You are on page 1of 4

Edema, apa yang perlu diwaspadai ?

Oleh : dr. Muhammad Nur, SpA Edema adalah salah satu tanda penyakit yang sering ditemukan pada pasien-pasien anak. Memahami edema dari pendekatan praktis (anamnesis, pemeriksaan fisis dan didukung pemeriksaan laboratorium sederhana) akan sangat membantu menatalaksana sebagian besar kasus-kasus edema anak di sarana pelayanan primer. Edema didefinisikan sebagai penumpukan cairan interstisial yang berlebihan. Edema dapat terlokalisir (seperti pada inflamasi setempat dan obstruksi) atau generalisata (seluruh tubuh), sehingga cairan interstisial tertimbun hampir semua jaringan tubuh. Pada keadaan lain, penyebab edema selalu berkaitan dengan perubahan kekuatan pada hukum Starling yang mengatur distribusi cairan antara kapiler dan ruangan interstisial. engan demikian, edema dapat disebabkan oleh tekanan osmotik koloid yang menurun, permeabilitas kapiler yang meningkat, atau obstruksi aliran limfatik !ambaran klinis edema pada permukaan tubuh dibedakan atas " #. Edema pitting, bila setelah diberikan tekanan pada permukaan tubuh yang edema, cekungan akibat tekanan menetap bebrapa saat setelah tekanan dilepas $. Edema non pitting, bila penekanan pada bagian permukaan tubuh yang edema tidak menimbulkan cekungan yang menetap setelah tekanan dilepas Edema pitting adalah jenis edema yang sering ditemukan pada penyakit-penyakit sistemik, %anita hamil, penderita gagal jantung ataupun edema lokal pada &arikosis &ena, tromboplebitis, setelah gigitan serangga dan pada dermatitis. Sedangkan edema non pitting ditemukan pada kasus-kasus limphedema, lipedema dan my'edema. (imbulnya edema generalisata menunjukkan adanya gangguan pada regulasi )airan Ekstra Seluler ()ES) yang normal. (iga jenis penyakit yang paling sering menyebabkan terjadinya edema generalisata adalah gagal jantung kongestif, sirosis hati, dan sindrom nefrotik. Masing-masing gangguan ini dicirikan oleh adanya kelainan pada setidaknya salah satu dari daya kapiler Starling serta retensi natrium dan air oleh ginjal. *etensi natrium oleh ginjal yang menyebabkan terjadinya edema terjadi melalui satu atau dua mekanisme dasar" respons terhadap berkurangnya &olume sirkulasi efektif atau disfungsi ginjal primer. Tabel 1 : Penyebab v lume !ES yang berlebihan Mekanisme pengaturan yang berubah - !agal jantung kongestif - Sirosis hati - Sindrom nefrotik !agal ginjal Sindrom )ushing+ terapi kortikosteroid ,elaparan (hipoalbuminemia) -nfus larutan salin intra&ena secara cepat.

edema biasanya terjadi pada tempat dengan tekanan hidrostatik kapiler paling tinggi (daerah yang rendah. )airan kemudian secara perlahan akan kembali mengisi lekukan tersebut. misalnya daerah tungkai atau sakral pada pasien yang berbaring). dan menahan natrium dan air meskipun terjadi penumpukan cairan masif diruangan intestisial. atau pada tempat dengan tekanan interstisial paling rendah (daerah periorbital.elebihan berat 3asil 9aboratorium o Penurunan hematokrit o Protein serum rendah o :a. engan demikian. muka. kuat Melambatnya %aktu pengosongan &ena-&ena tangan (2 4-5 detik) Edema perifer dan periorbita 1sites Efusi pleura Edema paru akut (jka berat) o ispnea. urine rendah (< #= mE>?$@ jam) .olume sirkulasi efektif adalah suatu istilah yang tak dapat terukur yang mengacu cairan intra&askular yang secara efektif berfungsi ke jaringan dan pada umumnya besar &olume ini berbanding lurus secara langsung dengan curah jantung. 0mumnya. Penurunan &olume sirkulasi efektif dianggap sebagai mekanisme yang bertanggung ja%ab atas terjadinya retensi natrium oleh ginjal pada gagal jantung kongestif. timbul lekukan yang akan menetap dalam beberapa saat karena cairan terdorong ke daerah lain+ hal ini disebut sebagai pitting edema. jika curah jantung menurun. Penyebaran edema generalisata terutama diatur oleh gaya gra&itasi yang mempengaruhi tekanan hidrostatik kapiler. 1pabila daerah edema ditekan dengan jari. ginjal bekerja seolah benar-benar terjadi kekurangan &olume cairan )ES. karena dapat saja tertimbun beberapa liter cairan tanpa terlihat jelas adanya edema. takipnea o *onki basah diseluruh lapangan paru Penambahan berat badan secara cepat o Penambahan $6 7 .elebihan ringan o Penambahan 56 7 .. sirosis hati. dan peningkatan reabsopsi diduga merupakan rangsangan sistem saraf simpatis dan sistem renin-angiotensin aldosteron. skrotal). peningkatan berat badan adalah petunjuk terbaik akan adanya kelebihan &olume )ES. fungsi ekskresi ginjal secara intrinsik normal.elebihan sedang o Penambahan 86 7 . #elebihan $ lume !ES% gambaran &linis. engan kata lain. ginjal akan menahan natrium dan air sebagai usaha untuk memulihkan &olume sirkulasi. dan sindrom nefrotik. serum normal o :a. /leh karena itu. Pada semua keadaan ini. Tabel ". istensi &ena jugularis Peningkatan tekanan &ena sentral (2 ## cm 3$/) Peningkatan tekana darah enyut nadi penuh.

