BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keluarga berencana merupakan salah satu usaha utnuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan dan penjarangan kehamilan. Dalam program KB Nasional saat ini baru dilakukan salah satu saja dari usaha keluarga berencana, yakni penjarangan kehamilan dengan pemberian alat kontrasepsi. Kontrasepsi adalah menghindari / mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Di Indonesia sejak zaman dahulu telah dipakai obat dan jamu yang maksdunya utnuk mencegah kehamilan. di irian jaya telah lama dikenal ramuan dari daun-daunan yang khasiatnya dapat mencegah kehamilan. dalam masyarakat Hindu Bali sejak dulu hanya ada nama untuk empat orang anak, mungkin satu cara untuk menganjurkan supaya pasangan suami istri mengatur kelahiran anaknya sampai empat. Indonesia menghadapi masalah dengan jumlah dan kualitas sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas sumber daya manusia dengan kelahiran 5.000.000 per tahun. Untuk dapat mengangkat derajat kehidupan bangsa telah dilaksanakan secara bersamaan pembangunan ekonomi dan keluarga berencana yang merupakan sisi masing-masing mata uang. Bila gerakan keluarga berencana tidak dilakuakn bersamaan dengan pembangunan ekonomi, dikhawatirkan hasil pembangunan tidak akan berarti. Pendapatan Malthus yang mengemukakan bahwa pertumbuhan dan kemampuan mengmbangakan sumber daya alam laksana deret hitung, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan manusia laksana deret ukur, sehingga pada satu titik sumber daya alam tidak mampu menampung pertumbuhan manusia telah menjadi kenyataan. Berdasarkan pendapatan demikian diharapkan setiap keluarga, memperlihatkan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan. Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS) yang berorentasi pada “catur warga” atau zero population growth (pertumbuhan seimbang). Gerakan 1

keluarga berencana nasional Indonesia berumur panjang (sejak 1970) dan masyarakat dunia menganggap Indonesia berhasil menurunkan angka kelahiran dengan bermakna. Masyarakat dapat menerima hampir semua metode medis teknis keluarga berencana yang direncanakan oleh pemerintah dengan meluncurkan gagasan baru, yaitu : 1. Keluarga berencana mandiri : artinya masyarakat memilih metode KB dengan biaya sendiri melalui KB lingkar biru dan KB lingkar emas. 2. Mengarahkan pada pelayanan metode kontrasepsi efektof (MKE) : AKDR, suntikan KB, susuk KB, dan kontap.

1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum Penulis dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah dalam memberikan asuhan kebidanan secara nyata serta mendapatkan pengetahuan dalam memecahkan masalah khususnya pada Ny.”W” 49 Tahun P3003 Ab100 Akseptor Suntik 3 Bulan di Poli OBG RSU dr. Saiful Anwar Malang 1.2.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus yang akan dicapai adalah mampu melakukan : 1. Pengkajian dan menganalisa data pada klien dengan

kontrasepsi hormonal (suntik) depoprogesteron. 2. Merumuskan diagnosa kebidanan dan menentukan prioritas masalah pada klien. 3. Menyusun rencana kebidanan. 4. Melaksanakan tindakan kebidanan. 5. Evaluasi asuhan kebidanan.

1.3 Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam proses penyusunan laporan ini adalah : 1. Metode pendekatan deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa dan gejala yang terjadi.

2

2. Teknik pengumpulan data dan pengidentifikasian data melalui observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, studi dokumen dan studi kepustkaan. 3. Sumber data primer dari klien dan data sekunder dari keluarga dan petugas kesehatan.

1.4 Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN Meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, lokasi dan waktu, serta sistematika penulisan. BAB II : LANDASAN TEORI Meliputi konsep dasar dan asuhan kebidanan kontrasepsi hormonal (suntik) depogeston BAB III : TINJAUAN KASUS Meliputi pengkajian data, diagnosa/ masalah, diagnosa potensial, tindakan segera, rencana tindakan dan rasional, pelaksanaan rencana tindakan dan evaluasi. BAB IV : PEMBAHASAN Membahas ada tidaknya kesenjangan antara teori dan prakteknya BAB V : PENUTUP Meliputi kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA

3

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1

Konsep Suntikan Kombinasi 2.1.1 Pengertian Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat yang diberikan injeksi IM (Intra Muskuler) tiga bulan sekali. cyclofem dan 50 mg Noretindon enantat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali. 2.1.2 Cara Kerja 1. 2. Menekan ovulasi Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu. 3. 4. Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu. Menghambat transportasi gamet oleh tuba.

2.1.3 Efektifitas Sangat efektif (0,1 – 0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan. 2.1.4 Keuntungan Kontrasepsi Dan Non Kontrasepsi 1. Keuntungan Kontrasepsi - Resiko terhadap kesehatan kecil - Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri. - Tidak diperlukan pemeriksaan dalam. - Efek samping sangat kecil. - Jangka panjang. - Klien tidak perlu menyimpan obat suntik 2. Keuntungan non Kontrasepsi - Mengurangi jumlah pendarahan. - Mengurangi nyeri saat haid - Mencegah anemia - Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium. - Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium. - Mencegah kehamilan ektopik. 4

- Melindungi panggul.

klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang

- Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan usia perimenopouse 2.1.5 Kerugian - Terjadi perubahan pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak/ spotting, atau perdarahan sela sampai sepuluh hari. - Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga. - Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan. - Efektifitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obatobatan epilepsi ( fenitoin dan barbiturat) atau obat tubercolosis ( rifampisin). - Dapat terjadi perubahan berat badan. - Dapat terjadi efek samping yang serius seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru atau otak, dan kemungkinannya timbulnya tumor hati. - Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV. - Kemungkinannya terlambat pemulihan kesuburan setelah

penghentian pemakaian. 2.1.6 Indikasi Dan Kontraindikasi 1. Indikasi Pemakaian Suntikan Kombinasi - Usia Reproduksi. - Telah memiliki anak, ataupun yang belum memiliki anak. - Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitas yang tinggi. - Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan. - Pasca persalinan dan tidak menyusui. - Anemia. - Nyeri Haid hebat - Haid teratur - Riwayat kehamilan ektopik - Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi. 2. Kontraindikasi Pemakaian Suntikan Kombinasi 5

- Hamil atau diduga hamil. - Menyusui di bawah 6 minggu pasca persalinan. - Perdarahan pervaginaan yang belum jelas penyebabnya. - Penyakit hati akut ( Virus Hepatitis) - Usia > 35 tahun yang merokok. - Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan hipertensi (>180/110 mmHg) - Riwayat kelainan tromboemboli atau dengan kencing manis > 20 tahun - Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala /migraine. - Keganasan payudara. 2.1.7 Waktu Mulai Menggunakan Suntikan Kombinasi 1. Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid. Tidak 2. diperlukan kontrasepsi tambahan.

Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke-7 siklus haid, klien tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari.

3.

Bila klien tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal saja dapat dipastikan ibu tersebut tidak hamil.

4.

Bila klien pasca persalinan 6 bulan, menyusui, serta belum haid, suntikan pertama dapat diberikan, asal dipastikan tidak hamil.

5.

bila pasca persalinan >6 bulan, menyusui, serta telah mendapat haid, maka suntikan pertama diberikan pada siklus haid hari 1 dan 7.

6.

Bila pasca persalinan <6 bulan, menyusui, jangan diberi suntikan kombinasi.

7.

Bila pasca persalinan 3 minggu, dan tidak menyusui, suntikan kombinasi dapat diberi.

8.

Pasca keguguran, suntikan kombinasi dapat diberikan dalam waktu 7 hari.

9.

Ibu yang sedang menggunakan metode kontrasepsi, hormonal yang lain dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal.

10. Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal, dan ibu ingin menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan 6

kombinasi tersebut dapat diberikan sesuai jadwal kontrasepsi sebelumnya. 11. Ibu yang menggunakan metode kontrasepsi non hormonal dan ingin menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan pertama dapat segera diberikan asal diyakini ibu tersebut tidak hamil. Cara Penggunaan Suntikan kombinasi dapat diberikan setiap tiga bulan sekali dengan suntikan intramuskuler dalam klien diminta datang setiap 12 minggu. Suntikan dapat diberikan 7 hari lebih awal dengan kemungkinan terjadi gangguan perdarahan. 2.1.8 Tanda Tanda Yang Harus Diwaspadai Pada Penggunaan Suntikan Kombinasi 1. Nyeri dada yang hebat atau nafas pendek. Kemungkinan adanya bekuan darah di paru atau serangan jantung. 2. Sakit kepala hebat, atau gangguan penglihatan. Kemungkinan terjadi stroke, hipertensi atau migrain. 3. Nyeri tungkai hebat. Kemungkinan telah terjadi pembuluh darah pada tungkai. 4. Tidak terjadi perdarahan atau spotting selama 7 hari sebelum suntikan berikutnya, kemungkinan terjadi kehamilan. 2.1.9 Keadaan Yang Memerlukan Perhatian Khusus 1. 2. 3. 4. 5. Hipertensi Kencing Manis Migrain Menggunakan obat tuberkolosis / obat epilepsy. Mempunyai penyakit anemia bulan sabit (Sickle cell) Dengan pedoman tersebut peserta KB dapat memperhitungkan kedatangannya dengan tenggang waktu yang cukup jelas. Suntikan KB Depogeston merupakan suntikan KB masa depan, karena mempunyai keuntungan : 1. 2. 3. Diberikan setiap tiga bulan sekali Peserta suntikan depogeston mendapat menstruasi Pemberian aman, efektif dan relative mudah. sumbatan

7

2.2 Konsep Manajemen Kebidanan Varney I. Pengkajian A. Data Subyektif 1. Biodata - Nama ibu/suami : Untuk mengetahui identitas,

mengenal/memanggil penderita agar tidak keliru dengan penderita- penderita lain serta untuk menjaga keakraban. - Umur : Untuk mengetahui keadaan ibu apakah termasuk primi biasa atau primi para tua, deteksi resiko kehamilan. - Agama : Untuk terhadap mengetahui agama kepercayaan dianutnya klien dan

yang

mengenali hal-hal yang berkaitan dengan masalah asuhan yang diberikan. - Suku bangsa : Untuk mengetahui dari suku mana ibu berasal dan menentukan cara pendekatan serta pemberian asuhan. - Pekerjaan : Untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan social ekonomi klien dan apakah pekerjaan ibu/suami dapat mempengaruhi kesehatan klien atau tidak. - Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan sebagai dasar dalam memberikan asuhan. - Penghasilan : Untuk mengetahui status ekonomi

penderita dan mengetahui pola kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan klien. - Alamat : Untuk mengetahui tempat tinggal klien dan menilai apakah lingkungan cukup aman bagi kesehatannya.

2.

Alasan datang : mengetahui alasan klien mengapa datang dan mengetahui bagaimana kondisi saat klien pertama datang.

3.

Keluhan Utama : mengetahui apa yang ibu rasakan saat itu. 8

4.

Riwayat kesehatan yang lalu : untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita ibu sebelumnya apakah merupakan kontraindikasi kontrasepsi suntik atau tidak.

5.

Riwayat Kesehatan Sekarang : untuk mengetahui penyakit apa yang sedang di derta ibu saat ini apakah merupakan kontraindikasi kontrsepsi suntik atau tidak.

6.

Riwayat kesehatan keluarga : untuk mengetahui apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit menular atau tidak, adakah penyakit keturunan yang dapat mempengaruhi efektifitas

kontrasepsi. 7. Riwayat Menstruasi : untuk mengetahui apakah haidnya berjalan normal atau tidak, dan mengetahui keadaan alat kelamin dalam apakah normal atau tidak. 8. Riwayat pernikahan : untuk mengetahui keadaan kelamin dalam ibu dan mengetahui berapa lama ibu menikah. 9. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu : untuk mengetahui apakah kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu berjalan normal atau adakah komplikasi selama kehamilan, persalinan dan nifas. 10. Riwayat KB : untuk mengetahui adanya keluhan selama ibu menjadi akseptor KB dan berapa lama ibu menjadi akseptor Kb. 11. Pola kebiasaan di rumah : untuk mengetahui bagaimana kebiasaan ibu di rumah yang dapat mempengaruhi efektifitas dari kontrasepsi.

B. Data Obyektif 1. Pemeriksaan Umum Untuk mengetahui keadaan ibu secara keseluruhan. 2. a. Pemeriksaan Fisik Inspeksi Rambut : untuk mengetahui apakah rambut ibu

tampak bersih atau kotor, ada kutu atau tidak. Kepala : Untuk mengetahui kebersihan, bentuk,

adakah benjolan yang abnormal atau tidak.

9

-

Mata

:

Untuk mengetahui apakah konjungtiva

anemis, ikterus pada seclera. Telinga : Untuk mengetahui kebersihan atau ada

pengeluaran secret dan bentuk kesimetrisannya. Mulut : Untuk mengetahui apakah mukosa bibir

kering dan adakah stromatitis. Leher : Untuk mengetahui apakah ada

pembesaran kelenjar cyroid dan vena jugularis. Perut : Untuk mengetahui apakah ada

pembesaran abnormal. Ekstermitas : Untuk mengetahui apakah ada kelainan

atau tidak (polidaktil atau sindaktil), adanya oedema, adakah varices. Integumen : Untuk mengetahui kebersihan.

II. Identifikasi Diagnosa atau Masalah Diagnosa : Ny.”N” P1001 Ab 000 6 bulan akseptor KB Suntik Depoprogestin 3 bulanan, diperoleh dengan didasarkan pada: 1. 2. Data subyektif Ny.”N” Alasan datang ke bidan

III. Identifikasi Masalah Potensial Masalah potensial yang mungkin terjadi pada kontrasepsi KB Suntik yaitu efek samping yang ditimbulkan dan keluhan dari pasien.

IV. Identifikasi Kebutuhan Segera Menentukan tindakan yang akan segera dilakukan berdasarkan pada masalah potensial yang terjadi (kolaborasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lainnya).

V. Intervensi 1. Nilai kembali status kesehatan klien R/ Status kesehatan sangat menentukan ketepatan akan tindakan yang dilakukan. 10

2.

Kaji keluhan – keluhan subyektif ibu. R/ Keluhan yang diungkapkan dapat menjadi parameter untuk menetukan apakah tindakan boleh dilakukan atau tidak.

3.

Bina hubungan baik dengan ibu. R/ Persiapan yang baik akan mendukung keberhasilan tindakan yang akan dilakukan.

4.

Siapkan spuit 3 cc, vial Depoprogestin dan kocok sehingga endapan bercampur. R/ Menempatkan kadar homogen sehingga kadar maksimal.

5.

Siapkan ruangan tertutup dan klien. R/ Ruangan yang aman dan nyaman akan mempermudah prosedur kerja dan privasi klien dapat terjaga.

6.

Lakukan penyuntikkan secara IM sesuai prosedur. R/ Tindakan sesuai prosedur akan menekan/mengurangi terjadinya komplikasi.

7.

Buang alat – alat dan sampah ke tempat yang disediakan R/ Menjaga kebersihan dan kerapian.

8.

Beritahu klien untuk segera datang ke tenaga kesehatan apabila dirasakan ada keluhan. R/ Penanganan yang cepat dan tepat akan menghindari timbulnya komplikasi yang berlanjut.

9.

Beritahu klien tanggal kembali untuk suntik ulang dan catat di kartu KB klien. R/ Informasi yang tepat dapat menghindari kesalahan atau kelainan yang mungkin terjadi.

10. Ingatkan klien agar kembali tepat waktu untuk suntik ulang. R/ Untuk menghindari kegagalan kontrasepsi. 11. Berikan kartu akseptor KB dan minta klien untuk membawanya lagi saat suntik ulang. R/ Sebagai tanda bukti dan acuan dalam memberikan petunjuk penyuntikan berikutnya

11

VII. Implementasi Pada langkah ini bidan memberikan intervensi langsung baik mandiri maupun kolaborasi : 1. Melihat kartu KB ibu untuk mengetahui jenis KB suntik apa yang dipakai, dan tanggal, waktu untuk kembali suntik. Kaji BB dan TD ibu. 2. Menanyakan pada ibu apakah selama menggunakan KB suntik, ibu merasa ada keluhan atau tidak. 3. Sapa ibu dengan ramah dan beritahu ibu keadaannya cukup baik untuk dilakukan suntik KB ulangan. 4. Kocok vial Depoprogestin, disinfeksi tutup vial dengan kapas alkohol, masukkan larutan Depoprogestin dalam spuit 3 cc, pastikan tidak ada gelembung udara dalam tabung spuit. 5. Beritahu ibu untuk berbaring telungkup pada tempat tidur periksa, tutup tirai supaya ibu merassa nyaman dan terlindungi privasinya. 6. Mendisinfeksi daerah pantat klien ( 1/3 sias ) dengan kapas alkohol. Suntikkan secara IM dengan sudut 90 0, lakukan aspirasi, semprotkan atau suntikkan DMPA secara perlahan – lahan, fiksasi dengan kapas alkohol kemudian keluarkan jarumnya. 7. 8. Membuang alat – alat ke tempat yang telah disediakan. Setelah selesai beritahu ibu untuk segera kembali bila ibu merasakan keluhan seperti pusing atau lainnya ke tenaga kesehatan. 9. Mencek kembali kartu KB ibu, pastikan tanggal ibu kembali untuk suntik ulang. 10. Mengingatkan ibu untuk kembali pada tanggal yang telah ditetapkan untuk suntik ulang dan anjurkan ibu agar tidak terlambat untuk suntik. 11. Memberi kembali kartu KB pada ibu dan ingatkan ibu untuk membawa kembali kartunya bila waktu suntik tiba.

VII. Evaluasi Pada langkah ini bidan menilai kembali dari seluruh asuhan yang telah diberikan : 1. Ibu mengatakan telah disuntik KB 3 bulanan dan mengatakan telah mengetahui tanggal kembali untuk suntik ulang berikutnya.

12

BAB III TINJAUAN KASUS

I.

PENGKAJIAN DATA Tanggal Pengkajian : 01 April 2013 Tempat Jam : di Poli OBG RSU dr. SAIFUL ANWAR MALANG : 10.00 WIB

A. DATA SUBYEKTIF 1. Biodata Nama Istri Umur Agama Pendidikan : Ny.”W” : 49 Th : Islam : SD Nama Suami : Tn.”R” Umur Agama Pendidikan : 55 th : Islam : SD

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Pekerjaan Penghasilan Alamat 2. : Karyawan RS : Rp 500.000 : Sawojajar Gg. V

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia pekerjaan penghasilan Alamat : Karyawan RS : Rp. 1.500.000 : Sawojajar Gg. V

Alasan Datang Ibu mengatakan sudah waktunya untuk KB suntik ulang.

3.

Keluhan Utama Ibu mengatakan tidak memiliki keluhan apa-apa.

4.

Riwayat Kesehatan Yang Lalu. Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti jantung, asma hipertensi, hepatitis B, HIV/AIDS, BC, DM dan lain-lain, Ibu tidak pernah MRS dan operasi.

5.

Riwayat Kesehatan Sekarang Ibu sekarang tidak ada yang menderita penyakit hipertensi, jantung berdebar-debar, mual muntah, pusing berat.

6.

Riwayat Kesehatan Keluarga. Dalam keluarga baik dari pihak ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti jantung, asma, TBC, DM, Hipertensi, Hepatitis B, HIV/AIDS dan lain-lain.

7.

Riwayat Menstruasi 13

-

Menarche

: 13 Tahun

Siklus/Lamanya : ± 28 hr/± 6-7 hr Banyaknya Flour Albus : Hr 1-3 /±2-3 kotek/hr : Sebelum menstruasi(tidak bau, tidak gatal, tidak berwarna)

8.

Warnanya Baunya

: Merah Khas : Anyir

Status Perkawinan Perkawinan ke : 1 Umur kawin Lama Kawin : 21 Tahun : 28 Tahun

9.

Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas Yang Lalu. No UK Jenis persalina n
1. 2. 3. 4. 3 bulan 9 bulan 9 bulan 9 bulan Abortus Spontan Spontan Spontan Dokter Dokter Dokter RS RS RS 3500 gr Laki-laki 3400 gr Laki-laki 2750 gr Laki-laki 23Th 21Th 19Th (+) (+) (+)

Peno long

Tempat persalin an

BBL

Jenis

Umur ASI

kelamin saat ini

10. Riwayat KB Ibu mengatakan setelah melahirkan anak pertama, ibu menggunakan KB suntik 3 bulan. Kemudian setelah melahirkan anak kedua ibu tidak menggunakan KB. Setelah melahirkan anak ketiga ibu menggunakan KB susuk selama 5 tahun. Kemudian setelah lepas KB susuk ibu menggunakan KB suntik 3 bulan kembali. 11. Pola Kebiasaan Sehari-hari No 1 Pola Nutrisi Kebiasaan sehari-hari Makan 3x/hari dengan porsi nasi, lauk, sayur, buah dan minum 7-8 gelas/hari 2 Eliminasi BAB 1x/hari dengan konsistensi lunak, warna kuning dan BAK 5-6x/hari warna kuning jernih, bau khas. 14

3

Istirahat

Tidur siang ± 1-2 jam /hari dan tidur malam ± 7-8 jam/hari.

4

Aktifitas

Ibu

mengerjakan

pekerjaan

rumah

tangga sehari-hari seperti memasak, mencuci, menyapu, mengepel, dan lainlain. 5 Personal hygiene Mandi 2x/hari, gosok gigi 2x/hari, keramas 4x/minggu, ganti baju 2 x/hari. 6 Seksual Selama ini selama berhubungan tidak ada keluhan.

B. Data Obyektif 1. Pemeriksaan Umum - Keadaan Umum - Kesadaran - TB/BB - Tanda-tanda Vital  Tekanan darah :  Nadi  Suhu  RR
110

: Baik : Composmentis : 152 cm/51 kg

/70 mmHg,

: 84 x/mnt : 36,5 ° C : 20 x/mnt

2.

Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi - Kepala : Kulit kepala bersih, rambut warna hitam, tidak rontok. - Muka : Tidak pucat, tidak oedem, tidak ada chloasma. - Mata : Simetris, palpebra tidak oedem, sklera tidak ikterus, conjunctiva tidak anemis.

15

- Hidung

: Simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung, bersih, tidak ada sekret, tidak ada polip.

- Telinga

: Simetris, bersih, tidak ada serumen, daun telinga tidak ada kelainan.

- Mulut

: Simetris,

bibir

lembab,

tidak

ada

stomatitis, tidak ada caries gigi, lidah bersih. - Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada bendungan V. Jugularis. - Dada - Perut : Simetris, tidak ada retraksi interkosta. : Tidak ada bekas luka operasi.

- Genetalia Eksterna : Tidak terkaji. - Ekstremitas : Simetris, tidak oedema, tidak ada varices, tidak ada gangguan pergerakan. b. Palpasi - Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada bendungan V. jugularis - Ketiak - Mammae : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe. lunak, tidak teraba

: Konsistensi benjolan/massa.

- Perut

: Tidak

pembesaran

hepar,

tidak

teraba

benjolan/massa. c. Auskultasi - Tidak ada ronchi atau wheezing. d. Perkusi
-

Reflek Patella : +/+

II.

IDENTIFIKASI MASALAH/ DIAGNOSA DS DS : Ny.”W” 49 Tahun P3003 Ab100 akseptor suntik 3 bulan. : Ibu mengatakan ingin suntik KB 3 bulan ulang. Ibu mengatakan tidak ada keluhan apa-apa. DO : TTV - TD : 110/70 mmHg 16

- Nadi - RR - Suhu

: 84 x/ menit : 20 x/menit : 36,5 o C

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL -

IV. IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA -

V.

INTERVENSI Diagnosa : Ny.”W” 49 Tahun P3003 Ab100 akseptor suntik 3 bulan. Tujuan KH : Ibu mendapatkan suntikan KB Depoprogestin : TTV dalam batas normal TD : 110/70 mmHg N
R

S : 36,5 oC R : 20 x/menit

: 84 x/menit

1. Lakukan pendekatan pada klien. / Hubungan yang kooperatif antara petugas kesehatan dan klien dapat

mempermudah Asuhan Kabidanan yang akan dilakukan. 2. Lakukan pengukuran TTV
R

/ Tanda-tanda vital merupakan gambaran umum dari keadaan pasien.

3. Dengarkan keluhan pasien
R

/ Merupakan salah satu pendekatan terhadap px

4. Jelaskan pada pasien tentang efek samping dan keuntungan penggunaan KB suntik 3 bulan
R

/ Supaya klien mengerti dan paham

5. Siapkan alat, ruangan dan pasien
R

/ mempermudah tindakan dan menjaga privasi pasien.

6. Lakukan penyuntikan sesuai prosedur
R

/

penyuntikan

depoprogestin

sesuai

dengan

prosedur

dapat

meminimalisasi adanya kesalahan akibat penyuntikan. 7. Beritahu pasien kapan harus kembali untuk suntik ulang dan cata pada kartu akseptor KB

17

R

/ informasi yang tepat dapat menghindari kesalahan dan kelalaian yang

mungkin terjadi

8. Berikan kartu akseptor KB dan pasien utnuk membawanya setiap suntik ulang
R

/ Sebagai tanda bukti dan acuan dalam memberikan suntikan ulang

VII. IMPLEMENTASI Dx : Ny.”W” 49 Tahun P3003 Ab100 akseptor suntik 3 bulan. 1. Melakukan pendekatan terapeutik dengan cara memberi salam dan memperkenalkan diri. 2. 3. 4. Melakukan pengukuran TTV Mendengarkan keluhan-keluhan yang dirasakan klien Menjelaskan keuntungan dan kerugian dari kontrasepsi suntik 3 bulan Keuntungan: - Pemberiannya sederhana setiap 12 minggu. - Tingkat efektifitasnya tinggi. - Hubungan seks dengan suntikan KB bebas. - Pengawasan medis yang ringan. - Dapat dipakai atau diberikan pasca persalinan keguguran dan pasca menstruasi. - Tidak mengganggu pengeluaran laktasi dan tumbuh kembang bayi. Kerugian: - Gangguan pola haid. - Berat badan bertambah. - Kadang-kadang sakit kepala. - Terjadi amenorea (tidak datang bulan) berkepanjangan 5. 6. Menyiapakan alat, ruangan, dan pasien. Melakukan penyuntikan sesuai prosedur. a. Menjelaskan pada ibu bahwa akan dilakukan penyuntikan di daerah pantat b. c. Cuci tangan dengan air sabun dan keringkan dengan handuk kering Menyiapkan peralatan yang akan digunakan yaitu. - Spuit 3 cc 18

- Kapas alkohol - 1 vial Medroxyprogesterone Acetate 150mg/3mL - Bengkok d. Mengocok vial obat sampai homogen dan memasukkannya pada spuit 3 cc sampai tidak tersisa pada vial e. Membersihkan bagian kulit/lokasi penyuntikan dengan kapas alkohol yaitu ⅓ antara SIAS dan Os. Cogsigis, dengan arah memutar dari dalam keluar lalu biarkan ± 1 menit biar kering f. Menyuntikkan secara IM dan mengaspirasi, jika tidak ada darah yang masuk kedalam spuit, masukkan obat sampai habis, cabut jarum dan tidak melakukan pemijatan pada bekas suntikan g. Cuci tangan kembali dengan air sabun dan keringkan dengan handuk kering 7. Memberitahu pasien kapan harus kembali yaitu pada tanggal 19 Juni 2013 dan mencatatnya pada kartu akseptor KB. 8. Memberikan kartu akseptor KB dan meminta pasien untuk membawanya setiap suntik ulang.

VIII. EVALUASI Tanggal 01 April 2013 Jam : 10.15 WIB

Diagnosa : Akseptor KB suntik 3 bulan (depo). S : Ibu mengatakn tidak sakit saat disuntik O : KB Depoprogestin telah disuntikan pada Ny “W” A : Ny.”W” 49 Tahun P3003 Ab100 akseptor suntik 3 bulan. P : Mengingatkan kembali pada pasien jika harus kembali pada tanggal 19 Juni 2013 dan jangan lupa membawa kartu akseptor KB setiap kali suntik ulang.

19

BAB IV PEMBAHASAN

Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan Pada Ny.”W” 49 Tahun P3003 Ab100 akseptor suntik 3 bulan. Pengkajian pada pasien diperoleh dari data subyektif yang diperoleh dari pasien itu sendiri, pada data obyektif dilakukan pemeriksaan yang dapat menunjang penegakkan diagnosa pada pasien. Pada tahap pengkajian pasien dapat melakukan kerja sama dengan petugas kesehatan, sehingga data yang didapatkan baik data subjektif maupun data objektif dapat menggambarkan keadaan umum pasien. Pada tahap identifikasi masalah/ diagnosa penyaji tidak mengalami permasalahan karena data yang didapatkan cukup menunjang terbentuknya diagnosa. Identifikasi masalah potensial tidak terjadi karena ibu dalam keadaan yang sehat dan tidak mengalami gangguan kesehatan. Maka ibu tidak membutuhkan identifikasi kebutuhan segera dalam penanganannya. Pada intervensi pasien dilakukan asuhan kebidanan yang sesuai keadaan yang dialami oleh pasien, seperti memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan kesehatan pasien, lingkungan serta alat-alat yang digunakan dalam menerapkan metode kontrasepsi suntik 3 bulan (depogeston), melakukan penyuntikan, dll. Pada pelaksanaan implementasi disesuaikan dengan rencana asuhan yang telah di susun sebelumnya sehingga dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara maksimal, efektif, dan seefisien mungkin Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan ini ditemukan adanya ketidaksenjangan antara praktek yang dilakukan dengan teori yang ada. Pada tahap akhir evaluasi terhadap tindakan yang telah diberikan pada ibu untuk mengetahui apakah ibu sudah mengerti pada informasi yanng telah diberikan oleh petugas kesehatan dengan baik, dan ibu telah mendapatkan kontrasepsi yang telah diinginkan oleh ibu yaitu kontrasepsi KB suntik 3 bulan.

20

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Estrogen sebagai kontrasepsi bekerja dengan cara menghambat ovulasi melaulai fungsi hipotalamus- hipofisis- ovarioum, menghambat perjalanan ovum/ implantasi. Sedangkan progesteron bekerja dengan cara membuat lendir servik kental hingga penetrasi dan transportasi sperma menjadi sulit , menghambat kapasitasi sperma, perjanana ovum dalam tuba, implantasi, dan menghambat ovulasi melalui fungsi hipotalamus- hipofisis- ovarium. Salah satu KB hormonal yaitu Depogeston (KB suntik 3 bulanan) . Suntikana dapat diberikan mulai hari ke 3 sampai ke 5 pasca persalinan, segera setelah keguguran, atau pada interval 5 hari pertama haid. Hormon di suntikkan secara Intra Muskular dalam di daerah gluterus maksimus atau deltoid. Suntikan Depogeston diberikan tiap 3 bulan sekali.

5.2

Saran Sebagai tenaga kesehatan (bidan) hendaknya memiliki kinerja yang baik dan dapat meningkatkan mutu pelayanan di masyarakat sehingga dapat memberikan asuhan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi serta menjadi sumber informasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien.

21

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gde. Prof.dr.DOSG. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC

DEPKES. RI. 2004. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta : YBPSP.

Saifudin, AB, 2004, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Glasier, Anna dkk, Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Jakarta : EGC.

Materi Kontrasepsi KB bagi PPKBD, SUB PPKBD, KADER, 1995, BKKBN.

22