You are on page 1of 45

BAB V

SUPERIORITAS EROPA
DALAM REPRESENTASI SUBJEK KOLONIAL

Intrinsic meaning... is apprehended by ascertaining those underlying principles
which reveal the basic attitude of a nation, a period, ...

―Erwin Panofsky, Studies in Iconology

Dalam bab ini akan dipaparkan tinjauan atas gambar-gambar karya De Bruin
dari RdM yang dijadikan sampel penelitian ini. Sampel dipilih dengan maksud
mencari keragaman motif dan kandungan makna gambar. Dengan kata lain, gambar-
gambar yang motif dan kandungan maknanya dianggap menonjol dalam kaitannya
dengan kompleksitas visualisasi manusia, alam dan budaya Sunda, menyisihkan
gambar-gambar selebihnya.
Sebagaimana disebutkan dalam Bab II, tingkat-tingkat penafsiran yang
dirumuskan oleh Panofsky sesungguhnya saling terkait. Namun, untuk kepentingan
analitis, di sini tiap-tiap tingkatan penafsiran tersebut akan diperinci satu demi satu.
Dengan cara demikian, diharapkan langkah-langkah penafsiran yang ditempuh dalam
penelitian ini dapat dilihat secara jelas.

V.1 Pemilihan Sampel
Dari 150 gambar karya De Bruin dalam RdM, penelitian ini menarik 14
gambar sebagai sampel. Rinciannya dapat dilihat dalam tabel di bawah. Sebagai
kriteria pemilihan sampel, ditetapkan empat cakupan motif sebagai berikut:

V.1.1 Sosok dan penampilan Rusdi dan Misnem
Kakak beradik Rusdi dan Misnem adalah tokoh sentral dalam buku ini. Rusdi
memerankan peran utama, sedang Misnem memerankan peran pembantu.
Karena itu, gambar sosok Rusdi dan Misnem menempati kedudukan penting
dalam penelitian ini. Keduanya dipandang sebagai ikon tersendiri bagi subjek

66
kolonial yang melekat pada praktek pendidikan dasar di Tatar Sunda sebelum
PD II. Bukan hanya nama mereka yang diingat oleh para pembaca buku itu,
melainkan juga sosok dan penampilan mereka. Lagi pula, sementara deskripsi
tentang sosok serta penampilan Rusdi dan Misnem melalui teks dalam buku
tersebut sesungguhnya tidak begitu mendetail, visualisasinya melalui ilustrasi
memberikan alternatif tersendiri. Dalam ilustrasilah sosok dan penampilan
mereka tampak lebih “nyata”.
V.1.2 Kegiatan sehari-hari Rusdi dan Misnem
Ilustrasi yang menggambarkan tindak tanduk kakak beradik itu juga tak kalah
pentingnya. Melalui gambar-gambar dari kelompok inilah, antara lain dapat
dilihat cara ilustrator membayangkan kehidupan anak-anak Sunda pada masa
itu. Ilustrasi yang dipilih dalam hal ini tidak hanya ilustrasi yang
memperlihatkan kehidupan nyata melainkan juga ilustrasi yang
memperlihatkan kehidupan imajiner.
V.1.3 Lingkungan sosial dan fisik Rusdi dan Misnem
Dalam golongan ini, ilustrasi yang dipilih menekankan latar (setting) yang
melingkupi kehidupan Rusdi dan Misnem. Menyangkut lingkungan sosial,
ilustrasi yang dipilih memperlihatkan, misalnya, hubungan anak-anak dengan
sesamanya, orang tua, dll. Sementara menyangkut lingkungan fisik, ilustrasi
yang dipilih memperlihatkan, misalnya, suasana di dalam dan di luar rumah,
dll.
V.1.4 Adat-istiadat atau kebiasaan masyarakat di sekeliling Rusdi dan Misnem
Dalam golongan ini, ilustrasi yang dipilih lebih cenderung bersangkut paut
dengan budaya yang melingkupi Rusdi dan Misnem. Melalui ilustrasi dalam
golongan ini antara lain dapat dilihat cara ilustrator membayangkan aspek
kultural dari kehidupan anak-anak di Tatar Sunda sebelum PD II.

67
No Gambar Motif Sumber
1. Sosok Rusdi Buku I,
hal. 9

2. Sosok Buku I,
Misnem hal. 11

3. Rusdi sedang Buku II,
merokok hal. 28

4. Rusdi dan Buku I,
Misnem hal. 82
memperlakuk
an bangkai
ular

68
5. Angan-angan Buku II,
Rusdi dan hal. 63
Misnem

6. Mainan Buku II,
dalam angan- hal. 62
angan Rusdi
dan Misnem

7. Manusia dan Buku II,
kawanan kera hal. 54

8. Rumah Rusdi Buku I,
hal. 12

69
9. Suasana di Buku I,
dalam rumah hal. 23
Rusdi

10. Perilaku Buku II,
Rusdi dan hal. 58
Misnem di
dapur

11. Rusdi dan Buku IV,
Ramlan hal. 71
menghadap
pada seorang
guru

12. Suasana Buku IV,
perayaan hal. 31
“Pesta Raja”

70
13. Cara Buku III,
mengobati hal. 48
orang sakit

14. “Mesin Buku II,
ngomong” di hal. 38
tengah
masyarakat
desa

Tabel V.1 Sampel Penelitian

V.2 Analisis Gambar Sosok Rusdi dan Misnem
V.2.1 Deskripsi Praikonografis mengenai Gambar Sosok Rusdi dan Misnem
Di sini dapat diperhatikan dua gambar yang masing-masing menampilkan
sosok dan penampilan Rusdi dan Misnem. Dalam Gb. V.2 dan V.3 sosok Rusdi dan
Misnem ditampilkan secara hampir utuh. Bagian kaki mereka tidak diperlihatkan.
Latar belakang hampir tidak digambarkan. Tampak sedikit bayang-bayang tubuh
Rusdi dan Misnem yang agak memanjang ke belakang. Cahaya tersorot dari latar
depan dengan arah agak menyamping. Sosok Rusdi dan Misnem tampak menonjol.
Sosok Rusdi divisualisasikan sebagai seorang anak lelaki bertubuh pendek
dan gemuk. Kulitna gelap, terutama pada bagian tangan dan kaki. Wajahnya bulat dan
tirus, dengan hidung pesek dan mulut lebar. Tulang dahi dan tulang rahangnya agak
menonjol. Matanya memandang ke depan, sedangkan dahinya tampak agak berkerut.
Jika dipandang selintas, air mukanya tampak jauh lebih tua daripada umurnya. Ia

71
mengenakan ikat kepala yang tampaknya terbuat dari kain batik, sehingga rambutnya
tertutup tapi telinganya terlihat. Baju dan celananya robek. Bajunya pun tidak
dikancingkan, hingga dadanya terbuka. Tampaknya, baju yang ia kenakan terlalu
sempit untuk badannya. Ujung celananya menutupi lutut, sedangkan pangkalnya
hampir menutupi pusar. Celana itu tampaknya dikenakan dengan seutas tali pada
bagian pangkalnya yang diikatkan di selingkar perut. Tangan kirinya memegang
sebatang tongkat yang agak meruncing pada bagian ujungnya, sedangkan tangan
kanannya memegang sebutir buah pisang.

Gb. V.2 dan V.3 Sosok Rusdi dan Misnem (repro RdM)

Gambaran (visual) sosok Rusdi dapat dikatakan sejalan dengan deskripsi
(tekstual), bahkan mengatasi “keterbatasan” teks. Mengenai keadaan fisik tokoh itu,
misalnya, teks hanya memberikan kata kunci lintuh pisan (gemuk sekali) dan
nyemplu (buncit), yang sudah tentu lebih cenderung mengacu pada bagian perut.
Sementara tinggi badan, warna kulit, dan terutama tampang, baru terinformasikan
dalam ilustrasi. Sedangkan visualisasi sosok Misnem tampak tidak begitu senada

72
dengan teks. Baju dan kain yang dikenakannya tampak jauh lebih rapi daripada yang
dikenakan Rusdi, dan tidak digambarkan sobek seperti yang ditekankan dalam teks.
Jika sebelah tangan Rusdi digambarkan memegang makanan dan mulutnya
digambarkan agak terbuka, sebagaimana yang diisyaratkan dalam teks, tangan dan
mulut Misnem sebaliknya. Mulut Misnem tertutup rapat, dan telunjuk tangan kirinya
ditempelkan pada bibir bawahnya. Alih-alih terlihat sebagai anak rakus, seperti yang
ditekankan dalam teks, gambar Misnem lebih cenderung memperlihatkan penampilan
yang sedikit genit.
Perhatian dapat dipusatkan pada sosok Rusdi. Dengan melakukan cropping
atas gambar sosok Rusdi, dapat dilihat secara lebih jelas cara karakter Rusdi
ditonjolkan.

Lekukan antara
tulang dahi dan
pangkal hidung
sangat tajam

Arsiran rapat
ke berbagai Jarak antara
arah ujung hidung
menimbulkan (yang pesek) dan
kesan kulit bibir atas sangat
yang sangat besar
gelap menimbulkan
kesan tirus

Jarak antara
kepala dan Cahaya yang tersorot Bibir bawah tebal, dan
bahu sangat dari depan, dan lebih tebal daripada bibir
pendek mengarah agak ke atas, dan mencitrakan
sehingga kiri Rusdi, hanya mulut yang menganga
leher hampir menimbulkan sedikit
tak terlihat bidang terang pada
muka

Gb. V.4 Analisis garis dan proporsi dalam visualisasi karakter Rusdi

73
Tampak bahwa De Bruin mengandalkan garis yang cukup tebal untuk
membentuk outline. Sementara volume dibentuk dengan garis-garis yang lebih tipis.
Namun hal yang sangat menonjol adalah caranya membuat arsiran. Garis-garis yang
dia eksplorasi tampak begitu banyak dan ditarik ke berbagai arah: horisontal, vertikal,
menyamping dan melengkung. Garis yang satu tampak sedemikian dekat dengan
garis yang lain sehingga arsirannya begitu rapat. Dengan tonalisasi seperti itu, ia
memperlihatkan citraan wajah yang berkulit gelap alau legam.
Kesan raut yang legam tentu saja berkaitan pula dengan pencahayaan.
Sedemikian pekatnya arsiran De Bruin, sehingga pencahayaan yang tersorot dari
depan dan mengarah agak ke kiri objek gambar hanya menyisakan sedikit bidang
terang pada citraan wajah itu. Dengan kata lain, hampir seluruh raut Rusdi terlihat
gelap. Bidang terang hanya teradapat pada pelipis kanan, batang hidung dan area di
bawah kelopak mata serta area di bawah ujung hidung dan bibir bawah.
Dalam anatominya, tampak antara lain bahwa bentuk hidung yang dipilih oleh
De Bruin benar-benar menyerupai angka tiga yang ditelungkupkan. Batang hidung
sama sekali tidak menonjol. Dengan kata lain, hidung Rusdi pesek. Jarak antara ujung
hidung dan bibir atas tampak sangat lebar, sehingga menimbulkan citraan wajah yang
tirus. Sementara lekukan di antara pangkal hidung dan dahi, atau antara kedua bola
mata, tampak begitu menjorok. Adapun bibir bawah tampak tebal, dan lebih tebal
daripada bibir bawah, serta keduanya tidak dikatupkan sehingga menimbulkan citraan
mulut yang agak menganga. Sedangkan jarak antara kepala dan bahu tampak begitu
dekat sehingga leher nyaris tak terlihat.
Hal yang menarik adalah bahwa garis-garis di bawah bola mata, yang
mencitrakan kantung mata, serta arsiran rapat di bawah tulang rahang. Dengan itu
tampak wajah yang tirus, dan menimbulkan kesan bahwa wajah Rusdi tampak lebih
tua daripada umurnya yang dikatakan baru tujuh tahun.

V.2.2. Analisis Ikonografis atas Gambar Sosok Rusdi dan Misnem
Dalam narasinya, sebagaimana yang telah disinggung-singgung, Ujang Rusdi
alias Ujang Gembru berperan sebagai tokoh utama dalam buku RdM, sedangkan

74
Misnem memainkan peran pembantu. Diceritakan bahwa Rusdi berumur tujuh tahun,
sedangkan Misnem berumur lima tahun. Rusdi adalah kakak kandung Misnem.
Secara berturut-turut, kakak beradik itu diperkenalkan kepada pembaca dalam dua
bab pertama buku jilid I.
Gambar sosok Rusdi dan Misnem ditonjolkan pada permulaan Buku I, masing
di halaman 9 dan 11. Wajah kakak beradik itu juga ditonjolkan pada akhir Buku IV,
yakni di halaman 101. Pada bagian-bagian buku selebihnya, gambar mereka selalu
hadir kecuali pada bagian-bagian yang mengandung cerita berbingkai.
Dalam Buku I, di samping tiap-tiap gambar di atas, terdapat deskripsi
mengenai sosok Rusdi dan Misnem dari pengarang buku tersebut dengan
menggunakan sudut pandang orang ketiga seraya menyapa pembaca seakan-akan
pengarang sedang mengadakan komunikasi lisan. Pertama-tama, pengarang
memperkenalkan Rusdi kepada pembaca —dengan ejaan bahasa Sunda yang berlaku
pada masanya— sebagai berikut:

Ke marilah, anak-anak!
Pernahkah kalian bertemu dengan Ujang Gembru?
Siapa yang belum pernah?
Coba lihat gambarnya!
Wah! wah!... betapa gemuknya.
Pipinya tembem perutnya buncit.
Tentu! Ia disebut Ujang Gembru karena perutnya besar.
Sebenarnya, namanya adalah Ujang Rusdi.
“Makannya tiap hari menghabiskan dua liter,” kata ibunya.
Lauk pauknya pun dihabiskan sendiri. Tiada hentinya dia makan.
Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, mulutnya terus saja mengunyah.
Makanan apapun yang dia temukan pasti disantap.
Nah, itu sebabnya dia gemuk!
Siang malam tiada lagi kerjanya, hanya bermain di kebun.
Lihatlah: bajunya, celananya, compang-camping, karena sering
tersangkut pagar.
Oleh orang tuanya, pakaiannya tidak begitu diperhatikan,
sebab seenaknya.
Kata ibunya: “Biar saja, siapa tahu dia kapok.” (Deenik dan
Djajadiredja, ... : 7-8)

75
Selanjutnya, dengan gaya senada, pengarang juga memperkenalkan tokoh
Misnem sebagai berikut:

Kalian sepertinya sudah kenal dengan adiknya, yang bernama
Nyi Misnem, kan?
Kalau kalian lupa, nah ini dia gambarnya.
Badan Nyi Misnem tidak seperti kakaknya.
Dia agak kurus sedikit. Makannya tidak terlalu rakus seperti
Ujang Rusdi. “Dalam sehari, menghabiskan nasi paling sebakul,” kata
ibunya.
Makan ini dan itu tiada hentinya.
Bukan anak rakus, ya?
Umur Misnem hanya dua tahun di bawah Rusdi.
Ujang Rusdi tujuh tahun, sedangkan Nyi Misnem lima tahun.
Siang malam sama saja kegemarannya, bermain melulu.
Misnem sering diajak oleh kakaknya ke kebun atau bermain
dagang-dagangan bersama teman-temannya.
Pakaiannya sungguh seperti Rusdi, kumal dan rombeng. Meski
baju atau kainnya sudah diganti, selalu saja sobek-sobek setiap kali
pulang ke rumah. Karena itulah ibunya sangat jengkel terhadap
mereka berdua.
Baik benar anak-anak itu, ya tidak? (Deenik dan Djajadiredja,
...: 8-9)

Kemungkinan adanya model yang digunakan oleh De Bruin untuk membuat
raut seperti itu, atau kemungkinan adanya anak-anak Sunda dalam kehidupan sehari-
hari yang menyerupai gambar Rusdi, sebetulnya dapat diabaikan dalam hubungannya
dengan masalah visualisasi ini. Dengan kata lain ada atau tiadanya model, serta ada
atau tiadanya anak-anak yang menyerupai Rusdi, tidak akan mempengaruhi
signifikansi cara De Bruin memvisualkan karakter Rusdi sebagai tokoh fiksi. Hal
yang penting ditekankan di sini adalah bahwa De Bruin telah menciptakan karakter
Rusdi sebagai seorang anak yang berwajah tirus, berhidung pesek dan berkulit gelap.
Dalam pandangan De Bruin, kiranya, wajah Rusdi terbilang sebagai wajah khas
Hindia Belanda.
Meskipun demikian, untuk mempertajam amatan, ada baiknya dikemukakan
bahan perbandingan. Dalam hal ini, dapat diperhatikan sebuah potret dari masa yang

76
dapat dikatakan sezaman. Dalam potret yang dimaksud, tampak sosok anak-anak
lelaki dari Bandung pada dasawarsa 1930-an sebagaimana yang tampak di bawah ini.

Gb. V. 5 Anak-anak Bandung pada 1930-an (foto koleksi KITLV, Leiden)

Bila gambar sosok Rusdi karya W.K. de Bruin dibandingkan dengan sosok
anak-anak Bandung dalam potret tersebut, dapat dikatakan bahwa citraan Rusdi pada
dasarnya memang realistis. Dapat diperhatikan, misalnya, raut, postur dan busana
anak-anak dalam potret di atas, yang sedikit banyak tidak begitu berbeda dengan apa
yang tampak dalam gambar sosok Rusdi. Dalam hal busana, misalnya, tampak bahwa
ikat kepala serta model baju dan celana yang dikenakan oleh sekawanan anak-anak
dalam potret tersebut serupa dengan apa yang dikenakan oleh Rusdi. Kalaupun dalam
potret tersebut ada seorang anak yang mengenakan sarung, baik yang diselendangkan
maupun yang dirungkupkan seperti mantel, tampaknya penampilan seperti itu tidak
dominan. Demikian pula dalam hal raut, bentuk wajah yang cenderung tirus,
sebagaimana bentuk wajah Rusdi, tampaknya merupakan pemandangan umum pada
masanya.

77
V.2.3 Penafsiran Ikonografis atas Gambar Sosok Rusdi dan Misnem
Bagian yang sangat menarik dari gambar sosok Rusdi adalah kedua
tangannya, yakni tangan kanan yang memegang pisang dan tangan kiri yang
memegang tongkat. Citraan pisang dan tongkat sudah barang tentu didasarkan atas
deskripsi verbal tentang Rusdi yang dikatakan “tiada hentinya makan” dan suka
“bermain di kebun”. Dengan kata lain, citraan pisang merupakan representasi dari
makanan, sedangkan citraan tongkat merupakan representasi dari cara mendapatkan
makanan. Tidak semua pohon buah-buahan lazim dipanjat, apalagi oleh seorang anak
yang umurnya baru tujuh tahun. Buah pisang lazimnya diambil dengan cara
memotong tangkainya dengan pisau yang disambungkan pada sebatang tongkat.
Mengapa pisang yang dipilih sebagai citraan makanan dalam gambar
tersebut? Dalam teksnya sendiri tiada sepatah pun kata pisang. Pada titik ini citraan
pisang yang dilekatkan oleh De Bruin pada visualisasi karakter Rusdi dapat
dipersoalkan, terutama dalam kerangka tinjauan atas pencitraan anak jajahan yang
dibuat oleh orang Eropa sebagai bagian dari imperium yang pernah melangsungkan
kolonialisme di Kepulauan Hindia. Terlepas dari maksud pembuat gambar itu sendiri,
citraan pisang yang dilekatkan pada visualisasi anak jajahan dapat menimbulkan
kesan penistaan. Pisang memang disukai oleh manusia, tetapi pisang juga disukai
oleh kera. Visualisasi kera tidak jarang disertai dengan visualisasi makanan
kegemarannya. Dalam hal ini gambar sosok Rusdi dapat dibandingkan dengan foto di
bawah.
Timbul pertanyaan, tidakkah orang Eropa dahulu kala cenderung melihat anak
jajahan di tanah Asia seperti kera?
Untuk sebagian orang, pertanyaan seperti itu mungkin terasa berlebihan.
Namun bila orang meninjau perkembangan pengetahuan dan pandangan orang Eropa
mengenai pribumi tanah jajahan di luar wilayah Eropa, pertanyaan seperti itu dapat
dipertimbangkan. Dalam hal ini dapat disimak, misalnya, buku Dutch Culture
Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942 karya ahli sejarah Frances
Gouda. Dalam buku tersebut, Gouda antara lain memaparkan perkembangan

78
pengetahuan orang Eropa mengenai penduduk asli Hindia Belanda pada permulaan
abad ke-20:

Sebagian penduduk kolonial Belanda pada abad ke-20,
misalnya, secara aneh masih terobsesi dengan gagasan “mata rantai
yang hilang” dan menduga-duga kemiripan antara orang “pribumi”
dan kera-kera besar cerdas yang mirip manusia. Sebagian lain
menggunakan gagasan Spencer dalam bentuk yang menyimpang,
sebagai penjelasan baru tentang evolusi biologi dan metafora-metafora
artifisial tentang sifat kekanak-kanakan atau “lambatnya
perkembangan” orang-orang Indonesia...
... Dalam usaha mereka untuk membuka tabir keliyanan dan
menebarkan cahaya pada perbedaan budaya antara orang pribumi dan
mereka sendiri, sebagian penduduk kolonial Belanda bertanya-tanya,
misalnya, apakah sebagian kelompok etnis Indonesia terdiri atas
spesies yang berbeda, mewakili bentuk kehidupan yang sederhana,
sehingga dalam taksonomi genus besar tempat mereka adalah di antara
kera dan manusia... (Gouda, 2007: 213-215)

Gb. V.6 Perbandingan Gambar Rusdi dengan Foto Kera
(Foto: http://www.newciv.org/pic/nl/artpic/10/1546/monkey_banana.jpg)

79
Pada gilirannya, timbul gugatan, terutama dari kalangan masyarakat yang
pernah dijajah oleh bangsa Eropa, atas pandangan Eropa sentris yang bersifat
stereotyphic mengenai sosok pribumi tanah jajahan. Dalam hal ini dapat diperhatikan
Bumi Manusia (1981), yakni salah satu novel karya mendiang Pramoedya Ananta
Toer, sastrawan Indonesia terkemuka yang sering menelaah sejarah. Meskipun
berbentuk fiksi, buku tersebut hingga batas tertentu dapat dilihat sebagai ungkapan
dari pandangan non-Eropa yang mempersoalkan pandangan Eropa sentris atas
pribumi Hindia Belanda. Dalam hal ini, Minke sebagai tokoh utama Bumi Manusia
dapat dilihat sebagai personifikasi dari kesadaran pribumi Hindia Belanda di hadapan
dominasi Eropa. Kalimat pertama dalam novel itu yang berbunyi, “Orang memanggil
aku: Minke”, seakan-akan merupakan alegori dari terbersitnya kesadaran pribumi
akan jati dirinya. Pada bagian lain dari buku pertama Trilogi Pulau Buru itu, tokoh
utama novel tersebut merefleksikan asal-muasal penamaan atas dirinya:

Memang bukan mauku bernama atau dinamai Minke. Aku
sendiri tak kurang-kurang heran. Ceritanya memang agak berbelit,
dimulai kala aku memasuki E.L.S. tanpa mengetahui Belanda sepatah
pun. Meneer Ben Rooseboom, guruku yang pertama-tama, sangat
jengkel padaku. Tak pernah aku dapat menjawab pertanyaannya
kecuali dengan tangis dan lolong. Namun setiap hari seorang opas
mengantarku ke sekolah terbenci itu juga.
...
Meneer Rooseboom melotot menakutkan, membentak:
“Diam kau, monk.... Minke!”
...
Kemudian mulailah kami mendapat pelajaran Inggris. Enam
bulan lamanya, dan aku temukan kesamaan bunyi dan huruf pada
namaku. Aku mulai kenangkan kembali: mata melotot dan alis yang
hendak copot dari muka yang lebar itu pasti menyatakan sesuatu yang
buruk. Dan aku teringat pada Meneer Rooseboom yang agak ragu
menyebutkan nama itu. Dengan kecut pikiranku menduga, dulu ia
mungkin bermaksud memaki aku dengan kata monkey. (Toer, 1981:
28-29)

Amatan sejarah atas pandangan Eropa yang cenderung menistakan pribumi
tanah jajahan, serta gugatan eksistensial dari kalangan masyarakat yang pernah

80
dijajah Eropa, kiranya dapat memperkaya interpretasi atas gambar tersebut di atas.
Jika dipertautkan dengan amatan dan gugatan seperti itu, gambar sosok dan
penampilan Rusdi (dan Misnem) kiranya dapat dikatakan sebagai representasi visual
manusia Sunda yang menurut sudut pandang orang Eropa cenderung menyerupai
kera.

Pisang, makanan
Tangan Rusdi, kegemaran kera
tubuh jajahan
yang hitam

Gb. V.7 Analisis makna yang tersirat dari pencitraan Rusdi

81
Gambar ini menunjukkan sesosok anak lelaki
yang bertubuh pendek dan gemuk, berwajah
bulat, berhidung pesek, dan berkulit gelap.
Deskripsi Praikonografis Dia berdiri tegak dengan pandangan lurus ke
depan dan mulut menganga, seraya
memegang sebatang tongkat dan sebutir
pisang. Ia mengenakan ikat kepala dari kain
batik. Baju dan celananya robek-robek.
Gambar ini merupakan citraan visual tokoh
cerita bernama Rusdi. Diceritakan bahwa
umurnya baru tujuh tahun. Diceritakan pula
bahwa Rusdi mempunyai seorang adik
Analisis Ikonografis perempuan bernama Misnem yang baru
berumur 5 tahun. Rusdi, sebagaimana
adiknya, banyak makan, dan nakal.
Sebagaimana yang terlihat dari sosok dan
penampilannya, ia adalah anak Sunda yang
tinggal di sebuah desa.
Penggambaran Rusdi sedang memegang
pisang mencerminkan cara pandang Eropa
kolonial terhadap penduduk bumiputra di
tanah jajahan Hindia Belanda. Gambar ini
Interpretasi Ikonografis turut mengukuhkan cara pandang
merendahkan yang menganggap pribumi
Hindia Belanda sebagai makhluk yang lebih
rendah jika dibandingkan dengan orang
Eropa.

Gb. V. 8 Tabel Rekapitulasi Penafsiran atas Gambar Sosok

82
V.3. Analisis Gambar Kehidupan Sehari-hari Rusdi dan Misnem
V.3.1 Deskripsi Praikonografis mengenai Gambar Keseharian Rusdi dan Misnem
Di sini dapat diperhatikan empat gambar. Dalam gambar-gambar tersebut
dapat dilihat dua segi dari kehidupan sehari-hari Rusdi dan Misnem. Di satu pihak,
sebagaimana yang terlihat pada Gb. V.9 dan V.10, ada kehidupan nyata yang mereka
jalani dari hari ke hari. Di pihak lain, sebagaimana yang terlihat pada Gb. V.11 dan
V.12, ada kehidupan imajiner yang mereka impikan. Kambing, ular dan rokok
seakan-akan merupakan simbol tersendiri dari kehidupan nyata. Sementara payung,
boneka dan senapan mainan seakan-akan merupakan simbol tersendiri dari kehidupan
imajiner. Antara kehidupan yang satu dan kehidupan lainnya terbentang jarak yang
jauh. Ular dan rokok, binatang berbisa dan asap beracun, yang sering dibayangkan
jauh dari anak-anak, tampak melekat pada kehidupan sehari-hari Rusdi dan Misnem.
Sementara boneka dan senapan mainan, yang sering dibayangkan melekat pada
kehidupan anak-anak, baru merupakan kenyataan yang diangan-angankan oleh Rusdi
dan Misnem.

Gambar
Kenyataan

Gb. V.10 Rusdi dan Misnem
Gb. V. 9 Rusdi merokok menghadapi seekor ular

Gambar
Angan-angan

Gb.V.11 Kehidupan sehari-hari dalam Gb. V.12 Mainan dalam angan-
angan-angan Rusdi dan Misnem angan Rusdi dan Misnem

83
Gambar yang memperlihatkan Rusdi sedang merokok secara sembunyi-
sembunyi di dekat kandang kambing terdapat dalam Buku II. Dalam ilustrasi itu
terlihat Rusdi duduk dengan badan agak miring dan kedua kakinya diselonjorkan ke
samping, di hadapan seekor kambing, seraya menghembuskan asap tembakau.
Caranya memegang lintingan daun kawung dengan jempol dan jari tengah tangan
kiri, tampak seperti perokok yang telah berpengalaman. Sebegitu rupa, sikap
tubuhnya tampak seperti seseorang yang sedang fly.
Gambar berikutnya tak kurang pula menariknya. Dalam gambar tersebut
tampak Rusdi sedang membetot bagian ekor dari tubuh seekor ular besar yang
melingkar di atas tanah. Di hadapan Rusdi, persis di samping ular itu, tampak
Misnem berdiri dengan wajah yang mengekspresikan rasa takut atau khawatir,
seakan-akan hendak mencoba menahan tindakan kakaknya. Sementara kambing
kesayangan mereka, yang lehernya terikat oleh seutas tali yang ditambatkan pada
salah satu tiang kandang, menatap ular itu dengan ekspresi wajah yang tampak datar.
Pada dua gambar selebihnya diperlihatkan beberapa mainan yang diinginkan
dan diangan-angankan oleh kakak beradik tersebut, yakni boneka dan payung untuk
Misnem serta layang-layang dan senapan untuk Rusdi. Digambarkan pula adegan
yang tampak karikatural ketika kakak beradik tersebut sedang bermain dengan benda-
benda kesayangan yang mereka impikan.

V.3.2 Analisis Ikonografis atas Gambar Keseharian Rusdi dan Misnem
Dalam teks diceritakan bahwa kehidupan sehari-hari Rusdi dan Misnem,
sebagaimana lazimnya kehidupan anak-anak, diisi dengan bermain. Seringkali
keduanya bermain bersama, tapi tidak jarang masing-masing bergabung dengan
kelompok sejenis. Ada kalanya Rusdi ikut kepada ayahnya pergi ke sawah,
sedangkan Misnem ikut kepada ibunya berbelanja di pasar. Dalam kehidupan mereka
berdua, tidak jarang muncul kejadian-kejadian yang luar biasa menurut anak-anak
seperti datangnya orang asing dari kampung, datangnya sebarisan serdadu,
tertangkapnya binatang buas, kebakaran di sekitar rumah mereka, keramaian dalam

