seumikè

jurnal
edisi II, 2006

Jurnal Seumike Edisi II, 2006 | ISSN 1907-9877 | www.acehinstitute.org

Edisi II, 2006| ISSN: 1907-9877

Mendambakan Pemimpin Aceh

BARU
Para Penulis: Prof. DR. Yusny Saby Prof. DR. Syahrizal, MA Prof. DR.M.Hasbi Amiruddin Ir. Agustina Arida, M.Si Drs. Ameer Hamzah Amrizal J Prang, S.H Wiratmadinata, S.H Mashudi SR Penanggung Jawab: Saiful Mahdi Nurul Kamal Editor: Saiful Mahdi Halim El Bambi Desain Sampul/Artistik/Foto/ Layout Naskah: Halim El Bambi
Redaksi “Seumikee” Aceh INSTITUTE Jl Sultan Iskandar Muda No.SK III/12 Punge Blang C ut, Banda Aceh 23234 Phone/Fax +62-651-41682, Phone2:+62-651-7400185 Web: www.acehinstitute.org email: info@acehinstitute.org Seumike Volume II, 2006

Daftar isi .3 .3

daftar isi
Jurnal Seumike Edisi II, 2006 4. POLA PENYELESAIAN KONFLIK DALAM TRADISI MASYARAKAT GAMPONG ACEH
Oleh: Prof. Dr. Syahrizal, MA & Ir. Agustina Arida, M.Si

12.PIMPINAN ACEH, DIMANA (ENGKAU) BERADA
Oleh: Prof. DR. Yusny Saby

18.KEPEMIMPINAN ACEH DALAM LINTASAN SEJARAH
Oleh: DR. M. Hasbi Amiruddin

26.BERTANYA TENTANG BANGSA: SEBUAH REFLEKSI ATAS WACANA INTEGRASI INDONESIA
Oleh: Wiratmadinata

32.PILKADA DAN KEPEMIMPINAN ACEH BARU
Oleh: Amrizal J Prang

35.MEMBANGUN DEMOKRASI ACEH DENGAN PILKADASUNG
Oleh: Mashudi SR

39.PILKADA: MENCARI KEPEMIMPINAN ACEH BARU
Oleh: Ameer Hamzah

Seumike Volume II, 2006

4. Kajian Utama

POLA PENYELESAIAN KONFLIK DALAM TRADISI MASYARAKAT GAMPONG ACEH1)
Oleh: Prof. Dr. Syahrizal, MA2) & Ir. Agustina Arida, M.Si 3)

Abstrak Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik bahwa Aceh merupakan daerah yang selalu dilanda konflik, baik vertikal maupun horizontal. Konflik merupakan hal lumrah yang terjadi dalam kehidupan manusia, dan tidak mungkin dihilangkan. Oleh karena itu, konflik perlu dikelola sehingga tidak menimbulkan kekerasan. Masyarakat Aceh dikenal sebagai masyarakat yang taat dan menjunjung tinggi agama dan adat. Ditemukan paling tidak empat pola penyelesaian konflik dalam tradisi masyarakat gampong di Aceh yaitu di’iet, sayam, suloeh dan peumat jaroe. Pola ini merupakan pola penyelesaian konflik yang menggunakan kerangka adat dan syari’at. Oleh karena itu, peran ulama dan tokoh adat menjadi penting dalam penyelesaian konflik di Aceh. Pendahuluan Ibn Khaldun dalam bukunya Muqaddimah menyatakan bahwa konflik ada sejak adanya manusia. Keberadaan konflik tidak dapat dilepaskan dari perjalanan hidup manusia. Ia begitu dekat dan seolah-seolah menjadi bagian dari denyut jantung manusia.4) Ilustrasi ini
Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama .3 .5 menggambarkan bahwa konflik merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia. Dalam kehidupan masyarakat yang sedang berubah, konflik dapat melahirkan pertentangan, pertikaian, kekerasan dan juga pembunuhan. Oleh karena itu, penyikapan dan pengelolaan konflik dapat dilakukan, karena manusia pada fitrahnya cenderung untuk hidup damai dan terbebas dari konflik. Konflik pada dasarnya bersifat netral. Ia dapat berujung positif maupun negatif. Konflik bermula dari kepentingan, dan setiap orang memiliki kepentingan berbeda antara satu dengan yang lain. Konflik bermuara positif bila dapat dikelola dengan baik, sehingga akan terbangun kepercayaan dan kesadaran bahwa manusia memang memiliki keragaman dan saling menghargai satu sama lain. Upaya saling menghargai, saling memahami, mengakui kekeliruan dan keterbatasan diri sendiri merupakan konflik yang bermuara pada nilai positif.5) Sebaliknya, konflik bermuara negatif berujung pada kekerasan, pertentangan, penganiayaan, pembunuhan, diskriminasi, perampasan hak dan lain-lain. Akibatnya, kedamaian yang merupakan dambaan setiap anggota masyarakat sangat sulit terwujud. Kenyataan konflik seperti ini tetap ada dalam setiap komunitas masyarakat manapun, termasuk dalam lingkup masyarakat adat. Dalam masyarakat adat termasuk di Aceh, umumnya dipahami bahwa konflik diidentikan dengan kekerasan, padahal kedua istilah tersebut memiliki perbedaan makna yang tajam.6) Masyarakat Aceh dikenal sebagai masyarakat yang terikat dengan agama dan nilai adat. Kekentalan nuansa adat dan agama terlihat dalam adagium “Adat bak Poteumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala; Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana”. Keberadaan ajaran agama dan adat bagi masyarakat Aceh menjadi penting, karena kedua komponen inilah yang menjadi standar prilaku masyarakat sehari-hari. Ajaran agama dan norma adat, juga dipergunakan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat Aceh.7) Dalam sejarah adat Aceh diketahui, bahwa konflik yang terjadi dalam komunitas masyarakat gampong, baik yang bersifat individual (internal keluarga), antar individu maupun antar kelompok, diselesaikan dengan bingkai adat dan agama. Pola agama dan adat ini ternyata dapat membawa kepada kedamaian yang abadi dan permanen. Dalam praktek masyarakat gampong, penyelesaian kasus pembunuhan dilakukan melalui institusi di’iet. Penyelesaian kasus pidana di luar pembunuhan seperti penganiayaan dan melukai anggota tubuh sehingga mengeluarkan darah digunakan institusi sayam. Sedangkan penyelesaian kasus perdata, rumah tangga, sengketa air di sawah, dan lain-lain dipergunakan institusi suloh. Di’iet berakar dari bahasa Arab yaitu diyat, berupa kompensasi yang dibayarkan oleh pelaku pidana kepada korban atau ahli waris korban dalam kasus pembunuhan. 8) Dalam di’ie t ini, pelaku pidana atau keluarganya memberikan sesuatu, biasanya emas, kepada keluarga korban dan menyembelih hewan berupa sapi atau kerbau yang diprakarsai oleh imuem mukim, geuchik, dan teungku meunasah. Di samping itu digelar pula upacara adat yang bertujuan untuk mengakhiri dendam atau konflik. 9) Sayam merupakan salah satu pola penyelesaian konflik untuk kasus selain pembunuhan seperti penganiayaan, perusakan anggota tubuh atau pertengkaran yang
Seumike Volume II, 2006

Korban keganasan Van Daalen di Kuta Rih Aceh Tengah. Ini merupakan salah satu bentuk kekerasan yang bermuara negatif.
FOTO WIKIPEDIA

menyebakan luka, sehingga mengalirnya darah. Pola sayam ini sama dengan di’iet, namun kompensasi yang diberikan berupa kambing atau yang setara dengan itu. Sedangkan suloh, yang berasal dari bahasa Arab islah merupakan pola penyelesaian konflik bukan hanya untuk kasus pidana, tetapi juga untuk kasus perdata atau sengketa dalam rumah tangga. Bahkan suloh ini memayungi pola-pola sebelumnya, karena mengakhiri konflik dapat dilakukan bila adanya keinginan untuk mewujudkan islah. Di’iet, sayam dan suloh dalam praktek masyarakat gampong dibalut dengan bingkai adat melalui peusijuek dan peumat jaroe. Kegiatan ini dilakukan oleh tokoh ulama dan tokoh adat (imuem mukim, geuchik, tengku meunasah) di tempat yang terbuka, supaya masyarakat dapat menyaksikan bahwa para pihak telah mengakhiri konflik. Kegiatan peusijuek dan peumat jaroe biasanya dilakukan di meunasah atau di rumah korban. Penyelesaian konflik melalui pola adat ini melahirkan kedamaian yang permanen dan bahkan dalam kenyataan keluarga korban menjadi anak angkat atau saudara angkat bagi
Seumike Volume II, 2006

pelaku pidana. Hubungan silaturrahmi ini bisanya terus dipelihara sampai dalam waktu yang lama, yang dibuktikan saling kunjung mengunjungi terutama ketika hari meugang, hari-raya atau kegiatan hajatan (kenduri) lainnya.10) Pola dan tradisi masyarakat gampong yang sangat arif tersebut, akhir-akhir ini dirasakan tidak lagi melembaga dan tidak memiliki peran signifikan dalam penyelesaian konflik di Aceh. Masyarakat Aceh berada dalam kondisi konflik terus menerus puluhan tahun, baik konflik dengan pemerintah pusat, antar kelompok masyarakat, dan bahkan antar individu yang telah merusak tatanan kehidupan adat di Aceh. Barangkali kali salah satu faktor penyebabnya adalah peran ulama dan tokoh adat yang sudah mengalami pergeseran. Revitalisasi peran institusi di’iet, sayam, suloh dan tradisi adat lainnya, serta peran ulama dan tokoh adat dalam penyelesaian konflik, mendesak untuk dilakukan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengekplorasi kearifan lokal dalam melahirkan resolusi konflik yang paripurna. 11) Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa pola penyelesaian konflik

Kajian Utama.3 .7 dalam masyarakat Aceh sangat dipengaruhi oleh institusi adat yang memiliki akar dalam fiqh Islam seperti di’iet dan suloh. Penyelesaian konflik yang menggunakan pendekatan sosio-kultural, umumnya menghasilkan damai dalam arti yang permanen. Kedamaian yang memperkukuh persaudaraan dan mempererat rasa emosiona l, terwujud dalam bentuk pengangkatan anak (eneuk tsubot), saudara angkat dan lain-lain. Pendekatan sosio-kultural dalam resolusi konflik di gampong, melibatkan ulama dan tokoh adat. Kedua komponen ini memegang peran penting, karena mereka memiliki otoritas dan dihormati oleh masyarakat. Ulama dengan otoritas keilmuan dan ketaatan beragama menjadi panutan, pembimbing dan pemberi pencerahan bagi masyarakat. Tokoh adat dengan otoritas s ebagai penjaga dan pelestari nilai-nilai luhur, menjadi penentu norma yang mengatur prilaku warga masyarakat. Konflik yang dirasakan masyarakat Aceh mulai dari konflik internal keluarga, antar kelompok masyarakat, sampai dengan konflik bersenjata yang lama dan menelan korban cukup banyak, jelas memperlihatkan seolaholah masyarakat Aceh tidak memiliki tradisi dan pola penyelesaian konflik secara arif. Padahal syari’at Islam dan norma adat dalam perjalanan sejarahnya, telah terbukti mampu menyelesaikan persoalan masyarakat gampong di Aceh, baik yang berkaitan dengan hukum, politik, sosial-budaya, ekonomi dan lain-lain. Dari indentifikasi ini, dapat dirumuskan bahwa sesungguhnya pola penyelesaian konflik dalam tradisi masyarakat gampong di Aceh adalah terdiri atas pola di’iet, sayam, suloh dan peumat jaroe dengan melibatkan peran Ulama dan tokoh adat dalam mewujudkan institusi di’iet, sayam dan suloh ini , sebagai bentuk resolusi konflik yang akan melahirkan kedamaian abadi dalam masyarakat. Pola-pola ini telah dikenal sejak awal, terutama ketika Islam menginjak kakinya ke Nusantara, dan bahkan institusi sayam, jauh lebih dahulu dikenal oleh masyarakat Aceh bila dibandingkan dengan institusi di’iet dan suloh.12) Asal usul di’iet, suloeh dan peumat jaroe berasal dari tradisi dan ajaran Islam, sehingga pola ini langsung dikenal oleh masyarakat Aceh ketika Islam disebarkan pertama kali ke Nusantara. Institusi sayam berasal dari tradisi Hindu, sehingga sebelum Islam datang pola ini telah dikenal dan dipraktekkan oleh masyarakat adat di Aceh. Ajaran dan tradisi Hindu tentang sayam, sebenarnya tidak murni lagi ajaran Hindu, namun sudah disaring (filter) oleh syari’at Islam. Oleh karenanya, praktek sayam sebagai model penyelesaian konflik dalam masyarakat Aceh bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan syari’at Islam. Di’iet Kata di’iet berasal dari istilah Arab yaitu diyat. Secara bahasa kata diyat bermakna pengganti jiwa atau pengganti anggota tubuh yang hilang atau rusak. Pengganti ini berupa harta, baik bergerak maupun tidak bergerak. Diyat merupakan konsep yang terdapat dalam hukum pidana Islam. Para sarjana hukum Islam memahami diyat sebagai bentuk kompensasi atau ganti rugi yang diserahkan oleh seorang pelaku pidana atau keluarganya, kepada korban atau keluarga korban (ahli warisnya) dalam tindak pidana pembunuhan atau kejahatan terhadap anggota tubuh orang lain. 13) Pembayaran di’iet dalam kehidupan masyarakat Aceh dimulai dengan proses peradilan terhadap pelaku pidana, sehingga
Seumike Volume II, 2006

8. Kajian Utama dapat diketahui tingkat kemaafan yang diberikan oleh korban atau ahli waris korban. Jika kemaafan telah diberikan, maka para pemangku adat atau tetua gampong mengkompromikan atau bermusyawarah dengan pelaku atau ahli warisnya tentang jumlah di’iet yang harus dibayarkan oleh pelaku pidana. Biasanya pembayaran di’iet dilakukan dengan suatu upacara adat yang didalamnya terdiri atas kegiatan peusijuek dan peumat jaroe. Keterlibatan institusi adat dan budaya dalam penyelesaian kasus pidana, bertujuan untuk menghilangkan dendam antara para pihak yang bertikai.14) Penyelesaian konflik dengan pola di’iet ditujukan untuk menghilangkan dendam dan rasa permusuhan berkepanjangan antara para pihak bertikai yang telah mengakibatkan kekerasan dan bahkan pembunuhan. Kekerasan dan pembunuhan yang terjadi di kalangan masyarakat Aceh dapat saja bermula dari perebutan lahan pertanian, penguasaan sumber-sumber ekonomi gampong atau halhal lain yang mungkin terjadi dalam interaksi sosial-masyarakat. Pola di’iet ini hanya ditujukan untuk menyelesaikan kasus pembunuhan. Dalam penyelesaian konflik yang berakhir dengan pembunuhan, maka yang bertindak sebagai fasilitator, negosiator dan mediator adalah keuchik, teungku meunasah dan tetua gampong termasuk pemangku adat. Mereka inilah yang melakukan pembicaraanpembicaraan awal dengan ahli waris korban dan pelaku pidana atau ahli warisnya. Pelibatan keluarga besar dari para pihak menjadi sangat penting dalam pembicaraan tersebut, karena untuk menghindari dendam di belakang hari. Tempat u pacara pembaya ran di’iet biasanya digelar di meunasah, atau dirumah
Seumike Volume II, 2006

korban atau dapat pula diselenggarakan di tempat lain tergantung kesepakatan para pihak yang terlibat. Peralatan dan bahan yang dipersiapkan oleh pelaku atau ahli warisnya terdiri atas kerbau atau sapi, perangkat peusijuek berupa ; nasi ketan kuning, kelapa gongseng gula merah (ue mierah), ayam panggang, tumpoe (tepung yang telah diaduk dengan gula merah yang digongseng), daun senijuek, daun ilalang (naleung samboe), padi dicampur beras, air tepung/air bunga, air putih, air cuci tangan dan kemenyan. Untuk penyelesaian kasus pembunuhan ditambah lagi dengan kain putih dan pedang/rencong di dalam sarung.15) Bahkan di beberapa daerah tertentu ditambah lagi dengan pemberian uang sekitar 2 sampai 5 juta rupiah.16) Sayam Sayam adalah salah satu pola penyelesaian konflik yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat Aceh. Pola ini telah lama dipraktekkan dan bahkan jauh lebih lama dari pola di’iet atau suloeh. Sayam adalah bentuk kompensasi berupa harta yang diberikan oleh pelaku pidana terhadap korban atau ahli waris korban, khusus berkaitan dengan rusak atau tidak berfungsinya anggota tubuh. Bahkan sebagian daerah di Aceh memberlakukan sayam ini sebagai kompensasi dari keluarnya darah seseorang akibat penganiayaan. Filosofi sayam bagi masyarakat Aceh bersumber dari adagium yang sudah dikenal lama yaitu “luka disipat, darah disukat”. 17) Makna adagium ini adalah luka akibat penganiayaan atau kekerasaan harus diperhitungkan, demikian pula dengan tumpahnya darah juga harus diperhitungkan. Pandangan ini mengindikasikan bahwa masyarakat Aceh betul-betul memberikan

