You are on page 1of 11

BAB IV

GAMBAR DE BRUIN

Corak ilustrasi bangsa kita tidak bisa lepas dari konsep dan cara W.K. de Bruin cs.

―Haryadi Suadi, Onong Nugraha

Pada setiap kulit muka bagian luar keempat buku RdM terdapat keterangan
yang berbunyi, “Digambarkeun koe W.K. de Bruin” (digambarkan [atau diberi
gambar] oleh W.K. de Bruin). Tanda tangan De Bruin juga dibubuhkan pada tiap-tiap
gambar yang terdapat dalam buku tersebut, kecuali pada gambar yang berupa siluet.
Tentu, hal itu menunjukkan bahwa seluruh gambar dalam keempat jilid buku RdM
merupakan karya De Bruin. Rincian dari ke-150 gambar tersebut ―dengan ukuran
yang diperkecil demi tabulasi― dapat dilihat dalam Lampiran 1.
Dalam bab ini akan dikemukakan tinjauan umum atas gambar-gambar karya
De Bruin, khususnya dalam RdM, sebelum sampai pada analisis atas gambar-gambar
yang dijadikan sampel penelitian dalam Bab V. Diharapkan, dari uraian di bawah
akan didapatkan gambaran mengenai kecenderungan pokok dalam kreativitas De
Bruin di bidang ilustrasi. Gambaran seperti itu diperlukan, setidak-tidaknya, untuk
menghindari kemungkinan timbulnya reduksi yang berlebihan dalam amatan terhadap
gambar-gambar De Bruin sebagai akibat dari pemusatan perhatian pada sejumlah
gambar yang akan dianalisis dalam bab selanjutnya.
Tentu saja, untuk melangsungkan amatan yang memadai, contoh-contoh
gambar tidak cukup jika hanya mengandalkan ilustrasi RdM. Namun, tinjauan
menyeluruh atas gambar-gambar yang dibuat oleh De Bruin di sepanjang kariernya
sebagai ilustrator buku jelas berada di luar cakupan penelitian ini. Di sini, contoh-
contoh gambar yang dipetik dari RdM hanya akan diperkaya dengan beberapa contoh
gambar dari PB. Seperti halnya RdM, teks PB pun disusun melalui kerjasama
pengarang Belanda dengan pengarang Sunda, tetapi berlainan dengan RdM, cerita-
cerita dalam PB tidak terpusat pada tokoh cerita tertentu. Jika dibandingkan dengan

55
RdM, PB juga tidak “terlalu Sunda”, dalam arti lebih cenderung menekankan maksud
memperluas pengetahuan pembaca, tak terkecuali pengetahuan mengenai kehidupan
alam, manusia dan budaya lainnya seperti Jawa, Madura, Bali, Dayak dan Papua.

IV.1 Ragam Gambar
Untuk mendapatkan pengetahuan mengenai apa yang oleh Panofsky sebagai
“sejarah penggayaan” (history of style) dan “sejarah ragam karya” (histroy of types),
yang turut memegang peranan penting sebagai pemandu penafsiran, ada baiknya di
sini diidentifikasi keragaman gambar karya De Bruin. Dalam hal ini, amatan Haryadi
Suadi sangat membantu. Berdasarkan gaya ungkapnya, gambar-gambar karya De
Bruin ia golongkan ke dalam tujuh kelompok6:

1. Gambar realistis-fotografis berwarna. Dalam RdM, ragam gambar ini tidak
ditemukan. Contoh gambar dapat dicari dalam PB, meski jumlahnya tidak
sebanyak gambar hitam putih. Dalam golongan ini, De Bruin mengolah detail
“objek dan peristiwa” ―untuk meminjam istilah Panofsky― sedemikian rupa
sehingga menimbulkan kesan nyata. Ada pula kesan bahwa sebagian
gambarnya didasarkan atas potret7, terutama gambar mengenai kehidupan
penduduk bumiputra di Hindia Belanda. Pewarnaannya mengandalkan cat air.
2. Gambar realistis-fotografis hitam putih. Ragam gambar ini, baik dalam RdM
maupun dalam PB, menempati jumlah terbanyak. Detail gambar antara lain
diupayakan melalui arsiran tebal tipis, tetapi ada pula yang sama sekali tidak
mengandalkan arsiran.
3. Gambar realistis-fotografis agak kusam. Baik dalam RdM maupun dalam PB,
ragam gambar ini mudah didapatkan. Kekusaman tampaknya timbul sebagai
konsekuensi dari karakteristik objek dan peristiwa yang digambarkannya,
misalnya gambar suasana malam dalam RdM atau gambar suasana di sebuah
tambang di bawah tanah dalam PB.
6
Amatan ini dikemukakan oleh Haryadi Suadi dalam perbincangan pribadi di Bandung, 16 Juni 2008.
7
Haryadi Suadi bahkan meyakinkan bahwa salah satu gambar De Bruin, yang bertemakan para
pemetik teh, ditiru dari potret.

56
4. Gambar yang menonjolkan bagian terpenting dari suatu objek. Ragam gambar
ini, baik dalam RdM maupun dalam PB, terutama dapat dicari dalam ilustrasi
teks yang membutuhkan pemerian mengenai objek-objek tertentu. Biasanya,
De Bruin membuat dua gambar dalam satu bidang, yang salah satu di
antaranya dijadikan inset.
5. Gambar tanpa arsiran. Dalam ragam gambar ini, ada kalanya De Bruin hanya
mengandalkan outline dari objek yang ia gambarkan. Ada kalanya pula secara
kreatif ia menggabungkan outline dengan siluet. Dalam sejumlah gambar, De
Bruin tampak mengandalkan pensil untuk mengeksplorasi nuansa, hitam,
putih dan kelabu. Gambar-gambarnya sendiri tetap menimbulkan kesan
realistis.
6. Gambar karikatural. Dalam ragam gambar ini, yang menonjol adalah aspek
ludic dari pembuatannya. Dengan kata lain, “rasa bermain” De Bruin
sehubungan dengan objek dan peristiwa yang ia gambarkan amat terasa.
Dengan itu, gambar-gambarnya dapat mengundang senyum pembacanya.
Sebagaimana lazimnya gambar karikatural, karya De Bruin dalam golongan
ini tampak menonjolkan atau mendeviasikan bagian-bagian tertentu dari objek
yang ia gambar, atau menonjolkan adegan tertentu yang terasa lucu.
7. Gambar siluet. Ragam gambar ini pun cukup banyak, baik dalam RdM
maupun dalam PB. Ada kalanya gambar-gambar ini seakan lebih cenderung
berfungsi sebagai pengisi kekosongan halaman. Namun, tentu saja, siluet pun
memiliki efek ilustratif tersendiri. Akhir kisah Rusdi dalam RdM, misalnya,
antara lain ditandai pula dengan siluet sesosok anak lelaki ―yang membawa
asosiasi pembaca kepada tokoh Rusdi― yang tengah memandang sederet
gerbong kereta yang melaju meninggalkan stasiun.

Perlu ditambahkan bahwa klasifikasi di atas sesungguhnya lebih cenderung
mengacu pada distingsi di tingkat analitis. Pada kenyataannya, batas-batas antara
ragam gambar yang satu dan ragam gambar yang lain seringkali kabur. Misalnya, ada

57
kalanya gambar siluet sekaligus bersifat karikatural, atau gambar-realistis-fotografis
hitam putih sekaligus menonjolkan bagian terpenting dari suatu objek.

No. Gaya Ungkap Contoh Gambar Sumber
1 Realistis- PB
fotografis
berwarna

2 Realistis- PB
fotografis
hitam putih

3 Realistis- PB
fotografis
agak kusam

58
4 Menonjolkan RdM
bagian
terpenting
objek

5 Tanpa arsiran PB

59
6 Karikatural RdM

7 Siluet RdM

Gb. IV.1 Tabel Ragam Gambar dalam Karya W.K. de Bruin

IV.2 Idiom Visual
Kata kunci untuk menyatukan ragam gambar di atas adalah “realistis”.
Memang, dalam hal citraan (image) pada bidang gambar, hampir semua ilustrasi De
Bruin merupakan gambar realistis. Gambar-gambarnya memperlihatkan objek dan
peristiwa yang lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari semisal gambar anak-
anak yang duduk di atas punggung kerbau, keadaan rumah penduduk desa dan
lingkungan di sekelilingnya, hamparan sawah, kucing dan ular. Dalam hal ini,
gambar-gambar De Bruin diupayakan untuk memainkan perannya sebagai ilustrasi.
Gambar-gambar seperti itu terutama dimaksudkan untuk memperjelas maksud teks.
Namun, hal itu tentu tidak menutup kemungkinan bagi ilustrator untuk berekspresi
melalui karya visual sejalan dengan kecenderungannya sendiri.
Hal yang penting ditekankan dalam tinjauan umum ini adalah idiom-idiom
visual yang dieksplorasi oleh De Bruin. Identifikasi atas idiom-idiom visual tersebut
sedikit banyak akan turut memperdalam pemahaman atas motif gambar dan
kandungan maknanya sebagaimana yang akan dibahas dalam Bab V.
Pertama-tama, dapat diperhatikan bahwa sejumlah gambar dalam buku RdM
dibuat dengan mengolah idiom-idiom visual yang digali dari simbol budaya dan alam
benda yang dikenal oleh masyarakat pribumi Hindia Belanda sendiri. De Bruin antara

60
lain mengeksplorasi pola-pola simetris dengan bertolak dari ragam hias yang dikenal
oleh masyarakat di Tatar Sunda, misalnya rupa wayang dan pola batik. Gambar raut
wayang di atas dan gambar pola batik di bawah adalah contohnya.

Gb. IV.2 Ilustrasi dekoratif dengan motif batik (repro RdM)

Gambar dengan motif wayang di bawah tampak mengacu pada tradisi wayang
kulit. Selain wayang golek yang berwujud tiga dimensi, wayang kulit yang berwujud
dua dimensi dikenal pula oleh masyarakat Sunda, terutama yang tinggal di wilayah
dekat pesisir Cirebon. Seakan-akan mencontoh bayang-bayang di balik layar wayang
kulit, De Bruin mengeksplorasi karakter wayang dalam bentuk siluet. Karakter
wayangnya sendiri tidak persis sama dengan karakter wayang yang dikenal
masyarakat Sunda sehari-hari. Karakter itu mengalami deviasi terutama melalui
pemuaian ukurannya ke arah kiri dan kanan. Karakter wayang yang telah mengalami
deviasi itu kemudian diduplikasi, seperti tapak tinta yang digandakan dengan
melipatkan bidang kertas secara horisontal. Yang tak kalah menariknya, De Bruin
seakan-akan membuat “modifikasi” atas rupa wayang, dengan memperlihatkan
bentuk tangan (atau kaki?) yang tampak menyerupai kaki singa.

Gb. IV. 3 Siluet dengan motif wayang (repro RdM)

61
Dalam hal ini, kreativitas De Bruin sejalan dengan salah satu kecenderungan
dalam ilustrasi karya orang Belanda pada zamannya. Sebagaimana yang dicatat
dalam, Prentenboeken, Ideologie en Illustratie: 1890-1950 (Buku Bergambar,
Ideologi dan Ilustrasi: 1890-1950) karya Saskia de Bodt, raut wayang dan ragam hias
batik turut mengilhami ilustrator Belanda paling tidak sejak akhir abad ke-19.
Sebagai dampak tersendiri dari Amsterdamse Wereldtentoonstelling (Pameran Dunia
di Amsterdam) pada 1883, yang menampilkan beragam karya seni dari berbagai
belahan dunia, ilustrator dan pengarang buku bacaan anak-anak Ben Wierink —yang
memakai nama pena Oom Ben— pada 1898 mengumumkan gambar-gambarnya yang
antara lain memperlihatkan “tarikan garis dan warna-warni yang lembut mengacu
kepada cerita wayang; dekorasinya dapat dikatakan mengikuti desain batik Indonesia
(en de kleuren verwijzen naar wajangspelen; de randdecoraties doen aan de
vormgeving van Indonesische batiks denken)” (De Bodt, 2003: 42-43).
Pola dekorasi seperti ini, terutama yang berupa siluet, dapat ditemukan dalam
sejumlah halaman buku RdM. Pola seperti ini juga diterapkan pada penggambaran
figur-figur ciptaan De Bruin sendiri, tak terkecuali figur Rusdi dan Misnem. Ada
kalanya unsur gerak dari sosok-sosok yang digambarkannya terasa ditekankan,
seakan-akan sosok-sosok itu sedang melintas sebagaimana yang terlihat dalam contoh
gambar nomor 7 di atas.
Sementara dalam beberapa ilustrasi yang mendapatkan inspirasinya dari
ragam hias batik, De Bruin tampak berupaya memperlihatkan motif-motif yang
dikenal dalam ragam hias tersebut. Sebagaimana yang terlihat dalam gambar di atas,
ia menggabungkan beberapa motif ragam hias ke dalam satu gambar. Di dalamnya
terlihat motif bunga, daun dan pucuk pakis, serta garis-garis horisontal, vertikal dan
diagonal. Dalam hal ini, makna-makna simbolis yang mungkin melekat pada ragam
hias batik itu, tampak dilepaskan dari konteks tradisionalnya, untuk mencapai
kekayaan komposisi. Jenis ilustrasi seperti ini pun memiliki beberapa padanannya
dalam buku tersebut.
Gambar-gambar seperti itu, yang sebetulnya mendekati apa yang lazim
disebut simbol, secara fungsional lebih tepat disebut sebagai iluminasi (illumination).