84
pesta pejabat pemerintah di alun-alun kecamatan, dsb. Rasa ingin tahu dan sifat
bandel cenderung mewarnai perilaku mereka, terutama Rusdi. Hal-ihwal yang
dilarang oleh orang tuanya justru malah diperbuat oleh Rusdi sebelum ia merasakan
akibatnya dan karena itu ia menjadi jera. Ada pula cerita tentang hal-ihwal yang
muncul dalam impian mereka, seperti impian Rusdi untuk memiliki senapan mainan
sebagaimana impian Misnem untuk memiliki boneka.
Gambar V.9 merupakan ilustrasi untuk teks yang berjudul, “Mabok” (Mabuk).
Isinya turut mencerminkan salah satu sifat teks dalam buku bacaan ini, yakni teks
yang mengandung tuntunan. Dalam teks tersebut ditekankan bahwa udud (merokok)
adalah kebiasaan buruk, terutama karena kebiasaan tersebut dapat menyebabkan nyeri
tikoro (sakit tenggorokan) dan nyeri angen (nyeri ulu hati), bahkan diduga dapat
menyebabkan orang belet diajar (sukar menangkap pelajaran). Mungkin karena
pengarang melihat bahwa “budak-budak kampung ogé geus réa nu beuki udud”
(banyak juga anak-anak kampung yang suka merokok), teks tersebut menggambarkan
ganjaran bagi anak-anak yang tidak menuruti nasihat dalam hal ini. Diceritakan
bahwa pada suatu hari Rusdi diam-diam mengambil bako (tembakau) dan daun
kawung (daun enau) dari dompet ayahnya yang tergeletak di atas meja. Setelah itu,
dia bersembunyi di dekat kandang kambing sambil menghisap lintingan daun kawung
berisi tembakau itu. Mula-mula, ia merasa nikmat, tapi lama kelamaan kepalanya
pening hingga ia pun muntah-muntah.
Dalam Buku IV dikemukakan pula suatu narasi mengenai kebiasaan buruk
sejenis, yakni menghisap madat (candu) yang biasanya dilakukan di tempat khusus
yang disebut panyerétan terutama oleh kalangan penduduk pecinan (permukiman
China), lengkap dengan ilustrasi yang memperlihatkan alat penghisap madat. Dalam
teks tersebut dikemukakan bahan-bahan yang biasa dibuat madat, daerah penghasil
bahan bakunya, cara mengolahnya dan cara mengkonsumsinya. Namun, sudah barang
tentu, hal yang diitekankan adalah nasihat bahwa madat layak dijuluki sebagai
“musuh nu jahat” (musuh bengis). Dikatakan bahwa pamadatan (orang yang
kecanduan) dapat mengalami hidup sengsara sebagai akibatnya: jatuh miskin, badan
rusak, terdorong berbuat jahat, bahkan gila. Sejalan dengan nasihat tersebut,

85
diceritakan tentang nasib seorang pria bernama Marhasan. Semula, Marhasan adalah
orang yang kaya raya, tapi kemudian jatuh miskin setelah dirinya ikut-ikutan
menghisap madat. Bahkan, setelah keadaan badannya rusak parah, akhirnya
Marhasan pun mati.
Ditekankannya penyuluhan anti rokok dan, terutama, anti madat, lebih terasa
manakala RdM dibandingkan dengan PB. Dalam buku bacaan murid-murid sekolah
yang disebut kemudian pun ada narasi tersendiri perihal madat, lengkap dengan
ilustrasinya dari De Bruin. Jika dalam RdM ada cerita tentang nasib Marhasan, dalam
PB pun ada cerita sejenis tentang pengalaman seorang pria bernama Asik. Seperti
halnya Marhasan, Asik pun tadinya adalah penduduk desa yang hidup makmur, tapi
kemudian menjadi sengsara setelah tergoda orang kota sehingga dirinya ikut-ikutan
menghisap madat.
Sementara itu, Gambar V.10 berkaitan dengan teks yang menceritakan adanya
seekor ular besar di sawah milik ayah Rusdi. Ular itu ditangkap dan dibunuh oleh
ayah Rusdi dan para buruh tani yang bekerja di sawahnya sewaktu panen, kemudian
bangkainya dibawa ke kampung untuk dikuliti. Dalam gambar lainnya diperlihatkan
bahwa saking besarnya bangkai ular itu diboyong ke kampung oleh empat orang
lelaki. Sesampainya di kampung, bangkai ular itu ditaruh di dekat kandang kambing,
di pekarangan rumah Rusdi. Misnem menyangka bahwa ular itu masih hidup,
sehingga ia sempat mengingatkan kakaknya agar tidak mengganggu binatang itu.
Namun, Rusdi yang telah mengetahui bahwa ular itu mati mengajak adiknya untuk
bermain-main dengan bangkai binatang itu. Tidak sedikit pun ada rasa takut pada
dirinya.
Gambaran kehidupan “nyata” seperti itu sangat berbeda dengan gambaran
kehidupan imajiner sebagaimana yang terlihat dalam Gb. V.11 dan V.12. Kedua
gambar tersebut cenderung memperlihatkan dunia kehidupan anak-anak yang tampak
manis. Dalam siluet antara lain terlihat Rusdi sedang memanggul senapan mainan
dengan lagak seperti seorang serdadu sementara Misnem berjalan anggun seraya
memakai payung dan “menuntun” sebuah boneka. Sementara dalam gambar lainnya

86
terlihat beberapa mainan anak-anak yang diangan-angankan oleh kakak beradik itu,
yakni payung, boneka, layang-layang dan senapan mainan.
Hal yang sangat menarik dalam Gb.V.12 dan V.13 adalah citraan boneka yang
tampak menyerupai mainan anak-anak Eropa, serta citraan senapan yang menyerupai
perlengkapan serdadu Belanda. Dalam Buku II juga ada cerita tentang sebarisan
soldadoe (serdadu) Belanda —Rusdi dan teman-temannya menyebut mereka
“dadoe”—yang berjalan kaki melewati kampung Rusdi sewaktu mereka hendak
berlatih di hutan dan gunung. Dengan kata lain, secara tekstual, cerita itu menjadi
referensi bagi munculnya gambaran senapan mainan dalam imajinasi Rusdi.
Sementara referensi tekstual bagi citraan boneka Eropa yang muncul dalam angan-
angan Misnem tidak diketahui.

V.3.3 Penafsiran Ikonografis atas Gambar Keseharian Rusdi dan Misnem
Gambaran tentang penduduk Hindia Belanda yang suka merokok dan,
terlebih-lebih, menghisap madat, hingga batas tertentu, dapat dipertautkan dengan apa
yang oleh mendiang Syed Hussein Alatas (1928-2007) disebut sebagai “mitos
pribumi malas” (the myth of the lazy native). Sebagaimana yang dipaparkan oleh S.H.
Alatas, pernah ada masanya ketika mitos tersebut hidup dalam benak orang Eropa
setiap kali mereka memandang kaum pribumi Asia, tak terkecuali penduduk Hindia
Belanda. Dengan kata lain, dalam pandangan mereka, narasi antirokok dan antimadat
kiranya dianggap penting untuk mendidik pembaca agar mereka terbebas dari sikap
malas dan kebiasaan merusak diri sendiri.
Dengan memperhatikan aspek tekstual seperti itu, serta tujuan-tujuan
penulisannya, ilustrasi tentang Rusdi yang sedang merokok itu dapat ditilik lebih
jauh. Dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa meskipun teksnya menekankan salah
satu akibat buruk dari merokok, yakni mabuk, ilustrasi De Bruin menekankan adegan
merokok itu sendiri. De Bruin tidak menggambarkan, misalnya, adegan Rusdi sedang
muntah-muntah atau adegan Rusdi sedang dimarahi oleh ibunya. Adegan Rusdi
sedang merokok tampaknya dipilih sebagai adegan paling menarik, setidak-tidaknya

87
dalam pandangan orang Eropa yang mungkin sering merasa takjub dengan perilaku
kaum pribumi Hindia Belanda.
Sementara gambaran tentang ular dapat dipertautkan dengan persepsi tentang
alam liar. Hidup atau mati, ular lazimnya tergolong binatang liar. Hewan itu berbeda
dengan, misalnya, kambing atau kucing yang lazimnya tergolong binatang peliharaan.
Kesan liar pula yang timbul dalam gambar tersebut. Pembaca dapat melihat betapa
dekatnya anak-anak sekecil Rusdi dan Misnem dengan binatang liar seperti ular —
meski pada saat yang sama mereka juga terlihat begitu dekat dengan binatang jinak
seperti kambing. Pada titik ini, tampaknya, gambar seperti itu selaras pula dengan
gambaran tentang the savage sebagaimana yang pernah hidup dalam benak orang
Eropa tentang kehidupan di tanah jajahan.
Gambaran kehidupan pribumi yang menyatu dengan alam liar, sedikit banyak,
juga tercermin dalam Gb. V.13 di bawah. Dalam ilustrasi tersebut terlihat seorang
lelaki berada di antara kawanan kera. Ada pula cerita dalam Buku I yang di dalamnya
Rusdi berbicara kepada kawanan kera yang dijumpainya dalam perjalanan pulang
dari kota kecamatan ke desanya. Selain itu, ada cerita paman Rusdi dalam Buku I
yang menuturkan tentang seorang wanita yang ditelan oleh seeekor buaya ketika
hendak mencuci beras di kali. Sementara dalam Buku III ada cerita ibu Rusdi tentang
seorang gadis kecil yang ditelan oleh seekor ular di hutan.

Gb. V.13 Seorang lelaki di antara kawanan kera (repro Roesdi djeung Misnem)

88
Menggambar kehidupan pribumi yang dibayangkan menyatu dengan makhluk
liar tampaknya merupakan salah satu gejala umum dalam visualisasi orang Eropa
tentang Hindia Belanda. Sebagai bahan perbandingan, dapat diperhatikan, misalnya,
ilustrasi karya Wolf dalam buku klasik dari abad ke-19, The Malay Archipelago,
karangan Alfred Russel Wallace (1823-1913) (lihat Gb. V.14). Dalam ilustrasi
tersebut terlihat sekelompok orang Dayak sedang berkelahi dengan seekor orang utan
di sebuah belantara. Kecenderungan seperti ini selaras dengan kecenderungan yang
sempat menggejala dalam karya sastra berlatar Hindia yang ditulis oleh orang Barat.
Misalnya, dalam “The Murder in Rue Morgue”, salah satu cerpen detektif karya
pengarang Amerika Edgar Allan Poe (1809-1849), pelaku serangkaian “pembunuhan
luar biasa” (extraordinary murders) yang memusingkan para petugas kepolisian itu
tiada lain dari seekor “orang utan dari Kalimantan” (ourang outan of the Bornese)
(Poe, 1993: 62-90).

Gb. V.14 Ilustrasi karya Wolf tentang Orang Dayak yang berkelahi dengan Orang Utan
(repro The Malay Archipelago)

89
Senapan
mainan Boneka
seperti senjata Eropa
serdadu
Belanda

Gb. V. 15 Identifikasi mainan anak-anak dalam imajinasi Rusdi dan Misnem

Sementara gambar tentang mainan anak-anak dapat dijadikan pijakan untuk
mengatakan bahwa De Bruin juga memasukkan ikon-ikon dari peradaban Eropa
untuk memvisualisasikan alam imajiner anak-anak Hindia Belanda. Jika hal ini
dikaitkan dengan pandangan Ashis Nandy sebagaimana yang disinggung-singgung
dalam Bab II, gambar seperti itu kiranya merepresentasikan sebentuk colonised mind
tersendiri. Subjek kolonial yang digambarkan sebagai individu-individu yang tumbuh
dalam suatu alam yang cenderung liar itu rupanya memendam angan-angan yang diisi
dengan ikon-ikon peradaban bangsa yang menguasai koloni itu sendiri.

V.4. Analisis Gambar Lingkungan Sosial dan Fisik Rusdi dan Misnem
V.4.1 Analisis Gambar Lingkungan Fisik
V.4.1.1 Deskripsi Praikonografis Gambar Lingkungan Fisik
Di sini dapat diperhatikan tiga gambar yang memperlihatkan lingkungan di
sekitar dan di dalam rumah Rusdi. Terlihat bahwa rumah Rusdi merupakan rumah
panggung, bertiang kayu, dan berdinding bilik bambu. Atapnya memakai genting
dengan pola julang ngapak. Di bagian depannya terdapat sejenis beranda tak
berdinding. Di depan beranda terdapat sebuah undakan yang lebih rendah daripada
lantai rumah. Di belakang rumah terdapat sebuah leuit, yakni tempat menyimpan

90
padi. Atapnya meruncing ke atas. Pintunya kecil dan tampaknya hanya beberapa
puluh centimeter dari bubungan. Antara pintu leuit dan tanah terdapat sebuah tangga.
Di depan leuit terdapat bangunan beratap ilalang kering tapi tak berdinding tempat
disimpannya sebuah lesung. Sementara di pekarangan bagian depan terdapat sebuah
sumur tak bertutup. Di sampingnya terdapat sebatang pohon berdaun rimbun yang
salah satu cabangnya menyangga palang bambu. Tali timba menggantung pada salah
satu ujung palang, tepat di tengah lubang sumur. Sementara pada ujung lainnya
terdapat beban pemberat. Beberapa langkah dari sumur terdapat kandang tempat
seekor kambing dan seekor kerbau tampak berdiri berdampingan. Atapnya tampak
terbuat dari ilalang kering. Bangunan itu tidak diberi dinding. Sebentang pagar yang
diberi pintu pada bagian tengahnya memisahkan pekarangan dari jalan. Sementara di
latar belakang tampak gunung dan pepohonan.

Gb. V.16, V.17 dan V.18 Rumah serta pekarangan, ruang keluarga dan dapur
tempat Rusdi dan Misnem sehari-hari (repro RdM)

91
Dalam gambar berikutnya, dapat melihat keadaan di dalam rumah. Mereka
digambarkan sedang bercengkerama pada malam hari, yang diterangi dengan cara
sebuah lampu minyak, yang diberi tudung dan corong kaca, dan tergantung pada
langit-langit. Di salah satu pojok ruangan terdapat sebuah meja kayu. Di samping
meja, merapat pada salah satu dinding, terdapat pula sebuah bangku tempat ayah dan
paman Rusdi duduk bersila sambil berbincang-bincang. Sementara di depan bangku
terhampar selembar tikar tempat ibu Rusdi dan Misnem duduk berdampingan sambil
berbicang-bincang pula. Rusdi sendiri asyik menggambar sesosok wayang dengan
apu pada salah satu dinding ruangan itu.
Sementara dalam gambar lainnya pembaca dapat melihat keadaan di dapur.
Tampak antara lain aseupan dan sééng di atas hawu (tungku). Di atas lantai, di sekitar
hawu, antara lain terdapat gentong, céré (teko), baskom dan hihid (kipas). Di situ
terlihat pula Rusdi dan Misnem sedang membuka téténong, yakni tempat menyimpan
makanan.

V.4.1.2 Analisis Ikonografis atas Gambar Lingkungan Fisik
Beberapa rincian menyangkut citraan dalam ketiga gambar di atas perlu
mendapat perhatian. Salah satu di antaranya berkaitan dengan gambar kandang
kambing. Sebagaimana yang dikenal kini, kandang kambing lazimnya berupa
bangunan kecil yang diberi dindin dari papan kayu. Di bagian depannya biasanya
terdapat kotak memanjang yang menyatu dengan kandang tempat menaruh rumput.
Agar kambing dapat memakan rumput di situ, biasanya pada bagian depan kandang
terdapat celah yang cukup lebar untuk ukuran kepala kambing. Lazimnya pula
kambing tidak berada satu kandang dengan kerbau. Sedangkan dalam gambar di atas
kandang kambing tampak tidak berdinding, meski dalam Gb. V.16 kandang kambing
tampak diberi dinding anyaman bambu. Tidak terlihat kotak wadah rumput. Selain
itu, dalam gambar tersebut tampak bahwa kambing dan kerbau berada dalam satu
kandang.
Sementara itu, dalam gambar ruangan keluarga tampak sebuah bangku yang
diduduki oleh ayah dan paman Rusdi, sehingga posisi mereka lebih tinggi daripada

92
ibu Rusdi dan Misnem yang duduk di atas lantai beralaskan tikar. Adanya citraan
bangku yang diduduki oleh kaum lelaki itu cukup menarik sebab, sebagaimana yang
dikenal kini, dalam rumah Sunda tradisional lazimnya jarang ditemukan mebel seperti
itu. Adapun dalam gambar yang menunjukkan suasana di dalam dapur, tidak terlihat
secara jelas bentuk hawu. Sééng dan aseupan-lah yang tampak jelas, sedangkan
hawu-nya tidak terlihat.
Sehubungan dengan rincian gambar di atas, dapat dipikirkan sedikitnya dua
kemungkinan. Pertama, jika gambar-gambar karya De Bruin itu hendak dianggap
bersesuaian dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda pada suatu
masa, maka gambar-gambar tersebut mungkin turut memberikan informasi perihal
beberapa perubahan dalam tata kehidupan masyarakat Sunda dari masa ke masa.
Kedua, sebagai orang Belanda yang sedikit banyak berjarak dengan realitas
kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda pada zamannya, De Bruin mungkin
memiliki kelemahan tersendiri dalam observasi atas kehidupan masyarakat Sunda
yang hendak digambarkannya.
Sebegitu jauh, bahan-bahan yang didapatkan dalam penelitian ini memang
belum dapat memastikan manakah di antara dua kemungkinan tersebut yang lebih
dekat dengan kenyataan. Namun, khusus menyangkut gambar karya De Bruin tentang
suasana di sekitar rumah Rusdi, dapat diperhatikan teks yang berkaitan dengannya.
Setidak-tidaknya, dengan bantuan teks tersebut, dapat ditimbang-timbang ketelitian
De Bruin dalam upaya memvisualisasikan narasi. Teks tersebut —sebagaimana
ilustrasinya— terdapat dalam Buku I, dan berbunyi sebagai berikut:

Rumah Rusdi dan adiknya terletak kira-kira seratus langkah
dari sebuah sungai.
Rumah itu masih baru. Berandanya bagus serta di
sekelilingnya diberi pagar.
Mari kita lihat.
Nah, inilah pekarangannya. Wah, bunga-bunganya elok, ya!
Benihnya dibawa Pak Rusdi, sewaktu dia pulang dari pasar Bandung.
Coba lihat pohon jambu itu, buahnya putih. Pohon inilah yang
suka dipanjati oleh Rusdi dan Misnem.

93
Ayo kita ke samping rumahnya! Hati-hati, jangan sampai
menginjak anak ayam. Wah, banyak nian, itu di kolong!
Itu dia gudangnya! Di sampingnya ada lesung. Misnem sering
betul berdiri di situ, kalau ibunya sedang menumbuk padi. Kucingnya
duduk di muka pintu gudang, sepertinya sedang jaga, kalau-kalau ada
tikus masuk.
Itu, di sudut sana, kandang si Jalu, yaitu domba Rusdi,
pemberian ayahnya tahun lalu. Sering betul dibawa main oleh Rusdi
serta kadang-kadang suka ditunggangi, seraya ekornya ditarik-tarik
oleh Misnem.
Sekarang si Jalu sepertinya bukan main sedihnya, sebab
majikannya entah ke mana, atau... jangan-jangan ingin makan, ya?
Di pinggir rumah ada sumur, sedangkan itu, di sudut sebelah
sana, kandang kerbau, yaitu sahabat Rusdi yang paling perkasa. Jika
Rusdi, bocah gemuk sebagaimana sahabatnya itu, berdua dengan
adiknya duduk di atas punggungnya, dia tidak pernah merasa berat...
(Deenik dan Djadiredja, 19---: 10)

Sifat dan gaya narasi seperti itu jelas membutuhkan ilustrasi. Keefektifannya
hanya mungkin terjamin apabila teks tersebut disertai dengan gambar yang memadai.
Melalui gambarlah, anak-anak yang membaca narasi itu seakan diajak mengunjungi
rumah Rusdi. Dengan kata lain, teks tersebut seolah-olah mengacu pada gambar.
Secara umum, ilustrasi tentang suasana rumah di atas dapat dikatakan memenuhi
tuntutan teks. Namun jika pertautan antara teks dan ilustrasi tersebut ditilik lebih
lanjut, tampaklah beberapa keganjilan dalam gambar karya De Bruin. Keganjilan
yang paling mencolok terletak pada gambar kambing. Berdasarkan janggut dan
bentuk tanduknya, dapat dikatakan bahwa hewan yang digambarkan oleh De Bruin
memang kambing. Dalam bahasa Sunda, kambing disebut embé. Padahal hewan yang
dimaksudkan dalam teks adalah domba. Keganjilan lainnya terletak pada gambar
yang memperlihatkan kambing dan kerbau berada dalam satu kandang. Padahal, jika
teks tersebut disimak secara teliti, tersurat bahwa kandang domba dan kandang
kerbau di halaman rumah Rusdi terpisah satu sama lain. Belum lagi diperhatikan
deskripsi tentang pohon jambu yang buahnya lebat dan berwana putih. Gambar pohon
yang dibuat oleh De Bruin tak semendetail itu. Sementara gambar pohon yang terlihat
berdampingan dengan sumur, tampaknya lebih cenderung memenuhi tuntutan
komposisi visual ketimbang memenuhi maksud tekstual.

94
Cukup menarik pula untuk dicatat bahwa dalam salah satu edisi RdM, bagian
cerita yang mendeskripsikan keadaan di sekitar rumah Rusdi tidak disertai dengan
ilustrasi. Seakan-akan visualisasinya diserahkan sepenuhnya pada imajinasi anak-
anak yang membaca buku itu. Teksnya sendiri tidak mengalami perubahan, kecuali
pada paragraf pertama. Dalam salah satu edisinya, sebagaimana yang dikutip di atas,
paragraf itu berbunyi, “Imah Roesdi djeung adina ajana kira² saratoes lengkah ti
hidji waloengan (Rumah Rusdi dan adiknya terletak kira-kira seratus langkah dari
sebuah sungai).” Sedangkan dalam edisi lainnya, paragraf itu berbunyi, “Pernahna
imah Roesdi kira² saratoes lengkah ti hidji waloengan (Letak rumah Rusdi kira-kira
seratus langkah dari sebuah sungai).” Sayang sekali, tidak dicantumkannya angka
tahun publikasi dalam tiap-tiap edisi RdM menyulitkan upaya untuk menentukan
edisi mana yang lebih dulu atau lebih mutakhir daripada edisi lainnya. Hal yang
sejauh ini dapat dipastikan adalah bawa gambar suasana rumah —yang di sini
dianggap mengandung beberapa keganjilan itu— pernah tidak disertakan dalam buku
tersebut.

V.4.1.3 Penafsiran Ikonografis atas Gambar Lingkungan Fisik
Ketiga gambar di atas pada dasarnya mengkonstruksi citraan tentang alam
kehidupan penduduk kampung. Alam kehidupan tersebut dicitrakan sebagai suatu
lingkungan yang dikelilingi gunung, dinaungi rimbunnya pepohonan, dan dilintasi
sungai. Penduduk kampung digambarkan sebagai orang-orang yang tinggal di rumah
sederhana, yang desain interiornya hanya terdiri atas beberapa ruangan dengan sedikit
perlengkapan, sedangkan di luarnya hanya dilindungi oleh pagar-pagar rendah.
Mereka digambarkan pula sebagai orang-orang yang hidup dengan mengolah
makanan di dapur yang perlengkapannya juga sederhana dengan tata letak yang tidak
begitu beraturan. Makanan mereka cukup ditempatkan dalam wadah-wadah
sederhana yang terbuat dari anyaman bambu.
Lingkungan fisik seperti itu juga digambarkan sebagai sesuatu yang
mencerminkan hubungan antargender yang tidak setara. Kaum lelaki digambarkan
menduduki tempat yang lebih tinggi daripada kaum perempuan, dan mereka

95
digambarkan tidak tergabung dalam pokok pembicaraan yang sama. Sementara anak-
anak, dalam lingkungan fisik seperti itu, digambarkan belum memiliki tempatnya
sendiri. Dinding rumah pun dapat digambari.

V.4.2 Analisis Gambar Lingkungan Sosial
V.4.2.1 Deskripsi Praikonografis atas Gambar Lingkungan Sosial
Untuk mendapatkan gambaran mengenai lingkungan sosial mereka, dapat
diperhatikan dua gambar di bawah.

Gb. V.19 Rusdi dan kakaknya, Ramlan, sedang menghadap kepada seorang guru (repro
Roesdi djeung Misnem)

Gb. V.20 Murid-murid sekolah desa, guru dan orang tua mereka sedang mendengarkan
wejangan camat dalam perayaan “Pesta Raja” (repro Roesdi djeung Misnem)

96
Kedua gambar tersebut diambil dari Buku IV. Gambar yang pertama
memperlihatkan adegan ketika Rusdi dan kakaknya, Ramlan, menghadap kepada
guru sekolah Rusdi, untuk meminta doa dan restu sebelum kakak beradik itu, beserta
keluarganya, berkunjung ke Bandung. Pak Guru duduk di atas sebuah kursi kayu,
dengan mengenakan kain, jas dan ketu udeng. Dengan busana seperti itu,
penampilannya tampak resmi seakan ia sedang berada di tempat kerja, padahal
pertemuan itu berlangsung di rumah. Tangan kirinya bertelekan pada permukaan
meja bulat yang terletak tepat di atas sebuah lampu gantung bertudung, sementara
tangan kanannya terangkat dengan telunjuk teracung. Sementara Rusdi dan kakaknya
duduk di atas tikar yang terhampar di atas lantai. Baik Rusdi maupun Ramlan
mengenakan pakaian resmi, yakni kain, baju berlengan panjang (atau jas?) dan ikat
kepala. Bahasa tubuh kakak beradik itu memperlihatkan sikap ajrih (menghormat,
merendah, takut). Di latar belakang tampak sebuah kursi yang tidak diduduki, seakan
turut menyaksikan pertemuan itu.
Sementara gambar kedua memperlihatkan adegan ketika seorang camat, yang
wilayahnya mencakup tempat tinggal Rusdi, menyampaikan wejangan kepada murid-
murid sekolah desa, orang tua mereka, para guru dan masyarakat setempat dalam
perayaan “Pesta Raja”, yakni perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Diceritakan bahwa
perayaan itu dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus. Artinya, latar historis gambar dan
cerita itu diambil dari masa kekuasaan Ratu Belanda Wilhelmina Helena Pauline
Maria (31 Agustus 1880-28 November 1962). Dalam gambar tampak bunga-bunga
yang dirangkai pada tiang-tiang gapura di belakang hadirin, serta beberapa orang
penabuh gamelan di salah satu latar belakang, yang menimbulkan kesan suasana
pesta. Tepat di belakang Pak Camat, duduk bersila sepasang lelaki. Pada pinggang
kiri salah seorang lelaki itu tampak sebilah senjata tajam.

V.4.2.2 Analisis Ikonografis atas Gambar Lingkungan Sosial
Untuk mengamati Gambar V. 19, dapat diperhatikan teks yang berkaitan
dengannya. Teks tersebut menuturkan maksud kedatangan Rusdi dan Ramlan ke
rumah guru mereka. Petikannya berbunyi sebagai berikut:

97
Sehari sebelum berangkat Ramlan dan Rusdi mengunjungi
Lurah di desa itu, maksudnya tiada lain sekadar memohon didoakan
supaya selamat selalu jangan sampai sakit seperti dulu. Sepulang dari
Lurah kemudian mengunjungi guru Rusdi, maksudnya sama dengan
yang disampaikan kepada Lurah.
Lama nian Rusdi dinasihati oleh gurunya, bagaimana
seharusnya belajar dan menjaga kesehatan supaya cita-citanya
terlaksana dan harapan orang tua cepat terwujud. (Deenik dan
Djajadiredja, 19...: 71)

Sedangkan untuk mengamati Gambar V. 20, dapat diperhatikan teksnya antara
lain berbunyi sebagai berikut:

Siang hari tanggal tiga puluh satu Agustus itu tetabuhan di
sekolah telah terdengar ramai, tamu-tamu telah berkumpul; para
penonton, penduduk desa itu dan desa-desa lainnya, telah tumplek.
Tak lama kemudian tetabuhan berhenti, Camat pun berdiri,
menyampaikan pemberitahuan kepada seluruh hadirin di situ. Begini
katanya: “Wahai, Lurah-Lurah sekalian, Guru dan murid-murid, serta
orang tuanya, dan seluruh hadirin di sini, saya beritahukan bahwa
tanggal tiga puluh satu bulan Agustus adalah hari kelahiran Kanjeng
Raja kita. Seluruh bawahan Kerajaan Belanda, di kota dan di negara-
negara besar, tentu sama-sama berpesta, memperingati Kanjeng Raja
serta memanjatkan doa, memohon kepada Tuhan yang Maha Suci,
supaya Kanjeng Raja dan segenap bawahannya selamat sentosa
selamanya.
Demikian pula kita semua, mari turut serta, ikut memanjatkan
doa, semoga terkabul permohonan sebagaimana yang disebutkan
tadi... (Deenik dan Djajadiredja, 19---: 31-32)

Gambar peristiwa seperti itu —yang memperlihatkan bahwa orang yang
kedudukan sosialnya tinggi duduk di atas kursi atau berdiri sementara orang yang
kedudukan sosialnya lebih rendah duduk di atas lantai— memiliki beberapa varian
dalam keempat jilid buku ini. Dalam Buku III, misalnya, ada gambar serupa yang
memperlihatkan Rusdi dan ayahnya ketika menghadap kepada seorang ménak
(bangsawan). Selain itu, dalam Buku IV, ada pula gambar yang memperlihatkan
Rusdi dan teman-teman sekolahnya duduk bersila di atas tanah, sementara

98
“Djoeragan Goeroe” duduk di atas sebuah kursi seraya menelungkupkan kedua
tangannya ke atas sebuah meja.
Gambar tersebut dapat pula dibandingkan dengan ilustrasi karya Cornelis
Jetses di bawah. Gambar tersebut memperlihatkan seorang Eropa yang duduk di atas
kursi, sedangkan seorang wanita pribumi berjongkok di hadapannya.

Gb. V.21 Ilustrasi karya Cornelis Jetses

V.2.2.3 Penafsiran Ikonografis atas Gambar Lingkungan Sosial
Jika gambar-gambar di atas, serta narasi-narasi yang berkaitan dengannya,
dipandang secara menyeluruh sambil mempertimbangkan apa yang tersirat di
belakangnya (between the lines), maka kesan yang timbul menegaskan adanya
sebentuk hierarki sosial yang tampaknya begitu ajeg. Dalam hierarki itu orang tidak
duduk sama rendah, juga tidak berdiri sama tinggi. Selalu ada pihak yang harus
menempatkan diri di bawah, sementara pihak lain harus berada di atas. Dalam tata
sosial seperti itulah dapat dimengerti apa sebabnya Rusdi dan Ramlan merasa perlu
berkunjung kepada para pemuka desa, mulai dari lurah hingga guru sekolah, sebelum
mereka bepergian dari desa ke kota. Restu dan doa para pemuka desa seakan menjadi
jaminan bagi kesehatan dan keberhasilan orang-orang seperti Rusdi dan Ramlan.
Gambar dan narasi demikian juga memperlihatkan betapa hierarksi sosial yang
melembaga di desa hanyalah bagian dari hierarki yang lebih besar, yakni tata negara
dan pemerintahan yang berporos nun di Negeri Belanda. Karena itulah, “Pesta Raja”,
yakni ulang tahun Ratu Belanda, dijadikan kesempatan untuk menunjukkan loyalitas

99
seluruh “bawahan kerajaan”, tak terkecuali penduduk desa seperti Rusdi, kepada
pemegang kekuasaan tertinggi.

keharuman
Sri Ratu

aparat
kolonial

rakyat
jajahan
senjata

Gb. V.22 Identifikasi motif gambar interaksi
aparat kolonial dengan rakyat jajahan

Jika gambar suasana “Pesta Raja” itu diidentifikasi motif-motifnya, akan
terlihat secara lebih jelas interaksi aparat kolonial dengan rakyat jajahan. Gambar ini
kiranya merepresentasikan loyalitas rakyat jajahan terhadap penguasa kolonial.

V.5. Analisis Gambar Adat-istiadat di sekeliling Rusdi dan Misnem
V.5.1 Deskripsi Praikonografis Gambar Adat Istiadat di Sekitar Rusdi dan Misnem
Pada bagian ini dapat diperhatikan gambar-gambar yang berkaitan dengan
latar budaya dari kehidupan sehari-hari Rusdi dan Misnem. Gambar pertama, yang
diambil dari Buku III, berkaitan dengan narasi tentang cara mengobati orang sakit.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari Rusdi jatuh sakit. Untuk menyembuhkannya,
orang tua Rusdi memanggil seorang dukun. Dalam gambar tampak Rusdi tergolek di
atas sebuah dipan. Kepalanya disangga dengan sebuah bantal, sedang badannya
ditutupi sehelai selimut. Di samping dipan tampak dukun sedang berdoa. Di
hadapannya terdapat wadah kemenyan yang mengepulkan dupa. Sebuah kendi,

100
sehelai kain dan seekor ayam, diletakkan di atas lantai sebagai sesajen. Ayah dan ibu
Rusdi, juga Misnem, duduk termenung di belakang dukun.

Lama

Gb. V.23 Dukun dan anggota keluarga berdoa
di kala Rusdi Sakit (repro RdM)

Baru

Gb. V.24 Penduduk kampung dan “mesin ngomong”
(repro RdM)

Gambar berikutnya, yang diambil dari Buku II memperlihatkan sekelompok
orang dewasa yang sedang mendengarkan suara sebuah gramofon yang secara
populer disebut “mesin ngomong”. Dalam gambar tersebut tampak Lurah dan
beberapa warganya duduk bersila di atas sehelai tikar sambil mengelilingi sebuah
gramofon. Di lawang, di belakang sebagian lelaki-lelaki dewasa itu, tampak Rusdi
dan tiga orang temannya terbengong-bengong menyaksikan dan mendengarkan
keanehan hasil teknologi yang dapat memutar rekaman pada piringan hitam itu.

101
Teksnya menuturkan bukan hanya tentang keterpukauan anak-anak —yang
sebelumnya sempat terpana oleh kedatangan sebarisan serdadu yang melintas ke desa
mereka seraya diiringi musik— atas hasil kemajuan teknologi itu, melainkan juga
tentang cara hasil teknologi itu diterima di lingkungan masyarakat desa.

V.5.2 Analisis Ikonografis Gambar Adat Istiadat di Sekitar Rusdi dan Misnem
Sehubungan dengan Gb. V.23, dapat disimak teksnya yang antara lain
berbunyi sebagai berikut:

Kata Ki Dukun: “Mas Lurah, kiranya sekarang kita
persembahkan saja kepada si empunya kuasa di sini, kalau-kalau
ananda punya masalah, kita memohon ampun.”
Kata ayah Roesdi: “Embah, saya ini tidak tahu apa-apa,
segalanya saya serahkan kepada perkenan Embah.”
Setelah itu ibu Rusdi menyediakan syarat-syarat, segala yang
harus ada, seperti: kain putih, beras putih, kemenyan putih, wadah
arang dan kendi berisi air.
Wadah arang telah mengepul. Ki Dukun bersila sambil
termenung, menghadapi wadah arang seraya berdoa. Beberapa saat
kemudian ia memejamkan matanya seraya menunduk.
Tak berapa lama, rumah Rusdi sepi, tiada seorang pun yang
berbicara. Setelah itu Ki Dukun bangkit sambil berucap: “Mas Lurah!
lumayan sudah, besok juga ananda bakal pulih seperti sedia kala.
Sirami saja ananda dengan air dari kendi ini, supaya diberkati para
leluhur.”
...
Singkat cerita, setelah dimandikan, Rusdi bukannya pulih, tapi
malah kian parah.
... Dua hari kemudian, saking bingungnya, pergilah ayah Rusdi
menemui Lurah aktif, memohon pertolongan. Lurah aktif lekas
mengambil pil kina satu dus serta menyertai ayah Rusdi ke rumahnya.
Rusdi diberi pil sepuluh butir, disuruh menelannya dengan air minum.
Keesokan harinya, kesehatannya membaik. (Deenik dan
Djajadiredja, 19...: 48-49)

Gambar dan narasi yang menonjolkan adat-istiadat atau kebiasaan masyarakat
seperti itu terdapat pula di halaman-halaman lainnya. Dalam Buku II, misalnya,
terdapat gambar dan narasi tentang kegiatan nadran, yaitu berziarah ke kuburan

102
sanak famili, terutama leluhur, yang biasanya dilakukan oleh sebagian masyarakat
muslim pada hari Lebaran. Dalam gambarnya diperlihatkan adegan ketika ayah dan
ibu Rusdi serta Misnem duduk sambil berdoa dengan menghadap ke sebuah pusara,
sementara Rusdi menyiramkan air dari sebuah kendi ke atas kuburan seraya berdiri.
Di latar belakang tampak sejumlah pusara lain dan orang yang berbuat serupa. Dalam
teksnya antara lain diceritakan bahwa keluarga Rusdi mengadakan nadran setelah
menunaikan salat sunat Idul Fitri di masjid. Mereka membawa perlengkapan yang
terdiri atas bungarampai, kemenyan, kendi berisi air dan “sapu, keur
paroekoejanana” —perlengkapan yang disebutkan terakhir merujuk pada reranting
padi kering yang diikat jadi satu membentuk sapu, dan biasanya disulut hingga
baranya dapat dijadikan bantalan kemenyan (parukuyan) untuk mengepulkan dupa.
Ada pula gambar dan narasi tentang adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat
yang berkaitan dengan bidang seni, semisal yang terdapat dalam Buku III yang
menonjolkan kemampuan Rusdi ngibing (menari) dengan diiringi oleh bunyi
gamelan. Ia diceritakan dan digambarkan sedang menari di atas sehelai tikar, dengan
mengenakan ikat kepala, jas tertutup dan kain. Adapun para pemain gamelannya
antara lain terdiri atas penggesek rebab, pemukul kendang, penabung saron ,
penabung bonang dan pemukul goong. Dari teksnya pembaca mengetahui bahwa
kegiatan Rusdi tersebut merupakan bagian dari kariyaan (pesta) yang
diselenggarakan oleh orang tua Rusdi selama dua hari dalam rangka khitanan Rusdi.
Secara terperinci teks tersebut berisi deskripsi etnografis yang menggambarkan
meriahnya suasana pesta dan urut-urutan acaranya.
Gambar-gambar dan narasi-narasi seperti itu menonjolkan tata cara kehidupan
masyarakat Sunda tradisional. Namun, tidak semua gambar, dan narasi, yang
berkaitan dengan budaya dalam buku ini menitikberatkan nilai-nilai tradisional. Ada
pula sejumlah gambar dan narasi, yang berkaitan dengan munculnya nilai-nilai atau
hal-hal baru, sebagaimana yang terlihat dari Gb. V.24. Sehubungan dengan gambar
yang disebutkan belakangan, dapat pula disimak teksnya yang antara lain menuturkan
sebagai berikut:

103
Sore hari, kira-kira saat asar, di utara rumah Rusdi ada musik
ramai sekali, seraya diselingi lagu nyaring...
Rusdi melirik ke kiri dan kanan, telinganya ditelengkan,
mendengarkan suara musik itu. Misnem pun demikian...
Rusdi lari, bergegas ke jalan, tapi setelah ia tengok kiri dan
kanan, ternyatan tidak ada apa-apa, hanya suara musik yang semakin
nyaring mengalun.
...
Sesampainya di rumah Lurah, anak-anak berhenti sambil
berbicara satu sama lain: “Eh, jangan-jangan serdadu itu ada di rumah
juragan Lurah, buktinya musiknya ada di halaman rumahnya. Tuh kan,
orang-orang tua pun berkumpul, mendengarkan musiknya. Ayo kita
ikut orang-orang tua, jelas musiknya.”
Begitu tiba di halaman rumha itu, bukan main kagetnya anak-
anak itu, karena yang mereka temukan ternyata bukan musik kemarin,
yang dibawa oleh para serdadu itu, melainkan sebuah kotak kecil yang
dilengkapi sebuah terompet.
...
“Loh, sekarang suara angklung, buncis Garut! Nah, sudah ganti
lagi, ogél si Eon! Nah, sudah ganti lagi, wayang dalang Suwanda!”
Tiap kali berganti lagu, orang-orang tua yang
mendengarkannya membayar, ada yang membayar satu sen, ada pula
yang membayar satu pésér, semampunya.
Setelah beberapa lagu diperdengarkan di rumah Lurah,
kemudian pindah ke rumah lainnya.
... Rusdi bertanya pada ayahnya: “Bapak! bebunyian tadi apa
namanya?”
Jawab ayahnya: “Alat seperti itu namanya mopoen, tapi orang
sini menyebutnya mesin ngomong.” (Deenik dan Djajadiredja, 19...:
36-39)

V.5.3 Penafsiran Ikonografis Gambar Adat Istiadat di Sekitar Rusdi dan Misnem
Kedua gambar di atas, jika diamati dalam satu kerangka, pada dasarnya
menyiratkan suatu pandangan tentang masyarakat pribumi Hindia Belanda yang
dianggap perlu diperkenalkan kepada kebiasaan dan nilai-nilai baru. Dalam
pandangan ini, masyarakat yang masih bergantung pada dukun ketika ada sanak
famili mereka yang sakit, perlu diberi tahu tentang efektivitas obat-obatan modern.
Dalam pencitraan tentang masyarakat tradisional seperti itulah, benda-benda mutakhir
pada masanya, seperti gramofon, tampaknya dijadikan metafor dari masuknya
kebiasaan dan nilai-nilai baru.

104
Pada zaman De Bruin tampaknya ada kecenderungan umum di kalangan
orang Eropa untuk menghidupkan pencitraan tentang masyarakat tradisional yang
terpukau oleh barang-barang serta nilai-nilai baru yang berdatangan dari luar
lingkungan mereka sehari-hari. Gambar penduduk desa yang sedang menyimak suara
dari sebuah gramofon di atas, misalnya, dapat dibandingkan dengan sebuah foto yang
motifnya sejenis di bawah.

Gb. V.25 Masyarakat Sunda sedang mengerubungi sebuah gramofon
(repro buku Indonesia: 500 Early Postcards)

Foto tersebut dipetik dari Indonesia: 500 Early Postcards (2004), yakni buku
yang menghimpun gambar kartu pos zaman kolonial, susunan Leo Haks dan Steven
Wachlin, halaman 201. Foto tersebut memperlihatkan sekelompok penduduk sebuah
kampung di Buitenzorg (Bogor kini) pada sekitar tahun 1916 yang sedang
mengerubungi sebuah gramofon. Jika foto itu diamati seraya menyimak narasi dalam
Buku Rusdi sehubungan dengan gramofon di atas, dapat diduga bahwa pada waktu
foto itu dibuat ada penjaja gramofon keliling yang memasuki kampung, yang
menaruh barang modern kepunyaannya di sisi jalan sehingga penduduk-penduduk
kampung, tua dan muda, lelaki dan perempuan, terpikat dibuatnya sebagaimana yang
dituturkan dalam Buku Rusdi. Di samping penjaja gramofon itu tentu ada juga juru
potret yang sengaja datang untuk mengabadikan peristiwa tersebut. Namun, ada juga
kemungkinan bahwa juru potret dan pembawa gramofon itu sengaja bekerja sama —
atau mungkin juga orang yang sama— untuk membuat potret tersebut. Yang menarik,
jika kaum pribumi yang berdiam di kampung itu begitu terpukau oleh gramofon

105
sebagai benda modern, mengapa tampaknya mereka tidak terpukau oleh kamera?
Dalam potret itu hanya ada seorang anak di tengah kerumunan itu yang memandang
ke arah kamera. Dengan kata lain, ada kemungkinan para penghuni kampung itu
memang sengaja diminta mengerubungi sebuah gramofon demi produksi foto.
Konsekuensi logis dari spekulasi tersebut akan dipaparkan dalam subbahasan
terakhir dalam bab ini. Di sini, sehubungan dengan perbandingan antara ilustrasi De
Bruin tentang gramofon dan potret di atas, dapat ditekankan bahwa visualisasi
manusia dan budaya Sunda oleh De Bruin dalam hal ini tampaknya sejalan pula
dengan kecenderungan umum pada zamannya, yakni untuk memperlihatkan
keterpukauan kaum pribumi tanah jajahan oleh temuan modern. Dengan kata lain,
selain digambarkan sebagai kaum yang loyal pada penguasa kolonial, mereka juga
digambarkan sebagai kaum yang terpukau oleh artefak-artefak modernitas yang
melekat pada kolonialisme itu sendiri.
Seluruh pemaparan dan analisis gambar dalam bab ini dapat dirangkum dalam
Tabel V.1 di halaman 110. Sementar garis-garis besar visualisasi manusia, alam dan
budaya Sunda oleh De Bruin dalam RdM dapat dilihat dalam bagan di bawah ini.

Superioritas

teks
Roesdi djeung Misnem
- manusia yang tahap
perkembangannya
dapat dibandingkan
dengan kera;
perspektif penggalian representasi - manusia yang
Eropa idiom visual subjek kolonial pikirannya
terkolonisasi (colonized
mind);
- rakyat jajahan yang
loyal kepada penguasa
• raut wayang
kolonial;
• ragam hias batik
- orang desa yang
• flora lingkungan fisiknya
• fauna masih sederhana.
• manusia - orang desa yang
terpukau modernitas.

Gb. V. 26 Bagan Rekapitulasi Analisis Gambar karya De Bruin

106
V.6. Realisme Semu dalam Kolonialisme Visual
Akhirnya, di sini akan dikemukakan refleksi atas seluruh uraian dalam bab
ini. Karena drawing dan karya visual lainnya, tak terkecuali foto, dapat disejajarkan
dalam kerangka strategi visual, refleksi ini akan kembali memanfaatkan gambar
fotografis sebagai bahan perbandingan untuk gambar-gambar ilustrasi buku karya De
Bruin yang dibahas di atas. Dalam hal ini dapat diperhatikan dua foto yang kembali
dipetik dari koleksi reproduksi gambar kartu pos Indonesia: 500 Early Postcards di
bawah ini.
Gb. V.27 menampilkan foto seorang gadis Priangan pada abad ke-19,
sementara Gb. V.28 menampilkan seorang wanita penjaja makanan dan beberapa
konsumennya di Semarang dari masa yang tidak diketahui. Untuk keperluan refleksi
ini, hal yang perlu diperhatikan dari kedua foto tersebut bukanlah sosok-sosok
manusia yang ditampilkan di latar depan, melainkan justru panorama yang terletak di
latar belakang. Jika diperhatikan baik-baik kedua foto tersebut rupanya dibuat di
dalam studio. Panorama yang terlihat di lata belakang jelas merupakan lukisan yang
dibuat pada sehelai tabir.

Gb. V. 27 Foto Gadis Priangan abad ke-19 (repo Indonesia: 500 Early Postcards)

107
Gb. V.28 Foto pedagang makanan dan para konsumennya di Semarang
(repro Indonesia: 500 Early Postcards)

Dalam kedua foto tersebut sosok-sosok manusia dan gerak-gerik mereka
tampak realistis, dalam arti menimbulkan kesan wajar sebagai bagian dari kehidupan
sehari-hari pada masanya. Namun dengan menyadari bahwa kedua foto tersebut
dibuat di dalam studio foto, jelas bahwa keduanya bukan foto yang bersifat candid.
Meskipun sosok, penampilan dan bahasa tubuh manusia yang diperlihatkannya
tampak realistis, tapi semua itu sesungguhnya merupakan sebentuk hasil acting.
Figur-figur yang ditampilkannya kiranya lebih tepat disebut model. Hal itu menjadi
kian penting diperhatikan manakala diingat bahwa kedua foto itu dibuat dalam
kerangka produksi kartu pos, yakni salah satu barang cetakan yang lazimnya dicetak
secara massal dan disebarluaskan melalui pasar. Untuk lebih jelasnya, dapat
diperhatikan kembali foto gadis Priangan tersebut setelah dijadikan kartu pos.

108
Gb. V.28 Kartu pos bergambar gadis Priangan dengan pesan berbahasa Belanda dari abad ke-19
(repro Indonesia: 500 Early Postcards)

Berdasarkan kedua contoh gambar di atas, dapat ditekankan suatu hal yang
terdengar paradoksal, yakni bahwa gambar-gambar yang tampak realistis belum tentu
mencerminkan realitas sehari-hari yang wajar atau tidak dibuat-buat. Gambar-gambar
seperti itu pada dasarnya bersifat artifisial sebagai bagian dari strategi visual untuk
memproduksi citraan-citraan mengenai kehidupan masyarakat tertentu demi
kepentingan masyarakat lainnya. Gadis Priangan itu, misalnya, diminta bertelanjang
dada, berdiri seraya menyunggi beberapa bilah kayu bakar, dan menghadap ke arah
kamera di sebuah studio entah di mana. Posenya diatur sedemikian rupa sehingga
dapat dipandang memenuhi syarat-syarat pencitraan “Preanger Vrouw” sebagai
dekorasi bagi sehelai kartu pos berisi surat berbahasa Belanda yang dikirimkan nun
dari Den Haag pada suatu hari di tahun 1899.
Demikianlah adanya apa yang di sini dimaksud dengan “realisme semu”,
yakni sebentuk motif fotografis yang diwujudkan sebagai bagian dari pabrikasi
citraan mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat di sebuah koloni. Pabrikasi
seperti itulah yang di sini disebut dengan “kolonialisme visual”.
Sebagaimana foto-foto kehidupan pribumi Hindia Belanda yang dibuat di
dalam studi foto untuk kepentingan produksi kartu pos, rangkaian ilustrasi karya
W.K. de Bruin dalam buku RdM pun dapat ditempatkan dalam kerangka serupa.

109
Rangkaian gambar mengenai dunia anak-anak Sunda itu dibuat di Den Haag untuk
keperluan industri penerbitan yang menerbitkan bahan pengajaran untuk sekolah-
sekolah dasar pribumi di Jawa Barat sebelum PD II. Bagi generasi yang pernah
mengakrabi buku tersebut, gambar-gambar karya De Bruin rupanya terbilang realistis
sebagaimana kehidupan mereka sehari-hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa
realisme itu juga bersifat semu, dan dibuat dalam upaya merealisasikan salah satu
kebijakan kolonial di Tatar Sunda dahulu kala.

NO. motif gambar deskripsi praikonografis analisis ikonografis interpretasi
ikonografis
1. Sosok dan Gambar kakak beradik Rusdi dan Gambar ini memenuhi Gambar ini
Penampilan Misnem, dengan pose hampir utuh, tuntutan narasi tentang anak- merupakan
Rusdi dan menghadap ke muka. Kulit mereka anak kampung yang nakal representasi subjek
Misnem gelap. Mereka mengenakan pakaian dan tidak teratur. Postur, kolonial oleh orang
tradisional. warna kulit dan pakaian Eropa. Dalam
mereka ditonjolkan. banyak hal pribumi
seperti Rusdi
dicitrakan hampir-
hampir seperti kera.
2. Kegiatan Gambar Rusdi dan Misnem di alam Gambar rokok dan ular Gambar ini
Sehari-hari nyata dan di alam khayal. Di dalam terpaut pada citra tentang merepresentasikan
Rusdi dan Rusdi merokok, serta bersama perilaku pribumi yang kehidupan pribumi
Misnem adiknya memegang seekor ular. merusak diri sendiri dan liar. yang masih
Sedangkan di alam khayal mereka Namun, di pihak lain, terbelakang. Di
membayangkan mempunyai mainan senapan mainan dan boneka pihak lain, benak
seperti senapan main untuk Rusdi terpaut pada artefak Eropa mereka pada
dan boneka untuk Misnem yang mengisi angan-angan dasarnya
bersahaja orang desa tentang terkolonisasi oleh
kehidupan yang aspek-aspek
menyenangkan. peradaban Eropa.
3. Lingkungan Gambar rumah, ruang keluarga dan Gambar ini memenuhi Gambar ini
Sosial dan dapur tempat hidup Rusdi dan tuntutan narasi tentang latar merepresentasikan
Fisik Rusdi Misnem bersama orang tuanya. perkisahan yang sederhana masyarakat pribumi
dan Misnem Bagian luar menyatu dengan alam. atau bersahaja. Dalam latar yang loyal terhadap
Bagian dalam sederhana, tanpa seperti itu digambarkan aparat kolonial.
dekorasi. Ada pula gambar hubungan sosial yang
penduduk desa di depan orang-orang bersifat hierarkis.
terhormat, seperti guru atau camat.
Orang-orang terhormat digambarkan
memberikan nasihat kepada
penduduk desa seperti Rusdi
4. Adat-istiadat Gambar dukun sedang mengobati Dukun dan dupa terpaut Gambar ini
atau Rusdi sewaktu dia terbaring sakit. pada citra pribumi sebagai merepresentasikan
Kebiasaan di Ada pula gambar sekelompok masyarakat yang masih masyarakat pribumi
sekeliling penduduk desa sedang duduk di diliputi takhayul, meski pada yang terpukau oleh
Rusdi dan sekeliling sebuah gramofon. saat yang sama nilai-nilai modernitas karena
Misnem baru telah masuk ke mereka sendiri
lingkungan mereka. dianggap masih
terbelakang.

Tabel V.1 Rangkuman Analisis Gambar

110