karya terbaiknya yang memanfaatkan cat air
terdapat dalam Uit Vroeger Eeuwen (Dari Abad yang telah Lewat),
semisal ‘Pangeran Oranye di Waterloo’ dan ‘Jan Willem Friso di
Malplaquet’. Khususnya, gambar yang memperlihatkan air terjun yang
sangat hidup, yang hanya dapat dilihat dalam karya De Bruin dalam
gambar-gambar yang massif dan/atau menonjol.
[...] De Bruin selayaknya mendapatkan pengakuan yang lebih
besar, mengingat ilustrasi-ilustrasi karyanya cukup bagus buat buku-
buku pelajaran.(Burgers, 1977: 101)

Gb. III.8 Ilustrasi karya W.K. de Bruin dalam buku PB (repro PB)

Untuk buku RdM, De Bruin membuat 158 gambar, yang terdiri atas 38
gambar dalam Jilid I, 40 gambar dalam Jilid II, 41 gambar dalam Jilid III, dan 31
gambar dalam Jilid IV, ditambah 2 gambar pada tiap-tiap jilid yang masing-masing
dimuat dalam jilid muka dan jilid belakang. Sebagian besar gambar itu tampaknya
merupakan drawing yang dibuat dengan pulpen atau sangat boleh jadi merupakan
etsa. Arsirannya yang tipis dan berirama menunjukkan kepiawaiannya di dalam upaya

52
menangkap rincian sosok, bidang, ruang, latar dan suasana yang dia gambarkan.
Beberapa gambar lainnya dibuat dengan memanfaatkan cat air di atas kertas, terutama
gambar-gambar yang tidak begitu menuntut adanya perhatian pada rincian keadaan,
semisal gambar suasana di dalam rumah pada malam hari. Ia juga tampak mahir
menggambar siluet. Dalam hal tema atau motifnya, beberapa gambar yang terdapat
dalam seri RdM bersifat dekoratif, misalnya dengan mengolah pola lukisan batik atau
karakter wayang dengan menekankan bentuk-bentuk yang simetris. Ada pula
sejumlah gambar yang mengandung penggabungan dua perspektif, dalam arti gambar
yang satu menjadi insert bagi gambar yang lain, yang dibuat sejalan dengan maksud
teks yang isinya menerangkan atau memerikan sesuatu. Namun, untuk sebagian
besar, gambar-gambar karya De Bruin dalam serial ini tampak diupayakan untuk
menangkap situasi pribumi Hindia Belanda dalam kehidupan sehari-hari dan
karakter-karakter nyata yang hidup di dalamnya, terutama karakter anak-anak, selaras
dengan maksud teksnya. (Uraian lebih terperinci mengenai gambar-gambar De Bruin
dalam “Buku Rusdi” akan dikemukakan dalam bab selanjutnya).
Sebegitu jauh, belum dapat dipastikan, pernahkah De Bruin berkunjung ke
Indonesia? Masih terlalu sedikit data yang hingga kini tersedia untuk dapat menjawab
hal itu5. Sangat boleh jadi, dalam hal persepsi atas kehidupan di Hindia Belanda,
peran Deenik—di samping, tentu saja, Djajadiredja—sangat menentukan bagi W.K.
de Bruin. Namun, satu hal yang pasti adalah apa yang dikemukakan oleh Burgers
pada akhir uraiannya mengenai ilustrator ini: “De Bruin selayaknya mendapatkan
pengakuan yang lebih besar, mengingat ilustrasi-ilustrasi karyanya dalam buku-buku
bacaan murid sekolah cukup bagus.”
Sebelum melangkah ke dalam uraian mengenai karya-karya W.K. de Bruin,
ada baiknya dikemukakan rekapitulasi dari uraian sejauh ini. Pada dasarnya, sebagai

5
Dalam percakapan pribadi di Bandung, 16 Juni 2008, Haryadi Suadi mengatakan bahwa dirinya
pernah mendapat keterangan dari seorang ilustrator senior yang memastikan bahwa W.K. de Bruin,
sebagaimana sejumlah ilustrator Belanda lain yang sezaman dengannya, seperti C. Jetses, Isings, Tj. T.
Bottema, H. Schroo, A. Bokhorst, Menno, S. Bergmann dan M.A. Koekoek, memang tidak pernah
berkunjung ke Hindia Belanda. Persepsinya tentang manusia, alam dan budaya di Hindia Belanda
semata-mata didasarkan atas foto atau bahan-bahan lainnya mengenai Hindia Belanda yang tersedia di
Belanda.

53
buku bacaan untuk murid sekolah dasar, RdM merupakan bagian integral dari sistem
pendidikan kolonial yang bersifat dualistik. A.C. Deenik, Djajadiredja dan De Bruin
bertugas sebagai pendidik dalam kerjasama tripartit untuk merealisasikan salah satu
sisi dari praktek pendidikan tersebut, yakni pendidikan dasar untuk anak-anak
penduduk bumiputra yang berbahasa Sunda. Meskipun data atau keterangan
mengenai kegiatan mereka ―khususnya, De Bruin― masih belum banyak yang
tergali, sudah kentara bahwa keberhasilan mereka membuat tipologi anak-anak Sunda
sebelum perang dalam wujud tokoh Rusdi dan Misnem telah menjadikan buku
tersebut melekat erat pada ingatan generasi yang pernah membacanya di sekolah.

Gb III.9 Ilustrasi karya W.K. de Bruin tentang Hindia Belanda
dalam buku Nederlansch Indië (repro Brood op de Leesplank)

54