You are on page 1of 9

RANGKUMAN MATA KULIAH AUDIT KEUANGAN NEGARA ‘’ Kode Etik Auditor Keuangan Negara ”

DISUSUN OLEH :  FADHILLAH ASRI  BADAI TRI DHARMAWAN  RIZKI DARMAWAN ( 1102120964 ) ( 1102120919 ) ( 1102136429 )

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU

2013
o PENGERTIAN DAN TUJUAN KODE ETIK 1. Pengertian Etik dan Kode Etik Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, mendefinisikan etik sebagai : a. b. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat sedangkan etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Kode etik pada prinsipnya merupakan sistem dari prinsip-prinsip moral yang diberlakukan dalam suatu kelompok profesi yang ditetapkan secara bersama. Kode etik suatu profesi merupakan ketentuan perilaku yang harus dipatuhi oleh setiap mereka yang menjalankan tugas profesi tersebut, seperti dokter, pengacara, polisi, akuntan, penilai, dan profesi lainnya. 2. Dilema Etika dan Solusinya Terdapat dua faktor utama yang mungkin menyebabkan orang berperilaku tidak etis, yakni: a. Standar etika orang tersebut berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Misalnya, seseorang menemukan dompet berisi uang di bandar udara (bandara). Dia mengambil isinya dan membuang dompet tersebut di tempat terbuka. Pada kesempatan berikutnya, pada saat bertemu dengan keluarga dan teman-temannya, yang bersangkutan dengan bangga bercerita bahwa dia telah menemukan dompet dan mengambil isinya. b. Orang tersebut secara sengaja bertindak tidak etis untuk keuntungan diri sendiri. Misalnya, seperti contoh di atas, seseorang menemukan dompet berisi uang di bandara. Dia mengambil isinya dan membuang dompet tersebut di tempat tersembunyi dan merahasiakan kejadian tersebut.

Dorongan orang untuk berbuat tidak etis mungkin diperkuat oleh rasionalisasi yang dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan berdasarkan pengamatan dan pengetahuannya. Rasionalisasi tersebut mencakup tiga hal sebagai berikut: a. Setiap orang juga melakukan hal (tidak etis) yang sama. Misalnya, orang mungkin berargumen bahwa tindakan memalsukan perhitungan pajak, menyontek dalam ujian, atau menjual barang yang cacat tanpa memberitahukan kepada pembelinya bukan perbuatan yang tidak etis karena yang bersangkutan berpendapat bahwa orang lain pun melakukan tindakan yang sama. b. Jika sesuatu perbuatan tidak melanggar hukum berarti perbuatan tersebut tidak melanggar etika. Argumen tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa hukum yang sempurna harus sepenuhnya dilandaskan pada etika. Misalnya, seseorang yang menemukan barang hilang tidak wajib mengembalikannya kecuali jika pemiliknya dapat membuktikan bahwa barang yang ditemukannya tersebut benar-benar milik orang yang kehilangan tersebut. c. Kemungkinan bahwa tindakan tidak etisnya akan diketahui orang lain serta sanksi yang harus ditanggung jika perbuatan tidak etis tersebut diketahui orang lain tidak signifikan. Misalnya penjual yang secara tidak sengaja terlalu besar menulis harga barang mungkin tidak akan dengan kesadaran mengoreksinya jika jumlah tersebut sudah dibayar oleh pembelinya. Dia mungkin akan memutus kan untuk lebih baik menunggu pembeli protes untuk mengoreksinya, sedangkan jika pembeli tidak menyadari dan tidak protes maka penjual tidak perlu memberitahu. Saat ini, telah dikembangkan rangka pemikiran untuk membantu setiap orang memecahkan dilema etika. Dalam rangka tersebut dikenal sebagai the six-step approach, yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut: a. Identifikasikan kejadiannya. b. Identifikasikan masalah etika berkaitan dengan kejadian tersebut. c. Tetapkan siapa saja yang akan terpengaruh serta tetapkan apa konsekuensi yang akan diterima/ditanggungnya berkaitan dengan kejadian tersebut. d. Identifikasikan alternatif-alternatif tindakan yang dapat ditempuh pihak yang terkait dengan dilema tersebut. e. Identifikasikan kons ekuensi dari tiap-tiap alternatif tersebut. f. Tetapkan tindakan yang tepat berdasarkan pertimbangan tentang nilai-nilai etika yang dimiliki dan konsekuensi serta kesanggupan menanggung

konsekuensi atas pilihan tindakannya. Pilihan tindakan tersebut sifatnya sangat individual sehingga sangat tergantung pada nilai etika yang dimiliki oleh yang bersangkutan tindakannya. Langkah tersebut akan mengarah pada ketidakseragaman perilaku karena nilai yang diyakini oleh masing-masing individu mungkin berbeda. Oleh karena itu, untuk tercapainya keseragaman ukuran perilaku, apakah suatu tindakan etis atau tidak etis, maka kode etik perlu ditetapkan bersama oleh seluruh anggota profesi. 3. Perlunya Kode Etik bagi Profesi Tanpa kode etik, maka setiap individu dalam satu komunitas akan memiliki tingkah laku yang berbeda-beda yang dinilai baik menurut anggapannya dalam berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Kepercayaan masyarakat dan pemerintah atas hasil kerja auditor ditentukan oleh keahlian, independensi serta integritas moral/kejujuran para auditor dalam menjalankan pekerjaannya. Kode etik atau aturan perilaku dibuat untuk dipedomani dalam berperilaku atau melaksanakan penugasan sehingga menumbuhkan kepercayaan dan memelihara citra organisasi di mata masyarakat. o PENGERTIAN DAN TUJUAN STANDAR AUDIT Standar antara lain diperlukan sebagai: 1. Ukuran mutu; 2. Pedoman kerja; 3. Batas tanggung jawab; 4. Alat pemberi perintah; 5. Alat pengawasan; 6. Kemudahan bagi umum. Standar yang digunakan sebagai ukuran pada umumnyadiperlukan pada pekerjaan yang memiliki ciri: 1. 2. Menyangkut kepentingan orang banyak; Mutu hasilnya ditentukan; serta kesanggupannya menanggung akibat dari pilihan

3. 4. 5.

Banyak orang (pekerja) terlibat; Sifat dan mutu pekerjaan s ama; Ada organisasi yang mengatur. Standar audit merupakan ukuran mutu pekerjaan audit yang ditetapkan oleh

organisasi profesi audit, yang merupakan persyaratan minimum yang harus dicapai auditor dalam melaksanakan tugas auditnya. Standar audit diperlukan untuk menjaga mutu pekerjaan auditor.

o KODE ETIK, STANDAR AUDIT DAN PROGRAM JAMINAN KUALITAS Dasar pikiran yang melandasi penyusunan kode etik dan standar setiap profesi adalah kebutuhan profesi tersebut akan kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa yang diberikan oleh profesi. Aturan yang ditetapkan oleh profesi ini menyangk ut aturan perilaku, yang disebut dengan kode etik, yang mengatur perilaku auditor sesuai dengan tuntutan profesi dan organisasi pengawasan serta standar audit yang merupakan ukuran mutu minimal yang harus dicapai auditor dalam menjalankan tugas auditnya. Apabila aturan ini tidak dipenuhi berarti auditor tersebut bekerja di bawah standar dan dapat dianggap melakukan malpraktik. Program jaminan kualitas harus diciptakan untuk mempertahankan profesionalisme dan kepercayaan dibangun sendiri sesuai dengan karakteristik APIP yang bersangkutan. o KODE ETIK DAN STANDAR AUDIT APIP Auditor APIP adalah pegawai negeri yang mendapat tugas antara lain untuk melakukan audit. Auditor APIP meliputi : 1. 2. 3. 4. Auditor lingkungan BPKP Inspektorat Jenderal Departemen Unit Pengawasan LPND Inspektorat Propinsi, Kabupaten, dan Kota. Dalam menjalankan tugas auditnya wajib mentaati kode etik APIP yang berkaitan dengan statusnya sebagai pegawai negeri dan standar audiot APIP sebagaimana diatur masyarakat terhadap mutu jasa audit. Program jaminan kualitas untuk masing-masing APIP dapat

dalam peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. PER/M. PAN/03/2008 M. PAN/03/2008 dan No. PER/05/M. PAN/03/2008 Tanggal 31 Maret 2008. Disisi lain terdapat pula auditor pemerintah khususnya auditor BPKP adalah akuntan anggota IAI yang dalam keadaan tertentu melakukan audit atas entitas yang menerbitkan laporan keuangan yang disusun berdasar PABU (BUMN/BUMD) sebagaimana diatur dalam PSAK. Karena itu auditor pemerintah tersebut wajib mengetahui dan mentaati kode etik akuntan Indonesia dan standar audit yang diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik yang ditetapkan oleh IAI.

o PENERIMAAN PENUGASAN DAN PERENCANAAN AUDIT Tahapan Kegiatan Dalam Audit Laporan Keuangan Dalam setiap kegiatan audit baik audit pada perusahaan besar maupun pada perusahaan kecil, selalu memiliki empat tahap kegiatan, yakni: 1) Penerimaan Penugasan audit, 2) Perencanaan Audit, 3) Pelaksanaan pengujian audit, 4) Pelaporan temuan.  PENERIMAAN PENUGASAN AUDIT Dalam profesi akuntan publik, terjadi persaingan yang cukup ketat antar kantor akuntan publik untuk mendapatkan klien. Klien disini merupakan klien baru maupun klien lama( yang sudah ada)yang diharapkan akan melanjutkan memberikan penugasan audit pada tahun berikutnya. Pergantian auditor bisa terjadi karena berbagai alasan, yaitu: a) Klien merupakan hasil merger antara beberapa perusahaan yang semula memiliki auditor masing-masing yang berbeda, b) Ada kebutuhan untuk mendapat perluasan jasa profesional, c) Tidak puas terhadap kantor akuntan publik yang lama, d) Ingin mencari auditor dengan honorarium audit yang lebih murah, e) Penggabungkan antara beberapa kantor akuntan publik.

I. Evaluasi Atas Integritas Manajemen Tujuan pokok suatu audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan suatu pendapat tentang laporan keuangan klien. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa auditor hanya akan menerima penugasan apabila terdapat jaminan yang memadai bahwa manajemen klien bisa dipercaya. II. Komunikasi Dengan Auditor Pendahulu Bagi klien yang pernah diaudit oleh auditor lain, pengetahuan tentang manajemen klien yang dimiliki oleh auditor pendahulu merupakan informasi penting bagi auditor pengganti. III. Mengajukan Pertanyaan Pada Pihak Ketiga Informasi tentang integritas manajemen dapat pula diperoleh dari orang-orang yang mengenal klien, seperti; penasehat hukum klien,bankir, dan pihak-pihak lain dalam lingkungan bisnis dan keuangan yang memiliki hubungan bisnis dengan calon klien. IV. Mereview Pengalaman Masa Lalu Dengan Klien Sebelum mengambil keputusan untuk melanjutkan penugasan dengan klien audit, auditor harus mempertimbangkan secara cermat pengalaman berhubungan kerja dengan manajemen klien di waktu yang lalu. V. Mengidentifikasi Keadaan Khusus Dan Resiko Tidak Biasa Yaitu berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut: a. Mengidentifikasi Pemakai Laporan Keuangan Audit,

b. Memperkirakan Adanya Persoalan Hukum dan Stabilitas Keuangan Klien, c. Mengevaluasi Auditabilitas Perusahaan Klien, d. Mengembangkan Ekspektasi atau Harapan, e. Melakukan Perhitungan atau Perbandingan, f. Analisis Data dan Identifikasi Perbedaan Signifikan, g. Menyelidiki Selisih Tak Diharapkan yang Signifikan, h. Menentukan Pengaruh atas Perencanaan Audit  PERENCANAAN AUDIT Standar pertama dari GAAS(General Accepted Auditing Standard)-di Indonesia SPAP untuk audit lapangan adalah perencanaan yang memadai. Berikut adalah tiga alasan utama mengapa seorang auditor harus mempersiapkan rencana kontrak kerja yang tepat sehingga Auditor dapat memperoleh cukup bukti kompeten untuk kondisi yang ada, Membantu menjaga agar biaya audit yang dikeluarkan tetap wajar, Serta menghindari kesalahpahaman dengan klien.

I. Perencanaan Audit Awal Perencanaan audit awal melibatkan empat hal, yang semuanya harus dilakukan terlebih dahulu dalam audit. Keempatnya adalah sebagai berikut: 1) Auditor haerus memutuskan apakah akan menerima seorang klien baru atau melanjutkan pelayanan untuk klien yang telah ada sekarang, 2) Auditor harus mengidentifikasi mengapa klien menginginkan atau membutuhkan audit, informasi ini akan mempengaruhi bagian lain dari proses perencanaan, 3) Auditor memperoleh pemahaman klien tentang cara-cara penugasan untuk menghindari kesalahpahaman. 4) Dipilihnya staf untuk penugasan, termasuk bila dibutuhkannya spesialis audit. II. Merancang Pendekatan Audit

Tahap-tahap : Menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal, Memahami bisnis dan industri klien, Menilai resiko bisnis klien, Menetapkan meterialitas, dan menilai resiko akseptabilitas audit serta resiko inhern,  PELAKSANAAN PENGUJIAN AUDIT Tahap ketiga dalam suatu laporan keuangan adalah melaksanakan pengujian audit. Tahap ini sering disebut juga sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan.  PELAPORAN TEMUAN Tahap terakhir dari suatu audit adalah laporan temuan. Pada tahap ini harus dilaksanakan standar umum dan standar pelaporan dari standar auditing. Memahami pengendalian intern, dan menilai resiko pengendalian, Menyusun seluruh rencana serta program audit.