TUGAS GEOMETRI KELOMPOK V DAN VI

β€œReduksi Komutatif Biquaternion dan Transformasi Fouriernya untuk Sinyal dan Aplikasi Pengolahan dalam Citraβ€œ

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
1

Reduksi Komutatif Biquaternion dan Transformasi Fourier untuk Sinyal dan Aplikasi Pengolahan dalam Citra
Sinyal digital dan pengolahan citra menggunakan biquaternion yang direduksi (BPR) diperkenalkan dalam makalah ini. BPR adalah perpanjangan dari bilangan kompleks, mengikuti prosedur penggandaan. Dua representasi yang berguna dari BPR (bentuk 𝑒1 dan 𝑒2 dan representasi matriks) dibahas dalam makalah ini. Disamping itu, kami mengusulkan representasi baru BPR (berbentuk polar) untuk menghitung perkalian dan konjugasi BPR dengan mudah. Selanjutnya, kita mendefinisikan norma RB yang unik dan cocok dan konjugasinya. Definisi ini mirip dan kompatibel dengan bilangan kompleks. Algoritma yang efisien dari diskrit transformasi Fourier biquaternion yang direduksi (DFBFT), lilitan (DRBCV), korelasi (DRBCR), dan korelasi fase-satunya yang dibahas dalam makalah ini. Terlebih lagi, sistem linear waktu-invariant dan simetris multichannel kompleks dapat dengan mudah dianalisis oleh BPR. Untuk pengolahan citra warna, kita mendefinisikan bentuk polar RB yang disederhanakan untuk mewakili citra warna. Representasi ini berguna untuk mengolah citra berwarna. Representasi ini berguna untuk mengolah citra warna dalam ruang warna brightness-huesaturation. Banyak jenis pencocokan template warna dan deteksi tepi warna sensitif

(brightness, hue, saturation, dan Kromatisitas tepi berimbang) dapat dilakukan secara simultan oleh BPR. I. Pengantar Konsep terkenal quaternion oleh Hamilton pada tahun 1843. Telah digunakan untuk sinyal dan pengolahan citra warna dalam beberapa tahun terakhir. Quaternion adalah salah satu generalisasi dari bilangan kompleks. Sejumlah kompleks memiliki dua komponen: bagian nyata dan bagian imajiner. Sebuah quaternion, bagaimanapun, memiliki empat komponen, yaitu, satu bagian nyata dan imajiner tiga bagi

2

yang lainnya juga bias didapatkan dengan tahap aljabar : 𝑖𝑗 = π‘˜. π‘—π‘˜ = 𝑖. π‘˜π‘– = 𝑗. 𝑖. Persamaan-persamaan ini π‘₯ 1 𝑖 𝑗 π‘˜ Penjumlahan Misal : π‘ž = π‘žπ‘œ + π‘–π‘ž1 + π‘—π‘ž2 + π‘˜π‘ž3 1 1 𝑖 𝑗 π‘˜ 𝑖 𝑖 βˆ’1 βˆ’π‘˜ 𝑗 𝑗 𝑗 π‘˜ βˆ’1 βˆ’π‘– π‘˜ π‘˜ βˆ’π‘— 𝑖 βˆ’1 𝑗𝑖 = βˆ’π‘˜ π‘˜π‘— = βˆ’π‘– π‘–π‘˜ = βˆ’π‘— (2) (1) 3 .π‘ž = π‘ž + π‘–π‘ž + π‘—π‘ž + π‘˜π‘ž Dan 1. 𝑗. π‘˜ mengikuti aturan sebagai berikut: 𝑖 2 = 𝑗 2 + π‘˜ 2 = π‘–π‘—π‘˜ = βˆ’1 Karena βˆ’1 = π‘–π‘—π‘˜ Jika dua sisi dikalikan dengan π‘˜. maka βˆ’π‘˜ = π‘–π‘—π‘˜π‘˜ = 𝑖𝑗(π‘˜ 2 ) = 𝑖𝑗(βˆ’1) π‘˜ = 𝑖𝑗 Persamaan-persamaan.

𝑝 = 𝑝0 + 𝑖𝑝1 + 𝑗𝑝2 + π‘˜π‘3 𝒒 + 𝒑 = (π‘žπ‘œ + π‘–π‘ž1 + π‘—π‘ž2 + π‘˜π‘ž3 ) + (𝑝0 + 𝑖𝑝1 + 𝑗𝑝2 + π‘˜π‘3 ) = (π’’πŸŽ + π’‘πŸŽ ) + π’Š(π’’πŸ + π’‘πŸ ) + 𝒋(π’’πŸ + π’‘πŸ ) + π’Œ(π’’πŸ‘ + π’‘πŸ‘ ) Pengurangan π‘ž = π‘žπ‘œ + π‘–π‘ž1 + π‘—π‘ž2 + π‘˜π‘ž3 𝑝 = 𝑝0 + 𝑖𝑝1 + 𝑗𝑝2 + π‘˜π‘3 𝒒 βˆ’ 𝒑 = (π‘žπ‘œ + π‘–π‘ž1 + π‘—π‘ž2 + π‘˜π‘ž3 ) βˆ’ (𝑝0 + 𝑖𝑝1 + 𝑗𝑝2 + π‘˜π‘3 ) = (π’’πŸŽ βˆ’ π’‘πŸŽ ) + π’Š(π’’πŸ βˆ’ π’‘πŸ ) + 𝒋(π’’πŸ βˆ’ π’‘πŸ ) + π’Œ(π’’πŸ‘ βˆ’ π’‘πŸ‘ ) Perkalian π‘ž = π‘žπ‘œ + π‘–π‘ž1 + π‘—π‘ž2 + π‘˜π‘ž3 𝑝 = 𝑝0 + 𝑖𝑝1 + 𝑗𝑝2 + π‘˜π‘3 π‘π‘ž = (π‘žπ‘œ + π‘–π‘ž1 + π‘—π‘ž2 + π‘˜π‘ž3 ) (𝑝0 + 𝑖𝑝1 + 𝑗𝑝2 + π‘˜π‘3 ) = π’’πŸŽ π’‘πŸŽ + π’Šπ’’πŸŽ π’‘πŸ + π’‹π’’πŸŽ π’‘πŸ + π’Œπ’’πŸŽ π’‘πŸ‘ + π’Šπ’’πŸ π’‘πŸŽ + π’ŠπŸ π’’πŸ π’‘πŸ + π’Šπ’‹π’’πŸ π’‘πŸ + π’Šπ’Œπ’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’‹π’’πŸ π’‘πŸŽ + π’‹π’Šπ’’πŸ π’‘πŸ + π’‹πŸ π’’πŸ π’‘πŸ + π’‹π’Œπ’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’Œπ’’πŸ‘ π’‘πŸŽ + π’Œπ’Šπ’’πŸ‘ π’‘πŸ + π’Œπ’‹π’’πŸ‘ π’‘πŸ + π’ŒπŸ π’’πŸ‘ π’‘πŸ‘ = π’’πŸŽ π’‘πŸŽ + π’Šπ’’πŸŽ π’‘πŸ + π’‹π’’πŸŽ π’‘πŸ + π’Œπ’’πŸŽ π’‘πŸ‘ + π’Šπ’’πŸ π’‘πŸŽ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ + π’Œπ’’πŸ π’‘πŸ βˆ’ π’‹π’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’‹π’’πŸ π’‘πŸŽ βˆ’ π’Œπ’’πŸ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ + π’Šπ’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’Œπ’’πŸ‘ π’‘πŸŽ + π’‹π’’πŸ‘ π’‘πŸ βˆ’ π’Šπ’’πŸ‘ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ‘ π’‘πŸ‘ 4 .

𝑣)𝐺(𝑒.[14] adalah π‘ž = π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘– 𝑗 + π‘žπ‘— 𝑗 + π‘žπ‘˜ Dimana 𝑖𝑗 = 𝑗𝑖 = π‘˜ π‘—π‘˜ = π‘˜π‘— = 𝑖 π‘˜π‘– = π‘–π‘˜ = βˆ’π‘— 𝑖 2 = π‘˜ 2 = βˆ’1 𝑗 2 = 1 MIsalkan : π‘ž = π‘žπ‘œ + π‘–π‘ž1 + π‘—π‘ž2 + π‘˜π‘ž3 (4) (3) 5 .= (π’’πŸŽ π’‘πŸŽ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ‘ π’‘πŸ‘ ) + π’Š(π’’πŸŽ π’‘πŸ + π’’πŸ π’‘πŸŽ + π’’πŸ π’‘πŸ‘ βˆ’ π’’πŸ‘ π’‘πŸ ) + 𝒋(π’’πŸŽ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’’πŸ π’‘πŸŽ + π’’πŸ‘ π’‘πŸ ) + π’Œ(π’’πŸŽ π’‘πŸ‘ + π’’πŸ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ + π’’πŸ‘ π’‘πŸŽ ) Dari (2). 𝑦) β‰  𝐼𝑄𝐹𝑇(𝐹(𝑒. representasi BPR [12] . 𝑣) dan 𝐺 (𝑒. 𝑦) dan 𝑔 (π‘₯. 𝑦) βˆ—π‘ž 𝑔(π‘₯. secara umum. 𝑦) tidak dapat dihitung dengan produk dari Transformasi Fouriernya 𝐹 (𝑒. 𝑣) di domain frekuensi [16]. kami menemukan bahwa aturan perkalian dari quaternion tidak komutatif. Selain itu. Masalah ini membatasi aplikasi dari quaternion dalam sinyal dan pengolahan citra. konvolusi dari dua quaternion sinyal 𝑓 (π‘₯. Di sisi lain. 𝑣)) Oleh karena itu. 𝑓(π‘₯. sulit untuk menganalisis dari sistem LTI quaternion.

Namun. BPR juga memiliki keterbatasan. Aljabar BPR bukan aljabar divisi. dan korelasi (DRBCR) dan analisis sistem RB LTI jauh lebih sederhana dibandingkan implementasi dari quaternion. Rincian dibahas dalam Bagian V --perbandingan quaternion dan BPR. dan makna geometris mereka asing bagi kebanyakan insinyur. lilitan (DRBCV). Implementasi dari diskrit transformasi Fourier biquaternion yang direduksi (DRBFT). ini hampir tidak memiliki pengaruh pada sinyal dan aplikasi pengolahan citra.𝑝 = 𝑝0 + 𝑖𝑝1 + 𝑗𝑝2 + π‘˜π‘3 π‘π‘ž = (π‘žπ‘œ + π‘–π‘ž1 + π‘—π‘ž2 + π‘˜π‘ž3 ) (𝑝0 + 𝑖𝑝1 + 𝑗𝑝2 + π‘˜π‘3 ) = π’’πŸŽ π’‘πŸŽ + π’Šπ’’πŸŽ π’‘πŸ + π’‹π’’πŸŽ π’‘πŸ + π’Œπ’’πŸŽ π’‘πŸ‘ + π’Šπ’’πŸ π’‘πŸŽ + π’ŠπŸ π’’πŸ π’‘πŸ + π’Šπ’‹π’’πŸ π’‘πŸ + π’Šπ’Œπ’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’‹π’’πŸ π’‘πŸŽ + π’‹π’Šπ’’πŸ π’‘πŸ + π’‹πŸ π’’πŸ π’‘πŸ + π’‹π’Œπ’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’Œπ’’πŸ‘ π’‘πŸŽ + π’Œπ’Šπ’’πŸ‘ π’‘πŸ + π’Œπ’‹π’’πŸ‘ π’‘πŸ + π’ŒπŸ π’’πŸ‘ π’‘πŸ‘ = π’’πŸŽ π’‘πŸŽ + π’Šπ’’πŸŽ π’‘πŸ + π’‹π’’πŸŽ π’‘πŸ + π’Œπ’’πŸŽ π’‘πŸ‘ + π’Šπ’’πŸ π’‘πŸŽ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ + π’Œπ’’πŸ π’‘πŸ βˆ’ π’‹π’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’‹π’’πŸ π’‘πŸŽ + π’Œπ’’πŸ π’‘πŸ + π’’πŸ π’‘πŸ + π’Šπ’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’Œπ’’πŸ‘ π’‘πŸŽ βˆ’ π’‹π’’πŸ‘ π’‘πŸ + π’Šπ’’πŸ‘ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ‘ π’‘πŸ‘ = (π’’πŸŽ π’‘πŸŽ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ + π’’πŸ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ‘ π’‘πŸ‘ ) + π’Š(π’’πŸŽ π’‘πŸ + π’’πŸ π’‘πŸŽ + π’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’’πŸ‘ π’‘πŸ ) + 𝒋(π’’πŸŽ π’‘πŸ βˆ’ π’’πŸ π’‘πŸ‘ + π’’πŸ π’‘πŸŽ βˆ’ π’’πŸ‘ π’‘πŸ ) + π’Œ(π’’πŸŽ π’‘πŸ‘ + π’’πŸ π’‘πŸ + π’’πŸ π’‘πŸ + π’’πŸ‘ π’‘πŸŽ ) (5) Aturan perkalian BPR adalah komutatif. 6 . Ini adalah keuntungan yang unik atas quaternion.

𝑣)𝐺(𝑒. Hamilton mengusulkan biquaternions secara original. 𝑦) = 𝐼𝑄𝐹𝑇(𝐹(𝑒. double-kompleks aljabar ( 𝑖 2 = 1 ) dan 𝐻𝐢𝐻4 ( π‘˜ 2 = 1 )-adalah pilihan akar kuadrat dari 1. Selain itu. [ 20 ] . perbedaan antara tiga bilangan-RBs ( 𝑗 2 = 1 ). tidak komutatif dalam perkalian. [ 22 ] . Pada tahun 1998 dan 1999 . dan memberikan representasi dan beberapa sifat dari aljabar ini . dan mengusulkan aplikasi mereka untuk implementasi filter digital. Mereka menunjukkan bahwa filter yang real urutan keempat dapat direalisasikan dengan cara urutan pertama filter RB [12]. Ell mendefinisikan aljabar kompleks ganda.dimensi isomorfis ke 𝐢 2 aljabar kompleks 𝐢 2 . Sinyal-sinyal aljabar kompleks ganda ini memenuhi 𝑓(π‘₯. Karena pilihan yang berbeda.Penelitian sebelumnya pada BPR diulas secara singkat berikut ini. Biquaternion ini. kita menemukan potensi BPR pada desain filter digital. dan tidak membentuk aljabar divisi. Pada tahun 1990. 𝑦) βˆ—π‘ž 𝑔(π‘₯. 𝑛 βˆ’ 1 [ 8 ] . quaternion dengan koefisien kompleks.D ) aljabar komutatif hypercomplex (𝐻𝐢𝐻4 ) yang isomorfis ke grup cincin 𝐢 2 . Pada tahun 1853. yang akan dibahas nanti [ 21 ] . dengan delapan elemen. tetapi persamaan akan berbeda. sifat-sifat bilangan ini masih smilar. Ueda dan Takanishi menunjukkan bahwa urutan pertama filter digital dengan koefisien RB dapat mengimplementasikan koefisien sesungguhnya filter digital dengan perintah kurang dari empat [13]. Davenport mengusulkan empat dimensi ( 4 . yaitu. Bahkan. Sommer et al memperpanjang HCA untuk setiap 2𝑛 dimensi .D adalah isomorfik ke dua kelipatan tensor product dan Cartesian product dari 7 . yang mirip dengan quaternion tetapi dengan perkalian komutatif [15]. Pada tahun 1993. Schette dan Wenzel [12] menyarankan BPR. 𝑣)) (6) Pada tahun 1996 . di mana mereka memiliki empat unsur sebagai quaternion konvensional. Dari penelitian mereka. dan mereka telah membuktikan bahwa HCA 2𝑛 . HCA 4 . Pada tahun 1992.

Bentuk polar ini sederhana yang berguna untuk mengolah warna gambar dalam warna ruang kecerahan-rona-saturation Akhirnya kami menggunakan RBs untuk melakukan pemrosesan sinyal dan menggunakan bentuk polar yang sederhana untuk melakukan template matching warna dan deteksi sisi warna sensitif. seperti 𝑒1 βˆ’ 𝑒2 dan representasi matriks . Akhirnya kesimpulan yang dibuat dalam seleksi VIII. kami menerapkan RBs untuk sistem yang kompleks symetric multichannel dan symetric sistem lettice penyaring analysisin bagian VI. norma konjugasi . DRBCV. DRBCR. dan RB fase-satunya korelasi diberikan dalam bagian IV. Bentuk polar RBs dalam bentuk polar yang disederhanakan untuk gambar berwarna yang diusulkan dalam bagian III. diberikan dalam bagian II. kami memberikan definisi baru yang sesuai. Dari bentuk polar.Tujuan dari makalah ini adalah untuk meringkas sifat-sifat RBs dari penelitian sebelumnya dan penemuan kami dan menggunakannya untuk sinyal dan pengolahan gambar. Pertama. Implementasi dari DRBFT. Definisi tentang RBs. 8 . kemudian. kita menghitung perkalian dan konjugasi RBs dengan mudah. Bentuk polar dan bentuk 𝑒1 βˆ’ 𝑒2 dan representasi matriks adalah alat yang berguna untuk menganalisis RBs dari sudut pandang yang berbeda. mendapatkan banyak sifat menarik dari RBs. Makalah ini disusun sebagai berikut. dan memahami makna dari RBs. Kami menggunakan RBs dan bentuk polar yang disederhanakan untuk template matching warna dan deteksi sisi warna sensitif dalam warna ruang kecerahanrona-saturation pada bagian VII. dll . Kami membuat perbandingan antara quaternions dan biquaternions terinduksi pada bagian V. kami mengusulkan representasi baru RBs (bentuk polar) dalam Bagian III. dan khusus dari norma RB dan konjugasi dalam Bagian II. Untuk pengolahan warna gambar yang kita gunakan bentuk polar sederhana untuk mempresentasikan warna gambar karena ruang warna tiga dimensi (3D) tetapi aljabar RBs adalah aljabar 4D. Definisi tersebut memiliki sifat yang mirip dengan bilangan kompleks dan kompatibel dengan bilangan kompleks. Kedua.

Definisi A. konvolusi. 𝑛). Generalized Complex Number: Ada tiga jenis di berika Generalized Complex Number dalam [32] dan [33]. [33] dan doubling procedure [2]. dan korelasi dalam konteks berikut. dan transformasi Lorentz dalam pesawat. the dual numbers π‘Ž + πœ€π‘ (dimana πœ€ β‰  0 dan πœ€ 2 = 0). Arti geometris dari ketiga jenis bilangan kompleks adalah rotasi. kami menggunakan nama ini. Biquaternions Tereduksi Sebelum membahas definisi biquaternions tereduksi. pertama memperkenalkan 2 topik yang berkaitan: Generalized Complex Number [32]. RB konvolusi. 𝑠) II. Fourier Transform RB. dan the double numbers π‘Ž + 𝑗 𝑏 (dimana 𝑗 2 = 1 ). dan korelasi RB untuk merepresentasikan transformasi diskrit Fourier biquaternion terinduksi. masing-masing. jika kita memberikan penjelasan khusus. transformasi geser. 2. 𝑃𝑂 𝐻(𝑅𝐡) (𝑝. Kita menggunakan notasi berikut: π‘ž Μ… |π‘ž| π‘€π‘ž *RB 𝑅𝐡 πΆπ‘œπ‘›π‘—π‘’π‘”π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘π‘œπ‘Ÿπ‘š π‘œπ‘“ π‘‘β„Žπ‘’ 𝑅𝐡𝑠 π‘€π‘Žπ‘‘π‘Ÿπ‘–π‘₯ π‘Ÿπ‘’π‘π‘Ÿπ‘’π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘œπ‘“ π‘Žπ‘› 𝑅𝐡 π‘ž 𝑅𝐡 π‘π‘œπ‘›π‘£π‘œπ‘™π‘’π‘‘π‘–π‘œπ‘› 𝑅𝐡 π‘π‘œπ‘Ÿπ‘Ÿπ‘’π‘™π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› 𝑅𝐡 π‘β„Žπ‘Žπ‘ π‘’ βˆ’ π‘œπ‘›π‘™π‘¦ π‘π‘œπ‘Ÿπ‘Ÿπ‘’π‘™π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› 𝑅𝐡 π‘“π‘œπ‘’π‘Ÿπ‘–π‘’π‘Ÿ π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘ π‘“π‘œπ‘Ÿπ‘š π‘œπ‘“ β„Ž(π‘š. ⨂𝑅𝐡 ⨂𝑅𝐡. 1. 𝑑𝑦𝑝𝑒 1 π‘œπ‘Ÿ 2. Doubling Procedure: doubling procedure digunakan untuk membangun bilangan hypercomplex 2n-dimensi dari dua bilangan hypercomplex n-dimensi dengan persamaan berikut: 9 . masing-masing [33]. Ketiga jenis adalah bilangan kompleks biasa π‘Ž + 𝑖 𝑏 (dimana 𝑖 2 = βˆ’1).Dalam makalah ini.

𝑒2𝑛 = 𝑒𝑛 + 𝑣𝑛 𝑒 (7) dimana 𝑒2𝑛 adalah 2n-dimensi hypercomplex numbers. dan 𝑒 2 = 1 atau -1. 𝑒1 dan 𝑒2 keduanya elemen idempotent (𝑒1 = 𝑒1 . biquaternions terinduksi sebagai Schtte dan Wenzel karena mereka pertama kali digunakan HCA4 untuk proses sinyal. B. π‘Ž2 . 𝑏. the definition of RBs is π‘ž = π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘– 𝑗 + π‘žπ‘— 𝑗 + π‘žπ‘˜ π‘˜ = (π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘– 𝑗) + (π‘žπ‘— + π‘žπ‘˜ 𝑖)𝑗 ≑ π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ 𝑗 Dimana π‘žπ‘Ž dan π‘žπ‘ adalah dua bilangan kompleks. dari [22]. dan 𝑧2 adalah bilangan Following the doubling precedure and using the double numbers. Sebagai contoh. pertama kita meninjau dua representasi yang digunakan dari RB 𝑒1 βˆ’ 𝑒2 dan matrix representasi. π‘Ž. 𝑒2 = 𝑒2 ) 2 2 Bukti 𝑒1 = 𝑒1 . kita melihat bahwa RBs isomorfik dengan dua kali lipat tensor product dan Cartesian product dari kompleks aljabar π‘ͺ𝟐 . dan 𝑖𝑗 = 𝑗𝑖 = π‘˜. Davenport menemukan bahwa ada dua angka nol khusus 𝑒1 dan 𝑒2 𝑛 π‘›βˆ’1 𝑛 π‘›βˆ’1 dalam 𝐻𝐢𝐴4 sehingga 𝑒1 𝑒2 = 0 π‘‘π‘Žπ‘› 𝑒1 = 𝑒1 = β‹― = 𝑒1 . and 𝑑 adalah bilangan real. 𝑧1 . π‘–π‘˜ = π‘˜π‘– = βˆ’π‘—. 𝑧. yang diusulkan oleh Davenport di [21]. 𝑒𝑛 dan 𝑣𝑛 adalah dua 𝑛dimensional hypercomplex numbers. π‘—π‘˜ = π‘˜π‘— = 𝑖. 𝑒2 = 𝑒2 10 . (8) Dimana π‘Ž1 . 𝑖 2 = π‘˜ 2 = βˆ’1. 𝑒2 = 𝑒2 = β‹― = 𝑒2 . 𝑐. 𝑗 2 = 1 (10) (9) Meskipun RBs isomorfik untuk HCA4 . kita masih menggunakan nama yang sama. dan π‘ž adalah bilangan quaternion. 2 2 Oleh karena itu. π‘ž = π‘Ž + 𝑏𝑖 + 𝑐𝑗 + π‘‘π‘˜ = (π‘Ž + 𝑏𝑖) + (𝑐 + 𝑑𝑖)𝑗 ≑ 𝑧1 + 𝑧2 kompleks. π’†πŸ βˆ’ π’†πŸ π’ƒπ’†π’π’•π’–π’Œ 𝑹𝑩𝒔 Dalam [21]. kita dapat menggunakan doubling procedure untuk membangun bilangan kompleks dari bilangan real dan quaternions dari bilangan kompleks oleh persamaan berikut: 𝑧 = π‘Ž1 + π‘Ž2 𝑖. Selain itu. Sebelum membahas definisi lain dari RBs.

𝑒2 = 𝑒2 Dan pembagi nol (𝑒1 𝑒2 = 0).1]. bag. Bukti pembagi nol (𝑒1 𝑒2 = 0) ο‚· 𝑒1 𝑒2 = ( = = = 1+𝑗 2 )( 1βˆ’π‘— 2 ) 1βˆ’π‘—+π‘—βˆ’π‘— 2 4 1βˆ’π‘— 2 4 1βˆ’1 4 =0 11 . makna geometric 𝑒1 and 𝑒2 adalah kerucut nol ruang Minkowsky.) Dari [20. elemen idempotent hanya 0 dan 1. Namun.2 i) 𝑒1 =( 1+𝑗 2 2 4 ) = = = = 1+2𝑗+𝑗 2 1+2𝑗+1 4 2+2𝑗 4 1+𝑗 2 = π’†πŸ 1βˆ’π‘— 2 2 4 1βˆ’2𝑗+1 4 2βˆ’2𝑗 2 1βˆ’π‘— 2 2 ii) 𝑒2 =( ) = = = = 1βˆ’2𝑗+𝑗 2 = π’†πŸ 2 2 Terbukti 𝑒1 = 𝑒1 . (Untuk bilangan kompleks dan quaternions. kami hanya menggunakan sifat aljabar dari kedua angka dalam tulisan ini. dan pembagi nol hanya angka 0.

a dan analisis tentang RBs menjadi 12 . Kompleksitas operasi tentang RBs. dan π‘žπ‘Žβˆ’π‘ = π‘žπ‘Ž βˆ’ π‘žπ‘ = (11) (π‘žπ‘Ÿ βˆ’ π‘žπ‘— ) + (π‘žπ‘– βˆ’ π‘žπ‘˜ )𝑖. 𝑒1 = 1+𝑗 2 . = π‘žπ‘Ž+𝑏 𝑒1 + π‘žπ‘Žβˆ’π‘ 𝑒2 1 𝑗 1 𝑗 = (π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ ) ( + ) + (π‘žπ‘Ž βˆ’ π‘žπ‘ ) ( βˆ’ ) 2 2 2 2 = 1 𝑗 1 𝑗 (π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ ) + (π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ ) + (π‘žπ‘Ž βˆ’ π‘žπ‘ ) βˆ’ (π‘žπ‘Ž βˆ’ π‘žπ‘ ) 2 2 2 2 1 𝑗 = (π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ + π‘žπ‘Ž βˆ’ π‘žπ‘ ) + (π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ βˆ’ π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ ) 2 2 = π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ 𝑗 π‘ž βˆ’1 = (π‘žπ‘Ž+𝑏 )βˆ’1 𝑒1 + (π‘žπ‘Žβˆ’π‘ )βˆ’1 𝑒2. dan 𝑒2 = 1βˆ’π‘— 2 . RB dapat diwakili oleh kombinasi linear dari 𝑒1 dan 𝑒2 π‘ž = (π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘– 𝑖) + (π‘žπ‘— + π‘žπ‘˜ 𝑖)𝑗 = π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ 𝑗 ≑ π‘žπ‘Ž+𝑏 𝑒1 + π‘žπ‘Žβˆ’π‘ 𝑒2 π‘ž = π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘– 𝑖 + π‘žπ‘— 𝑗 + π‘žπ‘˜ π‘˜ = π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘– 𝑖 + π‘žπ‘— 𝑗 + π‘žπ‘˜ 𝑖𝑗 = (π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘– 𝑖) + (π‘žπ‘— + π‘žπ‘˜ 𝑖)𝑗 = π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ 𝑗 = π‘žπ‘Ž+𝑏 𝑒1 + π‘žπ‘Žβˆ’π‘ 𝑒2 Di mana π‘žπ‘Ž+𝑏 = π‘žπ‘Ž + π‘žπ‘ = (π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘— ) + (π‘žπ‘– + π‘žπ‘˜ )𝑖 . RB memiliki bentuk 𝑒1 𝑒1 or 𝑒2 𝑒2 yang tidak memiliki invers. 𝑒1 βˆ’ 𝑒2 adalah bentuk dari RBs. Bentuk ini adalah representasi tereduksi RBs. dapat dikurangi dengan menggunakan 𝑒1 dan 𝑒2 .Untuk RBs. (𝑒1 dan 𝑒2 adalah biilangan kompleks). Dari Pers (11) . seperti perkalian dan Transformasi Fourier.

Hasilnya ditunjukkan pada Tabel 1.lebih mudah. Untuk BPR. perkalian dua RBs π‘ž1 dan π‘ž2 dapat dihitung dengan persamaan berikut: π‘ž1 π‘ž2 = π‘ž2 π‘ž1 = (π‘ž1π‘Ž + π‘ž1𝑏 )(π‘ž2π‘Ž + π‘ž2𝑏 )𝑒1 + (π‘ž1π‘Ž βˆ’ π‘ž1𝑏 )(π‘ž2π‘Ž βˆ’ π‘ž2𝑏 )𝑒2 (12) Kita hanya perlu dua. Oleh karena itu. Representasi matriks dari sebuah RBs Dalam [21]. bukan empat perkalian kompleks untuk menghitung perkalian dua RBs [14]. Sebagai contoh. Namun. Davenport memberikan representasi matriks untuk HCA 4. ia memiliki representasi yang sama tetapi berbeda karena representasi matriks ditentukan oleh aturan perkalian: 𝑖𝑗 = 𝑗𝑖 = π‘˜ π‘—π‘˜ = π‘˜π‘— = 𝑖 π‘˜π‘– = π‘–π‘˜ = βˆ’π‘— 𝑖 2 = π‘˜ 2 = βˆ’1 𝑗 2 = 1 1 0 1 β†’ 𝐼4 ≑ [ 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 ] 0 1 0 0 ] βˆ’1 0 0 βˆ’1 0 1 0 0 𝑖 β†’ 𝑀𝑖 ≑ [ 0 0 0 0 0 1 13 . C. Selain itu. operasi itu meningkat 12-16. Invers dari RBs ada jika (π‘žπ‘Ž+𝑏 ) β‰  0 dan (π‘žπ‘Žβˆ’π‘ ) β‰  0. invers dari RB π‘ž adalah π‘ž βˆ’1 = (π‘žπ‘Ž+𝑏 )βˆ’1 𝑒1 + (π‘žπ‘Žβˆ’π‘ )βˆ’1 𝑒2 .

memiliki empat nilai eigen dari π‘€π‘ž adalah πœ€ = (π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘— ) + (π‘žπ‘– + π‘žπ‘˜ )𝑖. dan 𝑀𝑖 π‘€π‘˜ = π‘€π‘˜ 𝑀𝑖 = βˆ’π‘€π‘— . 𝑀𝑖 𝑀𝑗 = 𝑀𝑗 𝑀𝑖 = π‘€π‘˜ . 𝑀𝑖2 = π‘€π‘˜ = βˆ’πΌ4 . πœ€ βˆ— = (π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘— ) βˆ’ (π‘žπ‘– + π‘žπ‘˜ )𝑖 (15) βˆ’π‘žπ‘– π‘žπ‘Ÿ βˆ’π‘žπ‘˜ π‘žπ‘— π‘žπ‘— π‘žπ‘˜ π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘– βˆ’π‘žπ‘˜ π‘žπ‘— βˆ’π‘žπ‘– ] π‘žπ‘Ÿ (14) πœ‚ = (π‘žπ‘Ÿ βˆ’ π‘žπ‘— ) + (π‘žπ‘– βˆ’ π‘žπ‘˜ )𝑖. πœ‚βˆ— = (π‘žπ‘Ÿ βˆ’ π‘žπ‘— ) βˆ’ (π‘žπ‘– βˆ’ π‘žπ‘˜ )𝑖. π‘˜ β†’ π‘€π‘ž ≑ [ π‘ž 𝑗 π‘žπ‘˜ Kolom pertama dari π‘€π‘ž adalah empat unsur asli RB. 14 . 𝑀𝑗 π‘€π‘˜ = π‘€π‘˜ 𝑀𝑗 = 𝑀𝑖 . 𝑗 + π‘žπ‘˜ . representasi matriks dari sebuah RB π‘ž = π‘žπ‘Ÿ + π‘–π‘žπ‘– + π‘—π‘žπ‘— + π‘˜π‘žπ‘˜ is π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘– π‘ž = π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘– . Sama dengan [21]. 𝑖 + π‘žπ‘— .0 0 𝑗 β†’ 𝑀𝑗 ≑ [ 1 0 0 0 π‘˜ β†’ π‘€π‘˜ ≑ [ 0 1 0 0 0 1 0 0 βˆ’1 0 1 0 0 0 0 1 ] 0 0 0 βˆ’1 1 0 ] 0 0 0 0 (13) 2 Di mana 𝑀𝑗2 = 𝐼4 . TABEL 1 KOMPLEKSITAS DARI DUA ATAU LEBIH BIQUATERNION Perkalian nyata Perhitungan Direct Perhitungan cara 𝑒1 dan 𝑒2 dengan 16 8 Penambahan nyata 12 16 Oleh karena itu.

dan π‘ž1 π‘ž2 = 2 + 𝑗 + 2π‘˜. penambahan. kita memperoleh π‘žπ‘Ž+𝑏 (= πœ€) dan π‘žπ‘Žβˆ’π‘ (= πœ‚) Di (11) adalah dua nilai eigen dari π‘€π‘ž . |π‘ž2 | = √2. dari (11) dan (15). |π‘ž1 | = √7. (π‘€π‘ž )βˆ’1 adalah representasi dari invers π‘ž. Selain itu. (17) D. seperti kebalikannya. maka π‘žπ‘ž Μ… RB dan bukan bilangan real. 15 . Oleh karena itu. dan jika konjugasi dari RB π‘ž adalah π‘ž Μ… ≑ π‘žπ‘Ÿ βˆ’ π‘–π‘žπ‘– βˆ’ π‘—π‘žπ‘— βˆ’ π‘˜π‘žπ‘˜ . |π‘ž1 π‘ž2 | = 3 β‰  √14 = |π‘ž1 ||π‘ž2 |.Oleh karena itu. π‘ž1 Μ…Μ…Μ… π‘ž1 = (5 βˆ’ 2𝑖 + 2𝑗 βˆ’ 2π‘˜) βˆ‰ 𝑅. maka. π‘ž Μ…= (2 βˆ’ 𝑖 βˆ’ 𝑗 βˆ’ π‘˜). Ini adalah hubungan antara 𝑒1 βˆ’ 𝑒2 bentuk dan matriks representasi. asumsikan bahwa π‘ž1 = (2 + 𝑖 + 𝑗 + π‘˜) dan π‘ž2 = (1 βˆ’ 𝑖 + π‘˜). dll Sebagai contoh. determinan π‘€π‘ž adalah produk dari atas empat nilai eigen. maka |π‘ž1 π‘ž2 | β‰  |π‘ž1 ||π‘ž2 |. π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘– 𝛿 ≑ [ π‘ž 𝑗 π‘žπ‘˜ βˆ’π‘žπ‘– π‘žπ‘Ÿ βˆ’π‘žπ‘˜ π‘žπ‘— 2 π‘žπ‘— π‘žπ‘˜ π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘– βˆ’π‘žπ‘˜ π‘žπ‘— βˆ’π‘žπ‘– ] π‘žπ‘Ÿ 2 = {(π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘— ) + (π‘žπ‘– + π‘žπ‘˜ )2 } {(π‘žπ‘Ÿ βˆ’ π‘žπ‘— ) + (π‘žπ‘– βˆ’ π‘žπ‘˜ )2 } 2 2 2 = {(π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘–2 + π‘žπ‘— + π‘žπ‘˜ ) βˆ’ 4(π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘— + π‘žπ‘– π‘žπ‘˜ ) } β‰₯ 0 2 2 (16) Kondisi untuk 𝛿 = 0 adalah π‘žπ‘Ÿ = π‘žπ‘— ∩ (π‘žπ‘– = π‘žπ‘˜ ) atau π‘žπ‘Ÿ = βˆ’π‘žπ‘— ∩ (π‘žπ‘– = βˆ’π‘žπ‘˜ ) Jika 𝛿 = 0. Sebagai contoh. kita dapat menghitung invers π‘ž dari (π‘€π‘ž )βˆ’1. Norm dan Konjugasi RBs 2 2 2 Jika norm dari RB π‘ž adalah |π‘ž| = (π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘–2 + π‘žπ‘— + π‘žπ‘˜ ) 1/2 . maka invers dari π‘€π‘ž dan π‘ž tidak ada. wheredi mana π‘ž1 dan π‘ž2 adalah dua sebarang RBs. perkalian. Representasi matriks ini sangat berguna untuk menganalisis banyak konsep RBs. dan norma.

Bukti: Asumsikan bahwa π‘ž3 = π‘ž1 π‘ž2 . 𝑖 = 1. tiga RB berbeda konjugasi telah diusulkan dalam [12] Dan [13]. kita mendefinisikan norm dan konjugasi RBs sebagai berikut. (19) Representasi matriks dari π‘ž Μ… is βˆšπ›Ώ . (π‘€π‘ž )βˆ’1. sehingga 16 . π‘ž βˆ’1 = βƒ“π‘žβƒ“2 π‘ž . ο‚· Norma RBs 4 |π‘ž| ≑ βˆšπ›Ώ = 2 ((π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘–2 + 2 π‘žπ‘— + 2 2 π‘žπ‘˜ ) βˆ’ 4(π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘— + π‘žπ‘– π‘žπ‘˜ ) ) β‰₯ 0 1 2 4 DI mana 𝛿 adalah deteminan dari Mq.Selain itu. 𝑒2 = ( 1-𝑗)/2 memiliki nol norma.2. Oleh karena itu. maka π‘€π‘ž 3 = π‘€π‘ž 1π‘€π‘ž 2 β†’ det (π‘€π‘ž 1) det (π‘€π‘ž 2) β†’ 𝛿 3 = 𝛿 1𝛿 2 di mana 𝛿 I = det (Mqi) . βƒ“π‘ž1 π‘ž2 ⃓ = βƒ“π‘ž1 βƒ“βƒ“π‘ž2 ⃓ dapat dibuktikan dengan mudah melalui representasi matriks. ο‚· Satu-satunya properti yang berbeda dari bilangan kompleks adalah βƒ“π‘ž1 + π‘ž2 ⃓ > βƒ“π‘ž1 ⃓ +⃓ π‘ž2 ⃓ untuk beberapa kasus khusus. dua nomor RB khusus 𝑒1 =( 1+𝑗)/2 . Namun. Konjugasi RBs : π‘ž Μ… ≑ βˆšπ›Ώ .) Sebagai contoh. (Ini Schwartz segitiga ketidaksetaraan tidak puas. 4 ∴ βƒ“π‘ž1 π‘ž2 ⃓ = βƒ“π‘ž3 ⃓ = 4 βˆšπ›Ώ3 = βˆšπ›Ώ1 𝛿2 = βƒ“π‘ž1 βƒ“βƒ“π‘ž2 ⃓ . baik produk dari RBs atau salah satu dari tiga konjugasi adalah nyata. Didefinisikan |π‘ž| ≑ βˆšπ›Ώ karena |π‘ž1 π‘ž2 | = 2 |π‘ž1 | |π‘ž2 | benar untuk defisi ini |π‘ž| =(π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘–2 )1/2 (berhubungan dengan bilangan 4 kompleks).3. tetapi jumlah dari dua nomor ini adalah 1.

E. 𝑠) = βˆ‘π‘€βˆ’1 π‘š=0 βˆ‘π‘›=0 𝑓(π‘š. Satu-satunya properti yang berbeda dari bilangan kompleks adalahΜ…Μ…Μ…Μ…Μ…Μ…Μ…Μ…Μ…Μ… π‘ž1 + π‘ž2 β‰  Μ…Μ…Μ… π‘ž1 + π‘ž2 asli.Perhitungan kedua RB Konjugasi: 1) π‘ž = 1 + 2𝑖 + 𝑗 βˆ’ 2π‘˜. jika 𝛿 = 0 . π‘ž βˆ’1 karena π‘žπ‘ž Μ… adalah bilangan real.Namun. maka bukan invers π‘ž atauoun π‘ž Μ…. π‘žπ‘ž Μ… =βƒ“π‘žβƒ“2 .[20]: ο‚· DRBFT tipe 1 (dua vektor satuan imajiner 𝑒1 dan 𝑒2 ): π‘π‘š 𝑠𝑛 βˆ’2πœ‹(𝑒1 +𝑒2 π‘βˆ’1 𝑀 𝑁 𝐹(𝑅𝐡1) (𝑝. Oleh karena itu. Transformasi Fourier Diskrit Berkurang Biquaternion (DRBFT) Ada dua cara yang mungkin untuk menentukan berkurang biquaternion Transformasi Fourier [16] . konjugasi dari(𝑖 + 𝑗) tidak ada. 𝑛)𝑒 (21) 17 . dan 2) π‘ž = 1 + 𝑗 1) 𝛿 = {(1 + 1)2 + (2 βˆ’ 2)2 }{(1 βˆ’ 1)2 + (2 + 2)2 } = 64 1 1 ∴ π‘ž Μ… = 8 {|2 1 βˆ’2 1 2 βˆ’2 1 2 1 1 2 1 βˆ’1 | βˆ’ 𝑖 | | + 𝑗 | | βˆ’ π‘˜ | 1 βˆ’2 1 1 βˆ’2 1 2 βˆ’2 1 2 1 |} 2 1 βˆ’2 2 1 βˆ’2 1 1 βˆ’2 1 2 = 2 βˆ’ 𝑖 + 2𝑗 + π‘˜. dan Μ…Μ…Μ…Μ…Μ…Μ… π‘ž1 π‘ž2 = Μ…Μ…Μ… π‘ž1 Μ…Μ…Μ… π‘ž2 untuk definisi ini. 2) 𝛿 = {(1 + 1)2 + (0 βˆ’ 0)2 }{(1 βˆ’ 1)2 + (0 + 0)2 } = 0. Bukti dari Μ…Μ…Μ…Μ…Μ…Μ… π‘ž1 π‘ž2 =Μ…Μ…Μ… π‘ž1 Μ…Μ…Μ… π‘ž2 mirip dengan salah satu dari π‘ž1 π‘ž2 ⃓. ( Hal ini karena konjugasi dari RBs bukan operasi linear) Μ…Μ…Μ… Contoh 1.π‘žπ‘Ÿ βˆ’π‘ž π‘ž Μ… = βˆšπ›Ώ {| π‘˜ π‘žπ‘— 1 π‘žπ‘˜ π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘– π‘žπ‘— π‘žπ‘– βˆ’π‘žπ‘– | βˆ’π‘– | π‘žπ‘— π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘˜ π‘žπ‘˜ π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘– π‘žπ‘– π‘žπ‘— π‘ž βˆ’π‘žπ‘– | +𝑗 | 𝑗 π‘žπ‘˜ π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘Ÿ βˆ’π‘žπ‘˜ π‘žπ‘— π‘žπ‘— π‘žπ‘– βˆ’π‘žπ‘– | βˆ’π‘˜ |π‘ž2 π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘˜ π‘žπ‘Ÿ βˆ’π‘žπ‘˜ π‘žπ‘— π‘žπ‘˜ π‘žπ‘Ÿ |} π‘žπ‘– (20) Kita pilih π‘ž Μ… ≑ βˆšπ›Ώ .

