Ramadhan dan Tauhid

*

ِ‫إِ ّ اْلحَمْدَ لِ نَحْمَ ُ ُ، وَ نَسْتَعِيُ ُ، وَ نَسْتَغْفِ ُ ُ، وَ نَ ُو ُ بِالِ مِنْ ُ ُورِ أَنْ ُسِنَا، وَ مِنْ سَّئَات‬ ‫ي‬ ‫شر ف‬ ‫ره ع ذ‬ ‫نه‬ ‫ده‬ ‫ن‬ َ‫أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ا ُ فَلَ ُضِ ّ لَ ُ، وَ مَنْ ُضِْللْ فَلَ هَادِيَ لَ ُ، وَ أَشْهَ ُ أَنْ لَ إِلَهَ إِلَ ا ُ، و‬ ‫ل‬ ‫د‬ ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ل م ل ه‬ ‫د ن م م ده س له‬ ُ ُ‫أَشْهَ ُ أَ ّ ُحَ ّدًا عَبْ ُ ُ وَ رَ ُو‬ (َ‫قَالَ تَعَالَى: )يَا أَّهَا اّذِينَ آمَُوا اّقُوا الَ حَ ّ ُقَاتِهِ وَ لَ تَ ُوُ ّ إِ ّ وَ أَنُْمْ ُسْلِ ُون‬ ‫م تن ل ت م م‬ ‫قت‬ ‫ن ت‬ ‫ي ل‬ َ‫وَ قَالَ أَيْضًا: )يَا أَّهَا الّ ُ اّ ُوا رَّ ُمُ اّذِي خلَقَ ُمْ ِن ّفْسٍ ّحِدَةٍ وّ خََلقَ مِنْهَا زَوْجَهَا و‬ ‫َ ك م ن و‬ ‫ي نس تق بك ل‬ ْ‫بَ ّ مِنْ ُمَا رِجَالً كَثِيًا ّ نِسَاءً ّ اّ ُوا الَ اّذِي تَسَآءَُونَ بِهِ وَ الْأَرْحَامَ إِ ّ الَ كَانَ عَلَيْ ُم‬ ‫ك‬ ‫ن‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫و تق‬ ‫و‬ ‫ث ه‬ (‫رَقِيبًا‬ َ‫وَ قَلَ ج ّ جلَ لَ ُ: ) يَا أَّهَا اّذِينَ آمَُوا اّ ُوا الَ وَ ُوُوا قَوْلً سَدِيدًا ّصِْلحْ لَ ُمْ أَعْمَالَكُمْ و‬ ‫ك‬ ‫ي‬ ‫قل‬ ‫ن تق‬ ‫ي ل‬ ‫َل َ ه‬ (‫يَغْفِرْ لَكُمْ ُُوبَ ُمْ وَ مَنْ ّطِعِ الَ وَ رَ ُوْلَ ُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا‬ ‫س ه‬ ‫ي‬ ‫ذن ك‬ َ‫أَ ّا بَعْ ُ: فَإِ ّ َأحْسَنَ الْكَلَمِ كَلَمُ الِ، وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْ ُ ُحَ ّدٍ صَّى الُ عَلَيْهِ وَ سَّمَ، و‬ ‫ل‬ ‫يم م ل‬ ‫م د ن‬ ِ‫ّ ّ ْا ُمُوْرِ ُحْدَثَاُهَا، وَ ُ ّ ُحْدَثَتٍ بِدْعَ ٌ، وَ ُ ّ بِدْعَةٍ ضَلَلَ ٌ، وَ ُ ّ ضَلَلَةٍ فِى الّار‬ ‫ن‬ ‫ة كل‬ ‫ة كل‬ ‫كل م‬ ‫شر ل م ت‬
Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Dari mimbar Jum'at ini kembali khatib mewasiatkan kepada jama'ah sekalian dan diri kami sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah . Terlebih lagi di bulan Ramadhan ini, yang telah disediakan oleh Allah  sebagai sarana untuk menempa diri kita menjadi insan-insan bertakwa. Sebagaimana firman Allah ,

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183)

ْ ‫ياأ َُّيا الين ءامنُوا كُتب عليكم الصيام كما كُتب عل الين من‬ ِ َّ ِ ِ َّ َ َ ِ َ َ ُ ّ ِ َ َ َ ِ ُ َ َ َ َ َ َ َ َ ُ ْ ْ ْ ‫قبلكم لَعل َكم تتقون‬ ِ َ ّ َ ُ َ ُ َّ َ ُ

Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Tauhid adalah landasan agama Islam dan tiangnya yang paling utama. Sedangkan kalimat syahadat [

ِ‫ ]لَ إِلَهَ إِ ّ الُ وَأَنّ ُحَ ّدًا رَ ُوْ ُ ال‬adalah permata Islam. Syahadat adalah inti dari ‫م م سل‬ ‫ل‬

pemurnian ibadah hanya kepada Allah, Pencipta alam semesta, serta buah mengikuti penutup para Nabi dan Rasul. Adapun syirik merupakan penghancur tauhid. Dan seseorang yang berbuat kesyirikan berarti telah menghancurkan sendi yang paling utama dalam Islam. Syirik yang paling samar adalah riya` yang kesamarannya telah disifati oleh Nabi ,

ِ‫فَإِّ ُ َأخْفَى مِنْ دَبِيبِ الّمْل‬ ‫ن‬ ‫نه‬

"Sesungguhnya (riya`) lebih samar dari rambatan semut." (HR. Ahmad) Beliau  takut umatnya tertimpa bahaya riya`, seraya bersabda,

‫» إِ ّ َأخْوَفَ مَا َأخَا ُ عَلَيْ ُمُ ال ّرْ ُ الَصْغَ ُ «. قَاُوا: وَمَا ال ّرْ ُ الَصْغَ ُ يَا ر ُولَ الّهِ؟‬ ‫ر َس ل‬ ‫شك‬ ‫ل‬ ‫ر‬ ‫ف ك شك‬ ‫ن‬ « ُ ‫قَالَ: » ال ّيَا‬ ‫رء‬

"Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan terhadap kalian adalah syirik kecil.” Maka para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Riya`." (HR. Ahmad, Hakim) Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Keistimewaan puasa yang paling utama adalah melatih keikhlasan dan terbiasa muraqabah (merasa diawasi oleh Allah ). Puasa mampu menjauhkan seorang hamba dari riya` dan menjauhkannya dari sikap tidak tahu malu. Kewajiban puasa adalah termasuk ibadah paling agung yang di dalamnya seorang hamba merealisasikan kemurnian tauhid dengan keikhlasan, serta kehidupan tauhid dengan muraqabah. Di dalam puasa, seseorang tidak mengharap kecuali wajah Allah . Sebaik-baik dalil qudsi terkenal yang diriwayatkan oleh Rasululah  dari RabbNya adalah,

،ِ‫ُ ّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَ ُ، إِلّ ال ّيَامَ فَإِّ ُ لِيْ وأَنَا َأجْزِيْ بِه‬ َ ‫ص نه‬ ‫ه‬ ‫كل‬
"Setiap amal (perbuatan) anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, puasa itu adalah untukKu, dan Akulah yang akan membalasnya." (HR. Bukhari dan Muslim) Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Di dalam jiwa, puasa akan menumbuhkan penjagaan terhadap amanah, dan keikhlasan dalam perbuatan, serta tidak menginginkan di dalam puasanya kecuali wajah Allah . Ini adalah sebuah karunia agung yang akan menghilangkan keburukan mudahanah, riya` dan kemunafikan. Terdapat perkataan para ulama yang berharga tentang alasan pengkhususan puasa dan pahalanya seperti yang disebutkan dalam hadits qudsi di atas, diantaranya adalah: 1. Bahwa puasa tidak akan terkena riya` seperti ibadah yang lain. 2. Bahwa puasa tidak akan tampak pada diri anak Adam, karena puasa adalah sesuatu yang ada di dalam hati. Yang demikian itu karena amal-amal ibadah tidak akan ada kecuali dengan gerakan, kecuali ibadah puasa, puasa dilakukan dengan niat yang tersembunyi dari manusia. 3. Seluruh ibadah tampak jelas dengan melakukannya, dan apa yang tampak sedikit sekali yang selamat dari keburukan, berbeda dengan puasa. 4. Ketika berbagai amalan anak Adam memungkinkan dimasuki oleh riya` maka amalan tersebut dinisbatkan kepada mereka. Berbeda dengan puasa, orang yang menahan makan dalam keadaan kenyang sama dengan orang yang menahan makan karena taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah ), yakni dalam sisi zhahirnya. Oleh karena itu Allah  menisbatkan puasa itu untuk diri-Nya. 5. Masuknya riya` ke dalam ibadah puasa tidak dari sisi pemberitaannya kepada manusia misalnya dengan mengatakan: "Sesungguhnya aku puasa." Berbeda dengan amal-amal ibadah lain, yang mana riya` terkadang memasukinya begitu ia melakukannya. 6. Karena puasa tidak akan dimasuki oleh riya` sebab kesamarannya, dan karena lapar serta haus tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada seorangpun dari raja-raja dunia, tidak juga kepada berhala-berhala. Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah . Seorang hamba berpuasa dengan keikhlasan, melakukannya dengan berharap keridhaan-Nya. Puasa adalah untuk Pencipta alam

semesta. Di antara seluruh amal, maka sesungguhnya orang yang berpuasa tidaklah melakukan sesuatu berupa meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya kecuali hanyal untuk sesembahannya yang haq, yakni Allah . Seorang hamba meninggalkan kecintaan dan kenikmatan jiwa dengan berpuasa demi mementingkan kecintaan Allah  dan keridhaan-Nya.

.ُ ‫بَارَكَ ال لِيْ وَلَكُمْ فِي الْ ُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعلَنَا ال مِنَ اّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَّبِ ُوْنَ أَحْسََن‬ ‫ه‬ ‫تع‬ ‫ل‬ َ ‫ق‬ َ‫أَُوْل قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِ ُ ال لِيْ وَلَ ُمْ وَلِجَمِيْعِ الْ ُسْلِمِيْن‬ ‫م‬ ‫ك‬ ‫ر‬ ُ ‫ق‬
Khutbah Kedua

َ‫اَلْحَمْ ُ ل اّذِيْ أَرْسَلَ رَ ُوْلَ ُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـ ّ لُِظْهِر ُ عَلَى ال ّيْنِ ُّهِ وَلَوْ كَره‬ ِ ‫د كل‬ ‫ق ي َه‬ ‫س ه‬ ‫د ل‬ َ‫الْ ُشْرِ ُوْن‬ ‫م ك‬ ‫أَشْهَ ُ أَنْ ل إله إِ ّ ال وأَشْهَدُ أَ ّ ُحَ ّدًا رَ ُوْ ُ ال‬ ‫نم م س ل‬ َ ‫ل‬ ‫د‬ (( َ‫قَالَ ال تعال :)) يَاأَّهاَ اّذِينَ ءَامَنُوا اّ ُوا ال ح ّ ُقَاتِهِ وَلَ تَ ُوُ ّ إِ ّ وَأَنُم ّسْلِ ُون‬ ‫م تن ل ت م م‬ ‫َق ت‬ ‫تق‬ ‫ي ل‬ :ُ ْ‫اللهم صَ ّ عَلَى ُحَ ّدٍ وَعلَى أله وأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْ َ، أَ ّا بَع‬ ‫ن م د‬ َ َ ‫م م‬ ‫ل‬
Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Puasa inilah sarana yang dengannya kita berarti telah merealisasikan ikhlash kepada Allah  jauh dari riya`. Maka keyakinan di dalam hati semakin mendalam, nilai-nilai keimanan semakin bertambah, serta semakin nyata makna-makna tauhid di dalam jiwa. Maka jika ditambahkan yang lebih dari itu, yaitu berupa perasaan senantiasa diawasi oleh Allah, serta hadirnya keagungan-Nya maka menjadi jelaslah betapa agung dampak puasa terhadap tauhid. Betapa agung isyarat alQur`an yang Allah  telah menyebutkan ringkasan pengaruh puasa, serta puncak tujuan dan hikmahnya, yaitu ketakwaan, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orangorang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa." (QS. al-Baqarah: 183) Makna takwa yang paling agung adalah muraqabah terhadap Allah  yang memenuhi jiwa dan hati dan semakin meningkat sebagai saksi akan keagungan iman dan kebenaran tauhid yang semuanya dapat diperoleh dengan ibadah puasa. Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Puasa mempersiapkan jiwa orang yang berpuasa untuk bertakwa kepada Allah  dengan meninggalkan nafsu syahwat --yang mudah untuk didapatkan, serta meninggalkan yang dia gemari. Sekiranya bukan karena takut kepada Allah dan karena muraqabahnya terhadap Allah  tentulah dia tidak akan meninggalkannya, sekalipun meninggalkannya dengan mengorbankan harga yang paling mahal. Akan tetapi ketaqwaan kepada Allah  menjadikannya menjaga amanat Allah pada keadaan tersembunyi dari manusia dan kesendiriannya. Maka sungguh agung faidah puasa dalam merealisasikan permata iman, serta mendapatkan hakikat tauhid. Betapa besar pengaruh yang ditimbulkan oleh puasa, di antaranya adalah khouf (takut) dan raja` (pengharapan). Jadi, orang yang berpuasa mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang senantiasa mengawasi dalam kesendiriannya. Dia telah mengharamkan dirinya untuk meraih syahwat yang memang dia diciptakan untuk cenderung kepadanya dalam keadaan sendirian. Maka dia taat keapada Rabb-nya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, karena takut hukuman-Nya dan berharap pahala-Nya.

Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, Sesungguhnya diantara tanda-tanda keimanan adalah seorang mukmin membenci syahwatsyahwat yang membuatnya tercela, saat dia mengetahui bahwa Allah  membencinya. Maka seorang mukmin mengarahkan syahwatnya kepada apa yang diridhai oleh Maulanya sekalipun bertentangan dengan hawa nafsunya. Sikap inilah yang mewariskan rasa khasyyah (takut) kepada Allah, menumbuhkan sikap muraqabah dan membangunkan perasaan. Allah  memuji dan memuliakan orang-orang yang dapat merealisasikan makna-makna pemurnian tauhid dan pendalaman muraqabah dalam puasanya dengan menjadikan sebuah pintu khusus dari pintu-pintu sorga untuk mereka. Darinyalah mereka akan memasuki sorga, tidak ada yang menyertai mereka dari pintu tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Sahl bin Sa'd  dari Nabi :

،ْ‫إ ّ فِي اْلَّةِ بَابا ُقَا ُ لَ ُ ال ّّا ُ، يَدْ ُ ُ مِنْ ُ ال ّائِ ُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ لَ يَدْخ ُ مِنْ ُ أَحَ ٌ غَيْ ُ ُم‬ ‫ُ ل ه د ره‬ ‫ي ل ه ري ن خل ه ص م‬ ‫ن‬ ‫ن‬ ُ ْ‫ُقَا ُ: أَيْنَ ال ّائِ ُوْنَ؟ فَيَقُوْ ُوْنَ، لَ يَدْ ُ ُ مِْن ُ َأحَ ٌ غَيْ ُ ُمْ، فَإِذَا دَخُوْا ُأغْلِ َ، فَلَمْ يَدْ ُلْ مِن‬ ‫خ ه‬ ‫َل ق‬ ‫خ ل ه د ره‬ ‫م‬ ‫صم‬ ‫ي ل‬ . ٌ َ‫َأح‬ ‫د‬

"Sesungguhnya di dalam sorga terdapat sebuah pintu yang disebut ar-Royyan. Akan masuk darinya orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak akan masuk darinya seorangpun selain mereka. Maka jika mereka telah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada yang bisa masuk dari pintu tersebut." (HR. Bukhari dan Muslim) Maka renungkanlah pengkhususan dan pengumuman ini. Di dalamnya tampak bahwa orangorang yang ahli puasa akan dikenali oleh para saksi. Itu adalah sebuah balasan dari jenis amal mereka. Bukankah dulu dia ikhlash karena Allah, maka sesungguhnya tatkala dulu puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya, maka Allah  menampakkannya di akhirat secara terang-terangan kepada seluruh makhluk, agar ahli puasa terkenal, dan diketahui puasapuasa mereka diantara manusia sebagai balasan atas rahasia puasa mereka di dunia.

‫إِ ّ الَ وَمَلَئِكَتَ ُ ُصَّونَ عَلَى الّبِ ّ يَآأَّهَا اّذِينَ ءَامَُوا صَّوا عَلَيْهِ وَسَّ ُوا تَسْلِيمًا‬ ‫لم‬ ‫ن ل‬ ‫ني ي ل‬ ‫هي ل‬ ‫ن‬ ،َ‫اللهم صَ ّ عَلَى ُحَ ّدٍ، وَعَلَى آلِ ُحَ ّدٍ، كَمَا صَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ ِإبْرَاهِيْم‬ ‫ل‬ ‫م م‬ ‫م م‬ ‫ل‬ ،َ‫إِّكَ حَمِيْ ٌ مَجِيْ ٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى ُحَ ّدٍ، وَعَلَى آلِ ُحَ ّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْم‬ ‫م م‬ ‫م م‬ ‫د د‬ ‫ن‬ .ٌ ْ‫وَعَلَى آلِ إِْبرَاهِيْمَ، إِّكَ حَمِيْ ٌ مَجِي‬ ‫د د‬ ‫ن‬ ‫اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْ ُسْلِمَاتِ، رَّنَا ظلَمْنَا أَنْ ُسَنَا وإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا‬ َ ‫ف‬ َ ‫ب‬ ‫م‬ ‫لَنَ ُونَنّ مِنَ الْخَاسِرِْينَ، رَّنَا آتِنَا فِي ال ّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ الّارِ. اللهم‬ ‫ن‬ ‫د‬ ‫ب‬ ‫ك‬ ِ‫إِّا نَسْأَُكَ الْهُدَى وَالّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِّا نَ ُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَ ّل‬ ‫و‬ ‫ن ع‬ ‫ت‬ ‫ن ل‬ ‫عَافِيَتِكَ وَُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِ َ. وَآخ ُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ ل رَ ّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى‬ ‫ب‬ ‫ك ِر‬ ‫ف‬ .َ‫ال علَى نَبِّنَا ُحَ ّدٍ وَعَلَى آِلهِ وَصَحْبِهِ وَسّم‬ ‫َل‬ ‫َ ي م م‬

* Diadaptasi dari tulisan “Ramadhan dan Tauhid”, oleh DR. Ali bin Umar, UUQ (Universitas ummul Quro) Fakultas Dakwah, Majalah Qiblati Volume 2 Edisi 12

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful