You are on page 1of 16

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS

(EMBOLI CAIRAN AMNION)

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK III
 JARA AGUSTINA

(04091003007)

 EKA SASMITA SARI

(04091003037)

 ERNA PRATIWI

(04091003045)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2012

Dua puluh lima persen wanita yang menderita keadaan ini meninggal dunia dalam waktu 1 jam. diagnosis yang dibuat adalah shock obstetric. ETIOLOGI 1. Abruption plasenta merupakan peristiwa yang sering di jumpai. Emboli cairan ketuban jarang dijumpai. Cara masuknya cairan ketuban. Dua tempat utama masuknya cairan ketuban kedalam sirkulasi darah maternal adalalah vena endocervical ( yang dapat terobek sekalipun pada persalinan normal )dan daerah utero plasenta. Emboli cairan ketuban ditemukan oleh Meyer pada tahun 1926 dari hasil pemeriksaan postmortem. kejadian ini mendahului atau bersamaan dengan episode emboli. Mereka memperlihatkan bahwa masuknya cairan ketuban dalam jumlah yang cukup banyak secara mendadak ke dalam sirkulasi darah maternal akan membawa kematian (fatal). pendarahan postpartum atau edema pulmoner akut. .Ruputra uteri meningkat kemungkinan masuknya cairan ketuban . Multiparitas dan Usia lebih dari 30 tahun Shock yang dalam yang terjadi secara tiba – tiba tanpa diduga pada wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan persalinan yang sulit . Pada tahun 1947 diuraikan sindrom klinisnya oleh Steiner dan Lusbaugh. tiba-tiba terjadi gangguan pernapasan yang akut dan shock. Kemungkinan banyak kasus tidak terdiagnosis.EMBOLI CAIRAN AMNION (CAIRAN KETUBAN) PENGERTIAN Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah jumlah besar cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal.

Menconium dalam cairan ketuban 5. 3. mungkin sudah meningal dengan meconium dalam cairan ketuban. 2. yang lama kelamaan akan menyumbat aliran darah ke jantung. pada kemungkinan ini ( emboli cairan ketuban ). yang mengakibatkan hipoksia. sehingga kemungkinan besar ketuban akan pecah dan memasuki pembuluh darah ibu. 6. dan hal ini dapat terjadi ketuban pecah dan masuk ke pembuluh darah ibu. dengan pembukaan vena maka cairan ketuban dengan mudah masuk ke pembuluh darah ibu. Janin besar intrauteri Menyebabkan rupture uteri saat persalinan. sehingga cairan ketubanpun dapat masuk melalui pembuluh darah. Kontraksi uterus yang kuat Kontraksi uterus yang sangat kuat dapat memungkinkan terjadinya laserasi atau rupture uteri. . dispue dan akan terjadi gangguan pola pernapasan pada ibu. dengan ini bila tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan iskemik bahkan kematian mendadak. Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi Dengan prosedur operasi tidak jauh dari adanya pembukaan pembuluh darah.Khususnya kalau wanita itu multipara berusia lanjut dengan janin yang amat besar. hal ini juga menggambarkan pembukaan vena. 4. yang nantinya akan menyumbat aliran darah. dan akan menyumbat aliran darah ibu. Kematian janin intrauteri Juga akan menyebabkan perdarahan didalam. sehingga lama kelamaan ibu akan mengalami gangguan pernapasan karena cairan ketuban menyumbat aliran ke paru. harus menimbulkan kecurigaan.

Kondisi ini amat jarang 1 : 8000 – 1:30.FAKTOR RISIKO • Meningkatnya usia ibu • Multiparitas (banyak anak) • Adanya mekoneum • Laserasi serviks • Kematian janin dalam kandungan • Kontraksi yang terlalu kuat • Persalinan singkat • Plasenta akreta • Air Ketuban yang banyak • Robeknya rahim • Adanya riwayat alergi atau atopi pada ibu • Adanya infeksi pada selaput ketuban • Bayi besar EPIDEMIOLOGI Emboli air ketuban adalah salah satu kondisi paling katastropik yang dapat terjadi dalam kehamilan.000 dan samapi saat ini mortalitas maternal dalam waktu 30 menit mencapai angka 85% meskipun telah diadakan .

air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah. . Sehingga menyebabkan aliran darah ke jantung kiri berkurang dan curah jantung menurun akibat iskemia myocardium. Kemungkinan saat persalinan. Selain itu. lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. dan laserasi pada segmen uterus bagian bawah. yaitu pada jantung dan paru-paru. Ini adalah fase perdarahan yang ditandai dengan pendarahan besar dengan rahim atony dan Coagulation Intaravakuler Diseminata ( DIC ). mungkin melalui laserasi pada vena endoservikalis selama diatasi serviks. timbul dua gangguan sekaligus. Masalah koagulasi sekunder mempengaruhi sekitar 40% ibu yang bertahan hidup dalam kejadian awal. selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka.kejadian ini masih tetap merupakan penyebab kematian ke III di negara Berkembang. jika air ketuban tadi dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu dan sumbatan di paru-paru meluas. Walaupun cairan amnion dapat masuk sirkulasi darah tanpa mengakibatkan masalah tapi pada beberapa ibu dapat terjadi respon inflamasi yang mengakibatkan kolaps cepat yang sama dengan syok anafilaksi atau syok sepsis. Pada fase I. Akibat tekanan yang tinggi. sinus vena subplasenta. PATOFISIOLOGI Perjalanan cairan amnion memasuki sirkulasi ibu tidak jelas. Dalam hal ini masih belum jelas cara cairan amnion mencetuskan pembekuan. akibat dari menumpuknya air ketuban di paru-paru terjadi vasospasme arteri koroner dan arteri pulmonalis.perbaikan sarana ICU dan pemahaman mengenai hal – hal ynag dapat menurunkan mortalitas. Kemungkinan terjadi akibat dari embolisme air ketuban atau kontaminasi dengan mekonium atau sel-sel gepeng menginduksi koagulasi intravaskuler. Akibatnya. antara lain karena rasa mulas yang luar biasa. Perempuan yang selamat dari peristiwa ini mungkin memasuki fase II. Mengakibatkan gagal jantung kiri dan gangguan pernafasan.

• Kematian sering terjadi pada emboli cairan amnion yang banyak mengandung debris partikel. karena adanya unsur tromboplastik dalam cairan amnion. Batuk . nyeri dada. • Trombositopenia berat timbul dan khasnya darah sulit membeku bila diberi thrombin atau maksimal membentuk bekuan kecil lalu segera mengalami lisis sempurna. hal ini sekitar 25-50% dapat menyebabkan kematian dalam beberapa jam pertama (kematian mendadak). serta nantinya akan berlanjut ke gagal jantung kanan akut dan hipoksemia. takipnea. bradikardi. Khususnya pendarahan pada traktus genetalis dan daerah yang mengalami trauma. misalnya: cairan amnion. sianosis. • Berlanjut menjadi hilang kesadaran. • Dapat menyebabkan spasme kuat pembuluh kapiler paru lalu terjadi pengurangan cardiac output. • Reaksi anafilaktik mungkin terjadi emboli yang berasal dari fetus merupakan benda asing di dalam tubuh ibu. dengan gejala dispnea. hipertensi. • Pendarahan hebat (HPP) akibat darah sulit membeku.Cepat lambatnya ibu meninggal bergantung pada jumlah cairan ketuban yang masuk ke sirkulasi ibu. • Tekanan darah turun secara signifikan dengan hilangnya diastolik pada saat pengukuran (Hipotensi ) • Dyspnea. edema paru dan syok.TANDA DAN GEJALA Tanda-tanda dan gejala yang menunjukkan kemungkinan emboli cairan ketuban: • Ketika mencapai paru – paru akan menyebabkan penyumbatan kapiler paruparu yang menyebabkan gangguan pada proses respirasi.

• Janin Bradycardia sebagai respon terhadap hipoksia. • Pulmonary edema. Jika penurunan ini berlangsung selama 10 menit atau lebih.• Sianosis perifer dan perubahan pada membran mukosa akibat dari hipoksia. tekanan arteriapulmonalis. . denyut jantung janin dapat turun hingga kurang dari 110 denyut per menit (dpm). • Koagulopati atau pendarahan parah karena tidak adanya penjelasan lain (DIC terjadi di 83% pasien. • Ph kulit kepala menandakan derajat hipoksia. • Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia dan infeksi. cardiac output dan oksigenasi darah. • Rasio lestin terhadap spingomielin (rasio L/S): menentukan maturitas janin. Sebuah tingkat 60 bpm atau kurang lebih 3-5 menit mungkin menunjukkan Bradycardia terminal. • Cek golongan darah dan factor Rh. Kegagalan rahim untuk menjadi perusahaan dengan pijat bimanual diagnostik. Cardiac arrest.) PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK • Penggunaan kateter Swan Ganz intraarterial untuk memudahkan pengukuran tekanan darah dan memperoleh sampel darah serta instrument untuk mencatat tekanan darah sistemik. • Rahim atony: atony uterus biasanya mengakibatkan pendarahan yang berlebihan setelah melahirkan. itu adalah Bradycardia.

fase ini bersifat sementara. PENATALAKSANAAN MEDIS Walaupun pada awal perjalanan klinis emboli cairan amnion terjadi hipertensi sistemik dan pulmonal.• Ultrasonografi : menentukan usia gestasi. gerakan jantung. koreksi defek yang khusus ( atonia uteri . Namun. Tindakan yang menunjang sirkulasi serta pemberian darah dan komponen darah sangat penting dikerjakan. meliputi : resusitasi . • Oksitosin yang di tambahkan ke infus intravena membantu penanganan atonia uteri. • Heparin membantu dalam mencegah defibrinasi intravaskular dengan menghambat proses perbekuan. ventilasi . janin dan lokasi plasenta. pengambilan keputusan yang seperti itu menjadi semakin rumit. ukuran janin. bantuan sirkulasi . Belum ada data yang menyatakan bahwa suatu intervensi yang dapat mempermaiki prognosis ibu pada emboli cairan amnion. defek koagulasi ). • Terapi krusnal . tetapi belum mengalami henti jantung. • Pelvemetri: identifikasi posisi janin. bagi ibu yang hemodinamikanya tidak stabil. • Penggatian cairan intravena & darah diperlukan untuk mengkoreksi hipovolemia & perdarahan . Wanita yang belum melahirkan dan mengalami henti jantung harus dipertimbangkan untuk melakukan tindakan seksio caesaria perimortem darurat sebagai upaya menyelamatkan janin. Wanita yang dapat bertahan hidup setelah menjakani resusitasi jantung paru seyogyanya mendapat terapi yang ditujukan untuk oksigenasi dan membantu miokardium yang mengalami kegagalan. . • Morfin ( 10 mg ) dapat membantu mengurangi dispnea dan ancietas .

.• Amniofilin ( 250 – 500 mg ) melalui IV mungkin berguna bila ada bronkospasme . perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan pembebanan berlebihan dalam sirkulasi darah. dan peningkatan frekuensi dan kekuatan jantung. • Heparin membantu dalam mencegah defibrinasi intravaskuler dengan menghambat proses pembekuan. KOMPLIKASI • Edema paru yang luas dan akhirnya mengakibatkan kegagalan dan payah jantung kanan. • Defek koagulasi harus dikoreksi dengan menggunakan heparin / fibrinogen. • Kortikosteroid secara IV mungkin bermanfaat . • iskemik • Ganguan pembekuan darah . • Darah segar diberikan untuk memerangi kekurangan darah. relaksi otot polos bronkus. • Untuk memperbaiki defek koagulasi dapat digunakan plasma beku segar dan sedian trombosit. • Isoproternol menyebabkan vasodilatasi perifer. • Oksigen diberikan dengan tekanan untuk meningkatkan. • Digitalis berhasiat kalau terdapat kegagalan jantung. Obat ini di berikan perlahan – lahan melalui Iv untuk menyokong tekanan darah sistolik kira – kira 100 mmHg.

1. 2. b. juga mengidentifikasi setiap riwayat alergi atau adanya penyakit yang timbul bersamaan. Keamanan a.khususnya nyeri dada. Menetapkan kapan gejala timbul. d. Gagal jantung kanan akut dan edema paru. Gangguan pernapasan.PENGKAJIAN KEPERAWATAN Pengkajian tehadap kesehatan pasien sangat diperlukan dalam menindaklanjuti suatu intervensi keperawatan kepada pasien. Sirkulasi a. Kehilangan darah normal akibat pendarahan. apa yang dapat menghilangkan atau meringankan gejala tersebut dan apa yang memperburuk gejala adalah bagian dari pengkajian. c. c. Sianosis. Nyeri dan ketidaknyamanan. apa yang menjadi pencetusnya. 3.takipnea. e. Dapat mengalami pecah ketuban spontan tanpa berkontraksi. . b. Dengan adanya pengkajian yang menyeluruh maka intervensi keperawatan kepada pasien akan semakin optimal. Tekanan darah menurun/hipotensi. Makanan cairan a. Bisa terjadi syok. hal ini di awali dengan Menetapkan kapan gejala mulai timbul. Jantung melambat pada respons terhadap curah jantung.

f.b. Risiko tinggi cedera pada ibu yang berhubungan dengan hipoksia jaringan pendarahan dan profil darah abnormal. 3. e. Diagnosa 1: Risiko tinggi cedera pada ibu yang berhubungan dengan hipoksia jaringan pendarahan dan profil darah abnormal. Kriteria hasil : . Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan hipovelemia. d. Peningkatan tekanan intrauterus. c. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2. Peningkatan suhu (infeksi pada adanya pecah ketuban lama). INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Ansietas yang berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada diri sendiri janin transmisi interpersonal. penurunan aliran dari vena. Cairan amnion kehijauan karena ada mekonium. Perluasan episiotomi atau laserasi jalan lahir. Darah berwarna hitam dari vagina b. Peningkatan pendarahan vagina dan tempat yang mengalami trauma pada saat melahirkan. Genetalia a. 4. Merupakan penyebab utama kematian ibu intrapartum..

dan hemolisis. atau nekrosis hipofisis yang di sebabkan oleh hipoksia jaringan b. Pengenalan dan intervensi dini merugikan pada pemberian dapat mencegah situasi yang produk darah seperti alergi mengancam hidup. Berikan O2 dengan ventilasi g. Untuk mengetahui terjadinya pemeriksaan f. Kaji hilang. gagal ginjal. Intervensi Mandiri a. maka kadar fibrinogen harus kurang g. dari 1 (x) mg/dl Untuk mengetahui kebutuhan O2 mekanis jika ibu tidak sadar. jumlah pantau Rasional darah tanda yang a. koagulasi. dan gejala syok. . tepat Pantau diperlukan penggantian darah. • Mempertahankan pengeluaran urine. Pendarahan menetap berlebihan dapat dan mengancam hidup ibu dan mengakibatkan infeksi post-partum. f. serta bau dan warna infeksi atau c. Dapatkan golongan darah dan e. vagina. Periksa petekie Menandakan d. dan malnutrisi. akan tersedia bila proses pembekuan darah. ibu. perubahan pada koagulasi. Kolaborasi e. perbedaan yang atau akan membahayakan janin dan ibu. pendarahan gusi pada ibu Catat suhu.• Menunjukan profil darah dan pemeriksaan koagulasi normal. hitung sel darah d. c. Pantau respons yang b. Memastikan tidak terjadinya putih. Meyakinkan bahwa produk yang pencocokan silang.

penurunan aliran dari vena. Diagnosa 2: Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan hipovelemia. kasus kematian janin atau untuk memblok siklus pembekuan. 2. Tekanan darah dan nadi dapat memberikan b. Memberikan gambaran akurat dari perubahan vascular dan volume cairan. Kolaborasi e. Pantau tekanan darah dan nadi. adekuatnya tahanan jantung perfusi vascular serebal sekunder terhadap penurunan curah jantung. Dapat menunjukan tidak depresi dan bisa tidak sadar. Meningkatkan aliran balik vena dengan posisi miring ke kiri.h. Kriteria hasil : • COP dalam batas normal. d. ginjal/plasenta. Edema paru dapat terjadi pada krekels dan perhatikan frekuensi perubahan pernapasan. kaji b. gambaran dan Kaji tekanan arteri rata-rata. Pantau parameter hemodinamik e. invasive. Peningkatan hemokonsentrasi dan perpindahan cairan . perifer dan penurunan pada Lakukan tirah baring pada ibu c. penurunan curah jantung. curah dan perfusi Kaji perubahan sensori cemas. tekanan ostomik koloid plasma. Berikan heparin bila h. Intervensi Mandiri a. Heparin dapat digunakan pada diindikasikan. d. Rasional a. c.

Periksa nyeri tekan f. partisipasi harga diri. dan pembengkakan. Berikan lingkungan posisikan b. memfokuskan perhatian ibu. Rasional tenang. Menurunnya curah jantung. dukungan meningkatkan dan membantu sesuai kebutuhan. kenyamanan. • Berpartisipasi aktif dalamp proses melahirkan. kedekatan menurunkan dan memberikan bantuan professional. Tetap tinggal dengan ibu. dengan . pucat dan sianosis. c. ibu untuk Menurunkan ketidaknyamanan. menurunkan curah jantung. Intervensi Mandiri a. Membantu mengembangkan berikan informasi yang terus- koping positif dan kerja sama menerus mengenai keadaan ibu menurunkan rasa takut yang jangan ditinggal sendiri. a. mempertahankan keluarga. Memungkinkan tetap bersama ibu memberikan penuh dari orang pendukung. 3. Anjurkan orang terdekat untuk b. kemerahan tirah baring lama local.menurunya nadi pedal. Kriteria hasil: • Menggunakan teknik pernapasan dan teknik relaksasi yang efektif. c. betis. berkenaan ketidaktahuan. bendungan stasis vena. meningkatkan risiko tromboflebitis. Diagnosa 3: Ansiestas yang berhubungan dengan krisis situasi ancaman pada diri sendiri/janin transmisi interpersonal.f. ansiestas.

d. anjuran. sesuai e. . Berikan sedative mengurangi keluarga dan perasaan sedihnya. usahakan menolong keluarga mengurangi keluarga tetap tenang. Dapat membantu memperlambat kemajuan persalinan dan memungkinkan f. Membantu mengerti tentang informasi kecemasan mengenai ibu. Persiapkan emergensi. proses kelahiran f. Kolaborasi e. ibu meningkatkan kontrol. Banyak insiden emboli cairan ketuban ini menyebabkan kematian pada bayi maupun ibu. Bantu keluarga untuk dapat d.

Asuhan Keperawatan Maternitas. (2009).blogspot. Emboli Air Ketuban. Widjanarko. Jakarta:Medica.DAFTAR PUSTAKA Bustaman. http://reproduksiumj. 06 maret 2012.com/2009/09/emboli-air-ketuban. Mitayani.scribd. . Bambang.com/doc/16036788/Emboli-Air-Ketuban. Irsjad. http://www. Emboli Air Ketuban. 06 maret 2012.html.