Dari hubungan ini. 2 ] . hanya 𝑖 dan π‘˜ adalah akar kuadrat dariβˆ’1. III. bahkan-aneh. Bukti (23) ditampilkan sebagai berikut. Oleh karena itu. bentuk polar untuk HCA4 belum akan dibahas. kita mendefinisikan bentuk polar disederhanakan untuk mewakili gambar warna. Di sisi lain. dan 𝛿 didefinisikan sebagai (16). dan bentuk-bentuk polar memberikan arti geometris dan sifat yang berguna untuk bilangan kompleks dan quaternions. BENTUK POLAR DARI BPR Kedua kompleks nomor andquaternions memiliki bentuk polar. πœƒπ‘— ∈ 𝑅. πœ‹]. π‘˜}. 𝑛)𝑒 π‘π‘š 𝑠𝑛 (22) 2 2 Di mana 𝑓(π‘š. πœƒπ‘– ∈ (βˆ’πœ‹.ο‚· DRBFT tipe 2 (satu unit vektor imajiner𝑒1 ): βˆ’2πœ‹π‘’1 ( + ) π‘βˆ’1 𝑀 𝑁 𝐹(𝑅𝐡2) (𝑝. Keuntungan dari tipe 1 transformasi adalah bahwa bahkan-bahkan. πœƒπ‘˜ ∈ (βˆ’ 2 .𝑒1 βˆ’ 𝑒2 membentuk. Namun. dan 𝑒1 = 𝑒2 = βˆ’1. kita memberikan arti geometris dari BPR. Pada bagian ini. 𝑛) adalah sinyal biquaternion 2-D berkurang. Sifat-sifat pilihan yang berbeda dari 𝑒1 dan 𝑒2 adalah sama. Untuk RBs. Dalam tulisan ini. 18 . kita memilih𝑒1 = 𝑖 dan 𝑒2 = π‘˜ karena pilihan ini mirip dengan Fourier transform kompleks konvensional. dan bentuk polar. 𝑒1 . RB dapat unik diwakili oleh bentuk polar jika 𝛿 β‰  0: π‘ž = π‘Ž + 𝑏𝑖 + 𝑐𝑗 + π‘‘π‘˜ = 𝐴𝑒 π‘–πœƒπ‘– 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ 𝑒 π‘—πœƒπ‘— 4 (23) πœ‹ πœ‹ Di mana 𝐴 = |π‘ž| = βˆšπ›Ώ β‰₯ 0. Akhirnya. kita membahas hubungan antara ketiga representasi berguna RBs. ganjil-genap. dan aneh-aneh komponen sinyal nyata dapat dipisahkan dalam domain frekuensi. A. representasi matriks. pertama-tama kita mengusulkan bentuk polar RBs dan mendiskusikan sifat-sifat dari bentuk polar. untuk pengolahan citra warna. Mirip dengan angka empat. Polar Form of RBs. keuntungan dari tipe 2 transformasi sederhana dan mirip dengan Fourier transform kompleks. 𝑒2 ∈ {𝑖. Kemudian. 𝑠) = βˆ‘π‘€βˆ’1 π‘š=0 βˆ‘π‘›=0 𝑓(π‘š.

Langkah 2) 19 .πœƒπ‘— = 𝑒 + 𝑓𝑗. Oleh karena itu π‘ž = π‘Ž + 𝑏𝑖 + 𝑐𝑗 + π‘‘π‘˜ = 𝐴𝑒 π‘–πœƒπ‘– 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ 𝑒 π‘—πœƒπ‘— ⇔ π‘žπ‘’π‘ž βˆ’π‘—πœƒπ‘— = 𝐴𝑒 π‘–πœƒπ‘– 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ ⇔[(π‘Žπ‘’ βˆ’ 𝑐𝑓) + (𝑏𝑒 βˆ’ 𝑑𝑓)𝑖 + (𝑐𝑒 βˆ’ π‘Žπ‘“)𝑗 + (𝑑𝑒 βˆ’ 𝑏𝑓)π‘˜] = 𝐴(cos πœƒπ‘– π‘π‘œπ‘ πœƒπ‘˜ + sin πœƒπ‘– cos πœƒπ‘˜ 𝑖 βˆ’ sin πœƒπ‘– sin πœƒπ‘˜ 𝑗 + cos πœƒπ‘– sin πœƒπ‘˜ π‘˜ (25) (24) (π‘Žπ‘’ βˆ’ 𝑐𝑓) = 𝐴 cos πœƒπ‘– cos πœƒπ‘˜ ≑ π‘Ž1 (𝑏𝑒 βˆ’ 𝑑𝑓) = 𝐴 sin πœƒπ‘– cos πœƒπ‘˜ ≑ 𝑏1 ⇔ (𝑐𝑒 βˆ’ π‘Žπ‘“) = βˆ’π΄ sin πœƒπ‘– sin πœƒπ‘˜ ≑ 𝑐1 { (𝑑𝑒 βˆ’ 𝑏𝑓) = 𝐴 cos πœƒπ‘– cos πœƒπ‘˜ ≑ 𝑑1 Dimana βˆ’π‘Ž1 𝑐1 = 𝑏1 𝑑1 Bukti : βˆ’π‘Ž1 𝑐1 = βˆ’(𝐴 cos πœƒπ‘– cos πœƒπ‘˜ )(βˆ’π΄ sin πœƒπ‘– sin πœƒπ‘˜ ) = 𝐴2 sin πœƒπ‘– cos πœƒπ‘– sin πœƒπ‘˜ cos πœƒπ‘˜ 𝑏1 𝑑1 = (𝐴 sin πœƒπ‘– cos πœƒπ‘˜ )(𝐴 cos πœƒπ‘– cos πœƒπ‘˜ ) = 𝐴2 sin πœƒπ‘– cos πœƒπ‘– sin πœƒπ‘˜ cos πœƒπ‘˜ (dan 𝑒 2 βˆ’ 𝑓 2 = 1) (26) Jika solusi dari lima tidak diketahui 𝑒. 𝑓. maka RB dapat diwakili oleh bentuk polar π‘ž = 𝐴𝑒 π‘–πœƒπ‘– 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ 𝑒 π‘—πœƒπ‘— . dan πœƒπ‘˜ pada (26) ada. 𝑒 > 𝑓. Dalam langkah berikutnya. 𝑓 = sinh πœƒπ‘— . 𝑒 > 0. kami memberikan solusi dari (26) jika mereka ada dan mendiskusikan kondisi bahwa solusi tidak ada. maka 𝑒 = cosh πœƒπ‘— . πœƒπ‘– .Langkah 1) Misal 𝑒 𝑗. 𝐴. 𝑒 2 βˆ’ 𝑓 2 = 1.

dari (26). diperoleh βˆ’(π‘Žπ‘’ βˆ’ 𝑐𝑓)(𝑐𝑒 βˆ’ π‘Žπ‘“) = (𝑏𝑒 βˆ’ 𝑑𝑓)(𝑑𝑒 βˆ’ 𝑏𝑓) = 𝐴2 cos πœƒπ‘– cos πœƒπ‘˜ sin πœƒπ‘– sin πœƒπ‘˜ (27) βˆ’(π‘Žπ‘’ βˆ’ 𝑐𝑓)(𝑐𝑒 βˆ’ π‘Žπ‘“) = (𝑏𝑒 βˆ’ 𝑑𝑓)(𝑑𝑒 βˆ’ 𝑏𝑓) βˆ’ Oleh karena itu. (28) (29) SUbstitusi 𝑓 = Β±βˆšπ‘’ 2 βˆ’ 1 β†’(2𝑒 2 βˆ’ 1) (π‘Žπ‘ + 𝑏𝑑) = Β±βˆšπ‘’ 2 βˆ’ 1(π‘Ž2 + 𝑏 2 + 𝑐 2 + 𝑑 2 ). Mengambil persegi di kedua sisi β†’[(π‘Ž2 + 𝑏 2 + 𝑐 2 + 𝑑 2 )2 βˆ’ 4(π‘Žπ‘ + 𝑏𝑑)2 ] βˆ— (𝑒 4 βˆ’ 𝑒 2 ) βˆ’ (π‘Žπ‘ + 𝑏𝑑)2 ∴ 𝑒 2 = 1±√1+ 2 2 2 2 2 (π‘Ž +𝑏 +𝑐 +𝑑 ) βˆ’4(π‘Žπ‘+𝑏𝑑)2 2 (π‘Ž2 +𝑏2 +𝑐2 +𝑑2 ) βˆšπ›Ώ 4(π‘Žπ‘+𝑏𝑑)2 = 1+ 2 (∡ 𝑒 2 > 0) Di mana 𝛿 didefinisikan sebagai (16). π‘‘π‘Žπ‘› πœƒπ‘— . (27) dapat digunakan untuk menghitung 𝑒 dan 𝑓: (π‘Žπ‘’ βˆ’ 𝑐𝑓)(𝑐𝑒 βˆ’ π‘Žπ‘“) = (𝑏𝑒 βˆ’ 𝑑𝑓)(𝑑𝑒 βˆ’ 𝑏𝑓) β†’(𝑒 2 + 𝑓 2 )(π‘Žπ‘ + 𝑏𝑑) = 𝑒𝑓(π‘Ž2 + 𝑏 2 + 𝑐 2 + 𝑑2 ) Type equation here. (𝛿 = (π‘Ž2 + 𝑏 2 + 𝑐 2 + 𝑑2 )2 βˆ’ 4(π‘Žπ‘ + 𝑏𝑑)2 (π‘Ž2 +𝑏2 +𝑐2 +𝑑2 ) βˆšπ›Ώ 1+ →𝑒 = √ 2 (∡ 𝑒 > (30) 0) Dari (29) dan 𝑓 2 = 𝑒 2 βˆ’ 1 20 . 𝑓.Solusi dari lima tidak diketahui pada (26) Solusi dari 𝑒.

Namun. masalah ini dapat diselesaikan dengan menyesuaikan berbagai πœƒπ‘– : 21 . Oleh karena itu. πœ‹] tidak sama. dan invers fungsi kosinus di (33). πœƒπ‘˜ = π‘‘π‘Žπ‘›βˆ’1 𝑑1 π‘Ž1 and (34) 2 2 2 2 𝐴 = βˆšπ‘Ž1 + 𝑏1 + 𝑐1 + 𝑑1 = √(π‘Ž2 + 𝑏 2 + 𝑐 2 + 𝑑2 )(𝑒 2 + 𝑓 2 ) βˆ’ 4(π‘Žπ‘ + 𝑏𝑑)𝑒𝑓 (π‘Ž2 + 𝑏 2 + 𝑐 2 + 𝑑 2 )2 4(π‘Žπ‘ + 𝑏𝑑) √ = βˆ’ βˆšπ›Ώ βˆšπ›Ώ = βˆšπ›Ώ = |π‘ž| 4 Karena sudut berkisar dari tangen terbalik di (34). πœƒ1 . 𝑓 (2𝑒 2 βˆ’1)(π‘Žπ‘+𝑏𝑑) (π‘Žπ‘+𝑏𝑑) π‘’βˆšπ›Ώ (31) (32) a) Solusi dari 𝐴. solusi dari πœƒπ‘– dan πœƒπ‘˜ ditemukan di (34) mungkin tidak memuaskan (33). (βˆ’πœ‹β„2 . bahkan jika (33) tidak puas.𝑓 = (π‘Ž2 +𝑏2 +𝑐 2 +𝑑2 )𝑒 = AKibatnya πœƒπ‘— = π‘‘π‘Žπ‘›β„Žβˆ’1 𝑒 . dan (31). (0. (30). perbedaannya hanya tanda minus. π‘‘π‘Žπ‘› πœƒ3 : Dari (26). diperoleh π‘Ž1 = π‘Žπ‘’ βˆ’ 𝑐𝑓 = 𝐴 cos πœƒπ‘– π‘π‘œπ‘ πœƒπ‘˜ 𝑏1 = 𝑏𝑒 βˆ’ 𝑑𝑓 = 𝐴 sin πœƒπ‘– π‘π‘œπ‘ πœƒπ‘˜ 𝑐1 = 𝑐𝑒 βˆ’ π‘Žπ‘“ = βˆ’π΄ sin πœƒπ‘– sin πœƒπ‘˜ 𝑑1 = 𝑑𝑒 βˆ’ 𝑏𝑓 = 𝐴 cos πœƒπ‘– π‘ π‘–π‘›πœƒπ‘˜ (33) Dan Kemudian πœƒπ‘– = π‘‘π‘Žπ‘›βˆ’1 𝑏1 π‘Ž1 . πœ‹β„2].

dan solusi dari (26) tidak ada. bentuk polar RB ini kompatibel dengan bentuk polar dari bilangan kompleks. C. 2 ] . Oleh karena itu. maka 𝑒. 4 B. yang lain. 𝑒 π‘–πœƒ . multipication dua BPR menjadi sangat mudah. 𝑓 β†’ ∞. Sifat-sifat lainnya adalah sebagai berikut. kita harus menyesuaikan πœƒπ‘– to πœƒπ‘– + 𝑝𝑖 atau πœƒπ‘– βˆ’ 𝑝𝑖 . Hasil di atas tidak dapat diterapkan ketika𝛿 = 0. Sifat Formulir Polar RB Mirip dengan bilangan kompleks. BPR dapat diwakili oleh bentuk polar dalam (23). 22 . Asumsikan RB π‘ž = π‘Ž + 𝑏𝑖 (𝑗 dan π‘˜) komponen sama dengan 0). πœ‹]. maka. πœ‹ πœ‹ π‘‘π‘Žπ‘› πœƒπ‘– ∈ 𝑅 (36) Kami telah membuktikan bahwa solusi dari (26) ada dan bahwa solusi ini unik jika kita membatasi kisaran tiga fase polar untuk menjadi seperti (36). asumsikan bahwa π‘ž1 = 𝐴1 𝑒 π‘–πœƒπ‘–1 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜1 𝑒 π‘—πœƒπ‘—1 . Akibatnya. Teorema De Moivre tentang RB Jika π‘ž = 𝐴1 𝑒 π‘–πœƒπ‘– 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ 𝑒 π‘—πœƒπ‘— (37) Teorema ini dapat dibuktikan langsung oleh multipications properti komunikatif dari RBs. dan representasi ini adalah unik. rentang tiga fase kutub πœƒπ‘– ∈ (βˆ’πœ‹. π‘ž1 π‘ž2 = 𝐴1 𝐴2 𝑒 𝑖(πœƒπ‘–1 +πœƒπ‘–2 ) 𝑒 π‘˜(πœƒπ‘˜1 +πœƒπ‘˜2 ) 𝑒 𝑗(πœƒπ‘—1 +πœƒπ‘—2 ) . bentuk polar dari RB itu juga tidak ada. Pertama. Jika 𝛿 = 0. Akibatnya. Selain itu. bentuk polar RBs memiliki sifat yang berguna. di mana 𝐴 = βˆšπ›Ώ = βˆšπ‘Ž2 + 𝑏 2 . maka πœƒπ‘˜ dan πœƒπ‘— sama dengan 0 dan bentuk polar dari π‘ž menjadi π‘ž = π‘Ž + 𝑏𝑖 = 𝐴. π‘ž2 = 𝐴2 𝑒 π‘–πœƒπ‘–2 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜2 𝑒 π‘—πœƒπ‘—2 . πœƒπ‘– adalah sama sebagai solusi dalam (34). c) kondisi di mana solusi dari (26) tidak ada berikutnya. 1.Jika (33) adalah benar. πœƒπ‘˜ ∈ (βˆ’ 2 .

makna geometris 𝑒 π‘–πœƒπ‘– adalah rotasi di kedua dimensi 1. D.2 dan 3.3. empat rotasi (𝑒 π‘–πœƒπ‘– π‘‘π‘Žπ‘› 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ ). dan arti geometris dari 𝑒 π‘—πœƒπ‘— adalah transformasi Lorentz di kedua dimensi 1. dan dua transformasi Lorentz (𝑒 π‘—πœƒπ‘— ). C.3 dan 2.2) relations between polar formand matrix representations.4.4 dan 2. The matrix representation of 𝑒 π‘–π‘œπ‘– . Oleh karena itu. Bentuk polar sederhana-warna polar 23 . arti geometris dari 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ adalah rotasi di kedua dimensi 1.4. 𝑒 π‘—π‘œπ‘— Can be calculated by (14) 𝑒 π‘–π‘œπ‘– cos πœƒπ‘– sin πœƒπ‘– ↔ π‘€π‘œπ‘– ≑ [ 0 0 cos πœƒπ‘– sin πœƒπ‘– = [ 0 0 βˆ’ sin πœƒπ‘– cos πœƒπ‘– 0 0 0 0 1 0 0 0 cos πœƒπ‘– sin πœƒπ‘– 0 0 ] βˆ’ sin πœƒπ‘– cos πœƒπ‘– 0 0 cos πœƒπ‘– sin πœƒπ‘– 0 0 βˆ’sin πœƒπ‘– ] cos πœƒπ‘– βˆ’sin πœƒπ‘– cos πœƒπ‘– 0 0 1 0 0 0 1 0 ] X [0 0 0 0 0 1 (47) 𝑒 π‘˜π‘œπ‘˜ ↔ π‘€π‘œπ‘˜ cos πœƒπ‘˜ 0 ≑ [ 0 sin πœƒπ‘˜ cos πœƒπ‘˜ 0 =[ 0 sin πœƒπ‘˜ 0 cos πœƒπ‘˜ βˆ’sin πœƒπ‘˜ 0 0 1 0 0 0 sin πœƒπ‘˜ cos πœƒπ‘˜ 0 βˆ’ sin πœƒπ‘˜ 0 ] 0 cos πœƒπ‘˜ 0 cos πœƒπ‘˜ βˆ’sin πœƒπ‘˜ 0 0 sin πœƒπ‘˜ cos πœƒπ‘˜ 0 0 0 ] 0 1 0 βˆ’sin πœƒπ‘˜ 1 0 0 0 ] X[ 1 0 0 0 cos πœƒπ‘˜ 0 (48) 𝑒 π‘—πœƒπ‘— ↔ π‘€πœƒπ‘— π‘π‘œπ‘ β„Ž πœƒπ‘— 0 ≑ π‘ π‘–π‘›β„Ž πœƒπ‘— [ 0 π‘π‘œπ‘ β„Ž πœƒπ‘— 0 = [ π‘ π‘–π‘›β„Ž πœƒπ‘— 0 0 π‘π‘œπ‘ β„Ž πœƒπ‘— 0 π‘ π‘–π‘›β„Ž πœƒπ‘— 0 1 0 0 π‘ π‘–π‘›β„Ž πœƒπ‘— 0 π‘π‘œπ‘ β„Ž πœƒπ‘— 0 0 π‘ π‘–π‘›β„Ž πœƒπ‘— 0 π‘π‘œπ‘ β„Ž πœƒπ‘— ] 1 0 0 [0 0 π‘π‘œπ‘ β„Ž πœƒπ‘— 0 π‘ π‘–π‘›β„Ž πœƒπ‘— 0 0 0 π‘ π‘–π‘›β„Ž πœƒπ‘— 0 1 0 π‘π‘œπ‘ β„Ž πœƒπ‘— ] π‘ π‘–π‘›β„Ž πœƒπ‘— 0 0 0 ] 𝑋 π‘π‘œπ‘ β„Ž πœƒπ‘— 0 1 0 (49) Oleh karena itu. arti geometris dari BPR adalah salah satu skala (A). 𝑒 π‘˜π‘œπ‘˜ .

kami mengubah R. 𝑛) 1 [ √2 1 1 √3 2 √6 βˆ’ √6 βˆ’ √2 1 √3 1 (51) 0] 𝑓𝑣2 (π‘š. 𝑛)π‘˜ (50) Dimana 𝑓𝑅 (π‘š.The quaternions dan BPR empat dimensi aljabar. kinerja yang lebih baik dapat diperoleh. ke dalam komponen IHS oleh 𝑓𝐼 (π‘š. 𝑛) 2 2 𝑓 𝑠 (π‘š. 𝑛). 𝑛) = βˆšπ‘“ 𝑣1 (π‘š. Untuk beberapa aplikasi pengenalan pola. masing-masing [26] . kecerahan merupakan intensitas cahaya yang dirasakan. Pertama. 𝑛)𝑖 + 𝑓𝐺 (π‘š. 𝑛) = π‘‘π‘Žπ‘›βˆ’1 ( ) and 𝑓𝑣2 (π‘š. π‘‘π‘Žπ‘› 𝑓𝑆 (π‘š. tapi ruang warna adalah ruang 3-D. representasi tidak unik. 𝑛) 1 [𝑓𝑣1 (π‘š. 𝑛)] = βˆ’ √6 𝑓𝑣2 (π‘š. Untuk quaternions. 𝑓𝐺 (π‘š. jika kita menggunakan angka empat atau BPR untuk mewakili warna. π‘‘π‘Žπ‘› 𝑓𝐡 (π‘š. kita menggunakan BPR untuk mewakili citra warna berikut: 1 √3 𝑓𝐼 (π‘š. G dan B komponen gambar warna. hue digunakan untuk membedakan warna. 𝑛) + 𝑓 𝑣2 (π‘š. jika gambar warna dipisahkan dalam pencahayaan dan komponen Kromatisitas (dkl intensitas-Hue-saturasi ruang warna IHS). G dan komponen B 𝑓𝑅 (π‘š. 𝑛). gambar warna umumnya diwakili oleh 𝑓(π‘š. 𝑛). dan saturasi adalah pengukuran persentase cahaya putih yang ditambahkan ke warna murni. π‘‘π‘Žπ‘› 𝑓𝐡 (π‘š. 𝑛) (52) 24 . 𝑓𝐻 (π‘š. 𝑓𝐺 (π‘š. Namun ruang RGB bukanlah pilihan terbaik untuk semua pengolahan citra warna. Dalam penglihatan manusia. Ruang warna IHS Ini adalah deskripsi terkenal dan memadai untuk persepsi warna visual manusia. 𝑛) 𝑓𝐻 (π‘š. 𝑛) = 𝑓𝑅 (π‘š. 𝑛) mewakili R. 𝑛). 𝑛)𝑗 + 𝑓𝐡 (π‘š. 𝑛). 𝑛). 𝑛). Oleh karena itu. 𝑛) Kedua.[28]. Kami akan mengadopsi konsep ini untuk melakukan pengolahan gambar warna kita dengan BPR dalam ruang warna IHS.

hue. Konjugasi q menjadi π‘ž Μ… = 𝐴𝑒 π‘–πœƒπ‘– 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ = π‘žπ‘Ÿ βˆ’ π‘žπ‘– + π‘žπ‘— βˆ’ π‘žπ‘˜ Properti 2 dan 3 berasal dari properti 1. π‘žπ‘Ÿ π‘žπ‘— + π‘žπ‘– π‘žπ‘˜ = 0. 𝑛) < πœ‹.Kedua kita menggunakan RBs untuk merepresentasikan warna gambar sebagai berikut: 𝑖𝑓𝐻 (π‘š.𝑛)) 𝐴 𝑓 (π‘š. 𝑛) adalah Arti geometris dari komponen ini dalam ruang warna IHS ditunjukkan pada Gambar 1.𝑛) = π‘ π‘–π‘›βˆ’1 (𝑓 𝑆 (π‘š. Norm q menjadi |π‘ž| = (π‘žπ‘Ÿ + π‘žπ‘–2 + π‘žπ‘— + π‘žπ‘˜ ) 3. yang diringkas sebagai berikut. 𝑛). 𝑛) ≀ Kisaran πœ‹/2 𝑓𝐻 (π‘š. atau π‘žπ‘Ÿ /π‘žπ‘– = (βˆ’π‘žπ‘˜ )/π‘žπ‘— 2 2 1/2 2 2. dan saturasi angel dari gambar warna. 25 . 𝑛) = π‘π‘œπ‘  𝐴 (54) 𝑓 (π‘š. 𝑛) π‘‘π‘Žπ‘› 𝑓 πœ‘ (π‘š. Jika RB π‘ž = π‘žπ‘Ÿ + π‘–π‘žπ‘– + π‘—π‘žπ‘— + π‘˜π‘žπ‘˜ memiliki bentuk polar disederhanakan π‘ž = 𝐴𝑒 π‘–πœƒπ‘– 𝑒 π‘˜πœƒπ‘˜ maka kita memiliki berikut. π‘‘π‘Žπ‘› 𝑓 πœ‘ (π‘š. βˆ’πœ‹/2 ≀ π‘“πœ‘ (π‘š. 𝑛) adalah kecerahan . 𝑛)𝑒 (53) Dimana 𝑓 𝐴 (π‘š. 𝑛) + 𝑓 βˆ’1 𝑓 (𝑓 𝐼 (π‘š. 𝑛) + 𝑓 𝐡 (π‘š.𝑛) (55) βˆ’πœ‹ ≀ 𝑓𝐻 (π‘š. 𝑓 𝐻 (π‘š. Representasi ini memiliki arti geometris dan memberikan banyak sifat menarik dan indah. 𝑛) = βˆšπ‘“ 𝐼 (π‘š. Kami akan menggunakan bentuk polar yang disederhanakan ini untuk pengolahan gambar warna pada bagian VII. 𝑛) 𝐺 (π‘š.𝑛) π‘˜π‘“πœ‘ (π‘š. 𝑛). Kami menyebutnya (53) bentuk polar disederhanakan karena fase bentuk polar komponen 𝑒 π‘—πœƒπ‘— sama dengan nol. 𝑛) = 𝑓 𝑒 𝐴 (π‘š.𝑛)) πœ‘ (π‘š. dan 2 2 𝑓 𝐴 (π‘š. 𝑛) + 𝑓 𝑆 (π‘š. masing-masing. 1.𝑛) 𝑓𝑅𝐡 (π‘š. 𝑛) 2 2 2 = βˆšπ‘“ 𝑅 (π‘š.