You are on page 1of 21

PEMERINTAH PROVINSI D.I.

Y

Gubernur

Wakil Gubernur

Kantor Gubernur

Icon Yogyakarta

VISI
“PEMERINTAH DAERAH YANG KATALISTIK DAN MASYARAKAT MANDIRI YANG BERBASIS KEUNGGULAN DAERAH SERTA SUMBERDAYA MANUSIA YANG BERKUALITAS UNGGUL DAN BERETIKA"

ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO PROVINSI D.I.Y 2010 - 2011
2010 Pertumbuahan Ekonomi D.I.Y (hrg. Konstan)
Inflansi nasional Nilai Tukar Harga Minyak ICP

2011 22,13 trilliun (5,16 %)
5,65 % 8.700 per $ AS $ 119,35 per barel

21,04 trilliun
6,96 % 9.800 per $ AS $ 78,09 per barel

Lifting minyak

$ 85 per barel

$ 85 per barel

SUMBER-SUMBER PENERIMAAN
dalam milyar - 2010
13%

dalam milyar - 2011
13% 37 4 108

(dalam milyar rupiah)
714
592 615,3

2011

2010

35,8 4 59,1 0 200 Dana perimbangan 400

526,6

87% Pendapatan Daerah
Penerimaan Pembiayaan

87% Pendapatan Daerah
Penerimaan Pembiayaan

600

800

Retribusi daerah Lain-lain penerimaan sah

Pajak daerah PAD bukan pajak

KETERANGAN SUMBER-SUMBER PENERIMAAN DAERAN PROVINSI D.I.Y
Tahun Pendapatan Daerah Penerimaan Pembiayaan 2010 Rp 1.241 milyar Rp 192 milyar 2011 Rp 1.419 milyar Rp 192 milyar

Tahun PAD bukan pajak
Lain-lain penerimaan sah Pajak daerah Retribusi Daerah

2010 Rp 59.1 milyar
Rp 4 milyar Rp 526.6 milyar Rp 35.8 milyar

2011 Rp 108 milyar
Rp 4 milyar Rp 555 milyar Rp 37 milyar

Dana Perimbangan

Rp 615.3 milyar

Rp 714 milyar

PERKEMBANGAN PENERIMAAN PERPAJAKAN PROVINSI D.I.Y
Dalam milyar
300 250 200 150 100 50 0 2010 PKB BBN-KB PBB-KB P-ABT 179 260 273

214

100

104

2
2011

0,124

PERKEMBANGAN PDBP
Chart Title
900 800 700 600 500 400 300 200 100 0

4
4 714

615

58 2010 PAD bukan pajak Dana Perimbangan Lain-laian

108
2011

RASIO UTANG TERHADAP PDRB
(dalam milyar)
8 7 6 5

4
3 2 1 0 2008 2009 PDRB Utang 2010 2011

KEBUTUHAN PENGELUARAN
dalam milyar - 2010
3%

dalam milyar - 2011
2% 2011

Dalam milyar
741 849

601 2010 97% Belanja Negara Pengeluaran Pembiayaan 98% 793

Belanja Negara
Pengeluaran Pembiayaan 0 200 400 600 800 1.000

Belanja tidak langsung

Belanja langsung

BELANJA TIDAK LANGSUNG
(milyar rupiah) - 2010
7% 1%

(milyar rupiah) - 2011
8% 1%

25%

45%

25% 52%

12% 10% 0% Belanja Pegawai Belanja Subsidi Belanja Bantuan Sosial Belanja Bantuan Keuangan Belanja Bunga Belanja Hibah Belanja Bagi Hsl Belanja Tak Terduga Belanja Pegawai

13%

1% 0% Belanja Bunga

Belanja Subsidi
Belanja Bantuan Sosial Belanja Bantuan Keuangan

Belanja Hibah
Belanja Bagi Hsl Belanja Tak Terduga

BELANJA TIDAK LANGSUNG
Tahun
Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Rp 79 milyar

2010
Rp 357 milyar Rp 19 milyar -

2011 Rp 443 milyar

Rp 7 milyar
Rp 105 milyar Rp 215 milyar Rp 67 milyar Rp 10 milyar

Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bagi Hsl Belanja Tak Terduga

Rp 94 milyar
Rp 195 milyar Rp 6 milyar

Belanja Bantuan Keuangan Rp 60 milyar

KEBIJAKAN BELANJA LANGSUNG

BELANJA PEGAWAI

PENYEDIAAN GAJI POKOK DAN TUNJANGAN PNS DAERAH BERPEDOMAN PADA PP 66/2005 TENTANG PERUBAHAN KETUJUH ATAS PP 7/1977 TENTANG PERATURAN GAJI PEGAWAI NEGERI SIPIL

MEMPERHITUNGKAN ADANYA TUNJANGAN KETIGA BELAS PNSD DAN CPNSD SERTA "ACCRES' GAJI DG NILAI PALING TINGGI SEBESAR 1%

BANTUAN SOSIAL

DALAM RANGKA UTK MENINGKATKAN KUALITAS KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT, DAPAT DIANGGARKAN BANTUAN SOSIAL KEPADA KELOMPOK/ANGGOTA MASYARAKAT.


PEMBERIAN BANTUAN DAPAT DALAM BENTUK UANG DAN/ATAU BARANG
PEMBERIAN BANTUAN SOSIAL DILAKUKAN SECARA SELEKTIF, JUMLAHNYA DIBATASI, TIDAK MENGIKAT DAN MEMILIKI KEJELASAN PERUNTUKAN PENGGUNAANNYA.

BELANJA BAGI HASIL

DIGUNAKAN UNTUK MENGANGGARKAN DANA BAGI HASIL YANG BERSUMBER DARI PENDAPATAN PROVINSI KEPADA KABUPATEN/KOTA DAN PEMERINTAH DESA. MERUPAKAN PEMBAGIAN HASIL/REALISASI PENDAPATAN DARI PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH.

LANJUTAN (BELANJA TIDAK LANGSUNG)

BANTUAN KEUANGAN

DIGUNAKAN UNTUK MENGANGGARKAN BANTUAN KEUANGAN YANG BERSIFAT UMUM ATAU KHUSUS DARI PEMERINTAH PROVINSI KEPADA KABUPATEN/KOTA DAN PEMERINTAH DESA. BELANJA BANTUAN KEUANGAN YANG BERSIFAT UMUM DIBERIKAN DALAM RANGKA PENINGKATAN KEMAMPUAN KEUANGAN BAGI KABUPATEN/KOTA DAN ATAU DESA PENERIMA BANTUAN. BANTUAN KEUANGAN YANG BERSIFAT KHUSUS DIANGGARKAN DALAM RANGKA UNTUK MEMBANTU CAPAIAN PROGRAM/KEGIATAN PRIORITAS YANG DILAKSANAKAN SESUAI URUSAN YANG MENJADI KEWENANGAN KABUPATEN/KOTA ATAU DALAM RANGKA AKSELERASI PEMBANGUNAN DESA.

BELANJA TIDAK TERDUGA

BELANJA TIDAK TERDUGA DITETAPKAN SECARA RASIONAL DENGAN MEMPERTIMBANGKAN REALISASI TAHUN ANGGARAN SEBELUMNYA DAN PERKIRAAN KEGIATAN-KEGIATAN YANG SIFATNYA TIDAK DAPAT DIPREDIKSI, DILUAR KENDALI DAN PENGARUH PEMERINTAH DAERAH, SERTA SIFATNYA TIDAK BIASA/TANGGAP, YANG TIDAK DIHARAPKAN BERULANG DAN BELUM TERTAMPUNG DALAM BENTUK PROGRAM/KEGIATAN

BELANJA LANGSUNG
(dalam milyar) -2010
22%
15%

(dalam milyar) -2010
20%

12%

63%
Belanja Pegawai Belanja Modal Belanja Barang Jasa Belanja Pegawai Belanja Modal

68% Belanja Barang Jasa

BELANJA LANGSUNG
Tahun Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal

2010 Rp 91.3 milyar
Rp 378.2 milyar Rp 131.6 milyar

2011 Rp 90 milyar
Rp 501 milyar Rp 150 milyar

LANJUTAN (BELANJA LANGSUNG)
• DALAM RANGKA PENCAPAIAN TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN MAKA ARAH DAN KEBIJAKAN PENDANAAN PEMBANGUNAN DI TUNTUT LEBIH TRANSPARAN, AKUNTABEL DAN BERORIENTASI PADA KINERJA.

BELANJA DIGUNAKAN UNTUK MELINDUNGI DAN MENINGKATKAN KUALITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MEMENUHI KEWAJIBAN DAERAH YANG DIWUJUDKAN DALAM BENTUK PENINGKATAN PELAYANAN DASAR, PENDIDIKAN, KESEHATAN, FASILITAS SOSIAL DAN FASILITAS UMUM YANG LAYAK SERTA MENGEMBANGKAN SISTEM JAMINAN SOSIAL.

• BELANJA DAERAH DISUSUN BERDASARKAN PENDEKATAN PRESTASI KERJA YANG BERORIENTASI PADA PENCAPAIAN HASIL DARI INPUT YANG DIRENCANAKAN. HAL TERSEBUT BERTUJUAN UNTUK MENINGKATKAN AKUNTABILITAS PERENCANAAN ANGGARAN SERTA MEMPERJELAS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENGGUNAAN ANGGARAN. • PENYUSUNAN BELANJA DAERAH DIPRIORITASKAN UNTUK MENUNJANG EFEKTIVITAS PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DALAM RANGKA MELAKSANAKAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH YANG MENJADI TANGGUNG JAWABNYA. • PENINGKATAN ALOKASI ANGGARAN BELANJA YANG DIRENCANAKAN OLEH SETIAP SKPD HARUS TERUKUR YANG DIIKUTI DENGAN PENINGKATAN KINERJA PELAYANAN DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT.

KEBIJAKAN BELANJA SECARA UMUM

• •
PRIORITAS KEWENANGAN PROVINSI YANG TERDIRI DARI URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN.
BELANJA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DIGUNAKAN UNTUK MELINDUNGI DAN MENINGKATKAN KUALITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MEMENUHI KEWAJIBAN DAERAH YANG DIWUJUDKAN DALAM BENTUK PENINGKATAN PELAYANAN DASAR, PENDIDIKAN, KESEHATAN, FASILITAS SOSIAL DAN FASILITAS UMUM YANG LAYAK SERTA MENGEMBANGKAN SISTEM JAMINAN SOSIAL. BELANJA DAERAH DISUSUN BERDASARKAN PENDEKATAN PRESTASI KERJA BERORIENTASI PADA PENCAPAIAN HASIL DARI INPUT YANG DIRENCANAKAN YANG

PENYUSUNAN BELANJA DAERAH DIPRIORITASKAN UNTUK MENUNJANG EFEKTIVITAS PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DALAM RANGKA MELAKSANAKAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH YANG MENJADI TANGGUNG JAWABNYA

LANJUTAN (KEBIJAKAN BELANJA SECARA UMUM)
• •
MENINGKATKAN KUALITAS ANGGARAN BELANJA DAERAH MELALUI POLA PENGANGGARAN YANG BERBASIS KINERJA DENGAN PENDEKATAN TEMATIK PEMBANGUNAN YANG DISERTAI SISTEM PELAPORAN YANG MAKIN AKUNTABEL MENGALOKASIKAN KEBUTUHAN BELANJA SECARA TERUKUR DAN TERARAH, YAITU:

• •

PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR DALAM MENJAMIN KEBERLANGSUNGAN OPERASIONAL KANTOR (BIAYA ATK, LISTRIK, TELEPON, AIR BERSIH, INTERNET, DAN OPERASIONAL KENDARAAN);

PENGALOKASIAN KEBUTUHAN BELANJA KEGIATAN YANG BERSIFAT RUTIN SEBAGAI PELAKSANAAN TUPOKSI, YANG MELIPUTI KEGIATAN KOORDINASI, FASILITASI, KONSULTASI, PENGENDALIAN & EVALUASI, DAN PERENCANAAN; PENGALOKASIAN KEBUTUHAN BELANJA KEGIATAN YANG MENDUKUNG PROGRAMPROGRAM PEMBANGUNAN YANG MENJADI PRIORITAS, PROGRAM DAN KEGIATAN YANG TELAH MENJADI KOMITMEN PEMERINTAH PROVINSI DIY, DAN KEGIATAN MULTI YEARS YANG DIPRIORITASKAN UNTUK DILAKSANAKAN PADA TA 2013.

LANJUTAN (KEBIJAKAN BELANJA SECARA UMUM)
• MENGALOKASIKAN • PENINGKATAN

BELANJA TIDAK LANGSUNG YANG MELIPUTI GAJI DAN TUNJANGAN PNS, BELANJA HIBAH, BELANJA SOSIAL, BELANJA BAGI HASIL KAB/KOTA, BELANJA BANTUAN SOSIAL DENGAN PRINSIP PROPORSIONAL, PEMERATAAN, DAN PENYEIMBANG, SERTA BELANJA TIDAK TERDUGA YANG DIGUNAKAN UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA. EFEKTIVITAS BELANJA BANTUAN KEUANGAN DAN BAGI HASIL KEPADA KABUPATEN/KOTA DENGAN POLA :

• ALOKASI

ALOKASI YANG BERSIFAT BLOCK GRANT DARI POS BAGI HASIL SECARA PROPORSIONAL, GUNA MEMPERKUAT KAPASITAS FISKAL KABUPATEN/KOTA DALAM MELAKSANAKAN OTONOMI DAERAH DAN;

YANG BERSIFAT SPESIFIC GRANT DARI POS BANTUAN KEUANGAN KEPADA KABUPATEN/KOTA/DESA YANG DIARAHKAN DALAM RANGKA MENDUKUNG AGENDA AKSELERASI PENCAPAIAN VISI PROVINSI DIY

ANALISIS APBD PROVINSI D.I.Y
FITRIA NUR ANGGRAENI

71114112094

PRINSIP-PRINSIP PENGANGGARAN
SEMUA PENERIMAAN BAIK DALAM BENTUK UANG, MAUPUN BARANG DAN/ATAU JASA DIANGGARKAN DALAM APBD SELURUH PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DIANGGARKAN SECARA BRUTO JUMLAH PENDAPATAN MERUPAKAN PERKIRAAN TERUKUR DAN DPT DICAPAI SERTA BERDASARKAN KETENTUAN PER-UU-AN PENGANGGARAN PENGELUARAN HARUS DIDUKUNG DENGAN ADANYA KEPASTIAN TERSEDIANYA PENERIMAAN DALAM JUMLAH CUKUP DAN HARUS DIDUKUNG DENGAN DASAR HUKUM YANG MELANDASINYA