62
Sasaran yang hendak dicapainya lebih cenderung menekankan dekorasi halaman
buku daripada interpretasi atas narasi dalam buku. Ada pula beberapa gambar yang
realistis tapi sekaligus dekoratif, yakni gambar-gambar yang memperlihatkan sosok-
sosok manusia dan hewan yang —sebagaimana gambar-gambar dekoratif yang
disebutkan sebelumnya— diletakkan setelah suatu teks berakhir, sehingga tampak
bahwa gambar-gambar itu mempermanis sisa halaman atau mengisi kekosongan di
ujung tuturan.
Beberapa gambar lainnya mengandung inset untuk menonjolkan bagian-
bagian tertentu dari objek yang digambarkan, khususnya ilustrasi untuk teks-teks
yang mengandung pemerian atau bersifat instruktif semisal teks yang menceritakan
seluk-beluk pohon kelapa, manfaat bunga matahari dan tingkah polah lebah.
Contohnya adalah gambar pohon kelapa di atas. Gambar di atas berkaitan dengan teks
yang becerita tentang kelapa, dan menekankan beragam manfaat buah kelapa,
misalnya saja untuk dibuat minyak, kopra, mentega, sabun dan bahan kerajinan, tak
terkecuali untuk “dikirimkeun ka nagara sédjén, babakuna ka Eropa (dikirimkan ke
negara lain, terutama ke Eropa)”. Secara persuasif, pembaca diminta untuk tidak
terlalu sering memetik dan memakan “doewegan” (kelapa muda), dan menyadari
betapa besarnya keuntungan yang dapat dicapai dengan mengolah buah kelapa.
Karena itu, dalam ilustrasi tersebut De Bruin menonjolkan gambar buah kelapa,
sementara gambar batang pohon dan daunnya tidak ditonjolkan.
Ilustrasi seperti itu juga memiliki sejumlah variannya dalam buku ini.
Semuanya mengacu pada alam di Tatar Sunda yang turut melatari cerita tentang
pengalaman sehari-hari Rusdi dan Misnem.
Selain itu, ada pula sejumlah gambar yang hingga batas tertentu mendekati
apa yang disebut ikon. Dalam golongan ini, ilustrasi De Bruin menonjolkan karakter-
karakter yang diceritakan dalam teks dengan berbagai penampilannya. Salah satu
contohnya adalah gambar di bawah ini.

63
Gb. IV.4 Rusdi dan Misnem sebagai ikon subjek kolonial (repro RdM)
Hal yang ditonjolkan dalam gambar ini antara lain adalah raut kakak beradik
Rusdi dan Misnem sebagai tokoh cerita dengan segala ciri khasnya: berbentuk
bulat, tirus dan berkulit gelap. Keduanya ditampilkan bersandingan, dengan wajah
yang berhadap-hadapan seraya menyunggingkan senyum, sehingga tampak sebagai
ikon bagi subjek kolonial. Sementara itu, di antara kedua wajah kakak beradik itu,
terdapat sebentuk papan yang masing-masing tepiannya mereka pegang. Pada
permukaan bidang datar itu tertulis kata “TAMAT”, sebagai indeks tersendiri. Dapat
diperhatikan bahwa “kaligrafi” yang memuat informasi itu mengeksplorasi bentuk
batang-batang bambu, yakni salah satu tanaman yang sangat populer di Tatar Sunda.
Hampir semua gambar dalam buku ini berupa drawing yang dibuat dengan
pena dan tinta di atas kertas. Rincian gambar dibangun dengan arsiran yang
mengandalkan garis-garis tebal tipis, untuk memunculkan kesan adanya volume dan
cahaya, sehingga gambarnya terlihat realistis. Kepekatan, tekstur dan permainan
cahaya diwujudkan antara lain dengan mengandalkan teknik arsiran yang ditarik ke
berbagai arah. Pada bagian-bagian tertentu arsirannya rapat untuk menimbulkan
kesan adanya bayang-bayang sebagai akibat dari datangnya cahaya.
Sifat realistis yang terlihat pada gambar biasanya menimbulkan pertanyaan
perihal ada atau tiadanya model yang digunakan oleh ilustrator. Pertanyaan seperti ini
biasanya timbul terutama manakala ilustrator berasal dari wilayah budaya yang
berbeda dari wilayah budaya orang-orang yang ia gambarkan. Dalam hal kreativitas
De Bruin, masalah ini akan disinggung-singgung lagi pada bagian analisis.

64
Gb. IV.5 Anak-anak dan kerbau (repro RdM)

Hal yang perlu ditekankan berdasarkan uraian di atas adalah kreativitas De
Bruin dalam upaya menggali beragam idiom visual dari tatanan simbolis dan
kehidupan budaya di Hindia Belanda sendiri. Penggalian idiom-idiom visual itu dapat
dilihat sebagai ancang-ancang bagi representasi manusia, alam dan budaya Sunda
secara visual dalam buku RdM.

65