Kajian Utama.3 .9 penghargaan dan perlindungan yang tinggi terhadap tubuh manusia, sebagai ciptaan Allah. Sayam merupakan bentuk kompensasi yang bertujuan untuk melindungi dan memberikan penghormatan terhadap ciptaan Allah berupa tubuh manusia. Sama halnya dengan di’iet, prosesi sayam dilaksanakan setelah para pihak yang bersengketa atau bertikai dihubungi oleh keuchik dan teungku meunasah. Apabila kedua pihak telah bersepakat baru prosesi sayam dilaksanakan di rumah korban atau di meunasah. Mengingat sayam hanya ditujukan kepada tindak pidana yang bersifat ringan, namun menimbulkan luka atau keluar darah, maka peralatan dan bahan prosesi yang harus disiapkan oleh pelaku atau ahli warisnya sama dengan di’iet, namun jumlahnya yang berbeda. Deskripsi ini menggambarkan betapa penyelesaian konflik melalui jalur adat dapat membawa kedamaian abadi, terjalin hubungan silaturrahmi yang berkelanjutan, memperkokoh hubungan persaudaraan serta akan terbangun rasa ukhuwah islamiyah di dalam kehidupan masyarakat gampong. Suloeh Kata suloeh dalam bahasa Aceh berasal dari istilah Arab yaitu al-sulhu-islah, yang berati upaya perdamaian. Suloeh adalah upaya perdamaian antar para pihak yang bersengketa. Dalam tradisi penyelesaian konflik masyarakat Aceh, suloeh lebih di arahkan sebagai upaya perdamaian di luar kasus-kasus pidana, tetapi mengarah kepada kasus perdata yang tidak melukai anggota tubuh manusia. Oleh karenanya dalam prosesi suloeh ini tidak ada penyembelihan hewan kerbau atau kambing, karena tidak berkaitan dengan meninggal atau rusaknya anggota tubuh korban.Kasus-kasus perdata yang diselesaikan melalui suloeh ini umumnya berkaitan dengan perebutan sentra-sentra ekonomi seperti batas tanah, tali air di sawah, lapak tempat berrjualan, daerah aliran sungai tempat menangkap ikan (seuneubok) dan lain-lain.18) Penyelesaian kasus melalui suloeh ini, biasanya dapat juga diselesaikan di tempat kejadian oleh para petua adat yang menguasai daerah tertentu, tanpa sampai kepada keuchik atau teungku meunasah. Penyelesaian seperti ini biasanya untuk kasus-kasus sangat ringan dan cukup dengan bersalam-salaman (peumat jaroe). Peumat Jaroe Bentuk aktivitas adat dan budaya yang melekat pada di’iet, sayam dan suloeh adalah peusijuek dan peumat jaroe (saling berjabat tangan). Kedua institusi ini memegang peranan penting dalam menjalin rasa persaudaraan (ukhuwah) antara para pihak yang bersengketa. Masyarakat Aceh menganggap belum sempurnanya penyelesaian konflik tanpa ada prosesi peusijuek dan peumat jaroe. Oleh karenanya dalam proses peumat jaroe, pihak yang menfasilitasi mengucapkan kata-kata khusus seperti ; “Nyoe kaseb oh no dan bek na deundam le. Nyoe beujeut keu jalinan silaturrahmi, karena nyan ajaran agama geutanyoe” (Masalah ini cukup di sini dan jangan diperpanjang lagi. Bersalaman ini diharapkan menjadi awal dari jalinan silaturrahmi antara anda berdua, sebab ini ajaran agama kita).19) Upacara peumat jaroe disaksikan oleh banyak orang yang diundang pada acara kenduri dan peusijuek. Urutan kegiatan adalah peusijuek, peumat jaroe dan makan bersama (kenduri). Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan panjang dari proses penyelesaian konflik dalam kerangka adat Aceh. Peran ulama
Seumike Volume II, 2006

10. Kajian Utama dan pemangku adat sangat dominan pada acara pra kenduri, peusijuek dan peumat jaroe. Tetapi paska kegiatan ini peran mereka secara gradual berkurang. Demikianlah beberapa pola penyelesaian konflik dalam tradisi masyarakat gampong di Aceh, baik yang berkaitan dengan perkara pidana, perdata atau yang lainnya. Masyarakat Aceh ternyata kaya dan memiliki pola tersendiri dalam menyelesaikan konflik melalui kerangka adat yang disirami nilai syari’at Islam. Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang berpegang teguh pada adat dan syari’at. v ___(Footnotes)
1)

9)

10)

11)

12

13) 14)

2)

3)

4)

5)

6) 7)

8)

Penelitian ini dibiayai oleh Satuan Kerja (Satker) BRR-Revitalisasi dan Pengembangan Kebudayaan Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2006. Guru Besar dalam Ilmu Hukum Islam pada Fakultas Syari ’ah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh dan Ketua Tim Penulis Buku “Kurikulum Pendidikan Damai Perspektif Ulama Aceh”. Dosen Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam Banda Aceh. Khaldun, Ibn, 2000. Muqaddimah, Jakarta : Pustaka Firdaus, hlm. 93. Fisher Simon, dkk., 2001. Mengelola Konflik ; Ketrampilan dan Strategi untuk Bertindak, Jakarta : The British Council, hlm. 79. I b i d. Hasjmy, A., 1982. Sejarah Adat Aceh, Jakarta : Beuna, hlm. 16. Audah, Ab dul Qadir, 1986. Al-Tasyri ’ al-Jina ’i al-Islami,

15)

16)

17)

18)

19)

20)

Beirut : Dar al-Fikr, hlm. 138. Syafioeddin, Hisyam, 1982. Perdamaian dalam Masyarakat Aceh (Studi di Kabupaten Aceh Besar dan Pidie), Banda Aceh : PLPIIS, hlm. 75. I b i d. hlm. 32. Syahrizal , 2005. Kurikulum Pendidikan Damai Perspektif Ulama Aceh, Banda Aceh : PPD, hlm. 45. Hasil wawancara dengan Tgk. Abdussalam AK, tokoh adat di Kabupaten Singkil, tanggal 4 Maret 2006. Audah, op.cit., hlm. 62. Hasil wawancara dengan Tgk. Nurdin, teungku meunasah Desa Sawang Manei Kecamatan Seunagan ,Kabupaten Nagan Raya, tanggal 8 Maret 2006. Hasil wawancara dengan Tgk. Syawali, Keuchik Desa Sawang Manei Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, tanggal 9 Maret 2006. Hasil wawancara den gan H. Syamsuar, Imum Mukim Kampung Hilir Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan, tanggal 3 Maret 2006. Hasil wawancara dengan Tgk. H. Usman bin Yahya, tokoh adat Desa Keude Calang, Kabupaten Aceh Jaya, tanggal 24 Pebruari 2006. Hasil wawancara dengan Hamzah Ali, Panglima Laot Lhok Seudue Panga, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, tanggal 28 Pebru ari 2006. Hasil wawancara dengan A. Rani, mantan Keuchik Desa Blang Aman Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, tanggal 9 Maret 2006. Koentjaraningrat, 1993 Metode-metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 2-6; lihat Nasuti an, 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatitf, Bandung, Tarsito, hlm. 12.

Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama.3 .11
POLA PENYELESAIAN KONFLIK DALAM TRADISI MAS YARAKAT GAMPONG ACEH

Metode x
PENELITIAN

u

Sifat dan pendekatan Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosial-budaya d a n k e a g a m a a n (socio-cultural and r e l i g i o u s a p p r o a c h ). P e n d e k a t a n i n i digunakan untuk mengekp lorasi secara mendalam tradisi-tradisi masyarakat Aceh tentang pola penyelesaian konflik. Tanpa mengg unakan multi pendeka tan, dikhawatirkan penelitian ini tidak mampu menemukan tradisi dan pola penyelesaian konflik yang sesungguhnya, karena masyarakat Aceh sangat terikat dan kental dengan adat dan syari’at. Sumber data Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data se kunder. Sumber d ata primer adalah sumber yang melahirkan data primer, sedangkan sumber data sekunder adalah sumber yang melahirkan data sekunder. Data primer adalah d a t a y a n g d i p e r o l e h l a n g s u ng d a r i lapangan, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari kajian pustaka, terutama hasil riset yang berkaitan dengan masalah penelitian. Teknik pengumpulan data Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara, questionare, dan sedapat mungkin dilakukan melalui participan obeservation. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi dokumen/literatur yang berkaitan dengan teori-teori resolusi konflik dalam dimensi adat, budaya dan agama.

v

w

Lokasi, Populasi dan Sampel Lokasi penelitian adalah Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil. Penentuan lokasi ini didasarkan pada karakteristik adat masingmasing wilayah yang sangat beragama satu sama lain. Populasinya adalah seluruh tokoh adat dan ulama yang ada di wilayah tersebut. Populasi ditentukan secara acak setelah diadakan klasifikasi terlebih dahulu, dengan menentukan tingkat keragaman atau diversity levels dari populasi yang merujuk pada dua kondisi, yaitu populasi heterogen dan homogen. Semakin tinggi tingkat heterogenitas suatu populasi, maka semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat homogenitasnya, maka sampel dalam jumlah yang sedikit dianggap representatif. Dalam penelitian ini kategori sampel terdiri atas ulama, tokoh adat dan penyelenggaraan pemerintahan di gampong.Ulama dibagi ke dalam dua kategori yaitu ulama yang duduk di MPU dan yang tidak terlibat di MPU, tetapi memiliki dayah/pesantren. Masing-masing kabupaten kota/kota diambil 10 orang sebagai sampel; 5 orang dari kalangan MPU dan 5 orang dari non MPU termasuk teungku meunasah. Demikian pula halnya dengan tokoh adat masing-masing kabupaten/kota diambil 10 orang yang terdiri atas ; imum mukim, geuchik, kejruen blang, heuria peukan, panglima laot, peutua seuneubok, dan tokoh perempuan. Sedangkan selebihnya berasal dari institusi Majelis Adat Aceh (MAA) yang ada di seluruh kabupaten/kota. Informan lain yang dijadikan s a m p e l a d a l a h p ar a p i h a k y a n g p e r n a h bersengketa dan telah berdamai melalui institusi, di’iet, sayam dan suloh masing-masing kabupaten kota 3 kasus. Analisis data Data analisis kualitatif. Data yang terkumpul terlebih dahulu diklasifikasikan berdasarkan materi/topik, kemudian dibuat kategori dan akhirnya diberikan penafsiran terhadap data, sehingga akan memperjelas dan menjawab masalah pokok dalam penelitian

²

Seumike Volume II, 2006

12. Kajian Utama

PEMIMPIN ACEH, DIMANA (engkau) BERADA
1

Oleh: Prof. DR. Yusny Saby2 Dosen IAIN Ar-Raniry Banda Aceh

FOTO B Y: MURIZAL HAMZAH Seumike Volume II, 2006

I. Pendahuluan Sebuah pepatah Aceh mengatakan, “ban u meunan minyeuk, ban du meunan aneuk .” 3 Ungkapan ini mengisyaratkan, bahwa apa saja fenomena alam yang kita saksikan ini ada asal usulnya dan dapat ditelusuri. Kalau kelapanya masih belum tua, minyaknya sedikit, kalau kelapa hijau minyaknya bening , dan sebagainya. Demikian pula ketika seorang anak memiliki kebiasaan suka memaki, maka sifat itu dapat ditelusuri, besar kemungkinan orang tua si-anak biasa berbuat demikian. Dalam masyarakat diakui bahwa penguasa atau umara dianggap sebagai ayah dan ‘ulama sebagai ibu. Ketika fenomena ini kita bawa ke ruang yang lebih besar, maka dapat ditafsirkan bahwa kalau di suatu kelompok masyarakat menonjol sifat malasnya, suka berleha-leha, tidak jujur, ata u suka berkelahi, maka sejalan dengan pepatah di atas dapat dikatakan

Kajian Utama.3 .13 bahwa pemimpinnya cenderung suka berbuat demikian. Tulisan ini berusaha menguraikan beberapa hal berkaitan dengan pemimpin Aceh dan seluk-beluk kehadiran mereka, serta dampak yang terbawa ke dalam masyarakat. II. Pemimpin satu keniscayaan Setiap masyarakat mesti ada pemimpinnya. Dengan kata lain tidak ada kelompok masyarakat yang tidak ada pemimpin di lingkungan mereka. Kalau tidak ada pemimpin besar ada pemimpin kecil, kalau tidak ada pemimpin baik ada pemimpin yang kurang baik atau yang tidak baik. Dengan demikian, kalau ada “kelompok masyarakat” yang merasa tidak mempunyai pemimpin, berarti masyarakat itu belum ada atau belum terbentu k. Yang sudah ada hanyalah gerombolan orang perorangan atau indvidu. Bahkan para “ulama” sosiolo gi pernah mengatakan bahwa asal muasal kehidupan manusia adalah masyarakat. Masyarakatlah yang paling tua. Individu datang kemudian. Artinya perorangan itu lahir dalam satu kelompok masyarakat, bukan sebaliknya. Ketika disebut masyarakat, maka yang terbayang adalah satu organisasi, satu badan, satu persatuan dari sekelompok orang-orang yang menjadi unsurnya, dengan strata tanggung jawab yang terbagi di dalamnya. Dengan demikian maka masyarakat tersebut ada kepala, badan, tangan, kaki, dan bagian lainnya. Yang dengan itu semua dapat berfungsi sebagaimana kebutuhan suatu organisasi masyarakat. Dalam hal ini, yang disebut dengan kepala adalah pemimpin. Banyak teori mengenai lahirnya pemimpin. Pemimpin yang sagat berpengaruh dalam kepemimpinannya disebut orang besar. Keberadaan pemimpin adalah kebutuhan asasi sebuah kelompok masyarakat. Artinya tidak ada kelompok masyarakat yang tidak ada pemimpin, betapapun kwalitasnya. Pemimpin itu lahir dari rahim masyarakat. Kalau masyarakat itu baik akan melahirkan pemimpin yang baik. Namun kalau masyarakat tidak baik akan melahirkan pemimpin yang tidak baik. Tentu kadangkala intervensi kondisi akan juga mempengaruhi lahirnya pemimpin. Apakah semua pemimpin itu dilahirkan. Tentu saja. Ada teori yang mengatakan Born Leader dan Trained Leader. Artinya born leader itu ialah pemimpin yang lahir dengan segala perangkatnya, keturunan, genetika, kharisma dan lingkungannya. Sedangkan trained leader adalah pemimpin yang muncul hasil dari pendidikan, pelatihan, percontohan, pengkaderan dan sejenisnya. Tentu saja orang akan menggagaskan bahwa yang lebih afdhal adalah pemimpin yang dihasilkan sebagai kombinasi dari kedua jenis ini. I. Pemimpin Aceh Dalam setiap zaman orang selalu bertanya, siapa pemimpin Aceh? Dalam sejarah Aceh pemimpin yang telah berperan dalam masyarakat paling kurang ada empat macam: Sulthan, Uleebalang, ‘Ulama, dan Birokrat. Sultan adalah produk sejarah zaman dahulu, yang dianggap berakhir dengan ditangkapnya Sulthan Muhammad Syah tahun 1903 di Lhokseumawe. Sebenarnya Sultan-lah yang menjadikan negeri dan rakyat Aceh ini pada masanya mengalami kejayaan yang lumayan sukses. Di sini yang dimaksud dengan kejayaan terealisir dalam bentuk umum, bukan untuk individu atau wilayah tertentu. Uleebalang pada mulanya adalah penyambung tangan antara sultan dan rakyat. Rakyat tahu amar kerajaan lewat uleebalang, tentu dengan beberapa kebijakan lokal dari uleebalang itu sendi ri. Terkenallah ada
Seumike Volume II, 2006

14. Kajian Utama uleebalang yang dekat dengan rakyat dan ada atas, bukan yang yang renggang. Ada pula uleebalang yang tumbuh dari masyarakat. dianggap menjadi model, ada pula yang Tent u paradigma kepetidak. Tapi mereka benar telah berfungsi mimpinan antara sebelum dan sebagai pemimpin masyarakat pada sesudah merdeka berbeda dan masanya dengan segala dinamika mengalami transformasi. Namun yang mewarnainya. nuansa masih tetap sama. Pemimpin Aceh selanjutnya Walaupun secara prosedur adalah ‘Ulama. Kalau uleebalang pemerintah pusat berhak dianggap sebagai “ayah” nya menunjukkan siapa saja jadi masyarakat maka ‘ulama adalah pemimpin Aceh, namun yang “ibu.” Kalau “ayah” itu diangkat adalah ‘ulama yang kekuasaanya lebih besar, namun sebelumnya sudah berperan kadang susah dijangkau karena memimpin masyarakat.4 “jauh” nya, maka ‘ulama adalah Pemimpin yang lain, yang ibu yang selalu berada dan hidup jarang disebut dalam wacana dalam masyarakat dengan segala kepemimpinan Aceh adalah Mukim. suka-dukanya. Itulah sebabnya Mukim adalah satu struktur yang ‘ulama biasanya lebih dekat ditumbuhkan kemudian sebagai kepada masyarakat dari pada intervensi sultan, ketika ada yang lainnya. Sebagaimana sejumlah uleebalang yang halnya kehidupan pada semulanya sebagai perpanjangan umumnya, orang bisa saja sultan dianggap tidak lagi setia GRAFIS: HALIM EL BAMBI saja tidak punya atau kepada raja. Lebih-lebih lagi kehilangan “ayah”, tapi selalu terbukti ketika sejumlah wilayah ada ibu yang mendampinginya. Oleh karena Aceh telah dikuasai secara penuh oleh Kolonial itulah ketika sultan telah tidak sanggup lagi Belanda. Mukim ini kekuasaannya terbatas berperang melawan Belanda, dan para pada beberapa keuchik di bawah uleebalang. uleebalang-pun goncang karena kehilangan Struktur ini lebih dekat kepada nuansa agama pegangan, ‘ulama-lah yang tampil ke depan. dari pada murni pemerintahan. Sebab, Mukim Puluhan tahun perang dengan Belanda ini harus menghidupkan masjid yang menjadi dilangsungkan hanya di bawah komando syarat mutlak untuk setiap kemukiman. ‘ulama. Setelah ‘ulama tampil maka perang melawan Belanda dijadikan perang melawan II. Dimana Pemimpin Aceh kafir yang nilainya suci, dengan segala suka Tentu jawabnya adalah bahwa pemimpin dukanya. Aceh adanya di Aceh, dan berada di Aceh. Kalau Pemimpin Aceh selanjutnya adalah pun tidak berada di Aceh, itu terjadi bukan Birokrat. Istilah ini muncul setelah Indonesia atas kemauan sendiri tapi adanya “kekuatan merdeka dan Aceh telah berada di dalam paksa” yang mengharuskan pemimpin itu tidak bingkainya. Apa yang dimaksudkan dengan boleh berada di Aceh karena alasan tertentu. birokrat di sini adalah pemimpin tunjukan dari Sejauh ini pemimpin itu lahir, berkiprah, setia
Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama .3 .15 dengan segala nestapa Aceh dan terus berada di Aceh sampai akhir hayatnya.

III. Antara Pemimpin dan Pejabat Sebagaimana sudah kita bicarakan bahwa pemimpin adalah leader, yang selalu memimpin, bukan sekedar mengatur sementara. Pemimpin itu tumbuh dari bawah, pejabat itu datang dari atas. Pemimpin setia dari awal sampai akhir dan dari suka sampai duka. Pejabat akan berperan secara terbatas dan ketika tidak menjabat akan minggat atau tidak menggubris. Fokus lebih kepada dirinya atau jabatannya daripada pada masyarakat yang seharusnya diurusi. Tentu akan selalu ada yang menanyakan, kalau begitu “siapa pemimpin dan siapa saja pejabat Aceh.” Secara katagoris sudah diungkapkan ada sultan dengan jajaran, Uleebalang, Mukim, Keuchik. Kemudian ada ulama dengan jajaran dari Ulama Chik s ampai dengan Teungku Gampong. Pejabat lebih kepada fenomena kontemporer dengan jajaran untuk Aceh, Gubernur, Residen, Bupati, Walikota, Camat, Lurah dan sejenisnya. Adakalanya pejabat dapat dan mampu jadi pemimpin. Namun adakalanya pejabat tidak mau atau tidak mampu jadi pemimpin. Sejauh ini telah dialami bahwa pemimpin itu mampu untuk jadi pejabat. Pemimpin Aceh nampaknya lahir dari yang kuat latar belakang agamanya.
Mesjid Raya Baiturrahman sebagai saksi sejarah kebesaran Aceh | Foto REPRO

Pemimpin Aceh lahir dari kalangan yang latar belakang agamanya sangat kuat

Sedangkan pejabat bisa diangkat, ditunjuk atau dipilih dari berbagai variasi.

IV. Aceh yang Sejahtera Aceh adalah satu kelompok masyarakat yang berkaitan erat dengan satu wilayah bahagian ujung utara pulau Sumatra, dengan beban sejarah yang berat dan panjang. Tiga unsur inilah yang menjadikan Aceh sebagai Aceh. Asal usul awal manusianya tidak penting. Kapan pentingnya ialah ketika mereka bersatu dan bergabung dalam mithos dan ethos yang sama. Aceh yang gemilang, yang kaya, yang kuat, yang dikenal ke seluruh dunia. Dapat saja masing-masing berasal dari Eropah, Cina, Keling, Campa, atau lainnya. Yang sangat penting adalah kaitannya dengan wilayah dan menyadari beban sejarah yang

Seumike Volume II, 2006

16. Kajian Utama dari banyak pihak, walau dapat dianggap bahwa pada fase tersebut Aceh “menang.” Tapi ketika penyerangan Belanda pada tahun 1874, jelas Banda Aceh (Kutaraja) dapat diduduki Belanda. Dapat dibayangkan betapa besar korban yang jatuh. Dalam masa itu kepemimpinan Aceh di bawah Raja (Sultan). V. Kesimpulan Dari pengalaman masa lalu seharusnya masyarakat belajar dengan seksama, bahwa zaman telah mendewasakan kita. Paling kurang dapat dipahami bahwa yang mengatur, me-manage dan memimpin rakyat Aceh ada dua jenis: pemimpin dan pejabat. Dari segi latar belakang Salah satu pemimpin yang lahir di Aceh boleh jadi nampaknya pemimpin Aceh lebih berasal dari madrasah/pesantren | FOTO BILD bernuansa agama, atau berorientasi agama, atau berat. Nampaknya di sini kesadaran kepada sekurangnya memahami dan sangat beban sejarahnya telah menjadikan manusia menghormati semangat agama masyarakat. yang asal-muasalnya beragam ini sebagai satu Dari segi sikap dapat dilihat bahwa yang entitas yang namanya ACEH yang menganggap namanya pemimpin itu lahir, berkiprah dan, dirinya penting, bermakna, (pernah) gemilang, bahkan hidupnya semaksimal mungkin dijalani hebat, kaya, lebih dari yang lain. Inilah yang di Aceh.5) Yang namanya pejabat ini muncul lebih kepada penunjukan dari atas ataupun namanya mithos. Apa kebutuhan utama atau obsesi “pemilihan”6 dari bawah. Ciri pejabat, kalau mereka? sejahtera, aman, damai habis masa jabatan tidak lagi berperan dalam bermartabat. Untuk mencapai itu semua telah masyarakat, apakah karena tidak mau (lagi) dilakukan beberapa terobosan yang kadangkala atau tidak mampu. Bahkan tidak jarang ia dianggap tidak sesuai dengan suasana zaman. akan hijrah dari Aceh sampai akhir hayatnya. Namun demikian, yang penting untuk Atau pun dianggap telah melampaui batas wajar dalam skala nasional. Ambillah satu Aceh masa kini adalah siapa yang dapat dan sikap anti penjajahan Belanda sejak tahun mau berbuat maksimal untuk Aceh, dengan 1873. Perlawanan yang sebenarnya tidak mendapatkan dukungan yang lebih luas lewat seimbang telah menimbulkan banyak korban satu mekanisme yang sah secara hukum dan
Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama .3 .17 santun sesuai etika. Pemimpin tidak bisa dibeli tapi pejabat dapat dikontrak dan digaji. Untuk calon pemimpin di masa yang akan datang, tunjukkanlah kinerja anda sesuai hati nurani. Baru nanti anda akan memperoleh dukungan dan simpati. Untuk rakyat yang akan memilih, pilihlah pemimpin yang anda yakini punya hati nurani. Bukan calon yang mampu menggarap dan melobi, atau karena anda telah berutang budi. Ini dibuktikan dengan adanya sifat setia, jujur, tekun, dan mau berjuang sampai hasrat rakyat terpenuhi. ² _____(Footnotes)
1) 5)

6)

Ketika kita tanyakan siapa (kalau ad a) yang masuk dalam ketegori ini, maka sebagian segera menjawabnya: Muhammad Daud Beureu’eh dan Ali Hasjmy. Tentu dengan uraian panjang sebagai argumennya. Dalam bud aya kita sangat terkenal mekanisme “pemilihan,”tapi banyak kasus mengakui yang sebenarnya itu adalah penunjukan. Atau paling kurang ia bersifat pengesahan atas penun jukan yang sudah diatur lebih dahulu lewat skenario yang namanya pemilihan.

_____(Daftar Pustaka)
Ali Panglima Polem, TM., Memoir Banda Aceh. Alhambra,1972. Amin, SM., Sekitar Peristiwa Berdarah di Aceh. Jakarta: Soeroengan,1956. Baihaqi. A.K. Ulama dan Madrasah d i Aceh. Jakarta: Leknas LIPI dan Departemen Agama.1976 Compton. Boyd, R., The Medan Ulama Conference. New York, 20 Agustus 1953 —”Daud Beureueh, Lion of Aceh”. --19 Oktober 1953 — “Revolt of Aceh Economic and Political Attack”. —— Dada Meuraksa, “Aceh Seribu Tahun dan Peristiwa Teungku Daud Beureueh cs,”. Medan: Pustaka Hasmar 1976 Dasgupta, A.K., “Aceh Indonesia Perdagangan dan Politik 1600-1641”. Desertation Cornelly Univercity, 1962 Fachri Ali, “Sopir Baru Penumpan g Lama”. Tempo, 11 November 1989. Imran T. Abdullah, “Hikayat Meukuta Alam”,. Jakarta: Intermasa, 1991. Ismail Yakub, Teungku. H., “Teungku Tjhiek di Tiro”. Jakarta: Bulan Bintang, 1952. Ismuha. H., Ulama Aceh d alam Perspektif Sejarah. Jakarta: Leknas LIPI dan Departemen Agama, 1976. ——— “Lahirnya Persatuan Ulama Seluruh Aceh tiga Puluh Tahun yang Lalu”, Sina r Darussalam no.14 Tahun 1969 hal.43-47 dan 15.

Judul yang semula diajukan sebenarnya adalah, “ Pilkada da n Kepemimpinan Aceh Baru.” Judul yang bagus dan menarik dan banyak dimensi politik praktisnya. Namun penulis ingin agar makalah ini jangan t erlalu banyak nuansa politiknya, tapi lebih kepada narasi normative yang mungkin dapat menjadi cermin kehidupan yang lebih komprehensif dan berkepanjangan. Mudah-mudahan d emikian. Penulis mengucapkan terima kasih atas bahan-bahan dan informasi yang diberikan oleh beberapa orang untuk melengkapi makalah ini. Namun segala kekurangan menjadi tanggung jawab penulis. Dosen IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Artinya kira-kira: Minyak yang d ihasilkan biasanya sesuai dengan kwalitas kelapa, sebagai sumber minyak-nya, dan sifat yang ditunjukkan sang anak biasanya sesuai dengan prilaku dari orang tua mereka yang sangat mungkin pernah mencontohkannya. Diangkatnya Tgk. M. Daud B eureu’eh menjadi Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo menunjukkan bahwa ulama telah dianggap berpotensi untuk menjadi pemimpin masyarakat secara keseluruhan. Tgk. Daud sebelumnya telah dipilih memimpin ulama Aceh dalam PUSA sejak tahun 1939.

2) 3)

4)

Seumike Volume II, 2006

18. Kajian Utama 1. Pendahuluan Maju atau mundurnya sebuah organisasi atau negara sering disebabkan oleh faktor kepemimpinan. Dalam pentas sejarah kita lihat berbagai ilustrasi tentang sebuah negara, ketika dirunut ditemukan hubungannya dengan tokoh pemimpin karena itu kepemimpinan menjadi faktor substansial dalam suatu negara. Tokoh pemimpin sering menjadi tokoh harapan dalam penciptaan masyarakat adil dan makmur. Karena pemimpin yang dianut dapat mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi, sehingga orang lain tersebut bertindak untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama. 1) Karena itu sesuatu negara atau suatu organisasi sering terwarnai oleh sosok pemimpinnya. Masyarakat Aceh digambarkan sebagai suatu bangsa yang memiliki karakter sendiri yang juga dipengaruhi oleh karakter pemimpinnya. Di dunia Islam, pasca periode Khulafa al-Rasyidin, di mana sistem pemerintahannya menganut sistem kerajaan, kepemimpinan itu selalu diwariskan kepada keturunannya. Demikian juga sistem pemerintahan, tidak lagi menggunakan sistem musyawarah (demokrasi) sebaliknya telah dimulai mengikuti budaya sekeling Arab ketika itu dengan sistem kekuasaan absolut. 2 Ini mungkin agak berbeda dengan yang terjadi di kerajaan Islam Aceh, kendatipun sama-sama kerajaan, tet api terdapat perbedaanperbedaan. Hal inilah yang akan dikaji dalam artikel ini selanjutnya, terutama sekali melihat bagaimana proses suksesi pemimpin di Aceh. 2. Aceh Hampir semua sejarawan kawasan Asia Tenggara memberi pendapat bah wa sulit mendapatkan sumber yang akurat mengenai asal nama Aceh. Di dalam sejarah Kedah,
Seumike Volume II, 2006

KEPEMIMPINAN

SEJARAH
Prof. DR. M. Hasbi Amiruddin | Pembantu Dekan IV IAIN Ar-Raniry Banda Aceh

LINTASAN

ACEH DALAM

Kajian Utama .3 .19 Marong Mahawangsa, (+ Emas’ itu, nama Aceh th. 1220 M. = 517 H.) Aceh hampir tidak atau hanya sudah tersebut sebagai Acchera bata sedikit disinggung dalam suatu negeri di pesisir telaahnya.5) (Atjaram bata Pulau Perca (Sumatera). Bag ai man apun Orang Portugis Barbarosa juga, Kremer berpenbho = alangkah (1516 M. = 922 H.) yaitu dapat bahwa Kerajaan indahnya). Jadi orang Eropa yang datang Aceh pasti sebelum tahun ke daerah ini menyebut 1500 sudah berdiri dengan dari kata-kata “Achem”. Dalam bukukuat dan megahnya. buku sejarah Tionghoa inilah asal Kerajaan itu meliputi (1618 M) yang mengenai seluruh daerah Aceh, dan sebutan nama Aceh mengatakan A – tse. nama itu juga digunakan Bentuk yang lebih tua lagi sebagai nama pelabuhan, Aceh. ialah Taji atau Tashi, bagi yang kemudian terkenal orang Tionghoa berarti dengan Kuta Radja, yang negeri Silam: ataupun konon sebelum kedasebutan kepada negeri tangan Portugis ke Pasai, Pa menjadi Ta.3) Sumatera Utara dalam tahun 1509 masih Asal nama Aceh juga terdapat di dalam merupakan kerajaan kecil yang tidak berarti, sebuah buku bangsa Pegu (Hindia Bekalang) tetapi disamping itu yang lebih ramai dan yang menceritakan perjalanan Budha ke Indo makmur adalah Sumatera Pase, yang luasnya China dan kepulauan Melayu. Mereka melihat mulai dari ujung Tamiang sampai ke Kuala Ulim di atas gunung di pulau Sumatera, sebuah dengan Samudera sebagai ibu negerinya, yang pancaran cahaya beraneka warna dari gunung mungkin dalam abad yang ke XIII sudah berdiri itu, sehingga mereka berseru: “ Acchera bata” di sebelah utara Aceh, disamping Pidie (Pedir) (Atjaram bata bho = alangkah indahnya). Jadi yang mencakup seluruh daerah pedalaman dari kata-kata itulah kemudian menjadi asal utara, dan politiknya tergantung dari Pase.6) sebutan nama Aceh. Gunung yang bercahaya Teungku Syech Muhammad Noerdin, itu diceritakan terletak dekat Pasai yang yang pada masa hidupnya banyak sekali sekarang tidak ada lagi karena telah ditembak membantu Prof. Snouck Hurgronye dan Prof hancur dengan meriam oleh kapal perang Husein, baik dalam mencari bahan-bahan atau Portugis.4) dalam menyalin Hikayat-hikayat Aceh dari J. Kreemer dalam bukunya ‘Atjeh’ huruf Arab ke huruf Latin. Dia juga begitu (Leiden 1922) mengatakan bahwa sejarah Aceh banyak mengumpulkan bahan-bahan tentang sebelum tahun 1500 sebagian besar masih kehidupan, peradaban dan adat-istiadat Aceh, dalam kegelapan. Dalam berita yang berasal dan sempat diperbantukan pada Balai Pustaka, dari sumber orang-orang Cina, orang-orang pada akhir hayatnya. Dalam beberapa buah Arab dan orang-orang Eropa, yang sebelum tulisan yang ditinggalkan dan pada salinan tahun tersebut mengunjungi Sumatera atau kepada penerbitan pemerintah ini, menyatakan mendengar tentang cerita mengenai ‘Pulau bahwa nama Aceh itu berasal dari “Ba’ si acehSeumike Volume II, 2006

20. Kajian Utama aceh”. (Pohon si Aceh). 3. Agama masyarakat Pohon itu dilukisk an Aceh semacam pohon beringin Sampai saat ini perang Aceh melawan yang besar dan rindang.7) penduduk asli Aceh yang Mengenai penduduk berdomisili di Aceh masih penjajah Belanda kerajaan Aceh, dari mana 100% beragama Islam. merupakan perang bangsa-bangsa yang asli Banyak masyarakat yang yang paling panjang datang ke sana, adalah masih mengklaim bahwa yang memakan waktu masih terus terjadi pokok Aceh sama dengan Islam, perselisihan pendapat maksudnya adalah masyasampai 60 tahun tapi para penulis sejarah. rakatnya. Ada juga yang akhirnya Belanda Hindu 8 pernah memberpendapat bahwa harus angkat kaki dari pengaruhi Aceh, dan sejarah masyarakat Aceh dapat dilihat dalam sendiri lebih mudah Aceh bahasa Aceh, pakaian dan ditelusuri sejalan dengn perhiasan dan lain-lain. berkembangnya agama Pergaulan dengan mereka Islam. yang berasal dari India Demikianlah agama Islam juga dalam masa Islam berlangsung terus. telah menjadi peraturan hidup umat di Aceh Banyak anak negeri diislamkan dari agama ketika itu, sehingga tidak heran di kemudian Hindu. Bukan saja orang keling, Madras dan hari selanjutnya Islam itu telah menjadi the Malabar, tetapi juga orang-orang keling yang way of life nya masyarakat Aceh. Itu pula yang beragama dan orang-orang Cati yang belum menyebabkan kemudian orang Aceh mau mengenal Tuhan banyak datang berdagang ke berjuang mati-matian mempertahankan Aceh Aceh, dan akhirnya masuk Islam. 9) dari serangan Belanda. Karena menurut orang Untuk mengetahui dari mana tepatnya Aceh, Aceh sama dengan Islam. Memerangi asal mula orang Aceh belum didapat data-data Aceh sama dengan memerangi Islam. yang relatif akurat dalam sejarah. Aceh Para ulama bersama dengan pengikutnya terutama sebuah negara dagang di kala itu, menganggap perang melawan penjajahan dan pedagang-pedagang dari berbagai tempat adalah perang sabil, perang suci. Karena di Asia Tenggra dan Asia Barat Daya banyak perang tersebut demi mempertahankan agama yang datang dan menetap di daerah-daerah Allah. Jika mereka menang berarti Islam pantai Aceh. Tipe asli penduduk pribumi menang dan jika mereka gugur mereka syahid berangsur-angsur mengalami perubahan, kini dan akan diberi imbalan syurga Jannatun Na’im. mungkin seseorang menemukan diantara Disini terlihat betapa ulama telah menjadi penduduk pribumi Aceh orang-orang dengan motor dalam menggerakkan rakyat melawan ciri-ciri bangsa Melayu, Pakistan, India, Cina penjajahan demi mempertahankan agama dan dan bahkan dalam jumlah yang lebih kecil sekaligus negara. orang-orang dengan ciri-ciri Portugis, Turki, Mungkin perang Aceh-Belanda Arab dan Parsi.10) merupakan perang yang paling panjang yang memakan waktu sampai 60 tahun, dari tahun
Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama.3 .21 1873 sampai tahun 1942, masih terlihat sampai ketika Belanda harus sekarang kendatipun mengangkat kakinya dari tidak begitu sama. Raja Islam pertama di tanah Aceh. Selama Masyarakat masih Aceh adalah Saiyid peperangan tidak merujuk ke ulama dalam terhitung berapa jumlah berbagai persoalan.11) Abdul Aziz, dia bukan harta benda, demikian putra asli dari aceh, juga nyawa manusia. 4. Kepemimpinan tetapi putera Begitu besar korban yang di Aceh dalam sejarah dialami oleh orang Aceh, a.Kriteria pemimpin: campuran Arab-Perlak tetapi mereka tidak Islam dan tangguh. dengan gelar sultan pernah menyerah kalah. Kriteria seperti ini pernah Alaidin Saiyid Maulana Mereka terus berjuang ke dikemukakan oleh Fazlur tit ik darah ter akhi r. Rahman. Fazlur Rahman Abdul Aziz Syah. Peperangan ini malah membuat syarat petelah menjadi warisan mimpin negara adalah dari ayah ke anak bahkan kuat dalam mengenjuga ke cucu. Ini tidak dalikan politik negara. lain hanya karena ingin mempertahankan Islam Hal ini penting sekali karena bagaimanapun sebagai agama mereka agar tidak diganggu. dalam sebuah negara sering berkumpul Bila diperhatikan secara seksama bermacam kepentingan, baik yang bermeletusnya pemberontakan tahun 1953 pun hubungan dengan ekonomi, politik, aliran ada kaitannya dengan keinginan masyarakat bahkan ras. Tanpa kemampuan mengendalikan Aceh untuk mempertahankan Islam sebagai hal ini negara tidak pernah mampu agama masyarakat Aceh. Mereka menuntut menciptakan persatuan dan kesatuan, bahkan diperlakukan istimewa terutama sekali dalam sangat mungkin persatuan akan terkoyakbidang agama. Pemberontakan itupun baru koyak dengan ide perbedaan-perbedaan yang dapat diselesaikan setelah pemerintah terdapat dalam masyarakat tersebut. Dan itu menerima konsep pemberlakuan Aceh sebagai akan mengakibatkan negara tidak pernah kuat, daerah istimewa dalam bidang agama (Islam), baik secara politik maupun secara ekonomi. pendidikan dan adat istiadat. Selain syarat kuat, Fazlur Rahman juga Beberapa peristiwa yang diilustrasikan mensyaratkan kepala negara harus mempunyai di atas terlihat betapa ulama menjadi sosok pandangan luas, mempunyai kemampuan dan penting dalam kehidupan masyarakat Aceh, keberanian untuk mengambil keputusan ketika berhubungan dengan agama. Kalau sebagai kepala negara. Hal lain yang dianggap dalam peristiwa yang digambarkan di atas itu penting adalah memiliki jiwa pengabdian yang hanya masalah perang (bagi masyarakat aceh murni dan jauh dari keinginan berkuasa. 12) ketika itu dianggap jihad fi sabilillah), namun Kriteria yang dibuat Fazlur Rahman sebenarnya hampir dalam semua aspek hidup agaknya mengalir dalam sejarah masyarakat dikala itu ulama dijadikan kepemimpinan di Aceh. Kita lihat misalnya rujukan. Kondisi seperti ini sebenarnya juga Raja Kerajaan Islam pertama di Aceh adalah
Seumike Volume II, 2006

22. Kajian Utama Saiyid Abdul Aziz Dia bukan putra asli dari aceh, tetapi putera campuran Arab-Perlak dengan gelar sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. 13) Dalam kerajaan ini juga pernah dipimpin oleh seorang raja, yang bernama Salman, yang asalnya masih berayah dari Persia, dari kerajaan Sasanid. 14) Keturunan dari Salman ini kemudian menyebar ke beberapa daerah di Aceh dan mereka kemudian menjadi raja ditempat-tempat tersebut yaitu: Syahir Nuwi menjadi raja di Perlak mengantikan ayahnya, Syahir Tanwi diangkat menjadi raja di Jempa menggantikan kakeknya (ayah dari pihak ibu), syahir Puli yang merantau jauh ke Barat kemudian menjadi raja negeri Samarinda (Pidie sekarang), Syahir Duli yang merantau ke Barat paling ujung, diangkat menjadi raja Indra Purba (Aceh Besar sekarang)15) Ketika Aceh telah menjadi kerajaan Islam yang besar yang bertaraf internasional16 yang berpusat di Aceh Darussalam, kerajaan ini telah membuat hubungan diplomatik dengan kerajaan Turki, yang waktu i tu merupakan salah satu kerajaan besar di dunia. Di kalangan dunia Islam, Turki juga diakui sebagai pusat dunia Islam sebagai tempat kedudukan khalifah Islam. Hubungan yang baik ini telah sampai pada pemberian bantuan, termasuk bantuan militer. Sehingga kerajaan Islam Aceh di waktu itu memiliki banyak panglima meliternya yang berasal dari Turki. Ketika Iskandar Muda, raja yang paling berhasil memimpin Kerajaan Islam Aceh mangkat, maka kemudian yang diangkat menjadi raja penggantinya adalah Iskandar Thani. Iskandar Thani bukan keturunan Aceh, dia adalah berasal dari Pahang17 yang diambil oleh Iskandar Muda bersama ibunya ketika Aceh menaklukkan Pahang dan Pahang jatuh takluk ke kerajaan Islam Aceh. Iskandar Thani
Seumike Volume II, 2006

kemudian dikawinkan dengan anak Iskandar Muda, Sri Safiatuddin. Masih banyak raja-raja lain yang berkuasa di Aceh tidak berasal dari Aceh sendiri. Umumnya keturunan dari Arab, pernah juga suatu waktu raja itu berasal dari daerah Bugis. Demikian juga cara pengangkatannya tidak selalu melalui putra mahkota. Biasanya karena kemampuannya dalam menjaga kestabilan negeri bahkan karena sanggup memenangkan perang baik dari pergolakan maupun untuk melawan penjajah. Iskandar Muda sendiri namanya terkenal karena kemampuannya memimpin pasukan mengusir Portugis di kerajaan Aceh dikala masih berumur muda sekali.18 Karena itu setelah raja di waktu itu meninggal dunia dia dinobatkan menjadi raja. Ketika Belanda sedang memerangi Aceh dan merasa perlawanan bangsa Aceh yang dipimpin Teungku Chik Di Tiro berat sekali, Belanda mengirim surat kepada Teungku Chik Di Tiro minta berdamai. Menurut Belanda mereka tidak memusuhi rakyat Aceh, hanya saja ingin memajukan Aceh dan menjaga perdamaian di kawasan tersebut. Teungku Chik Di Tiro membalas surat tersebut dan mengatakan bahwa rakyat Aceh tidak berkeberatan menerima orang Belanda menjadi pemimpin di Aceh asal mereka mau masuk Islam. Rakyat Aceh dapat menerima siapa saja pemimpinnya asalkan beragama Islam. Demikian juga ketika perang dengan Belanda berlangsung lama, dan raja telah dapat ditawan oleh Belanda, peperangan melawan Belanda di Aceh tidak berhenti. Peperangan terus berlanjut, pimpinan diambil alih oleh ulama. Ulama yang memimpin juga tidak dari satu daerah atau dari satu keturunan. Itu artinya pemimpin di Aceh tidak absolut pada

Kajian Utama .3 .23 suatu keturunan. Mereka akan mendukung siapa yang sedang memimpin dan capable untuk tugas-tugas tersebut. Seperti dicatat oleh sejarah bahwa struktur negara di Aceh setiap raja selalu didampingi oleh seorang ulama sebagai mufti. Ulama-ulama yang diangkat menjadi mufti di Aceh juga tidak selalu berasal dari Aceh sendiri. Misalnya Syeikh N uruddin Ar-Raniry berasal dari India yang merantau ke daerah Malaya, wilayah kekuasaan Aceh ketika itu diangkat menjadi mufti kerajaan di masa iskandar thani. Syeikh Samsul Rijal yang berasal dari Padang juga pernah menduduki jabatan mufti di Aceh pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin. Kalau dalam perjalanan sejarah pernah diilustrasikan pertentangan atau perebutan kekuasaan antara uleebalang dengan ulama itu hanya karena faktor adu domba Belanda saja. Waktu Belanda berkuasa, dengan kekuasaannya mereka menciptakan kondisi tersebut, dengan program yang panjang Belanda telah merencanakan sebuah skenario perpecahan ini. Misalnya Belanda memberi kesempatan sekolah hanya untuk golongan uleebalang saja sementara untuk ulama tidak diberikan. Bahkan lembaga pendidikan yang dipimpin ulama juga sedikit demi sedikit diisolir sehingga jauh dari masyarakat dan juga jauh dari pengetahuan modern. b. Kesetaraan Gender. Sejak awal munculny a sistem pemerintahan di Aceh telah memberi kesempatan kepada siapa yang memiliki capabilitas untuk memimpin negeri-negeri di Aceh, tanpa membedakan laki-laki atau perempuan. Di awal kerajaan Islam di Perlak telah terdapat seorang ratu yaitu putri Nurul A’la yang memerintah 1108-113 4 M. Selanjutnya pada masa pemerintahan Malik Abdul Jalil Syah memimpin 1196-1225 M, dia telah mengangkat seorang perempuan, Syah Alam Barinsyah, sebagai Perdana Mentri. 19 Pada masa berkembangnya kerajaan Islam Pasai telah dikenal seorang ratu yang bernama Ratu Nihrasiah yang memimpin pada tahun 1400-1428 M. 20 Setelah masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda ada 4 orang wanita yang meneruskan peranan beliau dalam pemerintahan dan peperangan, selama lebih kurang 60 tahun, mereka adalah 20) : 1. Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Syah (1641-1675) Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin ini adalah seorang permaisuri di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Tsani. Beliau menjadi ratu setelah suaminya wafat. Ratu ini adalah seorang yang cakap dan pandai. Beliau belajar sastra pada Hamzah Fansuri dan ilmu fiqh pada Nurudin Ar-Raniry. Selama masa pemerintahan selama 35 tahun beliau mampu menciptakan hal-hal yang baru di bidang hukum, adat dan sastra. 2. Sri Ratu Nur Alam Nakiatuddin (1675-1677). Setelah Ratu Safiatuddin wafat, Nakiatuddin diangkat menjadi ratu dan diberi gelar Sri Ratu Nur Alam Nakiatuddin. Pada masa pemerintahannya dibuat beberapa perubahan dan pengembangan terhadap Qanun Mahkota Alam, salah satunya adalah mengenai undangundang pengangkatan Sultan. 3. Sri Ratu Inayat Syah Zakiatuddin (1677-1688) Setelah Ratu Nakiatuddin wafat, Zakiatuddin dinobatkan menjadi Ratu dengan gelar Sri Ratu Inayat Syah Zakiatuddin. Sri Ratu
Seumike Volume II, 2006

24. Kajian Utama adalah seorang negarawan yang pandai dan bijaksana. Beliau memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan mampu menguasai lima bahasa asing dengan baik yaitu bahasa Arab, Urdu, Persia, Spanyol dan Belanda. 4. Sri Ratu Kemala Syah (1688-1699) Setelah Ratu Nakiatuddin mangkat, selanjutnya yang memerintah adalah Sri Ratu Kemala Syah. Beliau memerintah kerajaan selama 11 tahun dan kemudian beliau dimakzulkan dari tahta dan digantikan oleh suaminya Syarif Hasyim. Selama pemerintahan empat orang Ratu ini, wanita-wanita lainnya juga berperan dalam pemerintahan, sebagian dari mereka sebagai barisan wanita pengawal istana. Ketika Aceh dalam perang, wanita Aceh tidak hanya berpangku tangan, banyak diantara mereka yang menjadi pahlawan dan harum namanya, seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Teuku Fakinah, Pocut Baren. Laksamana Malahayati pernah menduduki jabatan jenderal angkatan laut di masa kerajaan Islam Aceh dipimpin oleh Raja Alauddin Mughayat Syah(1589-1604). Sejak masa pemerintahan Iskandar Muda aceh telah memiliki anggota parlemen dari kaum wanita. Pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin jumlahnya ditambah lagi. Dari 73 orang yang duduk di dalam majelis parlemen ini 16 orang diantaranya adalah wanita (22%). Angka yang sangat fantastis, yang sekarang kendatipun kaum wanita sekarang minimal 30 persen wanita dalam partai politik partai politik, tetapi realitanya belum sampai 20%. Kesimpulan Seorang pemimpin suatu negara dan bangsa haruslah mampu menguasai politik di negaranya, cakap, kuat, berpandangan yang luas dan berani dalam mengambil segala
Seumike Volume II, 2006

keputusan, serta memiliki jiwa pengabdian murni. Hal ini diperlukan oleh suatu bangsa dan negara karena di dalam suatu bangsa dan negara itu tidaklah terdiri dari manusiamanusia yang homogen dan memiliki satu kepentingan tetapi heterogen dengan banyak kepentingan-kepentingan dalam segala bidang. Hal ini terlihat pada pemimpin-pemimpin kerajaan Aceh. Pemimpin-pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang kuat, berani, cakap, berilmu pengetahuan dan pandangan yang luas. Pemimpin-pemimpin ini dipilih karena kemampuannya dalam memimpin, bukan karena suku, ras, keturunan dan golongan, seperti terlihat sebagian diantaranya berasal dari keturunan raja, tetapi ada diantara mereka itu bahkan hanya dari seorang pelaut, tetapi karena kecakapan kemudian diangkat menjadi pemimpin kerjaan. Demikan juga dari kaum ulama tidak hanya dipercayakan sebagai pemimpin agama saja, tetapi di kala tertentu dia akan menjadi panglima perang dan disuatu waktu dialah pemimpin negara. Suatu hal yang menarik dibandingkan dengan daerah lain, sejak awal pemimpin-pemimpin yang dipilih di Aceh tidak memandang gender, laki-laki ataupun perempuan jika ia memenuhi syarat kepemimpinan seperti diatas maka ia bisa menjadi pemimpin. Memang sejauh sumber yang dapat diperoleh belum dapat ditunjukan, sistem pemilihan yang demokrasi seperti terlihat di dunia modern sekarang. Ini mungkin ketidakjelian para pencatat sejarah ketika itu, atau model seperti ini belum sampai ke negeri ini. Namun jauh sebelum Indonesia merdeka, praktek pemilihan seperti ini telah muncul dalam catatan-catatan sejarah. Misalnya bagaimana cara terpilih Tgk Chik Muhmmad Saman sebagai panglima perang Aceh, Tgk

Kajian Utama .3 .25 Tapa, hingga Tgk Chik Kuta Karang. Demikian juga Tgk Muhammad Daud Beureueh terpilih sebai ketua organisasi Jami’ah Al-Diniah di Pidie, sampai dia terpilih sebagai ketua PUSA dalam rapat ulama di Matang Geulumpang Dua. Itu hanya sebagai contoh saja. Dalam tulisan ini sengaja tidak ditampilkan perebutan kekuasaan antara uleebalang dengan ulama, karena dalam pandangan penulis itu hanya sebuah effek dari rekayasa Belanda. Setelah masa mereka habis, tidak terlihat lagi ada gaung semacam itu. Lebih terlihat lagi sekarang, karena generasi didikan Belanda hampir tidak ada lagi hingga gemerincik semacam itupun padam sejalan dengan padamnya semangat permusuhan yang diciptakan oleh Belanda. Demikianlah beberapa contoh kepemimpinan di kerajaan Aceh, yang menetapkan kriteria pemimpinnya sesuai dengan kemampuannya untuk memimpin dan bukan karena suku bangsa, keturunan, golongan dan gender.²
8)

_______(Footnotes)
1) 2)

3)

4) 5)

6) 7)

Syafiie, Al-Qur’an dan Ilmu adm inistrasi (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 72. Nourouzzaman Shiddieqy, Pengantar Sejarah Muslim (Yogyakarta:Cakra Donya, 1981) hal. 87-88 Jins Shamsuddin, Hubungan aceh Dengan Semenanjung Khususnya di Utara. Prasaran pada Dialog Utara VI Malaysia Bagian Utara dan Sumatera Bagian Utara 23-29 Desember 1995 d i Langsa, Lhoksemawe, Sigli, B.Aceh, hal 1. Ibid., hal. 2 Aboebakar Atjeh, “Tentang Nama Aceh” dalam Ismail Sunni (Ed .), Bunga Rampai Tentang Aceh (Jakarta: Bhatara Karya Aksara, 1980), hal. 17 Ibid., hal.20 Ibid., hal 19

Istilah Agama Hindu disini bisa saja sebenarnya hanya budaya saja yang meligkupi alam pikiran, tingkah laku orang-orang India yang dating ke Indonesia. Lihat Cut Nyak Maryati “ Manusia da n Kebudayaan Aceh Menjelang kedatang Islam” d alam A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Jakarta: PT.Al-Ma ’arif, 1993), hal.89. 9) Ibid., hal. 20. 10) Osman Raliby, “Aceh: Sejarah dan Kebudayaannya” dalam Ismail Sunny (Ed.), Bunga Rampai Tentang Aceh, (Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1980), hal. 27-28 11) Diskasi lebih jauh dapat d ibaca dalam buku M. Hasbi Amiruddin, Ulama di Tengah Konflik Aceh (Yogyakarta: Leknneas, 200 4) 12) Fazlur Rahman, “Implementation of the Islamic Concept of the State in Pakistani Milieu”, Islamic Sudies, 6 (Sptember1967) hal. 205-206 13) A.Hasjmy, “Adakah Kerajaan Islam Perlak Negara Islam Pertama di Asia Tenggara’ dalam A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Jakarta: PT Al-Ma’arif,1993), hal. 147 14) Ibid., hal. 154 15) Ibid., hal. 155 16) Anas Mahmud, “Turun Naiknya Peran Kerajaan Aceh Darussalam di Pesisir Pulau Sumatera” dalam A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Al-Ma’arif, 1993), hal. 293. 17) Fadhlullah Jamil, Kerajaan Aceh Darussalam dan Hubungannya Dengan Semenanjung Tanah Melayu” dalam A.Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Al-Maarif 1993), hal. 244 18) Rusdi Sufi, Sultan Iskandar Muda, dalam ..dari sini ia bersemi …(Banda Aceh: Panitia Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional ke 12, 1 981) hal. 70. 19) A. Hasjmy, adakah…hal 150
20)

Teungku Ainal Mardhiah Ali, “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau Sampai Kini” dalam Ismail Sunny, Bunga Rampai Tentang Aceh (Jakarta: Bhratara, 1980), hal. 283
ibid
Seumike Volume II, 2006

20)

26. Kajian Utama MARILAH kita bertanya; mengapa kita berbangsa dan bernegara? Mengapa bangsa-bangsa dan negara-negara lahir, lalu tumbuh? Ada yang bisa terus bertahan dan sebagian yang lainnya hancur. Ada yang masih berproses dan bergelut dalam dinamika nasionalisme versus indigeneousity, mulai dari Aceh, Filipina, Irlandia, Quebec, Asia Tengah, Afrika dan berbagai belahan dunia lainnya. Ternyata, wacana tentang bangsa, nasionalisme, juga persatuan dan kesatuan senantiasa bergerak dalam wilayah tesis, hipotesis dan antitesis yang tak pernah selesai. Persatuan bangsa-bangsa dalam wadah Amerika Serikat hingga kini telah bertahan hampir tiga ratus tahun lamanya. Tapi persatuan bangsa-bangsa di kawasan Asia Tengah dan Rusia yang pernah berupaya menjadi bangsa besar dalam wadah Uni Soviet, hancur berkeping-keping di awal tahun 90-an, dalam umur yang tak sampai seratus tahun. Saat ini, bangsa-bangsa Eropa sedang dalam proses menjadi Eropa Raya dalam wadah Uni Eropa. Di tempat lain, bangsa-bangsa Asia Tenggara mencoba merekonstruksi dirinya dalam wadah yang disebut ASEAN, dan demikian juga di berbagai kawasan regional lainnya. Ditengah kecenderungan untuk terus membentuk diri semakin besar itu, John Naisbit dalam bukunya yang terbit di awal 90-an, Global Paradox, mengingatkan kepada kita bahwa pada saatnya bangsa-bangsa, dan negaranegara akan berada dalam satu sistim baru bernama globalisasi. Tesis yang paling penting dari Naisbit adalah; semakin global dunia maka akan semakin lokalistik pula manusianya. Semakin global dunia maka manusia akan cenderung mencari kembali jati dirinya yang
DOKUMEN PRIBADI

BERTANYA TENTANG BANGSA: SEBUAH REFLEKSI ATAS WACANA INTEGRASI INDONESIA
Oleh : Wiratmadinata, S.H (Jurnalis, Aktivis HAM, Seniman sekarang Deputi Direktur Forum LSM Aceh)

Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama .3 .27 asli. Kulturnya yang sejati, mulai dari bahasanya, tradisinya, silsilahnya dan moralitas-moralitasnya. Dalam gerakan kebudayaan, kondisi ini mendorong lahirnya aliran pemikiran post-modernisme dan dekonstruksi. Apa yang dikatakan Naisbit, sebenarnya tidak jauh dari filosof i pertanyaan, untuk apa kita berbangsa dan bernegara, pada suatu masa di mana setiap individu telah Berkumpulnya massa di sebuah tempat merupakan satu menjadi bagian dari dunia bentuk volente generale | FOTO BINSAR BAKKARA global. Secara tidak langsung ia menanyakan, bagaimanakah sebuah menentukan bahwa wilayah Indonesia itu adalah negara dan bangsa menempatkan dirinya dalam dari Sabang sampai Merauke, dan seterusnya? konteks global. Dimanakah relevansi kelompokJean Jacques Rousseau (1712-1778) kelompok atau entitas, bangsa-bangsa, suku- seorang pemikir negara abad 17 mencoba suku, negara-negara dan komuntas lainnya di menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan di atas atas bumi dalam dunia global. Kalau lebih dalam suatu formulasi pembentukan negara dipersempit, apakah makna nasionalisme, dalam konsepnya yang terkenal, Kontrak Sosial persatuan suku-bangsa dalam konteks jaman (Du Contract social ou principes du droit modern ini? politique) yang di buat pada 1762. Rousseau milihat hubungan individu dengan negara Menjadi atau tidak menjadi Indonesia haruslah didasari pada sebuah kesepakatan Untuk itu, marilah kita kembali ke Indo- untuk bernegara sesuai dengan tujuan yang nesia, dan masuk lagi lebih dalam ke Aceh, yang dicita-citakan bersama. kini bernama resmi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam uraiannya, Rousseau menekankan Merujuk pada pertanyaan di atas. Untuk pentingnya istilah volente generale (kehendak apakah, suku-suku bangsa yang ada di wilayah umum) yang merupakan cikal bakal lahirnya Nusantara, mulai dari Aceh hingga Papua masyarakat sipil. Sebuah negara haruslah membentuk diri menjadi sebuah bangsa didasarkan pada kesepakatan umum yang jika bernama Indonesia, dan membentuk negara dilanggar akan mengakibatkan ketidakadilan. bernama Republik Indonesia. Siapakah yang Konsep ketidakadilan, dengan sendirinya menentukan bahwa Indonesia itu adalah Aceh, membubarkan kesepakatan umum dan juga Batak, Minang, Betawi, Jawa, Bugis, Ambon, kontrak sosial. Gagasan Rousseau tentang Papua dan seterusnya? Siapakah yang kohendak umum sebagai dasar terbentuknya
Seumike Volume II, 2006

28. Kajian Utama negara juga didukung oleh Emmanuel Kant pemikir Inggris abad 17 (17251804). Artinya kesepakatan umum dan kontrak sosial merupakan dasar yang diambil bersama oleh orang-orang Aceh, Batak, Minang, Betawi, Jawa, Bugis, Ambon, Papua dan seterusnya itu yang menentukan mereka menjadi Indonesia atau bukan. Kontrak sosial dan volente generale itulah yang seharusnya menentukan kesepakatan “hidup bersama” itu, baik secara bentuk, maupun model. Misalnya saja, pada waktu Indonesia masih bernama Republik Indonesia Serikat, pada saat itu kebanyakan wilayah suku-bangsa tidak disebut provinsi, tetapi disebut sebagai “negara” bagian, jadi Indonesia waktu itu bersepakat menjadi kumpulan negara-negara dari berbagai suku bangsa, dan kemudian berubah lagi menjadi propinsi-propinsi di sebuah negara bernama Indonesia. Sejarah ini, mengajarkan kepada kita betapa relatifnya kesepakatan itu. Konsekuensinya, berakhirnya kesepakatan, atau terlanggarnya kontrak sosial akan berakibat pada lahirnya ketidakadilan, dan ketidakadilan akan menjadi faktor penting terhadap terjadinya apa yang disebut dengan disintegrasi. Dengan kata lain, integrasi dimulai dari kontrak sosial dan kesepakatan bersama, sementara disintegrasi dimulai dari saat dilanggarnya kontrak sosial dan kehendak hidup bersama itu. Artinya kontrak sosial juga bersifat terbuka dan relatif. Dia dengan sendirinya akan kehilangan legitimasi, apabila kehendak bersama yang telah
Seumike Volume II, 2006

disepakati, secara sadar atau tidak, secara rela atau terpaksa memang sudah tidak ada lagi. Lalu apakah sebenarnya yang menjadi inti kehendak bersama dalam suatu negara yang

Kajian Utama.3 .29 setidaknya hal itu bisa dilihat dari konsep yang diajukan Rousseau, bahwa kehendak umum atau kehendak bersama bertalian dengan prinsipprinsip yang merupakan dasar kehidupan demokratis, yaitu; - Rakyat adalah berdaulat; yakni merupakan kekuasaan tertinggi dalam negara. Karena prinsip ini, demokrasi berarti bahwa rakyat memerintah dirinya sendiri. Rakyat adalah sekaligus atasan dan bawahan (Prinsip-prinsip demokrasi). - Dalam negara tiap-tiap orang harus dihormati menurut martabatnya sebagai manusia. Oleh karena itu hak untuk bereksistensi setiap orang harus dijamin. Kepada orang jahat pun hak ini harus diberikan. (Hak Asasi Manusia). - Tiap-tiap warganega ra berhak untuk ikut membangun hidup bersama dalam negara, yaitu mempunyai hak publik. Semua usaha untuk mengucilkan seorang atau sekelompok orang dari kehidupan masyarakat harus ditolak. Hak-hak publik manusia hanya dapat dihilangkan, apabila norma-norma kehidupan masyarakat dilanggar olehnya. (Jaminan Hukum dan Ekonomi). Konsep ini menjelaskan kepada kita, bahwa selain soal keadilan, hilangnya prinsip-prinsip demokrasi dalam sebuah negara, juga bakal menjadi ancaman bagi integrasi sebuah bangsa atau negara. Demikian juga soal-soal yang berhubungan dengan jaminan hak-hak asasi manusia serta jaminan atas kehidupan ekonomi dan jaminan hukum yang
Seumike Volume II, 2006

Pertemuan dua pihak yang sebelumnya bertikai (GAM-RI) telah menghasilkan satu kontrak sosial yang membuat keduanya sepakat berdamai. Kontrak Sosial ini dikenal dengan sebutan ‘MoU Helsinki’ 15 Agustus 2005. (FOTO BY CMI Finlandia)

menjadi tujuan dan sekaligus muatan kontrak sosial yang harus dijadikan jaminan bakal diwujudkannya keadilan? Ada banyak teori negara yang bisa menjelaskan ini, tetapi

30. Kajian Utama adil dan tidak memihak. Dari sini juga jelas seterusnya itu, telah setidaknya memenuhi bahwa kontrak sosial mensyaratkan adanya konsep-konsep dasar yang dibutuhkan bagi jaminan HAM, jaminan hukum, jaminan adanya suatu kesepatakan bersama itu? Atau kesejahteraan ekonomi dan sosial serta adakah prinsip-prinsip dasar dari kontrak sosial berjalannya prinsip-prinsip demokrasi. Secara seperti tersebut di atas telah dilanggar atau umum, kesepakatan membentuk negara tidak, telah dipenuhi atau tidak? Lalu, adakah bertumpu pada prinsip-prinsip, keadilan, jaminan atas semua itu telah dimiliki dalam kesejahteraan, perdamaian dan kebersamaan. pelaksanaan bernegara. Jawaban atas semua Hal ini bisa dilihat dari konsep yang itulah yang akan menentukan nilai dan masa ditawarkan Christian Wolff depan dari sebuah harapan (1679-1754), bahwa kebuintegrasi yang utuh. Sebuah tuhan individu terhadap integrasi yang tidak datang negara lebih ditentukan oleh dari kekuasaan senjata atau faktor-faktor; (1) Supaya halrezim, tetapi integrasi yang hal yang diperlukan untuk lahir dari kesadaran bersuatu hidup bahagia (vitae sama, kebutuhan bersama, sufficientia) diperoleh; cita-cita yang sama, dan yakni, melalui produksi kepentingan yang sama. barang dan jasa. (2) Supaya Lalu dimanakah posisi ketenteraman dalam hidup rakyat sebenarnya? Dewasa bersama (tranquilitas civitaini peran langsung rakyat tis) bisa diwujudkan. (3) banyak dilakukan melalui Supaya keamanan dan Lembaga Swadaya Masyakedamaian dalam negara rakat (LSM) atau dalam (securitas) bisa dipertabahasa asing disebut NGO hankan. (Non Governmental OrganizaIntegrasi lahir dari Kesimpulannya, tion). NGO dianggap sebakesadaran bersama, negara dibutuhkan untuk gai model yang jauh lebih kebutuhan bersama, menjamin suatu hidup kecil dari deviasi atau cita-cita yang sama & bahagia, tenteram dan polarisasi mandat rakyat. kepentingan yang sama. damai. Hidup semacam ini, Dibanding lembaga semacam oleh Wolff disamakan dengan partai politik, NGO atau LSM makna kesejahteraan adalah representasi keumum. Artinya, selain keadilan, jaminan lompok masyarakat yang ingin menegaskan hukum, jaminan HAM, kesejahteraan sosial kedaulatannya sebagai kumpulan individu. LSM ekonomi dan lain-lain, harus disempurnakan adalah simpul-simpul kesadaran dari dengan adanya ketenangan, kebahagiaan dan masyarakat untuk tidak hanya menyerahkan jaminan atas semua itu. nasibnya pada kontrak yang secara kodrati tidak Pertanyaannya; apakah muatan kontrak selalu bisa dipenuhi oleh negara. Sejarah sosial Aceh-Indonesia, atau Papua-Indonesia, keberdayaan masyarakat dan perannya dalam Jawa-Indonesia, Batak-Indonesia dan perubahan sosial, integrasi dan disintegrasi
Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama.3 .31 bangsa dapat pula dilihat dari fenomena Revolusi Perancis, abad-17, yang diikuti dengan rennaisance. Substansi dari revolusi ini adalah: egalite (non-diskriminasi), liberte (kebebasan berpendapat) und fraternite (solidaritas sosial). John Locke (1632-1704) dengan sangat ekstrim mengatakan, kekuasaan tertinggi adalah kekuasaan legislatif, yakni kekuasaan pemerintah negara untuk membentuk undangundang. Tetapi tujuannya sebenarnya adalah untuk menegaskan bahwa kekuasaan itu ada di tangan rakyat melalui volente general yang banyak diartikan sebagai pemilihan umum. Tetapi kita tidak bisa lupa, titik jenuh dari proses ini akan kembali pada gerakan rakyat, artinya fungsi legislatif pun akan segera berakhir dan kembali kepada pemiliknya semula, yaitu rakyat, apabila tidak bisa menjalankan kontrak sosial secara konsisten. Disanalah peran LSM, yakni memastikan bahwa rakyat memiliki kedaulatannya lewat peranperan sosial politik yang dilakukannya. Kesimpulan Dengan demikian, integrasi atau disintegrasi sebenarnya ditentukan oleh proses timbal balik, pola hubungan rakyat sebagai pemilik kedaulatan dengan negara yang diberi mandat melaksanakan kedaulatan. Sayangnya, sudut pandang yang dikembangkan pemerintah selama ini selalu menempatkan sikap “kritis” dan “cerdas” dari rakyat, terutama LSM sebagai oposan pemerintah. Sementara dalam proses pemerintahan, rakyat hanya ditempatkan sebagai objek yang harus selalu menerima “tafsir kebenaran” tunggal dari negara. Akibatnya, struktur negara bersifat dominan dan mengabaikan substansi dari pertanyaan “Untuk apa kita bernegara?” Ringkasan: (1). Konstruksi filosofis negara adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat melalui “kontrak sosial” yang diwujudkan dalam pemilihan umum atau volente generale. (2). Kontrak sosial akan berakhir, apabila isi dari kesepakatan bersama yang berintikan pada asas keadilan, perdamaian dan kesejahteraan tidak bisa dilaksanakan oleh negara. (3). Integrasi atau dis-integrasi sangat ditentukan oleh kemampuan negara menjaga isi kontrak sosial dan kesepakatan bersama. (4). Kesepakatan bersama untuk hidup bernegara tidak bisa datang dari kekuasaan, tetapi dari kesadaran rakyat yang berharap akan keadilan, kesejahteraan dan perdamaian. (5). Kontrak sosial harus selalu diidentifikasi kembali secara terbuka dan sesuai dengan kebutuhan rakyat. (6). Rakyat, LSM atau lembaga apapun tidak akan mampu melakukan dis-integrasi bangsa. Yang mampu melakukan disintegrasi adalah ketidakadilan, diskriminasi, kemiskinan, dan penindasan, karena disanalah substansi masalahnya. (7). Program-program dengan tujuan mempertahankan integrasi bangsa akan gagal, apabila platformnya tidak sejalan dengan prinsip penghormatan hak-hak asasi manusia (HAM). (8). Integrasi bangsa tidak bisa dibangun melalui dogma, doktrin apalagi penindasan, melainkan lewat proses-proses partisipasi publik, negosiasi dan rekonstruksi kontrak sosial, sesuai kebutuhan jaman, dan redefinisi kesepakatan bersama atau volente generale agar relevansi “hidup bersama” itu selalu segar dan up-to date.²

Seumike Volume II, 2006

32. Kajian Utama

Pilkada dan Kepemimpinan Aceh Baru
Oleh: Amrizal J. Prang | Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
EMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung merupakan salah satu perhelatan demokrasi partisipatoris di daerah. Dimana eksistensi kepala daerah sebagai pejabat politik dan publik akan memimpin birokrasi dan bertugas menjalankan roda pemerintahan. Ada tiga fungsi utama pemerintahan yang menjadi tanggung jawabnya pertama, memberikan pelayanan (service s) baik pelayanan perorangan maupun publik. Kedua, melakukan pembangunan fasilitas ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (devolepment for economic growth). Dan, ketiga, memberikan perlindungan (protective) kepada masyarakat. Sebelumnya, pelaksanaan pilkada lebih condong pemilihan yang bersifat demokrasi elite. Sebagaimana UU No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, dipilih oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), selaku representasi masyarakat. Pasca UU No.32/2004 menggantikan UU No.22/1999, wujud demokrasi yang sebenarnya (direct democracy) diatur dalam Pasal 56 ayat (1) UU
Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama .3 .33 No.32/2004 secara eksplisit disebutkan, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Landasan yuridis pilkada Aceh Sebenarnya, pelaksanaan pilkada langsung jauh sebelum dibentuk UU No.32/ 2004, telah diatur dalam Pasal 12 ayat (1) UU No18/2001 tentang Otonomi Khusus Aceh disebutkan, Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dipilih secara langsung setiap 5 (lima) tahun sekali melalui pemilihan yang demokratis, bebas, rahasia serta dilaksanakan secara jujur dan adil. Bahkan, Provinsi Papua yang juga diberlakukan otonomi khusus (otsus) melalui UU No.21/2001 tidak diatur pilkada langsung. Namun, tidak dinyana keinginan rakyat Aceh tersebut sampai sekarang belum juga dapat diimplimentasikan. Ada beberapa alasan kendalanya, pertama, dikarenakan dalam Pasal 16 UU No. 18/2001 disebutkan, bahwa pilkada langsung baru dapat dilaksanakan lima tahun setelah diundangkan. Kedua, saat itu belum dibentuknya Perda/Qanun. Baru kemudian tahun 2004 dibentuk Qanun No.2/2004 joncto Qanun No.3/2005 tentang pemilihan kepala daerah langsung. Ketiga, diberlakukannya Darurat Militer (DM) dan Darurat Sipil (DS) oleh pemerintah sejak Mei 2003 pasca gagalnya perundingan pemerintah RI dengan GAM. Dan, keempat, terjadinya bencana alam gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004. Sehingga telah merubah kondisi politik Aceh dari isu pilkada langsung ke bencana gempa dan tsunami, serta rehabilitasi dan rekonstruksi. Sekarang, pilkada langsung sudah berlaku bagi seluruh daerah, walaupun Aceh masih ditunda. Begitu juga hal nya mekanisme pencalonan kepala daerah. Menurut Pasal 59 ayat (1) UU No.32/2004, yang dijabarkan dalam Pasal 36 ayat (1) PP No.6/2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, disebutkan, peserta pemilihan adalah pasangan calon yang diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik secara berpasangan. Tetapi, sebenarnya pencalonan yang berlaku untuk Aceh berbeda, Pasal 12 ayat (2) UU No.18/2001, yang dijabarkan dalam Pasal 33 ayat (1) Qanun No.2/2004 disebutkan, disamping pencalonan parpol juga adanya calon independen. Namun, pemerintah berpendapat lain sehingga Qanun No.2/2004 direvisi kedalam Qanun No.3/2005. Esensinya, hal ini bukanlah kontradiktif bila merujuk ke asas hukum perundang-undangan, lex specialis derogat lex generalis (UU yang khusus mengenyampingkan UU yang bersifat umum). Sangat diharapkan kekhususan Aceh dapat dikembalikan dan lebih progresif dalam muatan Rancangan Undang-undang Pemerintahan Aceh (RUU PA) kedepan. Keniscayaan bukan garansi Pasca penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) RI-GAM pada 15 Agustus 2005, isu pilkada kembali mengemuka di Aceh. Dimana dalam butir 1.1.1 MoU diatur tentang pembentu kan RUU-PA. Salah sat u skala prioritas RUU PA adalah pelaksanaan pilkada langsung. Muncul pertanyaan kenapa pilkada langsung menjadi prioritas? Jawabannya, tidak lain karena roda pemerintahan di Aceh saat ini secara keseluruhan tidak berjalan “normal”, yaitu masih dipimpin oleh pejabat politik bukan defenitif. Dengan pilkada inilah dilakukan rekrutmen politik melalui penyeleksian rakyat terhadap tokoh-tokoh yang
Seumike Volume II, 2006

34. Kajian Utama akan mencalonkan diri sebagai mempunyai komitmen dan kepala daerah defenitif. Sehingga kosisten terhadap karakteristik menjadi keniscayaan untuk segera pelayanan masyarakat dalam dilaksanakan, sebagai wujud memimpin. Berbeda halnya pengembalian kewenangan dan hak dengan karakteristik penguasa, asasi masyarakat di daerah. lebih menonjolkan pengaruh dan Keniscayaan tersebut seiring political interest kekuasaannya. dengan asumsi positif terhadap Oleh karena itu, kedepan seorang karakteristik dari perhelatan kepala daerah (pemimpin) harus demoraksi politik lokal tersebut. menunjukkan komitmen dan Pertama, penarikan kedaulatan konsistensinya kepada masyarepresentasi DPRD, dari demokrasi rakat dalam menjalankan elite ke demokrasi partisipatoris. pemerintahan. Kedua, sumber kekuasaan adalah DESAIN: HALIM EL BAMBI Eman Hermawan, dalam rakyat sebagai the origin of power. bukunya “Politik Membela yang Ketiga, rakyat adalah subjek demokrasi yang Benar”, menyebutkan ada tiga proses berperan penting, dalam rekrut pemimpin pembuatan kebijakan oleh pemerintah. politik maupun pembuatan kebijakan politik. Pertama, proses legislasi dan yurisdiksi, yaitu, Dan, keempat, merupakan demokrasi terbaik penyusunan perundang-undangan atau (direct democracy) dari demokrasi yang ada peraturan (legal drafting). Kedua, proses (representative democracy). politik dan birokrasi, yaitu, konsolidasi Bila melihat karakteristik pilkadasung organisasi pemerintahan sebagai pelaksana yang bersifat demokrasi partisipatoris adakah kebijakan publik. Dan, ketiga, proses menjadi satu garansi kedepan akan sosialisasi dan mobilisasi, yaitu proses terwujudnya good governance? Jawabannya pembentukan kesadaran dan pendapat umum, relatif, kalau melihat mekanisme perekrutan sehingga membentuk pola prilaku tertentu politik maka, ada peluang terwujudnya sistem masyarakat dalam menyikapi suatu pemerintahan good governance. Namun, bila permasalahan. menyikapi karakteristik, watak, dan budaya Dari ketiga proses inilah menurut saya, politik yang diperankan para pejabat/birokrat kedepan perlu adanya pelibatan masyarakat selama ini lebih condong terhadap kepentingan (bottom up) secara kongkrit sebagai bentuk kekuasaan semata, maka keinginan partisipatoris dalam pemerintahan. Misalnya, terwujudnya good governance dan peme- dalam konteks legal drafting, disamping rintahan yang partisipatoris masih terkesan melibatkan masyarakat dalam setiap proses utopis. pembahsan dan pembentukan peraturan, juga perlu dibentuknya Qanun) tentang partisipasi Pemimpin bukan penguasa masyarakat. Begitu juga dengan kebijakan Mengacu pada pengalaman tersebut politik lainnya. Sebagaimana pendapat Joyce maka, keniscayaan bagi rakyat dalam pilkada Mitchel, politik adalah pengambilan keputusan kedepan harus membedakan antara calon kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk pemimpin dan penguasa. Seorang pemimpin masyarakat seluruhnya ²
Seumike Volume II, 2006

Kajian Utama .3 .35

Membangun Demokrasi Aceh dengan Pilkadasung
Oleh: Mashudi SR 1 Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Kebijakan (LSAK)
FOTO BY HALIM EL BAMBI

EMENJAK UU No 18/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam disahkan, sampai saat ini Aceh belum lagi melakukan pemilihan kepala daerah secara langsung (pilkadasung). Padahal inilah payung hukum bagi pelaksanaan pilkadasung di Aceh. Ia ada jauh sebelum UU No 32/2004 tentang pemerintahan daerah hadir yang juga mengatur hal yang sama. Tidak mengherankan bila saat ini 17 kabupaten/kota dari 21 kabupaten/kota yang ada plus jabatan gubernur dijabat oleh penjabat sementara. Akibatnya, tidak hanya efektif itas pembangunan yang terganggu, tetapi juga terpasungnya kehidupan demokrasi. Jika diasumsikan bahwa pemilihan kepala daerah baik langsung atau tidak,

sebagai salah satu indikasi bergeraknya roda demokrasi, maka keadaan ini sudah lama tidak berlaku di bumi Aceh. Aceh selama konflik tidak saja mengalami defisit demokrasi, tetapi memang demokrasi itu tidak pernah ada. Yang terjadi hanya demokrasi pura-pura, demokrasi semu. Ruang masyarakat sipil untuk mengatualisasikan hak-hak politiknya terbelenggu. Karena itu, ketika wacana pemilihan kepala daerah secara langsung maujud dalam UU No. 18/2001, banyak harapan yang terbangun. Ini tidak saja memupuk harapan untuk melahirkan kepemimpinan yang dekat dan dikenal oleh rakyat, tetapi juga sebagai bentuk demokrasi sejati. Di mana rakyat secara bebas menentukan pilihannya. Lebih dari itu, gagasan ini, secara perlahan menjadi rujukan bagi pelaksanaan pemilihan kepala
Seumike Volume II, 2006

diantara komponen itu berproses sesuai dengan semangat demokrasi atau malah menjadi arus balik demokrasi. Dalam konteks inilah pilkada menjadi salah satu rangkaian demokratisasi. Ia dimaksudkan untuk semakin mendekatkan rakyat kepada keterlibatan aktif dalam demokratisasi, yang visioner jauh dari sifatsifat agitasi 2) . MekaPersiapan kotak suara menjelang Pilkasung Aceh 2006. nisme demokrasi yang dilalui sepatutnya bisa men-dorong tumbuhnya daerah di tanah air. Terbukti dengan lahirya demokrasi dan kebebasan yang sehat melalui UU No. 32/2004 setelah tiga tahun kemudian. pengaplikasian good governance. Pertanyaan Pelaksanaan pilkada tidaklah dilihat seperti, bagaimana dengan pilkadasung kita sebatas pada pergantian kepala daerah bisa memastikan pemimpin yang terpilih bukan Dimana masyarakat sebagai pemegang koruptor, bukan manipulator, bukan pemimpin kedaulatan dimobilisasi untuk memberikan hak yang rakus dan tamak, bukan yang akrab suara pada calon kepala daerah. Rakyat bukan dengan maksiat, narkoba dan penyakit sosial pula “objek” yang dijadikan alat tawar lainnya, muncul dalam bentuk harapan. Karena itu, menjadi penting untuk menawar guna memperkuat posisi kekuasaan calon. Pilkada juga bukan sekadar pesta memastikan bahwa pelaksanaan pilkadasung demokrasi seremoni, dengan seperangkat taat dengan aturan demokrasi. Carut marut aturan yang dipersiapkan dan dijalankan sesuai paska pelaksanaan pilkadasung yang terjadi diberbagai daerah di tanah air, memperdengan tahapan yang disepakati. Pilkadasung sesungguhnya merupakan lihatkan bagaimana pesta demokrasi rakyat salah satu alat untuk mengukur kadar tersebut berjalan diluar logika demokrasi. demokrasi yang dijadikan sistem peme- Tarik menarik kepentin gan politik yang rintahan negara. Ini bisa dilihat mulai dari semestinya merupakan hal yang wajar, namun dasar hukum yang digunakan, lembaga yang karena berlangsung dengan cara-cara yang menjadi pelaksana dengan segala aturan tidak sehat membuat kondisi ini menjadi tidak teknis yang dihasilkan, partai politik dan calon wajar. Ini dipicu banyak faktor, sepert i sebagai peserta pilkadasung dan keterlibatan masyarakat sebagai pemegang kedaulatan. kecurangan yang dilakukan salah satu peserta Apakah relasi dan interaksi yang terbangun pilkada, melalui politik uang, ketidaksiapan
Seumike Volume II, 2006
AP

Kajian Utama .3 .37 dan ketidakjelasan aturan main yang dilaksanakan lembaga pelaksana pilkada, (pendaftaran pemilih yang tidak tuntas), sampai pada aturan hukum yang tidak jelas. Dengan sendirinya tarikan politik yang berlangsung ter-sebut, menjadikan kondisi ini berubah kearah yang Salah seorang peserta Pilkadasung Aceh sedang berkampanye desktruktif. di depan massanya. Ini merupakan salah satu cara untuk Situasi ini meraih dukungan suara sebanyak-banyaknya. diperburuk dengan penegakan hukum yang lemah dari para dari pelaksanaan pilkadasung tidak sekadar penegak hukum. Peluang ini dimanfaatkan oleh menghasilkan kepala daerah yang lebih peserta pilkada yang merasa dirugikan dengan akuntabel, berkualitas, legitimate, aspiratif, cara-cara yang melawan hukum. dan peka terhadap keprihatinan rakyat. Tetapi juga terbangunnya tatanan dan struktur Pilkadasung Aceh kekuasaan makro yang lebih menjamin Bagi Aceh ini merupakan pengalaman berfungsinya keseimbangan saling kontrol di pertama unutuk melaksanakan pilkada. Yang antara lembaga-lembaga politik.3) pelaksanaanya dilakukan secara serentak di Pilkadasung juga sejatinya bisa memberi 17 Kabupaten/Kota ditambah satu provinsi. kontribusi bagi proses perdamaian yang sedang Keadaan ini tentu sangat rentan untuk berlangsung pasca ditandatanganinya Nota melahirkan konflik. Mobilisasi penduduk yang Kesepahaman bersama antara pemerintah tinggi, sebagai akibat dari kondisi daerah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang baru dilanda bencana dan konflik yang (GAM) pada 15 Agustus 2005 lalu. Dalam berkepanjangan, membuka ruang bagi tidak Memorandum of Understanding (MoU) tersebut validnya data pemilih, karena ketidak akuratan dijelaskan bahwa pembangunan Aceh dilakukan data merupakan salah satu penyebab timbulnya melalui proses demokrasi. “…pemerintahan kekacauan dalam pemilihan. rakyat Aceh dapat diwujudkan melalui suatu Lepas dari hal tersebut, yang diinginkan proses yang demokratis dan adil dalam negara dari pelaksanaan pilkadasung Aceh kali ini kesatuan dan konstitusi Republik Indonesia”.4 bukan sekadar melahirkan pemimpin baru. Bagaimana wajah demokrasi Aceh Pemimpin yang visioner, merakyat dan tidak kedepan, akan bisa dilihat dari proses dan out korup. Mengutip J. Kristiadi, yang diharapkan put yang dihasilkan dari pelaksanaan
: www.smh.com.au
Seumike Volume II, 2006

38. Kajian Utama pilkadasung nantinya. Dilihat dari semakin kondusifnya stabilitas keamanan di bumi serambi mekkah ini, sewajarnya bisa memberi ruang bagi berlangsungnya proses pilkadasung dengan baik. Ketaatan pada aturan dan asas demokrasi dari multi stakeholders yang terlibat dalam hajatan demokrasi tersebut, sangat menentukan seberapa besar pilkadasung ini bisa dijadikan pijakan untuk membangun demokrasi dalam skala yang lebih luas. Perilaku partai politik dan calon kepala daerah yang ikut dalam pesta demokrasi tersebut, acapkali menjadikan pilkadasung sebagai panggung sandiwara politik, dimana rakyat menjadi korban pemerasan untuk kepentingan elit politik. Meskipun banyak yang berpendapat bahwa pilkadasung yang dilakukan dengan jujur, adil, rahasia, be bas dan langs ung menjadi salah satu indikator berjalannya demokrasi di sebuah daerah/negara dengan baik, namun hal itu tentu bukan harga mati. Yang menjadi pertanyaan kemudian apakah partai yang menang dalam pesta demokrasi tersebut, bisa menjadi representasi masyarakat. Sebab ini akan berkorelasi dengan terbangunnya lembaga-lembaga demokrasi pasca pelaksanaan pilkadasung. Agaknya penting untuk melihat sepintas hasil riset yang dilakukan Demos tentang kondisi demokrasi di tanah air, termasuk Aceh. Meskipun ketika riset tersebut dilakukan nanggroe ini masih dalam status darurat, setidaknya ia penting untuk diketahui bagaimana sebetulnya wajah demokrasi Aceh selama ini. Dari sepuluh instrumen kebebasan sipil dan politik yang ada di Aceh, (kebebasan berbicara, beragama, mendirikan partai, mendirikan serikat buruh, partisipasi warga negara, kebebasan pers, akses pada media, kesetaraan gender, partisipasi perempuan dan
Seumike Volume II, 2006

instrumen pemilu yang bebas dan adil), semuanya berada di bawah rata-rata jika dibanding dengan daerah lain di Indonesia. Kinerja perangkat-perangkat demokrasi juga sangat buruk. Seperti rule of law dan penyelewengan kekuasaan oleh para pejabat, korupsi, praktek politik uang oleh parpol dan ketiadaan akses yang setara pada keadilan dan lembaga peradilan yang independen.5) Melihat hasil riset tersebut, maka seberapa besar peluang bagi tumbuh dan berkembangnya demokrasi di Aceh, terkait dengan pelaksanaan pilkadasung nanti? Pertanyaan ini berjalan seiring dengan seberapa taatnya parpol dan calon kepala daerah pada aturan dan mekanisme demokrasi yang ada. Sebab aturan dan sistem serta mekanisme yang demokratis, tanpa didukung perilaku parpol dan multistakeholders lain yang demokratis, maka keinginan membangun Aceh yang bermartabat dan demokratis, dengan menjadikan pilkadasung sebagai entri point, hanya tinggal harapan dan wacana. Tidak pernah membumi. Wallhu’alam bis shawab.

_____(Footnotes)
1)

2)

3)

4)

5)

Mashudi SR : Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Ad vokasi Kebijakan (LSAK) Johan Alamsyah SH, Pilkadasung d an Demokratisasi, Waspada, 4 Juni 200 5. J. Kristiadi, Dominasi Parpol dalam Pilkada : Menuju Terwujudnya Sistem Partai Kartel, Kompas 09 Mei 2005. Memorandun of Understanding (MoU) RI-GAM ditandatangani 15 Agustu s 2005, di Helsinki, Finlandia. Demos, Menjadikan Demokrasi Bermakna; Masalah dan Pilihan di Indonesia, Penerbit Demos, November 2005.

.3 Kajian Utama .39

PILKADA MENCARI KEPEMIMPINAN ACEH BARU
Oleh : Ameer Hamzah | Ketua Fraksi PBR NAD

anggroe Aceh Darussalam adalah sebuah wilayah yang terletak di ujung paling barat Indonesia. Negeri yang kaya budaya, beragam etnis dan bahasa, namun menyatu dalam agama Islam yang di anut mayoritas penduduknya. Masyarakat di Aceh terkenal sangat agamis, heroik dan bahkan sangat berjasa dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sejarawan Anthony Reid dalam bukunya “Asal Mula Konflik Aceh” menyebutkan bahwa karena kepahlawanannya yang sangat menonjol maka Aceh sangat sulit di atur oleh orang lain. Dalam masyarakat Aceh terkenal juga pepatah “bu biet ie biet (nasi putih, air putih)”, maksudnya negeri sendiri di urus sendiri. Dalam seratus tahun terakhir, Aceh terus dilanda prahara, perang melawan Belanda (1873-1942), melawan Jepang (1942-1945), perang Cumbok(19), DII/TII (1953-1958), G30S PKI (1965-1966), dan yang terakhir perlawanan oleh Gerakan Aceh Merdeka (19742006), jika kita perhatikan lebih banyak masa

yang terlewati dengan konflik dari pada masa aman. Konflik Aceh yang berkepanjangan tidak hanya melemahkan dari segi ekonomi, budaya dan sumber daya manusia, tetapi juga menghambat demokrasi yang di dambakan oleh rakyat. Pemilihan umum langsung (Pilkadasung) yang di cetuskan pertamakali di Aceh, malah di daerah lain yang lebih dulu di jalankan pelaksanaannya. Aceh sendiri terkendala pelaksanaannya sebelum di sahkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU-PA) oleh pemerintah Indonesia. Akibat keterlambatan itu hampir seluruh pemimpin di Aceh, mulai dari tingkat Gubernur, Bupati, Walikota adalah pejabat sementara, bukan hasil murni pemilihan rakyat. Konsekwensinya roda pembangunan di Aceh sangat lama berputar, bahkan ada yang kempes sama sekali. Berita terakhir yang beredar , insyaalah pada akhir mei atau awal juni UU-PA sudah disahkan, tiga atau empat bulan kedepan baru di laksanakan pilkadasung.

Seumike Volume II, 2006

40. Kajian Utama Sejumlah k andidat Gubernur, wakil Gubernur, Bupati, wakil Bupati, walikota, dan wakil walikota yang di calonkan oleh partai politik sudah berancang-ancang untuk merebut kursi kepemimpinan di Aceh. Bahkan kemungkinan ada calon yang akan maju dari jalur independent. Namun demikian, apapun ceritanya lahir seorang pemimpin tidak semata-mata karena pilihan rakyat saja, tapi juga kehendak Allah. Sebagai ujian bagi yang bersangkutan. Jika dia di cint a Allah akan memimpin dengan rasa takut atas amanah yang di bebankan kepadanya. Sebaliknya jika Allah memurkainya maka si pemimpin itu akan berbuat maksiat dan zalim dalam kekuasaannya. Aceh Baru, Pemimpin Baru Aceh pasca damai antara GAM-RI, adalah Aceh baru dengan undang-undang baru yang kemungkinan dapat menampung seluruh keinginan rakyat yang telah sekian lama di landa konflik. Mengapa harus pemimpin baru? Saya pikir mutlak di perlukan, sebab Aceh masa lalu dengan Aceh masa depan tidak lagi sama. Seperti kata pepatah Aceh: “Meubalek musem meutuka ujeun, meubalek jameun meutuka raja (bertukar suatu musim maka akan berganti curah hujan, bertukar zaman maka berganti raja)”. Beberapa fenomena baru di Aceh memang sudah terlihat. Antara lain, Aceh yang dulu tertutup dan terkesan “panas”, akibat konflik tetapi pasca tsunami berubah menjadi Aceh yang dingin “damai” dan terbuka untuk dunia luar. Ternyata masyarakat Aceh sangat modern dan menerima perubahan. Fenomena lain yang menonjol adalah keinginan masyarakat Aceh memiliki jati diri yang kuat melalui penerapan syariat Islam. Ada lembaga wali nanggroe yang berwibawa dan
Seumike Volume II, 2006

pemerintah sendiri (otonomi yang sangat luas), sehingga Aceh dapat mengejar ketinggalannya dari daerah-daerah lain yang sudah maju lebih dahulu. Untuk itu, rakyat Aceh sangat membutuhkan sosok pemimpin yang memang di pilih sendiri secara langsung, mulai dari tingkat Gubernur hingga posisi Geuchiek gampong. Pemimpin pilihan rakyat sering bertanggung jawab kepada rakyat, sedangkan pemimpin yang di tunjuk, cuma menghamba kepada atasannya saja. Pemimpin baru yang di harapkan kelak adalah pemimpin yang berwawasan keacehan, keindonesiaan dan mengglobal. Ketiga syarat itu mutlak di perlukan mengingat Aceh baru adalah Aceh yang mendunia. Jika kurang salah satu syarat saja maka pemerintahan Aceh akan pincang. Sebagai pemimpin Aceh di era baru harus mengenal seluk beluk sosiologi, adat istiadat, agama dan budaya Aceh. Pemimpin Aceh harus mampu berbahasa Aceh yang baik sebagai alat komunikasi dengan rakyatnya di pedesaan, dan juga mengenal sosial budaya masyarakat Aceh yantg unik dan beragam. Sub etnis yang ada di Aceh harus dilihat sebagai anugerah Tuhan untuk kita saling mengenal dan saling bersinergi untuk kita mencapai cita-cita bersama menuju masyarakat yang adil dan makmur. Agama Islam di anut secara mayoritas (99 %) oleh empat juta lebih masyarakat Aceh harus dijadikan alat perekat yang ampuh, sebab Islam tidak mengenal adanya diskriminasi, primordialisme, dan kabilahisme. Seorang pemimpin Aceh harus berwawasan keislaman . Syariat Islam harus di amalkan sebagaimana mestinya. Sudah saatnya seorang pemimpin Aceh tidak lagi terkesan pemimpin birokrasi yang cuma mengurus pajak, sepak

Kajian Utama.3 .41 bola, gunting pita, letak batu pertama pembangunan dan kegiatan sejenisnya. Pemimpin baru Aceh nanti adalah pemimpin yang berjiwa kekhalifahan, artinya mampu menggiring rakyatnya kepada ridha Allah di dunia dan di akhirat kelak. Bersama rakyatnya sang pemimpin wajib mengubah kebiasaan buruk, seperti ketidakdisiplinan dalam pemerintahan dan membangkitkan etos kerja rakyat untuk membangun Aceh masa depan. Dalam hal ini semua komponen masyarakat Aceh harus menyadari bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu berusaha mengubah nasibnya sendiri (QS. Ar-Ra’du:11). Pertumbuhan ekonomi yang sangat lamban di Aceh sejak dua pilih tahhun terakhir harus di genjot dengan menghidupkan semua lini yang berbasis kerja. Tanah Aceh yang masih luas dan subur perlu di tanami dengan berbagai komuditi yang menghasilkan, bukan justru menjarah hutan lindung sebagaimana yang pernah terjadi di masa silam bahkan mungkin masih berlangsung sampai sekarang. Allah SWT yang menghamparkan bumi, menumbuhkan segala macam tanaman untuk manusia (QS. Al-Qaffi:7). Begitu juga sektor perikanan dan peternakan. Seorang pemimpin Aceh baru harus memberi perhatian khusus pada sektor-sektor ini. Jangan sampai hasil laut Aceh selalu di curi oleh orang lain. Mengingat Aceh sebagai bagian dari Indonesia, maka seorang pemimpin Aceh juga harus memiliki wawasan kebangsaan yang luas. Hubungan dengan wilayah atau daerah lain di Indonesia harus dapat terjalin dengan mesra, terutama dengan pemerintah pusat di Jakarta. Kerjasama ekonomi dan budaya harus kuat, ada nilai-nilai positif dari daerah lain yang dapat di ambil dan nilai-nilai positif Aceh yang juga dapat di adopsi oleh daerah luar. Hubungan dengan Internasional perlu di tingkatkan, apalagi pasca tsunami bangsabangsa luar banyak yang menaruh simpati kepada Aceh. Ukhuwah Basyari ah (persaudaraan manusia) terlihat kental di di Aceh pasca tsunami karena “manusia adalah umat yang satu”, demikian firman Allah dalam surat Al-Baqarah:23. Tasa muh (toleransi) agama harus tercipta dalam suasana yang harmonis. Agama Islam tidak perlu di paksakan kepada orang lain sebagaiman firman Allah “Jika Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi ini. Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-or ang yang beriman semuanya?. Dan tidak akan seorangpun beriman kecuali dengan izin Allah” (Q.S Yunus :99-100). Dan “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam...”(Q.S Al-Baqarah: 256).” Jadi biarlah mereka dalam agamanya, selama mereka juga tidak memaksa kita sebagai muslim untuk masuk kedalam agamanya, “Lakum diinukum waliya diin” bagimu agamamu dan bagiku agamaku (AlKafirun :6). Dengan demikian Aceh akan tetap menjadi wilayah terbuka yang di datangi oleh seluruh bangsa di dunia ini. Satu hal lagi yang paling penting adalah pemimpin itu harus bersih dan berwibawa, tidak berorientasi KKN, primordial, dan juga tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri. Untuk mencari sosok pemimpin yang kita maksudkan maka menjadi tanggung jawab rakyat untuk memilih pemimpin yang berkualitas, berkapasitas intelektual yang tinggi, hartawan tapi tidak korupsi dan tidak menyogok dalam pemilihan umum. Juga yang berbasis mesjid, dalam makna yang beriman dan bertakwa.
Seumike Volume II, 2006

UNDANGAN MENULIS ARTIKEL ILMIAH (CALL FOR PAPERS)
JURNAL Ilmiah “Seumikee” Aceh Institute mengundang para peneliti dan akademisi untuk memasukkan artikel hasil penelitiannya guna diterbitkan dalam “Seumikee” edisi ke-3. Artikel yang diharapkan adalah hasil penelitian tentang Aceh dan masyarakatnya dari semua bidang yang bermanfaat untuk pembangunan Aceh Baru yang lebih baik. Artikel harus berupa tulisan asli, hasil kajian/ penelitian teoritis, ti njauan pustaka, laporan kasus, atau kajian empiris (lapangan) yang belum pernah diterbitkan di media manapun baik di d alam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam Bahasa Aceh, Indonesia, atau Inggris, dengan gaya bahasa efektif dan akademis. Setiap naskah harus menyertakan abstrak dalam dua bahasa: Inggris dan Indonesia. Tulisan harus tentang Aceh dan masyarakatnya dengan prioritas: • Konflik, perdamaian dan rekonstruksi pasca konflik • Tsunami, rehabilit asi dan rekontruksi • Pendidikan dan pengembangan SDM • Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sumber daya alam lokal • Pembangunan ekonomi • Perencanaan wilayah dan lingk ungan • Politik, hukum dan HAM • Demokratisasi dan transparansi • Sejarah dan perubahan sosial • Agama dan peradaban • Budaya dan kesenian Jurnal ”Seumikee“ terbit dua kali setahun setiap Ju ni dan Desember. Disediakan honorarium yang pantas untuk setiap tulisan yang dimuat sampai jurnal ini memiliki ISSN dan terbit secara regular. A. Petunjuk penulisan naskah hasil penelitian Naskah hasil penelitian hendaknya disusun menurut sistematika sebagai berikut: • Judul, hendaknya menggambarkan isi pokok tulisan secara ringkas dan jelas, ditulis dalam Bahasa Indonesia/ Aceh dan Bahasa Inggris. Judul terdiri dari maksimal 12 kata. • Nama-nama Penulis, disertai catatan kaki tentang profesi, instansi tempat penulis bekerja dan alamatnya serta email dengan jelas. • Abstrak, ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tidak lebih dari 250 kata, dan merupakan intisari seluruh tulisan, meliputi: latar belakang, tujuan, metode, hasil dan simpulan. Dibawah abstrak disertakan 3-5 kata kunci (keywords). • Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah serta tujuan penelitian dan manfaat untuk waktu yang akan datang. • Bahan dan Metode, berisi penjelasan tentang bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan, waktu, tempat, teknik, dan

rancangan percobaan. Metode harus dijelaskan selengkap mungkin agar peneliti lain dapat melakukan uji coba ulang. Acuan (referensi) diberikan pada metode yang kurang dikenal. • Hasil, dikemukakan dengan jelas bila perlu dengan tabel, ilustrasi (gambar, grafik, diagram) atau foto. Hasil yang telah dijelaskan dengan tabel atau ilustrasi tidak perlu diuraikan panjang-lebar dalam teks. Garis-garis vertikal dibuat seminimal mungkin, agar memudahkan penglihatan. Tabel, ilustrasi atau foto diberi nomor dan diacu berurutan denga teks, judul ditulis dengan singkat dan jelas. Keterangan diletakkan pada catatan kaki, tidak boleh pada judul. Semua singkatan atau kependekan harap dijelaskan pada catatan kaki. • Pembahasan, menerangkan hasil penelitian, bagaimana hasil penelitian yang dilaporkan dapat memecahkan masalah, perbedaan dan persamaan dengan penelitian terdahulu serta kemungkinan pengembangannya. • Kesimpulan dan saran diletakkan pada bagian akhir pembahasan • Ucapan terima kasih, dapat ditujukan pada semua pihak yang membantu bila memang ada dan harus diterangkan sejelas mungkin. Diletakkan pada akhir naskah, sebelum daftar pustaka. • Daftar Pustaka, disusun menurut sistem Vancouver. Setiap nama pengarang diberi nomor urut sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah, dan mencantumkan (a) untuk buku: nama-nama penulis, editor (bila ada), judul lengkap

buku, kota penerbit, tahun penerbitan, volume, edisi dan nomor halaman. (b) untuk terbitan berkala: nama-nama penulis, judul tulisan, judul terbitan atau jurnal, tahun penerbitan, volume dan nomor halaman. B. Petunjuk penulisan tinjauan pustaka. Naskah tinjauan pustaka disusun menurut sistematika sebagai berikut : judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, telaah pustaka, pembahasan yang diakhiri dengan kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka. C. Format dan tata cara pengiriman Naskah yang dikirim ke redaksi hendaknya diketik dengan program MSWord, spasi ganda, font Times New Roman ukuran font 12 dalam jumlah 7-15 halaman kertas A4. Naskah diserahkan dalam bentuk soft-copy lewat email > info@acehinstitute.org cc hai_otodidak@yahoo.com atau kirim ke:

Redaksi “Seumikee” Aceh INSTITUTE Jl Sultan Iskandar Muda No.SK III/12 Punge Blang Cut, Banda Aceh 23234 Phone/Fax +62-651-41682, Phone2:+62-651-7400185

Penulis diwajibkan mengisi Surat Pengalihan Hak Cipta (Copy Rights Transfer) seperti terlampir di bawah ini atau dapat di download dari website Aceh Institute. Semua data, pendapat, atau pernyataan yang terdapat pada naskah adalah merupakan tanggung jawab penulis. Penerbit, dewan redaksi, dan seluruh staf Jurnal Ilmiah “Seumikee” tidak bertanggung jawab atau tidak bersedia menerima kesulitan maupun masalah apapun sehubungan dengan konsekuensi dari ketidak akuratan, kesalahan data, pendapat, maupun, pernyataan dalam tulisan tersebut.

Telah terbit !
Analisis Yuridis

HAK PEMILIKAN ATAS TANAH
Satu penelitian permasalahan dan penyelesaian atas jaminan kepastian hukum yang berbentuk sertifikat hak sebagai tanda bukti kepemilikan atas tanah dan penawaran pengembalian hak milik demi kepentingan umum di Desa Alue Naga. Sebuah kajian yang dilakukan dengan metode deskriftif analitis.
Penelitian dilakukan oleh FDT (Forum Diskusi Terfokus) Bidang Politik, Hukum & HAM Aceh Institute bekerjasama dengan UN-HABITAT

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful