Risalah

Membaca Pes@n-pes@n Tuhan
Status : Draft Revised on : 18/07/2006 21:41:17 Judul : Membaca Pesan-pesan Tuhani Subyek: sejarah pengetahuan tauhid

Risalah Mawas Diri Atmnd (114912) “Hak Penciptaaan Hanya Milik Allah semata “ Distribusikan secara bebas untuk kepentingan Umat Manusia khususnya Umat Islam 2005-2057 adalah era tegaknya Cahaya Pemurnian Tauhid untuk kepentingan komersial (hardcopy) atau cetak kontak atmonadi@gmail.com

Bismillahirrahmaanirahiim
Saya meyakini bahwa apapun nama yang muncul dan dinisbahkan pada suatu makhluk baik manusia maupun gunung atau makhluk-makhluk lainnya, sejatinya nama yang ditetapkan oleh Allah. Oleh karena itu nama-nama menjadi suatu kaidah pengenalan yang diberikan kepada manusia setelah Nabi Adam a.s menerimanya sebagai Asmaa-aa Kullaaha yang tidak lain adalah sistem simbolik, geometris, bilangan dan akhirnya menjadi sistem huruf. Huruf adalah instrumen keilmuan yang melekat pada akal dan hati manusia (sejauh ini karena kita berbicara dengan bahasa manusia maka ketika saya mengatakan huruf maka yang dimaksud adalah huruf yang dikenal oleh manusia dari berbagai zaman dan peradaban) yang berkaitan langsung dengan sistem anatomis dirinya maupun sistem energetis dirinya sebagai makhluk hidup, dan sistem kehidupannya yaitu sistem tatasurya. Oleh karena itu penyusunan huruf merupakan contoh aktual bagaimana logika dasar manusia ketika memaknai berbagai fenomena yang tercitrakan oleh sistem inderawinya maupun sistem energetisnya yang tidak lain adalah keadaan jiwanya atau akhlak dan perilakunya.

Grafiti Awal Mula Ketika Tuhan Memperkenalkan Diri-Nya
Berbagai ilmu pengetahuan dan istilahnya yang kemudian berkembang dikemudian hari sampai saat ini sebenarnya merupakan penafsiran dari bagaimana setiap huruf secara individual tersusun atau dibuat (dibolak-balikkan seperti permainan anagram). Sebagai contoh huruf pertama misalnya Alif atau huruf A sistem alfabet merupakan titik tolak dari pemahaman manusia yang mewakili “peristiwa besar” yang terlihat oleh inderawinya, tercitarasakan dan kemudian terdokumentasikan sebagai “kenangan purba” atau sebagai “grafiti awal mula”. “Peristiwa besar” yang utama pada akhirnya adalah “melihat Tuhan’ sebagai suatu musyahadah ketuhanan atau teofani ketuhanan yang dipicu oleh suatu pemahaman yang mewakili kaidah bagaimana manusia berpikir dan mencitarasakan dengan akal budi dan perbuatannya. Musyahadah itu muncul bisa dengan proses belajar maupun secara mendadak karena adanya dorongan eksternal yang membuat kesadaran manusia secara tiba-tiba melakukan revolusi kejiwaan. Peristiwa eksternal itu berada di luar kendali makhluk, kapan dan bagaimana kejadiannya, besar dan kecilnya, serta dampak-dampaknya sepenuhnya berada di luar kendali makhluk. Pemicu eksternal itu bisa letusan gunung, banjir besar, gempa bumi, topan badai, bertemu dengan seseorang yang mencerahkan, dan lain sebagainya. Namun yang paling dominan sebenarnya berkaitan dengan kematian dan kelahiran sebagai suatu proses alamiah yang harus dijalani, sebagai suatu takdir yang melekat kepada manusia. Dari pemicu dari luar maka bagian interior manusia yang lebih halus pun mengalami suatu revolusi. Katakan saja revolusi ruhaniah sehingga manusia kemudian mulai melihat diri,lingkungan, dan Pemilik Kekuasaan Tertinggi yang bersifat memaksa tanpa pandang

bulu dengan suatu intensitas dan integrasi yang utuh. Itulah intensitas dan integrasi lahir dan batin yang membawa lahirnya seorang nabi, rasul, arifin, agama, ilmu pengetahuan dan akhirnya muncul kepermukaan menjadi pembangunan peradaban, pemeliharaan sistemik, dan tentunya menjadi bagian dari suatu sistem pengajaran alias pendidikan. Dia (Huwa), Penguasa Tertinggi yang kehendak dan keinginannya tak bisa ditolak itu pun kemudian muncul dengan suatu ungkapan yang menyambungkan kesadaran lahir dan bathin mansuia. Sebut saja, Dia adalah Allah, Rabbul ‘Aalamin sebagai ungkapan Ketuhanan Yang Maha Tunggal, Yang Menciptakan, Memelihara dan Mendidik semua makhluk-Nya.

Isra & Mi’raj : Pengalaman Ruhani Yang Bersifat Individual
Peristiwa ruhani tertinggi yang dialami manusia secara individual sejatinya merujuk pada suatu kesadaran paling kudus nan agung, indah dan tak terlukiskan maupun tak terwakilkan sesuai dengan kemampuan manusia ketika memandang setiap teofani ketuhanan yang tampil dimana-mana. Dalam literatur Islam maka yang saya maksud adalah Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai suatu peristiwa dengan kesadaran manusia yang sempurna dimana ia sebagai manusia adalah hamba yang fakir, berserah diri, dan tertunduk sehingga apa yang dilihat dengan matahatinya sejatinya adalah Anugerah Tuhan. Tidak ada keinginan untuk melabeli kesadaran tersebut sebagai “temuan milik Muhammad” namun semua itu tak lebih dari “Anugerah Milik Tuhan” yang mejadi “rahmat bagi semua makhluk” dimana Muhammad sebagai penerima anugerah hanya sekedar hamba Allah dengan kekhususan sebagai Kekasih-Nya. Penisbahan Hamba dan kekasih ini sepenuhnya milik personal Nabi Muhammad SAW bukan anak cucunya maupun para pengikutnya. Penisbahan kekhususan ini juga dialami oleh beberapa Nabi dan Rasul seperti Nabi Ibrahim sebagai Khalil Allah dan hambahamba Allah lainnya yang dikehendaki oleh-Nya semata, bukan dikehendaki oleh makhluk (simak Qs 24:35) (lagi pula sejak kapan Allah didikte oleh makhluk?). Secara individual, kesadaran kudus itu semakin memuliakan Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul di hadapan makhluk lainnya karena ketika Muhammad melihat realitas dibalik realitas dihadapan Tuhan Yang Maha Esa, ia menyadari bahwa teofani ketuhanan itu sebenarnya melekat dalam bentuk nyata sebagai makhluk, dirinya, yaitu ketika melihat ke dalam keajaiban yang ada dalam diri Muhammad dengan titik tolak pandangan yang sebenarnya dikenal oleh semua manusia yaitu keadaan anatomi maupun jiwa manusia. Ungkapannya yang muncul ketika kesadaran tertinggi muncul dengan kedekatan yang nyaris tanpa jarak adalah “Qabaa Qausaini” sebagai sejarak dua ujung busur panah. Saat itu Rasulullah sebenarnya sedang memandang dengan matahati dan keduamatanya yang memang berbentuk busur dalam posisi kedua telapak tangan terbuka keatas, disatukan, ibu jari kanan dilipat dan berdoa dengan khusuk dan sadar. Kedua telapak tangan yang terbuka keatas dengan berdoa akhirnya mengungkapkan suatu kesadaran paling kudus dimana dua pasang tangan dan masing-masing garisnya saling bertemu. Garis paling atas membentuk sebuah busur panah seolah menyatu dengan realitas mutlak Tuhan yang Cahaya-Nya mencelup semua makhluk, menembusi semua bentuk yang bertubuh/berjasad. Dalam posisi berdoa Cahaya Allah menjalar dari ibu jari

kanan yang dilipat sebagai tanda berserah diri menelusuri jemari tangan manusia yang berjumlah 5 dan 5 dalam susunan 1-9 dan 9-1. Cahaya Allah seolah merambah sekujur tubuh dari kesadaran kudus lahir dan batin yang tertunduk dengan ampunan dan taubat, cahaya itu mencelupnya, dan ia mencitrakan bagaimana dengan kelembutan-Nya, Dia menyediakan hamparan maghfirah atau pintu taubat yang terbuka bagi manusia kapan saja, dan tak pernah tertutup sampai kematian tiba karena memang saat kematian jemari tangan manusia tak bisa lagi digerakkan untuk memohon doa ataupun melakukan aktivitas lainnya. Saat kematian tiba semuanya menjadi lumpuh yang menjalar dari ujung kaki menuju jantung (mengenai kematian silahkan baca novel pendek saya “Namaku Izrail” di situs http://www.sufinews.com) . Dari pengenalan yang murni dan totalitas kehambaan di hadapan Tuhan itulah kemudian manusia dapat melakukan suatu rekonstruksi pengalaman batinnya menjadi lebih nyata yaitu dengan mengimplementasikan ubudiyah kepada Tuhannya hanya untuk Tuhannya Yang Maha Esa bukan untuk mendapat surga atau neraka tetapi sampai kepada-Nya, atau Wushul dengan Cinta-Nya semata. Pengalaman pertama yang nyata itu dinyatakan oleh Adam sebagai Asmaa-a Kullahaa sebagai basis dasar peradaban umat manusia dengan munculnya ilmu pengetahuan yang diuraikan dari simbol, geometri, bilangan dan huruf-huruf awal. Saat ini kita mengenalnya dengan berbagai jenis huruf.

Wahyu-wahyu Elementer & Lahirnya Pengetahuan Tuhan
Komposisi dasar dari semua simbol, geometri , bilangan dan huruf yang dipicu oleh peristiwa besar akhirnya saat ini kita kenal baik sebagai abjad, alfabet maupun huruf lainnya dan muncul sebagai suatu NUZULUL suatu komposisi dari titik menjadi garis, suatu bilangan 123, suatu BLACK HOLE. 123 sebagai bilangan yang diadopsi dari peradaban Arabia adalah bilangan BLACK HOLE yang diartikulasikan oleh hati manusia menjadi ungkapan yang dinyatakan secara lahir yaitu susunan Nun, Zai, Lam, wawu, Lam alias 57+66=123 (NUZULUL) alias AlifBaJim alias Qaaf, Kaf, dan Jim alias konstruksi segi empat yang dihasilkan dari segi tiga dengan hipotenusa akar 2 dan akar 3 yang kelak dipahami manusia modern sebagai suatu komposisi 23 gennya dalam keadaan berpasangan. Komposisi susunan huruf di dunia sebenarnya muncul dari pengertian adanya konsep Yang Ghaib menopang Yang Nyata, Ghaibi, bilangan imajiner dan tentu saja TEORI BLACK/WHITE HOLE alias lubang hitam dan lubang putih, yang lahir dan mati, dan kaidah logis ketika menguraikan konsep ghaibi menjadi bilangan imajiner akar 2 dan akar 3 serta bilangan irrasional lainnya. Tahukah kita kalau semua bilangan dapat dibenamkan dalam bilangan black hole 123 dan 213?(Coba saja susun semua bilangan, berapapun dijitnya dengan susunan jumlah bilangan genap, jumlah bilangan ganjil dan jumlah total dijit bilangan atau sebaliknya jumlah bilangan ganjil, bilangan genap, dan jumlah dijitnya; hasilnya akan selalu berakhir dengan 123 dan 213). Dalam pengembangan selanjutnya huruf pun kemudian dinyatakan dengan ungkapan citarasa yang lebih logis, tidak ngawur, namun menunjukkan bagaimana citarasa manusia muncul baik sebagai suatu seni tulis menulis atau kaligrafi, mencoret simbol dengan

tuntunan logis untuk mengaitkan satu serpihan dengan serpihan lainnya, susunan bilangan, huruf dan tentu saja operasi matematis logisnya. Seperti bermain Lego, kitapun merekonstruksi akal pikiran dan citarasa kita dengan berbagai cara yang buktinya kemudian di temukan di gua-gua perlindungan zaman dulu seperti warisan Neanderthal di Perancis, kuburan-kuburan kuno, kuil-kuil pemujaan, tablet-tablet sumeria babylonia, batu-batu bertulisan, daun lontar, kertas, dan akhirnya era dijital tiba dan kita melihat realitas tauhid dalam bentuk nyata sebagai era dijital sebagai basis pengungkapan akal pikiran dan hati kita, baik yang hitam maupun putih, yang baik maupun buruk, dan dualitas-dualitas penampilan yang dihadirkan diatas mediun yang sama – BINER – PENGETAHUAN TAUHID – LAA ILAAHA ILAA ALLAH – semuanya bertasbih, demikian juga derasnya byte-byte dijital yang kita manfaatkan untuk menuangkan citarasa dan akal pikiran kita- SEMUANYA BERTASBIH HANYA KEPADA ALLAH, YANG SATU, YANG MAHA ESA. Huruf-huruf pun akhirnya berbeda-beda tepat seperti disebutkan dalam beberapa ayat alQur’an bahwa manusia sejatinya mempunyai qadar yang sama namun potensi pengembangannya berbeda-beda (simak Qs 91:7-10). Saat ini komposisi huruf di dunia direkonstruksi sebagai suatu simbol yang dikembangkan dengan konsep dasar dimana susunannya mencerminkan bagaimana medan gravitasi dan cahaya matahari menentukan eksistensi makhluk hidup di lingkungan tertentu misalnya di Pulau Jawa, di Planet Bumi, di sistem tatasurya, di Bima Sakti yang mengembara dengan kumpulan galaksi lainnya, dan dalam Celupan Ilahiyah. Baik medan gravitasi maupun sinar mentari dalam sistem yang kita sebut “universe” sebagai “al-‘Aalamin’ sejatinya keduanya menunjukkan makna adanya yang mengikat dan memberi penerangan, yang mampu diartikulasikan oleh jasad dan jiwa manusia melalui isntrumen akal pikiran dan hatinya. Susunan huruf-huruf awal karena itu sebenarnya mewakili bagaimana medan gravitasi dan cahaya matahari alias gelombang elekromagnetik/listrik saling terikat dan dipahami sebagai suatu ketukan yaitu ketukan 0 dan 1 yang kemudian berkembang menjadi bilangan Prima Dasar 2,3,5, yang kelak sangat mempengaruhi bagaimana makhluk bernama “manusia” muncul dengan kromosom atau gen-gen yang tersusun sebagai pasangan dengan kodefikasi 2x23. Pasangan kromosom inilah yang kelak muncul dengan pengucapan yang menyatakan kekudusan Sang Pencipta : Alif, Kaf, Ba, dan Ra “AKBAR” menjadi “ALLAAHU AKBAR” dengan makna menunjukkan Kemahabesaran dari Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Maka sungguh tersesat sekali ketika kita melafazkan “Allaahu Akbar” tetapi tindakan kita menyimpang jauh dari makna yang kita ucapkan tersebut. Tegakah Anda mengucapkan “Allaahu Akbar” sambil membakar, merusak, mencacimaki, mensweeping dan tindakan lainnya yang tidak mencerminkan apa yang yang tersirat dari lafaz agung tersebut? Bagaimanakah kita kelak mempertanggungjawabkan semua gerak gerik yang kita munculkan di hadapan Aziizul Hakiim nanti? Ketukan 0 dan 1 adalah ketukan yang kita artikulasikan saat ini sebagai “Laa ilaaha illaa Allah” sebagai “01” alias suatu denyut energetis yang awal mulanya adalah denyutan “10” sebagai artikulasi penyaksian pra-eksistensi akan ke-Esa-an Tuhan (Qs 7:172) yang

diungkapkan dengan huruf ke-5 dan ke-6 yaitu “HUWA” atau “Dia” dengan nilai numerik Arab 11 atau 0+1+2+3+5=6+5=11 setelah Ruh Dengan Perintah (Ruh ‘Amriina) bersaksi dengan “Ba dan Laam (ungkapan Balaa… dalam Qs 7:172)”, alias dengan Pengetahuan Tuhan dan Tampilan Asma, Sifat, dan Af’al-Nya yang kita lihat dan rasakan sebagai Universe (semesta tunggal yang sesuai dengan akal pikiran dan hati kita) sebagai Laam, dan memahaminya sebagai suatu ikatan silaturahim didalam al-‘Aalamin (alam semesta global yang dicitrakan oleh akal pikiran manusia yang akhirnya kelak berdiri diatas fondasi simbolis, geometris, bilangan dan huruf dan diunifikasikan menjadi fondasi biner atau byte byte dijital). Secara geometris, susunan “01” adalah susunan titik menjadi lingkaran dengan diagonalnya yang ganda atau diagonal kembar. Diagonal awalnya adalah pi=355/113= 3.1415929203539823008849557522124… sebagai suatu bilangan imajiner yang transenden namun aktual sebagai bilangan real menjadi 22/7=3,142857…. Diagonal kembar kemudian bergerak memutar dalam arah searah jarum jam sehingga tercitra bentuk simbolis yang sekarang kita gunakan sebagai 6, simbol yang mewakili nilai numerik huruf WAWU atau huruf ke-6, simbol Kelahiran Sang Waktu dengan nyatanya pesan Sang Matahri sebagai pusat sistemik dimana Planet Bumi berada. Komposisi simbolik sebagai suatu susunan simbol awal akhirnya mencitrakan bagaimana manusia mengenal diri , lingkungan dan Tuhannya dengan 3 simbol dasar yang nyata berbentuk simbolis O atau 6, N atau Z, dan W atau M (jangan dibaca seperti kita mengartikan huruf saat ini). O dan 6 mewakili makna kelahiran waktu yang nyata, terukur, seimbang dan sesuai dengan apa yangkita lihat dan rasakan. Kiasannya atau metaforanya sering muncul dengan ungkapan gelombang air atau riak air ketika suatu tetes debu jatuh diatas kolam yang ungkapan-ungkapan metaforis realistisnya banyak ditemui dalam Al Qur’an. Gelombang yang menjalar di atas air semakin membesar dan dikejauhan kita melihatnya sebagai suatu LINGKARAN WUJUD. Di kemudian hari, fenomena yang sama menjadi dasar-dasar teori superposisi gelombang, efek doppler, atau kemudian disebut Richard Feynman seorang ahli fisika partikel Caltech sebagai teori jumlahan sejarah (sum over histories) yang menjadi dasar pengembangan teori lubang hitam Stephen Hawking. Simbol N atau Z (di masa kini kita mengenalnya sebagai simbol yang tertera di jidat Harry Potter atau kilatan pedang Zorro yang mengukir tanda Z, di zaman baheula Indonesia mengenalnya sebagai Ki Ageng Sela yang menaklukkan Petir dengan kedua tangannya, agak modern sedikit kita kenal tokoh fantasi Gundala Putera Petir karangan Hasmi dari Jogja dan tentu saja The Flash dari Amerika) adalah simbol PETIR sebagai kilatan-kilatan kekuasaan tertinggi Yang Nyata benar (simak QS 13, Ar Ra’du) terjadi di Planet Bumi sebagai hasil aktivitas klimatologi yang muncul karena berbagai sebab. Ketika surat Ar-Ra’du dinyatakan, maka firman Tuhan berbunyi melalui mediator pilihan-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai “Alif Laam Mim Raa” dengan nilai numerik 271, dengan susunan 4 huruf yang mencitrakan bagaimana Kekuasaan Tuhan itu kemudian tampil dan dikenali oleh manusia sebagai suatu gerak dan perubahan LOGARITMIS-BIORITMIS yang muncul di alam menjadi suatu fenomena dengan bentuk simbolik 69 alias ThaaSin (Qs 27:1).

Kekuasan Tuhan yang paling sering muncul di Planet Bumi pada akhirnya muncul sesuai dengan KARAKTERISTIK PLANET BUMI ITU SENDIRI DAN INTERAKSINYA DENGAN BENDA LANGIT LAINNYA DALAM SUATU KAIDAH DASAR HUKUM TUHAN YAITU “KESEIMBANGAN SISTEMIK DALAM GERAK DAN PERUBAHAN ALIAS INHARMONIA PROGRESSIO” yang secara geologis merupakan susunan-susunan lempeng benua yang bergerak dengan laju 6,7 cm per tahun.

Indonesia RING OF FIRE (jajaran Gunung Berapai di Wilayah Indonesia dan SEkitarnya)

Keterangan foto : diambil dari http://earth.leeds.ac.uk/dynamicearth/subduction/index.htm gambaran zone subduksi yang juga terdapat di selatan P.Jawa.

Keterangan gambar: Wilayah Toba berada dekat jalur patah Sumatra atau Sumatra Fracture Zone (SFZ). Gunung-gunung berapi di Sumatra merupakan bagian dari busur Sunda. Gunung berapi merupakan hasil dari pertemuan (subduction) lempeng samudera Indonesia yang menyusup dibawah lempeng benua Euroasia. Wilayah subduction ini ditandai dengan adanya Palung Jawa (Java Trench). Simbol geologi untuk wilayah subduction adalah garis berbentuk gigi (segitiga hitam). The teeth are on the over-riding plate (the Eurasian plate in this case). Laju subduction adalah 6.7 cm per tahun. (From Knight and others (1986).) Dan sebab yang utama yang sering berhubungan dengan eksistensi kehidupan adalah PERGERAKAN LEMPENG BENUA, YANG MENIMBULKAN GEMPA BUMI DAN LETUSAN GUNUNG (dampak selanjutnya muncul sebagai Tsunami, topan badai, perubahan iklim, dll) yang disimbolkan sebagai bentuk W atau M atau suatu jajaran gunung-gunung purba yang sangat aktif, yang letusannya bisa mengubah iklim seluruh Planet Bumi. Gunung-gunung itu duuluuu sekaleee tersebar di beberapa kawasan di dunia. Namun, yang paling berperanan dalam perubahan iklim sampai akhirnya muncul manusia terjadi sekitar 2,2 juta tahun yang lalu sekarang menjadi kaldera Yellow Stone, kemudian penegasannya terjadi pada 75.000 tahun lalu dengan terjadinya suatu letusan di jalur sambungan tektonik Planit Bumi yang saat ini ada di Sumatra yaitu letusan purba GUNUNG TOBA yang sekarang jadi DANAU TOBA. Letusan Gunung Toba lah yang akhirnya membawa manusia memasuki zaman Es atau Pleistocene sekitar 75 ribu tahun yang lalu dan berakhir sekitar 11600 tahun yang lalu yang diperkirakan oleh PLATO sebagai era tenggelamnya suatu umat dengan peradaban yang maju yaitu ATLANTIS dan diperkirakan oleh seorang Profesor dari Brasil sebagai Kawasan Yang Saat Ini Disebut Asia Tenggara (lihat http://www.atlan.org).

Map of the Toba caldera from Knight and others (1986). Pulau Samosir dan Dataran Uluan merupakan bagian dari satu atau dua kubah resurgent. Lapisan sedimen di Pulau Samosir mengindikasikan adanya bagian daratan yang terangkat keatas setingi 450 meter. Pusukbukit, suatu stratovolcano kecil yang terltak sepanjang batas barat kaldera, terbentuk setelah letusan 75,000 tahun yang lalu. Disitu terdapat solfatara yang aktif di bagian sisi utara volcano.

Perbandingan volume ledakan yang dihasilkan dari beberapa letusan besar zaman purba.