sebagaimana juga bisa mendeteksi adanya hipertensi pulmonal. Bila pemeriksaan Echo cardiography dilakukan setelah analisis hasil E. Edema Asime'ris Pada pasien dengan edema perifer asimetris yang tidak menunjukkan penyebab jelas (seperti paska pengangkatan kelenjear limfe operatif ataupun dengan cara radiatif).adar hormon (S3 bisa jadi skreening a%al pada kecurigaan hipothyroid bila anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarah pada penyebab gangguan hormonal ini. seperti pada sindrom nefrotik. penyebab kongesti jantung bisa dibedakan apakah dari gangguan fungsi jantung kiri atau kanan. hiproteinemia akibat penyakit diusus (protein loosing enterophaties) ataupun giAi buruk.adar protein total dan komponen albumin serum dapat mengarahkan pada penyebab rendahnya protein dalam darah. Bila hasil urinalisis dan (C3 normal. 1namnesis kasus bisa membantu membedakan dua kelompok ini. maka dianjurkan untuk melakukan urinalisis dan pemeriksaan kadar kreatinin untuk mendeteksi lepasnya protein dari kerusakan sturktur ginjal yang kemudian dikonfrontir dengan kemungkinan adanya gangguan fungsi sintesis albumin di hati melalui pemeriksaan (es Cungsi 3ati ((C3). . penelusuran dimulai dengan mencari sistim organ mana ditubuh pasien yang terganggu. pemeriksaan kimia darah yang lain (ureum dan kreatinin) dapat dilaksanakan untuk menilai kemungkinan retensi cairan ini sebagai akibat gagal ginjal. mengarahkan kita pada kemungkinan gangguan fungsi usus (protein loosing enterophaties) sebagai penyebab rendahnya kadar albumin darah.D ataupun adanya gambaran abnormal pada pemeriksaan fisik yakni adanya murmur dan ronki. . (es skreening a%al adalah menilai kemungkinan adanya penurunan tekanan onkotik plasma akibat kadar protein serum yang sangat rendah. . Bila tidak terjadi hipoprotenemia yang berat. 0S! oppler bisa mengidentifikasi kemungkinan adanya insuffisiensi atau trombosis &ena proksimal ataupun adanya kompressi &ena lokal (seperti Sindroma May (hurner) Edema (ila'eral Pada pasien-pasien dengan edema bilateral diffus.! dan foto rontgen dada dianjurkan untuk menilai bukti adanya kongesti jantung.adar protein yang rendah juga gambaran umum pada sirosis hepatis Bila ditemukan kadar albumin yang rendah. E. Panel pemeriksaan fungsi hati dapat menilai bukti adanya sirosis hepatis pada pasien dengan edema tungkai ba%ah.! dan *o photo thorak menunjukkan kemungkinan adaya kongesti jantung. khususnya pada peningkatan nilai (. penelusuran penyebab edema difokuskan pada obstruksi &ena-&ena atau saluran limfe proksimal edema. .Pembicaraan kita selanjutnya diarahkan pada bagaimana memanfaatkan data klinis edema untuk memba%a kita pada satu diagnosis penaykit penyebab edema.

D " : (:D " )3C. ataupun !:1 dan Sindrom :efrotik yang bisa berlanjut jadi penyakit ginjal kronis (). Pada sisi lain. P3.(abel 4. penegakan diagnosis penyakit anak dengan gejala edema yang sering membutuhkan rujukan untuk diagnosis lebih lanjut dan terapi juga bisa dilakukan lebih dini untuk mencegah berkembangnya penyakit ini menjadi kerusakan irre&ersibel seperti pada gagal ginjal akut (1.Sirosis 3epatis .(hombosis .Enteropathy .olume c&erload 1lbumin Serum " : -ntoksikasi obat 1ngioedema 3ipotiroid 9imphedema bilateral !:1 1lbumin Serum Proteinuria (..-). .ena 9ympahedema (. ). .3epatika (C3 " : . 1. Pendekatan diagnosis penyakit dengan gejala edema Edema 1simetris ( 0nilateral ) Simetris ( Bilateral ) !gn fungsi &ena May (hurner -nterfisiensi .) S: Proteinuria (-) - (C3 .-.!iAi Buruk Melakukan pendekatan diagnosis praktis pada edema akan memberi kita kesempatan menatalaksana kasus-kasus yang dapat dimulai terapinya di fasilitas pelayanan primer seperti kasus giAi buruk (k%asiorkhor) secara lebih dini dan tidak tertunda E tunda sehingga kita tidak kehilangan kesempatan memaksimalkan tumbuh kembang otak dan fisik pada periode emas tumbuh kembang anak.