A.

Pendahuluan Pendidikan keagamaan Islam merupakan sesuatu yang wajib diajarkan pada semua jalur dan jenjang pendidikan. Pelaksanaan pendidikan keagamaan Islam diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Peraturan Pemerintah ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang tertuang dalam PP No. 55 tahun 2007 mengatur tentang pelaksanaan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada jenjang pendidikan formal, nonformal, dan informal. Hal yang menarik dari PP No. 55 tahun 2007 ini adalah diakuinya majelis taklim, pengajian kitab, pendidikan Alquran dan diniyah taklimiyah sebagai bagian dari pendidikan keagamaan Islam nonformal. Apa yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah di atas dapat dianalisis dengan membandingkan praktik penyelenggaraan pendidikan Islam yang berlangsung pada masa dahulu. Boleh jadi ada kebijakan baru yang belum ada pada masa pendidikan Islam pada masa dahulu tetapi saat ini kebijakan itu ada. Untuk itu, makalah ini akan membahas tentang pendidikan Islam formal, nonformal, dan informal. Makalah ini menyajikan pembahasan yang dimulai dari praktik pendidikan Islam dalam sejarah Islam, kebijakan tentang pendidikan keagamaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007, dan praktik pendidikan Islam di Indonesia. B. 1. Pembahasan Praktik Pendidikan Islam Dalam Sejarah Islam Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang. Dalam pengertian seluas-luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, di mana Islam lahir dan pertama kali berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan – untuk tidak menyebut sistem – merupakan transformasi besar. Sebab, masyarakat Arab pra-Islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan formal.[1] Menjelang datangnya Islam, bangsa Arab pada dasarnya telah mengembangkan satu kegiatan sastra, terutama dalam bentuk puisi. Meskipun sistem ekspresi dan transmisi yang dominan adalah lisan, tulisan telah mulai dikenal secara terbatas. Paling tidak untuk kalangan tertentu (Yahudi dan Kristen), pendidikan yang terstruktur, meskipun sangat sederhana, sudah mulai berkembang.[2] Pada saat datangnya Islam, hanya ada 17 orang Quraisy yang mengenal tulis baca.[3] Di tengah permusuhan kaum Quraisy, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Rasulullah saw. bersama pengikutnya yang hanya sedikit. Ketika akhirnya mereka hijrah ke Madinah (1 H/622 H), mereka menemukan bahwa beberapa orang dari suku Aus dan Khazraj (dua kabilah utama Madinah) dapat

Rasulullah saw.[5] Fachruddin mengatakan bahwa pada masa Islam klasik lembaga pendidikan terdiri atas masjid.[10] Dengan demikian.[7] Madrasah lahir sebagai lembaga pendidikan yang berkembang secara alami dari cikal bakalnya. Bahkan peranan masjid seperti universitas terbuka pada masa itu.[9] Pendidikan secara informal telah berlangsung sejak awal Islam. Pembiayaan pendidikan di masjid berasal dari wakaf tahrir(si pemberi wakaf tidak melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan di masjid). maka pendidikan diselenggarakan di masjid. Proses pendidikan pada kedua tempat ini dilakukan dalam halaqah . Di sana kaum Muslimin berkumpul untuk belajar dan membersihkan akidah serta pencerahan jiwa mereka. Dalam kaitan itulah bisa dipahami kenapa proses pendidikan Islam pertama kali berlangsung di rumah sahabat tertentu.[4] Pada masa awal perkembangan Islam.[11] . membaca surah-surah Alquran dan menjelaskan makna yang terkandung di dalam Alquran. Mereka yang berpengetahuan mendalam tentang Alquran memimpin kelompokkelompok diskusi. yang paling terkenal adalah Dār al -Arqam . Tetapi ketika masyarakat Islam sudah terbentuk. sendiri menggunakan rumah al-Arqam bin al-Arqam sebagai tempat pertemuan dengan para sahabat dan pengikut-pengikut beliau. dan shuffah.[8] Keberadaan madrasah merupakan salah satu bentuk inovasi dalam trend pendidikan Islam. lingkaran belajar. Tahapan perubahan sebelum menjadi madrasah adalah dari masjid. Madrasah pada masa itu mengkaji ilmu lintas disiplin keilmuan atau adanya integrasi keilmuan (baik ilmu diniyah maupun ilmu gharbiyah). Di sana kaum Muslimin mendapatkan pengajaran dari beliau. Segala aktivitas pendidikan berlangsung di Masjid. pendidikan secara informal berlangsung dalam bentuk diskusi tentang kandungan Alquran. pengajaran agama diberikan di rumah-rumah. Dengan demikian madrasah menjadi kaya akan pengkajian keilmuan. memberi perhatian khusus terhadap persoalan pendidikan. Pada periode awal Islam. Masjid menjadi lembaga pendidikan formal pada masa itu. dan penamaan dasar-dasar kepercayaan dan ibadah Islam. Dengan hadirnya madrasah maka dengan sendirinya pula praktik pendidikan formal berada di madrasah. Dikatakan sebagai inovasi karena pada masa sebelumnya belum ada madrasah. yaitu masjid. tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara. berupa kaidah -kaidah Islam dan ayat-ayat Alquran. kemudian masjid akademi. Selain itu Rasulullah saw. Pendidikan yang berlangsung dapat dikatakan umumnya bersifat informal. Dikatakan demikian karena semua orang dapat mengakses ilmu secara mudah. Untuk menamatkan pembelajaran dasar keislaman di masjid dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun. dan inipun lebih berkaitan dengan upaya-upaya dakwah Islamiyah – penyebaran.[6] Fachruddin juga mengatakan bahwa pada masa berikutnya trend masjid sebagai lembaga pendidikan formal mulai bergeser dengan hadirnya madrasah. hingga akhirnya menjadi madrasah. Menurut ajaran Islam. mengadakan pertemuan di rumah beliau sendiri di Mekah. Masjid yang pada masa itu menjadi pusat kajian keagamaan. terutama masjid akademi (masjid khan ). dār .menulis dan membaca. Rasulullah saw.

setelah periode al -Ma‟mun. (5) sanggar seni dan sastra (al-shalunat al-adabiyah ). dan hadis. (2) lembaga pendidikan masjid. yakni dengan kebangkitan madrasah. George Makdisi. dalam tradisi pendidikan Islam. madrasah ini kemudian terkenal sebagai Madrasah Nizam al-Muluk. Iran. (3) kedai pedagang kitab ( al-Hawanit al-Warraqin ). Pada tahun 400/1009 terdapat madrasah di wilayah Persia. Institusi pendidikan formal ini biayanya disubsidi oleh negara dan dibantu oleh orang-orang kaya melalui harta wakaf. berdasarkan kriteria hubungan institusi pendidikan dengan negara yang berbentuk teokrasi. penelitian lebih akhir. dan (7) lembaga pendidikan sekolah ( al-madrasah ). tafsir. Tetapi ada “pemakruhan” – untuk tidak menyebut pengharaman penggunaan nalar setelah runtuhnya Mu‟tazilah. yang tentu saja secara historis dan kelembagaan berkaitan dengan masjid Jāmi„ – masjid besar tempat berkumpul jamaah untuk menunaikan salat Jumat. yaitu institusi pendidikan Islam formal dan institusi pendidikan Islam informal. misalnya yang dilakukan Richard Bulliet mengungkapkan eksistensi madrasah-madrasah lebih tua di kawasan Nishapur. Pengelolaan administrasi berada di tangan pemerintah. Institusi pendidikan formal adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh negara untuk mempersiapkan pemuda-pemuda Islam agar menguasai pengetahuan agama dan berperan dalam agama dan menjadi pegawai pemerintahan.[14] Sepanjang sejarah Islam. yang tertua adalah Madrasah Miyan Dahiya yang didirikan Abu Ishaq Ibrahim ibn Mahmudi di Nishapur.[12] Pendidikan formal Islam baru muncul pada masa lebih belakangan. Ahmad Syalabi dan Charles Michael Stanton menganggap. institusi pendidikan tinggi lebih dikenal dengan nama al-jāmi„ah. Hasan „Abd al -„Al sebagaimana dikutip oleh Suwito. (4) tempat tinggal para sarjana ( manazil al-„ulama). bahwa madrasah pertama kali didirikan oleh Wazir Nizam al-Muluk pada 1064. menyebutkan bahwa ada tujuh lembaga pendidikan yang telah berdiri pada masa Abbasiyah terutama pada abad keempat hijrah. kaum Muslimin pada saat itu mengirimkan anak-anak mereka secara khusus ke rumah-rumah para ulama untuk mendapatkan didikan langsung dari para ulama atau ke perpustakaan-perpustakaan untuk memperoleh kitab-kitab yang lengkap untuk dibaca dan dijadikan referensi. Ketujuh lembaga pendidikan tersebut adalah: (1) lembaga pendidikan dasar ( kuttab). [15] Selanjutnya. Secara tradisional sejarawan pendidikan Islam. seperti Munir ad-Din Ahmed. Ilmu-ilmu alam dan eksakta – yang merupakan akar-akar pengembangan sains dan teknologi – sejak awal perkembangan madrasah dan al-jāmi„ah sudah berada dalam posisi marjinal.[16] Institusi pendidikan Islam klasik menurut Charles Michael Stanton. yang berkembang dua abad sebelum Madrasah Nizhamiyah. Zaituna di Tunis dan Qarawiyyin di Fez. baik madrasah maupun al-jāmi„ah diabdikan terutama untuk ilmu-ilmu agama.[13] Lebih jauh lagi. Al -Jāmi„ah yang muncul paling awal dengan potensi sebagai lembaga perguruan tinggi adalah al-Azhar di Kairo.Untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak. (6) perpustakaan ( dar al-kutub wa dar al-„ilmi ). Mempelajari ilmu-ilmu umum bukan sesuatu yang sama sekali tidak ada dalam kurikulum madrasah. ada dua macam. Institusi atau lembaga . Akan tetapi. dengan penekanan khusus pada bidang fiqih.

wazir. Khalifah.[18] Salah satu lembaga pendidikan informal pada masa itu adalah perpustakaan. Ketika itu kuttab kuttab yang hanya mengambil tempat di ruangan rumah guru mulai dirasakan tidak memadai untuk menampung anak-anak yang jumlahnya semakin besar. Keberadaan para sukarelawan tersebut tidak diatur oleh negara. bertambah pulalah jumlah penduduk yang memeluk Islam. Kuttab jenis ini bersifat formal. wazir) membangun fasilitas pendidikan informal secara mandiri. Tempat yang mereka pilih adalah sudut-sudut masjid. Lembaga-lembaga pendidikan informal didukung oleh sukarelawan yang mengabdikan diri pada usaha-usaha kelompok. Bentuk pengajaran yang demikian akhirnya berkembang menjadi kuttab - . tidak menerima bantuan langsung dari negara. pembesar. dan lembaga ini menawarkan mata pelajaran umum. Keduanya belajar dari Bisyr bin Abdul Malik yang mempelajarinya dari Hirah. Kuttab dalam bentuk awalnya berupa ruangan di rumah seorang guru. tetapi belum begitu dikenal. dan pegawai istana yang diasuh oleh seorang mu‟addib (pendidik). Perpustakaan-perpustakaan umum dibuka untuk umum. a) Kuttab Kuttab merupakan sejenis tempat belajar yang mula-mula lahir di dunia Islam. Lembaga-lembaga seperti itu tidak hanya berkembang di Bagdad dan Kairo. tetapi pribadi atau sekelompok orang yang terlibat di dalam lembaga itu bertanggung jawab kepada masyarakat dengan cara yang sama seperti halnya warga negara lainnya. berdiri di masjid-masjid.pendidikan informal tidak dikelola oleh negara. tetapi juga di ibukota-ibukota propinsi dan sepanjang wilayah Afrika Utara. Pada awalnya. termasuk filsafat. kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak. Kondisi yang demikian mendorong para guru dan orang tua murid mencari tempat lain yang lebih lapang untuk ketentraman belajar anak-anak. Kuttab ini mulai berkembang karena adanya pengajaran khusus bagi anak-anak keluarga raja. dan madrasah-madrasah. walaupun sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan lingkungannya. Keberadaan lembaga pendidikan informal tergantung pada kepribadian para ilmuwan dan kemampuannya untuk menarik murid dan pendukung. dan penguasa lokal sering sekali membangun perpustakaan umum untuk mempromosikan kegiatan tulis-baca dan memajukan tingkat pendidikan dalam wilayah kekuasaan mereka. pada sisi lain para pemimpin (khalifah. Di antara penduduk Mekah yang mula-mula belajar menulis huruf Arab di kuttab ini adalah Sufyan bin Umayyah bin Abdul Syams dan Abu Qais bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Hal ini bertujuan untuk mempromosikan program pemerintah pada masa itu. Kuttab sebenarnya telah ada di negeri Arab sebelum datangnya agama Islam. masjid-akademi.[20] Sejalan dengan meluasnya wilayah kekuasaan kaum muslimin.[19] Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa selain negara membangun fasilitias pendidikan formal. juga tidak memperoleh pengakuan hukum apapun dalam struktur kemasyarakatan. khususnya di pusat-pusat utama kebudayaan Islam di Andalusia.[21] Selain dari kuttab -kuttab yang diadakan dalam masjid terdapat pulakuttab umum dalam bentuk madrasah yang mempunyai gedung sendiri dan dapat menampung ribuan murid.[17] Lembaga pendidikan informal dan alamiah.

Dari sini pula karir al-Hajjaj meningkat menjadi pembesar khalifah Bani Umayyah. didasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tugas. yaitu kuttab untuk anak yatim piatu. Tetapi tulis-baca ini juga dibutuhkan untuk memungkinkan komunikasi antara umat Islam dengan suku-suku dan bangsa-bangsa lain. Atas dasar pemikiran tersebut. Untuk mengajar kaum muslimin pun beliau meminta bantuan orang non-Muslim untuk mengajar kaum Muslimin membaca dan menulis karena pada masa itu jumlah kaum Muslimin yang pandai tulis baca masih sedikit. dijadikan tempat untuk memberi pelajaran. Tulis-baca sebagai sebuah prioritas penting dapat dilihat dalam peristiwa pembebasan beberapa tawanan perang badar. Di kuttab disediakan pengasuh-pengasuh khusus di bidang tesebut di atas secara penuh. Di antara siswa kuttab umum.[25] Keterampilan tulis baca – yang merupakan materi utama pendidikan kuttab – menjadi semakin penting sejalan dengan berkembangya komunitas Muslim Madinah. menulis. Al-Hajjaj pada mulanya menjadi mu‟addib anak-anak . Masjid pada masa Rasulullah saw. Pendidikan di kuttab sabil diberikan secara gratis. sehingga Dahhak bin Muzahim harus menunggangi keledai untuk mengecek murid-muridnya. prinsip-prinsip agama.Sulaiman bin Na‟im yang menjadi wazir Abdul Malik bin Marwan. setelah dewasa nanti. al-Walid I (705-715). Pada sisi lain. khalifah dan keluarganya serta para pembesar istana lainnya berusaha menyiapkan agar anak-anak mereka sejak kecil sudah diperkenalkan dengan tugas-tugas yang akan dipikulnya nanti. Rencana pelajaran untuk pendidikan di istana pada garis besarnya sama dengan rencana pelajaran pada kuttab-kuttab hanya sedikit ditambah dan dikurangi sesuai dengan kehendak orang tua mereka. Demikian pula.[23] Dalam catatan sejarah membuktikan bahwa perkembangan kuttabberlangsung dengan pesat. Kebutuhan paling penting. Kesenian menulis atau kaligrafi sangat diperhatikan pula karena merupakan bagian dari kesenian lukis-melukis. Corak pendidikan anak-anak di istana berbeda dengan pendidikan anak-anak di kuttab-kuttab pada umumnya.[26] b) Masjid Masjid juga berperan dalam pendidikan Islam. memiliki kuttab yang menampung murid sebanyak 3000 orang. Pada saat inilah ia mengembangkan pendidikan anak dari bentuk khusus di rumah pembesar raja menjadi bentuk pendidikan umum yang disebut kuttab umum. tentunya. hampir setiap pendiri kuttab mendirikan kuttab sabil . seorang mufasir. dari waktu ke waktu. Rasulullah saw.[22] Pendidikan tingkat rendah Islam diadakan di kuttab-kuttab juga diberikan di istana untuk anak-anak pejabat. adalah mencatat wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Pendidik yang mulai mengembangkan pola pengajaran khusus itu ke arah pembentukan kuttabumum menurut Ahmad Syalabi ialah Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi (w.714). Dahhak bin Muzahim. bahasa dan ilmu hitung. dalam periode Mamluk.[24] Kuttab merupakan tempat pertama seorang anak belajar membaca Alquran. sendiri telah mempekerjakan orang-orang Islam (para sahabat) yang tahu tulis baca untuk mencatat ayat-ayat Alquran.

[31] Pada masa khalifah Umar bin Khattab juga ada instruksi kepada penduduk kota supaya diajarkan kepada anak-anak mereka tentang berenang. Walau bagaimanapun struktur pengajian yang lebih sistemik dan formal dapat diadakan apabila sebuah surau didirikan bersambungan dengan masjid tersebut lalu diberi nama al-Suffah. yang berlangsung secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam di zaman Rasul saw. Sesuatu yang ada pada masa itu adalah pengkajian pada bidang spiritual. ketika Islam telah menjadi kekuatan nyata dalam masyarakat. dan membaca serta menghafal syair-syair mudah dan peribahasa.[29] Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. pembelajaran pada bidang pendidikan umum tidak begitu dianggap. Syam. b. Tingkat sekolah menengah. Rasulullah saw. Idealnya adalah pembelajaran dilakukan dengan tidak memisahkan antara ilmu-ilmu umum ( ulum al-gharbiyah) dengan ilmu-ilmu agama ( ulum ad- .[34] Pada masa berlangsungnya gerakan tajdid. atau periode Mekah dapat dianggap sebagai majelis taklim dalam konteks sekarang. Pada periode Madinah. yaitu di masjid dan di majelis sastra dan ilmu pengetahuan. Hingga saat ini di Masjidilharam terdapat pengajian (majelis taklim) yang diasuh ulama-ulama terkenal dan terkemuka serta dikunjungi para jamaah. negeri Persi. Oleh karena struktur pengajian di sini lebih sistemik dan formal. mengendarai kuda.[30] Khalifah Umar bin Khattab telah memerintahkan para gubernurnya untuk mendirikan masjid -masjid di semua negeri dan kota-kota yang telah dikuasai oleh pemerintah Islam.[32] Pada masa Abbasyiah. sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat: Tingkat sekolah rendah. penyelenggaraan pengajian itu lebih pesat. duduk di masjid Nabawi untuk memberikan pengajian kepada para sahabat dan kaum muslimin ketika itu. Mesir dan seluruh semenanjung tanah Arab ditaklukkan. masjid yang pertama kali dibangun adalah masjid Amru bin Ash. di toko-toko dan di pinggir pasar. dan Darul Ilmi di Mesir. c.[28] Di masjid juga diberikan pengajaran tentang kesehatan dan oba-obatan (medicine ). Atas perintah khalifah. sehingga kajian spiritual mengalami agredasi.a. Instruksi Umar itu dilaksanakan oleh guru-guru di tempattempat yang dapat dilaksanakan.[33] Majelis Taklim Majelis taklim merupakan lembaga pendidikan tertua dalam Islam. sebab sudah dilaksanakan sejak zaman Rasulullah saw. Mesir dan lain-lain. Di masjid ini diberikan pelajaran-pelajaran agama dan akhlak dan secara berangsur-angsur pula pelajaran-pelajaran di masjid ini semakin meningkat. yaitu kuttab untuk tempat belajar anak-anak. memanah. Meskipun tidak disebut dengan majelis taklim. di istana.[27] Struktur pengajian di Masjid Nabi lebih merupakan bentuk nonformal. seperti Baitul Hikmah di Bagdad. sebagai sambungan dari kuttab. Misalnya berenang dapat dilaksanakan di kotakota yang mempunyai sungai seperti di Irak. kota Bagdad sudah penuh dengan masjid. Di dalam masjid dipelajari kaidah-kaidah hukum agama. Syam. Di samping kuttab ada pula anak-anak belajar di rumah. Tingkat perguruan tinggi. Pada abad ketiga hijrah. c) yang menjadi siswa di Masjid Nabi adalah Ali bin Abi Talib dan Abdullah bin Abbas. pengajian Nabi Muhammad saw. demikian pula kota Mesir. di masjid-masjid dan lain-lain.

Dari kedua model keilmuan ini seharusnya dapat diintegrasikan. Mengenai pendidikan menengah dinyatakan dalam pasal 18 bahwa Pendidikan Menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Praktik pengintegrasian keilmuan ini telah dijalankan oleh masjid dan madrasah pada masa awal berdirinya. Kedua. Kebijakan Tentang Pendidikan Keagamaan Berdasarkan UU No. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus. Sedangkan dalam pasal 20 dinyatakan bahwa pendidikan tinggi dapat berbentuk Akademi. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Pertama. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat. dan informal didudukkannya lembaga madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang diakui keberadaannya setara dengan lembaga pendidikan sekolah.diniyah ). Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.[39] Dalam pasal 27 dinyatakan bahwa kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara . Institut. Politeknik. dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. 20 Tahun 2003 dan PP No. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. kelembagaan formal. kelompok belajar masyarakat. atau Universitas. Di dalam aturan tersebut setidaknya ada tiga hal yang terkait dengan pendidikan Islam. dan jenjang pendidikan. jenis. dan dipertegas pula tentang pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan. serta satuan pendidikan yang sejenis. Selanjutnya diakui majelis taklim sebagai pendidikan nonformal dan masuknya Raudhatul Athfal sebagai lembaga pendidikan anak usia dini. penambah. [37] Keberadaan lembaga pendidikan Islam sebagai lembaga formal dinyatakan dalam pasal 17 bahwa pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.[35] 2.[38] Selanjutnya. lembaga pelatihan. Madrasah Aliyah (MA). nonformal.[36] Dalam pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. 55 Tahun 2007 Ada beberapa pasal dalam UU No. Ketiga. pendidikan Islam sebagai nilai. 20 Tahun 2003 yang menyinggung tentang pendidikan Islam. Sekolah Tinggi. dan majelis taklim. dan dipertegas pula tentang kedudukannya sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam. terdapat seperangkat nilai-nilai Islami dalam sistem pendidikan nasional. pendidikan Islam sebagai mata pelajaran. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. dikukuhkannya mata pelajaran agama sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan kepada peserta didik di semua jalur. dalam pasal 26 dinyatakan bahwa pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti.

dan informal. Dalam pasal 1 PP No. dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya. Pasal 13 PP No. . dalam pasal 30 dinyatakan bahwa pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama. nonformal.[41] Pendidikan keagamaan yang tercantum dalam Undang-Undang No. sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pendidikan diniyah nonformal yang berkembang menjadi satuan pendidikan wajib mendapatkan izin dari kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota setelah memenuhi ketentuan tentang persyaratan pendirian satuan pendidikan. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan jalur pendidikan formal. dan informal.mandiri. diniyah taklimiyah atau bentuk lain yang sejenis. 55 Tahun 2007 dinyatakan bahwa pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap. 20 Tahun 2003 dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.[43] Dalam pasal 11 ayat (2) dinyatakan bahwa hasil pendidikan keagamaan nonformal dan/atau informal dapat dihargai sederajat dengan hasil pendidikan formal keagamaan/umum/kejuruan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi yang ditunjuk oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. pendidikan das ar.[44] Dalam pasal 14 dinyatakan bahwa pendidikan keagamaan Islam berbentuk pendidikan diniyah dan pesantren.[40] Mengenai pendidikan keagamaan. yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur.[45] Pendidikan diniyah nonformal diselenggarakan dalam bentuk pengajian kitab. Pendidikan diniyah formal menyelenggarakan pendidikan ilmu-ilmu yang bersumber dari ajaran agama Islam pada jenjang pendidikan usia dini. 55 Tahun 2007. 55 Tahun 2007 menyatakan bahwa pendidikan keagamaan jalur nonformal yang tidak berbentuk satuan pendidikan yang memiliki peserta didik 15 orang atau lebih merupakan program pendidikan yang wajib mendaftarkan diri kepada Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. jenjang. majelis taklim. Pendidikan diniyah diselenggarakan pada jalur formal. Dalam pasal 9 dinyatakan bahwa pendidikan keagamaan diselenggarakan pada jalur pendidikan formal. nonformal. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. pendidikan Alquran. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian seseuai dengan standar nasional pendidikan.[42] Selanjutnya dalam pasal 4 dinyatakan bahwa pendidikan agama pada pendidikan formal dan program pendidikan kesetaraan sekurang-kurangnya diselenggarakan dalam bentuk matapelajaran atau kuliah agama. Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. dan informal. dan jenis pendidikan. kepribadian. nonformal.

pelajarannya selain tersebut di atas. dapat membaca Alquran dengan tartil dan menguasai teknik pengajaran Alquran. masjid. dan bentuk lain yang sejenis. Ta‟limul Qur‟an lil Aulad (TQA).[48] 3.[47] Pasal 26 menyatakan bahwa pesantren menyelenggarakan pendidikan diniyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya pada jenjang pendidikan anak usia dini. dan/atau pendidikan tinggi. Setiap ada kesempatan.[50] Memang. Taman Pendidikan Alquran (TPQ). tajwid serta mengaji kitab perukunan. dalam bentuk yang permulaan. Pendidik pada pendidikan Alquran minimal lulusan pendidikan diniyah menengah atas atau yang sederajat. atau tempat lain yang memenuhi syarat. Hal ini terjadi di kerajaan Samudera Pasai. tajwid. Modal pokok pelaksanaan pendidikan yang dimiliki hanya semangat menyiarkan agama bagi yang telah mempunyai ilmu agama. setelah menempuh uji kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. yaitu mulainya mengenal huruf Alquran sampai bisa membacanya.[49] Pendidikan Islam di langgar bersifat elementer. jenjang. dan semangat menuntut ilmu. Pendidikan di langgar dikelola oleh seorang petugas yang disebut amil. merupakan tingkat pemula. serta menghafal doa-doa utama. dan jenis pendidikan yang memerlukan. para pedagang memberikan pendidikan dan ajaran agama Islam.[51] Pada masa kerajaan Islam di Indonesia. pendidikan agama Islam di surau atau langgar atau masjid masih sangat sederhana. yaitu: a. pendidikan dasar. modin atau lebai. Biaya pendidikan agama bersumber dari negara. mushalla atau tempat lain yang memenuhi syarat. ditambah lagi dengan pelajaran lagu. Kurikulum pendidikan Alquran adalah membaca. Pengajian kitab dilaksanakan di pondok pesantren. sistem pendidikan Islam berlangsung secara informal berupa majelis taklim dan halaqah. Hal tersebut tampak dari kegiatan para pedagang muslim. Pengajian Alquran pada pendidikan langgar dibedakan kepada dua macam. Praktik Pendidikan Islam di Indonesia Pada awal berkembangnya agama Islam di Indonesia. dan menghafal ayat-ayat Alquran. Tingkat rendah.[52] . pendidikan Islam dilaksanakan secara informal. menengah. Peserta didik dan/atau pendidik di pesantren yang diakui keahliannya di bidang ilmu agama tetapi tidak memiliki ijazah pendidikan formal dapat menjadi pendidik mata pelajaran/kuliah pendidikan agama di semua jalur. Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama. [46] Pasal 24 menyatakan bahwa pendidikan Alquran terdiri dari Taman Kanak-Kanak Alquran (TKQ). mushalla. Pelajaran memakan waktu beberapa bulan tetapi pada umumnya sekitar satu tahun. b. dimulai dengan mempelajari abjad huruf Arab atau kadang-kadang langsung mengikuti guru dengan menirukan apa yang telah dibaca dari kitab suci Alquran. Materi pendidikan Islam adalah bidang syariat dalam mazhab Syafi‟ i. menulis. Tingkat atas. Begitu juga majelis taklim dapat dilaksanakan di masjid. qasidah.Pasal 22 menyatakan bahwa pengajian kitab diselenggarakan dalam rangka mendalami ajaran Islam dan/atau menjadi ahli ilmu agama Islam. barzanji. sambil berdagang mereka menyiarkan agama Islam.

Dayah Terdapat di setiap daerah ulebalang dan terkadang dan terkadang berpusat di masjid. sejarah. Balai Jamaah Himpunan Ulama Merupakan kelompok studi tempat para ulama sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas persoalan-persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya. b. bahasa Arab. berfungsi sebagai sekolah dasar. Bahkan. tasawuf. c. Pada majelis taklim ini diajarkan kitab-kitab agama yang punya bobot dan pengetahuan tinggi. Sultan Mahdum alauddin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M mendirikan semacam perguruan tinggi Islam pada saat itu. Masjid pada masa itu memiliki posisi sebagai lembaga pendidikan tinggi formal Islam. c. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. mantik. Materi yang diajarkan adalah bahasa Arab. sejarah. Dayah Teuku Cik Dapat disamakan dengan perguruan tinggi atau akademi. ilmu bumi. tafsir. Balai Seutia Ulama Merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalahmasalah pendidikan dan pengajaran. berhitung (hisab). akhlak. ahli pikir dan cendikawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan. merupakan masjid sebagai tempat berbagai aktivitas umat termasuk pendidikan. Hal ini terjadi di kerajaan Islam Perlak. Rangkang adalah setingkat madrasah tsanawiyah. Merupakan lembaga ilmu pengetahuan. Adapun jenjang pendidikan yang ada adalah sebagi berikut: Meunasah (Madrasah) Terdapat di setiap kampung. d. tauhid. seperti kitab al-Umm karangan Imam Syafi‟i dan sebagainya. yang dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim dan mendalam ilmunya. ilmu agama. sejarah dan tata negara. para ulama dalam dan luar negeri menjadikan masjid di Pasai sebagai tempat pertemuan. Rangkang Diselenggarakan di setiap mukim. fikih. ilmu bumi. hadis. a. akhlak. ilmu falak. bahasa Jawi/Melayu. tauhid. [54] Fachruddin mengatakan bahwa masjid yang ada di kerajaan Pasai pada masa itu merupakan tempat berkumpul para ulama lintas daerah dan bahkan negara. sebelum . ilmu bumi. Bahkan. ilmu bahasa dan sastra Arab. ilmu pasti dan faraid. tempat berkumpulnya para ulama. akhlak dan sejarah Islam. tatanegara. Materi materi yang diajarkan yaitu: menulis dan membaca huruf Arab. di antaranya: Balai Seutia Hukama. dll.a. dapat disamakan dengan madrasah aliyah sekarang. dan filsafat. Ada pula suatu lembaga pendidikan lainnya berupa majelis taklim tinggi.[55] Masjid berperan sangat penting dalam pendidikan Islam di Indonesia. Materi yang diajarkan adalah fikih. Materi yang diajarkan meliputi fikih. b. Masjid dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia.[53] Bidang pendidikan di Kerajaan Aceh Darussalam mendapat perhatian besar.

dan majelis taklim serta satuan pendidikan sejenis. dan (c) metode campuran.[58] Dalam Undang-Undang No. kelompok belajar. yaitu: Majelis taklim adalah lembaga pendidikan nonformal Islam. misalnya kursus membaca dan menafsirkan Alquran. Demikian juga perkembangan di zaman kejayaan Islam masa Kekhalifahan Abbasyiah.a. dan sekaligus lembaga pendidikan sosial. (b) metode halaqah . yang tumbuh dan berkembang dari kalangan masyarakat Islam itu sendiri.[56] Saat ini. d. masalah Undang-Undang Perkawinan. adanya pesantren. 20 Tahun 2003 dijelaskan tentang pendidikan nonformal. masjid berfungsi sebagai pesantren. pasal 26: satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus. c. Majelis taklim merupakan lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pengajian Islam. pusat kegiatan belajar masyarakat. Dengan demikian.[57] Bentuk pengajian agama seperti ini mengambil pelajaran dari praktek yang dilakukan Nabi Muhammad saw. tidak setiap hari sebagaimana halnya sekolah atau madrasah. Masjid berfungsi sebagai lembaga pendidikan penyempurna pendidikan dalam keluarga. bisa dalam bentuk pelatihan. pendidikan Islam itu bisa dilaksanakan dalam bentuk lembaga kursus. Pengikut atau pesertanya disebut jamaah bukan santri. Masjid pada masa itu merupakan lembaga pendidikan formal. Materi yang diajarkan dalam majelis taklim mencakup: pembaca an Alquran serta tajwidnya. Ada beberapa hal yang membedakan majelis taklim dengan lembaga pendidikan Islam lainnya. dan lain-lain. lembaga pelatihan. sementara di daerah-daearah lain lebih dikenal dengan “Pengajian Agama Islam”. terdiri dari ceramah umum. meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan keterampilanya jamaahnya. ditambah lagi dengan materi-materi yang dibutuhkan para jemaah misalnya masalah penanggulangan kenakalan anak. yakni melaksanakan berbagai metode sesuai dengan kebutuhan. ketika ia menyampaikan ajaran Islam dan berhadapan langsung dengan para sahabatnya. keberadaan majelis taklim merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang bersifat nonformal. fikih dan usul fikih. Tujuannya yaitu memasyaraktkan ajaran Islam. diselenggarakan secara berkala dan teratur dan diikuti oleh jamaah yang relatif banyak. sampai pada pengajian agama yang dilaksanakan para wali ketika mensyiarkan Islam di Indonesia. misalnya pesantren kilat. Metode penyajian Majelis Taklim dapat dikategorikan menjadi: (a) metode ceramah. Biasanya di masjid diberikan pengajian dasar yang biasa disebut pengajian Alquran. Musyawarah Majelis Taklim se -DKI Jakarta (9-10 Juli 1980 di Jakarta) telah memberi batasan yang lebih definitif tentang pengertian majelis taklim. hadis dan mustalahnya. b. baik sewaktu berada di Mekah maupun setelah berada di Madinah. Akan tetapi di beberapa daerah. yaitu suatu lembaga pendidikan nonformal Islam yang memiliki kurikulum tersendiri. Waktu belajarnya berkala tapi teratur. bisa dalam bentuk kelompok belajar dan . Penamaan majelis taklim lebih banyak ditemukan di Jakarta. tafsir bersama ulumul quran. yang senantiasa menanamkan akhlak yang luhur dan mulia. Majelis taklim juga merupakan lembaga pendidikan masyarakat. akhlak. Lembaga ini berkembang dalam lingkungan masyarkat muslim di Indonesia.

Bahkan lebih tegas lagi Nabi saw. Pendidikan secara formal diselenggarakan oleh negara berikut dengan pembiayaannya. DaerahDaerah yang telah mengeluarkan Perda ini adalah Kabupaten Indramayu melalui Perda No. Konsekuensi dari Perda ini adalah setiap siswa Muslim wajib memiliki ijazah MDTA apabila akan melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs. Dari uraian di atas juga dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran trend bentuk lembaga pendidikan. menyampaikan dakwah Islam pertama kali kepada keluarganya. 6 Tentang Wajib Baca Tulis Alquran. ini merupakan praktik pendidikan informal pada masa itu. menerangkan wahyu kepada para sahabatnya. 55 Tahun 2007. ketika Nabi saw. 55 Tahun 2007 dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda). Hal ini dialami oleh Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi. di beberapa daerah provinsi atau kabupaten di Indonesia menyikapi PP No. No. Anak-anak pada masa dinasti Umayyah sudah dipersiapkan pengetahuan mereka tentang tugas-tugas kenegaraan. pada tahun 2009 mencuat wacana program home schooling . dan Kota Padang melalui Perda No. 2 Tahun 2003. Ketika Nabi saw. Pada sisi lain. hingga periode dinasti Abbasyiah memberikan gambaran tentang pelaksanaan pendidikan Islam.pusat kegiatan belajar masyarakat serta yang banyak tersebar di masyarakat adalah dalam bentuk majelis taklim. Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten melalui Perda No. Kabupaten Pesisir Selatan melalui Perda No. Pada sisi lain dibuka pula kesempatan untuk anak-anak yatim piatu yang miskin untuk dapat bersekolah secara gratis ( kuttab sabil ).[61] C.[59] Terkait dengan pendidikan nonformal. Bahkan ada daerah yang mengeluarkan Perda sebelum terbitnya PP. Salah satu fokus kebijakan Perda tersebut adalah kewajiban bagi anak mengikuti pendidikan Madrasah Diniyah Taklimiyah Awwaliyah (MDTA). Perda yang dikeluarkan memperkuat PP No. 8 Tahun 2004. Pendidikan dasar diselenggarakan secara formal dan informal. 55 Tahun 2007. Lembaga pendidikan dasar untuk anak-anak pembesar dinasti sedikit berbeda dengan lembaga pendidikan dasar pada umumnya.[60] Akhir-akhir ini. Pada masa Islam klasik dan pada . Kabupaten Purwakarta mengeluarkan Perda tahun 2008. 27 Tahun 2007. Perbedaan itu tampak pada kurikulum yang dikembangkan di lembaga pendidikan dasar. Guru di lembaga pendidikan formal pada masa itu dimungkinkan untuk menempati jabatan pembesar di pemerintahan. Seto Mulyadi. hal ini merupakan contoh praktik pendidikan nonformal pada masa itu. Keberadaan home schooling ramai diperbincangkan di kalangan akademisi. Ini berarti bahwa Islam telah memulai lebih dahulu praktik pendidikan di dalam rumah tangga (pendidikan informal). Penutup Kesimpulan dari makalah ini adalah bahwa kebijakan pendidikan Islam yang berlaku pada masa Nabi saw. telah mempraktikkan secara langsung pendidikan informal. Fachruddin mengatakan bahwa sesungguhnya program home schooling memiliki kesamaan dengan praktik dār yang ada dalam dunia Islam. pakar psikolog anak juga terlibat aktif dalam wacana ini.

Hasan Asari. terdapat kebijakan baru dalam PP No. atau bentuk lain yang sejenis. 1999. Kebijakan baru tersebut adalah adanya pengakuan kesetaraan atau sederajat hasil pendidikan keagamaan nonformal dan/atau informal dengan hasil pendidikan formal keagamaan/umum/kejuruan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah (Pasal 11 ayat (2). Konsekuensi dari kebijakan yang terdapat dalam Pasal 11 ayat (2) PP No. Muhammad Athiyah. Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. 2007. Kemudian. Pendidikan diniyah informal dapat diselenggarakan dalam keluarga dan lingkungan. masjid menempati peran sebagai lembaga pendidikan formal. . semuanya itu merupakan kebijakan yang diberlakukan oleh Pemerintah untuk membuka akses yang seluas -luasnya dalam mempelajari agama. Pendidikan keagamaan (diniyah) dapat diselenggarakan pada jenjang pendidikan anak usia dini. 55 Tahun 2007 diatur pelaksanaan pendidikan keagamaan formal. Menyingkap Zaman Keemasan Islam. Azyumardi. Akan tetapi dalam PP No. dan informal. DAFTAR PUSTAKA Al-Abrasyi. Bandung: Pustaka Setia. Azra. 55 tahun 2007 dibandingkan dengan kebijakan yang pernah terjadi pada masa pendidikan Islam pada masa lalu.masa Islam di kerajaan Pasai. 55 Tahun 2007). pendidikan Alquran. majelis taklim. 20 Tahun 2003 dan PP No. saat ini melalui UU No. PP No. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Asari. 55 Tahun 2007 dinyatakan bahwa pengajaran yang diberikan di masjid merupakan bagian dari pelaksanaan pendidikan nonformal. 2003. pendidikan dasar. 55 Tahun 2007 adalah diwajibkan bagi pihak yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan nonformal bilamana telah memiliki jamaah (bagi majelis taklim) atau siswa (bagi madrasah diniyah taklimiyah) yang jumlahnya melebihi dari 15 orang untuk melapor/mendaftar ke Kantor Departemen Agama (Kantor Kementerian Agama) Kabupaten atau Kota. Jakarta: Logos. nonformal dan informal. Selanjutnya. Hasil dari langkah ini adalah diperolehnya pengakuan kesetaraan ijazah lembaga pendidikan keagamaan nonformal setelah lulus uji kompetensi dari satuan pendidikan yang sudah terakreditasi yang ditunjuk oleh Departemen Agama. nonformal. Baik pendidikan diniyah formal. Bandung: Citapustaka Media. diniyah taklimiyah. pendidikan diniyah nonformal dapat diselenggarakan dalam bentuk pengajian kitab. Langkah ini dilakukan guna mendapatkan pengakuan yang lebih “formal” pada lembaga pendidikan nonformal karena sudah mendaftarkan lembaga pendidikan keagamaan nonformal. Hemat pemakalah.

2007. Haidar Putra. Jakarta: Kencana. Cetakan II.Daulay. Dewan P Dan Pembaruan Pendidikan Islam Di . Jakarta: Kencana. Sejarah Pertumbuhan Indonesia. ---------------------------. 2007. Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional.