Manifestasi Klinis dan Karakteristik Mikrobiologi Abses Glandula Bartholin Tujuan : untuk menilai manifestasi klinis dan mikroorganisme

penyebab abses glandula Bartholin Metode : ini merupakan penelitian retrospektif yang dilakukan pada pasien dalam pengobatan abses glandula Bartholin tahun 2006-2011 di Soroko University Medical Center, pusat medis regional bagian selatan Israel Hasil : selama penelitian, 219 wanita dirawat karena abses glandula Bartholin, 63% merupakan abses primer dan 37% merupakan abses rekuren ( merupakan kejadian ulangan kedua kalinya). Kultur pus positif pada 126 kasus (61,8%). Escherichia coli merupakan satu-satunya pathogen yang paling sering ditemukan (43,7%) dan 10 kasus (7,9%) merupakan polimikrobial. Kasuskasus dengan kultur positif menunjukkan demam (25% disbanding 9,3%; P=.043), leukositosis (50,4% disbanding 33,8%; P.027) dan neutrofilia (17,9% dibanding 5,9%; P=.021). Odd ratio dari kasus dengan kultur positif adalah 2,4 (95% confidence interval 1,3-4,3; P=.003). Pada grup kasus rekuren, 81% terjadi ipsilateral dan waktu terjadinya rekuren sekitar 32±50 bulan. Infeksi akibat E.coli secara signifikan lebih umum menyebabkan infeksi rekuren daripada infeksi primer (56,8% disbanding 37%; P=.033). Tiga kasus resistensi terbanyak terhadap antimicrobial betalaktam (beta-laktam spectrum luas terhadap strain E.coli) sudah terindentifikasi Kesimpulan : sebagian besar pasien dengan abses glandula Bartholin adalah kultur positif dengan E.coli sebagai patogen paling sering ditemukan. Penemuan mikrobiologi dikorelasikan dengan manifestasi klinis merupakan parameter yang paling penting dalam managemen pasien abses glandula Bartholin dan pengobatan antimicrobial empiris selama diagnosis primer. Glandula Bartholin menjadi aktif ketika pubertas, mempunyai duktus yang sempit dan bisa mengalami obstruksi jika terbuka. Tertutupnya duktus distal dapat menyebabkan retensi sekresi akibatnya terbentuk kista atau abses. Resiko jangka panjang terbentuknya kista Bartholin atau abses mendekati 2%. Bakteriologi dari abses glandula Bartholin tidak terlalu diperhatikan, mungkin karena infeksi ini jarang yang membahayakan dan biasanya tidak memperlukan perhatian terapi yang kompleks. Abses glandula Bartholin disebabkan oleh bakteri opurtunistik dan tipe patogen trasmisi seksual jarring ditemukan pada patogenesisnya. Penelitian sebelumnya pada tahun 1960 dan 1970 tentang bakteriologi abses glandula Bartholin mengidentifikasi Neisseria gonorrhoeae dan mikroarofilik streptokokus pada sepertiga kasus. Meskipun begitu, data mikrobiologi sebelumnya terbatas. Pengobatan antimicrobial sebelum pembedahan abses glandula Bartholin sering diindikasikan, terlebih jika ada gejala sistemik. Terapi antimikrobial pada abses glandula Bartholin digunakan sebagai terapi lini pertama ketika abses tidak cukup matang untuk dilakukan bedah drainase dan digunakan sebagai terapi lini kedua jika tidak ada perbaikan klinis setelah bedah drainase atau

ketika terjadi komplikasi. terbentuknya abses selama kehamilan. Pada penelitian ini. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil Selama tahun 2006-2011. Signifikasi statistik dikalkulasikan menggunakan test X2 untuk variable kategorik dan test Student t untuk variable kontinus. Multivarian logistik regresi model.05 menunjukkan statistik signifikan. Nilai P<. tujuan kami adalah untuk mengevaluasi manifestasi klinis dan karekteristik mikrobiologi abses glandula Bartholin pada pusat kesehatan daerah dengan memperhatikan manifestasi klinis yang sering terjadi dan pertimbangan terapinya. lokasi dan deskripsi abses. . dan leukositosis dianalisis secara terpisah. Data meliputi data demografis. riwayat obstetric. Kode Modifikasi Klinis 616. Faktor-faktor yang ditemukan secara klinis relevan dan statistik signifikan dimasukkan dalam model regresi mundur. dan terapi medis dan bedah. Variable-variabelnya meliputi umur. Beberapa pasien mendapatkan terapi awal antimikrobial tapi semua terapi bedah dilaksanakan pada pasien rawat inap. Yang harus diperhatikan adalah penggunaan antimikrobial pada situasi yang menyulitkan seperti abses rekuren. Sebagian besar pasien adalah premenopaus (hampir 95%) dan wanita posmenopaus. Kami juga menampilkan perbandingan pasien dengan dan tanpa positif kultur. detail klinis menyangkut diagnosis masuk meliputi kondisi medis dasar. 219 wanita dirawat di Soroka University Medical Center akibat abses glandula Bartholin. Analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS 17. Populasi penelitian adalah semua pasien yang didiagnosis dan diterapi dengan abses Bartholin tahun 2006-2011. peningkatan hitung jenis polimorfonuklear. Material dan Metode Penelitian ini dilakukan di Soroko University Medical Center. Berbagai macam antimikrobial digunakan untuk mengobati abses glandula Bartholin. Revisi kesembilan. Penelitian retrospektif telah dilakukan untuk mengindentifikasi dan mengelompokkan pasien yang didiagnosis dengan abses glandula Bartholin ( Klasifikasi Internasional tentang Penyakit. Penelitian ini disetujui oleh institusi peninjau (sesuai Deklarasi Helsinki). Di rumah sakit kami. atau terjadi pada pasien dengan penurunan imunitas seperti pasien yang terinfeksi virus HIV. dengan eliminasi mundur dilakukan untuk menemukan faktor independen yang berhubungan dengan abses Bartholin. ukuran abses. Data diambil dari rekam medis pasien. belum bisa ditentukan. Pasieng dengan kista glandula Bartholin yang dibedah (tanpa ada pus) dieklusikan dari analisis. rumah sakit tersier di bagian selatan Israel. Manifestasi klinis dan karakteristik demografis pasien ditampilkan pada Tabel 1. riwayat menderita abses Bartholin sebelumnya. pasien dengan abses Bartholin tidak ditatalaksana sebagai pasien rawat jalan.3). hasil laboratorium (termasuk pertumbuhan bakteri dari kultur pus yang didapat dan respon antimikrobial yang diterima). Semua pasien yang dibedah ataupun dilakukan drainase langsung pada abses harus dikultur.

5±3. Prevotella oralis. Tercatat. dan 40% untuk kokus Gram negative.3%. P=. Pengobatan antimikrobial primer didapatkan pada 41 pasien (18.043). meskipiun secara statistik signifikan tidak tercapai.164).027).000 sel/ml (50. Escherichia coli merupakan patogen tunggal yang paling sering ditemukan pada kultur positif. leukositosis dan neutrofilia umumnya terdapat pada grup anaerob.22-32. kebanyakan mendapatkan amoksisilin-asam klauvanat (87% pasien yang diobati).7%).4% dibanding 33. Saat kasus dengan kultur positif dibandingkan dengan kasus kultur negative.036). Hampir semua kasus dengan kultur positif adalah monomikrobial. Dua belas dari 219 pasien (5. dan Morganella morganii terdistribusi diantara kultur positif (8. dan grup bakterial lainnya. Ketika dibandingkan rasio pasien dengan hasil kultur negatif yang mendapat pengobatan primer antimikrobial dan yang tidak mendapat antimikrobial primer.34.3%. dengan usia dan leukositosis sebagai kontrol. Menggunakan multiple logistic regression model.5% pada grup anaerob dibandingkan 5.9%) adalah polimikrobial.35.4.0 tahun.waktu rata-rata menopaus adalah 4. P=. sedangkan 10 kasus (4. 63% infeksi primer dan 37% infeksi rekuren. Pada wanita ini.9%.003). streptococcus grup B. P=. tidak menunjukan perbedaan yang signifikan (P=. . menggunakan multiple logistic regression model. Tidak ada kasus metisilin resistensi Staphylococcus aureus. kasus dengan kultur positif secara signifikan berhubungan dengan demam tinggi lebih dari 37. basil Gram negative. Tabel 2 menampilkan bakterial yang terdapat pada kultur pus abses.5-240.028). dimana E. Tes resistensi antimikrobial dilakukan rutin tergantung tipe bakteri dan specimen klinis.3-4.2%) beta-laktamase spektrum luas memproduksi infeksi Enterobacteriaceae. Kejadian infeksi glandula Bartholin.coli. hubungan kultur positif dengan demam menunjukkan hasil yang signifikan (adjused OR 3. 81% rekurensi ipsilateral dan waktu rata-rata rekurensi adalah 32±50 bulan ( median 12 bulan. Kultur campuran umumnya ditemukan pada pasien grup resisten (25%). jangka waktu 0. hasil drainase abses glandula Bartholin adalah kultur positif 58. Pertumbuhan bakteri anaerob berhubungan signifikan dengan demam dibandingkan pada grup lainnya (62. Odd ratio parameter ini pada kasus kultur positif menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari kultur negative ( odds ratio (OR) 2. 95% CI 1.8%.5%) hamil atau postpartum. P=. Pada grup rekuren.3%.3%). 95% CI 1. P=.80.019). Ketiga kasus tersebut membaik setelah dilakukan pembedahan. 23.3.50C (25% dibanding 9. hubungan demam dengan kultur positif anaerob menunjukkan signifikan (adjusted OR 6. Informasi mengenai resistensi antibiotik ada pada 77% kultur positif. sebagai kontrol umur.95. 22 tes (22. leukositosis lebih tinggi dari 12.5 bulan) setelah kejadian pertama. Drainase abses glandula Bartholin menunjukkan hasil kultur positif pada 126 kasus (61. dimana 10 pasien terpapar selama awal pertengahan kehamilan dan dua saat purperium. P=.7%) menunjukkan resistensi penisilin dan tiga (5. 95% confidence interval (CI) 1.8%).0914.

122). Pemberian antimikrobial untuk E. infeksi dengan E. selulitis. seperti spesies Baceriodes dulu sering ditemukan dari abses. Etiologi dari abses glandula Bartholin adalah polimikrobial.Rekurensi tidak secara spesifik menunjukkan hubungan dengan grup bakterial manapun (P=. dan fastisis nekrotikan dilaporkan pada pasien dengan abses glandula Bartholin. Pengobatan primer abses glandula Bartholin terdiri dari drainase pembedahan dengan pemakaian antibiotik sebelumnya. Penemuan kami sama seperti penemuan sebelumnya yang dilakukan oleh Tanaka dkk tahun 2005 dan Mattila dkk pada tahun 1994 yang meneliti 224 pasien dan 249 pasien dengan abses glandula Bartholin. Pengobatan antimikrobial dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama saat abses belum matang untuk drainase pembedahan dan mungkin dipertimbangkan sebagai terapi lini kedua saat tidak adal perbaikan klinis setelah drainase pembedahan atau ketika terjadi komplikasi.coli secara signifikan umumnya terdapat pada infeksi rekuren (56. Beberapa komplikasi seperti sepsis. hubungan E.05-4.037). Bakteri anaerob merupakan mikroorganisme terbanyak yang terdapat pada abses glandula Bartholin pada beberapa penelitian.coli dengan terjadinya infeksi rekuren menunjukkan signifikan (adjusted OR 2.aureus. Bakteri anaerob bisa ditemukan atau tidak meskipun spesimen sudah dikumpulkan dengan baik. Ketika mengobati pasien dengan abses glandula Bartholin. dokter sebaiknya mempertimbangkan resiko komplikasi dan hubungan antara manifestasi klinis dengan karakteristik mikrobiologi. Penelitian lainnya oelh Bhide dkk. Publikasi data sebelumnya mengenai patogen pada abses glandula Bartholin relatif langka. Dengan menggunakan multiple logistic regression model.coli . S. Kontroversi pemberian antimikrobial empiris masih ada. Kami sudah menampilkan hubungan kultur positif dengan marker inflamasi (demam. Spesimen harus diproses untuk pemulihan anaerob. diidentifikasikan dan ditransportasikan ke laboratorium.24. dan Enterococcus spp. grup B streptococcus.coli sebagai patogen terbanyak. Pada penelitian kami. 61. Selanjutnya.8% pasien dengan kultur positif E.8%) dibandingkan denan infeksi primer (37%) (P=. sebagai kontrol adalah umur. neutrofilia). P=.033). Bakterial anaerob.70. 34 dari 46 kasus kultur abses glandula Bartholin adalah kultur positif dengan jumlah koliform 16 (34%) dari grup kedua. menggunakan sistem kultur anaerob. Pada penelitian kami. kami bermaksud untuk mengevaluasi peran pengobatan antimikrobial empiris pada pasien-pasien ini. leukositosis.coli yang merupakan patogen tunggal tersering diikuti oleh infeksi polimikrobial. Diskusi Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji perjalanan klinis abses glandula Bartholin pada pasien yang sedang dirawat di rumah sakit regional dan secara khusus untuk menentukan karakteristik mikrobiologi abses kelenjar Bartholin. swab rutin dilakukan untuk mengumpulkan pus selama terapi pembedahan atau langsung dari drainase abses dibandingkan dengan penelitian sebelumnya untuk pemulihan anaerob. 95% CI 1. Kedua penelitian tersebut menemukan bakteri E.

gonorrhea dan Clamydia trachomatis dipikirkan sebagai mikroorganisme awal abses Bartholin. Hoosen dkk menginvestigasi prevalensi patogen IMS pada wanita HIV dengan abses glandula Bartholin. Selain itu juga.5 bulan). antibodi pada HIV diketahui 30% dari 30 pasien. 37% kasus rekurensi abses glandula Bartholin. Literatur mengenai abses glandula Bartholin selama kehamilan masih sangat langka dan terbatas pada laporan kasus mengenai komplikasi infeksi yang parah seperti korioamnionitis dan sepsis atau infeksi dengan patogen yang tidak biasa.5% adalah wanita pada masa nifas terkena abses glandula Bartholin. Berdasarkan hasil ini. Selanjutnya. Pada penelitian kami. Walaupun. Pada penelitian kami.trachomatis lebih rendah dari negara-negara industrial lainnya. Pada penelitian kami. rekurensi terjadi pada sisi yang sama dan rekurensi setelah kejadian yang pertama adalah 32±50 bulan (median 12 bulan. Bleker dkk menemukan empat kasus dengan N.gonorrhoea dan satu kasus dengan C. Menurut data Kementerian Kesehatan Israel. tampak bahwa hasil pemeriksaan IMS dan cakupan pada pasien dengan abses kelenjar Bartholin mungkin tidak rutin dan bisa disediakan untuk pasien yang diduga IMS secara klinis atau epidemiologi.gonorrhoea dan C. Rasio kasus rekuren (37%) mungkin diduga karena maksimal waktu follow-up selama 5 . Hasil kami berhubungan dengan peneliti lainnya yang penemuan patogen IMS diabaikan.trachomatis ditemukan pada tiga aspirasi dan dua spesimen endoservikal.rachomatis pada 56 kasus abses glandula Bartholin. Kami menemukan pada sebagian besar pasien.dipertimbangkan sebagai terapi awal sebelum pembedahan pada abses glandula Bartholin dengan gejala sistemik. Kami tidak membandingkan dengan penelitian lainnya mengenai lokasi rekurensi abses glandula Bartholin. Aspek penting lainnya pada penelitian kami yang berhubungan dengan rekurensi abses kelenjar Bartholin.gonorrhoea sebaik PCR untuk diagnosis N. Mikroorganisme transmisi seksual seperti N. Mereka mengumpulkan aspirasi dari kavitas abses dan spesimen swab dari vagina dan endoserviks sebelum drainase pembedahan. Hal ini karena perubahan imun sistem selama kehamilan normal dan perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik pada grup ini.5%. trachomatis tidak digunakan.trachomatis pada wanita dengan abses glandula Bartholin. Meningkatnya resiko pada infeksi yang membahayakan akibat keterlambatan diagnosis dan pemberian antibiotik. Pada peneniltian mereka. prevalensi N. dimana N. dimana sama dengan penelitian sebelumnya dilaporkan rasio rekurensi antara 0-38. swab khusus untuk N.5-240. terdapat keterbatasan pemberian beberapa antibiotik selama kehamilan. Patogen IMS diketahui pada aspirasi dan spesimen endoservikal : C. Mereka merekomendasikan pengobatan komprehensif untuk IMS dengan C. Penulis menyimpulkan peran patogen terbatas sesuai yang direkomendasikan hasil scan mandatory untuk IMS dari serviks dan abses.gonorrhoeae dikultur dari lima aspirasi dan tujuh spesimen endoservikal. 5. Hal ini sebaiknya dikoraborasikan dengan penelitian dimana spesimen yang memadai untuk IMS digunakan.gonorrhoea dan C. range 0. tidak ada kultur positif pada patogen transmisi seksual.

Pada penelitain Bhide dkk. 33 dari 45 kultur kasus (73. Pemberian antimikorbial empiris pada diagnosis primer sangat bermanfaat bagi beberapa pasien dan harus sesuai dasar data mikrobiologi. Sebagai kesimpulan. Informasi ini penting bagi pasien dan dokter. mempengaruhi pengobatan pada pasien terkait pemilihan antimikrobial empiris spektrum luas untuk mengontrol infeksi dan mencegah resistensi. . Beta-laktamase spektrum luas menjadi tantangan baru pada abses glandula Bartholin dan berdasarkan penelitian kami. Keterbatasan ini harus ditangani pada penelitian selanjutnya. yaitu data kami memiliki ukuran sampel yang relative besar. Secara khusus. kedua dan ketiga sefalosporin). enzim yang diproduksi oleh Gram negatif basil enterik yang menonaktifkan berbagai agen antimikroba lini pertama.tahun pada kasus primer dan tidak menunjukkan gejala rekurensi selama masa itu. abses glandula Bartholin merupakan masalah umum ginekologi. munculnya beta-laktamase spektrum luas. data dalam penelitian ini adalah tergantung laporan doker selama diagnosis primer dan pengobatan pasien. Kami menyimpulkan ada hubungan antara infeksi patogen dan rekurensi. menimbulkan kekhawatiran (termasuk penisilin dan generasi pertama. Penelitian sebelumnya oleh Bleker dkk.coli paling banyak. Keterbatasan penelitian ini adalah tingginya rasio kultur negative dan keterbatasan pengujian untuk IMS. Berdasarkan penelitian kami. hanya 61. Selain itu. Pada penelitian kami. Penelitian kami memiliki beberapa kelebihan. Resistensi terhadap antimikroba telah menyebar secara global selama beberapa tahun terakhir dan menimbulkan tantangan terapeutik. analisis hasil mikrobiologi didapatkan dengan mempelajari parameter klinis seperti demam dan leukositosis.3%) adalah positif. yang berpengaruh terhadap data yang diterbitkan saat ini mengenai diagnosis dan manajemen abses glandula Bartholin mengingat literature yang ada terbatas. Namun. Kekurangan lain pada penelitian ini adalah menggunakan swab untuk kultur microbial. kurang dari setengah kasus merupakan kultur positif.8% kasus memiliki kultur positif dan ini mungkin mengakibatkan kesalahan klasifikasi diferensial. yang dapat mengacaukan bakteri anaerob. Tingginya rasio kultur positif yang ditemukan dengan patogen E. yang dapat mengingat dan mengurangi bias seleksi. Akhirnya. Beta-laktamase spektrum luas sudah menyebar ke masyarakat dan laporan mengenai beta-laktamase spektrum luas menimbulkan komplikasi infeksi ginekologi dan perinatal mulai dikumpulkan. Hal ini benar terjadi khususnya pada pelayanan kesehatan akut. Berdasarkan penemuan mikrobiologi kami dan secara klinis menunjukkan bahwa pentingnya diagnosis primer dan tatalaksana pada abses glandula Bartholin. amoksilin-klauvanat merupakan antimikrobial empiris terpilih. Pemberian antimikrobial empiris sebaiknya ditinjau secara periodic untuk menghindari terjadinya resistensi seperti resistensi betalaktamase spektrum luas. hasil rasio kultur positif ini sesuai dengan data yang sudah dipublikasikan sebelumnya.

9 79 (38.5±10 2.9 3. Karakteristik Pasien dengan Abses Glandula Bartholin (n=219) Variabel Umur (tahun) Kehamilan Paritas Nulliparitas Menopause Kejadian pertama Abses sisi kiri/kanan Ukuran abses (cm) Demam Leukositosis Kultur positif 31.Table 1.2 6.2 2.6 0.3) 87 (44.5±1.6 1.3) 9 (4.4±1.8 11.8 0.0±2.9 1.4) 126 (61.8 4.6 43.4 4.8 0.2) 115/104 955/45) 3.6 1.8 30.2 19 (18.3) 132 (63.5 1.6 0.8 0. Jenis Bakteri dari Pus Kultur Positif yang Diambil dari Abses Glandula Bartholin Jenis Bakteri Basil Gram Negatif Escherichia colli Morganella morganii Proteus spp Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Kokus Gram Positif Staphylococcus aureus Staphylococcus agalactiae Enterococcus spp Streptococcus mitis Streptococcus pneumonia Enterococcus faecalis Aerococcus viridians Streptococcus grup C Streptococcus angiosus Anaerob Anaerob lainnya Prevotella bivia Peptococcus asaccharolyticus Peptostreptococcus spp Fusobacterium spp Prevotella oralis Bacteroides fragilis Lainnya Pertumbuhan campuran Corynebacteria Mikoplasma spp Jumlah (n) 60 55 2 1 1 1 38 8 6 6 5 5 4 2 1 1 15 4 3 2 2 2 1 1 13 10 2 1 Frekuensi (%) 47.6 0.2 1.8 0.6 0.8) Tabel 2.8 .8 4 4 3.4 1.6 1.8 10.3 7.

Total 126 100 .