BAB I PENDAHULUAN

Di banyak negara, terutama negara berkembang, akibat keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan terjadi penurunan angka kelahiran, angka kesakitan dan angka kematian serta peningkatan angka harapan hidup. Di Indonesia sendiri terjadi peningkatan warga yang berumur di atas 60 tahun (usia lanjut). Dalam angka absolut, populasi usia lanjut di Indonesia yang pada tahun 1960 baru berjumlah 4,5 juta, meningkat menjadi 8,0 juta pada tahun 1980, dan menjadi 14,9 juta pada tahun dua ribu. Jumlah penduduk usia lanjut pada tahun 2010 sudah hampir sama dengan jumlah balita dan diperkirakan akan berjumlah 28,8 juta di tahun 2020. Gerontologi dan geriatri adalah ilmu yang terkait dengan masalah usia lanjut. Gerontologi berasal dari kata gerontos (usia lanjut) dan logos (ilmu); mengandung arti semua ilmu yang mempelajari seluk beluk kehidupan warga usia lanjut, mencakup bidang sosial, budaya, ekonomi dan kesehatan. Geriatri berasal dari kata gerontos dan iatros (penyakit), dengan demikian ilmu geriatri adalah bagian dari ilmu kedokteran dan gerontologi yang khusus mempelajari kesehatan dan penyakit pada usia lanjut.(3) Penelitian tentang proses menua di negara maju mengungkapkan bahwa fisiologi orang tua berbeda, sehingga orang berusia lanjut tidak sama dengan orang dewasa ditambah sekian tahun. Pasien usia lanjut belum tentu pasien geriatri. Pasien geriatri merupakan pasien usia lanjut yang memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dengan pasien dewasa pada umumnya. Adanya beberapa penyakit secara bersamaan (multipatologi) yang umumnya bersifat kronik degeneratif, tampilan gejala dan tanda klinik yang tidak khas atau menyimpang, rendahnya daya cadang faali, menurunnya status fungsional, dan gangguan nutrisi merupakan ciri pasien geriatri. Karakteristik tersebut menyebabkan diperlukannya pendekatan dan pengelolaan khusus pada pasien geriatri (pendekatan paripurna pasien geriatri) melalui pengkajian dan intervensi secara berkesinambungan terhadap kondisi fungsional, psiko-kognitif, nutrisi dan sosial (bio-psiko-sosial) dengan pendekatan interdisiplin serta memperhatikan aspek kuratif, rehabilitatif, preventif dan promosi dalam pelaksanaannya, agar tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan kualitas hidup yang optimal.
1

Permasalahan yang dihadapi di Indonesia : 1. Jumlah warga usia lanjut bertambah cepat. 2. Masyarakat belum memberikan tanggapan tepat, seperti fasilitas umum khusus untuk usia lanjut, sistem pendanaan pensiun yang sesuai dengan kondisi usia lanjut, sistem pelayanan kesehatan yang sesuai dan masih banyak lagi. 3. Sosialisasi masalah usia lanjut akan memerlukan waktu panjang, sebelum negara menetapkan undang-undang dan peraturan yang memberdayakan warga usia lanjut. 4. Masih perlu dipersiapkan tenaga kesehatan dengan kemampuan di bidang geriatri, menggunakan kurikulum yang disusun oleh pakar berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk memperdalam pemahaman tentang geriatri dan pendekatan serta pengelolaannya secara paripurna (komprehensif) sehingga nantinya diharapkan tercapai suatu populasi usia lanjut yang sehat dan mandiri.

2

gaya hidup. bahwa setiap individu mengalami perubahan-perubahan tersebut secara berbeda. efek penuaan tersebut umumnya menjadi lebih terlihat setelah usia 40 tahun. Proses menua seyogianya dianggap sebagai proses normal dan tidak selalu menyebabkan gangguan fungsi organ atau penyakit. sementara pada individu lainnya. Namun harus dicermati. Laju kematian untuk banyak penyakit meningkat seiring dengan menuanya seseorang. Proses menua bukanlah sesuatu yang terjadi hanya pada orang berusia lanjut.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. perubahannya kurang bermakna. internal maupun eksternal. Di sisi lain. Menua adalah proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang rapuh dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit seiring dengan bertambahnya usia. Namun demikian. namun juga terhadap fungsi dan tanggapan pada kehidupan sehari-hari. Pada beberapa individu.4) dasar dari proses menua adalah kegagalan fungsi homeostatik penyesuaian diri terhadap faktor intrinsik dan ekstrinsik. hubungan antara usia dan penyakit sangat erat. Berbagai faktor seperti faktor genetik. baik stres fisik maupun stres psikologik. terutama disebabkan oleh menurunnya kemampuan orang usia lanjut berespon terhadap stres. Akibat penurunan kapasitas fungsional tersebut. Menurutnya kapasitas untuk berespons terhadap lingkungan internal yang berubah cenderung membuat orang usia lanjut sulut untuk memelihara kestabilan status fisik dan kimiawi dalam tubuh. Secara umum dapat dikatakan terdapat kecenderungan menurunnya kapasitas fungsional baik pada tingkat selular maupun pada tingkat organ sejalan dengan proses menua. dan lingkungan. atau 3 . Proses Menua dan Implikasi Klinis Menurut Alex Comfort (1940)(1. Terjadi berbagai perubahan fisiologis yang tidak hanya berpengaruh terhadap penampilan fisik. melainkan suatu proses normal yang berlangsung sejak maturitas dan berakhir dengan kematian. laju penurunannya mungkin cepat dan dramatis. seperti yang dapat dilakukan oleh orang yang lebih muda. orang berusia lanjut umumnya tidak berespon secara efektif terhadap berbagai rangsangan. mungkin lebih besar mengakibatkan gangguan fungsi daripada penambahan usia itu sendiri.

gerak fisik dan sebagainya sehingga perannya di masyarakat pun akan berubah. yaitu:     Sindrom delirium Depresi Jatuh/ instabilitas postural Inkontinensia 4 . penglihatan. Mandiri. gigi makin rontok. Pasien geriatri. Bermusuhan dan Kritik Diri) Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan Diawali dari masa pensiun. kulit makin keriput. Perubahan dalam peran sosial di masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran. Perubahan aspek psikososial Pada umumnya lansia akan mengalami penuruna fungsi kognitif dan psikomotor sehingga mempengaruhi aspek psikososialnya yang nantinya akan berkaitan dengan kepribadian lansia (ada 5 jenis kepribadian: Tipe Konstruktif. Penurunan fungsi dan potensi seksual Seringkali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik dan juga faktor psikologis. dimana diperlukan persiapan yang baik untuk menghadapi masa ini. tulang makin rapuh. Gangguan terhadap homeostasis tersebut dapat memudahkan terjadinya disfungsi berbagai sistem organ dan turunnya toleransi terhadap obat-obatan. Tergantung.memelihara homeostasis tubuh. jika terserang kondisi akut maka akan menjadi geriatris giants/ geriatris problems. dsb. Perubahan akibat proses menua(4) Penurunan kondisi fisik Bersifat patologis berganda (multiple phatology) misalnya tenaga berkurang.

dalam upaya kuratif. preventif serta rehabilitatif. Tujuan pengkajian ini adalah mengetahui kesehatan penderita secara holistik supaya dapat memberdayakan kemandirian penderita selama mungkin dan mencegah disabilitas-handicap diwaktu mendatang.4) CGA merupakan evaluasi pada pasien usia lanjut yang memfokuskan pada: (3) Kesehatan fisik Kesehatan mental Status fungsional Fungsi sosial Lingkungan Status nutrisi Adapun keuntungan Pengkajian Komprehensif pada Geriatri ini menurut studi-studi yang telah dilakukan adalah sebagai berikut(3)  Menurunkan penggunaan fasilitas perawatan 5 . Pengkajian Komprehensif pada Geriatri Pengkajian Komprehensif pada Geriatri mencakup: kesehatan fisik. promotif. mental.(3. status fungsional. dan lingkungan.  Imobilisasi Gejala dekondisi Keadaan juga semakin rumit jika selain masalah di atas. kegiatan sosial. juga terdapat:    Penelantaran Abuse Kemiskinan Maka dari itu dibutuhkan pendekatan yang khusus terhadap pasien geriatri berupa Comprehensive Geriatric Assessment (CGA) atau Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri (P3G) atau Pengkajian Komprehensif pada Geriatri. Sistem ini bersifat tidak sekedar multi-disiplin tetapi interdisiplin dengan koordinasi serasi antara disiplin dan lintas pelayanan kesehatan.

gangguan lainnya yang terdapat. karena pasien nantinya tidak hanya akan di diagnossis berdasarkan keluhan datang ke fasilitas kesehatan saja. Adapun pemeriksaan yang dilakukan meliputi:             Anamnesis: identitas. kebiasaan yang merugikan kesehatan. memori dan demensia: denga menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE) dan Drawing Clock Test Penapisan depresi: dengan kuisioner Skala Depresi Geriatri (Geriatric Depression Scale/ GDS) Pengkajian inkontinensia urin dan alvi Pengkajian nyeri Assesment lingkungan Penapisan risiko ulkus dekubitus dengan Skala Norton Pengkajian insomnia Pemeriksaan fisik Pemeriksaan tambahan (penunjang) 6 . melainkan secara keseluruhan demi tercapainya tujuan pengkajian ini yaitu kemandirian pasien. penilaian sistem. nutrisi Pengkajian status fungsional: dengan tabel ADL Barthel (BAI) Pengkajian kemandirian: dengan Instrument Activity Dialy of Living (IADL) Kognitif.     Menurunkan penggunaan obat-obatan Menurunkan angka kematian Menurunkan biaya yang digunakan untuk perawatan medis Meningkatkan keakuratan diagnostik Meningkatkan kemandirian Dalam 2 tahun follow up dengan menggunakan Pengkajian Komprehensif didapatkan:    Menurunnya angka pasien yang tinggal di fasilitas kesehatan secara permanent Meningkatkan ketahanan hidup tanpa mengurangai kualitas hidup pasien Meningkatkan fungsi kemandirian Dengan demikian maka kita bersama dapat melihat pentingnya pengkajian komprehensif dilakukan pada pasien-pasien geriatri. penyakit yang diderita sekarang.

Registrasi NRM : : : ASKES 297787 55-10-05-00 : : : : : : : : Ny. Sampai sekarang pasien tidak meminum obat apapun untuk mengontrol kadar gula darahnya. PENYAKIT YANG DIDERITA SEKARANG KU KT RPS : : : demam sejak 1hari SMRS lemas. pasien kehujanan. III.BAB III LAPORAN KASUS I. tidak nafsu makan dan nyeri pinggang terutama ketika sedang duduk lama. tidak nafsu makan. IDENTITAS Nama Alamat Umur/tgl lahir Anak keStatus perkawinan Jumlah anak Pekerjaan Keadaan sos-ek sebagai guru Jaminan No. Pasien belum meminum obata apapun untuk mengurangin kemuhan. Woro Sri Humiani KP Payangan RT 04/07 Jatisari 82 tahun/ 02-10-1931 4 dari 7 bersaudara Janda Ibu rumah tangga dibiayai oleh dana pensiun suami dan pasien sendiri II. GANGGUAN KESEHATAN LAIN Menelan : disangkal 7 . Demam dirasakan terus menerus namun suhu tidak diukur. RPD : Menurut pasien. nyeri pinggang pasien datang dengan keluhan demam sejak 1 hari SMRS. Sehari sebelum keluhan. Riwayat hipertensi disangkal. Pasien juga mengeluhkan lemas. Riwayat alergi juga disangkal. pasien sebelumnya pernah menderita penyakit kencing manis namun tidak tahu kapan tepatnya.

PENILAIAN SISTEM SSP : demensia (+) : : normal Inkontinensia alvi (-) inkontinensia urin (-) pasien tidak ingat kapan dia pertama kali menstruasi normal normal Saluran pernafasan atas Saluran pernafasan bawah Cor GI Urologi : : : Menarkhe/ menopause: dan kapan menopause V. KEBIASAAN YANG MERUGIKAN Obat-obatan yang sedang dikonsumsi Ada/ tidak perubahan perilaku : : tidak ada 1 bulan terakhir pasien sering berjalan-jalan keluar rumah.Masalah gigi Gigi palsu : disangkal : disangkal Gangguan komunikasi/ bicara: pembicaraan sering di ulang-ulang Nyeri/ gerak : Di bagian pinggang kalau duduk lama IV. NUTRISI Nafsu makan Jenis Keseimbangan gizi : : : baik kurang bervariasi kurang cukup Kecukupan vitamin & mineral: Kecukupan kalori : kurang Kalori yang diperlukan: 1000-1200 kal Keadaan gigi geligi. mastikasi. fungsi GI: cukup baik Penurunan berat badan: tidak ada 8 . Pasien juga sering menyebut semua orang yang ditemui sebagai anak atau cucunya. bahkan diwaktu hujan. Rokok/ alkohol/ jamu kebiasaan meminum jamu : pasien dulu pernah memiliki VI. Sebelumnya pasien memang sudah memiliki kebiasaan jalan pagi atau sore hari.

Penilaian Status Gizi dengan MNA-SF No.00 + (1.91 x 42) – (0. Kuesioner Hidangan Sehari (Recall 24 jam) Banyak Makan Gram pagi Nasi putih Telor dadar Makan Gram siang Nasi putih Ikan goreng Sayur bening Makan Gram malam Nasi putih Ikan goreng Sayur bening 30 gr 1/2 mangkuk 25 gr 1/2 potong 50 gr URT (Ukuran Rumah Tangga) 1/3 piring Selingan malam Gram URT 30 gr 1/2 mangkuk 25 gr 1/2 potong 50 gr URT (Ukuran Rumah Tangga) 1/3 piring Selingan siang Pepaya 20 gr 2 potong kecil Gram URT 25 gr 1/2 potong 50 gr URT (Ukuran Rumah Tangga) 1/3 piring Selingan pagi Banyak Gram URT Tabel 2. 1 Penilaian Indeks massa tubuh: BB/TB2 b. 19-21=1 Nilai 1 9 .Berat badan Tinggi lutut : : 38 kg 42 cm Tinggi badan populasi geriartri : 75.17 x 82) = 141.28 IMT : 19.11 Tabel 1.

Daging. 1x makan = 0 0 12 Asupan protein terpilih a. ikan. <3 cangkir = 0 0 10 . tempe): tidak= 0 c. unggas setiap hari: ya=1 2 13 Konsumsi dua atau lebih penyajian sayur atau buah2an setiap hari: tidak = 0 0 14 Bagaimana asupan makanan 3 bulan terakhir b.2 Lingkar lengan atas a. Dapat pergi keluar rumah = 2 2 9 Masalah neuropsikologis c. Minimal 1x penyajian produk-produk susu olahan: ya=1 b. Demensia ringan = 1 1 10 Nyeri tekan atau luka kulit Tidak = 1 1 11 Berapa banyak daging yang dikonsumsi setiap hari? a. tidak kehilangan BB= 3 3 5 Hidup tidak tergantung (tidak di tempat perawatan atau RS) Tidak = 1 1 6 Menggunakan lebih dari 3 obat per hari Tidak = 1 1 7 Mengalami stres psikologis atau penyakit akut dalam 3 bln terakhir: Ya = 0 0 8 Mobilitas : b. <21 = 0 0 3 Lingkar betis a. Dua atau lebih penyajian produk kacang-kacangan (tau. Kehilangan nafsu makan sedang = 1 1 15 Berapa banyak cairan yang dikonsumsi tiap hari a. ≤ 31 = 0 0 4 BB selama 3 bulan terakhir : d.

5 15.5 TOTAL 0. menyiram) 1 Skor 2 2 0 Keterangan Kontinen teratur Mandiri Butuh pertolongan orang lain Perlu pertolongan pada beberapa aktivitas tetapi dapat mengerjakan sendiri beberapa aktivitas yang lain 5 Makan 1 Perlu seseorang menolong memotong makanan 6 7 8 9 10 Berpindah tempat dari tidur ke duduk 3 Mobilisasi/berjalan Berpakaian (memakai baju) Naik turun tangga Mandi 3 1 0 0 Mandiri Mandiri Sebagian dibantu Tidak mampu Tergantung orang lain 11 . Dapat makan sendiri dengan sedikit kesulitan = 1 1 17 Apakah mereka tahu bahwa mereka memiliki masalah gizi? c. Tidak tahu atau malnutrisi sedang = 1 1 18 Dibandingkan dengan orang lain dengan usia yang sama. PENGKAJIAN STATUS FUNGSIONAL (KEMANDIRIAN ATAU KETERGANTUNGAN) Tabel 3. pergi ke dalam dari WC (melepas.5 Kesimpulan: skor < 17 ( malnutrisi) VII.16 Pola makan b. ADL Barthel (BAI) Fungsi 1 2 3 Mengontrol BAB Mengontrol BAK Membersihkan diri (lap muka. memakai celana. menyeka. sikat gigi) 4 Pengguanaan toilet. bagaimana merka menilai kesehatan mereka sekarang? Tidak tahu = 0. sisir rambut.

Total skor 13 Kesimpulan: 12-19 ketergantungan ringan Tabel 4. Aktivitas Independen Dependen Nilai = 0 1 Telepon Nilai = 1 Tidak bisa menggunakan telepon sama sekali 2 Belanja Sama sekali tidak mampu belanja 3 Persiapan makanan Perlu disiapkan dan dilayani 4 Perawatan rumah Perlu bantuan untuk semua perawatan rumah sehari-hari 5 Mencuci baju Semua pakaian dicuci oleh orang lain 6 Transport Perjalanan terbatas ke taxi atau kendaraan dengan bantuan orang lain 7 Pengobatan Tidak mampu menyiapkan obat sendiri 8 Manajemen keuangan Tidak mampu mengambil keputusan finansial atau memegang uang Total skor 8 1 1 1 1 1 1 1 1 Nilai Skor IADL: 3-8 dikerjakan oleh orang lain VIII. ASSESMENT KOGNITIF. MEMORI DAN DEMENSIA Tabel 5. Kuisioner MMSE (Mini Mental State Examination) 12 . Instrument Activity Dialy of Living (IADL) No.

memori dan terdapat demensia IX.Skor maksimal ORIENTASI 5 5 Skor lansia 2 1 Bulan desember. PENAPISAN DEPRESI Tabel 6. Geriatric Depression Scale (GDS) Skala Depresi Geriatri (Geriatris Depression Scale/ GDS) 1 2 Apakah Anda pada dasarnya puas dengan kehidupan anda? Apakah Anda tidak bisa melakukan sebagian besar kegiatan anda? 3 4 5 6 Apakah Anda merasa bahwa hidup Anda tidak berguna? Apakah Anda sering merasa bosan? Apakah Anda hampir selalu bersemangat tinggi? Apakah Anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anda? Apakah Anda merasa bahagia hampir sepanjang waktu? 7 8 Apakah Anda sering merasa bahwa tidak ada yang membantu anda? 0 1 1 0 13 Ya 0 1 Tidak 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 . tahun 2013 Kota Jakarta REGISTRASI 3 1 Jumlah percobaan: 3 ATENSI dan KALKULASI 5 0 Tidak bisa dilakukan MENGINGAT 3 BAHASA 9 3 Dapat menyebutkan benda jam dan arloji =2 Dapat melaksanakan perintah “pejamkan mata” = 1 Skor 7 0 Tidak bisa mengingat Skor MMSE < 20 menyatakan gangguan yang pasti pada kognitif.

5 kehilangan kontrol berkemih setidaknya sekali dalam sebulan 4.0 kehilangan kontrol berkemih sedikitnya 2 kali sebulan/ kadang-kadang kehilangan kontrol BAB 5. sehingga penapisan depresi tidak dapat dinilai. PENGKAJIAN INKONTINESIA ALVI DAN URIN Tabel 7.5 kehilangan kontrol BAB sedikitnya 2 kali sebulan 8.0 kehilangan kontrol BAB sedikitnya sekali dalam sebulan 5.Apakah Anda lebih memilih untuk diam dirumah daripada keluar 9 rumah dan mencoba hal-hal baru? Apakah Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan 10 Anda dibandingkan biasanya? Apakah Anda merasa bahwa hidup Anda saat ini 11 menyenangkan? Apakah Anda merasa tidak berharga dengan keadaan Anda saat 12 ini? Apakah Anda merasa sangat kuat/ bertenaga? 13 14 15 Apakah Anda merasa situasi Anda tanpa harapan? Apakah Anda merasa bahwa kebanyakn orang lebih baik daripada Anda? Total Nilai : 3 ata lebih pada GDS 15 mendeteksi adanya kasus depresi (100% sensitivitas) 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 Pasien tidak kooperatif dalam menjawab pertanyaan.0 kadang-kadang kehilangan kontrol berkemih/ mengguanakan alat bantu berkemih & BAB 2.0 kehilangan kontrol BAB sedikitnya sekali seminggu/ kehilangan kontrol 14 . X. Kuisioner Pengkajian Inkontinensia Urin dan Alvi Pertanyaan: Apakah anda mengompol atau BAB tanpa disadari? 0 tidak pernah 1.5 kehilangan kontrol berkemnih sedikitnya sekali dalam seminggu 6.

Namun kemungkinan pasien untuk mendapatkan bantuan teknis maupun medik apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan tidak tersedia setiap saat karena tidak ada anggota keluarga yang tinggal bersama pasien.5 tidak bisa mengontrol BAB sama sekali Total skor : 0 Kesimpulan : 0  tidak ada inkontinensia XI. Keamanan cukup baik. Sangat Buruk (2) 15 . Risiko Ulkus Dekubitus pada Imobilisasi dengan Skala Norton Kondisi Pasien Kondisi Fisik Umum Keterangan + Skor Baik (4). namun di malam hari pasien tinggal sendiri di rumahnya.berkemih sedikitnya sekali setiap hari 10 kehilangan kontrol BAB sedikitnya sekali sehari 10. Keluarga pasien sering berkunjung juga untuk merawat pasien. ASSESMENT LINGKUNGAN Pasien tinggal sendiri di rumah pribadi.5 tidak bisa mengontrol fungsi berkemih sama sekali 11. PENAPISAN RISIKO ULKUS DEKUBITUS DENGAN SKALA NORTON Tabel 8. Cukup/lumayan (3) Buruk (3). PENGKAJIAN NYERI Pasien mengaku terdapat nyeri pada pinggang apabila pasien duduk terlalu lama. Kesimpulan: lingkungan pasien kurang medukung dalam perawatan pasien. Sehari-hari tetangga pasien yang ditugaskan datang untuk mengurus pasien dari pagi hingga sore hari. XIII. Nyeri: Ya Lokasi : Pinggang Intensitas: 4 XII.

pasien biasanya tidur pada saat siang dan malam hari. total skor 18. Kuisioner Pengkajian Insomnia Pasien tidak kooperatif dalam menjawab pertanyaan. maka pasien tidak memiliki risiko untuk mengalami ulkus dekubitus. XV. IMPAIRMENTS (KEMUNDURAN FUNGSI ORGAN) 16 . Stupor (1) Tingkat Aktivitas Ambulatori (4) Berjalan dengan bantuan (3) Hanya bisa duduk (2) Hanya bisa tiduran (1) Mobilitas Bergerak bebas (4) Sedikit terbatas (3) Sangat terbatas (2) Tidak bisa bergerak/ immobile (1) Inkontinensia Tidak ada (4) Kadang-kadang (3) Sering inkontinensia urin (2) Inkontinensia urin dan alvi (1) Karena pasien mobilisasinya baik . PENGKAJIAN INSOMNIA Tabel 9. XIV. Namun dari anamnesis secara umum pasien tidak memiliki gangguan tidur. sehingga pengkajian masalah insomnia tidak dapat dinilai. Apatis (3) Confused (2).Kesadaran Komposmentis (4).

Nistagmus (-). Weber lateralisasi (-). batas jantung kiri ICS 5 garis midclavicula kiri A. Pergerakan dada simetris P. sonor kanan dan kiri A. BND vesikular. murmur (-) Pulmo : I. tidak mudah dicabut . bising usus 5x/ menit 17 : dalam batas normal : warna putih. gallop (-). rhonki -/-. BJ I dan II reguler. vocal fremitus simetris kanan dan kiri P. Rinne +/+. tes gesekan jari (+). Julur lidah (+) tremor (+)  Interna: Leher : KBG tidak teraba membesar Kelenjar tiroid tidak teraba membesar JVP 5+1 cmH20 Bising arteri carotis : tidak terdengar Wajah Rambut Thoraks Cor : I. swabach kurang dari pemeriksa N XI. batas jantung kanan ICS 5 garis parasternal kanan. Ictus cordis tidak terlihat P. Tampak datar A.40C RR : 20 x/menit Menilai sistem:  SSP : NVIII. ictus cordis teraba di ICS 5 garis midclavicula P. PEMERIKSAAN FISIK Tekanan darah:    Nadi Tidur : 110/70 mmhg Duduk : 110/70 mmhg Berdiri : tidak dilakukan : 92 x/menit Suhu : 37. wheezing -/Abdomen : I.XVI.

2 0.6 2-5% 50-70% 20-4-% 2-8% 0.5 pg 0 <15 12-14 5-10 rib/uL 4. tulang krepitasi (-) Kulit : turgor kurang Tes koordinasi: tidak dapat dilakukan Motorik : derajat kekuatan otot 4444/4444 4444/4444 Sensorik: baik XVII. nyeri tekan (-) P. nyeri di sendi lutut (+).3 g/dl 12.49 juta/ml 23. timpani.1/fL 33. bulging (-) Ekstremitas: ROM baik.laboratorium LED Hemoglobin Leukosit Eritrosit Hematokrit MCV MCH Hitung jenis Basofil Eusinofil 0 0-3% N 18 mm/jam 8.5-5.100/uL 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG . nyeri ketok (-).P.7 % 95.5 37-43 82-92 27-31 0-1 % ↑ ↓ ↑ ↓ ↓ ↑ ↑ N Neutrofil batang Neutrofil segmen Limfosit Monosit Kimia Klinik Bilirubun total Bilirubin direct 5 78 % 15% 2 0.2-1.3 N 18 .1-0.0 mg/dL N ↑ ↓ N N 0. supel.

3 gr/dL 3.1 g/dL 10-34 U/l 9-36 U/l 70-110 mg/dL 70-140 mg/dL 150-250 mg/dL N ↓ ↓ ↑ N N N ↓ Elektrolit Natrium Kalium 141 136-145 mmol/L N 3.2 gr/dL 2.4 4.0 39 14 92 108 104 N 6.7-5.5-5.1 mmol/L ↓ Chlorida 109 99-111 mmol/L N .9-3.6-8.5 2.5 2.3 3.mg/dL Bilirubin indirect Protein total albumin Globulin SGOT SGPT GDS GD 2JPP Kolesterol total 0.EKG 19 .

kardiomegali .USG abdomen: gambaran PNC bilateral. sistitis 20 .Foto thoraks: elongatio aorta. chronic liver disease..

Insomnia Dari hasil wawancara dan pemeriksaan. SINDROM GERIARTRI Sindroma geriatri meliputi Delirium. Depresi. REKOMENDASI 21 . Demensia. Immobilisasi. DAFTAR MASALAH Geriatric problem ISK Malnutrisi ec intake sulit Anemia XX. Instabilitas/ Falls. Inkontinensia Urin. pada pasien tersebut didapatkan:   Demensia Inanisasi XIX. Ulkus Dekubitus. Inkontinensia Alvi.XVIII. Inanisasi.

TANDA TANGAN DAN NAMA DOKTER PENGKAJI Dokter Pengkaji Rini Wulandari 0861050177 XXIII. Sp. TANDA TANGAN DAN NAMA DOKTER RUANGAN Dokter Ruangan Dr.- Rawat inap Konsul gizi Konsul fisioterapi Edukasi keluarga : untuk perawatan dan perhatian di rumah XXI.PD DAFTAR PUSTAKA 22 . RENCANA KERJA Diet : lunak IVFD : I fitrolit + I RL / 24 jam Mm/ antibiotik Antipiretik Antimual Vitamin : levofloksasin drip 1 x 500 mg : paracetamol drip 500 mg : ameprazole 3x 20 mg : curvit 1 x 1c XXII. Hildebrand Hanoch Watupongoh.

23 . 2006. 2004.1. Hal. Balai Penerbitan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. Geriatri dan Gerontologi di Indonesia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Boedhi Darmojo R. Penerapan Geriatrik Kedokteran Menuju Usia Lanjut yang Sehat Divisi Geriatrik Departemen IPD. 329: hal. 2006. Hadi Martono. New York: Mc Grawhill. 14-18 via http:// books. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Boedhi Darmojo.. Comprehensive Geriatric Assessmenta In: Geriatrics Secrets. Jakarta. 3rd edition.com 4. Kris. Pranarka.google. 2.1440-1446 3. FK UNDIP. Forciea MA. Teori Proses Menua dalam Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).