3 susunan simbolik yang saya sebutkan diatas merupakan simbol-simbol primordial mendasar yang melekat dalam memori terdalam manusia sebelum muncul sebagai huruf. Dari hamburan debu letusan Gunung Toba pada 75000 tahun yang lalu komposisi fisikal manusia , khususnya yang berkaitan dengan organ mulut dan lidah, serta pernafasannya mengalami suatu revolusi atau suatu QUANTUM LEAP. Itulah saat manusia sesak nafas, tersedak, dan memegang tenggorokannya sambil berguling, menjerit kesakitan karena DEBU VULKANIK yang terhisapnya menyebabkan lidah, rahang dan jaringan urat dibagian mulut dan tenggorokan yang berhubungan dengan Kromosom ke-5 mulai mengeluarkan suara-suara yang lebih jelas dengan sebuah seruan yang kira-kira bunyinya “Hha…Hha…Hha…”(mudah-mudahan tidak ditafsirkan yang ngeres-ngeres). Lafaz Hha yang kemudian menjadi huruf kelima abjad Hijaiah sebagai huruf yang mentrigger munculnya simbol-simbol yang “dibunyikan” dengan “suara”. Beberapa periode kemudian simbol-simbol yang berbunyi menjadi ungkapan dengan sebuah nama yang diringkas menjadi empat huruf awal mula yangbunyinya kira-kira “Hha”, “Na”, “Swa” dan Ra”. Empat huruf ini sejatinya ada lima dimana lafaz “Swa” menyimpan rahasia atau huruf berbunyi “Syin” yang kemudian diuraikan menjadi dua huruf sebagai “Sin” dan “Wawu” sebagai simbol huruf yang mewakili arti bilangan 66 sebagai lafaz “ALLAH (Alif(1), Lam(30), Laam(30), dan Hha(5)”. Warisan 4 menjadi 5 kemudian menggema sepanjang sejarah manusia dengan suatu ungkapan yang menyiratkan bagaimana kemudian manusia mengalami perubahan gaya hidup dan pola makan dan kecerdasannya yaitu “Empat Sehat, Lima Sempurna”(mudah-mudahan ibu-ibu yang nge-blog pada inget kalau ungkapan ini berkaitan dengan perannya). Yang ke-lima (huruf Hha) yang menyempurnakan adalah SUSU IBU atau katakan saja susu secara umum yang dapat dihasilkan dari hewan menyusui seperti simpanse, sapi, kuda, beruang dan hewan-hewan menyusui lainnya termasuk makhluk berjalan tegak dengan kedua kakinya yang kelak di kemudian hari disebut atau dilabeli sebagai “manusia”. Dan dalam tubuh manusia kromosom manusia yang ke-5 (K5) bisa disebut sebagai HUB atau KOBOKAN KROMOSOM lainnya yang berkaitan dengan sistem pernafasan manusia dan penyakitnya misalnya asma, bengek, dll. Ibupun akhirnya lebih banyak berperan sebagai Hawa yang menurunkan karakteristik dan kepribadian pada anak cucunya di dalam kromosom K11. Kaum wanita sejatinya adalah manifestasi dari keinginan dan kehendak Tuhan supaya kontinuitas keseimbangan dan keberadaan-Nya tetap langgeng. Maka rusaknya kaum wanita adalah tanda mulainya kiamat ruhani suatu kaum yang akan menyebar dan akhirnya memunculkan kiamat lahir dan batin, baik yang fisikal maupun meta-fisikal, dan akhirnya “label” “manusia” pada makhluk primata yang berjalan tegak di atas dua kaki nya pun akhirnya perlu dipertanyakan dan didekonstruksi ulang kembali : siapakah yang disebut “manusia” itu? Siapakah aku, darimana aku,mau kemana, dan ngapain di dunia ini? Mosok cuma lahir, hidup, terus mati begitu saja? Mbosenin tenan.

Sebutan “manusia” inilah yang dinisbahkan kepada makhluk yang”berakal pikiran, mampu menampung fenomena penampilan Keinginan, Kehendak dan Kekuasaan Tuhan, mampu memahamiNya dan mampu memaknaiNya dengan citasasa yang lebih halus, baik dengan LUKISAN SIMBOLIK MAUPUN SUSUNAN GEOMETRI, BILANGAN, HURUF, KATA-KATA, KALIMAT-KALIMAT, KITAB-KITAB, BUKU-BUKU, DAN DI ERA PENYATUAN AKBAR SEBAGAI ERA TAUHID BASE SOCIETY ALIAS ERA DIJITAL ADALAH E-MAIL, HOMEPAGE, DAN TENTU SAJA BLOG serta berbagai perkembangannya di kemudian hari yang mengarah pada DUNIA IMAJINAL YANG DINYATAKAN DIATAS BINER. Tak ada disini dan disana di DUNIA IMAJINAL YANG KITA SEBUT CYBER SPACE, yang ada adalah berapa NOMOR IP ANDA? NAMA DOMAINNYA APA? E-MAIL-MU? MILIS-MU? NICKNAME-MU? DAN tentu saja BLOG-MU?”☺. Setelah berkembang menjadi 5 huruf “Hana Swara” maka di Jawa alias Iafones alias JavaDvipa muncul sistem 20 huruf yaitu sistem “Hanacaraka”. Kemudian berkembang lagi di wilayah Mesir dan Harappa Mohenjodaro, lantas pada sekitar 1800 SM di wilayah Mediterania yang lebih modern munculah sistem 19 huruf Proto-Kanaan yang menjadi cikal bakal sistem huruf di Arab-Mediterania yang lebih modern dengan munculnya sistem 22 huruf Phoenician (1100 SM). Sistem proto-Kanaan sendiri nampaknya mengembangkannya dari sistrem yang lebih kuno yaitu huruf hieroglif Mesir (3000 SM) dan Cina yang diketahui telah mengenal tulisan sejak 3000 SM, sedangkan sumber Mesir dan Cina kemungkinan berasal dari sistem huruf-huruf yang muncul dari wilayah Lembah Indus dan Harappan Mahenjodaro yang dimulai sejak 6500 SM dan memudar pada 2000 SM. Peradaban Indus merupakan peradaban dengan dasar budaya pada pertanian di Asia Selatan yang diketahui muncul di bukit yang disebut Balochistan, sebelah barat lembah Indus. Situs yang dikenal di wilayah ini adalah Mehrgahr yang dibanguns ekitar 6500 SM. Huruf-huruf modern muncul dari sistem 22 huruf Phoenicia dimana yang dominan di kemudian hari adalah sistem huruf alfabet dengan 26 huruf, huruf koptik dengan 30 huruf, dan huruf abjad hijaiah dengan 28 huruf dan 1 huruf unifikasi yaitu Laam-Alif, dan sistem 32 huruf. Huruf Koptik dibuat sekitar abad ke-2 SM dan merupakan hasil modifikasi dari 22 huruf Yunani dengan penambahan 8 huruf dan digunakan sampai hari ini. Huruf Koptik merupakan huruf yang diketahui digunakan dalam naskah kuno Nag Hammaadi yang ditemukan di Mesir dimana ditemukan naskah injil kuno yaitu injil Thomas. Huruf Arab modern diturunkan dari huruf Aramaic-Nabatean yang awalnya memiliki 22 huruf. Di wilayah Arab Selatan sistem hurufnya terdiri dari 29 huruf yang muncul sejak 1300 SM dan digunakan di wilayah dataran Sabaean dan Minoan di wilayah Arab Selatan. Ketika sistem Hijaiah muncul pada abad ke-4 M, penggunaan sistem huruf Arab Selatan digantikan dan berakhir sekitar 600 M, namun masih tetap digunakan di wilayah Ethiopia Afrika. Sistem huruf Arab Selatan sebenarnya mempunyai akar yang sama yaitu pada sistem bahasa Proto-Kanaan dan diketahui digunakan di wilayah Babylonia dan Teluk Aqab sekitar abad 8-9 SM.

Beberapa huruf lainnya dari peradaban kuno seperti Inca dan Maya musnah meskipun tidak musnah benar karena jejak-jejaknya ditemui hari ini dalam keyboard Anda yaitu tanda “#”. Peradaban kuno lainnya tetap eksis dengan sistem hurufnya masing-masing misalnya peradaban Cina dengan sistem huruf piktorialnya (kanji) dengan bunyi mencericit “ci ci ci atau ji ji ji”.

Perbandingan sistem huruf Kanaan, Phoenicia dan Yunani

Sistem huruf Phoenicia (1100 SM)

Sistem Huruf Aramaik (700 SM)

Sistem Huruf Koptik (50 SM)

Sistem Huruf Arab Selatan (600 SM)

Sistem Huruf Brahmi (500 SM)

Sistem huruf abjad hijaiah dengan nilai numeriknya (al-Jumal/Gematrik, 400 M) Dengan basis Prima Kausa yang diekstrak dari pengertian Al-Ghaibi sebagai penopang maujud Nyata, maka huruf yang sempurna adalah huruf hijaiah Arab dengan 28 huruf dimana 27 huruf kompatible dengan huruf latin alfabet yang terdiri dari 26 huruf, satu huruf yaitu huruf Alif tidak kompatibel dan hanya menjadi bagian khasanah tatabahasa Arab saja yang berkaitan dengan keyakinan adanya Yang Ghaib. Huruf A(1) dalam alfabet diterjemahkan sebagai ‘Ain(70) dalam huruf Hijaiah. Kesempurnaan huruf Hijaiah ini muncul dari kaidah logis dimana manusia memahami sistem kehidupannya, dan memahami bagaimana suatu simbol non-dimensional seperti titik muncul menjadi simbol dimensional menjadi suatu garis, bidang 2 dimensi, bidang 3 dimensi dan akhirnya bentuk dasar elementer berupa dodekahedron alis “buah delima yang dimakan Adam dan Hawa” yang dirumuskan oleh Phytagoras menjadi Teori Lima Bentuk dasar benda, lantas dikembangkan oleh Plato sehingga muncul Platonic Solid.

Platonic Solid Di masa Nabi Muhammad Teori Lima Bentuk Dasar benda padat dimodifikasi dengan menyertakan asumsi Mutlak Benar yaitu Bilangan 1 sebagai kondisi Awal, atau sebagai Prima Kausa, dan sebagai simbol Ghaibi yang menjadi Ghaai-biin, Yang Maha Ghaib tetapi Maha Nyata jika kita memahaminya dengan Ilmu-Nya dan Kehendak-Nya (simak QS 7:7). Huruf-huruf Kuno Mediterania pun akhirnya dimodifikasi dari 22 huruf menjadi 29 huruf Hijaiah dengan penambahan satu huruf Unifikasi yaitu Laam-Alif yang disimbolikkan sebagai Kekasih Dan Yang Dikasihi, Hamba Allah yang melakukan penyaksian dan penyatuan akbar (Superunifikasi) sehingga eksistensinya mewakili Jiwa Yang Satu (Qs 6:98) yang mendiferensiasikan bentuk-bentuk kemakhlukan di tatanan yang lebih materialistik.

Kelahiran Pengetahuan Tuhan Dari Tanah Jawa, Jawa adalah Tanah Tuhan, Tanah Asal Usul Tauhid. KEMAMPUAN MANUSIA BERBICARA MUNCUL BUKAN DARI SUATU PROSES BELAJAR TETAPI DI PICU OLEH KEKUASAAN TUHAN LANGSUNG YAITU LETUSAN GUNUNG PURBA TOBA DI SUMATRA SEKITAR 75.000 TAHUN YANG LALU ATAU “SHOCK THERAPY AL-RAHMAAN” untuk mengajarkan manusia al-Qur’an dan membuatnya bisa berbicara. SHOCK THERAPY PERTAMA ADALAH “SHOCK IN THE MONKEY” SEKITAR 2,2 JUTA TAHUN YANG LALU YANG DIPAKSA OLEH LETUSAN GUNUNG YELLOW STONE. Perlu diingat bahwa pengertian 75 ribu tahun ataupun 2,2 juta tahun yang lalu adalah pengertian karena sampai hari ini kita sepakat menggunakan bilangan dan abjad sebagai sistem dasar untuk menguraikan pengetahuan Tuhan. Realitas kebenarannya Wallahu Alam, mungkin ukurannya identik dengan KELAHIRAN ANDA SENDIRI ketika nongol dari rahiim ibunda Anda. Jadi kalau kita gunakan ukuran umur kita maksimum 70 tahun, sehari disisi Allah=1000 tahun, setahun 365 hari, dengan patokan 2,2 jt tahun sebagai awal munculnya nenek moyang manusia saat ini, kita hitung saja 2.200.000x365/(70000x365x1000)=(2,2/25550)x365=8,61x365/100000 = 0.0314265 harix24= 0.754236 jam x60=45.25416 menit. Jadi kelahiran nenek moyang kita itu tak lebih dari 46 menit yang lalu! Atau kalau kita gunakan umur kita hari ini misalnya 30 tahun ternyata nenek moyang kita itu umurnya baru 20 menit yg lalu! Anakmu bukanlah anak-anakmu, mereka adalah anak-anak Sang Waktu, begitu kira-kira bunyi salah satu bait syair Kahlil Gibran kalau saya plesetkan! Lalu siapakah kita sebenarnya ?

Athmaan Maia, Jiwa Yang Satu
Jiwa Yang Satu yang diungkapkan dalam QS 6:98 dalam literatur Hindu adalah Athmaan Maia, yang nampaknya kemudian diadopsi Plato menjadi Idea Universal, sebagai Logos, Sebagai Guru Jati Umat Manusia yang bergerak dengan kehendak dan keinginan yang dimaujudkan dengan CINTA ILAHI alias EROS alias cinta yang maujud dari Pertolongan Allah dengan “LAA ILAAHA ILLAA HUWA” DAN “LA HAWLAA WALLA QUWWATA ILLAA BILLAAH” dimana iringan kalimat pembuka BISMILLAHIRRAHMAANIRRAAHIIM menyertai semua bentuk penciptaan makhluk, di semua tatanan alam yang mampu dipikirkan dan dicitrakan oleh akal pikiran dan hati manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai penopang semua eksistensi relatif dan serba maya. Bagaimana pun Pengetahuan Tuhan berkembang namun esensi-Nya tetap sama ya “Dia, Dia Juga…”. Siapakah “Dia” dan siapakah “kita”? Siapakah”Dia” dan siapakah “aku”? Siapakah “Allah” dan siapakah “hamba”? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menghantui akal pikiran dan hati umat manusia sepanjang zaman sehingga ungkapan abadi yang sangat ruhaniah dikenal sepanjang sejarah umat manusia dengan ungkapan simbolis “yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya” denga variasi lokal dalam bahasa Jawa Kuno “Sangkan Paraning Dhumadi”, dan mungkin berbagai ungkapan ekstatif lainnya seperti “Ana al-Haqq” yang diungkapkan seorang gnosis besar Mansyur Al-Hallaj yang dihukum mati di Bagdad, “Subhanii..subhanii” dari Abu Yazid al-Busthami, atau dalam al-Qur’an tersirat sebagai “Inni Anallahu, Rabbul ‘Aalamiin” (Qs 28:30) yaitu teofani Tuhan yang dilihat Musa sebagai Pohon Sejarah (Syajarati), dan tentunya “Laa Huwa illaa Huwa” yang menjadi ungkapan mistis Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Ketika akhirnya Celupan Ilahiyah itu diselami, dan para pengembara ruhani kembali ke tempat yang ditentukan oleh Tuhannya, maka Pengetahuan Tuhan pun harus disampaikan sesuai dengan sunnatullah, kesadaran dan ruang waktunya. Salah satu yang mendasar, tentunya lahirnya sistem ilmu pengerahuan dasar sebagai Wahyu Elementer alis konsep simbolis, geometris, bilangan dan huruf dasar yaitu Asmaa-aa Kullahaa yang diterima Nabi Adam a.s Generasi Pertama yang lahir di tanah Jawa pasca letusan Gunung Toba, 75.000 tahun yang lalu yang membawa Planet Bumi ke zaman es. Bahasa primordal pun lahir di tanah Jawa dengan 5 huruf awal “Hana Swara” yang menjadi komposisi 320 – 90=230 atau Ain Sin Qaaf. Menurut kesepakatan umum para ilmuwan, secara historis, Bahasa Arab Hijaiah mempunyai akar pada bahasa-bahasa Kuno Mediterania yang terdiri dari 22 huruf. Pengembangan sistem huruf Hijaiah sebenarnya mewakili bagaimana manusia hari ini memahami semua fenomena Tuhan yang muncul baik berupa lisan, tulisan, maupun rumus-rumus fisika-matematika. Jadi, kalau kita mau lebih terbuka dengan meruntuhkan fanatisme dungu kita yang telah lama terbelenggu sektarianisme-rasialisme maka sebenarnya semua peradaban manusia itu bisa disebut Peradaban Islam. Namun Islam yang dimaksud adalah Islam yang lebih universal yang menyatakan lemahnya hakikat

makhluk sebagai Hamba Allah, sehingga tak perlu lagi labelisasi yang justru menjebak akal dan hati kita ke arah kesyirikan karena dengan labelisasi “Islam” maka sumber ilmu pengetahuan manusia mejadi “lebih dari satu” alias “kita sendiri telah secara tidak langsung mengakui ada tuhan yang lain selain Tuhan Yang Maha Esa”. Syiriklah kita kalau meyakini tuhan yang lebih dari satu, dan kita yang mengaku Islam pun terjerembab dalam jebakan Iblis, bukannya menjadi Islam menjadi lebih bertaqwa kitapun malah menjadi contoh-contoh yang ironis karena kesombongan dan amarah yang dibiarkan bersimaharajalela memutuskan keseimbangan akal pikiran dan hati kita yang mestinya bisa mulia (simak QS 91:7-10) sebagai wakil Kemuliaan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai Khalifah Allah yang sebenarnya, sebagai bukti sekaligus penyaksi tentang Jamal dan Jalal Allah yang harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari sebatas kemampuan yang ada padanya. Artinya, nggak perlu maksa jadi nabi, wali, ataupun orang suci, karena semua itu adalah hak dan wewenang Allah. Jadilah dirimu sendiri yang menjadi asma-asma-Nya Allah sesuai dengan ruang-waktu, potensi, dan kadar yang ada pada masing-masing individu dengan kesadaran hakiki yang sesuai dengan apa yang kita yakini dapat kita implementasikan dalam keseharian kita. Yang milih Agama Islam jadilah al-Mukmin sejati yang patuh dengan perintah dan larangan dengan contoh kemuliaan akhlak Rasulullah, yang beragama Kristen jadilah umat yang mencitrakan akhlak Nabi Isa a.s, demikian juga penganut agama lainnya.

Pesan-pesan Tuhan Yang Dinyatakan
Ketika simbol dasar dilogikakan untuk dipahami manusia maka Pengetahuan Tuhan diikat dengan pemahaman manusia dan dihimpun menjadi suatu konsep yang disebut hari ini sebagai Bilangan. Di zaman dulu teori bilangan yang disempurnakan oleh Phytagoras dan Euclids kemudian dirumuskan sebagai model untuk memahami fenomena dengan citarasa dan kaidah logis yang berkembang di kemudian hari sebagai aritmatika, geometri, dan matematika. Karena itu, matematika serta pernak perniknya sebenarnya sangat fundamental dalam pendidikan manusia supaya logikanya mengalir sesuai dengan apa yang dilihat dan tampil dirasakan (yaitu cahaya matahari dan ikatan medan gravitasi sebagai superunifikasi pesan Tuhan yang fundamental). Setelah bilangan, maka susunan simbolik logis itu kemudian dinyatakan dengan citarasa pemahaman dengan huruf sebagai cikal bakal Bahasa dan komunikasi masal. Dengan munculnya bahasa, kaidah logis kemudian dimaknai lebih mendalam dimana makna yang diartikulasikan dengan lidah dan huruf menjadi kata dan kalimat yang mencerminkan citarasa yang dinyatakan bagi kepentingan bersama yaitu suatu kaum dan akhirnya suatu bangsa. Penularan pun dilakukan dengan cara yang lebih mudah yaitu dengan pembelajaran dan pendidikan. Ketika suatu bangsa ternyata para generasinya JEBLOK DALAM BERBAHASA DAN MATEMATIKANYA maka itulah TANDA KETERPURUKAN BANGSA TERSEBUT DALAM LUMPUR AMARAH DAN KEBODOHAN SEBAGAI TANDA LEPASNYA PAKU TAUHID (lihat tulisan saya tentang Paku Tauhid Sunan Giri dan Rahasia Kuntilanak), SEBAGAI TANDA ADA PENGETAHUAN TUHAN YANG DISEMBUNYIKAN UNTUK KEPENTINGAN DAN KEUNTUNGAN SENDIRI, SEBAGAI TANDA TIDAK SEIMBANGNYA JIWA

DAN AKAL PIKIRAN KAUM TERSEBUT YANG HARUS SEGERA DIBENAHI JIKA TIDAK MAU MENJADI BULAN-BULANAN IBLIS DAN SETAN BAIK DARI GOLONGAN MANUSIA MAUPUN JIN. Penyakit yang muncul akhirnya adalah KESERBAINSTANAN DAN MELUPAKAN PROSES, TIDAK ISTIQOMAH, MEMENTINGKAN HASIL TAPI TAK TAHU BAGAIMANA HASIL ITU SEMESTINYA DIPEROLEH, DAN KKN PUN ADA DIMANA-MANA. Suatu kaum atau bangsa pun pada akhirnya menjadi ladang pembuangan ideologi, pembuangan produk-produk konsumer yang menghisap semua sumber dayanya, baik alam maupun manusianya seperti hisapan pasir hisap atau lumpur hidup yang menyedot semua yang berdiri diatasnya, terjebaklah kaum tersebut dalam penjara gelap GHAIRULLAH alias Penjara Selain Allah alias menjadi kaum summum bukmun umyun, alias menjadi Kaum Syirikus, kaum Munafikus , Kaum Zindikus, Kaum Fasikus , kaum Fanatikus Dungusus, kaum penuh Khayalus Angan-anganus (jangan protes, ini saya pakai istilah dari gaya bahasa yang dipakai di komik Asterix Prajurit Galia). Kajian numerik merupakan bagian dari sejarah manusia berpikir dan memaknai Tuhan yang muncul sebagai ilmu gematrik atau al-Jumal huruf hijaiah/alfabet dimana setiap nama-nama dapat dikonversikan dan dimaknai dengan simbol bilangan atau dapat dikonversikan langsung dan dikenal, dan demikian juga sebaliknya. Semua huruf-huruf yang dikenal di dunia sebenarnya berasal dari suatu simbologi numerik-logis dan merupakan pemaknaan simbolik tingkat kedelapan (dengan rujukan 1 atau ke-7 kalau dimulai dari 0) setelah coretan atau sekedar simbol, geometri, dan simbol bilangan. Translasi bilangan menjadi simbol huruf kemudian berkembang menjadi suatu ilmu yang menghubungkan suatu huruf dengan nilai awalnya yaitu nilai numerik dengan sebutan alJumal atau gematrik. Jadi, ilmu al-Jumal dan numerologi sebenarnya bukan ilmu para peramal tetapi ilmu yang menghubungkan makna numerik dengan makna huruf yang kelak menjadi dasar bagaimana suatu bahasa sebagai alat komunikasi manusia berkembang dengan logika yang sesuai dengan fenomena Kekuasaan Tuhan yang muncul pada berbagai peradaban di dunia ini. Secara sederhana relasi logis ketika Pesan Tuhan muncul adalah: 1. Tuhan 2. Kekuasaan Tuhan Waktu 3. Fenomena Makhluk Logaritmis-Bioritmis 4. Simbol O,6,N,Z,W, 5. Geometri titik, garis, bidang, bentuk, benda, makhluk 6. Bilangan 0,1,2,3 7. Huruf HanaSwara, Hanacaraka, Hieroglif, Abjad, alfabet, dll 8. Kata Ungkapan dengan makna tertentu menjadi nama-nama 9. Kalimat Firman-firman Tuhan, peribahasa, puisi, kisah-kisah, tulisan ilmiah, dll 10. Kitab Dzikrul Lil ‘Aalamin, pedoman atau wacana fundamental tentang segala sesuatu, pegangan etis dan moral bagi manusia 11. Buku/makalah/Paper/Tulisan Pengetahuan yang diikat oleh akal pikiran dan hati dengan bantuan sistem huruf

12. Tindakan Manusia Dengan Pedoman Yang Jelas dan Benar yang berkaitan dengan aspek lahir dan batin manusia Format Ubudiyyah dengan shalat 5 waktu sebagai cara menyeimbangkan akal pikiran dan hari 13. Akhlak dan Perilaku Tingkah laku dan Peradaban Manusia sebagai manifestasi Jamal dan Jalal Allah yang aktual 13 langkah diatas mencerminkan bagaimana manusia akhirnya harus menyadari keterbatasan akal pikiran maupun hatinya ketika menyadari Realitas makhluk dan Tuhan dalam posisi saling berhadapan. Itulah ungkapan ASLIM yang dinyatakan oleh Nabi Ibrahim dalam QS 2:131. 13 langkah itu juga menjadi cermin bagaimana manusia menyadari tatanan kehidupannya di dalam sistem tatasurya yang terdiri dari 13 benda langit yang berada dalam suatu tatanan maujud yang lebih besar yang masih mampu dicernanya lahir batin sebagai tatanan 17 alias Isra Mi’raj menyingkapkan Tatanan Pengetahuan Tuhan. 12 langkah pertama adalah FOUNDATION dari semua realitas Pesan-pesan Tuhan sebagai Pengetahuan Tuhan yang dihamparkan dengan ke-ikhlasan-Nya yang diformalkan menjadi QS 112 surat al-Ikhlas. Dalam surat tersebut, 2 ayat pertama menyatakan Ke-Esa-an Mutlak-Nya yang dipahami sebagai Ahadiyyah Dzat Allah yang meliputi segala sesuatu atau Shibghatalaahi. Sedangkan ayat ke-2 menyatakan Shamadiyyah Dzat Allah yang melekat hanya pada makhluk sesuai dengan kapasitas kemakhlukannya dan yang teringgi adalah makhluk yang dapat berpikir, menampung pengetahuan Tuhan, dan menyatakan-Nya sebagai penauhidan atas Tuhan Yang Maha Esa. Shamadiyyah Dzat Allah adalah : • • manifestasi Alif Laam Ra, sebagai ungkapan simbolik yang diuraikan dari pengertian bagaimana Allah, Rabbul ‘Aalamin memanifestasikan sifat-sifat-Nya kepada manusia dengan esensi sebagai Qalb al-Mukminun yang bersaksi. Qalb al-Muk’minun yang bersaksi bisa jadi taqwa atau tersesat jika akal pikiran dan hatinya tidak dibina dengan pedoman yang benar. Ketika ia bertaqwa maka ia menjadi al-Mukmin yang patuh kepada perintah dan larangan yang pasti-pasti bukan neko-neko dengan kadar minimal : laksanakan shalat 5 kali selama 2x12 jam dengan ketukan 17x2 sesuai dengan makna terselubung dari alam Ruh dimana Ruh manusia menjadi saksi primordial ke-Esa-an Tuhan sebelum dilahirkan ke dunia melalui asma al-Rahmaan al-Rahiim yang dimanifestasikan kepada Kaum Wanita, Adam Awlia atau Adimulya yang menjadi al-Insaan yang disebutkan-Nya sebagai Insaana Fii Ahsaani Taqwiim karena dihidupkan dalam Celupan Ilahiyyah dimana Matahari menyorotkan sinarnya dan sampai di Planet Bumi dalam waktu 8 menit dengan intensitas, panjang gelombang dan frekuensi yang bisa ditopang oleh struktur anatomis manusia yang tinggal di Planet Bumi dengan komposisi kromosom 2x23, khususnya oleh inderawi lahir dan yang batin. Siapapun yang akhirnya menolak realitas Ke-Esa-an Tuhan maka ia pun akan diancam dengan suatu ungkapan yang menunjukkan kebodohan akal pikiran dan butanya matahatinya karena mengira Tuhan beranak pinak.

10 langkah pertama (kalau kita hitung dari 1-10) menyatakan bagaimana Pertolongan Allah (simak QS 110) dinyatakan dan dimanfaatkan oleh manusia yang kemanusiaannya mulai muncul ketika ia SADAR (simak Qs 103) dan mampu memahami munculnya suatu FENOMENA yang ada di dalam SISTEM KEHIDUPANNYA. Ketika Fenomena itu dinyatakan sebagai KEKUASAAN TUHAN maka manusia yang SADAR mengartikulasikannya dengan nama-nama yang menjadi benang merah antara YANG LAHIR DAN DAPAT DIKENALI OLEH MANUSIA DAN YANG BATHIN YANG HANYA BISA DICITARASAKAN DENGAN KETUNDUKKAN DI HADAPAN TUHAN. Kalau kita hitung dari 0 maka akan muncul pengertian telah ditetapkannya suatu ketentuan dengan ukuran, qadar, potensi dan qada yang berjalan sesuai dengan berjalannya kesadaran manusia atas WAKTU sampai pada suatu batas yaitu bilangan 9 sebagai nilai numerik dan huruf Thaa sebagai huruf dan 9 huruf Rabbul ‘Aalamin sebagai nama-Nya.

Al-Shirathaal al-Mustaqiim
Hari ini kita pun mestinya menyadari realitas Tuhan dan hubungannya dengan bagaimana manusia memahami alam semesta sebagai suatu KONTINUUM KESADARANRUANG-WAKTU. Konsep materialistis menghilangkan aspek kesadaran manusia sehingga dalam sistem ilmu dengan basis filsafat materialisme alam semesta cuma sekedar KONTINUUM RUANG-WAKTU semata. Dari proses BERSERAH DIRI DENGAN TERTUNDUK DIHADAPAN TUHAN maka proses yang terjadi adalah proses berbalik arah atau at-Takwiir (QS 81) dari 9 ke 0 atau 90 sebagai nilai numerik huruf SHAAD yang menyatakan telah tetapnya ketentuan Tuhan bagi Umat Manusia untuk bisa mengenal-Nya, berjalan dengan tuntunan-Nya, dan akhirnya Sampai kepadaNya dengan selamat melalui suatu ungkapan metaforis yang disebutkan dalam Al Qur’an sebagai Shirathaal Mustaqiim. Huruf Shaad dalam kalimat Shirathaal ini mewakili arti dari huruf SHAAD sebagai suatu ketentuan Allah yang ditetapkan sebagai amanat bagi Umat Manusia. Sedangkan huruf Ra mewakili pengertian bahwa ketentuan itu ditetapkan dalam suatu sistem kehidupan dimana Matahari menjadi pusat tatasurya; Huruf Alif dan Thaa adalah batasan yang terukur tadi sebagai tahapan dari 0-9 untuk mengenali Penampilan Kekuasaan Tuhan yang memberikan Pertolongan Kepada Makhluk Ciptaan-Nya dengan Rahmat dan Kasih Sayang dan Peran-Nya sebagai Rabbul ‘Aalamin yang dilimpahkan sebagai MAGHFIRAH tanpa pandang bulu. Penyertaan huruf Alif sebagai huruf Pertama dalam huruf Thaa menunjukkan makna langsung bagaimana Realitas Yang Lahir Di Topang oleh Yang Bathin yang diwakilioleh huruf Alif dengan nilai numerik 1 namun tidak ditransfer ke alfabet karena Alif mengandung makna sebagai Yang Bathin yang Menopang Yang Lahir, Yang Ghaib yang menopang Yang Nyata, dan Yang Meliputi Segala Sesuatu (Qs 57:3). Huruf Alif merupakan salah satu ciri kesempurnaan huruf Hijaiah dibanding sistem huruf lainnya. Secara numerik akhirnya kata “Shirataa” tersusun dengan ungkapan lahir sebagai suatu jalan atau suatu tuntunan bagi manusia supaya manusia itu harus menyadari kefakiran

dirinya di hadapan Tuhannya Yang Maha Kuasa yang menghamparkan ampunan dan taubatnya dalam permadani maghfirah-Nya. Dengan nilai al-Jumal 90,200,1, dan 9 diperoleh bilangan baru yaitu 300 yang merupakan nilai huruf Syin dengan rahasia lahir sebagai bilangan 34 dimana nilai 4 muncul dari pengertian desimal dari 00 atau 100 sebagai bilangan 4 alias huruf Dal alias konstruksi segi empat alias kontsruksi fraktal 2 segi tiga sama kaki Phytagoras. Dari sini dipahami kenapa lafaz Shirataa kemudian disandingkan dengan huruf Alif dan Laam dengan nilai numerik 31. 31 adalah jumlah total dijit dari akar 2 (silahkan cek dengan kalkulator Anda jumlah dijit akar 2 setelah 1,…). Apa arti al-Shirathaal sesungguhnya adalah suatu ungkapan metaforis dari suatu gambaran yang terpahami manusia yang berkisah tentang SEJARAH atau “Square Root Of Two” dari Sejarah Tuhan dan manusia sebagai penampilan makhluk yang mampu menampung Pengetahuan Tuhan yang tanda-tanda atau Pesan-pesan-Nya sangat Nyata. Manusia dan makhluk ciptaan itulah yang kemudian dinyatakan sebagai Hamba Allah, ‘Abd Allah semata dengan tugas-tugasnya sebagai Hamba-Nya semata ketika kesadaran atas waktu muncul. Simbolisme numerik al-Shirathaal adalah 331 yang sejatinya merupakan penguraian dari simbol 8 sebagai nilai huruf “Ha”, 8 sebagai simbol cermin, 8 sebagai jarak tempuh paket kuanta sinar matahari sampai ke Planet Bumi, 8 sebagai desimal dari 1000, dan 8 dengan nilai 2 pangkat 3 sebagai simbolisme kromosom manusia yang belum terurai dan 1000 sebagai 10 pangkat 3 alias 103 alias An-Nash alias KESADARAN ATAS WAKTU bahwa SEMUA MAKHLUK KELAK AKAN BINASA DAN YANG KEKAL HANYALAH WAJAH TUHAN YANG MAHA ESA. Bilangan 1000 itulah yang kemudian menjadi pembuka kesadaran manusia bahwa al-Hayyu alQayyum Allah sebagai kehidupan itu seperti roda dengan bilah 1000 pedang yang setiap waktu bisa menebas-nebas batang lehernya – sebuah putaran COKROMANGGILINGAN. Untuk selamat sampai kepada Allah, baik ketika hidup maupun ketika Cokromanggilingan menebas nyawa manusia, maka jalan yang lurus itu dinyatakan sebagai suatu kepastian yang mengikat eksistensi kehidupan makhluk di alam kehidupannya yaitu Planet Bumi. Ikatan itulah yang kemudian dipahami oleh Newton sebagai Hukum Gravitasi Planet Bumi dengan nilai rata-rata sekitar 9,81 m/detik kuadrat (ada variasi lokal dengan nilai ini, yang paling ekstrim adalah Palung Jawa di Samudra Hindia dengan kedalaman sekitar 5 km di bawah laut dimana terdapat anomali gravitasi). Albert Einstein kemudian menyatakannya dengan pandangan relativistik sebagai medan gravitasi dimana ikatan-ikatan antara benda bermassa diwakili oleh suatu partikel kasat mata yang masih belum ditemukan yang disebutnya sebagai partikel graviton. Kendati demiian, jumlah akumulasinya mendekati perhitungan gravitasi Newton 9,81 m/detik kuadrat. Medan gravitasi bumi,baik antara bulan, matahari dan planet sekitarnya atau antara benda langit lainnya mempengaruhi pola pasang surut berbagai benda bermasa di bumi. Yang paling jelas tentunya dengan ukuran dan pasang surut air laut, termasuk disini besar kecilnya tinggi gelombang air laut ketika terjadi Tsunami.

Fenomena gravitasional ini dalam al-Qur’an dinyatakan sebagai al-Shirathaal alMustaqiim. Mustaqiim sebagai kata dasar terdiri atas 6 huruf sebagai simbolisme Sang Saktu yang berkaitan erat dengan makna-kesadaran atas waktu bagi manusia yang sadar akan keterbatasannya. Susunan kata “Mustaqiim” adalah huruf Mim(40), Sin(60), Ta(400), Qaaf(100), Ya(10), dan Mim(40) dengan jumlah total 650 alias 65X sebagai simbol yang mewakili arti bagaimana akurasi logis numerik yang diwakili dengan matriks papan catur 8x8 runtuh karena memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk memahami Pesan-pesan Tuhan secara logika semata. Perlu instrumen tambahan untuk memahami Pesan Tuhan dengan utuh, instrumen itulah yang disebut Kesadaran Manusia Atas Waktu yang tersembunyi dalam karakteristik ruhaniah manusia sebagai Hati yang Memaknai segala sesuatu dengan kesadaran sebagai Hamba Allah semata. Hati seorang Hamba Allah karena itu seringkali menjadi Singhasana Allah, tempat dimana semua realitas alam semesta terbenam kedalamnya. Ketika lafaz Al-Shirataa Mustaqiim disandingkan akan diperoleh kaidah logis-semantik dari hubungan antara bilangan sebagai model untuk memahami fenomena alam yang kemudian dinyatakan oleh Newton sebagai hukum gravitasi. Jumlahkan nilai numerik alShirathaal dan Mustaqiim diperoleh 331+650=981, nilai gravitasi yang harus dinyatakan sebagai nilai yang ditopang oleh Pengetahuan Tuhan atau Qaaf atau 100 alias segi empat dari segi tiga sama kaki yang berpasangan yang mengaktualkan akar 2 menjadi 2 yaitu 981/100=9,81 sebagai nilai medan gravitasi bumi yang dihitung oleh Newton dengan kaidah ilmiah yang lebih modern. Kalau kita sertakan lafaz Al dalam kata Mustaqiim maka akan diperoleh nilai 981+31=1012=Ghaibi=Ghain(1000), Ya(10), dan Ba (2) yang dinyatakan dalam surat at-Takwiir ayat ke-21 (QS 81:21). Kode 81:21 adalah pernyataan yang wujud hanya “Dengan Allah” atau “Bism” (Ba, Sin, Mim=102=81+21) semua makhluk pun dinyatakan menjadi HIDUP dalam CELUPAN SHIBGHATALAAHI atau Celupan Pengetahuan Tauhid (Qs 2:138). Lafaz “Ghaibi” adalah artikulasi lain dari HuwaxMuhammad atau 11x92=1012, sebagai pra-kondisi sebelum Pengalaman Individual Nabi Muhammad SAW disebarkan sebagai Rahmat bagi Semua Makhluk alias Rahmaatan Lil ‘Aalamin menjadi Agama Islam dengan al-Qur’an, As-Sunnah sebagai pedoman dan petunjuk supaya umat manusia selamat dan sentosa memasuki jalan yang lurus dan luas, jalan orang yang diberi nikmat yang banyak yaitu Muhammad SAW. Formalisasinya setelah pengalaman individual seorang manusia ditebarkan sebagai rahmat Tuhan bagi umat manusia adalah kalimat Syahadat Umat Islam dengan dasar kalimat yang tersusun dari 24 huruf yang sesuai dengan periodesasi siang dan malam di Planet Bumi : Laa ilaahaa illaaa Allaah, Muhammadurrasulullah Jadi, manusia sekedar ditakdirkan sebagai Hamba Allah untuk menyaksikan denyut 2 satuan dibawah naungan “laa ilaaha illaa Allaah,Muhammadurrasulullah” untuk menyaksikan dan menampilkan Jamal dan Jalal Allah semata. Tak lebih dari itu, maka jadilah Hamba Allah dimanapun kita berada yang menjadi khalifah Tuhan sehingga wajah-wajah Tuhan tampil dimana-mana, kita sebagai manusia yang “azalinya” beriman dengan menyaksikan ke-Esa-an Tuhan adalah cermin-cermin-Nya yang meneruskan

Cahaya-Nya dengan Kemahaindahan dan Kemahagungan-Nya, dengan berbagai warnawarni-Nya, baik sadar maupun manusia itu kita sebut tidak sadar dan terhijab oleh hawa nafsunya. Tidak mengherankan bukan, setelah perang Badar usai Rasulullah berkata “Jihad terbesar telah menanti yaitu memerangi hawa nafsu diri sendiri”. Can you still to say “you love Me”? Can you still to say “you love Me”? Can you still to say… “Did you love Me?” “Did you love Me?” “Did you love Me?” ... Suatu frase akhir dari lagu favorit semasa SMA yang dinyanyikan grup band Marillion, “Scripts For a Jester Tears”

Ditulis untuk mengenang Hadlatusy Syeikh KH Abdul Djalil Mustaqiim, Bapak Ruhani & Guru Mursyid Yang Menyempurnakan, wafat 7-1-2005 di Tulungagung atmnd@53-92,hari ke-6, 8-7-2006, jam 9:58 pagi

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful