You are on page 1of 4

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Pemrosesan akhir sampah merupakan salah satu komponen pengelolaan sampah berdasarkan UU No. 18 Tahun 2008. Beberapa metode pemrosesan akhir yang sering dilakukan antara lain metode komposting dan insinerasi. Residu dari pemrosesan akhir biasanya ditimbun dalam landfill. Namun secara umum, sampah di Indonesia dibuang langsung ke lokasi penimbunan akhir atau landfill. Penimbunan sampah pada landfill di kota besar sering menemukan masalah karena tidak mengikuti kaidah penimbunan sampah di sanitary landfill. Salah satu masalah pada proses penimbunan sampah adalah timbulan dan pengolahan lindi. Lindi didefenisikan sebagai cairan yang telah mengalami perkolasi melalui tumpukan sampah. Lindi mengandung materi tersuspensi, bahan-bahan terlarut, dan terekstraksi dari sampah, dan beberapa dari kandungan lindi tersebut sangat berbahaya (Tchobanoglous, Theisen, Vigil, 1993). Karakteristik lindi sangat tergantung dari komposisi sampah yang tertimbun di dalam landfill. Secara umum, lindi mengandung ammonia-nitrogen (NH4-N) yang tinggi dan ratio BOD/COD yang tinggi sehingga menyulitkan dalam pengolahan biologis (Kim et al., 2007). Selain itu NH4-N diketahui bersifat toksik terhadap mikroorganisme sehingga dapat menganggu aktivitas mikroorganisme dalam pengolahan biologis. Konsentrasi NH4-N yang tinggi di dalam lindi akan sangat menganggu proses pengolahan secara anaerobik, karena senyawa ini menghambat kinerja dari bakteri methan dalam proses methanasi (Wiszniowski et al., 2006). Azis et al., (2004) menyatakan diperlukan pretreatment untuk menghilangkan NH4-N sebelum dilakukan pengolahan lindi secara biologis.

1.1.

1

2005).. 2008). penelitian ini bertujuan untuk menyisihkan ammonium pada lindi TPA Benowo untuk membentuk MAP. dan ammonium dari air buangan semiconductor dengan pembentukan mineral MAP. Pengolahan lindi di TPA Benowo dilakukan secara biologi dengan mengunakan Anaerobik Baffle Reaktor (ABR) (Dinas Kebersihan Kota Surabaya. effluent anaerobic digester (Wang et al. Berdasarkan hal tersebut diatas. seperti aliran buangan pertanian. 2007. Warmadewanthi dan Liu (2009) juga melakukan penelitian mengenai pemisahan pospat. Beberapa peneliti juga sudah meneliti pengurangan NH4-N dalam lindi dengan pengolahan kimiawi dengan pembentukan mineral magnesium ammonium pospat (MAP) (Kim et al. Li et al.. Pengolahan yang sering dilakukan adalah memisahkan senyawa ini dengan membentuk endapan magnesium ammonium pospat (MgNH4PO4. Proses pengendapan dengan penambahan magnesium dipengaruhi oleh . 2001). Berdasarkan penelitian terdahulu. kandungan ammonium dalam lindi cukup tinggi. Kota Surabaya hanya memiliki 1 TPA yaitu TPA Benowo yang terletak di Kecamatan Benowo. Kondisi ini diperkirakan akan menganggu kinerja ABR (Warmadewanthi dan Slamet. Penggunaan lindi artificial pada penelitian ini untuk melihat apakah dengan penambahan magnesium dapat membentuk mineral MAP pada lindi TPA Benowo. 1999). Penelitian ini menggunakan lindi artificial dan lindi TPA Benowo. Secara umum metoda ini banyak digunakan untuk memperbaiki kualitas effluent dari anaerobic digester guna menghilangkan NH4-N dan pospat (Burns et al. Bobierrite (Mg3(PO4)2.. 2006). Turker dan Celen.2 Salah satu alternatif untuk mengurangi konsentrasi NH4N dapat dilakukan pengolahan secara kimiawi.. flour. Penambahan magnesium untuk menghilangkan ammonium dan pospat sudah dilakukan dengan berbagai air limbah yang berbeda. 2005.8H2O) dan Brucite (Mg(OH)2).6H2O) atau dikenal sebagai mineral struvite.

sampel yang digunakan adalah lindi TPA Benowo. Oleh karena itu diperlukan studi lebih lanjut mengenai pengendapan NH4-N dari lindi yang dihasilkan di TPA Benowo. serta tipe atau jenis magnesium yang digunakan.3. Ruang Lingkup Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah : Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium dengan batch system. dosis magnesium. . 2. Sampel yang digunakan adalah lindi artificial yang disesuaikan dengan karakteristik dari lindi TPA Benowo. PO4-P. dan waktu reaksi optimum. 5. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah waktu reaksi. dosis optimum. waktu reaksi. Selain lindi artificial. Masalah utama yang akan dibahas di dalam penelitian ini adalah bagaimana menemukan kondisi optimum untuk menghilangkan NH4-N dari lindi sehingga tidak menganggu pengolahan biologis. 4. diperlukan metode pengolahan yang sesuai. sehingga diperlukan adanya pretreatment untuk lindi sebelum diolah dengan ABR. Kondisi optimum tersebut antara lain: pH. 1. jenis magnesium yaitu MgO dan MgSO4. Perumusan Masalah Kandungan NH4-N pada lindi di TPA Benowo cukup tinggi. dan pH. 1. 1. dosis magnesium dan pH.3 beberapa hal yaitu pH optimum. Parameter yang akan diuji adalah konsentrasi NH4-N. Terkait dengan hal ini. Pada penelitian ini akan digunakan pengolahan secara kimiawi dengan menambahkan magnesium untuk membentuk mineral MAP. 3.2.

pH. 1. Memberikan alternatif pengolahan lindi untuk mengurangi konsentrasi NH4-N yang dapat memperbaiki kinerja pengolahan lindi TPA Benowo. . 3. 2. 2. Menentukan waktu reaksi optimum untuk proses pengolahan. 4. Menentukan dosis optimum Mg yang dibubuhkan.4 Tujuan Penelitian Proses pengendapan sangat dipengaruhi oleh dosis bahan kimia yang dibubuhkan.4.5. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Menentukan pH optimum. Memberikan pengetahuan mengenai kondisi optimum untuk penyisihan ammonium dari lindi di TPA Benowo. dan waktu reaksi. Membandingkan keefektifan magnesium (MgO dan MgSO4) yang dapat mengurangi ammonium dan pospat secara optimum. 1. Sedangkan tujuan khususnya adalah: 1. Tujuan umum pada penelitian ini adalah menyisihkan konsentrasi NH4-N dari lindi.