Agung Sari Wijayanti Koas Forensik Universitas Jenderal Sodirman

A. Definisi Hanging
Penggantungan ( hanging ) adalah keadaan dimana leher dijerat dengan ikatan, daya jerat ikatan tersebut memanfaatkan berat badan tubuh atau kepala. Penggantungan merupakan suatu bentuk penjeratan (strangulasi) dengan tali ikat dimana tekanan dihasilkan dari seluruh atau sebagian berat tubuh. Ada pula yang mendefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi konstriksi dari leher oleh alat penjerat yang ditimbulkan oleh berat badan seluruhnya atau sebagian. Dengan demikian berarti alat penjerat sifatnya pasif, sedangkan berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada leher. Perbedaan gantung diri dengan penjeratan adalah dimana pada penjeratan yang aktif adalah alat penjeratnya. B. Epidemiologi Kematian karena penggantungan pada umunya adalah suatu upaya bunuh diri. Sekitar 90% upaya bunuh diri (suicide) menggunakan metode gantung diri. Di beberapa negara Eropa seperti Inggris, insidensi gantung diri dalam upaya bunuh diri terjadi sebanyak 2000 kejadian pertahun dan gantung diri adalah metode pilihan dalam upaya bunuh diri. Sekitar 10% kasus gantung diri terjadi pada lingkungan yang terkontrol, seperti penjara dan rumah sakit, sisanya kasus terjadi pada komunitas. Titik penggantungan tidak selalu diatas kepala. Sekitar 50% kasus penggantungan diri, titik penggantungan lebih rendah dari tinggi kepala dan dilakukan dalam posisi yang tidak menggantung. Korban pelaku gantung diri pada lingkungan yang terkontrol biasanya adalah narapidana dan pasien psikiatri, sedangkan pada komunitas adalah beraneka ragam, namun biasanya juga mempunyai gangguan psikis. Tali (ligature) yang digunakan dalam upaya penggantungan diri dapat berupa bendabenda seperti tali, sabuk, kain, kabel, handuk dan sebagainya.titik penggantungan yang sering digunakan adalah
C. Jenis Penggantungan dan Posisi gantung diri

Penggantungan terdiri dari beberapa jenis : 1) Penggantungan lengkap Istilah penggantungan lengkap digunakan jika beban aktif adalah seluruh berat badan tubuh, yaitu terjadi pada orang yang menggantunkan diri dengan kaki mengambang dari lantai

2) Penggantungan parsial Istilah penggantungan parsial digunakan jika beban berat badan tubuh tidak sepenuhnya menjadi kekuatan daya jerat tali, misalnya pada korban yang tergantung dengan posisi berlutut. Pada kasus tersebut berat badan tubuh tidak seluruhnya menjadi gaya berat sehingga disebut penggantungan parsial 3) Penggantungan atipikal Salah satu contoh penggantungan atipikal adalah dimana saat penggantungan korban terjatuh dari anak tangga yang sedang dinaikinya. Posisi korban pada kasus gantung diri bisa bermacam – macam, kemungkinan tersering : 1) Kedua kaki tidak menyentuh lantai (complete hanging ) 2) Duduk berlutut Untuk posisi ini ada yang menyebutkan dengan istilah penggantungan parsial. Bahan yang digunakan biasanya tali, ikat pinggang, kain, dll.
4) Berbaring (biasanya di bawah tempat tidur)

D. Mekanisme kematian Mekanisme kematian yang disebabkan oleh gantung akibat penumpuan beban sebagian atau seluruh beban tubuh di leher diantaranya adalah
1) Asfiksia Merupakan penyebab kematian yang paling sering
2) Apopleksia (kongesti pada otak)

Tekanan pada pembuluh darah vena menyebabkan kongesti pada pembuluh darah otak dan mengakibatkan kegagalan sirkulasi 3) Kombinasi dari asfiksia dengan apopleksia 4) Syok vaso vagal Perangsangan pada sinus caroticus menyebabkan reflek vagal yang menyebabkan henti jantung
5) Fraktur atau dislokasi vertebra servikalis

Fraktur vertebra servikalis sering terjadi pada hukuman gantung. Fraktur atau dislokasi terjadi pada keadaan dimana tali yang menjerat leher cukup panjang, kemudian korbannya secara tiba-tiba dijatuhkan dari ketinggian 1,5–2 meter maka akan mengakibatkan fraktur atau dislokasi vertebra servikalis yang akan menekan medulla oblongata dan mengakibatkan terhentinya pernafasan. Yang biasa terkena fraktur adalah vertebra servikalis ke-2 dan ke-3.

6) Iskemia serebral Iskemia serebral disebabkan oleh penekanan dan hambatan pembuluh darah arteri (oklusi arteri) yang memperdarahi otak. Gambar dibawah menunjukan gambaran rontgen pada wanita yang berupaya bunuh diri dengan gantung.

Gambar 1. Diseksi subintimal arteri karotis Sumber : Linnau F.K dan Wendy A.C E. Beda gantung diri dan pembunuhan 1. 2. 3. Perbedaan Usia Jejas Jerat Simpul Tali Penggantungan Bunuh Diri Lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa Bentuk miring berupa lingkaran terputus Biasanya satu simpul pada bagian samping leher. Simpul biasanya simpul hidup 4. 5. Riwayat Korban Cedera Korban mempunyai riwayat bunuh diri dengan cara lain Tidak terdapat luka yang menyebabkan kematian dan tidak terdapat tanda-tanda perlawanan 6. Racun Dapat ditemukan racun dalam lambung korban, seperti arsen, sublimat, korosif. Rasa nyeri mendorong korban melakukan Dapat terdapat racun berupa opium, kalium sianida. Racun ini tidak menyebabkan efek kemauan bunuh diri Korban tidak mempunyai riwayat upaya bunuh diri Terdapat luka-luka yang mengarah ke pembunuhan Lingkaran tidak terputus, mendatar, letak di tengah leher Simpul tali lebih dari satu dan terikat kuat Penggantungan Pembunuhan Tidak mengenal batasan usia

gantung diri 7. 8. 9. Tangan Kemudahan Tempat kejadian Tidak dalam keadaan terikat Tempat kejadian mudah ditemukan Jika tempat kejadian merupakan tempat yang tertutup, atau didapatkan ruangan dengan pintu terkunci makan dugaan bunih diri adalah kuat 10. Lingkar tali Jika lingkar tali dapat keluar melewati kepala, maka dicurigain bunuh diri
F.

Tangan terikat mengarah k kasus pembunuhan Korban biasa digantung di tempat yang sulit ditemukan Bila sebaliknya ditemukan terkunci dari luar maka penggantungan biasanya kasus pembunuhan Jika lingkar tali tidak dapat keluar melewati kepala, maka dicurigai peristiwa pembunuhan

Perbedaan Gantung Postmortem dan Antemortem No 1. Penggantungan Antemortem Tanda jejas jerat berupa lingkaran terputus (non continous) dan letaknya pada leher bagian atas 2. Simpul tali biasanya tunggal, terdapat pada sisi leher Penggantungan Postmortem Tanda jejas jerat biasanya berbentuk utuh (continous), agak sirkuler dan letaknya pada bagian leher tidak begitu tinggi Simpul tali lebih dari satu biasanya lebih dari satu, diikatkan dengan kuat dan diletakan pada bagian depan leher 3. Ekimosis tampak jelas pada salah satu Ekimosis pada salah satu sisi jejas

sisi dari jejas penjeratan. Lebam mayat penjeratan tidak ada atau tidak jelas. Lebam mayat terdapat pada bagian tubuh tampak diatas jejas jerat dan pada tungkai bawah yang menggantung sesuai dengan posisi mayat setelah meninggal Pada kulit ditempat jejas penjeratan Tanda parchmentisasi tidak ada atau tidak jelas

4.

teraba seperti kertas perkamen yaitu tanda parchmentisasi Sianosis pada wajah, bibir, telinga, dll

Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga, dll, tergantung dari penyebab kematian

5.

sangat jelas terlihat terutama jika kematian karena asfiksia Wajah membengkak dan

mata Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga,

mengalami 6.

kongesti

dan

agak dll, tergantung dari penyebab kematian

menonjol, disertai dengan gambaran pembuluh darah vena yang jelas pada bagian kening dan dahi Lidah bisa terjulur atau tidak sama sekali Ereksi penis disertai dengan keluarnya Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus pencekikan Ereksi penis dan cairan sperma tidak ada. Pengeluaran feses juga tidak ada

7.

cairan sperma sering terjadi pada korban pria. Demikian juga sering ditemukan keluarnya feses Air liur ditemukan menetes dari sudut

8.

mulut, dengan arah yang vertikal Air liur tidak ditemukan yang menetes menuju dada. Hal ini merupakan pada kasus selain kasus penggantungan 9. pertanda antemortem pasti penggantungan

H. Pemeriksaan Luar dan Dalam pada Posisi Gantung

Pada pemeriksaan luar hasil gantung diri didapatkan: 1. Tanda Penjeratan Pada Leher a. Tanda penjeratan jelas dan dalam Semakin kecil tali maka tanda penjeratan semakin jelas dan dalam b. Bentuk jeratan berjalan miring Bentuk jeratan pada kasus gantung diri cenderung berjalan kiring (oblique) pada bagian depan leher, dimulai pada leher bagian atas antara kartilago tiroid dengan dagu, lalu berjalan miring sejajar dengan garis rahang bawah menuju belakang telinga c. Tanda penjeratan berwarna coklat gelap dan kulit tampak kering, keras dan mengkilat
d. Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit bagian bawah telinga,

tampak daerah segitiga pada kulit dibawah telinga e. Pinggiran jejas jerat berbatas tegas dan tidak terdapat tanda-tanda abrasi f. Jumlah tanda penjeratan Terkadang pada leher terlihat dua buah atau lebih bekas penjeratan. Hal ini menujukan bahwa tali dijeratkan ke leher sebanyak dua kali

2. Kedalaman Bekas Jeratan

Kedalaman bekas jeratan menujukan lamanya tubuh tergantung 3. Tanda-tanda Asfiksia Tanda-tanda umum asfiksia diantaranya adalah sianosis, kongesti vena dan edema. Pada kasus penggantungan tanda-tanda asfiksia berupa mata menonjol keluar, perdarahan berupa petekia pada bagian wajah dan subkonjungtiva. Jika didapatkan lidah terjulur maka menunjukan adanya penekanan pada bagian bawah leher yaitu bagian bawah kartilago thyroida. 4. Lebam Mayat Jika penggantungan setelah kematian berlangsung lama maka lebam mayat terlihat pada bagian tubuh bawah, anggota badan distal serta alat genitalia distal 5. Sekresi Urin dan Feses Sekresi urin dan feses terjadi pada fase apneu pada kejadian asfiksia. Pada stadium apneu pusat pernapasan mengalami depresi sehingga gerak napas menjadi sangat lemah dan berhenti. Penderita menjadi tidak sadar dan karena kontrol spingter fungsi eksresi hilang akibat kerusakan otak maka terjadi pengeluaran urin dan feses. Pada pemeriksaan dalam akibat peristiwa gantung diri didapatkan : 1. Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun ruptur. Pada gambar 1 dapat dilihat adanya diseksi arteri yang dapat menyebabkan kematian 2. Tanda-tanda Asfiksia Tanda-tanda asfiksia yang didapatkan pada pemeriksaan dalam korban gantung diri diantaranya adalah terdapat bintik perdarahan pada pelebaran pembuluh darah, kongesti pada bagian atas yaitu daerah kepala, leher dan otak, kemudian didapatkan darah lebih gelap dan encer akibat kadar CO2 yang meninggi. 3. Terdapat resapan darah pada jaringan dibawah kulit dan otot 4. Terdapat memar atau ruptur pada beberapa keadaan. Kerusakan otot ini lebih banyak terjadi pada kasus pengantungan yang disertai dengan tindak kekerasan 5. Mungkin terdapat patah tulang hyoid atau kartilago cricoid Gambar dibawah menujukan adanya patah tulang cricoid pada seorang wanita berumur 33 tahun yang melakukan upaya bunuh diri dengan gantung diri (panah sebelah kiri

Gambar 2. Sumber : Linnau F.K dan Wendy A.C

6. Fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas Fraktur ini seringkali terjadi pada korban hukum gantung dimana korban tergantung secara penuh dan tertitis jauh dari lantai. Gambar dibawah (gambar 3) merupakan gambaran CT-Scan pada laki-laki yang menjadi korban hukum gantung. Pada gambar tersebut didapatkan fraktur prosessus melintang pada servikalis ke lima-enam (C5-6) (panah lurus penuh), fraktur pada tepi depan servikalis ke enam (panah melengkung) dan perluasan persendian antara tulang servikalis kelima dan keenam (panah kosong).

Gambar 3. CT Scan Axial Pada Korban Hukum Gantung

Sumber : Wallace et al, 1994 I. Kasus Percobaan Gantung Diri Korban Masih Hidup Pada korban percobaan gantung diri yang masih dapat tertolong biasanya mengalami gejala-gejala sebagai berikut :

Gangguan saluran pernapasan. Gangguan saluran pernapasan terjadi akibat perdarahan jaringan lunak di leher, edema di daerah tersebut, kemudian dapat juga terjadi fraktur tulang hyoid, cricoid dan tiroid

Abnormalitas bernapas. Edema pada daerah glotis dan gangguan pada saluran napas menyebabkan abnormalitas bernapas, yang dapat terjadi diantaranya hentinya napas, nadi tidak teraba, pH darah asam (dibahawa 7.2). Gejala seperti adanya stridor, batuk, suara melemah menunjukan fase distres pernapasan yang lebih ringan dibandingkan gejala diatas. Suara serak atau batuk dikarenakan adanya sekresi cairan pada saluran pernapasan

Abnormalitas sirkulasi. Abnormalitas ini mugkin terjadi akibat rangsangan terhadap sinus karotis yang menyebabkan reflek henti jantung. Abnormalitas sirkulasi kemudian dapat menyebabkan hipoksia cerebral yang menyebabkan gejala-gejala kehilangan kesadaran dan meninggalkan gejala sisa

– –

Perubahan status mental Gejala sisa yang tertinggal tergantung dari sejauh mana kelainan pada saluran napas serta kerusakan otak. Gejala yang dapat tersisa diantaranya hemiplegia, amnesia, demensia, bronkitis, parotitis dan sebagainya

Pada korban yang masih dapat tertolong hendaknya diberikan pertolongan segera, yaitu : 1) Korbannya diturunkan 2) Ikatan pada leher dipotong dan jeratan dilonggarkan 3) Berikan bantuan pernafasan untuk waktu yang cukup lama 4) Lidah ditarik keluar, lubang hidung dibersihkan jika banyak mengandung sekresi cairan 5) Berikan oksigen, lebih baik lagi kalau disertai CO2 5% 6) Jika korban mengalami kegagalan jantung kongestif, pertolongan melalui venaseksi mungkin akan membantu untuk mengatasi kegagalan jantung tersebut 7) Berikan obat-obat yang perlu (misalnya fenitoin untuk mencegah kejang akibat kerusakan otak)

Daftar Pustaka

1. Chada, PV. 1995. Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi 5. Alih bahasa : Hutauruk,

Johan. Jakarta: Widya Medika.
2. Idries, Abdul. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina Rupa

Aksara.
3. Dahlan, Sofwan. 2004. Ilmu Kedokteran Forensik : Pedoman Bagi Dokter dan

Penegak Hukum. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
4. Linnau, K.F dan W.A. Cohen. 2001. Radiologic Evaluation of Attempted Suicide

by Hanging : Cricotracheal Separation and Common Carotid Artery Dissection. AJR: 178.
5. Wallace, S.K., W.A. Cohen., E.J.Stern., D.T. Reay. 1994. Judicial Hanging :

Postmortem Radiographic , CT, and Conformation. Radiology; 193:263-267.

MR Imaging Features with Autopsy

6. Bennewith, O.D. Gunnell., N. Kapur., P. Turnbull., S.Simkin., L. Sutton et al.

2005. Suicide by Hanging : Multicentre Study Based on Coroner’s Records in England. B J Psych; 186: 260-261.

7. Gunnell, D., O. Bennewith., K. Hawton., S. Simkin., N. Kapur. 2005. The

Epidemiology and Prevention of Suicide by hanging : a Systematic Review. Int J Epid; 34: 433-442
8. Ernoehazy,

W.

Hanging

Injuries

and

Strangulation.

Tersedia

di

www.emedicine.com. Diakses 15 Agustus 2009.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful