You are on page 1of 14

Percobaan VII Isolasi Nikotin dari Puntung Rokok I. Tujuan Mempelajari cara isolasi nikotin dari puntung rokok.

II. Landasan Teori Nikotin (1-Metil-2-(3-piridil) pirolidin ; - piridil--N-metilpirolidin ) merupakan alkaloid utama selain nornikotin, anatabin, dan anabasin. Biosintesis nikotin terjadi di akar kemudian ditransloka-sikan ke seluruh jaringan tanaman terutama di daun (Tso, 1990). Analisis kandungan nikotin tembakau antara lain dapat dilakukan dengan metode ekstraksi ether- petroleum ether yang telah disempurnakan. Sedangkan nikotin pada asap dapat dianalisis menggunakan smoking machinechromatography (Hartono, 2011). Nikotin dengan rumus molekul C10 H14 N2 mempunyai berat 162,26 g/mol. Berbentuk cairan seperti minyak, bersifat higroskopis, tidak berwarna hingga berwarna kuning muda, dapat berubah warna menjadi cokelat bila kontak dengan udara dan cahaya. Sebagai senyawa berbahan dasar nitrogen, nikotin dapat membentuk garam dengan asam yang biasanya padat dan bersifat larut dalam air. Nikotin mudah menembus kulit. Nikotin basa bebas akan terbakar pada suhu di bawah titik didihnya (boiling point 247 oC). Karena itu, sebagian besar nikotin terbakar ketika rokok diisap, namun sisanya yang dihirup cukup untuk memberikan efek yang diinginkan (Strecher, 1968).

Gambar 1. Struktur kimia molekul nikotin (Hartono,2011)

Nikotin adalah suatu jenis senyawa kimia yang termasuk ke dalam golongan alkaloid karena mempunyai sifat dan ciri alkaloid. Alkaloid merupakan senyawa yang bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen dan biasanya berupa sistem siklis. Alkaloid mengandung atom karbon, hidrogen, nitrogen dan pada umumnya mengandung oksigen. Senyawa alkaloid merupakan hasil metabolisme dari tumbuhtumbuhan dan digunakan sebagai cadangan bagi sintesis protein. Kegunaan alkaloid bagi tumbuhan adalah sebagai pelindung dari serangan hama, penguat tumbuhan dan pengatur kerja hormon. Nikotin merupakan alkaloid yang dapat digunakan sebagai insektisida. Nikotin pertama kali digunakan sebagai insektisida pada tahun 1763, dan alkaloid murninya diisolasi tahun 1828 oleh Posset dan Reimann, kemudian disintesis tahun 1904 oleh Piclet dan Rotschy. Alkaloid nikotin, nikotinsulfat dan senyawa nikotin lainnya digunakan sebagai racun kontak, fumigasi, dan racun perut. Insektisida ini diperdagangkan sebagai Black Leaf 40R mengandung 40 % nikotin, untuk mengendalikan serangga yang lunak tubuhnya (Baehaki, 1993). Nikotin adalah suatu alkaloid dengan nama kimia 3-(1-metil-2-pirolidil) piridin. Saat diekstraksi dari daun tembakau, nikotin tak berwarna, tetapi segera menjadi coklat ketika bersentuhan dengan udara. Alkaloid diekstrak dengan pelarut tertentu, misalnya dengan etanol, kemudian diuapkan. Ekstrak yang diperoleh diberi asam anorganik untuk menghasilkan garam amonium kuartener kemudian diekstrak kembali.Garam amonium kuartener yang diperoleh direaksikan dengan natrium karbonat sehingga menghasilkan alkaloid alkaloid yang bebas kemudian diekstraksi dengan pelarut tertentu seperti eter dan kloroform. Campuran campuran alkaloid yang diperoleh akhirnya dipisahkan melalui berbagai cara, misalnya metode kromatografi (Tobing, 1989). Kelarutan zat dalam pelarut tergantung dari ikatannya (polar, semipolar, atau non polar). Etanol termasuk ke dalam pelarut polar, sehingga sebagai pelarut etanol diharapkan dapat menarik zat-zat aktif yang juga bersifat polar (Houghton dan Raman, 1998).

Ekstraksi adalah proses untuk mengisolasi senyawa dari suatu tumbuhan. Ragam ekstraksi bergantung pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi pada jenis senyawa yang diisolasi (Harborne, 1987). Ekstraksi amat bergantung pada jenis dan komposisi dari cairan pengekstraksi. Cairan pelarut yang biasanya digunakan dalam proses ekstraksi adalah air, eter, atau campuran etanol air. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol air sebaiknya menggunakan cara maserasi (Farmakope Indonesia, 1979). Prosedur klasik ekstraksi untuk memperoleh kandungan senyawa organik dari jaringan tumbuhan kering (galih, biji kering, akar, daun) ialah dengan menggunakan alat soxlet dengan menggunakan sederetan pelarut secara berganti- ganti, mulai dengan eter, lalu eter minyak bumi, dan kloroform (untuk memisahkan lipid dan terpenoid). Kemudian digunakan alkohol dan etil asetat untuk senyawa yang lebih polar. Ekstrak yang diperoleh kemudian diuapkan dengan penguap putar yang akan menguapkan larutan menjadi volume kecil. (Harborn 1987).

III. Alat dan Bahan 3.1 Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain: 1. Erlenmeyer 100 dan 250 ml 2. Kuvet 3. Gelas ukur 25 ml dan 100 ml 4. Rak tabung reaksi 5. Corong kaca 6. Neraca analitik 7. Pipet Tetes 8. Mesin Shaker 9. Spektronik 20 3.2 Bahan Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain: 1. Puntung rokok 5 buah 2. Etanol 96% 3. Aluminium foil 4. Kertas Saring

IV. Prosedur Kerja 1. Menimbang 5 buah filter dari puntung rokok. Kemudian memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan menambahkan etanol 96% sebanyak 100 ml. 2. Mengocok campuran selama 2 jam dengan menggunakan mesin kocok agitasi 250 rpm, kemudian menyaring dan menampung filtratnya. 3. Mengukur serapan filtrat yang dihasilkan pada panjang gelombang 400 nm sampai 700 nm dan menentukan panjang gelombang maksimum dan minimumnya. 4. Menentukan kadarnya dengan menggunakan persamaan di bawah ini:

Dimana: C A b = Konsentrasi (g/100ml) = Absorbans = Tebal kuvet (0.1 cm)

V.

Hasil dan Pembahasan 5.1 Hasil Pengamatan No. 1. Perlakuan Menimbang 5 buah puntung rokok 2. 0,598 gram puntung rokok + 100 ml etanol 96% + dikocok selama 2 jam 2. Larutan disaring dengan kertas saring 3. Ekstrak diukur serapannya pada panjang gelombang 400 nm sampai 700 nm A400= 0,534 A410= 0,459 A420= 0,461 A430= 0,352 A440= 0,303 A450= 0,271 A460= 0,205 A470= 0,170 A480= 0,145 A490= 0,131 A500= 0,123 A510= 0,095 A520= 0,087 A530= 0,083 A540= 0,073 A550= 0,057 A560= 0,082 A570= 0,068 A580= 0,068 A590= 0,065 A600= 0,029 A610= 0,033 A620= 0,037 A630= 0,030 A640= 0,038 A650= 0,045 A660= 0,042 A670= 0,023 A680= 0,049 A690= 0,025 A700= 0,046 Larutan berwarna kuning tua Hasil Pengamatan Berat 5 buah puntung rokok 0,598 gram Larutan berwarna kuning tua

5.2 Analisa Data Dik : C A b = konsentrasi (g/100 ml) = Absorbansi pada panjang gelombang maksimum = Tebar kuvet 0,1 cm

C pada panjang gelombang dengan absorbansi maksimum A400= 0,534

1,525714286 g/100 ml = 1,5257 g/100 ml

Kurva Hubungan Panjang Gelombang dan Absorbansi Ekstrak Nikotin dari Puntung Rokok
Series1 0.6 0.534 0.5

0.461 0.459

Absorbansi

0.4 0.352 0.303 0.3 0.271

0.205
0.2 0.17 0.145 0.131 0.123 0.1 0.095 0.087 0.083 0.082 0.073 0.068 0.068 0.065 0.057

0.049 0.046 0.045 0.042 0.037 0.03 0.038 0.033 0.029 0.025 0.023

0 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520 530 540 550 560 570 580 590 600 610 620 630 640 650 660 670 680 690 700

Panjang Gelombang (nm)

5.3 Pembahasan Nikotin merupakan senyawa turunan alkaloid yang terdapat pada tembakau. Pada percobaan ini dilakukan isolasi senyawa nikotin dari filter rokok dengan cara ekstraksi. Pada proses ekstraksi ini digunakan pelarut etanol 96%, dikarenakan etanol termasuk ke dalam pelarut polar, sehingga sebagai pelarut, etanol,diharapkan dapat menarik zat-zat aktif yang juga bersifat polar (Houghton dan Raman 1998). Menurut Pandey, et al (2010), etanol memiliki kelebihan dibandingkan dengan air dan metanol. Senyawa kimia yang mampu diekstrak dengan etanol lebih banyak dari pada dengan metanol dan air. Pada proses pengekstraksian ini dilakukan pengocokkan selama 2 jam. Pengocokkan ini bertujuan untuk meningkatkan energi kinetik reaksi sehingga proses ekstraksi dapat berjalan maksimal. Selanjutnya ekstrak disaring untuk memisahkan filtrat dan residu. Filtrat yang didapatkan inilah hasil isolasi nikotin dari puntung rokok. Filtrat yang didapatkan berwarna kuning muda. Hasil ini telah sesuai dengan literatur dimana menurut Strecher (1968), nikotin berbentuk cairan seperti minyak, bersifat higroskopis, tidak berwarna hingga berwarna kuning muda, yang dapat berubah warna menjadi cokelat bila kontak dengan udara dan cahaya. Selanjutnya ekstrak nikotin yang telah didapatkan dianalisis dengan spektronik-20. Spektronik-20 merupakan spektrometer visible yang

susunannya menggunakan satu berkas tunggal (single beam). Analisis dengan metode spektrofotometri merupakan metode yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. Dari hasil analisis ini didapatkan nilai absorbansi maksimum terdapat pada panjang gelombang 400 nm yaitu sebesar 0,534 dengan konsentrasi sebesar 1,5257 g/100 ml. Untuk sampel rokok yang digunakan per batangnya

mengandung 14 mg tar dan 1,0 mg nikotin. Dari hasil ini jelas berbeda dikarenakan pada percobaan ini digunakan 5 buah filter rokok. Menurut Hartono (2011), desain filter bisa bervariasi, misalnya dalam hal perforasi (ventilasi), panjang filter, kepadatan seratnya, kehalusan serat dan jenis bahan yang digunakan. Variasi filter dapat berpengaruh terhadap jumlah filtrasi dan asap yang dihisap. Menurut Keith (1978), salah satu rekayasa desain rokok adalah dengan mendesain filter yang bertujuan untuk mengoptimalkan penyerapan komponen tertentu dari asap rokok terutama tar dan nikotin.

Efisiensi penyerapan tersebut sangat dipengaruh oleh total luas permukaan serat filter. Menurut penelitian yang dilakukan Fidriany (2004), dalam satu buah sampel filter rokok yang dimaserasi dengan asam asetat dan diekstraksi denagan eter didapatkan kadar nikotinnya sebesar 0,37 0,03 mg.

VI. Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Nikotin merupakan senyawa yang termasuk dalam golongan alkaloid yang terdapat pada tembakau. 2. Pada percobaan ini nikotin dari puntung rokok diisolasi dengan metode maserasi. Pelarut yang digunakan adalah pelarut etanol. 3. Nilai absorbansi maksimum terdapat pada panjang gelombang 400 nm yaitu sebesar 0,534 dengan konsentrasi sebesar 1,5257 g/100 ml.

Daftar Pustaka Baehaki.1993. Insektisida Pengendalian Hama Tanaman. Angkasa Bandung. Bandung. Farmakope Indonesia. 1979. Farmakope Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Fidrianny . 2004. Analisis Nikotin dalam Asap dan Filter Rokok. Departemen Farmasi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Teknologi Bandung. Bandung. Harbone, J. B. 1987. Metode Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisis Tanaman Jilid 2. Penerbit ITB. Bandung. Houghton, PJ dan Raman. 1998. Laboratory Handbook For The Fractination of Natural Extracts. Chapman & Hall. London UK.

Hartono. 2011. Teknik Pemangkasan, Panen, Blending dan Desain Rokok Untuk Menurunkan Kadar Nikotin Pada Tembakau dan Rokok. Indonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute.Malang. Pandey, Sanjay. Katiyar. 2010. Determination and Comparison of The Curcuminoid Pigments in Turmeric Genotypes (Curcuma Domestica Val) by Highperformance Liquid Chromatography. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 2 (4) : 125-127. Stahl, E. 1985. Analisa Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Institut Teknologi Bandung. Bandung. Stecher, P.G. 1968. The Merk Indeks, an Encyclopedia Of Chemicals and Drugs. Merk & Co. Inc. N.Y. USA. Tobing, R. 1989. Kimia Bahan Alam. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan. Jakarta. Tso, T.C. 1990. Production, Physiology, and Biochemistry of Tobacco Plant. Ideals, Inc. Beltsville, MD.

Lembar Asistensi
3

Nama Stambuk

: Annisa Setyaningrum : G 301 11 002

Kelompok : V (Lima) Asisten No. : Moh. Sidiq Hari/Tanggal Perbaikan Paraf