1 |Menjawab Tantangan di Abad 21

IDENTITAS NAMA NAMA PANGGILAN AGAMA JENIS KELAMIN ALAMAT : ADIH SUYANTO : ADI : ISLAM : LAKI – LAKI : KP. NEGLASARI RT 05 RW 10 KELURAHAN MANGGAHANG, KECAMATAN BAELEENDAH, KABUPATEN BANDUNG 40375 EMAIL NOMOR HP STATUS PERGURUAN TINGGI FAKULTAS DEPARTEMEN ANGKATAN – NPM : kompifyon4mahawarman@yahoo.com : 081809757389 : MAHASISWA REGULER : UNIVERSITAS LANGLANGBUANA BANDUNG : ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK : ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL : 2010 - 41153020100018
Pas Foto berwarna uk. 3 x 4 cm
Untuk Formulir dalam bentuk softcopy file foto anda di copy -paste ke dalam box ini (perkecil resolusinya terlebih dahulu)

2 |Menjawab Tantangan di Abad 21

PENDAHULUAN Belakangan ini muncul berbagai fenomena dimasyarakat yang bisa mengindikasikan adanya permasalahan dan perseteruan banyak kalangan yang memberi kesan seakan – akan bangsa sedang mengalami krisis kehidupan kebangsaan yang menghasilkan berbagai macam polemik permasalahan – permasalahan sosial dimasyarakat. Kondisi seperti ini yang akan merusak mental para generasi muda saat ini dan sudah melunturkan serta mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di abad ke-21 kita dituntut agar menjadi bangsa yang penuh dengan perdamaian dan kesejahteraan baik secara fisik dan psikis. Serta terlindung dari berbagai ancaman dari luar. Banyak sekali ancaman yang terjadi di Indonesia ini, sejak sebelum kemerdekaan bahkan sampai dengan saat ini. Bukan hanya ancaman peperangan saja, tetapi ancaman budaya dan moral yang buruk yang menjadikan mental masyarakat kita lemah dan tidak berdaya dalam mengahadapi era globalisasi ini. Ketika masyarakat mendengar organisasi kepolisian, maka yang terbayang pertama kali dibenak masyarakat adalah polisi melakukan penegakan hukum, atau polisi tengah menjalankan aktivitas pengamanan Kepolisian. Pada saat ini menimbulkan berbagai macam pertentangan yang terjadi di masyarakat. Pro dan kontra saling bermunculan bahkan saling berperang. Disamping tugas kepolisian selaku organisasi yang berada dalam bidang pelayanan masyarakat, pencitraan kepolisian saat ini memang tidak bisa dipungkiri sangatlah dipandang tidak baik oleh masyarakat. Bukan semata – mata karena tugas kepolisian yang salah, akan tetapi ada orang – orang atau oknum kepolisian sendiri yang menjadi boemerang dalam organisasi kepolisian ini, yakni oknum yang tidak bertanggungjawab dan mempunyai kepentingan lain dalam organ inti yang akan membunuh pencitraannya sendiri. Hadirnya Kepolisisan Negara Republik Indonesia di tanah air ini diharapkan akan sedikitnya membawa angin segar dalam menjawab tantangan di abad ke – 21 ini yang memang permasalahan yang ada pada saat ini tidak bisa dipungkiri begitu kompleksnya dan sulit untuk semudah itu ditangani oleh aparatur kepolisian saja.
3 |Menjawab Tantangan di Abad 21

Dalam menjawab tantangan ini bukan hanya sebagai tugas aparatur militer saja tetapi harus adanya sinergitas yang kuat antara berbagai komponen yang ada, tetapi harus terjalin adanya kemitraan antara aparat kepolisian dan masyarakat dan seluruh komponen bangsa. Karena dibutuhkan sekali kerjasama yang kuat dalam mempertahankan NKRI. Dalam rangka menjawab tantangan di abad ke 21 ini peran dan fungsi kepolisian akan dipertaruhkan dalam menjaga dan melindungi keamanan dan pertahanan dalam Negeri. Disinilah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dijaga, karena tanpa menjaganya akan terjadi separatism yang menjadi penghalang terciptanya kehidupan bangsa yang damai dan sejahtera. Dalam hal menjaga keutuhan NKRI, Kepolisian perlu adanya kerjasama yang baik dan transparan antara aparatur Negara lainnya dan masyarakat agar tidak terjadi penyimpangan dan kesalah pahaman yang menjadikan ketidak harmonisan komponen bangsa yang akan menyebabkan berbagai konflik dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pelayanan masyarakat, Kepolisian juga dituntut agar terus menciptakan keamanan dan kenyamanan dalam Negeri, apalagi ditahun 2014 akan terjadinya tonggak sejarah yang baru lagi dalam sejarah penentuan para pemimpin Negara, yakni pemilihan legislative, kepala daerah dan Presiden Republik Indonesia tahun 2014. Dalam kondisi politik yang sedang panas – panasnya menuju Pemilu 2014. Menjadikan ketidak seimbangan antara aparat Kepolisian, Pemerintahan dan masyarakat. Karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai pilihan masing – masing dalam menentukan pemimpin Negaranya yang dianggap baik dan benar. Tidak cukup hanya disitu, dampak besar yang akan terjadi dalam Pemilu 2014 ini pasti sedikitnya akan menimbulkan suatu konflik yang besar yang akan timbul dari masyarakat sendiri, yakni ketidak sepahaman antara masyarakat mengenai pemimpin yang dipilihnya. Peran dan tugas Kepolisian saat ini bagaimana aparat Negara ini dapat menjaga, memberikan pelayanan berupa keamanan dan ketertiban dalam mensukseskan Pemilu 2014 serta meyakinkan bahwa Negara ini aman akan berbagai ancaman apapun.
4 |Menjawab Tantangan di Abad 21

PEMBAHASAN KONSEPTUAL KEAMANAN INDONESIA Dalam melacak konsepsi keamanan Nasional Indonesia, paling tidak dapat dilakukan dengan mengetahui doktrin dan perundang - undangan yang menjadi landasan. Doktrin utama dari keamanan Nasional adalah ketahanan. Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan Nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam dan membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan Nasional.

Doktrin ketahanan Nasional mencakup organisasi dan implementasi dari suatu keseimbangan antara keamanan dan kesejahteraan dalam kehidupan bangsa, yang secara holistik meliputi semua aspek yang berlandaskan filosofi bangsa, Ideologi Negara, Konstitusi dan Identitas Nasional. Doktrin ketahanan Nasional lebih memandang ke dalam, atau tertuju pada bangsa Indonesia sendiri. Tujuan utamanya adalah pencapaian identitas dan karakter Nasional melalui ketahanan pribadi. Hal ini tidak berarti bahwa bangsa Indonesia menerapkan Nasionalisme yang sempit atau mengisolasi diri dari pergaulan Internasional.

Menurut Undang - undang Kepolisian Negara, keamanan dan ketertiban masyarakat adalah suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan Nasional dalam rangka tercapainya tujuan Nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum, serta terbinanya ketenteraman, yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentukbentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat.
5 |Menjawab Tantangan di Abad 21

Undang-

Undang

No.

3

tahun

2002

tentang

Pertahanan

Negara

Pasal 1 ayat (1) Pertahanan Negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan Negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan Negara.

Menurut Undang - undang Pertahanan Negara, sistem pertahanan Negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga Negara, wilayah, dan sumber daya Nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan Negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.

KONSEPTUAL KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME (KKN) Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi unsur- unsur sebagai berikut:     perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana, memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara.

6 |Menjawab Tantangan di Abad 21

Kolusi

merupakan

sikap

dan

perbuatan

tidak

jujur dengan

membuat

kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar. Di Indonesia, kolusi paling sering terjadi dalam proyek pengadaan barang dan jasa tertentu (umumnya dilakukan pemerintah). Ciri-ciri kolusi jenis ini adalah:  Pemberian uang pelicin dari perusahaan tertentu kepada oknum pejabat atau pegawai pemerintahan agar perusahaan dapat memenangkan tender pengadaan barang dan jasa tertentu. Biasanya, imbalannya adalah perusahaan tersebut kembali ditunjuk untuk proyek berikutnya.  Penggunaan broker (perantara) dalam pengadaan barang dan jasa tertentu. Padahal, seharusnya dapat dilaksanakan melalui mekanisme G 2 G (pemerintah ke pemerintah) atau G 2 P (pemerintah ke produsen), atau dengan kata lain secara langsung. Broker di sini biasanya adalah orang yang memiliki jabatan atau kerabatnya. Jadi secara garis besar, Kolusi adalah pemufakatan secara bersama untuk melawan hukum antar penyelenggara Negara atau antara penyelenggara dengan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan Negara.

Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Kata ini biasanya digunakan dalam konteks derogatori. Di Indonesia, tuduhan adanya nepotisme bersama dengan korupsi dan kolusi (ketiganya disingkat menjadi KKN) dalam pemerintahan Orde Baru, dijadikan sebagai salah satu pemicu gerakan reformasi yang mengakhiri kekuasaan presiden Soeharto pada tahun 1998.

7 |Menjawab Tantangan di Abad 21

TUGAS KEPOLISIAN INDONESIA Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia pertama – tama dirumuskan dalam Undang – undang No. 13 Tahun 1961 yang disebut : Undang – undang pokok Kepolisian secara umum dalam pasal 1 dan penjabarannya dalam pasal 2. Sejak keluar Undang – undang No. 20 Tahun 1982, ialah Undang – undang Pertahanan Negara, tugas kepolisian Negara dirumuskan dalam pasal 30 ayat (4),yang berbunyi:

Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas : a. Selaku alat Negara penegak hukum memelihara serta meningkatkan tertib hukum dan bersama – sama dengan segenap kekuatan pertahanan keamanan Negara lainnya, membina ketentraman masyarakat dalam wilayah Negara, guna mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat; b. Melaksanakan tugas Kepolisian selaku pengayom dalam memberikan

perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat bagi tegaknya ketentuan peraturan perundang – undangan; c. Membimbing masyarakat bagi tercapainya kondisi yang menunjang

terselenggaranya usaha dan kegiatan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b ayat (4) pasal ini. Formulasi ini juga terdapat juga dalam pasal 13 Undang – Undang Kepolisian, UU Nomor 28 tahun 1997. Maka ada bebrapa kata – kata dalam pasal tersebut yang perlu dijelaskan, yakni : 1. Ketentraman Masyarakat “Tentram” menurut kamus besar bahasa indonesia keluaran bali pustaka, cetakan ke – 4 tahun 1995 bearti : 1. Aman, damai dan 2. Tenang; Ketentraan diartikan : 1. Keadaan tentram;keamanan 2.ketenagan (hati: pikiran). Dari pengertian ini maka ketentraman masyarakat dapat diartikan sebagai ketenangan hati masyarakat. Dalam Undang – undang, disebutkan bahwa Polri bertugas “…. Membina ketentraman masyarakat guna mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat”. Dari kalimat ini dapat disimpulkan bahwa ketentraman merupakan kondisi bagi terwujudnya keamanan dan ketertiban.
|Menjawab Tantangan di Abad 21 8

Mengapa dalam rumusan tersebut tidak dibalik, menjadi : usaha mewujudkan keamanan dan ketertiban guna terciptanya ketentraman masyarakat, barangkali karena penegakan keamanan dan ketertiban berasosiasi dalam pikiran dengan tindakan – tindakan keras, sedangkan ketentraman masyarakat dapat diperoleh juga dengan tindakan – tindakan lunak, seperti : pembimbingan, pengarahan dan penerangan dsb.

2. Keamanan Masyarakat Di Indonesia arti keamanan masyarakat diformulasikan dalam Surat Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata

(Menhankam/pangab) tanggal 29 Januari 1972 No.SKEP/B/66/I/1972 Tentang “Pengesahan Doktrin Operasi Kamtibmas”, sebagai berkut : Pengertian tentang Keamanan Masyarakat : Keamanan dalam rangka KAMTIBMAS adalah suasana yang menciptakan pada individu manusia dan masyarakat perasaan – perasaan sebagai berikut : a. Perasaan bebas dari gangguan baik fisik maupun psikis; b. Adanya rasa kepastian dan rasa bebas dari kekhawatiran, keragu – raguan dan ketakutan; c. Perasaan dilindungi dari segala macam bahaya; d. Perasaan kedamaian dan ketentraman lahiriah dan batiniah.

3. Ketertiban Masyarakat Rumusan tentang ketertiban masyarakat terdapat dalam surat Keputusan Menhankam/Pangab berbunyi : “ketertiban masyarakat adalah suasana tertib dan ketertiban yang merupakan suatu keadaan yang menimbulkan kegairahan dan kesibukan bekerja dalam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat seluruhnya. Tertib adalah keteraturan yaitu dimana segala sesuatu berjalan secara teratur. Ketertiban adalah keadaan yang sesuai dengan dan norma – norma serta hukum yang berlaku”. Ketertiban mempunyai dua bentuk, yakni ketertiban formal dan ketertiban materiil.
9 |Menjawab Tantangan di Abad 21

Ketertiban formal adalah ketertiban yang sudah diformalkan dalam bentuk peraturan hukum. Pembentukan ini disebabkan karena jenis ketertiban tertentu, seperti ketertiban lalu lintas di jalan, ketertiban pemakaian seragam, ketertiban dalam berkumpul dll. Begitu sering dilanggar sehingga masyarakat dan penguasa menganggap perlu untuk menjadikannya suatu ketentuan hukum agar dengan demikian rakyat tahu apa yang tidak boleh dilanggar dan agar aparat ketertiban tahu bilamana dan bagaimana harus bertindak, tanpa harus berfikir apakah harus bertindak atau tidak.

Ketertiban materiil dalam menghadapi pelanggaran ketertiban masyarakat yang merupakan pelanggaran norma non – hukum namun vital bagi pertumbuhan masyarakat, maka aparat penertib dalam hal ini Kepolisian harus bertindak jangan sampai orang main hakim sendiri. Orang cenderung main hakim sendiri bila dihinggapi emosi yang tidak bisa dikendalikan dan tindakan emosionalnya cenderung berlebihan. Tidak sesuai dengan berat ringanya pelanggaran.

KONSEPSI

SINERGITAS

KEMITRAAN

DAN

ANTI

KKN,

MEWUJUDKAN

PELAYANAN PRIMA, PENEGAKAN HUKUM DAN KAMDAGRI YANG MANTAP SUKSESKAN PEMILU 2014 1. Terwujudnya pelayanan Kamtibmas yang prima, adalah keadaan dalam masyarakat yang tumbuh rasa bebas dari gangguan dan ketakutan; 2. Tegaknya hukum, adalah suatu keadaan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang teratur, tertib, dan adil; 3. Keamanan dalam Negeri, adalah suatu keadaan di wilayah hukum NKRI yang bebas dari konflik sosial baik vertical maupun horizontal dan bebas; 4. Sinergitas dan kemitraan, adalah kebersamaan antar unsur dan komponen Negara dan masyarakat dalam mengambil langkah mengatasi potensi gangguan keamanan.

10 |Menjawab Tantangan di Abad 21

Perlu adanya semangat untuk melakukan sinergitas dan kemitraan Polri guna menjawab perkembangan lingkungan strategis dan kompleksitas tantangan tugas Kepolisian saat ini. Adapun tantangan yang dihadapi Polri adalah sikap yang saling melayani, proaktif, transaparan, dan akuntabel. Dimana tantangan tersebut dapat mendorong terwujudnya pelayanan prima yang pada gilirannya disatu sisi dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Polri yang melayani, adalah memberikan pelayanan kepolisian yang lebih cepat, lebih mudah, lebih baik dan lebih nyaman dengan memenuhi standar mutu pelayanan dan tingkat kepuasan masyarakat;

Polri yang proaktif, adalah mengetahui secara dini kondisi apabila yang tidak segera mendapatkan respon berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban, serta menjalin kerjasama yang sintetis dengan pemangku kepentingan untuk mengatasi dengan solusi yang cepat. Diharapkan Polri dapat meningkatkan kepekaan, reponsif, inisiatif, dan tegas mengatasi pelanggar hukum terhadap masyarakat atapun personel Kepolisian;

Polri yang transparan, adalah memberikan informasi yang diperlukan masyarakat secara proporsional dengan membuka akses informasi kepada pemangku kepentingan dan bersikap terbuka. Bersedia menerima komplain dan dapat memberikan respon yang baik dan bersikap terbuka. Bersedia menerima komplain dan dapat memberikan respon yang baik secara eksternal maupun internal Polri;

Polri yang akuntabel, adalah pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dengan selalu mengikuti kaidah hukum dan prosedur baku, serta bertindak sesuai norma dan etika. Polri melakukan penanganan perkara secara tegas dan tuntas, tidak diskriminatif, memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum.
11 |Menjawab Tantangan di Abad 21

Dalam peran serta aparat Kepolisian dalam rangka mensukseskan pemilu 2014 diharapkan Polri dapat memberikan pelayanan prima bagi masyarakat maupun pemerintah terhadap penegakan hukum yang sesuai dengan kaidanya, memberikan keamanan dalam Negeri, serta membangun relasi yang baik dengan masyarakat. Sehingga menciptakan citra kepolisian yang anti KKN. Dalam upaya mensukseskan pesta politik yang akan berlangsung di tahun mendatang. Maka dari itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Kepala Divisi Hukum Mabes Polri Irjen Pol Anton Setiadi, menetapkan 8 Komitmen sukseskan Pemilu 2014 guna mengantisipasi ancaman Kamtibmas Nasional. Antara lain :

1. Bertekad mencegah dan menuntaskan konflik melalui program pemolisian masyarakat / Polmas; 2. Polri harus netral dan independen; 3. Mampu mengakomodasikan komplain masyarakat; 4. Menampilkan teladan kepemimpinan sekaligus anti KKN dan kekerasan; 5. Utamakan peran, tugas, dan kewajiban; 6. Menolak perintah atasan yang melanggar hukum; 7. Wujudkan kredibilitas, reputasi, dan soliditas kesatuan dengan kedepankan hukum sesuai fakta; 8. Berdasarkan pengawas eksternal independen dan transparansi.

Banyak yang menyangsikan, di arena kompetisi pemilu yang diduga bakal keras. Maka dari itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia siap menggerakan jaringan strukturnya yang terbentang sampai pelosok pelosok tanah air untuk mensukseskan pemilu 2014. Bagaimana secara bersama – sama menyadarkan masyarakat untuk memilih wakil – wakil rakyatnya di DPR, karena yang akan dipilih adalah wakil – wakil rakyat, para pemimpin, maka peran aktif masyarakat sangatlah penting dalam Pemilu 2014. Akan tetapi tetap menajaga nilai – nilai norma – norma yang berlaku guna untuk terciptanya keamanan dan ketertiban dalam pemilu 2014. Tidak dengan massiv dan anarki.
12 |Menjawab Tantangan di Abad 21

PENUTUP Memang masih banyak pekerjaan rumah kita yang kita miliki, begitu banyak tantangan di era globalisasi dan revolusi ini yang berimplikasi pada aspek pertahanan dan keamanan Negara. Karena itu tepat rasanya bila kepolisian bersama generasi muda dan seluruh komponen bangsa menyatukan visi dan mewujudkan melalui aksi nyata. Peran proaktif masyarakat pun sangatlah penting dalam ikut bekerjasama dengan aparatur Negara agar pemilu 2014 yang akan mendatang dilakukan secara serius tanpa adanya kekerasan. Karena ini akan menentukan masa depan bangsa. Bukan sekedar janji, tapi bukti yang diperlukan semata – mata untuk menjaga keamanan dan ketertiban khususnya dalam upaya membangun sinergitas dan kemitraan antar komponen bangsa yang anti Korupsi, Kolusi & Nepotisme (KKN). Menegakan hukum secara adil dan jujur sesuai kaidah hukum serta menjaga keamanan dalam Negeri untuk mensukseskan pesta politik di abad 21. Bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa menjemput masa depan dan mampu mengubah segala tantangan menjadi peluang. Untuk melakukan itu, Polri tidak bisa berdiri sendiri untuk melakukan perannya. Hanya dengan kolaborasi dan dukungan seluruh komponen bangsa, kita dapat mewujudkan Indonesia yang aman, maju, dan sejahtera. Karena kita semua saling membutuhkan dan saling melengkapi. “ KETIDAKPASTIAN DAN KOMPLEKSITAS PERMASALAHAN DI ABAD 21 INI,
MENUNTUT KITA CEPAT BERADAPTASI DAN MAJU KE DEPAN;

INSYA ALLAH INDONESIA AKAN MENJADI BANGSA PEMENANG,
KETIKA KITA CERDAS DAN CERMAT UNTUK

MENGUBAH SEGALA TANTANGAN MENJADI PELUANG

AGUS HARIMURTI YUDHOYONO

13 |Menjawab Tantangan di Abad 21

DAFTAR PUSTAKA Brorodiredjo, Soebroto. 2011. Pengantar Hukum Kepolisian Umum di Indonesia. Bandung : Yuseha Adlow, Elijah, 1947 ” Police and People “ disadur oleh Drs.Chaerudin Ismail dengan judul “ Polisi dan Masyarakat” 1996. Undang – undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Undang – undang Kepolisian Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1997.

________, 14 Oktober 2010. Pidato Uji Kepatutan dan Kelayakan Calon Kapolri Komjen Pol Drs. Timur Pradopo dihadapan Komisi III DPR RI, Jakarta.

http://polmas.wordpress.com http://wikipedia.com www.lensaindonesia.com.

14 |Menjawab Tantangan di Abad 21