BAB I PENDAHULUAN I.1.

Latar belakang Minuman beralkohol telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan panjang peradaban manusia. Bangsa mesir kuno percaya bahwa bouza, sejenis bir, merupakan penemuan Dewi Osiris dan merupakan makanan sekaligus minuman. Anggur juga ditemukan oleh bangsa Mesir kuno dan dipergunakan untuk perayaan atau upacara keagamaan dan sekaligus sebagai obat. Dalam perkembangan selanjutnya, anggur dianggap sebagai minuman kaum ningrat (aristocrat) dan bir adalah minuman rakyat jelata (masses). Di negeri kita juga banyak dijumpai produk minuman tradisonal yang mengandung alkohol seperti tuak, arak dan lain-lain. Setelah melalui perjalanan sejarah yang amat panjang, barulah pada paruh pertengahan abad 18 pada dokter di Inggris menemukan adanya efek buruk alkohol terhadap kesehatan. Penemuan ini akhirnya melahirkan suatu peraturan mengenai penggunaan minuman beralkohol yang disebut sebagai Gin Act tahun 1751 (Widianarko, 2000). Penyalahgunaan alkohol telah menjadi masalah pada hampir setiap negara diseluruh dunia. Tingkat konsumsi alkohol di setiap negara berbeda-beda tergantung pada kondisi sosio kultural, kekuatan ekonomi, pola religius, serta bentuk kebijakan dan regulasi alkohol di tiap negara. Pada saat ini terdapat kecenderungan penurunan angka prevalensi pecandu alkohol di negara-negara maju namun angka prevalensi pecandu alkohol ini justru meningkat pada negara-negara berkembang. World Health Organization (WHO) memeperkirakan saat ini jumlah pecandu alkohol diseluruh dunia mencapai 64 juta orang, dengan angka ketergantungan yang beragam di setiap negara. Di Amerika misalnya, terdapat lebih dari 15 juta orang yang mengalami ketergantungan alkohol dengan 25% diantaranya adalah pecandu dari kalangan wanita. Kelompok usia tertinggi pengguna alkohol di negara ini adalah 20 - 30 tahun, sementara kelompok usia terendah pengguna alkohol adalah di atas 60 tahun, dan rata-rata mereka mulai mengkonsumsi alkohol semenjak usia 15 tahun. Sementara di Canada tercatat sekitar 1 juta orang mengalami kecanduan alkohol, jumlah pecandu pria dua kali lipat dari wanita dengan kelompok umur pengguna alkohol tertinggidalah 20 - 25 tahun. Angka mengejutkan didapatkan di Russia di mana terdapat data yang menunjukkan bahwa 40% pria dan 17% wanita di negara ini adalah alkoholik (Encarta Encyclopedia, 2006)

1

Tabel I.1. Total Recorded Alcohol per Capita Consumption (Litres of Pure Alcohol)
Country Iran Kuwait Libyan Arab Saudi Arabia Somalia Bangladesh Mauritania Pakistan Algeria Nepal Comoros Yemen Indonesia Egypt Nigeria Jordan Sri Lanka Iraq Chad Sudan Cambodia Myanmar Morocco Tajikistan Qatar Senegal Mali Brunei Bhutan Syrian Arab Micronesia Tunisia Turkmenistan India Solomon Equat Guinea Ethiopia Togo Papua Malaysia Djibouti Vanuatu Benin Armenia Oman Vietnam Total 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 0.02 0.03 0.08 0.08 0.08 0.10 0.10 0.11 0.11 0.18 0.20 0.23 0.27 0.36 0.36 0.41 0.41 0.44 0.48 0.49 0.49 0.57 0.62 0.64 0.65 0.77 0.82 0.86 0.90 0.91 0.95 1.01 1.06 1.08 1.11 1.22 1.23 1.32 1.35 Country Madagascar Samoa Malawi Turkey Uzbekistan Eritrea Ghana Guatemala Central African Kiribati Mozambique Fiji Cote d’Ivoire Maldives Kenya Lesotho Mongolia Israel Ecuador Congo Gambia Honduras Congo Namibia Georgia Albania Nicaragua Bahrain Singapore Arab Emirates Guinea Bissau Kazakhstan Angola Zambia Liberia Mauritius Trinidad Jamaica Bolivia El Salvador Seychelles Cuba Cameroon Cape Verde Philippines Ukraine Total 1.38 1.42 1.44 1.48 1.52 1.54 1.54 1.64 1.66 1.66 1.67 1.69 1.71 1.72 1.74 1.83 1.96 1.99 1.99 2.01 2.27 2.28 2.36 2.39 2.41 2.51 2.53 2.63 2.73 2.75 2.76 2.89 2.91 3.02 3.12 3.16 3.22 3.37 3.43 3.45 3.61 3.65 3.66 3.72 3.75 4.04 Country Yugoslavia Lebanon Barbuda Burkina Faso China Belize Guam Mexico Peru Zimbabwe Tanzania Brazil Botswana Costa Rica Kyrgyzstan Korea Iceland Norway Suriname Guyana Colombia Chile Panama Sao Tome Dominican Haiti Slovenia Grenadines Sierra Leone Paraguay Cyprus Barbados Lao's Republic Malta Rwanda Sweden Azerbaijan Uruguay Bulgaria Japan Grenada Saint Kitts Romania Polynesia South Korea South Africa Total 4.12 4.13 4.24 4.38 4.45 4.50 4.50 4.62 4.68 5.08 5.29 5.32 5.38 5.45 5.50 5.68 5.74 5.81 5.82 5.84 5.92 6.02 6.04 6.07 6.11 6.51 6.55 6.58 6.64 6.66 6.67 6.70 6.72 6.74 6.80 6.86 6.94 6.96 7.13 7.38 7.39 7.62 7.63 7.68 7.71 7.81 Country Caledonia Gabon Belarus Canada Thailand USA Argentina Bosnia Poland Venezuela Italy Australia Dominica Bahamas Greece Latvia Burundi Swaziland Netherlands New Zealand Estonia Antilles Nigeria Belgium UK Finland Saint Lucia Russia Switzerland Hungary Denmark Spain Lithuania Slovakia Portugal Austria Croatia Germany Bermuda Reunion France Moldova Ireland Czech Republic Luxembourg Uganda Total 7.83 7.97 8.12 8.26 8.47 8.51 8.55 8.62 8.68 8.78 9.14 9.19 9.19 9.21 9.30 9.31 9.33 9.51 9.74 9.79 9.85 9.94 10.04 10.06 10.39 10.43 10.45 10.58 11.53 11.92 11.93 12.25 12.32 12.41 12.49 12.58 12.66 12.89 12.92 13.39 13.54 13.88 14.45 16.21 17.54 19.47

Sumber : WHO Global Status Report on Alcohol 2004

Pada pertemuan yang digelar oleh World Health Organization - South East Asia Regional Office (WHO SEARO) Juni 2002 di Bali dengan dihadiri 174 negara anggota, didapatkan beberapa fakta menarik terkait masalah penggunaan alkohol di dunia.

2

• • • • • • • • • • • • • •

Penggunaan alkohol untuk konsumsi dilarang di 7 negara di dunia Peraturan tentang usia minimum untuk konsumsi alkohol hanya terdapat pada 67 negara Monopoli untuk produksi alkohol dilakukan 19 negara Model lisensi produksi alkohol dilakukan di 50 negara Pelarangan periklanan alkohol di berlakukan hanya pada 37 negara Konsumsi alkohol mengalami penurunan di banyak negara maju namun mengalami peningkatan drastis di negara-negara berkembang Alkohol menjadi penyebab kematian tertinggi setelah rokok dan narkoba Sekitar 774.000 kematian terjadi di seluruh dunia tiap tahun akibat penyalahgunaan alkohol Alkohol diproduksi dan diekspor oleh negara maju untuk negara-negara berkembang Alkohol mampu menyumbang pendapatan negara sekitar 2 - 4% di negara-negara maju, dan mencapai 24% untuk negara-negara berkembang Peranan Public Health Technology dalam menurunkan prevalensi pengguna alkohol lebih dominan di negara-negara maju daripada di negara-negara berkembang Kebijakan dan regulasi alkohol mendapatkan tantangan serius dari reformasi pasar bebas Monitoring dan pengawasan terhadap penggunaan alkohol masih sangat kritis dan perlu untuk ditingkatkan Rekomendasi bagi semua negara anggota WHO untuk mengadopsi suatu program nasional penganganan masalah penyalahgunaan alkohol yang komprehensif (education, treatment, and regulation) dengan disesuaikan dengan budaya yang ada pada tiap-tiap negara Di Indonesia sendiri penyalahgunaan alkohol juga menjadi masalah kesehatan yang

cukup serius. Sering munculnya pemberitaan tentang tata niaga miras (minuman keras) setidaknya merupakan indikasi bahwa minuman beralkohol banyak dikonsumsi oleh masyarakat di negara dengan mayoritas penduduk muslim ini. Sudah sering terungkap bahwa miras hanya akan memberikan efek negatif (mabuk) bagi peminumnya bahkan pada beberapa kasus justru berakibat pada kematian, namun setiap tahun jumlah pecandu miras justru semakin meningkat. Bagi banyak kalangan mabuk dianggap sebagai sarana untuk

3

unjuk kegagahan atau kejantanan. Harus disadari bahwa tidak ada manfaat positif dari kebiasaan minum-minuman beralkohol. Menurut laporan WHO, di Indonesia tahun 1986 tercatat 2,6% pria pengkonsumsi alkohol yang berusia rata-rata 20 tahun ke atas, sementara untuk wanita tercatat sekitar 0,8%. Pada tahun 1998 di Indonesia tercatat lebih dari 350.000 orang meninggal karena penyakit khronis akibat konsumsi alkohol. 58% angka kriminalitas terjadi antara tahun 1999 - 2000 ditenggarai akibat pengaruh minuman keras. Di Bali sepanjang tahun 2001 tercatat 39 kasus kematian pada remaja karena Hepatitis B yang terkait erat dengan dampak pengkonsumsian alkohol (alcoholic cirrhosis, alcoholic cancer, chronic pancreas inflamation, and heart diseases). Pada tahun 2000 diinformasikan di Indonesia terdapat lebih dari 13.000 pasien penderita penyakit terkait penyalahgunaan alkohol dan obatobatan terlarang, sementara di tahun 2001 terdapat 50% dari total 65 kasus keracunan alkohol meninggal di Manado dan Minahasa (WHO SEARO, 2002). Di Indonesia pada tahun 1995 berdiri 588 alcoholic beverage factories, 2 perusahaan importir, dan 82 perusahaan distributor induk produk minuman keras. Selain itu juga terdapat dua perusahaan besar produsen minuman beralkohol yang mendapatkan lisensi dari dua perusahaan bir raksasa internasional. BIR BINTANG (Tanggerang dan Mojosari) yang menjadi kepanjangan dari International HEINEKEN Beer Company, serta ANKER BIR (Jakarta dan Bekasi) di bawah naungan International ANCHOR Beer Company. Sementara sepanjang tahun 2008 tercatat lebih dari 40 kematian akibat keracunan alkohol (intoxicaty), ini merupakan dampak langsung dari penyalahgunaan alkohol. Di Surabaya 9 orang tewas di tiga lokasi berbeda setelah mengkonsumsi miras, 11 orang meninggal di Indramayu Jawa Barat, 14 orang meninggal di Merauke karena mengkonsumsi minuman keras jenis sopi yang dicampur infus dan minyak babi, sementara belasan korban tewas akibat miras lainnya tersebar di beberapa daerah seperti Pasuruan Jawa Timur, Deli Serdang, dan Jaya Pura.
Minuman keras (miras) beracun masih beredar luas di masyarakat. Miras penebar maut yang dikenal dengan Vodka Blending itu kembali merenggut 11 nyawa warga Indramayu. Pada saat malam lebaran (Hari Raya Idul Fitri 1429 H) ratusan nelayan di Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur Indramayu mengadakan pesta mnuman keras. Hal semacam itu memang kerap dilakukan warga setelah pulang berlayar. Acara malam itu semakin ramai dengan bergabungnya para pemudik di desa tersebut. Pesta miras itu mulai memakan korban pada Jumat pagi (3/10). Satu demi satu nyawa peserta pesta miras terenggut. Hingga tadi malam, korban mencapai 11 orang. Selain itu, lebih dari 200 orang lainnya dengan puluhan di antaranya dinyatakan kritis dan dirawat di RS Permata Medical Center (PMC) Indramayu, RSU

4

Pantura MA Sentot, serta RS Bhayangkara, di mana dua di antara korbannya adalah perempuan (suarakarya online, oktober2008). Sembilan nyawa melayang dalam kurun dua hari, diduga kuat penyebabnya sama yakni minuman keras merek Raja Jemblung. Setelah diusut ternyata minuman beralkohol itu didapatkan dari Toko Rejo di kawasan Wonokromo. Pesta miras di Manyar Sabrangan dan Pasar Manyar juga demikian. Berdasarkan hasil penyelidikan Polsek Mulyorejo, para peserta pesta mendapat miras dari seseorang bernama Pratik Utomo 44, warga Jalan Menur. Pria ini sudah diperiksa tim Reskrim Polsek. Dalam penyidikan, dia mengaku mendapatkan miras dari Toko Rejo. Sedangkan pesta di Pasar Manyar, polisi mendapatkan pengakuan jika miras dibeli dari Pratik. Artinya, asal usul miras tersebut sama dengan pesta miras di Manyar Sabrangan. Hasil laboratorium forensik terhadap korban tewas minum-minuman keras (miras) Raja Jemblung, menunjukkan jika di tubuh para korbannya terdapat kandungan alkohol sebesar 42 persen. Sementara di tubuh mereka ditemukan kandungan alkohol yang masuk zona tiga. Zona tiga ini merupakan zona di atas ambang batas normal (indopos online, Mei 2008). Apa jadinya jika minuman keras jenis sopi dicampur infus dan minyak babi kemudian ditenggak beramai-ramai. Kematian. itulah yang terjadi pada 14 orang di Merauke yang berpesta minuman keras Senin 28 Juli 2008 malam. Dari ke empat belas korban, hanya satu warga lokal Merauke bernama Rafael, sedangkan sisanya adalah warga Thailand. Nasib nahas itu terjadi setelah para warga Thailand yang bekerja sebagai anak buah kapal KM Cisadane 08 dan KM Mega Jaya itu berpesta minuman keras sejak beberapa hari terakhir. Dikabarkan sedikitnya 24 orang ABK larut dalam pesta minuman keras di atas kapal itu. Mereka satu persatu tumbang sejak dilarikan ke rumah sakit. Sampai tadi malam korban baru berjumlah tujuh orang, lima sudah ditemukan tewas di lokasi kejadian. Sementara itu, menurut petugas RS Merauke saat ini korban berjumlah 14 orang (okezone, Juli 2008).

Tiga kutipan berita media masa yang diterbitkan sepanjang tahun 2008 di atas, kiranya cukup untuk menunjukkan bahaya langsung pengkonsumsian alkohol (intoxicaty), yang berdampak pada kematian. Belum lagi dampak menahunnya yang berujung pada penyakit khronis, atau juga dampak tidak langsung seperti maraknya kriminalitas, perkelahian, tindakan asusila, serta kecelakaan lalu lintas yang banyak memakan korban baik dari pengguna maupun anggota masyarakat lainnya, karena pengaruh dari alkohol (mabuk). I.2. Kajian Masalah Permasalahan penyalahgunaan alkohol di Indonesia tidak bisa dianggap remeh, banyak sekali faktor yang terkait di dalamnya sehingga strategi dan upaya penanganannya pun harus dilakukan secara komprehensif. Banyak pihak beranggapan masalah penyalahgunaan alkohol semata-mata terkait dengan perilaku individu, sehingga

5

penanganannya hanya difokuskan pada upaya perubahan perilaku. Sangatlah tidak bijaksana bila masalah ini hanya dipandang sebagai masalah perilaku individu, karena pada kenyataannya hal ini merupakan masalah sosial yang multi dimensi. Berikut ini merupakan bagan alur faktor determinan dari penyalahgunaan alkohol beserta dampak dari alkohol itu sendiri terhadap penggunanya.
PHYSICAL DISEASES Intoxicaty Kerusakan Hati Kanker Darah Tinggi Stroke Gangguan Fungsi Pencernaan Gangguan Fungsi Ginjal dll

SOCIAL Prestige Pergaulan dan Lifestyle Norma dan Sistem Nilai determinants

ECONOMIC Kekuatan Ekonomi Masyarakat Mekanisme Harga Pasar Pendapatan Negara

ALKOHOLIC Kondisi Fisiologis Kondisi Phsikologis Pengetahuan Personalitas Pola Konsumsi NEUROLOGICAL DISORDERS effects Kecanduan Imsonia Gangguan Kepribadian Masalah Kepribadian Depression dll

CULTURAL Tradisi dan Adat Sistem Kepercayaan dan Agama Mythology

effects

determinants

ENVIRONMENT UU dan Regulasi Ketersediaan Produk Media Periklanan Promosi Kesehatan

OTHER RELATED EFFECT Kecelakaan Kriminalitas Kemiskinan dll

Bagan I.1. Determinant Factors of Alcohol Abuse

Keterangan : 1. Problem (Alkoholic) Tingkat ketergantungan dan bagaimana dampak dari alkohol terhadap pengguna tergantung pada kondisi fisiologis pengguna termasuk juga fungsi kekebalan tubuhnya, kondisi psikologis dan kejiwaan pengguna, personalitas, serta pola konsumsi alkohol

6

dari si pengguna (frekwensi, volume intake, moment, dan lainnya). Selain itu faktor pengetahuan juga merupakan suatu faktor internal yang ikut mempengaruhi pola konsumsi alkohol dari si pengguna. 2. Determinant (Social, Economic, Cultural, and Environment) Terdapat 4 kelompok determinan dari penyalahgunaan alkohol (social, economic, cultural, and environment) yang mana peranannya sangat kompleks dan saling terkait satu sama lainnya. • Social Penggunaan alkohol sering kali diasari oleh motif-motif sosial seperti meningkatkan prestige, ataupun adanya pengaruh pergaulan dan perubahan gaya hidup. Selain itu faktor sosial lain seperti sistem norma dan nilai (keluarga dan masyarakat) juga menjadi kunci dalam permasalahan penyalahgunaan alkohol. • Economic Masalah penyalahgunaan alkohol bisa ditinjau dari sudut ekonomi. Tentu saja meningkatnya jumlah pengguna alkohol di Indonesia juga dapat diasosiasikan dengan faktor keterjangkauan harga minuman beralkohol (import atau lokal) dengan daya beli atau kekuatan ekonomi masyarakat. Dan secara makro, industri minuman beralkohol baik itu ditingkat produksi, distribusi, dan periklanan ternyata mampu menyumbang porsi yang cukup besar bagi pendapatan negara (tax,revenue, dan excise). • Cultural Melalui sudut pandang budaya dan kepercayaan masalah alkohol juga menjadi sangat kompleks. Di Indonesia banyak dijumpai produk lokal minuman beralkohol yang merupakan warisan tradisional (arak, tuak, badeg, dll) dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat dengan alasan tradisi. Sementara bila tradisi budaya tersebut dikaitkan dengan sisi agama dimana mayoritas masyarakat Indonesia adalah kaum muslim yang notabene melarang konsumsi alkohol, hal ini tentu saja menjadi sangat bertolak belakang. • Environment Peranan negara dalam menciptakan lingkungan yang bersih dari penyalahgunaan alkohol menjadi sangat vital. Bentuk peraturan dan regulasi tentang minuman beralkohol, serta pelaksanaan yang tegas menjadi kunci utama penganan masalah

7

alkohol ini. Selain itu yang tidak kalah penting adalah peranan provider kesehatan dalam mempromosikan kesehatan terkait masalah alkohol baik itu sosialisasi di tingkat masyarakat maupun advokasi pada tingkatan decision maker. 3. Effect (Phisycal, Neurological, and Other Related Effect) Dampak negatif dari alkohol bagi penggunanya dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu dampak fisik (intoxicaty, kerusakan hati, kanker, darah tinggi, srroke), dampak neurology dan psychologi (kecandiuan, imsonia, gangguan kepribadian) juga dampak negatif lain secara sosial (kriminalitas, kemiskinan). I.3. Rumusan Masalah Dalam penulisan paper ini hanya akan difokuskan secara mendalam pada uraian kritis mengenai faktor determinan utama permasalahan penyalahgunaan alkohol di Indonesia. Sementara untuk pola perilaku alkoholic serta dampak dari penyalahgunaan alkohol baik dalam konteks kesehatan individu maupun konsekwensi sosialnya akan disinggung secara terbatas. Permasalahan penyalahgunaan alkohol di Indonesia dapat dirumuskan melalui bebarapa pertanyaan penting yang terkait dengan faktor determinan utamanya (social, economic, cultural, and environment). 1. Social • • Bagaimana peranan faktor pergaulan dan perubahan gaya hidup dalam membentuk perilaku penyalahgunaan alkohol...? Bagaimana peranan serta fungsi sistem nilai dan norma (keluarga dan masyarakat) dalam kaitannya dengan masalah penyalahgunaan alkohol...? 2. Economic • Bagaimana penanganan masalah penyalahgunaan alkohol bila dikaitkan dengan peranan industri alkohol (produksi, distribusi, dan advertising) dalam pembangunan ekonomi secara makro, terkait dengan sumbangan industri alkohol terhadap devisa negara setiap tahunnya dan realitas bahwa jutaan rakyat Indonesia mengantungkan hidupnya pada industri alkohol...? • Bagaimana korelasi antara mekanisme harga pasar produk-produk minuman beralkohol dengan daya beli masyarakat...? 3. Cultural 8

• •

Bagaimana peranan agama dalam memberikan pedoman normatif terhadap permasalahan penyalahgunaan alkohol...? Bagaimana peranan adat dan tradisi lokal masyarakat dalam kaitannya dengan penyalahgunaan alkohol...?

4. Environment • • • • Bagaimana peranan pemerintah dalam menyikapi permasalahan alkohol melalui pemberlakuan peraturan dan regulasi...? Bagaimana keberpihakan peraturan dan regulasi pemerintah mengenai alkohol terkait dengan dimensi kesehatan dan dimensi ekonomi...? Bagaimana peranan perangkat penegak hukum dan perangkat kelembagaan formal dalam menyikapi permasalahan alkohol...? Bagaimanan peranan media baik media komersial maupun media promosi kesehatan dalam kaitannya dengan permasalahan penyalahgunaan alkohol...?

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Definisi Akohol Alkohol adalah zat psikoatif yang bersifat adiktif. Zat psikoatif adalah golongan zat yang bekerja secara selektif, terutama pada otak, yang dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, persepsi, dan kesadaran seseorang. Sedangkan adiksi atau adiktif adalah suatu keadaan kecanduan atau ketergantungan terhadap jenis zat tertentu. Seseorang yang menggunakan alkohol mempunyai rentang respon yang berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai yang berat. Alkohol juga merupakan zat penekan susuan syaraf pusat meskipun dalam jumlah kecil mungkin mempunyai efek stimulasi ringan. Bahan psikoaktif yang terdapat dalam alkohol adalah etil alkohol yang diperoleh dari proses fermentasi madu, gula sari buah atau umbi umbian. Nama yang populer alkohol di Indonesia untuk konsumsi adalah miras, kamput, topi miring, raja jemblung, cap tikus, balo, dan lain sebagainya. Minuman beralkohol mempunyai kadar yang berbeda-beda, misalnya bir dan soda alkohol (1% 10% alkohol), martini dan anggur (10% - 20% alkohol), dan minuman keras import yang biasa disebut sebagai whisky dan brandy (20% - 50% alkohol). Ethanol atau yang lebih dikenal luas sebagai alkohol merupakan salah satu contoh dari senyawa non esensial yang dikonsumsi oleh manusia. Makanan yang kita konsumsi bukanlah sekedar kombinasi zat hidrat arang, lemak, protein, vitamin dan mineral saja, tetapi ada ribuan senyawa lain yang terkandung dalam makanan dan masuk ke tubuh kita mekipun kadarnya sangat rendah. Senyawa inilah yang dikenal sebagai senyawa non esensial. Pada kasus alkohol, meskipun tubuh dapat mempergunakan sekitar 7 kalori per dari setiap gram alkohol yang dikonsumsi, tetapi sebenarnya kalori dapat diperoleh dari banyak bahan lain yang lebih berguna. Pada kenyataannya tidak ada satupun proses biokimiawi tubuh manusia yang membutuhkan alcohol (Sundeen, 1997).

