You are on page 1of 16

4

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Keragaman Anopheles spp. Keragaman nyamuk Anopheles spp. dipengaruhi oleh struktur lansekap,

zoogeografi, ketinggian, kebedaan habitat perkembangbiakan pra dewasa dan sibling spesies. Di Indonesia secara umum, di lingkungan pantai banyak ditemukan A. sundaicus dan A. subpictus, di lingkungan persawahan A. barbirostris dan A. aconitus, di lingkungan rawa dan sungai berbatuan A. maculatus dan A. farauti dan di lingkungan perbukitan A. balabacencis (Ditjen PP&PL 2010). Kabupaten Lampung Selatan mempunyai keragaman Anopheles spp. yang tinggi, seperti halnya pernyataan Idram-Idris (1999) bahwa di daerah pantai bekas rawa-rawa Padangcermin Kabupaten Lampung Selatan terdapat 16 jenis nyamuk Anopheles, yaitu A. sundaicus, A. subpictus, A. vagus, A. indefinitus, A. nigerrimus, A. peditaeniatus, A. kochi, A. barbirostris, A. barumbrosus, A. annularis, A. separatus, A. tessellatus, A. aconitus, A. umbrosus, A. leucosphyrus dan A. letifer. Rosa et al. (2009) menyatakan di wilayah pantai Sukamaju Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung terdapat A. sundaicus, A. longilostris, A. leucosphyrus, A. maculatus, A. ramsayi dan A. subpictus. Keragaman Anopheles spp. di beberapa daerah lainnya di Indonesia antara lain A. sundaicus dan A. subpictus ditemukan di Purwodadi Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah (Sukowati dan Shinta 2009). Selanjutnya A. barbirostris, A. tessellatus, A. vagus, A. kochi, A. indefinitus, A. peditaeniatus, A. subpictus dan A. parangensis ditemukan di Sidoan Kabupaten Parigi-Moutong, Sulawesi Tengah (Garjito et al. 2004). Berikutnya A. annularis, A.aconitus, A. barbirostris, A. kochi, A. sundaicus, A. tessellatus dan A. vagus ditemukan di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat (Mardiana et al. 2007). Selain itu A. barbirostris, A. vagus, A. aconitus, A. maculatus dan A. kochi ditemukan di Langkap Jaya Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Munif et al. 2007). Nyamuk A. aconitus, A. annularis, A. barbirostris, A. maculatus, A. tessellatus dan A. vagus juga ditemukan di Mayong Kabupaten Jepara, Jawa

Tengah (Mardiana et al. 2005). Di Bangsring Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ditemukan A. sundaicus, A. vagus, A. subpictus, A. flavirostris, A. barbirostris, A. annularis dan A. indefinitus, sedangkan di Panggul Kabupaten Trenggalek ditemukan A. sundaicus, A. vagus, A. subpictus, A. flavirostris, A. barbirostris, A. maculatus, A. aconitus, A. tesselatus dan A. kochi (Mardiana 2001). Di Sayong dan Longlongan Kabupaten Lombok, NTB ditemukan A. subpictus (Sukowati 2001). Di Doro Halmahera Selatan, Maluku Utara ditemukan A. farauti, A. vagus, A. punctulatus dan A. minimus (Mulyadi 2010). Di Santuun Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan ditemukan A. barbirostris, A, tessellatus, A. vagus, A. kochi dan A. hyrcanus group (Suwito et al. 2010). Di Emparu Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat ditemukan A. umbrosus, A. barbirostris, A. tessellatus, A. maculatus dan A. kochi (Suwito et al. 2010). Di Ela-Ela dan Caile Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan ditemukan A. barbirostris, A subpictus, A. vagus dan A. indefinitus (Suwito et al. 2010). Hans et al. (2002) mempelajari pengaruh stuktur lansekap terhadap kepadatan dan keragaman nyamuk Anopheles. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan pertanian mempunyai stuktur lansekap yang berukuran kecil-kecil dan sangat bervariasi bentuknya dari pada lokasi hutan. Hal ini mempengaruhi keragaman jenis Anopheles. Pada daerah hutan ditemukan A. maculatus s.s. dan A. minimus s.l., keduanya merupakan vektor utama di Thailand yang banyak ditemukan di daerah hutan. Adapun densitas A. aconitus dan A. hyrcanus group di daerah persawahan tidak berbeda nyata. Nyamuk A. aconitus merupakan vektor malaria sekunder dan A. hyrcanus group bukan vektor di Thailand. Densitas A. minimus berhubungan positif dengan lahan hutan, jenis air dan lansekap persawahan. Perubahan pemanfaatan hutan akibat aktifitas ekonomi

meningkatkan heterogenitas lansekap, yang mengakibatkan penurunan keragaman jenis Anopheles. Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa bila manajemen lansekap digunakan untuk pengendalian malaria di bagian Utara Thailand, maka diperlukan upaya agar tidak memanfaatkan perubahan yang besar terhadap hutan yang ada.

2.2

Habitat Perkembangbiakan Anopheles spp.

2.2.1 Jenis-jenis Habitat Perkembangbiakan Larva Anopheles spp. Habitat perkembangbiakan merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk pada saat pra dewasa, mulai dari telur, larva dan pupa. Bates (1970) membagi habitat larva menjadi empat kelompok yaitu (1) Habitat yang permanen dan semi permanen seperti rawa, danau, (2) Daerah aliran air yang berasosiasi dengan tumbuhan, (3) Kontainer termasuk genangan air pada ketiak daun tumbuhan, dan 4) Genangan air pada tanah yang bersifat sementara. Sementara itu, Rao (1981) membagi habitat larva menjadi dua kelompok yaitu (1) Habitat yang bersifat alamiah seperti danau, rawa, genangan air, dan (2) Habitat buatan manusia seperti daerah sawah, irigasi, kolam. Adapun Bruce-Chwatt (1985) mengklasifikasikan habitat larva dalam lima kelompok yaitu (1) Air tawar yang menggenang permanen atau temporal seperti rawa-rawa yang terbuka luas atau daerah rawa yang merupakan bagian dari danau, kolam, genangan air, dan mata air, (2) Kumpulan air tawar yang sifatnya sementara seperti genangan air terbuka di lapangan dan bekas tapak kaki binatang, (3) Air yang mengalir permanen atau semi permanen seperti sungai yang terbuka dengan vegetasi, air yang mengalir dari selokan, (4) Tempat penampungan air alami seperti lubang pada batu, pohon, lubang buatan hewan, dan tempat penampungan air buatan manusia seperti kaleng, ban, tempurung kelapa, dan (5) Air payau seperti rawa-rawa pasang surut. Habitat perkembangbiakan larva Anopheles spp. berbeda di beberapa wilayah di Indonesia. Munif et al. (2007) menyatakan bahwa di Langkap Jaya Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sawah merupakan habitat perkembangbiakan larva A. barbirostris, A. vagus, dan A. aconitus, saluran irigasi adalah habitat larva A. barbirostris dan A. aconitus, kubangan/mata air habitat larva A. barbirostris dan A. maculatus; belas telapak kaki habitat larva A. kochi. Sementara itu Sukowati (2000) melaporkan bahwa habitat pradewasa nyamuk A. subpictus di Sayong adalah tambak dan saluran irigasi, di sekitar tambak yang banyak ditumbuhi oleh algae, lumut dan rumput dengan kisaran salinitas 5-35 , sedangkan di Longlongan tempat perkembang-biakannya adalah sawah, sungai, kobakan air, saluran irigasi yang banyak ditumbuhi oleh algae dan gulma air yang

lain seperti rumput dan eceng gondok dengan kisaran salinitas 10-35 . Larva nyamuk A. maculatus di Kokap Kabupaten Kulonprogo, DIY tumbuh dan berkembang pada perairan terbuka baik mengalir maupun tidak mengalir, dan dengan dasar berupa batu atau tanah, habitat yang sesuai bagi larva A. balabacencis adalah pada perairan yang banyak ternaungi sehingga cahaya matahari tidak dapat menembus langsung, dan dengan dasar berupa batu (Santoso 2002). Di Mayong Kabupaten Jepara, Jawa Tengah habitat potensial larva Anopheles pada musim kemarau ditemukan di sungai yang ditanami kangkung oleh masyarakat setempat (Mardiana et al. 2005). Hasil pengindraan jauh menggunakan satelit Landsat, di Pulau Bangka habitat perkembangbiakan potensial Anopheles spp. adalah sungai dengan luas 4.212 Ha, kolong bekas galian timah seluas 81.056 Ha, sawah seluas 452 Ha, rawa-rawa seluas 158.783 Ha dan mangrove seluas 31.158 Ha (Suwito 2007). Di Pulau Sulawesi, tepatnya di Ela-ela dan Caile Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan larva A. barbirostris, A. subpictus dan A. vagus ditemukan pada habitat rawa-rawa, sedangkan larva A. barbirostris, A. vagus dan A. indefinitus ditemukan di sawah (Suwito et al. 2010). Di Pulau Kalimantan, tepatnya di Emparu Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat larva A. umbrosus group, A.
barbirostris, A. tessellatus, A. maculatus dan A. kochi ditemukan pada habitat sawah

paca panen, kobakan dan saluran (Suwito et al. 2010), sedangkan di Santuun Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan larva A. barbirostris, A. tessellatus, A. vagus, A. kochi dan An. hyrcanus group ditemukan pada habitat kobakan bekas kaki kerbau, sawah pasca panen, genangan air di sekitar permukiman dan parit (Suwito et al. 2010). Larva Anopheles di beberapa negara lain mempunyai habitat yang bervariasi. Di Gurgaon, India habitat tangki ditemukan larva A. stephensi, sedangkan di sumur ditemukan A. subpictus (Sharma 1990). Adapun di Shahjahanpur, India larva A. culicifacies, A. subpictus, A. annularis, A. nigerrimus dan A. barbirostris ditemukan pada habitat sawah (Prasad et al. 1990). Di dataran tinggi Kenya larva A. gambiae ditemukan pada habitat rawa-rawa (Minakawa et al. 2004), sedangkan di Dar Es Salam, Tanzania larva A. gambiae ditemukan pada

habitat kolam dan saluran air (Sattler et al. 2005). Di Kota Mudon, Burma larva A. balabacensis ditemukan pada habitat sumur (Lin-Tun et al. 1986). 2.2.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Habitat Perkembangbiakan Larva Anopheles spp. 2.2.2.1 Suhu Air Suhu air sangat mempengaruhi perkembangan larva. Secara umum nyamuk Anopheles lebih menyukai termperatur yang tinggi jika dibandingkan dengan jenis Culicinae. Itulah sebabnya jenis Anopheles lebih banyak dijumpai di daerah tropis (Takken et al. 1990 dalam Susanna 2005). Suhu air dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan paparan sinar matahari pada habitat. Suhu mempengaruhi kadar oksigen terlarut dalam air, suhu air semakin tinggi maka semakin rendah kelarutan oksigen di dalam air. Suhu air berpengaruh terhadap metabolisme pertumbuhan fase telur, larva dan pupa. Telur, larva dan pupa nyamuk menjadi dewasa membutuhkan waktu 14 hari pada suhu air 70 0F (21,1 0C), dan 10 hari pada suhu air 80 0F (26,7 0C) (McCafferty et al. 1983). Hasil penelitian di Ban Khun Huay, Ban Pa Dae dan Ban Tham Seau Kabupaten Mae Sot, Thailand bahwa suhu air mempengaruhi kepadatan larva A. minimus, A. kochi, A. jamesii (Kengluecha et al. 2005). Sementara itu di Kakamega, Kenya larva A. gambiae didapatkan pada perairan dengan suhu air 3-3,4 0C (Tuno et al. 2005). Selain itu di Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo, DIY larva A. maculatus dan A. balabacencis ditemukan pada habitat dengan suhu air antara 24,10 - 24.15 0C (Santoso 2002). Selanjutnya di Desa Doro Halmahera Selatan larva A. farauti ditemukan pada habitat dengan suhu air 25-30 oC (Mulyadi 2010). Adapun di Lengkong Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat larva A. nigerrimus ditemukan pada perairan dengan suhu air 22,931,2 0C (Munif et al. 2007).

2.2.2.2 Derajat Keasaman (pH) Air Derajat keasaman (pH) air mempengaruhi kehidupan organisme di dalam air. Perairan asam kurang baik untuk perkembangbiakan bahkan cenderung mematikan organisme. Swingle (1961) dalam Boyd (1990) membuat klasifikasi pH terhadap kehidupan di air yaitu (1) pH 6,5-9 dibutuhkan oleh hewan air untuk bereproduksi, (2) pH 5-6,5 perkembangan hewan air lambat, (3) pH 4-5 hewan air tidak bereproduksi, (4) pH 4 merupakan titik kematian asam, dan (5) pH 11 merupakan titik kematian basa. Jenis Anopheles yang berbeda dapat berkembang dengan kondisi pH air yang berbeda. Larva A. culicifacies ditemukan hidup pada kisaran pH 5,4-9,8, A. plumbeus pH 4,4-9,3, sedangkan A. stephensi dan A. varuna ditemukan pada pH air 6-11 (Clements 1999). Sementara itu di Bengal India ditemukan larva A. sundaicus pada perairan dengan pH 7,7-8,5 atau rata-rata 8,2 (Sent 1938 dalam Rao 1981). Selanjutnya di Ban Khun Huay, Ban Pa Dae dan Ban Tham Seau Kabupaten Mae Sot, Thailand pH air mempengaruhi pertumbuhan larva A. dirus, A. kochi dan A. vagus (Kengluecha et al. 2005). Adapun di Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo, DIY larva A. letifer, A. maculatus dan A. balabacencis ditemukan pada habitat sawah dan kolam dengan pH 7,13-7,2 (Santoso 2002). Di Doro Kabupaten Halmahera Selatan larva A. farauti ditemukan pada perairan seperti kobakan, kubangan, kolam, sumur, kali dan rawa-rawa dengan pH air 6,87,1 (Mulyadi 2010). 2.2.2.3 Salinitas Air Salinitas air pada habitat perkembangbiakan larva Anopheles dipengaruhi oleh berubahnya luas genangan air, curah hujan, aliran air tawar dan evaporasi. Salinitas air yang berubah selama satu tahun menyebabkan banyak spesies nyamuk melakukan adaptasi (Mosha dan Mutero 1982 dalam Clements 1999). Setiap jenis Anopheles memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda-beda terhadap derajat salinitas air. Salinitas optimum perkembangan A. sundaicus di Indonesia adalah 12-18 , dan tidak dapat berkembang pada salinitas 40 ke atas (Bonne-Wepster dan Swellengrebel 1953). Sundararaman et al. (1957)

10

menyatakan salinitas optimum pertumbuhan A. sundaicus berkisar antara 15-20 . Hasil penelitian di Bangsring Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur larva A. sundaicus ditemukan pada perairan dengan salinitas 0-4 , sedangkan di Panggul Kabupaten Trenggalek ditemukan pada salinitas air 9 (Mardiana et al. 2002). Habitat pradewasa nyamuk A. subpictus di Sayong Lombok, NTB ditemukan habitat tambak dan saluran irigasi dengan kisaran salinitas 5-35 , sedangkan di Longlongan pada habitat sawah, sungai, kobakan air dan saluran irigasi dengan kisaran salinitas 10-35 (Sukowati 2000). Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa salinitas optimum untuk perkembangan larva A. farauti di dalam medium garam NaCl adalah 10 , dengan lama perkembangan akan mencapai imago antara 6-8 hari, dengan jumlah rata-rata imago yang hidup sebanyak 96 % (Bowolaksono 2001 dalam Mulyadi 2010). Adapun larva A. farauti di Doro Kabupaten Halmahera Selatan ditemukan pada air tawar dan payau, dengan salinitas salinitas 0-7 (Mulyadi 2010). Sementara itu larva A. farauti di Honiara Pulau Solomon ditemukan pada salinitas air 0,220,25 (Bell et al. 1999). Selanjutnya di Batticaloa, Sri Langka larva A. culicifacies ditemukan pada perairan dengan salinitas 0,2-0,3 (Jude et al. 2010). 2.2.2.4 Arus Air Arus air adalah pergerakan air, dipengaruhi oleh gravitasi bumi, mengalir dari tempat lebih tinggi ke tempat lebih rendah. Habitat perkembangbiakan nyamuk diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu habitat air air mengalir (lotic) dan habitat air tidak mengalir (lentic) (Mattingly 1969). Habitat air mengalir seperti sungai, parit, saluran irigasi, sawah dan rawa-rawa, sedangkan habitat tidak mengalir adalah kolam, kubangan dan kobakan. Setiap jenis Anopheles memiliki kebiasaan yang berbeda-beda untuk memilih habitatnya berdasarkan arus air. Mulyadi (2010) melaporkan di Doro Halmahera Selatan larva Anopheles ditemukan pada perairan yang tidak mengalir dan mengalir lambat. Larva A. farauti ditemukan pada habitat tidak mengalir seperti parit, kobakan, kubangan, kolam, sumur dan kali. Adapun sungai yang

11

mengalir lambat ditemukan larva A. farauti, A. punctulatus, A. vagus dan A. minimus. Sementara itu di Kokap Kabupaten Kulonprogo, DIY larva A. minimus, A. maculatus dan A. balabacensis ditemukan pada habitat parit dan sawah yang mengalair lambat, sedangkan larva A. letifer, A. maculatus dan A. balabacensis pada habitat sawah dan kolam yang tidak mengalir (Santoso 2002). Selanjutnya di Lengkong Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat larva A. nigerrimus dan A. aconitus ditemukan pada habitat kolam yang tidak mengalir (Saleh 2002). Adapun di Battaramulla, Sri Lanka larva A. culicifacies dan A. varuna ditemukan pada habitat parit dan saluran irigasi yang mengalir perlahan (Piyaratne et al. 2005). 2.2.2.5 Luasan Habitat Kepadatan Anopheles dipengaruhi oleh luasan habitat, semakin luas habitat semakin tinggi kepadatan Anopheles. Larva Anopheles dapat berkembang pada habitat dengan luasan kecil maupun besar, mulai dari kobakan yang hanya beberapa cm2, hingga sawah hingga ratusan Ha. Mulyadi (2010) di Doro Halmahera Selatan melaporkan A. faurauti pada habitat kubangan dengan luas 215 m2, kolam dengan luas 20 m2, sumur dengan luar 3-4 m2, kali dengan 15-20 m2. Sementara itu Suwito (2005) melaporkan di Pulau Bangka habitat perkembangbiakan potensial Anopheles spp. adalah sungai dengan luas 4.212 Ha, kolong bekas galian timah seluas 81.056 Ha, sawah seluas 452 Ha, rawa-rawa seluas 158.783 Ha dan mangrove seluas 31.158 Ha. Adapun di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang larva A. sundaicus ditemukan di muara sungai dengan luas kurang lebih 5 m2 (Mardiana et al. 2007). 2.2.2.6 Ketinggian Habitat Ketinggian merupakan salah satu faktor yang menentukan cakupan geografis penularan malaria. Penularan malaria jarang terjadi pada ketinggian di atas 2000 mdpl. Hal ini berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata, semakin tinggi letak geografis semakin dingin suhu udara, sehingga semakin panjang masa inkubasi ekstrinsik. Keberadaan larva Anopheles spp. dipengaruhi oleh ketinggian lokasi. Larva A. sundaicus dan A. subpictus banyak ditemukan pada wilayah dengan ketinggian

12

0-200 mdpl, A. barbirostris dan A. aconitus pada ketinggian 200-500 mdpl, A. maculatus dan A. farauti pada ketinggian 500-1000 mdpl, sedangkan A. balabacencis pada ketinggian di atas 1000 mdpl (Ditjen PP&PL 2010). 2.2.2.7 Kedalaman Air Larva nyamuk ditemukan sebagian besar di tempat yang airnya dangkal. Perairan yang dangkal akan menyebabkan besarnya produktivitas mahluk air dan tumbuhan air, termasuk larva nyamuk. Hal ini dikarenakan pada perairan yang dangkal persediaan oksigen cukup banyak (Suwignyo 1989 dalam Susanna 2005). Di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat larva A. sundaicus ditemukan di muara sungai dengan kedalaman 15 cm, luas kurang lebih 5 m2, salinitas air 10 , dan pH air 8, sedangkan A. vagus dan A. kochi ditemukan di sekitar kobakan yang ditumbuhi tanaman semak belukar dengan kedalaman air 10 cm dan pH 8 (Mardiana et al. 2007). Adapun di Langkap Jaya Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat larva A. barbirostris dan A. aconitus ditemukan pada saluran irigasi dengan tinggi permukaan air antara 5-10 cm (Munif et al. 2007). Sementara itu di Doro Halmahera Selatan larva A. farauti ditemukan pada habitat kobakan dengan kedalaman 5-10 cm, kolam kedalaman 15-30 cm, kali kedalaman 5-20 cm dan rawa-rawa kedalaman 5-20 cm (Mulyadi 2010). 2.2.2.8 Gulma Air Gulma air pada habitat perkembangbiakan sangat berperan terhadap keberadaan larva nyamuk Anopheles. Gulma air dapat berfungsi sebagai tempat menambatkan diri bagi larva nyamuk sewaktu istirahat di permukaan air, tempat berlindung dari arus air dan serangan predator. Tumbuhan air dan ganggang yang membusuk di permukaan air yang menyebar luas dan mendapat sinar matahari langsung sangat membantu perkembangan larva. Hal ini disebabkan oleh mikrofauna dan mikroflora sebagai bahan makanan larva banyak berkumpul di sekitar tumbuhan air yang membusuk (Rao 1981). Lagun dan rawa-rawa yang ditumbuhi rumput air dan lumut di Bangsring Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur merupakan habitat larva A. sundaicus, A. vagus, A. subpictus, A. flavirostris, A. barbirostris, A. annularis dan A.

13

indefinitus, sedangkan rawa-rawa di Panggul Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur merupakan habitat larva A. sundaicus, A. vagus, A. subpictus, A. flavirostris, A. barbirostris, A. maculatus, A. aconitus, A. tesselatus dan A. kochi (Mardiana 2001). Perairan sebagai habitat larva A. farauti di Doro Kabupaten Halmahera Selatan banyak ditemukan ganggang (alga), tanaman permukaan air sejenis Pistia sp. dan tanaman bakau (Mulyadi 2010). Habitat pradewasa nyamuk A. subpictus di Sayong Lombok, NTB adalah tambak dan saluran irigasi, di sekitar tambak yang banyak ditumbuhi oleh algae, lumut dan rumput; sedangkan di Longlongan Lombok, NTB tempat perkembangbiakannya adalah sawah, sungai, kobakan air, saluran irigasi yang banyak ditumbuhi oleh algae dan gulma air yang lain seperti rumput dan eceng gondok (Sukowati 2000). Sementara itu di Kasimbar Kabupaten Parigi-Mouton lagun sebagai habitat A. subpictus terdapat lumut jenis Chladophora sp. dan Entheromorpha sp. (Garjito et al.) 2.2.2.9 Keberadaan Ikan (Predator Larva) Predator memiliki peranan yang penting dalam menyeimbangkan kepadatan larva nyamuk, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengendalian biotik. Ikan merupakan salah satu predator larva. Kepadatan nyamuk di suatu daerah ditentukan oleh keberadaan ikan sebagai predator, misalnya ikan kepala timah (Aplocheilus panchax), ikan gapi (Poecilia reticulata), ikan n ila (Oreochromis nilotica), ikan mujair (O. mozambica), ikan sepat (Trichogaster pectoralis), ikan mas (Cyprinus carpio), ikan gabus (Ophiio striatus), ikan bandeng (Chanos chanos), ikan lele (Claricis batraus). Larva A. farauti di Doro Kabupaten Halmahaera Selatan mempunyai predator ikan kecil, udang, nimfa capung dan berudu (Mulyadi 2010). Ikan mujair dan ikan kepala timah merupakan predator larva Anopheles yang efektif. Mattimu (1989) menyatakan ikan mujair berukuran 2,5 gram dapat memangsa 480 larva A. aconitus per hari tanpa makanan tandingan, sedangkan dengan makanan tandingan Moina sp. dapat memangsa 362 larva, dengan makanan tandingan Chlorella sp. dapat memangsa 164 larva. Sementara itu, Winarno (1989) melaporkan setiap ekor ikan kepala timah yang berukuran berat 1,5 0,5 gr dan panjang 3,5 0,5 cm mampu memangsa 119 larva A. aconitus

14

per hari. Ikan kepala timah mempunyai kemampuan menembus sela-sela rumpun padi yang merupakan mikrohabitat yang disenangi larva Anopheles. 2.3 Kepadatan Populasi Anopheles spp. Nyamuk Anopheles spp. pada umumnya beraktivitas pada malam hari. Kepadatan Anopheles menghisap darah berbeda berdasarkan spesies. Nyamuk A. sundaicus merupakan spesies dominan di daerah pantai Purwodadi Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, hinggap di badan sepanjang malam, dengan puncak aktivitas jam 02.00-03.00 (Sukowati dan Shinta 2009). Sementara itu, di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat puncak aktivitas A. sundaicus di luar rumah jam 01.00-02.00 dan di dalam rumah jam 24.00-01.00 (Mardiana et al. 2007). Di Langkap Jaya Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat A. aconitus mencapai puncaknya jam 01.00-02.00, sedangkan A. barbirostris dan A. maculatus jam 19.00-20.00 (Munif et al. 2007). Di daerah Sukamaju Kota Bandar Lampung Anopheles spp. menghisap darah sepanjang malam dengan puncak aktivitas jam 24.00 di luar rumah dan jam 23.00 di dalam rumah (Rosa et al. 2010). Adapun di Kasimbar Kabupaten Parigi-Mouton, Sulawesi Tengah A. barbirostris menghisap darah sepanjang malam, dengan puncak aktivitas jam 22.00-24.00 di luar rumah dan 23.00-01.00 di dalam rumah, sedangkan di Sidoan puncak aktivitas A. barbirostris jam 02.00-03.00 di luar rumah dan jam 23.0024.00 di dalam rumah, kemudian A. subpictus di Sidoan menghisap darah sepanjang malam, puncak aktivitas jam 21.00-22.00 di luar rumah dan jam 01.0002.00 di dalam rumah (Garjito et al. 2004). Selanjutnya di Pulau Nicobar, India A. sundaicus aktif pada malam hari jam 20.00-03.00 (Dusfour et al. 2004). Kepadatan Anopheles berhubungan dengan peningkatan kasus malaria. Mardiana dan Munif (2009) melaporkan bahwa kepadatan A. aconitus di Purwodadi Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah mempunyai hubungan positif dengan insiden malaria, dengan nilai r2 = 0,491, artinya kasus malaria di Purwodadi 49,1% disebabkan oleh kepadatan Anopheles, selebihnya disebabkan oleh faktor lain di luar kepadatan Anopheles. Sementara itu di wilayah pegunungan Menoreh perbatasan Jawa Tengah dan DIY kepadatan nyamuk

15

Anopheles juga berhubungan bermakna dengan kasus malaria (Achmad et al. 2003). 2.3.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepadatan Populasi Anopheles spp. 2.3.1.1 Suhu Udara Suhu diartikan sebagai kandungan panas pada sebuah zat/benda tertentu. Suhu udara adalah derajat panas udara, yang dinyatakan dalam derajat selsius (oC). Suhu udara dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya sinar mata hari, vegetasi dan polusi udara (Flanningan et al. 2000). Pengamatan di Amurang, Amurang Barat, Amurang Timur, Tumpean, Tareran, Kumelembuai, Motoling, Suluun, Ranoyapo, Maesaan, Tompaso Baru dan Modoinding Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat kuat antara suhu dengan persentase nyamuk Anopheles spp. terinfestasi P. falciparum yang ditangkap di luar rumah ditunjukkan dengan nilai r = 0,736 dan p < 0,05, sedangkan antara suhu dengan persentase nyamuk Anopheles terinfestasi P. falciparum yang ditangkap di dalam rumah ditemukan berkorelasi positif sedang dengan nilai r = 0,427 dan p < 0,05 (Pinontoan 2009). Sementara itu di Mayong Kabupaten Jepara, Jawa Tengah suhu udara berhubungan bermakna dengan kepadatan nyamuk istirahat di dinding (p = 0,03) dan dengan kepadatan nyamuk istirahat di kandang (p = 0,05) (Yunianto 2003). Suhu udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik. Suhu udara yang semakin tinggi (hingga batas tertentu), maka masa inkubasi ekstrinsik akan semakin pendek, sebaliknya semakin rendah suhu semakin panjang masa inkubasi ekstrinsik. Suhu optimum

perkembangbiakan nyamuk adalah 25-27 C, pada suhu terlalu tinggi dapat meningkatkan mortalitas nyamuk (Martens 1997; Epstein et al. 1998). Suhu udara optimum untuk perkembangan Plasmodium di tubuh Anopheles dan proses penularan Plasmodium ke tubuh manusia adalah 20-30 C. Siklus sporogoni (masa inkubasi ekstrinsik) akan tertunda pada suhu kurang 15
o

C bagi

16

Plasmodium vivax, P. malariae, P. ovule, serta suhu kurang 19 C. bagi P. falciparum (Bruce-Chwatt 1985). 2.3.1.2 Kelembaban Udara Kelembaban udara adalah jumlah uap air yang terdapat dalam udara yang dinyatakan dalam persen (%). Kelembaban relatif adalah persentase uap air yang ada di udara saat pengukuran dibandingkan dengan kelembaban udara jenuh pada suhu dan tekanan pada saat yang sama (Suin 1999). Uap air di udara sebagian besar berasal dari penguapan air laut, sehingga kelembaban udara relatif pada daerah pantai lebih tinggi, disebabkan penguapan air laut relatif besar. Kelembaban udara mempengaruhi kelangsungan hidup (survival rate), kebiasaan mencari darah dan istirahat nyamuk. Kelembaban yang rendah akan memperpendek umur nyamuk. Peningkatan kelembaban udara berbanding lurus dengan peningkatan kepadatan nyamuk, artinya semakin tinggi kelembaban udara maka semakin tinggi pula kepadatan nyamuk (Epstein et al. 1998). Kelembaban udara yang lebih tinggi menjadikan metabolisme nyamuk meningkat (Clements 1999), sehingga proses pematangan telur menjadi lebih cepat. Proses pematangan telur membutuhkan darah, menyebabkan nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering menghisap darah. Kelembaban udara di Mayong Kabupaten Jepara, Jawa Tengah berhubungan signifikan dengan kepadatan nyamuk istirahat di dinding (p =0,001) dan kepadatan nyamuk istirahat di kandang (p = 0,015) (Yunianto 2003). Sementara itu di wilayah pegunungan Menoreh perbatasan Jawa Tengah dan DIY kasus malaria berhubungan signifikan dengan suhu udara (p = 0,00) dan kelembaban udara (p = 0,00) (Achmad et al. 2003). 2.3.1.3 Curah Hujan Hujan berperan penting dalam epidemiologi malaria, karena menyediakan media bagi tahap akuatik dari daur hidup nyamuk (Martens 1997). Epstein el at. (1998) melaporkan semakin tinggi curah hujan akan menaikan kepadatan populasi nyamuk, demikian juga sebaliknya rendahnya curah hujan mengurangi kepadatan populasi nyamuk. Hujan yang diselingi oleh panas akan memperbesar kemungkinan berkembangbiaknya Anopheles. Hujan akan menguntungkan bagi

17

perkembangbiakan nyamuk jika tidak terlalu deras, karena jika terlalu deras maka akan membilas telur, larva dan pupa nyamuk. Hujan juga dapat meningkatkan kelembaban relatif, sehingga dapat memperpanjang usia nyamuk. Curah hujan minimum yang dibutuhkan oleh nyamuk untuk berkembang adalah sekitar 1,5 mm per hari (Martens 1997). Curah hujan 150 mm per bulan di Kenya mengakibatkan perkembangan yang pesat dari populasi A. gambiae, vektor malaria di Kenya (Malakooti et al. 1998). Kasus malaria di Kokap Kabupaten Kulonprogo meningkat setelah terjadi peningkatan curah hujan yang tinggi (Suwasono 2000). Hasil pengamatan di Sri Langka selama beberapa tahun relatif kering, saat hujan meningkatkan habitat perkembangbiakan A. culicifacies dan diikuti oleh epidemi malaria yang hebat (Bruce-Chwat 1985). 2.4 Perilaku Nyamuk Anopheles spp.

2.4.1 Perilaku Nyamuk Anopheles spp. Menghisap Darah Nyamuk Anopheles tertarik pada cahaya, warna gelap, manusia serta hewan. Beberapa spesies nyamuk bersifat antropofilik (di sekitar manusia), zoofilik (di sekitar hewan), antropozoofilik (di sekitar manusia dan hewan) dan hidup bebas di alam. Nyamuk betina menghisap darah sebelum bertelur agar reproduksi berlangsung. Beberapa spesies memasuki rumah untuk menghisap darah (endofagik) dan istirahat di dalam rumah (endofilik), sedangkan spesies lain memasuki rumah hanya untuk menghisap darah (endofagik) dan menghabiskan waktu istirahatnya di luar rumah (eksofilik), dan ada yang menghisap darah di luar rumah (eksofagik) dan istirahat di luar rumah (eksofilik). Hasil penelitian di Kenagarian Sungai Pinang Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat nyamuk A. aconitus, A. barbirostris, A. subpictus dan A. sundaicus ditemukan bersifat eksofilik (Adrial et al. 2005). Sementara itu di Lengkong Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat A. aconitus, A. maculatus dan A. barbirostris ditemukan lebih banyak bersifat eksofagik (Munif et al. 2007). Di Mayong Kabupaten Jepara, Jawa Tengah nyamuk Anopheles spp. lebih menyukai darah hewan, antara lain A. maculatus dengan angka human blood index (HBI) 32,4%, A. vagus 8,2% (Barodji dan Suwasono 2001 dalam Mulyadi 2010).

18

2.4.2 Perilaku Nyamuk Anopheles spp. Beristirahat Nyamuk Anopheles spp. pada umumnya dapat beristirahat baik di luar maupun di dalam rumah. Nyamuk A. maculatus dan A. balabacensis di Kokap Kabupaten Kulonprogo bersifat eksofilik, lebih banyak beristirahat pada ketinggian 0-75 cm dari permukaan tanah, di luar rumah lebih banyak beritirahat di semak-semak dan tebing parit (Mahmud 2002). Sementara itu, di Loano Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah A. aconitus beristirahat di dalam rumah dan di luar rumah, di dalam rumah beristirahat di kamar tidur dan ruang tamu, sedangkan di luar rumah banyak beristirahat pada lubang-lubang buatan berjarak 20 m dari rumah, dengan ketinggian 0-75 cm (Riyanti 2002). Di Jawa Tengah A. maculatus ditemukan beristirahat di luar rumah, hinggap pada pohon kopi dan tanaman-tanaman yang hidup di tebing yang curam, demikian juga A. barbirostris beristirahat di luar rumah dan di pohon kopi, pohon nanas dan tanaman lainnya (Boewono dan Ristiyanto 2004 dalam Mulyadi 2010). Adapun di Moshi bagian utara Tanzania A. arabiensis lebih banyak eksofilik sebesar 80,7% dibandingkan A. gambiae sebesar 59,7% dan Culex spp. sebesar 60,8% (Mahande et al. 2007). 2.5 Sistem Informasi Geografis Sistem informasi geografis (SIG) merupakan suatu teknik pemetaan berbasis komputer yang dapat mengumpulkan, menyimpan, menampilkan, mengolah dan mengelola berbagai data spasial dari fenomena geografis (Bretas 1996). Data dasar yang terstruktur dalam SIG sangat memudahkan pengawasan suatu penyakit tertentu dengan menggantikan atau menambahkan data dari suatu penyakit dengan data penyakit lainnya (Verding et al. 1999). SIG dapat digunakan oleh tenaga kesehatan masyarakat dan para profesional termasuk pembuat kebijakan, statistikawan, epidemiolog, dan petugas medis. SIG dalam bidang kesehatan digunakan untuk menentukan sebaran geografis penyakit dan vektor penyakit (Kitron 2008). Global Positioning System (GPS) adalah alat yang digunakan untuk menentukan titik koordinat letak permukaan bumi. GPS dan SIG dapat diaplikasikan untuk menunjukkan lokasi kejadian penyakit, dan menentukannya

19

dalam bentuk kajian risiko wilayah kejadian. Teknologi informasi tersebut sangat menunjang pelaksanaan kegiatan penyelidikan epidemiologi, khususnya

penyelidikan untuk kasus malaria. SIG dimanfaatkan pada bidang kesehatan antara lain untuk memprediksi dinamika populasi nyamuk Anopheles di daerah pantai, memonitor pola transmisi malaria, memprediksi epidemik, dan merencanakan strategi pengendalian. Nyamuk Anopheles di Indonesia sangat beragam baik dari aspek jumlah spesies, sebaran, populasi dan bioekologinya. Setiap spesies mempunyai daerah penyebaran geografi, habitat perkembangbiakan dan ekosistem yang khusus. Distribusi spasial Anopheles dimaksudkan sebagai sebaran berdasarkan tempat atau wilayah geografis yang meliputi komponen topografi, ketinggian tempat (altitude), kemiringan lahan (slope) dan penggunaan lahan (land use) (Risdiyanto et al. 2009).