You are on page 1of 18

ANALISA MUTU DAN HASIL PERTANIAN LAPORAN ANALISA KADAR ABU

Oleh :

Nama NIM Kleas Kelompok Hri / Tgl Praktikum Hrai / Tgl Pengumpulan

: Sigit Satria P : 121710101111 : THP - C :2 / C2 Shift 1 : 08 Oktober 2013 : 22 Oktober 2013

oleh karenanya biasanya dilakukan dengan menentukan sisa-sisa pembakaran garam mineral tersebut. dalam hal ini metode pengabuan dengan metode tanur adalah dengan cara membakar bahan hingga mencapai suhu 600-750 oC hingga bahan berwarna abu-abu 1. dan pektat. oksalat. Kadar abu ialah material yang tertinggal bila bahan makanan dipijarkan dan dibakar pada suhu sekitar 500-800°C. sedangkan garam anorganik antara lain dalam bentuk garam fosfat.2 Tujuan   Untuk mengetahui cara analisis kadar abu bahan pangan dan hasil pertanian. nitrat. sulfat. Apabila akan ditentukan jumlah mineralnya dalam bentuk aslinya adalah sangat sulit. karbonat .BAB I PENDAHULUAN 1. Untuk mengukur kadar abu bahan pangan dan hasil pertanian dengan metode pengabuan kering. Mineral juga biasanya berbentuk sebagai senyawa kompleks yang bersifat organis. yang dikenal dengan pengabuan Kadar abu pada bahan pangan menggambarkan kandungan mineral dari sampel bahan makanan. Kandungan abu dan komposisinya tergantung pada macam bahan dan cara pengabuannya.klorida. Garam organik terdiri dari garam-garam asam malat. asetat.1 Latar Belakang Abu adalah zat organik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. Mineral yang terdapat dalam satu bahan dapat merupakan dua macam garam yaitu garam organik dan garam anorganik. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. .

Cawan nikel digunakan untuk analisa abu untuk contoh dalam jumlah besar. AAS (atomic absorption spectrofotometer). Oksigen yang terdapat di dalam udara bertindak sebagai oksidator. 1989). Biasanya digunakan dalam analisis kadar abu (analisis proksimat).( A. Beberapa hal yang oerlu diperhatikan dalam pengabuan cara kering ini adalah sebagai berikut. harga relatif murah. . Metode pengabuan cara kering banyak dilakuakan untuk analisis kadar abu. Residu yang tertinggal ditimbang dan merupakan total abu dari suatu contoh. Pemilihan cawan disesuaikan sifat bahan yang akan dianalisis. Cawan porselen sering digunakan untuk pengabuan karena cepat mencapai berat konstan. Cawan platina biasanya untuk bahan bersifat basa.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. tahan asam. tidak tahan basa. Pengabuan cara kering Pengabuan ini menggunakan panas tinggi dan adanya oksigen. Metode pengabuan terdiri dari dua cara yaitu: a. kuarsa. namun mudah retak dan pecah jika dipanaskan pada suhu tinggi dengan tibatiba.Underwood. platina (kapasitas 25-100ml). tanpa terjadi nyala api sampai terbentuk abu berwarna putih keabuan dan berat tetap (konstan) tercapai. Cawan porselin (bagian dalam dilapisi silika) merupakan bahan bersifat asam. Pengabuan merupakan tahapan persiapan contoh yang harus dilakukan dalam anailisis elemen-elemen mineral (individu). spektrofotometer. nikel. Cawan kuarsa dapat dipanaskan sampai 9000C. Oksidasi komponen organik dilakukan pada suhu tinggi 5006000C. silika.1 Metode Pengabuan Kering dan Basa Penentuan kandungan mineral dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penentuan abu total dan penentuan individu komponen mineral (makro & trace mineral) menggunakan titrimetrik.L. 1) Cawan Pengabuan Cawan biasanya terbuat dari porselin. Caranya adalah dengan mendestruksi komponen organik contoh dengan suhu tinggi di dalam suatu tanur (furnace) pengabuan.

Bahan berlemak banyak dan mudah menguap memiliki suhu mula-mula rendah. kemudian dinaikkan ke suhu pengabuan. Pengabuan cara basah ini dilakukan dengan mendestruksi komponen-komponen organik (C. 3) Suhu pengabuan Suhu pengabuan ini sangat penting karena elemen abu (K. b.2) Contoh/bahan Untuk contoh basah (kadar air tinggi) dan cairan dikeringkan dahulu dalam oven pengering atau dapat juga dengan hotplate atau penangas air. Residu pengabuan berwarna putih keabuan & berat konstan pada selang waktu 30 menit. Tahap pengeringan ini dapat pula dilakukan untuk menentukan kadar air contoh. S. Biasanya digunakan untuk penentuan individu komponen mineral. 4) Pengabuan Dalam pengabuan menggunakan tanur (furnace) sehingga suhu dapat diatur. ) dapat menguap pada suhu tinggi serta dekomposisi senyawa K2CO3. Pengabuan cara basah Pengabuan ini menggunakan oksidator-oksidator kuat (asam kuat). . Prinsip pengabuan cara basah adalah memberi reagen kimia (asam kuat) pada bahan sebelum pengabuan. Na. Jika menggunakan pemanas bunsen suhu tidak dapat diatur. Bahan tersebut dapat berupa: 1. Bahan dimasukkan oven 1050C supaya suhu turun. H. Asam sulfat Bahan pengoksidasi kuat yang dapat mempercepat reaksi oksidasi. Ca. Setelah itu dilakukan penimbangan pada kondisi dingin. 1995). lalu dimasukkan dalam desikator sampai dingin. dan O) bahan dengan oksidator seperti asam kuat. Contoh yang mudah berbuih dilakukan prapengabuan di atas api terbuka sampai mengering dan tidak mengeluarkan asap lagi atau dapat ditambahkan anti buih (parafin. olive). Lama pengabuan sekitar 2-8 jam. Cara ini lebih baik dari cara kering karena pengabuan cara kering lama dan terjadi kehilangan mineral karena suhu tinggi (Harrizul. Pengabuan merupakan tahapan persiapan contoh. Secara visual warna api merah membara menandakan suhu sekitar 5500C (cawan porselin). CaCO3. Suhu pengabuan berbedabeda tergantung komponen mineral dalam contoh. Pengabuan cara ini dilakukan untuk menentukan elemen-elemen mineral. MgCO3.

Pada awalnya kopi dikonsumsi pada abad ke-9 di dataran tinggi Ethiopia 12 kemudian menyebar ke Mesir dan Yaman. Cantor. K. Italia. Lynch. Persia. 2. pada umumnya disebut biji kopi.2. seterusnya pada abad ke-15 telah mencapai Azerbaijan. (Meyers. 3. Indonesia. dan atomic absorption spectrofotometer (AAS). Senyawa volatil adalah senyawa yang mudah menguap. Sylvaine. Memiliki suhu difesti dibawah 3500C. Residu anorganik dari proses pengabuan (cara kering dan basah) terdiri dari bermacammacam mineral yang komposisi dan jumlahnya tergantung pada jenis bahan pangan dan metode analisis yang digunakan.. Stefano. King. kopi merupakan minuman yang sangat populer di seluruh dunia. terutama apabila terjadi kenaikan suhu. dan Afrika Utara.. Pernyataan ini disampaikan oleh Villanueva.. Campuran asam sulfat & potasium sulfat K2SO4 menaikkan titik didih H2SO4 menyebabkan suhu pengabuan tinggi sehingga pengabuan berlangsung cepat. (FAO. Turki. 2007) Selain dikonsumsi sebagai stimulant. benua Eropa.. kopi juga digunakan dalam ritual-ritual agama.2 Bahan baku 2. spektrofotometer. 4. Senyawa volatil yang berpengaruh terhadap aroma kopi antara lain dari golongan . Cordier. Cristina M. International Journal of Cancer 118 (8): 2040–2047.1 Kopi Kopi merupakan suatu minuman stimulan yang didapatkan dari biji yang tanamn kopi yang dipanggang.2. Charles F.. Jaakkola.dalam judul "Total and specific fluid consumption as determinants of bladder cancer risk". Saat ini. Analisis atau penentuan kadar mineral dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan berbagai jenis metode: metode titrimetrii. dan Amerika. Porru. Campuran asam sulfat & asam nitrat Campuran ini banyak digunakan selain itu capuran ini merupakan oksidator kuat. Kogevinas. Kenneth P. Jouni J. Perklorat bersifat mudah meledak. Manolis (2006). Campuran asam perklorat & asam nitrat Untuk bahan yang sulit mengalami oksidasi campuran ini baik untuk digunakan karena pengabuan sangat cepat ± 10 menit. 2004) Senyawa kimia yang terkandung didalam biji kopi dapat dibedakan atas senyawa volatil dan non volatil. dan sebagai jamuan untuk tamu-tamu agung. kepentingan politik. Will D.

. nikel atau platina dengan berbagai kapasitas (25-100 ml). Sampel yang akan ditimbang sejumlah tertentu tergantung macam bahannya. karena gula merupakan salah satu komponen pembentuk aroma. lemak. dan mineral. chlorogenic acid dan senyawa-senyawa nutrisi. Kafein merupakan suatu alkaloid dari metil xantin yaitu 1. Sukrosa yang termasuk golongan karbohidrat merupakan senyawa disakarida yang terkandung dalam biji kopi.3.2. Bahan yang akan diabukan ditempatkan dalam wadah khusus yang disebut krus yang terbuat dari porselin.3 Prinsip Analisa Penentuan kadar abu secara langsung (cara kering) adalah dengan mengoksidasikan semua zat organik pada suhu yang tinggi.7 trimetil xantin. Bahan yang mempunyai kadar air tinggi sebelum pengabuan harus dikeringkan lebih dahulu. quartz. sedangkan senyawa non volatil yang berpengaruh terhadap mutu kopi antara lain kafein. silika. yaitu sekitar 500-600 0 C dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah proses pembakaran tersebut. sedangkan kafeol merupakan faktor yang menentukan rasa. Golongan asam juga dapat mempengaruhi mutu kopi. Selama penyangraian sebagian besar chlorogenic acids akan terhidrolisa menjadi asam kafeat dan Quinic acid. Selain itu terdapat juga kafein yang merupakan unsur terpenting pada kopi yang berfungsi sebagai stimulant. kadarnya bisa mencapai 75% pada biji kopi kering. dalam biji kopi juga terdapat gula pereduksi sekitar 1 %.aldehid. Senyawa nutrisi pada biji kopi terdiri dari karbohidrat. karena merupakan salah satu senyawa pembentuk aroma kopi. Pemilihan bahan ini disesuaikan dengan bahan yang akan diabukan (Apriantono. keton dan alkohol.1989). Bahan yang mempunyai kandungan zat yang mudah menguap dan berlemak banyak pengabuan dilakukan dengan suhu mula-mula rendah sampai asam hilang. baru kemudian dinaikkan suhunya sesuai dengan yang dikehendaki. Selain itu. protein. Sedangkan untuk bahan yang membentuk buih waktu dipanaskan harus dikeringkan dahulu dalam oven dan ditambahkan zat anti buih misalnya olive atau parafin. Asam yang dominan pada biji kopi adalah asam klorogenat yaitu sekitar 8 % pada biji kopi atau 4. 2.2 Tepung Tapioka 2.5% pada kopi sangrai. Berkurangnya gula pereduksi yang disebabkan oleh penyimpanan pada suhu tinggi akan menyebabkan turunnya mutu kopi seduhan yang dihasilkan.

sodium hidroksida. Sisanya terdiri atas unsur-unsur mineral. kemerah-merahan (Apriantono. ini menunjukkan pengabuan belum sempurna maka perlu diabukan lagi sampai noda hitam hilang dan diperoleh abu yang berwarna putih keabu-abuan. Kadar abu atau mineral merupakan bagian berat mineral dari bahan yang didasarkan atas berat keringnya (Acker. Pengabuan dilakukan dengan muffle yang dapat diatur suhunya. Agar supaya eksikator mudah digeser tutupnya maka permukaan gelas diolesi dengan vaselin (Apriantono.4 Mengapa Pengabuan penting bagi sebagian produk makanan Sebagian besar bahan makanan yaitu 96% terdiri atas bahan organik dan air. untuk itu maka krus yang berisi abu yang diambil dari dalam muffle harus lebih dahulu dimasukkan ke dalam oven bersuhu 105 ?C agar supaya suhunya turun. Pengabuan dianggap selesai apabila diperoleh sisa pengabuan yang umumnya berwarna putih abu-abu dan beratnya konstan dengan selang waktu pengabuan 30 menit. Mineral yang terdapat dalam bahan pangan terdiri dari 2 jenis garam..1989). 2. .Mengingat adanya berbagai komponen abu yang mudah mengalami dekomposisi atau bahkan menguap pada suhu yang tinggi maka suhu pengabuan untuk tiap-tiap bahan dapat berbeda-beda tergantung komponen yang ada dalam bahan tersebut. tetapi bila tidak tersedia dapat menggunakan pemanas bunsen. yaitu garam organik misalnya asetat. Bila menggunakan bunsen sulit diketahui ataupun dikendalikan suhunya untuk ini dapat digunakan pengamatan secara visual yaitu kelihatan membara merah berarti suhu lebih kurang 550 0 C (bila menggunakan krus porselin). baru kemudian dimasukkan ke dalam eksikator sampi dingin. Rumus yang digunakan untuk menentukan kadar abu cara kering adalah bobot sampel sebelum diabukan(dalam gram) dikurangi bobot sampel ditambah cawan sesudah diabukan (dalam gram) dibagi bobot cawan kosong (dalam gram) dikali 100 persen. Unsur mineral juga dikenal sebagai bahan anorganik atau kadar abu. 1969)Abu adalah zat anorganik dari sisa hasil pembakaran suatu bahan organik.1989). Penentuan kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Eksikator yang digunakan harus dilengkapi dengan zat penyerap uap air misalnya silika gel atau kapur aktif atau kalsium khlorida. Lama pengabuan tiap bahan berbeda-beda dan berkisar antara 2-8 jam. L. Kadangkala pada proses pengabuan terlihat bahan hasi pengabuan berwarna putih abu-abu dengan bagian tengahnya terdapat noda hitam. Penimbangan terhadap bahan dilakukan dalam keadaan dingin. (Warna abu ini tidak selalu abu-abu atau putih tetapi ada juga yang berwarna kehijauan.

Bahan makanan dibakar dalam suhu yang tinggi dan menjadi abu. misalnya karbonat. Penentuan kadar abu berhubungan erat dengan kandungan mineral yang terdapat dalam suatu bahan. kemurnian serta kebersihan suatu bahan dihasilkan. 2004) . dan garam anorganik. mallat. Kandungan dan komposisi abu atau mineral pada bahan tergantung dari jenis bahan dan cara pengabuannya (Gunawan. Kandungan dan komposisi bahan abu atau mineral tergantung dari jenis bahan dan pengabuannya. fosfat.pektat. Proses untuk menentukan jumlah mineral sisa pembakaran disebut pengabuan. dan nitrat. sulfat.2004). Pengukuran kadar abu bertujuan untu mengetahui besarnya kandungan mineral yang terdapat dalam makanan/pangan. Penentuan abu total dapat dikerjakan dengan pengabuan secara kering atau cara langsung dan dapat pula secara basah atau cara tidak langsung (Gunawan.

1Alat dan Bahan o Alat : 1. Penjepit kurs 6. Kopi tanpa fermentasi 4. Kopi fermentasi 3. Neraca analitik 5. Spatula o Bahan : 1. Kurs porselen 4. Eksikator beserta silika gelnya 3. Tepung tapioka 2.BAB III BAHAN DAN PROSEDUR ANALISA 3. Tanur pengabuan/mufle 2. Label .

100oC Eksikator 5 menit Timbang (a gram) 3 gram tepung tapioka (3X) (b gram) Masukkan tanur Atur suhu pada skala 30-40 selama 1 jam atau asapnya habis Naikkan suhu skala menjadi 60-80 selama 4 jam Timbang (c gram) .2.3. Prosedur Analisa Kurs Porselen Oven 15 menit.

532 3.291 0.118 4.533 18.247 14.289 4.842 8. %bb) 1 2 3 Rata .007 3.1 Kopi Sangrai Tanpa Fermentasi Pengulangan Berat Kurs Porselin (gr) Berat Bahan (gr) Berat Berat Kurs Kurs Porselin + Porselin Bahan + Bahan Setelah (gr) Pengabuan (gr) 21.240 11.1735 3.134 4.1.1 Hasil Pengamatan 4.666 Berat Bahan Setelah Pengabuan (gr) Kadar abu (g/100 g.BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 4.035 3.001 0.465 4.967 8.125 0.369 11.129 0.885 .rata SD RSD 18.877 11.

953 14. bb) Kadar abu (%.870 4.bk) 1 2 3 13.0641 % 0.012 16.887 15.932 4.039 13.0331 % 0. %.0749 % .952 14.1024 2.851 11.952 17.3 Tepung Tapioka Pengulangan (1.033 4.0387 % 0.871 12.1.016 3 3.144 0. 3) Berat Kurs Porselin (gr) Berat Bahan (gr) Berat Kurs porselin + Bahan (gr) Berat Kurs Porselin + Bahan Setelah Pengabuan (gr) 13.bb) 1 2 3 Rata – rata SD RSD 10.4.0333 % 0.113 4. 2.2 Kopi Sangrai Fermentasi Pengulangan Berat Kurs Porselin (gr) Berat Bahan (gr) Berat Kurs porselin + Bahan (gr) Berat Kurs BeratBahan Porselin + Setelah Bahan Pengabuan Setelah (gr) Pengabuan (gr) 10.702 10.043 3.825 3.844 0.837 0.015 11. 1.148 Kadar abu (g/100 g.723 14.732 4.116 8.149 0.142 0.0389 % 0.021 3.994 3.972 7.827 Kadar abu (%.872 12.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kandungan mineral pada kopi sangrai tanpa fermentasi mempunyai kandungan mineral sebanyak 4.0208 % 40.892 0. Pengukuran kadar abu bertujuan untu mengetahui besarnya kandungan mineral yang terdapat dalam makanan/pangan.291 %(bb). .884 0.942 % 5.936 % 6.291%. Bahan makanan dibakar dalam suhu yang tinggi dan menjadi abu.748 0. Bahan yang mempunyai kandungan zat yang mudah menguap dan berlemak banyak pengabuan dilakukan dengan suhu mula-mula rendah sampai asam hilang.742 % 3. Sampel yang akan ditimbang sejumlah tertentu tergantung macam bahannya. baru kemudian dinaikkan suhunya sesuai dengan yang dikehendaki. 2004) Pada praktikum anaisa kadar abu yang telah dilakukan terdapat prosedur-prosedur (tahapan) yang harus dilakukan selama analisa dilakukan. Didapatkan hasilnya yaitu: Bahan kopi sangrai tanpa fermentasi mempunyai nilai rata-rata kadar abu sebesar 4.576 % 13. yaitu sekitar 500-600 0 C dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah proses pembakaran tersebut.Rata – rata SD RSD 13.9448 % 4.937 6.0178 % 40. Kandungan dan komposisi bahan abu atau mineral tergantung dari jenis bahan dan pengabuannya.0508 % 0.0435 % 0. Sedangkan untuk bahan yang membentuk buih waktu dipanaskan harus dikeringkan dahulu dalam oven dan ditambahkan zat anti buih misalnya olive atau parafin. Penentuan abu total dapat dikerjakan dengan pengabuan secara kering atau cara langsung dan dapat pula secara basah atau cara tidak langsung (Gunawan.265 % 16.009 0.2 Pembahasan Penentuan kadar abu secara langsung (cara kering) adalah dengan mengoksidasikan semua zat organik pada suhu yang tinggi.008 % 0. Penentuan kadar abu berhubungan erat dengan kandungan mineral yang terdapat dalam suatu bahan. Bahan yang mempunyai kadar air tinggi sebelum pengabuan harus dikeringkan lebih dahulu. kemurnian serta kebersihan suatu bahan dihasilkan.9195 % 0.882 0.

94%. Namun data pengamatan yang diperoleh selama praktikum mendapatkan hasil RSD yang sangat besar yaitu dengan nilai 40. Dimana data tersebut menunjukan kandungan mineral yang terkandung pada tepung tapioka. Untuk nilai RSD pada data pengamatan didapatkan nilai 2.844%. . Oleh karena itu kemungkinan data nilai kadar abu yang digunakan untuk menetapkan kadar mineral yang terkandung didalam bahan juga tidak akurat. Dari bahan kopi sangri fermenatsi nilai kadar abu yang diperoleh dari proses analisa sebesar 4. Dimana dari nilai tersebut dapat diketahui bahwa kandungan mineral yang ada pada kopi sangrai dengan fermentasi sebesar 4. Dimana nilai tersebut menunjukan bahwa keakurasian data yang diperoleh selama praktikum sangat bagus.844%.Sedangkan pada nilai RSD pada data pengamatan yang dipaparkan diatas diperoleh nilai sebesar 3. Dimana dengan nilai RSD yang sebesar itu dapat ditarik kesimpulan bahwa data pengamatan yang telah diperoleh memiliki tingkat keakurasian yang sangat buruk.113%. Kemudian untuk bahan tepung tapioka diperoleh data nilai rata-rata kadar abu sebesar 0.0508%. Hal ini dikarenakan nilai RSD yang sangat jauh melebihi 5%. hai ini dikarenakan nilai kadar abu yang diperoleh diartikan sebagai kandungan mineral pada bahan.885%.

.2 Saran   Praktikan yang bertugas harus lebih teliti dan akurasi dalam mencampurkan larutan sampel agar tidak terjadi kesalahan dan deviasi dalam praktikum. Nilai keakurasian data yang paling tinggi (bagus) ada pada data pengamatan analisa kadar abu dengan bahan tepung tapioka Nilai RSD yang paling besar adalah pada sampel bahan kopi sangrai tanpa perlakuan proses fermentasi 5. yaitu sekitar 500-600 0 C dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah proses pembakaran tersebut    Kandungan dan komposisi bahan abu atau mineral tergantung dari jenis bahan dan pengabuannya.BAB 5. PENUTUP 5. Sebaiknya praktikum dilakukan oleh semua praktikan agar lebih memahami konsep tentang cara penetapan kadar abu yang benar.1 Kesimpulan Dari serangkaian praktikum analisa kadar abu pada beberapa bahan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :  Penentuan kadar abu secara langsung (cara kering) adalah dengan mengoksidasikan semua zat organik pada suhu yang tinggi.

Bogor:Depatemen Barus . 23. No.Fardiaz. Studi Penentuan Kandungan Karbohidrat. P.DAFTAR PUSTAKA Acker. Quantitative Analysis. 1995. 2005. 1969.Analisa Pangan . Harrizul. A. Jakarta : Erlangga .3. Protein danineral dalam Air Rebusan Beras sebagai Minuman Pengganti Susu. Moscow : MIR Publishers Apriantono. dan D. L. 1969.1989. Food Technol. Asas Pemeriksaan Kimia.2005) Gunawan. V. 2004.A. Water Activity and Enzime Activity.1257-1270 Alexeyev. USU: Medan (Jurnal Sains Kimia vol 9. Copper (zat tembaga) Mineral Penguat Tulang dan Sistem Syaraf.

Pengulangan I : 0.0749/3 = 0.0331+0.Pengulangan I : 13.Pengulangan III : 14. Kadar Abu (%.827 – 14. bb) (Berat kurs porselen + bahan setelah pengabuan – berat kurs porselen) / berat bahan x 100% .0387+0.0331% .871/3.872 – 13.0331 / (100 – 14.012 x 100% = 0.0508% rata-rata X = 0.5) x 100% = 0. bk) (Kadar abu %bb) / (100-kadar air bb) x 100% .825/3. Kadar Abu (%.0387 % .LAMPIRAN Perhitungan kopi  Kopi sangria tanpa fermentasi  Kopi sangria fermentasi Perhitungan tepung tapioca 1.0333 % .016 x 100% = 0.0641 % 2.0435 % .0389+0.0641/3 = 0.953 – 12.0333+0.Pengulangan II : rata-rata X = 0.Pengulangan II : 12.952/3 x 100% = 0.

00031828 = 0.0641-0.0508)2+(0.0389 % .0333-0.0333 / (100 – 14.0208 % RSD = SD/ X x 100 = 40.0331-0.0.9448 % .5) x 100% = 0.0641 / (100 – 14.0389-0.0435)2 + (0.Pengulangan III : 0.0508)2 2 = √0.5) x 100% = 0.9195 % Kadar abu (%bk) SD = √ (0.0178 % RSD = SD/ X x 100 = 0.000434415 = 0.0749 % Kadar abu (%bb) SD = √(0.0387-0.0435) 2 2 = √0.0435 x 100 = 40.0178/ 0.0749-0.0508)2+(0.0435) 2 + (0.