10

3 Golongan Minuman Keras : • • • Golongan A berkadar alkohol 0,1% - 05% Golongan B berkadar alkohol 0,5% - 20% Golongan C berkadar alkohol 20% - 50%

II.2. Pengguna Alkohol Meskipun belum ada standar yang diterima secara umum tentang tingkat keamanan untuk konsumsi minuman beralkohol, namun secara sederhana peminum alkohol dapat digolongkan ke dalam 3 kelompok, yang meliputi peminum ringan, peminum sedang, dan peminum berat. • Peminum Ringan (Light Drinker) Yaitu mereka yang mengkonsumsi antara 0,28 - 5,9 gram atau ekuivalen dengan minum 1 botol bir atau kurang • Peminum Menengah (Moderate Drinker) Kelompok ini mengkonsumsi antara 6,2 - 27,7 gram alkohol atau setara dengan 1 - 4 botol bir per hari • Peminum Berat (Heavy Drinker) Yang mengkonsumsi lebih dari 28 gram alkohol per hari atau lebih dari 4 botol bir setiap harinya Indikator terbaik untuk efek minuman beralkohol adalah ukuran tingkat kandungan alkohol dalam darah. Indikator ini sering dipergunakan oleh para polisi lalu-lintas di beberapa negara untuk menindak pelanggaran di jalan raya. Konsentrasi alkohol dalam darah dicapai dalam 30 - 90 menit setelah diminum. Ketika kandungan alkohol darah mencapai 5% (5 bagian alkohol per 100 bagian cairan darah) maka si peminum akan mengalami sensasi positif, seperti persaan relaks dan kegembiraan (euphoria). Dan pada kandungan di atas 5% maka si peminum akan merasa tidak enak dan secara bertahap akan kehilangan kendali bicara, keseimbangan dan emosi.. Jika kandungan alkohol dalam darah dinaikkan lagi sampai 0,1% maka si peminum akan mabuk total. Kemudian pada tingkat 0,2% beberapa orang sudah pingsan. Jika mencapi 0,3% sebagian orang akan mengalami koma, dan jika mencapai 0,4% si peminum kemungkinan besar tewas.

11

Gangguan penyalahgunaan alkohol dapat diklasifikasikan menjadi 5 kategori utama menurut rentang respon serta motif individu terhadap pemakaian alkohol itu sendiri (Sundeen, 1997). 1. Gangguan penggunaan alkohol yang bersifat eksperimental. Kondisi penggunaan alkohol pada tahap awal yang disebabkan rasa ingin tahu dari seseorang (remaja). Sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya, remaja selalu ingin mencari pengalaman baru atau sering juga dikatakan taraf coba-coba, termasuk juga mencoba menggunakan alkohol. 2. Gangguan penggunaan alkohol yang bersifat rekreasional. Penggunaan alkohol pada waktu berkumpul bersama-sama teman sebaya, misalnya pada waktu pertemuan malam minggu, ulang tahun atau acara pesta lainnya. Penggunaan ini mempunyai tujuan untuk rekreasi bersama teman sebaya. 3. Gangguan penggunaan alkohol yang bersifat situasional. Seseorang mengkonsumsi alkohol dengan tujuan tertentu secara individual, hal itu sebagai pemenuhan kebutuhan seseorang yang harus dipenuhi. Seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri dari masalah, konflik, stress dan frustasi. 4. Gangguan penggunaan alkohol yang bersifat penyalahgunaan. Penggunaan alkohol yang sudah bersifat patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, paling tidak sudah berlangsung selama 1 bulan. Sudah terjadi penyimpangan perilaku, mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan sosial, seperti di lingkungan pendidikan atau pekerjaan. 5. Gangguan penggunaan alkohol yang bersifat ketergantungan. Penggunaan alkohol yang sudah cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya toleransi dan sindroma putus zat (alkohol). Suatu kondisi dimana indidvidu yang biasa menggunakan zat adiktif (alkohol) secara rutin pada dosis tertentu akan menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti memakai, sehingga akan menimbulkan gejala sesuai dengan macam zat yang digunakan. Dari rentang respon individu terhadap penyalahgunaan alkohol seperti tersebut diatas, dampak yang diakibatkan oleh indidvu yang sudah berada pada fase penyalahgunaan dan ketergantungan adalah paling berat. Individu yang sudah berada pada fase penyalahgunaan dan ketergantungan akan dapat berperilaku anti sosial. Perilaku agresif, emosional, acuh, dan apatis terhadap permasalahan dan kondisi sosisalnya adalah

12

sifat-sifat yang sering muncul pada orang dengan penyalahgunaan dan ketergantungan terhadap alkohol. Sedangkan pada fase eksperimental, rekreasional dan situasional, dampak yang muncul biasanya diakibatkan oleh perilaku kelompok remaja pemakai alkohol pada tahap ini. Kebut-kebutan di jalan, pesta pora, aktivitas seksual, perkelahian, dan tawuran adalah perilaku yang sering ditunjukkan oleh kelompok remaja pemakai alkohol pada tahap awal ini. Masa di mana seseorang pertama kali mencoba mengkonsumsi alkohol adalah masa remaja. Masa ini sangatlah kirtis di mana pada periode yang inilah merupakan pintu masuk pertama penyalahgunaan alkohol. Beberapa faktor penyebab penyalahggunaan alkohol pada remaja dapat diidentifikasikan berikut ini (Mason, 2002). • Motif Ingin Tahu Pemberian informasi yang tidak tepat bisa mempengaruhi perkembangan remaja. Pada masa remaja seseorang akan mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar, termasuk keingintahuan terhadap alkohol. • Adanya Kesempatan Remaja mengenal alkohol bisa dikarenakan faktor kurangnya perhatian orang tua dan kurangnya rasa kasih sayang keluarga. Kontrol yang lemah dari orang tua akan menjadikan remaja cenderung mencari suatu pengalihan yang mampu menyenangkan dirinya, termasuk juga pada penggunaan alkohol. • Sarana dan Prasarana Remaja bisa mengkonsumsi alkohol karena orang tua memberikan fasilitas dan uang yang berlebihan, ini merupakan sebuah pemicu penyalahgunaan uang tersebut. Selain itu juga peredaran alkohol yang merajalela di perkotaan sampai ke pelosok desa akan mempermudah remaja untuk mendapatkan alkohol. • Kepribadian Kepribadian yang labil dan pengaruh teman pergaulan di masyarakat ataupun di lingkungan sekolah bisa menjadikan remaja terjerat dalam lingkaran penyalahgunaan alkohol. • Emosi dan Mental Lemah Lemahnya mental seseorang akan lebih mudah dipengaruhi untuk melakukan perbuatan negatif yang akhirnya menjurus ke arah penggunaan alkohol.

13

Ciri Pecandu Alkohol : • • • • • • • Menjadi pemurung, mudah tersinggung, dan emosional Wajah pucat dan bibir menjadi kecoklatan Terdapat bau aneh yang tidak biasa Mata berair dan merah Perut membuncit dan tangan gemetar Nafas tersengal dan susah tidur Badan lesu dan selalu gelisah Dampak negatif penggunaan alkohol dikategorikan menjadi 3, yaitu dampak fisik, dampak neurology dan psychologi, juga dampak sosial (Woteki, 1992). 1. Dampak Fisik • Beberapa penyakit yang diyakini berasosiasi dengan kebiasaan minum alkohol antara lain serosis hati, kanker, penyakit jantung dan syaraf. Sebagian besar kasus serosis hati (liver cirrhosis) dialami oleh peminum berat yang kronis. Sebuah studi memperkirakan bahwa konsumsi 210 gram alkohol atau setara dengan minum sepertiga botol minuman keras (liquor) setiap hari selama 25 tahun akan mengakibatkan serosis hati. • Untuk kanker terdapat bukti yang konsisten bahwa alkohol meningkatkan resiko kanker di beberapa bagian tubuh tertentu, termasuk: mulut, kerongkongan, tenggorokan, larynx dan hati. Alkohol memicu terjadinya kanker melalui berbagai mekanisme. Salah satunya alkohol mengkatifkan ensim-ensim tertentu yang mampu memproduksi senyawa penyebab kanker. Alkohol dapat pula merusak DNA, sehingga sel akan berlipatganda (multiplying) secara tak terkendali. • Peminum minuman keras cenderung memiliki tekanan darah yang relatif lebih tinggi dibandingkan non peminum (abstainer), demikian pula mereka lebih berisiko mengalami stroke dan serangan jantung. Peminum kronis dapat pula mengalami berbagai gangguan syaraf mulai dari dementia (gangguan kecerdasan), bingung, kesulitan berjalan dan kehilangan memori. Diduga konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menimbulkan defisiensi thiamin, yaitu komponen vitamin B komplek berbentuk kristal yang esensial bagi berfungsinya sistem syaraf. 2. Dampak Psikoneurologis 14

II.3. Dampak Alkohol

Pengaruh addictive, imsonia, depresi, gangguan kejiwaaan, serta dapat merusak jaringan otak secara permanen sehingga menimbulkan gangguan daya ingatan, kemampuan penilaian, kemampuan belajar, dan gangguan neurosis lainnya.

3. Dampak Sosial • Gangguan sosial yang berpengaruh bagi orang lain, di mana perasaan pengguna alkohol sangat labil, mudah tersinggung, perhatian terhadap lingkungan menjadi terganggu. Kondisi ini menekan pusat pengendalian diri sehingga pengguna menjadi agresif, bila tidak terkontrol akan menimbulkan tindakan yang melanggar norma bahkan memicu tindakan kriminal serta meningkatkan resiko kecelakaan. Sedangkan pengaruh penggunaan alkohol menurun kisaran waktu (periode) pemakaiannya dibedakan menjadi 2 kategori (Woteki, 1992). • Pengaruh jangka pendek Walaupun pengaruhnya terhadap individu berbeda-beda, namun terdapat hubungan antara konsentrasi alkohol di dalam darah Blood Alkohol Concentration (BAC) dan efeknya. Euphoria ringan dan stimulasi terhadap perilaku lebih aktif seiring dengan meningkatnya konsentrasi alkohol di dalam darah. Resiko intoksikasi (mabuk) merupakan gejala pemakaian alkohol yang paling umum. Penurunan kesadaran seperti koma dapat terjadi pada keracunan alkohol yang berat demikian juga nafas terhenti hingga kematian. Selain itu efek jangka pendek alkohol dapat menyebabkan hilangnya produktifitas kerja. Alkohol juga dapat menyebabkan perilaku kriminal. Ditenggarai 70% dari narapidana menggunakan alkohol sebelum melakukan tindak kekerasan dan lebih dari 40% kekerasan dalam rumah tangga dipengaruhi oleh alkohol • Pengaruh Jangka Panjang Mengkonsumsi alkohol yang berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit khronis seperti kerusakan jantung, tekanan darah tinggi, stroke, kerusakan hati, kanker saluran pencernaan, gangguan pencernaan lain (misalnya tukak lambung), impotensi dan berkurangnya kesuburan, meningkatnya resiko terkena kanker payudara, kesulitan tidur, kerusakan otak dengan perubahan kepribadian dan suasana perasaan, sulit dalam mengingat dan berkonsentrasi. Pengaruh alkohol bervariasi tergantung pada beberapa faktor : • Jenis dan jumlah alkohol yang dikonsumsi

15

• • • •

Usia, berat badan, dan jenis kelamin Makanan yang ada di dalam lambung Pengalaman seseorang dalam minum alkohol Situasi dimana orang minum alkohol Penggunaan alkohol yang terus menerus dapat mengalami toleransi dan

ketergantungan. Toleransi adalah peningkatan penggunaan alkohol dari jumlah yang kecil menjadi lebih besar untuk mendapatkan pengaruh yang sama. Sedangkan ketergantungan adalah keadaan dimana alkohol menjadi bagian yang penting dalam kehidupannya, banyak waktu yang terbuang karena memikirkan (cara mendapatkan, mengkonsumsi dan bagaimana cara berhenti). Pengguna alkohol akan mengalami kesulitan bagaimana cara menghentikan atau mengendalikan jumlah alkohol yang dikonsumsi. Seseorang yang mengalami ketergantungan alkohol akan mengalami gejala putus alkohol apabila menghentikan atau mengurangi penggunaannya. Gejala biasanya terjadi mulai 6 - 24 jam setelah konsumsi alkohol yang terakhir. Gejala ini dapat berlangsung selama 5 hari, diantaranya adalah gemetar, mual, cemas, depresi, berkeringat yang banyak, sakit kepala, dan sulit tidur (berlangsung beberapa minggu). Gejala putus alkohol sangat berbahaya. Orang yang masuk dalam kategori peminum alkohol berat dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter sebelum memutuskan untuk berhenti minum, ini bertujuan untuk mendapatkan terapi medis guna mencegah komplikasi (Woteki, 1992). II.4. Pemanfaatan Alkohol Rekaman sejarah penggunaan alkohol sebagai behan bakar kendaraan dimulai dari Samuel Morey pada tahun 1826 mengembangkan mesin dengan bahan bakar alkohol dan terpentin. Nicholas Otto pada tahun 1860, mempergunakan alkohol sebagai salah satu bahan bakar mesin. Otto dikenal baik dengan pengembangan mesin pembakaran internal (Otto Cycles) di tahun 1876. Pada tahun 1908 Henry Ford memproduksi model T dimana mobil dapat mempergunakan bahan bakar alkohol atau bensin, atau kombinasi dari keduanya. Alkohol merupakan bahan bakar yang bersih, hasil pembakaran menghasilkan CO2 dan H2O. Penambahan bahan yang mengandung oksigen pada sistem bahan bakar akan mengurangi emisi gas CO yang sangat beracun dari sisa pembakaran. Penggunaan alkohol

16

murni dibanding dengan bensin secara umum akan mengurangi kadar CO2 hingga 13% karena merupakan hasil dari pertanian. Seperti diketahui produk pertanian memerlukan gas CO2 untuk metabolismenya. Penggunaan alkohol bukan tanpa masalah pada lingkungan hidup, dimana VOC atau komponen bahan organik mudah menguap meningkat, kebutuhan lahan pertanian dikhawatirkan akan mengurangi jumlah hutan dan tentunya akan bersaing dengan kebutuhan makanan. Penggunaan dan produksi etanol di Amerika Serikat (AS) terus meningkat sehubungan dengan meningkatnya harga minyak bumi. Baru 0,4% dari stasiun pompa bensin di AS yang menjual E85 yaitu 85% etanol dan 15% bensin dan hanya ada di daerah Midwest dan California. Sejak Juni 2006 investasi besar-besaran dilakukan untuk memproduksi 8,4 juta m3 etanol per tahun. Penggunaan etanol di Brasil dimulai sejak tahun 1980 dengan bahan baku sari tebu atau sisanya sebagai gula tetes. Sejak tahun 2004 menjadi produsen dan konsumer terbesar alkohol untuk bahan bakar. Brasil memproduksi sekitar 14,8 juta m3 per tahun, dengan harga jual Rp.2.700 per liter. Penggunaan alkohol untuk bahan bakar merupakan kebijakan pemerintah, bensin harus mengandung 20% - 25% alkohol. Mobil baru di Brasil dapat dijalankan dengan bahan bakar campuran bensin alkohol, atau alkohol murni. Kebijakan ini telah mengurangi ketergantungan negara pada minyak bumi, memperbaiki kualitas udara dan memberikan hasil samping energi listrik. Program bahan bakar alkohol di Kolumbia dimulai sejak tahun 2002 ketika pemerintah menetapkan peraturan peningkatan kadar oksigen dalam bahan bakar. Pada awalnya kebijakan ini untuk mengurangi emisi gas CO kendaraan. Regulasi selanjutnya adalah pengurangan pajak etanol sehingga lebih murah dari bensin, Di Kolumbia harga bensin dan alkohol dikontrol oleh pemerintah. Melengkapi program etanol juga dilakukan program biodiesel untuk menambah kandungan oksigen bahan bakar diesel dan produksi biodiesel dari minyak tumbuhan. Pemerintah perlahan merubah suplai bahan bakar dengan campuran 10% alkohol. Produksi alkohol di Kolumbia berasal dari ubi kayu dan tebu, ini dimulai tahun 2005 dengan 300 m3 per hari, pada tahun 2006 meningkat menjadi 1050 m3 per hari. Dengan total investasi 100 juta USD pada tahun 2007 diharapkan dapat menghasilkan 2500 m3 per hari untuk keperluan 10% etanol dalam bensin. Belajar dari keberhasilan Brasil, China juga mempunyai program alkohol untuk bahan bakar. Selain untuk memenuhi kebutuhan tersebut akan membantu petani menjaga harga gandum agar dapat meningkatkan pendapatan dan mengurangi polusi udara. Etanol

17

untuk bahan bakar pada saat ini diproduksi di Henan dengan kapasitas 200.000 Ton per tahun. Proyek yang sama sedang dikembangkan untuk kapasitas 800.000 T per tahun mempergunakan jagung sebagai bahan baku. Diharapkan 2 Ton jagung akan menghasilkan 1 Ton alkohol. Saat ini China mengkonsumsi bahan bakar 36 juta Ton bensin per tahun, yang dipenuhi dengan mengimport minyak bumi. Empat negara telah mengembangkan program etanol secara nyata yaitu Brasil, AS, China dan Kolumbia. Etanol dapat diproduksi dari dari berbagai bahan makanan seperti gula, beet, sorgum, singkong, ubi, rumput, gandum, hemp, knaf, kentang, tetes, jagung, kayu, kertas, sampah selulosa,dan lainnya. Langkah produksi etanol adalah pemurnian pati, pencairan dan pembentukan gula (hidrolisis), fermentasi, distilasi, dehidrasi, dan denaturasi jika diperlukan. Etanol untuk dipergunakan sebagai bahan harus dimurnikan dari air. Cara lama dilakukan dengan destilasi tetapi kemurnian hanya sampai 96% karena adanya peristiwa azeotrop antara campuran alkohol dan air. Tidak mungkin memperoleh alkohol murni dengan cara ini maka dipergunakan absorbsi fisik atau molecular sieve. Pada umumnya alkohol ditambahkan dalam bensin sebanyak 10% atau dikenal dengan E10. Maksud penambahan pada mulanya untuk mengurangi emisi gas CO dan sedikit meningkatkan nilai oktan. Namun penambahan ini menjadi bernilai ekonomis ketika harga minyak bumi mencapai 80 USD per barel. Alkohol yang ditambahkan harus bebas dari kandungan air untuk melindungi mesin mobil dari korosi dan kerusakan bahan packing dari polimer. E10 dapat langsung dipergunakan pada mobil tanpa banyak perubahan. Campuran E85 dengan etanol 85% besin 15%, dipergunakan untuk mobil kusus untuk bahan bakar etanol. Jumlah bensin 15% diperlukan karena etanol kurang mudah menguap sehingga pada suhu dingin kesulitan untuk menyalakan mesin. Keluhan dari beberapa pengguna bensin etanol adalah sering harus menguras air dari tangki minyak, II.5. Konsep Pokok Sosiologi Kesehatan Konsep yang paling mendasar dalam ilmu sosial dan ilmu perilaku adalah masyarakat sosial. Dalam upaya memahami suatu gejala sosial dalam masyarakat, studi dalam sosiologi dilakukan dengan menggunakan dua macam pendekatan. Pendekatan emik berusaha memahami perilaku individu dan masyarakat dari sudut pandang si subyek sendiri, sedangkan pendekatan etik menganalisa perilaku atau gejala sosial dari pandangan orang luar serta membandingkannya dengan budaya lain. Dengan demikian maka

18

pendekatan etik bersifat lebih obyektif, dapat diukur dengan berbagai ukuran dan indikator tertentu (Sumarni, 2002). Asumsi dari pendekatan emik adalah bahwa subyek lebih tahu tentang apa-apa yang terjadi pada dirinya daripada orang lain. Dan pengetahuan tentang proses mental ini diperlukan untuk memahami mengapa seseorang melakukan suatu tindakan atau mengapa dia menolak melakukan tindakan tersebut. Pendekatan etik dilakukan bila hasil pengamatan itu cocok dengan penghayatan si subyek dan yang lebih penting lagi jika hasil pengamatan terhadap indikator antara beberapa peneliti ternyata sama, walaupun studi dilaksanakan secara terpisah. Dengan demikian pendekatan etik memberikan gambaran umum dan ramalan tentang perilaku masyarakat dalam situasi tertentu. II.6. Nilai dan Norma Masyarakat Masyarakat mempunyai kepercayaan yaitu, sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian, tanpa menunjukkan sikap pro atau anti. Artinya, jika orang percaya bahwa merokok dan minum-minuman keras tidak baik untuk kesehatan, maka dianggapnya hal itu adalah benar, terlepas dari apakah dia suka atau tidak suka merokok atau minum-minuman keras. Seringkali suatu kepercayaan tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dimana anggota-angotanya mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama. Tidak jarang pula kepercayaan kelompok ini (group belief) ditumbuhkan oleh pihak yang berwenang atau pemimpin dan tokoh masyarakat yang kemudian disebarluaskan ke anggota masyarakat lainnya. Seperti yang terjadi dengan penyalahgunaan minuman keras, para tokoh agama dan tokoh masyarakat telah berulangkali memberikan nasehat bahwa minum-minuman keras itu dilarang agama dan akan berdampak buruk pada kesehatan. Namun yang terjadi, walaupun sudah ada kepercayaan dan pandangan yang sama mengenai dampak buruk minum-minuman keras, tetaplah masih ada yang melakukannya juga. Kepercayaan tentang apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap tidak baik salah disebut nilai. Nilai sosial mencerminkan budaya suatu masyarakat dan berlaku bagi sebagian besar anggota masyarakat penganut kebudayaan tersebut. Jika individu menerima suatu nilai tertentu, dia dapat menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Guna mengatur perilaku individu dalam kelompok agar sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dibuatlah norma-norma tertentu, berupa peraturan yang disetujui oleh anggota masyarakat, yang menguraikan secara rinci tentang perilaku yang harus atau justru tidak boleh dilakukan dalam suatu keadaan atau

19

kedudukan tertentu. Norma sosial kadang juga mencakup jenis sangsi atau imbalan yang akan diberikan kepada mereka yang melanggar atau mematuhi peraturan tersebut. Jadi norma sosial ini digunakan sebagai mekanisme kontrol terhadap perilaku individu dalam masyarakat (Sarwono,1993). Norma sosial mengenai kebiasaan minum-minuman keras adalah menyatakan bahwa hal tersebut tetaplah tidak bisa dibenarkan dari sudut ajaran agama maupun dampak buruknya bagi kesehatan. Namun karena norma lama yang diturunkan dari jaman nenek moyangnya, maka jenis sangsi dan konsekwensi sosial bagi indvidu yang melakukannya juga masih sangat longgar. Stigma masyarakat mengenai kebiasaan seseorang minumminuman keras adalah bentuk sangsi yang paling sering terlihat. II.7. Konsep Umum Perilaku Perilaku manusia adalah keseluruhan keadaan (subyek) manusia dalam berfikir, bersikap, dan bertindak untuk memberikan respon terhadap situasi atau keadaan tetrtentu di luar subyek tersebut. Respon ini dapat bersifat pasif tanpa adanya tindakan nyata, ataupun respon aktif yang disertai dengan tindakan nyata (Notoatmodjo, 1997). Secara operasional dimensi perilaku ini dikelompokkan menjadi 3 bagian. • Pengetahuan Pengetahuan merupakan segala bentuk pemahaman individu terkait dengan proses berfikir oleh situasi dan rangsangan. • Sikap Tanggapan atau respon batin terhadap situasi dan rangsangan yang belum termanivestasi dalam bentuk tindakan. • Tindakan Segala bentuk perbuatan dan tindakan nyata (visible) dari individu sebagai respon terhadap situasi dan rangsangan Bloom dalam buku Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan (Notoatmodjo, 1997), menyebutkan bahwa ada tiga proses perubahan perilaku, yang dimulai dengan perubahan pengetahuan (kognitif) kemudian perubahan sikap (afektif) dan yang terakhir adalah perubahan perilaku (psikomotor). Sementara Lawrence W.Green menyebutkan bahwa kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor perilaku dan faktor non perilaku. Sedangkan perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu 20

faktor pendorong (predisposing factors), faktor pendukung (enabling factors), dan faktor penguat (reinforcing factors). Tiga Faktor Determinan Perilaku : • • Predisposing Factors merupakan faktor pendorong awal yang melekat pada individu, atau karakteristik personal yang berpotensi membentuk perilaku tertentu. Enabling Factors merupakan faktor pendukung yang mencakup keberadaan sarana dan prasarana fisik serta adanya kondisi yang memungkinkan individu untuk berperilaku tertentu. • Reinforcing Factors merupakan faktor penguat di luar diri individu atau keadaan sosial yang mampu memperkuat individu untuk berperilaku tertentu. BAB III PEMBAHASAN Penanganan masalah penyalahgumaan alkohol di Indonesia harus ditinjau dari banyak aspek. Harus disadari bahwa permasalahan penyalahgunaan alkohol bukanlah semata-mata hanya masalah perilaku individu melainkan , melainkan masalah sosial yang harus ditangani secara kolektif dengan memperhatikan semua dimensi yang terkait didalamnya. Terdapat empat dimensi utama yang menjadi determinan dalam kasus penyalahgunaan alkohol (social, economic, cultural, and environment). Masing-masing dimensi memiliki kontribusi dan peran yang berbeda namun terkait satu-sama lainnya dalam mempengaruhi permasalahan penyalahgunaan alkohol di Indonesia. III.1. Tinjauan Ilmu Perilaku Kesehatan Ditinjau dari ilmu perilaku kesehatan maka masalah penyalahgunaan alkohol ini dapat dipahami melalui pendekatan Green. Di mana dia menyebutkan dalam buku Pendidikan dan Ilmu Perilaku (Notoatmodjo, 1997), bahwa perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh tiga faktor utama faktor pendorong (predisposing factors), faktor pendukung (enabling factors), dan faktor penguat (reinforcing factors).
Predisposing Factors • • • Tingkat Pengetahuan Nilai dan Kepercayaan Kondisi Sosio Demografi • • • Enabling Factors Ketersediaan Produk Keterjangkauan Produk Kondisi Sosio Ekonomi

21

Behavior Perilaku Alkoholic

Reinforcing Factors Pergaulan dan Lifestyle Karakteristik Keluarga Norma Masyarakat Budaya dan Kultur Dominan • Peran Media (Kemersial dan Pendidikan) • Kebijakan dan Peraturan Bagan III.1. Aplication of Green Theory in Alcoholic Behavior • • • •

III.2. Analisis Faktor Determinan 1. Social Sebagaimana kita ketahui bahwa masalah penyalahgunaan alkohol ini lebih menjadi masalah sosial daripada sekedar masalah individu. • Prestige Banyak sekali kasus penyalahgunaan alkohol yang terjadi pada masyarakat kita terkait dengan masalah prestige. Saat ini telah muncul anggapan bahwa dengan mengkonsumsi minuman beralkohol maka nilai dan derajat seseorang dalam lingkungan sosialnya dapat meningkat. Minuman beralkohol merk import dipandang sebagai tanda status sosial ekonomi seseorang. Tentu saja ini tidak mengherankan bila ditinjau dari segi harga, beberapa produk minuman beralkohol import golongan C seperti Rhum, Brandy, Red Label, dan Black Label bisa berharga 1 hingga 5 juta rupiah per botol di pasaran. Sudah barang tentu penilaian masyarakat terhadap status dan prestige (sosial ekonomi) seseorang yang akrab dengan konsumsi minuman jenis ini akan meningkat. Sementara itu nilai prestige dari pengkonsumsian alkohol juga berkembang pada masayarakat kalangan bawah. Alkohol dipandang sebagai lambang pergaulan, keberanian, dan asumsi-asumsi lain terkait sisi kemaskulinan melekat erat pada minuman ini. Pada masyarakat kelas bawah tentu saja sulit untuk mendapatkan minuman-minuman merk import, sehingga pilihan utama mereka ditujukan pada bebrapa produk lokal seperti Bir Hitam, Raja Jemblug, Arak dan Tuak. Pada sisi ini nilai dan prestige seseorang yang menkonsumsi alkohol tidak lagi dikaikan dengan

22

status sosial ekonomi, melainkan status kejantanan dan keberanian dalam lingkaran pergaulan sosial. Pada kalangan masyarakat kelas ini, konsumsi alkohol umumnya dilakukan secara berkelompok pada tempat-tempat umum yang secara etis tidak layak dijadikan sebagai tempat minum (pelosok kampung, pos ronda, trotoar jalan, dll), istilah pesta miras sering dilabelkan pada aktifitas ini. Ironisnya justru berbagai masalah sosial terkait alkohol seperti kriminalitas, perkelahian, dan tindakan asusila berawal dari sini. • Lifestyle Pengkonsumsian alkohol yang marak di Indonesia juga tidak bisa lepas dari pengaruh perubahan gaya hidup. Berbagai club hiburan malam yang menyediakan alkohol sebagai menu utama, menjadi pilihan pertama dalam memanjakan diri bagi remaja dan kaum eksekutif . Istilah “dugem” ataupun “melantai” bukanlah menjadi hal asing bagi kebayakan remaja di kota-kota besar. Sementara di daerah rural, tempat hiburan seperti club dangdut, warung remang, ataupun kegiatan hiburan insidentil lain seperti panggung hiburan dan acara-acara ceremonial juga tidak lepas dari penggunaan alkohol. Pergaulan menjadi kunci dalam permasalahan alkohol terkait pengaruh perubahan gaya hidup. Bagaimanapun juga faktor perubahan lifestyle atau gaya hidup bukanlah faktor yang berdiri sendiri, melainkan faktor dengan bentuk perubahan yang mensyaratkan corak kolektif (social pattern) didalamnya, dan biasanya perubahan lifesyle ini muncul melalui pengaruh pergaulan. • Sistem Norma Norma sosial baik itu merupakan nilai keluarga ataupun nilai masyarakat sering berpengaruh pada masalah penyalahgunaan alkohol. Karakter dan nilai individu dibentuk melalui proses adopsi nilai keluargadan nilai masyarakat. Norma sosial ini memiliki dimensi etis dengan konsekwensi yang tidak mengikat, dan sering digunakan sebagai mekanisme kontrol terhadap perilaku individu dalam kehidupan bermasyarakat (Sarwono,1993). Dalam kasus penyalahgunaan alkohol pada individu, tidaklah sulit untuk menemukan keterkaitannya dengan keberadaan sistem nilai dan norma dalam keluarga si pengguna. Individu pengguna alkohol sering berasal dari lingkungan keluarga yang juga mengkonsumsi alkohol, atau keluarga yang memiliki peran kontrol minim terhadap perkembangan perilaku individu yang bersangkutan. Peranan keluarga 23

menjadi sangat dominan dalam pembentukan perilaku individu terkait masalah penyalahgunaan alkohol. Sementara dalam beberapa lingkungan masyarakat kita, perilaku alkoholik masih ditoleransi pada batas-batas tertentu. Stigma negatif merupakan bentuk tertinggi dari konsekwensi yang dilabelkan pada pengguna alkohol. Peran masyarakat dalam kontrol perilaku terkait dengan sistem norma, hanya terbatas pada kontrol terhadap dampak negatif alkohol secara sosial (gangguan keamanan, perkelahian, kriminalitas, dll). Untuk penggunaan alkohol seperti pesta pesta miras, acara minum, dan lainnya masih ditoleransi sebatas tidak memiliki dampak terhadap gangguan keamanan pada lingkungan umum. 2. Economic • Kekuatan Ekonomi Masyarakat Meningkatnya jumlah pengguna alkohol di Indonesia dapat diasosiasikan dengan faktor keterjangkauan harga minuman beralkohol dibandingkan dengan daya beli atau kekuatan ekonomi masyarakat. Saat ini (2008) Indonesia memilki per capita income (PCI) sebesar US$.1.100 dollar per tahun, atau setara dengan Rp.1.050.000 perbulan. Secara rasional dengan mayoritas penduduk Indonesia dengan rat-rata pendapatan bulanan sebesar 1 juta rupiah sudah barang tentu minuman beralkohol menjadi sulit untuk dijangkau, namun pada kenyataannya jumlah pengguna minuman keras di tanah air dari tahun ke tahun justru semakin tinggi. Tingginya harga minuman beralkohol merk import menjadikan minuman jenis ini lebih akrab dengan pengguna dari lapisan atas, sementara masyarakat kalangan bawah lebih banyak membelanjakan uangnya pada minuman keras merk lokal ataupun bebrapa minuman tradisional. Masalah baru muncul ketika beberapa produk minuman keras lokal (tradisional) seringkali tidak terdaftar pada Balai Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM). Sehingga kadar alkohol dalam minuman sering tidak diketahui oleh pengguna. Selain itu masyarakat dengan alasan penghematan dan menambah efek memabukkannya, juga sering melakukan pencampuran antara minuman keras dengan cairan lain (oplosan), seperti spirtus, minyak babi, propelen, obat-obatan, ataupun softdrink. Di berbagai daerah di tanah air, beberapa kasus intoxinaty (keracunan) yang berujung pada kematian sering kali berawal dari hal ini. 24

Tiga orang tewas dan satu kritis setelah mereka pesta minuman keras (miras) tiga hari berturut-turut di rumah salah satu korban di kawasan Manyar Sabrangan VII A Surabaya, Jawa Timur. Ketiga korban tewas pada Kamis (8/5) adalah Nurkhasanah, Agus, dan Didik. Sedangkan yang dalam kondisi kritis adalah pemilik rumah yang dijadikan tempat pesta, Suparno yang kini dirawat di RS Haji Surabaya. Keterangan yang dihimpun Media Indonesiamenyebutkan, minuman keras yang mereka konsumsi selama tiga hari terakhir di rumah Suparno berupa bir yang dicampur dengan arak, bodrex, dan paramex (Media Indonesia, May 2008).

Di atas merupakan kutipan berita pada salah satu media nasional mengenai pesta minuman keras oplosan (Bir, Arak, Bodrex, dan Paramex) yang berakhir dengan kematian tiga orang di wilayah Surabaya. • Mekanisme Harga Pasar Pasar memainkan peranannya sendiri dalam mempengaruhi pola konsumsi masyarakat terhadap alkohol. Dalam satu sisih minuman beralkohol import ataupun minuman beralkohol yang terdaftar (license) jauh lebih aman bagi penggunannya, hal ini karena pada merk-merk tersebut kandungan alkoholnya telah diketahui secara pasti dan tertetera dalam kemasan (botol) minuman. Sehingga diharapkan si pengguna alkohol dapat menyesuaikan pola konsumsinya dengan kadar kandungan alkohol yang ada pada minuman. Sementara minuman beralkohol lokal (tradisional) yang tidak terdaftar akan sulit untuk dideteksi nilai kandungan alkohol didalamnya, sehingga justru memiliki resiko lebih tinggi terhadap si pengguna. Minuman beralkohol merk import dan minuman beralkohol domestik terdaftar, memiliki harga yang relatif cukup tinggi dipasaran, bila dibandingkan dengan minuman beralkohol lokal dan tradisional. Hal ini dikarenakan tingginya biaya masuk minuman import, biaya perijinan perijinan produksi dan distribusi, biaya pajak dan cukai, serta biaya produksi dan pemasarannya, sementara banyak minuman jenis lokal yang tidak terdaftar dan tidak memiliki ijin produksi. Bandingkan harga minuman beralkohol merk Mansion atau Jack Daniels yang ada dalam kisaran Rp.300.000 - Rp.500.000 per botol (300 - 600 ml), dengan harga minuman lokal Arak Bali, Tuak, atau Cukrik dengan harga Rp.10.000 - Rp.20.000 per liter. Sudah barang tentu masyarakat pecandu alkohol (lapisan bawah) akan lebih memilih untuk mengkonsumsi minuman lokal karena harganya yang relatif lebih murah, namun disatu sisih memberikan resiko yang justru lebih tinggi.

25

Pendapatan Negara Masalah penyalahgunaan alkohol terkesan kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, ini mungkin karena sifatnya yang ambivalen. Di satu sisih alkohol merupakan salah satu penyebab kematian terbesar (kesehatan dan sosial) sementara di sisi lain alkohol masih menjadi primadona penyumbang devisa negara (ekonomi) baik melalui pajak maupun cukai (tax,revenue, and excise). Sebagaimana diketahui bahwa sumber penerimaan Negara Republik Indonesia diperoleh dari : a. Penerimaan Perpajakan b. Penerimaan Negara Bukan Pajak c. Penerimaan Hibah Dalam dan Luar negeri Dalam UU RI No 45 Tahun 2007 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008, disebutkan bahwa : a. Jumlah anggaran pendapatan negara dan hibah tahun anggaran 2008 sebesar Rp.781.354.147.476.000 (tujuh ratus delapan puluh satu triliun tiga ratus lima puluh empat miliar seratus empat puluh tujuh juta empat ratus tujuh puluh enam ribu rupiah). b. Penerimaan perpajakan sebesar Rp.591.978.380.000.000 (lima ratus sembilan puluh satu triliun sembilan ratus tujuh puluh delapan miliar tiga ratus delapan puluh juta rupiah). c. Penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp.187.236.083.476.000 (seratus delapan puluh tujuh triliun dua ratus tiga puluh enam miliar delapan puluh tiga juta empat ratus tujuh puluh enam ribu rupiah). d. Penerimaan hibah sebesar Rp.2.139.684.000.000 (dua triliun seratus tiga puluh sembilan miliar enam ratus delapan puluh empat juta rupiah). Dari pendapatan sektor pajak di atas sebesar Rp.44.426.530.000.000 atau sekitar 7% merupakan pendapatan cukai (tembakau dan alkohol). Pendapatan cukai tembakau Rp.43.571.000.000.000, pendapatan cukai alkohol Rp.196.800.000.000, dan pendapatan cukai minuman mengandung ethyl alkohol Rp.658.730.000.000. Jumlah ini belum mewakili pendapatan sektor pajak lain terkait produk alkohol dan variannya, seperti pajak pendapatan dan pertambahan nilai (PPh dan PPn) barang import, bea masuk luar negeri dan perdagangan internasional, pajak perijinan industri

26

dan usaha dagang, dan pajak produksi dan periklanan, dan lain sebagainya. Yang estimasi kotornya bisa mencapai 5% total APBN. Dengan kisaran seperti ini tentu saja akan sulit bagi pemerintah untuk membatasi meningkatnya perkembangan industri alkohol di Indonesia. Saat ini saja di Indonesia terdapat 588 alcoholic beverage factories, 2 perusahaan importir, dan 82 perusahaan distributor induk. Selain itu juga terdapat dua perusahaan besar produsen minuman beralkohol yang mendapatkan lisensi dari dua perusahaan bir raksasa internasional, yaitu BIR BINTANG (International HEINEKEN Beer Company) dengan produksi 1.350.000 hectoliter minuman beralkohol pertahun, serta ANKER BIR (International ANCHOR Beer Company) yang menyuplai 900.000 hectoliter minuman beralkohol per tahun di Indonesia (WHO SEARO, 2002). Dalam tinjauan ekonomi makro pemerintah juga mengalami masalah dilematis, karena jutaan rakyat Indonesia yang mengantungkan hidupnya pada industri minuman beralkohol (produksi, distribusi, pemasaran, dan lain sebagainya). Pelarangan semua bentuk industri alkohol di Indonesia tentu saja bukan menjadi pilihan bijaksana dalam menangani permasalahan penyalahgunaan alkohol di tanah air. Karena hal ini justru akan menimbulkan masalah sosial baru seperti pengangguran dan kemiskinan, terlebih pondasi ekonomi negara kita masih sangatlah rapuh. 3. Cultural • Tradisi dan Adat Pada banyak kebudayaan di berbagai belahan dunia, alkohol telah dikenal dan memiliki perannya sendiri secara kultural. Di Cina alkohol dikenal dalam bentuk arak sering digunakan dalam acara ceremonial dan juga dikenal sebagai obat dan bumbu masak. Sementara di Jepang pengkonsumsian alkohol (Arak Jepang) jugadilakukan dalam acara pertemuan-pertemuan formal (bussiness) atau perayaan keberhasilan. Di Indonesia banyak daerah memiliki keterikatan dengan penggunaan alakohol, baik itu penggunaan untuk perayaan adat, ataupun penggunaan alkohol sebagai obat yang dipercaya mampu memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh, yang akarnya bisa ditarik dalam konteks kultur dominan. Di Bali penggunaan minuman beralkohol menjadi semacam tradisi bagi acara-acara perjamuan dan penghormatan bagi tamu yang berkunjung. Sementara di Tuban Jawa Timur, minuman beralkohol yang 27

disebut “badeg” tidak akan sulit untuk ditemukan hampir di setiap rumah di sepanjang pesisir pantai utara ini Pulau Jawa ini. Sementara di Manado penyajian minuman keras dalam setiap acara pesta sudah merupakan hal yang wajib, budaya hasil akulturasi antara tradisi lokal dan budaya Portugis ini tetap dipelihara hingga saat ini. Adat dan tradisi lokal memiliki karakteristiknya sendiri, dan memiliki pengaruh yang berbeda dalam pembentukan perilaku. Bentuk budaya dan tradisi merupakan pedoman bagi sistem nilai dan norma masyarakat, hal ini berpengaruh terhadap penilaian baik dan buruk secra subyektif, dengan derajat yang berbeda unruk setiap daerah (Sarwono,1993). Dari sini tentu saja masalah penyalahgunaan alkohol pada masyarakat kita dapat ditelusuri melalui konteks budaya, namun untuk penanganannya tentu saja membutuhkan usaha yang jauh lebih kompleks karena kultur dominan di tiap-tiap daerah tentu saja beragam.
Pada saat malam lebaran (Hari Raya Idul Fitri 1429 H) ratusan nelayan di Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur Indramayu mengadakan pesta mnuman keras. Hal semacam itu memang kerap dilakukan warga setelah pulang berlayar. Acara malam itu semakin ramai dengan bergabungnya para pemudik di desa tersebut. Pesta miras itu mulai memakan korban pada Jumat pagi (3/10). Satu demi satu nyawa peserta pesta miras terenggut. Hingga tadi malam, korban mencapai 11 orang (suarakarya online, oktober2008).

Kutipan berita di atas bisa memberikan contoh tentang bagaimana masyarakat kita masih marak mengkonsumsi alkohol atas dasar tradisi dan kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama. Kultur dan tradisi tidaklah mungkin dapat diberikan label penilaian negatif atau positif apapun bentuknya, karena setiap daerah memiliki akar sejarah yang berbeda dan berpengaruh terhadap apa yang diyakini. Pendekatan masalah penyalahgunaan alkohol dengan perangkat budaya tidak akan mampu memberikan hasil yang optimal, karena sama seperti etika, nilai, dan sistem kepercayaan, mekanisme kontrol perilaku terkait penyalahgunaan alkohol melalui perangkat kultur hanya akan memberikan kerangka etis normatif tanpa ada kerangka positif dengan pertanggungjawaban nyata. Pendekatan melalui tradisi dan adat lokal pada masalah penyalahgunaan alkohol hendaknya lebih ditujukan sebagai pintu masuk untuk memahami karakter dan

28

besaran masalah yang terjadi pada tiap-tiap kelompok masyarakat dengan kultur yang beragam. • Sistem Kepercayaan dan Agama Di Indonesia terdapat lima agama resmi dan berbagai bentuk kepercayaan yang berakar dari tradisi. Walaupun secara eksplisit hanya agama Islam yang memuat aturan dalam kitab sucinya (AL Qur’an) tentang pelarangan alkohol untuk dikonsumsi, namun bukan berarti perangkat aturan yang sama tidak berlaku pada agama dan kepercayaan lain. Kaum Yahudi yang memiliki sejarah dan akar yang sama dengan agama Islam (Smith) juga memuat secara tegas tentang aturan pengkonsumsian minuman hasil fermentasi anggur. Sedangkan kaum umat Nasrani masih mentoleransi pengkonsumsian alkohol, ini dapat dilihat dari sejarah Khristus yang melakukan perjamuan anggur dengan para muridnya “Perjamuan Terakhir” sebelum disalib oleh tentara Romawi. Pada kepercayaan Budhis, Hindi, dan kepercayaan Cina juga tidak ditemukan adanya larangan eksplisit terhadap pengkonsumsian alkohol. Namun tentu saja semua agama dan kepercayaan di atas melarang pengkonsumsian jenis makanan atau minuman yang dapat memberikan dampak negatif bagi pengkonsumsinya, atau juga larangan terhadap pengkonsumsian jenis makanan dan minuman tertentu secara berlebihan. Hal ini membuktikan bahwa semua agama tidak akan menganjurkan pada pemeluknya untuk merusak dirinya sendiri dengan mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu (alkohol), walaupun setiap agama memiliki batas toleransi berbeda terhadap pengkonsumsiannya. Pendekatan agama dalam penanganan masalah penyalahgunaan alkohol sama halnya dengan memberikan kerangkafiktif dalam membatasi tindakan dan perilaku seseorang. Bagaimanapun juga agama dann keyakinan hanya mempu memberikan batasan yang bersifat subyektif terhadap apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, dengan pertanggungjawaban vertikal antara seseorang dengan apa yang diyakininya. Batasan ini sangat variatif, keropos, dan mudah untuk dimanipulasi bukan dari sisih religius melainkan dari sisih mekanisme kontrol. Masalah alkohol harus dipahami dan dianalisis melalui konteks hubungan horisontal (manusia dengan manusia) dan bukan konteks vertikal (manusia dengan Tuhan). 4. Environment • Peraturan dan Kebijakan 29

Di Indonesia banyak dikeluarkan produk perundangan yang mengatur tentang masalah alkohol, baik itu regulasi mengenai produksi dan distribusinya, maupun peraturan tentang penggunaannya untuk konsumsi. UU dan PP terkait masalah alkohol : UU RI Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan Pada pasal 21, UU 23 Tahun 1992 ini disebutkan secara tegas peraturan tentang pengamanan produk makanan dan minuman yang beredar dalam masyarakat. 1. Pengaman makanan dan minuman diselenggarakan utuk melindungi masyarakat dari makanan yang tidak memenuhi ketentuan mengenai standar dan atau persyaratan kesehatan. 2. Setiap makanan dan minuman yang dikemas wajib diberi tanda atau label yang berisi : a. bahan yang dipakai b. komposisi setiap bahan c. tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa d. ketentuan lainnya 3. Makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan standar dan atau persyaratan kesehatan dan atau membahayakan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dilarang untuk diedarkan, ditarik dari peredaran, dan disita untuk dimusnakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. UU RI Nomor 05 Tahun 1997 Tentang Psikotropika Undang Undang ini memuat informasi tentang berbagai jenis zat psikotropika berbahaya termasuk alkohol, beserta peredarannya. UU RI Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai Undang Undang ini berisikan peraturan mengenai barang-barang kena cukai, serta hak dan kewajiban industri barang yang terkena cukai. Pada pasal 4, UU 11 Tahun 1995 disebutkan tentang cukai minuman beralkohol.

30

1. Cukai dikenakan terhadap barang kena cukai yang terdiri dari : a. etil alkohol atau etanol, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya. b. minuman yang mengandung etil alkohol dalam kadar berapa pun, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya, termasuk konsentrat yang mengandung etil alkohol.

Pada pasal 5, UU 11 Tahun 1995 disebutkan tentang tarif cukai minuman beralkohol. 1. Barang kena cukai yang dibuat di Indonesia dikenai cukai berdasarkan tarif setinggi-tingginya : a. dua ratus lima puluh persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual pabrik b. lima puluh lima persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran 2. Barang kena cukai yang diimpor dikenai cukai berdasarkan tarif setinggitingginya : a. dua ratus lima puluh persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean ditambah bea masuk b. atau lima puluh lima persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1996 Tentang Izin Pengusaha Barang Kena Cukai PP RI 25 Tahun 1996 ini mengatur tentang perijinan untuk industri barang yang terkena cukai, termasuk didalamnya produk minuman beralkohol. 1. Izin Usaha Pabrik 2. Izin Usaha Tempat Penyimpanan 3. Izin Usaha Tempat Penjualan Eceran Etil Alkohol dan Minuman Mengandung Etil Alkohol 4. Izin Usaha Importir Barang Kena Cukai

31

Di Indonesia banyak sekali ditemukan pelangaran terhadap peraturan perundangan terkait minuman keras (beralkohol). Penjualan produk minuman keras lokal dan tradisional tanpa kemasan yang menginformasikan kandungan alkohol dan tanggal kadaluwarsa, tentu saja melanggar UU RI Nomor 23 Tahun 1992 Pasal 21. Banyak industri minuman lokal lebih memilih untuk beroprasi secara ilegal dikarenakan pemberlakuan Pasal 5 UU 11 Tahun 1995, yang mengatur besaran tarif cukai antara 50% - 250% dari harga dasar. Di Indonesia juga diatur mengenai larangan penjualan minuman beralkohol untuk konsumen di bawah usia 21 tahun, dan lagi-lagi peraturan ini sekedar menjadi peraturan. Dan sangat disayangkan bahwa pemerintah kita tidak mengatur tentang batas maksimum kandungan alkohol dalam minuman konsumsi. Yang ada hanyalah peraturan mengenai penjualan dan distribusi jenis minuman keras berdasarkan kandungan alkohol didalamnya. Peraturan Daerah mengenai masalah alkohol : Perda Nomor 1 Tahun 2000 Tentang Larangan Minuman Beralkohol, di Banjarmasin Perda Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Keras, di Tasikmalaya Perda Nomor 13 tahun 2002 Tentang Larangan Peredaran Minuman beralkohol, di Kabupaten Malinau Perda Nomor 7 tahun 1953 Tentang Izin Penjualan dan Pemungutan Pajak Minuman Keras, di Daerah KotaprajaYogyakarta Setiap peraturan yang diberlakukan di daerah tergantung pada karakteristik dan kepentingan masing-masing daerah. Motif ekonomi sering menjadi pertimbangan dalam pembuatan dan pelaksanaan peraturan daerah ini. Di Bali misalnya peraturan mengenai penggunaan minuman beralkohol tentu saja sangatlah toleran, mengingat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bali lebih banyak dari sektor pariwisata yang akrab dengan pengkonsumsian alkohol. Di beberapa daerah memang sering terdengar tentang razia penertiban dan penangkapan pelaku minuman keras (alkohol), baik itu produsen, distributor, maupun di tingkat konsumennya. Namun upaya penegakan hukum ini juga

32

terkesan musiman, tidak didasari oleh kesungguhan, dan hanya dilakukan pada tataran tentatif saja. Bahkan pada beberapa dearah, sering dijumpai pelanggaran penyalahgunaan minuman beralkohol justru dilakukan oleh aparat penegak hukum itu sendiri. • Ketersediaan Produk Faktor lain yang mempengaruhi masalah penyalahgunaan alkohol di Indonesia adalah ketersedian produk minuman beralkohol yang bisa diakses oleh siapapun dari semua kelompok umur. Produk minuman keras beralkohol sangat mudah untuk ditemukan dimanapun baik secara legal maupun ilegal. Saat ini satu-satunya hal yang membatasi keterjangkauan produk minuman beralkohol terhadap akses masyarakat adalah mekanisme harga pasar. Bagi kalangan middle high class, produk-produk minuman keras (import dan terdaftar) sangatlah mudah diperoleh di swalayan ataupun club-club hiburan malam, pada tempat-tempat ini minuman beralkohol dengan kadar di atas 50% pun (Rhum dan Brandy) bisa diperjual belikan secara legal. Sementara untuk masyarakat kelas bawah, minuman keras lokal dan tidak terdaftar yang dijual secara ilegal diberbagai tempat, lebih menjadi pilihan utama. • Media Periklanan Iklan memiliki fungsi dalam menginformasikan produk yang diproduksi secara masal kepada masyarakat, agar masyarakat tergerak untuk membeli atau mengkonsumsi produk tersebut. Iklan cenderung menciptakan hasrat dalam diri konsumen, menyarankan pada konsumen untuk melengkapi sesuatu yang kurang dalam dirinya, dan menawarkan produknya sebagai jawaban (Noviani, 2002). Dalam kasus penyalahgunaan alkohol di Indonesia, paparan iklan komersial untuk produk minuman beralkohol ini memang tidaklah gencar dilakukan di media. Namun beberapa iklan mengenai minuman yang mengandung ethil alkohol dan minuman carbon dengan kandungan zero alcohol masih sering dijumpai baik pada media cetak maupun media elektronik. Hal ini disadari atau tidak dapat menumbuhkan keinginan dalam diri masyarakat untuk mengkonsumsi produk minuman yang diiklankan tersebut, dan lambat-laun keinginan tersebut aklan berkembang pada keinginan untuk mengkonsumsi produk minuman beralkohol. Hal ini bisa terjadi terutama pada remaja yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya, selalu ingin mencari

33

pengalaman baru atau sering mencoba sesuatu yang baru, termasuk juga mencoba mengkonsumsi minuman beralkohol (Sundeen, 1997). Dalam pedoman periklanan makanan dan minuman yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI (BPOM) Tahun 1994, disebutkan pada salah satu pasal mengenai periklanan produk minuman keras (beralkohol) bahwa : 1. Iklan tidak boleh mempengaruhi atau merangsang orang untuk mulai minum minuman keras 2. Iklan minuman keras tidak boleh menggambarkan penggunaan minuman keras dalam kegiatan-kegiatan yang memerlukan konsentrasi (perlu informasi bahwa penggunaannya dapat membahayakan keselamatan) 3. Iklan minuman keras tidak boleh ditujukan terhadap anak dibawah usia 16 tahun dan atau wanita hamil, atau menampilkan mereka dalam iklan 4. Minuman keras golongan C (dengar kadar alkohol 20% sampai dengan 55%) dilarang diiklankan. • Promosi Kesehatan Peranan provider kesehatan dalam mempromosikan kesehatan terkait masalah alkohol baik itu sosialisasi di tingkat masyarakat maupun advokasi pada tingkatan decision maker menjadi sangat vital. Promosi kesehatan melalui iklan layanan kesehatan terbukti mampu memberikan rangsangan terhadap perubahan perilaku individu dan masyarakat (Ewles, 1998). Namun di Indonesia program promosi kesehatan serta keberadaan iklan layanan kesehatan masyarakat terkait masalah alkohol masih sangat minim dan harus ditingkatkan. Dalam konteks permasalahan penyalahgunaan alkohol, program promosi kesehatan ini merupakan bentuk upaya transfer informasi dan pengetahuan kesehatan pada masyarakat (sosialisasi) dan pada pembuat kebijakan (advokasi) mengenai dampak negatif dari pengkonsumsian alkohol, ditinjau dari segi kesehatan maupun segi sosial. Diharapkan dengan pengoptimalan fungsi promosi kesehatan maka di satu sisih masyarakat dapat secara sadar untuk menghindari penyalahgunaan alkohol, dan pada sisih lain pemerintah (decision maker) mampu merumuskan dan melaksanakan peraturan mengenai minuman beralkohol yang lebih berpihak terhadap bidang kesehatan.

34

III.3. Keterkaitan Alkohol dan Rokok Sebagaimana kita ketahui bahwa dampak negatif penggunaan alkohol dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu dampak fisik, dampak neurology dan psychologi, juga dampak sosial. Dampak fisik dapat berupa penyakit serosis hati, kanker, penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi dan berbagai panyakit khronis lainnya. Dampak psikoneurologis seperti pengaruh addictive, imsonia, depresi, gangguan kejiwaaan, gangguan daya ingatan, kemampuan penilaian, kemampuan belajar, dan gangguan neurosis lainnya. Kemudian adalah dampak sosial seperti tindakan asusila, kriminalitas, dan peningkatkan resiko kecelakaan yang selain berpengaruh terhadap pengguna juga berpengaruh bagi orang lain (Woteki, 1992). Selain itu masalah penyalahgunaan alkohol juga sering diasosiasikan salah salah satu penyebab kemiskinan di Indonesia (lingkaran setan kemiskinan). Seperti halnya perilaku merokok, masalah penyalahgunaan alkohol juga menjadi mata rantai yang menghambat pertumbuhan ekonomi di negara ini. Ke dua produk ini pada salah satu sisih mampu memberikan kontribusi bagi penerimaan negara, dan di sisih lain juga menyita porsi yang besar dari pengeluaran negara bagi pengobatan dan pemeliharaan kesehatan masyarakat terkait masalah ini. Alkohol dan rokok juga penggunaan narkoba.
Tabel III.1. Keterkaitan Alkohol dan Rokok
Point Aspek Sosial Rokok Social Peer’s Preasure Prestige Sebagai innstrumen pelicin bisnis Kebiasaan kultural (klobot, kretek, filter, rokok putih, cerutu, pipa) Traditional Healers Ritual adat dan tradisi (sesajen) Perokok pasif (40% - 63%) Jantung Kanker Penyakit Paru Impotensi Nafsu makan turun (BB turun) Sering merasa bosan Depresi ringan - sedang Rasa takut berkurang Putus asa dan rasa malu Kepedulian rendah Kesulitan tidur Alkohol Social Peer’s Preasure Prestige Sebagai innstrumen pelicin bisnis Kebiasaan kultural (tuak, bir, merk lokal, import) Traditional Healers Ritual adat dan tradisi (sesajen) Mabuk (kekrasan, perkelahian, kriminalitas, kecelakaan) Merusak semua organ tubuh Peningkatan hasrat seksual Nafsu makan turun (BB turun) Legih bersemangat Depresi sedang - berat Lebih berani Putus asa dan rasa malu Tidak peduli sama sekali Teler (drowsiness) sebelum tidur

merupakan masalah yang multidimensi

dengan penagan yang kompleks, dimana keduanya sering dikatakan sebagai pintu masuk

Aspek Budaya Dampak bagi Orang Lain Dampak Kesehatan Dampak Seksual Dampak Gizi Dampak Psikis

35

Dampak Ekonomi Ketrkaiatn dengan Narkoba Awal Penggunaan Sakau Kebijakan dan Peraturan Adiksi

Sulit bekerja dan berfikir tanpa rokok Merasa terisolir Kurang peduli nyeri badan Biaya 11% dari income harian (golongan bawah dan menegah di Indonesia) Biaya perawatan penyakit akibat rokok > dari pendapatan cukai rokok Rokok luar negeri lebih disukai 35% - 40% APBN dari cukai rokok Rokok pintu gerbang menuju narkoba Bisa dicampur dengan narkoba Usia Sekolah Dasar (Indonesia) Mulai ringan - sedang Perokok berat bisa serius Indonesia (posisi 5 perokok terbanyak di dunia) 181,958 milyar batang rokok dihisap pada tahun 2001 Ada Cukai rokok masih dibutuhkan negara Mulai ringan - sedang

-

Bekerja dengan energik Merasa terisolir Tak peduli nyeri badan Biaya 30% - 53% dari income harian (golongan menegah dan atas di Indonesia) Mirasmerk luar negeri lebih disukai 10% - 12% APBN dari cukai dan pendapatan pajak industri miras (Indonesia) Rokok adalah awal penggunaan alkohol, dan berlanjut pada narkoba Bisa dicampur dengan narkoba Usia 15 tahun (Eropa 1993 1994) Mulai ringan - sedang - berat (perawatan medis) Indonesia relatif tidak diekspos (negara dengan mayoritas muslim) Konsumsi 0,10 liter percapita tahun 2004 (recorded data) Ada Larangan MUI Cukai dan hasil pajak industri miras masih dibutuhkan negara Mulai ringan - sedang - berat (terapi medis) Dalam sadar beta, sering kambuh kembali setelah 3 - 6 bulan stop miras PKBWT (dalam sadar alpha theta tanpa pesan spiritual (Peniston et al, 1989 - 1995)

-

-

Jumlah Penggunaan

-

-

Dalam sadar beta, tanpa pesan spiritual sering kambuh kembali setelah 6 bulan stop merokok Terapi Adiksi - IKSAT (dalam sadar alpha theta dengan pesan spiritual (Mochny, 2005) IKSAT Intervensi pesan Kuantum dalam Sadara Alpha Tetha PKBWT Peniston Kulkosky Brain Wafe Training

Sumber : WHO 1999, Howard 1999, Mochny 2005

III.4. Analisis SWOT Untuk kepentingan penanganannya maka permasalahan penyalahgunaan alkohol di Indonesia dapat dianalis melalui metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Oppurtunities, Threats). 1. Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal a. Faktor Internal Kekuatan (Strengths) : • Mayoritas mayarakat Indonesia adalah kaum Muslim 36

• • • • • • • • •

Norma dan sistem nilai dominan yang menganggap alkohol sebagai larangan Kultur dominan yang menganggap alkohol sebagai larangan Keberadaan peraturan, regulasi dan perangkat hukum

Kelemahan (Weaknesses) : Keberadaan minuman keras lokal tradisional dan ilegal (tidak terdaftar) Pengaruh pergaulan, lifestyle, dan nilai prestige dari pengkonsumsian alkohol Ketersediaan dan keterjangkauan minuman beralkohol Kekuatan ekonomi makro termasuk pendapatan negara dan PCI Indonesia Maraknya media periklanan komersial Minimnya program pomosi kesehatan terkait masalah alkohol

b. Faktor Eksternal Peluang (Opportunities) : • • • • Upaya penanganan masalah alkohol skala internasional (WHO) Mekanisme harga pasar sebagai kontrol peredaran minuman beralkohol

Ancaman (Threats) : Arus globalisasi dan perang kebudayaan Perdagangan bebas dan maraknya produk alkohol import

2. Penilaian Faktor Internal dan Eksternal
Tabel III.2. Penilaian Faktor Internal dan Eksternal Faktor Internal Strengths : - Mayoritas mayarakat Indonesia adalah kaum Muslim - Norma dan sistem nilai dominan - Kultur dominan yang menganggap alkohol sebagai larangan - Keberadaan peraturan, regulasi dan perangkat hukum Weaknesses : Keberadaan minuman keras lokal tradisional tidak terdaftar Pengaruh pergaulan, lifestyle, dan nilai prestige dari pengkonsumsian alkohol Ketersediaan dan keterjangkauan minuman beralkohol Kekuatan ekonomi makro termasuk pendapatan negara dan PCI Indonesia Maraknya media periklanan komersial Minimnya program pomosi kesehatan terkait masalah alkohol 2 1 1 4 5 3 5 5 2 4 6,25% 3.13% 3.13% 12,50% 15,63% 9,38% 15,63% 15,63% 6,25% 12,50% Urgensi Faktor

37

Jumlah Faktor Eksternal Opprtunities : Upaya penanganan masalah alkohol skala internasional (WHO) Mekanisme harga pasar sebagai kontrol peredaran minuman beralkohol Threats : Arus globalisasi dan perang kebudayaan Perdagangan bebas dan maraknya produk alkohol import Jumlah

32 Urgensi 3 4

100% Faktor 21,4% 28,6%

3 4 14

21,4% 28,6% 100%

: sangat tinggi 4 : tinggi 3 : sedang 2 : rendah 1 : sangat rendah 3. Peta Posisi Faktor Internal dan Eksternal
Tabel III.3. Faktor Kunci dan Peta Posisi Kekuatan Faktor Internal Strengths : 1. Keberadaan peraturan, regulasi dan perangkat hukum 2. Mayoritas mayarakat Indonesia adalah kaum Muslim Weaknesses : 1. Kekuatan ekonomi makro termasuk pendapatan negara dan PCI Indonesia 2. Ketersediaan dan keterjangkauan minuman beralkohol (legal dan ilegal)

Skala Linkert 5

Faktor Eksternal Opprtunities : 1. Mekanisme harga pasar sebagai kontrol peredaran minuman beralkohol 2. Upaya penanganan masalah alkohol skala internasional (WHO) Threats : 1. Perdagangan bebas dan maraknya produk alkohol import 2. Arus globalisasi dan perang kebudayaan

