PRIVATISASI BUMN DALAM KEBIJAKAN DEFISIT ANGGARAN

Oleh: Devri Radistya
Kelas 8D Program Diploma IV Akuntansi Kurikulum Khusus, STAN, Bintaro email: devri.app@gmail.com Abstrak – Defisit anggaran pemerintah yang terjadi harus dibiayai dengan sumber-sumber yang mungkin dilakukan oleh pemerintahan, sumber-sumbernya adalah utang luar negeri, utang dalam negeri, pencetakan uang, privatisasi, dan running down cadangan devisa pemerintah. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa tujuan utama privatisasi ada dua, yaitu: pertama, untuk mengurangi defisit fiskal dan atau menutupi kewajiban-kewajiban (hutang-hutang) pemerintah yang jatuh tempo, dan kedua, untuk mendorong kinerja ekonomi makro atau efisiensi makro. Kehati-hatian dalam menentukan BUMN mana yang bisa di privatisasi atau tidak menjadi poin penting dalam penentuan kebijakan privatisasi secara keseluruhan, karena perlu juga melihat bagaimana posisi BUMN tersebut pada perannya di perekonomian negara secara keseluruhan. Kata Kunci: pemerintah, defisit anggaran, privatisasi, BUMN 1. PENDAHULUAN berasal dari: Utang luar negeri, Utang dalam negeri, Pencetakan uang, Privatisasi, dan Running down cadangan devisa pemerintah. Masing-masing mekanisme pembiayaan defisit memberikan pengaruh yang berbeda terhadap perekonomian baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Privatisasi adalah pemindahan kepemilikan aset-aset milik negara kepada swasta dan asing (Mansour: 2003). Pengertian privatisasi dalam Pasal 1 (12) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN yang menyebutkan : “Privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”. Privatisasi secara umum dapat dipandang sebagai langkah untuk mengurangi intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi yang seharusnya dapat dilaksanakan oleh sektor swasta. Privatisasi diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan efisiensi perusahaan yang selanjutnya mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tujuan awal privatisasi diharapkan agar BUMN dapat meningkatkan daya saing dan efisiensi yang selanjutnya mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, privatisasi yang dilakukan pemerintah saat ini bukan dalam tujuan diatas, melainkan untuk menutup defisit APBN. Hal ini disebabkan karena sektor-sektor penerimaan dan pembiayaan lainnya tidak mencukupi dalam keseimbangan anggaran yang telah ditetapkan (Ika dan Samosir, 2002). 1.2 Maksud dan Tujuan  Untuk mengetahui bagaimana privatisasi sebagai salah satu sumber pembiayaan dalam defisit anggaran

1.1 Latar Belakang Masalah Kebijakan defisit anggaran adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Para ahli memperhitungkan defisit anggaran Negara sebagai persentase dari PDB, dengan begitu didapatkan gambaran berapa persen suatu negara dapat menghimpun dana untuk menutup dana defisit tersebut dan seberapa besar dampaknya terhadap keadaan perekonomian. Pemerintah menerapkan kebijakan defisit anggaran ini dengan tujuan salah satunya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi seperti untuk pembangunan infrastruktur dan kebijakan ekspansif lainnya. Defisit anggaran pemerintah yang terjadi harus dibiayai dengan sumber-sumber yang mungkin dilakukan oleh pemerintah. Strategi pemilihan sumber pembiayaan anggaran perlu dilakukan secara hati-hati dan tepat sasaran agar sumbersumber pembiayaan anggaran. Hal ini ditujukan agar opsi strategi pembiayaan dapat digunakan seoptimal mungkin untuk menghindari terjadinya penumpukan beban fiskal di masa mendatang yang berpotensi mengganggu kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). Sumber pembiayaan defisit anggaran secara konvensional terdiri dari money financed dan bond financed defisit, yaitu pembiayaan dengan pencetakan uang dan pembiayaan dengan menerbitkan bonds atau obligasi negara (Turnovsky dan Wohar, 1987; dan Scarth, 1996). Pembiayaan pemerintah untuk mengatasi defisit anggaran pemerintah tidak hanya melalui bond, ataupun percetakan uang, namun juga dapat dilakukan dengan melakukan privatisasi BUMN seperti yang diungkapkan oleh Buiter (1982 dan 1995) mengidentikasi sumber pembiayaan defisit

Perbedaan pandangan dalam privatisasi Terdapat perbedaan pandangan dalam pelaksanaan privatisasi yang dilakukan oleh pemerintah. untuk mendorong kinerja ekonomi makro atau efisiensi makro. investor baru tentu akan berupaya untuk meletakkan manajer-manajer yang akan bekerja secara efisien. antara lain. serta employee and mangement buy out (EMBO). rencana ekspansi. Initial public offering (IPO) melalui pasar saham mempunyai kelemahan. Strategic sales (SS) merupakan penjualan saham kepada mitra strategis dengan alasan-alasan tertentu.1. Pihak yang tidak setuju dengan privatisasi berargumentasi bahwa apabila privatisasi tidak dilaksanakan. nilai ekuitas. Pelaksanaan privatisasi Pada umumnya ada 2 metode privatisasi BUMN yang dipraktekkan di beberapa negara. dan kedua. Privatisasi Privatisasi dalam arti sempit adalah menjual kepemilikan saham-saham perusahaan yang dimiliki negara kepada pihak lain. maka kendali dan pelaksanaan kebijakan BUMN akan bergeser dari pemerintah ke investor baru. Selain itu. Tujuan pertama umumnya diadopsi oleh negara-negara maju (industri) dan tujuan kedua umumnya diadopsi oleh negara-negara berkembang utamanya dalam kerangka tujuan jangka pendek (Ika dan Samosir:2002). LANDASAN TEORI 2.1 Metode penelitian Kajian mengenai privatisasi dalam pembiayaan defisit anggaran dilakukan dengan metode kepustakaan dan internet.2. Metode yang dipraktikkan dalam privatisasi di Indonesia. sehingga mampu menciptakan laba yang optimal.2 Landasan hukum Landasan hukum yang digunakan UndangUndang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN. 3. Apabila privatisasi dilakukan diatas 50%. 3. Pihak yang setuju dengan privatisasi BUMN berargumentasi bahwa privatisasi perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja BUMN serta menutup defisit APBN. untuk mengurangi defisit fiskal dan atau menutupi kewajiban-kewajiban (hutang-hutang) pemerintah yang jatuh tempo. Privatisasi yang dilakukan ditujukan agar BUMN akan mampu beroperasi secara lebih profesional lagi. UU no 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. British Airways. Apabila pasar modal tidak mampu menyerap jumlah saham yang ditawarkan. status go public. Mereka berargumentasi bahwa defisit anggaran harus ditutup dengan sumber lain. British Waters. tingkat kesehatan BUMN. laba sebelum pajak. adanya komitmen investor (dalam bentuk kontrak tertulis) untuk mengembangkan perusahaan. Alasan yang digunakan pemerintah adalah harga yang ditawarkan investor biasanya lebih tinggi daripada harga pasar. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa tujuan utama privatisasi ada dua.3. 3. dan porsi saham yang bersedia bisa dilepas pemerintah (Ika dan Samosir:2002). mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. dan Undang-Undang UU No. bukan dari hasil penjualan BUMN. yakni public offering dan private offering. Pemilihan terhadap metode privatisasi tersebut perlu mempertimbangkan paling tidak 9 aspek. maupun pendanaan untuk investasi. initial public offering (IPO). baik dari sisi alih teknologi. yaitu: pertama. Pemerintah RI mulai melaksanakan privatisasi dalam arti sempit mulai tahun 1995 diawali dengan divestasi atas saham-saham negara di Indosat. perluasan jaringan pemasaran. pendirian Perum Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. nilai saham pemerintah. yaitu porsi saham pemerintah pada masing-masing BUMN. Kelemahannya. menimbulkan pendapat bahwa apabila BUMN dijual setiap tahun untuk menutup defisit APBN. strategic sales (SS). 2. taat melaksanakan the Washington Consensus (Williamson:2004). Privatisasi dalam arti sempit dipelopori oleh pemerintah Partai Konservatif semasa Margareth Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris dengan menjual British Gas. Sedangkan privatisasi dalam arti luas mulai dilaksanakan sejak ditekennya Letter of Intent dengan IMF pada tahun 1997. Privatisasi dalam arti luas adalah menyerahkan bidang tugas negara kepada pihak lain dan/atau mendirikan perikatan privat termasuk badan usaha milik negara seperti perubahan BULOG menjadi Perum Bulog. metode SS dianggap kurang transparan dalam proses seleksi investor dan tidak memberikan kesempatan bagi masyarakat luas . harga yang diperoleh rendah sehingga dapat merugikan negara. suatu ketika BUMN akan habis terjual dan defisit APBN pada tahun-tahun mendatang tetap akan terjadi. Perkiraan bahwa defisit APBN juga akan terjadi pada tahun-tahun mendatang.2. maka kepemilikan BUMN tetap di tangan pemerintah dengan demikian segala keuntungan maupun kerugian sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. laba ditahan. serta mampu memberikan kontribusi yang lebih baik kepada pemerintah melalui pembayaran pajak dan pembagian dividen. terutama berkaitan dengan daya serap pasar modal. diikuti oleh Telkom dan seterusnya. Sebagai pemegang saham terbesar.

3. tuntutan masyarakat dalam kaitannya dengan otonomi daerah yang dapat mengganggu program privatisasi terhadap BUMN yang berlokasi di daerah tertentu.ugm. Kehati-hatian dalam menentukan BUMN mana yang bisa di privatisasi atau tidak menjadi poin penting dalam penentuan kebijakan privatisasi secara keseluruhan. mengingat apabila ada IPO saham mayoritas biasanya dimiliki oleh satu grup atau sekelompok orang/badan bermodal besar. hal ini karena sekalipun dalam bahasa Undang-Undang Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN mempercantik makna privatisasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. memberikan nilai tambah bagi perusahaan dengan pengoptimalan kemampuan SDM serta loyalitas karyawan. Program itu kali pertama dilaksanakan pemerintah pada awal 2004. yaitu terhadap perusahaan kontraktor PT Pembangunan Perumahan dan PT Adhi Karya. Program tersebut umumnya diterapkan untuk perusahaan-perusahaan yang peran SDM-nya tinggi. PT WNI (2002). “PP No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara ”. http://soebandhiagus. DAFTAR REFERENSI [1] Republik Indonesia. perubahan tuntutan masyarakat terhadap reformasi. karena perlu juga melihat bagaimana posisi BUMN tersebut pada perannya di perekonomian negara secara keseluruhan. serta memperluas kepemilikan saham masyarakat. http://www. maka yang membeli saham-saham BUMN baik sedikit ataupun banyak adalah investor di pasar modal apabila privatisasi dilakukan dengan cara IPO.org/id/content/melihat-lebihdalam-privatisasi-bumn (12 Desember 2013) . Tujuan penjualan saham BUMN dengan cara ini. kecenderungan investor untuk mengejar saham BUMN yang mempunyai prospek cerah. [4] Kontribusi Privatisasi Dalam Pembiayaan Pembangunan. privatisasi. Realisasi privatisasi Realisasi hasil privatisasi BUMN dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah. KESIMPULAN Pada dasarnya BUMN memiliki peranan sebagai sumber dari APBN. serta kestabilan perekonomian dalam negeri. PT Socfindo (2001). BUMN yang dijual dengan cara tersebut. antara lain.ac. dan PT Indosat (2002). Investor ini belum tentu mewakili kepemilikan saham masyarakat. Kontribusi tersebut antara lain terdiri dari pembayaran pajak. masalah internal BUMN. 4. dan dividen. Employee and mangement buy out (EMBO) merupakan penjualan saham kepada karyawan dan manajemen perusahaan. kondusif tidaknya pasar modal domestik dan internasional untuk melakukan initial public offering (IPO).id/2012/ 02/14/kontribusi-privatisasi-bumn-dalam-pembiayaan-pembangunan/ (12 Desember 2013) [5] Melihat Lebih Dalam Privatisasi BUMN. Namun tidak semua BUMN dapat di privatisasi. apabila metode privatisasi BUMN dilakukan dengan IPO dan strategic sales. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. dan investor tunggal apabila privatisasi menggunakan metode strategic sales. “Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN”. serta kurang cepatnya melakukan penawaran di pasar.blog. sebagaimana ditunjukkan dengan terus meningkatnya kontribusi BUMN terhadap APBN. [3] Republik Indonesia.untuk membeli saham. [2] Republik Indonesia.antikorupsi. persepsi pemodal internasional mengenai risiko negara (country risk). “Undang-Undang UU No. 33 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Privatisasi Persero”.3. karena BUMN yang akan diprivatisasi harus direstrukturisasi terlebih dahulu. antara lain. sehingga proses privatisasi mengalami kelambatan. Faktor lain yang turut mempengaruhi pencapaian realisasi privatisasi BUMN adalah perkembangan situasi politik dan keamanan.