Tabel III.4. Strategi Intervensi pada Faktor Kunci Strengths : Faktor 1. Keberadaan peraturan, Internal regulasi dan perangkat hukum 2. Mayoritas mayarakat Indonesia adalah kaum Muslim Weaknesses : 1. Kekuatan ekonomi makro termasuk pendapatan negara dan PCI Indonesia 2. Ketersediaan dan keterjangkauan minuman beralkohol (legal dan ilegal)

Faktor Eksternal

38

Opprtunities : 1. Mekanisme harga pasar sebagai kontrol peredaran minuman beralkohol 2. Upaya penanganan masalah alkohol skala internasional (WHO)

Strategi (SO) :

Strategi (WO) : 1. Intervensi terhadap mekanisme harga pasar domestik untuk produk alkohol 2. Pembatasan peredaran produk minuman keras melalui pengawasan pasar

1. Desain kebijakan dan
regulasi yang berpihak pada kesehatan serta memperkuat penegakan hukum 2. Dukungan terhadap upaya global penanganan alkohol yang disesuaikan dengan karakristik nasional Strategi (ST) : 1. Regulasi terhadap produk minuman import 2. Memperkuat kultur dan keyakinan lokal dalam mengimbangi arus masuk globalisasi

Threats : 1. Perdagangan bebas dan maraknya produk alkohol import 2. Arus globalisasi dan perang kebudayaan

Strategi (WT) : 1. Peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional 2. Memperkuat kebijakan dan regulasi terhadap produksi dan distribusi minuman beralkohol

4. Perumusan dan Penilaian Tujuan
Tabel III.5. Perumusan Tujuan Alternatif Faktor Kunci Keberhasilan Alternatif Tujuan (WT) Kelemahan Kunci Internal 1. Perdagangan bebas dan maraknya produk alkohol import 2. Arus globalisasi dan perang kebudayaan Kelemahan Kunci Eksternal 1. Kekuatan ekonomi makro termasuk pendapatan negara dan PCI Indonesia 2. Ketersediaan dan keterjangkauan minuman beralkohol (legal dan ilegal) 1. Peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional 2. Memperkuat kebijakan dan regulasi terhadap produksi dan distribusi minuman beralkohol

Tabel III.6. Penilaian Tujuan Alternatif No 1 Strategi Alternatif Peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional Memperkuat kebijakan dan regulasi terhadap produksi dan distribusi minuman beralkohol M 5 KML 4 KMA 3 TN 12

2

5

3

5

13

39

Skala Linkert 5

: 4 3 2 1

sangat tinggi : tinggi : sedang : rendah : sangat rendah manfaat kemampuan mengatasi kelemahan kemampuan mengatasi ancaman total nilai

Keterangan

M : KML : KMA : TN :

Dua Strategi alternatif untuk penanganan masalah penyalahgunaan alkohol di Indonesia adalah : • • Peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional Memperkuat kebijakan dan regulasi terhadap produksi dan distribusi minuman beralkohol 4. Penetapan Strategi
Tabel III.7. Penetapan Srtaegi No 1 Strategi Alternatif Peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional Memperkuat kebijakan dan regulasi terhadap produksi dan distribusi minuman beralkohol Efektivitas 4 Efisiensi 3 Kemudahan 2 Total 9 Keterangan Evaluasi

2

5

5

4

14

Terpilih

Pilihan utama strategi untuk penanganan masalah penyalahgunaan alkohol di Indonesia melalui analisis SWOT adalah dengan memperkuat kebijakan dan regulasi terhadap produksi dan distribusi minuman beralkohol III.5. Pendekatan Metode CARAT Penanganan masalah penyalahgunaan alkohol di Indonesia melalui pendekatan dengan metode CARAT (Concrete, Ambitious, Realistic, Acceptable, and Time), antara lain :

40

1. Concrete • Desain dan pemberlakuan peraturan perundang-undangan terkait masalah alkohol (produksi, distribusi, peijinan, dll) yang lebih berpihak pada kesehatan (healthy public policy) • • Desain dan pemberlakuan peraturan daerah terkait masalah alkohol yang disesuaikan dengan karakteristik budaya dan tradisi lokal masing-masing Pengawasan dan monitoring pasar secara continue untuk produk minuman beralkohol baik lokal maupun import, yang dilaksanakan melalui kerjasama antar departemen yang terkait (Kesehatan, Perindustrian, POLRI, dll) • • Peningkatan program promosi kesehatan terkait masalah alkohol dengan pendekatan kultural dan religius sebagai pintu masuk ke masyarakat Peningkatan fungsi promosi kesehatan sesuai dengan peranannya (advokasi pada decission maker, networking lintas sektoral, dan edukasi kesehatan terhadap masyarakat), melalui penguatan internal, revisi terhadap tujuan dan fungsi, pengembangan keorganisasian tingkat nasional • • • Penyikapan terhadap arus globalisasi dan perubahan lifestyle terkait masalah alkohol, melalui penguatan budaya lokal Penyikapan terhadap arus globalisasi dan pasar bebas melalui perangkat peraturan perundang-undangan Penguatan ekonomi masyarakat memalui program pemberdayaan masyarakat serta desain dan penciptaan lapangan kerja padat karya untuk pendukung pertumbuhan ekonomi nasional • Upaya multidimensi dengan keterlibatan lintas sektoral dalam penanganan masalah alkohol dan masalah kesehatan lainnya 2. Ambitious • • • Terciptanya peraturan perundang-undangan yang lebih berpihak pada kesehatan (healthy public policy) Terciptanya peraturan daerah yang lebih fleksibel dan sesuai dengan karakteristik kultur dominan daerah Terciptanya pasar yang kondusif dan bebas dari produk minuman bealkohol ilegal, maupun bentuk pelanggaran pemasarannya

41

• • • • • •

Terciptanya program promosi kesehatan yang lebih relevan untuk tiap-tiap kelompok masyarakat di setiap daerah Terwujudnya fungsi promkes sesuai dengan filososfi dasarnya (advokasi, networking, dan edukasi) Terciptanya keseimbangan antara pengaruh globalisasi dan perubahan lifestyle dengan budaya dan tradisi lokal Terciptanya kemampuan ekonomi nasional dalam mengimbangi pengaruh globalisasi dan free market Terciptanya pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang stabil dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi makro Terciptanya masyarakat dengan derajat kesehatan yang optimal, termasuk didalamnya masyarakat yang bebas dari penyalahgunaan alkohol

3. Realistic Dalam penanganan masalah penyalahgunaan alkohol di Indonesia terdapat beberapa hal mendasar yang harus diperhatikan. • • • • • • • Fungsi dan peranan promkes serta lembaga-lembaga lain yang terkait Budaya dan kultur dominan yang berkembang Sistem norma dan keyakinan masyarakat Peraturan dan kebijakan pemerintah (pusat dan daerah) terkait masalah alkohol Kekuatan ekonomi mikro dan makro terkait kepentingan ekonomi nasional Kepentingan domestik dan luar negeri terkait posisi Indonesia dalam pasar internasional Dampak perubahan yang muncul pasca penanganan masalah penyalahgunaan alkohol (dimensi sosial, kultural, dan ekonomi) 4. Acceptable • • Perumusan peraturan perundangan (pusat dan daerah) mengenai pengaturan alkohol yang saling menguntungkan, baik bagi sektor kesehatan, sosial, maupun ekonomi Upaya kerjasama lintas sektoral antar bidang yang terkait, sebagai bentuk penanganan masalah bersama

42

• •

Upaya pelaksanaan program promosi kesehatan yang didesain agar mampu diterima masyarakat tanpa ada pergesekan dengan kultur dan keyakinan lokal Pengawasan pasar terhadap peredaran minuman beralkohol dengan tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat, terutama untuk minuman beralkohol merk lokal dan tradisional (memberikan solusi lebih dari sekedar konsekwensi)

5. Time Estimasi waktu pencapaian keberhasilan upaya penanganan masalah penyalahgunaan alkohol di Indonesia adalah tahun 2020, ini dengan kondisi bahwa : • Peraturan perundangan (pusat dan daerah) mengenai alkohol telah diterapkan secara sempurna, baik itu kerangka kontrol (UU) maupun instrumen kontrolnya (aparat hukum) • • Peranan promkes telah kembali pada fungsinya (advokasi, networking, dan edukasi) serta memiliki kekuatan untuk ikut menentukan arah kebijakan nasional Terdapat peningkatan ekonomi mikro dan makro, yang ditandai dengan peningkatan PCI Indonesia, berkurangnya pengangguran, terselesaikannya hutang luar negeri, dan adanya surplus penerimaan devisa negara • Pasar peredaran alkohol telah terkontrol dengan baik, yang ditandai oleh berkurangnya produk minuman beralkohol ilegal, tidak terdaftar, maupun pemasaran yang tidak sesuai dengan kelompok umur • Budaya, keyakinan, tradisi, dan gaya hidup telah memiliki sistem kontrol dan pengawasan melalui perangkat peraturan perundangan

43

BAB IV PENUTUP IV.1. Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari paper tentang “Penyalahgunaan Alkohol di Indonesia” ini, antara lain : 1. Alkohol menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia (dampak langsung, khronis, maupun sosial) 2. Alkohol berada tepat di bawah rokok sebagai penyebab kematian utama di Indonesia 3. Alkohol memberikan dampak negatif tidak hanya pada dimensi kesehatan fisik (serosis hati, tekanan darah tinggi, dll) dan kesehatan psikologis (adiksi, imsonia, gangguan syaraf, dll) namun juga memberikan dampak pada dimensi sosial (kriminalitas, kecelakaan, dll) 4. Derajat ketergantungan dan dampak alkohol terhadap pengguna tergantung pada kondisi fisiologis, psikologis, personalitas, serta pola konsumsi dari si pengguna 5. Masalah penyalahgunaan alkohol merupakan masalah yang multidimensi, sehingga membutuhkan penanganan yang komprehensif dengan memperhatikan semua aspek

44

6. Masalah penyalahgunaan alkohol bukanlah sekedar masalah perilaku individu, namun harus dipahami sebagai masalah sosial yang membutuhkan penanganan kolektif 7. Terdapat empat determinan utama yang mempengaruhi masalah penyalahgunaan alkohol (social, economic, cultural, dan envionment), dimana tiap dimensi memiliki peranan dan kontribusi yang berbeda namun memiliki ikatan kompleks 8. Penanganan masalah penyalahgunaan alkohol secara tentatif, hanya akan memunculkan masalah baru (sosial, ekonomi, budaya, dll) 9. Difersivikasi produk alkohol dapat dilakukan sebagai alternatif penanganan masalah penyalahgunaan alakohol, diantaranya adalah pemanfaatan alkohol sebagai bahan bakar alternatif bagi kendaraan pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) 10. Memperkuat kebijakan dan regulasi terhadap produksi dan distribusi minuman beralkohol merupakan pilihan strategis utama penanganan masalah penyalahgunaan alkohol, yang didapatkan melalui analisis SWOT 11. Dengan metode CARAT maka di perkirakan Indonesia akan mengalami penurunan dalam masalah penyalahgunaan alkohol di tahun 2020 IV.2. Rekomendasi Beberapa reomendasi yang dapat diberikan penulis terkait masalah “Penyalahgunaan Alkohol di Indonesia” ini, antara lain : 1. Dibutuhkan suatu upaya multidimensi dengan keterlibatan semua pihak dalam penanganan masalah penyalahgunaan alkohol di Indonesia, misalnya dengan program STOPS alkohol yang melibatkan ahli kesehatan, praktisi hukum, entepreneur, pemuka agama, aktivis sosial, dan lain-lain yang terkoordinasi untuk penyelesaian masalah penyalahpenggunan alkohol melalui skill dan expertasinya masing-masing 2. Pemerintah harus mampu mendesain suatu peraturan perundangan tentang produksi, distribusi, dan penggunaan alkohol dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial, kultural, dan kesehatan 3. Budaya, tradisi, dan keyakinan dapat dijadikan entry point dalam pendekatan masyarakat, namun tidaklah cukup kuat unuk memberikan kerangka konrol tehadap masalah penyalahgunaan alkohol, sehingga diharapkan setiap program kesehatan yang terkait masalah ini tidak hanya menjadikan budaya, tradisi, atau keyakinan menjadi satu-satunya instrument analisis dan intrument pemecahan masalah

45

4. Indonesia bisa mecontoh program difersivikasi alkohol yang diubah menjadi bahan bakar alternatif bagi kendaraan seperti yang telah dilakukan oleh Brasil, Amerika Serikat, China, dan Kolumbia. Tanah Indonesia yang cocok untuk ditanami tebu, singkong, ubi, kentang, jagung, dan lainnya menjadi aset utama dalam program difersivikasi ini.

By : Eko Teguh Pribadi, 2008 red_camarade@yahoo.co.id 031 71440055 or 081 75124748

46

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful